Anda di halaman 1dari 21

Definisi Poligami

Kata poligami berasal dari bahasa yunani, poly atau polus yang berarti kawin atau
perkawinan. Jada secara bahasa, poligami berarti suatu perkawinan yang banyak atau suatu
perkawinan yang lebih satu orang baik pria maupun wanita.

Dalam antropologi sosial, Poligami merupakan praktek pernikahan kepada lebih dari satu istri
atau suami. Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu : Poligini ( Seorang pria memiliki beberapa
orang istri); Poliandri ( Seorang wanita memiliki beberapa orang suami ) dan Group Marriage
atau Group Family ( yaitu gabungan dari poligini dengan poliandri, misalnya dalam satu
rumah ada lima laki-laki dan lima wanita, kemudian bercampur secara bergantian ). ketiga
bentuk poligami itu ditemukan dalam sejarah manusia, namun poligini merupakan bentuk
paling umum. Poligami ( dalam makna Poligini ) bukan semata-mata produk syariat Islam.
Jauh sebelum Islam datang, peradaban manusia di berbagai belahan dunia sudah mengenal
poligami.

Poligami pra masa Nabi Muhammad

Nabi-nabi yang diakui oleh umat Yahudi dan Kristiani, dan termaktub di dalam kitab suci
mereka walau telah ditahrif / diubah-ubah- juga melakukan poligami. Nabi Ibrahim
(Abraham) alaihi Salam, memiliki beberapa orang isteri, diantaranya adalah : Sarah (Sara)
yang melahirkan Ishaq (Isaac) kakek buyut bangsa Israil- dan Hajar (Hagar) yang
melahirkan Ismail (Ishmael) kakek buyut bangsa Arab- alaihimus Salam.

Nabi Yaqub (Jacob) alaihi Salam dikisahkan juga memiliki dua orang isteri kakak adik
puteri dari saudara ibunya, yang bernama Lia (Liya) dan Rahil (Rachel) [catatan :
mengumpulkan dua orang saudara (adik kakak) dalam satu pernikahan dahulu diperbolehkan
lalu dilarang pada zaman Rasulullah oleh al-Quran]. Demikian pula dengan Nabi Dawud
(David) dan puteranya Nabi Sulaiman (Solomon) alaihima Salam yang memiliki banyak
isteri dan budak wanita.

Poligami bukan merupakan praktek yang dikenalkan oleh Islam pertama kali. Namun
poligami merupakan praktek yang telah berlangsung semenjak zaman dahulu, setua dengan
tuanya usia peradaban manusia.

Hamdi Syafiq mengatakan :

Islam bukanlah yang pertama kali memperkenalkan poligami. Secara historis ditetapkan
bahwa poligami telah dikenal semenjak masa lalu, sebuah fenomena yang usianya setua
manusia itu sendiri dimana poligami telah menjadi sebuah praktek yang lazim semenjak masa
Paranoiak

Hamdi Syafiq melaporkan bahwa, Ramses II, Raja Firaun yang terkenal (berkuasa 1292-
1225 SM) memiliki 8 orang isteri dan memiliki banyak selir dan budak wanita yang
memberikannya 150 putra dan putri. Dinding biara pemujaan merupakan bukti sejarah
terkuat, dimana tercantum nama-nama isteri, selir dan anak-anak dari tiap wanita tersebut.
Ratu cantik Neferteri merupakan isteri termasyhur Ramses II, yang terkenal berikutnya
adalah Ratu Asiyanefer atau Isisnefer yang melahirkan puteranya, Raja Merenbatah, yang
naik tahta setelah ayah dan kakaknya mangkat.
Poligami juga sudah lazim dilakukan oleh masyarakat negeri Slavia yang sekarang menjadi
Rusia, Serbia, Cechnia dan Slovakia, juga lazim dilakukan oleh penduduk negeri Lituania,
Estonia, Macedonia, Rumania dan Bulgaria. Jerman dan Sakson, yang merupakan dua ras
utama mayoritas populasi di Jerman, Austria, Switzerland, Belgia, Belanda, Denmar, Swedia,
Nirwagia dan Inggris, juga merupakan negeri yang melakukan praktek poligami secara
meluas. Masyarakat paganis (watsaniy) di Afrika, India, Cina, Jepang dan asia tenggara juga
banyak melakukan poligami.

Poligami diluar islam

DR. Muhammad Fuad al-Hasyimi, mantan pemeluk kristiani yang akhirnya masuk Islam, di
dalam bukunya Religions on The Scales (hal. 109) berkata:

Gereja telah mengenal praktek poligami sampai abad ke-17. Tidak ada satupun dari injil
yang empat diketahui adanya larangan yang secara jelas melarang poligami. Perubahan
terjadi ketika orang-orang Eropa yang bertaklid kepada tradisi non poligami kaum paganis
(hanya beberapa kalangan saja yang diketahui melarang poligami, karena mayoritas
masyarakat Eropa sebagaimana disebutkan sebelumnya- mempraktekan poligami secara
luas, pen). Ketika kaum minoritas anti poligami itu masuk agama kristen, tradisi mereka
menggeser tradisi poligami dan mereka memaksakan (tradisi ini) bagi penganut kristen
lainnya. Seiring berlalunya waktu, kaum kristiani mengira bahwa larangan poligami itu
merupakan esensi ajaran kristen, padahal hal ini berangkat dari sikap taklid kepada para
pendahulu mereka, yang sebagian orang (non poligamis) memaksakannya kepada lainnya
(tradisinya) dan akhirnya terus berlangsung selama bertahun-tahun...
Bukti bahwa praktek poligami bukan hanya ada dalam islam saja menunjukkan satu buah
ayat dari Kitab Suci (?!) mereka yang menunjukkan bahwa poligami itu terlarang. Jika
mereka mau bersikap obyektif, bukankah kitab Perjanjian Lama yang diklaim sebagai
Taurat (Torah), membatalkan klaim mereka yang menolak poligami?! Karena kitab
Perjanjian Lama ini secara eksplisit menunjukkan akan adanya praktek poligami di
kalangan para Nabi dan Rasul, mulai dari Prophet Abraham the Friend of Allah (Nabi
Ibrahim Khalilullah), Isaac (Ishaq), Jacob (Yaqub), David (Dawud) dan Solomon (Sulaiman)
alaihimus Salam yang kesemuanya diklaim sebagai Rasul bagi kalangan Bani Israil.

D. Pembatasan islam terhadap poligami

Ketika Islam datang dibawa oleh Rasulullah al-Amin, untuk menyampaikan Rahmat bagi
alam semesta, maka Islam tidak melarang poligami dengan begitu saja dan tidak pula
membiarkan poligami secara bebas. Islam datang dan membatasi poligami maksimal hanya 4
isteri saja. Zaman pra Islam telah mengenal poligami, bahkan poligami bukanlah suatu hal
yang asing dimana ada seorang lelaki beristiri puluhan bahkan ratusan wanita.

Datangnya Islam, membawa Rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil Alamin). Selain
membatasi poligami, Islam juga menjelaskan persyaratan-persyaratan dan kriteria
dianjurkannya berpoligami yang sebelumnya tidak ada. Masalah ini akan dibicarakan
setelahnya insya Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullahu dengan sanadnya bahwa Ghaylan ats-
Tsaqofi masuk Islam sedangkan dirinya memiliki 10 orang isteri. Maka Nabi Shallallahu
alaihi wa Salam bersabda kepada beliau :
(( ))

Pilihlah empat orang saja dari isteri-isterimu.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullahu degan sanadnya bahwasanya Umairoh
al-Asadi berkata :

(( )) :

Aku masuk Islam dan aku memiliki 8 orang isteri, lalu aku sampaikan hal ini kepada Nabi
dan beliau pun bersabda : pilihlah empat diantara mereka.

Demikianlah, mereka melakukannya sebagai pengejawantahan Firman Allah Azza wa Jalla :

Apabila kamu takut tidak dapat berbuat adil terhadap anak yatim (yang hendak kamu
nikahi), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau
budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya. (QS an-Nisaa`:3)

E. Hikmah dibalik poligami

Allah, sang pencipta alam semesta, adalah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi
makluk-Nya. Sehingga syariat dan hukum yang Ia buat dan tetapkan, pasti adalah yang
terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Allah mensyariatkan dan memperbolehkan poligami, maka
tentu saja banyak hikmah dan kebaikan yang terkandung di dalamnya, walaupun manusia
tidak mengetahuinya.

1) Rata-Rata Jangka Hidup Kaum Wanita Lebih Tinggi Dibandingkan Pria

Islamic Research Foundation (Yayasan Riset Islami) yang diketuai oleh DR. Zakir Naik,
seorang ilmuwan Islam jenius, menyebutkan bahwa rata-rata jangka hidup kaum wanita lebih
tinggi dibandingkan pria. Secara alami, pria dan wanita kurang lebih memiliki rasio kelahiran
yang sama, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan lebih memiliki
imunitas (kekebalan tubuh) yang lebih dibandingkan anak laki-laki. Anak wanita, dilaporkan,
lebih mampu melawan germs (sel bakteri atau patogen lainnya) dan penyakit dibandingkan
anak laki-laki, sehingga selama fase pediatric (anak-anak) angka kematian pada anak laki-laki
lebih besar dibandingkan kematian pada anak perempuan.

Tinjauan berikutnya, selama perang, pria lebih banyak terbunuh dibandingkan wanita, karena
yang lebih banyak turun ke medan perang adalah pria dibandingkan wanita, sehingga jumlah
janda meningkat dan angka populasi wanita menjadi lebih besar dibandingkan dengan pria.
Pria juga lebih banyak mengalami kecelakaan dan mati dibandingkan wanita, baik kecelakaan
di jalan raya maupun kecelakaan kerja. Pekerjaan pria lebih banyak beresiko, dimana pria
banyak bekerja di kontraktor gedung, menghandle mesin-mesin pabrik dan selainnya yang
resiko kematiannya lebih besar dibandingkan pekerjaan wanita.
Secara umum, jangka hidup wanita lebih tinggi dibandingkan pria, sehingga beberapa sensus
menunjukkan bahwa jumlah populasi wanita lebih besar dibandingkan jumlah populasi pria.

2) Populasi Wanita Di Dunia Lebih Banyak Dibandingkan Pria

Masih dalam laporan yang sama oleh IRF, dilaporkan di Amerika Serikat (berikutnya disebut
AS), wanita lebih banyak sekitar 7,8 juta orang dibandingkan pria. New York sendiri,
memiliki wanita lebih dari 1 juta orang dibandingkan pria. Inggris Raya memiliki 4 juta
wanita lebih banyak dibandingkan pria, sedangkan Jerman memiliki 5 juta lebih banyak dan
Rusia 9 juta lebih. Dan hanya Alloh-lah yang lebih mengetahui berapa puluh atau ratus juta
wanita di dunia ini lebih banyak dari pada pria.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Poligami adalah perkawinan dengan lebih dari satu istri dan praktek ini sudah merupakan
salah satu tradisi lama dalam kehidupan social manusia, bahkan usia poligami ini sama
dengan usia peradaban manusia itu sendiri, buktinya orang-orang terdahulu di cina, inggris,
afrika dan dinegara-negara lain, bahkan Nabi-nabi sebelum nabi Muhammad diutus mereka
sudah terbiasa dengan praktek poligami, seperti halnya Nabi Ibrahim beliau punya dua orang
istri yang bernama Sarah dan Hajar, juga Nabi Ya'qub beliau juga mempraktekkan poligami
beliau mempunya dua pendamping hidup yang bernama Lia dan Rahel.

Dikehidupan non muslim pun poligami juga ada seperti yang tertulis dalam Al-kitab mereka,
bahwa berpoligami itu boleh saja tanpa ada larangan atau ancaman bagi pelaku poligami ini.

Dan poligami ini sangat cocok dipraktekkan dalam kehidupan manusia dengan beberapa
alasan yang sangat rasional salah satunya bahwa populasi wanita yang ada didunia ini lebih
banyak dibandingkan pria.

2.1 Pengertian Poligami


Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari
satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu
saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya satu suami atau istri
pada suatu saat).

Walaupun diperbolehkan dalam beberapa kebudayaan, poligami ditentang oleh


sebagian kalangan. Terutama kaum feminis menentang poligami, karena mereka menganggap
poligami sebagai bentuk penindasan kepada kaum wanita.Islam pada dasarnya
memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu (poligami).

Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang
suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya (Surat an-Nisa ayat 3 4:3).

Poligami dalam Islam baik dalam hukum maupun praktiknya, diterapkan secara
bervariasi di tiap-tiap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Indonesia
sendiri terdapat hukum yang memperketat aturan poligami untuk pegawai negeri, dan sedang
dalam wacana untuk diberlakukan kepada publik secara umum.

Tunisia adalah contoh negara arab dimana poligami tidak diperbolehkan. Menurut Gustave
Le Bon, di Eropa tidak ada praktik atau tradisi timur yang dikritik dengan begitu sengitnya
selain poligami.

2.1.2 Poligami Menurut Pandangan Islam

Poligami merupakan salah satu isu yang disorot tajam kalangan feminis, tak terkecuali
feminis islam. Poligami adalah isyarat islam yang merupakan sunah Rasulullah SAW
tentunya dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para
isteri.Sebagai mana pada ayat yang artiya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku
adil terhadap(hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senang, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut
tidak dapat berlaku adil,maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yangkamu miliki.
Yang demikian itu adalah lebih dekat daripada tidak berbuat aniaya. (QS.An-Nisa ayat ke-
3)













Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun
kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalau cenderung (kepada
yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. (QS.An-Nisa ayat
129)

Selain itu, tidak adanya ayat Al-Quran dan sunah Rasulullah yang menggambarkan
diperbolehkan atau dilarangnya poligami. Sesungguhnya poligami yang diatur dalam islam
tidak memperbolehkan bagi laki-laki untuk berhubungan dengan wanita yang ia sukai diluar
pernikahan.

Poligami merupakan sistem yang manusiawi, karena dapat meringankan beban


masyarakat yaitu dengan melindungi wanita yang tidak bersuami dan menempatkannya ke
shaf para isteri yang terpelihara dan terjaga.

2.1.3 Pengertian Poligami Menurut Para Ulama

Banyak ulama yang angkat bicara soal poligami, dari pernyataan dan komentar-
komentar yang disampaikannya, diharapkan dapat menjadi bahan renungan dan masukan
bagi saya, sekaligus menambah wawasan saya tentang fenomena poligami dan realita yang
terjadi di masyarakat.

Menurut Prof. Dr. Musdah Mulia, MA, dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah,

Poligami itu haram lighairih, yaitu haram karena adanya dampak buruk dan ekses-eskes
yang ditimbulkannya.

Ia juga mengaku memiliki data yang menunjukkan bahwa praktik poligami di


masyarakat telah menimbulkan masalah yang sangat krusial dan problem sosial yang sangat
besar. Begitu juga dengan tingginya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), keretakan
rumah tangga dan penelantaran anak-anak.

Prof. Dr. Quraish Shihab menyatakan, Poligami itu mirip dengan pintu darurat dalam
pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

Hal senada disampaikan pula oleh Ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi, Poligami tak
ubahnya sebuah pintu darurat (emergency exit) yang memang disediakan bagi yang
membutuhkannya. Dalam kesempatan yang lain, beliau juga mengatakan, Poligami atau
monogamy adalah sebuah pilihan yang diberikan islam untuk manusia, keduanya tak perlu
dikontradiksikan.
Dr. KH. Miftah Faridh (Direktur PUSDAI Jabar), juga memiliki pandangan yang
sama, Poligami dalam pandangan islam merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan
untuk memecahkan berbagai masalah sosial yang dihadapi manusia. Poligami tidak perlu
dipertentangkan , apalagi sampai menimbulkan keretakan ukhuwah Islamiyah, adapun jika
ada yang belum siap melakukannya, itu lain persoalan.

Pendapat yang sama, juga disampaikan oleh Prof. Huzaemah Tahido Yanggo. Ahli
fikih lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menyatakan, bahwa poligami sesuai dengan
syariat islam. Menurutnya, hak poligami bagi suami telah dikompensasi dengan hak istri
untuk menuntut pembatalan akad nikah dengan jalan khulu, yaitu ketika sang suami berbuat
semena-mena terhadap istrinya. Yang jelas istri memperbolehkan suami dengan syarat adil.
Syarat ini merupakan suatu penghormatan kepada wanita, bila tidak dipenuhi akan
mengakibatkan dosa. Kalau suami tidak berlaku adil kepada istri-istrinya, berarti dia tidak
muasyarah bil maruf (bergaul dengan baik) kepada mereka.

Direktur utama Pusat Konsultasi Syariah, Dr. Surahman Hidayat, mengatakan ,


Nikah itu baik poligami atau monogamy, tidak untuk menzalimi siapa pun. Justru untuk
tegaknya kebahagiaan, yang pada gilirannya terwujud rumah tangga yang sakinah mawaddah
wa rahman.

Pimpinan pesantren Darut Tauhid, KH. Abdullah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym,
menyatakan sebelum ia berpoligami, Poligami merupakan syariat Islam yang sangat darurat.
Wacana soal poligami itu perlu diketahui dan dipahami. Oleh karena itu, wacana poligami
tidak perlu dipertentangkan oleh umat islam. Di berbagai tempat ceramah, saya sering
menyebarkan wacana tentang poligami, karena hal itu adalah ajaran islam. Kalau saya
sendiri, sampai sekarang masih belum siap berpoligami. Untuk saat ini saya sudah merasa
bahagia hidup bersama satu orang istri dan tujuh orang anak titipan Allah Taala.

Dan setelah dirinya resmi menikahi isrti keduanya, banyak pernyataan yang beliau
sampaikan. Di antaranya beliau mengatakan, Saya prihatin dengan adanya pandangan
kurang baik terhadap poligami. Seakan para pelaku poligami adalah seorang penjahat yang
telah melakukan kejahatan yang sangat besar. Namun beliau juga tidak menganjurkan
jamaahnya untuk berpoligami, Kalau tidak ada ilmunya, lebih baik jangan, ujarnya.

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Poligami

Menurut Abu Azzam Abdillah, banyak faktor yang sering memotivasi seorang pria
untuk melakukan poligami. Selama dorongan tersebut tidak menyimpang dari ketentuan
syariat, tentu tidak ada cela dan larangan untuk melakukannya. Berikut ini beberapa faktor
utama yang menjadi pertimbangan kaum pria dalam melakukan poligami.

2.2.1 Faktor- Faktor Biologis


a. Istri yang Sakit

Adanya seorang istri yang menderita suatu penyakit yang tidak memungkinkan baginya
untuk melayani hasrat seksual suaminya. Bagi suami yang shaleh akan memilih poligami dari
pada energi ke tempattempat mesum dengan sejumlah wanita pelacur

b. Hasrat Seksual yang Tinggi

Sebagian kaum pria memiliki gairah dan hasrat seksual yang tinggi dan menggebu,
sehingga baginya satu istri dirasa tidak cukup untuk menyalurkan hasratnya tersebut.

c. Rutinitas Alami Setiap Wanita

Adanya masa-masa haid, kehamilan dan melahirkan, menjadi alasan utama seorang
wanita tidak dapat menjalankan salah satu kewajiban terhadap suaminya. Jika suami dapat
bersabar menghadapi kondisi seperti itu, tentu tidak akan menjadi masalah. Tetapi jika suami
termasuk orang yang hasrat seksualnya tinggi, beberapa hari saja istrinya mengalami haid,
dikhawatirkan sang suami tidak bisa menjaga diri, maka poligami bisa menjadi pilihannya.

d. Masa Subur Kaum Pria Lebih Lama

Kaum pria memiliki masa subur yang lebih lama dibandingkan wanita. Dokter Boyke,
seorang seksolog, mengakui banyak menangani kasus perselingkuhan pria usia 40-50 tahun,
karena pada usia tersebut pria mendapat puber kedua, sementara para istri umumnya malah
menjadi frigid.

2.2.2 Faktor Internal Rumah Tangga

Menurut buku Hitam Putih Poligami, terdapat beberapa faktor internal rumahtangga
yang mendorong suami untuk berpoligami.

a. Kemandulan

Banyak kasus perceraian yang dilatarbelakangi oleh masalah kemandulan , baik


kemandulan yang terjadi pada suami maupun yang dialami istri. Hal ini terjadi karena
keinginan seseorang untuk mendapat keturunan merupakan salah satu tujuan utama
pernikahan dilakukannya.

Dalam kondisi seperti itu, seorang istri yang bijak dan shalihah tentu akan berbesar hati
dan ridha bila sang suami menikahi wanita lain yang dapat memberikan keturunan. Di sisi
lain, sang suami tetep memposisikan istri pertamanya sebagai orang yang mempunyai tempat
di hatinya, tetap dicintainya, dan hidup bahagia bersamanya.

b. Istri yang Lemah

Ketika sang suami mendapati istrinya dalam keadaan serba terbatas , tidak mampu
menyelesaikan tugas-tugas rumahtangganya dengan baik, tidak bisa mengarahkan dan
mendidik anak-anaknya, lemah wawasan ilmu dan agamanya,serta bentuk-bentuk kekurangan
lainnya.maka pada saat itu,kemungkinan suami melirik wanita lain yang dianggapnya lebih
baik,bisa saja terjadi.dan sang istri hendaknya berlapang dada bahkan berbahagia,karena akan
ada wanita lainyang membantunya memecahkan persoalan rumah tangganya,tanpa akan
kehilangan cinta dan kasih saying suaminya.

c. Kepribadian yang Buruk

Istri yang tidak pandai bersyukur, banyak menuntut, boros, suka berkata kasar, gampang
marah, tidak mau menerima nasihat suami dan selau ingin menang sendiri, biasanya tidak
disukai sang suami. Oleh karenanya, tidak jarang suami yang mulai berpikir untuk menikahi
wanita lain yang dianggap lebih baik dan lebih shalihah, apalagi jika watak dan karakter
buruk sang istri tidak bisa diperbaiki lagi.

2.2.3 Faktor Sosial

a. Banyaknya Jumlah Wanita

Di Indonesia, pada PEMILU tahun 1999, jumlah pemilih pria hanya 48%, sedangkan
pemilih wanita sebanyak 52%. Berarti dari jumlah 110 Juta jiwa pemilih tersebut, jumlah
wanita adalah 57,2 juta orang dan Jumlah pria 52,8 juta orang. Padahal usia para pemilih itu
merupakan usia siap nikah.

b. Kesiapan Menikah dan Harapan Hidup pada Wanita

Jika saya mencoba melakukan survei pada masalah kesiapan menikah, pasti para wanita
akan lebih banyak jumlahnya daripada jumlahnya daripada kaum pria. Bahkan di daerah-
daerah tertentu, wanita usia 14-16 tahun sudah banyak yang bersuami, dan wanita yang
usianya 20 tahun merasa sudah terlambat menikah. Sebagian pendapat juga mengatakan
bahwa harapan hidup kaum wanita, lebih panjang daripada harapan hidup kaum pria,
perbedaannya berkisar 5-6 tahun. Sehingga tidak heran jika lebih banyak suami yang lebih
dahulu meninggal dunia, sedangkan sang istri harus hidup menjanda dalam waktu yang
sangat lama, tanpa ada yang mengayomi, melindungi, dan tiada yang memberi nafkah secara
layak.

c. Berkurangnya Jumlah Kaum Pria

Dampak paling nyata yang ditimbulkan akibat banyaknya jumlah kematian pada kaum
pria adalah semakin bertambahnya jumlah perempuan yang kehilangan suami dan terpaksa
harus hidup menjanda.lalu siapakah yang akan bertanggung jawab mengayomi,memberi
perlindungan dan memenuhi nafkah lahir dan batinnya,jika mereka terus menjanda?solusinya
tida lain,kecuali menikah lagi dengan seorang jejaka,atau duda,atau memasuki kehidupan
poligami dengan pria yang telah beristri.itulah solusi yang lebih mulia,halal dan baradab.

d. Lingkungan dan Tradisi

Lingkungan tempat saya hidup dan beraktivitas sangat besar pengaruhnya dalam
mempentuk karakter dan sikap hidup seseorang. Seorang suami akan tergerak hatinya untuk
melakukan poligami, jika ia hidup di lingkungan atau komunitas yang memelihara tradisi
poligami.

Sebaliknya ia akan bersikap antipati, sungkan dan berpikir seribu kali untuk
melakukannya, jika lingkungan dan tradisi yang ada di sekitarnya menganggap poligami
sebagai hal yang tabu dan buruk, sehingga mereka melecehkan dan merendahkan para
pelakunya.

e. Kemapanan Ekonomi

Inilah salah satu motivator poligami yang paling sering saya dapati pada kehidupan
modern sekarang ini. Kesuksesan dalam bisnis dan mapannya perekonomian seseorang,
sering menumbuhkan sikap percaya diri dan keyakinan akan kemampuannya menghidupi istri
lebih dari satu.

2.3 Syarat Diperbolehkannya Poligami

Syarat yang dituntut Islam dari seotrang muslim yang akan melakukan poligami
adalah keyakinan dirinya bahwa ia bisa berlaku adil di antara dua istri atau istri-istrinya
dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian , dan nafkah. Barang siapa kurang
yakin akan kemampuannya memenuhi hak-hak tersebut dengan seadil-adilnya, haramlah
baginya menikah dengan lebih dari satu perempuan. Allah SWT berfirman :



Lalu jika kalian khawatir tidak bisa adil, cukuplah satu saja. (An- Nisa : 3)

Beliau SWT juga bersabda,

Barang siapa mempunyai dua istri, sementara ia lebih condong kepada salah satu diantara
keduanya, maka pada hari kiamat nanti akan datang dengan menyeret salah satu belahan
tubuhnya yang terjatuh atau miring.

Miring yang diperingatkan dalam hadist ini adalah ketidakadilan dalam hak-haknya,
bukan sekedar kecenderungan hati, karena yang disebut terakhir ini termasuk hal yang susah
dipenuhi, bahkan dimaklumi dan dimaafkan Allah Swt.

Menurut beberapa ulama, setelah meninjau ayat-ayat tentang poligami, mereka telah
menetapkan bahwa menurut asalnya, Islam sebenamya ialah monogami. Terdapat ayat yang
mengandungi urutan serta peringatan agar tidak disalah gunakan poligami itu di tempat-
tempat yang tidak wajar. Ini semua bertujuan supaya tidak terjadinya kezaliman. Tetapi,
poligami diperbolehkan dengan syarat ia dilakukan pada masa-masa terdesak untuk
mengatasi perkara yang tidak dapat diatasi dengan jalan lain. Atau dengan kata lain bahwa
poligami itu diperbolehkan oleh Islam dan tidak dilarang kecuali jikalau dikhawatirkan
bahwa kebaikannya akan dikalahkan oleh keburukannya.

Jadi, sebagaimana talaq, begitu jugalah halnya dengan poligami yang diperbolehkan
karena hendak mencari jalan keluar dari kesulitan. Islam memperbolehkan umatnya
berpoligami berdasarkan nash-nash syariat serta realiti keadaan masyarakat. Ini bererti ia
tidak boleh dilakukan dengan sewenang-wenangnya demi untuk mencapai kesejahteraan
masyarakat Islam, demi untuk menjaga ketinggian budi pekerti dan nilai kaum Muslimin.

Oleh yang demikian, apabila seorang lelaki akan berpoligami, hendaklah dia memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut;

2.3.1 Membatasi Jumlah Isteri Yang Akan Dikahwininya.

Syarat ini telah disebutkan oleh Allah (SWT) dengan firman-Nya;








Maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu ber-kenan dari perempuan-perempuan
(lain): dua, tiga atau empat. (Al-Quran, Surah an-Nisa ayat 3)

Ayat di atas menerangkan dengan jelas bahwa Allah telah menetapkan seseorang itu
berkahwin tidak boleh lebih dari empat orang isteri. Jadi, Islam membatasi kalau tidak
beristeri satu, boleh dua, tiga atau empat saja.

Pembatasan ini juga bertujuan membatasi kaum lelaki yang suka dengan perempuan agar
tidak berbuat sesuka hatinya. Di samping itu, dengan pembatasan empat orang isteri,
diharapkan jangan sampai ada lelaki yang tidak menemukan isteri atau ada pula wanita yang
tidak menemukan suami. Mungkin, kalau Islam membolehkan dua orang isteri saja, maka
akan banyak wanita yang tidak menikah. Kalau pula dibolehkan lebih dari empat, mungkin
terjadi banyak lelaki tidak memperolehi isteri.

2.3.2 Diharamkan bagi suami mengumpulkan wanita-wanita yang masih ada tali
persaudaraan menjadi isterinya.

Misalnya, berkahwin dengan kakak dan adik, ibu dan anaknya, anak saudara dengan
emak saudara baik sebelah ayah maupun ibu.

Tujuan pengharaman ini ialah untuk menjaga silaturrahim antara anggota-anggota


keluarga. Rasulullah (s.a.w.) bersabda, maksudnya;Sesungguhnya kalau kamu berbuat yang
demikian itu, akibatnya kamu akan memutuskan silaturrahim di antara sesama kamu.
(Hadis riwayat Bukhari & Muslim)

Kemudian dalam hadis berikut, Rasulullah (s.a.w.) juga memperkuatkan larangan ini,
maksudnya; Bahwa Urnmu Habibah (isteri Rasulullah) mengusulkan agar baginda menikahi
adiknya. Maka beliau menjawab; Sesungguhnya dia tidak halal untukku. (Hadis riwayat
Bukhari dan Nasai)

Seorang sahabat bernama Fairuz Ad-Dailamy setelah memeluk agama Islam, beliau
memberitahu kepada Rasulullah bahwa beliau mempunyai isteri yang kakak beradik. Maka
Rasulullah menyuruhnya memilih salah seorang di antara mereka dan menceraikan yang
satunya lagi. Jadi telah disepakati tentang haramnya mengumpulkan kakak beradik ini di
dalam Islam.

2.3.3 Disyaratkan pula berlaku adil,

sebagaimana yang difirmankan Allah (SWT);

















Kemudian jika kamu bimbang tidak dapat berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu), maka
(kahwinlah dengan) seorang saja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yang kaumiliki.
Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidak melakukan
kezaliman. (Al-Quran, Surah an-Nisa ayat 3)

Dengan tegas diterangkan serta dituntut agar para suami bersikap adil jika akan
berpoligami. Andaikan takut tidak dapat berlaku adil kalau sampai empat orang isteri,
cukuplah tiga orang saja. Tetapi kalau itupun masih juga tidak dapat adil, cukuplah dua saja.
Dan kalau dua itu pun masih khuatir tidak boleh berlaku adil, maka hendaklah menikah
dengan seorang saja.

Para mufassirin berpendapat bahwa berlaku adil itu wajib. Adil di sini bukanlah bererti
hanya adil terhadap para isteri saja, tetapi mengandungi arti berlaku adil secara mutlak. Oleh
karena itu seorang suami hendaklah berlaku adil sebagai berikut:

a. Berlaku adil terhadap dirinya sendiri.

Seorang suami yang selalu sakit-sakitan dan mengalami kesukaran untuk bekerja mencari
rezeki, sudah tentu tidak akan dapat memelihara beberapa orang isteri. Apabila dia tetap
berpoligami, ini bererti dia telah menganiayai dirinya sendiri. Sikap yang demikian adalah
tidak adil.

b. Adil di antara para isteri.

Setiap isteri berhak mendapatkan hak masing-masing dari suaminya, berupa kemesraan
hubungan jiwa, nafkah berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain perkara yang
diwajibkan Allah kepada setiap suami.

Adil di antara isteri-isteri ini hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah dalam Surah an-
Nisa ayat 3 dan juga sunnah Rasul. Rasulullah (s.a.w.) bersabda, maksudnya;

Barangsiapa yang mempunyai dua isteri, lalu dia cenderung kepada salah seorang di
antaranya dan tidak berlaku adil antara mereka berdua, maka kelak di hari kiamat dia akan
datang dengan keadaan pinggangnya miring hampir jatuh sebelah. (Hadis riwayat Ahmad
bin Hanbal)

c. Adil memberikan nafkah.

Dalam soal adil memberikan nafkah ini, hendaklah si suami tidak mengurangi nafkah dari
salah seorang isterinya dengan alasan bahwa si isteri itu kaya atau ada sumber kewangannya,
kecuali kalau si isteri itu rela. Suami memang boleh menganjurkan isterinya untuk membantu
dalam soal nafkah tetapi tanpa paksaan. Memberi nafkah yang lebih kepada seorang isteri
dari yang lain-lainnya diperbolehkan dengan sebab-sebab tertentu. Misalnya, si isteri tersebut
sakit dan memerlukan biaya rawatan sebagai tambahan.

Prinsip adil ini tidak ada perbezaannya antara gadis dan janda, isteri lama atau isteri baru,
isteri yang masih muda atau yang sudah tua, yang cantik atau yang tidak cantik, yang
berpendidikan tinggi atau yang buta huruf, kaya atau miskin, yang sakit atau yang sihat, yang
mandul atau yang dapat melahirkan. Kesemuanya mempunyai hak yang sama sebagai isteri.

d. Adil dalam menyediakan tempat tinggal.

Selanjutnya, para ulama telah sepakat mengatakan bahwa suami bertanggungjawab


menyediakan tempat tinggal yang tersendiri untuk tiap-tiap isteri berserta anak-anaknya
sesuai dengan kemampuan suami. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kesejahteraan
isteri-isteri, jangan sampai timbul rasa cemburu atau pertengkaran yang tidak diingini.

e. Adil dalam giliran,

Demikian juga, isteri berhak mendapat giliran suaminya menginap di rumahnya sama
lamanya dengan waktu menginap di rumah isteri-isteri yang lain. Sekurang-kurangnya si
suami mesti menginap di rumah seorang isteri satu malam suntuk tidak boleh kurang. Begitu
juga pada isteri-isteri yang lain. Walaupun ada di antara mereka yang dalam keadaan haidh,
nifas atau sakit, suami wajib adil dalam soal ini. Sebab, tujuan perkahwinan dalam Islam
bukanlah semata-mata untuk mengadakan hubungan seks dengan isteri pada malam giliran
itu, tetapi bermaksud untuk menyempumakan kemesraan, kasih sayang dan kerukunan antara
suami isteri itu sendiri. Hal ini diterangkan Allah dengan firman-Nya;









Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-Nya, dan rahmat-Nya, bahwa la


menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya
kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikan-Nya di antara kamu (suami
isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu
mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang
berfikir. (Al-Quran, Surah ar-Ruum ayat 21)

Andaikan suami tidak bersikap adil kepada isteri-isterinya, dia berdosa dan akan menerima
seksaan dari Allah (SWT) pada hari kiamat dengan tanda-tanda berjalan dalam keadaan
pinggangnya miring. Hal ini akan disaksikan oleh seluruh umat manusia sejak Nabi Adam
sampai ke anak cucunya.

Firman Allah (SWT) dalam Surah az-Zalzalah ayat 7 hingga 8;





-




Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarrah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat
amalnya)! Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarrah, nescaya akan dilihatnya (dalam
surat amalnya).

2.4 Anak-anak juga mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan, pemeliharaan


serta kasih sayang yang adil dari seorang ayah.

Oleh itu, disyaratkan agar setiap suami yang berpoligami tidak membeda-bedakan antara
anak si A dengan anak si B. Berlaku adil dalam soal nafkah anak-anak mestilah diperhatikan
bahwa nafkah anak yang masih kecil berbeda dengan anak yang sudah besar. Anak-anak
perempuan berbeda pula dengan anak-anak lelaki. Tidak kira dari ibu yang mana,
kesemuanya mereka berhak memiliki kasih sayang serta perhatian yang seksama dari bapa
mereka. Jangan sampai mereka diterlantarkan karena kecenderungan si bapa pada salah
seorang isteri serta anak-anaknya saja.

Keadilan juga sangat dituntut oleh Islam agar dengan demikian si suami terpelihara dari
sikap curang yang dapat merosakkan rumah tangganya. Seterusnya, diharapkan pula dapat
memelihara dari terjadinya cerai-berai di antara anak-anak serta menghindarkan rasa dendam
di antara sesama isteri.
Sesungguhnya kalau diperhatikan tuntutan syara dalam hal menegakkan keadilan antara
para isteri, nyatalah bahwa sukar sekali didapati orang yang sanggup menegakkan keadilan
itu dengan sewajarnya.

Bersikap adil dalam hal-hal menzahirkan cinta dan kasih sayang terhadapisteri-isteri,
adalah satu tanggung jawab yang sangat berat. Walau bagaimanapun, ia termasuk perkara
yang berada dalam kemampuan manusia. Lain halnya dengan berlaku adil dalam soal kasih
sayang, kecenderungan hati dan perkara-perkara yang manusia tidak berkesanggupan
melakukannya, mengikut tabiat semula jadi manusia.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah difirmankan Allah dalam Surah an-Nisa ayat 129
yang berbunyi;













.......
Dan kamu tidak sekali-kali akan sanggup berlaku adil di antara isteri-isteri kamu
sekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu janganlah kamu
cenderung dengan melampau-lampau (berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi)
sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung (di awang-awang).

Selanjutnya Siti Aisyah (r.a.) menerangkan, maksudnya;

Bahwa Rasulullah (s.a.w.) selalu berlaku adil dalam mengadakan pembahagian antara
isteri-isterinya. Dan beliau berkata dalam doanya: Ya Allah, inilah kemampuanku
membahagi apa yang ada dalam milikku. Ya Allah, janganlah aku dimarahi dalam
membahagi apa yang menjadi milikku dan apa yang bukan milikku

Menurut Prof. Dr. Syeikh Mahmoud Syaltout; Keadilan yang dijadikan syarat
diperbolehkan poligami berdasarkan ayat 3 Surah an-Nisa. Kemudian pada ayat 129 Surah
an-Nisa pula menyatakan bahwa keadilan itu tidak mungkin dapat dipenuhi atau dilakukan.
Sebenarnya yang dimaksudkan oleh kedua ayat di atas ialah keadilan yang dikehendaki itu
bukanlah keadilan yang menyempitkan dada kamu sehingga kamu merasakan keberatan yang
sangat terhadap poligami yang dihalalkan oleh Allah. Hanya saja yang dikehendaki ialah
jangan sampai kamu cenderung sepenuh-penuhnya kepada salah seorang saja di antara para
isteri kamu itu, lalu kamu tinggalkan yang lain seperti tergantung-gantung.
Kemudian Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shidieqy pula menerangkan; Orang yang boleh
beristeri dua ialah yang percaya benar akan dirinya dapat berlaku adil, yang sedikit pun tidak
akan ada keraguannya. Jika dia ragu, cukuplah seorang saja.

Adil yang dimaksudkan di sini ialah kecondongan hati. Dan ini tentu amat sulit untuk
dilakukan, sehingga poligami adalah suatu hal yang sukar untuk dicapai. Jelasnya, poligami
itu diperbolehkan secara darurat bagi orang yang benar-benar percaya dapat berlaku adil.

Selanjutnya beliau menegaskan, jangan sampai si suami membiarkan salah seorang isterinya
terkatung-katung, digantung tak bertali. Hendaklah disingkirkan sikap condong kepada salah
seorang isteri yang menyebabkan seorang lagi kecewa. Adapun condong yang dimaafkan
hanyalah condong yang tidak dapat dilepaskan oleh setiap individu darinya,yaitu condong
hati kepada salah seorangnya yang tidak membawa kepada mengurangkan hak yang seorang
lagi.

Afif Ab. Fattah Tabbarah dalam bukunya Ruhuddinil Islami mengatakan; Makna adil di
dalam ayat tersebut ialah persamaan; yang dikehendaki ialah persamaan dalam hal pergaulan
yang bersifat lahir seperti memberi nafkah, tempat tinggal, tempat tidur, dan layanan yang
baik, juga dalam hal menunaikan tanggungjawab sebagai suami isteri.

2.5 Hikmah Diperbolehkannya Poligami

Islam adalah kata akhir Allah yang dengannya ia menutup risalah-risalah sebelumnya.
Karena itulah, ia juga membawa syariat yang universal dan abadi, untuk seluruh penjuru
dunia untuk semua zaman dan untuk semua umat manusia.

Ia tidak membuat syariat untuk orang kota dengan melalaikan orang desa, tidak untuk
masayarakat daerah beriklim dingin dengan merupakan masyarakat beriklim tropis dan tidak
pula suatu abad dengan melupakan abad dan generasi lain.

Ia telah mengukur kebutuhan individu, kebutuhan masyarakat, sekaligus kadar


kepentingan semua pihak. Ada diantara mereka yang memiliki semangat besar untuk
memiliki keturunan, akan tetapi diberi rezeki dengan istri yang tidak beranak karena mandul,
berpenyakit, atau sebab lainnya.

Ada satu diantara tiga pilihan bagi perempuan yang jumlahnya berlebih dibanding dengan
jumlah laki-laki:

1. Menghabiskan seluruh masa hidupnya dengan menelan kenyataan pahit tidak


mendapatkan jodoh.
2. Melepaskan kendali, menjadi pemuas nafsu bagi laki-laki hidung belang yang
diharamkan.

3. Atau menikah dengan seorang laki-laki beristri yang mampu memberi nafkah dan
berlaku baik.

Tidak diragukan lagi, cara terakhir adalah alternatif yang adil, dan merupakan solusi
terbaik terhadap permasalahan yang akan dihadapinya. Dan itulah keputusan hukum islam,

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin

Itulah poligami, yang tidak diterima orang-orang barat yang Nasrani itu. Mereka
mencibir dan memperolok-olok kaum muslimin dengan syariat yang membolehkan poligami
ini. Namun pada waktu yang bersamaan, mereka mengizinkan kaum lelakinya berhubungan
dengan perempuan-perempuan nakal dan teman-eman hidup tanpa batas atau pun
perhitungan, tidak berdasarkan pada undang-udang atau pun norma yang patut bagi
perempuan dan keturunan yang dilahirkan, sebagai buah dari poligami atheis dan amoral.

2.6 Dampak Negatif Poligami

2.6.1 Terhadap Kehidupan Rumah Tangga

Dampak poligami terhadap kehidupan rumah tangga antara lain :

1. Ketidakharmonisan hubungan anggota keluarga.


2. Sering timbul permasalahan atau percek-cokan.
3. Tidak adanya rasa saling pecaya.
4. Tidak adanya kepedulian yang besar dari suami terhadap anak dan isteri.
5. Kemungkinan dapat menyebabkan perceraian.
2.6.2 Dampak yang Umum Terjadi Terhadap Istri

Menurut buku Agar Suami Tak Berpoligami, dampak-dampak umum yang dapat
terjadi bagi para istri yang suaminya berpoligami adalah,

Dampak psikologis: perasaan inferior istri dan menyalahkan diri karena merasa
tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi
kebutuhan biologis suaminya.

Dampak ekonomi rumah tangga: Ketergantungan secara ekonomi kepada suami.


Walaupun ada beberapa suami memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, tetapi dalam
prakteknya lebih sering ditemukan bahwa suami lebih mementingkan istri muda dan
menelantarkan istri dan anak-anaknya terdahulu.. Akibatnya istri yang tidak memiliki
pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari. Kekerasan terhadap
perempuan, baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. Hal ini umum terjadi
pada rumah tangga poligami, walaupun begitu kekerasan juga terjadi pada rumah tangga
yang monogami.

Dampak hukum: Seringnya terjadi nikah di bawah tangan (perkawinan yang tidak
dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama), sehingga perkawinan
dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Pihak
perempuan akan dirugikan karena konsekwensinya suatu perkawinan dianggap tidak ada,
seperti hak waris dan sebagainya.

Dampak kesehatan: Kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri


menjadi rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS), bahkan rentan terjangkit virus
HIV/AIDS.

2.6.3 Dampak Negatif Poligami Terhadap Anak

Poligami tidak hanya berdampak negative terhadap kehidupan rumah tangga dan
isteri,namun poligami juga berdampak negative terhadap anak,antara lain:

1. Sang anak merasa tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya.


2. Anak menjadi frustasi melihat keadaan orang tuanya.
3. Anak mendapat tekanan mental.
4. Adanya rasa benci kepada sang ayah.
5. Dicemooh oleh teman-temannya.
6. Anak tidak betah di rumah.
7. Tidak menutup kemungkinan anak menjadi melakukan perbuatan yang tidak baik.
8. Anak mengikuti pergaulan yang negative.
9. Anak tidak semangat belajar.
10. Anak menjadi beranggapan negative terhadap orang tua.
2.7 Pandangan Saya sebagai Mahasiswa Terhadap Poligami

Menurut saya sendiri sebagai mahasiswa lajang tentang poligami. Boleh tidaknya
poligami itu tergantung dari masing-masing orang yang mau menjalaninya, mungkin dengan
segala pertimbangan yang seksama. Apa akibat yang akan timbul seelah dia melakukan
poligami.
Tapi saya sempat menanyakan pendapat dari teman-teman bagaimana tentang
poligami menurut kalian?. Dan jawaban mereka beragam :

1. Menindas kaum wanita dan secara tidak langsung menginjak-injak harga diri wanita.
2. Tidak adil untuk perempuan
3. Menyakiti kaum wanita
4. Dapat merusak kebahagian keluarga
5. Sanksi di akhirat sangat besar apabila tidak bisa berlaku adil
6. Berdampak negatif terhadap anak
Saya bisa mengetahui bahwa sebagian besar dari teman-teman saya tidak setuju akan
poligami. Banyak dari mereka masih beranggapan bahwa poligami adalah suatu tindakan
yang tidak baik. Baik temen laki-laki maupun perempuan menganggap bahwa poligami
hanya akan menimbulkan konflik-konflik atau masalah-masalah yang dapat merusak
keharmonisan suatu keluarga. Hanya sedikit dari mereka yang mengaku setuju pada poligami.
Meskipun sedikit, ini membuktikan bahwa masih ada orang yang memandang poligami dari
sisi positif, dan memaklumi poligami asalkan alasannya jelas.

Sebagian besar dari dari teman-teman saya beranggapan tidak perlu ada Undang-
Undang yang mengatur Poligami. Karena mereka beranggapan bahwa poligami adalah hak
setiap orang dan tidak ada hadist atau pun ayat AL-QURAN yang secara terang-terangan
melarang poligami. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Undang-Undang yang
mengatur poligami sangat diperlukan, karena dapat memperjelas hukum tentang poligami di
Indonesia.

Di sekitar tempat tinggal mereka jarang terdapat orang yang berpoligami. Kalau pun
ada, hanya beberapa orang saja yang mempunyai tetangga atau keluarga yang berpoligami.
Saya hanya menemukan 2 kasus yang mengatakan bahwa ayahnya sendiri yang melakukan
poligami. Ada yang mengaku bahwa ayahnya sendiri melakukan poligami berencana akan
mengikuti jejak ayahnya. Sedangkan ada juga yang mengaku ayahnya berpoligami, mengaku
membenci ayahnya dan merasa kasihan terhadap ibunya. Dari dua kasus tersebut, saya dapat
mengetahui bahwa poligami membawa dampak negatif bagi anak. Anak akan membenci
orangtuanya dan akan mengikuti jejak sang ayah. Ada juga yang mempunyai tetangga yang
berpoligami, menurutnya orang yang berpoligami memang kurang harmonis dan suami
jarang pulang. Meski begitu suami masih bertanggung jawab dan menafkahi keluarga
tersebut.
Dari keterangan di atas, sebagian besar teman-teman saya memang menentang atau
tidak setuju terhadap poligami, terutama perempuan. Namun masih ada yang setuju akan
poligami karena beranggapan poligami adalah salah satu cara dalam menghindari perzinaan
dan mengangkat derajat wanita-wanita yang tidak memiliki suami.

BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan :

Dari data-data yang saya peroleh, baik dari buku, internet serta dari teman-teman yang saya
mintai pendapat, Saya dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya poligami diperbolehkan
oleh agama apabila tujuannya baik dan sang suami dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya
dan jumlah istrinya tidak melebihi 4 orang. Namun masyarakat masih beranggapan negatif
kepada orang-orang yang berpoligami. Hal ini terjadi karena masalah poligami masih tabu di
masyarakat.

3.2 Saran :

Sebaiknya masyarakat tidak selalu beranggapan negatif terhadap seseorang yang melakukan
poligami karena ia pasti memiliki alasan-alasan serta faktor-faktor yang jelas untuk
melakukan poligami. Selain itu, sebaiknya para suami jangan melakukan poligami apabila
tidak dapat berlaku adil bagi istri-istrinya karena hukuman bagi suami yang tidak bisa berlaku
adil sangatlah pedih.

Nabi bersabda, Barang siapa beristri dua dan tidak berlaku adil pada keduanya maka ia akan
datang pada hari kiamat dalam keadaan tubuhnya. (HR Tirmidzi dan Al Hakim)