Anda di halaman 1dari 5

RESUME

PERCOBAAN GRIFFITH, HARSHEY-CHASE, FRAENKEL-CONRAT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika 1


yang dibimbing oleh Bapak Andik Wijayanto dan Ibu Siti Zubaidah

Oleh:
Offering C/Kelompok 7
Difandini Rizky Firdaus (150341606658)
Hosniyah (150341602341)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

Januari 2017
Gen memiliki pola transmisi dari generasi ke generasi. Materi genetik itu sendiri terdiri dari
fungsi genotip(mengirim informasi ke keturunannya) dan fenotip(mengontrol diferensiasi sel).
Kromosom terbuat dari 2 tipe makromolekul yaitu protein dan asam nukleat(DNA dan RNA).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa DNA mengandung informasi genetik. Komposisi molekular
DNA pada semua sel yang berbeda adalah sama, tetapi komposisi RNA dan protein bervariasi
bergantug mutu dan ketersediannya pada setiap sel berbeda. Hubungan pendapat ini menunjukkan
bahwa DNA adalah materi genetik dan mengkodekan informasi genetik.
PERCOBAAN GRIFFITH (TRANSFORMASI DI PNEUMOCOCCUS)
Bukti awal yang menunjukkan bahwa materi genetik tersusun oleh DNA daripada protein
ataupun RNA dipublikasikan oleh O. T. Avery, C. M. Macleod, and M. McCarty tahun 1944 dengan
menunjukkan bahwa komponen sel yang bertanggung jawab dalam transformasi bakteri Diplocccus
pneumoniae (Pneumococcus) adalah DNA. Fenomena dari transformasi sendiri ditemukan oleh
Frederick Griffith pada tahun 1928 dengan Pneumocci yang memperlihatkan variabilitas genetik yang
dapat dikenali oleh fenotip yang berbeda. Ketika tumbuh pada media yang tepat (contonya darah) pada
cawan petri , Pneumococci tumbuh dengan bentuk kapsul yang besar, disebut tipe S dan bersifat
virulen(patogen). Pneumococci yang tidak berkapsul dan tidak patogen berbentuk kecil dan kasar,
disebut tipe R(nonvirulen). Kapsul yang muncul memiliki berbagai tipe antigen yang dapat
diidentifikasi secara imunologi dan menyebabkan reaksi spesifik yang berbeda. Percobaan Griffith
menunjukkan bahwa ketika bakteri Pneumococci tipe IIIS disuntikkan kepada tikus maka tikus akan
mati karena bersifat virulen(patogen) sedangkan bakteri Pneumococci tipe IIR disuntikkan tikus tidak
mati. Ketika tikus disuntik dengan Pneumococci tipe IIIS yang sudah dipanaskan saja, tidak ada tikus
yang mati. Hasil yang tak terduga adalah ketika disuntikkan bakteri Pneumococci tipe IIIS(patogen)
yang sudah dipanaskan (bakteri dalam kondisi mati) ditambah Pneumococci hidup tipe IIR (tidak
patogen), banyak tikus yang mati dan pada bangkai nya ditemukan Pneumococci tipe IIIS yang hidup.
Pneumococci yang didapat dari bangkai adalah polisakarida tipe III yang artinya bersifat virulen.
Fenomena ini merupakan transformasi dan bukan mutasi karena jika mutasi maka sel tipe IIR akan
menjadi IIS bukan IIIS. Dengan demikian, transformasi dari sel tipe IIR ke sel tipe IIIS dijelaskan
karena komponen sel IIIS yang mati bertransformasi dari tipe IIR menjadi IIIS. DNA mengikuti asas
transformasi yang melibatkan enzim yang mengradasi DNA, RNA, atau protein. Pada eksperimen
lainnya, DNA yang sangat murni dari sel tipe IIIS telah diberi perlakuan dengan (1) deoxyribonuclease
(DNAase yang mengradasi DNA), (2) ribonuclease (RNAase, yang mengradasi RNA) atau (3)
proteases (yang mengradasi protein) dan kemudian diujikan untuk melihat kemampuan untuk
transformasi dari sel tipe IIR ke sel tipe IIIS. Akan tetapi, hanya DNAase yang me miliki efek pada
aktiftas transformasi pada Preparasi DNA. Hasil yang diperoleh oleh Avery dkk ditetapkan secara jelas
bahwa informasi genetik pada Pneumococcus terjadi di DNA. Segment dari DNA di kromosom
Pneumococcus yang membawa informasi genetik secara spesifik menyintesis kapsul tipe III yang
secara fisik berintegrasi menjadi kromosom tipe IIR sel penerima oleh rekombinasi spesifik yang
mengalami proses yang terjadi selama transformasi.
PERCOBAAN HERSHEY_CHASE
Bukti tambahan yang menunjukkan bahwa DNA adalah materi genetik diterbitkan pada tahun
1952 oleh M. Hershey (1969 Nobel Prize Winner) dan M. Chase. Percobaan ini menunjukkan bahwa
informasi genetik dari virus bakteri tertentu (bakteriofag T2) ada dalam DNA-nya. Virus adalah
organisme hidup terkecil, mereka hidup setidaknya dalam arti bahwa reproduksi mereka dikendalikan
oleh informasi genetik yang disimpan dalam asam nukleat melalui proses yang sama seperti pada
organisme selular. Virus, bagaimanapun adalah parasit obligat acellular yang reproduksinya hanya
terdapat dalam sel inang yang sesuai. Untuk memperbanyak diri, virus harus menginfeksi sel inang dan
mengambil alih perangkat metabolisme (ribosom, sistem yang menghasilkan energi, dan komponen
lain) sel inangnya. Jadi virus tidak dapat melakukan reproduksi bila tidak menginfeksi sel inang.
Bakteriofag T2, umumnya menginfeksi Escherichia coli, komponenya terdiri dari DNA 50 %
dan protein 50 %. Bakteriofag T2, yang umumnya menginfeksi usus Escherichia coli, yang terdiri dari
DNA sekitar 50 persen dan protein sekitar 50 persen. Percobaan sebelum 1952 telah menunjukkan
bahwa semua reproduksi T2 bakteriofag berlangsung dalam sel E. coli. Oleh karena itu, ketika Hershey
dan Chase menunjukkan bahwa DNA dari partikel virus memasuki sel, sedangkan sebagian besar
protein virus tetap terserap ke luar sel. Implikasinya adalah bahwa informasi genetik yang diperlukan
untuk reproduksi virus terdapat dalam DNA.
Dasar untuk percobaan Hershey-Chase adalah bahwa DNA mengandung fosfor tapi tidak ada
sulfur, sedangkan protein mengandung sulfur tapi tidak ada fosfor. Dengan demikian, Hershey dan
Chase memberi label kusus untuk percobaan pertama dan percobaan kedua. Pada percobaan (1) DNA
fag oleh pertumbuhan dalam medium yang mengandung isotop radioaktif fosfor, 32P, di tempat isotop
normal, 31P, atau (2) protein fag mantel oleh pertumbuhan dalam medium yang mengandung belerang
radioaktif, 35S, di tempat isotop normal, 32S. Ketika partikel T2 fag dengan label 35S dicampur dengan
sel E.coli selama beberapa menit dan kemudian mengalami kekuatan geser dengan menempatkan sel
yang terinfeksi dalam blender waring, ditemukan bahwa sebagian besar radioaktivitas (terdapat
di dalam mantel protein, bukan dalam sel bakteri) bisa dihapus dari sel tanpa mempengaruhi produksi
keturunan fag. Hal ini membuktikan bahwa bahan genetik yang menginfeksi bakteri adalah DNA.
Ketika T2 fag di mana DNA diberi label dengan 32P digunakan, namun pada dasarnya semua
radioaktivitas ditemukan di dalam sel, yaitu mereka menginfeksi bakteri E. coli dengan fag tersebut,
lalu menyingkirkan mantel protein dari sel terinfeksi dengan blenderdan sentrifus. Mereka menemukan
bahwa semua radioaktif tersebut terlihat dalam sel-sel bakteri, dan tidak ditemukan pada mantel
protein. Hasil ini menunjukkan bahwa DNA virus memasuki sel inang, sedangkan mantel protein tetap
berada di luar sel. Karena virus progeni diproduksi di dalam sel, dari hasil penelitian Hershey dan
Chase menunjukkan bahwa informasi genetik mengarahkan sintesis dari kedua molekul DNA dan
mantel protein virus keturunan harus hadir dalam DNA orangtua. Selain itu, partikel keturunan yang
terbukti mengandung beberapa 32P, tapi tak satu pun dari 35S dari fag orangtua.
Namun, percobaan Hershey-Chase tidak memberikan bukti jelas bahwa materi genetik fag T2
adalah DNA. Sebuah jumlah yang signifikan 35S (dan dengan demikian protein) ditemukan untuk
disuntikkan ke dalam sel inang dengan DNA. Dengan demikian, orang selalu berpendapat bahwa
sebagian kecil ini dari protein fag mengandung informasi genetic.
PERCOBAAN FRAENKEL_CONRAT
Pada tahun 1957, H. Fraenkel-Conrat melakukan percobaan dengan menggunakan
TMV(Tobacco Mosaic Virus) adalah virus penyebab penyakit pada tanaman tembakau yang memiliki
RNA, bukan DNA, sebagai materi genetiknya. Komponen lain yang menyusun TMV (Tobacco Mosaic
Virus) adalah protein yang bersama RNA membentuk konfigurasi spiral.
Fraenkel-Conrat memisahkan RNA dan protein dari strain TMV (Tobacco Mosaic Virus) yang
berbeda. RNA dan protein tersebut kemudian di rekonstruksi dengan pasangan RNA dan protein dari
strain yang berlainan. Kedua hasil rekonstruksi virus ini kemudian diinfeksikan pada daun
tembakau. Ketika daun tembakau terinfeksi virus TMV(Tobacco Mosaic Virus), maka virus
keturunannya selalu memiliki fenotip dan genotip yang identik dengan strain induk asal dari mana
RNA tersebut diambil. Dari percobaan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa materi genetik yang
terdapat pada TMV (Tobacco Mosaic Virus) adalah RNA.

Pertanyaan dan Jawaban


1. Seperti yang telah dijelaskan bahwa DNA lah yang mengandung materi genetik dan DNA terletask
di kromosom sedangkan RNA melimpah di sitoplasma. Bagaimanakah sifat kimia, dan fungsi dari
DNA dan RNA itu sendiri? Dan apakah molekul DNA yang memiliki dua pita double helix membawa
materi genetik yang sama?
Jawab:
Perbedaan DNA dan RNA itu sendiri terletak pada penyusunnya dimana DNA disusun oleh
gula deoksiribosa dan RNA disusun oleh gula riboda, pada DNA terdapat basa timin (dari golongan
pirimidin) dan RNA terdapat basa urasil. DNA terletak di kromosom sedangkan RNA terletak
tergantung dari macamnya, mRNA terdapat dalam nukleus, tRNA terdapat dalam sitoplasma dan
rRNA terdapat dalam ribosom. Fungsi DNA sudah jelas yaitu membawa informasi genetik sedangkan
RNA terganting macamnya. mRNA berfungsi menerima informasi genetik dari DNA saat transkripsi.
tRNA berfungsi mengikat asam amino dalam sitoplasma dan melangsungkan translasi, dan rRNA
berfungsi mensistessis protein dalam ribosom. DNA yang memiliki dua pita double helix itu sendiri
tidak membawa informasi genetik yang sama dikarenakan urutan nukleotidanya berbeda.

2. Pada percobaan Griffith dan percobaan yang telah dilanjutkan oleh Avery dkk, apa yang
membuktikan bahwa RNA bukan termasuk bahan yang terlibat dalam proses/fenomena transformasi?
Dan apa yang terjadi bila transformasi sudah berlangsung? Apakah seluruh keturunan akan memiliki
DNA yang sudah bertransformasi tersebut?
Jawab:
Untuk membuktikan hasil bahwa DNA lah yang berperan dalam fenomena tranformasi,
dilakukan percobaan dengan filtrat dari sel IIIS yang telah dimatikan direaksikan dengan protease
(enzim yang dapat menghancurkan protein), dan RNase (enzim yang dapat menghancurkan molekul
RNA) secara terpisah, kemudian dicampur dengan sel galur IIR. Hasil dari pencampuran ini masih
menghasilkan bakteri galur IIIS. Hal tersebut menunjukkan bahwa protein dan RNA bukan merupakan
bahan untuk terjadinya fenomena transformasi. Percobaan lainnya adalah dengan menambahkan
DNase (suatu enzim yang dapat menghancurkan enzim) pada filtrat dari sel IIIS. Hasilnya, filtrat yang
telah dicampur dengan DNase ini ternyata tidak mampu menghasilkan sel IIIS bila dicampur dengan
sel IIR, yang berarti tidak mampu menginduksi transformasi. Dan bila transformasi telah berlangsung,
kapsul polisakarida akan disintesis terus pada generasi berikutnya, dan bahan utama untuk transformasi
digandakan pada sel-sel anaknya. Dengan demikian, transformasi merupakan proses yang
mempengaruhi bahan genetik dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya sehingga DNA yang sudah
mengalami transformasi pun diturunkan kepada keturunannya.
3. Dalam eksperimen Hershey-Chase Bagaimana menggunakan radioaktif yang berbeda untuk
menandai DNA dan protein? Bagaimana kesimpulan dari hasil pengamatan radioaktivitas pada
eksperimen Hershey-Chase
Jawab:
Dalam eksperimen Hershey-Chase cara menggunakan radioaktif yang berbeda untuk menandai
DNA dan protein adalah Pertama, T2 ditumbuhkan dengan E.coli dalam sulfur radioaktif (35S) untuk
menandai protein karena protein mengandung sulfur. Dengan cara yang serupa, kultur T2 yang berbeda
ditumbuhkan dalam fosfor radioaktif (32P) untuk menandai DNA karena DNA mengandung fosfor.
Kedua macam kultur mengandung T2 yang sudah berlabel radioaktif tersebut kemudian dibiakkan
secara terpisah bersama kultur E. Coli yang non radioaktif. Setelah terjadi infeksi, kultur diblender
untuk melepaskan bagian fag yang terdapat di luar sel bakteri. Hasil blender kemudian diputar dengan
sentrifus, sehingga ada bagian sel yang membentuk pelet di dasar tabung sentrifus. Bagian lainnya
yang lebih ringan berada di dalam cairan (supernatan).
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari eksperimen Hershey-Chase adalah bahwa DNA virus
masuk ke dalam sel inang, sementara sebagian besar protein tetap berada di luar. Masuknya materi
genetik kedalam tubuh bakteri akan menyebabkan terjadinya kerusakan program genetik bakteri
karena diambil alih oleh DNA virus. Hal ini menyebabkan virus dapat dengan mudah memperbanyak
diri selama di dalam tubuh bakteri. Dengan demikian percobaan Hershey-Chase memberikan bukti
bahwa DNA merupakan materi genetik.

4. Dalam eksperimen Fraenkel & Conrate mantel protein dari strain virus satu dicampur dengan
molekul RNA dari strain virus yang lain dalam kondisi yang mengakibatkan pemulihan lengkap.
Selanjutnya keturunan dari virus ini selalu memiliki fenotip dan genotip yang identik dengan strain
induk asal dari mana RNA diambil. Mengapa demikian dan bagaimana kesimpulan dari
eksperimen Fraenkel & Conrate?
Jawab:
Dalam eksperimen Fraenkel & Conrate mantel protein dari strain virus TMV satu dicampur
dengan molekul RNA dari strain virus TMV yang lain dalam kondisi yang mengakibatkan pemulihan
lengkap. Selanjutnya keturunan dari virus ini selalu memiliki fenotip dan genotip yang identik dengan
strain induk asal dari mana RNA diambil. Keturunan yang identic dengan strain induk asal dari mana
RNA diambil tersebut, menjelaskan bahwa informasi genetic penyusun tubuh (fag) virus TMV telah
tersimpan dalam RNA bukan dalam mantel protein. Sehingga walaupun mantel protein diperoleh dari
strain virus TMV yang lain, tetap tidak akan mempengaruhi pembentukan mantel protein pada
keturunnya. Kesimpulan dari eksperimen Fraenkel & Conrate adalah informasi genetik virus MTV
tersimpan dalam RNA, bukan dalam protein mantel.