Anda di halaman 1dari 3

IND INDONESIAN MINING INSTITUTE

PERTAMBANGAN INDONESIA DALAM PERSPEKTIF NASIONAL DAN GLOBAL

1. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk melihat capaian kinerja sektor pertambangan dan
outlook sektor ini pada tahun 2017. Intinya adalah bagaimana sektor pertambangan ini
dapat medukung perekonomian Indonesia.
Dalam kesempatan ini kami mencoba untuk melihat Pertambangan Indonesia dalam
perspektif Nasional dan Global.

2. Sebelum masuk ke Perspektif Pertambangan Indonesia saat ini, maka kita harus
memetakan kondisi objektif yang mendorong kearah perubahan paradigma sesuai
keadaan pertambangan saat ini.
Kondisi objektif tersebut pertama : Pada kenyataannya sumberdaya dan cadangan
mineral dan batubara Indonesia bukalah termasuk dalam kategori top tiers tetapi lebih
pada posisi moderate. Kedua: jika dikaitkan dengan jumlah populasi dan trend populasi
Indonesia saat ini, maka posisi jumlah cadangan/sumberdaya mineral dan batubara
Indonesia per kapita lebih kecil dan bahkan tidak signifikan dibandingkan dengan negara-
negara top tiers. Apa yang akan kita katakan disini adalah Indonesia sebenarnya telah
menghadapi masalah scarcity of resources (KELANGKAAN SUMBERDAYA).

3. Indonesia hingga saat ini masih menggantungkan perekonomiannya khususnya pada


Neraca Perdangangan pada ekspor bahan mentah (raw material) termasuk batubara dan
(mineral). Sementara kontribusi sektor manufacturing yang lebih memiliki nilai tambah
dalam mendukung ekspor masih perlu diwaspadai dari waktu ke waktu. Meneruskan
praktek praktek penjualan bahan mentah (raw material) ini berarti kurang sensistif
terhadap adanya masalah KELANGKAAN SUMBERDAYA.

4. Ketergantungan pada penjualan bahan mentah ini diperparah dengan menurunnya harga
komoditi mineral unggulan Indonesia dan batubara. Data harga mineral unggulan
Indonesia (Nikel, Bauksit, Tembaga, Timah, Emas, dan Batubara sejak tahun 2013-2016
menyusul adanya kontraksi perekonomian global dan khususnya Tiongkok sebagai
manufacturing power house yang menyerap hampir seluruh bahan baku mineral dan
batubara Indonesia. Rendahnya Terms of Trade bahan mentah ini akan mengarah
kepada over-exploitation (jika kondisi larangan ekspor dibuka kembali) yang akan
memperparah kondisi KELANGKAAN SUMBERDAYA yang ada.

5. Untuk mengatasi permasalahaan terjadinya KELANGKAAN SUMBERDAYA maka


PARADIGMA kita dalam mengelola sumberdaya mineral dan batubara harus segera
berubah. Dari Paradigma INDONESIA KAYA MINERAL DAN BATUBARA berubah ke
Paradigma baru itu adalah SUSTAINABILITY (Keberlanjutan). SUSTAINABILITY dalam hal
ini bukan saja bagaimana pertambangan, mineral, logam dapat berkontribusi terhadap
pembangunan berkelanjutan (SUSTAINABLE DEVELOPMENT) namun juga mencakup
bagaimana sumberdaya dan cadangan mineral itu dapat dimanfaatkan secara optimal
dalam mendukung pembangunan berkelanjutan ( Walaupun Sumberdaya dan Cadangan
Mineral dan Batubara bersifat tidak terbaharukan atau dapat dikatakan tidak
berkelanjutan).

6. Untuk masuk kedalam PARADIGMA SUSTAINABILITY ini kita harus kembali kepada
TRIPLE BOTTOM LINE Pengelolaan mineral dan barubara. Dengan komponen (1)
Inventarisasi (2) Pemanfaatan dan (3) Konservasi . Ketiga komponen ini harus dikelola
secara OPTIMAL.

7. Dengan mengunakan TRIPLE BOTTOM LINE ini kita segera dapat melihat agenda agenda
apa saja yang harus diselesaikan segera.

6.1. INVENTARISASI menyangkut:


(a) Akurasi Data Sumberdaya dan Cadangan.
(b) Perlunya rekonsiliasi data-data eksplorasi pada tingkat korporasi sebagai baseline
cadangan nasional.
(c) Meningkatkan gairah investasi perusahaan junior mining company dalam melakukan
ekplorasi dengan memberlakukan legal framework yang lebih kompetitif dan insentif
fiskal yang lebih lucrative.

6.2. PEMANFAATAN menyangkut:


(a) Penyelesaiaan negosiasi KK dan PKP2B untuk meningkatkan kepercayaan investor atas
adanya kepastian berusaha dan membuktikan bahwa pemerintah Indonesia tidak
melakukan ekspropriasi dan nasionalisasi.
(b) Penyelesaian masalah Divestasi yang lebih mengarah kepada distribusi keuntungan
atas pemanfaatan mineral dalam kerangka NATIONAL OWNERSHIP. Hal ini
mengandung pengertian yang antagonis ketika kita mendorong masuknya FDI tetapi
sekaligus melakukan control yang ketat dalam waktu singkat terhadap Ownership PMA.

6.3. KONSERVASI menyangkut:


(a) Program HILIRISASI yang lebih menekannkan peningkatan nilai tambah dalam rangka
sebagai penyedia bahan baku industri hilir nasional.

8. TRIPLE BOTTOM LINE juga harus menjadi kerangka MINERAL POLICY. REVISI UU dan
SIKRONISASI PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN.

9. DAYA SAING harus ditentukan dari sisi siapa melihatnya. Apakah kemudahan INVESTOR
ASING berinvestasi dengan Rate of Return yang tinggi merupakan kondisi yang berdaya
saing? Apakah dengan demikian pendapatan nasional (bukan hanya pemerintah)
dikorbankan. Harus dicari frame berpikir yang paling tetap tentang DAYA SAING dikatkan
dengan KELANGKAAN, SUSTAINABILITY dan TRIPPLE BOTTOM LINE.

10.Tentang Perlunya TIM Profesional untuk memonitor pelaksanaan Hilirisasi dan diletakan
dalam kerangka PROJECT DEVELOPMENT PROGRAM.

11.Tentang perlunya TIM Profesional untuk mengevaluasi semua Kontrak Karya dan PKP2B
juga dalam rangka EVALUASI dan OPTIMALISASI manfaat kontrak kerja sama
pertambangan.
Marilah kita bekerjasama untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas Pertambangan
Indonesia.

Terima kasih atas perhatian Bapak dan Ibu sekalian.

Jakarta, 22 Desember 2016,


Indonesian Mining Institute