Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kegiatan magang merupakan salah satu mata kuliah wajib yang menjadi syarat dalam
menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Pertanian Undana. Kegiatan magang ini dilaksanakan
di luar kampus dengan tujuan agar mahasiswa dapat melihat secara langsung proses kerja di
lapangan serta mampu menemukan permasalahan yang terjadi sekaligus mencarikan solusinya
Selain itu, kegiatan magang juga bertujuan agar mahasiswa dapat bekerja untuk memperoleh
pengalaman kerja, membantu mahasiswa agar lebih percaya diri dan membuka wawasan bagi
setiap mahasiswa itu sendiri. Sehingga mahasiswa yang akan berkecimpung dalam dunia kerja
dapat mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang terjadi pada dunia kerja yang ada. Di
lokasi magang mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menekuni bidang ilmu yang digelutinya
dalam satu lembaga pendidikan saja, tetapi mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengenal
berbagai teknologi pertanian yang ada dalam lembaga tersebut. Sehingga diharapkan nantinya
mahasiswa dapat secara langsung mampu menerapkannya dalam dunia kerja. Kegiatan magang
dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur pada Kebun Percobaan
di Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto.
Kebun Percobaan (KP) Mojosari merupakan salah satu instansi kerja dilingkup BPTP Jawa
Timur yang fokus pada penelitian, penyediaan benih, pengembangan dan pelestarian pangan
hortikultura. Penelitian yang dilaksanakan tidak terlepas dari prinsip-prinsip pertanian, sehingga
dalam penyelengaraan pendidikan tinggi bagi mahasiswa pertanian, KP Mojosari merupakan
lembaga yang tepat untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa
melalui kegiatan magang.
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan penting dan utama di Indonesia dan
beberapa negara lainnya. Padi tergolong dalam keluarga padi-padian atau Poaceae (Graminae),
yang termasuk tanaman terna semusim, berakar serabut, batang sangat pendek, struktur serupa
batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang, daun sempurna dengan
pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, dan struktur dominan
adalah endospermium yang dimakan orang (Aak, 1995). Kebutuhan akan beras untuk memenuhi
kebutuhan pangan penduduk selalu meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan pertambahan
jumlah penduduk dunia dan upaya perbaikan gizi masyarakat serta terjadinya perubahan
kebiasaan yang sebelumnya makanan utama bukan beras beralih ke beras. Untuk mengantisipasi

1
dan upaya memenuhi kebutuhan akan beras tersebut maka pemerintah telah melakukan banyak
usaha untuk meningkatkan produksi padi nasional baik secara kuantitatif maupun kualitatif
(Toekidjo, 1992).
Peningkatan produksi pangan pertanian tidak terlepas dari peran penggunaan teknologi
budidaya dalam menyediakan benih yang berkualitas dan bermutu tinggi sebagai salah satu
faktor penentu produksi yang penting. Salah satu teknologi budidaya yang perlu diperhatikan
dalam usaha meningkatkan produksi tanaman padi adalah penggunaan teknologi persemaian dan
varietas tanaman yang tepat dimana teknik persemaian yang tepat dapat menjamin pertumbuhan
dan mutu benih sebelum ditanam serta mempermudah dalam proses penanamannya dilapangan.
Salah satu teknik persemaian yang digunakan adalah sistem persemaian tertutup dan terbuka.
Persemaian padi tertutup merupakan suatu modifikasi persemaian baik secara kering
maupun basah yang diberi tutup dari sak yang tembus air. Pada umumnya persemaian sistem
tertutup sama dengan persemaian lainnya namun pada sistem persemaian tertutup persemaian
benih dilakukan secara tertutup dengan media semai yang sudah ditebar dengan benih ditutup
rapat menggunakan mulsa dengan persyaratan bersifat ringan dan mudah menyerap air sehingga
tidak menyebabkan penggenangan air pada permukaan mulsa tersebut. Sedangkan persemaian
padi dengan sistem terbuka merupakan suatu sistem persemaian dimana media yang dijadikan
sebagai tempat persemaian dibiarkan terbuka setelah benih ditebar diatasnya atau media
tanamnya tidak ditutup menggunakan mulsa melainkan dibiarkan secara terbuka hingga benih
siap dipindahkan untuk ditanam.
Pada persemaian tentunya membutuhkan media tanam yang baik dan tepat yang dapat
memberikan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman. Media tanam yang baik adalah media
yang mampu menyediakan air dan unsur hara dalam jumlah cukup bagi pertumbuhan tanaman.
Hal ini dapat ditemukan pada tanah dengan tata udara yang baik, mempunyai agregat mantap,
kemampuan menahan air yang baik dan ruang untuk perakaran yang cukup. Berbagai jenis media
tanam dapat kita gunakan, tetapi pada prinsipnya kita menggunakan media tanam yang mampu
menyediakan nutrisi, air, dan oksigen bagi tanaman. Penggunaan media yang tepat akan
memberikan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman. Salah satu media yang digunakan adalah
media campuran tanah dan arang sekam. Dimana kandungan nutrisi atau unsur hara yang tidak
tersedia pada tanah dapat disediakan oleh arang sekam.

2
Media arang sekam merupakan media tanam yang praktis digunakan karena tidak perlu
disterilisasi, hal ini disebabkan mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain
itu, arang sekam juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media
tanam ini menjadi gembur (Anonim3, 2013). Di dalam tanah, arang sekam bekerja dengan cara
memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah. Arang sekam dapat meningkatkan porositas
tanah sehingga tanah menjadi gembur sekaligus juga meningkatkan kemampuan tanah menyerap
air.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis menulis laporan magang ini dengan judul
Perbandingan Sistem Persemaian Terbuka dan Tertutup terhadap Daya Kecambah dan
Pertumbuhan Benih Padi ( Oryza Sativa L.) dengan Media Campuran Tanah dan Arang
Sekam.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan umum
Tujuan umum dari pelaksanaan kegiatan magang kerja mahasiswa ini adalah :
a. Menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan dalam bentuk
kegiatan magang kerja.
b. Melatih mahasiswa untuk bekerja mandiri di lapang dan sekaligus berlatih
menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang sesuai dengan pekerjaan yang nanti
akan ditekuni oleh mahasiswa bersangkutan.
c. Menambah wawasan mahasiswa dalam bidang pertanian secara luas.
1.2.2. Tujuan Khusus
Kegiatan Magang Kerja Mahasiswa ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara
sistem persemaian terbuka dan tertutup terhadap daya kecambah dan pertumbuhan benih padi
dengan media campuran tanah dan arang sekam.

1.3. Manfaat
Manfaat kegiatan magang mencakup manfaat bagi mahasiswa, Universitas Nusa Cendana
dan Kebun Percobaan Mojosari, yaitu :
a. Bagi mahasiswa dapat menambah pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan yang
nyata di lapangan terkait penggunaan teknologi persemaian tertutup terhadap
pertumbuhan, daya kecambah dan mutu benih, serta produktifitas padi.

3
b. Bagi Universitas Nusa Cendana adalah, terjadinya jalinan kerja sama dengan beberapa
perusahaan atau kelompok tani atau instansi terkait dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran untuk mahasiswa.
c. Bagi Kebun Percobaan Mojosari dapat terwujudnya kegiatan pelayanan kepada
masyarakat termasuk pelayanan kegiatan magang dalam upaya desiminasi informasi
atau pelayanan di bidang pertanian khususnya dalam penggunaan teknologi
persemaian tertutup terhadap pertumbuhan, daya kecambah dan mutu benih, serta
produktifitas padi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Padi
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam
peradaban manusia. Padi sudah dikenal sebagai tanaman pangan sejak jaman prasejarah. Pada
saat ini produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan
gandum (Purnamaningsih, 2006). Padi termasuk dalam keluarga padi-padian atau Poaceae
(Graminae). Padi termasuk terna semusim, berakar serabut, batang sangat pendek, struktur
serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang, daun sempurna
dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun

4
sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang, bunga tersusun majemuk, tipe malai
bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada
panikula, buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya,
bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma
yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang
dimakan orang (Aak, 1995).
2.1.1. Klasifikasi Tanaman Padi
Sistematika tanaman padi (Oryza sativa L.) dalam dunia tumbuhan adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Division : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class : Monocotyledon
Ordo : Gramineales
Family : Gramineae
Genus : Oryzae
Spesies : Oryza sativa
Tanaman padi termasuk family gramineae. Merupakan tanaman yang termasuk pada
golongan tanaman semusim, bentuk batang bulat berongga, daunnya memanjang seperti pita
yang berdiri tegak pada ruas batang dan mempunyai sebuah malai yang terdapat pada ujung
batang. Keseluruhan organ tanaman padi terdiri dua kelompok yaitu organ veggetatif dan organ
generatif atau reproduktif. Bagian vegetatif meliputi akar, batang, dan daun. Sedangkan pada
bagian generatif terdiri dari malai, bunga, dan buah. Dari sejak berkecambah sampai panen
tanaman padi memerlukan waktu 3 sampai 6 bulan (Manurung dan Ismunaji, 1988).
2.1.2. Morfologi Tanaman Padi
Morfologi tanaman padi sama dengan tanaman padi konvensional, hanya saja bentuk
perlakuan yang diterapkan pada budidaya padi yang berbeda. Adapun morfologi padi adalah :
Bagian Vegetatif
1. Akar
Akar berfungsi sebagai penguat/penunjang tanaman untuk dapat tumbuh tegak, menyerap
hara dan air dari dalam tanah untuk selanjutnya diteruskan ke organ lainnya di atas tanah
yang memerlukan. Perkembangan akar berhubungan erat dengan perkembangan daun
apabila daun ke-n pada batang utama telah memanjang, maka akan muncul akar sekunder
pada buku ke-n (Murata dan Matsushima, 1978).
2. Batang
Batang berfungsi sebagai penopang tanaman, penyalur senyawa-senyawa kimia dan air
didalam tanaman, dan sebagai cadangan makanan. Hasil tanaman yang tinggi harus
didukung dengan batang padi yang kokoh. Bila tidak, tanaman akan rebah terutama

5
didaerah yang sering dilanda angin. Batang terdiri dari atas beberapa ruas yang dibatasi
oleh buku. Daun dan tunas (anakan) tumbuh pada buku. Pada permukaan stadia tumbuh
batang yang terdiri atas pelepah batang daun dan ruas-ruas yang bertumpuk padat. Ruas-
ruas tersebut kemudian memanjang dan berongga setelah tanaman memasuki stadia
reproduktif. Oleh karena itu, stadia reproduktif disebut juga sebagai stadia perpanjangan
ruas (De Datta, 1981).
3. Daun
Daun merupakan bagian dari tanaman yang berwarna hijau karena mengandung klorofil.
Daun tanaman padi tumbuh pada batang dalam susunan berselang-seling. Satu daun pada
tiap buku. Tiap daun terdiri dari helai daun, pelepah daun yang membungkus ruas, telinga
daun, dan lidah daun. Adanya telinga daun dan lidah daun pada padi dapat digunakan
untuk membedakannya dengan rumput-rumputan pada stadia bibit (seeding) (Sutoro dan
Makarim, 1997).

Bagian Generatif
1. Malai
Malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas. Malai
terdiri dari kepala sari, tangkai sari, palae, lemma, kepala putik, lodicula, tangkai bunga
yang kesemuanya mempunyai fungsi masing-masing. Buah padi (bagah) adalah ovary
yang telah masak dari hasil penyerbukan dan pembuahan (Irawan, 2004).
2. Buah Padi
Buah padi (Gabah), merupakan ovary yang sudah masak, bersatu dengan palea. Buah ini
adalah hasil penyerbukan dan pembuahan yang mempunyai bagian-bagian seperti embrio
(lembaga), endosperm, dan bekatul. Bentuk gabah padi Ciherang adalah panjang ramping
dan warna gabah kuning bersih. Gabah yang sudah dibersihkan kulitnya disebut dengan
beras. Beras mengandung berbagai zat makanan yang penting untuk tubuh, antara lain :
karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu, dan vitamin.
2.1.3. Syarat Tumbuh
1. Iklim
a. Curah Hujan
Tanaman padi membutuhkan curah hujan yang baik, rata-rata 200 mm/bulan atau
lebih, dengan distribusi selama empat bulan, sedangkan curah hujan yang dikehendaki
pertahun sekitar 1500-2000 mm (Masdar, 2007).
b. Temperatur

6
Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik pada suhu 23C keatas, sedangkan di
Indonesia pengaruh suhu tidak terasa, sebab suhunya hampir konstan sepanjang tahun.
Pengaruh suhu terhadap tanaman padi pada kehampaan biji (Nippon, 2007).
c. Tinggi Tempat
Menurut Jumhun, tinggi tempat untuk tanaman padi sekitar 650-1500 meter dari
permukaan laut. Angin mempunyai pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh
positif adalah pada saat padi mengalami penyerbukan dan pembuahan, pengaruh
negatif pada saat angin menularkan penyakit dan bakteri dan apabila terjadi angin
kencang pada saat berbunga buah menjadi hampa dan tanaman roboh (Misbah, 2008).
d. Musim
Musim sangat berpengaruh terhadap hasil dari tanaman padi, banyak yang
beranggapan bahwa menanam di musim kemarau akan mempengaruhi penyerbukan
dan pembuahan tidak terganggu oleh air hujan, sehingga presentasi buahnya lebih
besar dan produksinya lebih banyak (Samporna, 2007).
2. Tanah
a. Tekstur Tanah
Tekstur tanah baik untuk tanaman padi apabila berlumpur, sehingga mudah mengikat
partikel-partikel air, tanah berpasir kurang cocok untuk tanaman padi karena tidak
mampu mengikat air secara sempurna.
b. Struktur Tanah
Struktur tanah yang baik untuk tanam padi apabila kondisi tanah banyak mengandung
rongga-rongga halus (pori-pori). Pori-pori ini akan diisi oleh air dan udara. Kandungan
air dan udara dalam tanah yang baik untuk tanaman padi sekitar (Hartawati, 2006).
c. Air dan Udara dalam Tanah
Air dan udara dalam tanah sangat mempengaruhi peran penting untuk pertumbuhan
dan perkembangan tanaman padi. Ketersediaan air dan udara biasanya dengan kondisi
seimbang sebagai syarat mutlak untuk tanaman tumbuh baik (Hartawati, 2006).

2.2. Persemaian
Persemaian padi merupakan rangkaian kegiatan memproses benih padi menjadi bibit
yang siap ditanam dilapangan. Persemaian benih juga merupakan rangkaian kegiatan
menyediakan bibit padi bermutu dari varietas unggul yang diperbanyak dalam jumlah yang
cukup dan pada waktu yang tepat. Benih yang baik apabila diproses dengan teknik persemaian
yang baik akan menghasilkan bibit yang baik pula, tetapi benih yang baik akan menghasilkan
bibit yang kurang baik apabila diproses dengan teknik persemaian yang tidak sesuai. Bibit yang
berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila teknik persemaian

7
yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah baku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan persemaian adalah sebagai berikut :pemilihan lokasi persemaian meliputi luas
persemaian, kebutuhan air, tenaga kerja, bahan persemaian, benih bermutu, pelaksanaan
persemaian termasuk tata waktu penyelenggaraan persemaian dan pemeliharaan.
Benih bermutu merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk
meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani padi. Saat ini dapat diperoleh berbagai varietas
unggul yang memiliki karakteristik sesuai dengan kondisi wilayah dan keinginan pasar. Varietas
unggul mempunyai keunggulan sepeti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit,
toleran terhadap cekaman lingkungan. Dengan menggunakan benih bermutu/varietas unggul
akan diperoleh bibit sehat, tegar (vigor tinggi) dengan perakaran banyak, bibit lebih cepat
tumbuh dan bibit tumbuh seragam.
Teknik penyemain padi merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh petani dengan
menyebar benih padi pada luasan tertentu sebelum dilakukan penanaman padi pada suatu lahan
sebenarnya. Teknik penyemain padi yang benar akan menunjang pertumbuhan tanaman padi,
apabila teknik penyemain padi tidak dilakukan dengan sesuai prosedur penyemain maka
pertumbuhan padi menjadi tidak baik. Berbagai teknik penyemaian padi sudah banyak dilakukan
oleh petani mulai dari penyemain tertutup hingga penyemaian terbuka.
Teknik penyemaian padi baik tertutup maupun terbuka pada dasarnya sama. Namun,
penyemain tertutup memberikan keuntungan bagi tanaman padi itu sendiri karena hasil dari
penyemain padi yang menggunakan sistem tertutup akan tumbuh dengan seragam.
2.2.1. Persemaian Terbuka
Persemaian padi dengan sistem terbuka merupakan suatu sistem persemaian dimana
media yang dijadikan sebagai tempat persemaian dibiarkan terbuka setelah benih ditebar
diatasnya. Sistem persemaian ini pada dasarnya sama dengan sistem persemaian tertutup namun
yang membedakan adalah sistem persemaian ini media tanamnya tidak ditutup menggunakan
mulsa melainkan dibiarkan secara terbuka hingga benih siap dipindahkan untuk ditanam. Pada
dasarnya persemaian ini sama seperti persemaian konvensional yang dilakukan oleh petani pada
umumnya.
Pada sistem persemaian terbuka benih dapat tumbuh namun pertumbuhan benihnya tidak
secara serempak dan lebih rentan terserang hama dan penyakit. Selain itu, benihnya juga mudah
rusak akibat percikan air karena medianya dibiarkan secara terbuka. Namun, adapula kelebihan
dari sistem persemaian ini dimana benih yang tumbuh daunnya berwarna jauh lebih hijau karena

8
mendapat penyinaran atau sinar matahari secara langsung. Semua kendala pada sistem
persemaian terbuka dapat teratasi apabila dilakukan tindakan pemeliharaan secara tepat.

2.2.2. Persemaian Tertutup


Persemaian padi tertutup ini merupakan suatu modifikasi persemaian baik secara kering
maupun basah yang diberi tutup dari sak yang tembus air. Pada umumnya persemaian sistem
tertutup sama dengan persemaian lainnya, dimana kegiatannya diawali dengan persiapan media
atau tempat untuk semai, persiapan benih, penebaran benih atau benih ditabur pada lahan atau
media tanah untuk memperoleh bibit padi yang nantinya akan ditanam di areal sawah. Yang
membedakan sistem persemaian tertutup dengan persemaian lainnya adalah persemaian benih
dilakukan secara tertutup dengan media semai yang sudah ditebar dengan benih ditutup rapat
menggunakan mulsa dengan persyaratan bersifat ringan dan mudah menyerap air sehingga tidak
menyebabkan penggenangan air pada permukaan mulsa tersebut.
Pada persemaian tertutup benih harus ditutup rapat bertujuan agar hama tidak dapat
masuk, benih tidak berantakan pada saat penyiraman atau terkena hujan. Selain itu penutupan
media semai setelah ditebar benihnya bertujuan agar benih tersebut dapat tumbuh secara
serempak atau seragam dan mempercepat pertumbuhan benih sehingga benih dapat dipindahkan
atau ditanam di areal persawahan pada umur 8-10 hari dengan tinggi tanaman yang ideal atau
yang diinginkan oleh petani. Pada persemaian tertutup tidak dilakukan kegiatan pemupukan, hal
ini dikarenakan benih padi tidak memerlukan unsur hara yang banyak atau unsur hara tambahan
pada saat masa perkecambahannya dimana benih masih memiliki cadangan makanan dari
kotiledonnya.
Kelebihan persemaian tertutup dibandingkan dengan model persemaian lainnya adalah
pertumbuhan bibit lebih cepat, bibit terhindar dari terpaan air hujan, benihnya tumbuh seragam,
benih tidak perlu direndam sebelum disebar, bibit padi dapat digulung pada saat pemindahan dari
tempat semai untuk ditanam di areal persawahan sehingga tidak merusak akar tanaman. Hasil
dari penyemaian padi secara tertutup benihnya tumbuh seragam karena kondisi lingkungan pada
saat penyemaian tertutup menghasilkan suhu yang optimum dan merata disepanjang penyemaian
dan pertumbuhan padi dihambat oleh adanya karung sehingga hasil pertumbuhannya akan
seragam.
Teknik penyemaian padi dengan sistem tertutup juga melindungi tanaman padi dari
serangan berbagai hama dan penyakit. Sehingga, tanaman padi yang dihasilkan dengan
menggunakan sistem tertutup akan tumbuh lebih sehat. Dari beberapa kelebihan sistem

9
persemaian tertutup diatas, hal yang perlu diperhatikan dalam persemaian ini adalah ketersediaan
air harus selalu dijaga dimana petak semaianya harus selalu diairi dan jangan sampai kering.

2.3. Media Tanam


Media tanam yang baik adalah media yang mampu menyediakan air dan unsur hara
dalam jumlah cukup bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat ditemukan pada tanah dengan tata
udara yang baik, mempunyai agregat mantap, kemampuan menahan air yang baik dan ruang
untuk perakaran yang cukup.
Berbagai jenis media tanam dapat kita gunakan, tetapi pada prinsipnya kita menggunakan
media tanam yang mampu menyediakan nutrisi, air, dan oksigen bagi tanaman. Penggunaan
media yang tepat akan memberikan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman. Salah satu media
yang digunakan adalah media campuran tanah dan arang sekam. Dimana kandungan nutrisi atau
unsure hara yang tidak tersedia pada tanah dapat disediakan oleh arang sekam.
2.3.1. Tanah Regosol
Tanah Regosol adalah tanah berbutir kasar dan berasal dari material gunung api. Tanah
Regosol berupa tanah aluvial yang baru diendapkan. Material jenis tanah ini berupa abu vulkan
dan pasir vulkan. Tanah Regosol merupakan hasil erupsi gunung berapi, bentuk wilayahnya
berombak sampai bergunung, bersifat subur, tekstur tanah ini biasanya kasar, berbutir kasar, peka
terhadap erosi, berwarna keabuan, kaya unsur hara seperti P dan K yang masih segar, kandungan
N kurang, pH 6 - 7, cenderung gembur, umumnya tekstur makin halus makin produktif,
kemampuan menyerap air tinggi, dan mudah tererosi (Sasrawan, 2013).
Menurut USDA, Regosol merupakan tanah yang termasuk ordo Entisol. Secara umum,
tanah Entisol adalah tanah yang belum mengalami perkembangan yang sempurna, dan hanya
memiliki horizon A yang marginal. Contoh yang tergolong Entisol adalah tanah yang berada di
sekitar aliran sungai, kumpulan debu vulkanik, dan pasir. Umur yang amsih muda menjadikan
Entisol masih miskin sampah organik sehingga keadaannya kurang menguntungkan bagi
sebagian tumbuhan. Contoh tanah ini adalah tanah sekitar aliran sungai, kumpulan debu
vulkanik, dan pasir. Material jenis tanah Regosol berupa tanah Regosol, abu vulkan, napal, dan
pasir vulkan. Tanah Regosol sangat cocok ditanami padi, tebu, palawija, tembakau, dan sayuran.

2.2.1.1 Ciri-Ciri Tanah Regosol


Tanah Regosol memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berbutir kasar.
b. Struktur kursai/lemah.

10
c. Makin tua, struktur dan konsistensi makin padat/memadas dengan drainase dan
forositas yang terhambat
d. Belum menampakkan adanya perlapisan horisontal.
e. Berwarna kelabu sampai kuning. Itu karena bergantung pada material dominan yang
dikandungnya.
f. Berbahan organik rendah. Ini dikarenakan umur yang masih muda sehingga bahan-
bahan organik masih belum banyak menyatu.
g. Cukup mengandung P & K yang masih segar, tetapi kurang N.
h. Kaya unsur hara.
i. pH 6-7.
j. Cenderung gembur.
k. Kemampuan menyerap air tinggi.
l. Mudah tererosi, karena umumnya belum membentuk hakikat.
2.1.3.1. Jenis-Jenis Tanah Regosol
Berdasarkan bahan induknya tanah Regosol dibagi menjadi :
1. Regosol Abu Vulkanik
Ciri-ciri tanah Regosol abu vulkanik :
a. Terdapat di sekitar bangunan api dengan visiografi vulkanik fan
b. Semua bahan vulkanik hasil eropsi gunung berapi berupa debu, pasir, kerikil, batu,
bom dan lapili.
c. Bahan kasar di tengah lahan halus di tepi.
d. Kaya hara tanaman kecuali N tapi belum terlapuk sehingga perlu pupuk organik,
pupuk kandang, dan pupuk hijau.
e. Umumnya tekstur makin halus makin produktif.
2. Regosol Bukit Pasir
Ciri-ciri tanah Regosol bukit pasir
a. Terdapat di sepanjang pantai (Cilacap, Parangtritis, Kerawang).
b. (Sand dunes) bukit pasir terbentuk dari pasir di pantai oleh gaya angin yang bersifat
deflasi dan akumulasi.
c. Pasir kasar terletak dekat garis pantai makin halus makin jauh.
d. Umumnya tekstur kasar mudah diolah, gaya menahan air rendah, dan permeabilitas
baik.
e. Makin tua tekstur makin halus dan permeabilitas kurang baik Kaya unsur hara.
2.1.3.2. Pemanfaatan Tanah Regosol
Tanah Regosol sangat cocok untuk pertanian khususnya tanaman padi, kelapa, tebu,
palawija, tembakau, dan sayuran. Itulah sebabnya mengapa tanah di lereng gunung berapi yang
baru saja mengalami erupsi sangat subur dan sangat baik untuk pertanian. Tanah jenis Regosol
memiliki sifat tanah yang membuat tanah tidak dapat menampung air dan mineral yang
dibutuhkan tanaman dengan baik. Dengan kandungan bahan organik yang sedikit dan kurang
subur, Regosol lebih banyak dimanfaatkan untuk tanaman palawija, tembakau, dan buah-buahan

11
yang juga tidak terlalu banyak membutuhkan air. Bila terdapat tanah ber ciri-ciri tanah Regosol,
maka hendaknya dimanfaatkan dengan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air.

2.3.2. Arang Sekam


Media arang sekam merupakan media tanam yang praktis digunakan karena tidak perlu
disterilisasi, hal ini disebabkan mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain
itu, arang sekam juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media
tanam ini menjadi gembur (Anonim3, 2013). Dari beberapa penelitian diketahui juga bahwa
kemampuan arang sekam sebagai absorban yang bisa menekan jumlah mikroba patogen dan
logam berbahaya dalam pembuatan kompos. Sehingga kompos yang dihasilkan bebas dari
penyakit dan zat kimia berbahaya.
Arang sekam mengandung N 0,32 % , PO 15 % , KO 31 % , Ca 0,95% , dan Fe 180 ppm,
Mn 80 ppm , Zn 14,1 ppm dan PH 6,8. Karakteristik lain dari arang sekam adalah ringan (berat
jenis 0,2 kg/l). Sirkulasi udara tinggi, kapasitas menahan air tinggi, berwarna kehitaman,
sehingga dapat mengabsorbsi sinar matahari dengan efektif (Wuryaningsih, 1996). Arang sekam
mempunyai sifat yang mudah mengikat air, tidak mudah menggumpal, harganya relatif murah,
bahannya mudah didapat, ringan, steril dan mempunyai porositas yang baik (Prihmantoro dan
Indriani, 2003).
Kelebihan menggunakan media arang sekam sebagai media tanam adalah bersifat poros
atau mudah membuang air yang berlebihan, berstruktur gembur dan dapat menyimpan air yang
cukup untuk pertumbuhan tanaman, tidak mengandung garam laut atau kadar salinitas rendah,
bersifat netral hingga alkalis yakni pada pH 6 7, tidak mengandung organisme penyebab hama
dan penyakit, mengandung bahan kapur atau kaya unsur kalium, harganya relatif murah dan
bahannya mudah didapat, ringan, dan sudah steril. Sedangkan kekurangan media arang sekam
yaitu jarang tersedia dipasaran, umumnya tersedia hanya bahannya (sekam/kulit gabah) dan
arang sekam hanya dapat digunakan 2 kali (Anonim5, 2013).
Dari hasil penelitian Gustia (2010), bahwa penambahan sekam bakar kedalam media
tanam tanah (2:2) menunjukkan hasil tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun,
bobot basah, dan bobot konsumsi tertinggi. Di dalam tanah, arang sekam bekerja dengan cara
memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah. Arang sekam dapat meningkatkan porositas
tanah sehingga tanah menjadi gembur sekaligus juga meningkatkan kemampuan tanah menyerap
air.

12
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Praktek kerja lapangan (magang) ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Mojosari (BPTP
Jawa Timur) di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Kegiatan praktek kerja di lapangan ini dilaksanakan disesuaikan dengan jadwal pada setiap
hari di Kebun Percobaan Mojosari yang dilaksanakan pada tanggal 01 Agustus 2016 - 29
Agustus 2016.

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam kegiatan magang antara lain : Petak sampel (papan berbentuk
kotak), sekop, pacul, ayakan, gerobak, karung (sebagai mulsa untuk penutup), gembor, selang
air, penggaris, kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah benih padi varietas Inpari 4,
arang sekam dan air.

3.3. Metode Magang


Metode magang yang dilakukan meliputi beberapa kegiatan seperti diuraikan di bawah ini:
a. Praktek
Praktek merupakan kegiatan inti selama magang, yaitu terlibat secara langsung dan aktif
untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan melihat mulai dari proses
persiapan media tanam, penyebaran benih, penyiraman sampai dengan cara pengambilan
benih dari tempat persemaian untuk siap ditanam pada lahan yang ada.
b. Pengamatan di Lapangan

13
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati daya kecambah dan pertumbuhan benih
padi.
c. Wawancara
Kegiatan wawancara dilakukan dalam rangka mencari informasi tentang gambaran umum
Kebun Percobaan Mojosari dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan teknik
persemaian tertutup sistem kering dalam skala besar atau dalam jumlah banyak yang
tahapannya tidak sempat diikuti karena waktu penempatan benih padi ditempat persemaian
sudah dalam keadaan siap ditanam, sehingga kami hanya melakukan persemaian tertutup
pada skala yang kecil. Selain itu, kegiatan wawancara dilakukan untuk mencari informasi
yang berkaitan dengan factor komersil, kelebihan dan kekurangan dari sistem persemaian
tertutup dan terbuka.
d. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh refrensi yang terkait dengan kegiatan teknik
persemaian tertutup, kelebihan dan kekurangannya yang diperlukan dalam penulisan
Laporan Kegiatan Magang. Refrensi diperoleh melalui media elektronik (internet), buku,
laporan magang sebelumnya, dan hasil penelitian yang terkait dengan judul laporan
magang.

3.4. Pelaksanaan
1. Persiapan Media Semai
Media semai yang disediakan berupa campuran 50 % tanah dan 50 % arang sekam atau
campuran tanah dan arang sekam dengan perbandingan 1:1. Tanah yang dijadikan sebagai
media diayak sehingga murni dari kotoran. Tanah yang sudah diayak dicampur dengan
arang sekam dan disebar pada petak sampel yang berukuran 20 x 60 cm dengan ketebalan
tanahnya 2 cm. Dan media tanam tersebut disiram dengan air sampai basah.
2. Penyebaran Benih
Benih yang disiapkan adalah benih padi varietas Inpari 4 sebanyak 500 butir. Benih
disebar diatas hamparan media semai secara merata dan diatur sedemikian rupa sehingga
jarak antara benih yang satu dengan yang lainnya tidak tumpang tindih. Petakan sampel
yang sudah ditanami benih ditutup menggunakan karung dengan rapat dan disekelilingnya
ditaruh penahan seperti kayu dengan tujuan agar penutupnya tidak terbuka oleh angin dan
tidak dimasuki oleh hama, untuk system persemaian tertutup sedangkan untuk persemaian
terbuka petakannya dibiarkan tetap terbuka. Petakan sampel yang sudah berisi benih diairi
dengan cara disiram secara perlahan diatas permukaan petakannya.
3. Pemberian Mulsa

14
Persyaratan mulsa yang dapat digunakan adalah bersifat ringan dan mudah menyerap air
sehingga tidak menyebabkan penggenangan air pada permukaan mulsa tersebut. Mulsa
yang digunakan pada kegiatan ini adalah mulsa karung dimana sudah memenuhi
persyaratan. Tujuan diberikan mulsa atau penutup pada persemaian tertutup adalah agar
hama tidak dapat masuk, benih tidak berantakan saat penyiraman atau terkena hujan dan
agar benih dapat tumbuh secara seragam atau serempak.
4. Perawatan
Perawatan dilakukan dengan menyiram persemaian setiap sekali dalam sehari pada pagi
hari dengan air sampai basah secara perlahan. Bila benih telah tumbuh kondisi air dijaga
agar tidak kering medianya baik pada persemaian terbuka mauapun tertutup. Setelah
tanaman berumur 5-7 hari setelah sebar, dibuka penutupnya untuk persemaian tertutup
agar tanaman dapat terkena cahaya.
5. Metode Percobaan
Pengamatan dilakukan setiap dua hari sekali pada pukul 08.00 WIB, variabel yang diamati
yaitu tinggi bibit padi dengan metode pengambilan sampel yaitu metode diagonal pada
masing masing petakan sampel selama 14 hari setelah benih disebar baik pada
persemaian tertutup maupun terbuka. Pada pengamatan hari ke 14 setelah benih disebar,
bibit padi yang ada dihitung bibit yang tumbuh secara normal, abnormal dan benih yang
mati ataupun yang hilang untuk diketahui persentase daya kecambah benih pada setiap
media tanam.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

15
4.1. Gambaran Umum Kebun Percobaan Mojosari
4.1.1. Sejarah Kebun Percobaan Mojosari
Kebun Percobaan (KP) Mojosari bernaung di bawah Balai Pengkajian Pertanian Jawa
Timur Malang, ketinggiannya 28 m dpl pada 112,280 BT dan 7,300 LS. Luas perkebunan
Mojosari 30,024 ha terdiri di sebelah selatan 20,79 ha dan sebelah utara 9,945 ha. Jenis tanah di
KP Mojosari didominasi tanah Regosol kelabu.
Kebun Percobaan Mojosari terletak 13 km dari Kabupaten Mojokerto dan 3 km dari
Kecamatan Mojosari. Adapun nama-nama sebelumnya dari KP Mojosari adalah :
1. Tahun 1937 bernama : LAND BOWN HENDG DE
BUITENZERG (KP MOJOSARI ALGEMENE DROEF
STATION VAN DE LANDBOU).
2. Tahun 1944, bernama : WOOZI SISIKEN ZYOOTYOO.
3. Tahun 1952, bernama : BALAI BESAR
PENYELIDIKAN TEKNIK PERTANIAN (BBPTP).
4. Tahun 1951, bernama : LEMBAGA PENELITIAN
UBI-UBIAN DAN KACANG-KACANGAN (LPUK).
5. Tahun 1966, bernama : LEMBAGA PUSAT PENELITIAN PERTANIAN (LPPP).
6. Tahun 1968, bernama : PERWAKILAN LEMBAGA
PUSAT PENELITIAN PERTANIAN JAWA TIMUR.
7. Tahun 1980, bernama : BALAI PENELITIAN
TANAMAN PANGAN MALANG (SK. No.
861/Kpts/Org/12/80/tgl. 2 12 - 1980).
8. Tahun 1984, bernama : SUB. BALAI PENELITIAN
TANAMAN PANGAN MOJOSARI (SK. No. 613/Kpts/OT.
210/8/84/tgl. 16 8 - 1984).
9. Tahun 1994, bernama : INSTALASI PENELITIAN
DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN MOJOSARI
(IPPTP) (SK. No. 798/Kpts/OT. 210/12/94/tgl. 13 12 - 1994).
10. Tahun 2002, bernama : KEBUN PERCOBAAN
MOJOSARI (KP) BPTP JAWA TIMUR. Tgl. 23 Juli 2002
OT/210. 054. 2002

4.1.2. Tugas dan Fungsi Kebun Percobaan Mojosari


Berdasarkan SK. Menteri Pertanian No.OT/210.054.2002 tanggal 23 Juli 2002, bahwa
Kebun Percobaan Mojosari adalah bagian interal dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Jatim di Malang.

16
Adapun tugas dan fungsi Kebun Percobaan Mojosari adalah sebagai berikut :
a. Membantu melaksanakan penelitian dan pengkajian teknologi sistem usaha tani tanaman
semusim dataran rendah.
b. Menyediakan benih tanaman pangan hortikultura dataran rendah.
c. Penyediaan modal sistem usaha tani atau percobaan rakitan tekhnologi produksi tanaman
pangan dan hortikultura dataran rendah.
d. Pelestarian materi plasma nutfah.
e. Pelaksanaan urusan tatausaha kebun percobaan.
Untuk dapat mencapai tujuan yang telah digariskan tersebut, hendaknya disesuaikan
dengan sumberdaya dan dana yang tersedia, sehingga pelaksanaan setiap kegiatan dapat berjalan
dengan lancar, efisien, dan efektif. Pembinaan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia
merupakan prioritas utama untuk ditangani, utamanya untuk peningkatan etos kerja.
Pelaksanaan pengawasan melekat di Unit Kerja KP Mojosari, mencakup bidang organisasi,
pengelolaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan pelayanan masyarakat.
Di bidang organisasi, KP Mojosari merupakan salah satu instansi kerja di lingkup BPTP
Jatim yang dipimpin oleh seorang kepala non struktural berdasarkan SK.Menteri Pertanian No.
124/Kpts/KP.430/3/95 tanggal 1 Maret 1995 dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala
BPTP Jatim No. OT.210.506.5.207 tanggal 14 Juni 1995, tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kebun Percobaan Mojosari, Pelaksanaan Tugas Pelayanan Teknik, Tatausaha, Pelaksanaan
Kerjasama dan Informasi, Pelaksanaan Sarana Penelitian Kepegawaian dan Rumah Tangga,
Keuangan dan Rencana Kerja.

4.1.3. Struktur Organisasi Kebun Percobaan Mojosari


STRUKTUR ORGANISASI
KEBUN PERCOBAAN MOJOSARI

Kepala Kebun

Pelaksana Tugas Pelaksana Tugas


Pelayanan Teknik Tata Usaha

Pelaksana Pelaksana
Pelaksana Pelaksana
Kepeg & Keuangan &
Kerjasama Sarana 17
Rumah Tangga Rencana Kerja
Kelompok Peneliti
&
Gambar 1. StrukturJabatan Fungsional
Organisasi Kebun Percobaan Mojosari
lain
4.1.4. Tugas dan Fungsi Masing-Masing Pelaksanaan Tugas
Tugas dan fungsi masing-masing pelaksana tugas adalah :
1) Kepala kebun mempunyai tugas secara menyeluruh.
2) Pelaksana tugas tatausaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian,
keuangan, dan penyiapan bahan rencana kerja serta rumah tangga Kebun Percobaan
Mojosari.
3) Pelaksana kepegawaian dan rumah tangga mempunyai tugas melakukan urusan
kepegawaian, surat menyurat, kearsipan, rumah tangga dan perlengkapan.
4) Pelaksana keuangan dan rencana kerja mempunyai tugas melakukan urusan keuangan
dan penyiapan bahan rencana kerja.
5) Pelaksana tugas pelayanan teknis mempuyai tugas melakukan pelayanan sarana teknik
kegiatan penelitian dan pengkajian teknologi pertanian.
6) Pelaksana kerjasama dan informasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
kerja sama penelitian dan pengkajian informasi hasil penelitian dan pengkajian.
7) Pelaksana sarana mempunyai tugas melakukan penyiapan pendayagunaan dan
pemeliharaan sarana teknik.
8) Kelompok Peneliti mempunyai tugas melakukan penelitian pengkajian dan perakitan
teknologi pertanian bidang tanaman pangan tepat guna spesifik lokasi Jawa Timur.

4.1.5. Sumber Daya Manusia


Untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari Kebun Percobaan Mojosari didukung oleh satu
orang tenaga kerja dengan perincian sebagai berikut :
1. Tenaga PNS : 20 orang
2. Tenaga Harian tetap : 3 orang
3. Tenaga Harian Lepas : 30 orang
4. Sarjana (S2) : 1 orang
5. Sarjana (S1) : 4 orang
6. SLTA : 7 orang
7. SD / SLTP : 8 orang
Total Tenaga Kerja : 73 orang

18
A. LAPORAN KEGIATAN UTAMA

4.2. HASIL PENGAMATAN TINGGI TANAMAN DAN DAYA PERKECAMBAHAN


BENIH PADI PADA SISTEM PERSEMAIAN TERTUTUP DAN TERBUKA
4.2.1. Tinggi Tanaman
Tabel 1. Rerata pengamatan tinggi tanaman padi pada sistem persemaian tertutup dan
terbuka pada media tanam campuran (tanah + arang sekam), Kebun Percobaan
Mojosari Agustus 2016.

N Sistem Tanam Tinggi Tanaman Setelah Benih di Sebar (cm)


o. Persem an 2 HSS 4 HSS 6 HSS 8 HSS 10 HSS 12 HSS 14 HSS
aian Sampe
l
1 Tertutup 1 - 0.6 5.3 11 14.8 15.6 21.5
2 - 3.4 7.2 7.8 13.9 16.5 21.7
3 - 2.2 6 12.5 15.2 22.5 27
4 - - 7.3 10.6 15.1 18 22.5
5 - 1.9 6.5 11.1 16.2 17.9 23.6
Jumlah 0 8.1 32.3 53 75.2 90.5 116.3
Rerata 0 2.025 6.46 10.6 15.04 18.1 23.26
2 Terbuka 1 - 0.3 1.3 - - - -
2 - 0.2 - - - - -
3 - 0.2 0.7 1.6 6 6.8 10
4 - 0.1 1.2 2.3 6.7 8.8 14.5
5 - 0.1 1.2 - - - -
Jumlah 0 0.9 4.4 3.9 12.7 15.6 24.5
Rerata 0 0.18 1.1 1.95 6.35 7.8 12.25
Keterangan: HSS = Hari setelah sebar.
Data diatas merupakan data hasil pengamatan tinggi bibit padi dari hari pertama setelah
sebar sampai dengan hari keempat belas pada persemaian terbuka dan tertutup. Dari data diatas
terlihat bahwa rerata tinggi tanaman pada persemaian tertutup jauh lebih tinggi dari persemaian
terbuka. Dan pada persemaian terbuka terlihat bahwa ada beberapa data yang kosong, hal ini

19
diakibatkan karena pada beberapa tanaman sampel ada yang mati dan rusak pada dua hari
maupun tiga hari setelah sebar.

4.2.2. Daya Kecambah


Tabel 2. Daya perkecambahan benih padi pada sistem persemaian tertutup dan terbuka
dengan media tanam campuran (tanah + arang sekam), Kebun Percobaan
Mojosari Agustus 2016.

No Sistem Benih Benih Tumbuh Benih Mati Benih Hilang Jumlah


. Persemaian Tumbuh Abnormal
Normal
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1. Tertutup 435 87 10 2 55 11 - - 500
2. Terbuka 136 27. 23 4.6 127 25. 214 42.8 500
2 4

Data diatas merupakan persentase daya kecambah benih padi pada persemain terbuka dan
tertutup. Dimana persentase daya kecambahnya dikelompokan kedalam benih padi yang tumbuh
normal, abnormal, mati dan hilang. Benih yang tumbuh normal berarti benih yang tumbuh
dengan baik (daun sempurna) tanpa ada gangguan apapun, sedangkan benih yang abnormal
berarti benih yang tidak tumbuh dengan baik misalkan benih yang tumbuhnya kerdil, warna
daunnya kuning kemerahan. Dan benih yang mati adalah benih yang sudah tumbuh namun
kemudian mati, sedangkan benih yang hilang adalah benih yang hilang setelah sebar karena ada
gangguan dari hama (burung). Dari data diatas benih yang hilang hanya terdapat pada
persemaian terbuka saja karena pada persemaian ini setelah benih disebar, petak sampelnya
dibiarkan secara terbuka. Untuk lebih jelasnya persentase daya kecambah benih padi pada
persemaian terbuka dan terttutup dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

20
100
90 87

80
70
60
50 Normal
42.8
Abnormal
Persentase (%) 40
30 25.4
27.2 Mati
20 11 Hilang
10 2 4.6
0
0

Grafik 1. Persentase daya perkecambahan benih padi pada sistem persemaian tertutup
dan terbuka dengan media tanam campuran (tanah + arang sekam), Kebun
Percobaan Mojosari Agustus 2016.

4.3. PEMBAHASAN
Persemaian padi merupakan rangkaian kegiatan memproses benih padi menjadi bibit
yang siap ditanam dilapangan. Persemaian benih juga merupakan rangkaian kegiatan
menyediakan bibit padi bermutu dari varietas unggul yang diperbanyak dalam jumlah yang
cukup dan pada waktu yang tepat. Benih yang baik apabila diproses dengan teknik persemaian
yang baik akan menghasilkan bibit yang baik pula,tetapi benih yang baik akan menghasilkan
bibit yang kurang baik apabila diproses dengan teknik persemaian yang tidak sesuai. Bibit yang
berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila teknik persemaian
yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah baku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan persemaian adalah sebagai berikut :pemilihan lokasi persemaian meliputi luas
persemaian, kebutuhan air, tenaga kerja, bahan persemaian, benih bermutu, pelaksanaan
persemaian termasuk tata waktu penyelenggaraan persemaian dan pemeliharaan.

21
Benih bermutu merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk
meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani padi. Saat ini dapat diperoleh berbagai varietas
unggul yang memiliki karakteristik sesuai dengan kondisi wilayah dan keinginan pasar. Varietas
unggul mempunyai keunggulan sepeti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit,
toleran terhadap cekaman lingkungan. Dengan menggunakan benih bermutu/varietas unggul
akan diperoleh bibit sehat, tegar (vigor tinggi) dengan perakaran banyak, bibit lebih cepat
tumbuh dan bibit tumbuh seragam.
Persemaian padi dengan sistem terbuka merupakan suatu sistem persemaian dimana
media yang dijadikan sebagai tempat persemaian dibiarkan terbuka setelah benih ditebar
diatasnya. Sistem persemaian ini pada dasarnya sama dengan sistem persemaian tertutup namun
yang membedakan adalah sistem persemaian ini media tanamnya tidak ditutup menggunakan
mulsa melainkan dibiarkan secara terbuka hingga benih siap dipindahkan untuk ditanam. Pada
dasarnya persemaian ini sama seperti persemaian konvensional yang dilakukan oleh petani pada
umumnya.
Pada sistem persemaian terbuka benih dapat tumbuh namun pertumbuhan benihnya tidak
secara serempak dan lebih rentan terserang hama dan penyakit. Selain itu, benihnya juga mudah
rusak akibat percikan air karena medianya dibiarkan secara terbuka. Namun, adapula kelebihan
dari sistem persemaian ini dimana benih yang tumbuh daunnya berwarna jauh lebih hijau karena
mendapat penyinaran atau sinar matahari secara langsung. Semua kendala pada sistem
persemaian terbuka dapat teratasi apabila dilakukan tindakan pemeliharaan secara tepat.

Persemaian padi tertutup ini merupakan suatu modifikasi persemaian baik secara kering
maupun basah yang diberi tutup dari sak yang tembus air. Pada umumnya persemaian sistem
tertutup sama dengan persemaian lainnya, dimana kegiatannya diawali dengan persiapan media
atau tempat untuk semai, persiapan benih, penebaran benih atau benih ditabur pada lahan atau
media tanah untuk memperoleh bibit padi yang nantinya akan ditanam di areal sawah. Yang
membedakan sistem persemaian tertutup dengan persemaian lainnya adalah persemaian benih
dilakukan secara tertutup dengan media semai yang sudah ditebar dengan benih ditutup rapat
menggunakan mulsa dengan persyaratan bersifat ringan dan mudah menyerap air sehingga tidak
menyebabkan penggenangan air pada permukaan mulsa tersebut.
Pada persemaian tertutup benih harus ditutup rapat bertujuan agar hama tidak dapat
masuk, benih tidak berantakan pada saat penyiraman atau terkena hujan. Selain itu penutupan

22
media semai setelah ditebar benihnya bertujuan agar benih tersebut dapat tumbuh secara
serempak atau seragam dan mempercepat pertumbuhan benih sehingga benih dapat dipindahkan
atau ditanam di areal persawahan pada umur 8-10 hari dengan tinggi tanaman yang ideal atau
yang diinginkan oleh petani. Pada persemaian tertutup tidak dilakukan kegiatan pemupukan, hal
ini dikarenakan benih padi tidak memerlukan unsur hara yang banyak atau unsur hara tambahan
pada saat masa perkecambahannya dimana benih masih memiliki cadangan makanan dari
kotiledonnya.
Kelebihan persemaian tertutup dibandingkan dengan model persemaian lainnya adalah
pertumbuhan bibit lebih cepat, bibit terhindar dari terpaan air hujan, tidak mudah terserang hama
dan penyakit, benihnya tumbuh seragam, benih tidak perlu direndam sebelum disebar, bibit padi
dapat digulung pada saat pemindahan dari tempat semai untuk ditanam di areal persawahan
sehingga tidak merusak akar tanaman. Dari beberapa kelebihan sistem persemaian tertutup
diatas, hal yang perlu diperhatikan dalam persemaian ini adalah ketersediaan air harus selalu
dijaga dimana petak semaianya harus selalu diairi dan jangan sampai kering.
1. Tinggi Tanaman
Berdasarkan hasil pengamatan pada tinggi bibit padi dari kelima tanaman sampel
selama 14 hari setelah benih disebar pada media campuran (tanah + arang sekam) yang
menunjukan rerata tinggi bibit lebih baik yaitu pada persemaian tertutup dengan rerata
tinggi bibitnya mencapai 23.26 cm, sedangkan pada persemaian terbuka rerata tingginya
hanya mencapai 12.25 cm saja. Hal ini terjadi karena pada persemaian terbuka pada bibit
padi berumur 6 hari setelah sebar sampai dengan 14 hari setelah sebar ada beberapa
tanaman sampel yang tidak tumbuh maupun yang rusak dan mati. Dengan demikian,
sesuai dengan kenyataan ini persemaian tertutup merupakan sistem persemain yang lebih
baik dibandingkan dengan persemaian terbuka.
2. Daya Kecambah
Bedasarkan grafik persentase daya perkecambahan benih baik yang tumbuh
normal, abnormal, mati ataupun tidak tumbuh menunjukan nilai persentase yang berbeda
antara persemaian tertutup dan persemaian terbuka. Pada persemaian tertutup persentase
benih padi yang tumbuh normal yaitu 87 %, benih padi yang tumbuh abnormal 2 %, dan
benih padi yang mati atau tidak tumbuh 10 %, serta pada sistem persemaian ini tidak ada
benih padi yang hilang. Sedangkan pada terbuka persentase benih padi yang tumbuh
normal yaitu 27.2 %, yang tumbuh abnormal 4.6 %, yang mati atau tidak tumbuh 25.4 %,

23
dan pada persemaian ini terdapat benih yang hilang ( benihnya dimakan burung atau
faktor lainnya) dengan persentasenya sebesar 42.8 %. Pada persemaian terbuka, jumlah
benih yang hilang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah benih yang tumbuh
normal, abnormal maupun benih yang mati, sedangkan pada persemaian tertutup sama
sekali tidak ada benih yang hilang, persentase benih yang tumbuh normal sangat tinggi
dan persentase benih yang tumbuh abnormal maupun yang mati sangat rendah. Hal ini
menunjukan bahwa sistem persemaian yang paling baik dalam mendukung proses
perkecambahan benih sehingga benih berkecambah memiliki struktur yang lengkap dan
tumbuh secara normal adalah sistem persemaian tertutup.

B. LAPORAN KEGIATAN TAMBAHAN


1. Pengendalian Hama Keong Mas pada Tanaman Padi
Hama merupakan organisme pengganggu tanaman yang dapat menyebabkan
penurunan hasil pada tanaman tersebut. Demikian pula yang terjadi pada areal
persawahan yang ada di Kebun Percobaan Mojosari ini. Dimana areal persawahannya
terserang hama keong mas, sehingga perlu dilakukan tindakan pengendalian yang biasa
dilakukan secara kimia dengan menggunakan bahan bahan kimia maupun secara
tradisional atau manual. Tindakan pengendalian yang dilakukan dikebun percobaan ini
adalah secara manual dengan mengambil keong mas dan telurnya yang melekat pada
tanaman padi agar dapat mengurangi populasinya, yang kemudian dikumpulkan menjadi
satu dan dijadikan sebagai pakan ikan.
2. Menanam Jagung
Sistem budidaya jagung yang dilakukan di Kebun Percobaan Mojosari dibedakan
atas dua yaitu system basah dan system kering. Pada sistem basah tanah yang sudah
diolah 2 hari sebelum tanam diairi terlebih dahulu dan benihnya direndam selama 2-3
jam. Kelebihan dari sistem basah adalah pertumbuhan kecambah yang relatif seragam
atau serempak, sedangkan kelemahan dari sistem ini adalah perendaman benih
berdampak pada pestisida yang diberikan pada sidtritmen jadi hilang sehingga benihnya
berisiko terserang hama. Sedangkan pada system kering lahannya tidak perlu diairi
sebelum ditanam. Benih jagung yang digunakan adalah benih jagung komposit (memiliki
persarian bebas) varietas lamuru.
Tahapan budidayanya antara lain sebagai berikut :
a. Pengolahan tanah intensif menggunakan traktor besar.

24
b. Membentuk saluran (parit) dengan tujuan agar mempermudah pengairan dan agar
tidak ada air yang tergenang.
c. Tanah diairi sebelum ditanam untuk system basah dan tidak diairi sebelum
ditanam untuk system kering.
d. Benihnya direndam selama 2-3 jam.
Cara menanam antara lain sebagai berikut :
a. Ditugal, lalu ditanam dengan jarak tanam 70 x 20 cm.
b. Jenis komposit ditanam 2 biji per lubang, lalu ditutup.
c. Pemumpukan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu setelah
tanam dengan menggunakan pupuk phonska 300 kg/ha dan pupuk ZA 100 kg/ha
dengan cara dikocor dan disemprotkan atau disiram pada tanaman jagung.
3. Menanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
Prinsip dasar atau kelebihan menanam padi dengan system jajar legowo antara lain
adalah semua tanaman menjadi tanaman tepi (border effect), populasi tanaman bertambah 30 %,
pemupukan efektif dan tepat sasaran, mengurangi tenaga penyiangan >50% (landak/osrok),
pengendalian hama & penyakit mudah dilakukan dibanding cara tanam biasa.
a. Penyiapan Lahan
Pengolahan tanah ditujukan untuk mendapatkan pelumpuran yang dalam sebagai media
tumbuh yang baik dan sebagai tindakan awal pengendalian gulma. Pengolahan tanah dianjurkan
sebagai berikut:
1) Bahan organik 2,0 3,0 ton/ha (pupuk kandang atau kompos) diberikan sebelum
pembajakan tanah I, terutama pada daerah yang kadar bahan organiknya rendah.
2) Tanah berat dibajak sekali kemudian digaru, pada tanah dengan kedalaman lumpur
lebih dari 30 cm tanpa dibajak hanya diglebeg/dirotari dan langsung digaru. Gulma
dan sisa tanaman diambil dan disingkirkan dari petakan sawah.
3) Untuk keserempakan saat tanam, waktu yang diperlukan saat pengolahan tanah I
hingga lahan siap tanam sekitar 2 minggu.
b. Cara Tanam
Cara tanam pindah dilaksanakan sebagai berikut :
(1) Tanam serempak, dalam satu hamparan + 50 ha diusahakan selesai tanam 7 hari.
(2) Untuk lahan subur, dengan pengairan yang cukup populasi tanaman agak jarang, jarak
tanam (22 - 25 cm), dan sebaliknya tanah kurang subur populasinya lebih rapat.
(3) Jarak tanam:

25
1. Tapin biasa: 20 x 20 cm; 22 x 22 cm atau 25 x 20 cm, 2-3 bibit/rumpun, tanah
subur jarak tanam diperjarang, sebaliknya tanah kurang subur agak rapat.
2. Tapin Legowo 2 : 1 : 40 cm X (20 cm X 10 cm), 2-3 bibit per rumpun. Jarak antar
barisan berselang-seling 40 cm dan 20 cm, jarak dalam barisan 10 cm.
c. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah hara yang kurang sehingga diperoleh
keseimbangan ketersediaan hara bagi tanaman, agar dihasilkan tingkat efisiensi pemupukan
yang tinggi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemupukan:
(1) Penambahan sekitar 2,0 t/ha pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau bokhasi) pada
lahan sawah diaplikasikan bersamaan pengolahan tanah pertama.
(2) Pemupukan N susulan mengacu pada skala bagan warna daun (BWD), pemupukan N
pertama pada umur + 10 hari dengan dosis sekitar 100 kg urea/ha.

(3) Pemupukan N susulan ditetapkan dengan cara sebagai berikut:


a) Amati warna daun padi setiap 10 hari, mulai umur 20 hari hingga umur 50 hari.
Bandingkan warna daun dengan skala warna (nilai 2 sampai 4), semakin hijau warna
daun semakin tinggi nilai skala warna (Tabel 2 dan Gambar 5).
b) Pilih daun teratas yang telah membuka sempurna untuk diukur, daun tersebut
diletakkan di atas skala warna (tanpa dirusak). Sewaktu membandingkan antara daun
dan skala warna, keduanya harus terlindung dari sinar matahari secara langsung,
dihalangi dengan badan. Bagian yang diukur adalah antar tulang daun dan bagian
tengah daun.
c) Pembacaan skala warna daun pada hamparan yang homogen dan umur sama.
Pembacaan daun dilakukan minimal 15 kali kemudian nilainya dirata-ratakan.
d) Dosis N sebagai pupuk susulan disesuaikan dengan target hasil dan fase pertumbuhan
tanaman. Pada umur 21-28 hari dipupuk + 50-175 kg urea/ha; umur 35-45 hari
dipupuk + 50-175 kg urea/ha tergantung target hasil dan pembacaan BWD.
d. Aplikasi Mesin Pertanian
Selama di Kebun Percobaan Mojosari mesin mesin pertanian yang sudah kami ikuti
pengaplikasiannya adalah mesin pembersih gulma (Power Wider) di areal persawahan yang
sudah ditanami padi dengan sistem Jajar Legowo. Dimana pengaplikasian mesin ini benar

26
benar bermanfaat dan dengan penggunaan mesin ini lebih menghemat waktu dan tenaga. Selain
itu, di Kebun Percobaan Mojosari juga diaplikasikan mesin pemotong jerami ( sekaligus mesin
pemotong untuk panen) dilahan sawah yang akan dijadikan sebagai lahan untuk menanam
jagung tanpa perlakuan pengolahan tanah terlebih dahulu. Penggunaan alat ini juga sangat
bermanfaat karena lebih menghemat waktu dan tenaga.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada
persemaian tertutup pertumbuhan dan daya kecambah benih memberikan hasil yang jauh lebih
tinggi atau lebih baik dari persemaian terbuka. Dimana pada persemaian tertutup rerata tinggi
bibitnya mencapai 23.26 cm, sedangkan pada persemaian terbuka rerata tingginya hanya
mencapai 12.25 cm saja. Demikian pula dengan daya kecambah benih sistem persemaian yang
paling baik dalam mendukung proses perkecambahan benih sehingga benih berkecambah
memiliki struktur yang lengkap dan tumbuh secara normal adalah sistem persemaian tertutup.
5.2. Saran
a. Disarankan kepada para petani sawah di Nusa Tenggara Timur agar dapat menerapkan
sistem persemaian tertutup karena sistem persemaian ini menghasilkan benih yang
lebih bermutu, lebih praktis, dan pertumbuhan benihnya seragam dan lebih cepat

27
sehingga pada umur 10-14 hari benih sudah dapat dipindahkan atau ditanam di areal
persawahan.
b. Perlu adanya perhatian yang lebih serius terhadap kegiatan magang yang akan datang
sehingga magang pada tahun yang akan datang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1995. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Anonim3. 2013. Pengaruh Berbagai Media Terhadap Perkecambahan Matoa.


http://Semadim.wordpress.com. Diakses pada tanggal 23 September 2016.

Anonim5. 2013. Media Tanam Hidroponik Dari Arang Sekam:


http://igoywakaranai.blogspot.com. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2016.

Arifannisa, Nabila. 2012. Jenis-Jenis Tanah di Indonesia.


http://nabilaarifannisa.blogspot.com/2012/06/jenis-jenis-tanah-di-indonesia.html.
Diakses tanggal 30 Agustus 2016.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2006. Padi Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan.
Deptan. Jakarta.

28
De Datta, S.K. 1981. Principles and Practices of Rice Production. A Wiley-Interscience
Publication. New York : John Wiley & Sons. 618.p.

Hartawati, 2006. Kesehatan dan Nutrisi Tanah, Petunjuk Praktikum Agronomi, Lab Agronomi
UMM, Malang.

Irawan, B. 2004. Dinamika Produktifitas dan Kwalitas Budidaya Padi Sawah. Badan Peneliti dan
Pengembang Pertanian Departemen Pertanian, Jakarta.

Krismawati, A. 2007. Kajian Teknologi Usahatani Padi di Lahan Kering Kalimantan Tengah.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.Balai besar Pengkajian dan
Teknologi Pertanian. Bogor. 10 (2): 84-94.

Las, I. 2002. Alternatif Teknologi Peningkatan Produktifitas dan Daya Saing Padi. BPTP.
Subang.

Masdar, 2007, Interaksi Jarak Tanam dan Jumlah Bibit Pertanaman, Universitas Bengkulu,
Bengkulu.

Misbah, 2008, Iklim Mikro, Petunjuk Praktikum Agronomi, Lab Agronomi UMM, Malang.

Munawaroh. 2011. Tanah Regosol. http://earthy-moony.blogspot.com/2011/01/tanah-


regosol.html. Diakses tanggal 30 Agustus 2016.

Murata, Y. And S. Matsushima. 1978. Rice. In Evans, L.T. (Ed). Crop Psysiology. Cambridge.
University Press. Cambridge.p. 73-99.

Nippon, K. 2007. Panduan Budidaya Padi Hemat Air System of Rice Intensification SRI. (JBIC
ODA Loan IP-509) dan Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.

Prihmantoro, H. dan Y. H. Indriani. 2003. Hidroponik Sayuran Semusim untuk Hobi dan Bisnis.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Purnamaningsih, R. 2006. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi Melalui
Kultur In Vitro. J. Agrobiogen. 2 (2): 74-80.

29
Sampoerna, 2007. Syarat Tumbuh Tanaman Padi. Diakses melalui www.
samporna.blogsopt.com. Pada tanggal 30 Agustus 2016.

Sasrawan, Hedi. 2013. Tanah Regosol. http://hedisasrawan.blogspot.com/2013/06/tanah-


regosol.html. Diakses tanggal 30 Agustus 2016.

Sutoro dan A.K. Makarim. 1997. Bentuk tajuk berbagai varietas padi dan hubungannya dengan
potensi produksi. J. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 15(2):1-4.
Wuryaningsih, S. 1996. Pertumbuhan Beberapa Setek Melati pada Tiga Macam Media. Jurnal
Penelitian Pertanian. 5(3):50-57.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto Foto Dokumentasi Kegiatan Utama pada Saat Magang

Gambar 1. Media tanam arang sekam Gambar 2. Media tanam tanah

30
Gambar 3. Benih padi varietas Inpari 4 yang Gambar 4. Tanah diayak agar bersih dari
akan ditanam kotoran (persiapan media semai)

Gambar 5. Pencampuran tanah dan arang Gambar 6. Penyebaran campuran tanah dan
sekam (persiapan media semai) arang sekam pada petak sampel

Gambar 8. Penyebaran benih pada media semai


Gambar 7. Penyiraman media semai

31
Gambar 10. Persemaian terbuka dan tertutup
Gambar 9. Pemberian mulsa
setelah penyebaran benih.

Gambar 11. Benih padi 2 HSS pada Gambar 12. Benih padi 2 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

Gambar 13. Benih padi 4 HSS pada Gambar 14. Benih padi 4 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

32
Gambar 15. Benih padi 6 HSS pada Gambar 15. Benih padi 6 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

Gambar 15. Benih padi 8 HSS pada Gambar 15. Benih padi 8 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

Gambar 15. Benih padi 10 HSS pada Gambar 15. Benih padi 10 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

33
Gambar 15. Benih padi 12 HSS pada
Gambar 15. Benih padi 12 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

Gambar 15. Benih padi 14 HSS pada Gambar 15. Benih padi 14 HSS pada
persemaian terbuka persemaian tertutup

Gambar 15. Perbandingan benih padi 14 HSS Gambar 16. Perbandingan tinggi benih padi
pada persemaian terbuka dan tertutup pada persemaian terbuka dan tertutup

34
Lampiran 2. Foto Foto Dokumentasi Kegiatan Tambahan pada Saat Magang

Gambar 1. Mengendalikan hama keong mas Gambar 2. Menanam jagung

Gambar 3. Pencampuran (mengaduk) pupuk

35
Phonska dan ZA untuk pemupukan jagung
Gambar 4. Pemupukan jagung dengan sistem
kocor

Gambar 5. Pengaplikasian mesin pemotong Gambar 6. Kerja bakti membersihkan


jerami lingkungan kantor

36