Anda di halaman 1dari 17

UJIAN TENGAH SEMESTER

NAMA : RICHARD SILITONGA


MATA KULIAH : ENERGI DAN LINGKUNGAN
1. Sinar Ultraviolet bermanfaat bagi kehidupan manusia, tetapi dengan adanya
penipisan lapisan ozon, ada jenis sinar ultraviolet yang dapat mengganggu
kehidupan di bumi.
a.Mengapa ozon bias menjadi tipis, perlihatkan proses terjadinya penipisan
tersebut !
Jawab :
Penipisan lapisan ozon disebabkan karena adanya zat-zat pencemar udara
yang merusak lapisan ozon yang dikenal dengan nama Bahan Perusak Ozon (BPO),
misalnya Chlorofluorocarbon (CFC) dan Hydrochlorofl uorocarbons (HCFC).
Pada lapisan Stratosfer radiasi matahari memecah molekul gas yang
mengandung khlorin atau bromin yang dihasilkan oleh zat/bahan perusak ozon
seperti CFC dan Haloncarbon yang akan menghasilkan radikal khlor dan brom.
Radikal-radikal khlorin dan bromin kemudian melalui reaksi berantai memecahkan
ikatan gas- gas lain di atmosfer, termasuk ozon. Molekul- molekul ozon terpecah
menjadi oksigen dan radikal oksigen. Reaksi tersebut akan mengurangi konsentrasi
ozon di stratosfer. Semakin banyak senyawa yang mengandung khlor dan brom
perusakan lapisan ozon semakin parah.
Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke
dalam stratosfer (10 50 km). Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar
UV dan membebaskan atom Chlorine. Bahan kimia ini menipiskan lapisan ozon
dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi kimia yang merubah ozon (O3)
menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat dengan adanya kristal-kristal es di
stratosfer yang merupakan salah satu dari sumber bagi kerugian besar ozon di
Antartika. Karena CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi
dalam reaksi yang merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan
terus menerus merusak ozon selama bertahun-tahun.

Menurut hasil penelitian, satu atom Cl dapat menguraikan sampai 100.000 senyawa
ozon dan bertahan sampai 40-150 tahun di atmosfer. Padahal stratosfer hanya bisa
menyerap sejumlah atom klorin, sehingga pada akhirnya meskipun penggunaan
CFC ditekan, jumlah yang ada dalam atmosfer masih cukup besar dan perlu waktu
yang sangat lama untuk diserap.

Reaksi Penipisan Ozon Stratosfer karena CFC


Fotodisosiasi CFC :
CFCl3 + UV ==> CFCl2 + Cl
Reaksi dengan O3 :
O3 + Cl ==> ClO + O2
ClO + O ==> Cl + O2
Hasil: O3 + O ==> 2O2

Reaksi Perusakan Ozon oleh Bromin


Senyawa Bromine dipecah oleh sinar UV sehingga melepaskan Bromin, dan meng-
katalisa perusakan Ozon:
O3 + Br ==> BrO + O2
BrO + O ==> Br + O2
Hasil: O3 + O ==> 2O2

Gambar 1. Proses Penipisan lapisan ozon

b. Jenis Sinar Ultraviolet yang mana bermanfaat dan jenis apa yang
berbahaya bagi kehidupan ?
Jawab :
Sinar UV (ultraviolet) adalah sinar tidak tampak yang merupakan bagian energi
yang berasal dari matahari. Sinar UV dapat membakar mata, rambut, kulit, dan
bagian tubuh yang tidak dilindungi atau terlalu banyak terkena sinar matahari.
Meskipun demikian, sinar UV juga dapat kita manfaatkan.
Berikut penjelasan efek radiasi ultraviolet berdasarkan panjang gelombangnya,
yaitu:
1. UV-A adalah sinar ultra violet dengan panjang gelombang paling pendek,
yaitu antara 100-290 nm. Sinar UV inilah yang paling banyak menimbulkan
radiasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa UV-A adalah penyebab
utama kerusakan kulit dan kerutan, radiasi UV-A mampu menembus
kedalam kulit. Selain itu, UV-A dapat menembus kaca.

2. UV-B adalah sinar ultra violet dengan panjang gelombang sedang, yaitu
antara 290 320 nm. Sinar UV-B ini memiliki intensitas tinggi antara pukul
10 pagi sampai pukul 2 siang hari (saat matahari terik). Sebagian besar UV-
B ini terbiokir oleh lapisan ozon di atmosfer dan sinar ini tidak bisa
menembus kaca.
Sinar UV-B Mengakibatkan efek kemerahan pada kulit, memicu eritema,
katarak, memicu pertumbuhan kanker kulit. Akan tetapi dalam jumlah kecil,
radiasi UV-B bermanfaat untuk sintesis vitamin B dalam tubuh.

3. UV-C adalah sinar ultra violet dengan panjang gelombang paling-panjang,


yaitu antara 320 400 nm. Radiasi UV-C ini menyebabkan kerusakan
terbanyak. Untungnya, sebagian besar sinar ini terblokir di lapisan ozon
atmosfer. Dikhawatirkan penggunaan bahan bahan kimia dewasa ini
menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon yang membuat lolosnya banyak
UV-C ke bumi dan menimbulkan berbagai dampak merugikan pada
manusia.
c. Ozon terus terbentuk setiap saat, mengapa ozon tidak lebih tebal dari
ketebalan normal ? Apakah ada dampaknya jika lebih tebal ?
Ozon bisa ditemukan dalam jumlah yang kecil di semua lapisan atmosfer
pada, namun karena adanya proses kimia dan radiasi, keberadaannya tidak terlalu
signifikan. Selain terjadi proses pembentukan molekul ozon, secara alamiah
terjadi juga proses penguraian O3 yang menyebabkan ozon tidak lebih tebal dari
ketebalan normal. Sinar ultraviolet yang mempunyai energi tinggi dapat memutus
ikatan rantai molekul ozon, sehingga molekul ozon tersebut kembali menjadi
atom oksigen bebas (O) dan molekul oksigen (O2).

Sebaliknya, terlalu banyak ozon di bagian bawah atmosfer membantu


terjadinya kabut campur asap yang berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan
dan penyakit pernapasan akut bagi mereka yang menderita masalah
kardiopulmoner. Ozon dapat membentuk cairan berwarna biru tua mempunyai
bau yang keras, menusuk hidung serta terbentuk pada kadar rendah dalam udara
akibat arus elektrik seperti kilat, dan oleh tenaga tinggi seperti radiasi
eletromagnetik. Ozon adalah gas beracun sehingga bila berada dekat permukaan
tanah akan berbahaya dan bila terhisap dapat merusak paru-paru bahkan mampu
menyebabkan kematian.

2. Transmisi Tegangan Tinggi mendapatkan penolakan dari sebagian


masyarakat di Indonesia
a.Mengapa mereka menolak ?
Secara umum penduduk yang dilintasi SUTET menuntut ganti rugi tanah
dan bangunan yang layak, agar dapat segera pindah dari lokasi tersebut. Salah
satu alasan yang sering dikemukakan, karena merasa kesehatan mereka terganggu.
Hal ini berlandaskan dari penelitian yang telah dilakukan pada bebrapa decade,
yang menyebutkan bahwa adanya dampak medan elektromagnetik terhadap
kesehatan manusia oleh sebab pemajanan medan elektromagnetik dapat
mempengaruhi metabolisme hormon melatonin (N-acetyl-5-metoksitriptamin)
yang diproduksi oleh kelenjar pineal. Hormon ini berfungsi menekan timbulnya
kanker. Rendahnya produksi hormon melatonin dapat menimbulkan risiko kanker

b. Yang mengakibatkan kematian arus listrik atau tegangan listrik ?


Ada tiga faktor yang menentukan tingkat bahaya listrik bagi manusia,
yaitu tegangan (V) , arus (I) dan tahanan (R) . Ketiga faktor tersebut saling
mempengaruhi antara satu dan lainnya yang ditunjukkan dalam hukum Ohm,
Tegangan (V) dalam satuan volt (V) merupakan tegangan sistem jaringan listrik
atau sistem tegangan pada peralatan. Arus (I) dalam satuan ampere (A) atau
mili- ampere (mA) adalah arus yang mengalir dalam rangkaian, dan tahanan (R)
dalam satuan ohm, kilo ohm atau mega ohm adalah nilai tahanan atau resistansi
total saluran yang tersambung pada sumber tegangan listrik.Bila dalam hal ini
titik perhatiannya pada unsur manusia, maka tubuh kita termasuk bagian dari
tahanan rangkaian tersebut.
Tingkat bahaya listrik bagi manusia, salah satu faktornya ditentukan oleh
tinggi rendah arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh kita. Sedangkan
kuantitas arus akan ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh manusia serta
tahanan lain yang menjadi bagian dari saluran. Berarti peristiwa bahaya listrik
berawal dari sistem tegangan yang digunakan untuk mengoperasikan alat.
Semakin tinggi sistem tegangan yang digunakan, semakin tinggi pula tingkat
bahayanya.
c. Apa yang disebut tengangan langkah?
Tegangan langkah adalah tegangan yang timbul di antara dua kaki orang
yang sedang berdiri di atas tanah yang sedang dialiri oleh arus listrik ke tanah.
Bila seseorang berlaku sebagai penghantar yang diberi tegangan mulai dari
harga nol dan dinaikkan sedikit demi sedikit, arus listrik yang melalui tubuh
orang tersebut akan memberikan pengaruh berbeda. Adapun batas-batas arus
tersebut dibagi sebagai berikut :
-Arus mulai terasa (Perception current)
-Arus mempengaruhi otot (Let go current)
-Arus mengakibatkan pingsan atau mati (Fibrillating current)
-Arus reaksi (Reaction current).

3. Setelah terjadinya hujan, udara menjadi bersih karena polusi udara ditangkap
oleh butiran-butiran air, ini merupakan proses alam.
a.Apa penyebab dan akibat Hujan Asam terhadap kehidupan manusia ?
Jawab :
Berikut merupakan penyebab terjadinya Hujan Asam :
Fenomena alam
Fenomena alam berupa letusan gunung berapi merupakan salah satu
penyebab alami terjadinya hujan asam, dimana letusan ini menyemburkan
sejumlah material gas karbon dioksida (CO2), dan sulfur dioksida (SO2). Gas
sulfur dioksida ini akan bereaksi secara alamiah dengan molekul udara dan
membentuk molekul SO3. Ketika molekul SO3 ini bereaksi dengan uap air yang
terdapat di awan dan menjatuhkannya dalam bentuk hujan ke bumi maka hujan
tersebut akan berbentuk hujan asam.
Fenomena petir juga menjadi salah satu penyebab hujan asam dengan
adanya oksida nitrogen asam nitrat yang secara alamiah dihasilkan pada lapisan
atmosfer oleh pembuangan energi dalam kilatan petir.

Aktifitas manusia
Penyebab yang paling utama dihasilkannya senyawa sulfur dan senyawa
nitrogen yang terdapat di atmosfer dikarenakan aktifitas manusia dalam
memanfaatkan sumber daya alam seperti aktifitas dalam pembangkit tenaga
listrik, aktifitas pabrik dan polusi dari kendaraan bermotor. Penggunaan
batubara dan minyak bumi sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik
merupakan gas kontributor terbesar yang menyebabkan polusi yang
bertanggungjawab terjadinya hujan asam. Belerang (sulfur) yang merupakan
pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang beraksi dengan
oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke
atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat
yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan.

Akibat yang ditimbulkan Hujan Asam terhadap kehidupan manusia :


Dampak deposisi asam terhadap kesehatan telah banyak diteliti, namun belum
ada yang nyata berhubungan langsung dengan pencemaran udara khususnya oleh
senyawa Nox dan SO2. Kesulitan yang dihadapi dikarenakan banyaknya faktor
yang mempengaruhi kesehatan seseorang, termasuk faktor kepekaan seseorang
terhadap pencemaran yang terjadi. Misalnya balita, orang berusia lanjut, orang
dengan status gizi buruk relatif lebih rentan terhadap pencemaran udara
dibandingkan dengan orang yang sehat. Berdasarkan hasil penelitian, sulphur
dioksida yang dihasilkan oleh hujan asam juga dapat bereaksi secara kimia
didalam udara, dengan terbentuknya partikel halus suphate, yang mana partikel
halus ini akan mengikat dalam paru-paru yang akan menyebabkan penyakit
pernapasan. Selain itu juga dapat mempertinggi resiko terkena kanker kulit karena
senyawa sulfat dan nitrat mengalami kontak langsung dengan kulit.

b. Jelaskan proses kimia dari Hujan Asam ?


Jawab :
Hujan asam ini disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor
dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang beraksi dengan oksigen
membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer
dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang
mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan.

Reaksi kimia yang terjadi dalam fenomena hujan asam adalah sebagai berikut:
Reaksi pembentukan asam sulfat:
Pada fase gas sulfur dioksida dioksidasi oleh reaksi radikal hidroksil melalui
reaksi intermolekul :
SO2 + OH HOSO2

Kemudian diikuti oleh:


HOSO2 + O2 HO2 + SO3
Pada kondisi di air, sulfur trioksida (SO3) dirubah dengan cepat menjadi asam
sulfat :
SO3 (g) + H2O (l) H2SO4 (aq)

Sementara itu selain reaksi pembentukan asam sulfat, terjadi pula reaksi
pembentukan asam nitrat terjadi secara alamiah dimana molekul nitrogen dioksida
NO2 bereaksi dengan molekul OH untuk membentuk asam nitrat dengan reaksi
sbb:
Reaksi pembentukan Asam Nitrat :
Nitrit oksida (NO) sangat cepat beroksidasi menjadi NO2, khususnya ketika
bereaksi dengan ozon:
NO + O3 > NO2 + O2
Dari situ terlihat bahwa NO mengalami trasnformasi menjadi asam nitrit ketika
bereaksi dengan hidroksida
NO2 + OH HNO3

c. Bagaimana caranya agar tidak terjadi hujan asam dan bagaimana


mengatasinya ?
Jawab :
Pada dasarnya kita tidak dapat mencegah agar fenomena Hujan Asam tidak
terjadi, karena hujan asam telah terjadi pada siklus alami di muka bumi. Akan
tetapi kita dapat mencegah agar intensitas hujan asam tidak terjadi secara
berlebihan dengan beberapa langkah, yaitu sebagai berikut :
Penggunaan bahan bakar dengan kandungan belerang rendah
Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. Masalahnya ialah sampai saat
ini kita sangat tergantung dengan minyak bumi dan batubara, sedangkan minyak
bumi merupakan sumber bahan bakar dengan kandungan belerang yang tinggi.
Penggunaan gas alam akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi
kebocoran gas ini dapat menambah emisi metan.

1. Mengurangi kandungan belerang sebelum pembakaran (Pre


Combustion)
Kadar belarang dalam bahan bakar dapat dikurangi dengan menggunakan
teknologi tertentu. Misalnya batubara, batubara biasanya dicuci untuk
membersihkan batubara dari pasir, tanah dan kotoran lain, serta mengurangi kadar
belerang yang berupa pirit (belerang dalam bentuk besi sulfida sampai 50 - 90%.
Selain itu ada juga teknologi yang berkembang dewasa ini yang dikenal
dengan gasifikasi, dimana batu bara yang awalnya berbentuk padat dirubah
menjadi gas. Perubahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi yaitu
memperlakukan gas hasil gasifikasi seperti gas alam yang mana gas tersebut
dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin gas. Gas buang dari turbin gas yang
masih bersuhu cukup tinggi dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap dengan
menggunakan Heat Recovery Steam Generator. Siklusnya dapat dilihat sebagai
berikut:

Proses
Gasifikas
i

Gambar.2 Pre-Combustion Process


2. Pengendalian kandungan belerang selama pembakaran (Combustion)
SOx dan Nox sebagai emisi gas buang hasil pembakaran dapat dikurangi
melalui teknologi yang telah dikembangkan selama pembakaran (combustion).
Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan NOx pada waktu
pembakaran telah dikembangkan. Berikut beberapa contoh teknologi yang saat
ini telah digunakan adalah FBC (fluidized Bed Combustion) dan DLN (Dry Low
NOx) combustion.
2.1 FBC (fluidized Bed Combustion)
Lime injection in multiple burners (LIMB) atau yang umumnya dikenal
sebagai FBC (Fluidized Bed Combustion). Dengan teknologi ini, emisi SO2
dapat dikurangi sampai 80% dan NOx 50%. Caranya dengan menginjeksikan
kapur dalam dapur pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan dengan alat
pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan membentuk
gipsum (kalsium sulfat dihidrat). Penurunan suhu mengakibatkan penurunan
pembentukan NOx baik dari nitrogen yang ada dalam bahan bakar maupun dari
nitrogen udara.
Pemisahan polutan dapat dilakukan menggunakan penyerap batu kapur
atau Ca(OH)2. Gas buang dari cerobong dimasukkan ke dalam fasilitas FGD.
Ke dalam alat ini kemudian disemprotkan udara sehingga SO2 dalam gas buang
teroksidasi oleh oksigen menjadi SO3. Gas buang selanjutnya "didinginkan"
dengan air, sehingga SO3 bereaksi dengan air (H2O) membentuk asam sulfat
(H2SO4). Asam sulfat selanjutnya direaksikan dengan Ca(OH)2 sehingga
diperoleh hasil pemisahan berupa gipsum (gypsum). Gas buang yang keluar dari
sistem FGD sudah terbebas dari oksida sulfur. Hasil samping proses FGD
disebut gipsum sintetis karena memiliki senyawa kimia yang sama dengan
gipsum alam.
Skemanya FBC dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 3. Proses fluidized Bed Combustion

2.2 DLN (Dry Low Nox) combustion


Teknologi ini bekerja dengan menginjeksikan air /uap kedalam ruang
bakar gas turbin. Pada masa saat ini, teknologi Dry Low Nox combustion
diaplikasikan pada ruang bakar gas turbin pembangkit listrik. Sistem ini dapat
mengatur pembakaran dengan mengatur waktu masuk nya udara dan bahan
bakar kedalam ruang bakar gas turbin serta besar kecilnya jumlah bahan bakar
yang diinjeksikan menggunakan sistem kontrol tertentu. Proses pencampuran
udara dan gas sebagai bahan bakar terjadi sebelum igniter atau pematik api
dalam combustor di operasikan. Dry Low Emission system ini juga bekerja
tanpa menggunakan steam / air dalam proses pembakaran sehingga
menghasilkan pembakaran dengan temperatur yang lebih rendah. Nox yang
dihasilkan dari proses pembakaran tersebut menjadi lebih kecil karena
pembakaran terjadi pada temperatur yang lebih rendah.

Gambar 4. Proses (Dry Low Nox) combustion

3. Pengendalian setelah pembakaran (Post Combustion)


Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil pembakaran.
Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah Flue Gas Desulfurization (FGD).
Prinsip teknologi ini ialah untuk mengikat SO2 di dalam gas limbah di cerobong
asap dengan absorben, yang disebut scubbing. Dengan cara ini 70-95% SO2
yang terbentuk dapat diikat. Kerugian dari cara ini ialah terbentuknya limbah.
Akan tetapi limbah itu dapat pula diubah menjadi gipsum yang dapat digunakan
dalam berbagai industri. Cara lain ialah dengan menggunakan amonia sebagai
zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat dipergunakan sebagi
pupuk. Selain dapat mengurangi sumber polutan penyebab hujan asam, gipsum
yang dihasilkan melalui proses FGD ternyata juga memiliki nilai ekonomi
karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misal untuk bahan
bangunan. Sebagai bahan bangunan, gipsum tampil dalam bentuk papan gipsum
(gypsum boards) yang umumnya dipakai sebagai plafon atau langit-langit
rumah (ceiling boards), dinding penyekat atau pemisah ruangan (partition
boards) dan pelapis dinding (wall boards). Ada dua tipe Flue Gas
Desulphurization yang umum digunakan pada berbagai jenis boiler, yaitu tipe
basah (Wet Flue Gas Desulphurization) dan tipe kering (Dry Flue Gas
Desulphurization). Untuk yang tipe basah, FGD menggunakan bahan baku air
laut sebagai media penyerap emisi sulfur. Flue gas yang keluar dari boiler,
dialirkan ke sistem Flue Gas Desulphurisation (FGD) dan disemprot dengan
menggunakan air laut sehingga terjadi reaksi kimia berikut:
SO2 + H2O H+ + HSO3-
Proses selanjutnya adalah proses oksidasi. Dengan menggunakan oksidation air
blower, udara dari atmosfer dimasukkan ke dalam tangki larutan campuran
antara air laut dengan hasil dari reaksi kimia sebelumnya. Pada fase ini terjadi
reaksi kimia berikut:
HSO3- + O2 HSO4-
Dan pada akhir proses, terjadi reaksi kimia secara alami di naturalisation basin,
yaitu:
HSO4- + HCO3- SO42+ + H2O + CO2
Dan seperti yang anda lihat hasil reaksi kimia di atas merupakan zat-zat yang
menjadi penyusun alami air laut. Dan menurut hasil penelitian, penambahan zat-
zat tersebut ke dalam air laut masih tidak berpengaruh terhadap keseimbangan
air laut.

Pada Flue Gas Desulphurization tipe kering, udara flue gas dimasukkan ke
dalam sistem dan disemprot dengan zat kimia absorber sulfur. Zat kimia
absorber yang digunakan bukan air laut, melainkan bahan-bahan kimia seperti
CaCO3 (limestone) dengan reaksi kimia absorbsi berikut:
CaCO3 (solid) + SO2 (gas) CaSO3 (solid) + CO2 (gas)
Selain menggunakan CaCO3 juga dapat digunakan Ca(OH)2 dan Mg(OH)2
(magnesium hidroksida). Materi absorbsi tersebut dikabutkan oleh sebuah
bagian bernama ratary atomizer sehingga didapatkan ukuran partikel yang
cukup kecil untuk mengoptimalkan proses penyerapan SO2.
4. Radiasi Nuklir (Partikel Alpha, Beta, dan Gama) sebenarnya dalam
konsentrasi kecil ada di udara dan di air, dibutuhkan untuk kehidupan, dan
dibidang kesehatan dan pertanian teknologi nuklir digunakan.
a. Bagaimana mencegah terkena radiasi nuklir yang berbahaya, dan
bagaimana usaha mengatasi yang sudah terkena radiasi nuklir ?
Jawab :
Tindakan yang dilakukan secara terpadu untuk mencegah atau memperkecil
dampak radiologi dari pemanfaatan tenaga nuklir harus merujuk pada Rencana
tindakan kegawat daruratan nuklir, yaitu :
l. Resiko atau mengurangi konsekuensi kecelakaan pada sumber radiasi (lokasi
kecelakaan)
2.Mencegah dampak radioaktif terhadap kesehatan deterministik (kematian),
3. Mengurangi dampak kesehatan stokastik sekecil mungkin (efek samping).

Tindakan kegawat daruratan nuklir atau program kesiapsiagaan nuklir merupakan


usaha tindakan yang dilakukan pada pemanfaatan tenaga nuklir baik pada kondisi
normal ataupun darurat dengan tujuan untuk mencegah efek kesehatan
deterministik (kematian, luka-luka dan cedera) dan untuk mengurangi risiko efek
stokastik pada kesehatan (terutama kanker dan efek menurun parah / severe
hereditary effects). Tindakan penanggulangan keadaan darurat nuklir dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Precautionary Action Zone (PAZ).


Daerah di sekitar PLTN dimana tindakan penanggulangan direncanakan dan
akan ditetapkan sesegera mungkin setelah adanya pernyataan terjadinya kecelakaan.
Tujuannya yaitu mengurangi risiko dan dampak kesehatan deterministik dengan
tindakan penanggulangan pada sumber kecelakaan
b. Urgent Protective Action Planning Zone (UPZ).
Daerah di sekitar PLTN yang disiapkan dan segera akan diterapkan tindakan
penanggulangan berdasarkan hasil pemantauan lingkungan
d. Longer Term Protective Action Planning Zone (LPZ).
Daerah sampai dengan jarak yang reatif jauh dari daerah UPZ, dimana tindakan
penanggulangan dilaksanakan dalam jangka waktu panjang untuk mengurangi dosis
dari disposisi pada bahan-bahan makanan.

e. Ada beberapa jenis limbah nuklir (dari rumah sakit dan PLTN, dll).
Bagaimana menangani limbah-limbah tersebut ?
Secara umum, pengelolaan limbah nuklir yang lazim digunakan oleh
negara-negara maju meliputi tiga pendekatan pokok yang bergantung pada besar
kecilnya volume limbah, tinggi rendahnya aktivitas zat radioaktif yang
terkandung dalam limbah serta sifat-sifat fisika dan kimia limbah tersebut. Tiga
pendekatan pokok itu meliputi:

Limbah nuklir dipekatkan dan dipadatkan yang pelaksanaannya dilakukan


dalam wadah khusus untuk selanjutnya disimpan dalam jangka waktu yang cukup
lama. Cara ini efektif untuk menangani limbah nuklir cair yang mengandung zat
radioaktif beraktivitas sedang dan atau tinggi
Limbah nuklir disimpan dan dibiarkan meluruh dalam tempat
penyimpanan khusus sampai aktivitasnya sama dengan aktivitas zat radioaktif
lingkungan. Cara ini efektif bila dipakai untuk pengelolaan limbah nuklir cair atau
padat yang beraktivitas rendah dan berwaktu paruh pendek.
Limbah nuklir diencerkan dan didispersikan ke lingkungan. Cara ini
efektif dalam pengelolaan limbah nuklir cair dan gas beraktivitas rendah

f. Ada beberapa level radiasi nuklir. Jelaskan satu persatu !


Jawab :
Kecelakaan nuklir menurut International Atomic Energy Agency (IAEA)
dibedakan menjadi 8 level. Level-level tersebut dikatagorikan berdasarkan
tingkatan pengaruh baik di dalam ataupun di luar instalasi nuklir. 8 level
tersebut digambarkan pada gambar berikut :
Gambar 5. Delapan Level Kecelakaan Nuklir

Penjelasan setiap level kecelakaan nuklir dijelaskan sebagai berikut:


Level 7, kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang sangat besar terhadap
kesehatan dan lingkungan di dalam dan sekitar instalasi nuklir.
Level 6, kecelakaan nuklir diindikasikan dengan keluarnya radioaktif yang
cukup signifikan, untuk instalasi nuklir ataupun kegiatan industri yang berbasis
raioaktif.
Level 5, kecelakaan nuklir yang mengeluarkan zat radioaktif yang terbatas,
sehingga memerlukan pengukuran lebih lanjut.
Level 4, kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang kecil terhadap
lingkungan sekitar, paparan dalam instalasi dan pada pekerja masih sesuai
dengan batas yang diizinkan.
Level 3, kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang sangat kecil dimana
masih dibawah level atau batas yang diizinkan, namun tidak ada perangkat
keselamatan yang memadai.
Level 2, kecelakaan pada level ini tidak mengakibatkan efek apapun keluar
area, namun tetap ada kontaminasi di dalam area. Level ini juga
mengindikasikan kecelakaan yang disebabkan oleh kegagalan untuk memenuhi
syarat-syarat keselamatan yang seharusnya ada.
Level 1, kecelakaan yang merupakan anomaly dari pengoperasian sistem.
Level 0, kecelakaan yang terjadi tidak memerlukan tingkat keselamatan yang
signifikan dan relevan. Disebut juga sebagai out of scale.

4. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, tempraturnya semakin


rendah, dan semakin jauh suatu tempat dari khatulistiwa akan semakin
rendah tempraturnya.
a.Apakah kondisi seperti pernyataan diatas akan terpengaruh oleh terjadinya
global warming? Jelaskan!

b. Apa yang disebut dengan global warming? Jelaskan proses terjadinya!


Ketika energi dari matahari melewati atmosfer sebagian dari energi (26%
secara global) dipantulkan kembali ke angkasa oleh awan dan partikel. Sekitar 19%
dari energi yang tersedia diserap oleh awan, gas (seperti ozon), dan partikel di
atmosfer. Dari sisa 55% dari energi matahari yang melewati atmosfer bumi, 4%
terpantulkan dari permukaan kembali ke angkasa. Rata-rata sekitar 51% dari radiasi
matahari mencapai permukaan. Energi ini kemudian digunakan dalam jumlah
proses termasuk: pemanasan permukaan tanah; mencairnya es dan salju dan
penguapan air; dan fotosintesis tanaman.
Pemanasan tanah oleh sinar matahari menyebabkan permukaan bumi
menjadi radiator energi dalam suatu gelombang panjang. Emisi energi ini umumnya
diarahkan ke ruang angkasa. Namun, hanya sebagian kecil dari energi ini benar-
benar kembali ke ruang angkasa. Sebagian besar radiasi inframerah yang keluar
diserap oleh beberapa gas alami atmosfer yang dikenal sebagai gas rumah kaca.
Penyerapan energi ini menyebabkan energi panas tambahan yang akan ditambahkan
ke sistem atmosfer bumi. Molekul-molekul gas rumah kaca di atmosfer sekarang
mulai memancarkan energi gelombang panjang ke segala arah. Lebih dari 90% dari
emisi energi gelombang panjang ini diarahkan kembali ke permukaan bumi di mana
lalu diserap oleh permukaan. Pemanasan tanah oleh radiasi gelombang panjang
menyebabkan permukaan tanah memancarkan mengulangi siklus sekali lagi yang
dijelaskan di atas secara berulang sampai tidak ada lagi gelombang panjang yang
tersedia untuk penyerapan.

c. Qzon juga mempengaruhi global warming, mengapa demikian? Jelaskan


prosesnya!
Lapisan ozon mampu menyerap radiasi ultraviolet matahari yang dapat
menyebabkan pemanasan lapisan atmosfer secara keseluruhan hingga radiasi
ultraviolet (UV) yang sampai ke permukaan bumi.
. Akan tetapi pada lapisan Stratosfer, radiasi matahari mampu memecah
molekul gas yang mengandung khlorin atau bromin yang dihasilkan oleh
zat/bahan perusak ozon seperti CFC dan Haloncarbon dan menghasilkan radikal
khlor dan brom. Radikal-radikal khlorin dan bromin kemudian melalui reaksi
berantai memecahkan ikatan gas- gas lain di atmosfer, termasuk ozon. Molekul-
molekul ozon terpecah menjadi oksigen dan radikal oksigen. Reaksi tersebut
akan mengurangi konsentrasi ozon di stratosfer, sehingga memperbesar
kemungkinan terjadinya global warming.