Anda di halaman 1dari 7

1

1. Artritis Gout merupakan autoinflamatory disease


Autoinflamatory disease adalah Penyakit yang ditandai dengan aktivasi

patologis yang tampaknya tak beralasan dari sistem kekebalan dan ditandai

dengan tidak adanya autoantibodi atau sel T autoreaktif (Park, Bourla, Kastner,

Colbert & Siegel, 2012). Artritis gout merupakan suatu proses inflamasi yang

terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi (tofi). Gout

juga merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolit yang

ditandai dengan meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia)

(Misnadiarly, 2007). Artritis gout merupakan salah satu autoinflamatory

diseaseyang dipicu oleh kristal asam urat da ditandai dengan episode flare artritis

yabg dapat berkembang menjadi kerusakan sendi (Park, Bourla, Kastner, Colbert

& Siegel, 2012).


Artritis gout dikaitkan dengan adanya abnormalitas kadar asam urat dalam

serum darah dengan akumulasi endapan kristal monosodium urat, yang terkumpul

didalam sendi (Tehupelory, 2009). Peningkatan kadar asam urat serum dapat

disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan ekskresi asam urat

ataupun keduanya. Secara normal, metabolisme purin menjadi asam urat dapat

diterangkan sebagai berikut (Helmi, 2012):


a. Jalur de novo
Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian melibatkan asam

urat melalui prekursor non[urin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang

diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat,

asam guanilat, dan asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian

mekanisme kompleks dan terdapat enzim yang mempercepat reaksi yaitu 5-


2

fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintasedan amidofosforibosiltrasnferase (amindo-

PRT).
b. Jalur penghematan
Jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin bebas, pemecahan

asam nukleat, ataupun asupan makanan. Jalur ini tidak melalui zat perantara. Basa

purin bebas (adenin, guanin, dan hipoxntin) berkonden sasi dengan PPRP untuk

membentuk prekursor nukleotida purin dari asa urat. Reaksi ini dikatalis oleh 2

enzim yaitu: hipoxantin guanin fosforibosltransferase (HGPRT) dan adenin

fosforibosiltransferase (APRT).
c. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin
d. Peningkatan produksi asam urat yang disebabkan oleh tumor (yang meningkatkan

celuller turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek enzim atau

mekanisme umpan balik yang diinhibisi).


Adanya kristal monosodium urat menyebabkan inflamasi melalui beberapa

cara yaitu aktivasi sistem komplemen dan seluler. Kristal monosodium urat

bersifat mengaktifkan sistem komplemen melalui jalur klasik dan jalur alternatif.

Jalur klasik terjadi aktivasi komplemen C1 tanpa peran immunoglobulin. Pada

keadaan monosodium urat tinggi, aktivasi system komplemen melalui jalur

alternatif terjadi apabila jalur klasik terhambat. Aktivasi C1 melalui jalur klasik

menyebabkan aktivasi kolikrein dan berlanjut dengan mengaktifkan Hageman

factor (Faktor XII) yang penting dalam reaksi kaskade koagulasi. Ikatan partikel

dengan C3 aktif (C3a) merupakan proses opsonisasi. Proses opsonisasi partikel

mempunyai peranan penting agar partikel tersebut mudah untuk dikenal, yang

kemudian difagositosis dan dihancurkan oleh neutrofil, monosit dan makrofag.

Aktivasi komplemen C5 (C5a) menyebabkan peningkatan aktivitas proses

kemotaksis sel neutrofil, vasodilatasi serta pengeluaran sitokin IL-1 dan TNF.
3

Aktivitas C3a dan C5a menyebabkan pembentukan membrane attack

complex (MAC). Membrane ini merupakan komponen akhir proses aktivasi

komplemen yang berperan dalam ion chanel yang bersifat sitotoksik pada sel

patogen maupun sel host. Hal ini membuktikan bahwa melalui jalur aktivasi

cascade komplemen kristal urat menyebabkan proses peradangan melalui

mediator IL-1 dan TNF serta sel radang neutrofil dan makrofag (Helmy, 2012).
Pada proses inflamasi, makrofag pada sinovium merupakan sel utama

dalam proses peradangan yang dapat menghasilkan berbagai mediator kimiawi

antara lain IL-1, TNF, IL-6 dan GM-CSF (Granulocyte-Macrophage Colony-

Stimulating Factor). Mediator ini menyebabkan kerusakan jaringan dan

mengaktivasi berbagai sel radang. Kristal urat mengaktivasi sel radang dengan

berbagai cara sehingga menimbulkan respon fungsional sel dan gene expression.

Respon fungsional sel radang tersebut antara lain berupa degranulasi, aktivasi

NADPH oksidasi gene expression. Sel radang melalui jalur signal transduction

pathway dan berakhir dengan aktivasi transcription factor yang menyebabkan gen

berekspresi dengan mengeluarkan berbagai sitokin dan mediator kimiawi

lain.signal transduction pathway melalui 2 cara yaitu: dengan mengadakan ikatan

dengan reseptor (cross-link) atau dengan langsung menyebabkan gangguan

nonspesifik pada membrane sel. Ikatan dengan reseptor pada sel membrane akan

bertambah kuat apabila kristal urat berikatan sebelumnya dengan opsonin,

misalnya ikatan immunoglobulin (Fc dan IgG) datau dengan komplemen (C1

C3b). Kristal urat mengadakan ikatan cross-link dengan berbagai reseptor, seperti

reseptor adhesion molecule (integrin), nontyrosin kinase, reseptor Fc, komplemen


4

dan sitokin serta aktivasi reseptor melalui tirosin kinase dan second

messenger akan mengaktifkan transcription factor (Tehupelory, 2009).


2. Peran genetik dalam hiperurisemia
Hiperurisemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat

(AU) darah diatas normal. Hiperurisemia dapat terjadi akibat peningkatan

metabolisme AU/overproduction, penurunan pengeluaran AU urin/underexcretion,

atau gabungan keduanya. Hiperurisemia dapat dibagi primer, sekunder, dan

idiopatik. Hiperurisemia primer merupakan akibat langsung pembentukan asam

urat berlebihan atau akibat penurunan ekskresi asam urat tanpa disebabkan

penyakit atau penyebab lain. Hiperurisemia sekunder disebabkan oleh penyakit

atau penyebab lain. Hiperurisemia idiopatik adalah hiperurisemia yang tidak jelas

penyabab primer, kelainan genetik, tidak ada kelainan fisiologi ataupun anatomi

yang jelas (Price & Wilson, 2012).


a. Hiperurisemia primer
Kelainan yang dikenal dengan familial junevile hyperuricaemic

nefropathy (FJHN) yaitu hiperurisemia akibat adanya penurunan pengeluaran AU

pada ginjal dalam suatu keluarga yang diturunkan secara genetik. Kelainan ini

sering diturunkan secara autosomal dominan, kemungkinan melalui kelainan

transporter AU pada basal membran atau brush border dari tubulus proksimal

ginjal (Putra, 2009).


Hiperurisemia perimer karena kelainan enzim spesifik akibat peningkatan

aktivitas varian enzim PRPP synthetase menyebabkan peningkatan pembentukan

nukleotida purin melalui sintesis de novo sehingga terjadi hiperurisemia tiper

overproduction. Enzim tersebut diketaui disantikan oleh DNA pada kromosom X

dan diturunkan secara dominan (Putra, 2009).


5

Hiperurisemia primer karena kelainan enzim spesifik yang disebabkan

kekurangan sebagian enzim HPRT yang dikenal dengan sindrom kelley-

seegmiller. Enzim HPRT berperan dalam mengubah purin bases menjadi

nukleotida purin dengan bantuan PPRP dalam proses pemakaian ulang dari

metabolisme purin. Kekurangan wnzim HPRT menyebabkan overproduction AU

akibat sintesis jalur de novo. Kekurangan enzim HPRT diturunkan X-linked dan

bersifat resesif sehingga didapatkan terutama pada laki-laki (Putra, 2009).


b. Hiperurisemia sekunder

Gout sekunder dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu kelainan yang

menyebabkan peningkatan biosintesis de novo, kelainan yang menyebabkan

peningkatan degradasi ATP atau pemecahan asam nukleat dan kelainan yang

menyebabkan sekresi menurun. Hiperurisemia sekunder karena peningkatan

biosintesis de novo terdiri dari kelainan karena kekurangan menyeluruh enzim

HPRT pada syndome Lesh-Nyhan, kekurangan enzim glukosa-6 phosphate pada

glycogen storage disease dan kelainan karena kekurangan enzim fructose-1

phosphate aldolase melalui glikolisis anaerob. Hiperurisemia sekunder karena

produksi berlebih dapat disebabkan karena keadaan yang menyebabkan

peningkatan pemecahan ATP atau pemecahan asam nukleat dari dari intisel.

Peningkatan pemecahan ATP akan membentuk AMP dan berlanjut membentuk

IMP atau purine nucleotide dalam metabolisme purin, sedangkan hiperurisemia

akibat penurunan ekskresi dikelompokkan dalam beberapa kelompok yaitu karena

penurunan masa ginjal, penurunan filtrasi glomerulus, penurunan fractional uric

acid clearence dan pemakaian obat-obatan (Putra, 2009).

3. Kristal asam urat dalam sedimen urin


6

Pembentukan kristal berkaitan dengan konsentrasi berbagai garam di urin

yang berhubungan dengan metabolisme makanan pasien dan asupan cairan serta

dampak dari perubahan yang terjadi dalam urin setelah pengumpulan sampel

(yaitu perubahan pH dan suhu yang mengubah kelarutan garam dalam urin dan

menghasilkan pembentukan kristal. Ginjal berperan dalam ekskresi metabolit dan

pemeliharaan homeostasis, produk akhir dari metabolisme ditemukan dalam

konsentrasi tinggi dalam urin dan hal ini cenderung terjadinya pengendapan

kristal. pH urin normal bervariasi dan beberapa kristal dikaitkan dengan pH asam,

basa, ataupun netral (McClatchey, 2002).


Asam urat merupakan produk metabolik dari pemecahan protein dan

terdapat dalam urin dalam konsentrasi tinggi, umumnya menghasilkan berbagai

macam struktur kristal. Amorf urat dapat digambarkan sebagai granular,

birefringent, kristasl tidak berwarna sampai kuning, terkadang terlihat sebagai

butiran halus ketika diamati dengan pembesaran 10x atau 40x pada pemeriksaan

mikroskopis. Kristal ini sering terjadi ketika urin didinginkan (McClatchey, 2002).
Kristal asam urat merupakan bentuk yang paling pleomorfik dari semua

kristal urin. Berbagai macam bentuk kristal asam urat seperti batang, kubus,

mawar,piring 6 sisi, rhombi, dan seperti batu asahan. Kristal asam urat larut dalam

larutan alkali dan tidak larut dalam asam. Kristal asam urat biasanya tidak

berwarna sampai berwarna kuning pucat, merah muda atau cokelat. Kristal asam

urat sering dikaitkan dengan batu ginjal, tetapi keberadaan didalam urin orang

normal adalah hal yang sangat umum terjadi (McClatchey, 2002).


7

DAFTAR PUSTAKA

Helmy, ZN 2012, Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal, Salemba Medika,


Jakarta.

McClatchey 2002, Clinical Laboratory Medicine, Lippincott Williams & Wilkins,


diakses 12 September 2012, https://books.google.co.id

Misnadiarly 2007, Asam Urat-Hiperurisemia, Artritis Gout, Pustaka Obor


Populer, diakses 12 September 2015, https://books.google.co.id

Park, H, Bourla, AB, Kastner, DL, Colbert, RA & Siegel, RM 2012, Ligthing the
fire within: the cell biology of autoinflamatory diseases, NCBI, vol. 12,
no. 8, diakses 12 September 2015, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/

Price , SA & Wilson, LM 2012, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses


Penyakit, EGC, Jakarta.

Putra, TR 2009, Hiperurisemia, dalam Buku ajar ilmu penyakit dalam, eds. AW
Sudoyo, B Setiyohadi, I alwi, M Simadibrata & Setiati, Interna Publishing,
Jakarta.

Tehupelory, ES 2009, Artritis Gout, dalam Buku ajar ilmu penyakit dalam, eds.
AW Sudoyo, B Setiyohadi, I alwi, M Simadibrata & Setiati, Interna
Publishing, Jakarta.