Anda di halaman 1dari 9

Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology

Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103


Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

ANALISIS KINERJA SATKER PENGAWASAN SUMBERDAYA


KELAUTAN DAN PERIKANAN (PSDKP) DI PELABUHAN PERIKANAN
NUSANTARA PALABUHANRATU SUKABUMI JAWA BARAT
Dewi Indri Hapsari*), Abdul Rosyid, dan Trisnani Dwi Hapsari

Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Jurusan Perikanan


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedarto, Tembalang (email : dewiindrihapsari@rocketmail.com)

ABSTRAK
Pengawasan perikanan bidang penangkapan ikan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk
melakukan kegiatan pengawasan penangkapan ikan meliputi dokumen perizinan usaha
penangkapan, hasil tangkapan, anak buah kapal, loog book perikanan, daerah penangkapan,
pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungan serta yang berkaitan dengan penangkapan lainnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi fungsi dan peran kinerja Satker PSDKP,
serta menganalisis Menganalisis kegiatan Satker Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
yang ada di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif berdasarkan studi kasus.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sensus.
Hasil penelitian yang didapat kinerja Satker Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan telah dikatakan baik karena, tugas pokok yang ada pada masing-masing pegawai telah
dilaksanakan akan tetapi untuk pengawasan di laut dapat dikatakan kurang baik. Hal ini
disebabkan adanya sarana dan prasarana yang tidak mendukung untuk melakukan pengawasan
tersebut. Perlu penambahan jumlah armada speed boat untuk menunjang kinerja pengawasan
Satker Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.

Kata Kunci : Pengawasan; Kinerja; Satker PSDKP; PPN Palabuhanratu

ABSTRACT
Fisheries surveillance of fishing areas are Civil Servants (PNS) were given the duties,
responsibilities, authority, rights in full by the competent authorities to conduct surveillance of
fishing activities include licensing documents fishing effort, the catch, the crew, loog book fishery ,
region capture, utilization of fish resources and the environment and other related arrest.
The purposes of this study were to identify the functions and roles of PIU PSDKP
performance, and analyze the activities of Satker Supervision Analyzing Marine Resources and
Fisheries in the Palabuhanratu Nusantara fishing port, Sukabumi, West Java. The method used in
this research was descriptive based on case studies. The sampling method used was census.
The results obtained performance of Satker Monitoring of Marine Resources and Fisheries
has said as well, that is the fundamental duty of each employee would have held but for
surveillance at sea can be said to be less good. This is due to the facilities and infrastructure that
are not conducive to such monitoring. Need to increase the number of speed boat fleet to support
performance monitoring Satker Monitoring of Marine Resources and Fisheries.

Keywords : Surveillance; Performance; Satker PSDKP; PPN Palabuhanratu

95
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

PENDAHULUAN Pengalihan Pembinaan Teknis Pengawas


Wilayah pesisir Teluk Perikanan dari Direktorat Jenderal
Palabuhanratu secara geografis terletak Perikanan Tangkap kepada Direktorat
pada posisi 6050-6055 Lintang Selatan Jenderal Pengendalian Sumberdaya
dan 106025-106050 Bujur Timur, Kelautan dan Perikanan. Selanjutnya
sedangkan secara administrasi di tahun 2002 dilakukan penyempurnaan
wilayah pesisir Teluk Palabuhanratu Surat Keputusan Menteri Pertanian
terdapat 4 (empat) kecamatan pesisir, No.996 tahun 1999 tentang Petunjuk
yaitu kecamatan Simpenan, Pelaksanaan Pengawasan Sumberdaya
Palabuhanratu, Cikakak dan Cisolok. Ikan menjadi Surat Keputusan Menteri
Perairan di Pelabuhan Perikanan Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP
Nusantara (PPN) Palabuhanratu sangat No.18/MEN/2010 tentang Pedoman
potensial dan strategis bagi perikanan Pelaksanaan Pengawasan Penangkapan
tangkap hal ini didukung dengan hasil Ikan dan Nomor: KEP.03/MEN/2002
tangkapan yang didapat di Pelabuhan tentang Log Book Penangkapan dan
Perikanan Nusantara (PPN) Pengangkutan Ikan yang selanjutnya
Palabuhanratu tergolong dalam ikan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan
yang bernilai ekonomis tinggi sebagai Dirjen Pengawasan Sumberdaya
contoh: ikan layur, ikan tuna, tongkol, Kelautan dan Perikanan Nomor:
kakap, tenggiri, dan ikan kecil lainnya KEP.10/DJ-SATKER PSDKP/V/2004
(DKP Sukabumi, 2006). tentang Pedoman Tata Cara Pengisian
Potensi sumberdaya ikan yang ada Log Book Perikanan dan Lembar Laik
di Palabuhanratu mengalami kenaikan Operasional Kapal Perikanan.
pada tahun 2009 didapatkan 3.950.257 Kebijakan tersebut dikeluarkan
kg, sementara pada tahun 2010 dengan tujuan sebagai langkah untuk
didapatkan 6.744.292 kg. Hal ini mengurangi pelanggaran yang terjadi di
menunjukkan bahwa Palabuhanratu lapangan, sehingga pelaksanaan
sangat potensial bagi perikanan tangkap pengawasan dapat optimal terutama
(PPN Palabuhanratu, 2011). pengawasan terhadap kapal perikanan di
Pengawasan kapal perikanan di pelabuhan pangkalan. Pada umumnya
pelabuhan pangkalan dimulai pada tahun kegiatan penangkapan dimulai dari
1994, yaitu dengan dikeluarkannya Surat pelabuhan pangkalan sebagai pusat
Keputusan (SK) Dirjen Perikanan dimulainya aktivitas kegiatan bagi kapal
Nomor 320 tahun 1994 tentang perikanan yang meliputi pengisian
Penunjukkan Petugas Pengawas Kapal bahan bakar minyak, perbekalan
Ikan dan Nomor 420 tahun 1994 tentang logistik, pendaratan hasil tangkapan,
Petunjuk Operasional bagi Pengawas pergantian ABK dan sebagainya.
Kapal Ikan, selanjutnya diperkuat dan Pengawasan terhadap kapal perikanan
disempurnakan dengan SK Menteri dilakukan di pelabuhan pangkalan
Pertanian Nomor 996 tahun 1999 perihal diharapkan mampu mencegah terjadinya
yang sama. Sejalan dengan pelanggaran atau kejahatan di bidang
perkembangan kebijakan negara perikanan melalui kegiatan pemeriksaan
Indonesia pada tahun 2000, terbentuk dokumen perijinan, pemeriksaan fisik
Kementerian Eksplorasi Laut dan kapal di lapangan dan alat tangkap serta
Perikanan yang salah satu tugas pokok ikan hasil tangkapan yang dituangkan
dan fungsi di dalamnya adalah Direktur dalam bentuk Surat Laik Operasi (SLO)
Jenderal Pengawasan dan Perlindungan sebagai dasar persyaratan penerbitan
yang mempunyai tugas dan fungsi Surat Izin Belayar (SIB) dan laporan
pengawasan kapal perikanan. Sebagai penangkapan atau Log Book Perikanan
dasar pelaksanaan petugas pengawas (LBP) pada saat melakukan operasi
perikanan di lapangan diterbitkan Surat penangkapan ikan di laut wajib diisi
Keputusan Menteri Kelautan dan dengan benar oleh nahkoda. Selanjutnya
Perikanan No. 44/MEN/2001 tentang diserahkan kepada pengawas perikanan

96
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

pada saat mendarat kembali ke adalah Pengawasan Sumberdaya


pelabuhan pangkalan. Data dan Kelautan dan Perikanan Pelabuhan
informasi dari proses pengawasan kapal Perikanan Nusantara Palabuhanratu.
perikanan selanjutnya dianalisis dan Menurut Salim (2000), metode
apabila ditemukan adanya indikasi deskriptif adalah suatu pendekatan
terjadi pelanggaran perikanan dilakukan
yang digunakan untuk
penyidikan.
Permasalahan yang timbul dari mempertimbangkan, menerangkan
kinerja pengawasan diidentifikasi atau menginterpretasikan suatu kasus
berdasarkan beberapa faktor, yang dalam konteks secara natural tanpa
meliputi sarana dan prasarana, tingkat adanya intervensi dari pihak luar.
pendidikan, insentif, motivasi.
Mengingat luas dan kompleksnya Metode Pengambilan Sampel
permasalahan mengenai kinerja Satker Metode Pengambilan sampel yang
PSDKP maka dalam penelitian ini untuk digunakan adalah metode sensus dimana
memperoleh gambaran dalam populasi pegawai Satker PSDKP yang
penerapannya dilakukan pengkajian ada diambil seluruhnya untuk dijadikan
berdasarkan dokumen-dokumen kapal sampel. Sampel yang diambil sebanyak
(ship documents) yang harus ada di 8 orang yang menjadi pegawai Satker
kapal terkait masalah keselamatan kapal PSDKP di Pelabuhan Perikanan
yaitu Surat Tanda Kebangsaan Kapal Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi,
dan Sertifikat Kelaikan dan Pengawakan Jawa Barat. Jumlah sampel yang diambil
Kapal Penangkapan Ikan yang terdiri dari 2 orang penyidik, 1 orang
dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal pengawas, dan 5 orang sebagai pegawai
Perhubungan Laut sebagai tanda bahwa administrasi.
kapal tersebut telah memenuhi
persyaratan keselamatan kapal, Metode Pengumpulan Data
disamping itu juga dilakukan pula Metode pengumpulan data yang
observasi lapangan terhadap kapal-kapal digunakan dalam penelitian ini adalah:
penangkap ikan di PPN Palabuhanratu 1. Metode Observasi
untuk melihat kelengkapan persyaratan Menurut Nasution (2003), metode
yang seharusnya dipenuhi oleh kapal ini adalah mengadakan observasi
dalam upaya mencapai keselamatan menurut kenyataan, melukiskannya
kelaikan dan pengawakan kapal dengan kata-kata secara cermat dan tepat
penangkap ikan tersebut. apa yang diamati, mencatatnya dan
Tujuan dari penelitian ini adalah kemudian mengolahnya dalam rangka
untuk: masalah yang diteliti secara ilmiah.
1. Mengidentifikasi fungsi dan peran Metode observasi dilakukan
kinerja Satker Pengawasan dengan melakukan pengamatan secara
Sumberdaya Kelautan dan Perikanan; langsung maupun tidak langsung
dan terhadap objek yang diteliti dengan
2. Menganalisis kegiatan Satker menggunakan instrument berupa
Pengawasan Sumberdaya Kelautan pedoman penelitian dalam bentuk
dan Perikanan yang ada di Pelabuhan lembar pengamatan atau lainnya (Umar,
Perikanan Nusantara Palabuhanratu, 1997).
Sukabumi, Jawa Barat. Observasi di lapangan dilakukan
untuk mengamati secara langsung
METODE PENELITIAN bagaimana kondisi di lapangan serta apa
Metode yang digunakan saja yang mempengaruhi kinerja Satker
dalam penelitian ini adalah metode PSDKP di PPN Palabuhanratu.
deskriptif dengan jenis penelitian 2. Metode wawancara
studi kasus dan satuan kasusnya Menurut Santoso (2005),
wawancara merupakan suatu proses

97
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

interaksi dan komunikasi dengan cara mendukung penelitian sehingga


bertanya langsung kepada responden diharapkan dengan landasan teori yang
untuk mendapatkan informasi. kuat akan diperoleh pemahaman yang
Responden penelitian adalah pegawai baik. Metode tersebut dapat digunakan
Satker PSDKP di PPN Palabuhanratu. untuk mencari data-data sekunder
Metode wawancara ini dibantu dengan sebagai data pendukung dari data primer
tape recorder yang digunakan untuk yang didapatkan dari lapangan.
merekam semua pembicaraan/ 4. Metode dokumentasi
wawancara yang dilakukan. Sedangkan Metode ini bersifat primer dan
informasi yang dibutuhkan dalam sekunder serta dilaksanakan oleh
penelitian ini berupa upaya dalam peneliti dengan menyelidiki benda-
mencapai optimalisasi kinerja benda tertulis seperti buku-buku,
pengawasan Satker PSDKP di PPN majalah, dokumen, buletin dan
Palabuhanratu. sebagainya (Nazir, 2005).
3. Metode studi pustaka Data yang diambil dalam
Metode studi pustaka ini dilakukan penelitian ini ada 2 (dua) macam yakni,
dengan mempelajari teori-teori yang data primer dan data sekunder.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara geografis PPN perikanan sesuai dengan potensi yang


Palabuhanratu terletak di 060 970 - dapat dimanfaatkannya. Sejalan dengan
070 030 LS, 1060 59 - 1060 62 BT. makin intensifnya pemanfaatan
Wilayah pesisir Teluk Palabuhanratu sumberdaya ikan, maka upaya
mencapai sekitar 55.615 hektar atau pengawasan terhadap pemanfaatan
tersebut perlu ditingkatkan, agar
sebesar 49,50 % dari luas wilayah pelanggaran peraturan dibidang
pesisir Kabupaten Sukabumi atau perikanan dapat ditekan dan penegakan
sebesar 16,68 % dari total luas hukum dapat dilakukan semaksimal
Kabupaten Sukabumi. Potensi mungkin. Pengawasan pemanfaatan
sumberdaya ikan yang ada di sumberdaya ikan merupakan amanat
Palabuhanratu mengalami kenaikan dari Keputusan Menteri Kelautan dan
pada tahun 2009 didapatkan Perikanan Nomor: KEP. 02/MEN/2002
3.950.257 kg, sementara pada tahun tentang Pedoman Pelaksanaan
2010 didapatkan 6.744.292 kg. Pengawasan Penangkapan Ikan.
Memperhatikan potensi perikanan, penurunan akibat usaha penangkapan
terutama di wilayah Selatan pulau yang terus meningkat.
a. Terdapat 2 orang
Jawa pengembangan perikanan di
personil pengawas berkewenangan
wilayah pantai Selatan Jawa Barat,
khususnya Kabupaten Sukabumi sebagai Penyidik Pegawai Negeri
masih terbuka luas. Wilayah Sipil (PPNS), yakni Enco Mulyarasa,
Kabupaten Sukabumi merupakan S.IP dan Asep Suryana, S.IP, 1 orang
wilayah yang sebagian daerahnya adalah calon pengawas yakni
memiliki laut yang sangat luas dan Muhammad Rifki, S.Pi serta 5 orang
memiliki batas-batas wilayah Tenaga Kerja Kontrak. Berdasarkan
perairan (PPN Palabuhanratu, 2011). struktur organisasi pada Satuan Kerja
Menurut DKP (2005), Pengawasan Sumberdaya Kelautan
pengelolaan dan pemanfaatan dan Perikanan Palabuhanratu yang
sumberdaya ikan di laut dialokasikan memiliki fungsi sebagai berikut:
dalam bentuk perizinan penangkapan
ikan di tiap wilayah pengelolaan

98
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

1. Kepala Satker PSDKP harusnya dilakukan 3 bulan sekali belum


Palabuhanratu sebagai pengawas dapat dilaksanakan sesuai dengan target
perikanan muda yang karena terbentur oleh terbatasnya sarana
berkewenangan sebagai Penyidik yang ada yaitu speed boat. Sarana speed
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang boat yang ada hanya 1 yang dimiliki
memiliki tugas pokok untuk oleh pihak Satker PSDKP itupun dengan
mengkoordinir atau mengarahkan kondisi rusak ringan.
staf pengawas lain sesuai tugas dan Penyidik yang mempunyai tugas
fungsinya, dan bertanggung jawab pokok untuk melakukan pemasangan,
langsung kepada Pangkalan Satker pemantauan dan operator VMS (Vessel
PSDKP Jakarta sebagai Unit di Monitoring Sistem) yang berada di
atasnya; kapal-kapal perikanan dapat dikatakan
2. Penyidik sebagai pengawas cukup baik. Bisa dikatakan cukup baik
perikanan penyelia yang karena, semua kapal yang memenuhi
berkewenangan sebagai Penyidik persyaratan yang terdapat di PPN
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan Palabuhanratu telah dipasang VMS. Dari
memiliki tugas pokok untuk kapal yang berjumlah 15 diatas 30 GT,
melakukan pemasangan, telah dipasang VMS. Salah satu kendala
pemantauan dan operator VMS yang dialami penyidik adalah kurang
(Vessel Monitoring Sistem) yang tertibnya para nelayan yang belum
berada di kapal-kapal perikanan; memasang VMS serta belum ada
3. Pengawas sebagai calon pengawas tindakan tegas terhadap kapal-kapal
perikanan yang memiliki tugas yang belum memasang VMS. Masih
pokok sebagai Bendahara Pembantu terdapat kapal yang tidak
Pengeluaran, Penanggungjawab memperpanjang VMS kendalanya antara
Pengadministrasian, dan lain adalah biaya yang mahal.
Penanggungjawab Laporan Pengawas yang mempunyai tugas
Kegiatan; dan pokok sebagai Bendahara Pembantu
4. Anggota sebagai tenaga kerja Pengeluaran, Penanggungjawab
kontrak yang memiliki tugas pokok Pengadministrasian, dan
sebagai petugas administrasi. Penanggungjawab Laporan Kegiatan
Keberadaan Tenaga Kerja Kontrak sudah melaksanakan tugasnya dengan
di Satuan Kerja Pengawasan cukup baik. Dikatakan cukup baik
Sumberdaya Kelautan dan karena sebagian besar tugasnya sudah
Perikanan Palabuhanratu tersebut dilaksanakan, akan tetapi laporan
masih dibutuhkan dalam rangka bulanan yangberisi mengenai kegiatan
menunjang operasional pengawasan. Satker PSDKP yang telah dilaksanakan
Tugas yang ada dari masing- tiap bulannya belum tercapai. Serta
masing pegawai Satker PSDKP tersebut, untuk data pelanggaran kapal yang ada
sebagian besar tugasnya telah juga belum dicantumkan sesuai yang
dilaksanakan dengan baik. Seperti semestinya.
halnya Kepala Satker PSDKP yang Anggota sebagai tenaga kerja
memiliki tugas pokok mengkoordinir kontrak yang berjumlah 5 orang, yang
dan mengawasi stafnya sudah memiliki tugas pokok sebagai petugas
dilaksanakan dengan baik. Bisa administrasi dapat dikatakan baik. Dapat
dikatakan baik karena, Kepala Satker dikatakan baik karena, apapun yang
PSDKP selalu mengingatkan stafnya menjadi tugasnya seperti pencatatan
yang lalai dalam bekerja untuk segera kapal masuk dan kapal keluar,
melaksanakan dan menyelesaikan yang penerbitan SLO, pembukuan, dan lain-
sudah menjadi tugasnya. Sedangkan lain telah dilaksanakan sesuai dengan
untuk pengawasan di laut, kurang baik tugasnya.
karena selama ini pengawasan yang

99
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

Luas wilayah pengawasan seluas kapal. Sampai saat ini belum


16 mil dari tepi pantai hingga 55.615 ditemukan kasus mengenai muatan
wilayah pesisir yang ada membuat kapal yang melanggar ketentuan,
pengawasan yang dilakukan kurang baik membawa alat tangkap yang
maksimal. Hal ini disebabkan adanya dilarang maupun perbedaan alat
jumlah sarana dan prasarana seperti
tangkap dengan ijin, maupun ikan
speed boat dan handy talky yang kurang,
serta jumlah anggaran biaya yang hasil tangkapan sesuai dengan alat
kurang untuk pemenuhan perbekalan tangkap pada kapal perikanan.
dalam pengawasan di laut. Hal ini harus c. Prosedur
diperhatikan oleh pemerintah maupun Prosedur pengawasan di darat
pegawai Satker PSDKP, pemerintah yang dilakukan oleh petugas Satker
harus memenuhi kebutuhan sarana dan PSDKP di PPN Palabuhanratu tersaji
prasarana yang kurang sehingga dapat dalam lampiran 3. Menurut Direktur
menunjang kinerja pegawai Satker Jenderal Perikanan Tangkap no.
PSDKP. Dibutuhkan kesadaran dari 4356 tahun 2006, prosedur
dalam diri sendiri untuk bisa kedatangan dan keberangkatan kapal
meningkatkan kinerja Satker PSDKP
perikanan dibagi menjadi 3 tahap,
serta didukung kemampuan dalam
melakukan pengawasan tersebut. meliputi:
b. Kegiatan Satker PSDKP 1. Terhadap kedatangan kapal
Salah satu contoh kegiatan perikanan
yang telah dilakukan selama ini a. Setiap kapal perikanan yang
adalah pengawasan pencemaran air, akan memasuki pelabuhan
kegiatan ini meliputi pengawasan perikanan wajib terlebih dahulu
wilayah perairan dari dampak memberitahukan
pencemaran oleh faktor-faktor kedatangannya kepada
lingkungan sekitarnya maupun oleh Syahbandar di Pelabuhan
faktor manusia. Secara umum di Perikanan.
wilayah perairan selatan Jawa Barat b. Pemberitahuan kedatangan
khususnya di sekitar Teluk kapal dilakukan sekurang-
Palabuhanratu, pencemaran tidak kurangnya 2 jam sebelum
terlalu signifikan. kapal memasuki pelabuhan
Pencemaran perairan yang perikanan.
terus diawasi sampai saat ini adalah c. Syahbandar di Pelabuhan
proses dredging pada proyek PLTU Perikanan setelah menerima
oleh PLN yang membuang tanah/ pemberitahuan kedatangan
pasir hasil kerukan ke wilayah kapal agar segera mengatur
perairan Teluk Palabuhanratu. Lokasi tempat tambat atau labuh kapal
pembuangan hasil kerukan ini berada perikanan.
pada wilayah yang tidak berada pada d. Setiap kapal yang telah masuk
fishing ground dimana nelayan di pelabuhan perikanan baik
sekitar mencari ikan. tambat labuh maupun labuh
Kegiatan pengawasan yang lain selambat-lambatnya 2 jam
salah satunya adalah pengawasan setelah masuk wajjib
muatan kapal perikanan dilakukan menyerahkan dokumen kapal
pada kapal perikanan yang berlabuh perikanan kepada Syahbandar
di PPN Palabuhanratu dengan di pelabuhan perikanan untuk
memeriksa fisik serta dokumen disimpan selama kapal

100
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

perikanan berada di pelabuhan perikanan dan memeriksa


perikanan. kelengkapan di atas kapal
e. Segera setelah menerima sebagaimana dimaksud dalam
dokumen kapal perikanan, angka 2 poin b dan c.
Syahbandar di pelabuhan d. Hasil pemeriksaan
perikanan wajib memeriksa sebagaimana bulir c di atas
kelengkapan dan keabsahan merupakan dasar pertimbangan
dokumen kapal perikanan yang untuk menertibkan Surat Ijin
meliputi sebagaimana Berlayar (SIB).
dimaksud dalam angka 1 yang e. Setiap kapal perikanan yang
merupakan tugas Syahbandar telah menerima Surat Ijin
di pelabuhan perikanan. Berlayar (SIB) wajib segera
2. Terhadap keberangkatan kapal berangkat atau meninggalkan
perikanan pelabuhan perikanan.
a. Setiap kapal perikanan yang d. Kinerja
akan berangkat dari pelabuhan Menurut Laporan Tahunan
perikanan wajib terlebih dahulu Satker PSDKP (2011), kinerja yang
memberitahukan rencana dilakukan pihak Satker PSDKP di
keberangkatannya kepada PPN Palabuhanratu sebagai berikut:
Syahbandar di pelabuhan 1. Pengawasan pada unit usaha
perikanan. penangkapan ikan dilakukan
b. Pemberitahuan rencana dengan pemeriksaan dokumen
keberangkatan kapal perikanan perijinan berupa Surat Ijin
dilakukan paling lambat 1 x 24 Penangkapan/Pengangkut Ikan
jam sebelum kapal perikanan (SIPI/SIKPI), Surat Keterangan
berangkat dari pelabuhan Aktivasi Transmitter VMS (pada
perikanan. kapal 30 GT), serta pemeriksaan
c. Setelah menerima fisik kapal apakah sesuai dengan
pemberitahuan rencana dokumen perijinannya.
keberangkatan kapal perikanan,
Syahbandar perikanan segera
memeriksa dokumen kapal

Tabel 1. Rekapitulasi Data Kapal yang dipasangi VMS


No Nama Kapal Nama Perusahaan ID Kode Lapor Tahun Pemasangan
1 KM. Surya Gemilang II Kholili 0016 J 271944 09.03.2010
2 KM. Bintang Barat 88 Winata 0017 L 133354 12.03.2010
3 KM. Jaya Mitra VI Mukito 0018 P 154707 24.07.2010
4 KM. Perintis Jaya 88 PT. Perintis Jaya 0019 H 243584 29.07.2010
Internasional
5 KM. Wastu Kencana I Dinas Perikanan Jabar 0020 B 340576 10.08.2010

6 KM. Merauke Gemilang Kholili 0031 04-01-2010


7 KM. Naga Jaya III Kaslim 0032 03-12-2009
8 KM. Bintang Bahari 88 Mukito 0033 25-11-2009
9 KM. Hasil Terus II Tie Sioe Foeng 0034 25.11.2009
10 KM. Surya Gemilang Kholili 0035 L 493358 09.03.2010
11 KM. Jaya Mitra VII Mukito 0056 L 721505 17.08.2010

12 KM. Gunawan 28 Jaya III Ang Ping Ha 0057 F 780422 19.10.2010

101
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

No Nama Kapal Nama Perusahaan ID Kode Lapor Tahun Pemasangan


13 KM. Velya Wiro Edi Valentino 0058 F 315573 28.10.2010
Gunawan
14 KM. Yong Putra 18 Bing Haryo 0059 L 357006 17-11-2010
15 KM. Jaya Mitra Hendri 0060 F 593671 24.02.2011
Sumber : Laporan Tahunan Satker PSDKP, 2011.
dan kelayakan teknis kapal
2. Berdasarkan Peraturan Menteri perikanan untuk melakukan
Kelautan dan Perikanan Republik kegiatan penangkapan dan/atau
Indonesia Nomor : pengangkutan ikan, pelatihan
PER.03/MEN/2007 Tentang Surat perikanan, penelitian/eksporasi
Laik Operasional Kapal perikanan, dan operasi pendukung
Perikanan, SLO merupakan surat penangkapan dan/atau
keterangan kelayakan administrasi pembudidayaan ikan.

Tabel 2. Rekapitulasi Surat Laik Operasional (SLO), Hasil Pemeriksaan Kapal


(HPK) di Satuan Kerja Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
Palabuhanratu Tahun 2011
HPK A HPK B
No. Bulan SLO
(Kedatangan kapal) (Keberangkatan kapal)
1. Januari 48 48 45
2. Februari 39 39 37
3. Maret 50 50 50
4. April 56 56 50
5. Mei 54 54 49
6. Juni 48 48 39
7. Juli 53 53 47
8. Agustus 41 41 33
9. September 39 39 38
10. Oktober 38 38 37
11. November 41 41 38
12. Desember 52 52 49
Jumlah 559 559 512
Sumber : Laporan Tahunan Satker PSDKP, 2011.

3. Berdasarkan Peraturan Menteri 4. Kegiatan pengawasan di darat


Kelautan dan Perikanan Republik Kegiatan Satker PSDKP yang
Indonesia Nomor : dilakukan di darat, meliputi:
PER.03/MEN/2007 Tentang Surat a. Memeriksa kelengkapan dokumen
Laik Operasional Kapal kapal.
Perikanan, SLO merupakan surat b. Memeriksa keabsahan dokumen izin
keterangan kelayakan administrasi perikanan melalui validasi dengan
data perizinan.
dan kelayakan teknis kapal
c. Memeriksa fisik kapal dan alat
perikanan untuk melakukan tangkap.
kegiatan penangkapan dan/atau d. Menerbitkan Surat Laik Operasi
pengangkutan ikan, pelatihan (SLO).
perikanan, penelitian/ eksporasi e. Mengkoordinasi pengawasan atas
perikanan, dan operasi pendukung penerbitan Surat Ijin Berlayar (SIB),
penangkapan dan atau dan
pembudidayaan ikan. f. Mencatat Surat Ijin Berlayar (SIB)
terbit.

102
*) Penulis penanggung jawab
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Hlm 95-103
Online di : http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jfrumt

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan di Satker PSDKP dapat ditarik Dinas Perikanan dan Kelautan, 2006.
kesimpulan sebagai berikut: Analisis Potensi Usaha Kelautan
1. Fungsi dari Satker PSDKP antara dan Perikanan.DKP. Sukabumi
lain sebagai tempat untuk
menerbitkan SLO serta mempunyai DKP. Laporan Tahunan Pengawasan
peran sebagai pengawas sumberdaya Sumberdaya Kelautan dan
laut yang ada. Perikanan, 2005. Ditjen
2. Kinerja Satker PSDKP yang ada di pengawasan dan Pengendalian
PPN Palabuhanratu dapat dikatakan Sumberdaya Kelautan dan
baik karena, sebagian besar tugas Perikanan. Departemen
pokok yang ada pada masing-masing Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
pegawai telah dilakukan. Akan tetapi,
untuk kegiatan pengawasan di Laut Ratnawati. 2010. Studi Pengembangan
tidak baik karena, pengawasan di laut Kapasitas Institusional
tidak dilaksanakan secara semestinya Pokmaswas dalam Pengelolaan
dengan fasilitas yang kurang Sumberdaya Terumbu Karang di
mendukung. Kab. Pangkep. Jurnal Mitra
Bahari 4(2) : 2-12.
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilaksanakan di Satker PSDKP PPN Santoso, Gempur. 2005. Metodologi
Palabuhanratu dapat diajukan beberapa Penelitian (Kuantitatif dan
saran sebagai berikut: Kualitatif). Prestasi Pustaka,
1. Perlu pengawasan yang lebih ketat Surabaya.
lagi terhadap kelengkapan surat-surat
yang dibutuhkan dalam melakukan Sugiyono. 2010. Statistika untuk
kegiatan penangkapan, serta perlu Penelitian. Alfabeta. Bandung.
dilakukan penyuluhan mengenai
pentingnya kelengkapan surat-surat Supranto. 2003. Metode Riset. Rineka
tersebut. Cipta. Jakarta.
2. Perlu adanya penambahan fasilitas
speed boat untuk menunjang Umar, H. 1997. Riset Akuntansi
kegiatan pengawasan di Laut. Panduan Lengkap Untuk
Membuat Skripsi. PT Gramedia
DAFTAR PUSTAKA Pustaka Utama. Jakarta.
Atharis, Yoliza. 2008. Tingkat Kepuasan
Nelayan Terhadap Pelayanan Nazir, Muhammad. 2008. Metode
Penyediaan Kebutuhan Penelitian. Ghalia Indonesia.
Melaut di Pelabuhan Jakarta.
Perikanan Samudra Bungus
Sumatra Barat.Skripsi. IPB.
Bogor.

Buku Laporan Tahunan Statistik


Perikanan Tangkap Satker
Pemanfaatan Sumberdaya
Kelautan dan Perikanan
(PSDKP) Pelabuhan Perikanan
Nusantara Palabuhanratu. 2011.
Sukabumi.

103
*) Penulis penanggung jawab