Anda di halaman 1dari 6

Buah yang disebutkan dalam Al-Quran dan Keistimewaannya

1. Buah pisang

Buah pisang disebutkan dalam Al-Quran pada surat Al-Waqiah ayat 27-29:
(27) dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (28) (mereka) berada di
antara pohon bidara yang tidak berduri. (29) dan pohon pisang yang bersusun-susun
(buahnya).
a. Morfologi Tumbuhan Pisang
Kedudukan tanaman pisang dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan adalah sebagai
berikut.
Divisi : Spermatophyta
Sub Devisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Famili : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradisiaca L. (Tjitrosoepomo, 2000)
Tanaman pisang termasuk dalam golongan terna monokotil tahunan berbentuk
pohon yang tersusun atas batang semu. Batang semu ini merupakan tumpukan pelepah daun
yang tersusun secara rapat teratur. Percabangan tanaman bertipe simpodial dengan meristem
ujung memanjang dan membentuk bunga lalu buah. Bagian bawah batang pisang
menggembung berupa umbi yang disebut bonggol. Pucuk lateral (sucker) muncul dari kuncup
pada bonggol yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman pisang. Buah pisang umumnya
tidak berbiji atau bersifat partenokarpi.
Tinggi pohon pisang antara 2-9 m, berakar serabut dengan batang bawah tanah
(bongol) yang pendek. Pisang mempunyai batang semu yang tersusun atas tumpukan pelepah
daun yang tumbuh dari batang bawah tanah sehingga mencapai ketebalan 20-50 cm. Daun
yang paling muda terbentuk dibagian tengah tanaman, keluarnya menggulung dan terus
tumbuh memanjang, kemudian secara progresif membuka. Helaian daun bentuknya lanset
memanjang, mudah koyak, panjang 1,5-3 m, lebar 30-70 cm, permukaan bawah berlilin,
tulang tengah penopang jelas disertai tulang daun yang nyata, tersusun sejajar dan menyirip,
warnanya hijau.
Pisang mempunyai bunga majemuk, yang tiap kuncup bunga dibungkus oleh
seludang berwarna merah kecoklatan. Seludang akan lepas dan jatuh ke tanah jika bunga
telah membuka. Bunga betina akan berkembang secara normal, sedang bunga jantan yang
berada di ujung tandan tidak berkembang dan tetap tertutup oleh seludang dan disebut
sebagai jantung pisang. Tiap kelompok bunga disebut sisir, yang tersusun dalam tandan.
Jumlah sisir betina antara 5-15 buah. Buah pisang tersusun dalam tandan. Tiap tandan terdiri
atas beberapa sisir, dan tiap sisir terdiri dari 6-22 buah pisang atau tergantung pada
varietasnya. Buah pisang pada umumnya tidak berbiji atau disebut 3n (triploid), kecuali pada
pisang batu (klutuk) bersifat diploid (2n). Proses pembuahan tanpa menghasilkan biji disebut
partenokarpi (Rukmana, 1999).
Ukuran buah pisang bervariasi, panjangnya berkisar antara 10-18 cm dengan
diameter sekitar 2,5-4,5 cm. Buah berlingir 3-5 alur, bengkok dengan ujung meruncing atau
membentuk leher botol. Daging buah (mesokarpa) tebal dan lunak. Kulit buah (epikarpa)
yang masih muda berwarna hijau, namun setelah tua (matang) berubah menjadi kuning dan
strukturnya tebal sampai tipis (Cahyono, 2002).
b. Manfaat Buah Pisang
Buah pisang merupakan bahan makanan sumber vitamin dan mineral. Sama halnya
dengan sayuran, buah pisang mengandung makronutrien yang lengkap, yaitu protein, lemak
dan karbohidrat. Kadar karbohidrat umumnya lebih tinggi daripada sayuran terutama buah
yang rasanya manis. Berdasarkan hasil analisis biokimia, kandungan gizi buah pisang selain
karbohidrat dan protein, juga mengandung kalium yang berhasiat menurunkan tekanan darah,
vitamin C yang penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan vitamin E yang
membantu mengendalikan proses penuaan kulit. Selain itu, buah pisang kaya akan potasium
dan merupakan bahan makanan yang baik untuk diet karena kandungan kolesterol, lemak,
dan garam cukup rendah (Mulyati, 2005).
c. Nilai Etnis/Keagamaan
Pisang digunakan sebagai salah satu bahan pelengkap pada upacara barasandi oleh
masyarakat Sulawesi Tenggara . Bersanji atau dalam bahasa Tolaki disebut barasandi yaitu
suatu upacara potong rambut bagi masyarakat Tolaki di Konawe dan Kolaka Provinsi
Sulawesi Tenggara. Dalam hukum Islam disebut Aqiqah (mehaqeqah), kegiatan barasandi ini
di dahului dengan penyembelihan hewan kurban atau hewan aqiqah berupa kambing
(obee/owembe), dengan tetap mengikuti syariat Islam. Beberapa sisir pisang (aso ase opundi)
diletakan diatas tempat nampan (kapara). Pisang melambangkan kesejukan hal ini sesuai
ungkapan morini mbuu mbundi artinya dingin laksana pohon pisang. Tanaman pisang juga
memiliki keistimewaan dapat berkembang biak (teleka) dengan cepat. Diharapkan seorang
akan mengalami kesejukan dalam hidupnya dan senantiasa berkembang biak. Seusai
dilaksanakan acara barasandi biasanya buah pisang tersebut digantung pada tiang tengah atau
tiang raja rumah (Melamba, B., 2012).
Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat
pada: pembangunan masjid yang diawali dengan syukuran (mobasabasa), ataupun upacara
tolak bala atau metula bala/mosehe. Sementara esensi Islam terletak pada ruh fungsi
masjidnya. Masjid yang di bangun pertama di tanah Tolaki Konawe adalah bernama masjid
Salasa di Kerajaan Konawe tepatnya di kampung Parauna (Melamba, 2011)
Bahkan setiap awal pembangunan masjid di setiap tiang raja diatasnya ditempatkan
satu tandan pisang, jika sudah masak baru diperbolehkan mengambilnya itupun kulitnya tidak
dikupas tetap melekat pada tangkainya, yang dilepas hanya isi buah pisang, tandan dan
kulitnya dibiarkan mengering, hal bermakna agar masjid dingin laksana dinginnya pohon
pisang.
2. Buah Delima

Buah delima disebutkan dalam Al-Quran pada surat Al-Anam ayat 141
6:141. Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
a. Morfologi TanamanDelima
Klasifikasi Delima adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Lythraceae
Genus : Punica
Spesies : P. Granatum L.
Tanaman delima perdu atau kecil dengan tinggi 2-5 m. Batang berkayu, ranting
bersegi, percabangan banyak, berduri pada ketiak daun, berwarna cokelat ketika masih muda,
dan hijau gelap setelah tua. Daun tunggal bertangkai pendek, letak daun berkelompok.
Helaian daun berbentuk lonjong sampai lanset, pangkal lancip, ujung tumpul, tepi rata,
pertulangan menyirip, permukaan mengkilap, panjang 1-9 cm, lebar 0,5-2,5 cm, warna hijau.
Bunga tunggal bertangkai pendek, bunga tumbuh di ujung ranting satau di ketiak daun yang
paling atas. Terdapat satu sampai lima bunga, warna merah, putih, atau ungu. Berbunga
sepanjang tahun, termasuk buah buni. Bentuk buah bulat dengan diameter 5-12 cm, warna
kulit buah beragam, seperti hijau keunguan, putih, cokelat kemerahan, atau ungu kehitaman.
Berbiji banyak, ukuran biji kecil, bentuk bulat panjang bersegi-segi agak pipih, keras,
tersusun tidak beraturan, warna merah jambu atau putih.
b. Manfaat Buah Delima
Buah delima dapat dimakan dalam keadaan segar, sebagai campuran rujak buah,
salad buah, jus atau sari buah. Menurut penelitian yang dilakukan American Jurnal of Clinical
Nutrition, buah delima mengandung senyawa polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan
dapat dimanfaatkan untuk mencegah beberapa penyakit. Pemanfaatan delima sebagai
tanaman obat sebenarnya sudah ada sejak jaman Mesir kuno (Aviram, M et al, 2008)
Berbagai penyakit yang telah menjadi target penelitian untuk mengetahui manfaat
delima adalah berbagai jenis penyakit inflamasi, anti oksidan, penyakit degenratif, berbagai
jenis kanker dan regulasi proses fibrosis.4 Sari buah dan kulit buah delima telah terbukti
memiliki aktivitas antioksidan dan antu kanker. Fakta ini berhubungan dengan kemampuan
kandungan dalam delima yang berperan sebagai anti inflamasi. Aksi farmakologi dan
fitokimia sebagian besar komponen zat aktif kimia delima memiliki aplikasi klinis untuk
terapi dan pencegahan terhadap kanker atau penyakit lain yang disebabkan oleh rekasi
inflamasi kronis (Lansky E, P et al 2007)
Kemampuan dan aktivitas antioksidan dan anti inflamasi yang dimiliki delima
diduga disebabkan karena kandungan polifenolnya yang sangat tinggi, seperti ellagic acid
(EA) dalam bentuk bebas maupun terikat, gallotannis dan antocyanins dan flavonoid lainnya.
Polipfenol memiliki antioksidan yang cukup kuat, terdapatdalam jumlah cukup banyak pada
buah yang telah masak dan hasil ekstraksibuahnya memiliki kadar hingga lebih 2g/L.17
Ekstrak delima diduga memlikiefek yang lebih baik, karena merupakangabungan dari
beberapa zat aktif yangmembentuk suatu formulasi yang salingsinergis, sehingga membentuk
efekyang lebih baik dibandingkan denganpemberian satu bahan aktifnya saja (Seeram N, P et
al, 2005).
c. Nilai etnis/keagamaan

Daftar Rujukan

Aviram M., Volkova N., Coleman R., Dreher M., Reddy M.K., Ferreira D., Rosenblat M.
2008. Pomegranate Phenolics from The Peels, Arils, and Flowers are
Antiatherogenic: Studies in Vivo Atherosclerosis Apolipoprotein EDeficient (EO)
Mice and in Vitro in Cultured Macrophages and Lipoproteins. J. Agric Food Chem.
Vol. 56. No. 3 (56-63).

Cahyono, B. 2002. Pisang. Yogyakarta: Kanisius


Lansky E.P. and Newman R.A. 2007. Punica gramatum (Pomegranate) and its Potential for
Prevention and Treatment of Inflammation and Cancer. J. Ethnopharmacol. Vol. 109
(177-206)

Melamba, B., 2012. Interaksi Islam dengan Budaya Barasandi dan Aktivitas Sosial
Keagamaan Orang Tolaki di Sulawesi Tenggara. el Harakah. Vol.14. No.2.

Melamba, Basrin. 2011. Sejarah Tolaki di Konawe. Yogyakarta: Teras.


Mulyati. 2005. Strategi Belajar Mengajar Kimia. Jakarta: EGC.
Rukmana R. 1999. Usaha Tani Pisang. Yogyakarta: Kanisius.

Seeram N.P., Adam L.S., Henning S.M., Niu Y., Zhang Y., Nair M.G., Heber D. 2005. In
Vitro Antiproliferative, Apoptotic and Antioxidant Activities of Punicalagin, Ellagic
Acid and Total Pomegranate Tannin Extract are Enhanced in Combination with other
Polyphenols as Found in Pomegranate Juice. J of Nutr Biochem. Vol. 16 (360-367)
Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Cetakan IV. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.