Anda di halaman 1dari 5

BABI

1. Latar belakang

Wirausaha berasal dari kata wira dan usaha. Wira dapat berarti mulia, luhur, unggul,
serta usaha berarti kemampuan melakukan usaha atas kekuatan sendiri. Jadi, wirausaha
berarti manusia unggul dalam usaha atas kekuatan sendiri dan tidak bergantung pada
orang lain. Menurut Arif F. Hadipranata, wirausaha adalah sosok pengambil risiko yang
diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima keuntungan financial
ataupun non uang. Drucker menilai wirausaha secara umum dalam arti jiwa atau nilai-
nilai yang terkandung di dalamnya, seperti adanya keinginan untuk melakukan
perubahan, dan sifat harus terhadap sesuatu yang baru. Kathleen mengemukakan bahwa
wirausaha adalah orang yang mengatur, menjalankan, dan menanggung risiko bagi
pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya dalam dunia usaha. Anwar Gozally mengartikan
wirausaha sebagai seorang yang mengambil tanggung jawab untuk menciptakan atau
memperkenalkan gagasan baru yang disebut innovasi. Mereka dapat berperan sebagai
pencetus maupun penemu. Mereka merupakan pimpinan yang berupaya merealisasikan
pemikiran menjadi kenyataan yang menguntungkan
Inpres No. 5 tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan
kewirausahaan menjelaskan arti kewirausahaan. Kewirausahaan adalah semangat, sikap,
perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang
mengarah kepada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk
baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik
atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Kewirausahaan adalah kepribadian wirausaha. Kewirausahaan dapat diistilahkan dalam


bahasa Inggris entrepreneur. Kepribadian unggul kewirausahaan adalah nilai-nilai watak
usaha yang sangat tinggi. Wirausaha merupakan pejuang kemajuan yang mengabdikan
diri kepada masyarakat dalam wujud dedikasi dan tekadnya atas kemampuan sendiri
untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat, memperluas
kesempatan kerja, turut serta, dan berdaya upaya mengakhiri ketergantungan pada luar
negeri dan dalam melakukan fungsi-fungsinya tersebut selalu tunduk pada hukum dan
lingkungannya
BAB II
Pembahasan

A. Provinsi Nanggro Aceh Darussalam

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdiri pada tanggal 7 Desember 1959 dengan
landasan pendirian berdasarkan UU No. 24 Tahun 1956 yang beribukota Banda aceh.Luas
wilayah provinsi ini 57.365,57 km dengan posisi ( letak geografis ) 2 derajat 6derajat
lintang utara dan 95 derajat -98 derajat bujur timur dan berada dalam pulausumatra dan
memiliki 21 kabupaten. Lambang dari provinsi Nanggroe aceh Darussalamadalah pancacita.
Provinsi ini mempunyai potensi yang sangat besar baik itu dari segiperikanan, pertanian dan
perkebunan, industri, peternakan, pertambangan, dan kehutanan.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan provinsi yang mempunyai potensi


perikanan dan kelautan yang cukup besar. Hasil perikanan di Aceh terdiri dari perikanan darat
dan laut. Potensi perikanan laut di daerah Aceh cukup potensial, tetapi belum dimanfaatkan
secara optimal. Data tahun 1997 menunjukkan bahwa hasil perikanan lau tmencapai
110.817,1 ton dan perikanan darat mencapai 24.436,7 ton. Sedangkan pada tahun 1998 hasil
produksi perikanan laut mencapai 114.778,4 ton dan perikanan darat mencapai 23.228,4 ton.
Hasil potensi perikanan di Aceh akan lebih banyak lagi jikaperikanan tersebut dikembangkan
dengan menggunakan peralatan yang modern dan canggih. Potensi perikanan, termasuk
perikanan laut di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) belum dimanfaatkan secara
optimal. Sekitar 60% dari total potensi perikanan yang dimiliki oleh provinsi Nanggroe aceh
Darussalam belum termanfaatkan 40% lainnya juga belum termanfaatkan secara optimal.
Nanggroe Aceh Darussalam sejak tahun 1999 telah menerapkan otonomi daerah dal
kepemerintahannya. Secara filosofis, ada dua tujuan utama yang ingin dicapai dari penerapan
kebijakan desentralisasi atau otonomi daerah yaitu tujuan demokrasi dan tujuan
kesejahteraan. Tujuan demokrasi akan memposisikan pemerintah daerah sebagai instrumen
pendidikan politik di tingkat lokal yang secara agregat akan menyumbang terhadap
pendidikan politik secara nasional sebagai elemen dasar dalam menciptakan kesatuan dan
persatuan bangsa dan negara serta mempercepat terwujudnya masyaraka tmadani atau civil
society. Tujuan kesejahteraan mengisyaratkan pemerintahan daerah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat lokal melalui penyediaan pelayanan publik secara efektif,
efesien.Otonomi daerah ini berarti pemerintah daerah mempunyai wewenang penuh dalam
mengelola potensi yang dimiliki dan pembangunan. Selain itu pendapatan yangdidapatkan
oleh pemerintah daerah 80% kembali ke daerah yang digunakan sebagai kas daerah,
pembangunan dan lain sebagainya dan 20% di salurkan k epemerintahan pusat.Hal ini akan
membuat pemerintah daerah merasa diberlakukan dengan adil tanpa harusada terjadinya
kesenjangan-kesenjangan dengan pemerintah pusat. Salah satu aspek yangmempunyai
potensi di Nanggroe Aceh Darussalam adalah perikanan dan kelautanyangterdiri dari
perikanan darat yang meliputi budidaya dan perikanan laut yang meliputipengangkapan dan
juga budidaya. Peraturan yang mengatur perikanan di ProvinsiNanggroe Aceh Darussalam
bersumber pada 2 hal yaitu hukum adat dan perda (peraturan daerah ) yang mana hal ini
dikarenakan otonomi daerah sehingga daerahmempunyai wewenang untuk mengeluarkan
peraturan yang menyangkut dengandaerahnya. Peraturan adat yang berlaku di Aceh di
dikenal dengan nama hukom laot.Adapun peraturan daerah yang mengatur perikanan dan
kelautan di Provinsi NanggroeAceh Darussalam di sesuaikan dengan keadaan provinsi
tersebut sehingga tidak bertentangan dengan hukum adat. Dengan adanya peraturan daerah
yang dibuat diharapkan pemerintah dan segenap komponen masyarakat di Nanggroe Aceh.
Darussalam dapat memanfaatkan potensi yang ada dengan optimal tanpa harus
mengakibatkan ekploitasi yang berlebihan .Hukum adat yang ada diketuai oleh panglima laot.
Panglima Laot merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di propinsi
Nanggroe AcehDarussalam, yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukm
Adat Lat.Hukm Adat Lat dikembangkan berbasis syariah Islam dan mengatur tata cara
penangkapan ikan di laut (meupayang), menetapkan waktu penangkapan ikan di
laut,melaksanakan ketentuan-ketentuan adat dan mengelola upacara-upacara adat
kenelayanan, menyelesaikan perselisihan antar nelayan serta menjadi penghubung
antaranelayan dengan penguasa (dulu uleebalang, sekarang pemerintah daerah.Struktur adat
ini mulai diakui keberadaannya dalam tatanan kepemerintahan daerahsebagai organisasi
kepemerintahan tingkat desa di Kabupaten Aceh Besar pada tahun1977 (Surat Keputusan
Bupati Aceh Besar No. 1/1977 tentang Struktur OrganisasiPemerintahan di Daerah Pedesaan
Aceh Besar). Akan tetapi, fungsi dan kedudukannyabelum dijelaskan secara detail. Pada
tahun 1990, Pemerintah Propinsi Daerah IstimewaAceh menerbitkan Peraturan Daerah No.
2/1990 tentang Pembinaan dan PengembanganAdat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan
Masyarakat beserta Lembaga Adat, yangmenyebutkan bahwa Panglima Lat adalah orang
yang memimpin adat istiadat,kebiasaan yang berlaku di bidang penangkapan ikan di laut.
Dengan adanya hukom laotini dapat meminimalisir terjadinya ekploitasi yang berlebihan
terhadap penangkapan ikandan mencegah terjadi kepunahan ikan karena tata cara dalam
menangkap ikan sudahdiatur dalam hukom laot ini.Pada sesi ini akan kita bahas potensi alam
yang ada di beberapa kabupaten NADyaitu Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Biereun dan
Kabupaten Aceh Singkil.

K a b u p a t e n A c e h T i m u r Kabupaten Aceh Timur adalah sebuah kabupaten


yang berada di sisi timur Aceh,Indonesia. Kabupaten ini juga termasuk kabupaten kaya
minyak selain Aceh Utara danAceh Tamiang. Kawasan ini juga termasuk basis Gerakan Aceh
Merdeka sebelumdiberlakukannya Darurat Militer sejak Mei 2003. Sebelum penerapan
Darurat Militer ini kawasan Aceh Timur termasuk kawasan hitam, terutama di kawasan
Peureulak dan sekitarnya.

Tat a l e t a k k a b u p a t e n Ac e h Ti m u r Kabupaten Aceh Timur yang terletak pada


407' - 513'LU dan 9713'-9757'BT,memiliki luas wilayah 604.060 Ha. Batas-batas
daerahnya meliputi Selat Malaka disebelah utara, Kabupaten Aceh Tamiang dan Gayo Lues
di sebelah selatan, Selat Malakadi sebelah timur, serta Kabupaten Aceh Utara dan Aceh
Tengah di sebelah barat.Secara topografis wilayahnya terdiri dan daratan dan landai (0 - 2%)
sekitar 34,14%dari luas wilayah, daerah landai agak miring (2 -15%) sekitar 13,66% dan
daerah agak miring (15 - 40%) yang pada umumnya tidak ada perkampungan seluas 26,58%
sertalereng-lereng curam di atas 405 sekitar 25,64%.Sedangkan tekstur tanahnya terdiri dari
tekstur halus (liat dan liat berlempung),tekstur liat (lempung berdebu dan lempung berpasir)
dan tekstur kasar (pasir-pasirberlempung dan pasir berdebu). Menurut tata guna lahan tanah
di Aceh Timur terdiri daritegalan, perkebunan besar, perkebunan rakyat, tambak, hutan
bakau, hutan darat, padangalang-alang, rawa-rawa dan tain-lain. Iklimnya adalah iklim tropis
dengan musimkemarau berkisar antara bulan Maret - Agustus dan penghujan antara
September-Februari. Curah hujan rata-rata antara 1.000-1.500 mm setahun, dengan suhu
antara 28C - 32 C dan kelembaban nisbi sekitar 75%.2 . P r o s p e k I n v e s t a s i
D a e r a h 1 ) P e r t a n i a n Kabupaten Aceh Timur memiliki lahan dan keadaan alam yang
cukup potensialuntuk pertanian. Komoditas pertanian yang dikembangkan adalah padi,
kedelai, jagung,kacang hijau, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar dan lain-lain. Disamping itu,
lahanpekarangan dan lahan kosong di desa-desa banyak ditanami buah-buahan
sepertirambutan, langsat, durian, mangga, cempedak, nenas dan sebagainya.

P e r k e b u n a n Kabupaten Aceh Timur memiliki lahan perkebunan yang sangat


potensial.Sebagian lahan tersebut merupakan perkebunan rakyat untuk tanaman karet,
kelapa,coklat, nilam, kelapa sawit, randu, pinang dan lain-lain. Selebihnya diusahakan
olehperusahaan perkebunan besar yang kini hampir merata di semua
kecamatan.3 ) P e t e r n a k a n Kabupaten Aceh Timur merupakan salah satu
lumbung ternak di ProvinsiNanggroe Aceh Darussalam, dan masih memungkinkan untuk
dikembangkan di masamendatang. Dalam rangka mempercepat pertumbuhan peternakan,
sampai dengan tahun2002 telah dilakukan berbagai upaya seperti penyebaran bibit ternak,
pengendalianpenyakit hewan, penyebaran makanan ternak dan penyuluhan kepada
masyarakat.Pemerintah Kabupaten Aceh Timur membuka kesempatan yang seluas-luasnya
kepadainvestor yang ingin menanamkan modalnya di bidang
ini.4 ) P e r i k a n a n Pesisir pantai Aceh Timur yang menghadap ke Selat Malaka
merupakan kawasanpenangkapan ikan laut yang sangat strategis. Disamping itu, daerah ini
juga memilikilahan yang ditumbuhi rawa-rawa yang sangat potensial untuk pertambakan
udang danikan bandeng. Sektor perikanan Aceh Timur merupakan harapan baik, karena
selama iniwarga setempat masih berkonsentrasi pada pengolahan tambak semata.
K e h u t a n a n Pohon-pohon yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti
meranti, cengal, damarlaut, semantok, merbau, keruing dan sebagainya banyak terdapat di
Aceh Timur.Terdapatpula berbagai flora yang dilindungi seperti Rafflesia dan Daun Sang.
Adapun di kawasanrawa-rawa dipenuhi oleh hutan bakau sebagai bahan baku arang maupun
untuk bahanbangunan. Selain itu, terdapat juga berbagai jenis hewan liar yang menghuni
rimba diAcehTimur.
P e r i n d u s t r i a n Aktivitas perindustrian di Aceh Timur telah mampu
membawa perubahan dalamstruktur ekonomi daerah. Di Kabupaten Aceh Timur telah tumbuh
industri kertas yangtelah mampu menembus pangsa pasar ekspor antara lain ke Singapura,
Malaysia,Hongkong, China, Korea Selatan, Jepang, Saudi Arabia dan Kuwait. Disamping
itu,Pemerintah Kabupaten juga mengupayakan pembangunan industri kecil yang
diarahkanuntuk menciptakan struktur ekonomi yang berimbang terutama antara desa dan
kota.Upaya untuk memacu pengembangan industri kecil melalui pembinaan termasuk
wajibuji produksi industri kecil, serta pelatihan peningkatan mutu. Hasil produksi industri
keciltersebut berupa bahan sulaman dan bordiran dalam bentuk dompet, tas, keranjang
kain,kopiah, aneka hiasan dan gantungan kunci. Selain itu terdapat juga anyaman pandan
danberbagai bentuk sulaman kasab, yang kesemuanya dapat dijadikan cenderamata oleh
parawisatawan.7 ) P e r t a m b a n g a n Berdasarkan hasil penelitian, di Aceh Timur terdapat
berbagai jenis potensi energidan bahan mineral yang tersebar di berbagai kecamatan seperti
minyak bumi, gas alam,panas bumi dan sebagainya. Minyak bumi terdapat di beberapa lokasi
seperti pada aliranKrueng Peureulak, Krueng Idi, sebelah selatan Peureulak, sebelah barat
Bayeun, dan dipesisir utara - timur. Gas alam terdapat di Kecamatan Julok yang
diperkirakancadangannya lebih besar dari yang ada di Arun Aceh Utara. Sumber panas bumi
terdapatdi Alue Siwah Kecamatan Idi Rayeuk. Sedangkan timah hitam, dolomit, dan
batugamping terdapat di Kecamatan Serba Jadi.8 ) P a r i w i s a t a Kabupaten Aceh
Timur memiliki potensi pariwisata berupa wisata budaya, wisatasejarah, dan wisata alam.
Wisata budaya meliputi Tarian Seudati, Tari Ranub Sigapu,Tari Bines, Tari Saman, Rapaii
Daboih, Tari Laweut, Tari Ranub Lam Puan, dan TariTarek Pukat. Wisata sejarah terdiri dari
beberpa bekas Kerajaan Islam dan makam-makam bersejarah. Sedangkan obyek wisata alam
yang dapat dikembangkan antara lainBekas Kerajaan Islam Peureulak, Pantai Kuala Beukah,
Pantai Idi Cut, Pantai KualaParek, Pantai Ujung Perling, Air Terjun Paya Bili, Pantai Kuala
Simpang Ulim, Pantai Kuala Gelumpang, Pantai Kuala Matang Ulim, Pantai Alur Dua Muka,
Pantai Aramia,dan Air Terjun Terujak.