Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PENURUNAN VISUS

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 2 - A.2 / SEMESTER 3
1. M. IWAN ZULHAN ( 042 STYC 15 )
2. RISMALA PRAMUDITHA ( 058 STYC 15 )
3. SULTAN AMONG ALAIKA ( 074 STYC 15 )

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan
nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga sampai sekarang kita bisa beraktivitas
dalam rangka beribadah kepada-Nya dengan salah satu cara menuntut ilmu.
Shalawat serta salam tidak lupa penulis senandungkan kepada tauladan semua
umat Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan ilmu pengetahuan
melalui Al-Quran dan Sunnah, serta semoga kesejahteraan tetap tercurahkan
kepada keluarga beliau, para sahabat-sahabatnya dan kaum muslimin yang tetap
berpegang teguh kepada agama Islam.
Penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada Ibu Maelina Ariyati, S.Kep.,
M.Kes. selaku Dosen Pengampu Sistem Sensori dan Persepsi yang telah
memberikan bimbingan dan masukan sehingga Makalah Penurunan Visus ini
dapat tersusun sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Semoga amal baik
yang beliau berikan akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah S.W.T.
Akhir kata semoga Makalah ini senantiasa bermanfaat pada semua pihak
untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Mataram, 22 Desember 2016

Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

(Penurunan Visus ) 2
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................2
1.4 Manfaat..................................................................................................2
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Definisi...................................................................................................3
2.2 Etiologi...................................................................................................3
2.3 Manifestasi Klinis..................................................................................4
2.4 Pemeriksaan Tajam Penglihatan atau Visus...........................................4
2.5 Pengobatan.............................................................................................6
2.6 Pencegahan............................................................................................7
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN.....................................................................8
BAB 4 PENUTUP
3.1 Simpulan..............................................................................................13
3.2 Saran....................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14

(Penurunan Visus ) 3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mata merupakan organ penglihatan yang dimiliki manusia. Mata


dilindungi oleh area orbit tengkorak yang disusun oleh berbagai tulang seperti
tulang frontal, sphenoid, maxilla, zygomatic, greater wing of sphenoid,
lacrimal, dan ethmoid (Rizzo, 2001). Saat pemeriksaan mata ada istilah yang
dikenal dengan pemeriksaan ketajaman pengelihatan atau disebut dengan
pemeriksaan visus.

Visus adalah sebuah ukuran kuantitatif suatu kemampuan untuk


mengidentifikasi simbol-simbol berwarna hitam dengan latar belakang putih
dengan jarak yang telah distandardisasi serta ukuran dari simbol yang
bervariasi. Ini adalah pengukuran fungsi visual yang tersering digunakan
dalam klinik. Istilah visus 20/20 adalah suatu bilangan yang menyatakan
jarak dalam satuan kaki yang mana seseorang dapat membedakan sepasang
benda. Satuan lain dalam meter dinyatakan sebagai visus 6/6. Dua puluh kaki
dianggap sebagai tak terhingga dalam perspektif optikal (perbedaan dalam
kekuatan optis yang dibutuhkan untuk memfokuskan jarak 20 kaki terhadap
tak terhingga hanya 0.164 dioptri). Untuk alasan tersebut, visus 20/20 dapat
dianggap sebagai performa nominal untuk jarak penglihatan manusia; visus
20/40 dapat dianggap separuh dari tajam penglihatan jauh dan visus 20/10
adalah tajam penglihatan dua kali normal. Untuk itu pada makalah kali ini
kami tertarik untuk membahas mengenai penurunan visus yang sudah menjadi
kejadian yang sering terjadi di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah definisi dari penurunan visus?


1.2.2 Apakah etiologi dari penurunan visus?

(Penurunan Visus ) 1
1.2.3 Apakah manifestasi klinis dari penurunan visus?
1.2.4 Apakah pemeriksaan dari penurunan visus?
1.2.5 Apakah pengobatan dari penurunan visus?
1.2.6 Apa saja pencegahan yang dilakukan untuk menghindari penurunan
visus?
1.2.7 Bagaimanakah asuhan keperwatan dari penurunan visus?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Untuk memahami tentang konsep medis dan konsep keperawatan dari
penurunan visus atau ketajaman pengelihatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari penurunan visus.
2. Untuk mengetahui etiologi dari penurunan visus.
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penurunan visus.
4. Untuk mengetahui pemeriksaan dari penurunan visus.
5. Untuk mengetahui pengobatan dari penurunan visus.
6. Untuk mengetahui pencegahan untuk menghindari penurunan
visus.
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari penurunan visus.

1.4 Manfaat

Dengan dibuatkannya makalah Penurunan Visus ini, diharapkan dapat


bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa kesehatan dalam
mengetahui dan memahami mengenai penurunan ketajaman pengelihatan baik
itu konsep medis maupun konsep keperawatan sehingga dapat memudahkan
untuk memberikan tindakan keperawatan yang sesuai kepada para pasien
penderita penurunan visus.

(Penurunan Visus ) 2
BAB 2
PEMBAHASAN
3.1 Definisi
Ketajaman penglihatan merupakan kemampuan sistem penglihatan untuk
membedakan berbagai bentuk (Anderson, 2007). Penglihatan yang optimal hanya
dapat dicapai bila terdapat suatu jalur saraf visual yang utuh, stuktur mata yang
sehat serta kemampuan fokus mata yang tepat (Riordan-Eva, 2007).
Tajam penglihatan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk
membaca tes pola standar pada jarak tertentu. Pada umumnya hasil pengukuran
dibandingkan dengan penglihatan orang normal. Beberapa faktor seperti
penerangan umum, kontras, berbagai uji warna, waktu papar, dan kelainan refraksi
mata dapat merubah tajam penglihatan.
Jadi, penurunan visus adalah berkurangnya ketajaman atau kejernihan
penglihatan fokus retina dalam bola mata dan sensitifitas dari interpretasi di otak.

3.2 Etiologi
Secara garis besar, terdapat tiga penyebab utama berkurangnya tajam
penglihatan, yaitu kelainan refraksi (misal miopia, hipermetropia), kelainan media
refrakta (kornea, humor akuos, lensa dan korpus vitreum, misal katarak), dan
kelainan syaraf (misal glaukoma, neuritis).
Penurunan ketajaman penglihatan dapat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti usia, kesehatan mata dan tubuh dan latar belakang pasien. Ketajaman
penglihatan cenderung menurun sesuai dengan meningkatnya usia seseorang.
Jenis kelamin bukan merupakan suatu faktor yang mempengaruhi ketajaman
penglihatan seseorang (Xu, 2005). Dari penelitian yang dilakukan di Sumatra,
Indonesia, didapat bahwa penyebab tertinggi terjadinya low vision atau visual
impairment adalah katarak, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi, amblyopia,

(Penurunan Visus ) 3
Age-related Macular Degeneration, Macular Hole, Optic Atrophy, dan trauma
(Saw, 2003).
Pemeriksaan diperlukan karena ketajaman penglihatan dapat berubah-ubah
sesuai dengan proses penyakit yang sedang berjalan. Tajam penglihatan dapat
berkurang akibat beberapa hal seperti:
a) Tajam penglihatan akan berkurang bila terdapat gangguan pada media
penglihatan, kelainan retina ataupun kelainan congenital dan ambliopia.
b) Gangguan penglihatan yang masih dapat diperbaiki atau berubah-ubah, seperti
katarak, uveitis.
c) Manifestasi penyakit sistemik yang dapat mengakibatkan bahaya jiwa pada
diabetes mellitus dan hipertensi.
d) Adanya tumor yang mengganggu jiwa dan penglihatan.
e) Faktor yang dapat mempengaruhi tajam penglihatan pascaoperasi katarak, yaitu :
1) Faktor preoperasi : riwayat penyakit mata selain katarak, seperti glaukoma,
miopia tinggi, degenerasi makula dan ablasio retina serta riwayat penyakit
sistemik, seperti diabetes mellitus.
2) Faktor operasi : operator, teknik operasi, alat operasi , lama operasi, power
IOL, dan komplikasi selama operasi
3) Faktor pascaoperasi : perawatan dan komplikasi lanjut pascaoperasi.

3.3 Manifestasi Klinis


Terjadinya penurunan visus atau ketajaman pengelihatan dapat dilihat dari
kebiasaan sehari-hari maupun tanda gejala klinis yang diperlihatkan oleh
penderita seperti: sering mengedipkan atau mengusap mata, mata berair dan
banyak kotoran, mata merah, gatal dan panas, melihat terlalu dekat atau jauh,
cepat lelah bila membaca, suka merasa silau, kebiasaan menonton TV, kebiasaan
posisi saat membaca, serta kondisi penerangan tempat belajar di rumah.

3.4 Pemeriksaan Tajam Penglihatan atau Visus


Pemeriksaan tajam penglihatan perlu di catat pada setiap mata yang
memberikan keluhan gangguan penglihatan. Mata hanya dapat membedakan 2
titik terpisah bila titik tersebut membentuk sudut 1 menit. Satu huruf hanya dapat

(Penurunan Visus ) 4
dilihat bila seluruh huruf membentuk sudut 5 menit dan setiap bagain dipisahkan
dengan sudut 1 menit. Makin jauh huruf harus terlihat maka makin besar huruf
tersebut harus dibuat karena sudut yang dibentuk harus tetap 5 menit.
Pemeriksaan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan pada jarak 5 atau 6 meter,
karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau
tanpa akomodasi.
Tajam penglihatan perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan
gangguan penglihatan. Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa
dan dengan kacamata. Setiap mata diperiksa terpisah. Biasakan memeriksa tajam
penglihatan kanan terlebih dahulu kemudian kiri dan mencatatnya.
Untuk mengetahui sama atau tidaknya ketajaman penglihatan kedua mata anak
dapat dilakukan dengan uji menutup salah satu mata. Bila satu mata ditutup akan
menimbulkan reaksi berbeda pada sikap anak, ini berarti ia sedang memakai mata
yang tidak disenangi atau kurang baik dibanding dengan mata lainnya.
Pada pasien yang telah tergangggu akomodasinya atau adanya presbiopia,
maka sukar melihat benda dengan jarak dekat. Penderita akan sedikit menjauhkan
benda atau tulisan yang dilihat untuk melihat lebih jelas. Sebaiknya diketahui
bahwa:
a) Bila dipakai huruf tunggal pada uji tajam penglihatan jauh maka penderita
ambliopia akan mempunyai tajam penglihatan huruf tunggal lebih baik
dibandingkan memakai huruf ganda.
b) Huruf pada satu baris tidak sama mudahnya terbaca karena bentuknya kadang-
kadang sulit dibaca seperti huruf T dan W.
c) Pemeriksaan tajam penglihatan mata anak jangan sampai terlalu melelahkan
anak.
d) Gangguan lapang pandangan dapat memberikan gangguan penglihatan pada
satu sisi pembacaan uji baca.
e) Tajam penglihatan denagn kedua mata akan lebih baik dibandingkan denagn
membaca dengan satu mata.
f) Amati pasien selama pemeriksaan karena mungkin akan mengintip dengan
matanya yang lain.

(Penurunan Visus ) 5
Tabel.Tajam penglihatan
Sistem decimal Snellen 6 m 20 kaki Sudut
1.0 6/6 20/20 1.0
0.8 5/6 20/25 1.3
0.7 6/9 20/30 1.4
0.6 5/9 15/25 1.6
0.5 6/12 20/40 2.0
0.4 5/12 20/50 2.5
0.3 6/18 20/70 3.3
0.1 6/60 20/200 10.0

Pemeriksaan visus (4 tahap) hanya dapat diterapkan pada orang yang telah
dewasa atau dapat berkomunikasi. Pada bayi adalah tidak mungkin melakukan
pemeriksaan tersebut. Pada bayi yang belum mempunyai penglihatan seperti
orang dewasa secara fungsional dapat dinilai apakah penglihatannya akan
berkembang normal adalah dengan melihat refleks fiksasi. Bayi normal akan
dapat berfiksasi pada usia 6 minggu, sedang mempunyai kemampuan untuk dapat
mengikuti sinar pada usia 2 bulan. Refleks pupil sudah mulai terbentuk sehingga
dengan cara ini dapat diketahui keadaan fungsi penglihatan bayi pada masa
perkembangannya. Pada anak yang lebih besar dapat dipakai benda-benda yang
lebih besar dan berwarna untuk digunakan dalam pengujian penglihatannya (Ilyas,
2009).

3.5 Pengobatan
1) Farmakulogik
a) Kandungan Leutein
- Dapat membantu dalam memelihara dan menjaga kesehatan mata
dari AND dan juga katarak.
- Dapat mengurangi resiko terserangnya gangguan kerusakan pada
matadan lensa mata.
b) Kandungan Astaxanthin
- Karatonid alami

(Penurunan Visus ) 6
- Dapat membantunya dalam melindungi sel lensa pada mata dapi
paparan UV.
- Dapat mengurangi resiko kelelahan pada mata.
- Dapat membantunya dalam mengurangi gangguan retina deabetika
dan juga katarak.
- Dapat membantunya dalam memelihara mata sehingga dapat
melihat dengan jelas.
c) Kandungan Ekstramel
- Sebagai salah satu antioksidan yang dapat membantunya dalam
memelihara dan melindungi mata dari serangan radikal bebas juga
serangan paparan sinar UV.
d) Kandungan Soybean
- Dapat membantunya dalam menguatkan sel retina mata.
2) Non Farmakulogik
- Daun Sirih
Zat yang terkandung dalam daun sirih berfungsi sebagai anti bakteri
maka untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Begitu
juga dengan penyakit mata ringan yang disebabkan oleh bakteri, daun
sirih ini bisa digunakan sebagai obat penyembuhnya.
- Bawang Putih
Bawang putih dioleskan di kelopak mata luar yang sering juga
digunakan untuk sakit mata seperti belek, timbil, dan sejenis.

3.6 Pencegahan
Adapun pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari penurunan
ketajaman pengelihatan:
- Duduk dengan posisi tegak ketika menulis.
- Istirahatkan mata setiap 30-60 menit setelah menonton TV, komputer atau
setelah membaca.
- Saat membaca: aturlah jarak yang tepat (>30 cm), gunakan penerangan yang
cukup, jangan membaca dengan posisi tidur.

(Penurunan Visus ) 7
- Menjaga hygene pada mata dengan menggunakan kacamata atau pelindung
mata sesuai indikasi.
- Lakukan tindakan atau pengobatan sesuai dengan resep dokter.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1) Anamnese
Identitas Pasien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no.
register, tanggal MRS, diagnosa medis.
Riwayat gangguan pengelihatan :
Tanyakan masalah mata / penglihatannya, penggunaan obat-obat mata,
pemakaian kontak lens, apakah pernah berobat ke dokter mata
sebelumnya.
Keluhan utama: pengelihatan kabur atau pengelihatan ganda disertai
pusing atau sakit kepala, fotopobia, sering keluar air mata

Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada
keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk
menanggulanginya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan apakah pernah menjalankan pembedahan pada mata misal
operasi katarak.
Riwayat keluarga
Kelainan refraksi (Miopi, presbiopi, astigmatisma)
Penyakit strabismus
Gloukoma

(Penurunan Visus ) 8
Katarak
Riwayat personal
Gangguan refraksi, kelainan media refrakta
Kecelakaan
Kondisi medis sistemik seperti diabetes milletus
Medikasi
Riwayat Diet
Jenis makanan yang biasa dikonsumsi
Defisiensi vitamin atau malnutrisi
Status sosial ekonomi
Computer programing
Operator mesin
Industri kimia
Terpapar UV atau cahaya matahari
Riwayat psikososial
Aktivitas sehari-hari
Pemeriksaan Fisik Pada Mata
2) Pemeriksaan
Pemeriksaan Visus
a. Snellen Chart atau Snellen Elektrik
Pada pemeriksaan tajam penglihatan yang memakai kartu baku atau
standar, misalnya kartu baca Snellen setiap hurufnya membentuk sudut 5
menit pada jarak tertentu sehingga huruf pada baris tanda 60, berarti huruf
tersebut membentuk sudut 5 menit pada jarak 60 meter (20/20 bila diukur
dalam jarak kaki); dan pada baris tanda 30, berarti huruf tersebut
membentuk sudut 5 menit pada jarak 30 meter. Huruf pada baris tanda 6
adalah huruf yang membentuk sudut 5 menit pada jarak 6 meter, sehingga
huruf ini pada orang normal akan dapat dilihat dengan jelas. Dengan kartu
standar ini dapat ditentukan tajam atau kemampuan melihat seseorang,
seperti:

(Penurunan Visus ) 9
e) Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada
jarak 6 meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada
jarak 6 meter.
f) Bila pasien hanya dapat melihat huruf pada baris yang menunjukkan
angka 30, pada jarak 6 meter berarti tajam penglihatan pasien adalah
6/30.
g) Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan
angka 50, pada jarak 6 meter berarti tajam penglihatan pasien adalah
6/50.
h) Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat melihat pada
jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada
jarak 60 meter.
b. Jari Tangan
i. Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen
pada jarak 6 meter maka dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat
terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter.
ii. Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang
diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam
penglihatannya 3/60. Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya
dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari
pada jarak 1 meter.
c. Lambaian Tangan
Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan
pasien yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat
gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila pasien hanya
dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam
penglihatannya adalah 1/300.
4) Senter atau Cahaya
Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak berhingga.
Kadang-kadang seseorang pasien hanya dapat mengenal adanya sinar saja
dan tidak dapat melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai
tajam penglihatan 1/tidak berhingga. Bila pasien sama sekali tidak

(Penurunan Visus ) 10
mengenal adanya sinar maka dikatakan penglihatannnya adalah 0 (nol)
atau buta total.
Uji Pin Hole
Bila seseorang diragukan apakah penglihatannya berkurang akibat
kelainan refraksi, maka dilakukan uji pinhole. Bila dengan pinhole
penglihatan lebih baik, maka berarti ada kelainan refraksi yang masih dapat
dikoreksi dengan kacamata. Bila penglihatan berkurang dengan diletakkannya
pinhole di depan mata berarti ada kelainan organik atau kekeruhan media
pengelihatan yang mengakibatkan penglihatan menurun (Ilyas, 2009).

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina.
2. Gangguan rasa nyaman (pusing) berhubungan dengan usaha memfokuskan
pandangan.

C. Intervensi
1. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina
Tujuan :
1. Ketajaman penglihatan klien meningkat dengan bantuan alat
2. Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan
kompensasi terhadap perubahan
Intervensi :
1) Jelaskan penyebab terjadinya gangguan penglihatan.
Rasional : pengetahuan tentang penyebab mengurangi kecemasan dan
meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam
tindakan keperawatan.
2) Lakukan uji ketajaman penglihatan.
Rasional : mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah
diberikan tindakan.

(Penurunan Visus ) 11
3) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak atau
kacamata bantu atau operasi (keratotomy radikal).
2. Gangguan rasa nyaman (pusing) berhubungan dengan usaha memfokuskan
pandangan
Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Keluhan klien (pusing, mata lelah) berkurang atau hilang.
2) Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi
terhadap perubahan yang terjadi.
Intervensi :
1) Jelaskan penyebab pusing, mata lelah.
Rasional : mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan
klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
2) Anjurkan klien agar pasien cukup istirahat dan tidak melakukan
aktivitas membaca terus menerus.
Rasional : mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
3) Gunakan lampu atau penerangan yang cukup (dari atas dan belakang)
saat membaca.
Rasional : mengurangi silau dan akomodasi berlebihan.
4) Kolaborasi : pemberiaan kacamata untuk meningkatkan tajam
penglihatan klien.

(Penurunan Visus ) 12
BAB 4
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penurunan visus adalah berkurangnya ketajaman atau kejernihan
penglihatan fokus retina dalam bola mata dan sensitifitas dari interpretasi di
otak. Secara garis besar, terdapat tiga penyebab utama berkurangnya tajam
penglihatan, yaitu kelainan refraksi (misal miopia, hipermetropia), kelainan
media refrakta (kornea, humor akuos, lensa dan korpus vitreum, misal
katarak), dan kelainan syaraf (misal glaukoma, neuritis).

3.2 Saran
Makalah mengenai Anatomi dan Fisiologi Tulang Telinga ini dapat
penulis selesaikan tanpa ada halangan suatu apapun. Penulis sadari dalam
penyusunan masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan.

(Penurunan Visus ) 13
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI.


Istiqomah, Indriani N. 2004. ASKEP Klien Gangguan Mata. Jakarta: EGC.
Kadek Gede Bakta Giri dan Made Dharmadi. 2013. GAMBARAN KETAJAMAN
PENGLIHATAN BERDASARKAN INTENSITAS BERMAIN GAME
SISWA LAKI-LAKI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS GIANYAR I BULAN MARET APRIL 2013.
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Pearce, Evelyn C. 2010. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT.
Gramedia.
Vaughan dan Asbury. 2009. Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta: EGC.

(Penurunan Visus ) 14