Anda di halaman 1dari 27

Makalah Sistem Endokrin

Proses Keperawatan Gangguan Sistem Empedu

OLEH :

Fifi Riskayani
Hakman Asfiyanto
Indah Gita Cahyani
Swastika Fadia Amalina
Nur Rahma

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga makalah tentang morfologi,struktur dan klasifikasi sel. untuk mata
kuliah Pendidikan dalam Keperawatan dapat terselesaikan dengan baik. Adapun tujuan dari
pembuatan makalah ini ialah untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen
pembimbing kepada kami sebagai mahasiswa program studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Hasnuddin.

Makalah ini berisi materi tentang sel. Makalah ini dibuat untuk mengetahui kembali
materi tentang sel khususnya pada manusia.Dengan makalah ini, diharapkan dapat
memudahkan kita dalam mempelajari kembali materi tentang sel.

Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan baik dari cara penulisan maupun
isi dari makalah ini, karenanya kami siap menerima baik kritik maupun saran dari dosen
pembimbing dan pembaca demi tercapainya kesempurnaan dalam pembuatan berikutnya.

Kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini,
kami sampaikan penghargaan dan terima kasih.Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa
melimpahkan berkat dan bimbingannya kepada kita semua.

Penyusun,

Kelompok 12

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................................
BAB I.............................................................................................................................
PENDAHULUAN..........................................................................................................
A. Latar Belakang..................................................................................................
B. Rumusan Masalah............................................................................................
C. Tujuan...............................................................................................................
BAB II............................................................................................................................
PEMBAHASAN............................................................................................................
A. Anatomi Kandung Empedu..............................................................................
B. Sekresi Cairan Empedu....................................................................................
C. Gangguan sistem Empedu................................................................................
D. Proses Keperawatan........................................................................................
BAB III.........................................................................................................................
PENUTUP....................................................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................................
B. Saran...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Batu empedu merupakan penyakit yang sering ditemukan dinegara barat dan
jarang dinegara berkembang. Yang diherankan prefalensi batu empedu yang tinggi
sampai 40-70% didapatkan pada suku indian di Amerika. Dengan membaiknya
keadaan sosial ekonomi perubahan menu diet ala barat serta perbaikan sarana
diagnosis khususnya ultrasonografi, prefalansi penyakit batu empedu dinegara
berkembang termasuk indonesia cenderung meningkat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan batu mepedu yaitu eksleresi


batu empedu, kolesterol empedu, substansia mucus, pigmen empedu, infeksi,
konstiktusi yang mana pada 20-25% otopsi terdapat batu empedu, terjasinmya
mungkin karenadirt tingginya kalori dan lemak. Dibawah umur 50 tahun sering
dijumpai pada wanita.

Untuk itu penulis mngambil asuhan keperawatan pada pasien chlelitiasis


untuk dijadikan atau sekaligus memberi pengarahan kepada pasien cheleltiasisi
maupun keluarganya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana anatomi kandung empedu ?


2. Bagaiman sekresi dari cairan empedu ?
3. Apa saja gangguan pada sistem empedu empedu ?
4. Bagaiman proses keperawatan gangguan sistem empedu ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui anatomi dari kandung empedu.


2. Untuk menegtahui bagaimana sekresi dari cairan empedu.
3. Untuk menegtahui apa saja gangguan pada sistem empedu.
4. Untuk mengetahui bagaiman proses keperawatan pada gangguan sisitem empedu.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Anatomi Kandung Empedu

Kandung empedu atau gallbladder merupakan organ tubuh yang berbentuk


seperti sebuah terung, memiliki ukuran 30-60 cc, terletak tepat di bawah hati bagian
kanan. Fungsi utama kandung empedu adalah menyimpan cairan empedu yang berasal
dari hati. Fungsi empedu dikendalikan olef enzim cholecystokinin pancreozymin
(CCK-PZ) yang dilepaskan dari mukosa usus halus karena adanya rangsangan makanan
yang masuk kedalam usus. CCK akan merangsang kandung empedu untuk berkontraksi
dan mengeluarkan cairan empedu yang selanjutnya akan digunakan untuk membantu
melarutkan lemak di dalam usus. (Pearce, 2008)

Kandung empedu terletak melekat pada permukaan bawah hepar di bidang


transpilorik pada sambunganlobus kanan dan kuadratus deudenum dan kolon
transversum dibelakangnya. (Pearce, 2008)

Kandung empedu terbagi dalam sebuah fundus, badan dan leher terdiri atas 3
pembungkus yaitu di sebelah luar pembungkus serosa peritoneal, di sebelah tengah
jaringan berotot tak bergaris, dan disebalah dalam membran mukosa yang bersambung
dengan lapisan saluran empedu. Membran mukosa memuat sel epitel silinder yang
mengeluarkan sekret musin dan cepat mengabsorbsi air dan elektrolit, tetapi tidak
garam empedu atau pigmen, maka kerena itu empedu menjadi pekat. (Pearce, 2008)

2
Duktus hepatikus kira-kira tiga setengah senti meter panjangnya. Berjalan dari
leher kandung empedu dan bersambung dengan duktus hepatikus sambil membentuk
saluran empedu ke duodenum. (Pearce, 2008)

Fungsi kandung empedu bekerja sebagi tempat persediaan getah empedu, juga
melakukan fungsi penting yaitu getah empedu yang tersimpan didalamnya dibuat pekat.
Di dalam waktu setengah jam setelah makanan masuk, segera sesudah sfinkter oddi
mengendor untuk mengizinkan getah empedu masuk ke duodenum, kandung empedu
berkontraksi. (Pearce, 2008)

Kandung empedu terletak dibawah lobus kanan hepar fungsi utamanya adalah
mengonsentrasikan dan menyimpan empedu yang diproduksi oleh hepar. Empedu
diperlukan untuk mengemulsikan lemak-lemak. Kandung empedu berkontraksi dan
melepaskan empedu empedu kedalam deudenum bila makanan berlemak masuk ke usus.
(Evans & Harvey, 1991).

B. Sekresi Cairan Empedu

Sel darah merah atau eritrosit merupakan bagian dari alat transportasi tubuh.
Eritrosit memiliki fungsi khusus membawa oksigen untuk dikirim ke setiap sel tubuh.
Oksigen ini digunakan sebagai bahan pembakar energi tubuh.

Sel darah merah di dalam tubuh berumur 120 hari. Setelah masa tugasnya
habis, sel darah merah akan dipecah menjadi bilirubin. Bilirubin ini akan dikirim ke
hati untuk di ubah dari bilirubin yang tidak larut dalam air (bilirubin tidak terkonjugasi)
menjadi bilirubin yang dapat larut dalam air (bilirubin konjugasi). Proses pengubahan
ini betujuan agar bilirubin dapat dibuang dengan mudak kedalam usus (bilirubin
memberi warna tinja menjadi kuning kecoklatan) dan sebagian lagi dibuang melalui
ginjal setelah diubah bentuknya menjadi urobilin.

Cairan empedu dibentuk dan dialirkan dari hati melalui saluran empedu
didalam hati (kanalikuli empedu) menuju duktus koledokus dan kandung empedu atau
langsung dialirkan ke dalam usus dua belas jari. Hal ini sangat tergantung pada apakah
seseorang dalam keadaan puasa atau tidak. Apabila seseorang dalam keadaan puasa
maka cairan empedu akan disimpan di dalam kantong empedu karena sfingter oddi
berada dalam keadaan tertutup. Namun, apabila seseorang makan maka sfingter oddi
akan membuka dan cairan empedu akan dialirkan keadalam duodenum. (Pearce, 2008)

3
Sistem ekskresi bilirubin dan cairan empedu dari hati ke usus dapat dijabarkan
sebagai beriku. Bilirubin dan cairan empedu yang diproduksi dari hati lobus kanan
akan dialirkan kedalam saluran empedu didalam hati yang disebut duktus hepatikus
kanan(right hepatic duct). Sementara, bilirubin dan cairan empedu yang diproduksi
dari hati lobus kiri dialirkan ke dalam saluran empedu yaitu duktus hepatikus
kiri(left hepatic duct). (Pearce, 2008) .

Kedua ductus hepatikus tersebut kemudian akan bersatu membentuk common


hepatic ductus. Setelah keluar dari hati, common hepatic ductus bersama duktus
sistikus (saluran untuk mengeluarkan cairan empedu dari kandung empedu) bersatu
membentuk bile duct atau sering disebut ductus koledokus. (Pearce, 2008).

Selanjutnya aliran bilirubin dan cairan empedu di duktus koledokus bersatu


dengan duktus pankreatikus utama (main pankreatic duct untuk mengalirkan enzim-
enzim yang diproduksi oleh pankreas). Keduanya sama-sama bermuara di papila

4
vateri. Yang berperan sebagai pintu keluar menuju deudenum (usus dua belas jari).
Diatus oleh suatu klep yang disebut sfingter oddi. (Pearce, 2008).

Fungsi Getah Empedu. Getah empedu adalah cairan alkali yang diekretkan
oleh sel hat. Jumlah yang setiap hari dikeluarkan setiap hari ialah 500 sampai 1.000
ccm. Sekresinya berjalan terus-menerus, tetapi jumlah produksi dipercepat sewaktu
pencernaan, khususnya sewaktu pencernaan lemak. Delapan 80% dari getah empedu
terdiri atas air, garam empedu, pigmen empedu, kolesterol musin dan zat lainnya.
Fungsi kholeretik menambah sekresi empedu. Fungsi kholagogi menyebabkan
kandung empedu mengosongkan diri. (Pearce, 2008)

C. Gangguan sistem Empedu

Kelainan Bilier

Beberapa kelainan mempengaruhi system bilier dan menganggu drainase


empedu yang normal kedalam duodenum. Kelainan ini mencakup karsinoma yang
menyumbat percabangan bilier dan infeksi pada system bilier. Namun demikian,
penyakit kandung empedu dengan batu empedu merupakan kelainan yang paling
sering dijumpai pada system bilier. Meskipun tidak semua dari kejadian infeksi pada
kandung empedu (kolesistitis) berhubungan dengan batu empedu (koleliasis), namun
lebih dari 90% penderita kolesistitis akut menderita batu empedu. Akan tetapi,
kebanyakan diantara 15 juta orang di Amerika yang memiliki batu empedu tidak
merasa nyeri dan tidak menyadari adanya batu tersebut. (Smeltzer & Bare, 2001)

Kolesistitis

Kandung empedu (vesika felea) dapat menjadi tempat infeksi akut


(kolesistitis) yang menyebabkan nyeri akut, nyeri tekan dan kekakuan pada
abdomen kuadran kanan atas yang disertai dengan gejala mual serta muntah dan
tanda-tanda yang umum dijumpai pada insflamasi akut. Keadaan ini dinamakan
kolesistitis akut. Apabila kandung empedu berisi push, maka keadaan ini disebut
empiema kandung empedu.(Smeltzer & Bare, 2001)

Kolesistitis kalkulus terdapat pada lebih dari 90% pasien kolesititis akut.
Pada kolesititis kalkulus, batu kandung empedu menyumbat saluran keluar empedu.
Getah empedu yang tetap berada dalam kandung empedu akan menimbulkan suatu
5
reaksi kimia; terjadi otolisis serta edema; dan pembuluh darah dalam kandung
empedu akan terkompresi sehingga suplai vaskulernya terganggu. Sebagai
konsekuensinya dapat terjadi gangrene pada kandung empedu disertai perforasi.
Bakteri kurang berperan dalam kolesistitis; meskipun demikian, infeksi sekunder
oleh E. coli dan kuman enteric lainnya terjadi pada sekitar 40% pasien. (Smeltzer
& Bare, 2001)

Kolesistitis akalkulus merupakan inflamasi kandung empedu akut tanpa


adanya obstruksi oleh batu empedu. Kolesistitis akalkulus timbul sesudah tindakan
bedah mayor, trauma berat atau luka bakar. Faktor-faktor lain yang berkaitan dengan
tipe kolesistitis ini mencakup obstruksi duktus sistikus akibat torsi, infeksi primer
bacterial pada kandung empedu dan transfuse darah yang dilakukan berkali-kali.
Kolesistitis akalkulus diperkirakan terjadi akibat perubahan cairan dan elektrolit
serta aliran darah regional dalam sirkulasi vesiral. Kejadiannya yang menyertai
tindakan bedah mayor atau trauma mempersulit penegakan diagnosis keadaan ini.
(Smeltzer & Bare, 2001)

Kolelitiasis

Kolelitiasis (kalkulus/kalkuli, batu empedu ) biasaya terbentuk dalam kandung


empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. Batu empedu
memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang sangat bervariasi. Batu empedu tidak
lazim dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda tetapi insidennya semakin sering
pada individu berusia di atas 40 tahun. Sesudah itu, insiden kolelitiasis semakin
meningkat hingga suatu tingkat yang diperkirakan bahwa pada usia 75 tahun satu
dari tiga orang akan memiliki batu empedu. (Pearce, 2008)

Patolofisiologi

Ada dua tipe batu empedu: Batu yang terutama tersusun dari pigmen dan batu
yang terutama tersusun dari kolesterol. (Smeltzer & Bare, 2001)

Batu pigmen kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak terkonjugasi
mengalami presipitasi atau pengendapan sehingga terjadi batu. Resiko terbentuknya
batu semakin besar pada pasien yang mengalami penyakit sirosis, hemolisis dan
infeksi percabangan bilier. Batu seperti ini tidak dapat dilarutkan dan harus
dikeluarkan dengan pembedahan atau operasi. (Smeltzer & Bare, 2001).

6
Batu koleterol. Kolesterol merupakan unsur normal pembentuk empedu yang
bersifat tidak larut dalam air tingkat kelarutannya bergantung pada asam-asam
empedu dan lesitin (fospolipid) dalam empedu. Pada pasien yang menderita batu
empedu cenderung mengalami penurunan sistesisi asam empedu dan peningkatan
kolesterol dalam hati. Keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh
kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu mengendap dan membentuk
batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk
timbulnya batu empedu yang berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan
dalam kandung empedu. (Smeltzer & Bare, 2001).

Manifestasi Klinik

Batu empedu bisa terjadi secara tersembunyi karena tidak menimbulkan rasa
nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastro intestinal yang ringan. Penderita
penyakit kandung empedu akibat batu empedu dapat mengalami dua jenis gejala :
gejala yang disebabkan oleh penyakit pada kandung empedu empedu itu sendiri dan
gejala yang terjadi akibat obstruksi pada lintasan empedu oleh batu empedu.
Gejalanya bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium, distensi abdomen
dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen dapat terjadi. Gangguan ini
dapat terjadi setelah individu menglonsumsi makanan yang berlemak atau yang
digoreng. (Smeltzer & Bare, 2001).

Rasa nyeri dan kolik bilier. jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu,
kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi. Pasien akan
menderita panas dan mungkin teraba massa padat pada abdome. Pasien dapat
mengalami kolik bilier disertai dengan mual dan muntah dan bertambah hebat dalam
waktu beberapa jam sesudah makan makanan dalam porsi besar. Serangan kolik
bilier semacam ini disebabkan oleh kontraksi kandung empedu yang tidak dapat
mengalirkan empedu keluar akibat tersumbatnya saluran oleh batu. (Smeltzer &
Bare, 2001).

Ikterus. Ikterus dapat dijumpai diantara penderita antara penyakit kandung


empedu dengan presentasi yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus
koledokus. Obstruksi pengaliran getah empedu kedalam deudenum akan
menimbulkan gejala yang khas yaitu : getahempeduyang tidak lagi dibawah ke
deudenom akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini akan membuat kulit

7
dan membran mukosa berwarna kuning. Keadaan ini sering disertai dengan gejala
gatal-gatal yang mencolok pada kulit. (Smeltzer & Bare, 2001).

Perubahan warna urin dan feses. Ekskresi pigmen dan empedu oleh ginjal akan
membuat urin berwarna sangat gelap.feses yang tidak lagi diwarnai oleh pigmen
empedu akan tampak kelabu, yang biasanya pekat dan disebut clay-colored
(Smeltzer & Bare, 2001).

Defisiensi vitamin. Obstruksi aliran empedu juga mengganggu absorbsi


vitamin A,D,E dan K yang larut lemak. Karena itu, pasien dapatmemperlihatkan
gejala defisiensi vitamin-vitamin ini jika obstruksi bilier berjalan lama. Defisiensi
vitamin K dapat membantu pembekuan darah yang normal. (Smeltzer & Bare,
2001).

Evaluasi Diagnostik

Pemeriksaan sinar-X bdomen. Pemeriksaan sinar abdomen dapat dilakukan


jika terdapat kecurigaan kecurigaan akan penyakit kandung empedu dan untuk
menyingkirkan penyebab gejala yang lain. Namun demikian, hanya 15% hingga
20% batu empedu akan mengalami cukup kalsifikasi untuk dapat tampak melalui
pemeriksaan sinar-X. (Smeltzer & Bare, 2001).

Ultrasonografi. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung


empedu atau duktus koledokus yang mengalami dilatasi. Prosedur ini akan
memberikan hasil yang paling akurat jika pasien sudah berpuadsa pada malam
harinya sehingga kandung empedunya berada dalam keadaan distensi. (Smeltzer &
Bare, 2001).

Pemeriksaan pencitraan radionuklida atau koleskintografi. Dalam prosedur ini,


preparat radioaktif disuntikka secara intravena. Preparat ini kemudian diambil oleh
hepatosit dan dengan cepat diekskresikan kedalam sistem bilier. Selanjutnya,
dilakukan pemindaian saluran empedu untuk mendapatkan gambar kandung empedu
dan percabangan bilier. (Smeltzer & Bare, 2001).

Kolangiopankreatografi retrograd endoskopik (ERCP:Endoscopik retrograde


cholangiopancreatography). Pemeriksaan ERCP atau kolangiopankreatografi secara
langsung hanya dapat dilihat pada saat melakukan laparatomi. Pemeriksaan ini

8
meliputi insersi endoskop serat-optik yang fleksibel kedalam esofagus hingga
mencapai deudenum parsdesendens. Sebuah kanula dimasukkan kedalam duktus
koledokus serta duktus pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan kedalam
duktus tersebut untuk memungkinka visualisasi serta evaluasi percabangan bilier.
(Smeltzer & Bare, 2001).

Kolangiografi transhepatik perkutan. Pemeriksaan kolangiografi ini meliputi


penyuntikan bahan kontras langsung kedalam percabagan bilier. Karena konsentrasi
bahan kontras yang disuntikkan itu relatif besar, maka semua komponen pada sistem
bilier tersebut, yang mencakup duktus hepatikus dalam hati, keseluruhan panjang
duktus koledokus, duktus sistikus dan kandung empedu, dapat dilihat garis
bentuknya dengan jelas. Prosedur pemeriksaan ini dapat dilakukan bahkan pada
keadaan terdapatnya disfungsi hati dan ikterus. (Smeltzer & Bare, 2001).

Penatalaksanaan

Operasi pengangkatan kandung empedu empedu melalui pembedahan


dianggap sebagai cara pendekatan yang baku dalam penatalaksanaan penyakit ini
dalam penatalaksanaan bedah dan non bedah terhadap penyakit kandung empedu.
Walaupun cara pendekatan non bedah mempunyai kelebihan dalam hal
menghilangkan resiko bedah, cara tersebut biasanya disertai dengan gejala yang
menetap atau pembentukan batu kambuahn. Sebagian besar cara non bedah yang
mencakup litotripsi dan pelarutan batu empeduhanya bersifat sementara. (Smeltzer
& Bare, 2001).

Penatalanksanaan Nonbedah

Tujuan utama terapi medis adalah untuk mengurangi insiden episode akut
nyeri kandung empedu atau kolesistitis melalui penatalaksanaan pendukung serta
diet, dan untuk menghilangkan penyebab kolesistitis melalui farmakoterapi.
(Smeltzer & Bare, 2001)

Penatalaksaan pendukung serta diet

Kurang lebih 80% dari pasien-pasien inflasmasi akut kandung


empedu sembuh dengan istirahat, cairan infuse, pengesapan nasogastrik,

9
analgesic, dan antibiotic. Diet yang diterapkan segera setelah suatu serangan
yang akut biasanya dibatasi pada makanan cair rendah lemak. Makanan
berikut ini ditambahkan jika pasien dapat menerimanya: buah yang dimasak,
nasi atau ketela, dagung tanpa lemak, kentang yang dilumatkan, sayuran
yang tidak membentuk gas, roti, kopi atau teh . Makanan seperti telur, krim,
daging babi, gorengan, keju, dan bumbu-bumbu yang berlemak, sayuran
yang membentuk gas serta alcohol harus dihindari. Penatalaksanaan diet
merupakan bentuk terapi utama pada pasien yang hanya mengalami
intoleransi terhadap makanan berlemak dan mengeluhkan gejala
gastrointestinal ringan. (Smeltzer & Bare, 2001).

Farmakoterapi

Asam ursodeoksikolat (urdafalk) dan kenodeoksikolat (chenodiol,


chenofalk) telah digunakan untuk melarutkan batu empedu radiolusen yang
berukuran kecil dan terutama tersusun dari kolestrol. Asam ursodeoksikolat
dibandingkan dengan asam kenodeoksikolat jarang menimbulkan efek
samping dan dapat diberikan dengan dosis yang lebih kecil untuk
mendapatkan efek yang sama. Mekanisme kerjanya adalah menghambat
sintesis kolestrol dalam hati dan sekresinya sehingga terjadi desaturasi getah
empedu. Obat-obat tertentu lainnya, seperti estrogen, kontrasepsi oral,
klofibrat dan kolestrol makanan dapat menimbulkan pengaruh yang
merugikan terhadap cara terapi ini. Karena itu, dokter harus mengetahui jika
pasiennya menggunakan salah satu dari obat-obat di atas. (Smeltzer & Bare,
2001).

Pembentukan kembali batu empedu telah dilaporkan pada 20%


hingga 50% pasien sesudah terapi dihentikan; dengan demikian, pemberian
obat ini dengan dosis rendah dapat dilanjutkan untuk mencegah kekambuhan
tersebut. Kepatuhan pasien untuk mengikuti bentuk terapi ini memerlukan
penelitian dan tindak lanjut. Jika gejala akut kolesistitis berlanjut atau timbul
kembali, intervensi bedah atau litoripsi merupakan indikasi. Pemantauan dan
pemeriksaan tindak lanjut terhadap enzim-enzim hati merupakan indikasi.
Kepada pasien diberitahukan agar segera melapor jika terjadi efek samping

10
yang merugikan dari pemakaian obatnya dan bila gejala kolesistitis tersebut
timbul kembali. (Smeltzer & Bare, 2001)

Pengangkutan Batu Empedu Tanpa Pembedahan

Pelarutan batu empedu. Beberapa metode telah digunakan untuk


melarutkan batu empedu dengan menginfuskan suatu bahan pelarut
(monooktanoin atau metil tertier butyl eter [MTBE]) ke dalam kandung
empedu. Pelarut tersebut dapat diinfuskan melalui jalur berikut ini: melalui
selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung kedalam kandung
empedu; melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui saluran T-tube
untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan;
melalui endoskop ERCP; atau kateter bilier transnasal.

Pengangkutan Nonbedah. Beberapa metode nonbedah digunakan


untuk mengeluarkan batu yang belum terangkat pada saat kolesistektomi
atau yang terjepit dalam duktus koledokus. Sebuah kateter dan alat disertai
jarring yang terpasang padanya disisipkan lewat saluran T-tube atau lewat
fistula yang terbentuk pada saat insersi T-tube; jaring digunakan untuk
memegang dan menarik keluar batu yang terjepit dalam duktus koledokus.

Penggunaan endoskop ERCP. Sesudah endoskop terpasang, alat


pemotong dimasukkan lewat endoskop tersebut ke dalam ampula Vater dari
duktus koledokus. Alat ini dugunakan untuk memotong serabut-serabut
mukosa atau papilla dari sfingter Oddi sehingga mulut sfingter tersebut dapat
diperlebar; pelebaran ini memungkinkan batu yang terjepit untuk bergerak
dengan spontan ke dalam duodenum. Alat lain yang dilengkapi dengan jaring
atau balon kecil pada ujungnya dapat dimasukkan melalui endoskop untuk
mengeluarkan batu empedu. Meskipun komplikasi sesudah tindakan ini
terjadi, namun kondisi pasien harus diobservasi dengan ketat untuk
mengamati kemungkinan terjadinya pendarahan perforasi dan pangkreatitis.
Prosedur endoskop ERCP terutama berguna dalam menegakkan diagnosis
dan menangani pasien dengan gejala yang muncul setelah menjalani
pembedahan saluran empedu, pasien dengan kandung empedu yang utuh dan
pasien yang tidak dapat menjalani pembedahan karena dianggap dapat
membahayakan jiwanya.

11
Extracorporeal Shock-Wave Lithotrispy (ESWL). Prosedur litotripsi
atau ESWL ini telah berhasil memecah batu empedu tanpa pembedahan.
Prosedur noninvasf ini menggunakan gelombang kejut berulang yang
diarahkan kepada batu empedu di dalam kandung empedu atau duktus
koledokus dengan maksud untuk memecah batu tersebut menjadi sejumlah
fragmen.Gelombang kejut dihasilkan dalam media cairan oleh percikan
listrik, yaitu piezoelektrik atau oleh muatan elektromagnetik.

Gelombang kejut yang dikonvergensikan tersebut diarahkan ke batu


empedu yang akan dipecah. Setelah batu empedu dipecah secara bertahap,
pecahnya akan bergerak spontan dari kandung empedu dan dikeluarkan
melalui endoskop atau dilarutkan dengan pelarut atau asam empedu yang
diberikan peroral. Sebagian pasien pasca menjalani prosedur ini akan
kembali beraktivitas rutin dalam waktu 48 jam setelah dilakukan
pembedahan.

Litotripsi Intrakorporeal. Pada litotripsi intrakorporeal, batu yang ada


dalam kandung empedu atau duktus koledokus dapat dipecah dengan
menggunakan gelombang ultrasound, laser berpulsa atau litotripsi hidrolik
yang dipasang pada endoskop, dan diarahkan langsung pada batu empedu.
Kemudian Fragmen batu dikeluarkan dengan cara irigasi dan aspirasi.
Prosedur tersebut dapat diikuti dengan pengangkatan kandung empedu
melalui luka insisi atau laparoskopi. Jika kandung empedu tidak diangkat,
sebuah drain dapat dipasang selama 7 hari.

Penatalaksanaan Bedah

Penatalaksanaan pada penyakit kandung empedu dan batu empedu


dilaksanakan untuk mengurangi gejala yang sudah berlangsung lam, untuk
mengehilangka penyebab kolibilier dan untuk mengatasi kolesistitis yang sudah
berlangsung lama. Pembedahan dapat efektif jika gejala yang dirasakan pasien

12
sudah meredah atau bisa dikerjakan sebgai suatu prosedur darurat bilamana kondisi
pasien mengahruskannya.

Penatalaksanaan praoperatif.

Disamping pemeriksaan sinar-X pada kandung empedu, pembuatan foto


thorax, elektrokardiogram dan pemeriksaan faal hati dapat dilakukan. Vitamin K
diberikan jika kadar protrombin rendah. Terapi komponen darah dapat dikerjakan
sebelum pembedahan.

Kebutuhan nutrisi perlu dilpertimbangkan jika pasien tidak dapat makan


dengan baik, pemberian larutan glukosa secara intravena bersama suplemen
hidrolisat protein mungkin diperlukan untuk membantu luka dan mencegah
kerusakan hati.

Persiapan sebelum operasi kandung empedu serupa dengan persiapan bagi


setiap tindakan laparatomi abdominal bagian atas. Instruksi dan penjelasan tentang
mobilisasi tubuh dan napas dalam harus sudah disampaikan sebelum pembedahan
dilakukan. Karena insisi abdomen dilakukan pada likasi yang lebih tinggi, pasien
sering enggan untuk bergerak dan membalikkan tubuhnya. Pneumonia dan
atelektasismerupakan komplikasi pascaoperatif yang munfkin terjadi tetapi sering
dapat dihindari dengan latihan napas dalam serta sering membalikkan tubuh , kepada
pasien harus diberitahu bahwa segera setelah tindakan pembedahan biasanya
dibutuhkan pemasangan selang untuk drainase dan tindakan pengisapan.

Intervensi bedah dan system drainase.

Pasien biasanya ditempatkan pada meja operasi dengan abdomen bagian atas
ditinggikan menggunakan bantal udara atau kantong pasir agar daerah billier mudah
diakses.

Kolesistektomi. Kolesistektomi adalah salah satu prosedut bedah yang paling


sering dilakukan di amerika, lebeih dari 600.000 orang menjalani pembedahan ini
setiap tahunna. Dalam prosedur ini, kandung empedu diangkat setelah arteri dan
duktus sistikus diligasi. Kolesistektomi dilakukan pada sebagian besar kasus
kolesistitis akut dan kronis. Sebuah drain(Penrose) ditempatkan dalam kandung

13
empedu dan dibiarkan menjulur keluar lewat luka operasi untuk mengalirkan darah,
cairan serosanguinis dan getah empedu ke dalam kasa absorben.

Minikolesistektomi. Minikolesistektomi merupakan prosedur bedah untuk


mengeluatkan kandung empedu lewar luka insisi selebar 4 cm. jika diperlukan luka
insisidapat diperlebar untuk mengeluarkan batu kandung empedu yang berukuran
lebih besar. Drain mungkin dapat atau tidak digunakan pada minikolesistektomi.
Biaya yang ringan dan waktu rawat yang singkat merupakan salah satu alsan untuk
meneruskan bentuk penanganan ini. Kontroversi tentang prosedur ini timbul karena
ukuran insisi membatasi pajanan semua struktur bilier yang terlibat.

Kolesistektomi laparoskopik. Kolesistektomi laparoskopik atau endospik


telah membawa perubahan yang dramatis pada cara pendekatan dalam
penatalaksanaan kolestitis. Kurang lebih 600.000 pasien memerlukan pembedahan
setiap tahunnya untuk mengangkat kandung empedu dan 70% hingga 80% di
antaranya merupakan calon bagi

Kolesistektomi endospik. Kolesistektomi endospik dilakukan lewat luka


yang kecil atau luka tusukan melalui dinding abdomen pada umbilicus. Pada
prosedur Kolesistektomi endospik, rongga abdomen ditiup dengan gas karbon
dioksida untuk membantu pemasangan endoskop dan menolong dokter bedah
melihat struktur abdomen. Sebuah endoskop serat optikdipasang melalui luka insisi
umbilicus yang kecil. Beberapa luka tusukan atau insisi kecil tambahan dibuat pada
dinding abdomen untuk memasukkan instrument bedah lainnya ke dalam bidang
operasi. Dokter bedah dapat melihat system bilier melalui endoskop, sebuah kamera
yang disambung dengan endoskop tersebut memungkinkan gambaran
intraabdominal ditransmisikan ke sebuah monitor televise.

Prosedur bedah abdomen tradisional mungkin diperlukan jika ditemukan


masalah pada saat prosedur endoskopik dikerjakan. Pasien perlu diinformasikan jika
diperlukan pembedahan abdomen dan pemberian anestesi umum. Keuntungan pada
prosedur bedah endoskopik ini adalh bahwa pasien tidak akan mengalami ileus
paralitik seperti yang terjadi saat operasi abdomen terbuka dan rasa nyeri abdominal
pascaoperatif tidak begitu hebat. Pasien yang menjalani bedah endoskopik sering
sudah dapat dipulangkan pada hari operasi atau dalam waktu satu atau dua hari

14
setelah operasi, dandapat melakukan kembali aktivitas seperti pekerjaan secara
penuh dalam waktu seminggu setelah operasi.

Meskipun pembedahan abdomen jarang dilakukan kebutuhan utnuk


melakukan suatu prosedur bedah munfkin timbul karena ketidakmampuan untuk
mengenali dan memilih pasien-pasien yang berisiko rendah bagi timbulnya masalah.
Dengan semakin banyaknya penggunaan prosedur tersebut. Mungkin jumlah pasien
yang pada saat menjalani Kolesistektomi endospik memerlukan pendekatan bedah
abdomen akan semakin meningkat.

Pendidikan pasien pascabedah. Karena masa singkat di rumah sakityang


singkat. Petunjuk lisan maupun tertulis harus disampaikan kepada pasen dan
keluarganya. Informasi yang diberikan mencakup tanda-tanda dan gejala komplikasi
intra-abdomen yang harus dilaporkan, yaitu penurunan selera makan , muntah, rasa
nyeri, distensi abdomen dan kenaikan suhu tubuh, walaupun dapat sembuh dengan
cepat setelah menjalani kolesistektomi endoskopik, pasien tersebut akan merasa
mengantuk sehingga perlu didampingi atau dibantu saat berada di rumah selama 24
jam hingga 48 jam pertama.

Koledokostomi. Dalam Koledokostomi, insisi dilakukan pada duktus


koledokus untuk mengeluarkan batu. Setelah batu dikeluarkan, biasanya dipasang
kateter ke dalam duktus tersebut untuk drainase getah empedu sampai edema
mereeda, kateter ini dihubungkan dengan selang drainase gravitas, kandung empedu
biasanya juga mengandung batu, dan umumnya Koledokostomi dilakukan bersama-
sama kolesitektomi.

Bedah kolesistektomi, kolesistektomi dikerjakan bila kondisi pasien tidak


memungkinkan untuk dilakukan operasi yang lebih luas atau bila reaksi inflamasi
yang akan membuat system bilier tidak jelas, kandung empedu dibuka melalui
pembedahan, batu serta getah empedu dibuka melalui pembedahan, batu serta getah
empeduatau cairan drainase yang purulent dikeluarkan dan kateter untuk drainase
diikat dengan jahitan kantong tembakau, kateter untuk drainase dihubungkan dengan
system drainase untuk mencegah kebocoran getah empedu disekitar kateter atau
perembesan getah empedu ke dalam rongga peritoneal, setelah sembuh dari
serangan akut pasien dapat kembali lagi untuk menjalani kolesistektomi.

15
Meskipun resikonya lebih rendah, bedah kolesistostomi memiliki angka
mortalitas yang tinggi(yang dilaporkan sampai setinggi 20% hingga 30%) yang
disebabkan oleh proses penyakit pasien yang mendasarinya.

Kolesistostomi perkuatan. Kolesistostomi perkuatan telah dilakukan dalam


penanganan dan penegakan diagnosis kolesistitis akut pada pasie-pasien yang
berisiko jika harus menjalani tindakan pembedahan atau anestesi umum. Pasien-
pasien ini mencakup para penderita sepsis atau gagal jantung yang berat dan pasien-
pasien gagal ginjal, paru-paru atau hati. Di bawah pengaruh anestesi local sebilah
jarum halus ditusukkan lewat abdomen dan tepi hati ke dalam kandung empedu
dengan dipandu oleh usg atau pemindai ct. getah empedu diaspirasi untuk
memastikan bahwa penempatan jarum telah adekuat, dan kemudian sebuah kateter
dimasukkan ke dalam kandung empedu tersebut untuk dekompresi saluran empedu,
dengan prosedur ini hampir selalu dilaporkan bahwa rasa nyeri dan gejala serta
tanda-tanda dari sepsis dan kolesistitis berkurang atau menghilang dengan segera.
Antibiotic diberikan sebelum, selam dan sesudah pelaksanaan tindakan.

Pertimbangan gerontology.

Intervensi bedah untuk penyakit pada saluran bilier merupakan prosedur


yang umum dikerjakan pada lansia. Walaupun insidens batu empedu meningkat
bersamaan dengan pertambahan usia, gejala yang dialami pasien lansia mungkin
bukan gambaran khas yang mencakup demam, nyeri , menggigil dan icterus,
penyakit saluran bilier pada lansia dapat disertai atau didahului oleh gejala syok
septik, oligura, hipotensi, perubahan mental, takkikardi dan takinpu.

Meskipun pembedahan pada lansia berisiko akibat penyakit yang telah ada
seblumnya, namun angka mortalitas akibat komplikasi serius dari penyakit saluran
bilier sendiri juga tinggi. Risiko mortalitas dan morbiditas akan meningkat pada
pasien lansia yang menjalani pembedahan darurat penyakit saluran bilier dan dapat
membawa kematian. Meskipun sakit yang kronis banyak diderita pasien lansia,
kolesistektomi eflektif biasanya lebih dapat ditolerir dan dapat dilaksanakan dengan
risiko rendah jika pengkajian dan perawatan yang cermat diberikan sebelum, selama
dan sesudah tindakan bedah tersebut.

16
Karena perubahan pada saaistem pelayanan kesehatan di amerika yang
terjadi akhir-akhir ini, jumlah prosedur bedah elektif menjadi semakin berkurang,
termasuk kolesistektomi, sebagai akibatnya, pasien yang memerlukan prosedur
tersebut baru ditemukan pada stadium penyakit yang lanjut, bersamaan dengan itu,
terdapat semakin banyak pasien bedah kolesistitis akut berusia di atas 60 tahun yang
sudah mengalami komplikasi. Angka komplikasi yang lebih tinggi dan masa tinggal
di rumah sakit yang lebih pendek menyebabkan pasien serta keluarganya perlu
mendapatkan informasi yang lebih spesifik mengenai tanda-tanda dan gejala
komplikasi serta tindakan untuk mencegahnya.

D. Proses Keperawatan

Pasien yang Menjalani Pembedahan Penyakit Kandung Empedu. (Smeltzer & Bare,
2001)

Pengkajian

Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan untuk penyakit kandung


empedu sering masuk rumah sakit atau unit bedah (one-day care surgery) pada pagi hari
sebelum pembedahan. Pemeriksaan yang dilakukan sebelum pasien masuk rumah sakit
biasanya telah diselesaikan satu minggu atau lebih sebelum dirawat. Dengan demikian
hanya sedikit waktu yang tersedia untuk melakukan anamnesis riwayat penyakit atau
pemeriksaan fisik yang ektensif. Sebagai konsekuensinya, anamnesis dan pemeriksaan
harus difokuskan pada persoalan yang paling penting bagi pasien serta bagi tim
kesehatan yang akan menangani perawatan pasien selama dan sesudah pembedahan.

Pengkajian harus difokuskan kepada status pernapasan pasien. Jika operasi yang
direncanakan berupa pembedahan, insisi abdomen yag diperlukan selama pembedahan
dan mempengaruhi gerakan penuh pernapasan. Riwayat merokok atu masalah
pernapasan sebelumnya perlu diperhatikan. Respirasi dangkal, batuk persisten atau
tidak efektif, dan adanya suara napas tambahan juga harus dicatat. Status nutrisi
dievaluasi melalui anamnesis riwayat diet, pemeriksaan umum dan pemantauan hasil-
hasil laboratorium yang didapat sebelumnya.

Diagnosa

17
Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnose keperawatan utama bagi
pasien yang menjalani pembedahan penyakit kandung empedu mencakup yang
berikut:

Nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan insisi bedah


Gangguan penukaran gas berhubungan dengan insisi bedah abdomen (jika
akan dilakukan bedah kolesistektomi tradisional)
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan drainase bilier
sesudah dilakukan tindakan bedah (jika dipasang T-tube karena batu berada
dalam duktus koledokus)
Kurang pengetahuan tentang kegiatan merawat diri sendiri setelah pulang dari
rumah sakit.

Intervensi Keperawatan

Meredakan Rasa Nyeri.Lokasi insisi di daerah subcostal pada pembedahan


kandung empedu cenderung membuat pasien tidak ingin membaalikkan serta
menggerakkan tubuh dan cenderung bernapas dangkal untuk mencegah rasa nteri.
Karena aerasi paru dan peningkatan aktivitas secara bertahap diperlukan untuk
mencegah komplikasi pascaoperatif, maka pemberian analgesic perlu dilakukan
sesuai resep, dan pasien harus dibantu untuk membalikkan tubuhnnya, bernapas
dalam dan bergerak jika diperlukan. Penggunaan bantal atau binder pada luka insisi
dapat mengurangi rasa nyeri saat melakukan manuver ini.

Memperbaiki Status Pernapasan. Pasien yang menjalani pembedahan


saluran bilier cenderung mengalami komplikasi paru seperti pada semua pasien
dengan insisi abdomen bagian atas. Pasien harus diingatkan untuk menarik napas
dalam setiap jam agar paru-paru dapat berkembang dengan penuh dan terjadinya
atelectasis dapat dicegah. Ambulasi yang dini mencegah komplikasi paru disamping
komplikasi lain, seperti tromboflebitis. Komplikasi paru lebih cenderung terjadi
pada pasien lansia dan obesitas.

Meningkatkan Perawatan Kulit dan Drainase Bilier.Seperti telah


disebutkan sebelumnya, pada pasien yang menjalani kolesistostomi atau
koledokostomi, kateter untuk drainase harus disambung dengan kantong penampung
drainase. Disamping itu, selang harus difiksasi dengan kasa pembalut atau alas
bokong dan diberi cukup ruang agar pasien dapat bergerak tanpa membuat kateter

18
tersebut lepas atau tertekuk. Karena system drainase tetap terpasang ketika pasien
bergerak atau berjlan, kantong drainase dapat diletakkan dalam saku pakaian mandi
atau diikat pada tubuh sedemikian rupa sehingga terletak di bawah pinggang atau
lebih rendah dari duktus koledokus. Jika menggunakan drain Pearose, seperti pada
bedah kolesistektomi abdomen standar, maka kasa harus diganti sesuai ketentuan.

Sesudah menjalani prosedur bedah ini, pasien diobservasi akan adanya


tanda-tanda infeksi, kebocoran empedu ke dalam rongga peritoneal dan obstruksi
drainase bilier. Jika getah empedu tidak mengalir dengan baik, kemungkinan terjadi
obstruksi yang memaksa empedu mengalir balik ke dalam hati dan darah. Karena
dapat terjadi icterus, perawat harus melakukan pengamatan khusus terhadap warna
sclera pasien. Perawat juga harus memperhatikan segera melapor jika terdapat rasa
nyeri pada abdomen kanan atas, mual serta muntah, drainase empedu di sekitar T-
tube, feses yang berwarna pada perubahan pada tanda-tanda vital.

Empedu dapat terus mengalir dari saluran drainase dalam jumlah yang cukup
bayak sehingg kasa pembalut luka operassi harus selalu diganti dan kulit perlu
dilindungi terhadap iritasi. Salep kulit yang mengandung seng oksidasi, aluminium
atau vaselin akan mencegah proses digestif kulit oleh getah empedu.

Untuk mencegah kehilangan total getah empedu, dokter mungkin


menghendaki agar kateter untuk drainase atau kantong penampungannya di
tinggikan sehingga letaknya di atas abdomen. Dengan demikian, getah empedu akan
mengalir keluar hanya bila terdapat tekanan dalam system duktus. Empedu yang
terkumpul diukur setiap 24 jam sekali; jumlah, warna, dan sifat cairan drainase
dicatat. Sesudag beberapa hari melaukan drainase, kateter tersebut dapat diklem
selama satu jam sebelum atau setelah makan dengan maksud untuk mengalirkan
getah empedu ke dalam duodenum sehingga membantu proses penceranaan. Dalam
waktu 7 hingga 14 hari, kateter untuk drainase ini dicabut. Pasien yang dipulangkan
dengan kateter masih terpasang memerlukan petunjuk serta kepastian tentang fungsi
dan perawatan kateter tersebut.

Memperbaiki Status Nutrisi. Diet pasien dapat berupa diet rendah lemak
tinggi karbohidrat dan protein yang diberikan segera sesudah pembedahan. Pada saat
pulang dari rumah sakit, biasanya sudah tidak ada lagi petunjuk diet yang khusus,
kecuali anjuran untuk mempertahankan konsumsi makanan yang bergizi dan

19
menghindari asupan lemak yang berlebihan. Pembatasan lemak biasanya akan
dicabut setelah 4 hingga 6 minggu kemudian ketika saluran empedu telah cukup
melebar untuk menampung volume getah empedu yang sebelumnya disimpan oleh
kandung empedu dan ketika ampula Vater telah berfungsi secara efektif. Setelah hal
ini terjadi, ketika pasien mengkonsumsi lemak tersebut dan memungkinkan
pencernaanya. Sebelum pembedahan, mungkin lemak tidak dapat dicernakan dengan
sempurna dan adekuat sehingga terjadi flatulensi. Namun demikian, salah satu
tujuan pembedahan kandung empedu adalah untuk memungkinkan diet yang normal
pada akhirnya.

Pendidikan Pasien dan Perawatan di Rumah. Karena pasien dapat


dipulangkan dari rumah sakit dengan system drainase yang masih terpasang, pasien
dan keluarganya memerlukan petunjuk tentang penanganaannya. Kepada mereka
perlu diajarkan cara-cara yang benar dalam merawat kateter drainase dan mereka
juga harus segera melapor kepada dokter jika terjadi perubahan pada jumlah serta
siifat cairan drainase. Bantuan dalam pembalutan yang benar akan mengurangi
kecemasan pasien yang akan pulang dengan drain atau kateter masih terpasang.

Kepada pasien harus diberitahukan mengenai obat-obat yang diperlukan


(vitamin, antikolinergik dan antispasmodic) dan cara kerja obat-obat. Pasien dan
keluarganya juga harus mengetahui gelaja yang perlu dilaporkan kepada dokter-
ikterus, urin yang berwarna gelap, feses yang berwarna pucat, pruritus, atau tanda-
tanda inflamasi dan infeksi, seperti rasa nyeri atau panas. Sebagian pasien mungkin
mendapatkan feses yang lembek sehingga ia barus defekasi satu hingga tiga kali
sehari. Keadaan ini terjadi akibat pengaliran empedu yang sedikit-sedikit tetapi terus
berlangsung melalui sambungan koledokusduodenal sesudah kolesistektomi.
Biasanya gejala buang air besar yang sering minggu hingga beberapa bulan.
Kunjungan tindak-lanjut sangat diperlukan bagi pasien ini.

Pemantauan dan Penanganan Komplikasi Potensial.Perdarahan dapat


terjadi akibat tertusuk atau tertekuknya pembuluh darah besar. Tanda-tanda vital
pasien dalam periode pascaoperatif harus dipantau dengan ketat. Drainase (jika T-
tube terpasang) dan luka insisi bedah harus diinspeksi untuk melihat kemungkinan
perdarahan. Kondisi pasien juga harus dikaji secara periodic untuk mengetahui
peningkatan nyeri tekan dan rigitiatas pada abdomen. Jika terdapat tanda0tanda dan

20
gejala ini, semuanya harus dilaporkan kepada dokter bedah. Kepada ppasien dan
keluarganya perlu diberitahu untuk melapor kepada dokter bedah jika terdapat
perubahan warna feses karena keadaan ini dapat menunjukkan adanya komplikasi.

Gejala gastrointestinal, meskipun tidak diharapkan, namun gejala ini dapat


terjadi akibat manipulasi usus pada saat pembedahan. Setelah mengalami
kolesistektomi endoskopik, pengkajian kondisi pasien dilakukan untuk mendeteksi
adanya penurunan selera makan, muntah, rasa nyeri, distensi abdomen dan kenaikan
suhu badan. Semua gejala ini dapat menunjukkan infeksi atau gangguan pada traktus
gastrointestinal dan harus dilaporkan segera kepada dokter. Karena pasien akan
segers dipulangkan sesudah menjalani pembedahan endoskopik, maka pasien dan
keluarganya perlu diberitahu tentang pentingnya segera melaporkan semua gejala
ini, baik secara lisan maupun tertulis.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kandung empedu atau gallbladder merupakan organ tubug yang berbentuk


seperti sebuah terung, memiliki ukuran 30-60 cc, terletak tepat di bawah hati bagian
kanan. Fungsi utama kandung empedu adalah menyimpan cairan empedu yang
berasal dari hati. Fungsi empedu dikendalikan olef enzim cholecystokinin
pancreozymin (CCK-PZ) yang dilepaskan dari mukosa usus halus karena adanya
rangsangan makanan yang masuk kedalam usus.

Fungsi kandung empedu bekerja sebagi tempat persediaan getah empedu,


juga melakukan fungsi penting yaitu getah empedu yang tersimpan didalamnya
dibuat pekat. Di dalam waktu setengah jam setelah makanan masuk, segera sesudah
sfinkter oddi mengendor untuk mengizinkan getah empedu masuk ke duodenum,
kandung empedu berkontraksi.

Beberapa kelainan mempengaruhi system bilier dan menganggu drainase


empedu yang normal kedalam duodenum. Kelainan ini mencakup karsinoma yang
menyumbat percabangan bilier dan infeksi pada system bilier. Namun demikian,
penyakit kandung empedu dengan batu empedu merupakan kelainan yang paling
sering dijumpai pada system bilier. Meskipun tidak semua dari kejadian infeksi pada
kandung empedu (kolesistitis) berhubungan dengan batu empedu (koleliasis), namun
lebih dari 90% penderita kolesistitis akut menderita batu empedu. Akan tetapi,
kebanyakan diantara 15 juta orang di Amerika yang memiliki batu empedu tidak
merasa nyeri dan tidak menyadari adanya batu tersebut.

B. Saran

Untuk pasien cholelitiasis diharapkan dapat menjauhi faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi/meperburuk batu empedu seperti kolesterol, tingginya kalori dan
lemak, diet yang tidak teratur dan lain-lain. Pasien dibantu dengan keluarga dapat
melakukan perawatan seperti istirahat baring, dan puasa.

22
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. Jakarta: EGC.

Pierce, E. C. (2008). Anatomi dan Fisiologi untuk Para Medis. Jakarta: PT.Gramedia.

Evans,J.C, & Harvey,C.B. (1991). Gallastone disease: Clinical review. Physical Assitant,.
New York: Springer Publishing Co.

23
24