Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN INDIVIDU

BLOK IV METABOLISME NUTRISI DAN OBAT

SKENARIO 1

INTOLERAN LAKTOSA PICU KWARSIORKOR

OLEH :

YASJUDAN RASTRAMA PUTRA

G0008184

KELOMPOK 19

NAMA TUTOR : dr. Sigit Setiawan

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2008
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dengan sehat dan
sempurna. Dengan asupan gizi yang cukup, seorang anak dapat tumbuh
dengan sehat dan sempurna. Namun kadang kenyataan tak sesuai dengan
harapan. Banyak anak yang tumbuh dengan mengalami kasus malnutrisi . Apa
sebenarnya yang dapat menyebabkan anak menderita malnutrisi? Apakah
karena kurang gizi semata ataukah ada penyebab lainnya?

Malnutrisi sering kali terjadi di negara berkembang. Masalah


ketersediaan bahan pangan, ketidakmampuan untuk membeli bahan pangan
dan pengetahuan mengenai gizi kurang merupakan penyebab primer terjadinya
mal nutrisi. Malnutrisi tersebut biasanya berupa marasmus dan kwarsiorkor.
Marasmus adalah malnutrisi karbohidrat dan protein, sedangkan kwarsiorkor
terjadi karena kekurangan asupan protein. Penderita kwarsiorkor biasanya
berambut merah mudah dicabut, terjadi udem di inferior bagian bawah, pitting
udem, dan abdomen membuncit. Jika tidak segera diatasi dengan baik,
kwarsiorkor bisa berakibat buruk bagi penderitanya seperti gagal tumbuh dan
kerusakan organ-organ.

Malnutrisi selain terjadi karena asupannya yang kurang bisa saja terjadi
karena adanya infeksi atau kelainan dalam tubuh. Kelainan yang sering terjadi
adalah intolerean laktosa. Intoleran laktosa menyebkan bayi yang minum susu/
asi menjadi diare yang mengakibatakan terganggunya proses penyerapan zat-
zat gizi.

Adapun permasalahan yang terdapat pada skenario adalah:


Seorang anak perempuan umur 3 tahun, diperiksa di Puskesmas dengan
keluhan badan lemah, udem muka dan kedua ekstremitas inferior sejak 2
bulan. Penderita merupakan anak ke empat buruh tani, sehari-hari makan dua
kali dengan menu nasi dan sayur seadanya. Sejak dua tahun lalu mengalami
intoleran laktosa(diagnosis dokter). Pada pemeriksaan fisik saat ini didapatkan
rambut kemerahan, tumbuh jarang, mudah dicabut dan tidak terasa sakit.
Abdomen membuncit, ada pitting udem di ekstremitas inferior. Dokter
menyarankan rawat inap dengan perbaikan konsumsi makanan.

B. RUMUSAN MASALAH

Apa definisi kwashiorkor?

Bagaimana etiologi kwashiorkor?

Bagaimana patofisio kwashiorkor?

Bagaimana diagnosis kwashiorkor?

Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan kwashiorkor?

Bagaimanakah proses pencernaan, metabolisme,dan metabolisme regulasi


protein dan karbohidrat?

C. TUJUAN PENULISAN

Untuk mengetahui definisi kwashiorkor

Untuk mengetahui etiologi kwashiorkor.

Untuk mengetahui patofisio kwashirkor.

Untuk mengetahui diagnosis kwashiorkor.

Untuk mengetahui penatalaksanaan dan pencegahan kwashiorkor.

Untuk mengetahui proses pencernaan, metabolisme,dan metabolisme


regulasi protein dan karbohidrat.

D. MANFAAT
Mengetahui struktur dan fungsi protein dan karbohidrat.

Mengetahui fungsi normal dan proses pencernaan karbohidrat dan protein.

Mengetahui pengaturan metabolisme.

Mengetahui dasar-dasar terapi diet.

Mengetahui cara pencegahan komplikasi penyakit metabolisme dan


nutrisi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KWASHIORKOR

Definisi kwashiorkor adalah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan


oleh defisiensi protein yang berat bisa dengan konsumsi energi dan kalori
tubuh yang tidak mencukupi kebutuhan. Kwashiorkor atau busung lapar
adalah salah satu bentuk sindroma dari gangguan yang dikenali sebagai
Malnutrisi Energi Protein (MEP) Dengan beberapa karakteristik berupa edema
dan kegagalan pertumbuhan,depigmentasi,hyperkeratosis (Pustaka Medika
Indo, 2008). Ada juga yang mendefinisikan bahwa kwashiorkor adalah suatu
sindrom yang diakibatkan defisiensi protein yang berat. Defisiensi ini sangat
parah, meskipun konsumsi energi atau kalori tubuh mencukupi kebutuhan.
Biasanya, kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada usia
enam bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah
dua tahun. Pada usia itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti
ASI atau makanan sapihan. Pada umumnya, kandungan karbohidrat makanan
tersebut tinggi, tapi mutu dan kandungan proteinnya sangat rendah
( dinkesjatim, 2005).

Banyak hal yang menjadi penyebab kwashiorkor, namun faktor paling


mayor adalah menyusui, yaitu ketika ASI digantikan oleh asupan yang tidak
adekuat atau tidak seimbang. Setelah usia 1 tahun atau lebih, kwashiorkor
dapat muncul bahkan ketika kekurangan bahan pangan bukanlah menjadi
masalahnya, tetapi kebiasaan adat atau ketidaktahuan (kurangnya edukasi)
yang menyebabkan penyimpangan keseimbangan nutrisi yang baik. Walaupun
kekurangan kalori dan bahan-bahan makanan yang lain mempersulit pola-pola
klinik dan kimiawinya, gejala-gejala utama malnutrisi protein disebabkan oleh
kekurangan pemasukan protein yang mempunyai nilai biologik yang baik.Bisa
juga terdapat gangguan penyerapan protein,misalnya yang dijumpai pada
keadaan diare kronik,kehilangan protein secara tidak normal pada proteinuria
(nefrosis), infeksi, perdarahan atau luka-luka bakar serta kegagalan melakukan
sintesis protein , seperti yanga didapatkan pula pada penyakit hati yang kronis
(Pustaka Medika Indo, 2008).

Pada kwashiorkor, konsumsi karbohidrat yang adekuat dan kurangnya


masukan protein mengakibatkan penurunan sintesis protein yang penting. Efek
nya adalah hypoalbuminemia yang berkontribusi pada akumulasi cairan
ekstravaskuler. Selain itu sintesis dari B-liproprotein yang tidak punya
pasangan mengkibatkan fatty liver ( eMedicine, 2008).

Untuk menegakkan diagnosis kwashiorkor bisa di lihat melalui:

Pemeriksaan fisik : dapat dilihat udem dan hepatomegaly

Test : analisis urin, level total protein CBC (Complete Blood Count),
serum kreatinin, elektrolit protasium, arterial blood gas (medicine plus)

Test elektrolit, terbagi 2 : potasium dan magnesium

Pemeriksaan mikroskopis untuk mendeteksi adanya parasit dan telur

Skinbiopsi kulit

Hairpull analysis

Tes kreatinin : penurunan kreatinin dapat mempengaruhi penurunan massa


otot, sehingga protein dalam otot menurun (Biokimia Harper).
Sedang diagnosis banding untuk kwashorkor antara lain; defisiensi asam
lemak bebas dan karboksilase multiple, sindroma imunodefisiensi, cyctic
fribosis dan histiositosis sel langerhans.
B. PENCERNAAN DAN METABOLISME

Proses pencernaan dimulai dari mulut, di sini terjadi pencernaan amilum


oleh amilase(pH basa). Kemudian di lambung terjadi pencernaan protein oleh
enzim pepsin( pH asam). Selanjutnya di usus halus terdapat enzim laktase
pankreas yang mencerna lipid dan sukrose (dari vili intestinum) yang
mengubah disakarida menjadi monosakarida. Monosakarida kemudian
diangkut pembuluh darah menuju hati untuk kemudian diubah menjadi
glikogen. Dari glikoegen itu, 5 % disimpan di hati, sedangkan sisanya
digunakan untuk metabolisme di otot dan jaringan lain.

Proses metabolisme sendiri terbagi atas katabolisme(penguraian) dan


anabolisme(pembentukan). Yang dimaksud katabolisme adalah penguraian
dari nutrien penghasil energi seperti karbohidrat, lipid, dan protein
menghasilkan ATP dan NADH menjadi produk akhir yang miskin oksigen.
Sedangkan anabolisme adalah pembentukan makromolekul eperti protein,
polisakarida, lipid dan asam nukleat dengan menggunakan ATP dan NADH
dari molekul pemula seperti asam amino, gula, asam lemak, dan basa nitrogen.

C. DEFISIENSI LAKTASE

Hidrolisis disakarida menjadi monosakarida terjadi di dalam brush


border mukosa usus. Defisiensi enzim-enzim tertentu yang menghidrolisis
disakarida dapat terjadi akibat cacat genetik, atau mungkin terjadi karena
penyebab sekunder yaitu rusaknya mukosa usus karena suatu infeksi.

Defisiensi laktase merupakan jenis sindrom defisiensi enzim pemecah


disakarida yang paling sering terjadi. Laktase adalagh enzim yang secara
normal memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa pad brush border
usus, sehingga dapat diabsopsi. Laktosa merupakan karbihidrat yang ytama
dalam susu, sehingga banyak penderita intoleran susu yang mengalami
defisiensi laktase. Pada setiap ras jumlah kasus defisiensi laktase berbeda-
beda. Meskipun defisiensi laktase nampaknya bersifat herediter, intoleransi
susu bisa tidak jelas secara klinis sampai dewasa. Defisiensi lakatase
sekumder berkaitan dengan banyak keadaan yang menyebabkan cedera
mukosa usus, seperti sprue tropis dan nontropis, enteritis regional, infeksi
bakteri dan virus pada saluran cerna, giardiasis, fibrosis kistik, dan kilitis
ulseratif.

Gejala khas defisiensi laktase adalah kejang perut, kembung, dan diare
setelah minum susu. Mekanisme patofisiologi menerangkan diare yang terjadi
adalah sebagai berikut. Bila laktosa tak terhidrolisis masuk ke usus besar,
dapat menimbulkan efek osmotik yang menyebabkan masuknya air ke dalam
lumen kolon. Bakteri kolon meragikan laktosa menjadi asam laktat dan asam
lemak yang mengiritasi kolon. Akibatnya terjadi peningkatan motilitas usus
akibat iritasi kolon dan diare hebat.

Riwayat intoleran susu atau priduk susu lainya menyebabkan pH feses


turun menjadi 6,0 dari keadaan normal yang biasanya 7,0-7,5. Keadaan ini
bila diperiksa dilaboratorium sangat mendukung diagnosis defisiensi laktase.

Pengobatan yang dapat dilakukan adalah jangan memberikan susu


berlaktosa. Susu tanpa laktosa yang bisa menjadi solusi, misalnya
yogurt(Sylvia.2005)
BAB III
PEMBAHASAN
Masalah malnutrisi yang sering terjadi di negara berkembang memang
sangat memprihatinkan. Berbagai faktor bisa menjadi penyebab malnutrisi,
misalnya kurang tersedianya bahan pangan, kemampuan mendapatkan bahan
pangan yang rendah, dan pengetahuan tentang gizi yang kurang sering kali
menjadi penyebab malnutrisi. Selain faktor tersebut ada beberapa faktor lain,
misalnya infeksi dan ketidaksiapan tubuh untuk menerima bahan pangan.
Ketidaksiapan tubuh untuk menerima bahan pangan tersebut misalnya
pada kasus intoleran laktosa. Intoleran laktosa bisa menyebabkan malnutrisi
terutama pada bayi dan anak-anak karena menyebabkan diare setelah minum ASI.
Laktosa yang tidak dipecah akan diragikan oleh bakteri pada kolon menjadi asam
laktat dan asam lemak. Kondisi kolon yang biasanya basa kemudian terpapar asam
akan menyebabkan meningkatnya motilitas usus. Meningkatnya motilitas usus
akan menyebabkan terhambatnya proses absorpsi sari-sari makanan oleh usus. Zat
makanan yang dalam jumlah besar terdapat dalam ASI setidaknya sedikit-
sedikitnya bisa diabsorpsi, tetapi zat gizi yang dalam jumlah tidak terlalu besar
misalnya protein hanya bisa terserap sebagian kecil saja. Kondisi ini bila
berlangsung terus bisa menyebabkan sang bayi menderita kwarsiorkor.
Kwarsiorkor bila tidak segera diatasi akan menyebabkan efek yang
ireversible misalnya gagal tumbuh. Selain itu karena protein adalah bahan dasar
untuk pembentukan enzim hormon tentunya akan banyak proses dalam tubuh
yang akan terjadi. Yang sering terlihat adalah terjadinya udem karena menurunnya
kadar albumin yang pada dasarnya adalah pengatur tekanan osmotik sel.
Menurunnya tekanan osmotik sel akan menyebabkan air berdifusi keluar sel
sehingga terjadi penumpukan cairan pada cairan ekstra sel.
Terapi yang bisa dilakukan untuk penderita kwarsiorkor karena intoleran
laktosa misalnya pemberian susu bebas laktosa. Sedangkan untuk mengatasi
kwarsiorkornya diberi asupan protein dosis tinggi secara bertahap agar tubuh bisa
menerima dengan baik. Sedangkan bila ada penyakit penyerta obati penyakit
penyerta tersebut sesuai dengan gejala yang muncul.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN :
Anak menderita kwashiorkor bisa terjadi karena asupan protein yang
kurang, bisa juga karena protein yang masuk tidak diserap dengan baik dan
bisa juga karena kombinasi keduanya.
Kondisi intoleran laktosa dan diare memicu terjadinya keadaan gizi buruk
karena mengahambat penyerapan protein.
Defisiensi protein menyebabkan berbagai proses tubuh terganggu karena
protein adalah pembentuk enzim dan hormon.
Pemberian asupan protein dosis tinggi untuk mengatasi kwarsiorkor harus
diberikan secara bertahap agar tubuh sang bayi dapat menerima.
SARAN :
Penanganan kwashiorkor pada penderita sebaiknya cepat dilakukan guna
menghindari akibat yang lebih buruk/fatal.
Pemberian susu bebas laktosa bisa dicampur dengan susu berlaktosa secara
bertahap.
Perlu dilakukan penyuluhan pada masyarakat tentang pentingnya asupan
gizi yang cukup dan seimbang balita yang sedang tumuh dan berkembang.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. KWASHIORKOR


http://cetrione.blogspot.com/2008/05/kwarshiorkor.html
Dinkesjatim. 2005. Gizi Buruk, Kwashiorkor, Marasmus atau Marasmik
Kwashiorkor ?
http://www.dinkesjatim.go.id/berita-detail.html?news_id=112
Mansjoer, Arif dkk. 200. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Edisi III. Jakarta:
Media Aesculapius
Scheinfeld, Noah S . 2008. Protein-Energy Malnutrition
http://www.emedicine.com/derm/topic797.htm
Sylvia,A.Prince and Wilson,Lorain M.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Volume 2.Jakarta.EGC