Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Nekropsi atau bedah bangkai hewan merupakan analogi dari autopsi pada manusia.
Tindakan ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan yang cepat dan tepat dalam
menerapkan diagnosa pada beberapa sebab penyakit atau kematian dari seekor hewan.
Biasanya untuk melengkapi hasil diagnosa yang akurat harus ditunjang dengan hasil
pemeriksaan dari beberapa laboratorium penunjang, seperti bakteriologi, virologi,
parasitologi patologi klinik, toksikologi, dan sebagainya (Pagana,2002).
Nekropsi (pemeriksaan post-mortem) dilakukan untuk menentukan kausa penyakit
dengan melakukan deskripsi lesi makroskopis dan mikroskopis dari jaringan dengan
melakukan pemeriksaan serologis, mikrobiologis, dan histopatologi yang memadai.
Pemeriksaan post-mortem dilakukan apabila ditemukan adanya penurunan produksi, terdapat
tanda-tanda yang jelas akan sakit atau diketahui adanya peningkatan jumlah kematian, dan
atas permintaan klien (Pagana,2002)

1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui perubahan-perubahan patologis anatomi pada organ-organ yang
terserang penyakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Berata (2010), menyatakan bahwa pada prinsipnya, bedah bangkai mengeluarkan organ-
organ yang dihinggapi virus tertentu. Unggas yang baru mati ataupun tampak sakit, dapat
diambil untuk dijadikan sampel bahan nekropsi. Unggas yang telah mati lebih dari (6-8 jam),
tidak dianjurkan diambil untuk specimen dikarenakan proses dekomposisi alamiah yang sedang
berlangsung dapat memberikan perubahan hasil yang membinggungkan dengan lesi patologis
sebenarnya.
Apabila specimen tidak dapat sesegera mungkin dinekropsi maka sebaiknya dimasukkan
ke dalam pendingin hingga tiba waktunya. Apabila memilih euthanasia untuk dapat melakukan
nekropsi dari unggas sakit, pertama kali amati hal yang abnormal sperti pola bernapas,
abnormalitas postur, bulu yang menggumpal, dan atau discharge nasal dan ocular sebelum
dilakukan euthanasia (Berata,2010).
Euthanasia merupakan proses mematikan hewan baik secara fisik maupun kimia dengan
proses yang cepat sehingga hewan tidak merasakan sakit yang berkepanjangan. Unggas dapat
dieuthanasia dengan menggunakan beberapa metode yang telah disepakati termasuk dislokasi
servikal (mematahkan leher), memasukkan dalam ruangan dengan gas karbondioksida, atau
menginjeksi dengan cairan euthanasia seperti potassium klorida atau barbiturate dosis hingga
kedala vena atau langsung menuju jantung (Samkhan dan Sri,2006).
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian supaya hasil pemeriksaan menjadi akurat, antara
lain jenis penyakit, kondisi pasien, umur bangkai, jumlah sampel, dan tempaat pelaksanaan.
Selain itu, penilaian bedah bangkai berdasarkan perubahan-perubahan pada organ atau jaringan
yang diperiksa, yaitu ukuran organ pada ayam penderita, warna pada organ yang diperiksa, tepi
organ, bidang sayatan, dan konsistensi (Samkhan dan Sri,2006).
Prosedur yang harus dilaksanakan bila akan melakukan bedah bangkai ada 3 yaitu : 1.
Melakukan anamnesisi selengkapnya, unuk memperoleh gambaran perjalanan penyakit 2.
Melakukan pemeriksaan klinis, untuk mendapatkan gambaran penyakit yang lebih objektif 3.
Mempersiapakan sampel-sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut, jika hasil pemeriksaan belum
meyakinkan (Samkhan dan Sri,2006).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
A. Hasil nekropsi :

ORGAN KONDISI ORGAN KONDISI


Trakhea Normal Usus halus Normal
Paru-paru Normal Usus besar Normal
Jantung Normal Pankreas Normal
Hepar Normal Rektum Normal
Lambung Normal Organ genital Normal
Lien Normal Otak Normal

DOC di euthanasia dengan cara di sentil dan


dilakukan euthanasia dengan mengisikan
udara pada daerah emboli.

Diincisi dari daerah mulut sampai ke daerah


pharynx, larynx dan trachea dibuka sampai ke
percabangan bronchus yang masuk ke dalam
pulmo.
Setelah diincisi organ akan terlihat.

Pemeriksaan pulmo, keadaan normal

Pemeriksaan cor, keadaan normal

Pemeriksaan hepar dan lien, keadaan normal


Pemeriksaan usus, keadaan normal

Pemeriksaan otak, keadaan normal

4.2 Pembahasan
4.2.1 Metode
4.2.2 Penyakit yang sering terserang pada DOC
A. Gumboro (Infeksius Bursal Disease)
- Gejala klinis : Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi IBD adalah ayam lesu, nafsu
makan menghilang dan sayap menggantung (Park et al., 2009; Acribasi et al., 2010).
Selain itu juga sering ditemukan gejala diare, serta kotoran yang menempel pada kloaka
(Parede et al., 2003)
- Perubahan patologi : Perubahan patologi adalah perubahan yang ditemukan pada
bursa Fabricius. Namun demikian, diagnosis gumboro (IBD) sebagai penyebab primer
perlu ditunjang dengan teknik diagnosis yang lain karena gejala infeksi virus gumboro
(IBD) mirip dengan ND atau penyakit lain penyebab imunosupresif. Hal ini bisa diatasi
dengan pewarnaan imunohistokimia, untuk mendeteksi keberadaan antigen virus IBD
pada organ bursa Fabricius. Antigen virus IBD dapat dideteksi 3 jam paska infeksi pada
bagian korteks folikel limfoid bursa Fabricius. Antigen dapat dideteksi pada makrofag di
dalam folikel bursa Fabricius dan pada sel epitel 96 jam paska infeksi (Oladele et al.,
2009). Keberadaan antigen IBD pada bursa Fabricius berkorelasi positif dengan
terjadinya lesi pada bursa Fabricius (Rautenschlein et al., 2005).
- Patomekanisme :
Virus IBD menginfeksi ayam secara per-oral ikut bersama pakan atau air minum yang
telah tercemar virus kemudian menuju ke saluran pencernaan. Di saluran pencernaan,
virus menginfeksi makrofag dan sel limfosit dari duodenum, jejunum, dan kaekum dalam
waktu 4-5 jam post infeksi. Setelah 5 jam,virus IBD mencapai hati melalui sistema vena
porta dan mengakibatkan viremia primer. Dalam kurun waktu kurang lebih 11 jam setelah
infeksi virus dapat ditemukan pada sel limfoid bursa,namun virus tidak di temukan pada
sel limfoid jaringan lain. Virus yang telah di lepaskan dari jaringan bursa akan
menyebabkan veremia sekunder yang ditandai dengan mulai di temukanya virus pada
jaringan lain seperti pada lien, timus, dan bursa. Replikasi virus IBD pada bursa fabrisius
mengakibatkan kerusakan sel-sel calon pembentuk antibodi. Kerusakan ini menyebabkan
terjadi penekanan respon imunhumoral primer yang berat pada ayam yang terinfeksi dan
kurang memberikan respon terhadap vaksinasi (Oladele et al., 2009).

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum nekropsi DOC yang kami lakukan, didapatkan DOC kami dalam keadaan
sehat. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan organ setelah dilakukan nekropsi
menunjukkan semua organ tidak menunjukkan keabnormalitasan. Hasil diagnosa pada DOC
kelompok kami yaitu DOC normal atau sehat.

5.2 Saran
Pada praktikum yang selanjutnya diharapkan para praktikan bisa mendapatkan sampel
hewan yang akan dinekropsi dengan keakuratan tingkat gejala klinis sakit yang tinggi.

Pagana, K.D. & Pagana, T.J. 2002. Mosbys Manual of Diagnostic and Laboratory Test. 2nd ed.
Missouri: Mosby, Inc.
Parede, L.H., S. Sapats, G. Gould, M. Rudd, S. Lowther, And J. Ignjatovic 2003. Characterization Of
Infectious Bursal Disease Virus Isolates From Indonesia Indicates The Existence Of Very
Virulent Strains With Unique Genetic Changes. Avian Pathol. 32: 511 518.
Park, J.H., H.W. Sung, B.Ii. Yoon And H.M. Kwon. 2009. Protection Of Chicken Against Very Virulent
Ibdv Provided By In Ovo Priming With Dna Vaccine And Boosting With Killed Vaccine And
Adjuvant Effects Of Plasmid-Encoded Chicken Interleukin-2 And Interferon-. J. Vet. Sci. 10(2):
131 139
Rautenschlein, S., C.H. Kraemer, J. Vanmarcke And E. Montiel. 2005. Protective Efficacy Of
Intermediate And Intermedieate Plus Infectious Bursal Disease Virus (Ibdv) Vaccines Against
Very Virulent Ibdv In Commercial Broilers. Avian Dis. 49: 231 237.
Samkhan dan Sri Niati. 2006. Tata Cara Penanganan dan Pengirimam Contoh ke Laboratorium. Buletin
Laboratorium Veteriner Vol. 6 No. 3 September 2003. ISSN : 0853-7968.