Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN INDIVIDU

BLOK 4 METABOLISME NUTRISI DAN OBAT


SKENARIO 3

PENGOBATAN DAN MEKANISME METABOLISME OBAT


TUBERKULOSIS

OLEH :
YASJUDAN RASTRAMA PUTRA
G0008184
KELOMPOK 19

NAMA TUTOR : dr. Kusumadewi

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2008
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia kedokteran, farmakologi memerankan peran penting dalam
penanganan pasien khususnya dalam penentuan terapi obat yang efektif dan efisien unuk
pasien. Setiap obat yang diberikan kepada penderita akan membawa suatu dampak / efek
yang dinginkan maupun yang tidak diinginkan. Terapi yang rasional adalah terapi di
mana manfaat klinisnya lebih besar dibandingkan dengan risiko yang di dapat. Maka dari
itu untuk menentukan terapi penggunaan obat haruslah mempertimbangkan berbagai
aspek farmakokinetik, farmakodinamik, dan farmakogenetik yang merupakan unsur dari
farmakologi.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan obat?
2. Bagaimana proses farkmakokinetik, farmakodinamik serta farmakogenetik obat ?

3. Bagaimana proses metabolisme obat-obat TBC ?

4. Apa hubungan obat TBC dengan kerusakan hati ?

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mengetahui definisi dari obat.

2. Mengetahui proses farmakokinetik, farmakodinamik serta farmakogenetik obat.

3. Mengetahui proses metabolisme obat-obat TBC?

4. Mengetahui hubungan obet TBC dengan kerusakan hati.

D. MANFAAT PENULISAN
1. Mampu menjelaskan definisi obat.
2. Mampu menjelaskan proses farmakokinetik, farmako dinamik serta farmakogenetik.
3. Mampu menjelaskan proses metabolisme obat-obat TBC.
4. Mampu menjelaskan hubungan obat TBC dengan kerusakan hati
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Obat
Obat adalah suatu substansi yang melalui efek kimianya membawa perubahan
dalam fungsi biologik (Katzung, 1998) yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan
penyakit, gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rokhaniah pada manusia atau
hewan, dan memperelok badan atau sebagian tubuh manusia (Anief, 2008).
B. Farmakokinetik
Adalah sekumpulan proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat di
dalam tubuh manusia (Fauci et all, 2008). Farmakokinetik memainkan peran penting
dalam perjalanan dan nasib obat di dalam tubuh manusia, apakah obat yang masuk ke
dalam tubuh kita akan menjadi efektif, kurang efektif atau bahkan toksik. Ketika obat
sudah diabsorbsi melalui berbagai mekanisme, obat akan didistribusikan ke tempat
yang dituju untuk menyebabkan perubahan fungsi biologik yang dalam waktu yang
bersamaan juga akan mengalami metabolisme (biotransformasi) dan ketika sudah
menjadi metabolit, akan diekskresikan keluar dari tubuh. Absorbsi merupakan salah
satu tahapan awal dari perjalanan obat di dalam tubuh manusia. Untuk dapat menuju
tempat reseptor yang diinginkan, obat melalui serangkaian perjalanan penyerapan dan
pendistribusian dengan menggunakan peran permeasi obat (Katzung, 1998) yang
terdiri dari difusi air, difusi lipid, difusi dengan menggunakan karier khusus,
endositosis dan eksositosis. Setiap obat yang masuk ke dalam tubuh kita, jika obat
tersebut memasuki vena porta hepatica maka akan mengalami eliminasi first-pass
karena hati dapat membuang obat melalui garam empedu (Holford and Benet, 1998).
Selain itu hati merupakan organ utama untuk memetabolisme obat (Correia, 1998).
Terdapat mikrosom pada lapisan membran lipofilik pada hati dan jaringan yang
lainnya yang banyak mengandung enzim-enzim oksidasi yang digunakan untuk
memetabolisme. Enzim yang berperan utama dalam proses oksidasi obat yaitu
NADPH-sitokrom P450 reduktase. Setelah mengalami tahapan ini, obat dapat disebut
parent-drug. Parent-drug ini kemudian akan mengalami fase ke dua, yaitu fase
konjugat. Fase ini terdiri atas proses glukuronidasi dan sulfatasi untuk mengikat obat.
Hasil ikatan obat ini bisa bersifat toksik jikalau kadarnya/ dosisnya melebihi batas
tertentu. Setelah obat mengalami fase ke dua, maka beberapa jenis obat akan bersifat
polar dan larut air sehingga dapat diekskresikan.
C. Farmakodinamik
Farmakodinamik menerangkan perubahan efek biologis yang ditimbulkan obat
dalam tubuh manusia ketika obat berinteraksi dengan reseptornya. Obat terdiri dari
jenis agonis dan antagonis. Obat yang agonis, dengan cara tertentu memacu reseptor,
langsung atau tidak, sehingga memberikan suatu efek (Katzung, 1998).Sedangkan
obat antagonis yang berikatan dengan reseptor, justru akan menghambat kinerja dari
reseptor tersebut terhadap spesifik zat tertentu.
D. Farmakogenetik
Farmakogenetik memainkan peran penting dalam metabolisme obat dan
efeknya.karena perbedaan gen dan genomik dapat mempengaruhi proses
farmakokinetik dan farmakodinamik. Perbedaan tiap individu dalam memetabolisme
obat dikarenakan perbedaan informasi genetik yang digunakan untuk mensintesis
protein sehingga mengakibatkan perbedaan produksi enzim yang digunakan untuk
memetabolisme obat (Correia , 1998), perbedaan produksi P-Glikoprotein sebagai
pengangkut obat, dan sensitifitas reseptor dalam tubuh.
E. Obat-obat TBC
Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :

o Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.


Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat
ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.

o Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,


Kapreomisin dan Kanamisin.

Tabel dosis obat pilihan pertama

Obat Dosis harian Dosis 2x/minggu Dosis 3x/minggu


(mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari)
INH 5 (maks 300 mg) 15(maks. 900 mg) 15 (maks. 900 mg)
Rifampisin 10 (maks. 600 mg) 10 (maks. 600 mg) 10(maks. 600 mg)
Pirazinamid 15-30 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g) 50-70 (maks. 3 g)
Etambutol 15-30 (maks. 2,5 g) 50 25-30)
Streptomisin 15-30 (maks. 1 g) 25-30 (maks. 1,5 g) 25-30 (maks. 1 g)
(Mansjoer.2005)

F. Pemilihan Bentuk Sediaan Obat


1. Injeksi parenteral yaitu menurut Irwin (2008):
a.Rifampin/ Rifampisin
b.Quinolone seperti levofloxacin, moxifloxacin, atau gatifloxacin (ofloxacin atau
ciprofloxacin bisa digunakan jika yang lainnya tidak tersedia)
c.Aminoglikosid seperti amikacin (streptomycin bisa digunakan jika kerentanan
obat telah diketahui), lini ke dua agen adalah kanamycin dan caproemycin
d.Isoniazid ketika tersedia tetapi obat ini akan sulit untuk diperoleh
2. Gagal fungsi Hepar yang akut atau kronis
Terapi pengganti : Aminoglikosid, quinolone, ethambutol (diberikan juga
rifampin / rifampicin jika tidak gagal fungsi hati total)
Menghindari : Isoniazide dan Pyrazinamide
3. Gagal Ginjal
Penurunan dosis : Ethambutol, pyrazinamide, quinolone, aminoglikosid
Dosis tetap : Isoniazid dan rifampin
4. Masa Kehamilan
Terapi pengganti : Isoniazid, rifampin dan ethambutol
Menghindari : Pyrazinamide, aminoglikosid, quinolone (ketika malabsorpsi)
G. Mekanisme kerja obat TBC primer
Rifampicin
Antibiotikum ini adalah derivate semi sintetis yang dihasilkan oleh strptomyces
meditrranei, suatu jamur tanah yang berasal dari perancis selatan. Zat yang berwarna
merah bata ini bermolekul besar dengan banyak cincin. Rifampicin berkhasiat luas
terhadap fase pertumbuhan M. tuberkulosae dan M. leprae, baik berada diluar sel
maupun didalam sel ( Hoan Tan dan Rahardja Kirana, 2007 ). Rifampicin aktif
terhadap kuman gram positif dan kuman gram negatif tertutama terhadap stafilokoki,
termasuk yang resisten terhadap penicillin. Kuman yang terakhir, aktifitasnya agak
lemah. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri
RNA polymerase sehingga sintesis RNA terganggu ( Hoan Tan dan Rahardja Kirana,
2007 ). Kontra-indikasi : jaundice dan Efek samping : gangguan saluran cerna seperti
anoeksia, mual, muntah, sakit kepala, pada terapi interminten dapat terjadi sindrom
influenza, gangguan respirasi (nafas pendek), kolaps dan syok, anemia hemolitik,
gagal ginjal akut, purpura, trobositopenia, gangguan funsgsi hati, jaundice,
kemerahan, urtikaria, ruam(Mansjoer.2005). Efek samping yang lain : udem,
kelemahan otot, miopati, lekopenia, eosinofilia, gangguan menstruasi, warna
kemerahan pada urin, saliva dan cairan tubuh lainnya, tromboplebtis pada pemberian
per infus jangka panjang (Angger Nugraheni, 2007).
Etambutol
Derivat etilendiamin ini berkhasiat spesifik terhadap M.tuberkulosae dan M.
atipis tetapi tidak untuk bakteri lain. Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan
sintesis RNA pada kuman yang sedang membela, juga menghindarkan terbentuknya
Myocolic acid pada dinding sel (Hoan Tan dan Rahardja Kirana, 2007 ). Kontra-
indikasi : anak di bawah 6 tahun, neurotis optik, gangguan penglihatan dan Efek
samping : neuritis optic, buta warna merah/hijau, neuritis perifer,nyeri perut dan
gout(Mansjoer.2005). Resiko khusus : kelainan ginjal (Angger Nugraheni, 2007).
Isoniazide
Derivat asam isonikotinat ini berkhasiat paling kuat terhadap M.tuberkulosae dan
bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat. Aktif terhadap kuman
yang berada intrasesluler dalam makrofag maupun diluar sel. Mekanisme kerjanya
berdasarkan terganggunya sintesis mycolic acid yang berfungsi untuk membangun
dinding bakter (Hoan Tan dan Rahardja Kirana, 2007 ). Kontra-indikasi : penyakit hati
yang aktif dan Efek samping : mual, muntah, konstipasi, neuritis perifer, dengan dosis
tinggi, neuritis optic, kejang, episode psikosis, vertigo, reaksi hipersensitif seperti
demam, eritema multiforme, purpura, agranulositosis, anemia hemolitik, anemia
aplastik, dan ikterus(Mansjoer.2005). Resiko khusus : kelainan fungsi hati (Angger
Nugraheni, 2007).
Pyrazinamide
Analogon pirazin dari nikotinamida ini bekerja sebagai bakterisida pada suasana
asam atau bakteriostastis tergantung pada pH dan kadarnya didalam darah.
Mekanisme kerjanya berdasarkan pengubahan menjadi asam pirazinat oleh enzim
pyrazinamidase yang berasal dari basil TBC. Begitu pH dalam makrofag diturunkan,
maka kuman yang berada disarang infeksi yang menjadi asam akan mati (Hoan Tan
dan Rahardja Kirana, 2007 ). Kontra-indikasi : porfiria gangguan fungsi hati berat,
hipersensitifitas terhadap pirazinamid dan Efek samping : hepatotoksisitas termasuk
demam, anoreksia, hepatomegali, splenomegali, ikterus, kerusakan hati, mual,
muntah, urtikaria, artralgia, anemia sideroblastik, Resiko khusus : kelainan hati
kronik (Angger Nugraheni, 2007).

BAB III
PEMBAHASAN
Dalam penentuan terapi obat yang rasional, untuk dapat menghasilkan manfaat
klinis yang lebih besar dibandingkan dengan risiko klinis, kita harus mengetahui
bagaimana mekanisme metabolisme obat dalam tubuh manusia. Sehingga kita perlu
mempertimbangkan aspek farmakokinetik, farmakodinamik dan juga farmakogenetik
karena ketiganya memerankan peran yang sangat penting dalam kesembuhan pasien.
Farmakokinetik dan farmakodinamik rifampicin, isoniazide, etambutol dan
pyrazinamide dalam skenario di atas adalah pemberian obat yang dilakukan dengan jalur
oral yang diberikan sebelum makan dikarenakan interaksi obat dalam tingkat absorbsinya
di dalam usus. Selanjutnya obat melalui tahapan absorbsi dalam usus dan mengalami
first-pass efek di hati. Obat-obat jenis antimicrobial ini bersifat bersaing dengan dengan
albumin untuk mengikat bilirubin dan merusak hati sehingga dapat mengakibatkan
ikterus (Murray, 2003) terutama isoniazide dan pyrazinamide.
Pada skenario 3 ,pasien menderita penyakit tuberculosis. Nampak bahwa
pemberian berbagai macam obat untuk terapi menimbulkan dampak berupa ikterus yang
merupakan risiko dari terapi tersebut. Didapati tetangga korban yang menyatakan bahwa
kondisinya yang menerima terapi sama tidak terkena ikterus karena terjadinya kerusakan
fungsi hati yang dibuktikan dengan pemeriksaan SGOT dan SGPT yang tinggi. Dalam
kasus ini secara farmakokinetik dan farmakodinamik mungkin dokter sudah
mempertimbangkannya karena sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur)
penatalaksanaan penyakit tersebut. Tetapi dalam aspek farmakogenetik, dokter belum
terlalu mempertimbangkan. Sehingga perlu dilakukan analisi genetik dari pasien untuk
mendapatkan prinsip ketepatan terapi obat yang merupakan bagian dari terapi rasional
yaitu tepat orang, tepat obat dan di waktu yang tepat..
Sehingga dalam terapi pemberian obat perlu mempertimbangakan aspek
farmakogenetik, farmakokinetik dan farmakodinamik. Untuk spesifik berbagai macam
penyakit gangguan fungsi organ vital yang timbul dalam scenario di atas, pemberian
terapi obat yang tepat dapat dilihat pada bentuk sedian sesuai kegagalan organ.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Pemberian obat yang rasional harus memperhatiakn farmako kinetik dan farmako
dinamik obat.
Ikterus dapat terjadi karena obat bersaing dengan albumin untuk mengikat bilirubin
dan membuat kerusakan hati.
Pemilihan bentuk sediaan obat harus disesuaikan dengan kondisi pasien.
Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap obat karena adanya perbedaan
genetik.

SARAN
Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan keadaan pasien.
Untuk obat-obat yang memiliki efek samping besar hendaknya selalu
dipantau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pemberian obat hendaknya tetap memperhatiakan adanya
farmakogenetik.
Daftar Pustaka

Angger Nugraheni. 2007. http://yosefw.wordpress.com/2007/12/28/pengobatan-


tuberkulosis-paru-pada-pasien-dm/

Anief, M. 2008. Ilmu Meracik Obat teori dan praktik, edisi ke-14. Jogjakarta: Gajah
Mada University Press
Correia, M.A. 1998, Biotransformasi obat Farmakologi dasar dan klinik Bertram G.
Katzung, edisi ke-6.Jaktarta:EGC
Fauci, A.S., Braunwald, E., Kasper, D.L., Hauser, S.L., Longo, L., Jameson, J.L.,
Loscalzo, J., 2008, Principles of Clinical Pharmacology: Introduction Harrisons
principles of interna medicine, edisi ke-17, Mc-Graw Hill Professional,
U.S.America
Holford, N.H.G., Benet, L.Z., 1998, Farmakokinetik dan Farmakodinamik: Pemilihan
Dosis yang Rasional dan Waktu Kerja Obat Farmakologi dasar dan klinik
Bertram G. Katzung, edisi ke-6.Jakarta:EGC.
Irwin, R.S., Rippe, J.M. 2008. Tuberculosis Irwin and Rippes Intensive Care Medicine.
edisi ke-6.Florida:Lippincott Williams &willkins.
Katzung, B.G. 1998. Prinsip Dasar Pendahuluan Farmakologi dasar dan klinik Bertram
G. Katzung edisi ke-6.Jakarta:EGC
Mansjoer, Arief.Kuspundi Triyanti. Rakhmi Savitri. Wahyu ika W. Wiwiek Setio
Wulan.2005. Kapita Selekta Kedokteran:Jilid 1.Jakarta:Media Aesculapius
Murray, R.K., 2003, Porfirin dan Pigmen Empedu Biokimia Harper, edisi ke-25,
Jakarta:EGC