Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN TUTORIAL

BLOK REPRODUKSI
SAYA INGIN KONTROL KEHAMILAN

KELOMPOK 13

ALFIN RIZKI RAMADHAN G 0015014

ANNISA SAFITRI ADHAD G 0015024

DHEAJENG INTAN M.A G 0015021

FANDY WINASIS G 0015078

FELICIA CHRISTANTY G 0015086

IRMA JOVITA G 0015116

JAMES NOBLE PETRULIN G 0015118

M. PRASETYO WIBOWO G 0015146

MAGHFIRA AYUNI S G G 0015148


MUHAMMAD THORIQUR R G 0015170

NELY JAUHAROTUL LATIFAH G 0015186

SHANNIA R M G 0015212

TUTOR : Dra.Siti Utari, M.kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2016
BAB 1

PENDAHULUAN

A. SKENARIO

SAYA INGIN KONTROL KEHAMILAN

Seorang perempuan G2P0A1 berusia 24 tahun, usia kehamilan 9 minggu,

dating ke puskesmas PONED dengan keluhan mual muntah terutama pagi hari.

Muntah dirasakan terus terus menerus sejak dua hari yang lalu (sehari + 5 kali)

dan semakin memberat setiap ada bau makanan. Pasien juga mengeluh nyeri di

ulu hati. Pasien mengeluh lemas karena nafsu makan berkurang. Pasien juga

mengeluh keluar bercak kecoklatan dari jalan lahir sejak satu hari yang lalu, tidak

disertai dengan rasa mulas di perut. Pasien pernh keguguran satu tahun yang lalu

pada usia kehamilan 8 minggu. Pada saat itu pasien dilakukan kuretase.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis tanda vital

110/80 mmHg, frekuensi 16 kali/menit, suhu 36,7 oC, denyut nadi 98 kali/menit.

Pemeriksaan mata didapatkan conjungtiva anemis. Pemeriksaan thorax dalam

batas normal. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan di epigastrium,

tinggi fundus uteri belum teraba. Pemeriksaan dalam didapatkan OUE (ostium

uteri eksternum) tertutup, uterus sebesar telur angsa, tidak didapatkan massa di

adneksa, nyeri goyang serviks (-), dan terdapat darah kecoklatan di sarung tangan

pemeriksa. Pemeriksaan penunjang, kadar Hb 9 g/dl, MCV 60 femoliter, MCH 15

picograms/sel, MCHC 25 g/dl. Sedangkan hasil USG kehamilan dan urinalisis

didapatkan dalam batas normal. Dokter merencanakan pasien untuk dirawat inap

dengan pemberian terapi konservatif dan eduk waktu kontrol terkait

kehamilannya.
BAB II

PEMBAHASAN

JUMP 1. Membaca skenario dan mengklarifikasi kata sulit

1. Adneksa : Jaringan sekitar rahim.


2. Kuretase : cara membersihkan atau mengangkat hasil konsepsi

dengan alat kuret.


3. Nyeri goyang serviks : Jenis pemeriksaan untuk mengetahui

adanya kehamilan ektopik.


4. G2P0A1 : Gravida (kehamilan) 2 kali, Partus (kelahiran) 0 kali,

Abortus (keguguran) 1 kali. Atau ada juga yang menyebut istilah ini

dengan GPAH, H yang dimaksudkan adalah hidup.


5. OUE : Lubang rahim bagian luar.
6. PONED : Pelayanan obstetric neonatus essential dasar.
7. MCV : Volume rata rata eritrosit dengan nilai normal 80-100
8. MCH : Rata rata hemoglobin dalam eritrosit dengan nilai normal

26-34
9. MCHC : Kadar haemoglobin dalam eritrosit dengan nilai normal

32-36
10. Keguguran : pengeluaran hasil konsepsi yang berumur <20 minggu

dan berat <500 gram.

JUMP 2. Merumuskan permasalahan

1. Bagaimana cara menentukan usia kehamilan ?


2. Mengapa mual muntah dan dirasakan terutama pagi hari ?
3. Mengapa terjadi nyeri pada ulu hati ?
4. Mengapa nafsu makan berkurang sehingga lemas ?
5. Mengapa muncul bercak kecoklatan dan bagaimana mekanismenya?
6. Kapan mulai teraba fundus uteri ?
7. Mengapa pasien harus rawat inap dengan terapi konservatif ?
8. Apa hubungan hasil pemeriksaan dengan keluhan pasien ?
9. Apa saja factor penyebab keguguran ?
10. Mengapa keluhan terjadi saat kehamilan 9 minggu ?
11. Apa saja jenis jenis keguguran ?
12. Apa saja yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan tiap trimesternya ?
13. Hubungan keluhan dengan riwayat kuretase ?
14. Bagaimana perubahan organ reproduksi ketika kehamilan menurut

anatomi dan histologinya ?

JUMP 3. Melakukan curah pendapat dan membuat pernyataan sementara

mengenai permasalahan

1. Terjawab di jump 7
2. Mual muntah yang kurang lebih dari 5 kali dalam sehari mengindikasikan

keadaan ibu yang kekurangan cairan dan gangguan elektrolit , bisa


beresiko penurunan berat badan pada usia 6-12 minggu karena terjadi

peningkatan hormonal yaitu hormone esterogen dan HCG. Mual muntah

yang terjadi di pagi hari atau yang dikenal dengan morning sickness

disebabkan oleh siklus sirkadian yang mengalami peningkatan kadar

hormone HCG. HCG memiliki fungsi sebagai imunitas terhadap tubuh

janin dan berefek mual muntah pada ibu. Mual muntah juga bisa

disebabkan karena gangguan imunologi, dan infeksi dari Hellicobacter

Pallony.

3. Terjadi nyeri pada ulu hati berhubungan erat dengan nyeri tekan pada

epigastrium, pada saat kehamilan terjadi perubahan atau kelainan pada

gastrointestinal, dimana otot polos pencernaan mengendur yang

merupakan efek dari peningkatan hormone progesterone yang dihasilkan

oleh korpus luteum pada diri ibu, sehingga menyebabkan pencernaan

berjalan dengann tidak efektif.


4. Hiperemesis gravidarum, atau kondisi mual muntah yang berlebihan

sampai mengganggu aktivitas bahkan dapat menurunkan tingkat

kesadaran, etiologinya bisa disebabkan oleh kehamilan ganda, mola

hidatidosa, perubahan hormone, dan factor psikologis. Patofisiologinya

adalah terjadi peningkatan esterogen dan progesterone, yang menyebabkan

pengenduran pada otot polos pencernaan, sehingga kembung pada perut

yang merangsang mual muntah. Manifestasi klinisnya dibagi menjadi 3

tingkatan :
1 : Lemah, berat badan turun, nafsu makan turun
2 : Lemah, apatis, hipotensi, dehidrasi
3 : Somnolen sampai coma, muntah (-)
Mual muntah merupakan proses fisiologis hormonal, peningkatan HCG akan

memacu pusat mual yaitu kemoreseptor trigger zone. Peningkatan esterogen

jugan akan meningkatkan realisenya histamine II, yang reseptornya terdapat

pada lambung, yang menyebabkan mual muntah.

5. Perdarahan pada ibu trimester pertama, dapat terjadi secara fisiologis

dimana saat proses implantasi janin ketubuh ibu dan masa terbentuknya

fibrosit. Pada ibu trimester 1 terdapat 20% yang mengalami perdarahan

dan 10% yang mengalami keguguran. Ketika terjadi perdarahan baik

ringan ataupun berat ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam

pemeriksaannya, Perlu diketahui hari pertama haid terakhir, tanda

kehamilan keluarga berncana dan riwayat ginekologi jumlah perdarahan.

Perdarahan dapat mengindikasikan keguguran yang diikuti mulas dan

kram perut atau kehamilan ektopik/ mola hidatidosa dengan mual muntah

berlebih dan disertai perdarahan.


6. Fundus uteri teraba pada kehamilan 12 minggu di simphisis ossis pubis,

adapun fundus uteri dapat dilihat secara berkala berdasarkan usia

kehamilan

USIA KEHAMILAN FUNDUS UTERI


16 minggu Pertengahan simpishis dan umbilicus
20 minggu Dibawah umbilicus
24 minggu Diatas umbilicus
28 minggu 3 jari diatas umbilicus
32 minggu Pertengahan umbilicus dan processus xiphoideus
36 minggu 1-2 cm dibawah processus xiphoideus

7. Terjawab di jump 7
8. Terjawab di jump 7
9. Embrio yang berumur kurang dari 8 minggu akan mendapatkan nutrisi

dari HCG yang berfungsi untuk mempertahankan korpus luteum untuk

tetap menghasilkan progesterone. Selanjutnya peran HCG akan

digantikan oleh plasenta. Pada saat HCG berkurang produksinya dan

bersiap siap untuk digantikan perannya dengan plasenta, progesterone

menurun, sehingga janin dapat kekurangan nutrisi. Keadaan ini diperburuk

dengan kondisi placenta yang baru tumbuh dan belum siap untuk

menggantikan peran HCG untuk memberikan nutrisi , sehingga bisa

menyebabkan keguguran.

10. Terjawab di jump 7


11. Pembagian Abortus secara klinis :
Abortus Iminens merupakan tingkat permulaan dan ancaman

terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri

masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan


Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam ditandai

dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka,


akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam

proses pengeluaran.
Abortus Inkompletus adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar

dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.


Abortus Kompletus adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari

kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat

janin kurang dari 500 gram.


Missed Abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau

fetus telah meninggal dalam kehamilan sebelum kehamilan 20

minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam

kandungan.
Abortus Habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau

lebih berturutturut.
Abortus Infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat

genitalia.
Abortus Terapeutik adalah abortus dengan induksi medis
12. Terjawab di jump 7
13. Terjawab di jump 7
14. Terjawab di jump 7

JUMP 4. Menginventarisasi secara sistematis berbagai penjelasan yang

didapatkan pada langkah


Jump 5. Merumuskan tujuan pembelajaran

1. Mengetahui perubahan anatomi, histologi, dan fungsi selama kehamilan


2. Mengetahui patologi pada kehamilan (Abortus, HEG, Anemia Defisiensi Besi,

Infeksi kehamilan ) yang meliputi etiologic dan patofisiologi


3. Pemeriksaan penunjang pada kehamilan
4. Mekanisme mual muntah nyeri ulu hati pada kehamilan
5. Perkembangan kehamilan tiap semester

Jump 6 : Mengumpulkan informasi baru

Dari tujuan pembelajaran pada langkah ke-5, kemudian dicari jawabannya dari

sumber pustaka. Sumber pustaka yang digunakan berasal dari jurnal ilmiah

(internet), textbook, bahan kuliah, dan pakar.

Jump 7 : Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru yang

diperoleh
Learning Objective pada skenario ini antara lain;
1. Mahasiswa mampu menjelaskan perubahan anatomi, histologi dan fungsi selama

kehamilan
2. Mahasiswa mampu menjelaskan patologi kehamilan (Abortus, HEG, ADB,

Infeksi Kehamilan) yang meliputi etiologi, patofisiologi


3. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang
4. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme mual, muntah, nyeri ulu hati pada

kehamilan
5. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan kehamilan tiap trimester

1. Mahasiswa mampu menjelaskan perubahan anatomi, histologi dan fungsi selama

kehamilan
Perubahan anatomi dan histologi selama kehamilan
1) Perubahan pada genitalia eksterna
a. Vulva Hormon Estrogen dan Progesteron mempersiapkan vagina agak

mengalami distensi selama persalinan dengan cara memproduksi mukosa

vagina. Meningkatkan vaskularisasi menghasilkan warna violet

kebiruandarimukodsa vaginadan servik Pada awal minggu ke 8


b. Uterus
- Rahim berkembang untuk menyediakan ruangan yang sehayt untuk janin

tumbuh.
- Endometrium berubah nama menjadi desidua pada bahagian fundus dan

atas tebal (tempat implantas yang normal) banyak aliran darah, banyak zat

glikogen yang berguna untuk makanan bagi janin. Desidua ada 3 lapis

( basalis, vera dan capcularis).


- Myometrium Hiperplasia karena pengaruh estrogen. Selama pada 20

mg pertama berkembang dan meregang untuk menampung isinya karena

pengaruh progesteron pada otot lunak. Pada kehamilan 8 mg adanya

kontraksi braxton hicks yang berlanjut sampai pada saat persalinan.


- Perimetrium Lapisan sebelah luar tidak seluruhnya menutupi rahim.

Posisinya dibelokkan dimuka kandung kemih membentuk kantong

uterovesikal. Dibelakang anus untuk membentuk kantong douglas.

Susunan ini memberikan tempat pada rahim untuk berkembang bebas

tanpa batas.
c. Ovarium
- Pada awal kehamilan masih ada corpus luteum grafiditas dan setelah

plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan 16 minggu corpus luteum

berdegenerasi (corpus albicans) selanjutnya hormon progesteron dan

estrogen diproduksi oleh Plasenta.


d. Payudara
- Buah dada biasanya membesar karna hipertropi alveoli
- Meningkatnya progesteron dan estrogen berakibat: (1) Rasa penuh dan

padat, (2) Sensitifitas yang tinggi, (3) Geli dan rasa berat, (4) Areola

hiperpigmentasi

2) Perubahan pada genitalia Interna


- Pembuluh darah alat genitalia interna akan membesar,hal inikarena oksigenisasi

dan nutrisi pada alat genitalia interna ini meningkat


- Pada vagina pembuluh darah dinding vagina bertambah dan warna selaput dinding

vagina membiru ( Tanda Cadwiks ),kekenyalan vagina bertambah yang berarti

keregangan vagina bertambah, buat persiapan persalinan.

Perubahan Hormonal Selama Kehamilan


Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan terutama meliputi perubahan

konsentrasi hormon seks yaitu progesteron dan estrogen. Pada awal kehamilan,

terjadi peningkatan hormon hCG dari sel-sel trofoblas. Juga terdapat perubahan

dari korpus luteum menjadi korpus luteum gravidarum yang memproduksi

estrogen dan progesteron. Pada pertengahan trimester satu, produksi hCG

menurun, fungsi korpus luteum gravidarum untuk menghasilkan estrogen dan

progesteron pun digantikan oleh plasenta. Pada trimester dua dan tiga, produksi

estrogen dan progesteron terus megalami peningkatan hingga mencapai

puncaknya pada akhir trimester tiga. Kadar puncak progesteron dapat mencapai

400 g/hari dan estrogen 20g/hari. Estrogen dan progesteron memiliki peran

penting yang mempengaruhi sistem organ termasuk rongga mulut. Reseptor bagi

estrogen dan progesteron dapat ditemukan pada jaringan periodontal.


Maka dari itu, ketidakseimbangan hormonal juga dapat berperan dalam

patogenesis penyakit periodontal. Peningkatan hormon seks steroid dapat

mempengaruhi vaskularisasi gingiva, mikrobiota subgingiva, sel spesifik

periodontal, dan sistem imun lokal selama kehamilan.


Beberapa perubahan klinis dan mikrobiologis pada jaringan periodontal :
- Peningkatan kerentanan terjadinya gingivitis dan peningkatan kedalaman saku

periodontal.
- Peningkatan kerentanan terjadinya infeksi.
- Penurunan kemotaksis neutrofil dan penekanan produksi antibodi.-
- Peningkatan sejumlah patogen periodontal (khususnya Porphyromonas

gingivalis).
- Peningkatan sintesis PGE2
Perubahan fungsi selama kehamilan :
1) Sistem Reproduksi
- Trimester 1
Terdapat tanda Chadwick, yaitu perubahan warna pada vulva, vagina dan serviks

menjadi lebih merah agak kebiruan/keunguan. pH vulva dan vagina mengalami

peningkatan dari 4 menjadi 6,5 yang membuat wanita hamil lebih rentan terhadap

infeksi vagina. Tanda Goodell yaitu perubahan konsistensi serviks menjadi lebih

lunak dan kenyal. Pembesaran dan penebalan uterus disebabkan adanya

peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah, hyperplasia &


hipertropi otot, dan perkembangan desidua. Dinding-dinding otot menjadi kuat

dan elastis, fundus pada serviks mudah fleksi disebut tanda Mc Donald. Pada

kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek dan pada kehamilan 12

minggu kira-kira sebesar telur angsa. Pada minggu-minggu pertama, terjadi

hipertrofi pada istmus uteri membuat istmus menjadi panjang dan lebih lunak

yang disebut tanda Hegar. Sejak trimester satu kehamilan, uterus juga mengalami
kontraksi yang tidak teratur dan umumnya tidak nyeri.
Proses ovulasi pada ovarium akan terhenti selama kehamilan.Pematangan folikel

baru juga ditunda. Tetapi pada awal kehamilan, masih terdapat satu corpus luteum

gravidarum yang menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Folikel ini akan

berfungsi maksimal selama 6-7 minggu, kemudian mengecil setelah plasenta

terbentuk.
- Trimester 2
Hormon estrogen dan progesteron terus meningkat dan terjadi hipervaskularisasi

mengakibatkan pembuluh-pembuluh darah alat genetalia membesar. Peningkatan

sensivitas ini dapat meningkatkan keinginan dan bangkitan seksual, khususnya

selama trimester dua kehamilan. Peningkatan kongesti yang berat ditambah

relaksasi dinding pembuluh darah dan uterus dapat menyebabkan timbulnya

edema dan varises vulva. Edema dan varises ini biasanya membaik selama periode

pasca partum.Pada akhir minggu ke 12 uterus yang terus mengalami pembesaran

tidak lagi cukup tertampung dalam rongga pelvis sehingga uterus akan naik ke

rongga abdomen. Pada trimester kedua ini,


kontraksi uterus dapat dideteksi dengan pemeriksaan bimanual. Kontraksi yang

tidak teratur dan biasanya tidak nyeri ini dikenal sebagai kontraksi Braxton Hicks,

muncul tiba-tiba secara sporadik dengan intensitas antara 5-25 mmHg.1 Pada usia

kehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk dan menggantikan fungsi corpus

luteum gravidarum.
- Trimester 3
Dinding vagina mengalami banyak perubahan sebagai persiapan untuk persalinan

yang seringnya melibatkan peregangan vagina. Ketebalan mukosa bertambah,

jaringan ikat mengendor,dan sel otot polos mengalami hipertrofi. Juga terjadi

peningkatan volume sekresi vagina yang berwarna keputihan dan lebih

kental.Pada minggu-minggu akhir kehamilan, prostaglandin mempengaruhi

penurunan konsentrasi serabut kolagen pada serviks. Serviks menjadi lunak dan

lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan.Istsmus uteri akan berkembang

menjadi segmen bawah uterus pada trimester akhir. Otot-otot uterus bagian atas

akan berkontraksi sehingga segmen bawah uterus akan melebar dan menipis, hal

itu terjadi pada masa-masa akhir kehamilan menjelang persalinan. Batas antara

segmen atas yang tebal dan segmen bawah yang tipis disebut lingkaran retraksi

fisiologis.
2) Sistem Endokrin
Perubahan sistim endokrin ini sangat penting dalam pemeliharaan pertumbuhan

fetal dan pemulihan post partum


- Kelenjer tyroid Aktifitas kelenjer dan produksi hormonmeningkat,

terjadipembesaran kelenjer tyroid karena hiperplasi jaringan kelenjer dan

meningkatnya vaskularisasi
- Kelenjer paratyroid Kehamilan menyebabkan hiperparatyroid,refleksinya

meninkat kebutuhan kalsium dan vitamin D


- Pankreas Awal kehamilan pangkreas menurunkan produksi insulisnya

disebabkan oleh janin membutuhkan glukosa dalam jumlah yamg cukup untuk

tumbuh
- Prolaktin Pitiutary Pada trimester I serum Prolaktinmeningkat secara

profresif sampai matur , sekresi terhambat karenahormon estrogen yang tinggi


- Sistem endokrin dan nutrisi Estrogen dan progesteron menyebabkan

cadangan lemak pada jaringan subcutis melebihi pada abdomen, punggung

dan bagian atas


3) Sistem Imunitas
- Jumlah limfosit meningkat
- Nilai kehamilan 8mg terjadi kekebalan dengan adanya limfosit limfosit
- Bertambah usia kehamilan jumlahlimposit dalam darah perifer meningkat dan

mulai terbentukfolikel folikel limfe dimana-mana


- Imunitas humoral dibentuk sel limfoid dalam bentuk molekul

immunoglobulin. Pasangan terdiri dari molekul gamma E/gabungan polimer

gamma A dan gamma M.


- Gamma-G berbentuk banyak dalam bulan kedua masa bayi, pada janin didapat

dari ibunya yang disebut dengan kekebalan pasif


- Pembentukan gamma M sedininya pada usia kehamilan 5 bln dan gamma-A

pada usia kehamilan 2 bln


- Oleh sebab itu neonatus tidak dapat mengatasi infeksi
4) Sistem Ekskresi
- Ginjal organ ekskresi vital yang memeliharalingkungan internaldalam

keadaan haemostatisyang relatif konsistenperlu bagi fungsiyang efisien

bagitingkat seluler tubuh. Perubahan struktur ginjal karena aktifitas hormonal

pada ibu hamil,tekanan uterus dan meningkatnya volume darah. Ginjal akan

bekerja extra keras dalam menjaga keseimbangan cairan dan mengeluarkan zat

sisa
- Ureter Dinding otot polos ureter mengalami relaksasi disebabkan

pembesaran uterus,karena perubahan ini volume terbesar urine berada pada

ureterdan aliran urin menjadi lambat


- Kandung kemih Selama kehamilan kandung kemih tertekan oleh

pembesaran uterus sehingga menyebabkan perasaan yang tidak tertahankan

untuk buang air kecil walaupun kandung kemih hanya terisi sedikit urine
5) Sistem Digestif
- Bulan pertama adanya perasaan mual karena kadar estrogen dan HCG

meningkat
- Sebagian wanita mengalami peningkatan sekresi saliva
- Setelah trimester I terjadi peningkatan nafsu makan
- Peningkatan produksi progesteron menyebabkan hilangnya tonus otot dan

turunnya peristaltik menyebabkan konstipasi pada bumil


- Fungsi hati mengalami perubahan
- Adanya keluhan ibu hamil yang merasa tidak nyaman pada abdomen karena

adanya perubahan intra abdomen


- Perubahan tubuh secara gradual dan peningkatan BB menyebabkanperubahan

postur tubuh dan cara berjalan


- Tonus otot menurun, pusat gravitasi bumil beralih kearah depan
- Peningkatan kurva lumbosacral yang normal (lordosis) berkembang dan

terjadi kompensasi pada kurva area servikodorsal (fleksi anterior yang

berlebihan pada kepala) perlu untuk menjaga keseimbangan yang berakibat

rasa nyeri ,mati rasa dan kelemahan pada ekstremitas,berjalan menjadi lebih

sakit
6) Sistem Kardiovaskular
- Jantung Ukurannya sedikit membesar karena beban kerja. Posisi sedikit

bergeser keatas dan kearah kiri. Hasil produksinya meningkat 5 7 ltr /menit
- Volume darah Jumlah sel darah merah meningkat guna memenuhi

kebutuhan oksigen. Peningkatan terjadi selama hamil dan meningkat di akhir

kehamilan. Jumlah plasma meningkat dari sel darah merahyang ditandai

dengan menurunya HB, haemotokrit dan sel darah merah (anemia Fisiologis).

HB yang normal 11-12 gr %


- Cardiac out put ( co ) Co maternal meningkat 30-50 %selama hamil

maksimum pada tm I dan II dan tetaptinggi selama hamil. Co juga tergantung

pada posisi ibu, dengan posisi telentang akan menurun karena tekanan pada

vena kava inferior. Selama hamil aterm 1-10 % terjadi sindrom hipotensi

ditandai dengan pusing,mual dan rasa akan pingsan


- Tekanan darah Karena pengaruh progesteronpembuluh darah melebar maka

tekanan darah cendrung turun selama 24 mg pertama. Systole turun5-10


mmhg, diastole turun 10 15 mmhg. Setelah 24 mg akan berangsur angsur

naik kembali
- Sel darah putih Meningkat 8000 -10000 / mm3
- Trombosit meningkat
7) Sistem Integumen
- Peningkatan ketebalan kulit dan lemak
- Hiperpigmentasi karena peningkatan kadar melanosit stimulating hormon

( Msh) yang dihasilkan oleh pituitary anterior


- Cloasma gravidarum terjadi 50-70 % ibu hamil dimulai setelah kehamilan 16

mg
- Penggelapan Niple, Areola,Aksila dan Vulva
- Linea nigra Mulai bulan ke 3
- Strie yang kadang menimbulkan sensasi gatal Pada 50-90 % ibu hamil
- Pertumbuhan rambut dan kuku
- Percepatan aktifitas kelenjer keringat dan sebasea
Kerapuhan/ kelemahan pada jaringan elastis kutaneus

2. Mahasiswa mampu menjelaskan patologi kehamilan (Abortus, HEG, ADB,

Infeksi Kehamilan) yang meliputi etiologi, patofisiologi


Abortus
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus

provokatus. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis

dan disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Abortus provokatus adalah abortus

yang terjadi akibat tindakan atau disengaja, baik dengan memakai obat-obatan

maupun alat-alat (Mochtar, 1998).


Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar,

tanpa mempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila

berat badannya telah mencapai lebih daripada 500 gram atau umur kehamilan

lebih daripada 20 minggu.


Secara umum, terdapat tiga faktor yang boleh menyebabkan abortus spontan yaitu

faktor fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan faktor paternal. Lebih dari

80 persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan, dan kira-kira

setengah dari kasus abortus ini diakibatkan oleh anomali kromosom. Setelah
melewati trimester pertama, tingkat aborsi dan peluang terjadinya anomali

kromosom berkurang.
Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian

diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-

perubahan nekrotik pada daerah implantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan

akhirnya perdarahan per vaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau

sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini

menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan

benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekankan bahwa pada

abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama dua minggu

sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk mempertahankan janin

tidak layak dilakukan jika telah terjadi perdarahan banyak karena abortus tidak

dapat dihindari. Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan

dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu ke-10 vili korialis belum

menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur mudah terlepas

keseluruhannya. Antara minggu ke-10 hingga minggu ke-12 korion tumbuh

dengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai

saat tersebut sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus.
Pengeluaran hasil konsepsi didasarkan 4 cara:
i. Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini, meninggalkan sisa

desidua.
ii. Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion dan

desidua.
iii. Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin ke

luar, tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang

dikeluarkan).
iv. Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh. Kuretasi

diperlukan untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan atau infeksi

lebih lanjut.

Anemia Defisiensi Besi (ADB)


Diagnosis ADB dapat ditegakkan melalui pemeriksaan hematologi, pemeriksaan

biokimia status besi dan pemeriksaan sumsum tulang. Gold standard diagnosis

ADB saat ini adalah aspirasi sumsum tulang, namun sangatlah invasif sehingga

jarang digunakan. Pemeriksaan hematologi (Hemoglobin) merupakan prediktor

awal anemia karena lebih tersedia dan lebih murah dibandingkan pemeriksaan

biokimia. Pemeriksaan biokimia status besi juga diperlukan untuk mendeteksi

kekurangan zat besi sebelum terjadinya anemia (Wu et al.,2002). Pemeriksaan

feritin serum dikerjakan untuk menentukan diagnosis defisiensi besi, karena

terbukti sebagai indikator paling dini apabila cadangan besi menurun, sedangkan

saturasi transferin mencerminkan 3 rasio besi serum dengan kemampuan mengikat

besi, dimana penurunan saturasi transferin sampai di bawah 5% memastikan

diagnosis ADB (Muhammad dan Sianipar, 2005).


Dampak yang diakibatkan oleh adanya anemia pada ibu hamil adalah berbagai

macam komplikasi terhadap ibu, berupa gangguan saat kehamilan (kenaikan berat

badan gestasi yang tidak adekuat, abortus, prematuritas); gangguan saat persalinan

(atonia uteri, partus lama, pendarahan); maupun gangguan saat masa nifas (rentan

terhadap infeksi dan stress akibat penurunan daya tahan tubuh, produksi ASI

rendah); hingga yang paling parah adalah mortalitas (Viteri, 2004).


Sedangkan akibat yang ditimbulkan pada janin adalah terjadi imaturitas,

prematuritas, berat badan lahir rendah, maupun malnutrisi ataupun malformasi

pada bayi yang dilahirkan (Viteri, 2004).


Komplikasi dari anemia Ibu hamil yang sering terjadi dan memiliki prognosis

buruk adalah lahirnya bayi dengan berat badan lahir rendah. Allen (2000)
menunujukkan bahwa ada hubungan kadar Hb ibu hamil dengan berat badan lahir

bayi, dimana semakin tinggi kadar Hb ibu semakin tinggi berat badan bayi yang

dilahirkan. 4
Kejadian BBLR merupakan masalah kesehatan yang harus mendapatkan perhatian

serius karena dapat meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi. Bayi

dengan berat lahir rendah akan mempunyai resiko kematian 5-9 kali lebih tinggi

dibandingkan dengan bayi dengan berat lahir normal, serta merupakan penyebab

utama yang mendasari kematian bayi usia 0-1 bulan di Indonesia (Saraswati dan

Sumarno, 1998).
HIPEREMESIS GRAVIDARUM (HEG)
a. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga mengganggu

pekerjaan sehari-hari dan keaadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah

merupakan gangguan yang paling sering ditemui pada kehamilan trimester 1,

kurang lebih 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu.


b. Etiologi
Dipengaruhi beberapa factor, yaitu;
1. Faktor predisposisi seperti primigravida (kehamilan pertama), mola

hidatidosa, dan kehamilan ganda


2. Faktor organic seperti alergi masuknya vili khorialis dalam sirkulasi,

perubahan metabolic akibat kehamilan, resistensi ibu yang menurun


3. Faktor psikologis
c. Patofisiologi
Secara fisiologis, rasa mual terjadi akibat kadar estrogen yang meningkat dalam

darah sehingga mempengaruhi sistem pencernaan, tetapi mual muntah yang terjadi

terus menerus dapat mengakibatkan dehidrasi, hyponatremia, hipokloromia serta

penurunan klorida urine yang selanjutnya mengakibatkan hemokonsentrasi yang

mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksik


Pemakaian cadangan karbohidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak

sempurna, sehingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang

belebihan selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput


lender esophagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss), sehingga

terjadi perdarahan gastrointestinal


d. Manifestasi Klinis
Berdasarkan berat ringannya gejala, hyperemesis gravidarum dibagi menjadi tiga

tingkatan, sebagai berikut;


1. Tingkat I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah,

penurunan nafsu makan, berat badan turun, dan nyeri epigastrium. Frekuensi nadi ibu

biasanya naik menjadi 100 kali/menit. Tekanan darah sistolik turun, turgor kulit

menurun, lidah kering, dan mata cekung.


2. Tingkat II
Ibu tampak lemah dan apatis, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu tubuh terkadang

naik, serta mata sedikit ikterik. Berat badan ibu turun, timbul hipotensi,

hemokonsentrasi, oligouria, konstipasi, dan nafas bau aseton


3. Tingkat III
Kesadaran ibu turun dari somnolen hingga koma, muntah berhenti, nadi cepat dan

kecil, suhu meningkat, serta tekanan darah semakin turun


e. Penatalaksanaan
Bila pencegahan tidak berhasil, diperlukan pengobatan dengan tahapan sebagai

berikut;
1. Ibu diisolasi di dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang

baik. Kalori diberikan secara parenteral dengan glukosa 5% dalam cairan

fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari


2. Diuresis selalu dikontrol untuk keseimbangan cairan
3. Bila selama 24 jam ibu tidak muntah, coba berikan makan dan minum sedikit

demi sedikit
4. Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital
5. Pada keadaan lebih berat, diberikan antiemetic seperti metoklopramid, disiklomin

hidroklorida atau klopromazin


6. Berikan terapi psikologis yang meyakinkan ibu bahwa penyakitnya bisa

disembuhkan serta menghilangkan perasaan takut akan kehamilan dan konflik

yang melatarbelakangi hyperemesis


3. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang

1. Pengkajian Ultrasonografi

Terdiri atas 2 jenis:

i. Transabdominal

ii. Endovagial

Pemeriksaan dengan menggunakan USG dapat diperoleh hasil seperti:

presentasi janin, jumlah janin, kondisi plasenta, jumlah cairan amnion, usia

kehamilan dan malformasi mayor, kelainan kongenital, mis craniospinal,

cardiothoracic, atresia gastrointestinal, kelainan sal kemih, dan skeletal

Fungsi USG Trimester I untuk mendapat info:

Lokasi, ada/ tidak kantung gestasi Panjang crown-rump

Identifikasi embrio atau janin Evaluasi struktur uterus dan

Jumlah janin adneksa

Ada/ tidak aktifitas jantung janin

tanda-tanda kehidupan

Fungsi USG Trimester II untuk mendapatkan informasi seperti: diameter

biparietal, panjang femur, dan lingkar abdomen dan kepala usia kehamilan dan berat

janin; kelainan janin, presentasi janin, estimasi jumlah cairan amnion

Fungsi USG Timester III untuk mendapatkan informasi seperti: usia

kehamilan dan berat janin, letak plasenta, presentasi janin

a. Pengkajian Denyut Jantung Janin


Menggunakan alat Cardiotocography (CTG) yang terdiri atas transducer

denyut jantung janin dan kontraksi uterus:

Kardiografi: pemeriksaan denyut jantung janin dan perubahan-perubahan

Tokografi: pemeriksaan aktivitas uterus dan atau gerakan janin

Indikasi:

Variasi denyut jantung janin

(Auskultasi) Resiko terjadinya insufiensi utero

Cairan amnion mengandung plasenta (misal PIH, postmatur)

mekonium

Induksi persalinan

Jenis CTG

1. Non Stress Test (NST)

2. Secara teori pergerakan janin seharusnya diikuti dengan akselerasi denyut jantung

janin, secara tidak langsung mengkaji fungsi dari respirasi plasenta dengan

mengamati denyut jantung janin serta pergerakan janin. Yang dinilai adalah frekuensi

dasar, variabilitas, dan timbulnya akselerasi denyut jantung janin akibat gerak janin

yang diukur selama minimal 20 menit.

Keuntungan NST adalah relatif cepat, tidak mahal, interpretasi mudah, bisa untuk

klien rawat jalan dan tidak ada efek samping

Kerugian: kadang sulit memperoleh jejak yang pas, klien harus dalam posisi

bersandar selama 20-30 menit dan janin mungkin tidur selama test
Indikasi pada klien: DM, PIH, IUGR , ketuban pecah dan lain-lain.

Interpretasi NST

Reaktif

o Gerak janin min 4x/ 20 menit

o Frekuensi dasar: 120-160 bpm

o Variabilitas jangka panjang 6-25 bpm

o Ada > 2 akselerasi 15 dpm atau lebih dalam 20 menit

Nonreaktif

o Gerak janin tidak ada dalam 20 menit atau tidak ada akselerasi saat janin

bergerak

o Frekuensi dasar: <120, >160

o Variabilitas < 2 bpm

o Gerak janin: < 4x/20 menit atau akselerasi , 10-15 bpm

o Frekuensi dasar: <120, >160 bpm

o Variabilitas: 2-6 bpm

3. Contraction Stress Test (CST)/ Oxytocin Challenge

Test (OCT) adalah tes pembebanan dengan stimulasi puting atau memberikan

oksitosin untuk mengukur respon janin terhadap kontraksi uterus dan mengevaluasi

perfusi plasenta dan mengevaluasi fungsi pernapasan (O2 dan CO2) plasenta. Yang

dinilai adalah frekuensi dasar, variabilitas dan perub periodik denyut jantung janin

akibat kontraksi uterus.


Indikasi: untuk kehamilan berisiko insufisiensi plasenta atau kelainan janin yang

berhubungan dengan:

o IUGR, DM, Postmatur

o NST non reaktif

o Abnormal/ suspect BPP (biophysical profile: pengkajian 5 variabel janin:

gerak napas volume amnion

gerak tubuh reaktivitas denyut

tonus jantung janin


Kontra Indikasi:

o Perdarahan trimester III

o Bekas SC dengan insisi klasik

o Kejadian yang meningkatkan risiko persalinan prematur: PROM,

Incompetent cervix

4. Pemeriksaan Laboratorium

5. Cairan Amnion

- Feto Protein (AFP) merupakan protein sirkulasi utama janin di usia

awal, level puncak pada usia gestasi 13 minggu, setelah itu menurun.

Peningkatan AFP dihubungkan dengan NTD (Neural Tube Defect) dan

kelainan kongenital lainnya

Bilirubin dapat mendeteksi cairan amnion, digunakan untuk evaluasi

penyakit hemolisis fetal

Creatinin

Indeks pulmonar test kematangan paru, Ratio:

o Lesitin(L) + Spingomyelin(S) = Surfaktan

o L/S: 30-32 minggu = 1:1

o >35 minggu = 2:1

meconium

6. Pemeriksaan lainnya

a. Amniosentesis
Akurat 99% mendiagnosis Down Syndrome dan banyak kelainan

lain termasuk neural tube defects (NTD) seperti spina bifida.

Amniosentesis dapat digunakan untuk menemukan 400 kelainan genetik

spesifik, juga termasuk kelainan mutasi single-gene seperti gangguan

darah beta-thalassemia.

Amniocentesis biasanya dilakukan sejak usia gestasi 15 atau 16

minggu setelah konsepsi sampai < 20 minggu karena pada masa ini ada

cukup cairan amnion untuk diambil ( 20 cc) tanpa membahayakan janin.

Risiko abortus hanya 5%.

Variasi prosedur amniosentesis: testing sample darah yang diambil

dari umbilical cord. Akurasinya sama dalam mendiagnosis kelainan

kromosom besar.M

b. Chorionic villus sampling (CVS)

Biasanya dilakukan pada kehamilan 10 12 minggu. Sdengankan

amniosentesis dilakukan pada 15-18 minggu. Walaupun akurat

mendeteksi kelainan risiko abortus 2x lipat (sekitar 1 dari 100 ibu hamil

yang dilakukan CVS akan abortus, sdengankan amniosentesis 1 dari 200

400). Dokter yang melakukan harus berpengalaman untuk menurunkan

risiko.

Risiko lain: birth defects, rupture selaput ketuban, infeksi uterus

dan perdarahan pervagina.

c. Urine dan Darah Maternal


- Feto Protein (AFP)

Biaya tidak mahal dan tidak menimbulkan risiko abortus tetapi

hasilnya kurang reliable. Bila hasil (+), perlu diverifikasi dengan

amniosentesis. AFP adalah substansi yang normalnya diproduksi oleh

liver janin dan dibawa oleh sirkulasi darah, darah janin yang ada dalam

plasenta terbawa ke darah ibu.

AFP dan pemeriksaan kimiawi darah dapat diambil dari lengan ibu.

Nilai yang tidak normal rendah atau tinggi relatif terhadap fase

kehamilan ada kelainan genetik, seperti Down syndrome, neural tube

defects, kelainan dinding abdomen, trisomi 18.

Pemeriksaan AFP rutin dilakukan pada 14-20 minggu usia gestasi

dan usia kehamilan harus pasti.

Beberapa zat dalam darah maternal yang perlu ditest jg untuk

melengkapi AFP adalah HCG (human chorionic gonadotropin) dan

unconjugated estriol. Kombinasi prosedur test ini disebut Alpha-

fetoprotein Plus atau triple screening. Saat ini ditambah test inhibin

quadruple atau quad screening.

Estriol: nilai terendah

o Usia kehamilan 30 minggu:7 mgr/24 jam

o Usia kehamilan 40 minggu: 12 mgr/24 jamM

Ante Natal Care (ANC)

Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan

untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga

mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan

kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008). Menurut

Prawiroharjo (2005), pemeriksaan kehamilan merupakan pemeriksaan ibu

hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam

kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post

partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental. Kunjungan

Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter

sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan

pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan Antenatal Care

(ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi

ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan

diagnosis kehamilan intrauterine serta ada tidaknya masalah atau

komplikasi (Saifudin, 2005).

Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dan petugas

kesehatan yang memberikan pelayanan antenatal standar untuk

mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan tidak

mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang datang ke fasilitas

pelayanan, tetapi dapat sebaliknya, yaitu ibu hamil yang dikunjungi

petugas kesehatan di rumahnya atau di posyandu.20 Adapun jadwal


pemeriksaan kehamilan adalah9: 2.6.1. Minimal 1 kali pada trimester I

(sebelum 14 minggu) 2.6.2. Minimal 1 kali pada trimester II (antara

minggu 14-28)

Minimal 2 kali pada trimester III. (antara minggu 28-36 dan

sesudah minggu ke-36). Menurut depkes RI (2002) pemeriksaan

kehamilan berdasarkan kunjungan antenatal dibagi atas21 : a. Kunjungan

pertama (K1) Meliputi : (1). Identitas /biodata, (2). Riwayat kehamilan,

(3). Riwayat kebidanan, (4). Riwayat kesehatan, (5). Riwayat sosial

ekonomi, (6). pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan, (7).

Penyuluhan dan konsultasi.

Kunjungan keempat(K4) Meliputi : (1). Anamnesa

keluhan/masalah, (2). Pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan,

(3). Pemeriksaan psikologis, (4). Pemeriksaan laboratorium bila ada

indikasi/diperlukan, (5). Diagnosa akhir (kehamilan normal, terdapat

penyulit, terjadi komplikasi, atau tergolong kehamilan resiko tinggi), (6).

Sikap dan rencana tindakan (persiapan persalinan dan rujukan).

Kegiatan Pemeriksaan Kehamilan

Untuk menegakkan kehamilan dengan komplikasi pada ibu dan

janin adalah dengan cara :21,22 2.7.1. Anamnesis Kegiatan anamnesis

merupakan kegiatan yang perlu dilakukan dalam setiap kegiatan perawatan


kehamilan. Anamnesis berupa pertanyaan terarah yang ditujukan kepada

ibu hamil, untuk mengetahui keadaan ibu dan faktor resiko yang

dimilikinya. Pelaksanaan pelayanan antenatal perlu mengetahui makna dan

tujuan dari setiap pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan yang diajukan dalam anamnesis adalah : a. Keluhan

utama Keluhan utama adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan,

yang dirasakan dan dikemukan oleh ibu hamil kepada pemeriksa. b.

Identitas ibu. Identitas yang ditanyakan adalah nama ibu, nama suami,

alamat lengkap. c. Hal-hal yang berkaitan dengan fungsi reproduktif.

Pertanyaan ini meliputi hal-hal yang mungkin berkaitan dengan faktor

resiko, yaitu umur ibu, paritas, Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) lama

haid, siklus haid dan jenis kontrasepsi yang digunakan (kalau ibu tersebut

peserta KB). d. Hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan sekarang. Hal-

hal yang berkaitan dengan kehamilan sekarang yaitu berhubungan dengan

gerakan janin, hal-hal yang dirasakan akibat perkembangan kehamilan dan

penyimpangan dari normal (keadaan patologis). 2.7.2. Pemeriksaan fisik

diagnostik Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan lanjutan dari

anamnesis.

Berat badan, Lingkar Lengan Atas (LLA) dan tinggi badan. Berat ibu

semasa hamil harus bertambah rata-rata 0,3-0,5 Kg per minggu. Bila

dikaitkan dengan umur kehamilan, kenaikan berat badan selama hamil


muda 1 Kg, selanjutnya tiap trimester (II dan III) masing-masing

bertambah 5 Kg. Pada akhir kehamilan berat badan meningkat, maka perlu

difikirkan adanya resiko (bengkak, kehamilan kembar, anak besar). b.

Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan dan suhu tubuh. Tekanan darah

tinggi pada kehamilan merupakan resiko. Tekanan darah dikatakan tinggi

bila lebih dari 140/90 mmHg. Bila tekanan darah meningkat, yaitu sistolik

30 mmHg atau lebih diatas normal, dan/atau diastolic 15 mmHg atau lebih

diatas normal, kelainan ini dapat berlanjut menjadi preeklamsia dan

eklamsia kalau tidak ditangani dengan tepat. Nadi yang normal adalah

80/menit. Bila nadi lebih dari 120/ menit, maka hal ini menujukkan adanya

kelainan. Sesak nafas ditandai dengan frekwensi pernafasan yang

meningkat dan kesulitan bernafas serta rasa lelah. Bila hal ini timbul

setelah melakukan kerja fisik (berjalan, tugas sehari-hari), maka

kemungkinan terdapat penyakit jantung. Suhu tubuh ibu hamil lebih dari

37,50c dikatakan demam, berarti ada infeksi dalam kehamilan. Hal ini

merupakan penambahan beban bagi ibu dan harus dicari penyebabnya.

Adanya cacat tubuh Cacat tubuh misalnya cacat tulang belakang

yang berpengaruh terhadap kehamilan/persalinan, seperti kifosis, lordosis

dan scoliosis, perlu diperhatikan karena mungkin menyebabkan gangguan

pertumbuhan janin atau kesulitan dalam persalinan.

Pemeriksaan obstetrik Meliputi pemeriksaan luar, pemeriksaan

panggul dalam (pelvimetri), dan pemeriksaan diagnostik penunjang.


a. Pemeriksaan luar Dilakukan dengan perabaan perut. Tujuannya

adalah untuk memperkirakan umur kehamilan, taksiran berat janin

terhadap umur kehamilan, letak janin, turunnya bagian terendah janin dan

detak jantung janin.

b. Pemeriksaan panggul dalam (pelvimentri) Pemeriksaan panggul

dalam biasanya dilakukan sekali dalam kehamilan untuk mengetahui

panggul sempit, pintu atas penggul, pintu bawah panggul, dan kelainan

bentuk panggul. Biasanya dilakukan pada kehamilan 8 bulan atau lebih.

c. Pemeriksaan diagnostik penunjang Pemeriksaan diagnostik

penunjang yang penting dalam pemeriksaan kehamilan antara lain

:Pemeriksaan Hb, pemeriksaan ini untuk menentukan kadar hemoglobin,

dan derajat anemia (bila ada). c.2. Pemeriksaan urin. Pemeriksaan ini

untuk mengetahui adanya protein dan glukosa dalam urin. c.3. Lain-lain

bila diperlukan.

4. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme mual, muntah,

nyeri ulu pada kehamilan

MEKANISME MUAL MUNTAH NYERI ULU HATI

Nyeri pada epigastrium pada kasus ini dapat diduga pada lambung.

Karena pada daerah epigastrium terdapat gaster (lambung), sebagian hepar,

dan colon tranversus. Organ yang paling berhubungan dengan kasus ini

adalah lambung. Hal ini dapat disebabkan oleh kadar HCl pada lambung

yang merangsang daerah - daerah peka nyeri di sekitar lambung.

Penyebab mual dan muntah pada ibu hamil masih didalami melalui

penelitian. Berbagai hipotesis telah diajukan, diantaranya adalah

berkenaan dengan hormon - hormon yang ada pada ibu hamil, terutama

pada usia trimester awal. Hormon hCG seperti pada gambar mengalami

peningkatan pada usia kehamilan 8 - 10 pekan. Seow dalam penelitiannya

menyatakan tentang pengaruh hormon hCG pada proses pengosongan

lambung melalui aktivasi reseptor CCK (Colecytokinin) dan hipersekresi

CCK yang menyebabkan penurunan motilitas lambung.


Hipotesis lain mengenai hormon progesteron. Hormon progesteron

juga menurunkan laju pengosongan lambung dan usus. Sehingga lambung

terasa penuh dan dapat menyebabkan mual.

Selain itu, hormon estrogen juga memiliki andil pada saluran

gastrointestinal. Estrogen bekerja berlawanan dengan progesteron.

Estrogen memacu peningkatan motilitas usus dan mempercepat

pengosongan lambung. Namun, estrogen memicu peningkatan histamin-2

yang memacu peningkatan ekskresi asam lambung.

5. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan kehamilan

tiap trimester

Perubahan Fisik Selama Kehamilan

Sistem Reproduksi

a.Trimester 1

Terdapat tanda Chadwick, yaitu perubahan warna pada vulva,

vagina dan serviks menjadi lebihmerah agak kebiruan/keunguan. pH vulva

dan vagina mengalami peningkatan dari 4 menjadi 6,5 yang membuat

wanita hamil lebih rentan terhadap infeksi vagina.Tanda Goodellyaitu

perubahan konsistensi serviks menjadi lebih lunak dan kenyal.


Pembesaran dan penebalan uterus disebabkan adanya peningkatan

vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah,hyperplasia & hipertropi otot,

dan perkembangan desidua. Dinding-dinding otot menjadi kuat dan

elastis, fundus pada serviks mudah fleksi disebut tanda Mc Donald. Pada

kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek dan pada

kehamilan12 minggu kira-kira sebesar telur angsa. Pada minggu-

minggu pertama, terjadi hipertrofi pada istmus uterimembuat istmus

menjadi panjang dan lebih lunak yang disebut tanda Hegar. Sejak trimester

satu

kehamilan, uterus juga mengalami kontraksi yang tidak teratur dan

umumnya tidak nyeri.

Proses ovulasi pada ovarium akan terhenti selama kehamilan.

Pematangan folikel baru juga ditunda. Tetapi pada awal kehamilan, masih

terdapat satu corpus luteum gravidarum yang menghasilkan hormon

estrogen dan progesteron. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7

minggu, kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk.

b.Trimester 2

Hormon estrogen dan progesteron terus meningkat dan terjadi

hipervaskularisasi mengakibatkan pembuluh-pembuluh darah alat

genetalia membesar. Peningkatan sensivitas ini dapat meningkatkan


keinginan dan bangkitan seksual, khususnya selama trimester dua

kehamilan.Peningkatan kongesti yang berat ditambah relaksasi dinding

pembuluh darah dan uterus dapat menyebabkan timbulnya edema

dan varises vulva. Edema dan varises ini biasanya membaik selama

periode pasca partum.

c.Trimester 3

Dinding vagina mengalami banyak perubahan sebagai persiapan

untuk persalinan yang seringnya melibatkan peregangan vagina.

Ketebalan mukosa bertambah, jaringan ikat mengendor,dan sel otot polos

mengalami hipertrofi. Juga terjadi peningkatan volume sekresi vagina

yang berwarna keputihan dan lebih kental.

Pada minggu-minggu akhir kehamilan, prostaglandin

mempengaruhi penurunan konsentrasi serabut kolagen pada serviks.

Serviks menjadi lunak dan lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan.

Istsmus uteri akan berkembang menjadi segmen bawah uterus pada

trimester akhir. Otot-otot uterus bagian atas akan berkontraksi sehingga

segmen bawah uterus akan melebar dan menipis, hal itu terjadi pada masa-

masa akhir kehamilan menjelang persalinan. Batas antara segmen atas

yang tebal dan segmen bawah yang tipis disebut lingkaran retraksi

fisiologis.
Payudara/ mammae

a.Trimester 1

Mammae akan membesar dan tegang akibat hormone

somatomamotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum

mengeluarkan ASI. Vena-vena di bawah kulit juga akan lebih terlihat.

Areola mammae akan bertambah besar pula dan kehitaman. Kelenjar

sebasea dari areola akan membesar dan cenderung menonjol keluar

dinamakan tuberkel Montgomery.

b.Trimester 2

Pada kehamilan12 minggu keatas dari puting susu dapat keluar

cairan kental kekuning-kuningan yangdisebut Kolustrum. Kolustrum ini

berasal dari asinus yang mulai bersekresi.selama trimester dua.

Pertumbuhan kelenjar mammae membuat ukuran payudara meningkat

secara progresif. Bila pertambahan ukuran tersebut sangat besar, dapat

timbul stria stria seperti pada abdomen. Walaupun perkembangan kelenjar

mammae secarafungsional lengkap pada pertengahan masa hamil, tetapi

laktasi terlambat sampai kadar estrogen menurun, yakni setelah janin dan

plasenta lahir.

c.Trimester 3
Pembentukan lobules dan alveoli memproduksi dan mensekresi

cairan yang kental kekuningan yang disebut Kolostrum. Pada trimester 3

aliran darah di dalamnya lambat dan payudara menjadi semakin besar.

Perubahan Hematologis

a.Trimester 1

Volume darah ibu meningkat secara nyata selama kehamilan.

Konsentrasi hemoglobin dan hematokrit sedikit menurun sejak trimester

awal kehamilan. Sedangkan konsentrasi dan kebutuhan zat besi selama

kehamilan juga cenderung meningkat untuk mencukupi kebutuhan janin.

b.Trimester 2

Peningkatan volume darah disebabkan oleh meningkatnya plasma

dan eritrosit. Terjadi hiperplasia eritroid sedang dalam sumsum tulang dan

peningkatan ringan pada hitung retikulosit. Hal ini disebabkan oleh

meningkatnya kadar eritropoetin plasma ibu setelah usia gestasi 20

minggu, sesuai dengan saat produksi eritrosit paling tinggi.

c.Trimester 3

Konsentrasi hematokrit dan hemoglobin yang sedikit menurun


selama kehamilan menyebabkan viskositas darah menurun pula.

Perlu 17 diperhatikan kadar hemoglobin ibu terutama pada masa akhir

kehamilan, bila konsentrasi Hb < 11,0 g/dl, hal itu dianggap abnormal dan

biasanya disebabkan oleh defisiensi besi.

Sistem Kardiovaskuler

a.Trimester 1

Perubahan terpenting pada fungsi jantung terjadi pada 8 minggu

pertama kehamilan. Pada awal minggu kelima curah jantung mengalami

peningkatan yang merupakan fungsi dari penurunan resistensi vaskuler

sistemik serta peningkatan frekuensi denyut jantung. Preload meningkat

sebagai akibat bertambahnya volume plasma yang terjadi pada minggu ke

10-20.

b.Trimester 2

Sejak pertengahan kehamilan, pembesaran uterus akan menekan

vena cava inferior dan aorta bawah saat ibu berada pada posisi terlentang.

Hal itu akan berdampak pada pengurangan darah balik vena ke jantung

hingga terjadi penurunan preload dan cardiac output yang kemudian dapat

menyebabkan hipotensi arterial.

c.Trimester 3
Selama trimester terakhir, kelanjutan penekanan aorta pada

pembesaran uterus juga akan mengurangi aliran darah uteroplasenta ke

ginjal. Pada posisi terlentang ini akan membuat fungsi ginjal

menurun jika dibandingkan dengan posisi miring.

Sistem pernafasan

a.Trimester 1

Kesadaran untuk mengambil nafas sering meningkat pada awal

kehamilan yang mungkin diinterpretasikan sebagai dispneu. Hal itu

sering mengesankan adanya kelainan paru atau jantung padahal

sebenarnya tidak ada apa-apa. Peningkatan usaha nafas selama kehamilan

kemungkinan diinduksi terutama oleh progesteron dan sisanya oleh

estrogen. Usaha nafas yang meningkat tersebut mengakibatkan PCO atau

tekanan karbokdioksida berkurang.

b.Trimester 2

Selama kehamilan, sirkumferensia thorax akan bertambah

kurang lebih 6cm dan diafragma akan naik kurang lebih 4 cm

karena penekanan uterus pada rongga abdomen. Pada kehamilan


lanjut, volume tidal, volume ventilasi per menit, dan pengambilan

oksigen per menit akan bertambah secara signifikan.

c.Trimester 3

Pergerakan difragma semakin terbatas seiring pertambahan ukuran

uterus dalam rongga abdomen. Setelah minggu ke 30, peningkatan volume

tidal, volume ventilasi per menit, dan pengambilan oksigen per menit akan

mencapai puncaknya pada minggu ke 37. Wanita hamil akan bernafas

lebih dalam sehingga memungkinkan pencampuran gas meningkat dan

konsumsi oksigen meningkat 20%. Diperkirakan efek ini disebabkan oleh

meningkatnya sekresi progesteron.

Sistem Urinaria

a.Trimester 1

Pada bulan-bulan awal kehamilan, vesika urinaria tertekan oleh

uterus sehingga sering timbul keinginan berkemih. Hal itu menghilang

seiring usia kehamilan karena uterus yang telah membesar keluar dari

rongga pelvis dan naik ke abdomen. Ukuran ginjal sedikit bertambah besar

selama kehamilan. Laju filtrasi glomerulus (GFR) dan aliran plasma ginjal

(RPF) meningkat pada awal kehamilan.

b.Trimester 2
Uterus yang membesar mulai keluar dari rongga pelvis sehingga

penekanan pada vesica urinaria pun berkurang. Selain itu, adanya

peningkatan vaskularisasi dari vesica urinaria menyebabkan mukosanya

hiperemia dan menjadi mudah berdarah bila terluka.

c.Trimester 3

Pada akhir kehamilan, kepala janin mulai turun ke pintu atas

panggul menyebabkan penekanan uterus pada vesica urinaria. Keluhan

sering berkemih pun dapat muncul kembali. Selain itu, terjadi peningkatan

sirkulasi darah di ginjal yang kemudian berpengaruh pada peningkatan laju

filtrasi glomerulus dan renal plasma flow sehingga timbul gejala poliuria.

Pada ekskresi akan dijumpai kadar asam amino dan vitamin yang larut air

lebih banyak.

Sistem Muskuloskeletal

a.Trimester 1

Pada trimester pertama tidak banyak perubahan pada

musuloskeletal. Akibat peningkatan kadar hormone estrogen dan

progesterone, terjadi relaksasi dari jaringan ikat, kartilago dan ligament

juga meningkatkan jumlah cairan synovial. Bersamaan dua keadaan

tersebut meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas persendian.


Keseimbangan kadar kalsium selama kehamilan biasanya normal apabila

asupan nutrisinya khususnya produk terpenuhi.

b.Trimester 2

Tidak seperti pada trimester 1, selama trimester 2 ini mobilitas

persendian sedikit berkurang. Hal ini dipicu oleh peningkatan retensi

cairan pada connective tissue, terutama di daerah siku dan pergelangan

tangan.

c.Trimester 3

Akibar pembesaran uterus ke posisi anterior, umumnya wanita

hamil memiliki bentuk punggung cenderung lordosis. Sendi sacroiliaca,

sacrococcigis, dan pubis akan meningkat mobilitasnya diperkirakan karena

pengaruh hormonal. Mobilitas tersebut dapat mengakibatkan perubahan

sikap pada wanita hamil dan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada

bagian bawah punggung.

Sistem Pencernaan

a.Trimester 1

Timbulnya rasa tidak enak di ulu hati disebabkan karena perubahan

posisi lambung dan aliran asam lambung ke esophagus bagian bawah.

Produksi asam lambung menurun. Sering terjadi nausea dan muntah


karena pengaruh human Chorionic Gonadotropin (HCG), tonus otot-otot

traktus digestivus juga berkurang. Saliva atau pengeluaran air liur

berlebihan dari biasa. Pada beberapa wanita ditemukan adanya ngidam

makanan yang mungkin berkaitan dengan persepsi individu wanita

tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual.

b.Trimester 2

Seiring dengan pembesaran uterus, lambung dan usus akan

tergeser. Demikian juga dengan organ lain seperti appendiks yang akan

bergeser ke arah atas dan lateral. Perubahan lainnya akan lebih bermakna

pada kehamilan trimester 3.

c.Trimester 3

Perubahan yang paling nyata adalah adanya penurunan motilitas

otot polos pada organ digestif dan penurunan sekresi asam lambung.

Akibatnya, tonus sphincter esofagus bagian bawah menurun dan dapat

menyebabkan refluks dari lambung ke esofagus sehingga menimbulkan

keluhan seperti heartburn. Penurunan motilitas usus juga memungkinkan

penyerapan nutrisi lebih banyak, tetapi dapat muncul juga keluhan seperti

konstipasi. Sedangkan mual dapat terjadi akibat penurunan asam lambung.

Sistem Persarafan
a.Trimester 1

Wanita hamil sering melaporkan adanya masalah pemusatan

perhatian, konsentrasi dan memori selama kehamilandan masa nifas

awal. Namun, penelitian yang sistematis tentang memori pada

kehamilan tidak terbatas dan seringkali bersifat anekdot.

b.Trimester 2

Sejak awal usia gestasi 12 minggu, dan terus berlanjut hingga 2

bulan pertama pascapartum, wanita mengalami kesulitan untuk mulai tidur,

sering terbangun, jam tidur malam yang lebih sedikit serta efisiensi tidur

yang berkurang.

c.Trimester 3

Penelitian Keenan dkk (1978) menemukan adanya penurunan

memori terkait kehamilan yang terbatas pada trimester tiga.

Penurunan ini

disebabkan oleh depresi, kecemasan, kurang tidur atau perubahan

fisik lain yang dikaitkan dengan kehamilan. Penurunan memori yang

diketahui hanyalah sementara dan cepat pulih setelah kelahiran.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Pada skenario ini, didapatkan pasien dengan riwayat abortus dan

Hiper Emesis Gravidarum (HEG), namun HEG yang diderita pasien masih

pada tingkat I. Dokter merencanakan pasien untuk dirawat inap dengan

pemberian terapi konservatif dan eduk waktu kontrol terkait

kehamilannya, dokter melakukan ini untuk mencegah terjadinya abortus,

sembari mengobati HEG pada pasien. Abortus yang dialami pasien adalah

Abortus Iminen dimana terdapat perdarahan namun hasil USG masih

dalam batas normal. HEG masih pada tingkat I karena pemeriksaan vital

sign pada pasien masih dalam batas normal, namun harus ditangani agar
tidak terjadi dehidrasi yang nantinya dapat menyebabkan timbul gejala-

gejala yang tidak diinginkan

SARAN

Kami sebagai mahasiswa seharusnya bisa mendiskusikan tentang

skenario ini lebih dalam lagi, juga ada beberapa topik yang tidak kami

perdalam, seperti apa itu Puskesmas PONED, Puskesmas PONEK, dan

lainnya.

Diharapkan dengan skenario ini, kami sebagai mahasiswa dapat

memahami Blok Reproduksi dan nantinya dapat diterapkan di klinis.

Untuk tutor pembimbing, tutor pembimbing sudah baik, kompeten,

dapat mengarahkan mahasiswa utuk menuju learning objective yang

hendak dicapai serta memberikan masukan- masukan kekurangan dalam

diskusi. Tutor pembimbing juga mampu memberi dorongan kepada para

mahasiswa untuk saling berpartisipasi dalam jalannya.


















DAFTAR PUSTAKA

Amin, Z., Bahar, A. (2006). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV.

Jakarta : Fakultas Kedokteran FK UI


Amiruddin. (2007). Asupan Gizi Pada Ibu Hamil.

http://www.scribd.com/doc/4781053/makalah-anemia-bumil

[Diakses pada 23 Februari 2017]


Anonim. (2004). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kehamilan.

Jakarta: http://situs,kesrepro.info/kia/des/2004/kia01.htm [Diakses

pada 23 Februari 2017]


Cunningham, F.G., Leveno, K.J., Bloom, S.L., Hauth, J.C., Gilstrap

III, L., and Wenstrom, K.D.(2005). Williams Obstetrics. 22nd ed.

United States of America: The McGraw-Hill Companies, Inc.


Cunningham, F.G., Leveno, K.J., Bloom, S.L., Hauth, J.C., Gilstrap

III, L., and


Departeman Kesehatan. (2008). Profil Kesehatan Indonesia 2008.
Dulay, A.T.(2010). Spontaneous Abortion (Miscarriage), The Merck

Manuals Online Medical Library. Available from:

http://www.merckmanuals.com/professional/sec18/ch263/ch263m.ht

ml. [Diakses pada 23 Februari 2016].


Griebel, C.P., Halvorsen, J., Golemon, T.B., and Day, A.A.(2005).

Management of Spontaneous Abortion. American Family Physician

72 (7): 1243-1250.
Hudono, S.T.(2007). Penyakit Darah. Dalam : Prawirohardjo, S.,

Hanifa, W., Abdul B.S., Trijatmo, R. eds. Ilmu Kebidanan. Edisi

Ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Kavle A Justin, Rebecca J. Stolztus, Water Frank, James M Tielsch,

Sabra S. Kalfat, Laura Ranfield E., (2008). Assosiation between

Anaemia during Pregnancy and Blood Loos at after Delivery Among

Women With Vaginal Births In Pemba, Island, Zanzibar, Tanzania ;

2008 Journal List JpopulNutr w 26 (2) Juni. Available from ;

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3061267/
Kiwi, R.(2006). Recurrent Pregnancy Loss: Evaluation and

Discussion of the Causes and Their Management. Cleveland Clinic

Journal of Medicine 73 (10):913-921.


Kleinhaus, K., Perrin, M., Friedlander, Y., Paltiel, O., Malaspina, D.,

and Harlap, S.(2006). Paternal Age and Spontaneous Abortion.

American College of Obstetricians and Gynecologist 108 (2): 369-

377.
Lebedev, I.N., Ostroverkhova, N.V., Nikitina, T.V., Sukhanova, N.N.,

and Nazarenko, S.A., (2004). Features of Chromosomal

Abnormalities In Spontaneous Abortion Cell Culture Failures

Detected by Interphase FISH Analysis. European Journal of Human

Genetics 12: 513-520.


Lubis, Zulhaida. (2003). Status Gizi Ibu Hamil seta Pengaruhnya

terhadap Bayiyang Dilahirkan.

http://tumoutou.net/zulhaida)lubis.html [Diakses pada 23 Februari

2017]
Mansjoer, A., dkk. (2008). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta :

Media Acsulapius
Manuaba, IBG. (2010). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan

KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta : EGC


Mardliyanti, E.(2006). Fortifikasi Garam dan Zat Besi, Srategi

Praktis dan Efektif Mennaggulangi Anemia Gizi Besi.

http://www.beritaiptek.com [Diakses pada 23 Februari 2017]


Mochtar, R.(1998). Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan. In

Lutan, D., ed.Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri

Patologi. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, 209-15.


Prawirohardjo, Sarwono.(2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo


Proverawati dan Asfuah.(2009). Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan.

Yogyakarta : Nuha Medika


Saifudin, dkk. (2007). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.

Jakarta : YBP-SP
Sastrawinata, S., Martaadisoebrata, D., and Wirakusumah, F.F.

(2005). Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. 2nd ed.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Smith, J.R. (2012). Postpatum Hemorrhage. Department of

Obstetrics and Gynecology and Diagnostic Imaging. Medscape


Wenstrom, K.D. (2005). Williams Obstetrics. 22nd ed. United States

of
Wiknjosastro, Hanifa.(2007). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo