Anda di halaman 1dari 19

RANCANG BANGUN PROTOTYPE ALAT PRODUKSI GAS HIDROGEN

MELALUI REAKSI LOGAM ALUMINIUM DENGAN LARUTAN


ALKALI (PENGARUH TEGANGAN DAN KUAT ARUS TERHADAP
PRODUKSI GAS HIDROGEN)
(PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASKORBAT TERHADAP
PENYERAPAN O2)

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma IV


Jurusan Teknik Kimia Program Studi Teknik Energi
Politeknik Negeri Sriwijaya

OLEH :
Daya Wulandari
0613 4041 1508

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2017
1. Judul Penelitian
Rancang Bangun Prototype Alat Produksi Gas Hidrogen melalui Reaksi
Logam Aluminium dengan Larutan Alkali (Pengaruh Konsentrasi Asam
Askorbat Terhadap Penyerapan O2)

2. Pendahuluan
Menurut ESDM, Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan
(EBT) yang cukup besar diantaranya, energi mikrohidro sebesar 450 MW,
biomassa 50 GW, energi surya 4,80 kWh, dan energi nuklir 3 GW.
Pemerintah telah memberikan investasi untuk pengembangan EBT sampai
tahun 2025 yang diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.
Bersamaan dengan pencarian sumber energi terbarukan untuk jangka
panjang, diperlukan juga sumber energi yang ramah secara lingkungan. Salah
satu kandidat dan sangat menjanjikan sebagai solusi sumber energi untuk
masa depan adalah Hidrogen (H2).(Rostrup Nielsen, 2002, Nishiguchi etal,
2005).
Bahan bakar hidrogen adalah salah satu alternatif yang menjanjikan
perubahan ke arah teknologi bersih namun untuk merealisasikan bahan bakar
sebagai teknologi yang ekonomis di masa yang akan datang masih
menghadapi banyak tantangan. Tantangan yang paling utama di antaranya
ketersediaan bahan bakar hidrogen, masa pakai dan harga. Hambatan
penyediaan hidrogen berhubungan dengan keamanan penyimpanan dan
distribusi. Sedangkan teknologi ini masih mahal disebabkan harga platina
yang selama ini digunakan sebagai katalis sangat mahal dan ketersediannya
terbatas. Platina sampai saat ini masih digunakan sebagai anoda dan katoda
karena beberapa alasan yaitu aktivitas tinggi, stabilitas pada kondisi asam
tinggi dan merupakan logam yang paling aktif di antara logam mulia yang
lain seperti (Au, Ag, Pd, Ru). Kelemahan platina di samping mahal mudah
terdeaktivasi oleh CO.
Metode produksi hidrogen dari air meliputi proses elektrolisis (Zhang et
al, 2010) disosiasi termal dengan bantuan katalis (Balachandran & Doris,
2007), auto elektrolisis (Kundu et al, 2010), alkalin (Wang et al, 2009), dan
biopotolisis dengan bantuan mikroalga (Krtay, 2011). Metode produksi
hidrogen dari biomasa meliputi metode biologi (Claassen et al, 2010) dan
secara kimia (Krtay, 2011). Proses produksi hidrogen dari bahan bakar fosil
meliputi proses oksidasi parsial minyak berat dibantu katalis, oksidasi parsial
napta, metana (Evdou et al, 2010), metanol ( Eswaramoorthi et al, 2006),
steam reforming metanol (Penkova et al, 2011) dan gasifikasi batu bara
(Evdou et al, 2010). Secara kimiawi dapat melalui elektrolisis seperti yang
dilaporkan oleh Domen & Maeda 2006 dengan produksi hidrogen melalui
elektrolisis air dengan reaksi fotokatalisis oksinitrida. Produksi hidrogen lain
misalnya melalui dekomposisi metanol dengan katalis Pt/Al2O3 (Brown &
Gulari 2004).
Elektrolisis air alkali adalah salah satu metode paling mudah untuk
memproduksi gas hidrogen. Elektrolisi air alkali dikombinasikan dengan
energi terbarukan bisa diintegrasikan ke dalam sistem distribusi energi
dengan memproduksi hidrogen untuk penggunaan akhir dan sebagai media
penyimpanan energi. Dibandingkan dengan metode lainnya produksi
hydrogen, elektrolisis air alkali lebih sederhana namun saat ini kurang efisien.
Tantangan untuk meluasnya penggunaan elektrolisis air terletak pada daya
tahan dan keamanan. kerugian ini membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk
upaya pembangunan.Tahanan gelembung disarankan dikurangi dengan
memodifikasi elektroda dan elektrolit aditif. Reaksi overpotential dapat
dioptimalkan dengan persiapan dan pemilihan bahan elektroda (Kai Zeng,
Dongke Zhang 2009).
Aluminium umumnya mempunyai sifat ketahanan terhadap korosi yang
tinggi sehingga sulit terkorosi, namun seperti halnya logam yang lain
aluminium tetap dapat terkorosi dengan kondisi tertentu. Salah satu limbah
yang banyak ditemukan di lingkungan adalah limbah kaleng aluminium.
Proses daur ulang yang akan dilakukan dapat menghemat energi dan
eksploitasi sumber daya alam sekaligus mengurangi timbunan sampah di
TPA (Pahlano, 2007).
Berdasarkan penelitian sebelumnya, Gas hidrogen yang dihasilkan dari
limbah aluminium sangat ramah lingkungan karena produk sampingnya
adalah air dan bahan kimia (aluminum oksida (Al 2O3) dan aluminum
hidroksida Al(OH)3 yang dibutuhkan dalam industri pemurnian air dan
industri kertas serta alat-alat elektronik (Kulakov & Ross 2007).
Bahan untuk memproduksi gas hidrogen. Materi yang terdiri dari paduan
aluminium yang terdiri dasarnya 5 sampai 50% timah. pengungkapan
mengajarkan bahwa materi yang memproduksi hidrogen bereaksi dengan air
bahkan pada suhu kamar dan menghasilkan gas hidrogen Dengan kemurnian
99,4% ( US. Paten. No 4.752.463, 1988).
US. Paten. No 5.867.978 dikeluarkan pada 9 Februari 1999 oleh
M.Klanchar et al. Dokumen ini mengungkapkan produksi gas hidrogen
dengan menggunakan bahan baku dari kelompok yang terdiri dari lithium,
paduan lithium dan aluminium. Bahan bakar gas hidrogen diperoleh dengan
cara mencairkan dan mencampurkan bahan baku tersebut dengan air untuk
menghasilkan gas hidrogen.
Berdasarkan metode diatas, maka akan dikembangan metode untuk
menghasilkan gas hidrogen yang lebih aman dan efisien dengan
memanfaatkan limbah aluminium dengan bantuan katalis larutan alkali.
Produksi gas hidrogen melalui metode ini dapat mengurangi limbah di
lingkungan sekitar dan menghasilkan energi yang mudah dikonversikan
menjadi bahan bakar serta dapat memproduksi produk samping berupa tawas
(Al2(SO4)).

3. Rumusan Masalah
Metode yang akan dikembangkan adalah metode yang dapat
memproduksi gas hidrogen yang aman dan efisien dengan memanfaatkan
limbah alumium dengan bantuan katalis berupa larutan alkali yaitu KOH .
Gas hidrogen diproduksi dengan cara melarutkan padatan KOH dalam air,
kemudian ditambahkan serbuk logam aluminium. Pemakaian KOH sebagai
katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi pembentukan gas hidrogen.
Sedangkan logam aluminium digunakan karena memiliki sifat amfoterik, jika
bereaksi dengan basa membentuk aluminat dan gas hidrogen. Oleh sebab itu
dilakukan penelitian bagaimanakah pengaruh banyaknya aluminium yang
digunakan terhadap produksi gas hidrogen yang dihasilkan serta bagaimana
pengaruh konsentrasi larutan alkali (KOH) terhadap waktu reaksi
pembentukan gas hidrogen.

4. Tinjauan Pustaka
4.1 Hidrogen
Hidrogen adalah unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki
simbol H dan nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak
berwarna, tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal, dan
merupakan gas diatomik yang sangat mudah terbakar.
Hidrogen adalah unsur paling melimpah dengan persentase kira-kira 75%
dari total massa unsur alam semesta. Senyawa hidrogen relatif langka dan
jarang dijumpai secara alami di bumi, dan biasanya dihasilkan secara industri
dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana. Unsur ini ditemukan
dalam kelimpahan yang besar di bintang-bintang dan planet-planet gas
raksasa. Di seluruh alam semesta ini, hidrogen kebanyakan ditemukan dalam
keadaan atomik danplasma yang sifatnya berbeda dengan molekul hidrogen.
Sebagai plasma, elektron hidrogen dan proton terikat bersama, dan
menghasilkan konduktivitas elektrik yang sangat tinggi dan daya pancar yang
tinggi (menghasilkan cahaya dari matahari dan bintang lain ).

- Karakteristik Gas Hidrogen

Hidrogen adalah gas ringan (lebih ringan dari udara), tidak berwarna dan
tidak berbau. Jika terbakar tidak menunjukkan adanya nyala dan akan
menghasilkan panas yang sangat tinggi .Gambar 5 adalah karakteristik gas
hidrogen dalam kontek adanya tambahan energy dari luar terhadap campuran
udara (prosentase volume).

Tabel 1. Sifat Fisik Gas Hidrogen


Parameter Keterangan
Titik lebur -259,140C
Titik didih -252,87 0C
Warna tidak berwarna
Bau tidak berbau
Densitas 0,08988 g/cm3 pada 293 K
Kapasitas panas 14,304 J/g0K
( Sumber; http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen,2017 )

4.2 Aluminium
Aluminium termasuk unsur yang banyak terdapat di kulit bumi.
Umumnya aluminium ditemukan bergabung dengan silikon dan oksigen,
seperti dalam alumininosilikat, yang terdapat dalam karang sebagai granit dan
tanah liat. Logam aluminium berwarna putih, mengkilat, mempunyai titik
leleh tinggi yaitu sekitar 660C, moderat lunak dan lembek lemah jika dalam
keadaan murni, tetapi menjadi keras dan lunak jika dibuat paduan dengan
logam-logam lain. Densitasnya sangat ringan sebesar 2,73 g/cm 3. aluminium
merupakan konduktor panas dan konduktor listrik yang baik, namun sifat ini
lebih rendah dibandingkan dengan sifat konduktor tembaga. Atas dasar sifat-
sifat tersebut, logam aluminium sangat banyak manfaatnya. Dalam industri
rumah tangga, misalnya untuk peralatan masak/dapur, dalam induustri
makanan misalnya untuk pembungkus makanan, kaleng minuman,
pembugkus pasta gigi dan lain sebagainya. Reaksi alumunium dengan basa
menghasilkan gas hidrogen. Alumunium dapat menunjukkan sifat asamnya
jika direaksikan dengan basa seperti larutan NaOH.

2 Al (s) + OH- (aq) + 6 H2O (l) 2 [Al(OH)4]- (aq) +3 H2 (g)

4.3 Elektrolisis air


Elektrolisis air adalah peristiwa penguraian senyawa air (H2O) menjadi
oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik yang
melalui air tersebut. Pada katode, dua molekul air bereaksi dengan
menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H 2 dan ion hidrokida (OH-).
Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen
(O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+ dan
OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air.
Faktor yang mempengaruhi elektrolisis air :
a. Kualitas Elektrolit
b. Suhu
c. Tekanan
d. Resistansi Elektrolit
e. Material dari elektroda
f. Material pemisah

Gambar 1. Elektrolisis Air


Sumber : http://smart-pustaka./2013/02/elektrolisis-air.html

Beda potensial yang dihasilkan oleh arus listrik antara anoda dan katoda
akan mengionisasi molekul air menjadi ion positif dan ion negatif. Pada
katoda terdapat ion postif yang menyerap elektron dan menghasilkan molekul
ion H2, dan ion negatif akan bergerak menuju anoda untuk melepaskan
elektron dan menghasilkan molekul ion O 2. Reaksi total elektrolisis air adalah
penguraian air menjadi hidrogen dan oksigen. Bergantung pada jenis
elektrolit yang digunakan, reaksi setengah sel untuk elektrolit asam atau basa
dituliskan dalam dua cara yang berbeda.
Elektrolit asam, di anoda : H2O O2 + 2H+ + 2e-
di katoda : 2H+ + 2e- H2
total : H2O H2 + O2
Elektrolit basa, di katoda : 2H2O + 2e- H2 + 2OH-
di anoda : 2OH- O2 + H2O + 2e-
total : H2O H2 + O2
Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk
gelembung pada elektroda dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian
dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen yang dapat digunakan sebagai
bahan bakar kendaraan hydrogen. Dengan menyediakan energy dari baterai,
Air (H2O) dapat dipisahkan ke dalam molekul diatomik hidrogen (H2) dan
oksigen (O2).Gas yang dihasilkan dari proses elektrolisis air disebut gas
HHO atau oxyhydrogen atau disebut juga Browns Gas. Brown (1974), dalam
penelitiannya melakukan elektrolisa air murni sehingga menghasilkan gas
HHO yang dinamakan dan dipatenkan dengan nama Browns Gas. Untuk
memproduksi Browns Gas digunakan elektroliser untuk memecah molekul-
molekul air menjadi gas.

4.4 Kalium Hidroksida (KOH)


Kalium Hidroksida, biasa disebut potas api dengan rumus KOH.
Namalain Kalium Hidroksida yaitu Kaustik Kalium, Potash Alkali,
Potassia,Kalium Hidrat. Zat ini cepat menyerap karbon dioksida dan air dari
udara. KOH atau Kalium Hidroksida adalah basa kuat yang terbuat dari
logam alkali kalium yang bernomor atom 19 pada tabel periodik. Kalium
Hidroksida adalah senyawa berbentuk Kristal dengan warna putih yang
higroskopis. Untuk mendapatkan larutan KOH 10%, Kristal KOH atau
Kalium Hidroksida harus di larutakan terlebih dahulu.
Sifat-Sifat Umum Zat Kalium Hidroksida
a. Sifat Fisika
- Rumus molekul : KOH
- Berat molekul : 56,10564 gr/mol
- Titik lebur : 360C
- Titik didih : 1320C
- Densitas : 2,044 gr/cm 3 Hf
- Kristal : -114,96 kj/kmol
- Kapasitas panas (C) : 0,75 J/kmol
- Kelarutan (air) : 1109 g/L
- Bentuk : Padat tetapi dapat dibentuk menjadi butir,
stick.gumpalan dan serpih.
- Warna : Tidak berwarna (putih)
- Bau : Tak Berbau
- Kelarutan : larut dalam alkohol, gliserol, larut dalam
eter, cairan amonia
a. Sifat Kimia
1. Termasuk dalam golongan basa kuat
2. Reaktivitas: Hidroskopis, menyerap karbondioksida
3. Korosi : Dapat merusak logam-logam
4. Bereaksi dengan CO2 di udara membentuk K2CO3 dan air
5. Bereaksi dengan asam membentuk garam
6. Bereaksi dengan Al2O3 membentuk AlO2- yang larut dalam air
7. Bereaksi dengan halida (X) menghasilkan KOX dan asam halide
8. Bereaksi dengan trigliserida membentuk sabun dan gliserol
9. Bereaksi dengan ester membentuk garam dan senyawa alcohol
Kalium hidroksida adalah basa kuat yang terbuat dari logam alkali
kalium yang bernomor atom 19 pada tabel periodik. Berikut adalah beberapa
cara yang berguna dalam pembuatan garam kalium kebanyakan. Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan sendiri walaupun tidak hanya dilihat dari
sudut pandang komersial.

4.5 Mesin Otto


Mesin Otto atau Beau de Roches, merupakan mesin pengonversi energi
tak langsung, yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan
kemudian baru menjadi energi mekanis. Jadi energi kimia bahan bakar tidak
dikonversikan langsung menjadi energi mekanis. Bahan bakar standar motor
bensin adalah iso-oktan (C8H18). Efisiensi pengkonversian energinya berkisar
30% (t = 30%). Hal ini karena rugi-rugi 50% rugi panas, gesek/mekanis
dan pembakaran tak sempurna. Sistem kerja mesin Otto dibedakan atas mesin
Otto dua langkah (two stroke) dan empat langkah (four stroke). Mesin Otto
mempergunakan beberapa silinder yang didalamnya terdapat torak yang
bergerak translasi (bolak-balik). Didalam silinder itulah terjadi pembakaran
antara bahan bakar dengan oksigen dari udara. Gas pembakaran yang
dihasilkan oleh proses tersebut mampu menggerakan torak yang oleh batang
penghubung (batang penggerak) dihubungkan dengan poros engkol. Gerak
translasi torak tersebut menyebabkan gerak rotasi pada poros engkol dan
sebaliknya gerak rotasi poros engkol menimbulkan gerak translasi pada torak.
Mesin Otto juga dilengkapi dengan busi dan karbuator. Busi berfungsi
sebagai penghasil percikan bunga api yang akan menyalakan campuran udara
dengan bahan bakar, maka mesin Otto disebut juga sebagai spark ignition
engine. Sedangkan karburator merupakan tempat pencampuran udara dan
bahan bakar. Mesin bensin memiliki perbandingan kompresi sekitar 8 : 1
sampai 11 : 1 jauh lebih rendah dibandingkan dengan mesin diesel yang
memiliki perbandingan kompresi sekitar 12 : 1 hingga 24 : 1.
4.6 Daya
Besarnya torsi yang dihasilkan oleh suatu mesin dapat diukur
menggunakan dynamometer yang dikopel dengan poros output mesin. Oleh
karena itu, sifat dynamometer bertindak seolah-olah seperti sebuah rem dalam
sebuah mesin, maka daya yang dihasilkan poros output ini sering disebut
sebagai daya rem (Brake Power).
Daya dapat dihitung dengan rumus :
2. . N
PB = .
60

Dimana:
PB = Daya keluaran (Watt)
N = Putaran mesin (rpm)
= Torsi (N.m)

4.7 Konsumsi Bahan Bakar Spesifik


Konsumsi bahan bakar spesifik (specific fuel consumption,sfc) adalah
parameter unjuk kerja mesin yang berhubungan langsung dengan nilai
ekonomis sebuah mesin, karena dengan mengetahui hal ini dapat dihitung
jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah daya
dalam selang waktu tertentu. Bila daya rem dinyatakan dalam satuan kW dan
laju aliran massa bahan bakar (mf) dalam satuan kg/jam, maka :
mf .10 3
Sfc = PB

dimana:
Sfc = Konsumsi bahan bakar spesifik (g/kW.h).
mf = Laju aliran massa bahan bakar (kg/jam)
Besarnya laju aliran massa bahan bakar (mf) dihitung dengan
persamaan berikut:
f x V f x 106
mf = x 3600
tf

Dimana :
f = Massa jenis bahan bakar (kg/m3)
Vf = Volume bahan bakar yang diuji (mL)
tf = Waktu untuk menghabiskan bahan bakar sebanyak volume uji
(detik).

4.8 Efisiensi Volumetris


Jika sebuah mesin empat langkah dapat menghisap udara pada kondisi
isapnya sebanyak volume langkah toraknya untuk setiap langkah isapnya,
maka itu merupakan sesuatu yang ideal. Namun hal itu tidak terjadi dalam
keadaan sebenarnya, dimana massa udara yang dapat dialirkan selalu lebih
sedikit dari perhitungan teoritisnya. Penyebabnya antara lain tekanaan yang
hilang (losses) pada sistem induksi dan efek pemanasan yang mengurangi
kerapatan udara ketika memasuki silinder mesin. Efisiensi volumetrik (v)
dirumuskan dengan persamaan berikut:
v = ma / a x Vd
dimana:
ma = massa udara ketika masuk ke dalam silinder untuk satu siklus
a= kerapatan udara (kg/m3)
Vd= volume langkah torak (m3).
Diasumsikan udara sebagai gas ideal, sehingga massa jenis udara
dapat di peroleh dari persamaan berikut:
Pa
a = R.Ta

dimana :
R = konstanta gas (untuk udara= 287 J/kg.K)

4.9 Efisiensi Thermal Brake


Kerja berguna yang dihasilkan selalu lebih kecil dari pada energi yang di
bangkitkan piston karena sejumlah energi hilang akibat adanya kerugian
mekanis (mechanical losses). Dengan alasan ekonomis perlu dicari kerja
maksimum yang dapat dihasilkan dari pembakaran sejumlah bahan bakar.
Efisiensi ini sering disebut sebagai efisiensi termal brake (brake thermal
efficiency, b ) dengan rumus sebagai berikut :
W
b =
Q

Laju panas yang masuk Q, dapat dihitung dengan rumus berikut:


Qin = mf x QHV x c
mf = laju aliran bahan bakar (kg/h)
QHV = Nilai kalor bahan bakar (kJ/kg)
c = efisiensi pembakaran (dalam pengujian diambil 0,97)

4.10 Pembakaran Pada Mesin Otto


Pembakaran didefinisikan sebagai reaksi kimia yang mana oksidan
bereaksi cepat dengan bahan bakar untuk melepaskan energi panas. Pada
aplikasinya, oksidan pada pembakaran adalah oksigen pada udara. Tiga unsur
kimia utama dalam elemen mampu bakar (combustible) pada bahan bakar
adalah karbon (C) dan hidrogen (H), elemen mampu bakar yang lain namun
umumnya hanya sedikit terkandung dalam bahan bakar adalah sulfur (S).
Proses pembakaran dikatakan sempurna apabila semua karbon dibahan bakar
terbakar menjadi karbon dioksida, hidrogen terbakar menjadi sulfur dioksida,
jika kondisi teori pembakaran tidak memenuhi maka pembakaran tidak
sempurna. Nitrogen adalah gas lembam dan tidak berpartisipasi dalam
pembakaran. Selama proses pembakaran, butiran minyak bahan bakar
dipisahkan menjadi elemen komponennya yaitu hidrogen dan karbon dan
masing-masing bergabung dengan oksigen dari udara secarah terpisah.
Hidrogen bergabung dengan oksigen untuk membentuk air dan karbon
bergabung dengan oksigen menjadi karbon dioksida. Jika oksigen yang
tersedia tidak cukup, maka sebagian dari karbon akan bergabung dengan
oksigen dalam bentuk karbon monoksida. Pembentukan karbon monoksida
hanya menghasilkan 30% panas yang dibandingkan panas yang timbul oleh
pembentukan karbon dioksida.

4.11 Emisi Gas Buang


Selain bunyi mesin yang keras, polusi udara yang dihasilkan oleh gas
buang mesin bakar Otto merupakan gangguan yang membahayakan terhadap
lingkungan. Komponen-komponen gas buang yang membahayangkan itu
antara lain adalah hidrokarbon yang tidak terbakar (UHC), karbon monosikda
(CO) dan nitrogen oksida (NO dan NO 2). Hal yang disebut terakhir, NO dan
NO2 biasa dinyatakan dengan NOx. Namun jika dibandingkan dengan mesin
diesel, gas buang mesin Otto mengandung CO dan UHC yang lebih banyak
demikian juga kadar NO2 yang dihasilkan jika dibanding dengan NO.

4.12 Asam Askorbat


Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting
untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal
dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C
termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas,
cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai
antioksidan semakin sering dijumpai (Wikipedia, 2009).
Pada umumnya teknologi penyerapan oksigen menggunakan satu atau
lebih konsep berikut ini: oksidasi asam askorbat, oksidasi serbuk Fe, oksidasi
pewarna peka-cahaya, oksidasi enzimatik (misalnya enzim glukosaoksidase
dan alkoholoksidase), asam lemak tak jenuh (misalnya asam oleat atau
linolenat, dan ragi (yeast). Diantara bahan tambahan tersebut, asam askorbat
(vitamin C) di anggap yang paling luas penerimaannya oleh konsumen. Adapun
reaksi yang terjadi dengan asam L-askorbat adalah :
Asam L-askorbat + O2 asam dehidro L-askorbat + H2O
dengan bantuan enzim (oksidasi atau peroksidase). Artinya, keberadaan
asam L-askorbat aktif, O2 di dalam akan menurun karena digunakan untuk
mengoksidasi asam L-askorbat.

5. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian:
1. Memperoleh satu unit Rancang Bangun Kompor ACE (Aluminium
Corrosion and Electrolysis) sebagai
2. Mengevaluasi potensi aluminium dengan larutan Alkali untuk
produksi hidrogen
3. Dapat diperoleh produk samping tawas (Al2(SO4)) dari hasil produksi
gas hidrogen

6. Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian:
1. Bagi Peneliti
Memberikan solusi alternatif untuk konsumsi energi dalam kehidupan
sehari hari yaitu unit alat Produksi Gas Hidrogen Melalui Reaksi Logam
Aluminium dengan Larutan Alkali.
2. Bagi Masyarakat
Menghasilkan gas hidrogen yang dapat digunakan sebagai energi
alternatif.
3. Bagi Lembaga POLSRI
Dijadikan sebagai bahan studi kasus bagi pembaca dan acuan bagi
mahasiswa serta dapat memberikan bahan referensi bagi pihak
perpustakaan sebagai bahan bacaan yang dapat menambah ilmu
pengetahuan bagi pembaca dalam hal ini mahasiswa yang lainnya.

7. Metoda Penelitian
7.1 Pendekatan Desain Fungsional
Pada pendekatan rancangan Produksi gas Hidrogen yang dibuat terdapat
kegunaanya masing-masing. Unit Produksi gas Hidrogen terdiri dari
komponen utama sebagai berikut; Reaktor, Nozel, Valve, Aluminium, Larutan
Alkali, tuas pengatur dan tuas pembersih. Prinsip kerja unit produksi gas
hidrogen secara umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu ; bagian
input (masuknya larutan dan aluminium), bagian pencampuran Aluminium
dan larutan Alkali dengan temperatur lingkungan, bagian homogenisasi (zona
homogenisasi), bagian molten, bagian gas hydrogen.

7.2 Pendekatan Desain Struktural


Produksi gas hidrogen menggunakan alat reaktor. Pada reaktor terdapat
alat Intrumen pengukuran dan pembacaan: temperatur, tekanan, dan laju alir
Temperatur dalam reaktor. Tekanan dalam reaktor, dalam tabung bubbler
(suction compressor), discharge compressor, vessel storage. Laju alir : H2
output dan O2 output dari tabung bubbler, dan input dan output vessel storage
(flowmeter gas Helium dapat digunakan untuk H2, karena sama-sama
mempunyai berat molekul He (2) : H2 (2) gr/grmol, untuk flowmeter O2 ada
bolanya dan banyak di pasaran. Penempatan alat secara minimalis dan alat
bersifat portable (menggunakan roda). Panel kontrol : Voltage, Ampere,
switch AC to DC, saklar on/off. Sistem perkabelan tidak terlihat/tembus
kebagian belakang

Jumlah elektroda negatif menyesuaikan ketersediaan tempat pemasangan


3 (tiga) tabung bubbler diperuntukkan untuk ditempati liquid karenanya
konstruksi memungkinkan untuk pengisian dan pembuangan. Jumlah putaran
tembaga dan ukurannya bisa disesuaikan untuk dimungkinkannya gas H2
turun temperatur sesuai temperatur air pendingin. Bucket / Bak plastik yang
dapat dibuka tutup karena diperuntukkan untuk pengisian air pendingin secara
manual.
Storage H2 : penambahan safety valve jika diperlukan, baffle / rak
berlubang di dalam storage diperuntukkan untuk menempatkan material padat
sebagai absorben, disertakan lubang drain untuk jalur pembuangan, teknis
agar lebih mudah di lakukan pembersihan atau pergantian absorben (padat
maupun cair) saya minta pertimbangan dan serahkan ke Bapak.
Penambahan flashback arrestor pada pipa output storage H2, dan
pemasangan jack ataupun yang dapat memudahkan lepas/sambung ke engine
dan torch/nozzle gas H2 untuk pengelasan dan pemotongan logam.
Penambahan dan penempatan check valeve untuk keamanan proses,

7.2.1 Desain Alat Produksi Gas Hidrogen

Gambar 2.
7.3 Pertimbangan Percobaan
7.3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2017 di
Laboratorium Jurusan Teknik Kimia Program Studi Teknik Energi Politeknik
Negeri Sriwijaya.

7.3.2 Bahan Dan Alat


Bahan Yang Digunakan
Aluminium
KOH
Asam Askorbat
H2SO4
Alat Yang Digunakan
Separangkat Alat

7.3.3 Perlakukan dan Rancangan Percobaan


Dalam penelitian rancang bangun alat Alat Prototype Hidrogen &
Oksigen Generator, variabel penelitian yang akan diambil terdiri dari variabel
tetap dan tak tetap. Variabel tetap diantaranya adalah jenis elektrolit,
konsentrasi elektrolit, arus listrik, dan jenis elektroda serta bahan baku (air).
Sedangkan variabel tak tetapnya adalah jumlah lempeng elektroda.

7.5 Prosedur Percobaan


Adapun prosedur kerja dalam percobaan:

1. Tahap Persiapan
a) Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat
reaktor hidrogen.
b) Membuat kerangka luar reaktor dengan memotong plat.
c) Memasang pipa sebagai media pemisahan gas dan produk samping.

2. Tahap Pembuatan Tabung Penyimpanan (storage) gas


a) Menyiapkan 1 buah tabung acrylic (bening) sebagai tempat
penyimpanan gas sementara.
b) Menyusun tabung acrylic dengan posisi tegak.
c) Melubangi bagian atas tabung acrylic sebagai tempat keluaran gas
H2 dan O2 yang telah murni.
d) Menambahkan alat preasure gauge dan check gas pada pipa
penyambung yang diujungnya telah dipasang burner.

3. Prosedur Percobaan Prototype Produksi gas Hidrogen


a) Membuat larutan katalis (1,25 M H2SO4 sebanyak 12 liter).
b) Memasukkan larutan kedalam corong umpan sampai ke level pipa
transparan yang ada.
c) Memasukkan larutan yang tersisa kedalam tangki umpan.
d) Memasukkan limbah logam aluminium kedalam reaktor
e) Mencatat waktu yang diperlukan sampai semua logam aluminium
bereaksi dengan larutan katalis.
f) Membuka check valve gas Hidrogen pelan pelan.
g) Menghidupkan burner, api dapat menyala karena gas hidrogen dan
juga menguji oksigen yang ada.
h) Mengulang kembali percobaan yang ada dengan variasi jumlah
logam aluminium dan rasio konsentrai katalis.
DAFTAR PUSTAKA

Farid, R dkk. 2012. Perancangan dan Pembuatan Alat Pemproduksi Gas Brown
dengan Metode Elektrolisis Berskala Laboratorium Jurnal Teknik Pomits
Vol. 1, No.1, (2012) 1-4, diakses tanggal 3 Maret 2016.

Murjito, 2013. Rancang Bangun Electrolyzer System Dry Cell Untuk


Penghematan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Jurnal Jurusan Teknik
Mesin, Fakultas teknik, Universitas Muhammadiyah Malang Vol. 9, No.1,
(2013), diakses pada 3 Maret 2017.

Rusminto, T.W dkk. 2012. Proses Elektrolisis pada Prototipe Kompor Air
dengan Pengaturan Arus dan temperatur. http://repo.eepisits.edu/164/1/.
diakses tanggal 3 Maret 2017.

Saksono, Nelson. 2014. Produksi Hidrogen Melalui Metoda Elektrolisis Plasma


Pada Larutan KOH-Metanol Jurnal Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Indonesia

Sebastian, Otto. 2013. Analisa Efisiensi Elektrolisis Air dari Hydrofill Pada Sel
Bahan Bakar. Jurnal Dinamis, Volume II, No.12, Januari 2013, diakses
tanggal 1 Maret 2017.
Petrovic, John. George, Thomas. 2008. Reaction of Aluminium with Water to
Produce Hydrogen Jurnal U.S.Department of Energy, United States of
America, Diakses 30 Januari 2017.

Wahyu, Henggar.2013.Produksi Gas Hidrogen sebagai Bahan Bakar Alternatif


dengan Sistem Elektrolisis dan Termokimia. Jurnal Individual, 19
Desember 2013, http://4inorganic.blogspot.com/2013/12/review-jurnal-
produksi-gas-hidrogen.html diakses tanggal 2 Maret 2017.
Widodo, Soesiladi E. 2005. Bahan Penyerap KMnO4 dan Asam L-Askorbat
dalam Pengemasan Aktif Jurnal Laboratorium Hortikultura, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung, Diakses 1 Maret 2017.