Anda di halaman 1dari 18

I.

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media
sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan
atau pilek yang menyebar ket elinga tengah melalui tubaeustachius
(Kusuma, Hardi & Amin Huda Nurarif, 2013).
Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah stadium dari penyakit
telinga tengah dimana terjadi peradangan kronis dari telinga tengah, mastoid
dan membran timpani tidak intak (perforasi) dan ditemukan sekret (otorea),
purulen yang hilang timbul. Istilah kronik digunakan apabila penyakit ini
hilang timbul atau menetap selama 2 bulan atau lebih (Fung, K, 2004).
OMSK adalah infeksi di telinga tengah dengan perforasi membran
timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang
timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah (Efiaty,
2007).

B. Etiologi/Penyebab
Penyebab OMSK antara lain :
1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas,
tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK
dan sosioekonomi, dimana kelompok sosioekonomi rendah
memiliki insiden yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan
hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, tempat
tinggal yang padat.
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama
apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid
yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid
lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah
hal ini primer atau sekunder.

3. Otitis media sebelumnya


Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan
dari otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak
diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan
yang lainnya berkembang menjadi kronis.
4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah
hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif
menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat.
Organisme yang terutama dijumpai adalah Gram- negatif, flora tipe-
usus, dan beberapa organisme lainnya.
5. Infeksi saluran napas bagian atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi
saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa
telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh
terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga
tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih
besar terhadap otitis media kronis.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih
tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah
dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes
telinga atau bakteria atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum
terbukti kemungkinannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustacius
Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat
oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau
sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai
metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius
dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin
mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran
timpani yang menetap pada OMSK adalah:
a. Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang
mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.
b. Obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan
pada perforasi. Beberapa perforasi yang besar mengalami
penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel.
c. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami
pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani.
Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

C. Klasifikasi
OMSK dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1. OMSK tipe benigna (tipe mukosa = tipe aman)
Proses peradangan terbatas pada mukosa saja, dan biasanya
tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK
tipe benigna jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada
OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatom.
2. OMSK tipe maligna (tipe tulang = tipe bahaya)
OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma.
Perforasi terletakpada marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat
juga kolesteatoma dengan perforasi subtotal. Sebagian komplikasi yang
berbahaya atau total timbul pada atau fatal, timbul pada OMSK tipe
maligna.

D. Patofisiologi
Patofisiologi dari OMSK masih belum diketahui secara pasti, tetapi
dalam hal ini diduga merupakan stadium kronis dari otitis media akut
(OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya
sekret yang terus menerus. Perforasi sekunder pada OMA dapat terjadi
kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah.
Otitis media sering diawali dengan penyumbatan pada saluran eustasius
yang terjadi akibat infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan
atau pilek yang menyebar ke telinga tengah. Penyumbatan ini juga dapat
diakibatkan oleh tumor. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka
dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi
pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-
sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh
bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya
terbentuklah nanah dan menyumbat saluran eustasius. Selain itu
pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir
yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang
telinga.
Jika lendir bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga
dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.
Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan
halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan
pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu
telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu
banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena
tekanannya.

E.
F. Gejala Klinis
Pasien mengeluh otore, vertigo, tinitus, rasa penuh ditelinga atau
gangguan pendengaran. Nyeri telinga atau tidak nyaman biasanya ringan
dan seperti merasakan adanya tekanan ditelinga. Gejala-gejala tersebut
dapat terjadi secara terus menerus atau intermiten dan dapat terjadi pada
salah satu atau pada kedua telinga (Dhingra, 2007).
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air
dan encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus
dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid.
Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau
busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh
perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekretbiasanya
hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi
saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi
atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya
sekret telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor
memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat
keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe
ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang
karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur
darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga
dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu
sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan
tuberkulosis.
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi
sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat
menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak
dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai
bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi
dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran
lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem
pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya
didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran,
tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara
sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan
secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-
lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui
jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya
labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli
saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea.
3. Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada
merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat
karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya
ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya
durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan
abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis
eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi
OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus
lateralis.
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius
lainnya. Keluhanvertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya
fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang
timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau
pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena
perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih
mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam
labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi
akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius,
karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid
ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin
berlanj ut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus
OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan
positif dan negatif pada membran timpani, dengan demikian dapat
diteruskan melalui rongga telinga tengah.

Adapun tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna, antara lain:


a. Adanya Abses atau fistel retroaurikular
b. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum
timpani.
c. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom)
d. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Audiometrik untuk mengetahui tuli konduktif.
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya
ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta
keutuhan dan mobilitas.
2. Foto rontgent untuk mengetahui patologi mastoid
3. Otoskop untuk melihat perforasi membran timpani
4. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran
timpani
5. Kultur dan uji sensitifitas ; dilakukan bila dilakukan timpanosentesis
(Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani).
6. Pemeriksaan Radiologi
a. Proyeksi Schuller: memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid
dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan
karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen.
b. Proyeksi Mayer atau Owen: Diambil dari arah dan anterior telinga
tengah. Akan tampak gambaran tulang- tulang pendengaran dan
atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah
mengenai struktur-struktur.
c. Proyeksi Stenver: memperlihatkan gambaran sepanjang piramid
petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius
interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini
menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat
menunjukan adanya pembesaran.
d. Proyeksi Chause III: memberi gambaran atik secara longitudinal
sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik.
Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan
tulang oleh karena kolesteatom.
7. Bakteriologi
Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas
aeruginosa, Stafilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan bakteri pada
OMSA Streptokokus pneumonie, H. influensa, dan Morexella kataralis.
Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli, Difteroid, Klebsiella,
dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp.

H. Penatalaksanaan Medis
1. OMSK Benigna
a. Konservatif
1) Pembersihan secret di liang telinga (toilet local, drainage)
merupakan hal yang penting untuk pengobatan ottitis media
kronik. Ada beberapa cara untuk membersihkan secret :
a) Dengan menggunakan kapas lidi. Tindakan ini dianjurkan
sesering-seringnya dila ada otore. Dapat diajarkan kepada
penderita atau orang tua penderita.
b) Displacement methode dapat dengan menggunakan larutan
hydrogen peroksida (H2O2) 3%, karena adanya gas O2
yang ditimbulkan
c) Bila mungkin secret dihisap secara hati-hati dengan
menggunakan jarum kecil plastik, misalnya jarum BWG no.
16 dan 18 yang ujungnya diberi kateter nelaton yang kecil
atau karet pentil.
2) Pengobatan Lokal
Diberikan antibiotik tetes telinga. Pemberian antibiotik tetes
telinga tidak ada gunanya bila masih ada otore yang produktif.
Oleh karena itu pemberian antibiotik local dianjurkan setelah
dilakukan toilet local. Harus diterangkan terlebih dahulu cara
pemakaian H2O2 3% ke dalam telinga yang sakit kemudian
bersihkan dengan kapas lidi baru, setelah itu masukkan
antibiotik tetes telinga dengan cara kepala dimiringkan dan
tragus ditekan tekan supaya obat tetes masuk ke dalam
3) Antibiotika yang adekuat oral atau parenteral. Ini diberikan
apabila ada eksaserbasi akut yang didahului oleh infeksi hidung
atau faring
b. Operatif
Tindakan operatif dilakukan bila terdapat fokal infeksi yang
mungkin dijumpai seperti tonsillitis kronik, sinusitis dan lain-lain.
Jenis-jenis Tindakan operatif :
1) Miringoplasty atau Timpanopalsty
Operasi ini dianjurkan apabila :
a) Infeksi sudah tenang
b) Tidak ada komplikasi
c) Sekret tidak produktif lagi dalam waktu lama (1-3 bulan)
d) Tidak terdapat tuli saraf yang berat
2) Mastoidektomi
2. OMSK Maligna
Umumnya dilakukan pembedahan yaitu mastoidektomi radikal. Bila
ada komplikasi abses retroaurikuler dan penderita jauh dari rumah sakit,
maka harus dilakukan insisi sementara untuk drainage.
I. Komplikasi
Menurut Fung (2004), komplikasi pada OMSK antara lain:
1. Kerusakan yang permanen dari telinga dengan berkurangnya pandangan
atau ketulian.
2. Mastuiditis
3. Cholesteatoma
4. Abses apidural (peradangan disekitar otak)
5. Paralisis wajah
6. Labirin titis

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Biodata : Nama, umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan
2. Riwayat Penyakit sekarang
3. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus,
tenggorokan.
4. Riwayat penyakit dahulu :
a. Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau
trauma
b. Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
c. Pernah menderita sakit gigi geraham
5. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga
yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien
sekarang.
6. Riwayat spikososial
a. Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas atau sedih)
b. Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
7. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa
memperhatikan efek samping

b. Pola nutrisi dan metabolisme


Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada
hidung
c. Pola istirahat dan tidur
Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering
pilek
d. Pola Persepsi dan konsep diri
Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep diri
menurun
e. Pola sensorik
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek
terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
8. Pemeriksaan Fisik
a. Status kesehatan umum : keadaan umum, tanda vital, kesadaran.
b. Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi
(mukosa merah dan bengkak).
Data subyektif :
1) Observasi nafas :
a) Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya
b) Riwayat pembedahan hidung atau trauma
c) Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah,
frekwensinya, lamanya.
2) Sekret hidung :
a) Warna, jumlah, konsistensi secret
b) Epistaksis
c) Ada tidaknya krusta atau nyeri hidung.
3) Riwayat Sinusitis :
a) Nyeri kepala, lokasi dan beratnya
b) Hubungan sinusitis dengan musim atau cuaca.
4) Gangguan umum lainnya :
a) Kelemahan
Data Obyektif
- Demam, drainage ada : Serous, Mukppurulen, Purulen
- Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada
hidung dan Pucat, Odema keluar dari hidung atausinus
yang mengalami radang mukosa
- Kemerahan dan Odema membran mukosa
- Pemeriksaan penunjung :
Kultur organisme hidung dan tenggorokan.
Pemeriksaan rongent sinus

B. Diagnosa Keperawatan
Pre-op:
1. Perubahan sensori-persepsi : pendengaran b/d gangguan penghantar
bunyi pada organ.
2. Nyeri kronis b/d agen cedera biologis.
3. Hipertermi b/d infeksi pada telinga tengah dan tuba eutachius ditandai
dengan suhu tubuh meningkat.
4. Gangguan citra diri b.d adanya penyakit kronis (keluarnya nanah dan
paralisis nervus facialis).
5. Anxietas b/d tindakan penanganan dan rencana oprasi.
6. Kurang pengetahuan b/d kurang terpajan terhadap informasi.
Post-op:
1. Nyeri akut b/d agen cedera fisik akibat insisi pembedahan.
2. Risiko infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat.

C. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)
Keperawatan Hasil (NOC)
1. Gangguan Kompensasi Tingkah Communication
persepsi sensori Laku Pendengaran Enhancement : Hearing
pendengaran Kriteria hasil : Deficit
1. Pasien bisa 1. Bersihkan serumen
mendengar dengan dengan irigasi, suntion,
baik spoeling atau
2. Telinga bersih instrumentasi
3. Pantau gejala 2. Kurangi kegaduhan
kerusakan lingkungan.
pendengaran 3. Ajari klien untuk
4. Posisi tubuh untuk menggunakan tanda non
menguntungkan verbal dan bentuk
pendengaran komunikasi lainnya.
5. Menghilangkan 4. Kolaborasi dalam
gangguan pemberian terapi obat
6. Memperoleh alat 5. Beritahu pasien bahwa
bantu pendengaran suara akan terdengar
7. Menggunakan berbeda dengan memakai
layananan pendukung alat bantu
untuk pendegaran 6. Jaga kebersihan alat bantu
yang lemah 7. Mendengar dengan penuh
perhatian
8. Menahan diri dari
berteriak pada pasien yang
mengalami gangguan
komunikasi
9. Dapatkan perhatian pasien
melalui sentuhan
2. Nyeri NOC NIC
1. Pain Level Pain Management
2. Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri
3. Comfort Level
secara komprehensif
Kriteria Hasil : termasuk lokasi,
1. Mampu mengontrol karakterisitik, durasi,
nyeri (tahu penyebab frekuensi, kualitas dari
nyeri, mampu faktor presipitasi
menggunakan teknik 2. Kaji kultur yang
nonfarmakologi untuk mempengaruhi respon
mengurangi nyeri, nyeri
mencari bantuan) 3. Evaluasi pengalaman
2. Melaporkan bahwa nyeri masa lampau
nyeri berkurang 4. Evaluasi bersama pasien
dengan menggunakan dan tim kesehatan lain
manajemen nyeri tentang ketidakefektifan
3. Mampu mengenali kontrol nyeri masa lampau
nyeri (skala, 5. Kontrol lingkungan yang
intensitas, frekuensi, dapat mempengaruhi nyeri
dan tanda nyeri) seperti suhu ruangan,
4. Menyatakan rasa pencahayaan dan
nyaman setelah nyeri kebisingan
berkurang 6. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
7. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi, dan
interpersonal)
8. Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
9. Ajarkan tentang teknik
nonfarmakologi
10. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
11. Tingkatkan istirahat
12. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil
13. Monitor penerimaan
pasien tentang manajemen
nyeri

Analagesic Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat.
2. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis,
dan frekuensi.
3. Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
4. Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
5. Tentukan analgesik
pilihan, rute pemberian,
dan dosis optimal.
6. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara
teratur
7. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali.
8. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
9. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala.

3. Hipertermi NOC Fever Treatment


Thermoregulation 1. Monitor suhu sesering
mungkin
Kriteria hasil : 2. Monitor IWL
1. Suhu tubuh dalam 3. Monitor warna dan
rentang normal suhu kulit
2. Nadi dan RR dalam 4. Monitor tekanan darah,
rentang normal nadi dan RR
3. Tidak ada perubahan 5. Monitor penurunan
warna kulit dan tidak tingkat kesadaran
ada pusing 6. Monitor WBC, Hb, dan
Hct
7. Monitor intake dan
output
8. Berikan anti piretik
9. Berikan pengobatan
untuk mengatasi
penyebab demam
10. Kolaborasi pemberian
cairan intravena
11. Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
12. Tingkatkan sirkulasi
udara
13. Berikan pengobatan
untuk mencegah
menggigil

Temperature regulation
1. Monitor suhu minimal
tiap 2 jam
2. Rencanakan monitoring
suhu secara kontinu
3. Monitor TD, nadi dan
RR
4. Monitor warna dan
suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda
hipertermi dan
hipotermi
6. Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
7. Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek negative dari
kedinginan
8. Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan
penanganan emergency
yang diperlukan
9. Berikan anti piretik jika
perlu

Vital sign Monitoring


1. Monitor TD, suhu, dan
RR
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
4. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
5. Monitor suara paru
6. Monitor pola
pernapasan abnormal
7. Monitor suhu, warna
dan kelembaban kulit
8. Monitor sianosis perifer
9. Monitor adanya
cushing triad (tekanan
nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan
sistolik)
10. Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign
4. Gangguan citra NOC NIC
tubuh 1. Body Image Body image enhancement
2. Self esteem 1. Kaji secara verbal dan non
Kriteria Hasil verbal respon klien
1. Body image positif terhadap tubuhnya
2. Mampu 2. Monitor frekuensi
mengidentifikasi mengkritik dirinya
kekuatan personal 3. Jelaskan tentang
3. Mendeskripsikan pengobatan, perawatan,
secara faktual kemajuan dalam
perubahan fungsi prognosis penyakit
tubuh 4. Dorong klien
4. Mempertahankan mengungkapkan
interaksi social perasaannya
5. Identifikasi arti
pengurangan melalui
pemakaian alat bantu
6. Fasilitas kontak dengan
individu lain dalam
kelompok kecil
5. Ansietas NOC Anxiety Reduction
1. Anxiety Self-control (penurunan kecemasan)
2. Anxiety Level 1. Gunakan pendekatan
3. Coping yang menenangkan.
2. Pahami perspektif pasien
Kriteria Hasil : terhadap situasi stres.
1. Klien mampu 3. Temani pasien untuk
mengidentifikasi dan memberikan keamanan
mengungkapkan dan mengurangi takut.
gejala cemas. 4. Identifikasi tingkat
2. Mengidentifikasi, kecemasan.
mengungkapkan, dan 5. Dorong pasien untuk
menunjukkan teknik mengungkapkan
untuk mengontrol perasaan, ketakutan,
cemas. persepsi.
3. Vital sign dalam 6. Instruksikan psien
batas normal. menggunakan teknik
4. Postur tubuh, relaksasi.
ekspresi wajah, 7. Berikan obat untuk
bahasa tubuh dan mengurangi kecemasan.
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan.
6. Defisiensi NOC NIC
pengetahuan 1. Knowledge : Disease Teaching : disease Process
Process 1. Berikan penilaian tentang
2. Knowledge : Health tingkat pengetahuan
Behaviour pasien tentang proses
penyakit yang spesifik.
Kriteria Hasil : 2. Jelaskan pastofisiologi
1. Pasien dan keluarga dari penyakit dan
menyatakan bagaimana hal ini
pemahaman tentang berhubungan dengan
penyakit, kondisi, anatomi fisiologi, dengan
prognosis dan cara yang tepat.
program pengobatan. 3. Gambarkan tanda dan
2. Pasien dan keluarga gejala yang biasa muncul.
mampu melaksanakan 4. Gambarkan proses
prosedur yang penyakit.
dijelaskan secara 5. Identifikasi kemungkinan
benar. penyebab.
3. Pasien dan keluarga 6. Sediakan informasi pada
mampu menjelaskan pasien tentang kondisi.
kembali apa yang 7. Sediakan informasi
dijelaskan tentang kemajuan pasien.
perawat/tim kesehatan 8. Diskusikan perubahan
lainnya. gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi.
9. Diskusikan pilihan terapi.
7. Risiko infeksi NOC Infection Control
1. Immune Status 1. Bersihkan lingkungan
2. Knowledge : setelah dipakai pasien
Infection Control lain
3. Risk Control 2. Pertahankan teknik
isolasi
3. Batasi pengunjung bila
Kriteria Hasil : perlu
1. Klien bebas dari 4. Instruksikan pada
tanda dan gejala pengunjung untuk
infeksi mencuci tangan saat
2. Mendeskripsikan berkunjung dan setelah
proses penularan berkunjung
penyakit, faktor yang 5. Gunakan sabun
mempengaruhi antimikroba untuk
penularan serta mencuci tangan
penatalaksanaannya 6. Cuci tangan setiap
3. Menunjukkan sebelum dan sesudah
kemampuan untuk tindakan keperawatan
mencegah timbulnya 7. Gunakan baju, sarung
infeksi tangan sebagai
4. Jumlah leukosit pelindung
dalam batas normal 8. Pertahankan lingkungan
5. Menunjukkan aseptik selama
perilaku hidup sehat pemasangan alat
9. Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
10. Berikan terapi antibiotik
bila perlu Infection
Protection
11. Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan lokal
12. Monitor hitung
granulosit, WBC
13. Monitor kerentanan
terhadap infeksi
14. Pertahankan teknik
asepsis pada pasien
berisiko
15. Instruksikan pasien
untuk minum antibiotik
sesuai resep
16. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
17. Ajarkan cara
menghindari infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Fung, K. 2004. Otitis Media Chronic. Available : http://www.medline.com.


Diakses tanggal 03 Oktober 2016 pukul 20.00 Wita
Mansjoer, Arif. dkk. (2010). Kapita Selwkta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1.
Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI.
Nurbaiti. 2009. Buku Ajar Ilmu penyakit THT. FKUI. Jakarta.
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Efiaty, Nurbaiti, Jenny, Ratna. 2007. Buku Ajar Ilm Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan, Kepala dan Leher Ed. 6. Jakarta: FKUI
Smetlzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, vol. 3 Ed 8. Jakarta:
EGC
NANDA. 2016. Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi 2015
2017. Jakarta: EGC
Nurarif & Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis
Medis & NANDA NIC NOC. Yogyakarta: Mediaction
Nurarif & Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis
Medis & NANDA NIC NOC Edisi revisi jilid 3. Yogyakarta: Mediaction