Anda di halaman 1dari 4

BANK OF PROBLEMS

Hai! Berikut ini merupakan beberapa gambaran permasalahan yang ada di Indonesia.
Permasalahan secara garis besar dapat dilihat menjadi lima topik besar yaitu Maritim,
Agraria, Kesehatan, SDM, Pendidikan dan Kebudayaan. Permasalahan tersebut dapat
digunakan untuk membantu kamu dalam memilih satu topik yang kamu minati untuk
didiskusikan saat Workshop

MARITIM

Tiga Masalah Nelayan:


Pemodalan,
Peran perbankan yang seharusnya mampu membantu nelayan belum dirasakan hingga
kini. Masih banyak bank yang belum memberikan pinjaman sebesar hingga Rp 20 juta
tanpa agunan. Jika persoalan ini tidak diperhatikan oleh bank, nelayan akan terus
bergantung pada rentenir.
Bahan Bakar,
Permukiman (proyek pengadaan rumah nelayan)
(I WAYAN AGUS PURNOMO, Tiga Masalah Utama Nelayan,
https://m.tempo.co/read/news/2012/06/05/090408466/tiga-masalah-utama-nelayan)

Tol Laut
Tol Laut sebagai salah satu program utama Presiden Jokowi telah dicanangkan pada 4
November 2015, sekaligus untuk menegaskan bahwa negara benar-benar hadir ke seluruh
daerah lewat kapal-kapal yang terjadwal rutin berlayar. Program Tol Laut ini merupakan
salah satu pilar guna mendukung Indonesia menjadi negara poros maritim dunia dan
mewujudkan visi Indonesia Hebat.

Tol Laut sebagai sebuah konsep dirancang untuk memperkuat jalur pelayaran yang
ditujukan bagi pemerataan pertumbuhan ke Indonesia bagian timur, menurunkan biaya
logistik, juga menjamin ketersediaan pokok strategis di seluruh wilayah Indonesia dengan
harga relatif sama sehingga kesejahteraan rakyat semakin merata

Kinerja Logistik dan Olahan Perikanan


Berdasarkan survei World Bank, skor Indeks Kinerja Logistik (Logistic Performance
Index/LPI) Indonesia pada 2014 adalah 3,1 dengan peringkat ke-53. Di antara negara
ASEAN, skor dan peringkat Indonesia tersebut kalah dibandingkan Singapura, Malaysia,
Thailand, dan Vietnam

Produk olahan perikanan Indonesia hanya menguasai 11 persen pangsa pasar, kalah jauh
jika dibandingkan dengan Thailand sebesar 48% pangsa pasar produk olahannya. Padahal
kawasan laut Indonesia 17 kali lebih besar dibanding Thailand.

Nelayan dan Kemiskinan


Angka kemiskinan di Indonesia ternyata masih didominasi masyarakat dengan profesi
sebagai nelayan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Maret 2015 mencatat jumlah
warga miskin Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari jumlah penduduk
Indonesia, dari jumlah tersebut sebesar 32,4 persennya merupakan nelayan.
http://news.fajarnews.com/read/2016/05/09/10937/nasib.nelayan.indonesia.masih.memprih
atinkan

Saat ini potensi lahan marikultur (budi daya perikanan laut) Indonesia yang mencapai 4,58
juta hektare baru dimanfaatkan sekitar 2 persen.

AGRARIA

Pangan dan Usia Petani


Pangan Bergantung Kepada Petani Berlahan Sempit, Miskin, dan Tua
Catatan pencacahan sensus pertanian Tahun 2013 menunjukkan bahwa :
Jumlah rumah tangga usaha pertanian subsektor tanaman pangan di Indonesia
yang didominasi oleh tanaman padi sebesar 14.147.942 rumah tangga.
Luas tanam sebesar 94 478 528 364 m dan rata-rata luas tanam sebesar 6 678 m.
Dengan rata-rata penguasaan lahan 0,4 s.d. 0,5 Ha.
Rata-rata usia petani Indonesia sejumlah 79,9 % diatas 35 tahun.

Pertanian dan Peternakan


Nilai Tukar Pertanian (NTP) di bulan Juli 2016 tercatat 101,39 atau turun sebesar 0,08
persen dibanding NTP Juni 2016 sebesar 101,47. Penurunan NTP bulan ini disebabkan
turunnya NTP di dua subsektor penyusun NTP yaitu Tanaman Pangan dan Tanaman
Perkebunan Rakyat turun masing-masing 0,54 persen dan 0,29 persen, sebaliknya
Subsektor Tanaman Hortikultura naik sebesar 0,41 persen, Peternakan naik 0,31 persen,
dan Perikanan naik 0,08 persen.

Kehutanan
Dalam 25 tahun terakhir, hutan Indonesia berkurang 42,35 juta hektar dan terus merosot.
Berbagai bentuk instrumen kebijakan terbukti tak efektif untuk mengelola hutan produksi
secara berkelanjutan.

Selama 25 tahun terdapat 318 perusahaan hutan alam tak beroperasi sehingga hutan alam
produksi seluas 42,35 juta ha (69 persen) berubah menjadi hutan sekunder.
Hutan sekunder itu, hingga awal 2016, telah diusahakan 281 perusahaan hutan tanaman
dengan luas 10,33 juta ha. Jika dikalkulasi, pemanfaatan hutan alam produksi yang kini
telantar 35,02 juta ha. Di lapangan, sebagian hutan telantar itu terdapat usaha tambang,
kebun, atau permukiman sehingga dipenuhi klaim dan konflik.

Konversi Lahan dan Pertanian


Kecepatan konversi lahan (menjadi bukan lahan pertanian) dari Rentang 1992 2002, laju
tahunan konversi lahan baru 110.000 ha, dan periode 2002 - 2006 melonjak jadi 145.000 ha
per tahun.Rentang 2007- 2010, di Jawa saja laju konversi rata-rata 200.000 ha per tahun.
Hal ini tidak diimbangi dengan kecepatan pencetakan sawah baru. Kalaupun ada
pencatakan sawah baru, petani-petani pangan semakin berada dipinggiran dengan
konsekuensi ketersediaan infrastruktur yang sulit, sehingga menambah beban produksi
petani pangan.

Padahal, sebanyak 50-60 persen tanah di Indonesia belum memiliki sertifikat karena
membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama. Selama ini petani hanya menikmati 40
persen dari hasil pertanian. Sedangkan 60 persen lainnya dinikmati oleh para tengkulak dan
distributor.
KESEHATAN

Derajat Kesehatan
- Jumlah kasus AIDS: 43 (2015), 6.612 (2014),
- Jumlah kematian ibu dan bayi: 71 Ibu, 274 Bayi (2013), 18 Ibu, 44 Bayi (2015)
- Kasus Positif Malaria yang Mendapat Pengobatan ACT ada 3 (2014), 6 (2015) kontras
dengan Papua 53.50, Sumatera Utara 2.659, NTT ada 5.279, Lampung 2.593
- Jumlah Penderita DBD 12.139 (2014), 3.151 (2015)
- Balita gizi buruk

Upaya Kesehatan

Fasilitas Kesehatan 2010 2011 2012 2013


Rumah Sakit 145 153 158 159
Rumah Sakit/Tempat 64 64 38 37
Bersalin
Puskesmas Kecamatan 44 44 44 44
Puskesmas Kelurahan 295 296 296 297
Balai Pengobatan Umum 779 779 779 779
Balai Pengobatan Gigi 113 125 125 125
Klinik Spesialis 171 153 168 168
Laboratorium 170 175 175 175
Apotik 1 811 1 811 1 922 2 159
Posyandu 4 185 4 241 4 245 4 290

http://jakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/77

Rokok vs Kemiskinan
Pada tahun 2015, dari hasil Susenas, penduduk berusia 15 tahun keatas yang
mengkonsumsi rokok sebesar 22,57 persen di perkotaan dan 25,05 persen di pedesaan.
Rata-rata jumlah batang rokok yang dihabiskan selama seminggu mencapai 76 batang di
perkotaan dan 80 batang di pedesaan.

Rokok memiliki share terbesar kedua setelah beras baik di pedesaan maupun perkotaan.
Menurut Kepala BPS, Ketika seseorang yang dikatakan miskin ini mengkonsumsi rokok,
ada kemungkinan Ia menjadi tidak miskin apabila mengalihkan pengeluarannya untuk rokok
menjadi pengeluaran untuk komoditi makanan yang memiliki kilokalori
https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/133
SUMBER DAYA MANUSIA
Lingkungan
Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan DKI Jakarta merupakan
kota dengan volume sampah sebesar 6.500 -7.000 ton per hari, dan jumlah itu bertambah
setiap tahunnya.
http://www.beritasatu.com/megapolitan/338886-jakarta-hasilkan-7000-ton-sampah-per-hari.
html

IPM
Indeks Pembangunan Manusia DKI Jakarta telah mencapai 78,99, angka ini meningkat
0,60 poin dibandingkan dengan IPM DKI Jakarta 2014 sebesar 78,39.
http://jakarta.bps.go.id/Brs/view/id/171
2016-08-05

Kemiskinan
Buruknya kondisi ekonomi DKI Jakarta ditandai oleh tingkat pengangguran terbesar di
Indonesia adalah di DKI Jakarta dan Banten. Di Banten sebanyak 8,85 persen, sementara
di DKI Jakarta sebanyak 8,36 persen, jauh diatas rata rata Indonesia.

Jumlah kemiskinan di DKI Jakarta telah meningkat secara terus menerus dari tahun ke
tahun. Jika jumlah penduduk miskin tahun 2012 sebanyak 363.200 orang, tahun 2015
menjadi 398,920 orang atau meningkat 9,83 persen.

Kelemahan utama pemerintah DKI jakarta adalah realisasi belanja daerah adalah yang
terendah. Realisasi belanja 2015 senilai 37,8 triliun Rp. sebesar 53,39 persen dari yang
direncanakan.

PENDIDIKAN DAN BUDAYA

Penerimaan Peserta Didik Baru


Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) membuka posko pengaduan terkait pelaksanaan
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada 13-29 Juni 2016 lalu.

Pengaduan terbanyak berasal dari DKI Jakarta mencapai 48 pengaduan. Permasalahan


yang diadukan mulai dari masalah server PPDB online Dinas Pendidikan yang tidak bisa
diakses selama dua hari, ribetnya proses pra pendaftaran dari luar DKI Jakarta, masalah
Nomor Induk Kependudukan (NIK), para pendaftar yang harus mengulangi semua proses
sampai masalah para siswa pindahan dari wilayah penggusuran ke rumah susun yang
berbeda wilayah kotamadya.

Paling banyak pengaduan adalah kesalahan sistem PPDB online yang salah membaca
NIK siswa yang berdomisili atau kartu keluarganya di Jakarta, sehingga untuk mengubah
orang tua siswa harus melapor ke Dinas Pendidikan DKI di Jalan Gatot Subroto. Di Dinas
Pendidikan orang tua siswa harus antri panjang karena nomor antrian mencapai 700.
Pengaduan mengenai NIK berasal dari seluruh wilayah Jakarta.