Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN
Menurut Prawirohardjo (2009) salah satu penyebab kematian janin adalah faktor

maternal yaitu penyakit yang diderita oleh ibu seperti diabetes mellitus tidak terkontrol,

sistemil lupus eritematosus, infeksi, hipertensi, preeclampsia, eklampsia,

hemoglobinopati, umur ibu tua, penyakit rhesus, rupture uteri, antifosfolipid sindrom,

hipotensi akut ibu, kematian ibu.


Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. M. D. M dengan IUFD .

keluhan yang dirasakan mendukung diagnosa. Dimana ibu mengeluh perutnya kencang-

kencang dan tidak merasakan pergerakan janin sejak 2 hari yang lalu. Jadi tidak ada

kesenjangan antara keluhan yang dirasakan dengan teori yang berkaitan dengan IUFD.
Pengkajian yang dilakukan terhadap ibu untuk mengetahui penyebab terjadinya

kematian janin, ibu mengatakan tidak pernah menderita suatu penyakit yang dapat

menyebabkan kematian janin. Sedangkan pada pemeriksaan penunjang, yaitu

pemeriksaan usg, hasil USG menunjukan bahwa tidak ada pergerakan janin dan djj.

Jadi pada pengkajian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

B. INTERPRETASI DATA

Menurut Indriyani (2013), kematian janin dalam kandungan dapat diindentifikasi

melalui beberapa hal antara lain berdasarkan anamnesis, inspeksi, palpasi, auskultasi,

reaksi kehamilan, pemeriksaan diagnostic rontgen foto abdomen dan USG, dimana

pasa anamnese Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan

janin sangat berkurang. Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan

bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya. Atau wanita belakangan ini

merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti mau melahirkan.
Pada pemeriksaan inspeksi tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat

terlihat terutama pada ibu yang kurusi dan pada saat palpasi tinggi fundus uteri lebih

rendah dari usia kehamilannya, tidak teraba gerakan-gerakan janin.

Berdasarkan pengkajian dan pemeriksaan penunjang pada ibu, mendukung

diagnosa adanya kematian janin dalam rahin, sehingga diagnosa untuk Ny.M.D.M

adalah ibu GII PI A0 AHI dengan IUFD. Jadi, pada interpretasi data tidak ada

kesenjangan antara teori dan kasus.

C. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


Menurut teori yang ada di buku Aplikasi Konsep dan Teori Keperawatan Maternitas

Postpartum dengan Kematian Janin (Indriyani, 2013), Komplikasi yang dapat terjadi

pada ibu yang mengalami IUFD adalah Trauma emosional yang berat bila waktu antara

kematian janin dan persalinan cukup lama, bila ketuban pecah akan berisiko terjadi

infeksi, kemungkinan juga dapat terjadi koagulopati bila kematian janin berlangsung

lebih dari 3-4 minggu. Dan pada kasus Ny. M.D.M, antisipasi masalah potensialnya

adalah infeksi dan trauma emosional. Jadi, antara teori dan asuhan kebidanan yang

diberikan pada Ny.D.M.D dengan IUFD tidak terdapat kesenjangan.

D. TINDAKAN SEGERA
Pada kasus NY.D.M.D dengan IUFD tidak ada tindakan segera yang dilakukan

karena pada saat asuhan yang diberikan ibu telah dirawat 2 hari, tetapi untuk melakukan

pencegahan terhadap timbulnya masalah baru telah dilakukan kolaborasi dengan dr.

SpOG untuk pemberian therapi.

E. PERENCANAAN
Menurut teori yang ada di buku Aplikasi Konsep dan Teori Keperawatan Maternitas

Postpartum dengan Kematian Janin (Indriyani, 2013), Ibu yang mengalami kasus IUFD
akan dilakukan beberapa hal yang direncanakan dalam rangka membantu mengatasi

masalah kesehatan yang terjadi. Dibawah ini merupakan penanganan ibu dengan IUFD.
1. Mengambil darah untuk pemeriksaan darah perifer , fungsi pembekuan , golongan

darah ABO dan rhesus.


2. Jelaskan seluruh prosedur pemeriksaan, hasil serta rencana tindakan yang akan

dilakukan kepada ibu dan keluarganya. Bila belum ada kepastian penyebab

kematian janin, hindari memberikan informasi yang tidak tepat.


3. Yakinkan pada ibu bahwa kemungkinan besar akan dapat lahir pervaginam.
4. Rencanakan persalinan pervaginam baik dengan cara induksi maupun ekspektatif,

sampaikan rencana tersebut pada ibu dan keluarganya sebelum mengambil

keputusan.
5. Bila pilihan ditetapkan dengan cara ekspektatif, tunggu persalinan spontan hingga 2

minggu, yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi.
6. Bila pilihan adalah manajemen aktif, lakukan induksi persalinan dengan

menggunakan oksitosin atau misoprostol. Tindakan sectio caesarea hampir tidak

pernah dilakukan, jika janin letak lintang alternatifnya antara lain embriotomi dengan

dekapitasi.
7. Pemeriksaan patologi plasenta akan mengungkapkan adanya patologi plasenta dan

infeksi.
8. Bila terjadi hipofibrinogenemia, bahayanya adalah dapat terjadi perdarahan

postpartum. Hal ini dapat ditangani dengan pemberian transfusi atau pemberian

fibrinogen.
Sedangkan pada kasus ini asuhan yang diberikan pada Ny.M.D.M adalah
1. Pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium
2. Beri dukungan mental dan emosional pada klien dan keluarga.
3. Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang rencana persalinan yang akan

dilakukan.
4. Lakukan kolaborasi dengan Dokter SpOG dalam pemberian therapy yaitu oksitosin

dan misoprostol.

Jadi asuhan yang diberikan tidak jauh berbeda antara teori dengan kasus.
F. PELAKSANAAN
Pelaksanaan asuhan pada Ny. M.D.M dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang

telah di buat, tetapi ada kesenjangan antara teori dan asuhan yang diberikan yaitu pada

pemberian oksitosin. Menurut Nugroho (2012) pemberian oksitosin seharusnya

diberikan dengan Dekstrose 5% 500 ml, tetapi asuhan yang diberikan adalah

pemberian okstisosen diberikan dengan infuse RL. Jadi ada kesenjangan yang terjadi

dalam pemberian therapi antara konsep teori dan asuhan yang diberikan.

G. EVALUASI
Pada langkah ini hanya dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan,

meliputi apakah pemenuhan kebutuhan terpenuhi sesuai diagnosis dan masalah.

Rencana dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksanaannya. Pada Ny.M.D.M

dengan IUFD, bagian evaluasi berdasarkan asuhan yang telah diberikan, sehingga pada

kasus ini ada persamaan antara teori dan bagian evaluasi.