Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Penderita hipertensi kebanyakan tidak menunjukkan gejala, institusi nasional
jantung paru dan darah memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi tidak
sadar akan kondisinya. Begitu penyakit ini di derita, tekanan darah pasien harus di
pantau dengan interval teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup.
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% di antara mereka
menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat di temukan penyebab
medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu
(hipertensi sekunder), seperti penyempitan arteri renalis atau parenkim ginjal, berbagai
obat, disfungsi organ , tumor dan kehamilan (Smeltzer, 2002 hal 897).

Hipertensi masih menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain


meningkatnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum
mendapat pengobatan maupun sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai
target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan
mordibitas dan mortalitas (Aru, 2009 hal 1079).

Penderita hipertensi di perkirakan sebesar 15 juta bangsa Indonesia, tetapi


dengan hanya 4% yang terkontrol. Hipertensi terkontrol berarti mereka yang
menderita hipertensi dan tahu bahwa mereka menderita hipertensi dan sedang
menjalani pengobatan. Prevalensinya yaitu 6-15% pada orang dewasa, 50% penderita
tidak menyadari diri sebagai penderita hipertensi, karena itu mereka cenderung
menderita hipertensi yang lebih berat karena tidak berubah dan menghindari faktor
resiko, 70% adalah penderita hipertensi ringan, karena itu hipertensi banyak di
acuhkan atau terabaikan sampai saat menjadi ganas (hipertensi maligna) serta 90%
penderita hipertensi esensial, mereka dengan hipertensi yang tidak diketahui seluk
beluk penyebabnya. Artinya sulit untuk mencari bentuk intervensi dan pengobatanya.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memberikan dan menerapkan Asuhan Keperawatan pada lansia
dengan Hipertensi secara menyeluruh dan komprehensif.

2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada lansia dengan hipertensi.
b. Mampu menetapkan diagnosis keperawatan yang sesuai dengan hasil
pengkajian yang di dapat pada lansia dengan hipertensi.
c. Mampu menetapkan rencana keperawatan pada lansia dengan hipertensi
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan kepada lansia dengan hipertensi
e. Mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang telah di
lakukan pada lansia dengan hipertensi
f. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada lansia dengan
hipertensi.

BAB II
KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN

Asuhan keperawatan lansia adalah suatu rangkaian kegiatan dari proses


keperawatan yang ditujukan kepada lansia. Kegiatan tersebut meliputi
pengkajian dengan memperhatikan kebutuhan biofisik, psikologis, kulturan dan
spiritual, menganalisis suatu masalah kesehatan/ keperawatan dan membuat
diagnosa keperawatan, membuat rencana keperawatan dan melaksanakan
tindakan serta evaluasi.
Tujuan pemberian asuhan keperawatan lansia adalah mempertahankan
kesehatan serta kemampuan melalui jalan perawatan dan pencegahan, memberi
semangat hidup lansia, menolong dan merawat lansia yang menderita penyakit,
melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan upaya promotif, preventif
dan rehabilitatif serta membantu lansia menghadapi kematian dengan damai dan
dalam lingkungan yang nyaman.
Pengkajian pada lansia yang ada dikeluarga dilakukan dengan
melibatkan keluarga sebagai orang terdekat yang mengetahui masalah kesehatan
lansia tersebut. Sedangkan dipanti atau di masyarakat pengkajian dilakukan
dengan melibatkan penanggung jawab kelompok lansia, tokoh masyarakat serta
petugas kesehatan.
Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan
sistolik yang intermiten atau menetap. Pengukuran tekanan darah serial 150/95
mmHg atau lebih tinggi pada orang yang berusia diatas 50 tahun memastikan
hipertensi. Insiden hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia
(Stockslager , 2008).
Hipertensi lanjut usia dibedakan menjadi dua hipertensi dengan
peningkatan sistolik dan diastolik dijumpai pada usia pertengahan hipertensi
sistolik pada usia diatas 65 tahun. Tekanan diastolik meningkat usia sebelum 60
tahun dan menurun sesudah usia 60 tahun tekanan sistolik meningkat dengan
bertambahnya usia (Temu Ilmiah Geriatri Semarang, 2008).
Hipertensi menjadi masalah pada usia lanjut karena sering ditemukan
menjadi faktor utama payah jantung dan penyakit koroner. Lebih dari separuh
kematian diatas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan
serebrovaskuler.

Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas:


a. Hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan
atau tekanan sistolik sama atau lebih 90 mmHg.
b. Hipertensi sistolik terisolasi tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg
dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg (Nugroho,2008).
Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanann darah di dalaam arteri.
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan
yang abnormal tinggi didalam arteti menyebabkan meningkatnya resiko tekanan
stroke, aneurisma, gagaal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Faqih,
2007).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa
oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya
(Sustrani,2006).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan angka kesakitan
atau morbiditas dan angka kematian atau mortalitas. Hipertensi merupakan
keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal
atau kronis dalam waktu yang lama( Saraswati,2009).
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan
pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO (World
Health Organization) memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90
mmHg. Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin (Marliani,
2007).
Besarnya tekanan darah selalu dinyatakan dengan dua angka. Angka
yang pertama menyatakan tekanan sistolik, yaitu tekanan yang dialami dinding
pembuluh darah ketika darah mengalir saat jantung memompa darah keluar dari
jantung. Angka yang kedua di sebut diastolic yaitu angka yang menunjukkan
besarnya tekanan yang dialami dinding pembuluh darah ketika darah mengalir
masuk kembali ke dalam jantung.
Tekanan sistolik diukur ketika jantung berkontraksi, sedangkan tekanan
diastolic diukur ketika jantung mengendur (relaksasi). Kedua angka ini sama
pentingnya dalam mengindikasikan kesehatan kita, namun dalam prakteknya,
terutama buat orang yang sudah memasuki usia di atas 40 tahun, yang lebih
riskan adalah jika angka diastoliknya tinggi yaitu diatas 90 mmHg (Adib, 2009).

B. ETIOLOGI
Penyebab hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi
essensial (primer) merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan
ada kemungkinan karena faktor keturunan atau genetik (90%). Hipertensi
sekunder yaitu hipertensi yang merupakan akibat dari adanya penyakit lain.
Faktor ini juga erat hubungannya dengan gaya hidup dan pola makan yang
kurang baik. Faktor makanan yang sangat berpengaruh adalah kelebihan lemak
(obesitas), konsumsi garam dapur yang tinggi, merokok dan minum alkohol.
Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka
kemungkinan menderita hipertensi menjadi lebih besar. Faktor-faktor lain yang
mendorong terjadinya hipertensi antara lain stress, kegemukan (obesitas), pola
makan, merokok (M.Adib,2009).

C. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor itu
bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di thoraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik
ini, neuron masing-masing ganglia melepaskan asetilkolin yang akan
merangsang serabut saraf pusat ganglia ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai
faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh
darah terhadap rangsang vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat
sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa
hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis
merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal
juga terangsang yang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.
Medulla adrenal mensekresi epinefrin yang pada akhirnya menyebabkan
vasokonstriksi korteks adrenal serta mensekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.
Vasokonstriksi tersebut juga mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal
yang kemudian menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan
angiotensin I, yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, yaitu suatu
vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus
ginjal, menyebabkan peningkatan volume Intravaskuler. Semua faktor tersebut
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Tekanan darah tinggi selain dipengaruhi oleh keturunan juga disebabkan
oleh beberapa faktor seperti peningkatan aktifitas tonus simpatis, gangguan
sirkulasi. Peningkatan aktifitas tonus simpatis menyebabkan curah jantung
menurun dan tekanan primer yang meningkat, gangguan sirkulasi yang
dipengaruhi oleh reflek kardiovaskuler dan angiotensin menyebabkan
vasokonstriksi. Sedangkan mekanisme pasti hipertensi pada lanjut usia belum
sepenuhnya jelas. Efek utama dari penuaan normal terhadap sistem
kardiovaskuler meliputi perubahan aorta dan pembuluh darah sistemik.
Penebalan dinding aorta dan pembuluh darah besar meningkat dan elastisitas
pembuluh darah menurun sesuai umur. Penurunan elastisitas pembuluh darah
menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler perifer, yang kemudian tahanan
perifer meningkat. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap hipertensi yaitu
kegemukan, yang akan mengakibatkan penimbunan kolesterol sehingga
menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Rokok
terdapat zat-zat seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui
rokok, yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan tekanan
darah tinggi. Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan kadar kortisol
dan meningkatkan sel darah merah serta kekentalan darah berperan dalam
menaikan tekanan darah.
Kelainan fungsi ginjal dimana ginjal tidak mampu membuang sejumlah
garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga
tekanan darah juga meningkat. Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka
didalam urine bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon
epinefrin dan norepinefrin (Ruhyanudin, 2007).
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf
pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi
respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan
hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui
dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor
pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi (Rohaendi, 2008).

D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik yang dapat ditemukan pada penderita hipertensi yaitu:
Sakit kepala, jantung berdebar-debar, sulit bernafas setelah bekerja keras atau
mengangkat beban berat, mudah lelah, penglihatan kabur, wajah memerah,
hidung berdarah, sering buang air kecil terutama di malam hari, telinga
berdenging (tinnitus), vertigo, mual, muntah, gelisah (Ruhyanudin, 2007).
Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki
gejala khusus. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara
lain yaitu : gejala ringan seperti, pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah
merah, tengkuk terasa pegal, mudah marah, telinga berdengung, sukar tidur,
sesak napas, rasa berat ditengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang,
Obesitas mimisanStress
Merokok (keluar darahgaram
Konsumsi dari berlebih
hidung).
Alkohol Kurang olah Usia Kelainan
ragadi atas 50 tahun fungsi ginjal
Feokromositoma

Nikotin dankolesterol
Penimbunan karbon monoksida masuk
Pelepasan aliran darah
adrenalin dan kortisolPeningkatan kadar kortisol
Tidak mampu membuang sejumlah garam dan air di dalam tub
Retensi cairan Penebalan
Meningkatnya dinding
tahanan aortaarteri
perifer & pembuluh darah besar

Peningkatan volumeMeningkatnya sel darah merah


darah dan sirkulasi
Penyempitan pembuluh
Merusak darah
lapisan endotel pembuluh darah Memacu stress
Vasokonstriksi pembuluh darah
Elastisitas pembuluh darah menurun
Efek konstriksi arteri perifer
Volume darah dalam tubuh meningkat
Meningkatnya viskositas
Aterosklerosis Tahanan perifer meningkat

Jantung bekerja keras untuk memompa

HIPERTENSI

Otak Ginjal Indera Kenaikan beban kerja jantung

Vasokonstriksi pembuluh darah ginjal


Retina Hidung
Suplai O2 ke otak
Retensi menurundarah otak meningkat
pembuluh Telinga
Hipertrofi otot jantung

E. PATHWAYS Perdarahan Suara berdenging


Spasme arteriole
Sinkope Blood flow menurun Penurunan fungsi otot jantung
Tekanan pembuluh darah meningkat
Diplopia Gangguan keseimbangan
Resiko tinggi cidera
Respon RAA
Nyeri kepala Resiko tinggi cidera Resiko penurunan curah Menghasilkan
jatung
Resiko terjadi gangguan perfusi jaringan serebral Vasokonstriksi hormon epinefrin
dan norepinefrin

Gangguan rasa nyaman nyeri aldosteron


Rangsang

Retensi natrium

Oedem

Gangguan keseimbangan volume cairan


Sumber :
Tjokronegoro & Utama, 2001; Smeltzer & Bare, 2002; John, 2003; Sodoyo,
2006; Ruhyanuddin, 2007.

F. PENATALAKSANAAN

1. Terapi tanpa obat


a. Mengendalikan berat badan
Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan
untuk menurunkan berat badannya sampai batas normal.

b. Pembatasan asupan garam (sodium/Na)


mengurangi pamakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6
gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium,
magnesium, dan kalium yang cukup).

c. Berhenti merokok
Penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap
rokok diketahui menurunkan aliran darah keberbagai organ dan dapat
meningkatkan kerja jantung.

d. Mengurangi atau berhenti minum minuman beralkohol.


e. Mengubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau
kadar kolesterol darah tinggi.
f. Olahraga aerobic yang tidak terlalu berat.
Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama
tekanan darahnya terkendali.

g. Teknik-teknik mengurangi stress


Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan cara
menghambat respon stress saraf simpatis.

h. Manfaatkan pikiran
Kita memiliki kemampuan mengontrol tubuh, jauh lebih besar dari yang
kita duga. dengan berlatih organ-organ tubuh yang selama ini bekerja secara
otomatis seperti; suhu badan, detak jantung, dan tekanan darah, dapat kita
atur gerakannya.

2. Terapi dengan obat


a. Penghambat saraf simpatis
Golongan ini bekerja dengan menghambat akivitas saraf simpatis sehingga
mencegah naiknya tekanan darah, contohnya: Metildopa 250 mg (medopa,
dopamet), klonidin 0,075 & 0,15 mg (catapres) dan reserprin 0,1 &0,25 mg
(serpasil, Resapin).
b. Beta Bloker
Bekerja dengan menurunkan daya pompa jantung sehingga pada gilirannya
menurunkan tekanan darah. Contoh: propanolol 10 mg (inderal, farmadral),
atenolol 50, 100 mg (tenormin, farnormin), atau bisoprolol 2,5 & 5 mg
(concor).

c. Vasodilator
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan merelaksasi otot pembuluh
darah.

d. Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor


Bekerja dengan menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh: Captopril 12,5,
25, 50 mg (capoten, captensin, tensikap), enalapril 5 &10 mg (tenase).

e. Calsium Antagonis
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara
menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Contohnya: nifedipin 5 &
10 mg (adalat, codalat, farmalat, nifedin), diltiazem 30,60,90 mg (herbesser,
farmabes).

f. Antagonis Reseptor Angiotensin II


Cara kerjanya dengan menghalangi penempelan zat angiotensin II pada
reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Contoh :
valsartan (diovan).

g. Diuretic
Obat ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat urin)
sehingga volume cairan tubuh berkurang, sehingga mengakibatkan daya
pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh: Hidroklorotiazid (HCT)
(Corwin, 2001; Adib, 2009; Muttaqin, 2009).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Urinalisis untuk darah dan protein, elektrolit dan kreatinin darah


Dapat menunjukkan penyakit ginjal baik sebagai penyebab atau disebabkan
oleh hipertensi.
2. Glukosa darah
Untuk menyingkirkan diabetes atau intoleransi glukosa.
3. Kolesterol, HDL dan kolesterol total serum
Membantu memperkirakan risiko kardiovaskuler di masa depan.
4. EKG
Untuk menetapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri.
5. Hemoglobin/Hematokrit
Bukan diagnostik tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(Viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.
6. BUN/kreatinin
Memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
7. Glukosa Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) Dapat
diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).
8. Kalium serum
Hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau
menjadi efek samping terapi diuretic.
9. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi.
10. Kolesterol dan trigliserida serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan
plak atero matosa (efek kardiovaskuler).
11. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.
12. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab).
13. Urinalisa
Darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan/atau adanya
diabetes.
14. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor risiko terjadinya
hipertensi.
15. Foto dada
Dapat menunjukkan abstraksi kalsifikasi pada area katup, deposit pada dan
atau takik aorta, pembesaran jantung.
16. CT Scan
Mengkaji tumor serebral, ensefalopati, atau feokromositama (Doenges, 2000;
John, 2003; Sodoyo, 2006).
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat dan Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik yang menunjukkan indikasi adanya masalah sistem
kardiovaskular adalah perfusi organ akhir yang buruk. Lansia dengan
perfusi ginjal yang buruk pada keadaan tidak memiliki penyakit ginjal dapat
mengalami penurunan haluaran urin selama lebih dari 24 jam. Tanda dan
gejala tidak adekuatnya perfusi perifer dapat bervariasi dari kulit yang
terasa dingin ketika disentuh, dengan menurunnya pengisian kapiler, sampai
penemuan kronis seperti pingsan atau tidak adanya denyut nadi perifer,
kehilangan rambut pada ekstremitas yang tidak proporsional dan ulkus yang
sulit untuk sembuh. Edeme juga memiliki sumber nonkardiak yang
memerlukan pembedaan untuk lansia. Perbedaan kunci termasuk distribusi
cairan yang terakumulasi dan variasi diurnalnya. Edema yang berasal dari
penyakit jantung merupakan edema yang lembut dan meninggalkan bekas
cekungan bila ditekan, memiliki distribusi yang simetris, dan melibatkan
bagian tubuh yang dependent.
Auskultasi bunyi jantung pada lansia serig sulit karena perubahan emfisema
senilis pada dinding dada. Jika buyi jantung terdengar jauh atau sulit
didengar, klien mungkin diposisikan miring pada sisi kirinya dengan lengan
kiri menopang kepala.
Dalam pengkajian jantung pada lansia, abnormalitas harus
diinterpretasikan dengan hati-hati. Walaupun merupakan suatu parameter
pengkajian yang rutin, pengukuran tekanan darah secara akurat sangat
penting untuk menghindari masalah yang berhubungan dengan penanganan
hipertensi yang tidak perlu. Memberikan perhatian ketat terhadap detail
ukuran manset dan terhadap aktivitas sebelum pengukuran dan
mempertahankan teknik yang konsisten sangat penting untuk memperoleh
hasil yang akurat.

FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PENGKAJIAN PADA LANSIA

1. Identitas/Data Biografis Pasien


a. Nama :
b. Umur :
c. Pendidikan terakhir :
d. Agama :
f. Alamat :
g. Telepon :
h. Jenis kelamin :
i. Orang yang paling dekat dihubungi :
k. Alamat :
2. Riwayat Keluarga
a. Pasangan
1). Nama :
2). Umur :
3). Pekerjaan :
4). Alamat :
6). Kesehatan :

b. Anak
1). Nama :
2). Alamat :
3). Hidup/mati :

3. Riwayat Pekerjaan
4. Riwayat Lingkungan Hidup
5. Riwayat Rekreasi
6. Sumber / Sistem Pendukung yang Digunakan
7. Kebiasaan Ritual
8. Status Kesehatan Saat Ini
a. Obat-obatan
b. Status Imunisasi
c. Alergi
d. Penyakit yang diderita
e. Nutrisi
9. Status Kesehatan Masa lalu
10. Tinjauan Sistem
1. Tinjauan sistem
a. Keadaan umum
b. Kesadaran
c. Vital sign
d. Integumen
e. Kepala
f. Mata
g. Telinga
h. Hidung
i. Mulut
j. Leher
k. Payudara
l. Paru-paru
m. Jantung
n. Gastrointestinal
o. Perkemihan
p. Genetalia
r. System Syaraf Pusat
s. System endokrin
t. System immune
u. System pengecapan
v. System penciuman
w. Psikososial

11. Pengkajian Status Fungsional, Kognitif, Afektif, Psikologis dan Sosial


a. Pengkajian Status Fungsional
INDEKS KATZ
SKORE KRITERIA
A Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil, berpakaian
dan mandi
B Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali satu dari fungsi
tersebut

C Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi dan satu
fungsi tambahan
D Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian
dan satu fungsi tambahan
E Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian,ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan
F Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian,
berpindah, dan satu fungsi tambahan
G Ketergantungan pada enam fungsi tersebut
Lain-lain Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi, tidak dapat diklasifikasikan
sebagai C, D, E, F dan G

b. Pengkajian Status Kognitif dan Afektif


Short Portable Mentol Status Questionnaire (SPMSQ)
Skor No. Pertanyaan Jawaban
+ -
Tanggal berapa hari ini?
+ Hari apa sekarang ini? (hari, tanggal,
tahun)
+ Apa nama tempat ini?
Berapa nomor telpon Anda?
Dimana alamat Anda? (tanyakan hanya
bila klien tidak mempunyai telepon)
+ Berapa umur Anda?
Kapan Anda lahir?
Siapa presiden Indonesia sekarang?
Siapa presiden sebelumnya?
Siapa nama kecil ibu Anda?
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan
3 dari setiap angka baru, semua secara
menurun
Jumlah kesalahan total

c. Pengkajian Status Psikologis


Skala Depresi Yessavage
Skala Depresi geriatrik Yesavage, bentuk singkat
1. Apakah pada dasarnya Anda puas dengan kehidupan Anda?(tidak)(ya)
2. Sudahkah Anda mengeluarkan aktifitas dan minat Anda? (ya) (tidak)
3. Apakah Anda merasa bahwa hidup Anda kosong?(ya)(tidak)
4. Apakah Anda sering bosan?(ya)(tidak)
5. Apakah Anda mempunyai semangat yang baik setiap waktu?(tidak)(ya)
6. Apakah Anda takut sesuatu akan terjadi pada Anda?(ya)(tidak)
7. Apakah Anda merasa bahagia di setiap waktu?(tidak)(ya)
8. Apakah Anda lebih suka tinggal di rumah pada malam hari, daripada pergi dan
melakukan sesuatu yang baru? (ya)
9. Apakah Anda merasa bahwa Anda mempunyai lebih banyak masalah dengan ingatan
Anda daripada yang lainnya?(ya) (tidak)
10. Apakah Anda berfikir sangat menyenangkan hidup sekarang ini?(tidak)(ya)
11. Apakah Anda merasa saya sangat tidak berguna dengan keadaan Anda sekarang?
(tidak)
12. Apakah Anda merasa penuh berenergi? (tidak)(ya)
13. Apakah Anda berfikir bahwa situasi Anda tak ada harapan?(ya)(tidak)
14. Apakah Anda berfikir bahwa banyak orang yang lebih baik daripada Anda? (ya)
Analisa hasil :
Jika jawaban pertanyaan sesuai indikasi dinilai poin 1. (nilai poin 1 untuk setiap respons
yang cocok dengan jawaban ya atau tidak setelah pertanyaan)
Nilai 5 atau lebih dapat menandakan depresi.
d. Pengkajian Status Sosial

APGAR keluarga
No. Fungsi Uraian Skore
1. Adaptasi Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman- 1
teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2. Hubungan Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya 2
membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan
masalah dengan saya
3. Pertumbuhan Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya menerima 2
dan mendukung keinginan saya untuk melakukan aktivitas
atau arah baru
4. Afeksi Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya 1
mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi
saya, seperti marah, sedih atau mencintai
5. Pemecahan Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya 2
menyediakan waktu bersama-sama
Analisa hasil :
Skor : 8-10 : fungsi sosial normal
Skor : 5-7 : fungsi sosial cukup
Skor : 0-4 : fungsi sosial kurang/suka menyendiri

B. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Mengurangi Beban Kerja Jantung
Berbagai upaya keperawatan dapat turut berperan dalam mengurangi beban kerja
jantung dan sistem kardiovaskuler. Menyeimbangkan istirahat dan aktivitas dapat
membentu mempertahankan tonus otot dan penggunaan oksigen secara efisien,
yang dapat menurunkan kebutuhan jaringan terhadap darah yang mengandung
oksigen.Untuk mencapai keseimbangan ini aktivitas harus terjadwal sepanjang
hari.
Aplikasi langsung dari penambahan oksigen juga menurunkan beban kerja
jantung dengan meningkatkan jumlah oksigen yang dibawa oleh molekul
hemoglobin. Tindakan-tindakan untuk menurunkan ansietas membantu
menghentikan pelepasan katekolamin yang bersikulasi yang dapat meningkatkan
tuntutan kebutuhan jantung. Dengan mengurangi sirkulasi volume klien melalui
pembatasan cairan atau pembatasan natrium atau keduanya atau melalui
pemberian diuretik, volume darah totl yang harus dipompa oleh jantung telah
berkurang. Tindakan keperawatan dependen untuk mengurangi beban kerja
jantung terdiri dari pemberian agens penghambat adrenergik untuk menurunkan
kebutuhan oksigen miokardium dan obat-obatan seperti vasodilator untuk
mengurangi resistensi pembuluh darah perifer dari sistem arteri.

2) Peningkatan Fungsi
Fungsi jantung yang efektif memerlukan keseimbangan yang baik antara
kontraktilitas serta kecepatan dan irama yang teratur. Upaya-upaya keperawatan
untuk meningkatkan kontraktilitas termasuk memantau keseimbangan elektrolit
dan memberikan suplemen yang diperlukan, memastikan keadekuatan aliran balik
darah vena melalui pemantauan tekanan darsh dan keseimbangan darah dan
keseimbangan cairan secara hati-hati, dan memberikan obat-obat kardiotonik.
Tindakan keperawatan yang kritis untuk populasi ini adalah pengkajian secara
hati-hati pada efek samping atau efek yang lain yang tidak diinginkan dari
preparat digitalis. Karena lansia secara spesifik sangat sensitif terhadp efek toksik
dari obat-obatan ini, mereka memerlukan pengkajian yang berkelanjutan. Ahli
genetik sering memberikan digoksin dosis pedriatik bagi lansia untuk
memberikan dosis satu kali sehari tanpa memicu keracunan. Obat-obat yang
mungkin diresepkan bersama digoksin (misalnya quanidin, verapamil, dan pada
tingkatan yang lebih sedikit, nifidepin) meningkatkan kadar serum digitalis. oleh
karena itu, lansia yang menerima obat-obatan kombinasi tersebut harus sering
diobservasi untuk mengetahui adanya gejala-gejala overdosis.
Kecepatan dari irama jantung yang teratur sangat penting untuk fungsi yang
efektif. Lansia sering memerlukan agens antidisritmia untuk menstabilkan denyut
dan irama jantungnya karena hilangnya sel-sel pace-maker dalam nodus sinoatrial
atau nodus attrioventrikular. Walaupun obat-obatan ini umumnya diresepkan,
kebutuhan klien akan obat-obatan tersebut harus ditinjau ulang secara teratur
karena adanya efek samping yang terjadi dengan penggunaan dalam waktu yang
lama. Selain itu, penggunaan alat pacu jantingkatkan kemampuan jantung secara
keseluruhan pada lansia yang mengalami sick sinus syndrome atau gejala
bradikardia dan meningkatkan toleransi mereka terhadap aktivitas. Biasanya
lansia, beradaptasi dengan baik terhadap penggunaan alat-alat ini dengan bantuan
dan dukungan minimal.
Elemen kunci untuk pendokumentasian termasuk perkembangan dan resolusi
tanda dan gejala dari gangguan dan respons klien terhadap terapi. Perubahan yang
menyertai dalam mentasi atau peningkatan napas yang pendek selama aktivitas
dapat mengindikasikan efek obat yang tidak diinginkan atau lebih memburuknya
kondisi jantung. Bunyi nafas harus diauskultasi dan dicatat secara teratur.
Keseimbangan cairan selama 24 jam adalah indikator awal dan sensitif terhadap
perubahan status jantung (pada keadaan tidak adanya kegagalan ginjal), dan
karenanya harus dipantau secara teratur, karena hubungan nilai-nilai tersebut
terhadap berfungsinya sistem kardiovaskular secara efktif.
Pendokumentasian respons klien terhadap aktivitas sangat penting. Denyut
jantung dan tekanan darah dicatat sebelum, selama dan setelah aktivitas. Jumlah
aktivitas harus dihitung (yaitu dalam menit atau jumlah langkah-langkah yang
dilakukan) untuk memberikan kesempatan dalam pengkajian dari kemajuan klien
selama beberapa waktu. Selain itu, persepsi klien terhadap tingkat aktifitas, dari
yang ringan sampai yang paling berat, merupakan ukuran dari beban jantung.

C. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,


vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
Tujuan :
Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3 x 24 jam.
Kriteria hasil :
1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD
2) Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima
3) Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil
Intervensi :
1) Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat.
2) Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
3) Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.
4) Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler.
5) Catat edema umum.
6) Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas, batasi jumlah
pengunjung.
7) Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi
8) Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
9) Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher, meninggikan
kepala tempat tidur..
10) Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
11) Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
12) Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
13) Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi

2. Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler


serebral
Tujuan :
Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2 x 24 jam

Kriteria hasil :
1) Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala.
2) Pasien tampak nyaman.
3) TTV dalam batas normal
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan.
2) Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.
3) Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
4) Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.
5) Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti.
6) kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi nyaman, tehnik.
7) relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi.
8) Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.
9) misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.
10) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik, antiansietas (lorazepam,
ativan, diazepam, valium )
3. Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan adanya tahanan pembuluh darah
Tujuan :
Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
Kriteria hasil :
1) Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan
dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala,
pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
2) Haluaran urin 30 ml/ menit.
3) Tanda-tanda vital stabil
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring.
2) Tinggikan kepala tempat tidur.
3) Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan
pemantau tekanan arteri jika tersedia.
4) Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.
5) Amati adanya hipotensi mendadak.
6) Ukur masukan dan pengeluaran.
7) Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program.
8) Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai program
4. Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output
Tujuan :
Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x
24 jam
Kriteria hasil :
1) Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari hari.
2) Menunjukkan penurunan gejala gejala intoleransi aktifitas
Intervensi :
1) Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat
ditoleransi.
2) Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
3) Instruksikan pasien tentang penghematan energy.
4) Kaji respon pasien terhadap aktifitas.
5) Monitor adanya diaforesis, pusing.
6) Observasi TTV tiap 4 jam.
7) Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu.
8) istirahat yang tidak terganggu, berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore
5. Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala
Tujuan :
Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x
24 jam
Kriteria hasil :
1) Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 8 jam per hari.
2) Tampak dapat istirahat dengan cukup.
3) TTV dalam batas normal
Intervensi :
1) Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
2) Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur.
3) Evaluasi tingkat stress.
4) Monitor keluhan nyeri kepala.
5) Lengkapi jadwal tidur secara teratur.
6) Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat.
7) Lakukan masase punggung.
8) Putarkan musik yang lembut.
9) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
6. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik.
Tujuan :
Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
jam
Kriteria hasil :
1) Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan.
2) Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri.
2) Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas.
3) Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
4) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas
keberhasilannya
7. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya
hipertensi yang diderita klien
Tujuan:
Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x
24
Jam
Kriteria hasil :
1) Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang.
2) Ekspresi wajah rilek.
3) TTV dalam batas normal
Intervensi :
1) Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya
kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi
dalam rencana pengobatan.
2) Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi,
peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk
menyelesaikan masalah.
3) Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi
untuk mengatasinya.
4) Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi
maksimum dalam rencana pengobatan.
5) Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup
Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal.
6) Observasi TTV tiap 4 jam.
7) Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya,
8) Berikan support mental pada klien.
9) Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien
8. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
proses penyakit
Tujuan :
Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24 jam
Kriteria hasil:
1) Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi.
2) Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program
Intervensi :
1) Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur.
2) Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress.
3) Diskusikan tentang obat-obatan : nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan
efek samping atau efek toksik.
4) Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan
dokter.
5) Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter :
sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah..
6) Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil.
7) Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat.
8) Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai program.
9) Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah
yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein, teh
serta alcohol.
10) Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan.
11) Berikan support mental, konseling dan penyuluhan pada keluarga klien.
DAFTAR PUSTAKA

Adib, M. (2009). Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi, Jantung dan
Stroke. Edisi I. Yogyakarta: CV. Dianloka.

Gleadle, J. (2005). Anamesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Erlangga.

Muttaqin, A. (2009). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.

Maryam,R; Ekasari F,M. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika

Ruhyanudin, F. (2007). Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskuler. Jakarta: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang.

Sudoyo, A. W; Bambang, S & Idrus, A, et al. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam.Edisi Keempat Jilid 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
KEPERAWATAN GERONTIK

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN HIPERTENSI

Disusun Oleh
KELOMPOK I
EFA YANUREN / G2A215001
SRI WANINGSIH / G2A215002
MIRZA ADHALUL FAHMI / G2A215003
TRESI DELMI DAROSE / G2A215004
YUGA FAHRIZAL /G2A215005

PROGRAM STUDI S 1 KEPERAWATAN LINTAS JALUR


FAKULTAS KESEHATAN DAN ILMU KRPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2016