Anda di halaman 1dari 13

Rumusan Masalah :

1. Hikmah yang dapat kita petik dari sejarah perkembangan bangsa


2. Sejarah perkembangan bangsa dan kemajuan iptek
3. Issue-issue internasional yang mempengaruhi Indonesia

Pembahasan :
1. Hikmah yang dapat kita petik dari sejarah
perkembangan bangsa
Sejarah mengajari segalanya. Sejarah sebagai salah satu pelajaran berharga
yang dimiliki bangsa Indonesia. Perjuangan betapa sulitnya dalam berjuang untuk
meraih kemerdekaan dan untuk mengentaskan penderitaan yang dirasakan selama
berabad-abad lamanya. Dan itu semua dapat dientaskan dengan perjungan dalam
melawan penjajah. Rakyat dari berbagai suku, daerah, ras, dan pulau bersatu padu
menjunjung negeri pertiwi ini untuk meraih kemerdekaan.
Sejarah sebagai salah satu mata pelajaran dalam ilmu pengetahuan sosial
yang diajarkan di sekolah maupun di kuliah. Tujuan diajarkannya mata pelajaran
sejarah dalam ilmu pengetahuan sosial tidak lain dan tidak bukan adalah agar generasi
muda sebagai generasi penerus dapat menuai hikmah yang dapat dipercontohkan dari
perlawanan para pahlawan dan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan.
Bagaimana mereka dengan gigih berusaha mengentaskan penderitaan dari penjajahan
untuk menjadi bangsa yang merdeka.
Sejarah mengajari kita akan pentingnya kemerdekaan dan bagaimana
menghargai para pahlawan dalam meraih kemerdekaan. Mereka rela mati untuk
memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia, lalu bagaimana dengan para
generasi muda saat ini yang telah berada di masa kemerdekaan dan era globalisasi?
Sejarah sebagai salah satu mata pelajaran dalam ilmu pengetahuan sosial
yang diadaptasi dari landasan filsafat esensialisme. Dimana pada aliran filsafat ini
berprinsip berusaha untuk mundur satu langkah untuk menemukan nilai-nilai dan
norma-norma, barulah kemudian melangkah ke depan dengan harapan langkah-
langkah yang digunakan itu berlangsung dalam suasana yang tenang dan stabil.
Dalam hal ini dengan mempelajari mata pelajaran sejarah, dapat diambil hikmah dan
nilai-nilai perjuangan serta cinta tanah air. Selain itu generasi muda diharapkan akan
memiliki sikap cinta tanah air dan mampu memajukan bangsa serta mengangkat
harkat dan martabat bangsa.
Sejarah menunjukan proses perubahan peradaban, dari bangsa yang
terjajah hingga menjadi bangsa yang merdeka. Semangat para pahlawan bagaikan
suntikan semangat baru yang menggelora jika diulas kembali dalam pembelajaran
mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Perlunya rasa cinta tanah air, semangat juang
yang tinggi dan persatuan yang dapat dilihat dari perjuangan para pahlawan dapat
ditauladai dengan belajar sejarah bangsa Indonesia. Bagaimana menyikapi dan
menghargai para pahlawan dalam berjuang untuk kemerdekaan dan untuk kita para
generasi muda. Sudah seharunya semangat rela berkorban, dan cinta tanah air itu
diambil hikmah dan ditauladani. Persatuan para pahlawan dan rakyat Indonesia yang
cinta tanah air tidak akan mudah tergoyahkan oleh iming-iming KKN, atau korupsi,
kolusi dan nepotisme.
Generasi muda yang masih seperti pucuk daun dengan masa mudanya yang
berapi-api juga dengan sikapnya yang hanya ingin menang sendiri. Marilah menengok
kembali sejarah perjuangan para pahlawan negeri ini. Banyak hikmah yang dapat kita
ambil dari sejarah perjuangan mereka. Semangat cinta tanah air, rela berkorban dan
persatuan erat tanpa tendensi. Generasi muda, generasi penerus yang diharapkan
mampu membangun harkat dan martabat bangsa yang mulai terpuruk seperti saat ini.
Menjamurnya budaya korupsi di era reformasi dan era globalisasi ini menuntut
generasi muda untuk berbenah diri. Sudah saatnya generasi mudah mengentaskan
budaya korupsi. Bagaiamana caranya ? Sejarah telah mengajari segalanya. Sejarah
mengajari kita bagaimana mencintai negeri sendiri, sebagai wujud cinta mereka rela
berkorban jiwa dan raga untuk meraih kemerdekaan dan mengentaskan penderitaan
bukan menggerogoti uang rakyat seperti yang dilakukan para koruptor itu. Betapa
hebatnya seorang terpelajar yang diserahi amanat oleh rakyat agar memimpin bangsa.
Akan tetapi amanat yang diberikan justru disalahgunakan untuk menggerogoti uang
negara. Dimanakah letak kecintaan pada tanah air para pemimpin itu? Dan
dimanakah sifat rela berkorban bagi negara? Untuk memangku kepemimpinan saja
disalahgunakan. Alangkah langkanya pemimpin yang ADJUR, alias adil dan jujur itu
di negeri ini. Semuanya seolah sirna, pemimpin yang ADJUR itu langka, karena
segala sesuatu dinilai dengan uang.
Sudah saatnya pelajaran sejarah itu dikemas sedemikian rupa sehingga dapat
menarik generasi muda dalam hal ini para peserta didik untuk tertarik belajar sejarah.
Sejarah bukanlah dongeng, sejarah bukanlah cerita karangan yang di karang oleh para
pengarang, melainkan sejarah adalah pengalaman berharga yang dimilki oleh suatu
bangsa sebagai aset masa depan. Aset masa depan dimana generasi penerus dapat
mengambil hikmah yang terkandung dalam pelajaran sejarah itu sendiri untuk
menimbulkan perasaan menghargai dan mencintai bangsa sendiri, serta dapat
mengetahui kehidupan di masa penjajahan sebelum masa kemerdekaan seperti saat
ini.
Belajar sejarah adalah modal. Modal untuk melawan para penjajah modern.
Penjajah modern yakni para koruptor. Hidupkan kembali jiwa berapi-api yang
berkobar, merasakan betapa tercelanya perbuatan koruptor itu, bagaikan penjajah
yang siap memangsa uang di depan mata. Belajar sejarah adalah belajar hikmah.
Menjadi bangsa yang bermartabat adalah impian, dan bangsa yang bermartabat adalah
bangsa yang menghargai perjuangan para pahlwannya serta mengambil tauladan dari
semangat patriotisme mereka membangun Indonesia dari zero to be hero, say no to
corruption. History teaches us how to be.

2. Pengembangan Iptek, Industrialisasi, dan Kemajuan


Bangsa
Posted: 3 September 2009 in Bangsa,
Industrialisasi, IPTEK

Oleh: Rokhmin Dahuri


Pada 17 Agustus tahun ini, NKRI genap berusia 64 tahun. Kita seluruh rakyat
Indonesia patut bersyukur kepada Tuhan YME karena atas kehendak-Nya wilayah
darat dan laut Nusantara ini kaya dengan berbagai macam SDA (sumber daya alam).

Lebih dari itu, posisi geoekonomi Indonesia juga sangat strategis, dengan
sekitar 45% dari total volume perdagangan barang dan komoditas dunia diangkut
kapal-kapal niaga melalui alur laut kepulauan Indonesia. Karena itu, dengan jumlah
penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya Indonesia kini sudah menjadi bangsa
besar yang maju dan makmur.

Sayangnya, sampai sekarang status Indonesia masih sebagai negara


berkembang dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi serta daya
saing dan indeks pembangunan manusia (IPM) yang rendah. Bayangkan, dalam
lingkup ASEAN saja, IPM Indonesia hanya di atas Filipina, Kamboja, Laos, dan
Myanmar (UNDP, 2008).

Sementara itu, daya saing Indonesia di Asia hanya menempati urutan-42, satu
tingkat di atas Filipina. Vietnam bertengger pada peringkat-39, Thailand 26, China 20,
Malaysia 18, dan Singapura 1 (IMD, 2009). Padahal, di era globalisasi ini hanya
bangsa yang berdaya sainglah yang bisa maju, makmur, dan berdaulat (Porter, 1998;
Vietor, 2005).
Oleh sebab itu, mulai sekarang pemerintah bersama seluruh komponen bangsa
mesti mengembangkan sistem ekonomi nasional yang berdaya saing dan berdaya
lenting (resilient). Yakni sebuah sistem ekonomi yang mampu menghadirkan
kedaulatan pangan, energi, sandang, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya; dan
secara simultan bisa mengekspor sejumlah barang dan jasa secara efisien dan
berkelanjutan.

Itu dapat diwujudkan dengan memacu produktivitas dan efisiensi di setiap


sektor ekonomi, baik sektor riil maupun sektor keuangan. Kemudian, pemerintah
harus mendorong lahirnya perusahaan-perusahaan Indonesia berkelas dunia
(Indonesian multinational corporations) yang tidak hanya mampu menangkis serangan
pesaing-pesaing asing di pasar domestik, tetapi juga mampu melakukan penetrasi dan
memenangi persaingan di pasar global.

Selain ketersediaan infrastruktur, pasok energi, iklim investasi yang kondusif,


dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), variabel yang sangat
menentukan bagi terwujudnya sistem ekonomi yang berdaya saing dan resilient
adalah tingkat penguasaan dan penerapan iptek dalam seluruh mata rantai sistem
ekonomi dan industri suatu bangsa.

Di Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara industri maju lainnya, sejak


1950-an sampai sekarang, pertumbuhan produktivitas ekonominya sekitar 87,5%
berasal dari kemajuan teknologi, hanya 12,5% yang disumbangkan penggunaan
kapital. Demikian pula halnya yang terjadi di Singapura, Malaysia, Taiwan, China,
India, dan emerging economies lainnya (Kynge, 2006; Narayanan, 2008).

Hal sebaliknya justru terjadi di Tanah Air. Sejak kemerdekaan sampai


sekarang, pemerintah dan pengusaha seakan membiarkan bangsa ini bergantung pada
teknologi impor. Hingga kini, kita menjadi bangsa konsumen produk teknologi
bangsa-bangsa lain, bukan inovator teknologi.

Ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi impor inilah yang


menyebabkan sistem ekonomi dan industri Indonesia kurang kompetitif. Selain itu,
input produksi lainnya juga sebagian besar diimpor. Contohnya, ketiga industri
andalan nasional (tekstil dan produk tekstil, elektronik, dan otomotif), ternyata
kandungan impornya mencapai 70% sampai 85%. Artinya, selama ini kita hanya
menjadi \tukang jahit\.

Agar dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada teknologi asing, dan
sekaligus mengembangkan sistem ekonomi dan industri nasional yang berdaya saing
dan resilient; kita harus melakukan institusionalisasi proses-proses inovasi teknologi.
Artinya, preskripsi-preskripsi teknologi yang mendasari beroperasinya unit-unit
produksi dalam sistem industri nasional harus merupakan hasil karya atau ada dalam
kendali bangsa kita sendiri.
Untuk itu, kita mesti melakukan langkah terobosan dengan menyempurnakan
sistem manajemen teknologi nasional (SMTN) beserta mekanisme kerjanya. Sebagai
sebuah sistem, SMTN terdiri dari empat komponen: produsen, pengguna, penyandang
dana, dan regulator teknologi. Tujuan SMTN adalah agar bangsa Indonesia secara
mandiri mampu menghasilkan dan mengembangkan teknologi, kemudian
mengaplikasikan teknologi tersebut dalam sistem industri dan ekonomi nasional
sehingga menghasilkan barang dan jasa yang kompetitif secara berkelanjutan.

Seluruh aktivitas pembangunan ekonomi dan industri nasional harus secara


sistemik lebih banyak menggunakan teknologi yang dihasilkan oleh putra-putri
bangsa sendiri (endogenous technology). Pengembangan endogenous technology
memerlukan SDM berkualitas di bidang penelitian dan pengembangan (R&D) dengan
jumlah yang mencukupi, prasarana dan sarana R&D yang mumpuni (bertaraf
internasional), dan dukungan dana yang memadai.

Pengembangan model ini hendaknya difokuskan pada jenis-jenis teknologi


yang dapat mendukung sektor ekonomi yang merupakan keunggulan kompetitif
Indonesia, yakni industri berbasis SDA termasuk pertanian, kehutanan, kelautan dan
perikanan, pertambangan dan energi, dan pariwisata.

Adapun jenis-jenis endogenous technology yang dimaksud, antara lain


teknologi budi daya flora dan fauna, teknologi pengolahan SDA terbarukan, teknologi
herbal, bioteknologi, energi terbarukan, teknologi minyak dan gas bumi, teknologi
pertambangan umum, teknologi pendukung industri pariwisata, teknologi kelautan,
coastal engineering and management, teknologi perkapalan, teknologi material,
teknologi informasi dan komunikasi, dan nanotechnology.

Bioteknologi memungkinkan kita untuk meningkatkan produktivitas budi daya


hewan dan tumbuhan berlipat ganda yang ramah lingkungan. Selain itu, dengan
bioteknologi kita dapat mengekstraksi senyawa-senyawa bioaktif dari berbagai jenis
organisme terestrial maupun perairan sebagai bahan baku untuk industri farmasi,
kosmetik, makanan dan minuman, dan beragam industri lainnya.

Dalam jangka pendek, ada baiknya kita meneladani Korea Selatan, Singapura,
dan China yang dengan cerdas memanfaatkan kiprah korporasi multinasional di
negeri mereka untuk memacu pertumbuhan ekonomi, transfer teknologi, dan
peningkatan daya saing nasional (Kwong, et.al., 2001; Kynge, 2006).

Transfer teknologi merupakan salah satu prasyarat utama dalam setiap


perjanjian kerja sama investasi dengan korporasi multinasional. Perusahaan-
perusahaan multinasional itu mendatangkan berbagai mesin dan peralatan industri
mutakhir (state of the art technology) dari negara mereka (negara industri maju) ke
tiga negara tersebut. Selain itu, mereka membawa serta perangkat lunak untuk
mengoperasikan beragam jenis mesin dan peralatan industri, dan untuk sistem
pengendalian proses produksi.
Korporasi multinasional juga menularkan etos kerja industrial kepada para
karyawan dan teknisi di ketiga negara itu melalui berbagai program pendidikan dan
pelatihan. Lebih dari itu, pemerintah Korsel, Singapura, dan China pun mewajibkan
korporasi multinasional untuk melibatkan para peneliti, dosen, dan mahasiswanya
dalam kegiatan R&D mereka. Pengetahuan, keahlian, dan etos kerja industrial yang
diperoleh melalui on the job training semacam ini berkontribusi sangat signifikan
terhadap pembentukan SDM (human capital) yang berkualitas di Korsel, Singapura,
dan China.

Dalam jangka panjang, sistem pendidikan dari mulai TK sampai perguruan


tinggi harus dirancang supaya mampu menghasilkan SDM berkualitas dalam jumlah
sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan zaman.

Yaitu para lulusan pendidikan tingkat menengah, diploma, sarjana, magister,


dan doktor yang mampu berpikir jernih dan logis, kreatif, inovatif, mampu
berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan asing dengan baik, melek teknologi
informasi (computer literacy), berjiwa wirausaha, memiliki etos kerja tinggi, dan
beriman dan takwa kepada Tuhan YME. Selain sejumlah kemampuan dasar tersebut,
lulusan tingkat menengah kejuruan, diploma, S-1, S-2, dan S-3 tentu harus menguasai
keahlian yang menjadi bidang studinya.

Untuk mengurangi pengangguran terdidik yang kian membeludak, jumlah dan


kualitas lulusan dari setiap program studi mestinya disesuaikan dengan kebutuhan
tenaga kerja nasional saat ini dan di masa mendatang, semacam program link and
match.

Dari sisi permintaan, Depnakertrans berperan sebagai leading sector yang


menyusun database kebutuhan tenaga kerja nasional saat ini dan yang akan datang.
Masukan data berasal dari semua departemen dan instansi pemerintah, pemda, swasta
(Kadin), dan sektor informal. Database tentang kebutuhan tenaga kerja ini menjadi
dasar bagi perencanaan pembangunan sistem pendidikan nasional oleh Departemen
Pendidikan Nasional bersama perguruan tinggi, dan sekolah menengah sebagai
penghasil tenaga kerja terdidik dan terampil.

Balai latihan kerja di bawah Depnakertrans dan sejumlah Departemen teknis


harus lebih ditingkatkan lagi fungsinya guna memoles para lulusan sekolah tingkat
menengah, diploma, atau perguruan tinggi yang belum siap kerja menjadi lebih siap
kerja.

Sebagaimana di negara-negara industri maju, sudah saatnya kita mendukung


perguruan tinggi secara sungguh-sungguh agar menjadi research-based university,
yang mampu menghasilkan teknologi dan berbagai produk inovatif.

Kurikulum pendidikan harus terus disempurnakan sesuai kebutuhan


pembangunan dan perkembangan peradaban manusia. Laboratorium, kebun
percobaan, kapal latih dan penelitian, perpustakaan, dan prasarana serta sarana
lainnya harus terus dikembangkan. Kesejahteraan guru, dosen, dan staf nonakademik
yang kini masih jauh dari cukup juga mesti segera ditingkatkan.

Di seluruh dunia, temuan teknologi dari aktivitas penelitian di perguruan


tinggi (PT) dan lembaga penelitian semuanya bersifat skala laboratorium. Untuk
menjadikannya sebagai teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia perlu
upaya scaling-up (komersialisasi) temuan tersebut. Di sini pemerintah dan swasta
dituntut bekerja sama dengan PT dan lembaga penelitian dalam mentransformasi
temuan hasil penelitian berskala laboratorium menjadi teknologi komersial yang siap
pakai oleh masyarakat. Kebijakan dan struktur politik-ekonomi negara harus
mendukung tumbuh kembangnya masyarakat yang mencintai science and technology
(iptek).

Wujudnya antara lain bisa berupa pemberian beasiswa kepada 30.000 anak
bangsa terbaik untuk meraih PhD (doktor) di bidang iptek di berbagai universitas
terbaik, baik di dalam negeri maupun luar negeri, sampai 2030. Begitu selesai studi,
mereka kembali mendarmabaktikan ilmu dan kepakaran bagi kemajuan dan
kemakmuran bangsa.

Strategi itulah yang menjadi kunci sukses kemajuan ekonomi China yang
spektakuler dalam dekade terakhir. Dari 1985 sampai 2005, China menghasilkan
30.000 PhD di bidang science and technology (Surya, 2009), sedangkan kita hanya
sekitar 4.000 PhD. Akhirnya, pemerintah dan masyarakat seyogianya menghargai
orang lebih karena ilmu dan amalnya, bukan karena harta dan takhtanya. Dirgahayu
Indonesia!

3. Issue issue internasional yang mempengaruhi


Indonesia
Hubungan yang semakin tinggi dan erat antarmanusia dan masyarakat dari
berbagai Negara akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kegiatan manusia.
Kegiatan tersebut meliputu kehidupan ekonomi, politik, sosial budaya, dan keamanan.
Jadi globalisasi mencakup berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Aspek
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Aspek Teknologi
Kemunculan berbaai ragam teknologi yang memudahkan manusia
dalam mencakup kebutuhan hidup.
b. Aspek Ekonomi
Adanya global yang dirincikan ekonomi pasar bebas. Barang dan jasa
dari berbagai Negara akan keluar masuk Negara dan saling mengisi untuk
pemenuhan kebutuhan.
c. Aspek Ideologi dan Politik
Munculnya ide keterbukaan, demokrasi, pemerintah yang bersih, nilai
hak asasi manusia.
d. Aspek Sosial Budaya
Masuknya nilai dan budayadari satu bangsa ke bangs lain. Perilaku
sosial dan budaya sebuah bangsa dipengarhi oleh bangsa lain.
e. Aspek Pertahanan keamanan
Kebutuhan untuk memelihara kebutuhan bersama dari gangguan
keamanan yang bersifat ancaman bersama pula. Cintohnya, terorisme dan
pembajakan.
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena
globalisasi di dunia.

Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antarnegara menunjukkan


keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia.

Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang


seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa
komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan
massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya
yang berbeda.
Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling
bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional,
peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi
semacam World Trade Organization (WTO).
Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama
televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini,
kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru
mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam
bidang fashion, literatur, dan makanan.
Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup,
krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Isu-isu global dalam Kehidupan
Akibat arus budaya global, isu-isu international sekarang ini banyak
berpengaruh pada aspek politik. Pengaruh itu, melalui isu tentang demokrasi, isu jak
asasi manusia, dan transparansi (keterbukaan). Pada aspek sosial budaya muncul isu
tentang perlunya sikap pluralisme dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam bidang
ekonomi muncul pasar global (global market) dan pesaing global, sedangkan di
bidang keamanan muncul isu terorisme. Beberapa isu internasional yang sering
terdengar adalah sebagai berikut.
Isu tentang Demokrasi
Paham demokrasi berdasarkan bahwa kedaulatan berada di tangan
rakyat. Oleh karena itu, rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi di
Negara. Demokrasi sebagai sistem politik harus mengikutsertakan rakyat dalam
pengambilsn keputusan. Semua Negara ingin disebut sebagai Negara dmokrasi.
Negra-negara yang belum berpemerintahan demokrasi atau masih melakukan
praktik pemerintahan otoriter banyak di kecam oleh Negara lain. Negara-
negara otoriter umumnya terkucilkan dari pergaulan internasional. Contoh
Negara Myanmar (Burma).

Isu tentang Hak Asasi Manusia


Masalah hak asasi manusia berkaitan erat dengan demokrasi. Sekarang
ini dunia sangat memperhatikan penegakan hak asasi manusia. Adanya
berbagai perang, pertentangan, dan konflik antar bangsa dikarenakan adanya
penindasan terhadap hak asasi manusia dan perilaku sewenag-wenang. Masalah
hak asasi manusi merupakn masalah internasional.
Isu tentang Transparansi (Keterbukaan)
Transparansi atau keterbukaan terutama ditunjukan pada penyelenggara
pemerintahan negara. Pemerintahan ynag tertutup tidak akan lama bertahan
lama sebab kemajuan informasi telah mampu menerobos berbagai ketertutupan
yang disembunyikan pemerintah. Pemerintahan yang tertutup uga dianggap
tidak demokratis karena tidak ada pertanggungjawaban public dan tidak
mengikutseertakan rakyat dalam bernegara. Hal ini bertentangan dengan pesan
demokrasi.penyelenggaraan negaradiharapkan berlaku terbuk dan transparan
terhadap rakyatnya.
Isu tentang pelestarian lingkungan hidup
Lingkungan hidup merupakan isu internasional yng ditunjukan terhadap
Negara-negara. Sekarang ini, lingkungan hidup yang rusak dapat menjadi
ancaman baru bagi umat manusia. Negara-negara yang memiliki kakayaan
alam dan hutan dihimbau untuk serius dalam melestarikan lingkungan hidup.
Misalnya kbakaran hutan di Kalimantan buakn hanya merugikan Indonesia,
tetapi mengganggu Negara-negara tetangga, bahkn mengancam ekosistem
dunia. Tindakan prusakan lingkungan juga mendapat kecaman masyarakat
internasional.
Isu tentang Pluralisme
Dalam masyarakat global, hubungan antarmanusia akan makin intensif
dan tidak hanya manusia sebangsa, tetapi manusia berbeda ras, agama, nilai
budaya, bahasa, dan adat. Sikap menghargai kebenarekaan dan perbedaan
(pluralisme) sangat dibutuhkan. Apabila suatu bangsa memaksa nilai
budayanya dan tidak menghargai budaya lain, hubungan global akan rusak.
Isu tentang pasar global
Alam era global, barang, jasa, dan produk dari berbagai Negara akan
masuk dan saling berkompetisi dengan produk local. Arus keluar masuk barang
dan jasa tidak lagi dibatasi. Di wilayah-wilayah regional dibentuk pasar
bersama, misalnya di Asia dengan pemberlakuan AFTA (ASEAN Free Trade
Area) 2003, di Amerika dengan NAFTA.

Akibat yang Terjadi jika Tidak Ada Kepedulian terhadap Masalah Internasional
Sekarang isu internasional telah menjadi persyaratan bagi dunia internasional
dalam bekerja sama dan memberi bantuan terhadap suatu Negara. Bagi Negara yag
tidak memenuhi persyaratan seperti penegakan hak asasi manusia, Negara terseut
akan kesulitan member bantuan. Ketidakpedulian terhadap isu-isu internasional akan
makin menambah berat beban Negara itu dalam kelangsungan hidupnya.
Pada era Globalisasi ini, tidak ada Negara yag mampu berdiri sendiri tapa
bekerja sama dan berhubungan dengan Negara lain. Amerika Serikat yang dikatakan
sebagai Negara besar dan maju pu tetap membutuhkan Negara-negara lain dalam
pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, ketidakpedulian suatu Negara
terhadap isu internasional justru mempersulit Negara tersebut dalam kenajuan
bangsanya.
Bidang Ekonomi
Bangsa Indonesia mengalami kesulitan di bidang ekonomi untuk
mempertahankan kebijakan ekonomi yang independen dan otonom. Camput
tangan pemerintah dalam bidang ekonomi juga makin sulit dilakukan karena
lambannya penanganan. Semua itu mengakibatkan kebijakan ekonomi dari
pemerintah tidk menarik lagi.

Program yang dilakukan oleh Internasional Monetery Fund (IMF)


merupakan conto kasus yang jelas. Calon penerima bntuan IMF harus
memenuhi beberapa persyaratan, yaitu perluasan kredit, memotong belanja
public, dan penguragan program subsidi untuk kesejahteraan umum. Hal yang
demikian itu berarti mengaitkan bantuan ekonomi dengan politik dalam negeri
yaitu prinsip demokrasi.

Bidang Politik
Pengaruh globalisasi di bidang ekonomi memaksa Indonesia membuat
penyesuaian kebijakan ekonomi sehingga merambah juga ke bindang lainnya.
Pengaruh globalisasi dalam politik Indonesia berpengaruh terhadap masuknya
nilai-nilai demokrasi dari luar yang universal itu masih diterima dengan sikap
curiga. Kecurigaan ini wajar bagi Indonesia karena memengaruhi kedaulatan.
Kecurigaan yang timbul ialah kesengajaan maksud negatif untuk menekan
Indonesia dan Negara-negara berkembang lainnya. Kita memikirkan
kemungkinan timbulnya kasus bahwa orang asing dapat memiliki tanah dan
rumah di Indonesia. Apakah dngan diberikannya izin kepada orang asing dapat
berarti merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional itu, siapa yang
melanggar dan siapa yang dirugikan. Keputusan yang dapat diambil oleh
Indonesia tentu saja dapat memengaruhi Negara-negara lainnya.
Hubungan Internasional
Bagaimanakah hubungan Indonesia dengan Negara-negara lain
seandainya Indonesia tidak mempedulikan masalah-masalah internasional,
seperti perang Irak? Indonesia akan memperoleh kecaman, baik dari dalam
maupun luar negeri.
Bidang Teknologi dan Komunikasi
Apabila Indonesia tidak mempedulikan masalah-masalah internasional
hal itu juga dapat memengaruhi perkembangan teknologi dan komunikasi di
Indonesia. Bahkan, pengaruhnya dapat sampai pada perkembangan pemikiran
para individu, kebudayaan, bahkan agama. Pada akhirnya kita harus menerima
perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh adanya globalisasi. Tidak hanya
oleh Indonesia dan Negara-negara berkembang lainnya, tetapi juga oleh seluruh
dunia. Kedaulatan nasional hanya akan memberi makna apabila memberikan
kaddilan kepada masyarakat.
Isu tentang ISIS di dunia Internasional

ISU Islamic State Iraq and Syiria (ISIS) merupakan salah satu isu yang
mendunia saat ini di samping beberapa isu global lainnya. ISIS adalah sebuah gerakan
yang menunggangi agama Islam. Banyak pihak yang merasa terancam dengan
gerakan ini, tidak hanya pihak non-Muslim tetapi juga pihak Muslim. ISIS yang
berada di Timur Tengah seakan meneror keberadaan dunia.

Indonesia yang adalah negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di


dunia menjadi salah satu target gerakan ini untuk menyebarkan ideologinya.
Menanggapi hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi-organisasi Islam
di Indonesia menyatakan bahwa ISIS dilarang masuk ke Indonesia dan oleh karena itu
perlu diwaspadai oleh semua pihak.

Selain pihak Islam yang menyatakan sikap penolakkan terhadap ISIS, banyak
pihak yang berusaha menyakinkan masyarakat bahwa ISIS adalah organisasi yang
dilarang untuk berkembang di Indonesia. Pada hari Rabu, 08 Agustus 2014, sebanyak
31 pastor Ordo Dominikan dari berbagai benua mengadakan dialog di Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Tujuan dialog ini adalah untuk
mendengar bagaimana tanggapan dan suara muslim Indonesia dalam menyikapi
kekerasan dan radikalisme yang terjadi belakangan ini yang mengatasnamai agama
termasuk ISIS.

Ketika orang luar cemas dan peduli dengan situasi ini, bagaimana dengan kita?
Apakah kita merasa bahwa ISIS tidak berpengaruh untuk kehidupan kita? Buktinya di
beberapa tempat, ISIS mulai nampak. Di Bima NTB, misalnya, ditemukan bahwa di
sebuah rumah warga dikibarkan bendera ISIS beberapa hari kemudian diturunkan
secara paksa oleh pihak kepolisian. Sealain itu, Ketua Harian Jamaah Anshorut Tauhid
(JAT), Afif Abdul Majid, ditangkap karena ikut mendeklarasikan bergabung ISIS
bersama ustad Abu Bakar Baasyir.

Menoleh ke Flobamora, banyak pihak yang melihat ISIS sebagai ancaman


bersama. Danrem 161/Wira Sakti, Brigjend TNI Achmad Yuliarto mengajak seluruh
masyarakat NTT untuk menolak kebeadaan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di
Indonesia termasuk wilayah Flobamora, sikap ini adalah sikap negara.

Senada dengan Danrem, Kapolres Sikka, Ajun Komisaris Besar Polisi


(AKBP), Budi Hermawan, S.Ik mengimbau masyarakat Kabupaten Sikka untuk peka
terhadap kehadiran orang baru di lingkungan tempat tinggal mereka. Imbauan ini
merupakan salah satu sikap penolakan terhadap kehadiran ISIS di daerah kita.
Penolakan serupa datang dari Ende, Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten
Ende, Yosep Nganggo, S.Ag dalam sambutan pada acara halal bihalal yang diadakan
Kandepag Ende meyambut hari raya Ramdhan menyebut ISIS sebagai Meto-Virus
yang harus diwaspadai oleh semua pihak di kabupaten ini.
Menurutnya, jika meto itu dibiarkan ada, maka bukan tidak mungkin bahwa
kerukunan yang sudah ada di kabupaten Ende akan terancam.

Beberapa pihak yang disebutkan di atas adalah wakil dari semua elemen
masyarakat. Tidak sedikit orang yang berharap isu ISIS tidak masuk ke dalam bangsa
yang mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika. Mengikuti ungkapan klasik,
"dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu" , meningkatkan kita bahwa
kemungkinan selalu ada bahwa ISIS akan masuk ke Indonesia dan mengancam
toleransi kita. ISIS dapat masuk melalui mereka yang kurang wawasan dan mengerti
sedikit arti pluralisme dan toleransi. Mereka melihat keberadaan yang lain sebagai
ancaman bagi keberadaan mereka. Orang-orang seperti inilah yang perlu mendapat
perhatian khusus dari semua pihak karena mereka ini adalah meto-virus yang dapat
membawa perpecahan di antara kita.

Perlu disadari bahwa ISIS bukanlah gerakan agama Islam sehingga yang
muslim harus masuk ke dalamnya. Ketika orang mengerti bahwa ISIS adalah gerakan
agama Islam dan semua orang yang masuk ke dalamnya akan memperoleh
keselamatan, maka bukanlah mustahil dalam waktu dekat ISIS akan berjaya di negara
yang menjunjung tinggi pancasila ini. Perlu dipahami bahwa ISIS adalah sebuah
gerakan "egoisme" yang ada dan hidup karena keegoisan seseorang untuk mejadi
yang paling berpengaruh yang kebetulan beragama Islam.

Dengan demikian agama Islam dalam masalah ISIS tidak lebih dari kuda yang
ditunggangi. Jadi, ISIS bukanlah gerakan Islam, ia hanyalah sebuah gerakan yang
hidup karena ambisius pribadi. Jika orang Indonesia masuk dan menjadi anggota ISIS,
ia tidak menjadi pengkut ajaran Islam yang saleh tetapi ia adalah budak dan korban
dari keegoisan dan ambisi orang Timur Tengah yang mendirikan ISIS itu sendiri.

Hemat penulis, ketika semua orang mengerti bahwa ISIS adalah gerakan
egoisme sesorang, maka tidak seorang pun yang mendukung gerakan tersebut. Apa
lagi masyarakat Indonesia yang berada jauh dari Timur Tengah pasti tidak terjebak
dalam isu ISIS tersebut.

Berhadapan dengan banyak kekerasan yang mengatasnamai agama, maka


pada saat yang sama toleransi kita digugat. Dalam pemikiran Barat, toleransi
mencakupi tiga aspek penting yakni apek personal, aspek sosial dan aspek politis.
Toleransi personal berarti seorang warga negara menghargai sesama manusia untuk
menganut agama, konvensi atau keyakinan politik. Toleransi sosial terungkap dalam
masyarakat yang memperbolehkan siapa saja untuk menyakini sesuatu atau tidak
menyakini apa-apa dan mengembangkan diri dalam ideologi atau pandangan apa saja.
Sedangkan toleransi politis disebut juga toleransi sebagai prinsip hukum dan Negara.
Di sini, negara menempatkan toleransi dalam konstitusi sebagai jaminan kebebasan
beragama dalam pengertian hak-hak asasi manusia.

Bersemboyankan Bhinaka Tunggal Ika dan berlandaskan pancasila adalah


gambaran bahwa kerberadaan negara kita sangat menjunjung tinggi pluralisme dan
dengan demikian, sikap toleransi akan lahir dengan sendirinya. Banyak aturan
perundang-undangan yang mengatur tentang toleransi bahkan konstitusi kita telah
menetapkan bagaimana kita harus berikap toleransi. Ketiga aspek toleransi di atas
sudah ada dan hidup dalam dokumen nagara kita. Semuanya itu tidak lebih dari hiasan
semata, jika tidak dapat diwujudnyatakan dalam keseharian hidup kita. Pada tahap ini,
toleransi kita digugat.

Toleransi tidak hanya dimenngerti sebagai aturan belaka tetapi harus dihidupi
dalam keseharian kita. Kekerasan atas nama agama termasuk isu ISIS mengugat
toleransi kita. Apakah tolerasnsi kita hanya sebatas konsep dalam dokumen negara
tanpa ada realisasinya? Ketika kekerasan atas nama agama terus terjadi dan isu ISIS
menjadi penyebab pecahnya persaudaraan kita yang dibangun di atas wadas pancasila,
maka toleransi kita masih ada dalam dokumen-dokumen dan sama sekali belum
membumi.

Siapakah yang berperan untuk membumikan toleransi? Toleransi akan hidup


dalam kehidupan nyata apabila semua pihak melihat yang lain sebagai saudara yang
perlu dihormati. Mampukah kita melihat yang lain sebagai saudara? Jawaban atas
pertanyaan ini adalah jawaban atas gugatan toleransi kita. * (Mahasiswa STFK-
Ledalero)

http://kupang.tribunnews.com/2014/08/22/isu-isis-dan-gugatan-toleransi-kita