Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rhinosinusitis merupakan masalah kesehatan yang signifikan yang

tampaknya mencerminkan dari peningkatan frekuensi rhinitis alergi dan yang

menyebabkan beban keuangan yang besar pada masyarakat. Rhinosinusitis adalah

istilah yang luas yang mencakup beberapa penyakit, termasuk rhinosinusitis akut,

rhinosinusitis kronik dengan polip hidung atau tanpa polip hidung. Di Amerika

Serikat, survei rumah tangga berbasis populasi yang dilakukan oleh National

Center for Health menemukan prevalensi rinosinusitis dilaporkan sendiri 13%

pada tahun 2009. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang

merupakan infeksi virus, alergi dan gangguan anatomi yang selanjutnya dapat

diikuti infeksi bakteri.1,2

Rhinosinusitis sering disebut sebagai sinusitis. Sinusitis terjadi ketika

sinus tersumbat atau terlalu banyak lendir yang menyebabkan satu atau lebih

rongga menjadi meradang atau bengkak. Rhinitis alergi atau asma dapat dikaitkan

dengan sinusitis kronis. Di negara-negara Eropa Barat 40% dari anak-anak saat ini

menderita rhinitis alergi sehingga menyebabkan obstruksi pada hidung. Akibatnya

dapat mengganggu pertumbuhan tulang wajah.3,4

Rhinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan

mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rhinosinusitis dapat

mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter

umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai

definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit rhinosinusitis ini. Bahaya dari

1
rhinosinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini

terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tidak dapat

dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap rhinosinusitis ini menjadi

yang penting.5

1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas


penulisan laporan kasus di SMF THT.KL

BAB II

2
LAPORAN KASUS

2.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. R
Umur : 42 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Bojongsari - Losari
Agama : Islam

Tanggal Pemeriksaan: 01 Maret 2017

2.2. ANAMNESIS
Anamnesis : Autoanamnesis & Alloanamnesis
Keluhan Utama : Hidung terasa bau sebelah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik THT dengan keluhan hidung terasa bau
sebelah kiri sudah sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan disertai pilek yang hilang
timbul sejak 3 minggu terakhir dan penciuman berkurang. Os mengaku keluar
cairan dari hidung yang berwarna putih agak kekuningan dan kental dan berbau.
Dirasakan ada ingus yang mengalir dari hidung ke tenggorokan (+). Gejala
tersebut kemudian disertai nyeri kepala di daerah sekitar dahi yang menyebar ke
daerah pipi dan demam yang suhunya tidak terlalu tinggi. Nyeri tersebut dirasakan
terutama bila dalam posisi sujud. Batuk (+) tidak terlalu sering, sedikit, dahak (+).
Pasien sudah meminum obat dari puskesmas untuk mengatasi gejalanya namun
tidak ada perubahan.
Hidung tersumbat dan bersin-bersin terutama pada pagi hari disangkal.
Hidung tersumbat yang menetap di sangkal pasien. Riwayat trauma pada daerah
muka disangkal, riwayat adanya benjolan atau tumor pada hidung disangkal,
riwayat perdarahan pada hidung disangkal.

3
Pasien pernah sakit gigi dan mengaku memiliki gigi berlubang pada gigi
geraham yang kedua kiri atas dan geraham yang pertama pada kanan atas yang
dan belum diobati.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien sering menderita
batuk & pilek. Riwayat trauma, keluar darah dari hidung, suka mengorek telinga,
dan sering berenang disangkal. Riwayat penyakit lain seperti diabetes melitus dan
hipertensi juga disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengaku tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini. Riwayat
alergi dan asma pada keluarga disangkal penderita.

Riwayat Alergi
Riwayat alergi seperti bersin-bersin dan gatal-gatal ketika terkena debu,
atau setelah memakan makanan tertentu disangkal. Riwayat asma juga disangkal.

2.3. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : Tekanan darah : tidak dilakukan
Suhu : 36 C
Nafas : 22 x/ menit
Nadi : 80 x/ menit

4
1. Pemeriksaan Generalis
Kepala :
Kepala bentuk normocephal, rambut warna hitam keputihan, distribusi
merata dan tidak mudah rontok, deformitas (-), krepitasi (-), dan bekas
luka (-) ruam (-)

Thorax :
Inspeksi : Bentuk normochest simetris, retraksi ICS
(-), otot bantu pernapasan lain (-), bekas luka (-) deformitas (-),
ictus cordis tidak nampak
Palpasi : Nyeri tekan lapang paru (-), fremitus taktil (+)
simetris, ekspansi pernapasan simetris, krepitasi (-), ictus cordis
teraba di ICS IV linea parasternal sinistra, ukuran 1 cm, reguler,
dan kuat angkat
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru, batas paru hepar di
ICS VI, batas kanan jantung di ICS IV linea parasternalis dextra,
apeks jantung di ICS VI linea aksilaris anterior sinistra, dan
pinggang jantung di ICS III parasternalis sinistra
Auskutasi : vesikuler +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/-, fremitus
vocal (+), Bunyi jantung 1 2 reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : Bentuk datar, supel, bekas luka (-) benjolam (-)
pelebaran pembuluh darah (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen, ukuran hepar
normal
o Palpasi : Nyeri tekan superfisial dan
profunda (-), palpasi hepar, lien, dan ginjal tidak ada
pembesaran, asites (-)
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2, edema tungkai -/-

Status lokalis
Telinga

5
Auris
Bagian Kelainan
Dextra Sinistra
Fistel - -
Abses - -
Preaurikula
Sikatrik - -
Nyeri tekan - -
Bentuk Normal Normal
Infeksi - -
Aurikula Trauma - -
Tumor - -
Nyeri tekan - -
Edema - -
Abses - -
Fistel - -
Retroaurikula
Sikatrik - -
Nyeri tekan - -

Nyeri pergerakan - -
Palpasi aurikula
Nyeri tekan tragus - -
Warna - -
Sekret - -

+
Canalis Acustikus
-
Externa Serumen +
-
Furunkel -
Edema -

6
Warna Hiperemis Hiperemis
Intak - -
Retraksi - -
Refleks cahaya + +
Membrana Perforasi - -
Timpani

Hidung
DEXTRA SINISTRA
Nyeri tekan :
Pangkal hidung (-) (+)
Pipi (-) (-)

Dahi (-) (+)


Bentuk Normal Normal
Sekret Encer jernih Encer kekuningan, jernih
Cavum nasi Sempit Sempit
Mukosa Hiperemis Edema, pucat
Massa, perdarahan, krusta (-) (-)
Konka inferior Livid (-), hipertrofi (-) Livid (+), hipertrofi (+)
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)

NASOPHARNYX
Koana : Tidak dilakukan pemeriksaan
Septum nasi posterior : Tidak dilakukan pemeriksaan
Muara tuba eustachius : Tidak dilakukan pemeriksaan
Tuba eustachius : Tidak dilakukan pemeriksaan
Torus tubarius : Tidak dilakukan pemeriksaan
Post nasal drip : (+)

PEMERIKSAAN TRANSLUMINASI
Sinus frontalis kanan, grade : Tidak dilakukan pemeriksaan
Sinus frontalis kiri, grade : Tidak dilakukan pemeriksaan
Sinus maksilaris kanan, grade : Tidak dilakukan pemeriksaan

7
Sinus maksilaris kiri, grade : Tidak dilakukan pemeriksaan

Mulut Dan Orofaring


Bagian Kelainan Keterangan
Mukosa mulut Tenang
Lidah Bersih, basah,gerakan normal kesegala
arah
Mulut Palatum molle Tenang, simetris
Gigi geligi Caries (-)
Uvula Simetris
Halitosis (-)
Mukosa Tenang
Besar T1 T1
Kripta : Normal - Normal
Detritus : (-/-)
Tonsil
Perlengketan (-/-)

Mukosa Tenang
Faring Granula (-)
Post nasal drip (+)

Maksilofasial
Bentuk : Simetris
Nyeri tekan :-

Leher
Kelenjar getah bening: Tidak teraba pembesaran KGB
Massa : Tidak ada

2.4. DIAGNOSIS BANDING

8
Rhinosinusitis kronik
Rhinosinusitis akut

2.5. DIAGNOSIS
Rhinosinusitis kronik
Dasar diagnosis:
Diagnosis kerja Rhinosinusitis kronis diambil berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien.

Anamnesis
Hidung terasa bau sudah sejak 2 bulan yang lalu
Cairan berwarna putih kekuningan
Keluhan baru pertama kali dirasakan
Panas badan disertai batuk pilek dirasakan sejak 1 minggu sebelum keluar
cairan dari telinga
Nyeri kepala didaerah dahi dan menjalar kepipi
Seperti ada lendir yang mengalir ke tenggorokan
Nyeri tersebut dirasakan terutama bila dalam posisi sujud
Pasien sering mengalami batuk pilek

Pemeriksaan Fisik
Untuk menegakkan diagnosis rhinosinusitis kronik, perlu dilakukan
pemeriksaan rinoskopi. Ditemukan adanya adanya pengeluaran cairan berwarna
putih kekuningan dan berbau pada cavum nasi sinistra disertai mukosa yang
tampak hiperemis pada kedua hidung.

Usulan pemeriksaan
Prick test
CT Scan sinus paranasalis tanpa kontras

2.6. PENGELOLAAN DAN TERAPI


I. Operatif: FESS
II. Non Operatif
i. Medika mentosa:

9
o R/ Amoxicillin caps No XXX
S3dd1
o R/ Fluticasone furoat nasal spray fl No II
S1dd spray II, selama 1 minggu
o R/ Cetirizine tab No X
S1dd1
o R/ Ambroksol tab No XV
S3dd1
ii. Non medika mentosa:
o Kontrol THT
o Hindari kontak dengan debu dan dingin
o Menggunakan masker
o Hindari makan dan minuman dingin, makan makanan yang
bergizi dan bervitamin

PROGNOSIS
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

10
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Dan Fisiologi Sinus Paranasal


Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal,
sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan
hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam
tulang. Semua sinus mempunyai muara ke rongga hidung.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa
rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan,
kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah
ada saat anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari dari sinus
etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi
sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-
superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksila
15-18 tahun. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara. Seluruh sinus
dilapisi oleh epitel saluran pernapasan yang mengalami modifikasi, dan
mampu menghasilkan mukus dan bersilia, sekret disalurkan ke dalam rongga
hidung.

Sinus Maksila

11
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir
sinus maksila bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat
dan akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa.
Sinus maksila berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus ialah
permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya
adalah permukaan infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding
lateral rongga hidung dinding superiornya adalah dasar orbita dan dinding
inferior ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di
sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris
melalui infindibulum etmoid.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah:
1. Dasar dari anatomi sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi
rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-
kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gigi
tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi
mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis.
2. Sinusitis maksila dapat menyebabkan komplikasi orbita.
3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga
drainase kurang baik, lagipula drainase juga harus melalui infundibulum
yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan
pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat
menghalangi drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan
sinusitus.

Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke
empat fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum
etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan
akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. Sinus frontal kanan dan
kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh
sekret yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya
mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak

12
berkembang. Ukurannya sinus frontal adalah 2.8 cm tingginya, lebarnya 2.4 cm
dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berleku-
lekuk. Tidak adanya gambaran septumn-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus
pada foto Rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisakan
oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi
dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui
ostiumnya yang terletak di resesus frontal. Resesus frontal adalah bagian dari
sinus etmoid anterior.1,2

Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-
akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi
sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etomid seperti piramid
dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm,
tinggi 2.4 cmn dan lebarnya 0.5 cm di bagian anterior dan 1.5 cm di bagian
posterior.1,2
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang
tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di
antara konka media dan dinding medial orbita, karenanya seringkali disebut sel-
sel etmoid. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi antara 4-17 sel (rata-rata 9 sel).
Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
superior. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya
di bawah perlekatan konka media, sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior
biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior
dari perlekatan konka media.1,2
Di bagian terdepan sinus etmoid enterior ada bagian yang sempit, disebut
resesus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar
disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang
disebut infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan

13
atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan
pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sisnusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan
lamina kribosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis
dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid
posterior berbatsan dengan sinus sfenoid.

Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.
Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya
adalag 2 cmn tingginya, dalamnya 2.3 cm dan lebarnya 1.7 cm. Volumenya
bervariasi dari 5-7.5 ml. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nerbus di
bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan
tampak sebagai indentasi pada dinding sinus etmoid.1,2
Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan
kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan
dengan sinus kavernosus dan a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi)
dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah
pons.1,2

Kompleks Ostio-Meatal
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada
muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior.
Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM),
terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus,
resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan
ostium sinus maksila.1,2

14
Gambar 1 : sinus
12
Sampai saat ini paranasal
belum ada kesesuaian pendapat mengenai fisiologi
sinus paranasal. Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal ini tidak
mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan
tulang muka. Namun ada beberapa pendapat yang dicetuskan mengenail fungsi
sinus paranasal yakni :1,2
1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karena
ternyata tidak didapati pertukaran udara yang definitive antara sinus dan
rongga hidung. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan
kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.
2. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi
orbita dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
3. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang
muka. Akan tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya
akan memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala,
sehingga teori dianggap tidak bermakna.
4. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi

15
sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai
resonator yang efektif. Lagipula tidak ada korelasi antara resonansi suara
dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak
misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus
6. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya
kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif
untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi
karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis.

3.2 RHINOSINUSITIS
3.2.1 Definisi
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal.
Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut
rinosinusitis. Penyebab utamanya ialah selesma (common cold) yang
merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi
bakteri. Sinusitis dikarakteristikkan sebagai suatu peradangan pada sinus
paranasal. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila
mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai
semua sinus paranasalis disebut pansinusitis. Disekitar rongga hidung
terdapat empat sinus yaitu sinus maksilaris (terletak di pipi), sinus
etmoidalis (kedua mata), sinus frontalis (terletak di dahi) dan sinus
sfenoidalis (terletak di belakang dahi).1,2
Dari 5 guidelines yakni European Position Paper on Rhinosinusitis
and Nasal Polyps 2007 (EP3OS), British Society for Allergy and Clinical
Immunology (BSACI) Rhinosinusitis Initiative (RI), Joint Task Force on
Practice Parameters (JTFPP), dan Clinical Practice Guidelines : Adult
Sinusitis (CPG:AS), 4 diantaranya sepakat untuk mengadopsi istilah
rinosinusitis sebagai pengganti sinusitis, sementara 1 pedoman yakni

16
JTFFP, memilih untuk tidak menggunakan istilah tersebut. Istilah
rinosinusitis dipertimbangkan lebih tepat untuk digunakan mengingat
konka nasalis media terletak meluas secara langsung hingga ke dalam
sinus ethmoid, dan efek dari konka nasalis media dapat terlihat pula pada
sinus ethmmoid anterior. Secara klinis, inflamasi sinus (yakni, sinusitis)
jarang terjadi tanpa diiringi inflamasi dari mukosa nasal di dekatnya.
Namun, para ahli yang mengadopsi istilah rinosinusitis tetap mengakui
bahwa istilah rinosinusitis maupun sinusitis sebaiknya digunakan secara
bergantian, mengingat istilah rinosinusitis baru saja digunakan secara
umum dalam beberapa dekade terakhir.10

3.2.2 Klasifikasi
Terdapat banyak subklasifikasi dari rinosinusitis, namun yang
paling sederhana adalah pembagian rinosinusitis berdasarkan durasi dari
gejala. Rinosinusitis didefinisikan akut menurut 3 guidelines (pedoman)
yakni oleh RI, JTFPP, dan oleh CPG:AS yakni apabila durasi gejala
berlangsung selama 4 minggu atau kurang. Oleh CPG:AS rinosinusitis
diklasifikasikan sebagai subakut apabila gejala berlangsung antara 4
minggu hingga 12 minggu, sedangkan definisi dari JTFPP menentukan
durasi subakut mulai dari 4 minggu hingga 8 minggu. Lebih jauh lagi
CPG:AS mendefinisikan rinosinusitis akut berulang (recurrent) sebagai 4
episode atau lebih rinosinusitis akut yang terjadi dalam setahun, tanpa
gejala menetap di antara episode, sementara JTFPP mendefinisikan
rinosinusitis akut berulang sebagai 3 episode atau lebih rinosinusitis akut
per tahun. Untuk rinosinusitis kronik, hampir semua pedoman sepakat
bahwa rinosinusitis kronik merupakan gejala rinosinusitis yang menetap
selama 12 minggu atau lebih, kecuali JTFFP yang menetapkan gejala
rinosinusitis yang menetap selama 8 minggu atau lebih sebagai kriteria
rinosinusitis kronik.10

3.2.3 Etiologi dan Faktor Predisposisi

17
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat
virus, bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita
hamil, polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau
hipertrofi konka, sumbatan kompleks osti-meatal (KOM), infeksi tonsil,
infeksi gigi, kelainan imunologik, diskenesia silia seperti pada sindrom
Kartgener, dan di luar negeri adalah penyakit fibrosis kistik. Faktor
predisposisi yang paling lazim adalah poliposis nasal yang timbul pada
rinitis alergika; polip dapat memenuhi rongga hidung dan menyumbat
sinus.1,2
Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab
sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan
sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya. Hipertrofi adenoid dapat
didiagnosis dengan foto polos leher posisi lateral.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara
dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaaan ini lama-lama
menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. 1
Penyebab sinusitis dibagi menjadi:
1. Rhinogenik
Penyebab kelainan atau masalah di hidung. Segala sesuatu yang
menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis.
Contohnya rinitis akut, rinitis alergi, polip, diaviasi septum dan lain-lain.
Alergi juga merupakan predisposisi infeksi sinus karena terjadi edema
mukosa dan hipersekresi. Mukosa sinus yang membengkak menyebabkan
infeksi lebih lanjut, yang selanjutnya menghancurkan epitel permukaan,
dan siklus seterusnya berulang.
2. Dentogenik/odontogenik
Penyebab oleh karena adanya kelainan gigi. Sering menyebabkan sinusitis
adalah infeksi pada gigi geraham atas (premolar dan molar). Bakteri
penyebab adalah Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenza,
Streptococcus viridans, Staphylococcus aureus, Branchamella catarhalis
dan lain-lain.

18
Penyebab yang yang cukup sering terjadinya sinusitis adalah disebabkan
oleh adanya kerusakan pada gigi.1,2
Sinusitis Dentogen
Merupakan penyebab paling sering terjadinya sinusitis kronik.
Dasar sinus maksila adala prosessus alveolaris tempat akar gigi, bahkan
kadang-kadang tulang tanpa pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti
infeksi gigi apikal akar gigi, atau inflamasi jaringan periondontal mudah
menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah dan
limfe. Harus dicurigai adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila
kronik yang mengenai satu sisi dengan ingus yang purulen dan napas
berbau busuk. Untuk mengobati sinusitisnya, gigi yang terinfeksi harus
dicabut dan dirawat, pemberian antibiotik yang mencakup bakteria
anaerob. Seringkali juga diperlukan irigasi sinus maksila.1
Sinusitis Jamur
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu
keadaan yang jarang ditemukan. Angka kejadian meningkat dengan
meningkatnya pemakaian antibiotik, kortikosteroid, obat-obat
imunosupresan dan radioterapi. Kondisi yang merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis jamur antara lain diabetes mellitus,
neutopenia, penyakit AIDS dan perawatan yang lama di rumah sakit. Jenis
jamur yang sering menyebabkan infeksi sinus paranasal ialah spesis
Aspergillus dan Candida.1
Perlu di waspadai adanya sinusitis jamur paranasal pada kasus
seperti berikut : Sinusitis unilateral yang sukar sembuh dengan terapi
antibiotik. Adanya gambaran kerusakkan tulang dinding sinus atau adanya
membran berwarna putih keabu-abu pada irigasi antrum. Para ahli
membagikan sinusitis jamur terbagi menjadi bentuk yang invasif dan non-
invasif. Sinusitis jamur yang invasif dibagi menjadi invasif akut fulminan
dan invasif kronik indolen. Sinusitis jamur invasif akut, ada invasi jamur
ke jaringan dan vaskular. Sering terjadi pada pasien diabetes yang tidak
terkontrol, pasien dengan imunosupresi seperti leukemia atau neutropenia,
pemakain steroid yang lama dan terapi imunosupresan. Imunitas yang

19
rendah dan invasi pembuluh darah meyebabkan penyebaran jamur menjadi
sangat cepat dan merusak dinding sinus, jaringan orbita dan sinus
kavernosus. Di kavum nasi, mukosa konka dan septum warna biru-
kehitaman dan ada mukosa konka atau septum yang nekrotik. Sering kali
berakhir dengan kematian. 1
Sinusitis jamur inavasif kronik biasanya terjadi pada pasien dengan
ganguan imunologik atau metabolik seperti diabetes. Bersifat kronik
progresif dan bisa menginvasi sampai ke orbita atau intrakranial, tetapi
gejala klinisnya tidak sehebat gejala klinis pada fulminan kerana
perjalanan penyakitnya berjalan lambat. Gejala-gejalanya sama seperti
sinusitis bakterial, tetapi sekret hidungnya kental dengan bercak-bercak
kehitaman yang bila dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur.
Sinusitis jamur non-invasif, atau misetoma, merupakan kumpulan jamur di
dalam ronggasinus tanpa invasi ke mukosa dan tidak mendestruksi tulang.
Sering mengenai sinus maksila. Gejala klinik merupai sinusitis kronik
berupa rinore purulen, post nasal drip, dan napas bau. Kadang-kadang ada
massa jamur di kavum nasi. Pada operasi bisa ditemukan materi jamur
berwarna coklat kehitaman dan kotor dengan atau tanpa pus di dalam
sinus.1

3.2.4 Epidemiologi
Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan, dengan
dampak signifikan pada kualitas hidup dan pengeluaran biaya kesehatan,
dan dampak ekonomi pada mereka yang produktivitas kerjanya menurun.
Diperkirakan setiap tahun 6 miliar dolar dihabiskan di Amerika Serikat
untuk pengobatan rinosinusitis. Pada tahun 2007 di Amerika Serikat,
dilaporkan bahwa angka kejadian rinosinusitis mencapai 26 juta individu.
Di Indonesia sendiri, data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan
bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola
penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di

20
rumah sakit. Rinosinusitis lebih sering ditemukan pada musim dingin atau
cuaca yang sejuk ketimbang hangat.1,6,11

3.2.5 Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan
lancarnya klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks
osteo-meatal. Sinus dilapisi oleh sel epitel respiratorius. Lapisan mukosa
yang melapisi sinus dapat dibagi menjadi dua yaitu lapisan viscous
superficial dan lapisan serous profunda. Cairan mukus dilepaskan oleh sel
epitel untuk membunuh bakteri maka bersifat sebagai antimikroba serta
mengandungi zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh
terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Cairan mukus
secara alami menuju ke ostium untuk dikeluarkan jika jumlahnya
berlebihan. 1
Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis
terjadinya sinusitis yaitu apakah terjadi obstruksi dari ostium. Jika terjadi
obstruksi ostium sinus akan menyebabkan terjadinya hipooksigenasi, yang
menyebabkan fungsi silia berkurang dan epitel sel mensekresikan cairan
mukus dengan kualitas yang kurang baik. Disfungsi silia ini akan
menyebabkan retensi mukus yang kurang baik pada sinus. Organ-organ
yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema,
mukosa yang berhadapan, akan saling bertemu sehingga silia tidak dpat
bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam
rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous.
Kondisi ini boleh dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan
biasanya sembuh dalam waktu beberapa hari tanpa pengobatan. 1
Bila kondisi ini menetap, sekret yang dikumpul dalam sinus
merupakan media baik untuk pertumbuhan dan multiplikasi bakteri.
Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis aku
bakterial dan memerlukan terapi antibiotik.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini
berhubungan dengan tiga faktor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan

21
kualitas sekresi hidung. Perubahan salah satu dari faktor ini akan merubah
sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis. 1

3.2.6 Manifestasi Klinis


Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai
dengan nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang seringkali
turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai dengan gejala sistemik
seperti demam dan lesu. 1
Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan
ciri khas sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat
lain (referred pain) . nyeri pipi menandakan sinusitis maksila, nyeri di
antara atau di belakang kedua bola mata menandakan sinusitis etmoida,
nyeri di dahi atau kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis
maksila kadang-kadang terdapat nyeri alih ke gigi dan telinga.
Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post-nasal
drip yang dapat menyebabkan batuk dan sesak pada anak.
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis.
Kadang-kadang hanya 1 atau 2 dari gejala-gejala di bawah ini:
a. Sakit kepala kronik
b. Post-nasal drip
c. Batuk kronik
d. Ganguan tenggorok
e. Ganguan telinga akibat sumbatan di muara tuba Eustachius
f. Ganguan ke paru seperti bronkitis (sino-bronkitis), brokietakasis,
serangan asma yang meningkat dan sulit diobati.
Pada anak, mukopus yang tertelan dapat menyebakan gastroenteritis. 1

3.2.7 Diagonsis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior, dan
posterior, pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis

22
yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius
(pada sinusitis maksila dan ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus
superior (pada sinusitis ethmoidalis posterior dan sfenoid). Pada
rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada
pembengkakan dan kemerahan pada kantus medius.Untuk membantu
diagnosis sinusitis, American Academy of Otolaryngology Head and Neck
Surgery (AAO-HNS) membuat bagan diagnosis yang disebut Task Force on
Rhinosinusitis pada tahun 1996. Bagan ini didasarkan atas gejala klinis yang
dibagi atas kategori gejala mayor dan minor untuk diagnosis rhinosinusitis.3

RINOSINUSITIS
Major Symptoms Minor Symptoms
Facial pain/pressure Headache
Facial congestion/fullness Fever (non acute)
Nasal obstruction/blockage Halitosis
Nasal discharge/purulence/discolored Fatique
posterior drainage
Hyposmia/anosmia Dental pain
Purulence on nasal exam Cough
Fever (acute rhinosinusitis only) Ear pain/pressure/fullness
a. Facial pain/pressure alone does not constitute a suggestive history for
diagnosis in the absence of another symptom or sign.
b. Fever in acute sinusitis alone does not constitute a seggustive history
for diangosis in the absence of another symptom or sign.
Tabel 1: Bagan Task force on Rhinosinusitis 19963

Riwayat yang konsisten dengan rinosinusitis memerlukan 2 faktor mayor


atau 1 mayor dan 2 faktor minor pada pasien dengan gejala lbih dari 7 hari. Ketika
adanya 1 faktor mayor atau 2 atau lebih faktor minor yang ada, ini menunjukkan
kemungkinan di mana rinosinusitis perlu di masukkan ke dalam diagnosa
banding. 3
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah foto polos atau CT-Scan. Foto polos
posisi Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus
besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan,air-

23
fluid level , atau penebalan mukosa. Rontgen sinus dapat menunjukkan kepadatan
parsial pada sinus yang terlibat akibat pembengkakan mukosa atau dapat juga
menunjukkan cairan apabila sinus mengandung pus. Pilihan lain dari rontgen
adalah ultrasonografi terutama pada ibu hamil untuk menghindari paparan radiasi.
3

Gambar 2: Foto rontgen sinus yang menunjukkan air-fluid level pada sinus etmoid
4

CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu


menilai secara anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus
secara keseluruhan dan perluasannya. CT scan mampu memberikan
gambaranyang bagus terhadap penebalan mukosa, air-fluid level, struktur tulang,
dan kompleks osteomeatal. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai

24
penunjang diagnosis sinusitis kronis yang tidak membaik dengan pengobatan atau
pra-operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus.3,4
MRI sinus lebih jarang dilakukan dibandingkan CT scan karena
pemeriksaan ini tidak memberikan gambaran terhadap tulang dengan baik.
Namun, MRI dapat membedakan sisa mukus dengan massa jaringan lunak dimana
nampak identik pada CT scan. Oleh karena itu, MRI akan sangat membantu untuk
membedakan sinus yang terisi tumor dengan yang diisi oleh sekret. 3,4
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram
atau gelap. Hal ini lebih mudah diamati bila sinusitis terjadi pada satu sisi
wajah,karena akan nampak perbedaan antara sinus yang sehat dengan sinus yang
sakit. Pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan karena sangat terbatas
kegunaannya. Endoskopi nasal kaku atau fleksibel dapat digunakan untuk
pemeriksaan sinusitis. Endoskopi ini berguna untuk melihat kondisi sinus ethmoid
yang sebenarnya, mengkonfirmasi diagnosis, mendapatkan kultur dari meatus
media dan selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. Ketika dilakukan
dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi dari hidung, kultur meatus media
sesuai dengan aspirasi sinus yang mana merupakan baku emas. Karena
pengobatan harus dilakukan dengan mengarah kepada organisme penyebab, maka
kultur dianjurkan. 3,4

3.2.8 Diagnosis Banding


Dokter perlu memahami keluhan pasien yang menggambarkan sinus
mereka bermasalah karena keluhan tersebut mungkin tidak melibatkan
sinus. Banyak kondisi yang mempunyai keluhan nyeri wajah atau sakit
kepala yang harus dipertimbangkan. Sindrom sakit kepala bisa termasuk
tension headache, migrain, cluster headache atau arteritis temporal. Pada
keluhan sakit mata harus dipertimbangkan glaukoma, kesalahan refraksi dan
strabismus. Neuralgia tengkorak, nyeri leher kronis, penyakit gigi dan
gangguan temporomandibular juga harus dipertimbangkan. Sakit kepala
mungkin disebabkan dari kontak septum hidung dengan salah satu konka,
disebut sakit kepala rhinologic(rhinologic headache). Kontak tersebut bisa

25
dikurangkan dengan pengobatan vasomotor atau rinitis alergi, dapat
memperbaiki sakit kepala pada beberapa pasien. Pasien yang mempunyai
sinus sejati mungkin memiliki rhinitis alergi atau oklusi sinus karena
neoplasma. Neoplasma yang sering adalah karsinoma epitel nasofaring yang
biasanya berasal dari sel skuamosa. Kejadian ini lebih banyak di negara
Mediterania dan Timur Jauh. Faktor genetik dan lingkungan juga mungkin
memainkan peranan. DNA virus Epstein-Barr telah dideteksi pada tumor
dan kondisi premaligna, dan beberapa kelompok antigen limfosit
manusia(HLA) juga telah diidentifikasi.5
Beberapa penyakit lain yang memiliki manifestasi atau keterkaitan
dengan rinosinusitis yaitu :6
Granulomatosis Wegener melibatkan angiitis yang dikaitkan dengan
nekrosis fokal dan reaksi granulomatosa. Penyakit ini pada awalnya
mempengaruhi saluran pernapasan, tetapi dapat juga berkembang
melibatkan organ lain.
Ataksia - telangiektasia merupakan gangguan autosomal resesif yang
berhubungan dengan sinusitis berulang, infeksi paru, bronkiektasis,
fibrosis paru, tracheomegalli, berkurangnya jaringan limfoid dan atrofi
cerebellar.
Cystic fibrosis adalah gangguan autosomal resesif yang berhubungan
dengan pernapasan, GI, kelainan jantung dan sinus.
Sindrom silia imotil (immotile cilia syndrome) adalah gangguan
autosomal resesif yang terkait dengan infeksi paru berulang dan/atau
konsolidasi paru, sinusitis, bronkiektasis dan sindrom Kartagener.
Sindrom Kartagener adalah penyakit autosomal resesif yang berhubungan
dengan sinusitis, situs inversus, infeksi pernafasan berulang dan
bronkiektasis.
Pasien yang hiperalergik mungkin memiliki polip yang tidak terhitung
mengisi rongga hidung dan menghalangi sinus paranasal, hal ini dapat

26
memberikan penampilan berkarakteristik pada pemeriksaan imaging.
Penyakit ini sangat berkait erat dengan asma.
Sindrom Wiskott - Aldrich merupakan penyakit genetik yang bersifat X-
linked, resesif dan penyakit defisiensi imun tubuh yang dikaitkan dengan
infeksi berulang saluran pernapasan dan atau pneumonia, sinusitis dan
mastoiditis.
Sindrom Kuku Kuning (Yellow-nail syndrome) dikaitkan dengan efusi
pleura berulang,efusi perikardial, chylothorax, bronkiektasis dan sinusitis.
Sindrom Muda (Young Syndrome) dikaitkan dengan azoospermia sekunder
pada obstruksi epididimis dan infeksi saluran pernapasan berulang dan
sinusitis.

3.2.9 Penatalaksanaan
Pengobatan tergantung pada etiologi dari gejala rhinosinus. Tujuan
terapi sinusitis adalah:
a) Mempercepat penyembuhan,
b) Mencegah komplikasi
c) Mencegah perubahan menjadi kronik.
Prinsip pengobatan adalah membuka sumbatan KOM sehingga drenase dan
ventilasi sinus-sinus pulih alami.6,1

Medika Mentosa
1. Kebanyakan infeksi sinus akut disebabkan oleh virus, di mana mayoritas
pasien dapat membaik dalam 2 minggu tanpa pengobatan antibiotik.7
2. Gejala awal dari infeksi saluran pernapasan atas dapat diobati dengan
obat-obatan lokal atau obat-obatan over-the-counter (OTC).
3. Irigasi dengan larutan salin normal direkomendasikan.
4. Dekongestan topikal, seperti oxymetazoline, dikombinasikan dengan
dekongestan oral, seperti pseudoephedrine, dapat membantu hidung
tersumbat dan untuk drainase. Pasien dinasihatkan tidak menggunakan
vasokonstriktor nasal topikal untuk jangka masa yang panjang karena

27
adanya risiko rinitis medikamentosa. Drainase medis dicapai dengan
vasokonstriktor topikal dan sistemik. Vasokonstriktor alpha-adrenergik per
oral termasuk pseudoefedrin dan fenilefrin bisa digunakan selama 10-14
hari untuk mengembalikan fungsi mukosiliar dan drainase menjadi
normal. Vasokonstriktor alpha-adrenergik per oral bisa menyebabkan
hipertensi dan takikardi, maka mereka dikontraindikasikan pada pasien
dengan penyakit kardiovaskular. Obat ini juga dikontraindikasikan pada
atlit yang mau berkompetisi karena peraturan pertandingannya.
Vasokonstriktor topikal (Oxymetazoline hydrochloride) membantu
drainase menjadi baik, tetapi harus digunakan maksimal 3-5 hari, dengan
peningkatan risiko rebound congestion, vasodilatasi dan rinitis
medikamentosa bila digunakan untuk periode yang lama.5,6,7
5. Untuk rinosinusitis akut yang disebabkan oleh bakteri didapatkan dari
komunitas (community-acquired bakteri), antibiotik mengurangi durasi
penyakit dan membantu membasmi infeksi. Berdasarkan uji klinis,
amoksisilin, doxycycline, atau trimethoprim-sulfametoksazol merupakan
antibiotik yang disukai dan direkomendasikan selama 10 sampai 14 hari.
Pilihan lain termasuk macrolide seperti azitromisin atau klaritromisin, atau
sefalosporin generasi kedua/ketiga.5 Antibiotik dan dekongestan
merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk
menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka
sumbatan ostium sinus. Pada sinusitis, antibiotik diberikan selama 10-14
hari meskipun gejala klinik sudah hilang. 1
Antibiotik harus disediakan untuk pasien dengan gejala yang
disebabkan oleh bakteri. Namun, gejala rinosinusitis bakteri biasanya tidak
berbeda dari yang disebabkan oleh virus. Simptom yang menunjukkan
rinosinusitis bakteri termasuk demam, malaise seluruh badan dan sakit
kepala pada bagian frontal unilateral. Selain itu rinosinusitis bakteri juga
merupakan tanda komplikasi dini dan terjadi pada pasien berisiko
(immunodeficiency, usia lanjut, dll). Infeksi bakteri harus dipertimbangkan
jika gejala memburuk atau gagal untuk membaik dalam 7-10 hari. Karena

28
adanya peningkatan resistensi penisilin pada bakteri patogen utama pada
rinosinusitis, jadi pemilihan antibiotik harus dipertimbangkan. Pada pasien
yang tidak beresiko resisten, amoksisilin merupkan terapi lini pertama.
Alternatif lini pertama yang lain termasuk trimethoprimsulfamethoxazole
atau doxycycline.7
6. Flurokuinolon mungkin juga berguna, tetapi belum disetujui untuk
populasi anak. Penggunaan selama 10 hari dapat memberikan
pemberantasan 90 %.5
7. Jika tidak ada perbaikan gejala klinis seperti penurunan batuk, penurunan
nanah hidung, resolusi demam atau berkurangnya hidung tersumbat,
standar pendekatan adalah dengan antibiotik lini kedua dengan spektrum
yang lebih luas dan diberikan lebih lama. Jika responnya kurang pada
antibiotik lini pertama, maka antibiotik harus beralih ke cakupan yang
lebih luas. Antibiotik lini kedua termasuk amoksisilin-asam klavulanat,
sefalosporin dan makrolida.5,7
8. Respons klinis dan pengobatan biasanya tergantung individual.5
9. Parameter praktis oleh Joint Task Force on Practice Parameters for
Allergy and Immunology menetapkan penilaian respons gejala setelah 3-5
hari terapi dan diteruskan untuk tambahan 7 hari jika ada perbaikan.
Namun, jika tiada respon, antibiotik seharusnya ditukar.7
10. Tambahan steroid hidung dapat meningkatkan keberhasilan
pengobatan lebih tinggi. Kortikosteroid yang digunakan intranasal bisa
efektif dengan melemahkan respon inflamasi, meskipun pada saat ini
manfaat mereka masih tidak menyakinkan. Penggunaan kortikosteroid
sistemik mungkin memiliki kelebihan dibandingkan dengan penggunaan
intranasal, seperti tingkat terapeutik yang tinggi dan tidak ada risiko
pelepasan buruk disebabkan oleh penyumbatan hidung. Review Cochrane
baru-baru ini yang mengenai terapi kortikosteroid sistemik untuk
rinosinusitis akut, melaporkan obat ini mempunyai efek mengguntungkan
jangka pendek.5,8

29
11. Pengobatan tambahan lainnya termasuk mucoevacuants untuk
menipis sekresi lendir. Ini termasuk guaifenesin dan kalium iodida.
Golongan mukolitik (guaifenesin) secara teori mempunyai manfaat seperti
menipiskan sekresi mukus dan memperbaiki drainase. Ia jarang digunakan
untuk praktek klinis pengobatan sinusitis akut.6,7
12. Belum data tersedia yang menunjukkan bahwa antihistamin
bermanfaat pada sinusitis akut. Antihistamin mungkin berbahaya karena ia
mengeringkan membran mukus dan menurunkan klirens sekresi.
Antihistamin bermanfaat untuk mengurangkan obstruksi ostiomeatal pada
pasien dengan alergi dan sinusitis akut; tetapi ia tidak direkomendasikan
untuk penggunaan rutin pada pasien sinusitis akut. Antihistamin mungkin
memburukkan drainase dengan terjadinya penebalan dan
tertumpuknya(pooling) sekresi sinonasal.6 Antihistamin tidak diberikan
rutin karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret menjadi
lebih kental. Bila ada alergi berat, sebaiknya diberikan antihistamin
generasi kedua.1
13. Peran antibiotik pada rinosinusitis kronis(CRS) masih
dipertanyakan. Pada penyakit ini sangat penting untuk
mengidentifikasikan faktor penyebab seperti rinitis alergi, kelainan
struktur, immunodeficiency, asap tembakau dan faktor lingkungan atau
kerja. Menurut Kelompok Kerja 2008 tentang CRS pada Dewasa,
antibiotik harus disediakan untuk pasien dengan sinus drainase yang
purulen. Lama pengobatan antibiotik masih kontroversial, tapi pengobatan
antibiotik untuk jangka panjang selama 3-6 minggu mungkin lebih efektif
daripada jangka waktu yang lebih pendek. Seperti pada rinosinusitis akut,
perawatan lain termasuk steroid topikal dan irigasi sinus. Steroid oral
jangka pendek mungkin bermanfaat dalam mengobati CRS terutama
CRSwNP(chronic rhinosinusitis with nasal polyps). Evaluasi lebih lanjut
diperlukan pada pasien yang gagal terapi medis dan mungkin memerlukan
intervensi bedah.

30
14. Pada AFRs(allergic fungal rhinosinusitis), operasi biasanya
diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan menghapuskan mukus yang
menebal. Setelah intervensi bedah, diberikan kortikosteroid oral yang
biasanya ditampering off secara bertahap ke dosis terendah yang
diperlukan untuk mengendalikan simptom. Selain itu, semprotan hidung
kortikosteroid topikal digunakan untuk mengendalikan peradangan.
15. Pengobatan antibiotik kronis mungkin memerlukan cakupan
anaerobik, seperti klindamisin, amoksisilin/klavulanat, metronidazole yang
dikombinasikan dengan macrolide, atau moksifloksasin. Lamanya
pengobatan adalah 4 sampai 6 minggu. 7
16. Pasien sinusitis dengan penyebabnya dental atau mereka dengan
discharge yang berbau busuk, pengobatan anaerobik diperlukan dengan
menggunakan klindamisin atau amoksisilin dengan metronidazole.
17. Pasien dengan sinusitis nosokomial akut memerlukan pengobatan
intravena yang adekuat untuk organisme gram negatif. Antibiotik
aminoglikosida biasanya merupakan drug of choice karena mempunyai
cakupan yang baik pada gram negatif dan penetrasi sinus. Seleksi
antibiotik biasanya berdasarkan hasil kultur yang diambil dari sekresi
maksila.
18. Selain dari pembedahan, komplikasi sinusitis akut ditangani
dengan antibiotik intravena. Sefalosporin generasi ketiga (cefotaxime,
ceftriaxone) dengan kombinasi vancomycin yang memberikan penetrasi
intrakranial yang adekuat, merupakan pilihan pertama.6
19. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan
alergi yang berat.1

Non Medika Mentosa


1. Pembedahan umumnya dicadangkan untuk pasien dengan kelainan
anatomi dan hanya setelah terapi medis maksimal gagal. Kriteria mutlak
untuk operasi meliputi setiap perluasan infeksi atau adanya tumor di
rongga hidung atau sinus. Indikasi relatif termasuk sinusitis bakteri akut

31
berulang, obstruksi oleh poliposis hidung, rinosinusitis kronis yang tidak
responsif terhadap pengobatan dan penyakit penyerta seperti asma yang
recalcitrant. Kerjasama yang erat dengan otolaryngologist berpengalaman
sangat penting dalam kasus-kasus yang sulit. Bedah sinus endoskopi
fungsional(BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik
yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir semua
jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih
memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tidak radikal.1,5
2. Jika perlu, dapat diberikan terapi seperti analgetik, pencucian rongga
hidung dengan NaCl atau pemanasan (diatermi).1
Selain itu, simptomnya juga dapat dikurangkan dengan humidifikasi/vaporizer,
kompresi hangat, hidrasi yang adekuat dan nutrisi seimbang.6

3.2.10 Pencegahan
1. Menghindari penularan infeksi saluran pernapasan atas dengan menjaga
kebiasaan cuci tangan yang ketat dan menghindari orang-orang yang
menderita pilek atau flu .
2. Disarankan mendapatkan vaksinasi influenza tahunan untuk membantu
mencegah flu dan infeksi berikutnya dari saluran pernapasan bagian atas .
3. Obat antivirus untuk mengobati flu, seperti zanamivir (Relenza),
oseltamivir (Tamiflu), rimantadine (Flumadine) dan amantadine
(Symmetrel), jika diambil pada awal gejala, dapat membantu mencegah
infeksi .
4. Dalam beberapa penelitian, lozenges seng karbonat telah terbukti
mengurangi durasi gejala pilek.
5. Pengurangan stres dan diet yang kaya antioksidan terutama buah-buahan
segar dan sayuran berwarna gelap, dapat membantu memperkuat sistem
kekebalan tubuh .
6. Rencana serangan alergi musiman .
a. Jika infeksi sinus disebabkan oleh alergi musiman atau lingkungan,
menghindari alergen sangat penting. Jika tidak dapat menghindari
alergen, obat bebas atau obat resep dapat membantu. OTC antihistamin

32
atau semprot dekongestan hidung dapat digunakan untuk serangan
akut.
b. Orang-orang yang memiliki alergi musiman dapat mengambil obat
antihistamin yang tidak sedasi(non sedative) selama bulan musim-
alergi.
c. Hindari menghabiskan waktu yang lama di luar ruangan selama musim
alergi. Menutup jendela rumah dan bila mungkin, pendingin udara
dapat digunakan untuk menyaring alergen serta penggunaan humidifier
juga dapat membantu.
d. Suntikan alergi, juga disebut "imunoterapi", mungkin efektif dalam
mengurangi atau menghilangkan sinusitis karena alergi. Suntikan
dikelola oleh ahli alergi secara teratur selama 3 sampai 5 tahun, tetapi
sering terjadi pengurangan remisi penuh gejala alergi selama bertahun-
tahun.
7. Menjaga supaya tetap terhidrasi dengan:
a. Menjaga kebersihan sinus yang baik dengan minum banyak cairan
supaya sekresi hidung tipis.
b. Semprotan hidung saline (tersedia di toko obat) dapat membantu
menjaga saluran hidung agar lembab, membantu menghilangkan agen
infeksius. Menghirup uap dari semangkuk air mendidih atau mandian
panas beruap juga dapat membantu.
c. Hindari perjalanan udara. Jika perjalanan udara diperlukan, gunakan
semprotan dekongestan nasal sebelum keberangkatan untuk menjaga
bagian sinus agar terbuka dan sering menggunakan saline nasal spray
selama penerbangan.
8. Hindari alergen di lingkungan: Orang yang menderita sinusitis kronis
harus menghindari daerah dan kegiatan yang dapat memperburuk kondisi
seperti asap rokok dan menyelam di kolam diklorinasi.9

3.2.11 Komplikasi

33
Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada
sinusitis kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau
intrakranial. Komplikasi infeksi rinosinusitis sangat jarang dan paling
sering terjadi pada anak dan imunocompromised. Perluasan yang tidak
terkendali dari penyakit bakteri atau jamur mengarah kepada invasi
struktur sekitarnya terutama orbital dan otak.5,6
Komplikasi mungkin timbul dengan cepat. Komplikasi yang
sering adalah selulitis atau abses pada daerah preseptal atau orbita. Infeksi
preseptal diobati dengan antibiotik dan tidak diperlukan pembedahan.
Komplikasi yang lain mungkin memerlukan pengobatan pembedahan
segera. Perluasan pada postseptal mungkin terjadi dari penyebaran infeksi
melalui lamina papyracea(lapisan kertas), tulang tipis lateral pada sinus
ethmoid. Sinus yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid, kemudian
sinus frontal dan maksila. Penyebaran infeksi melalui tromboflebitis dan
perkontinuitatum. Perluasan ini dapat melibatkan pembuluh darah ethmoid
yang mengakibatkan terjadinya trombosis . Gejalanya meliputi edema
kelopak mata yang progresif, eritema, chemosis dan proptosis, yang jika
tidak diobati, dapat berkembang menjadi oftalmoplegia dan kebutaan.
Perluasan pada intrakranial termasuk terjadinya meningitis, abses epidural
atau subdural, abses otak atau sagital, atau trombosis sinus cavernosus.
Setiap pasien dengan sejarah rinosinusitis dan demam tinggi, peningkatan
sakit kepala atau terjadi perubahan status mental harus dicurigai memiliki
komplikasi intrakranial.1,5
Osteomielitis dapat menyebabkan komplikasi lokal. Pada tumor
Pott bengkak(Potts puffy tumor), osteomyelitis dari plate anterior dari
tulang frontal menyebabkan dahi edema. Hal ini merupakan komplikasi
akut yang membutuhkan bedah drainase. Osteomelitis dan abses
subperiostal paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya
ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul
fistula oroantral atau fistula pada pipi.1,5

34
Komplikasi lokal juga dapat terjadi dari mucoceles atau
mucopyoceles. Mereka merupakan lesi kronis, dimana terjadinya cystic
pada sinus. Sinus frontal adalah yang paling sering terlibat. Mereka lambat
tumbuh dan mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum gejala
terjadi. Keterlibatan sinus frontal dapat menyebabkan perubahan pada
mata, mengakibatkan diplopia. Dekompresi sering menyebabkan
hilangnya gejala. Erosi posterior oleh mucopyocele dapat menyebabkan
infeksi . Mucoceles terlihat pada anak-anak dengan cystic fibrosis.5
Komplikasi lain adalah kelainan paru seperti bronkitis kronik dan
bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan
paru disebut sinobronkitis. Selain itu juga dapat menyebabkan kambuhnya
asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan.1

3.2.12 Prognosis
Sinusitis tidak menyebabkan kematian yang signifikan dengan
sendirinya. Namun, sinusitis yang berkomplikasi dapat menyebabkan
morbiditas dan dalam kasus yang jarang dapat menyebabkan kematian.
Sekitar 40 % kasus sinusitis akut membaik secara spontan tanpa antibiotik.
Perbaikan spontan pada sinusitis virus adalah 98 %. Pasien dengan
sinusitis akut, jika diobati dengan antibiotik yang tepat, biasanya
menunjukkan perbaikan yang cepat. Tingkat kekambuhan setelah
pengobatan yang sukses adalah kurang dari 5 %. Jika tidak adanya respon
dalam waktu 48 jam atau memburuknya gejala, pasien dievaluasi kembali.
Rinosinusitis yang tidak diobati atau diobati dengan tidak adekuat dapat
menyebabkan komplikasi seperti meningitis, tromboflebitis sinus
cavernous, selulitis orbita atau abses, dan abses otak.6
Pada pasien dengan rhinitis alergi , pengobatan agresif gejala
hidung dan tanda-tanda edema mukosa yang dapat menyebabkan obstruksi
saluran keluar sinus, dapat mengurangkan sinusitis sekunder. Jika kelenjar
gondok secara kronis terinfeksi, pengangkatan mereka dapat
menghilangkan nidus infeksi dan dapat mengurangi infeksi sinus.6

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Buku ajar ilmu kesehatan


telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi keenam. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.h.150-4.
2. Adams GL, Boies LR, Higler PH. Hidung dan sinus paranasalis. Buku ajar
penyakit tht. Edisi keenam. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC;
1994.h.173-240
3. Mark A. Zacharek, Preeti N. Malani, Michael S. Benninger. An approach
to the diagnosis and management of acute bacterial rhinosinusitis. 2005.
Diunduh dari informahealthcare.com/doi/pdf/10.1586/14787210.3.2.271 .
24 April 2014.
4. Cummings CW. Radiology of nasal cavities and paranasal. Cumming
otolaryngology head and neck surgery. 4th edition. USA: Mosby;
2006.p.201.
5. Hallet R, Naguwa SM. Severe rhinosinusitis. Clinical reviews in allergy
and immunology. California : Human Press Inc. 2003; 5(3):177-90.
6. Brook I, Benson BE, Riauba L, Cunha BA. Acute sinusitis. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview. 23 April 2014.
7. Georgy MS, Peters AT. Chapter 8: rhinosinusitis. Allergy Asthma Proc.
2012 ;33 Suppl 1:24-7
8. Venekamp RP, Bonten MJM, Rovers MM, Verheij TJM, Sachs APE.
Systemic corticosteroid monotherapy for clinically diagnosed acute
rhinosinusitis: a randomized controlled trial. CMAJ. 2012; 184: 751-7
9. Cunha J P, Stoppler M C, Doerr S. Sinus infection. Diunduh dari
http://www.emedicinehealth.com/sinus_infection/page12_em.htm#sinus_i
nfection_prevention, 23 April 2014.

36
10. Meltzer EO, Hamilos DL. Rhinosinusitis diagnosis and management for
the clinician: a synopsis of recent consensus guidelines. Mayo Clin Proc.
2011; 86 (5): 427-43
11. Desrosiers M, Evans GA, Keith PK. Canadian clinical practice guidelines
for acute and chronic rhinosinusitis. Allergy Asthma Clin Immunol.
2011;7(1):2
12. Rhinosinusitis, diunduh dari : https://www.aaaai.org/conditions-and-
treatments/conditions-a-to-z-search/sinuses,-sinusitis,-rhinosinusitis.aspx ,
23 April 2014.

37