Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu acuan
dalam perundingan negara yang tergabung dalam Peserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB). Terdapat 17 poin yang ada di dalam SDGs ini diantaranya adalah: (1)
No Poverty; (2) Zero Hunger; (3) Good Health and Well-Being; (4) Quality
Education; (5) Gender Equality; (6) Clean and Water Sanitation; (7)
Affordable and Clean Energy; (8) Decent Work and Economic Growth; (9)
Industry, Innovation, and Infrastructure; (10) Reduced Inequalities; (11)
Sustainable Cities and Communities; (12) Responsible Consumption and
Production; (13) Climate Action; (14) Life Below Water; (15) Life on Land;
(16) Peace, Justice, and Strong Intuitions dan (17) Partnerships for the
goals.

Ke-17 poin ini merupakan bentuk penyempurnaan dari acuan yang


sebelumnya sudah melampaui batas pada tahun 2015 silam. Dalam SDGs ini,
terdapat beberapa poin baru yang sebelumnya tidak dibahas di dalam
Millennium Development Goals (MDGs), diantaranya adalah permasalahan
kesehatan ibu dan anak, akses terhadap air bersih dan sanitasi, kesetaraan
gender dan pemberdayaan perempuan dan status nutrisi. Sejak
diluncurkannya ke-17 poin SDGs ini, banyaknya respon positif dari
masyarakat dan organisasi-organisasi yang ada di dunia.

Namun, belum semua masyarakat khususnya remaja peduli mengenai


SDGs yang dikeluarkan oleh PBB ini. Padahal, SDGs ini sangat penting
untuk diketahui khususnya oleh pemuda dikarenakan terdapat beberapa poin
dalam SDGs yang menyelesaikan permasalahan khususnya masalah pemuda.

1
Dalam mengenalkan SDGs ke masyarakat, PBB telah melakukan beberapa
strategi diantaranya menunjuk beberapa duta untuk memperkenalkan SDGs,
melakukan sosialisasi dan campaign, hingga bekerjasama dengan organisasi-
organisasi di dunia. Salah satu organisasi yang bekerjasama dengan PBB
dalam rangka memperkenalkan SDGs ke masyarakat khususnya pemuda
adalah AIESEC.

AIESEC LC Bandung merupakan suatu organisasi pemuda global,


non-politik, not for profit, dan dijalankan oleh mahasiswa dan orang-orang
yang berpendidikan lebih tinggi. Organisasi ini terdiri dari beberapa
universitas di Bandung, diantaranya adalah Universitas Padjadjaran, Institut
Teknologi Bandung (ITB), Universitas Katolik Parahyangan, Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), Maranatha Christian University (MCU), dan
Telkom University. Dalam rangka membantu PBB mensosialisasikan SDGs
serta meningkatkan awareness dikalangan pemuda, keenam pendidikan tinggi
yang tergabung dalam AIESEC LC Bandung melaksanakan suatu kampanye
di media sosial.

Kampanye yang bertujuan untuk meningkatkan awareness ini


dilakukan di dua platform media sosial paling terkenal di Indonesia, yakni
Facebook dan Line. Penggunaan kedua media sosial tersebut didukung
dengan adanya Twibbon yang bertuliskan SDGs yang berada pada display
picture di media sosial tersebut. Kampanye ini serentak dilakukan pada
tanggal 1 maret 2016 di seluruh dunia. Perancangan audit ini dilakukan oleh
pihak executive board dari AIESEC Bandung. Kampanye ini berada
ditangani langsung oleh divisi PR IM AIESEC LC Bandung. Selama
kampanye ini berlangsung, diperlukan adanya suatu audit humas agar dapat
mendiagnosis perencanaan yang dilakukan oleh executive board, serta
melihat sejauhmana kampanye ini dilakukan.

Audit humas ini dilakukan untuk melihat sejauhmana perencanaan


yang dilakukan sehingga audit ini akan menjadi suatu diagnosa awal

2
mengenai efektivitas dari kampanye ini. Audit ini juga berguna sebagai
bentuk diagnosis tentang masalah yang terjadi atau berpotensi dan peluang
yang mungkin terbuang, mengukur kemajuan dan perkembangan dengan
membandingkan dengan suatu patokan, serta mengembangkan atau
melakukan restrukturisasi fungsi-fungsi komunikasi.

1.2 Rumusan dan Identifikasi Masalah


1.2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu: Mendiagnosis sejauhmana perancangan
kampanye SDGs AIESEC LC Bandung melalui media sosial.

1.2.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah-masalah
yang muncul dalam perencanaan dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Bagaimana analisis masalah dari kampanye SDGs AIESEC


Bandung?

2. Bagaimana penyusunan tujuan dari kampanye SDGs AIESEC


Bandung?

3. Bagaimana identifikasi dan segmentasi pasar dari kampanye SDGs


AIESEC Bandung?

4. Bagaimana menentukan pesan dari kampanye SDGs AIESEC


Bandung?

5. Bagaimana strategi dan taktik dari kampanye SDGs AIESEC


Bandung?

6. Bagaimana alokasi waktu dan sumber daya dari kampanye SDGs


AIESEC Bandung?

3
7. Bagaimana evaluasi dan tinjauan dari kampanye SDGs AIESEC
Bandung?

1.3 Maksud dan Kegunaan Penelitian


1.3.1 Maksud Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap hasil dari audit
humas kegiatan kampanye SDGs yang diselenggarakan oleh executive
board AIESEC LC Bandung, Bagaimana proses perencanaan yang
dilakukan berdasarkan analisis masalah, penyusunan tujuan, identifikasi
dan segmentasi pasar, menentukan pesan, strategi dan taktik, alokasi waktu
dan sumber daya, serta evaluasi dan tinjauan.

1.3.2 Kegunaan Penelitian


1.3.2.1 Kegunaan Teoritis
Kegunaan teoritis dalam penelitian ini bagi Humas adalah untuk
memberikan diagnosis-diagnosis tertulis dan dapat menjadi referensi bagi
suatu masalah yang berpotensi dan peluang yang mungkin terbuang.
Selain itu, audit ini juga berguna untuk mengukur kemajuan dan
perkembangan berdasarkan suatu patokan.

1.3.2.2 Kegunaan Praktis


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pihak
penyelenggara kampanye SDGs yang diselenggarakan oleh AIESEC LC
Bandung dalam melakukan diagnosis terhadap perencanaan yang
dilakukan. Sehingga, dapat terlihat potensi-potensi masalah serta
memaksimalkan potensi yang terbuang.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka


Pendekatan Evaluasi

Evaluasi berasal dan bahasa inggris evaluation yang berarti refer to


the act or process to determining the value of something. Artinya evaluasi
mengacu pada suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu. 1
Witherington mengemukakan bahwa an evaluation is a declaration that
some thing has or does not have value. Hal ini berarti evaluasi menentukan
apakah sesuatu itu mempunyai atau tidak mempunyai nilai.2

2.1.1 Landasan Teoritis


Menurut Ferencic (1991), penelitian evaluasi adalah suatu metode
dan teknik penelitian sistematis yang digunakan untuk pengambilan
keputusan ataupun penilaian tentang suatu program kegiatan. Sementara
tujuannya, kata Ferencic, untuk mengetahui apakah suatu kegiatan
berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Evaluasi Formatif

Wirawan3 mendefinisikan evaluasi formatif adalah suatu evaluasi


yang didesain dan dipakai untuk memperbaiki suatu obyek, terutama ketika
obyek tersebut sedang dikembangkan. Dengan demikian evaluasi formatif

1 Edwin Wandht. 1957. Essensial of Education Evaluation (New York ;


Holt Rinehart and Winston) hal. 1.

2 Arifin, Zainal. Evaluasi Instruksional Prinsip-prinsip Prosedur.Bandung.


Remaja Rosda Karya.hal. 5.

3 Wirawan. 2011. Evaluasi Teori Model Standar Aplikasi dan Profesi.


Jakarta: Raja Grafindo Persada.hal. 86.

5
dilaksanakan ketika program masih berlangsung. Tujuan evaluasi formatif
adalah mengetahui seberapa jauh program yang dirancang dapat
dilaksanakan. Penerapan evaluasi formatif dalam dunia pendidikan
biasanya berbentuk ujian tengah semester. Berdasarkan penjelasan diatas
dapat disimpulkan bahwa evaluasi formatif dapat dilaksanakan pada
penggalan kegiatan, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir
kegiatan.

Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif


adalah penggunaan tes-tes selama proses kegiatan yang masih berlangsung.
Dengan tujuan memperoleh informasi mengenai kemajuan yang telah
dicapai. Evaluasi formatif adalah kegiatan menilai yang bertujuan untuk
mencari umpan balik (feedback), selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat
digunakan untuk memperbaiki proses kegiatan yang sedang atau yang
sudah dilaksanakan.4 Evaluasi formatif dimaksudkan untuk memantau
kemajuan selama proses kegiatan berlangsung seperti untuk mengetahui
kelemahan kelemahan yang memerlukan perbaikan sehingga hasil program
menjadi Iebih baik. Dan hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran apa saja
yang telah berhasil dan apa yang dianggap belum berhasil. Selanjutnya
diambil tindakan-tindakan yang tepat.

2.1.2 Landasan Konsep


Menurut Moore (1989), audit humas adalah suatu studi yang tersusun
secara longgar, berskala luas, yang menyelidiki hubungan masyarakat
Organisasi, baik secara internal maupun eksternal. Pendapat Moore tersebut
setidaknya mengandung hal penting yang perlu untuk dibahas atau diuraikan
lebih jauh.

Studi audit humas dilakukan secara longgar. Maksud longgar di sini


adalah dalam penelitian tidak harus mengacu pada satu pendekatan metode

4 Suharsimi Arkunto . 2004. Evaluasi Program. Bumi Aksara : Jakarta.


Hal26.

6
penelitian saja. Meskipun audit humas dapat digolongkan dalam penelitian
evaluasi, bukan berarti dalam studi ini hanya menerapkan prinsip-prinsip
atau prosedur penelitian tersebut secara kaku. Peneliti boleh saja
menggabungkan beberapa prinsip metode penelitian. Misalnya, selain
menggunakan prinsip metode evaluasi, juga menggunakan prinsip metode
survey.

Meskipun dalam praktiknya, audit humas dibolehkan menggunakan


berbagai prinsip atau prosedur penelitian, bukan berarti dalam pelaksanaan
penelitian dapat seenaknya mengabaikan begitu saja prinsip objektivitas.
Prinsip ini tetap harus menjadi skala prioritas utama. Tanpa memperhatikan
prinsip objektivitas, hasil penelitian melalui audit humas dengan sendirinya
akan kehilangan nilai ilmiahnya. Jadi, kalaupun prinsip metode penelitian
lain digunakan dalam audit humas, tetap saja fungsinya hanya sebagai
pendukung atau pelengkap. Titik tolaknya atau acuan utamanya tetap pada
prinsip-prinsip penelitian evaluasi.

Agar syarat objektivitas tetap terjaga, mau tidak mau peneliti dengan
menggunakan audit humas seyogyianya tetap berpikir berdasarkan fakta,
menafsirkan berdasarkan fakta, dan membuat kesimpulan berdasarkan fakta.
Audit Formatif dalam penelitian ini akan melihat bagaimana kondisi Internal
dalam kegiatan informal sebuah organisasi.

2.1.3 Perencanaan Kampanye

Membuat perencanaan yang matang sebenarnya bukan sesuatu yang


sulit. Tim perencana kampanye dapat merumuskan perencanaan berdasarkan
lima pertanyaan sederhana yaltu: apa yang ingin di capai ? siapa yang akan
menjadi sasaran ? pesan apa yang akan disampaikan ? bagaimana

7
menyampaikannya? Bagaimana mengevaluasinya?. Lima tahapan tersebut
dituangkan dalam bagan seperti5 :

5 Antar Venus.2004. Manajemen Kampanye. Simbiosa Rekatama Media


: Bandung.hal 145.

8
Tahap tahap proses perencanaan kampanye (Gregory, 2000 : 53)

a. Analisis Masalah

It is imposible to change attitudes or behavior through


communication campaign without knowing what the starting point is
demikian ungkap Gregory (2000). Titik tolak ntuk merancang suatu peru
bahan lewat kampanye adalah dengan membuat perencanaan.

Langkah awal suatu perencanaan adalah melakukan analisis masalah.


Agar dapat diidentifikasi dengan jelas, maka analisis masalah handaknya
dilakukan secara terstruktur. Pengumpulan informasi yang berhubungan
dengan perinasalahan harus dilakukan secara objektif dan tertulis serta

9
memungkinkan untuk dilihat kembali setiap waktu. Hal ini dapat
menghindarkan terjadinya pemecahan masalah yang tidak tepat.

Ada dua jenis analisis6 yang digunakan untuk perencanaan program


kampanye yaitu analisis PEST (Political, Economic, Social and Technology)
yang secara khusus mempertimbangkan empat aspek penting yang terkait
langsung dengan proses pelaksanaan kampanye dan analisis SWOT
(Strength, Weaknesess, Opportunity and Threats) yang lebih memfokuskan
din pada kalkulasi peluang pencapaian tujuan kampanye.

Analisis PEST membagi pembahasannya pada empat area yang


secara keseluruhan dapat empengaruh1 ataU melatarbelakangi kampanye
yaitu Politik (Political), Ekonomi (Economic), Sosial (Social), dan
Teknologi (Technological). Area politik mecakup berbagai peraturan
pemerintah yang Berhubungan dengan program dan pesan kampanye, serta
keadaan kondisi politik atau pemerintahan. Area ekonomi meliputi kondisi
nilai tukar mata uang, inflasi, keadaan ekonomi dunia serta harga berbagai
sumber daya. Area sosial meliputi gaya hidup, tingkat pendidikan, pola
hidup, perilaku sosial dan perkembangan populasi. Area teknologi meliputi
berbagai perubahan teknologi yang berkaitan dengan program kampanye.

Analisis SWOT meliputi empat elemen yaitu Strengths (kekuatan),


Weaknesses (kelemahan), Opportunities (kesempatan) dan Threats
(tantangan). Strength dan oportunities dapat dikelompokkan sebagai
pertimbangan-pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program
kampanye, sedangkan weaknesess dan threats dikelompokkan pada kondisi-
kondisi negatif yang harus dihadapi kampanye.

6 Ibid. Hal 146

10
b. Penyusunan Tujuan

Terdapat enam tahap dalam penentuan tujuan7

1. Susunlah tujuan kampanye. Tujuan yg dibuat adalah tujuan kampanye


yang akan dilakukan, bukan tujuan Organisi secara keseluruhan, atau
dampak lanjutan dan kampanye tersebut. Perlu diperhatikan juga
bahwa tujuan sebuah program kampanye harus selalu selaras dengan
tujuan organisasi atau tujuan bagian-bagian lain dalam organisasi
tersebut. Karenanya, jika perlu rencana organisasi hendaknya
dituangkan juga kedalam format penulisan rencana.
2. Susun tujuan secara seksama dart spesifik. Tujuan janga dibuat
menggantung dan sangat terbuka, tetapi di dalamnya harus terjawab
secara jelas dan spesifik tentang apa Yang dikehendaki, kepada siapa,
kapan dan bagaimana.
3. Susun tujuan yang memungkinkan untuk dicapai. Jangan menyusun
tujuan terlalu rnuluk, hanya mengawang-awang dan akhirnya tak bisa
tercapai. Pastikan bahwa tujuan yang disusun memungkinkan untuk
dievaluasi tingkat pencapaiannya.
4. Kuantifikasi semaksimal mungkin. Semakin dapat dikuantifikasi
sebuah tujuan, maka semakin mudah evaluasi tingkat pencapaiannya.
Tidak semua tujuan dapat dikuantifikasi secara tepat, tapi sebagian
besar dapat dikuantifkasi.
5. Pertimbangkan anggaran. Penyusunan tujuan harus memperhatikan
anggaran yang tersedia untuk program kampanye tersebut.
6. Susun tujuan berdasarkan skala prioritas. Buatlah tujuan kampanye
berdasarkan prioritas, agar tim kampanye dapat memfokuskan
pekerjaan kepada satu tujuan yang terarah.

7 Ibid. Hal 147.

11
Tujuan kampanye dapat kita buat setinggi mungkin, namun demikian
ada beberapa batasan internal dan eksternal yang harus diperhitungkan agar
tujuan yang dibuat kemungkinan besar tercapai.

c. Identifikasi dan Segmentasi Sasaran

Identifikasi dan segmentasi sasaran dilakukan dengan melihat


karakteristik publik secara keseluruhan, kemudian dipilih yang mana yang
akan menjadi sasaran program kampanye. James Grunig (Gregory: 2000)
membagi publik kedalam tiga jenis8:

1. Latent public, yaitu kelompok yang menghadapi permasalahan


yang berkaitan dengan isu kampanye, namun tidak menyadarinya
2. Aware public, yaitu kelompok yang menyadari bahwa
permasalahan tersebut ada
3. Active public; yaitu kelompok yang mau bertindak sehubungan
dengan permasalahan tersebut.

Pemilihan publik mana yang alcan menjadi sasaran bergantung


pada tujuan kampanye yang akan dilaksanakan. Arens (1999) mengatakan
bahwa identifikasi dan segmentasi sasaran kampanye dilaksanakan dengan
melakukan pemilahan atau segmentasi terhadap kondisi geografis
(geographic segmentation), kondisi demo grafis (dmographic
segmentation), kondisi perilaku (behaviouristic segmentation), dan kondisi
psikografis (psycographic segmentation). Geographic segmentation
berkaitan dengan ukuran atau luas daerah, lokasi spesifik, jenis media serta
budaya komunikasi di daerah tempat tinggal sasaran. Demographic
segmentation dilakukan dengan melihat karakteristik jenis kelamin, usia,
suku, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan sasaran. Behavouristic
segmentation dilakukan dengan melihat status, gaya hidup, dan jenis
perilaku Iainnya. Phsycographic segmentation dilakukan dengan melihat
emosi serta nilai budaya yang dianut oleh publik.

8 Ibid. Hal 150.

12
d. Menentukan Pesan

Pada tahap perencanaan pesan, yang pertama dilakukan adalah


pembuatan tema kampanye. Tema merupakan ide utama yang bersifat
umum, sebagai induk dan berbagai pesan yang akan disampaikan kepada
sasaran.

Setelah tema dtentukan, barulah dilakukan pengelolaan pesan yang


akan dsampakan kepada masvarakat. Pesan merupakan pernvataan
spesfk dengan ruang lngkup tertentu, dan ddalamnya terkandung tema
atau ide utama. Sebuah tema kampanye dapat di turunkan menjad
berbagal varasi pesan yang dsesuakan dengan kondisi sasaran.

Ada empat tahap9 yang perlu dilakukan dalam merencanakan pesan


dan menurunkannya dan tema kampanye, yaitu:

1. Mengambil persepsi yang berkembang di masyarakat berkenaan dengan


isu atau produk yang akan dikampanyekan.

2. Mencari celah dimana kita bisa masuk dan mengubah persepsi.

3. Melakukan identifikasi e1emefl-e1eme persuasi. Kta bisa meng


gunakan jalur utama maupun jalur alternatif.

4. Meyakinkan bahwa pesan sudah layak untuk dsampikn dalam program


kampanye, ujicoba dapat dilakukan dengan menggunakan pemilihan
sampel dan populasi yang kita tuju.

e. Strategi dan taktik

Beberapa hal yang hams diperhatikan dalam penetapan strategi dan


taktik agar kampanye dapat berjalan efektif.

1. Gunakan strategi sebagai pembimbing lahirnya ide-ide cerdas untuk


taktik. Taktik yang dituntun oleh strategi akan membuat kegiatan
9 Ibid. Hal 151.

13
menjadi lebih sistematis dan ringan, serta tidak melenceng dan
tujuan kampanye. Strategi dibuat berdasarkan kepada tujuan
kampanye.
2. Jauhi semua taktik yang ber sifat nonstrategis. Taktik yang banyak
namun tidak terfokus kepada strategi akan memecahkan konsentrasi
tim kampanyc. Karenanya usahakan untuk berfokus secara maksimal
pada taktik yang sejalan dengan strategi.
3. Selalu hubungkan taktik pada strategi, dan strategi pada tujuan.
Ketiga hal ini merupakan rangkaian yang harus dijalin dengan erat.
Tujuan memberikan arah secara keseluruhan tentang hasil akhir yang
ingin dicapai melalui kampanye. Strategi merupakan kekuatan yang
mendorong bagaimana menuju hasil akhir tersebut, sementara itu
taktik memetakan kegiatan dengan langkah-langkah tertentu dalam
rentang waktu yang tersedia.
4. Ujilah taktik bila memungkinkan. Pengujian taktik ini merupakan hal
yang sangat disarankan untuk mengetahui kemungkinan tingkat
keberhasilannya. Jika hasil pengujian menunjukkan bahwa taktik
yang digunakan ternyata kurang efektif maka tidak ada salahnya
mengubah taktik tersebut dengan taktik lain yang lebih efektif. Lebih
jauh, pengujian dan pengubahan taktik merupakan hal yang wajib
dilakukan sebelum tim kampanye memutuskan untuk mengubah
strategi kampanye. Salah satu cara sederhana untuk menguji taktik
adalah dengan menyebarkan angket kepada beberapa sasaran untuk
dimintai pendapatnya sehubungan dengan taktik yang akan
digunakan.

Untuk memudahkan pengukuran atau pengujian taktik, perencana


kampanye perlu membuat performance indicators yaitu pernyataan yang
jelas dan tidak ambigu mengenai hasil yang diharapkan dan penggunaan
sebuah taktik. Di dalamnya tercantum kriteria yang tepat dan teliti untuk
mengukur hasil aktual, siapa yang diharapkan melakukannya, dan pada
kondisi apa hasil itu terjadi (Kaufman dalam Ferguson, 1999).

14
f. Alokasi Waktu dan Sumber Daya

Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk perencanaan waktu


adalah dengan menggunakan Critical Path Analysis10 (CPA) atau analisis
jalur kritis. CPA menganalisis semua komponen pelaksanaan yang terdapat
dalam sebuah program secara mendetail. Selanjutnya komponen-
komponen tersebut diletakkan dalam titik waktu yang berada dalam satu
garis lurus, mulai dari hari dibuatnya analisis tersebut hingga hail
pelaksanaan.

CPA sangat baik digunakan untuk perencanaan waktu program


kampanye satu persatu, atau per kegiatan. Sedangkan untuk program
kampanye secara keseluruhan dapat digunakan perencanaan waktu
tahunan, atau perencanaan waktu per semester yang di tuangkan ke dalam
tabel perencanaan waktu.

Kampanye merupakan program yang melibatkan banyak kegiatan,


karenanya akan lebih baik bila CPA ini digabungkan dengan PERT atau
Program Evaluation and Review Technique. Selain membantu
perencanaan, PERT juga sangat berperan untuk mengektifkan
pendelegasian, pengawasan serta evaluasi kegiatan kampanye. Untuk
membuat perencanaafl dengan PERT, perencana kampanye terlebih dahulu
harus melakukan penentuan tujuan dan aktivitas serta mengidentifikasi
sumber daya. Selanjutnya, kedua hal tersebut dimasukkan kedalam
penjadwalan waktu.

g. Evaluasi dan Tinjauan

Evaluasi dan tinjauan yang akan dilakukan terhadap program


kampanye merupakan salah satu bagian dan perencanaan kampanye yang
tidak boleh terlupakan11. Evaluasi berperan penting untuk mengetahui
sejauh mana pencapaian yang dihasilkan kampanye. Untuk kampanye

10 Ibid. Hal. 155.

15
yang berkelanjutan evaluasi merupakan bagian yang terus berjalan seiring
dengan kegiatan kampanye tersebut. Karena hasil evaluasi terhadap
program kampanya tersebut nantinya akan digunakan sebagai tinjauan
untuk program kampanye yang akan dilakukan selanjutnya, maka evaluasi
harus dilakukan dengan sungguh sungguh dan terstruktur.

11 Ibid. Hal. 158.

16
BAB III

SUBJEK, OBJEK, DAN METODE PENELITIAN.

3.1 Subjek Penelitian


Subjek penelitian atau responden merupakan orang yang dimintai
keterangan mengenai suatu faktar atau pendapat. Menurut Arikunto
(2006:145) subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh
peneliti. Jadi, subjek penelitian adalah suatu sumber informasi yang digali
untuk mengungkapkan fakta-fakta yang ada di lapangan. Penentuan subjek
penelitian atau sampel dalam penelitian kualitatif memiliki perbedaan dengan
penelitian kuantitatif. Lincoln dan Guba (1985) dalam Sugiyono (2007:301)
mengemukakan bahwa:

Penentuan sampel dalam metode penelitian kualitatif (naturalistik)


sangat berbeda dengan penentuan sampel metode penelitian konvensional
(kuantitatif). Penentuan sampel tidak didasarkan perhitungan statistik. Sampel
yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum, bukan
untuk digeneralisasikan.

Berdasarkan penelitian diatas, maka penentuan subjek penelitian dalam


penelitian ini menggunakan purposive sampling. Menurut Djaman Satori
(2007: 6), purposive sampling merupakan pemilihan sampel yang berdasarkan
tujuan tertentu. Ciri-ciri khusus sampel menurut Lincoln dan Guba (1985)
dalam Sugiyono (2007:301), yaitu sebagai berikut:

1) Adjusment emergent sampling design,


2) Serial selection of sample units,
3) Continuous or focusing of the sample,
4) Selection of the point of redundancy.

Pemilihan metode ini dalam pengambilan atau penentuan subjek


penelitian yang dibahas peneliti berdasarkan tujuan peneliti dalam

17
mengungkap permasalahan yang diangkat olehnya. Subjek penelitian
ditentukan berdasarkan orang yang dianggap paling tahu mengenai
permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Hal ini dapat mempermudah
peneliti dalam menelurusi situasi di lapangan dalam sebuah penelitian.

Peneliti menentukan subjek penelitian berdasarkan permasalahan yang


akan diteliti mengenai Kampanye SDGs melalui Media Sosial Facebook dan
Line. Sehingga, yang menjadi subjek penelitian adalah Executive Board
AIESEC Local Chapter Bandung. Pemilihan Executive Board AISEC LC
Bandung sebagai subjek penelitian dikarenakan mereka yang paling tahu
mengenai permasalahan kampanye SDGs yang dilakukan oleh AIESEC LC
Bandung.

Executive Board AIESEC LC Bandung merupakan pihak yang


dianggap paling tahu mengenai permasalahan yang dianggap oleh peneliti. Hal
ini disebabkan pihak ini yang merancang kampanye SDGs melalui media
sosial. Oleh karena itu, peneliti melakukan penggalian informasi kepada
Executive Board AIESEC LC Bandung khususnya pada divisi public relations.

3.2 Objek Penelitian


Objek penelitian merupakan hal yang menjadi titik perhatian dari suatu
penelitian. Titik perhatian tersebut berupa substansi atau materi yang diteliti
atau dipecahkan permasalahannya menggunakan teori-teori yang
bersangkutan. Objek adalah apa yang akan diselidiki dalam kegiatan
penelitian. Beberapa persoalan sekiranya perlu kita pahami agar bisa
menentukan dan menyusun obyek penelitian dalam metode penelitian kita ini
dengan baik, yaitu berkaitan dengan apa itu objek penelitian dalam penelitian
kualitatif, apa saja obyek penelitian dalam penelitian kualitatif, dan kriteria
apa saja yang layak dijadikan obyek penelitian kita. Menurut Nyoman Kutha
Ratna (2010: 12), objek adalah keseluruhan gejala yang ada di sekitar
kehidupan manusia.

18
Apabila dilihat dari sumbernya, obyek dalam penelitian kualitatif
menurut Spradley disebut social situation atau situasi social yang terdiri dari
tiga elemen, yaitu tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang
berinteraksi secara sinergis. Namun sebenarnya, obyek penelitian kualitatif
juga bukan semata-mata teratok pada situasi social yang terdiri dari tiga
elemen di atas, melainkan juga berupa peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan,
binatang, kendaraan, dan sejenisnya (Sugiyono, 2007: 50).

Objek dari penilitian ini adalah melakukan strategi kampanye SGDs


oleh AIESEC. kampanye yang dinamakan #Youth4GG, yaitu dengan
menggunakan profile picture facebook dengan twibbon, yaitu aplikasi yang
digunakan untuk menggalang dukungan di social media, yang telah disiapkan
oleh AIESEC International yang berisi ungkapan suara pemuda terhadap SGD,
caranya adalah dengan memilih salah satu dari 17 goals yang ingin
diperjuangkan oleh pemuda tersebut. Penggunaan profile picture facebook
tersebut diikuti dengan hashtag yang disertai dalam caption profile picture
tersebut, yaitu #Youth4GG. Youth4GG berarti Youth for Global Goals. Pada
akhirnya jika berjalan terus menerus maka akan membangun sebuah realitas
baru yaitu peningkatan awareness seluruh anggota AIESEC Bandung
mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) melalui kampanye SDGs.

3.3 Metode Penelitian


Menurut Deddy Mulyana dalam Metodologi Kualitatif: Paradigma
Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, metode adalah proses,
prinsip, dan prosedur yang digunakan untuk mendekati problem dan mencari
jawaban. Dengan kata lain, metode adalah suatu pendekatan umum untuk
mengkaji topic penelitian. Metode dipengaruhi atau berdasarkan perspektif
teoritis itu sendiri adalah suatu kerangka penjelasan atau interpretasi yang
memungkinkan peneliti memahami data dan menghubungkan data yang rumit
dengan peristiwa dan situasi lain.

19
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor, penelitian kualitatif adalah penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang yang diamati (Moleong, 2004:3). Metode kualitatif merupakan
metode yang cenderung dihubungkan dengan sifat subjektif dari sebuah
realitas sosial, yang memiliki sebuah kemampuan baik untuk menghasilkan
pemahaman dari berbagai perspektif. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Kirk dan Miller dalam Moleong, bahwa pendekatan kualitatif merupakan
tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental
bergantung pada pengamatan terhadap objek dalam kawasannya sendiri dan
berhubungan langsung dengan objek tersebut dalam bahasa dan
peristilahannya.

Penelitian kualtitatif adalah sebuah proses penelitian yang


mengeksplorasi masalah sosial dan manusia. Di mana peneliti membangun
gambaran yang kompleks dan menyeluruh, menganalisis kata-kata
melaporkan secara detail pandangan responden dan melakukannya dalam
sebuah setting penelitian yang naturalis (Creswell, 1998:15).

Penelitian kualitatif berusahan untuk membawa pembacanya ke dalam


pemahaman multi-dimensional dari kasus yang diangkat. Penelitian kualitatif
menolak kualifikasi aspek-aspek perilaku manusia dalam proses memahami
perilaku, melainkan merujuk pada aspek kualitas/alamiah dari subjek
penelitian. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri merupakan alat
pengumpul data utama. Dalam menganalisis data yang diperoleh
menggunakan analisis data yang bersifat induktif sehingga hubungan peneliti
dan responden lebih eksplisit dan akuntabel. Hal tersebut dikarenakan proses
induktif yang menemukan kenyataan jamak yang terdapat di dalam data.

20
3.3.1 Jenis Penelitian (studi kasus)
Penelitian ini adalah sebuah penelitian kualitatif yang didasarkan
pada fenomena, gejala, fakta, atau informasi sosial. Menurut Bogdan dan
Taylor yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat
diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara
utuh (holistic), tidak mengisolasikan individu ke dalam variabel, tetapi perlu
memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan (Moleong, 2004:3).

Model penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif adalah


suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-
fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan
manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik,
perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu
dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72).

Menurut Furchan (2004), penelitian deskriptif merupakan penelitian


yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya
kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang
sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang
kecendrungan yang tengah berlangsung. Furchan menjelaskan bahwa
penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh
informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan.

Penelitian kualitatif ini secara spesifik lebih diarahkan pada


penggunaan metode studi kasus. Sebagaimana pendapat Lincoln dan Guba
dalam Pujosuwarno (1992) yang menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif
dapat juga disebut dengan case study ataupun qualitative, yaitu penelitian
yang mendalam dan mendetail tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan subjek penelitian. Lebih lanjut Sayekti Pujosuwarno (1986:1)
mengemukakan pendapat dari Moh. Surya dan Djumhur yang menyatakan
bahwa studi kasus dapat diartikan sebagai suatu teknik mempelajari

21
seseorang individu secara mendalam untuk membantunya memperoleh
penyesuaian diri yang baik.

Dedy Mulyana dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian


Kualitatif, menyatakan bahwa penggunaan studi kasus sebagai suatu metode
penelitian kualitatif memiliki beberapa keuntungan, yaitu :

1. Studi kasus dapat menyajikan pandangan dari subjek yang diteliti.


2. Studi kasus menyajikan uraian yang menyeluruh yang mirip
dengan apa yang dialami pembaca kehidupan sehari-hari.
3. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan
hubungan antara peneliti dan responden.
4. Studi kasus dapat memberikan uraian yang mendalam yang
diperlukan bagi penilaian atau transferabilitas.

Pada dasarnya penelitian dengan jenis studi kasus bertujuan untuk


mengetahui tentang sesuatu hal secara mendalam Penelitian ini
memfokuskan pada bagaimana perencanaan penerapan Twibbon sebagai
media kampanye yang dilakukan AIESEC LC Bandung. Penelitian
diarahkan pada konten dan bagaimana perencanaan pengelolaan Twibbon
sehingga dapat mencapai tujuan tersebut.

3.3.2 Pendekatan Audit PR


Pendekatan konseptual yang berkaitan dengan kinerja organisasi
dibidang komunikasi atau efektivitas sistem komunikasi. Untuk itu diawali
dengan pemilihan standar untuk mengukur kinerja organisasi, yakni
mengukur sejauh mana tingkat pencapaian tujuan dan sasaran dari kegiatan-
kegiatan komunikasi tercapai. Kemudian diaplikasikan pada pemeriksaan
kinerja organisasi. Efektivitas itu sendiri berkaitan dengan berapa besar
dampak kegiatan penyebaran informasi atau tingkat kesesuaian antara
penyampaian informasi dan kebutuhan informasi. Efektivitas komunikasi
dapat diukur dengan enam kriteria, yakni :

22
- Penerima komunikasi (receiver)
- Isi pesan (content)
- Ketepatan waktu (timing)
- Saluran (media)
- Format keemasan (format)
- Sumber (source)

3.3.3 Model Audit PR


Pada penelitian kami, model PR yang kami gunakan adalah Model
PII atau The PII Model yang dikembangkan oleh Cutlip et al;

The PII Model merupakan riset yang menggali pelaksanaan program


PR dari tahap preparation (persiapan), implementation (pelaksanaan), dan
impact (dampak). Lewat riset ini, pertanyaan-pertanyaan riset muncul secara
spesifik sesuai dengan tahapan yang ditanyakan. Jawaban yang dihasilkan
dari riset ini akan meningkatkan pengertian dan memperkaya informasi
untuk menilai efektivitas.

Selanjutnya adalah Model evaluasi komunikasi merupakan


pemeriksaan dan penilaian atas praktek dan kegiatan komunikasi pada
situasi tertentu. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan patok banding
bagi manajemen untuk memperbaiki system komunikasi internal dan
eksternal, perbaikan dalam perencanaan dan pengendalian manajemen dan
menjembatani berbagai rumpang dalam system komunikasi (Andre
Hardjana, 2000:40-58).

3.3.4 Standarisasi Aspek-aspek Penyelenggaraan Kegiatan


Pada buku Manajemen Kampanye yang disusun oleh Antar Venus,
terdapat tahapan perencanaan kampanye milik Gregory. Seperti yang sudah
dijabarkan secara rinci pada Bab sebelumnya, tahapan ini diawali dengan
penganalisaan masalah, penyusunan tujuan, identifikasi dan segmentasi
sasaran, menentukan pesan, penyusunan strategi dan taktik, pengalokasian
waktu dan sumber daya, dan yang terakhir yakni evaluasi dan tinjauan.

23
Ketika sebuah organisasi membuat suatu kegiatan, penulis menilai
bahwa pihak yang merancang kegiatan tersebut perlu mengetahui sejauh
mana kegiatan tersebut dapat dikatakan berhasil. Untuk mencapai berhasil
atau tidaknya kegiatan tersebut dilaksanakan maka perancang kegiatan
memerlukan standarisasi atau sebagai tolak ukur.

Pihak yang merancang kegiatan kampanye SDGs ini adalah jajaran


Executive Board yang berjumlah 11 orang;

1. Local Committee President AIESEC Bandung, Nadia Risky Putri


2. Vice President iGCDP (incoming Global Community Development
Program) AIESEC Bandung, Nadira Natasya
3. Vice President oGCDP (outgoing Global Community Development
Program) AIESEC Bandung, Andika Hudiya Dinan
4. Vice President iGIP (Incoming Global Internship Program) AIESEC
Bandung, Muhammad Fauzan
5. Vice President oGIP (Outgoing Global Internship Program) AIESEC
Bandung, Annisa Utami Putri
6. Vice President Human Resources AIESEC Bandung, Rizky Ambardi,
7. Vice President Public Relations and Information Management AIESEC
Bandung, Ratu Destian
8. Vice President Marketing AIESEC Bandung, Dhafinta
9. Vice President Talent Development AIESEC Bandung, Rahmat Fajri
10. Vice President Finance & Governance AIESEC Bandung, Rizki Rimadina
11. Vice President Business Development AIESEC Bandung, Wine Anita Tesa

Untuk mengetahui apakah standarisasi yang diberlakukan oleh


AIESEC Bandung telah sesuai dengan teori yang didapat dari Manajemen
Kampanye oleh Antar Venus, penulis melakukan wawancara agar dapat
membandingkan antara teori dan kejadian nyata di lapangan.

3.3.5 Diagnosis Aspek-aspek Terkait Pelaksanaan Kegiatan


Pada sebuah kegiatan dalam organisasi, diperlukan suatu perubahan
jika organisasi mengalami hal yang tidak sesuai perkiraan dan ingin kegiatan
tersebut dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan. Diagnosis dilakukan di

24
pertengahan ketika perencanaan kampanye ini dibuat. Hal ini berguna untuk
menindaklanjuti penyelesaian atas permasalahan yang ditemui.

Penulis melakukan wawancara terhadap kesebelas Executive Board


AIESEC Bandung guna mengetahui apakah terdapat hal-hal yang tidak
sesuai pada kegiatan kampanye SDGs dengan teori yang penulis angkat
(teori tahapan perencanaan kampanye) dalam penelitian ini. Langkah
diagnosis penulis lakukan agar dapat mengetahui adakah permasalahan
dalam perencanaan kampanye SDGs yang dilakukan oleh AIESEC
Bandung.

Jika tidak terdapat permasalahan (antara teori dan realitas), maka


audit diagnosis pada perencanaan kampanye SDGs dapat menemukan hasil
yang baik. Lain halnya bila terdapat permasalahan di perencanaan ini, yang
berarti Executive Board perlu merancang strategi dan taktik baru agar
kampanye dapat berjalan dengan baik dan sesuai goals yang diharapkan.

3.3.6 Pengkajian Kelayakan Berbagai Aspek Terkait


Pengkajian kelayakan yang dimaksud ialah di mana penulis dapat
mengkaji program yang dijalankan oleh AIESEC Bandung, yakni kampanye
SDGs, agar dapat mencapai keberhasilannya. Kelayakan program yang
dikaji tentu menentukan apakah perencanaan kampanye SDGs tersebut patut
dilaksanakan atau tidak, atau bahkan memerlukan revisi agar kampanye
dapat berlangsung secara tepat sasaran.

Wawancara yang dilakukan penulis terhadap Executive Board


AIESEC Bandung berguna demi mengetahui realitas perencanaan kampanye
SDGs dan mengkaitkannya dengan teori tahapan perencanaan kampanye
oleh Gregory yang merupakan panutan penulis dalam melakukan audit
diagnosis.

25
26
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Deskripsi Lembaga yang Diteliti
AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences
Economiques et Commerciales) adalah sebuah organisasi pemuda
internasional yang memiliki anggota yang fokus kepada kepemimpinan,
manajemen, dan isu-isu global. Kepanjangan dari AIESEC yang tertulis
dalam bahasa Prancis tidak lagi digunakan karena sekarang AIESEC tidak
hanya untuk mahasiswa ilmu ekonomi saja. AIESEC didirikan pada tahun
1949 oleh tujuh orang dari Belgia, Denmark, Prancis, Finlandia, Belanda,
Norwegia dan Swedia. Alasan mengapa organisasi ini didirikan adalah
karena banyaknya pemimpin muda yang tewas dalam Perang Dunia II
sehingga para pendiri tersebut berpendapat bahwa pemimpin muda harus
kembali diciptakan melalui sebuah wadah dan wadah tersebut adalah
AIESEC.

Organisasi ini merupakan organisasi global, non-politik, not for


profit, dan dijalankan oleh mahasiswa dan orang-orang yang
berpendidikan lebih tinggi. Visi dari organisasi ini adalah peace and
fulfillment of humankinds potentials yang berarti AIESEC menginginkan
sebuah dunia yang damai. Walaupun tidak ada lagi peperangan di masa
sekarang, tetapi AIESEC melihat bahwa perang bisa muncul kembali
karena perbedayaan budaya, suku, ras, agama, dll. Sehingga dengan
menumbuhkan cultural understanding, perang dapat dicegah. Selanjutnya
adalah fulfillment of humankinds potential. Untuk mencapai visi tersebut,
AIESEC memiliki empat hal yang dilakukan, yaitu GCDP (Global
Community Development Program), GIP (Global Internship Program),
team member experience, dan team leader experience. Namun, yang

27
paling dikenal di kalangan mahasiswa dan masyarakat adalah GCDP atau
yang sering disebut dengan student exchange (pertukaran pelajar)

Saat ini, AIESEC memiliki 70.000 anggota yang tersebar di 126


negara di seluruh dunia. Memiliki lebih dari 1.500 partner bisnis di seluruh
dunia, 2.400 universitas yang tergabung dalam AIESEC, dan lebih dari
1.000.000 orang alumni membuat AIESEC adalah organisasi kepemudaan
terbesar di dunia. AIESEC Indonesia didirikan pada tahun 1984 dan
sekarang telah tersebar di 14 kota dan 28 universitas.

Pada dasarnya, AIESEC Indonesia berada di universitas sebagai


salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), namun lain halnya di
Bandung dan Surabaya. Cabang dari AIESEC Indonesia yang tersebar ini
dinamakan LC (Local Committee). Salah satu LC yang berada di bawah
naungan AIESEC Indonesia adalah LC Bandung (city based LC). AIESEC
LC Bandung didirikan pada tahun 1989 oleh tim dari Universitas
Padjadjaran, tahun 2007 Unpad mengajak beberapa universitas untuk
bergabung menjadi satu tim membentuk LC Bandung, dan pada tahun
2011 anggota LC Bandung berasal dari Universitas Padjadjaran, Institut
Teknologi Bandung (ITB), Universitas Katolik Parahyangan, Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), Maranatha Christian University (MCU), dan
Telkom University.

Sesuai dengan tracker AIESEC Bandung, AIESEC LC Bandung


memiliki 50 anggota, diketuai oleh 1 orang yang disebut sebagai LCP
(Local Committee President). Anggota tersebut dibagi ke 11 departemen,
yaitu iGCDP (Incoming Global Community Development Program),
oGCDP (Outgoing Global Community Development Program), iGIP
(Incoming Global Intrnship Program), oGIP (Outgoing Global Internship
Program), Finance&Governance, PR&IM, Marketing, Talent
Management, Program&Sales, Human Resource, dan Business
Development. Setiap departemen memiliki 1 LCVP (Local Committee Vice

28
President) yang bertindak sebagai kepala departemen tersebut. Kemudian
LCVP memiliki bawahan yaitu manager yang memiliki job description
yang lebih terfokus lagi dan manager tersebut memiliki staff yang
membantu mereka. LCP beserta LCVP masuk ke dalam jajaran executive
board dan para manager masuk ke dalama jajaran management board.
Secara garis besar, struktur organisasi AIESEC LC Bandung adalah
sebagai berikut:

LCP
Executive
LCVP Board

Management Board

Staf

4.1.2 Deskripsi PR Lembaga yang Diteliti


Dalam penelitian audit diagnosis mengenai perencanaan kampanye
Sustainable Development Goals (SDGs) yang dilaksanakan oleh Executive
Board AIESEC Bandung, peneliti tidak melakukan penelitian terhadap
departemen public relations melainkan Executive Board-nya. Vice
President Public Relations & Information Management bertanggung
jawab atas kampanye ini, namun seluruh bagian Executive Board turut
ambil bagian dalam perencanaan kampanye ini.

Dalam pelaksanaan kampanye tersebut, Executive Board AIESEC


Bandung bertindak sebagai pengelola dan menjadikan seluruh anggota
AIESEC Bandung sebagai target dari kampanye tersebut. Executive Board
AIESEC Bandung terdiri dari 11 orang yang menjabat sebagai ketua
organisasi (president) dan 10 vice president. AIESEC menunjuk Vice

29
President Public Relations dari setiap local committee di Indonesia
sebagai penanggung jawab atas kampanye SDG yang dilakukan di local
committee masing-masing. Di AIESEC Bandung, Ratu Destian (VP Public
Relations & Information Management) lah yang bertindak sebagai
penanggung jawab atas kampanye SDG ini. Kemudian Ia membicarakan
hal mengenai kampanye ini bersama seluruh jajaran Executive Board
AIESEC Bandung. Kampanye ini bertujuan untuk menumbuhkan
awareness anggota AIESEC Bandung terhadap SDG. Menurutnya,
pemanfaatan media sosial sebagai sarana kampanye dinilai efektif. Sebab,
ketika ide dan gagasan yang disampaikan oleh sebuah partai politik
melalui media sosial, itu bisa langsung segera direspons. Masyarakat yang
mengakses media sosial dan mengetahui gagasan tersebut dapat langsung
menanggapinya

Executive Board AIESEC Bandung sepakat bahwa kampanye SDG


dengan menggunakan twibbon. Menurut Executive Board AIESEC
Bandung, twibbon merupakan salah satu cara kampanye di media sosial
yang dapat meningkatkan awareness public yang menjadi target dalam
kampanye dengan cepat. ini dapat dilakukan di media social selain
Facebook, yaitu Line. Facebook merupakan media sosial nomor 1 (satu) di
dunia. Facebook dipilih AIESEC Internasional karena hampir seluruh
masyarakat di dunia memiliki akun Facebook sehingga memudahkan
penyebaran informasi.

AIESEC Internasional mewajibkan pelaksanaan kampanye melalui


Facebook agar AIESECers (anggota-anggota AIESEC) di seluruh dunia
dapat menjalankan dan mengetahui kampanye SDGs tersebut. Executive
Board AIESEC Bandung setuju dengan kebijakan yang dibuat AIESEC
Internasional mengenai penggunaan Facebook sebagai media kampanye.
Selanjutnya Executive Board AIESEC Bandung membuat sebuah
kebijakan yaitu dengan menambahkan Line sebagai media kampanye
SDGs selain Facebook. Hal ini dilakukan karena Line merupakan salah

30
satu media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia, yakni
sebesar 30 juta pengguna, menurut Executive Board AIESEC Bandung
berdasarkan data yang dilansir dari id.techinasia.com. Tentu saja hal
tersebut membuat Line menjadi sebuah media yang efektif untuk
menyampaikan pesan terutama sebagai media kampanye. Seluruh anggota
AIESEC Bandung memiliki aplikasi Line di gadget mereka sehingga
Executive Board AIESEC Bandung menganggap bahwa Line sesuai utnuk
menjadi media kampanye SDGs.

Executive Board AIESEC Bandung terdiri dari satu Local


Committee President (LCP) dan sepuluh Vice President (VP). Berikut ini
adalah orang-orang tergabung dalam Executive Board AIESEC Bandung:

1. Local Committee President AIESEC Bandung, Nadia Risky Putri


2. Vice President PR & IM (Public Relations & Information
Management) AIESEC Bandung, Ratu Destian
3. Vice President iGCDP (incoming Global Community Development
Program) AIESEC Bandung, Nadira Natasya
4. Vice Presiden oGCDP (outgoing Global Community Development
Program) AIESEC Bandung, Andika Hudiya Dinan
5. Vice President iGIP (incoming Global Internship Program)
AIESEC Bandung, Muhammad Fauzan
6. Vice President oGIP (outgoing Global Internship Program)
AIESEC Bandung, Annisa Utami Putri
7. Vice President Talent Development AIESEC Bandung, Rahmat
Fajri
8. Vice President Finance & Governance AIESEC Bandung, Rizki
Rimadina
9. Vice President Marketing AIESEC Bandung, Dhafinta
10. Vice President Business Development AIESEC Bandung, Wine
Anita Tesa
11. Vice President Human Resources AIESEC Bandung, Rizky
Ambardi

31
4.1.3 Standarisasi Aspek-Aspek dalam Pelaksanaan Kegiatan
Peneliti telah melakukan wawancara dengan sepuluh vice president
dan seorang president yang tergabung dalam Executive Board AIESEC
Bandung di tempat dan waktu yang berbeda. Berikut ini adalah hasil
wawancara peneliti dengan Executive Board AIESEC Bandung mengenai
perancangan kampanye SDGs yang dilakukan Executive Board AIESEC
Bandung melalui twibbon dengan menggunakan media sosial Facebook
dan Line:

Local Committee President AIESEC Bandung, Nadia Risky Putri

Dalam melakukan perancangan ini Execuitve Board melakukan 7


langkah. Pertama, analisis masalah, di langkah ini kita membuat latar
belakang untuk kampanye SDGs; kedua, kita menyusun tujuan dari
kampanye SDGs ini yaitu untuk membangun awareness anggota AIESEC
Bandung; ketiga, kita menentukan segmentasi dan tentu segmen kita
adalah anggota AIESEC Bandung; keempat, kita menentukan pesan apa
yang mau disampaikan dalam kampanye, namun karena AIESEC
Internasional telah menetapkan twibbon untuk digunakan dalam
kampanye, sehingga kita tidak perlu lagi menambahkan pesan untuk
disampaikan; kelima, kami menentukan strategi dan taktik, strategi kita
adalah melakukan kampanye dan taktiknya adalah dengan mengunakan
twibbon yang dapat diedit dan disesuaikan oleh pengguna media sosial dan
twibbon tersebut dijadikan display picture oleh pengguna tersebut;
keenam, penetapan waktu pelaksanaan kampanye, karena kampanye
tersebut serentak dilaksanakan di seluruh dunia pada 1 Maret 2016, maka
AIESEC Bandung pun berencana untuk melakukan kampanye SDGs pada
tanggal tersebut; dan yang terakhir adalah evaluasi.12

Vice President iGCDP (incoming Global Community Development


Program) AIESEC Bandung, Nadira Natasya

12 Kantor AIESEC Bandung, 30 Mei 2016, 14.00 WIB

32
Pesannya kita sampaikan dengan foto profil dari facecook dan
line karena dua platform ini memang sedang di gandrungi di kalangan
anggota AIESEC Bandung dari 17 SDGs kita buat 17 twibbon dalam
menyampaikan pesannya kita cantumkan nama dari setiap SDG dan
nomornya bahkan dengan simbol SDG tersebut. Hal ini kita lakukan
sampai mulai 1 Maret 2016 sudah dimulai sampai Juni 201613

Vice President oGCDP (outgoing Global Community Development


Program) AIESEC Bandung, Andika Hudiya Dinan

Jadi, kita mencoba meningkatkan Awareness melalui pesan pesan


yang terdapat dalam SDG tersebut kita bisa memilih untuk menggunakan
SDG nomor berapa. Setiap harinya kita boleh mengganti-foto profil kita
dengan twibbon yang berbeda beda sesuai ketertarikan. Terus, Kita
sebenernya sudah siap dari tanggal 1 Maret rencananya memang sampai
Bulan Juni ini kita melakukan kampanye ini14

Vice President iGIP (Incoming Global Internship Program) AIESEC


Bandung, Muhammad Fauzan

Awalnya kami merancang pesan apa yang akan kami sampaikan


mengenai SDGs ini kepada seluruh anggota AIESEC Bandung, yakni
kampanye SDGs penting untung membangkitkan awareness terhadap
pembangunan dunia. Lalu tahap berikutnya menentukan strategi untuk
melakukan kampanye ini, yaitu melalui media sosial di mana partisipan
juga menggunakan twibbon yang menampilkan salah satu dari 17 poin
SDGs. Dan terakhir alokasi waktu, menyangkut berapa lama dan kapan
kampanye ini dimulai. 1 Maret 2016 merupakan tanggal di mana kampanye
ini serentak diberlakukan.15

13 Kantor AIESEC Bandung, 30 Mei 2016, 14.41 WIB

14 Kantor AIESEC Bandung, 30 Mei 2016, 15.28 WIB

33
Vice President oGIP (Outgoing Global Internship Program) AIESEC
Bandung, Annisa Utami Putri

Tahap pertama adalah pesan yang mau disampaikan dalam kampanye,


yaitu membangun awareness. Awareness penting sekali merata ke seluruh
anggota AIESEC Bandung. Lalu berikutnya penentuan waktu kapan
kampanye ini dilakukan. Tanggalnya adalah 1 Maret 2016.16

Vice President Human Resources AIESEC Bandung, Rizky Ambardi,

Perancangan kampanye ini meliputi penetapan tujuan, segmentasi


dan alokasi waktu. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk membangun
awareness anggota AIESEC Bandung mengenai SDGs. Untuk segmentasi
tentu adalah anggota AIESEC Bandung dan yang terakhir adalah
penentuan waktu pelaksanaan kampanye yang disesuaikan dengan
keputusan AIESEC Internasional.17

Vice President Public Relations and Information Management AIESEC


Bandung, Ratu Destian

Langkah-langkah yang kita lakukan dalam merancang kampanye


SDGs ini cukup banyak. Awalnya kita menentukan latar belakang dulu,
lalu kita menentukan tujuan dari kampanye ini, lalu menentukan target
segmen dalam kampanye ini, yaitu anggota AIESEC Bandung. Kemudian
kita menentukan pesan yang ingin disampaikan sesuai dengan keputusan
AIESEC Internasional dan kita sama sekali tidak melakukan perubahan
apapun karena kampanye ini didelegasikan oleh AIESEC Internasional.
Lalu kami pun menentuka strategi dan taktik, kampanye ini merupakan
strategi kita dan penggunaan twibbon di media sosial adalah taktik yang

15 Kampus Telkom University, 27 Mei 2016 12.00 WIB

16 Kantor AIESEC Bandung 30 Mei 2016 16.00 WIB

17 Kantor AIESEC Bandung, 29 Mei 2016, 17.00 WIB

34
kita gunakan. Pemilihan waktu pun disesuaikan dengan waktu yang telah
ditentukan oleh AIESEC Internasional karena kampanye ini akan
dilakukan serentak di seluruh dunia. Dan yang terakhir adalah evaluasi
untuk menentukan keberhasilan kampanye ini.18
Vice President Marketing AIESEC Bandung, Dhafinta

Kampanye ini dirancang untuk meningkatkan awareness dari


anggota AIESEC Bandung itu sendiri. Mengapa anggota AIESEC? Hal ini
dikarenakan AIESEC merupakan organisasi pemuda terbesar di dunia,
diharapkan dengan meningkatnya awareness anggota AIESEC akan
menjadi agen perubahan untuk semua pemuda khususnya di Indonesia
agar lebih peduli terhadap SDGs dan isu-isu dunia lainnya. Kampanye ini
dilakukan mulai pada 1 maret 2016 dan dilakukan serentak bukan hanya
pada AIESEC LC Bandung saja, melainkan pada AIESEC Internasional.19

Vice President Talent Development AIESEC Bandung, Rahmat Fajri

Pesan dari kampanye ini adalah untuk meningkatkan awareness


dari para pemuda, khususnya anggota AIESEC LC Bandung dalam isu-isu
dunia melalui SDGs yang baru saja diluncurkan oleh PBB. Dalam
penyampaian pesannya, digunakan strategi yakni melalui media sosial
Facebook dan Line. Hal ini dikarenakan pemuda Indonesia sangat aktif
menggunakan kedua media sosial tersebut. Setelah itu, untuk ikut
berpartisipasi dengan kampanye ini, anggota AIESEC Bandung tinggal
mengganti display picture mereka dengan menggunakan Twibbon yang
mereka pilih sesuai dengan concern mereka dalam SDGs. Pelaksanaan
kampanye ini dilakukan serentak pada tanggal 1 maret 2016 baik oleh
AIESEC LC Bandung, maupun AIESEC Internasional. 20
18 Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, 27 Mei 2016, 10.00 WIB

19Kantor AIESEC Bandung, 30 Mei 2016, 14.20 WIB

20Kantor AIESEC Bandung, 30 Mei 2016, 15.45 WIB

35
Vice President Finance & Governance AIESEC Bandung, Rizki
Rimadina

Sebelumnya kan kita sudah melakukan beberapa langkah ni, nah


kita mau nyampein esan yang udah di tetapin sama AIESEC
Internasionalnya, jadi kita ga mengubah apapun karena ini didelegasikan
oleh AIESEC Internasional. Target dari kampanye ini adalah anggota
AIESEC Bandung, untuk waktunya kita melakukannya serentak seluruh
dunia21

Vice President Business Development AIESEC Bandung, Wine Anita


Tesa

Jadi kampanye SDGs yang dilakukan oleh AIESEC Internasional


yang di delegasikan kepada AIESEC Nasional dan AIESEC Local
Committe bertujuan untuk menyampaikan Pesan yang udah di tetapkan
sama PBB untuk dunia yang lebih baik di 2030 mendatang, dan membuat
kami awalnya anggota AIESEC untuk aware dengan SDGS kemudian
menyebarkan dan mengajak pemuda-pemuda yang lainnya, strategi yang
kami lakukan yaitu dengan mengadakan kampanye ini, dengan taktik
menggunakan twibbon yang udah di tetapin sama AIESEC Internatsional,
cuma kita menambah dengan Line karena saat ini hampir semua pemuda
menggunakan LINE. Kampanye ini sudah di- mandate dari 2015, dan kita
baru mulai 1 maret kemarin 22

Selanjutnya peneliti pun menyusun kategori yang disesuaikan


dengan pernyataan Executive Board mengenai perancangan kampanye
SDGs yang dilakukan Executive Board AIESEC Bandung melalui twibbon
dengan menggunakan media sosial Facebook dan Line. Kategori yang
disusun antara lain:

21 Kantor AIESEC Bandung, 3 Juni 2016, 13.00 WIB

22 Kantor AIESEC Bandung, 2 Juni 2016, 15.30 WIB

36
1. Analisis masalah, tujuan, segmentasi, penentuan pesan, strategi
taktik,alokasi waktu,evaluasi
2. Tujuan, segmentasi, alokasi waktu
3. Pesan, strategi, alokasi waktu
4. Pesan dan alokasi waktu

4.1.4 Diagnosis Aspek-Aspek untuk Pelaksanaan Kegiatan


Peneliti menggunakan buku Manajemen Kampanye karya Antar
Venus sebagai pedoman dalam mengetahui perencanaan yang baik dalam
sebuah kampanye. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa tahap-tahap
dalam perencanaan sebuah kampanye adalah analisis masalah,
penyusunan tujuan, identifikasi dan segmentasi sasaran, menentukan
pesan, strategi dan taktik, alokasi waktu dan sumber daya, evaluasi dan
tinjauan. Hal tersebut menuntun peneliti untuk melakukan audit diagnosis
dalam perencanaan kampanye SDGs yang dilakukan oleh Executive Board
AIESEC Bandung.

Diagnosis yang dapat diberikan oleh peneliti terhadap kampanye


SDGs yang dilakukan oleh Executive Board AIESEC Bandung adalah
sebagai berikut:

1. Tidak semua bagian Executive Board memiliki pendapat yang


sama mengenai perencanaan kampanye SDGs yang mereka
lakukan
2. Ada pernyataan dari beberapa vice president yang
menunjukkan bahwa tahap-tahap perencanaan kampanye SDGs
tidak sesuai dengan tahap-tahap perancaan kampanye menurut
Antar Venus

Hasil diagnosis perencanaan kampanye tersebut harus


diberitahukan kepada Executive Board bahwa terdapat kesalahan dalam
perencanaan kampanye SDGs yang dapat mengancam keberhasilan
kampanye tersebut.

37
4.2 Pembahasan Hasil Pelaksanaan Aspek-Aspek Penyelenggaraan Kegiatan
Berikut ini adalah pembahasan mengenai perencanaan kampanye
SDGs yang dilakukan oleh Executive Board AIESEC Bandung melihat
dari sudut pandang perencanaan kampanye menurut Antar Venus yang
merupakan hasil audit diagnosis:

1. Analisis Masalah
Analisis masalah yang dilakukan oleh Executive Board
bertujuan untuk menentukan latar belakang kampanye SDGs.
AIESEC Bandung mengetahui bahwa AIESEC Internasional
dipilih oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam
menyebarluaskan SDGs kepada para pemuda di seluruh dunia
karena AIESEC merupakan organisasi kepemudaan terbesar di
dunia. Selain itu kampanye ini merupakan pendelegasian
kampanye dari AIESEC Internasional.
Dalam hal ini penyusunan analisis masalah tidak disusun
secara detail seperti pembuatan analisis masalah dengan PEST
maupun SWOT. Seharusnya analisis masalah yang baik
menurut Antar Venus adalah dengan menggunakan SWOT
sehingga Executive Board bisa mengetahui pertimbangan-
pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program
kampanye dan kondisi-kondisi negatif yang harus dihadapi
kampanye tersebut.

2. Penyusunan Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan


kampanye ini adalah membangun awareness anggota AIESEC
Bandung mengenai SDGs. Tujuan ini cukup spesifik (hanya
untuk anggota AIESEC Bandung) dan memungkinan untuk
dicapai. Dengan menggunakan profile picture dengan twibbon
maka dapat dipastikan bahwa pemilik profile picture tersebut
sudah aware dengan SDGs.

38
Penyusunan tujuan tersebut sesuai dengan tahap
penyusunan tujuan menurut Antar Venus, yaitu menyusun
tujuan, menyusun tujuan secara seksama dan spesifik,
menyusun tujuan yang memungkinkan untuk dicapai, dan
kuantifikasi semaksimal mungkin. Namun, Executive Board
memang tidak mempertimbangkan anggaran karena kampanye
ini tidak memiliki anggaran khusus.

3. Identifikasi dan Segmentasi Sasaran

Dapat diketahui dari sasaran kampanye menurut James


Grunig bahwa sasaran kampanye SDGs ini adalah para anggota
AIESEC Bandung yang merupakan latent public, yaitu
kelompok yang menghadapi permasalahan yang berkaitan
dengan isu kampanye, namun tidak menyadarinya.

4. Menentukan Pesan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan
bahwa penentuan pesan yang dilakukan adalah meneruskan
pesan dari setiap SDGs tersebuh tanpa menambahkan atau
mengurangi pesan lain dalam penentuan pesannya.
AIESEC Internasional telah menetapkan konten
kampanye sehingga AIESEC Bandung tidak perlu lagi
menambahkan pesan untuk disampaikan. Pesan dari SDGs
tersebut disampaikan melalui media twibbon dengan
menuliskan setiap Goals dari salah satu SDGs yang ada dari
17 twibbon yang tersedia.
Tahapan yang di ambil sudah sesuai dengan tahapan
pertama (Venus. 2004: 151) yaitu mengambil perserpsi dari
publiknya dimana target sasarannya dengan kata kata I
Commit to Advicing Global Goals dengan kalimat ajakan ini
AIESEC Bandung merasa hal ini akan menimbulkan anggota
lain yang melihat tertarik untuk mengikuti kampanye ini.

39
5. Strategi dan Taktik

Strategi yang digunakan adalah kampanye melalui


media sosial Facebook dan Line, lalu taktik yang digunakan
adalah twibbon yang sedang sering digunakan sebagai alat
kampanye. Dilihat bahwa taktik berhubungan dengan strategi
dan strategi berhubungan dengan tujuan.

Namun, ada sesuatu yang tidak memenuhi hal yang


harus diperhatikan dalam penetapan strategi dan taktik menurut
Antar Venus yaitu tidak adanya pengujian taktik untuk
mengetahui kemungkinan tingkat keberhasilan yang akan
didapatkan.

6. Alokasi Waktu dan Sumber Daya


Kampanye ini dilaksanakan serentak di seluruh dunia
pada 1 April 2016 hingga 1 Juli 2016. Anggota AIESEC
Bandung yang mengikuti kampanye bebas untuk mengubah
profile picturenya di rentang waktu tersebut. Namun, tidak ada
penentuan waktu yang terukur dalam melakukan strategi dan
taktik ini oleh AIESEC Bandung. Hal ini tidak sesuai dengan
perencanaan waktu Critical Path Analysis (CPA) atau Program
Evaluation and Review Technique (PERT). Hal ini dikarenakan
alokasi waktu yang jelas tidak disusun oleh AIESEC Bandung.
7. Evaluasi dan Tinjauan
Evaluasi yang dilakukan oleh AIESEC Bandung adalah
media monitoring di akhir masa kampanye yaitu pada Juli
2016. Metode Evaluasinya adalah media monitoring dengan
menghitung jumlah profile picture yang menggunakan twibbon
di Facebook dan Line. Tinjauan dari evaluasi ini tidak ada
karena evaluasi terdapat di akhir masa kampanye sehingga
tinjauan untuk strategi dan taktik yang sudah dilaksanakan
tidak ada saran atau solusi yang disampaikan.

40
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai kampanye sustainable


development goals (SDGs) melalui media sosial dalam membangun awareness
anggota AIESEC Bandung, maka pada diagnosis penelitian ini, penulis menarik
kesimpulan serta saran sebagai berikut:

41
5.1 Kesimpulan
Pada tahap perencanaan yang dilakukan oleh executive board AIESEC
Bandung, terdapat perbedaan mengenai perencanaan yang mereka lakukan. Selain
itu, setelah ditemui bahwa tahapan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan
tahapan perencanaan kampanye yang tertuang dalam Buku Manajemen
Kampanye yang ditulis oleh Antar Venus. Tahapan-tahapan yang mereka lakukan
berupa:

1. Analisis masalah yang dilakukan oleh Executive Board bertujuan untuk


menentukan latar belakang kampanye SDGs. Penyusunan latar belakang
dilaksanakannya kegiatan kampanye SDGs tidak dilakukan secara
terperinci. Pembuatan analisis masalah yang baik harus sesuai dengan
pencarian data melalui PEST maupun SWOT. Menurut Antar Venus dalam
bukunya Manajemen Kampanye, pencarian analisis masalah dilakuakn
dengan pengumpulan informasi yang berhubungan dengan perinasalahan
harus dilakukan secara objektif dan tertulis serta memungkinkan untuk
dilihat kembali setiap waktu. Hal ini dapat menghindarkan terjadinya
pemecahan masalah yang tidak tepat. Analisis masalah lebih cenderung
atas pendelegasian terhadap AIESEC Internasional kepada AIESEC LC
Bandung.
2. Penyusunan tujuan dalam kampanya SDGs ini adalah untuk meningkatkan
awareness dari anggota AIESEC Bandung mengenai SDGs yang baru saja
diluncurkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuan dari
kampanye ini disusun berdasarkan tahapan yang dikemukan oleh Antar
Venus dalam bukunya Manajemen Kampanye. Terdapat beberapa tahapan
dalam penyusunan tujuan dari kampanye ini, diantaranya adalah
menyusun tujuan, menyusun tujuan secara seksama dan spesifik,
menyusun tujuan yang memungkinkan untuk dicapai, dan kuantifikasi
semaksimal mungkin. Namun, Executive Board memang tidak
mempertimbangkan anggaran karena kampanye ini tidak memiliki
anggaran khusus.

42
3. Dalam mengidentifikasi sasaran publiknya, Kampanye SDGs ini melihat
terhadap suatu kelompok yang menghadapi suatu permasalahan namun
tidak menyadarinya (latent public). Kurangnya perhatian anggota AIESEC
Bandung mengenai SDGs tentu merupakan suatu permasalahan, namun,
dalam hal ini anggota AIESEC Bandung tidak menyadari permasalahan
tersebut atau bahkan tidak menganggap penting permasalahan tersebut.
4. Penentuan pesan yang dilakukan adalah meneruskan pesan dari setiap
SDGs tersebuh tanpa menambahkan atau mengurangi pesan lain dalam
penentuan pesannya. Bentuk pesan yang disampaikan merupakan suatu
pendelegasian yang dilakukan oleh AIESEC Internasional terhadap
AIESEC Bandung. Pesan dari SDGs tersebut disampaikan melalui media
twibbon dengan menuliskan setiap Goals dari salah satu SDGs yang ada
dari 17 twibbon yang tersedia. Penyampaian pesan ini dilakukan untuk
meningkatkan awareness dari anggota AIESEC Bandung terlebih dahulu
yang dipercaya akan menjadi agen perubahan dalam menyebarkan
awareness ke seluruh pemuda di Indonesia.
5. Penggunaan strategi media sosial Facebook dan Line dalam meningkatkan
awareness dari anggota AIESEC Bandung merupakan salah satu cara yang
tepat dikarenakan kedua media sosial tersebut merupakan media sosial
dengan pengguna nomer satu di Indonesia. Taktik yang digunakan adalah
Twibbon sebagai satu-satunya alat kampanye SDGs ini. Jika ditinjau,
taktik yang digunakan berhubungand dengan strategi dan strategi yang
digunakan dapat menjawab tujuan dari kampanye ini. Namun, tidak
adanya pengujian taktik untuk mengetahui kemungkinan tingkat
keberhasilan yang akan didapatkan.
6. Kampanye ini serentak dilaksanakan pada tanggal 1 April 2016 hingga 1
Juli 2016. Selama waktu kampanye Anggota AIESEC Bandung yang
mengikuti kampanye bebas untuk mengubah profile picture-nya di rentang
waktu tersebut. Namun, tidak ada penentuan waktu yang terukur dalam
melakukan strategi dan taktik ini oleh AIESEC Bandung. Hal ini tidak
sesuai dengan perencanaan waktu Critical Path Analysis (CPA) atau
Program Evaluation and Review Technique (PERT). Hal ini dikarenakan

43
alokasi waktu yang jelas tidak disusun oleh AIESEC Bandung. Menurut
buku Kampanye Public Relations oleh Rosady Ruslan, setidaknya
membutuhkan waktu 6 bulan dalam pelaksanaan kampanye.
7. Media monitoring merupakan evaluasi yang dilakukan oleh divisi PRIM
AIESEC Bandung. Evaluasi yang dilakukan adalah dengan peghitungan
jumlah profile picture yang menggunakan twibbon di Facebook dan Line.
Tinjauan dari evaluasi ini tidak ada karena evaluasi terdapat di akhir masa
kampanye sehingga tinjauan untuk strategi dan taktik yang sudah
dilaksanakan tidak ada saran atau solusi yang disampaikan.

5.2 Saran

Berdasarkan dari hasil analisis data dan kesimpulan yang diperoleh


dalam penelitian ini, penulis dapat memberikan saran yang mungkin dapat
dipergunakan sebagai bahan pertimbangan oleh perusahaan dalam
menentukan perencanaan kampanye AIESEC LC Bandung. Adapun saran
yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui sebuah aspek-aspek perencanaan kampanye dengan


matang adalah hal yang penting dalam melakukan sebuah kampanye
agar kampanye yang dibuat dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

2. AIESEC LC Bandung harus lebih memfokuskan usaha. Analisis


Masalah dan mengidentifikasi tujuan adalah hal hal yang digunakan
agar kampanye dapat dilakukan secara efektif dan efisien. AIESEC
tidak melakukan Analisis Masalah dengan metode melalui PEST
maupun SWOT. Hal ini seharusnya dilakukan agar kampanye dapat
berkonsentrasi pada prioritas alur kerja yang jelas.

3. Memperjelas taktik dengan saluran media yang tepat. Taktik yang


dilakukan harus diuji terlebih dahulu. Jika pengujian menunjukan
taktik yang kurang efektif maka taktik dengan mengunakan twibbon

44
tidak ada salahnya menganti dengan taktik lain yang lebih efektif.
Misalnya menggunakan audio visual yang akan lebih menarik
attention kepada target sasarannya.

4. Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang. Dalam


pelaksanaanya Evaluasi tidak dilakukan secara berkala oleh AIESEC
LC Bandung sehingga tidak memberikan tinjauan yang seharusnya
dapat memberikan efek kampanye dalam jangka waktu yang pendek
tetapi juga ke masa depan, Evaluasi dan tinjauan akan menghasilkan
program menjadi terstruktur dalam menghadapi kebutuhan atau
permasalahan dalam pelaksanaanya.

5. Alokasi waktu yang tidak medasar membuat kampanye ini tidak


memiliki indikator keberhasilan yang jelas dengan hanya melakukan
kampanye dengan waktu 4 bulan. Karena Alokasi waktu ini penting
dalam menunjang tujuan dan taktik taktik yang akan dilaksanakan.

Demikian kesimpulan dan saran dari penelitian yang dilakukan penulis,


semoga AIESEC LC Bandung dapat terus melangsungkan aktivitas dengan
lebih baik.

45