Anda di halaman 1dari 63

Dampak IPTEK terhadap Moral Umat

DAMPAK IPTEK TERHADAP MORAL UMAT

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang


berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia.Berbagai
sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat
bermanfaat. Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan
dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Perkembangan iptek, adalah
hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan
mengembangkan iptek (Agus, 1999). Kesejahteraan dan kemakmuran material
(fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat
banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat
tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis
multidimensional yang diakibatkannya. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang
membuat negara maju lebih maju dibanding dengan negara berkembang.
Diantaranya Pendidikan, ketidakmampuan negara kita mengelola sumber daya
alam yang dimiliki, dan perbedaan penggunaan waktu yang dimiliki.
Kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan
dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat
manusia. Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia
tidaklah dapat dipungkiri. Akan tetapi kenyataan memprihatikan ini sangat ironis.
Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang
jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya
sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan
dan Ipteknya).
Produk-produk yang dihasilkan oleh Iptek, diantaranya Kloning dan Bayi Tabung.
Disini diperdebatkan bahwa apakah produk-produk IPTEK seperti bayi tabung dan
kloning merupakan hal yang dibenarkan dalam Islam ? Kloning adalah teknik
membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya pada
makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun
manusia. Sedangkan proses bayi tabung merupakan proses yang di gunakan
dengan metode antara sel sperma suami dengan sel telur isteri.
Salah satu upaya menanggulangi pengaruh keadaan zaman yang seperti sekarang
ini adalah dimulai dari keluarga, bagaimana pendekatan orang tua dengan anak dan
kedekatan anak dengan orang tua, banyak anak yang tidak suka kegiatannya
diperhatikan oleh orang tuanya, disini peran aktif orang tua untuk mencari cara
mendekati anaknya sehingga bisa mengontrol anak-anak nya. Dalam menghadapi
perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat,
dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma Islam.
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang
berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai
sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat
bermanfaat. Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan
dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia.
Di sinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk
ditengok kembali. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh
dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya
semiminal mungkin? Sejauh manakah agama Islam dapat berperan dalam
mengendalikan perkembangan teknologi modern? Tulisan ini bertujuan menjelaskan
peran Islam dalam perkembangan dan pemanfaatan teknologi tersebut.
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh
peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di berbagai
penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan
oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi
dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap
segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.
Krisis multidimensional terjadi akibat perkembangan Iptek yang lepas dari kendali
nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama. Krisis ekologis, misalnya: berbagai bencana
alam: Tsunami, gempa dan kacaunya iklim dan cuaca dunia akibat pemanasan
global yang disebabkan tingginya polusi industri di negara-negara maju;
Kehancuran ekosistem laut dan keracunan pada penduduk pantai akibat polusi yang
diihasilkan oleh pertambangan mineral emas, perak dan tembaga, seperti yang
terjadi di Buyat, Sulawesi Utara dan di Freeport Papua, Minamata Jepang. Kebocoran
reaktor Nuklir di Chernobil, Rusia, dan di India, dll. Krisis Ekonomi dan politik yang
terjadi di banyak negara berkembang dan negara miskin, terjadi akibat
ketidakadilan dan penjajahan (neo-imperialisme) oleh negara-negara maju yang
menguasai perekonomian dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya
adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara
ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan
dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang
masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan
dirinya.Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut
buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai,
ideologi dan budaya materialis (matre) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan
melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat.Akibatnya krisis-
krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa
Muslim.
ISI

A. Pengertian IPTEK
Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu
pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh
melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) (Jujun S.
Suriasumantri, 1992). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang
merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari
(Jujun S. Suriasumantri, 1986). Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala
langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan
iptek (Agus, 1999). Agama yang dimaksud di sini, adalah agama Islam, yaitu agama
yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw, untuk mengatur
hubungan manusia dengan Penciptanya (dengan aqidah dan aturan ibadah),
hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dengan aturan akhlak, makanan, dan
pakaian), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (dengan aturan
muamalah dan uqubat/sistem pidana) (An-Nabhani, 2001).
Bagaimana hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan
ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma
(Yahya Farghal, 1990: 99-119):
Pertama, paradagima sekuler, yaitu paradigma yang memandang agama dan iptek
adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat, agama
telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din an al-hayah). Agama tidak dinafikan
eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan pribadi manusia
dengan tuhannya. Agama tidak mengatur kehidupan umum/publik. Paradigma ini
memandang agama dan iptek tidak bisa mencampuri dan mengintervensi yang
lainnya. Agama dan iptek sama sekali terpisah baik secara ontologis (berkaitan
dengan pengertian atau hakikat sesuatu hal), epistemologis (berkaitan dengan cara
memperoleh pengetahuan), dan aksiologis (berkaitan dengan cara menerapkan
pengetahuan).
Kedua, paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan
eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus, tidak ada hubungan dan
kaitan apa pun dengan iptek. Iptek bisa berjalan secara independen dan lepas
secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi
lebih ekstrem. Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu
tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan
vertikal manusia-tuhan. Sedang dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara
ateistik, yaitu dianggap tidak ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan.
Paradigma tersebut didasarkan pada pikiran Karl Marx (w. 1883) yang ateis dan
memandang agama (Kristen) sebagai candu masyarakat, karena agama
menurutnya membuat orang terbius dan lupa akan penindasan kapitalisme yang
kejam. Karl Marx mengatakan:
Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of the heartless world, just
as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people.
(Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jiwa dari suatu dunia yang tak
berjiwa, sebagaimana ia merupakan ruh/spirit dari situasi yang tanpa ruh/spirit.
Agama adalah candu bagi rakyat) (Lihat Karl Marx, Contribution to The Critique of
Hegels Philosophy of Right, termuat dalam On Religion, 1957:141-142) (Ramly,
2000: 165-166).
Berdasarkan paradigma sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama
sekali dengan iptek. Seluruh bangunan ilmu pengetahuan dalam paradigma sosialis
didasarkan pada ide dasar materialisme, khususnya Materialisme Dialektis (Yahya
Farghal, 1994: 112). Paham Materialisme Dialektis adalah paham yang memandang
adanya keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus melalui proses
dialektika, yaitu melalui pertentangan-pertentangan yang ada pada materi yang
sudah mengandung benih perkembangan itu sendiri (Ramly, 2000: 110).
Ketiga, paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah
dasar dan pengatur kehidupan.Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu
pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-
Qur`an dan al-Hadits-- menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu
asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan
manusia (An-Nabhani, 2001).
Paradigma Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan
berada pada pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada
pada ilmu Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994:
117).
Inilah paradigma Islam yang menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar segala
pengetahuan seorang muslim.Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-
muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam iptek. Itulah hasil dan
prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada masa kejayaan
iptek Dunia Islam antara tahun 700 1400 M. Pada masa inilah dikenal nama Jabir
bin Hayyan (w. 721) sebagai ahli kimia termasyhur, Al-Khawarzmi (w. 780) sebagai
ahli matematika dan astronomi, Al-Battani (w. 858) sebagai ahli astronomi dan
matematika, Al-Razi (w. 884) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia,
Tsabit bin Qurrah (w. 908) sebagai ahli kedokteran dan teknik, dan masih banyak
lagi (Tentang kejayaan iptek Dunia Islam lihat misalnya M. Natsir Arsyad, 1992;
Hossein Bahreisj, 1995; Ahmed dkk, 1999; Eugene A. Myers 2003; A. Zahoor, 2003;
Gunadi dan Shoelhi, 2003).

B. IPTEK dari Sudut Pandang Agama Islam


Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh
peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di pelbagai
penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan
oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi
dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap
segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.
Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci
Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di
negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin
kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global
ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 %
penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-
negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan pesta pora
bangsa-bangsa negara maju.
Ironis bahwa Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam minyak dan
gas bumi, justru mengalami krisis dan kelangkaan BBM. Ironis bahwa ditengah
keberlimpahan hasil produksi gunung emas-perak dan tembaga serta kayu hasil
hutan yang ada di Indonesia, kita justru mengalami kesulitan dan krisis ekonomi,
kelaparan, busung lapar, dan berbagai penyakit akibat kemiskinan rakyat.Kemana
harta kekayaan kita yang Allah berikan kepada tanah air dan bangsa Indonesia ini?
Mengapa kita menjadi negara penghutang terbesar dan terkorup di dunia?
Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita
bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian
politik, ekonomi dan moral bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain kecuali
dengan pembinaan mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam
sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi keimanan-
taqwa kepada Allah SWT. Serta melawan pengaruh buruk budaya sampah dari Barat
yang Sekular, Matre dan hedonis (mempertuhankan kenikmatan hawa nafsu).
Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT Sumber
segala Kebaikan, Keindahan dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah
SWT hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan
pengenalan terhadap Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta
sebagai tajaliyat (manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan
Keagungan-Nya.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat
mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati,
memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain
Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya
hanya untuk kepentingan duniawi yang matre dan sekular, maka Islam
mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana
ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang
amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat
kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil
Alamin).
Mengapa Kemajuan IPTEK lebih dikuasai oleh Negara-negara barat dibanding
dengan negara Islam ?
Bangsa barat cenderung lebih memanfaatkan waktunya seefektif dan
seefisien mungkin. Orang-orang negara maju seperti Amerika, Jepang, Inggris, dan
negara maju lainnya memiliki waktu tidur yang lebih sedikit dibandingkan dengan
waktu tidur orang-orang di negara berkembang khususnya. Menurut Lisa Shives,
pendiri Northshore Sleep Medicine di Everston, USA, mengungkapkan bahwa orang-
orang Amerika membatasi diri mereka untuk tidur selama 6 jam. Karena orang-
orang Amerika bekerja sangat keras. Sehingga mereka lebih maju dibandingkan
dengan kita.
Selain itu, terdapat beberapa faktor yang membuat negara maju lebih maju
dibanding dengan negara berkembang. Diantaranya Pendidikan, ketidakmampuan
negara kita mengelola sumber daya alam yang dimiliki, dan perbedaan penggunaan
waktu yang dimiliki.

C. Dampak IPTEK Terhadap Moral Umat


Iptek telah memberikan begitu banyak manfaat dan nilai positif bagi umat
manusia. Berbagai kemudahan kini dirasakan oleh kita sebagai dampak dari
perkembangan iptek yang begitu pesat. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang
tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan
berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan
untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak
kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia.
Khusus dalam bidang teknologi, masyarakat sudah menikmati banyak manfaat
yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Contoh termudah adalah dampak
positif dari berkembangnya iptek di bidang teknologi komunikasi dan
informasi. Kemajuan di bidang jaringan internet telah memudahkan kita untuk
mengakses informasi dengan cepat dan biaya yang sangat ringan.Kemajuan di
bidang komunikasi juga telah membuat perdagangan internasional menjadi semakin
mudah dan cepat. Penemuan telepon genggam telah memudahkan kita untuk
menghubungi seseorang di mana saja ia berada atau dari mana saja kita berada.
Secara singkat, kemajuan iptek ini telah menghapus jarak, waktu, dan batas antar
negara. Dikembangkannya teknologi pesawat terbang telah memudahkan kita
untuk pergi ke seluruh dunia dalam waktu singkat. Perjalanan haji yang dulu
membutuhkan waktu berbulan-bulan karena menempuh perjalanan melalui laut kini
dapat dilakukan hanya dalam waktu delapan jam saja melalui jalur udara.
Di bidang industri, iptek juga memberikan sumbangan yang begitu besar.Jenis-jenis
pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini
relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Kemajuan
teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari
aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi.
Kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan
dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat
manusia .Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia
tidaklah dapat dipungkiri.
Namun, dibalik semua itu, banyak dampak negatif yang dapat merusak moral
umat. Kemajuan iptek yang telah memberikan begitu banyak kemudahan dan
kenyamanan bagi kehidupan umat manusia, bagi masyarakat sekarang sudah
merupakan suatu kesakralan.Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari
permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai
penyelamat yang akan membebaskan mereka dari berbagai kesulitan. Iptek diyakini
akan memberi umat manusia kebahagiaan. Namun manusia tidak bisa pula menipu
diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi
manusia. Dalam peradaban modern, terlalu sering manusia terhenyak oleh dampak
negatif iptek yang muncul. Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir
rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sama dengan kebenaran. Sebab
iptek hanya mampu menampilkan kenyataan.
Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan
obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan.Tentu saja iptek tidak
mengenal moral kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi
standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan. Adapun
contoh Positf dan Negatif Dampak Iptek bisa dilihat dalam tabel dibawah ini:

NO BIDANG POSITIF NEGATIF ANALISIS


1 Bidang a. Kita akan a. Pemanfaata Analisis
Informasi dan lebih cepat n jasa komunikasi dilakukan pada 2
Komunikasi mendapatkan oleh jaringan orang anak SMA,
informasi-informasi teroris dan mereka
yang akurat dan kadang-kadang
b. Penggunaan
terbaru dibumi menggunakan
informasi tertentu
bagian manapun internet untuk
dan situs tertentu
melalui internet. hal-hal yang
yang terdapat di
tidak benar.
b. Kita dapat internet yang bisa
Seperti
berkomunikasi disalah gunakan
menonton video
dengan teman, Pihak tertentu
porno.
maupun keluarga untuk tujuan
yang sangat jauh tertentu
hanya dengan
c. Kerahasiaan
melalui handphone.
alat tes semakin
c. Kita terancam
mendapatkan
d. Kecemasan
layanan bank yang
teknologi
dengan sangat
mudah. Dan lain-
lain
2 Bidang a. Pertumbuhan a. Terjadinya Analisis
Ekonomi dan ekonomi yang pengangguran dilakukan oleh
Industri semakin tinggi bagi tenaga kerja anak di bawah
yang tidak umur dari
b. Terjadinya
mempunyai kalangan
industrialisasi
kualifikasi yang menengah ke
c. Produktifitas sesuai dengan atas.
dunia industri yang dibutuhkan Kebanyakan dari
semakin meningkat anak anak
b. Sifat
tersebut sudah
d. Persaingan konsumtif
di fasilitasi
dalam dunia kerja gadget gadget
sehingga menuntut canggih oleh
pekerja untuk orang tuanya.
selalu menambah
skill dan
pengetahuan yang
dimiliki.
3 Bidang Sosial a. Perbedaan a. Kemerosota Analisis
dan Budaya kepribadian pria n moral di terhadap kasus
dan wanita. kalangan warga salah seorang
masyarakat, anggota DPR
b. Meningkatnya
khususnya di yang pada saat
rasa percaya diri
kalangan remaja rapat malah
c. Tekanan, dan pelajar. menonton video
kompetisi yang porno.
b. Kenakalan
tajam di pelbagai
dan tindak
aspek kehidupan
menyimpang di
sebagai
kalangan remaja
konsekuensi
semakin
globalisasi, akan
meningkat
melahirkan
generasi yang Pola interaksi
disiplin, tekun dan antar manusia
pekerja keras yang berubah

4 BidangPendidi a. Munculnya a. Kenakalan Analisis


kan media massa, dan tindak dilakukan pada 2
menyimpang di orang anak usia
b. Munculnya
kalangan remaja 10 tahun.
metode-metode
semakin Hasilnya mereka
pembelajaran yang
meningkat memiliki waktu
baru,
belajar lebih
b. Penyalah
c. Sistem sedikit daripada
gunaan
pembelajaran tidak menyempatkan
pengetahuan bagi
harus melalui tatap orang-orang diri untuk
muka tertentu untuk bermain game
melakukan tindak online di warnet,
kriminal. menonton TV
dan bermain
play station.

Manusia telah meninggalkan essensi dari iptek itu sendiri bahwasanya iptek
merupakan pengembangan dari keimanan, yaitu ketaatan kita kepada Sang Khalik
yang memerintahkn manusia untuk mencari ilmu. Seharusnya iptek yang
dikembangkan manusia itu mampu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT
dengan memanfaatkannya sebaik mungkin. Manusia harus mengendalikan dan
mengarahkan perkembangan iptek kepada jalur yang digariskan Allah SWT. Akan
tetapi realita yang ada ternyata perkembangan iptek membuat manusia lepas dari
jalan-Nya, bahkan dikendalikan oleh penemuan manusia itu sendiri. Kelemahan
inilah yang akhirnya menyebabkan iptek menjadi bumerang bagi kita.Berbagai
dampak negatif pun hadir seiring den gan pesatnya perkembangan iptek.
Diantara dampak negatif yang muncul, yaitu:
a. Meningkatnya aksi terorisme yang memanfaatkan kemudahan akses
komunikasi dan perakitan senjata atau bom.
b. Penggunaan informasi dan situs tertentu, seperti kasus penyebaran pornografi
yang semakin marak saat ini.
c. Selain itu ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer seperti
kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam
komputer yang dapat menyebabkan stres karena teknologi.
d. Terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi
yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
e. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan
juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif,
boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant".
f. Asimilasi kepribadian pria dan wanita.
g. Bertukarnya peran antara pria dan wanita.
h. Dekadensi moral.
i. Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat
seiring dengan semakin lemahnya kontrol sosial masyarakat.
j. Individualistis yang semakin parah.
k. Penyalahgunaan pengetahuan.
Moral dan akhlak terpuji yang selama ini melekat kental pada umat Islam Indonesia,
mulai tertindas oleh kemajuan teknologi.Hal itu dibuktikan, dengan banyak generasi
muda yang gemar mengakses situs porno dan menjadi budak narkoba.
"Situs porno kini menjadi kegemaran anak-anak usia 11 sampai 15 tahun,
sementara sekitar 1200 orang per-bulan anak-anak, remaja - generasi bangsa kita
menjadi korban narkoba atau shabu-shabu sejenisnya. Ini tantangan dan tidak bisa
dibiarkan. Tantangan yang dihadapi saat ini baik situs porno maupun narkoba jauh
lebih berbahaya dan lebih kejam dari terorisme. Sebab pengecernya terjun
langsung ke masyarakat, menyusup secara professional ke rumah-rumah,
komunitas kampussampai sekolah berbasis Islam. Akibat kemajuan, perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi semakin canggih sekarang ini dikhawatirkan
akan merubah, bahkan menghancurkan nilai-nilai akhlak, etika dan moral serta
iman yang selama ini mengental pada umat di negeri yang mayoritas penduduk
muslim.
Kita juga harus menyoroti tayangan televisi banyak yang kontra produktif, seperti
tayangan-tayangan televisi yang digemari anak-anak dan remaja, disajikan pada
saat menjelang magrib sampai larut malam. Ini sangat berbahaya, karena akibat
pengaruh tontonan TV tersebut, lambat laun mereka akan meninggalkan salat dan
ibadah lain yang selama ini setiap malam dilakukan di rumah-rumah umat Islam.
Belum lagi, kecenderungan trend membuka aib kepada masyarakat umum melalui
tayangan program infotainment. Keterdesakan ekonomi yang dialami sebagian
besar penduduk Indonesia saat ini sering kali menyebabkan masyarakat nekat
melakukan apa pun, termasuk menjual akidahnya hanya dengan beberapa bungkus
mie instan atau dua liter beras atau diberi hadiah jabatan struktural.
Berbagai macam sarana komunikasi dan transportasi diciptakan untuk
mempermudah segala urusan kehidupan.Sehingga dunia laksana satu daratan yang
bisa dijangkau dengan mudah dalam waktu sekejap tanpa menyisakan letih dan
lelah. Padahal enam puluh tahun yang lalu, sarana komunikasi dan transportasi
masihlah minim. Segala sesuatu ditempuh dengan waktu yang sangat lama.Namun
saat ini semuanya serba instant.Hubungan jarak jauh bisa dilakukan tanpa jeda
waktu.Karena komunikasi dan transportasi semakin canggih serta teknologi
semakin mutakhir.
Namun yang harus diwaspadai, di tengah gemerlapnya eksploitasi teknologi dan
gencarnya penjajahan moral yang dilakukan para kapitalis, terutama di negara-
negara berkembang dan negara-negara Islam, maka semua pihak harus
mengetahui racun dan virus berbahaya yang diselipkan dalam
kecanggihannya. Racun atau virus itu sungguh mudah menjangkiti kita semua.
Apabila kita sudah merasakan, maka sendi-sendi moral kita lambat laun akan
rontok seperti ruas-ruas jemari yang berjatuhan terkena lepra ganas. Tapi
seringkali penyakit yang sangat berbahaya itu tidak nampak karena mata kita
terlalu silau oleh kecanggihannya.
Saat teknologi telepon semakin canggih, harga pesawat telepon dan perangkat
elektronik semakin murah, serta jaringan pemasaran distribusinya sudah
merambah hingga pelosok-pelosok daerah, maka penyakit itu pun semakin rapat
mengepung kita. Dengan teknologi handphone berkamera, lahirnya fasilitas 3G,
chatting melalui internet dan komputer berkamera, maka hubungan langsung
antara manusia pun semakin menganga lebar. Pembicaraan lewat media tersebut
seperti sudah tidak menyisakan sekat-sekat lagi. Orang yang diajak bicara sudah
jelas terpampang di depan mata. Apa yang ditampilkan di kamera, itulah keadaan
lawan bicara yang sesungguhnya. Gambar si dia yang sedang manja, senyumnya
yang menggoda, desah suaranya yang membuat terlena, dapat dengan mudahnya
dinikmati dengan fasilitas komunikasi semacam ini.
Maka ketika batasan moral sudah semakin memudar dan hilang. Saat pengawasan
dari orangtua semakin renggang, para pemuda dan pemudi pun semakin leluasa
berhubungan dengan kamuflase teknologi tersebut. Mereka dengan mudah
membuat janji berbicara mesra dengan pasangan untuk mengelabui orang tua
guna bertemu berdua untuk khalwah elektronik. Sungguh sangat mudah dilakukan
dengan memanfaatkan murahnya pulsa.
Anak-anak ABG, bahkan yang telah dewasa sekalipun dengan mudah terjebak
dalam kubangan lumpur kehinaan semacam ini. Apalagi kalau sudah tidak memiliki
filter agama yang kuat. Maka pada akhirnya hubungan bebas oleh dua pasangan
yang belum semestinya, semakin mudah dilakukan. Akibatnya adalah aib,
kehormatan melayang, serta suramnya masa depan.

D. Produk-Produk Iptek
Produk-produk yang dihasilkan oleh Iptek, diantaranya Kloning dan Bayi Tabung.
Disini di perdebatkan bahwa apakah produk-produk IPTEK seperti bayi tabung dan
kloning merupakan hal yang dibenarkan dalam Islam ?
Tidak mungkin seseorang menentang kehendak Allah. Bagaimana
mungkin, sedangkan akal yang menjadi sandaran para ilmuwan merupakan
makhluk ciptaan Allah? Allah lah yang mewujudkan dan menjadikan untuknya
kemampuan terbatas, tak mungkin bisa melampauinya. Ungkapan orang bahwa
ilmu pengetahuan menundukkan alam adalah perkataan yang hampa dari makna,
sebab ilmu pengetahuan hanya mengenal sebagian saja dari hukum-hukum Allah
untuk alam ini.
Belakangan ini telah berkembang satu teknologi baru yang mampu
menduplikasi makhluk hidup dengan sama persis, teknologi ini dikenal dengan
nama teknologi kloning. Secara harfiah, kata klon (Yunani: klon, klonos) berarti
cabang atau ranting muda. Kloning berarti proses pembuatan (produksi) dua atau
lebih individu (makhluk hidup) yang identik secara genetik. Kloning organisme
sebenarnya sudah bcrlangsung selama beberapa ribu tahun lalu dalam bidang
hortikultura. Tanaman baru, misalnya, dapat diciptakan dari sebuah ranting. Dalam
dunia hortikultura (dunia perkebunan), kata klon masih digunakan hingga abad
ke-20.
Kloning adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan
induknya pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun
manusia. Kloning telah berhasil dilakukan pada tanaman sebagaimana pada hewan
belakangan ini, kendatipun belum berhasil dilakukan pada manusia. Tujuan cloning
pada tanaman dan hewan pada dasarnya adalah untuk memperbaiki kualitas
tanaman dan hewan, meningkatkan produktivitasnya, dan mencari obat alami bagi
banyak penyakit manusia terutama penyakit-penyakit kronis guna menggantikan
obat-obatan kimiawi yang dapat menimbulkan efek samping terhadap kesehatan
manusia. Secara mendetail, dapat dibedakan 2 jenis kloning. Jenis pertama adalah
pelipatgandaan hidup sejak awal melalui pembagian sel tunggal menjadi kembar
dengan bentuk identik. Secara kodrati, mereka seperti anak kembar. Jenis kedua
adalah produksi hewan dari sel tubuh hewan lain.
Upaya memperbaiki kualitas tanaman dan hewan dan meningkatkan
produktivitasnya tersebut menurut syara tidak apa-apa dilakukan dan termasuk
aktivitas yang mubah hukumnya. Demikian pula memanfaatkan tanaman dan
hewan dalam proses kloning guna mencari obat yang dapat menyembuhkan
berbagai penyakit manusia terutama yang kronis adalah kegiatan yang
diperbolehkan Islam, bahkan hukumnya sunnah, sebab berobat hukumnya sunnah.
Begitu pula memproduksi berbagai obat-obatan untuk kepentingan pengobatan
hukumnya juga sunnah. Oleh karena itu, dibolehkan memanfaatkan proses cloning
untuk memperbaiki kualitas tanaman dan mempertinggi produktivitasnya atau
untuk memperbaiki kualitas hewan seperti sapi, domba, onta, kuda, dan
sebagainya. Juga dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk mempertinggi
produktivitas hewan-hewan tersebut dan mengembangbiakkannya.
Adapun kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetic
yang sama dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara mengabil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti
selnya (nukleusnya), dan selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita
yang telah dihilangkan inti selnya dengan suatu metode yang mirip dengan proses
pembuahan atau inseminasi buatan.Klon pertama manusia dirancang pada bulan
November 1998, oleh American Cell Technologies, yang berasal dari sel kaki
seorang manusia, dan sebuah sel lembu yang DNA-nya dipindahkan. Setelah 12
hari, klon ini rusak. Pada bulan januari 2008, Dr. Samuel Wood dan Andrew French,
kepala pegawai ilmiah laboratoriurn Stemagen Corporation di California AS,
mengumumkan bahwa mereka berhasil menciptakan 5 embrio manusia dewasa
dengan menggunakan DNA dari sel kulit orang dewasa. Tujuannya adalah
menvediakan sebuah sumber bagi tangkai sel embrio yang dapat hidup. Dr. Wood
dan seorang temannya menyumbangkan sel kulit dan DNA dari sel-sel itu untuk
dipindahkan ke dalam sel-sel manusia. Tidak jelas apakah embrio yang dihasilkan
akan sanggup berkernbang lebih lanjut. Namun, Dr. Wood menyatakan bahwa
kalaupun mungkin, menggunakan teknologi untuk kloning reproduktif adalah tidak
etis dan illegal. Kelima embrio yang diklon tersebut akhirnya rusak.
Adapun hukum kloning manusia, meskipun hal ini belum terjadi, tetapi para pakar
mengatakan bahwa keberhasilan kloning sesungguhnya merupakan pendahuluan
bagi keberhasilan kloning manusia. Kloning manusia dapat berlangsung dengan
adanya laki-laki dan perempuan dalam prosesnya. Kloning manusia dapat pula
berlangsung di antara perempuan saja, tanpa memerlukan kehadiran laki-laki.
Proses ini dilaksanakan dengan mengambil sel dari tubuh seorang perempuan.
Kemudian inti selnya diambil dan digabungkan dengan sel telur perempuan yang
telah dibuang inti selnya. Untuk proses selanjutnya dapat melihat tulisan
sebelumnya yang berjudul Mengenal Kloning.
Kloning yang dilakukan pada laki-laki atau perempuan baik yang bertujuan untuk
memperbaiki kualitas keturunan dengan menghasilkan keturunan yang lebih
cerdas, lebih kuat, lebih sehat dan lebih rupawan, maupun yang bertujuan untuk
memperbanyak keturunan guna meningkat jumlah penduduk suatu bangsa atau
negara itu lebih kuat- seandainya benar terwujud, maka sungguh akan menjadi
bencana dan biang kerusakan bagi dunia. Kloning ini haram menurut syariat Islam
dan tidak boleh dilakukan. Dalil-dalil keharamannya adalah sebagai berikut:
1. Anak-anak produk proses kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak
alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk
manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunatullah untuk menghasilkan anak-anak dan
keturunan.
2. Anak-anak produk kloning dari perempuan saja (tanpa adanya laki-laki),
tidak akan mempunyai ayah. Dan anak produk kloning tersebut jika dihasilkan dari
proses pemindahan sel telur yang telah digabungkan dengan inti sel tubuh- ke
dalam rahim perempuan yang bukan pemilik sel telur-, tidak pula akan mempunyai
ibu. Sebab rahim perempuan yang menjadi tempat pemindahan sel telur tersebut
hanya menjadi penampung, tidak lebih. Ini merupakan tindakan menyia-nyiakan
manusia, sebab dalam kondisi ini tidak terdapat ibu dan ayah.
3. Kloning manusia akan menghilangkan nasab (garis keturunan). Padahal Islam
telah mewajibkan pemeliharaan nasab.
Kloning yang bertujuan memproduksi manusia-manusia yang unggul dalam hal
kecerdasan, kekuatan fisik, kesehatan, kerupawanan- jelas mengharuskan seleksi
terhadap para laki-laki dan perempuan yang mempunyai sifat-sifat unggul tersebut,
tanpa mempertimbangkan apakah mereka suami-isteri atau bukan, sudah menikah
atau belum. Dengan demikian sel-sel tubuh akan diambil dari laki-laki dan
perempuan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan, dan sel-sel telur juga akan
diambil dari perempuan-perempuan terpilih serta diletakkan pada rahim perempuan
terpilih pula, yang mempunyai sifat-sifat keunggulan. Semua ini akan
mengakibatkan hilangnya nasab dan bercampur aduknya nasab.
4. Memproduksi anak melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan
banyak hukum-hukum syara, seperti hukum tentang perkawinan, nasab, nafkah,
hak dan kewajiban antara bapak dan anak, waris, perawatan anak, hubungan
kemahraman, hubungan ashabah dan lain-lain. (arnab) (dikutip dari buku Beberapa
Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam karya Abdul Qadim Zallum, cet.
Pertama Juni 1998 M).
Sedangkan proses bayi tabung merupakan proses yang di gunakan dengan
metode antara sel sperma suami dengan sel telur isteri, sesungguhnya merupakan
suatu upaya medis untuk memungkinkan sampainya sel sperma suami ke sel telur
isteri. Sel sperma tersebut akan membuahi sel telur bukan pada tempatnya yang
alami, sel telur yang telah dibuahi ini akan diletakkan pada rahim isteri dengan
metode tertentu sehingga kehamilan akan terjadi secara alamiah di dalamnya.
Pada dasarnya pembuahan yang alami terjadi dalam rahim melalui cara
yang alami pula (hubungan seksual), sesuai dengan fitrah yang telah di tetapkan
oleh Allah untuk manusia. Akan tetapi pembuahan yang alami ini terkadang sulit
terwujud, misalnya karena rusaknya atau tertutupnya saluran indung telur (tuba
fallopi) yang membawa sel telur ke rahim, serta tidak dapat diatasi dengan cara
membuka atau mengobatinya. Atau karena sel sperma suami lemah atau tidak
mampu menjangkau rahim isteri untuk bertemu dengan sel telur, serta tidak padat
diatasi dengan cara memperkuat sel sperma tersebut. Semua ini akan meniadakan
kelahiran dan menghmbat suami isteri memperbanyak anak. Padahal Islam telah
menganjurkan dan mendorong hal tersebut dan kaum muslim pun telah di
sunnahkan melakukannya. Proses seperti ini merupakan upaya medis untuk
mengatasi kesulitan yang ada dan hukumnya boleh (jaiz) menurut syara, sebab
upaya tersebut adalah upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam,
yaitu kelahiran dan banyak anak merupakan salah satu tujuan dasar dari
pernikahan.
Dalam proses pembuahan buatan dalam tabung untuk menghasilkan
kelahiran tersebut, di isyaratkan sel sperma harus milik suami dan sel telur harus
milik istri. Dan sel telur istreri yang telah dibuahi oleh sel sprema suami dalam
tabung harus diletakkan pada rahim isteri. Hukumnya haram bila sel telur isteri
yang telah terbuahi diletakkan dalam rahim perempuan yang bukan isteri atau apa
yang biasa disebut sebagai ibu pengganti. Begitu juga haram hukumnya bila proses
dalam pembuahan buatan tersebut terjadi antara sel sperma suami dengan sel telur
bukan isteri, meskipun sel telur yang telah dibuahi nantinya akan diletakkan dalam
rahim isteri, demikian juga haram hukumnya apabila pmbuahan yang terjadi antara
sel sperma bukan suami dengan sel telur isteri meskipun nantinya diletakkan dalam
rahim isteri.

E. Penyikapan Terhadap Perkembangan IPTEK


Perubahan lingkungan yang serba cepat dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), harus diakui telah
memberikan kemudahan terhadap berbagai aktifitas dan kebutuhan hidup manusia.
Di sisi lain, memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan perilaku
khususnya para pelajar dan generasi muda kita, dengan tumbuhnya budaya
kehidupan baru yang cenderung menjauh dari nilai-nilai spiritualitas. Semuanya ini
menuntut perhatian ekstra orang tua serta pendidik khususnya guru, yang kerap
bersentuhan langsung dengan siswa.
Dari sisi positif, perkembangan iptek telah memunculkan kesadaran yang kuat pada
sebagian pelajar kita akan pentingnya memiliki keahlian dan keterampilan.
Utamanya untuk menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik, dalam
rangka mengisi era milenium ketiga yang disebut sebagai era informasi dan era bio-
teknologi. Ini sekurang-kurangnya telah memunculkan sikap optimis, generasi
pelajar kita umumya telah memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan itu.
Salah satu upaya menanggulangi pengaruh keadaan zaman yang seperti sekarang
ini adalah dimulai dari keluarga, bagaimana pendekatan orang tua dengan anak dan
kedekatan anak dengan orang tua, banyak anak yang tidak suka kegiatannya
diperhatikan oleh orang tuanya, disini peran aktif orang tua untuk mencari cara
mendekati anaknya sehingga bisa mengontrol anak-anak nya.

Setiap manusia diberikan hidayah dari Allah swt berupa alat untuk mencapai dan
membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah (1) indera, untuk menangkap
kebenaran fisik, (2) naluri, untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup
manusia secara probadi maupun sosial, (3) pikiran dan atau kemampuan rasional
yang mampu mengembangkan kemampuan tiga jenis pengetahuan akali
(pengetahuan biasa, ilmiah dan filsafi). Akal juga merupakan penghantar untuk
menuju kebenaran tertinggi, (4) imajinasi, daya khayal yang mampu menghasilkan
kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya, (5) hati nurani, suatu
kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran tingkah laku manusia
sebagai makhluk yang harus bermoral.
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK
yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan
norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani
(1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK ilmuwan muslim dapat
dikelompokkan dalam tiga kelompok; (1) Kelompok yang menganggap IPTEK
moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen
dengan mencari ayat-ayat Al-Quran yang sesuai; (2) Kelompok yang bekerja dengan
IPTEK moderen, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar
dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami, (3) Kelompok yang percaya
adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya. Untuk kelompok ketiga ini
memunculkan nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah islamisasi ilmu
pengetahuan. Dalam konsep Islam pada dasarnya tidak ada pemisahan yang tegas
antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Sehingga IPTEK menurut Islam haruslah
bermakna ibadah. Yang dikembangkan dalam budaya Islam adalah bentuk-bentuk
IPTEK yang mampu mengantarkan manusia meningkatkan derajat spiritialitas,
martabat manusia secara alamiah. Bukan IPTEK yang merusak alam semesta,
bahkan membawa manusia ketingkat yang lebih rendah martabatnya.
Dari uraian di atas hakekat penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang
islami adalah memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat
manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah swt. Kebenaran IPTEK
menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya IPTEK itu sendiri. IPTEK
akan bermanfaat apabila (1) mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan
menjauhkannya, (2) dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang
baik), (3) dapat memberikan pedoman bagi sesama, (4) dapat menyelesaikan
persoalan umat. Dalam konsep Islam sesuatu hal dapat dikatakan mengandung
kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.
KESIMPULAN

IPTEK adalah hasil karya manusia. Karya tersebut pada dasarnya dipergunakan
untuk membantu keperluan manusia dalam menghadapi kehidupannya. Tetapi,
pada kenyataanya IPTEK tersebut ada saja yang memanfaatkannya untuk
kepentingan tertentu yang berdampak negatif. Dampak tersebut diantaranya
adalah pemakaian internet yang meluas dalam menggali informasi dan situs
tertentu, seperti kasus penyebaran pornografi yang semakin marak saat
ini, tayangan televisi yang banyak menampilkan acara kontra produktif,
sampai akibat yang ditimbulkan oleh produk IPTEK seperti Kloning dan Bayi Tabung.
Disini di perdebatkan bahwa apakah produk-produk IPTEK seperti bayi tabung dan
kloning merupakan hal yang dibenarkan dalam Islam? Kloning adalah teknik
membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya pada
makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun
manusia. Sedangkan proses bayi tabung merupakan proses yang di gunakan
dengan metode antara sel sperma suami dengan sel telur isteri. Selain itu dampak
negatif dari berkembangnya iptek adalah pemanfaatan jasa komunikasi oleh
jaringan teroris. Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di
internet yang bisa disalah gunakan pihak tertentu untuk tujuan tertentu.
Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat
dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek
mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban
modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak
negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia. Perkembangan teknologi memang
sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi
kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta berbagai cara baru
dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat
sudah menikmati banyak manfaat yang di bawa oleh inovasi inovasi yang telah di
hasilkan dalam dekade terakhir. Namun manusia tidak bisa menipu diri sendiri akan
kenyataan bahwa teknologi mendatangkan berbagai efek negatif bagi manusia.
Namun, selain dampak negatif, perkembangan iptek pun mempunyai
dampak yang positif badi umat. Diantaranya, dengan berkembangnya iptek,
kemajuan di bidang jaringan internet telah memudahkan kita untuk mengakses
informasi dengan cepat dan biaya yang sangat ringan. Kemajuan di bidang
komunikasi juga telah membuat perdagangan internasional menjadi semakin
mudah dan cepat. Penemuan telepon genggam telah memudahkan kita untuk
menghubungi seseorang di mana saja ia berada atau dari mana saja kita berada.
Di sinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk
ditengok kembali. Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan
perkembangan IPTEK yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan
antara sistem nilai dan norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut,
sehingga IPTEK menurut Islam haruslah bermakna ibadah. Yang dikembangkan
dalam budaya Islam adalah bentuk-bentuk IPTEK yang mampu mengantarkan
manusia meningkatkan derajat spiritialitas, martabat manusia secara alamiah.
Bukan IPTEK yang merusak alam semesta, bahkan membawa manusia ketingkat
yang lebih rendah martabatnya.Kebenaran IPTEK menurut Islam adalah sebanding
dengan kemanfaatannya IPTEK itu sendiri. IPTEK akan bermanfaat apabila (1)
mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya, (2) dapat
membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik), (3) dapat
memberikan pedoman bagi sesama, (4) dapat menyelesaikan persoalan umat.
Dalam konsep Islam sesuatu hal dapat dikatakan mengandung kebenaran apabila ia
mengandung manfaat dalam arti luas.
.
DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bustanudin. 1999. Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial : Studi Banding Antara


Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam. Jakarta : Gema Insani Press.

Alisyahbana, Iskandar. 1980. Teknologi dan Perkembangan. Jakarta : Yayasan Idayu.

Hamdan, Mansoer. 2004. Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam di Perguruan


Tinggi Umum. Jakarta : DIKTI

Masduki, M. Kloning Menurut Pandangan Islam. Pasuruan: Garoeda,1997

Munawar, Ahmad Anees. 1995. Islam dan Masa Depan Biologis Umat Manusia, Etika
Gender, Teknolog. Bandung: Mizan.
Kaffahsecara bahasa artinya keseluruhan. Makna secara bahasa tersebut bisa
memberikan gambaran kepada kita mengenai makna dari Muslim yang Kaffah,
yakni menjadi muslim yang tidak setengah-setengah atau menjadi muslim yang
sungguhan, bukan muslim-musliman.

Muslim yang sungguhan (baca: kaffah) adalah Muslim yang mengamalkan ajaran-
ajaran Islam di setiap aspek kehidupan. Seorang Muslim belum bisa disebut Muslim
yang kaffah jika ia belum menjalankan ajaran Islam di segala aspek kehidupannya.
Dengan demikian, Muslim yang kaffah tidak berhenti pada ucapan kalimat syahadat
saja. Muslim yang kaffah tidak berhenti pada ritual-ritual keagamaan saja, tetapi
sudah menjajaki substansi dari ritual-ritual tersebut.

Seringkali kita melihat di dalam keseharian kita yakni seorang Muslim yang rajin
sholat berjamaah di Masjid, rajin Itikaf,rajin berpuasa sunnah, rajin memutar
tasbih, tetapi perilakunya terhadap sesama manusia kurang baik, misalnya, sering
menggunjing, melalaikan secara sengaja hutang di warung, dan semacamnya.
Itu terjadi karena ibadah ritual yang ia lakukan tidak sampai pada substansinya. Ia
hanya berhenti pada ritual-ritual kosong tanpa makna.

Ibadah ritual, seperti sholat, puasa, zikir, itikaf, dan lain sebagainya, adalah sebuah
simbol dari nilai-nilai Islam. Sholat berjamaah menjadi simbol dari persatuan dan
kebersamaan dalam menuju kepada Allah Swt, puasa menjadi simbol bagi sama
rasa di antara sesama Muslim sehingga bisa memunculkan rasa ingin menolong
terhadap saudara kita yang kekurangan. Oleh karena ibadah ritual itu adalah
sebuah simbol, maka alangkah meruginya jika seorang Muslim berhenti pada
simbol-simbol tanpa bisa menggapai nilai-nilai di balik simbol tersebut. Alangkah
tidak bermaknanya ritual-ritual yang dilakukan setiap hari jika kita tidak mampu
mengamalkan nilai-nilai di balik ritual itu.

Nilai yang ada di balik ritual-ritual tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia di
dunia. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri (zoon politicon).
Oleh karena itu, manusia harus mampu untuk saling berinteraksi dengan baik. Nilai
di balik ritual keagamaan itu adalah untuk menjadikan manusia bisa menjalin
hubungan baik dengan manusia lainnya. Ajaran persatuan di dalam ritual sholat
berjamaah adalah sangat penting dalam kehidupan manusia. Itu adalah salah satu
contoh betapa pentingnya nilai-nilai yang ada di balik ritual keagamaan.

Hendaknya seorang Muslim tidak terjebak pada ritual-ritual yang tanpa makna,
tetapi harus bisa mengaplikasikan nilai di balik ritual-ritual yang ia lakukan setiap
hari. Dengan begitu, peran agama Islam dalam kehidupan manusia akan sangat
terasa. Islam tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh (transenden) tetapi sudah
menjadi sesuatu yang melingkupi kehidupan manusia sehari-hari (imanen).
Kesimpulannya, Muslim yangkaffah adalah Muslim yang mampu menjalankan
ibadah ritual sekaligus mampu menangkap dan mengamalkan makna dari ibadah
ritual tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Wallahualambishshawab [ ]
http://www.kompasiana.com/nanangrosidi/apa-itu-muslim-yang-
kaffah_552b835e6ea834767d8b456e
KARAKTERISTIK ISLAM DAN MUSLIM
Islam adalah agama yang memiliki karakteristik yang khusus dan sempurna, karena
ia diturunkan dari yang Maha Sempurna. Dan Allah SWT menurunkan Islam semata-
mata untuk mengangkat, meninggikan, memuliakan dan menyempurnakan
hamba2-Nya, karena ia tidak memiliki kepentingan (vested interest) sedikit pun atas
manusia. Oleh karena itu maka seorang yang berinteraksi dengan Islam secara
benar maka secara logika ia pastilah akan terbentuk, tercelup dan tersempurnakan
(QS 2/138) oleh sistem yang paling sempurna (QS 5/3) yang diturunkan oleh yang
Maha Sempurna melalui hambanya yang paling sempurna (QS 68/3-4).
Maka jika kita melihat kondisi kaum muslimin tidak sebagaimana karakteristik yang
dipaparkan dibawah ini, maka penyebabnya adalah 1 diantara 2 hal: Apakah ia
adalah seorang yang hanya memiliki pemahaman Islam yang minim dan seadanya
sehingga ia tidak mampu menikmati dan menyerap seluruh nilai-nilai Islam itu
dengan baik; atau ia adalah seorang yang berprasangka buruk terhadap Islam,
menganggapnya sebagai cerita kuno dan identik dengan keterbelakangan sehingga
ia tidak mau menyisakan waktunya untuk mempelajari Islam dengan teliti dan
sunguh-sungguh.
Untuk kelompok pertama solusinya adalah dengan mempelajari Islam secara teliti
dan sungguh-sungguh, bukankah anda telah memilih untuk memeluk agama ini?
Maka mengapakah anda menyiksa diri anda dengan keraguan tanpa berusaha
untuk memuaskan keraguan fikiran dan jiwa anda terhadap agama yang telah anda
pilih ini?!
Dan untuk kelompok kedua, maka dapat dikatakan bahwa anda tidak bersikap
obyektif dan adil terhadap Islam. Bagaimana anda telah mempelajari ilmu
pengetahuan yang anda pelajari saat ini dengan sungguh-sungguh, bertahun-tahun
lamanya, dengan membaca berbagai buku dan media, melakukan berbagai
percobaan, survai dan eksperiman, mengalami keberhasilan dan kegagalan silih
berganti, sampai akhirnya anda berhasil saat ini; sementara sebaliknya terhadap
Islam, hanya dengan membaca dan mendengar seadanya tanpa usaha yang keras
anda sudah menyimpulkan bahwa Islam identik dengan kebodohan dan
keterbelakangan, apakah ini sebuah sikap yang ilmiah dan obyektif?!
Adapun karakteristik seorang muslim sebagai dampak dari Islam yang dipelajari,
difahami dan diamalkannya dengan benar dan konsisten tersebut antara lain
adalah:
1. Islam adalah agama yang membersihkan penganutnya dari syirik dan Islam
paling sesuai dengan fitrah kemanusiaan; maka seorang muslim yang benar
seharusnya menjadi seorang yang ikhlas dan lurus fitrahnya (QS 39/2;11;14, 7/172,
30/30).
2. Islam adalah agama yang sangat sarat dengan nilai-nilai dan aturan; maka
seorang muslim seharusnya menjadi seorang yang bermutu dan teratur (QS 43/4,
36/1-2).
3. Islam adalah agama moralitas dan hukum; maka seorang muslim akan menjadi
orang yang bermoral dan bijaksana (QS 4/36;105).
4. Islam adalah agama kebersihan dan kesucian; maka seorang muslim seharusnya
menjadi orang yang bersih fisiknya serta suci jiwanya (QS 9/108).
5. Islam adalah agama ilmu dan amal; maka seorang muslim seharusnya menjadi
seorang alim yang aktif beramal (QS 47/19, 2/44).
6. Islam adalah agama Ilmu dan pemikiran; maka seorang muslim haruslah menjadi
seorang alim yang pemikir (QS 9/122).
7. Islam adalah agama aktifitas dan pahala; maka seorang muslim haruslah menjadi
seorang aktifis yang senantiasa optimis akan ganjaran Allah SWT atas setiap
pekerjaannya.
8. Islam adalah agama kekuatan dan tanggungjawab; maka seorang muslim
seharusnya menjadi orang yang kuat dan dapat dipercaya (QS 28/26).
9. Islam adalah agama kemuliaan dan kasih-sayang; maka seorang muslim harus
menjadi seorang yang mulia tapi penyayang (QS 9/128, 49/10).
10. Islam adalah agama negara dan ibadah; maka seorang muslim akan menjadi
seorang politisi yang ahli ibadah (QS 73/20).
11. Islam merupakan agama senjata dan al-Quran; maka seorang muslim akan
menjadi seorang mujahid yang rabbani / ahli ibadah (QS 9/111, 3/79).
12. Islam adalah agama harakah dan peraturan; maka seorang muslim akan
menjadi seorang aktifis yang teratur/tidak serabutan dan sembrono (QS 9/38-39,
16/125)
ISLAM SEBAGAI SISTEM YANG MENGATUR SELURUH ASPEK KEHIDUPAN MUSLIM
Jika kita membaca dan mempelajari Tafsir al-Quran, baik yang dikarang oleh ulama
terdahulu (salaf) maupun kontemporer (khalaf), maka akan kita dapatkan definisi
cakupan Islam sebagai sistem yang memberi arahan kepada semua aspek
kehidupan muslim. Dari masalah yang remeh seperti mengenai cara berjalan dan
berbicara (QS 31/19) sampai dengan masalah besar seperti hukum dan undang-
undang (QS 5/48-49) dapat ditemui arahannya di dalam al-Quran dan as-sunnah.
Secara lengkap pengarahan Islam dalam al-Quran mengenai berbagai aspek
kehidupan muslim, dapat disebutkan sebagai berikut:
Islam sebagai agama dan idiologi (QS 6/162-164)
Islam sebagai sistem yang mengatur moralitas dan tingkah-laku (QS 17/23-37)
Islam sebagai pedoman yang mengarahkan perasaan (QS 57/22-23, 4/104)
Islam sebagai pedoman dalam sistem pendidikan (QS 96/1-5, 3/164)
Islam sebagai pedoman dalam sistem sosial kemasyarakatan (QS 49/11-13, 24/11-
17)
Islam sebagai pedoman dalam sistem politik dan kenegaraan (QS 4/59)
Islam sebagai pedoman yang mengatur sistem perekonomian (QS 2/3, 59/7,
9/60;103)
Islam sebagai pedoman dalam sistem kemiliteran (QS 8/39,60-61)
Islam sebagai pedoman dalam sistem hukum dan perundangan (QS 5/50)

http://muslimkaffah.blogspot.co.id/2007/07/islam-kaffah.html
Seorang muslim wajib masuk Islam secara kaffah, yaitu masuk ke dalam segala
syariat dan hukum Islam secara keseluruhan, bukan berislam sebagian dan
mengambil selain syariat Islam untuk sebagian lainnya. Jika seorang muslim
melaksanakan Islam sebagian seraya melaksanakan selain Islam pada sebagian
lainnya, itu berarti dia mengikuti langkah-langkah syaitan yang terkutuk. Firman
Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara
menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan.
Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu. (Qs al-Baqarah [2]: 208).
Sebab turunnya (sababun nuzul) ayat ini, sesuai riwayat dari Ibnu Abbas berkaitan
dengan Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya para shahabat yang masuk Islam
dan dulunya adalah pemeluk Yahudi yang telah beriman kepada Nabi Muhammad
SAW dan syariat Islam yang dibawa beliau, akan tetapi tetap mempertahankan
keyakinan mereka kepada sebagian syariat Nabi Musa AS. Misalnya, mereka tetap
menghormati dan mengagungkan hari Sabtu serta membenci daging dan susu unta.
Hal ini telah diingkari oleh shahabat-shahabat Rasulullah SAW lainnya. Abdulah bin
Salam dan kawan-kawannya berkata kepada Nabi SAW, Sesungguhnya Taurat
adalah kitabullah. Maka biarkanlah kami mengamalkannya. Setelah itu, turunlah
firman Allah surat al-Baqarah [2]: 208 di atas (Majalah Al Waie, no. 159, Rabiuts
Tsani, 1421, hal. 14).
Jadi, siapa saja yang telah masuk Islam, dia wajib masuk Islam secara
keseluruhannya. Tidak boleh mempertahankan hukum selain Islam, sebab Islam
telah menasakh (menghapus) syariat-syariat para nabi sebelum Nabi Muhammad
SAW. Allah SWT berfirman:
(Al-Qur`an itu) membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (Qs. al-
Maaidah [5]: 48).
Yang dimaksud batu ujian (muhaiminan) artinya adalah penghapus (nasikhan) bagi
syariat-syariat sebelumnya. Dengan demikian, mempertahankan sedikit saja dari
syariat-syariat sebelumnya yang tidak diakui Islamberarti mengikuti langkah-
langkah syaitan. Firman Allah SWT:
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya
syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu. (Qs. al-Baqarah [2]: 208).
Makna-makna inilah yang telah dikemukan oleh para ahli tafsir terpercaya. Secara
lebih mendalam, Imam Ibnu Katsir menfasirkan ayat di atas (2: 208) dengan
menyatakan, Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dan
mempercayai Rasul-Nya, untuk mengambil seluruh ikatan dan syariat Islam,
mengerjakan seluruh perintah-Nya serta meninggalkan seluruh larangan-Nya,
sesuai kemampan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 247). Sejalan dengan
ini, Imam An-Nasafi, menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut
adalah berserah diri dan taat, yakni berserah diri dan taat kepada Allah atau Islam.
Menurutnya, kata kaaffah adalah haal (penjelasan keadaan) dari dlomir (kata
ganti) udkhulu (masuklah kalian) yang bermakna jamiian(menyeluruh/semuanya,
dari kalangan kaum mukminin). Diriwayatkan dari Ikrimah, firman Allah di atas
diturunkan pada kasus Tsalabah, Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi
yang lain yang telah masuk Islam. Mereka mengajukan konsensi kepada nabi untuk
diijinkan beribadah di hari Sabtu. sebagai hari besar orang Yahudi (hari Sabath).
Kemudian dijawab oleh Allah dengan ayat di atas. (Tafsir Al-Nasafi, Madarik al-Tanziil
wa Haqaaiq al-Ta`wil, Juz I, hal.112). Imam Thabarimengutip dari Ikrimah, bahwa
tawil ayat di atas adalah seruan kepada orang-orang mumin untuk menolak semua
hal yang bukan dari hukum Islam; melaksanakan seluruh syariat Islam, dan
menjauhkan diri dari upaya-upaya untuk melenyapkan sesuatu yang merupakan
bagian dari hukum-hukum Islam. (Tafsir al-Thabariy, Jilid II, hal. 337).
Imam Qurthubi menjelaskan bahwa lafadz kaaffah adalah sebagai haal (penjelasan
keadaan) dari lafadz al-silmi atau dari dlomir muminin. Sedangkan
pengertian kaaffahadalah jamiian (menyeluruh) atau aamatan (umum). (Tafsir
Qurthubiy, Juz III hal. 18). Bila kedudukan lafadz kaaffah sebagai haal dari lafadz al-
silmi maka tafsir dari ayat tersebut adalah Allah SWT menuntut orang-orang yang
masuk Islam untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (total). Tanpa ada
upaya memilih maupun memilah sebagian hukum Islam untuk tidak diamalkan.
Pemahaman ini diperkuat dengansababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut
yang mengisahkan ditolaknya dispensasi beberapa orang Yahudi, ketika mereka
hendak masuk Islam. Tentunya hal semacam ini bukan hanya untuk orang yang
mau masuk Islam saja, akan tetapi juga berlaku untuk orang-orang mumin
sebagaimana penjelasan Ibnu Jarir al-Thabari yang mengutip tafsir (penjelasan) dari
Ikrimah di atas.
Oleh karena itu, kaum muslimin diperintahkan untuk hanya berserah diri, taat, dan
melaksanakan seluruh syariat Nabi Muhammad SAW (yakni Islam), bukan pada
aturan-aturan lain.
Dengan demikian, jelaslah, seorang muslim dituntut masuk ke dalam Islam secara
menyeluruh. Merupakan kesesatan yang nyata, apabila ada orang yang mengaku
dirinya Islam, namun mereka mengingkari atau mencampakkan sebagian syariat
Islam dari realitas kehidupan seperti mengikuti sekulerime. Al-Quran dengan tegas
mengecam sikap semacam ini, firman Allah SWT:
Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) serta mengingkari
sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara
kamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat nanti
mereka akan dilemparkan pada siksa yang amat keras. (Qs. al-Baqarah [2]: 85).
Prinsip mengambil Islam secara kaffah inilah yang ditekankan dalam buku
karya Drs. H. Toto Tasmara, Menuju Muslim Kaffah Menggali Potensi Diri (GIP,
Jakarta, 2000). Dalam buku setebal 453 halaman yang terbagi dalam 11 bab ini,
Toto Tasmara menjelaskan pengertian kaffah secara unik. Katanya, Yang
dimaksudkan dengan kaffah, adalah bagaikan seorang yang terjun ke laut. Seluruh
tubuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, basah dan asin. (hal. 49).
Dengan bahasa lain, Toto Tasmara mengartikan firman Allah dalam surat Al Baqarah
ayat 208 itu dengan ungkapan, masuklah ke dalam Islam secara total,
menyeluruh (kaffah), dan janganlah ikuti sikap dan cara setan yang ingkar dan
membangkang, dan tidak berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya (hal. 49). Dalam
bagian lain, dia menyatakan, Kaffah sebagai bentuk dan sikap mengambil al-
Qur`an dan as-Sunnah sebagai rujukan hiduptidak mengikuti jalan lain (hal. vii).
Dalam buku yang ditulisnya tahun 1996 itu, Toto Tasmara menjelaskan bagaimana
kiat menjadi seorang muslim kaffah dalam bab I-IV. Sementara dalam bab V-XI, dia
secara khusus menerangkan Kristologi, khususnya komparasi antara al-Qur`an dan
Injil (Bibel), yang tujuannya adalah untuk lebih memantapkan keimanan kepada al-
Qur`an, karena al-Qur`an memang betul-betul masih murni dan orisinal dari Allah
SWT. Ini berbeda dengan Injil yang telah terkotori oleh manipulasi dan pemalsuan
akibat perbuatan tangan-tangan manusia yang kafir dan tidak bertanggung jawab.
Firman Allah SWT:
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil
dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?
(Qs. Ali-Imran [3]: 71).
Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan
mereka sendiri, lalu mengatakan, `Ini dari Allah (Qs. al-Baqarah [2]: 79).
Menjadi Muslim Kaffah
Muslim kaffah adalah yang berislam secara menyeluruh. Menurut Toto Tasmara, kiat
menjadi muslim kaffah diawali dengan berpikir dan bertindak di bawah naungan al-
Qur`an (bab I), memahami misi dan visi muslim kaffah (bab II), menjadi manusia
dunia yang berkarakter ulil albab (bab IV), dan mengendalikan potensi hawa (bab
IV).
Muslim kaffah, berpikir dan bertindak mengikuti tuntunan al-Qur`an dan as-Sunnah,
bukan berpikir secara liar tanpa kaidah (freethinker). Dalam Islam, kegiatan berpikir
sangatlah utama sehingga Rasulullah SAW bersabda:
Berpikir sesaat, lebih baik daripada ibadah seratus tahun. [HR. Ibnu Hibban].
Namun demikian, pemikiran seorang muslim tentu tidak boleh lepas dari tuntunan
al-Qur`an dan as-Sunnah, karena keduanya merupakan rujukan hidup seorang
muslim. Jika seorang muslim telah mengubah cara berpikirnya mengikuti al-Qur`an,
dia akan dapat mengubah dunia. Toto Tasmara menegaskan, Ubahlah pikiranmu di
bawah naungan al-Qur`an, niscaya engkau akan mampu mengubah dunia. (hal.
11).
Berpikir ini merupakan pangkal dari tindakan. Dan dengan tindakan seorang
manusia di dalam interaksinya dalam masyarakat itulah, kualitas seorang individu
diukur. Sedang berpikir itu sendiri, berpangkal dari pengalaman-pengalamannya,
yakni seluruh perenungan dan hubungan dengan dunia luar yang kemudian
ditangkap, dimengerti, dan disimpan dalam sistem memori individu, yang pada
saatnya nanti digunakan sebagai landasan tindakan dan perilaku (hal. 10).
Agar seseorang dapat berpikir Qur`ani, mau tak mau dia harus akrab dan sering
bergaul dengan al-Qur`an, misalnya dengan membiasakan diri membaca,
menelaah, dan membicarakan makna kandungan al-Qur`an, juga membiasakan diri
dengan menghafal hadits, karena hadits menjelaskan operasional al-Qur`an (hal.
16).
Lalu apa misi dan visi seorang muslim kaffah? Misi seorang muslim adalah
melaksanakan dan membuktikan secara nyata segala perintah dan amanah Allah,
sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur`an dan diteladankan oleh Rasulullah SAW
(hal. 46). Salah satu amanah Allah adalah perintah-Nya untuk memenangkan Islam
dari segala ajaran, ideologi, dan agama lainnya. Firman Allah SWT:
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur`an)
dan agama yang benar, untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun
orang-orang musyrik tidak menyukai. (Qs. at-Taubah [9]: 33).
Dengan memahami misi, maka setiap pribadi muslim mempunyai visi, posisi, dan
aksi sebagai : pejuang kebenaran untuk menegakkan agama Allah, pemimpin yang
teladan, pionir yang penuh inisiatif dan kreativitas, pelita yang menerangi relung
kehidupan, dan penebar rahmat bagi seluruh alam (hal. 47).
Seorang muslim kaffah adalah adalah manusia yang mendunia, artinya tidak
mengasingkan diri atau tidak cuek terhadap urusan masyarakat, tapi sebaliknya
harus terjun dalam kehidupan dunia, peduli terhadap urusan masyarakat dan dunia,
dengan tetap tidak melupakan akhirat sebagai tujuannya (ultimate goal)
sebagaimana firman Allah SWT:
Dan carilah pada apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu (berupa
kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi (Qs. al-Qashshash [28]: 77).
Untuk bisa meraih keduanya (dunia dan akhirat) seorang muslim menjadi ulil albab,
yaitu individu yang berakal, yang menggabungkan potensi potensi pikir dan zikir
(hal. 122) (lihat Qs. Ali-Imran [3]: 190-191).
Selanjutnya, seorang muslim kaffah haruslah mampu menguasai dirinya, yakni
seorang master yang mampu mengendalilkan hawa nafsunya. Pengendalian
terhadap ambisi dan dorongan-dorongan hawa nafsu merupakan salah satu kriteria
seorang muslim yang sangat rindu mencapai derajat kaffah. Dan kunci untuk
pengendalian hawa nafsu, terletak pada pikiran, keyakinan, dan kebiasaan-
kebiasaan kita sendiri (hal. 140).
Perbandingan al-Qur`an Dan Injil
Pada bab V-XI Toto Tasmara banyak menekankan pada studi Kristologi, terutama
penjelasan tentang penyimpangan Injil. Meski demikian Toto mengawali studi ini
dengan menunjukkan keajaiban al-Qur`an dengan metode matematis. Metode
yang lebih mendasarkan diri pada prinsip othak- athik- gathuk (yang penting
terasa pas,cocok) ini memang menarik, meskipun ada pula sebagian ulama dan
intelektual yang menentangnya. Misalnya, jumlah kata fardhu, di dalam al-Qur`an
disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat. (hal. 203). Jumlah
kata shalawat di dalam al-Qur`an disebut 5 kali, sama dengan jumlah shalat wajib
sehari semalam (hal. 201). (Padahal bisa saja, jumlah itu digunakan untuk
menjustifikasi sesuatu yang lain yang tidak ada sama sekali hubungannya dengan
al-Qur`an, misalnya jumlah kata fardhu yang 17 itu, bisa dianggap cocok dengan
tanggal proklamasi RI, 17 Agustus, atau jumlah kata shalawat yang 5 tadi bisa
dianggap cocok dengan jumlah sila dalam Pancasila!)
Mengenai penyimpangan dan pemalsuan Injil, Toto Tasmara banyak memberikan
contoh. Misalnya, adanya informasi yang tidak sama antara satu ayat dengan ayat
lain, padahal topik pembicaraannya itu-itu juga. Dalam II Tawarikh 9:25 dikatakan,
Solomon mempunyai empat ribu kandang kuda untuk keretanya dan dua belas ribu
orang berkuda. Sementara dalam I Raja-Raja 4:26 disebutkan, Solomon
mempunyai empat puluh ribu kandang kuda untuk kereta-keretanya dan dua belas
ribu orang berkuda. Mana yang benar, empat ribu kandang kuda atau empat puluh
ribu kandang kuda? (hal. 262)
Disebutkan pula oleh Toto Tasmara kepalsuan Injil yang terlihat dari
kekurangajarannya menggambarkan perilaku sebagian Nabi. Padahal tidak mungkin
seorang nabi melakukan suatu kebejatan dan dosa, misalnya mabuk dan berzina.
Dalam Kitab Kejadian 19:30-38 disebutkan perilaku mabuk dan zina yang dilakukan
oleh Nabi Luth. Lot (Nabi Luth) mabuk, dan selama beberapa malam bergiliran
meniduri kedua putrinya dan kedua putri itu mengandung Ini sangat berbeda al-
Qur`an yang menjelaskan Nabi Luth sebagai orang saleh, bermoral luhur:
Dan Kami masukkan dia (Luth) ke dalam rahmat Kami, karena sesungguhnya dia
termasuyk orang-orang yang saleh. (Qs. al-Anbiyaa` [21]: 75) (hal. 264).
Menurut Toto Tasmara, metode mengungkap kepalsuan Injil seperti ini bertujuan
untuk menambah keimanan kepada al-Qur`an yang berulangkali mengungkapkan
adanya penyisipan informasi yang tidak orisinal pada Injil, dan juga untuk
menyuburkan iman yang ada pada dada kita semua (hal. 257).
https://jasawebenigma.wordpress.com/2012/12/13/menjadi-muslim-kaffah-
menerjunkan-diri-dalam-syariat-islam-secara-total/
MENJADI MUSLIM KAFFAH ?

Ajakan untuk menjadi mumin yang kffah didengungkan Allah melalui surat Al-
Baqarah yang 208:Hai orang-orang (yang mengaku) mumin, masuklah kalian ke
dalam Islam secarakffah, dalam arti janganlah kalian mengikuti langkah-langkah
setan, karena dia (setan itu) adalah musuh yang nyata bagi kalian.[1]

Pengertian harfiah dari istilah kffah adalah keseluruhan atau totalitas (totality).
Dengan demikian, menjadi mumin yang kffah berarti menjadi mumin yang total.
Dalam ayat di atas ada dua kata yang menarik. Yang pertama adalah kata
perintahudkhul (masuklah kalian), dan yang kedua adalah istilah as-silm(u), yang
merupakan sinonim dari as-salm(u) dan al-islmm(u), alias agama Islam.
Perintah masuk yang dikaitkan dengan agama Islam tentu mengesankan bahwa
agama Islam itu adalah sebuah lembaga, tepatnya sebuah organisasi.
Kenyataannya, secara keseluruhan para pakar menyatakan bahwa Islam
mempunyai sebuah kredo (creed) alias sistem kepercayaan,
yaitu syahadat (kesaksian; ikrar) bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad
adalah Rasulullah.

Bila dikaji secara mendalam, syahadat ini bukan hanya pengakuan atas Allah
sebagai pencipta dan penguasa serta Muhammad sebagai rasulNya tapi sekaligus
juga pengakuan atas sebuah prosedur.
Prosedur tersebut mencakup dua hal. Pertama, dari sisi organisasi, syahadat pada
hakikatnya adalah prosedur pendaftaran diri sebagai anggota komunitas muslim.
Dilihat dari sisi ini, yang disebut syahadat itu tentu bukan sebuah pengakuan
pribadi belaka, tapi harus dilakukan di hadapan orang lain, supaya orang yang
bersangkutan bisa dituntut pertanggung-jawabannya, dan sebaliknya orang-orang
yang menyaksi-kannya juga bisa diharapkan untuk memberikan dukungan dan
bantuan yang dibutuh-kannya, karena pada hakikatnya menjadi muslim itu tidak
bisa dilakukan sendirian, dan kenyataannya Islam adalah sebuah agama
masyarakat, bukan agama perseorangan.

Kedua, dari sisi ilmiah dan ini yang tersulit syahadat tersebut mewakili sudut
pandang ilmu (scientific approach). Yaitu bahwa untuk menjadi muslim itu
seseorang harus menyadari bahwa Allah menurunkan ajaran Islam melalui Nabi
Muhammad, yang bukan hanya berkedudukan sebagai penyampai risalah (missi;
tesis) tapi juga sebagai prototipe alias teladan dari perwujudan pribadi muslim yang
dimaksud oleh Allah.
Bahkan lebih lanjut, karena keislaman itu bukan sekadar urusan pribadi untuk
menyatakan hubungan batin seseorang dengan Allah saja, maka keteladanan
Rasulullahsaw juga tidak terbatas hanya pada akhlak pribadinya, tapi juga meluas
pada masyarakat yang dibentuknya. Tegasnya, setiap orang yang menyatakan diri
sebagai muslim pada hakikatnya dituntut peran sertanya dalam membentuk
sebuah masyarakat yang Islami, yang berpola pada masyarakat yang pernah
dibentuk Rasulullah saw.

Aspek itulah yang harus digarisbawahi ketika berbicara tentang perintah masuklah
kalian ke dalam agama Islam secara kffah. Jadi ini bukan masalah sikap batin
belaka, tapi masalah integritas setiap pribadi muslim terhadap komunitasnya.

Pertanyaan kita sekarang adalah: Komunitas muslim yang mana yang harus kita
masuki?
Bila yang disebut komunitas (= jamaah) muslim itu kita petakan berdasar negara-
negara di dunia ini dengan penduduk muslim terbanyak, jelas komunitas muslim
kita adalah komunitas muslim (negara) Indonesia. Tapi kenyataannya kaum
muslimin Indonesia (dan begitu juga di negara-negara lain) bukanlah sebuah
komunitas, tapi banyak komunitas. Jelasnya, kaum muslimin di seluruh dunia
bukanlah sebuah kaum yang utuh, tapi terpecah-pecah menjadi banyak mazhab.
Bila menurut sebuah Hadis pecahan-pecahan itu berjumlah 73,[2] seorang peneliti
konon menemukan data bahwa jumlah mazhab-mazhab itu mencapai 3000an!
Bila demikian, lantas ke dalam Islam yang mana diri ini hendak diceburkan?

Lenyapnya Islam warisan rasul


Ketika Allah menurunkan wahyu terakhirNya,[3] yang menegaskan bahwa agama
yang diajarkanNya telah sempurna, dan dengan demikian anugerahNya telah
dianggap cukup, dan Ia telah menyatakan Islam sebagai agama yang diridhaiNya,
Islam yang manakah gerangan yang dimaksud?
Tentu Islam yang dimaksud adalah Islam yang dijalankan oleh Rasulullah saw, para
sahabat beliau, dan umat yang menjadi warga negara Madinah.

Setelah Rasulullah wafat, tampil Abu Bakat sebagai pengganti beliau. Abu Bakar
kemudian digantikan oleh Umar, Umar digantikan Utsman, dan Utsman digan-tikan
oleh Ali bin Abu Thalib.
Suksesi (pergantian pemimpin) menjadi masalah terbesar yang timbul setelah
ketiadaan Rasulullah. Para khalifah setelah Abu Bakar (Umar, Utsman, Ali), semua
wafat karena dibunuh. Dan Khalifah Ali rupanya merupakan benteng terakhir yang
berperan sebagai pengawal Islam warisan Rasulullah. Setelah Ali tiada, umat Islam
terpecah menjadi tiga kelompok; yaitu kelompok pengikut Ali (Syiah), kelompok
pendukung Muawiyyah (Murjiah), dan kelompok yang memisahkan diri dari
kelompok Ali (Khawarij).

Perpecahan karena masalah politik itu mengawali timbulnya perpecahan teologis.


Muncullah aliran-aliran Sunni, Syiah, Mutazilah, dan lain-lain. Pertemuan umat
Islam dengan berbagai filsafat Yunani pun membawa pengaruh yang lain, yang
semakin meramaikan khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan umat Islam.
Mazhab-mazhab pun tumbuh seperti jamur.

Islam warisan Rasulullah, ibarat sebidang tanah, telah dipecah menjadi kavling-
kavling banyak mazhab, yang masing-masing membentengi kavling mereka dengan
tembok-tembol yang tebal dan tinggi. Sejak saat itulah bersyahadat menjadi
orang Islam tidak lagi menjadi tanda pengenal yang jelas, sebelum ditambahi
dengan embel-embel nama mazhab. Dan bisa jadi dua muslim yang duduk
sebangku dalam sebuah kendaraan tiba-tiba tidak lagi merasa bersaudara setelah
keduanya sama-sama tahu bahwa mereka berbeda mazhab!
Islam Indonesia
Semula para ahli menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13
M. Belakangan mereka menyatakan hal itu terjadi pada abad ketujuh atau
kedelapan Masehi. Ada pula yang memastikan bahwa Islam mulai merambah
Indonesia pada tahun 717 M.

Jangan dilupakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia itu, bila terjadi pada
tahun 717 M (abad ke-8) adalah Islam yang sudah diputar-balik oleh Muawiyah dan
antek-anteknya. Korbannya yang pertama adalah sebuah kerajaan Melayu Kuno
yang berpusat di Jambi dan Riau, yang semula beragama Buddha, alias sebagai
agen bagi dinasti yang berkuasa di Tiongkok.

Muawiyah menyulap ajaran Islam menjadi madzhab Sunni alias Ahlu Sunnah Wal-
Jamaah, yang pada hakikatnya melestarikan adat-istiadat Arab. Masuknya Islam ke
Indonesia bukanlah karena motivasi iman (yang haqq/benar), tapi demi
kepentingan imperialisme, yaitu untuk mengeruk keuntungan material dari bangsa-
bangsa yang dikuasai. Perlu dicatat bahwa pada waktu itu perdagangan rempah-
rempah Indonesia dikuasai oleh Cina (Dinasti Tang). Untuk mengalahkan mereka,
Muawiyah mengirim armadanya ke Indonesia melalui kerajaan Melayu Lama.
Tujuannya adalah merampas dominasi Cina atas bisnis rempah-rempah. Selain
mengutus tentara, Muawiyah juga mengirim ulama-ulamanya ke Jambi dan Riau.
Hasilnya, raja Jambi masuk Islam. Kemudian, pada tahun 725 M Raja Jambi
menundukkan kerajaan Jepara, dan mulai saat itu Raja Jepara pun masuk Islam.
Penguasaan Arab atas Jambi membuat Cina marah, karena lahan bisnis mereka
direbut. Maka pada tahun 727 M kerajaan Jambi dihancurkan tentara Cina, yang
dibantu bajak laut Cina dari Selat Malaka.
Di atas puing-puing kerajaan Jambi itulah Cina mendirikan kerajaan baru yang
kelak dikenal sebagai Sriwijaya, dengan ibukotanya yang terletak di Palembang.
Kerjaan Sriwijaya maju pesat sehingga sempat tampil sebagai pusat agama
Buddha.

Sisa pasukan Jambi melarikan diri ke Sumatera Barat, dan selanjutnya mendirikan
kerajaan Pagar Ruyung. Di situ mereka melestarikan ajaran Islam.

Ketika Dinasti Umayyah ditaklukkan Dinasti Abbasiyah pada pertengahan abad ke-
11 M, Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh. Sementara Islam dari Cina pun
masuk pula ke daerah Banten dan Jayakarta, melalui tentara yang dipimpin
Jenderal Samphobo yang bermarkas di Ancol. Masjid yang dibangunnya sekarang
menjadi kelenteng Ancol. Perlu dicatat bahwa Islam yang masuk kali ini adalah
Islam versi Syiah, yang mengembangkan ajaran tentang wali habib, sayyid, dan
sebagainya. Para dai mereka umumnya mengaku sebagai keturunan Nabi
Muhammad. Merekalah yang mengembangkan ajaran Tasauf dengan berbagai
versi tarekatnya. Namun pada dasarnya ajaran mereka tidak berbeda dengan
ajaran Sunni.

Lengkaplah Islam dari berbagi aliran menyebar di Indonesi berbaur dengan ajaran
Animisme, Hindu, dan Buddha yang telah lebih dulu masuk. Alhasil, agama Islam di
Indonesia tumbuh sebagai Islam yang mempunyai warna tersendiri, yakni gado-
gadi antara Arabisme Sunni-Syiah, Animisme, Hindu, dan Buddha. Selanjutnya
lahirlah Islam Kejawen alias Aliran Kebatinan, yang mewakili kelompok netral.
Sedangkan kelompok yang menentang Islam secara tegas, di timur membentuk
agama Hindu Bali serta masyarakat Tengger, dan di barat melahirkan kelompok
Baduy.

Kesimpulannya, Islam yang masuk ke Indonesia bukanlah Islam yang berdasar


Quran berpola Rasul, tapi merupakan Islam yang sudah terkontaminasi (tercemar)
oleh Arabisme (Sunni) dan Iranisme (Syiah), yang selanjutnya berbaur dengan
berbagai paham yang ada di Indonesia, yaitu Animisme, Javanisme, Hindu-isme,
Buddhisme dan lain-lain.

Penutup
Nabi Muhammad diutus Allah dengan membawa Al-Qurn untuk menyampaikan
missi perdamaian ke tengah masyarakat Arab yang terpecah belah dan saling baku
hantam satu sama lain. Pada saat yang sama, dunia di sekeliling tanah Arab juga
diperebutkan oleh dua blok yang saling bermusuhan, yaitu Blok Barat (Romawi) dan
Blok Timur (Persia).

Dalam perjuangan dakwah yang makan waktu sekitar 20 tahun, Nabi Muhammad
berhasil mendamaikan dan mempersatukan bangsa Arab. Agama Islam kemudian
berkembang ke seluruh dunia. Tapi di balik perkembangan itu rupanya ada
kepentingan lain yang turut bermain. Semangat dakwah berbaur dengan syahwat
politik, kepentingan dinasti, mazhab, dan lain-lain, yang pada akhirnya
mengaburkan missi perdamaian itu sendiri. Karena itulah Islam tidak lagi tampil
sebagai sebuah kekuatan yang membanggakan, dan yang disebut umat Islam
menjadi identik dengan komunitas-komunitas atau bangsa-bangsa yang terpuruk
dalam berbagai bidang kehidupan.

Keadaan itu tidak akan pernah bisa diperbaiki bila kita, yang mengaku umat Islam,
tidak memiliki semangat perintis dan pejuang untuk merekonstruksi Islam ke dalam
bentuk awalnya, yaitu Islam yang membuat kita bersatu dalam kedamaian.

Umat Islam yang bersatu tentu akan menjadi kekuatan yang mempunyai posisi
tawar, dan karena itu akan bisa pula menyumbangkan peran aktifnya dalam
menciptakan dunia yang damai.
[1] [2] Menurut para ahli
bahasa Arab angka tujuh dalam bahasa Arab sering digunakan untuk menyebut
jumlah yang banyak.
[3] Bagian dari surat Al-Maidah ayat 3:

http://studiofiman.weebly.com/menjadi-muslim-kaffah.html
Diakui bahwa iptek, disatu sisi telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan
umat manusia. Namun di sisi lain, iptek telah mendatangkan petaka yang pada
gilirannya mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Kemajuan dalam bidang iptek telah
menimbulkan perubahan sangat cepat dalam kehidupan umat manusia. Perubahan
ini, selain sangat cepat memiliki daya jangkau yang amat luas. Hampir tidak ada
segi-segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh perubahan. Perubahan ini pada
kenyataannya telah menimbulkan pergeseran nilai nilai dalam kehidupan umat
manusia, termasuk di dalamnya nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, setelah terjadi revolusi industri di Barat ,
terutama sepanjang abad XVIII dan XIX, sains bahkan menjadi agama baru atau
agama palsu(Pseudo Religion). Dalam kajian teologi modern di Barat, timbul
mazhab baru yang dinamakan saintisme dalam arti bahwa sains telah menjadi
isme, ideologi bahkan agama baru. Namun sejak pertengahan abad XX, terutama
seteleh terjadi penyalahgunaan iptek dalam perang dunia I dan perang dunia II,
banyak pihak mulai menyerukan perlunya integrasi ilmu dan agama, iptek dan
imtaq. Pembicaraan tentang iptek mulai dikaitkan dengan moral dan agama hingga
sekarang (ingat kasus kloning misalnya). Dalam kaitan ini, keterkaitan iptek dengan
moral (agama) di harapkan bukan hanya pada aspek penggunaannya saja
(aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontologi) dan metodologi (epistemologi)-
nya sekaligus.
Di Indonesia, gagasan tentang perlunya integrasi Imtaq dan iptek ini sudah lama
digulirkan. Hal ini, selain karena adanya problem dikotomi antara apa yang
dinamakan ilmu-ilmu umum (sains) dan ilmu-ilmu agama (Islam), juga disebabkan
oleh adanya kenyataan bahwa pengembangan iptek dalam sistem pendidikan kita
tampaknya berjalan sendiri, tanpa dukungan asas iman dan takwa yang kuat,
sehingga pengembangan dan kemajuan iptek tidak memiliki nilai tambah dan tidak
memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan dan kemaslahatan umat
dan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.
Secara lebih spesifik, integrasi Imtaq dan iptek ini diperlukan karena empat alasan.
Pertama, sebagaimana telah dikemukakan, iptek akan memberikan manfaat yang
sangat besar bagi kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas
iman dan takwa kepada Allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas Imtaq, iptek bisa
disalahgunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif. Iptek dapat
mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jika demikian, iptek hanya absah secara
metodologis, tetapi batil dan miskin secara maknawi.
Kedua, pada kenyataannya, iptek yang menjadi dasar modernisme, telah
menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik, dan
hedonistik, yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang
dianut oleh bangsa kita.
Ketiga, dalam hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti
(kebutuhan jasmani), tetapi juga membutuhkan Imtaq dan nilai-nilai sorgawi
(kebutuhan spiritual). Oleh karena itu, penekanan pada salah satunya, hanya akan
menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah, dan menyalahi
hikmat kebijaksanaan Tuhan yang telah menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa
raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.
Keempat, Imtaq menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar
manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar Imtaq, segala atribut duniawi,
seperti harta, pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal
mengantar manusia meraih kebahagiaan. Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman
dan upaya mencari ridha Tuhan, hanya akan mengahsilkan fatamorgana yang tidak
menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu.
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah
yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila
didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya
(ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-
amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.S. An-
Nur:39).

Maka integrasi Imtaq dan iptek harus diupayakan dalam format yang tepat
sehingga keduanya berjalan seimbang (hand in hand) dan dapat mengantar kita
meraih kebaikan dunia (hasanah fi al-Dunya) dan kebaikan akhirat (hasanah fi al-
akhirah) seperti doa yang setiap saat kita panjatkan kepada Tuhan:
Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: Ya Tuhan Kami, berilah Kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka
(Q.S. Al-Baqarah :201).
Integrasi Imtaq dan iptek, berarti, kita harus membongkar filsafat ilmu sekuler yang
selama ini dianut. Kita harus membangun epistemologi islami yang bersifat
integralistik yang menegaskan kesatuan ilmu dan kesatuan Imtaq dan iptek dilihat
dari sumbernya, yaitu Allah SWT seperti banyak digagas oleh tokoh-tokoh
pendidikan Islam kontemporer. Selain pada pada aspek filsafat, orientasi, tujuan,
dan epistemologi pendidikan seperti telah diuraikan di atas, integrasi Imtaq dan
iptek itu perlu dilakukan dengan metode pembelajaran yang tepat. Pendidikan
Imtaq pada akhirnya harus berbicara tentang pendidikan agama (Islam) di berbagai
sekolah maupun perguruan tinggi. Untuk mendukung integrasi pendidikan Imtaq
dan iptek dalam sistem pendidikan nasional kita, maka pendidikan agama Islam
disemua jenjang pendidikan tersebut harus dilakukan dengan pendekatan yang
bersifat holistik, integralistik dan fungsional.
Dengan pendekatan holistik, Islam harus dipahami secara utuh, tidak parsial dan
partikularistik. Pendidikan islam dapat mengikuti pola iman, Islam dan Ihsan, atau
pola iman, ibadah dan akhlakul karimah, tanpa terpisah satu dengan yang lain,
sehingga pendidikan Islam dan kajian Islam tidak hanya melahirkan dan
memparkaya pemikiran dan wacana keislaman, tetapi sekaligus melahirkan kualitas
moral (akhlaq al karimah) yang menjadi tujuan dari agama itu sendiri. Pendidikan
Islam dengan pendekatan ini harus melahirkan budaya berilmu amaliah dan
beramal ilmiah. Integrasi ilmu dan amal, Imtaq dan iptek haruslah menjadi ciri dan
sekaligus nilai tambah dari pendidikan islam.
Secara pendekatan integralistik, pendidikan agama tidak boleh terpisah dan
dipisahkan dari pendidikan sains dan teknologi. Pendidikan iptek tidak harus
dikeluarkan dari pusat kesadaran keagamaan dan keislaman kita. Ini berarti, belajar
sains tidak berkurang dan lebih rendah nilainya dari belajar agama. Belajar sains
merupakan perintah Tuhan (Al -Quran), sama dan tidak berbeda dengan belajar
agama itu sendiri. Penghormatan Islam yang selama ini hanya diberikan kepada
ulama (pemuka agama) harus pula diberikan kepada kaum ilmuan (Saintis) dan
intelektual.
Secara fungsional, pendidikan agama harus berguna bagi kemaslahatan umat dan
mampu menjawab tantangan dan pekembangan zaman demi kemuliaan Islam dan
kaum muslim. Dalam perspektif Islam ilmu memang tidak untuk ilmu dan
pendidikan tidak untuk pendidikan semata. Pendidikan dan pengembangan ilmu
dilakukan untuk kemaslahatan umat manusia yang seluas-luasnya dalam kerangka
ibadah kepada Allah SWT.
Semetara dari segi metodologi, pendidikan dan pengajaran agama disemua jenjang
pendidikan tersebut, tidak cukup dengan metode rasional dengan mengisi otak dan
kecerdasan peserta didik semata-mata, sementara jiwa dan spiritualitasnya
dibiarkan kosong dan hampa. Pendidikan agama perlu dilakukan dengan
memberikan penekanan pada aspek afektif melalui praktik dan pembiasaan, serta
melalui pengalaman langsung dan keteladanan prilaku dan amal sholeh. Dalam
tradisi intelektual Islam klasik, pada saat mana Islam mencapai puncak
kejayaannya, aspek pemikiran teoritik (al aql al nazhari) tidak pernah dipisahkan
dari aspek pengalaman praksis (al aql al amali). Pemikiran teoritis bertugas mencari
dan menemukan kebenaran, sedangkan pemikiran praksis bertugas mewujudkan
kebenaran yang ditemukan itu dalam kehidupan nyata sehingga tugas dan kerja
intelektual pada hakekatnya tidak pernah terpisah dari realitas kehidupan umat dan
bangsa. Dalam paradigma ini, ilmu dan pengembangan ilmu tidak pernah bebas
nilai. Pengembangan iptek harus diberi nilai rabbani (nilai ketuhanan dan nilai
Imtaq), sejalan dengan semangat wahyu pertama, iqra bismi rabbik. Ini berarti
pengembangan iptek tidak boleh dilepaskan dari Imtaq. Pengembangan iptek harus
dilakukan untuk kemaslahatan kemanusiaan yang sebesar-besarnya dan dilakukan
dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT.
Barang siapa ingin menguasai dunia dengan ilmu, barang siapa ingin menguasai
akhirat dengan ilmu, dan barang siapa ingin menguasai kedua-duanya juga harus
dengan ilmu (Al-Hadist).
Penanaman kesadaran pentingnya nilai-nilai agama memberi jaminan kepada siswa
akan kebahagiaan dan keselamatan hidup, bukan saja selama di dunia tapi juga
kelak di akhirat. Jika hal itu dilakukan, tidak menutup kemungkinan para siswa akan
terhindar dari kemungkinan melakukan perilaku menyimpang, yang justru akan
merugikan masa depannya serta memperburuk citra kepelajarannya. Untuk itu,
komponen penting yang terlibat dalam pembinaan keimanan dan ketakwaan
(Imtaq) serta akhlak siswa di sekolah adalah guru. Kendati faktor lain ikut
mempengaruhi, tapi dalam pembinaan siswa harus diakui guru faktor paling
dominan. Ia ujung tombak dan garda terdepan, yang memberi pengaruh kuat pada
pembentukan karakter siswa.
Tujuan pendidikan sebenarnya mengisyaratkan, proses dan hasil harus
mempertimbangkan keseimbangan dan keserasian aspek pengembangan
intelektual dan aspek spiritual (rohani), tanpa memisahkan keduanya secara
dikhotomis. Namun praktiknya, aspek spiritual seringkali hanya bertumpu pada
peran guru agama. Ini dirasakan cukup berat, sehingga pengembangan kedua
aspek itu tidak berproses secara simultan. Upaya melibatkan semua guru mata ajar
agar menyisipkan unsur keimanan dan ketakwaan (Imtaq) pada setiap pokok
bahasan yang diajarkan, sesungguhnya telah digagas oleh pihak Departeman
Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama.

http://asbarsalim009.blogspot.co.id/2015/03/integrasi-iman-iptek-dan-seni-
dalam.html
Integrasi dapat dimaknai sebagai proses memadukan nilai-nilai tertentu terhadap
sebuah konsep lain sehingga menjadi suatu kesatuan yang koheren dan tidak bisa
dipisahkan atau proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan
bulat. Integrasi antara iptek dan pendidikan Islam esensinya adalah perpaduan
antara dimensi agama dal ilmu.
Kemajuan teknologi dalam tiga dasawarsa ini telah menampakkan pengaruhnya
pada setiap dan semua kehidupan individu, masyarakat dan negara. Dapat
dikatakan bahwa tidak ada orang yang dapat menghindar dari pengaruh
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Iptek bukan saja dirasakan
individu, akan tetapi dirasakan pula oleh masyarakat, bangsa dan negara.
Sekarang yang menjadi persoalan sekaligus pertanyaan bagi kita tentunya adalah
bagaimana dengan eksistensi pendidikan Islam dalam menghadapi arus
perkembangan IPTEK yang sangat pesat tersebut. Bagaimanapun juga pendidikan
Islam (terutama lembaganya) dituntut untuk mampu mengadaptasikan dirinya
dengan kondisi yang ada. Disamping dapat mengadaptasi dirinya, pendidikan Islam
juga dituntut untuk menguasai Iptek, dan kalau perlu merebutnya.
Pendidikan Islam mempunyai sesuatu kekuatan yang sangat signifikan
dipertahankan atau dikembangkan. Hal ini mungkin dapat dilihat dari tataran
filosofis atau konseptual dan pengalaman selama ini dari lembaga-lembaga
pendidikan Islam yang dari waktu ke waktu telah mampu tumbuh di tengah-tengah
dinamika masyarakat.
Motivasi kreatifitas anak didik ke arah pengembangan Iptek itu sendiri, dimana nilai-
nilai Islam menjadi sumber acuannya.
Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk Iptek bagi kesejahteraan hidup umat
manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.
Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan Iptek, dan hubungan yang
akrab dengan para ilmuwan yang memegang otoritas Iptek dalam bidang masing-
masing.
Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat
manusia melalui kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-
sumbernya yang murni dan kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.
Jadi kesanalah pendidikan Islam diarahkan, agar pendidikan Islam tidak hanyut
terbawa arus modernisasi dan kemajuan Iptek. Strategi tersebut merupakan
sebagian solusi bagi pendidikan Islam untuk bisa lebih banyak berbuat. Kendatipun
demikian, pendidikan Islam tentu saja tidak boleh lepas dari Idealitas Al-Quran dan
As-Sunnah yang berorientasikan kepada hubungan manusia dengan Allah SWT.
(Hablumminallah), hubungan manusia dengan sesamanya (Hablumminannas) dan
dengan alam sekitarnya.
Dengan demikian, era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan,
dalam konteks ini, Khaerudin Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan
pendidikan menghadapi ufuk globalisasi.
Tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan
produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai
upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan
(continuing development ).
Tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era
reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris
ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana
implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.
Tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya
saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai
hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang
menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.
Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan berdaya
saing di bidang-bidang tersebut secara komprehensif dan komparatif yang
berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan
(visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan
yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar.
Dalam merencanakan program ini kita perlu mengidentifikasikan delapan masalah
pokok.
Apkah ajaran islam memberikan ruang lingkup berfikir kreatif manuia dan
sejauhmana ruang lingkup tersebut diberikan kepada manusia.
Potensi psikologis apasajakah yang menjadi sasaran pendidikan islamterutama
dalam kaitan nya dengan kreatifitasyang berhubungan dengan perkembangan
iptek.
Bagaimana sistem metode pendidikan yang tepat guna dalam proses kependidikan
islam yang kontekstual dengan iptek tersebut.
Keterampilan-keterampilan apa saja kah yangdiperlukan anak didik dalam
mengelola dan memanfaatkan iptek modren sehingga dapat menyejahterakan
kehidupan manusia, khusus nya umat islam.
Sampai seberapa jauh anak didik diharapkan mampu mengendalikan dan
menangkal dampak-dampak negatif dari iptek.
Sebalik nya, apakah nilai moral dan sosial keagamaan mampu memberikan dampak
positif terhadap kemajuan iptek modren tersebut.
Kompetensi guru agama apkah yang harus dimiliki sebagai hasil (produk) lembaga
pendidikan profesional keguruan yang dapat diandalkan untuk menghadapi
modernitas umat berkat kemajuan iptek tersebut.
Gagasan baru apa sajakah yang harus dirumuskan kembali dalamerencanaan
pendidikan jangka panjang dan pendek.
Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan sosok guru professional yang
mampu membuat sebuah ramuan perencanaan pembelajaran berbasis agama dan
Iptek. Prasyaratnya guru ideal yang diharapkan dapat mendukung proses integrasi
tersebut dapat mengacu kepada prinsip profesionalitas guru yang telah ditetapkan
dalam UU No 14 tahun 2005 bab III pasal 7 sebagai berikut:
Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme;
Memiliki komitment untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwanaan dan akhlak mulia.
Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang
tugas.
Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan
Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai prestasi kerja
Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan
dengan belajar sepanjang hayat.
Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan,
dan
Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang
berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
Adapun PP No 74 tahan 2008 tentang guru pasal 3 ayat 2 serta Permendiknas No 16
tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru
menyebutkan bahwa terdapat empat kompetensi utama yang harus dimiliki guru
dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalisme keguruannya, yakni kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional.
Sebagai seorang professional, dalam melaksanakan tugasnya guru harus mengacu
kepada UU No 14 tahun 2005 pasal 20 yang mengungkapkan bawah guru
berkewajiban untuk:
Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu,
serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara
berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetauan, teknologi dan seni.
Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin,
agama, suku, ras dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga dan status
sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.
Menjungjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru
serta nilai-nilai agama dan etika
Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
Berdasarkan kewajiban tersebut di atas, maka jelaslah bahwa dalam prakteknya,
proses integrasi ilmu dan agama melalui pembelajaran akan sangat ditentukan oleh
kemampuan guru dalam meramu sebuah perencaan pembelajaran, karena ramuan
rencana pembelajaran memang merupakan kewajiban pokok seorang guru sebelum
dia melakukan interaksi pembelajaran bersama peserta didiknya. Selain diperlukan
sosok guru ideal yang mampu membuat ramuan perencanaan pembelajaran
berbasis IMTAK dan IPTEK, dukungan iklim dan budaya sekolah pun akan sangat
menentukan hasil dari proses integrasi. Demikian halnya dengan ketersediaan
sarana dan prasarana yang mendukung. Peran kepemimpinan dari seorang kepala
sekolah akan sangat menentukan hal tersebut dapat terwujud. Disamping peran
serta yang optimal dari seluruh perangkat sekolah.
Dari uraian diatas, dapat kita ambil sedikit kesimpulan bahwa tantangan pendidikan
islam sangatlah berat dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi oleh sebab itu pendidikan agama islam harus bisa memfilter budaya-
budaya yang masuk melalui perkembangan iptek tersebut. kebijakan pendidikan
Islam di Indonesia sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor telah dijelaskan diatas
(dengan tanpa faktor politik pemerintahan), dan konsep pendidikan Islam yang kita
harapkan adalah sesuai dengan al-Quran dan al-Hadits serta sesuai dengan fitrah
manusia. []

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2013/05/19/integrasi-dan-pengembangan-
iptek-dalam-pendidikan-islam/
INTEGRASI IPTEK DAN ISLAM I. PENDAHULUAN Seiring dengan
berkembangnya zaman dan semakin majunya peradaban, maka semakin banyak
munculnya teknologi yang memberi kemudahan kepada manusia. Kemudahan inilah
yang sering memberi makna yang beragam sehingga kadang kala banyak
penafsiran yang salah. Sebagian dari kaum muslim ada yang sangat antipati
terhadap kemajuan teknologi yang berkembang karena alasan agama tidak
menyukai adanya teknologi yang berkembang sehingga menyebabkan lunturnya
iman. Pemahaman yang beragam inilah yang perlu dibenarkan. Sejatinya agama
apapun termasuk islam tidak pernah melarang adanya perkembangan ilmu
pengetahuan sehingga menjadikan teknologi yang semakin berkembang.
Berkembangnya teknologi justru memberikan manfaat yang banyak dan sebagai
sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Pandangan yang antipati
terhadap kemajuan ilmu pengetahuan perlu diluruskan kembali dengan
pemahaman yang lebih kemprehensif. Untuk itulah maka dalam makalah ini
diberikan penjelasan mengenai integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
islam. Diharapkan dengan adanya pemahaman ini maka tidak ada kesalah pahaman
dalam memaknai islam sebagai agama yang mendorong berkembangnya ilmu
pengetahuan. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa Pengertian Integrasi ? B.
Bagaimana Pentingnya Integrasi IPTEK dan Islam ? C. Bagaimana Pandangan
Islam Tentang IPTEK ? D. Apa Manfaat IPTEK untuk Islam ? III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Integrasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kata integrasi
berasal dari bahasa latin integer, yang berarti utuh atau menyeluruh. Berdasarkan
arti etimologisnya itu, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi
kesatuan yang utuh atau bulat. Integrasi juga berasal dari bahasa inggris
Integration yang berarti kesempurnaan keseluruhan. Definisi lain dari integrasi
ialah suatu keadaan dimana kelompok-kelompok etnik beradaptasi terhadap
kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan
kebudayaan mereka masing-masing.[1] Dari dua pengertian diatas dapat diambil
suatu kesimpulan bahwa Integrasi mempunyai dua pengertian, yaitu : 1)
Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan dalam suatu sistem tertentu
2) Membuat keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Pengertian
integrasi sains dengan islam dalam konteks sains modern bisa dikatakan sebagai
profesionalismeatau kompetensi dalm satu keilmuan yang bersifat duniawi di
bidang tertentu disertai atau dibangun dengan pondasi kesadaran
ketuhanan.adaran tersebut akn muncul dengan adanya pengetahuan dasar tentang
ilmu-ilmu keislaman.oleh sebab itu, ilmu-ilmu islam dan kepribadian merupakn dua
aspek yang saling menopang satu sama lain dan secara bersama-sama menjadi
sebuah pondasi bagi pengembangan sains dan teknologi.[2] B. Pentingnya
Integrasi IPTEK dan Islam Sepanjang yang diketahui, belum ada agama apapun
yang mampu melampaui dalamnya paandangan terhadap ilmu pengetahuan
sebagaimana pandangan yang diberikan islam. Islam sangat gigih dalam
mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukannya sebagai
sesuatu yang mulia.[3] Dalam agama islam, imu pengetahuan, teknologi terdapat
hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem
yang disebut Dinul Islam. Didalmnya ada tiga unsur pokok yaitu iman, islam, dan
amal sholeh. Allah berfirman : Ns9r& ts? y#x. z>u !$# WxsWtB ZpyJ=x.
Zpt6hs ;otyftx. Bpt7hs $yg=r& M/$rO $ygsur !$yJ9$#
As? $ygn=2& @. m b*/ $ygn/u 3 Uour !$#
tA$sWBF{$# $Y=9 Og=ys9 cr2xtGt Artinya : Tidakkah kamu
perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat. (QS. Al-Ibrahim : 24-25) Salah satu tujuan islam ialah untuk memberi
tuntunan sehingga manusia dapat meningkatkan taraf hidup yang modern dan lebih
maju. Islam tidak melarang untuk memikirkan masalah teknologi modern atau ilmu
pengetahuan yang sifatnya menuju modernisasi pemikiran manusia genius,
profesional, dan konstruktif, serta aspiratif terhadap permasalahan yang timbul
dalam kehidupan sehari-hari.[4] Peradaban modern adalah hasil kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang gemilang telah dicapai oleh manusia setelah
diadakan penelitian yang tekun dan eksperimen yang mahal yang telah dilakukan
selama berabad-abad. Maka sudah sepantasnya kalau kemudian manusia
menggunakan penemuan-penemuannya itu guna meningkatkan taraf hidupnya.
Kemajuan teknologi secara umum telah banyak dinikmati oleh masyarakat luas
dengan cara yang belum pernah dirasakan bahkan oleh para raja dahulu kala.
Tampaknya manusia di masa depan akan mencapai taraf kemakmuran yang lebih
tinggi dan memperoleh kemudahan-kemudahan yang lebih banyak lagi. Agama
Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti
terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau, di masa sekarang
maupun di waktu-waktu yang akan datang. Demikian pula ajaran Islam tidak akan
bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang teratur dan lurus dan
analisa-analisa yang teliti dan obyektif. Ayat diatas menggambarkan keutuhan iman,
ilmu, dan amal dengan sebuah pohon yang akarnya menghujam ke bumi,
batangnya menjulang tinggi, mengeluarkan buah ditiap musimnya atas izin Allah.
Disini diungkapkan iman sebagai akarnya, imu sebagai batang yang pada akhirnya
akhlak yang diumpamakan sebagai buahnya. Berkaitan dengan hai ini, disini akan
dikemukakan beberapa contoh saja, yang memperlihatkan bahwa antara agama
dan ilmu pengetahuan saling membutuhkan, dan tidak bertantangan. Diantaranya
ialah sebagai berikut : Pertama, agama menyuruh manusia berpikir, menggunakan
akal pikiran dan segenap potensi lainnya yang dimiliki. Kedua, di dalam wahyu
terdapat perintah Allah untuk melaksanakan ibadah, mengolah alam dalam rangka
pelaksanaan fungsi sebagai khalifah di bumi dan lain sebagainya. Untuk
melaksanakan semua itu jelas sekali memerlukan agama. Dengan kata lain
perintah mengembangkan ilmu pengetahuan dalam islam terintegrasi dengan
perintah melaksanakan ibadah dan lainnya. Ketiga, agama berisikan tentang
moralitas akhlak mulia. Agama juga menjelaskan bagaimana seharusnya berusaha
dan berbuat baik di dunia ini. Semuanya hanya bisa dijawab oleh agama. Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang menawarkan barbagai kemudahan tidak tahu
tujuan apa yang harus dicapai. Agamalah yang memberika landasan dan arah bagi
penggunaan dan pemanfaatan ilu pengetahuan dan teknologi tersebut. Keempat,
agama berfungsi membenarkan, melengkapidan mengoreksi terhadap berbagai
temuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Denganm demikian antara agama dan
ilmu pengetahuan dalam pandangan islam bukan untuk dipertentangkan melainkan
untuk saling melengkapi dengan catatan harus bertolak dari keyakinan dan realitas
yang objektif bahwa imu pengetahuan sifatnya terbatas. Kelima, agama berbicara
tentang kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia harus menjadi
media untuk menuju kebahagiaan di akhirat. Karena itu kehidupan duniawi yang
memerlukan dukungan ilmu pengetahuan agama itu membuthkan bimbingan
agama.[5] C. Pandangan Islam Tentang IPTEK Negara-negara yang berpenduduk
mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau
negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak
menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya
kaum Muslim banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga
diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba
dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja
nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (matre) dan sekular (anti Tuhan) yang
dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat.
Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian
besar bangsa-bangsa Muslim. Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat
Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Ipteks Islam yang jaya
di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya
sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan
dan Ipteknya).[6] Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang
menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman
dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ilmu pengetahuan yang
menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah
tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah
ilmu pengetahuan modern tersebut. Islam sangat memotivasi umatnya untuk
memfungsikan akal dan rasa secara seimbang. Sesungguhnya tidak ada dikotomi
iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam karena keduanya merupakan dua materi
yang saling mendukung satu sama lain. Menuntut dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan muslim
yang beriman akan menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan
sebaik-baiknya. Oleh karena itulah antara iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan
dalam Islam.Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada umat Islam melalui
rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu.[7] Ketika Al-Quran diturunkan ilmu
pengetahuan telah berkembang diberbagai belahan dunia. Pada saat islam datang
fisafat Yunani sudah tidak berkembang lagi di Athena, melainkan di negara Timur
Tengah. Selain itu filsafat Yunani juga dipengaruhi oleh pandangan mitologi Yunani
yang bersifat spekulatif. Islam mencoba menganalisis faktor penyebab utama
terjadinya keadaan tersebut. Pilihannya ialah bahwa faktor penyebab utama
terjadinya keadaan yang demikian adalah karena tidak berkembangnya ilmu
pengetahuan sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap pendidikan.[8]
Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya
dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw . &t%$#
O$$/ y7n/u %!$# t,n=y{ t,n=y{ z`|SM}$# `B @,n=t &t
%$# y7/uur Pt.F{$# %!$# zO=t On=s)9$$/ zO=t z`|
SM}$# $tB Os9 Ls>t Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. Al-Alaq : 1-5) Iqra terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari
menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami,
meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.
Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran
menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik,
dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra berarti bacalah, telitilah,
dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah,
maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra
mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya. Pengulangan perintah
membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan
membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca
hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu
untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah]
akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih
itu-itu juga. Demikian pesan yang dikandung Iqra wa rabbukal akram (Bacalah dan
Tuhanmu Yang Maha Pemurah). Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Quran diperoleh
isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah
mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia lain sebelumnya, dan
mengajar manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah
mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua dengan
mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya
berasal dari satu sumber, yaitu Allah SWT. Setiap pengetahuan memiliki subjek dan
objek. Secara umum subjek dituntut peranannya untuk memahami objek. Namun
pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa objek terkadang memperkenalkan diri
kepada subjek tanpa usaha sang subjek. Misalnya komet Halley yang memasuki
cakrawala hanya sejenak setiap 76 tahun. Pada kasus ini, walaupun para astronom
menyiapkan diri dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati dan
mengenalnya, sesungguhnya yang lebih berperan adalah kehadiran komet itu
dalam memperkenalkan diri. Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia
yang siap dan suci jiwanya, atau apa yang diduga sebagai kebetulan yang dialami
oleh ilmuwan yang tekun, semuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran
Allah yang dapat dianalogikan dengan kasus komet di atas. Itulah pengajaran tanpa
qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama Al-Quran tersebut.[9] D. Manfaat
IPTEK bagi Islam Sudah seharusnya kita sebagai Umat Islam senantiasa men-
taddaburi ayata-ayat-Nya, baik yang qouliyah maupun kauniyah. Karena di sana
terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan/ motivasi untuk mengkaji maupun
mengimplementasikannya. u|yJt d`g:$# RM}$#ur b)
NFstG$# br& (#rZs? `B $s%r& NuqyJ9$# F{$#ur
(#rR$$s 4 w crZs? w) 9`s=0 Artinya : Hai jama'ah jin dan
manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka
lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (QS. Ar-
Rahman :33) Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika ingin menembus langit
diperlukan energi yang besar. Maka dengan segala bahan-bahan yang ada di alam
ini manusia harus mampu mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al
Quran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah
SWT telah menciptakan alam beserta isi dan sistemnya dan juga telah
mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati Al Quran, akan melahirkan
kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.[10] Penerapan
sains yang benar dan tepat sasaran yang dilandasi oleh nilai Islam sebagai agama
Rahmatan lil alamin sudah pasti memberikan kemakmuran dan kesejahteraan
serta mengangkat harkat dan martabat manusia lebih baik dan tinggi disisi Allah.
Karena dalam Islam orang yang berilmu dan menggunakan ilmunya di jalan Allah
untuk kemaslahatan umat manusia oleh Allah akan diangkat derajatnya lebih tinggi
dari mereka yang tidak berilmu, karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
[11] Tetapi sebaliknya penguasaan dan penerapan yang salah dan tidak dilandasi
oleh nilai nilai agama, kata Allah tunggulah giliran kehancuran. Al-Quran menjebut
gejala-gejala alam sebagai tanda-tanda Tuhan dan menganjurkan kajian atas
berbagai gejala alam sebagai jalan untuk menyembah Allah. Arti secara mendalam
sebenarnya tafakur sesungguhnya adalah bukan sekedar mengagumi dan berdiam
diri seperti orang menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan cantik,
tetapi dibalik itu terkadung makna tindakan selanjutnya mempelajari sampai
menemukan suatu bentuk sains maupun teknologi. Hal yang sama di sampaikan
Allah dalam surat al-Alaq manusia diperintahkan membaca dan meneliti dan
menulis (mengembangkan sains dan teknologi). Dalam pandangan Al Quran umat
manusia harus memiliki ilmu (sains) untuk memaknai penciptaan Allah. Panca
indera tidak cukup untuk memperoleh informasi yang ditulis dalam Al Quran atau
yang dimaksud Allah SWT kalau tidak memiliki kompetensi khusus. Oleh sebab itu
dalam Islam menuntut ilmu adalah kewajiban manusia untuk mengisi kehidupan
duniawi dan akhirat. Iman tanpa sains akan buta, karena sains itu adalah matanya
iman yang dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah, sebaliknya sains tanpa iman
akan biadap, karena iman akan menuntun manusia kepada hal-hal yang baik yang
diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu pemikir dan intelektual Islam harus berani dan
terus menerus menyampaikan bahwa keserasian islam dengan sains dan teknologi
bukan hanya sekedar pertukaran bebas ide ide (dialog intelektual) dan
memperjuangkan untuk menyebarkan Islam dan mempertahankan tuduhan-
tuduhan barat sebagai fundamentalisme yang tidak mengenal kompromi dan
keterbelakangan. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari
dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat
positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan, serta sebagai
cara baru dalam melakukan aktivitas manusia.[12] Khusus dalam bidang teknologi,
masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang telah dihasilkan dalam dekade
terakhir ini.Contoh termudah adalah dampak positif dari berkembangnya iptek di
bidang teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan teknologi akhir-akhir ini,
menjadikan dunia yang amat luas di era globalisasi ini menjadi sempit, mengecil,
dan terbatas. Perubahan ini tentu saja berdampak positif dan negatif bagi
kelangsungan hidup seorang muslim. Dampak negatif dari perubahan dan
pergeseran zaman mampu mengguncang, menggeser, dan mengikis habis nilai-nilai
moral dan iman. Bahkan, lebih jauh dari itu dapat menghancurkan masa depan dan
peradaban manusia. Oleh karena itu, seorang muslim harus membentengi diri
dengan keimanan dan keislaman yang kuat. Tanpa iman yang kokoh kehidupan
seorang muslim akan terombang-ambing dan bisa berujung pada kehancuran. Iman
adalah pelita, yang menjadi penerang dan petunjuk pada jalan yang lurus.[13] Di
antara manfaat-manfaat teknologi tersebut adalah : 1) Memperoleh
Kemudahan Kemampuan fisik manusia untuk meraih berbagai kebutuhan hidup
sangat terbatas. Pandangan mata, pendengaran telinga manusia terbatas, begitu
pula kekuatan dan keterampilan tangan dan kakinya. Kemampuan fisik manusia itu
tidak sebanding dengan kebutuhan yang diinginkan. Tetapi manusia sebagai
khalifah Allah diberikan kemampuan akal-pikiran untuk memanfaatkannya
menemukan cara-cara yang tepat dan efektif guna meraih kebutuhan hidup yang
tidak mungkin dicapai melalui kemampuan fisik semata. Akal-pikiran manusia
mampu mendayagunakan segala yang Allah ciptakan di bumi ini. Kemampuan itu
memang telah ditentukan oleh Allah Swt sebagaimana Allah nyatakan dalam
firman-Nya tyur /3s9 $B NuqyJ9$# $tBur F{$# $YHsd
mZiB 4 b) 9s ;MtUy 5Qqs)j9 cr3xtGt Artinya : Dan
dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS.
Al- Jaziyah : 13) 2) Mengenal dan Mengagungkan Allah. Apabila manusia
mampu menghayati akan makna sains dan teknologi yang dikembangkannya,
bahwa sernua itu bukan semata-mata karena faktor diri pribadi manusia, tetapi ada
faktor lain di luar dirinya, maka manusia akan memperoleh jalan untuk mengenal
sesuatu yang lain di luar dirinya itu, yaitu Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, dan
Yang Maha Bijaksana, yaitu Allah SWT. Kesempurnaan alam dengan struktur dan
sistemnya tidak bisa dibayangkan akan terbentuk dengan sempurna apabila tidak
ada kesengajaan pihak lain, yaitu Yang Maka Kuasa dan Maha Sempurna. Semakin
luas dan dalam pengetahuan manusia akan rahasia alam ini, maka semakin dekat
manusia untuk mengenal Pencipta alam ini, yaitu Allah, Sang Khalik. Ketika pertama
manusia mengembangkan teknologi bangunan, manusia telah diberikan contoh
langit yang tinggi, yang luas dan kokoh, yang tidak takut akan runtuh. Begitu pula
ketika manusia mengembangkan teknologi pesawat udara, Allah telah memberikan
contoh bagaimana burung bisa terbang di angkasa dengan stabil, mampu
mempertahankan keseimbangan tanpa takut jatuh, dan lain sebagainya. Karena itu
ketika menerangkan berbagai struktur di alam ini, Allah menyatakan bahwa semua
itu menjadi pelajaran bagi manusia untuk lebih mengenal dan mengangungkan
Allah penciptanya. Hal itu dapat kita pahami dari berbagai ayat Al-Quran,
diantaranya : xsr& tbrYt n<) @/M}$# y#2 Ms)=z n<)ur !
$uK9$# y#2 My n<)ur A$t6g:$# y#x. Mt6R
n<)ur F{$# y#x. Mys j.xs !$yJR) |MRr& e2xB
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia
diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia
ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?. Maka berilah peringatan,
Karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (QS. Al-
Gashiyah : 17-21) 3) Meningkatkan Kualitas Pengabdian Kepada Allah
Manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya. Demikian
dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya: $tBur M)n=yz `g:$# }RM}$#ur
w) br7u9 Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Al-Dzariyat : 56) Seluruh
aktivitas hidup manusia hendaknya diwujudkan sebagai pelaksanaan pengabdian
kepada Allah tersebut. Pengabdian manusia kepada Allah di sini adalah pengabdian
dalam arti luas, yaitu seluruh aktivitas, yang memenuhi kriteria (1) diniatkan untuk
menaati aturan Allah; (2) dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang diberikan
alah, baik dalam bentuk kegiatan yang telah ditentukan tata caranya maupun
dalam bentuk penggalian jenis kegiatan yang bermanfaat yang sejalan dengan nilai-
nilai kebenaran yang ditunjukkan Allah; dan (3) dimaksudkan untuk memperoleh
ridha Allah. Teknologi apabila dirancang dan dimanfaatkan secara benar dalam
konteks tugas pengabdian manusia tersebut, maka teknologi diyakini akan mampu
meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada Allah. Jam misalnya, adalah produk
teknologi yang dimanfaatkan oleh umat Islam setiap hari untukl mengetahui waktu-
waktu shalat sehingga umat Islam dapat menunaikan ibadah shalat tepat pada
waktunya, begitu pula kompas dimanfaatkan untuk mengetahui arah kiblat
sehingga tidak terjadi salah arah dalam shalat. Dalam hal produk teknologi pangan,
dengan banyaknya produk makanan yang beredar di masyarakat, kita mampu
mengetahui komponen-komponen yang dipergunakan sebagai bahan, proses
pembuatannya, sehingga kita dapat mengetahui apakah makanan yang kita
konsumsi itu halal atau haram, begitu pula dengan produk-produk teknologi lainnya.
4) Memperoleh Kesenangan dan Kebahagiaan Hidup
Kemudahan-kemudahan yang diperoleh manusia melalui pemanfaatan teknologi
membuat manusia dapat memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup serta
tetap dalam koridor kesenangan dan kebahagiaan yang halal, yang diridhai Allah.
Allah tidak menghendaki manusia hidup susah, tetapi sebaliknya Allah
menghendaki manusia hidup senang, hidup bahagia. Ketika Allah menempatkan
Adam dan istrinya di bumi, Allah berfirman: /3s9ur F{$# @s)tGB
tFtBur 4n<) &m Artinya: . dan bagi kamu ada tempat kediaman di
bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan (Qs. Al-Baqarah : 36).
Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup yang disediakan oleh Allah
itu, manusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di bumi, sebagaimana
Allah nyatakan: uqd %!$# Yn=y{ N3s9 $B F{$# $YJy_ NO
#uqtG$# n<) !$yJ9$# `g1q|s y7y ;NuqyJy 4 uqdur e@3/
>x L=t Artinya: Dia-lah Alah yang menjadikan segala yang ada di
bumi untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-
Baqarah : 29) 5) Meningkatkan Kemampuan Memanfaatkan Kekayaan
Alam Teknologi meningkatkan kemampuan manusia melakukan eksplorasi kekayaan
alam tersebut secara optimal. Banyak negara, bangsa yang tidak memiliki kekayaan
alam memadai tetapi karena memiliki kemampuan teknologi canggih hidup lebih
sejahtera dibandingkan dengan negara, bangsa yang memiliki kekayaan alam
melimpah tetapi teknologinya tertinggal. Jepang umpamanya, adalah sebuah
negara kecil, yang miskin akan kekayaan alam, tetapi kemajuan teknologinya tinggi,
ia lebih kaya dibandingkan dengan Indonesia yang kekayaannya melimpah tetapi
tertinggal kemajuan teknologinya dibandingkan dengan Jepang. Masih banyak
negara di dunia ini yang kaya seperti Jepang dan yang tertinggal seperti Indonesia.
Eksplorasi kekayaan alam diingatkan oleh Allah agar jangan sampai tak terkontrol
sehingga berubah menjadi eksploitasi alam, yang mengakibatkan kerusakan alam,
terganggunya keseimbangan lingkungan, karena justru akan mengakibatkan
timbulnya malapetaka bagi manusia, seperti banjir, pencemaran lingkungan, ,dan
lain-lain. Dalam firman Allah: tygs $|x9$# hy99$# st79$#ur
$yJ/ Mt6|x. r& $Z9$# Ngs)9 ut/ %!$# (#q=Hx
Ng=ys9 tbq_t Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar) (QS. Ar-Rum : 41). 6) Menumbuhkan Rasa Syukur Kepada
Allah. Bagi orang beriman, sekecil apapun nikmat yang ia dapatkan dari rezeki halal
yang diberikan Allah kepadanya akan melahirkan rasa syukur kepada-Nya sebagai
pemberi nikmat. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang mampu
melipat-gandakan nikmat itu kepadanya, maka rasa syukur kepada-Nya pun juga
akan berlipat ganda. Rasa syukur kepada Allah yang paling ringan adalah
mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin , namun hakikat syukur yang
sebenarnya adalah memanfaatkan nikmat itu secara, benar untuk meningkatkan
ketakwaannya kepada Allah. Karena itu diperlukan tekad, kesungguhan untuk
mewujudkan rasa syukur dalam amal kehidupan secara riil. Allah mengingatkan:
)ur cr's? N3/u s9 O?x6x N3RyV{ ( s9ur
Lnx2 b) 1#xt ts9 Aritnya : Dan (ingatlah juga), tatkala
Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka
Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7) Teknologi membuat
manusia semakin mudah meraih keinginannya, semakin ringan beban hidup yang
harus ditanggung, semakin besar hasil yang bisa diperoleh. Kemudahan,
keringanan, dan kenikmatan itu tidak mustahil membuat manusia semakin lupa
kepada Allah, semakin jauh dari-Nya, apabila tidak disikapi secara cermat dan
diiringi dengan iman yang teguh. Karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi harus
dilandasi oleh iman agar pemanfaatannya terarah untuk meningkatkan kualitas
takwanya kepada Allah SWT.[14] IV. KESIMPULAN Kemajuan teknologi merupakan
sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan
teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan
teknologi memang sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan
manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta
sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Islam merupakan ajaran
agama yang sempurna. Kesempurnaannya dapat tergambar dalam keutuhan inti
ajarannya. Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan tanggung jawab moral para
ilmuwan dalam rangka menyelamatkan peradaban manusia. Islamisasi tersebut
mencakup integrasi IPTEK (ilmu umum) dengan ilmu agama. Masalah integrasi ini
bukan mengadakan sebuah kenyataan melainkan sebagai sebuah kenyataan dan
sekaligus tuntutan Integrasi Islam dan IPTEK mengharuskan seseorang untuk
memahami prinsip-prinsip umum yang ada padaa kedua bidang ilmu tersebut
sambil mengembangkan keahlian pada bidang ilu tertentu sesuai dengan bakat dan
minat masing-masing. Ilmu bagaikan batang dan dahan pohon itu yang
mengeluarkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sedangkan
amal ibarat buah dari pohon. Ipteks yang dikembangkan diatas nilai-nilai iman dan
takwa akan menghasilkan amal sholeh bukan kerusakan Islam. V. PENUTUP
Demikian makalah ini penulis buat. Kami menyadari bahwa makalah yang kami
susun jauh dari pada sempurna dan masih banyak kesalahan, untuk itu kami
harapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar dalam
pembuatan Makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Dan semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat kepada kita. Amin. PENULIS AKHMAD MUHLISIN :
https://www.facebook.com/mukhlisin.gooner ELLA IZZATIN NADA :
https://www.facebook.com/ellachaem M. NUR IKHWAN :
https://www.facebook.com/itha.azha Daftar Pustaka Kaelany. Islam dan Aspek-aspek
Kemasyarakatan. Jakarta : PT Bumi Aksara. 2005. Nata, Abuddin, dkk. Integrasi Ilmu
Agama dan Ilmu Umum. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2005. Rohadi dan
Suharsono. Ilmu dan Teknologi dalam Islam Cetakan ke-3. Jakarta : Departemen
Agama RI. 2005. Turmudi, dkk. Islam, Sains dan Teknologi Menggagas Bangunan
Keilmuan Fakultas Sains dan Teknologi Islami Masa Depan. Malang : UIN Maliki Press.
2006. http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-
menghadapi-arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013
http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-perkembangan-sains-dan-teknologi.htm,
diakses pada tanggal 10 Maret 2013
http://koesandi.wordpress.com/2009/08/13/hubungan-iptek-dengan-agama/, diakses
pada tanggal 10 Maret 2013 http://mischanz.wordpress.com/2009/12/16/manfaat-
teknologi-dari-sudut-pandang-islam/, diakses padaa tanggal 10 Maret 2013
http:/www.scribd.com/doc/83019545/pengertian-integras, diakses pada tanggal 17
Maret 2013 [1] http:/www.scribd.com/doc/83019545/pengertian-integras, diakses
pada tanggal 17 Maret 2013 [2] Turmudi, dkk, Islam, Sains dan Teknologi
Menggagas Bangunan Keilmuan Fakultas Sains dan Teknologi Islami Masa Depan,
(Malang : UIN Maliki Press, 2006), hlm. 15 [3] Drs. Kaelany HD, M.A., Islam dan
Aspek-aspek Kemasyarakatan, (jakarta : PT Bumi Aksara, 2005), hlm. 224 [4]
Rohadi dan Suharsono, Ilmu dan Teknologi dalam Islam Cetakan ke-3, (Jakarta :
Departemen Agama RI, 2005), hlm. 56 [5] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., dkk,
Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2005),
hlm. 72-74 [6] http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-
menghadapi-arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013 [7]
http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-menghadapi-
arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013 [8] Prof. Dr. H. Abuddin Nata,
dkk., hlm. 51 [9] http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-perkembangan-sains-
dan-teknologi.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2013 [10]
http://koesandi.wordpress.com/2009/08/13/hubungan-iptek-dengan-agama/, diakses
pada tanggal 10 Maret 2013 [11] http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-
perkembangan-sains-dan-teknologi.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2013 [12]
http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-perkembangan-sains-dan-teknologi.htm,
diakses pada tanggal 10 Maret 2013
[13]http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-
menghadapi-arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013 [14]
http://mischanz.wordpress.com/2009/12/16/manfaat-teknologi-dari-sudut-pandang-
islam/, diakses padaa tanggal 10 Maret 2013

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ
http://kreasihatiikhwan.blogspot.co.id/2013/12/integrasi-iptek-dan-islam.html
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama Islam adalah agama bagi kehidupan umat manusia. Tidak ada pihak
manapun yang mengetahui masalah kebutuhan dasar manusia yang akan me
mbawa keselamatan diri, keluarga, dan masyarakat banyak, kecuali Allah SWT
sebagai Khaliknya. Melalui ketentuan syariat agama Islam, yang berisi berbagai
perintah, larangan dan petunjuk-petunjuk-Nya,
dimaksudkan hanyalah untuk kemaslahatan hidup manusia di dunia dan di
akhiratnya.
Terdapat lima bidang besar kandungan ajaran Islam itu, meliputi : 1) Akidah; 2)
Syariat / Ibadah khash; 3) Muamalah dunyawiyah; 4) Akhlak; dan 5) Ilmu
pengetahuan dan Manajemen. Kelima bidang tersebut dilihat dari aspek studi /
materi ajar tentang agama Islam, bukan dari agama Islam sebagai tuntunan
amaliah dan pembangunan rasa keagamaan umat. Karena setiap seseorang
bertindak berkegiatan, maka ketika itu bangunan aqidahnya, ibadahnya,
akhlaknya perlu menyertainya secara bersamaan. Demikian juga,
makna agama Islam sebagai agama
penyelamat kehidupan umat manusia, adalah dilihat dari himpunan kesatuan a
jaran di atas menjadi satu kesatuan ( kaffah ) dalam pribadi seorang muslim.
Hal itu, artinya bahwa agama Islam berfungsi pada diri penganutnya itu
sebagai panduan dan tuntunan atau hudan li al-
nas ( petunjuk bagi kehidupan manusia ), baik individu atau kolektifnya.
Hal ini di pertimbangkan, oleh karena kehidupan itu sangat komplek, sedangkan
klasifikasi bidang ajaran di
atas, hanya konsumsi bagi pengetahuan agama saja. Karena itu,
orang yang dijanjikan masuk surga,
adalah mereka yang beriman disertai amal salih.
Keimanan disertai kesalihan beramal itu, bila
dilengkapi dengan ilmu pengetahuan, maka pemiliknya akan memperoleh
derajat lebih dari yang lainnya. Di sini pentingnya iman,
ilmu dan amal menyatu pada diri seorang muslim.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apa pengertian muslim ?
2. Apa pengertian kaffah?
3. Bagaimana karakteristik muslim kaffah?
4. Apa bentuk kepribadian muslim yang kaffah?
C. Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah diatas bisa diambil beberapa tujuan masalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian muslim
2. Untuk mengetahui pengertian kaffah
3. Untuk mengetahui karakteristik muslim kaffah
4. Untuk mengetahui bentuk kepribadian muslim yang kaffah

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Muslim
Pengertian muslim dalam arti bahasa adalah orang yang menyerah, yang patuh
dan tunduk, yang menyerahkan. Sedangkan menurut arti istilah adalah orang yang
menyerah dan tunduk patuh lahir dan bathin kepada Allah dan menyerahkan jiwa,
semua miliknya, hidupnya, matinya dan semua amalnya semata-mata kepada
Allah. Dalam surat Luqman dijelaskan yang artinya :
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang
berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang
kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS Luqman, 31: 22)
[1]
B. Pengertian Kaffah
Dengan penuh kasih sayang, Allah menyerukan kepada hamba-Nya yang beriman
untuk senantiasa memeluk dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh,
bukan secara setengah-setengah. Seperti yang difirmankan-Nya:

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam


secara telah keseluruhannya.
Pemahaman secara kaffah dalam pemurnian ilmu sesuai keasliann yang
disampaikan nabi saw adalah juru selamat dunia akherat bagi umat manusia. Tidak
ada penambahan dan penafsiran sesuai kepentingan hajat hidupnya dengan
mengemukakan pendapat sebagai alibi pembenaran ajaran sesatnya.
Pengertian kaffah dalam risalah ini adalah pengamalan atas ilmu seutuhnya
sesuai dengan yang tersurat dalam Al Quran dan hadits nabi saw yang
shoheh. Sebab nabi saw telah memperingatkan dalam sabdanya Wakulla bidatin
dholalah. artinya segala penambahan (diluar sunah nabi saw adalah
sesat.) Sebagai contoh beberapa bentuk penyimpangan oleh sebab kelalaian
manusia, yang menyebabkan dirinya menjadi tidak kaffah, Allah swt bersirman :

Artinya : Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan
dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS Al Baqoroh 204)[2]
Di awal-awal surat al Baqarah, Allah menceritakan tentang karakteristik manusia
yang digolongkan ke dalam tiga kelompok: Mukmin, kafir dan munafik. Maka pada
ayat yang mulia ini, Allah menyerukan kepada mereka yang beriman itu untuk
beristiqamah dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, Islam yang bersih dari
segala bentuk kekufuran dan kemunafikan. Karena segala bentuk kekufuran dan
kemunafikan itu adalah bagian dari amal dan perbuatan syetan yang berusaha
secara terus menerus untuk menggelincirkan manusia ke dalam jurang kehancuran.
Ada beberapa Imam yang memaknai kaffah diantaranya yaitu :
Imam ath Thabari menerangkan makna kaffah di dalam tafsirnya adalah :Perintah
melaksanakan seluruh syariat-syariat-Nya (Islam) dan hukum-hukum hudud-Nya
dengan tidak mengurangi sebagiannya dan mengamalkan sebagiannya. Yang
demikian itu dimaksudkan karena kaffah itu merupakan sifat dari pada Islam,
maka ini dapat ditakwilkan Masuklah kamu dengan menagamalkan seluruh ajaran-
ajaran Islam, dan janganlah kamu mengurangi sedikitpun dari padanya wahai ahli
Iman dengan Muhammad dan dengan apa yang ia datang dengannya. Tafsir ath
Thabari, Jaami al Bayaan fie Tawiil al Quran, 2/337.
Al Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah beliau mengatakan: Tatkala Allah
menyeru orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah
(total). Dia juga mengingatkan mereka dari mengikuti langkah-langkah
syetan. Karena di sana tidak ada kecuali dua arah. Masuk ke dalam Islam secara
kaffah atau mengikuti langkah-langkah syetan, Petunjuk atau kesesatan, Islam atau
jahiliyah,Jalan Allah atau jalan syetan, Petunjuk Allah atau kesesatan syetan.
Dengan ketegasan seperti ini seharusnya seorang muslim mampu mengetahui akan
keberadaannya, sehingga tidak terombang-ambing, tidak ragu-ragu dan tidak
bingung di antara berbagai jalan dan arah.[3]
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan makna ayat yang artinya Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu. Ialah : Masuklah ke dalam ketaatan seluruhnya. Ia menyitir
pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Abul Aliyah, Ikrimah, Rabi bin Anas, As-Suddiy,
Muqatil bin Hayyan, Qatadah, Adh-Dhahhak, berkata mereka bahwa makna ( )
dalam ayat tersebut: Beramallah dengan semua amal & seluruh bentuk kebajikan.
[4]

C. Pengertian dan Pemahaman Islam Kaffah.


Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah Azza wa Jalla
perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum
mu`minin seluruhnya.
Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah Subhanahu
wa Taala yang harus dilaksanakan oleh setiap mukmin, siapapun dia, di manapun
dia, apapun profesinya, di mana pun dia tinggal, di zaman kapan pun dia hidup,
baik dalam sekup besar ataupun kecil, baik pribadi atau pun masyarakat, semua
masuk dalam perintah ini : Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian
kepada Islam secara kaffah (menyeluruh).
Dua ayat dalam surah Al-Baqarah, yang pertama pada ayat ke 208, dan kedua pada
ayat ke-185 merupakan dasar pembahasan kita pada topik ini.
Islam kaffah maknanya adalah Islam secara menyeluruh, dengan seluruh aspeknya,
seluruh sisinya, yang terkait urusan iman, atau terkait dangan dengan akhlak, atau
terkait dengan ibadah, atau terkait dangan muamalah, atau terkait dangan urusan
pribadi, rumah tangga, masyarakat, negara, dan yang lainnya yang sudah diatur
dalam Islam. Ini makna Islam yang kaffah.Namun, sebelum membahas tentang
Islam yang kaffah : apa maknanya dan bagaimana bentuk riil dari Islam yang kaffah
ini? Sebelum kita mengetahui, seperti apa islam yang kaffah tersebut, apakah
sudah pernah ada penerapan Islam secara kaffah? Apakah pernah agama Islam ini,
sejak awal diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Taala hingga hari ini, pernahkah
diterapkan secara kaffah ataukah belum Jawabannya adalah pasti : bahwa Islam
sudah pernah diterapkan secara kaffah. Islam secara kaffah sudah pernah dipahami
dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi para shahabat Nabi
ridwanallahi alahi jamian baik secara zhahir maupun secara bathin.
- Secara zhahir : tampak dalam berbagai amalan mereka, baik dalam urusan
ibadah, akhlak, maupun muamalah.
- Secara bathin : yakni dalam keikhlasan, kebenaran dan kejujuran iman, dan takwa.
Semua itu telah diterapkan para shahabat Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallam di
bawah bimbingan langsung Nabi Shallallahu alaihi wa sallam secara
berkesinambungan dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Ayat demi ayat turun,
surat demi surat turun untuk mereka dengan disampaikan dan diajarkan langsung
oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallam kepada mereka.
Ketika turun ayat tentang ibadah, maka Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallam
langsung mempraktekkan ayat tersebut, yakni mempraktekkan bagaimana cara
beribadah yang dimaukan dalam ayat tersebut.
Ketika turun ayat tentang iman, maka Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallam pun
merinci makna yang terkait dengan iman tersebut.[5]
Kehidupan beragama, atau agama bagi kehidupan, atau hudan li al-nas ( petunjuk
bagi umat manusia / Q.S. Al-Baqarah: 185) terbangun dari satu kesatuan
ajaran / kaffah ( menyeluruh ), Q.S. al-Baqarah : 208. Karena itu, penyampaian
ajaran agama oleh Nabi SAW meliputi dua bentuk:
Pertama, bentuk talim ( pengajaran ); dalam Alquran banyak diungkap
penyampaian ajaran agama melalui talim ini, seperti diungkap dalam Q.S. Al-
Baqarah: 129, dengan tiga tahapan: (bacaan produktif dan responsive),
( proses pendewasaan dan pengembangan sikap/ pengajaran ), ( bersih diri
dari berbuat kurang baik);Q.S. Jumah: 2; dan Q.S. Ali Imran: 164; dan ayat lainnya.
Kedua, bentuk uswah hasanah ( contoh yang baik ), sebagaimana diungkap Q.S. al-
Ahzab : 21 yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Talim(pengajaran) sangat diperlukan, guna antisipasi kemajuan dan perkembangan
kehidupan umat dan pertanggungjawababan keilmuan, sekalipun karakter ilmu
bersifat bayan ( penjelasan ) dan pemikiran; juga ciri ilmu itu detail dan
parsial. Posisi ilmu dalam agama Islam sangat kokoh, menuntut dikuasai oleh setiap
umatnya, sekalipun dalam batas tertentu, karena kemampuannya. Tidak dibenarkan
satu keyakinan dan amal dalam Islam tanpa didukung oleh argument keilmuan
( Q.S. al-Isra : 36 ). Sedangkan uswah hasanah, memiliki karakter konprehenshif,
menyeluruh ( kaffah ); sekalipun empiris, tetapi mengandung muatan spirit yang
besar yang bisa mempengaruhi orang lain.
Q.S.al-Ahzab: 21, di atas mengisyaratkan hal tersebut dengan tegas, bahwa uswah
hasanah itu berhubungan erat dengan harapan pertemuan dengan Allah SWT, hari
akhirat dan banyak ingat kepada Allah SWT (dzikr Allah katsiran). Sekalipun
terbatas, uswah hasanahbisa ada dan dimiliki seseorang selain Rasul SAW,
sekalipun orang tersebut tidak beragama, bila ketiga potensi dasar dirinya berfungsi
secara baik sebagai manusia. Tiga potensi dasar diri itu, meliputi: 5 fungsi indra; 2
fungsi hati ( merasa baik dan buruk, benar dan salah, bahagia dan sedih); dan 1
fungsi nurani (jastifikasi terhadap kebenaran, kebaikan dan kebahagiaan hakiki dan
universal). Ketiganya, dipastikan hidup bersamaan dan saling berhubungan dalam
setiap apa yang dikatakan dan dilakukan seseorang tsb.[6]
D. Karakteristik Muslim Kaffah
Karakteristik alami muslim kaffah adalah penting bagi kesejahteraan manusia,
dengan catatan hal tersebut tidak berlebih-lebihan dan dapat dikontrol.
Kecenderungan untuk membuktikan dirinya memotivasinya untuk mencari sisi yang
terbaik dari dirinya, kepuasan yang dia dapat dari kesadaran akan kualitas yang
baik ia miliki akan memotivasi dirinya untuk berusaha lebih keras untuk mencapai
tujuan yang lebih besar. Tetapi apabila hasrat untuk membuktikan diri ini belebihan
dan lepas kontrol, maka hasrat ini akan menjadi menjijikkan, penyakit berbahaya
yang menjadikan seseorang sombong dan takabur, dia akan meremehkan teman
sejawatnya, walaupun kualitas yang ia miliki jauh di bawah apa yang ia ceritakan
pada orang lain.
Sangat jelas bahwa manusia itu cenderung lalai dan tidak peduli dari pada
mencari apa yang benar, karena lebih gampang terjatuh dari pada bangkit, dan
lebih gampang lalai dari pada mengikuti aturan.Sehingga manusia memerlukan
sebuah pengingat untuk mengingatkan dia setiap dia lupa dan setiap langkahnya
tergelincir dari jalan yang lurus.
Allah SWT tidaklah menurunkan agama Islam dari langit ke tujuh sebagai teori
untuk didiskusikan atau kalimat-kalimat suci yang dihafal dan diucapkan untuk
mencari keberkatan tanpa mengetahui artinya. Allah SWT menurunkan agama ini
untuk mengatur hidup individu, keluarga, dan masyarakat luas. Sebagai rambu-
rambu yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan
kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula
yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan
Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (QS. Al
Maidah 5: 15-16)[7]
Allah mengingatkan kita orang-orang yang beriman agar masuk kedalam Islam
secara sempurna. Sempurna dalam arti kata tidak terikuti langkah-langkah syaitan.
Ada beberapa ciri-ciri orang yang masuk kedalam islamsecara menyeluruh dan
sempurna:
1. Mengerjakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah Swt.
Tidak mau berbohong bukan karena takut pada manusia tapi takut pada
Allah. Mengerjakan shalat, puasa dan berhaji bahkan berbuat baik demi mendapat
keridhoan Allah. Apa yang tiak Allah sukai ditinggalkannya karena takut murka
Allah.
2. Tidak mengharap imbalan dan sanjungan dari manusia.
Bagi manusia, jika kita menguntungkan dia maka dia akan baik pada kita. Tapi jika
kita tidak memberi keuntungan lagi padanya maka dia akan menjadi musuh kita.
Kata Imam Ghazali, Orang-orang yang bersahabat karib tatkala memiliki
kepentingan yang berbeda akan menjadi musuh. Bahkan anak bisa menjadi musuh
orang tuanya.
3. Sangat mengharap balasan dari Allah Swt.
Apapun yang dilakukannya dia selalu bergantung dan meminta pertolongan pada
Allah. Sekecil apapun yang dikerjakannya dia meminta kekuatan pada Allah. Pada
waktu makan dia betul-betul meminta agar apa yang dimakannya akan membuat
dia sehat.Ketika berkendaraan membaca bismillah mengharap keselamatan dari
Allah. Belajar dan berusahapun juga mengharap ridho Allah agar diberi kemudahan
dalam menghadapinya.
4. Sangat takut akan dosa dan azab Allah Swt.
Orang yang mau menahan nafsunya agar tidak tergelincir kedalam dosa. Dia tidak
ingin memakan sesuatu yang berasal dari sumber yang haram. Daging yang
tumbuh dari yang haram, nerakalah tempatnya. Ingatlah jika dewasa nanti
pastikanlah kita bekerja ditempat yang jelas sumber uangnya itu halal.
5. Sangat harap pada buah kebaikan.
Seperti kisah Ashabul Kahfi yang selamat terkurung dari dalam goa karena kebaikan
yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu perbanyaklah amal kebaikan dan
niatkan segala sesuatu itu karena Allah. Semua itu insya Allah tidak sia-sia disisi
Allah.[8]

E. Bentuk Kepribadian Muslim Kaffah


Pengertian kepribadian muslim adalah kepribadian yang menunjukkan tingkah laku
luar, kegiatan-kegiatan jiwa, dan filsafat hidup serta kepercayaan seorang Islam.
Lebih lengkapnya definisi kepribadian muslim itu sendiri ialah kepribadian yang
seluruh aspek-aspeknya baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya,
maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan
penyerahan dirinya kepada-Nya.
Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal
yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Oleh karena itu,
pembentukan kepribadian merupakan suatu proses. Akhir dari perkembangan itu
kalau berlangsung dengan baik akan menghasilkan suatu kepribadian yang
harmonis. Kepribadian itu disebut harmonis kalau segala aspek-aspeknya seimbang,
kalau tenaga-tenaga kerja seimbang pula sesuai dengan kebutuhan.
Teori kepribadian muslim dari para cendekiawan muslim harus dapat
mengungkapkan apa pengertian kepribadian muslim dan tidak perlu menjiplak
sarjana psikologi barat karena mereka berteori yang kreatif tetapi ngawur.Untuk
mengantisipasi teori psikologi barat tersebut, Dr. Fadhil al-Jamaly menggambarkan
kepribadian muslim yang kaffah, yaitu sebagai muslim yang berbudaya dan tanpa
akhir ketinggiannya. Dia hidup dalam lingkungan yang luas tanpa batas ke
dalamnya, dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia mampu menangkap makna ayat
yang menyatakan Aku akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-
Ku di ufuk langit dan didalam dirinya sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
Allah Swt itu benar (Muslim Sajadah :41). Kepribadian muslim seperti digambarkan
di atas mempunyai hubungan erat dalam suatu lingkaran hubungan yang
meliputi : Allah Swt Alam, dan Manusia Dengan membentuk kepribadian muslim
yang kaffah, manusia banyak menggambarkan dirinya dengan bimbingan petunjuk
Ilahi dalam rangka mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi,
dan selalu melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah melakukan pengabdian
kepada-Nya.
Kepribadian yang seperti itu tidak ditemui dalam teori barat. Karena psikologi
barat banyak dipengaruhi oleh filsafat materialistis yang menjadi tujuan hidup.
Kalaupun ada mereka menyebut Tuhan, agama, dan keyakinan akan tetapi
semuanya itu terpisah dari pergaulan dan tata laksana kegiatan duniawi.
Berangkat dari kepribadian muslim yang kaffah, maka kepribadian tersebut
terbagi dua macam, yaitu :
1. Kepribadian kemanusiaan (basyariyah). Kepribadian kemanusiaan dibagi dua
bagian, yakni :
a. Kepribadian individu, yaitu meliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap
dan tingkah laku.
b. Kepribadian ummah, yang meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu
ummah (bangsa / negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah
muslim yang berbeda dengan ummah lainnya.
2. Kepribadian Samawi Yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk
wahyu dalam kitab suci al-Quran, yang antara lain difirmankan oleh Allah Swt
sebagai berikut yang artinya :
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu
menceraikan kamu dari jalannya; yang demikian itu diperintahkan Allah Swt supaya
kamu bertaqwa.[9]
BAB III
KESIMPULAN
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah Azza wa Jalla
perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum
mu`minin seluruhnya.
Dari penjelasan yang sudah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa
membentuk muslim yang kaffah dapat dikatakan mudah dan dapat pula dikatakan
sulit. Mudah disaat muslim tersebut : Mau atau tetap menjalankan perintah Allah
Swt dan menjauhi segala larangan-Nya,Mempunyai kepribadian, watak, sikap yang
baik terhadap sesamanya. Memiliki sifat sosialisasi yang tinggi kepada sesamanya
Memiliki akhlaq yang baik Menjaga keharmonisan, karena secara tidak langsung
keharmonisan memberikan peranan yang banyak di dalam pembentukan muslim
yang kaffah. Pembentukan muslim yang kaffah menjadi sulit disaat semua
muslimnya melenceng dari hal yang disebutkan diatas.

kepribadian muslim yang kaffah terbagi dua macam, yaitu :


1. Kepribadian kemanusiaan (basyariyah). Kepribadian kemanusiaan dibagi dua
bagian, yakni :
a. Kepribadian individu
b. Kepribadian ummah
2. Kepribadian Samawi Yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk
wahyu dalam kitab suci al-Quran

Ada beberapa ciri-ciri orang yang masuk kedalam islam secara menyeluruh dan
sempurna:
1. Mengerjakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah Swt.
2. Tidak mengharap imbalan dan sanjungan dari manusia.
3. Sangat mengharap balasan dari Allah Swt.
4. Sangat takut akan dosa dan azab Allah Swt.
5. Sangat harap pada buah kebaikan.

[1] http://kajianislam.wen.su/kaffah.html

[2] Jamiatus Shalihin Muslimun Kaffah http://muslimunkaffah.com/?p=42


[3] http://kajianislam.wen.su/kaffah.html
[4] http://muslimkaffah.blogspot.com/2007/07/islam-kaffah.html

[5]http://kajiansalafyui.wordpress.com/2009/06/06/kajian-islam-ilmiah-memahami-
dan-mengamalkan-islam-secara-kaffah-solusi-satu-satunya-bagi-umat-islam/

[6] Wa ttp://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-memahami-dan-mengerti-islam-
kaffah-detail-25.htmlAllahu alam bi al- shawab.

[7] http://hbis.wordpress.com/2008/06/28/muslim-kaffah/Muhammad Al Al Hashimi


[8] http://h-zulkifli-imam-said.blogspot.com/2009/02/islam-kaffah.html

[9] Marimba, D. Ahmad. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. 1989. (PT. Al Maarif;
Bandung)
http://datarental.blogspot.com/2008/09/kepribadian-muslim.html

http://amhounkalwaysselalu.blogspot.co.id/2011/12/makalah-muslim-kaffah.html