Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN KASUS PADA KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI DI

RUANG CEMPAKA RUMAH SAKIT JIWA


dr. Radjiman Widiodiningrat Lawang

OLEH:

1. Zulfahmi Hakim (1601032013)


2. Afthon Yazid (1601032008)
3. M. Fahrudin (2160103016)
4. Atrik Purwati (1601032001)
5. Ade Sri W (1601032010)

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2017

i
Kata Pengantar

Puji syukur atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah asuhan keperawatan jiwa
ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya. Shalawat dan salam tercurahkan kepada junjung
Nabi s.a.w yang telah membawa kita dari zaman kedzaliman menjuju zaman yang terang
yakni dinul islam.Terima kasih juga kami berikan kepada :
1. Kepala Ruang Cempaka : Gari. S. Kep
2. Pembimbing Ruang Cempaka : Ratna Farida. S. Kep., Ners
3. Pembimbing Akademik : Ns. Komarudin. S. Kep. Sp. KJ
4. Dan tak lupa pada klien kami di ruang cempaka. Nn. D

Makalah ini bertujuan untuk menambah refrensi dan literature dalam melakukan asuhan
pelayanan khususnya di departemen Jiwa, apa bila di dalam penulisan dan ada kata-kata
yang kurang tepat kritik dan saran guna untuk menyempurnakan makalah ini.

Lawang, 06 febuari 2017


penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata pengantar .................................................................................................................ii


Daftar isi ............................................................................................................................iii
Halaman Pengesahan .......................................................................................................v
BAB I Pendahuluan ..........................................................................................................1
A. Latar Belakang ........................................................................................................1
B. Tujuan .....................................................................................................................2
C. Manfaat ...................................................................................................................2

BAB II Tinjaun Pustaka ..................................................................................................3


A. Pengertian ...............................................................................................................3
B. Etiologi ....................................................................................................................3
C. Faktor predisposisi ..................................................................................................3
D. faktor presipitasi .....................................................................................................4
E. mekanisme koping dan tatalaksana .........................................................................4
F. Patopsilogi...............................................................................................................5
G. Tanda gejala ............................................................................................................6
H. Diagnosa Keperawatan ...........................................................................................7
I. Rencana Tindakan....................................................................................................7
J. Pelaksanaan keperawatan .......................................................................................10
K. Evaluasi keperawatan..............................................................................................10
L. Strategi Pelaksanaan tindakan keperawatan ...........................................................11

BAB III Tinjauan Kasus .................................................................................................14


A. Pengkajian ..............................................................................................................14
B. Analisa data ............................................................................................................24
C. Daftar diagnosa .......................................................................................................25
D. Pohon masalah ........................................................................................................26
E. Daftar diagnosa prioritas ........................................................................................27
F. Perencanaan ............................................................................................................28
G. Implementasi dan evaluasi ......................................................................................31
H. Strategi Pelaksanaan tindakan keperawatan ...........................................................33
I. Analisa proses inteeraksi ........................................................................................37

BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................................43


A. Pembahasan ............................................................................................................43

BAB V Penutup .................................................................................................................47


A. Kesimpulan .............................................................................................................47
B. Saran .......................................................................................................................47
Daftar Pustaka ..................................................................................................................48

iii
PERSETUJUAN

Laporan kasus dan asuhan keperawatan Jiwa pada klien Nn. D dengan Risiko Bunuh Diri di
Ruang Cempaka RSJ Dr. Radiman Wediodiningrat Lawang telah di laksanakan dan di setujui
oleh pembimbing.

iv
Lawang, 09 Februari 2017
Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

Ratna Farida. S.Kep., Ns Mad Zaini S. Kep. Sp. Kj


NIP: 19690705 198403 2 001 NID. 0714078705

Kepala Ruangan

Gari Suherlina, S. Kep


NIP: 19670208 198703 2 001

v
vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Istilah yang terakhir ini menjadi topik besar dalam psikatri
kontemporer, karena jumlah yang terlibat dan riset yang mereka buat. Di dunia lebih
dari 1000 tindakat bunuh diri terjadi tiap hari, di Inggris ada lebih dari 3000 kematian
bunuh diri tiap tahun (Ingram, Timbury dan Mowbray, 1993). Di Amerika Serikat,
dilaporkan 25.000 tindakan bunuh diri setiap tahun (Wilson dan Kneisl,1988), dan
merupakan penyebab kematian kesebelas. Rasio kejadian bunuh diri antara pria dan
wanita adalah tiga berbanding satu (Stuart dan Sundden, 1987, hlm. 487). Pada usia
remaja, bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua (Leahey dan Wright, 1987,
hlm.79).
Menurut Prayitno (1983) tindakan bunuh diri di Jakarta 2,3 per 100.000
penduduk. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003
mengungkapkan bahwa 1 juta orang bunuh diri dalam setiap tahunnya atau setiap 40
detik, bunuh diri juga satu dari tiga penyebab utama kematian pada usia 15-34 tahun,
selain karena faktor kecelakaan. Pada laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh
diri daripada wanita, karena laki-laki lebih sering menggunakan alat yang lebih efektif
untuk bunuh diri, antara lain dengan pistol, menggantung diri, atau lompat dari gedung
yang tinggi, sedangkan wanita lebih sering menggunakan zat psikoaktif overdosis atau
racun, namun sekarang mereka lebih sering menggunakan pistol. Selain itu wanita
lebih sering memilih cara menyelamatkan dirinya sendiri atau diselamatkan orang lain.
Percobaan bunuh diri 10 kali lebih sering, peracunan diri sendiri bertanggung
jawab bagi 15% dari pasien medis yang masuk rumah sakit dan pada pasien dibawah
40 tahun menjadi penyebab terbanyak. Masalah ini bersifat emosional, peracunan diri
sendiri secara khusus cenderung membangkitkan respon tak rasional dan agresif dari
perawat dan dokter (Ingram, Timbury dan Mowbray, 1993). Bunuh diri merupakan
kedaruratan psikiatri karena klien berada dalam keadaan stres yang tinggi dan
menggunakan koping yang maladaptif. Situasi gawat pada bunuh diri adalah saat ide
bunuh diri timbul secara berulang tanpa rencana yang spesipik untuk bunuh diri.

B. Masalah
1. Apakah pengertian bunuh diri ?
2. Apakah etiologi bunuh diri ?
3. Apakah faktor predisposisi dan faktor presipitasi bunuh diri ?
1
4. Apa saja manifestasi klinis klien resiko bunuh diri ?
5. Bagaimana asuhan keperawatan klien resiko bunuh diri ?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian bunuh diri
2. Mengetahui etiologi bunuh diri
3. Mengetahui predisposisi dan faktor presipitasi bunuh diri
4. Mengetahui manifestasi klinis klien resiko bunuh diri
5. Mengetahui asuhan keperawatan klien resiko bunuh diri

D. Manfaat
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam memberikan informasi
tentang asuhan keperawatan jiwa khususnya masalah perilaku kekerasan.
2. Bagi penulis
Dapat menambah wawasan penulis tentang asuhan keperawatan jiwa mengenai
masalah perilaku kekerasan dan dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh
dibangku kuliah serta pengalaman nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan jiwa pada pasien dengan masalah perilaku kekerasa
3. Bagi instusi pelayanan
Meningkatkan mutu pelayanan dan mengupdate refrensi asuhan keperawata

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk memecahkan
masalah yang dihadapi (Captain, 2008).
Menciderai diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terakhir dari individu
untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008).
Perilaku destruktif diri yaitu setiap aktivitas yang tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian. Perilaku desttruktif diri langsung mencakup aktivitas bunuh diri. Niatnya adalah
kematian, dan individu menyadari hal ini sebagai hasil yang diinginkan. Perilaku
destruktif diri tak langsung termasuk tiap aktivitas kesejahteraan fisik individu dan dapat
mengarah kepada kematian. Orang tersebut tidak menyadari tentang potensial terjadi pada
kematian akibat perilakunya dan biasanya menyangkal apabila dikonfrontasi (Stuart &
Sundeen, 2006). Menurut Shives (2008) mengemukakan rentang harapan putus harapan
merupakan rentang adaptifmaladaptif.

Adaftif Maldaftif

Peningkatan Pengambilan Perilaku Pencederaan diri Bunuh diri


hunuh diri resiko yang distruktif diri
meningkatkan langsung
pertumbuhan

Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh normanorma sosial dan
kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon
yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh
norma-norma sosial dan budaya setempat.
Respon maladaptif antara lain:

1. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis.


Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah,
karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang bermanfaat sudah tidak

3
berguna lagi, tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada
yang membantu.
2. Kehilangan, ragu-ragu
3. Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan merasa gagal
dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya: kehilangan pekerjaan dan
kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri
yang semuanya dapat berakhir dengan bunuh diri.
a. Depresi
Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan
kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke luar
dari keadaan depresi berat.
b. Bunuh diri
Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengkahiri
kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk memecahkan
masalah yang dihadapi (Laraia, 2005).

B. Etiologi
Banyak penyebab tentang alasan seseorang melakukan bunuh diri:
1. Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
2. Perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan
3. Interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti.
4. Perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
5. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

C. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart Gw & Laraia (2005), faktor predisposisi bunuh diri antara lain:
1. Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,
mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat
individu beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan zat, dan
skizofrenia.
a. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh diri
adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi.
b. Lingkungan psikososial
Seseorang yang baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian, kehilangan
yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
c. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko
penting untuk prilaku destruktif.
d. Faktor biokimia
4
Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik
menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri.

D. Faktor Presipitasi
Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah:
1. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal
melakukan hubungan yang berarti.
2. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
3. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusan.

E. Mekanisme koping dan tata laksana


Mekanisme koping adalah segala sesuatu yang diarahkan untuk menanggulangi
stress. Usaha ini dapat berorientasi dan meliputi usaha pemecahan masalah langsung. Dari
sudut kedokteran dapat di kemukaakan bahwa setidak-setidaknya orang yang akan
melakukan bunuh diri egoistic atau anomic berada dalam keadaan patologis. Mereka
semua sedang mengalami gangguan fungsi mental yang bervariasi dari fungsi yang ringan
dan berat. Pencegahan bunuh diri altruistic boleh dikatakan tidak mungkin kecuali bila
kebudayaan dan norma-norma masyarakat diubah. Sedangkan tata laksana pada
pertolongan pertama biasanya di lakukan secara darurat atau dikamar pertolongan di RS,
dibagian penyakit dalam atau bagian bedah. Dilakukan pengobatan terhadap luka-luka
atau keadaan keracutnan, kesadaran penderita tidak selalu menentukan urgensi suatu
tindakan medis. Penentuan perawatan tidak tergantungpada factor social tetapi
berhubungan erat dengan criteria yang mencerminkan besarnya bunuh. Tidak ada
hubungan beratnya badaniyah dengan psikologik.
F. Patopsikologi
Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya. Orang yang siap membunuh
diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai
rencana spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya. Prilaku bunuh diri biasanya
dibagi menjadi 3 kategori:
1. Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk
bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambevalensi seseorang tentang kematian
kurangnya respon positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk
melakukan tindakan bunuh diri.
5
2. Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat
mengarah pada kematian jika tidak dicegah.
3. Bunuh diri
Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan. Orang yang
melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada
mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya. Percobaan bunuh
diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat akibat suatu
masalah yang menjatuhkan harga dirinya ( Stuart & Sundeen, 2006).
Gambar: Proses bunuh diri

(Efek) Bunuh diri

(Core problem) Risiko bunuh diri

Isolasi sosial

(Causa) Harga diri rendah kronik

(Stuart sudden)

Sumber : Deden, Dermawan (2013), Direja, Ade Herman Surya (2011), Stuart, G.W &
Sundeen, S.J. (2007), Yusuf dkk. (2015).

G. Tanda dan Gejala


Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat
rencana yang spesifik d apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut
adalah: keputusasaan, celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna, alam
perasaan depresi, agitasi dan gelisah, insomnia yang menetap, penurunan BB, berbicara
lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial. Adapun petunjuk psikiatrik anatara
lain: upaya bunuh diri sebelumnya, kelainan afektif, alkoholisme dan penyalahgunaan
obat, kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja, dimensia dini/ status kekacauan
mental pada lansia. Sedangkan riwayat psikososial adalah: baru berpisah,
bercerai/kehilangan, hidup sendiri, tidak bekerja, perubahan/ kehilangan pekerjaan baru

6
dialami, faktor-faktor kepribadian: implisit, agresif, rasa bermusuhan, kegiatan kognitif
dan negatif, keputusasaan, harga diri rendah, batasan/gangguan kepribadian antisosial.

H. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku percobaan bunuh diri:
1. Resiko bunuh diri.
2. Harga diri rendah
3. Koping yang inefektif.

I. Rencana Tindakan Keperawatan


1. Diagnosa keperawatan Resiko bunuh diri
Tujuan umum: Klien tidak melakukan tindakan bunuh diri dan mengungkapkan
kepada seseorang yang dipercaya apabila ada masalah.
Tujuan khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan menerapakan prinsip
komunikasi terapetik.
1) Sapa klien dengan ramah dan sopan.
2) Perkenalkan diri dengan sopan
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang diuskai klien.
4) Juluskan tujuan pertemuan
5) Jujur dan menepati janji.
6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7) Beri perhatian kepda klien.

b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab bunuh diri


1) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
2) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda resiko bunuh diri
3) Anjurkan klien mengungkapkan perasaan jengkel.
4) Observasi tanda-tanda resiko bunuh diri.
5) Menyimpulkan bersama sama klien resiko bunuh diri yang dialami.
c. Klien dapat mengidentifikasi resiko bunuh diri yang biasa dilakukan.
1) Menganjurkan percobaan bunuh diri yang biasa dilakukan.
2) Berbicara dengan klien apakah cara yang dilakukan salah.
d. Klien dapat mengidentifikasi akibat resiko bunuh diri.
1) Bicarakan akibat dan kerugian dari resiko bunuh diri.
7
2) Menyimpulkan bersama klien akibat dari resiko bunuh diri.
e. Klien dapat mengidentifikasi cara berespon resiko bunuh diri.
Diskusikan dengan klien apakah klien mau mempelajari cara yang sehat untuk
menghadapi masalah.
f. Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol tindakan resiko bunuh diri.
1) Bantu klien untuk mengatasi masalah.
2) Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang dipilih.
g. Klien dapat mengontrol tindakan bunuh diri dengan cara spiritual.
Menganjurkan klien untuk berdoa dan sholat.
h. Klien dapat menggunakan obat secara benar.
1) Jelaskan cara minum obat dengan klien.
2) Diskusikan manfaat minum obat.
i. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol tindakan bunuh diri.
1) Identifikasi keluarga merawat klien.
2) Jelaskan cara merawat klien.
j. Klien mendapat perlindungan lingkungan untuk tidak melakukan tindakan bunuh
diri.
Lindungi klien untuk tidak melakukan bunuh diri.

2. Keperawatan Harga diri rendah


Tujuan umum: Klien dapat berhubungan dengan lain secara optimal untuk
mengungkapkan sesuatu yang dia rasakan pada orang yang dipercaya.
Tujuan khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Bina hubungan saling percaya
dengan menerapkan prinsip komunikasi terapetik.
1) Sapa klien dengan ramah secara verbal dan non verbal.
2) Perkenalkan diri dengan sopan.
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
4) Jelaskan tujuan pertemuan.
5) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
6) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
1) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2) Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.
3) Utamakan memberi pujian yang realistik.

8
c. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
1) Diskusikan penggunaannya.kemampuan yang masih dapat digunakan.
2) Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan
3. Diagnosa keperawatan koping yang tak efektif
Tujuan umum: Klien dapat memilih koping yang efektif agar tidak melakukan bunuh
diri.
Tujuan khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan menerapakan prinsip
komunikasi terapetik.
1) Sapa klien dengan ramah dan sopan.
2) Perkenalkan diri dengan sopan,
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
4) Jelaskan tujuan pertemuan.
5) Jujur dan menepati janji.
6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7) Beri perhatian kepada klien.
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab bunuh diri
1) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
2) Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan kesal.

c. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda resiko bunuh diri.


1) Anjurkan klien mengungkapkan perasaan jengkel.
2) Observasi tanda-tanda resiko bunuh diri.
3) Menyimpulkan bersama sama klien resiko bunuh diri yang dialami.
d. Klien dapat mengidentivikasi resiko binuh diri yang biasa dilakukan.
1) Menganjurkan percobaan bunuh diri yang biasa dilakukan.
2) Berbicara dengan klien apakah cara yang dilakukan salah.
e. Klien dapat mengidentivikasi akibat resiko bunuh diri.
1) Bicarakan akibat dan kerugian dari resiko bunuh diri.
2) Menyimpulkan bersama klien akibat dari resiko bunuh diri.
f. Klien dapat mengidentivikasi cara berespon resiko bunuh diri.
Diskusikan dengan klien apakah klien mau mempelajari cara yang sehat untuk
menghadapi masalah.
g. Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol tindakan resiko bunuh diri.
1) Bantu klien untuk mengatasi masalah.

9
2) Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang dilih.
h. Klien dapat mengontrol tindakan bunuh diri dengan cara spiritual.
Menganjurkan klien untuk berdoa dan sholat.
i. Klien dapat menggunakan obat secara benar.
1) Jelaskan cara minum obat dengan klien.
2) Diskusikan manfaat minum obat.
j. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol tindakan bunuh diri.
1) Identifikasi keluarga merawat klien.
2) Jelaskan cara merawat klien.
k. Klien mendapat perlindungan lingkungan untuk tidak melakukan tindakan bunuh
diri.
Lindungi klien untuk tidak melakukan bunuh diri (Stuart , 2009).

J. Pelaksanaan
Tindakan keperawatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan rencana keperawatan
yang telah disusun. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan, perawat
perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dengan
kebutuhannya saat ini (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri, apakah
mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang
akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah aman bagi klien, jika aman maka tindakan
keperawatan boleh dilaksanakan.

K. Evaluasi
1. Ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah berkurang dalam sifat,
jumlah asal atau waktu.
2. Klien menggunakan koping yang adaptif.
3. Klien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri.
4. Prilaku klien menunjukan kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi dan
kesejahteraan sosial.

10
L. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN RISIKO
BUNUH DIRI
(Pertemuan I)

FASE ORIENTASI
1. Salam
2. Evaluasi perasaan/masalah/keluhan utama
3. Validasi kemampuan klien
4. Kontrak waktu dan tempat
5. Topik/tindakan yang akan dilakukan
6. Tujuan pertemuan

FASE KERJA

11
1. Mengidentifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri: isarat, ancaman, percobaan
tanda, gejala, penyebab dan akibat dari resiko bunuh diri (jika percobaan segera rujuk)
2. Mengidentifikasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya (lingkungan aman
untuk pasien)
3. Menjelaskan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek
positif diri sendiri,
4. Melatih klien cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek
positif diri sendiri,
5. Melatih klien afirmasi/berpikir aspek positif yang dimiliki
6. Melatih klien memasukan latihan mengendalikan dengan membuat daftar aspek
positif diri dan latihan afirmasi positif ke dalam jadwal kegiatan harian klien.

Fase Terminasi
1. Evaluasi perasaan (subyektif)
2. Evaluasi kemampuan klien (obyektif)
3. Rencana latihan klien pasien
- Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
diri sendiri 2x/hari
- Latihan afirmasi/berpikir aspek positif yang dimiliki 2x /hari
4. Rencana tindakan keperawatan lanjut
- Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat
daftar aspek positif keluarga dan lingkungan,
- Latihan afirmasi/berpikir aspek positif keluarga dan lingkungan

Pertemuam II
FASE ORIENTASI
1. Salam
2. Evaluasi perasaan/ masalah yang dirasakan
3. Kontrak waktu dan tempat tempat
4. Evaluasi tanda dan gejala resiko bunuh diri
5. Validasi kemampuan klien berpikir positif tentang diri sendiri, beri pujian
6. Topik/ tindakan yang akan dilakukan
7. Tujuan pertemuan

FASE KERJA
1. Menjelaskan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
keluarga dan lingkungan
2. Melatih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
keluarga dan lingkungan,
3. Melatih afirmasi/berpikir aspek positif keluarga dan lingkungan
12
4. Melatih klien memasukan latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri:
membuat daftar aspek positif keluarga dan lingkungan, dan melatih afirmasi/ berpikir
aspek positif keluarga dan lingkungan ke dalam jadwal kegiatan harian klien.

FASE TERMINASI
1. Evaluasi perasaan (subyektif)
2. Evaluasi kemampuan klien (obyektif)
3. Rencana latihan klien pasien
- Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
diri sendiri 2x/hari
- Latihan afirmasi/berpikir aspek positif yang dimiliki 2x /hari
- Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
keluarga dan lingkungan, 2x /hari
- Latih afirmasi/berpikir aspek positif keluarga dan lingkungan 2 x /hari
4. Rencana tindakan keperawatan lanjut
- Latih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap (setahap demi
setahap)
- Latih klien memasukan latihan cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara
bertahap (setahap demi setahap)

Pertemuam III
FASE ORIENTASI
1. Salam
2. Evaluasi perasaan dan masalah yang diraakan
3. Kontrak waktu dan tempat
4. Evaluasi tanda dan gejala resiko bunuh diri
5. Validasi kemampuan klien valuasi kegiatan berpikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan. Beri pujian
6. Topik/tindakan yang akan dilakukan
7. Tujuan pertemuan

FASE KERJA
1. Bersama klien mendiskusikan harapan dan masa depan
2. Bersama klien mendiskusikan cara mencapai harapan dan masa depan
3. Menjelaskan cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap (setahap demi
setahap)
4. Melatih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap (setahap demi
setahap)

13
5. Melatih klien memasukan latihan cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara
bertahap (setahap demi setahap)

FASE TERMINASI
1. Evaluasi perasaan (subyektif)
2. Evaluasi kemampuan klien (obyektif)
3. Rencana latihan klien pasien
- Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar
aspek positif diri sendiri 2x/hari
- Latihan afirmasi/berpikir aspek positif yang dimiliki 2x /hari
- Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar
aspek positif keluarga dan lingkungan, 2x /hari
- Latih afirmasi/berpikir aspek positif keluarga dan lingkungan 2 x /hari
- Latih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap
(setahap demi setahap)
4. Rencana tindakan keperawatan lanjut
BAB III
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Tanggal MRS : 29-01-2017 / 22.00


Tanggal Di rawat di Ruangan : 30-01-2017
Tanggal Pengkajian : 31-01-2017
Ruang rawat : Cempaka

A. Pengkajian :
1. Identitas klien
Nama : Nn. D
Umur : 22 tahun
Alamat : Tulungagung
Pendidikan : SMA/mahasiswi
Agama : Kristen Protestan
Status : Belum menikah
Pekerjaan : Guru TK
Jenis Kelamin : Perempuan
No. CM : 0807xx

2. Alasan masuk
1. data Primer
Klien mengatakan saya di rawat di RSJ atas keinganan diri saya sendiri, karena saya
merasa ada gangguan pada diri saya, saya ingin tau hasil EKG dan ingin konsul
dengan dokter yang menangani saya.
14
2. Data Sekunder
Pasien kambuh 5 hari lalu, panas 3 hari yang lalu kemudian marah-marah tanpa sebab,
klien sendiri minta di bawa ke RSJ Opname RSJ Jiwa Lawang.
3. Keluhan Utama
Nyeri dada seperti di tusuk-tusuk

3. Riwayat Penyakit sekarang Faktor (Faktor presipitasi)


Menurut klien saya selalu berfikir untuk melakukan bunuh diri setiap detik ketika saya
mengalami depresi, saya depresi biasanya pada saaat saya kelelahan dan PMS. adapun
upaya yang sudah saya lakukan selama ini dengan rutin kontrol dan minum obat namu
hasil belum begitu memuaskan.

4. Riwayat penyakit dahulu ( Faktor predisposisi)


(Ya/ tidak) : klien menagatakan saya mulai mekediri dan berobat ngalami gangguan jiwa
pada tanggal 08 april 2008 dengan keluhan paranoid dan axiety, setelah itu masu rumah
sakit Baptis inap selama 2 tahun , pada tahun 2010 awal di periksa dan rawat jalan oleh
salah 1 mantri dari RSJ lawang, namun kondisi semakin parah. Pada 10 mei 2010 di riwat
inaap sampai 24 mei 2010 di RSJ lawang.

5. Faktor penyebab / pendukung


a. Riwayat Trauma
1. aniaya fisik ( tidak ada)
2. Aniaya Seksual (tidak ada)
3. penolakan ( 6 tahun pelaku teman SD korban, pasien saksi teman dan guru SD)
4. Kekerasan dalam keluarga (tidak ada)
5. Tindakan kriminal (tidak ada)
Klien mengatakan saya lahir di ponorogo, kemudian bapak pada tahun 1999 di
pindah tugaskan dinas di tulung agug, saya berinteraksi dengan teman-teman baru
namun tdak bisa menerima saya dengan baik karena saya merasa di kucilkan
Diagnosa Keperawatan : Respon pasien trauma : penolakan
b. pernah melakukan percobaan upaya / percobaan/ bunuh diri
c. pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan (peristiwa kegagalan, kematian,
perpisahan)
klien mengatakan saya merasa kehilangan atas meninggalnya kakek tersayang saya
dan 3 sahabat terdekat saya, karena merekalah yang lebih memahami kondisi saya saat
itu.
d. pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
ya klien menagatakan saya pernah mengalami sakit typus.
e. Riwayat NAPZA
klien mengatakan tidak pernah menggunakan NAPZA.

6. Pemeriksaan fisik:
1. Tanda-tanda vital
15
Kondisi umum kesehatan badan : baik
Tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 88 x/menit, suhu 36,5 0 C, pernapasan 17 x/menit
2. Ukuran
Berat badan 65 kg, tinggi badan 166 cm
3. Keluhan fisik
Tidak ada keluhan fisik
4. Pemeriksaan fisik
Dari hasil pemeriksaan fisik pada klien tidak didapatkan kelainan
Masalah Keperawatan:-

7. Psikososial
Genogram

2
2

Keterangan :

: Laki-Laki : Orang yang tinggal serumah

: Perempuan : Klien

2 : Umur 22 tahun : Meninggal


2
: Meninggal

: Perkawinan

Jelaskan :
Klien tinggal satu rumah bersama bapak, ibu dan kakak pertama, klien merupakan anak ke
tiga dari 3 bersaudara. Komunikasi antar anggota keluarga baik, pengambilan keputusan
dalam keluarga dilakukan oleh bapak. Pola asuh dalam keluarga terhadap klien dan anggota
keluarga lainnya baik sesuai dengan kondisi dan keadaan.
1. Konsep diri
a. Citra diri
Klien mengatakan saya suka semua bagian tubuh saya salah satunya rambut,
kecuali kaki saya dan tangan karena karena kaki saya besar sehingga terlihat
kurang tampil cantik pada tangan saya tidak suka karena banyak bulunya.
Diagnosa keperawatan : Gangguan Konsep diri : Citra tubuh.

16
b. Identitas diri
- status klien sebelum di riwayat di RSJ lawang sebagai Guru TK dan mahasiswa
-Kepuasan klien terhadap posisinya di tempat kerja, kelompok dan keluarga
cukup baik, namun ada sebagian di lingkungan masyarakat yang mengucilkan
pada saat bersekolah
- klien merasa tidak puas karena merasa tomboy
c. Peran diri
- peran pasien dalam keluarga yaitu membersihkan rumah, masak nyuci dll.
dalam kelompok yaitu mengikuti
d. Ideal diri
- harapan terhadap tubuh ingin kurus kaki tidak nampak besar dan bulu pada
bagian tangan sedikit, perab dalam pekerjaan yang melakukan dengan baik,
dan masih belum ingin menikah.
- harapan klien dengan lingkungan agar dapat menerima saya dengan baik.
- harapan klien terhadap penyakitnya bisa pulih dan lekas sembuh
e. Harga diri
- hubungan klien dengan orang lain sebagian baik, namun ada sebagian yang
mengucilkan saya karena bentuk tubuh pada kaki saya besar dan tangan
yang banyak bulunya, adapun mengenai saya yang tomboy.
- penilaian orang lain terhadap diri saya sebagian baik bisa menerima bahkan
memberikan motivasi, namun sebagian juga ada yang tidak.
Masalah Keperawatan: Gangguan konsep diri: harga diri rendah

2. Hubungan Sosial
a. Orang yang paling berarti/terdekat
- Orang terdekat klien adalah bapak, sahabat, bu de, kakak-kakak dan
pendeta.
- kelompok organisasi yang diikuti yakni organisasi gereja dan organisasi
bisnis, adapun mengikuti kelompok sakitnya (Bipolar Care
Indonesia/HID/KPSI)
- klien terlibat dalam kelompok sebagai penanggung jawab
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat
- kelompok yang diikuti yaitu organisasi gereja dan organisasi bisnis, adapun
mengikuti kelompok sakitnya (Bipolar Care Indonesia/HID/KPSI)
- klien terlibat dalam kelompok sebagai penanggung jawab.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien tidak memiliki hambatan dalam berhubungan dengan orang lain

3. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
- Klien beragama kristen dan rutin dalam mengikuti ibadah di gereja, klien
mengatakan bahwa tuhannya adalah Yesus.
- pandangan saya mengenai penyakit saya bisa disembuhkan, hanya bisa
berdoa dan tabah.
- pandangan masyarakat sebagian dapat menerima.

17
b. Kegiatan ibadah
Klien rutin melakukan kegiatan ibadah di gereja pendapat klien tentang ibadah
sangat di perlukan dan sangat menenangkan
Masalah Keperawatan: -

8. Status mental
1. Penampilan (penampilan usia, cara berpakaian, kebersihan)
penggunaan pakaian sesuai dengan usia dan dapat berpakaian dengan baik, kancing
terpasang, kebersihan dalam berpakaian pasien terlihat bersih, memakai sandal japit.
Masalah Keperawatan: -
2. Pembicaraan (Frekuensi, Volume, Jumlah, Karakter)
Cara berbicara agak cepat, tidak stabil kadang-kadang keras tetapi tiba-tiba hilang,
karakter mudah di mengerti
Masalah Keperawatan: -
3. Aktivitas motoric/psikomotor
Kelambatan:
Klien tidak mengalami kelambatan dalam aktivitas motorik.

Peningkatan:
klien mengalami hiperkinesia/hiperaktivitas yaitu gerakan/aktivitas yang berlebihan,
klien juga mengalami tremor terlihat pada jari-jari tangannya gemetaran.
Masalah Keperawatan: -

4. Afek dan emosi


a. Afek
klien terkadang masih labil dalam afeknya yaitu terkadang mengalami euforia
yaitu berlebih ketika senang dan mengalami depresi yang tidak sewajarnya
ketika kelelahan dan PMS sehingga terkadang ada pikiran untuk melakukan
bunuh diri.
Masalah Keperawatan: Risiko Bunuh Diri
b. Alam perasaan
mood pada klien masih labil/berubahubah terkadang tiba-tiba depresi, tiba-tiba
juga euforia, namun masih dalam kondisi normal mood klien juga normal, klien
depresi biasanya pada saat kelelahan dan PMS, euforia pada saat dalam kondisi
senang namun secara berlebihan/tidak wajar
Masalah Keperawatan:
Kerusakan interaksi social
Kerusakan komunikasi verbal

5. Interaksi selama wawancara


Interaksi selama wawancara klien kooperatif
Masalah Keperawatan: -

6. Persepsi-sensori
Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori
Masalah Keperawatan: -

18
7. Proses pikir
a. Arus pikir
Arus piker klien koheren, pada saat wawancara dengan pasien kata-katanya
mudah difamami
b. Bentuk pikir
Non realistik karena dalam berbicara yang selalu diungkapkan klien keinginan
untuk melakukan bunuh diri
c. Isi pikir
pada isi pikir klien mengalami obsesif yaitu isi pikirn yang telah muncul/kokoh,
fantasi yaitu tentang isi kejadian/keadaan yang diharapkan sebagai hal yang
tidak nyata sebagai pelarian terhadap keinginan yang tidak dapat terpenuhi dan
isi piki: pikiran rendah dirir
Masalah Keperawatan: Risiko bunuh diri

8. Tingkat kesadaran
Composmentis berubah meninggi (banyak ngomong dan tertawa).
Masalah Keperawatan: -

9. Memori
Gangguan daya ingat jangka pendek, pada memori klien hanya mengalami gangguan
daya ingat pendek (kurun waktu 10 detik 15 menit)
Masalah Keperawatan: -

10. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Kemampuan berhitung dan konsentrasi masih baik, baik hitungan sederhana seperti 1
+ 7 maupun hitungan komplek seperti menghitung usia, jarak tempuh dan waktu
Masalah Keperawatan: -

11. Kemampuan penilaian


klien mengalami kemampuan penilaian dengan gangguan ringan karena ia tetap
dapat mengambil keputusan secara sederhana dengan bantuan orang lain seperti ia
dapat memilih mandi dulu sebelum makan/tidur.
Masalah Keperawatan: -

12. Daya tilik


klien tidak mengalami gangguan pada masalah daya tilik diri
Masalah Keperawatan: -

9. Kebutuhan perencanaan pulang


1. Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
Klien sudah mampu dalam memenuhi perawatan kesehatan, trasnportasi, tempat
tinggal, dan keuangan yang di butuhkan.
Masalah Keperawatan: -

2. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)


a. Perawatan diri
1) Mandi: klien mandi 2x sehari

19
2) Berpakaian, berhias dan berdandan:
klien dapat berpakaian, berhias dan dandan secara mandiri sesuai dengan
yang seharusnya.
3) Makan:
klien makan 3xsehari secara mandiri dan selalu habis 1 porsi setiap kali
makan, klien juga selalu mencuci piring dan gelas secara mandiri setelah
selesai makan
4) Toileting (BAB, BAK)
klien BAB dan BAK secara mandiri di kamar mandi, klien juga dapat
membersihkan kotorannya secara mandiri di kamar mandi
Masalah Keperawatan: -
b. Nutrisi
frekuensi makan klien setiap harinya yaitu 3x dalam sehari dengan 1 porsi habis
di setiap sekali makan, nafsu makan klien baik, karena makan selalu habis dan
berat badan klien saat ini 77,5 kg.
Masalah Keperawatan: -
c. Tidur
1) Istirahat dan tidur:
tidur siang, lama: o jam s/d jam
tidur malam, lama: 2 jam s/d 3 jam
aktifitas sebelum/sesudah tidur: membaca buku, mandi, senam
jelaskan:
klien sulit tidur terutama disaat malam hari pada saat waktu tidur, dalam
kondisi manik, jika normal tidur seperti biasa, namun jika depresi tidur
terus.
2) Gangguan tidur:
insomnia dan hipersomnia
klien mengatakan sulit tidur pada malam hari klien mengalami insomnia
dan hipersomnia yang pada saat ingin tidur biasanya kakinya selalu
bergerak-gerak/gelisah.
Masalah Keperawatan: Gangguan Pola Tidur

3. Kemampuan lain-lain klien adalah berikut ini


mengantisipasi kebutuhan hidup: dengan berjualan, berbisnis dan sebagai guru/ guru
privat.
membuat keputusan berdasarkan keinginannya: berdasarkan mood karena masih
labil.
mengatur penggunaan obat dan melakukan pemeriksaan kesehatannya sendiri: rutin
melaksanakan apa yang diresepkan dokter dan melakukan pemeriksaan kesehatnnya
sendiri secara rutin.
Masalah Keperawatan: Ketidakefektifan penatalaksanaan regiment teraphy
4. Sistem pendukung

20
Klien tidak memiliki system pendukung yang kuat, utamanya support system
(keluarga) tidak pernah dating ke Rumah sakit. Klien mengatakan, Ibu yang
merawatku sudah meninggal dunia.
Masalah Keperawatan: Koping keluarga tidak efektif
5. Apakah klien menikmati saat bekerja, kegiatan produktif atau hobi?
Selama ini klien tidak pernah melakukan kegiatan yang produktif, klien sering
melamun dan berbicara bisik-bisik sendirian, suka tertawa dan tampak ceria.
Masalah keperawatan: -

10. MEKANISME KOPING


Adaptif Maladaptif
Bicara dengan orang lain X Minum alkohol
Reaksi lambat/ berlebihan saat
Mampu menyelesaikan masalah
depresi
Teknik relaksasi Bekerja berlebihan saat manik
Aktivitas konstruktif Menghindar saat depresi
Olahraga Mencederai diri saat depresi

11. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


1. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifiknya
Jelaskan: sering bersih tegang jika berbeda pendapat
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya
Jelaskan: tidak ada masalah
3. Masalah dengan pendidikan, spesifiknya
Jelaskan: tidak dapat masuk sekolah dengan rutin
4. Masalah dengan pekerjaan, spesifiknya
Jelaskan: tidak bisa melaksanakan dan mengelola dengan rutin

5. Masalah dengan perumahan, spesifiknya


Jelaskan: ingin pergi dari rumah karena tidak nyaman dengan perlakuan yang ada
dirumah, terutama dengan ibu dan kakak perempuannya
6. Masalah dengan ekonomi, spesifiknya
Jelaskan: punya hutang sebesar 6 juta karena tidak dapat mengelola bisnisnya
dengan baik
7. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya
Jelaskan: membutuhkan pelayanan yang lebih tepat dan lebih lengkap
8. Masalah lainnya, spesifiknya
Jelaskan: tidak ada
Diagnosa keperawatan: koping individu takefektif

12. ASPEK PENGETAHUAN


Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang kurang
tentang suatu hal?
Bagaimana pengetahuan klien/ keluarga saat ini tentang penyakit/ gangguan jiwa.
Perawatan dan pelaksanaannya faktor yang memperberat masalah (presipitasi), obat-
obatan atau lainnya. Apakah perlu diberikan tambahan pengetahuan yang berkaitan
dengan spesifiknya masalah tersebut?
21
Penyakit/ gangguan jiwa penatalaksanaan
Sistem pendukung Lain-lain, jelaskan
Faktor presipitasi

Jelaskan:
Klien sudah mengerti mengenai penyakitnya, adapun penatalaksanaannya dan sistem
pendukung yang diperlukan oleh klien adalah berobat rutin, rawat inap.

13. ASPEK MEDIS


1. Diagnosa medis:
F.31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan/sedang

2. Diagnosa Multi Axis


a. Axis 1: Suspek gangguan afektif bipolar
b. Axis 2: Ciri kepribadian spoiled child
c. Axis 3: Tidak di temukan
d. Axis 4: Belum diketahui
e. Axis 5: GAFT Scale 70

3. Terapi Medis
Ativan 1 mg 0-0-2
Stelosis 5g 1-0-1
Sedoguer 20 g 0-0-2
Depacole 25 g 1-0-1
Hemafort 0-1-0

14. Aspek Medis


Diagnosa medik: skizofrenia hebefrenik episode berulang
Terapi medik:
- Tablet TFP 5 mg (Trifluoperazine) 1-0-1
- Tablet Chlorpromazine 100 mg 0-0-1

15. Daftar Masalah Keperawatan


a) Risiko tinggi kekerasan
b) Berduka disfungsional
c) Koping keluarga tidak efektif
d) Kerusakan interaksi social
e) Sindroma deficit perawatan diri
f) Perubahan sensori perceptual (halusinasi pendengaran)
g) Koping individu tidak efektif
h) Perubahan pemelihaan kesehatan
i) Ketidak efektifan penatalaksanaan regiment teraphy
j) Kerusakan komunikasi verbal

22
k) Perubahan pola pikir

B. ANALISA DATA

DIAGNOSA
NO. DATA
KEPERAWATAN
1. DS: Klien mengatakan saya lahir di Ponorogo, Respon pasien trauma:
kemudian pada tahun 1999 bapak dipindah penolakan
tugaskan di Tulungagung, saya berinteraksi
dengan teman-teman baru, namun mereka tidak
menerima saya dengan baik, sehingga saya
merasa dikucilkan.
DO:
- Riwayat trauma: penolakan
Usia: 6 tahun
Pelaku: teman SD
Korban: klien
Saksi: teman SD dan guru SD
2. DS: Klien mengatakan saya selalu berfikir Risiko bunuh diri
untuk melakukan bunuh diri ketika kelelahan dan
PMS.
DO:
- Hiperkinesia
- Tremor
- Mood: depresi+euforia
- Afek: labil
- Isi pikir: obsesif+fantasi+keinginan
bunuh diri
- Bentuk pikir: non realistik
3. DS: Klien mengatakan saya merasa kehilangan Disfungsional berduka
atas meninggalnya kakek tersayang saya, dan 3
sahabat terdekat saya, karena mereka yang lebih
memahamikondisi saya saat itu.
DO: -
4. DS: Klien mengatakan saya tidak suka bagian Gangguan konsep diri:
kaki dan tangan saya besar sehingga kurang citra tubuh
terlihat bagus dan sulit mencari ukuran sepatu,
sedangkan pada tangan banyak ditumbuhi bulu-
bulu halus, sehingga saya merasa kurang percaya
diri.
DO: -
5. DS: Klien mengatakan kepuasan saya sebagai Gangguan konsep diri:
perempuan tidak puas, karena merasa tomboi. identitas
DO:
- Klien terlihat agak tomboy

23
Risiko Bunuh Diri

6. DS: Klien mengatakan ada sebagian yang Gangguan konsep diri:


mengucilkan saya karena bentuk tubuh pada kaki harga diri rendah
saya yang besar dan tangan yang berbulu dan
juga tomboi, adapun sebagian orang menilai saya
kurang baik.
DO:
- Isi pikir: pikiran rendah diri
7. DS: Klien mengatakan sulit tidur terutama pada Gangguan pola tidur
malam hari.
DO:
- Insomnia
- Hipersomnia
- Tidur siang: 0 jam jam
- Tidur malam: 2 jam - 3 jam

C. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Respon pasien trauma: penolakan
2. Risiko bunuh diri
3. Disfungsional berduka
4. Gangguan konsep diri: citra tubuh
5. Gangguan konsep diri: identitas
6. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
7. Gangguan pola tidur

D. POHON MASALAH

.................. effect
Bunuh Diri

..... Core Problem

Gangguan Konsep Diri : ........... Causa


Harga diri rendah, Citra Tubuh

Proses Perubahan Koping individu tidak


memanjang efektif
kakinya besar, tangan ada
Kakek meninggal bulunya
(daridata
sumber: ayah)
primer
E. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko bunuh diri
2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
3. Gangguan konsep diri: citra diri
4. Gangguan konsep diri: identitas
5. Gangguan identitas diri

24
F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI
RENDAH DI UNIT RAWAT INAP RSJ Dr. RADJIMAN WIDIODININGRAT LAWANG
Nama : Nn. D No. CM : 08 07 39
Jenis Kelamin : Perempuan Dx. Medis : F 31.3
Ruang : Cempaka Unit Keswa :
DIAGNOSA PERENCANAAN RENCANA TINDAKAN
TGL RASIONAL
KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI KEPERAWATAN
Risiko bunuh diri TUM :
Pasien tidak
mencederai diri
sendiri

TUK 1 Setelah ... x interaksi,1. Bina hubungan saling percaya, salam


Pasien dapat Pasien menunjukkan terapeutik, ciptakan lingkungan terapeutik.
membina hubungan ekspresi wajah bersahabat,2. Beri kesempatan pasien untuk
saling percaya. menunjukkan rasa senang, mengungkapkan perasaanya.
ada kontak mata, mau
berjabat tangan,mau3. Dengan lembut dan jelaskan pada pasien
menyebutkan nama, mau bahwa perawat akan melindungi pasien
menjawab salam, mau sampai tidak ada keinginan bunuh diri
duduk berdampingan dengan empati.
dengan perawat, mau4. Kaji tanggal dan gejala bunuh diri yang
mengutarakan masalah pernah muncul dan pernah dilakukan
yang dihadapi pasien.

TUK 2 Setelah ... x interaksi, 1. Berikan tempat yang aman pada pasien.
Pasien dapat Pasien dapat perlindungan2. Awasi pasien dengan menemani dan
perlindungan dari dari perilaku bunuh diri menempatkan pasien pada tempat yang
perilaku bunuh diri mudah di awasi.
3. Jangan biarkan pasienmengunci diri

25
dikamarnya / jangan meninggalkan pasien
sendirian
4. Jauhkan pasien dari barang-barang yang
bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti :
tali, bahan bakar minyak / bensin, api, pisau
/ benda tajam lainnya zat yang berbahaya
seperti obat nyamuk dan racun serangga.
5. Selalu adakan pengawasan dan
meningkatkan pengawasan apabila tanda
gejala bunuh diri meningkat.
6. Jangan pernah melonggarkan pengawasan,
walaupun pasien tidak menunjukkan tanda
gejala untuk bunuh diri

TUK 3 Setelah ... x interaksi, 1. Beri kesempatan pasien mengungkapkan


Pasien dapat Pasien dapat perasaanya.
meningkatkan harga meningkatkan harga diri 2. Berikan pujian bila pasien dapat
diri dan kemampuan dan kemampuan mengungkapkan perasaan yang positif.
menyelesaikan menyelesaikan 3. Yakinkan pasien bahwa dirinya penting.
masalahnya masalahnya 4. Bicarakan tentang keadaan yang sepatutnya
disyukuri oleh pasien
5. Rencanakan aktivitas yang dapat pasien
lakukan.
6. Diskusikan dengan pasien cara
menyelesaikan masalahnya.
7. Diskusikan dengan pasien efektifitas
masing-masing cara penyelesaian masalah.
8. Diskusikan dengan pasien cara
menyelesaikan masalah yang lebih baik.

TUK 4 Setelah ... x interaksi, 1. Periksa apakah pasien benar-benar telah


Pasien dapat Pasien dapat meminum obatnya.

26
memanfaatkan obat memanfaatkan obat 2. Diskusikan dengan pasien dan keluarga
dengan baik dengan baik tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping
obat, dan akibat penghentian.
3. Diskusikan perasaan pasien setelah minum
obat
4. Berikan obat dengan perinsip 5 benar dan
observasi setelah makan obat.

TUK 5 Setelah ... x interaksi, 1. Tingkatkan peran serta keluarga dalam


Pasien dapat Pasien dapat dukungan melindungi anggota keluarga yang
dukungan keluarga keluarga dalam mengancam / mencoba bunuh diri
dalam mengendalikan keinginan 2. Jelaskan pada keluarga tentang tanda dan
mengendalikan bunuh dirinya gejala yang umum muncul pada pasien
keinginan bunuh beresiko bunuh diri
dirinya
3. Anjurkan keluarga untuk ikut mengawasi
pasien serta jangan pernah meninggalkan
pasien sendirian
4. Anjurkan keluarga untuk menjauhkan
barang-barang berbahaya disekitar pasien.
5. Diskusikan dengan keluarga agar pasien
tidak sering melamun sendiri.
6. Anjurkan keluarga untuk mencari bantuan
kepada tetangga sekitar atau pemuka
masyarakat untuk enghentikan upaya bunh
dirinya.
7. Segera membawa pasien ke rumah sakit /
puskesmas untuk mendapatkan bantuan
medis
8. Jelaskan kepada keluargapentingnya pasien
minum obat secara teratur.
9. Anjurkan keluarga untuk mengantarkan

27
pasien berobat / kontrol secara teratur untuk
mengatasi masalah bunuh dirinya.

28
G. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
Hari : selasa, tgl : 01-01-2017

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
DS: Klien mengatakan saya selalu berfikir untuk melakukan bunuh diri ketika kelelahan
dan PMS.
DO: Hiperkinesia, Tremor, Mood: depresi+euforia, Afek: labil, Isi pikir:
obsesif+fantasi+keinginan bunuh diri, Bentuk pikir: non realistik

2. Diagnosa Keperawatan
Risiko bunuh diri

3. Tujuan Khusus (TUK)


a. Pasien dapat membina hubungan saling percaya. (TUK 1)
b. Pasien dapat perlindungan dari perilaku bunuh diri. (TUK 2)
c. Pasien dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan menyelesaikan masalahnya.
(TUK 3)

4. Tindakan Keperawatan :
TUK 1:
a. Bina hubungan saling percaya, salam terapeutik, ciptakan lingkungan terapeutik.
b. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaanya.
c. Dengan lembut dan jelaskan pada pasien bahwa perawat akan melindungi pasien
sampai tidak ada keinginan bunuh diri dengan empati.
d. Kaji tanggal dan gejala bunuh diri yang pernah muncul dan pernah dilakukan pasien.

TUK 2:
a. Berikan tempat yang aman pada pasien.
b. Awasi pasien dengan menemani dan menempatkan pasien pada tempat yang mudah di
awasi.
c. Jangan biarkan pasien mengunci diri dikamarnya / jangan meninggalkan pasien
sendirian
d. Jauhkan pasien dari barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti : tali,
bahan bakar minyak / bensin, api, pisau / benda tajam lainnya zat yang berbahaya
seperti obat nyamuk dan racun serangga.
e. Selalu adakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila tanda gejala bunuh
diri meningkat.
f. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak menunjukkan tanda
gejala untuk bunuh diri.

TUK 3:
a. Beri kesempatan pasien mengungkapkan perasaanya.
b. Berikan pujian bila pasien dapat mengungkapkan perasaan yang positif.
29
c. Yakinkan pasien bahwa dirinya penting.
d. Bicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e. Rencanakan aktivitas yang dapat pasien lakukan.
f. Diskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya.
g. Diskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah.
h. Diskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik.

STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


a. FASE ORIENTASI
1. Salam Terapeutik
Selamat pagi mbak, Perkenalkan nama Saya Zulfahmi Hakim panggil saja saya dengan
nama Fahmi. Saya mahasiswa Keperawatan UNMUH JEMBER yang akan merawat
mbak. Saya bertugas disini dari tanggal 30 Januari - 11 februari 2017 dan dari jam
07.00-14.00 WIB. Jika ada sesuatu yang ingin mbak sampaikan jangan sungkan-
sungkan untuk menyampaikan kepada saya. mudah mudahan saya bisa membantu.
Kalau boleh saya tau nama mbak siapa dan suka dipanggil siapa?.

2. Evaluasi/validasi : Bagaimana perasaan mbak pagi ini?


3. Kontrak :
a. Topik : Bagaimana kalau pagi ini kita berbincang-bincang tentang kondisi mbak
selama disini
b. Waktu : Mau berapa lama kita bercakap-cakap saat ini? Bagaimana bila 20 menit?
c. Tempat : Mbak mau dimana kita bercakap cakap? Bagaimana bila diruang tamu?
d. Tujuan Interaksi : Mbak tujuan kita berbincang-bincang agar saling mengenal

b. FASE KERJA
1. Adakah keinginan untuk bunuh diri ?
2. Apakah dengan adanya masalah ini, mbak merasa paling menderita didunia ini ?
3. Apakah mbak merasa kehilangan percaya diri ?
4. Sejak kapan mbak mengalami perasaan untuk ingin bunuh diri?
5. Apa yang menyebabkan mbak memiliki perasaan ingin mengakhiri kehidupan mbak?
6. Saya akan membantu mbak agar keinginan untuk bunuh diri hilang?
7. Apa yang mbak lakukan jika keinginan bunuh diri tersebut muncul?
8. Apakah mbak merasa sulit untuk berkonsentrasi ? Apakah mbak ada keinginan untuk
mencederai diri?, saya akan memeriksa seluruh isi kamar mbak yah, untuk memastikan
tidak ada benda-benda yang membahayakan diri mbak, saya juga akan selalu
mengawasi mbak agar terhindar dari risiko bunuh diri.
9. Mbak ada beberapa cara mencegah keinginan bunuh diri, diantaranya adalah:
a. Tidak boleh sendirian didalam kamar atau ruangan.

30
b. Segera meminta bantuan kepada perawat diruangan apabila keinginan untuk bunuh
diri muncul.
c. Cara lain yang bisa digunakan adalah mengalihkan perhatian atau pikiran mbak
dengan cara mencari teman untuk diajak bercakap-cakap.
d. Tarik napas dalam
10. Apakah mbak memiliki pengalaman yang positif? Wah, bagus sekali pengalaman yang
dimiliki oleh mbak.
11. Dengan aspek positif yang dimiliki oleh mbak, berarti mbak adalah orang yang penting
karena memiliki pengalaman hebat seperti itu dan keadaan seperti harus patut untuk di
syukuri, bukan kah begitu mbak?
12. Mbak saya lihat mbak bisa bernyanyi dengan baik, coba mbak peraktekan? Bagaimana
kalau kita membuat rencana aktivitas setiap harinya?, karena saya lihat mbak memiliki
aktivitas yang baik dalam bernyanyi.
c. FASE TERMINASI
1. Evaluasi respons klien berharap tindakkan keperawatan
a. Evaluasi Subjektif (klien) :
bagiamana perasaan mbak setelah berkenalan dengan saya ? dan tadi kita juga
sudah membicarakan hal yang mbak alami, adapun aspek postif yang dimiliki oleh
mbak yang sangat bagus
a. Evaluasi objektif (perawat):
coba mbak mengulangi cara yang sudah dilakukan tadi dalam mencegah keinginan
bunuh diri dan melakukan aktivitas positif mbak yaitu bernyanyi?

2. Rencana tindak lanjut:


baik mbak, tadi kita sudah berdiskusi tentang cara mengendalikan perasaan ingin
bunuh diri dan melakukan aktivitas positif mbak yaitu bernyanyi. Tugas untuk mbak
yaitu berlatih cara mengendalikan perasaan bunuh diri, nanti pada pertemuan
selanjutnya mengulangi cara yang sudah dilakukan tadi yaitu mencegah keinginan
bunuh diri dan melakukan aktifitas positif mbak yaitu bernyanyi .
3. Kontrak Topik yang akan datang :
a. Topik : Baiklah kita sudah bercakap-cakap selama 20 menit, bagaimana kalau nanti
kita bercakap-cakap tentang aspek postif yang mbak bisa seperti bernyanyi?
b. Waktu : Di mana tempatnya nanti kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di taman
ini?
c. Tempat : Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 12 siang besok, setelah mbak
makan siang.

31
G. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama : Nn. D Ruang : Cempaka RM No : 08 07 39
Tanggal
NO IMPLEMENTASI KEPERAWATAN EVALUASI
dan waktu
1 01-01- TUK 1: S:
e. Membina hubungan saling percaya,
2017 Klien menjawab salam dari
salam terapeutik, ciptakan
perawat. Klien bahwa
lingkungan terapeutik.
mengatakan perasaannya hari
f. Memberi kesempatan pasien untuk
ini tenang klien bercerita
mengungkapkan perasaanya.
g. Menjelaskan pada pasien bahwa keinginan untuk bunuhdiri itu
perawat akan melindungi pasien muncul dikala klien mersa
sampai tidak ada keinginan bunuh kelelahan dan pada saat PMS.
diri dengan empati, dengan lembut.
h. Mengkaji tanda dan gejala bunuh
O:
diri yang pernah muncul dan
Klien kooperatif saat bertemu
pernah dilakukan pasien.
dengan perawat karena mau
berjabat tangan serta klien mau
bercerita tentang perasaannya,
saat perawat menjelaskan klien
bisa mengerti maksud yang
disampaikan perawat,
A:

32
- Bina hubungan saling
percaya tercapai
P:
- Lanjutakan tindakan
selanjutnya.
TUK 2: S:
g. Memberikan tempat yang aman klien bersedia berbincang
pada pasien. bincang di ruang makan,
h. Mengawasi pasien dengan
O:
menemani dan menempatkan
klien terbebas dari benda-benda
pasien pada tempat yang mudah di
yang mengancam jiwa
awasi.
klien berada dalam pengawasan
i. Jangan biarkan pasien mengunci
perawat
diri dikamarnya / jangan
A: klien kooperatif
meninggalkan pasien sendirian
j. Menjauhkan pasien dari barang- P: observasi klien selama
barang yang bisa digunakan untuk perawatan
bunuh diri, seperti : tali, bahan
bakar minyak / bensin, api, pisau /
benda tajam lainnya zat yang
berbahaya seperti obat nyamuk dan
racun serangga.
k. Mengadakan pengawasan dan
meningkatkan pengawasan apabila
tanda gejala bunuh diri meningkat.
l. Jangan pernah melonggarkan
pengawasan, walaupun pasien
tidak menunjukkan tanda gejala
untuk bunuh diri.

TUK 3: S:
a. Memberi kesempatan pasien - Klien mengatakan perasaan
mengungkapkan perasaanya. saya hari ini tenang mas
b. Memberikan pujian bila pasien - Klien mengtaakan saya
dapat mengungkapkan perasaan dulu pernah menjadi ketua
yang positif. bipolar se jawa timur.
c. Meyakinkan pasien bahwa dirinya
O:
penting.
- Klien dapat mengungkapkan
d. Membicarakan tentang keadaan
33
yang sepatutnya disyukuri oleh perasaannya.
- Klien dapat menyebutkan hal
pasien
e. Merencanakan aktivitas yang dapat positif yang ada dalam
pasien lakukan. dirinya.
f. Mendiskusikan dengan pasien cara - Klien mampu berbicara dan
menyelesaikan masalahnya. berkomunikasi terarah
g. Mendiskusikan dengan pasien
dengan perawat.
efektifitas masing-masing cara - Klien mampu membuat
penyelesaian masalah. aktivitas positif yang dapat
h. Mendiskusikan dengan pasien cara
dilakukan di rumah sakit.
menyelesaikan masalah yang lebih - Klien belum mampu
baik. menyelesaikan masalah saat
mengalami kelelahan dan
stress
A: klien kooperatif
P: menggali kemampuan positif
yang dimiliki klien,

34
H. FORMAT ANALISA PROSES INTERAKSI
Inisial Klien : Nn. D Nama Mahasiswa : Zulfahmi Hakim
Tanggal : 01-01-2017 Jam : 12.00 WIB
Lingkungan : RSJ
Bangsal : Ruang Cempaka
KOMUNIKASI VERBAL KOMUNIKASI NON ANALISA BERPUSAT ANALISA BERPUSAT RASIONAL
VERBAL PADA PERAWAT PADA KLIEN
P: Selamat pagi mbak, P: Memandang dan P : Ingin membuka K: memberikan tanggapan Ucapan salam perawat
Perkenalkan nama Saya Zulfahmi tersenyum. percakapan dengan klien positif atas kehadiran kepada klien menunjukkan
Hakim panggil saja saya dengan K: pandangan fokus dan perawat. penghargaan perawat
nama Fahmi. Kalau boleh saya tersenyum. kepada klien. Penghargaan
tau nama mbak siapa dan suka kepada orang lain
dipanggil siapa? merupakan modal awal
K: Iya selamat pagi, saya dengan seseorang dapat membuka
Dian Trivena bisa dipanggil dian diri dengan orang lain.
saja.

P: Bagaimana kalau pagi ini kita P : Memperhatikan pasien, P : merasa senang karena K: mendengarkan Perawat mencoba menggali
berbincang-bincang tentang K : Mendengarkan kata-kata pasien memberikan respon pertanyaan perawat dengan kondisi klien dengan
kondisi mbak selama disini perawat dengan serius dan positif terhadap percakapan serius pertanyaan terbuka,
K: iya mas, ayo. menjawab dengan suara jelas memberi kesempatan klien
mengeksplorasikan apa
yang dirasakan klien
P:Mau berapa lama kita P : Memperhatikan pasien, P : merasa senang karena K: mendengarkan pertanyaan Perawat mencoba menggali
bercakap-cakap saat ini? K : Mendengarkan kata-kata pasien memberikan respon perawat dengan serius kondisi klien dengan
Bagaimana bila 20 menit? perawat dengan serius dan positif terhadap percakapan pertanyaan terbuka,
K: Iya mas, 20 menit cukup menjawab dengan suara jelas memberi kesempatan klien
mengeksplorasikan apa
yang dirasakan klien
P: Mbak mau dimana kita P : Memperhatikan pasien, P : merasa senang karena K: mendengarkan pertanyaan Perawat mencoba menggali

35
bercakap cakap? Bagaimana K : Mendengarkan kata-kata pasien memberikan respon perawat dengan serius kondisi klien dengan
bila diruang tamu? perawat dengan serius dan positif terhadap percakapan pertanyaan terbuka,
K: Iya mas, di ruang tamu lebih menjawab dengan suara jelas memberi kesempatan klien
nyaman. mengeksplorasikan apa
yang dirasakan klien
P: Adakah keinginan untuk P : Memperhatikan pasien, P: Ingin mengetahui keadaan K: tampak ingin Mengeksplorasi
bunuh diri ? K : Mendengarkan kata-kata pasien saat ini. menceritakan Masalahnya permasalahan klien
K: Iya mas, ada biasanya ketika perawat dengan serius dan dengan perawat bertujuan untuk
saya kelelahan dan PMS menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
utama klien.
P: Apakah dengan adanya P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
masalah ini, mbak merasa paling K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
menderita didunia ini ? perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
K: Tidak mas. menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
utama klien.
P: Apakah mbak merasa P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
kehilangan percaya diri ? K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
K: sedikit mas. perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
utama klien.
P: Apa yang menyebabkan mbak P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
memiliki perasaan ingin K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
mengakhiri kehidupan mbak? perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
K: Tidak tahu, pokoknya ketika menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
saya merasa lelah dan PMS hal utama klien.
untuk bunuh diri selalu muncul.
P: Saya akan membantu mbak P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
agar keinginan untuk bunuh diri K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
hilang? perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
K: iya mas, saya bersedia. menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
utama klien.
P: Apa yang mbak lakukan jika P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
keinginan bunuh diri tersebut K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
muncul? perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
K: yang saya lakukan ingin menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah

36
menciderai diri saya utama klien.
P: Apakah mbak merasa sulit P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
untuk berkonsentrasi K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
K: iya mas. Mood saya labil. perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
utama klien.
P: Apakah mbak ada keinginan P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
untuk mencederai diri?, saya akan K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
memeriksa seluruh isi kamar perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
mbak yah, untuk memastikan menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
tidak ada benda-benda yang utama klien.
membahayakan diri mbak, saya
juga akan selalu mengawasi mbak
agar terhindar dari risiko bunuh
diri.
K: iya mas, silahkan.
P: Mbak ada beberapa cara P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
mencegah keinginan bunuh diri, K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
diantaranya adalah: perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
a. Tidak boleh sendirian menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
didalam kamar atau ruangan. utama klien.
b. Segera meminta bantuan
kepada perawat diruangan
apabila keinginan untuk
bunuh diri muncul.
c. Cara lain yang bisa
digunakan adalah
mengalihkan perhatian atau
pikiran mbak dengan cara
mencari teman untuk diajak
bercakap-cakap.
d. Tarik napas dalam
K: Iya mas.
P: Apakah mbak memiliki P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
pengalaman yang positif? Wah, K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan

37
bagus sekali pengalaman yang perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
dimiliki oleh mbak. menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
K: iya mas saya pernah menjadi utama klien.
ketua Bipolar se indonesia dan
bisa bernyanyi
P: Dengan aspek positif yang P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mencoba K: mencoba memahami Mengeksplorasi
dimiliki oleh mbak, berarti mbak K : Mendengarkan kata-kata menggali lebih dalam tentang pertanyaan perawat permasalahan klien dan
adalah orang yang penting karena perawat dengan serius dan masalah pasien bertujuan untuk
memiliki pengalaman hebat menjawab dengan suara jelas mengidentifikasi masalah
seperti itu dan keadaan seperti utama klien.
harus patut untuk di syukuri,
bukan kah begitu mbak?
K: Iya, mas betul
P: Mbak saya lihat mbak bisa P : Memperhatikan pasien P: Perawat berusaha K: terlihat bersemangat Reinforcement (+)
bernyanyi dengan baik, coba dan tersenyum, memberi reinforcement (+) mengungkapkan apa yang meningkatkan harga diri
mbak peraktekan? Bagaimana K : Mendengarkan kata-kata dan menggali permasalahan menjadi rencananya klien, teknik eksplorasi
kalau kita membuat rencana perawat dengan serius, klien dengan memberikan
aktivitas setiap harinya?, karena menjawab dengan suara jelas pertanyaan terbuka
saya lihat mbak memiliki dan juga bernyanyi dengan bertujuan untuk
aktivitas yang baik dalam merdu menjelaskan pikiran dan
bernyanyi. perasaan klien.
K: (klien bernyanyi), iya mas,
setiap hari saya bisa
melakukannnya karena sudah
terbiasa
P: Bagiamana perasaan mbak P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mengevaluasi K: terlihat antusias Evaluasi subjektif
setelah berkenalan dengan saya ? K : Mendengarkan kata-kata perasaan klien menyimak pertanyaan membantu perawat
dan tadi kita juga sudah perawat dengan serius dan perawat mengevaluasi hasil proses
membicarakan hal yang mbak menjawab dengan suara jelas penyelesaian masalah yang
alami, adapun aspek postif yang diajarkan
dimiliki oleh mbak yang sangat
bagus
K: perasaan saya senang,
terimakasih mas sudah mau
nemanin saya.

38
P: Coba mbak mengulangi cara P : Memperhatikan pasien P: Perawat berusaha K: terlihat bersemangat Reinforcement (+)
yang sudah dilakukan tadi dalam dan tersenyum, memberi reinforcement (+) mengungkapkan apa yang meningkatkan harga diri
mencegah keinginan bunuh diri K : Mendengarkan kata-kata dan menggali permasalahan menjadi rencananya klien, teknik eksplorasi
dan melakukan aktivitas positif perawat dengan serius, klien dengan memberikan
mbak yaitu bernyanyi? menjawab dengan suara jelas pertanyaan terbuka
K: (klien bernyanyi dan dapat dan juga bernyanyi dengan bertujuan untuk
menjawab dengan baik) merdu menjelaskan pikiran dan
perasaan klien.
P: nanti pada pertemuan P : Memperhatikan pasien, P: Perawat mengevaluasi K: terlihat antusias Evaluasi subjektif
selanjutnya mengulangi cara yang K : Mendengarkan kata-kata perasaan klien menyimak pertanyaan membantu perawat
sudah dilakukan tadi yaitu perawat dengan serius dan perawat mengevaluasi hasil proses
mencegah keinginan bunuh diri menjawab dengan suara jelas penyelesaian masalah yang
dan melakukan aktifitas positif diajarkan
mbak yaitu bernyanyi .
K: iya mas, nanti ketimbang saya
nganggur saya sambil belajar
nyanyi juga
P: Baiklah kita sudah bercakap- P: Memandang dan P: Perawat merasa senang K: mencoba memahami Kemampuan klien
cakap selama 20 menit, tersenyum. atas kemampuan klien perawat menentukan tempat dan
bagaimana kalau nanti kita K: pandangan fokus dan menyepkati kontrak dan waktu interaksi
bercakap-cakap tentang aspek tersenyum. menetukan pilihan waktu dan menunjukkan kemampuan
postif yang mbak bisa seperti tempat klien dalam penilaian dan
bernyanyi? pengambilan keputusan
K: iya mas, boleh nanti kita sederhana
nyanyi lagi, hhe
P: Di mana tempatnya nanti kita P : Memperhatikan pasien, P: Perawat puas dengan K: tampak senang karena Terminasi adalah saat untuk
bercakap - cakap? Bagaimana K : Mendengarkan kata-kata interaksi yang dilakukan perawat membantunya dalam mengubah perasaan dan
kalau di taman ini? perawat dengan serius dan dengan klien mengatasi masalahnya memori serta untuk
Mau jam berapa? Bagaimana menjawab dengan suara jelas mengevaluasi kemajuan
kalau jam 12 siang besok, setelah klien dan tujuan yang telah
mbak makan siang? dicapai
K: iya mas, di taman saja, jam 12
habis makan siang.

39
40
BAB IV
PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN

Pada bab pembahasan penulis akan mencoba membahas mengenai


kesenjangan yang terdapat pada konsep dasar (teori) dan studi kasus pada klien
dengan resiko perilaku kekerasan yang dimulai dengan membahas pengkajian,
diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Menurut Stuart dan Laraia (dalam Keliat, 2005) pengkajian merupakan
tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan, atau masalah klien. Data yang
dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Data pengkajian
kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi,
penilaian terhadap stresor, sumber koping, dan kemampuan koping yang dimiliki
klien. Dalam kasus ini pengkajian yang penulis lakukan di dalamnya sudah mencakup
pengkajian kesehatan jiwa sesuai teori yaitu faktor predisposisi, faktor presipitasi,
penilaian terhadap stressor, pola koping stress, dan kemampuan koping yang dimiliki
klien. Hal ini disebabkan karena aspek pengkajian jiwa tersebut sudah masuk ke dalam
pola kesehatan fungsional yaitu pola koping toleransi stress.
Pada riwayat kesehatan pada Nn. D meliputi faktor predisposisi klien
sebelumnya pernah mengalami gangguan jiwa dan melaksanakan kontrol rutin sejak
SMA dan baru kali ini dirawat inap di RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang
Malang. Menurut Soerojo (2010), kekambuhan kembali mantan penderita gangguan
jiwa sebagian besar disebabkan oleh kurangnya perhatian dari lingkungan dan bahkan
keluarga sendiri tidak memberikan pengobatan sehingga berakibat pada lambatnya
proses penyembuhan. Berdasarkan pernyataan tentang pengobatan diatas penulis
melaporkan riwayat penyakit pengobatan klien kurang berhasil dilihat dari klien yang
sering kambuh karena klien mudah stress dan sering kambuh saat PMS, keluarga klien
tidak ada yang mengalami gangguan jiwa dan klien juga tidak pernah melihat
kekerasan fisik. Adapun faktor presipitasinya klien mengatakan selalu berfikir untuk
melakukan bunuh diri setiap detik ketika mengalami kelelahan dan PMS. Faktor
presipitasi menurut Stuart dan Laria (2008), faktor pencetus dapat bersumber dari
lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Pada psikososial khususnya genogram
klien merupakan anak ke 3 dari 3 bersaudara dan klien tinggal serumah dengan kedua

41
orang tua dan kakak pertamanya. Dari pola koping toleransi kelelahan dan PMS yang
dialami oleh Nn. D mengatakan masih merasa sering ada keinginan bunuh diri.
Mekanisme koping adaptif klien adalah tidak dapat memecahkan masalah. Sedangkan
maladaptif klien mengatakan apabila sedang kelelahan dan PMS klien ingin
mencederai diri sendiri. Selama ini klien lebih sering menggunakan koping maladaptif
dalam menghadapi permasalahan.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan hasil TD: 110/80 mmHg, Nadi: 86
x/menit, Respirasi: 22 x/menit, Suhu: 36,2C, Berat badan: 77,5 kg, Tinggi badan: 155
cm, bentuk kepala: meshocepal, rambut: pendek, hitam, dan bersih, mata: simetris
antara kanan dan kiri, hidung: simetris, tidak ada polip, mulut: simetris, tidak ada
sariawan, telinga: simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen, leher: tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, dada: dinding dada simetris kanan dan kiri, ekstermitas:
kaki kanan dan kiri lengkap, tangan kanan kiri lengkap. Dari pemeriksaan fisik pada
klien dapat disimpulkan bahwa klien tidak memiliki tanda- tanda fisik yang abnormal.
Tanda dan gejala resiko bunuh diri yang muncul biasanya adalah klien
mempunyai keinginan untuk bunuh diri dan mengungkapkan keinginan untuk mati
(Stuart, 2006). Dari penilaian klien dengan gangguan risiko bunuh diri tidak dapat
dinilai secara obyektif. Bila dibandingkan dengan teori di atas ada kesenjangan antara
teori dan kasus yang di angkat penulis, yaitu hanya dinilai berdasarkan data subjek.
Diagnosa keperawatan ialah suatu pertimbangan klinis tentang respon individu,
keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar bagi pemilihan
intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat
(Townsend, 2006).
Dalam pohon masalah dijelaskan bahwa yang menjadi core problem adalah
resiko bunuh diri. Definisi resiko bunuh diri adalah segala sesuatu perbuatan dengan
tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dengan sengaja dilakukan oleh seseorang
yang tahu akan akibatnya yang mungkin pada waktu yang singkat (Dermawan, 2013).
Dibandingkan dengan kasus yang di angkat penulis ada sedikit perbedaan antara teori
dan kasus yang di angkat penulis dapat dilihat dari pohon masalah pada faktanya core
problem yaitu risiko bunuh diri. Causanya itu sedikit berbeda dengan pohon masalah
pada kasus, sebab penulis mencantumkan harga diri rendah sebagai causa, harga diri
rendah sebagai causa dan resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
sebagai efek. Namun penulis menemukan teori, Menurut Dermawan (2013), pada

42
pohon masalah yang menjadi core problem dari risiko bunuh diri adalah risiko bunuh
diri, yang menjadi akibat adalah bunuh diri.
Teori ini yang lebih padu bila di bandingkan dengan pohon masalah yang di
susun penulis. Maka dari itu penulis lebih memilih teori dari Dermawan, 2013 sebagai
teori dalam panduan untuk memadukan pohon masalah dalam kasus ini. Pada saat
dilakukan pengkajian mendapatkan data subyektif dan obyektif menunjukkan bahwa
masalah keperawatan pada Nn. D adalah resiko bunuh diri ini didukung dengan data
yang menunjukan bahwa dari hasil pengkajian data subyektif: klien mengatakan jika
sedang kelelahan klien ingin melakukan tindakan bunuh diri. Dari data obyektif: tidak
didapatkan data.
Menurut Dermawan (2013) yang menjadi faktor resiko dalam diagnosa
keperawatan resiko bunuh diri meliputi: ide bunuh diri, rencana bunuh diri
(kemampuan merusak diri sendiri). Dalam hal ini pada kasus terdapat faktor resiko
yang sesuai dengan teori tersebut yaitu kemampuan merusak diri sendiri. Sehingga hal
ini menjadi dasar penulis untuk mengangkat diagnosa resiko perilaku kekerasan pada
kasus. Resiko bunuh diri merupakan permasalahan yang dialami seseorang yang tidak
bisa merespon emosi secara adaptif sehingga akan berpotensi untuk melakukan bunuh
diri. Bunuh diri itu sendiri memiliki pengertian, respon terhadap stresor yang dihadapi
oleh seseorang yang ditunjukan dengan perilaku yang aktual yang memiliki arti untuk
mengakhiri hidupnya. perilaku itu sering diungkapkan dengan cara melakukan
menganiaya diri sendiri dengan cara melukai urat nadi. Dalam hal ini pada pasien
risiko bunuh diri merupakan tindakan merugikan diri sendiri, sehingga untuk
selanjutnya penulis akan menyusun perencanaan, implementasi, evaluasi untuk
mengatasi core problem yaitu risiko bunuh diri diharapkan masalah risiko bunuh diri
teratasi, dapat menanggulangi stres dan kelelahan. Rencana keperawatan ditulis atau
dibuat setelah diagnosa keperawatan. Rencana tindakan keperawatan merupakan
serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan, tindakan, dan penilaian
rangkaian asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisis pengkajian agar
masalah kesehatan dan keperawatan klien dapat diatasi (Ali Z, 2002). Dalam kasus
ini penulis merencanakan 5 TUK, dan terlaksana semua. Implementasi ialah tahap
dimana perawat memulai kegiatan dan melakukan tindakan tindakan perawatan
dalam mengatasi masalah klien, tugas perawat pada saat ini adalah melaksanakan
kegiatan yang telah direncanakan pada tahap pra interaksi dan melanjutkan tahap
orientasi (Erlinafsiah, 2010). Penulis dapat menyelesaikan SP I dan SP II, SP III dan
SP IV Implementasi yang pertama pada tanggal 1 Februari 2017, pada pukul 10.00

43
WIB. Penulis melakukan interaksi dengan klien untuk melaksanakan SP 1 yang
meliputi TUK 1: klien dapat membina hubungan saling percaya. TUK 2: Pasien dapat
perlindungan dari perilaku bunuh diri. TUK 3: Klien dapat meningkatkan harga diri
dan kemampuan menyelesaikan masalahnya. TUK 4: Klien dapat memanfaatkan obat
dengan baik. TUK 5: Klien dapat dukungan keluarga dalam mengendalikan keinginan
bunuh dirinya. Implementasi pada hari terakhir tanggal 05 Februari 2017, pukul 10.00
WIB penulis melakukan interaksi dengan klien, Klien dapat mengidentifikasikan cara
berkomunikasi dengan klien untuk melindungi klien dari percobaan bunuh diri, SP 2:
berkomunikasi dengan keluarga untuk melindungi klien yang mencoba bunuh diri, SP
3: meningkatkan harga diri klien. SP 4: meningkatkan kemampuan klien dalam
menyelesaikan masalah. Sp 5: obat. Klien kooperatif dan penulis memberikan
reinforcent positif kepada klien.
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon klien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. (Keliat, 2005) Evaluasi dilakukan
dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai berikut: S: Subyektif klien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan, O: Respon obyektif klien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. A: Analisa diatas data subyektif dan
obyektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap muncul atau muncul
masalah baru atau datadata yang kontra indikasi dengan masalah yang ada. P:
perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien ( Keliat,
2005). Pada evaluasi Nn. D secara subyektif klien mengatakan berkeinginan ingin
bunuh diri jika kelelahan. Secara obyektif: Klien tampak mau berjabat tangan dan
membina hubungan saling percaya pada perawat, pasien mau menyebutkan penyebab
risiko bunuh diri muncul, pasien menjawab semua pertanyaan, ada kontak mata,
pasien mau menyebutkan kerugian risiko bunuh diri, pasien mengatakan mau untuk
diajari cara mengontrol kelelahannya. analisis: sehingga disimpulkan masalah pada
Nn. D sudah terpenuhi dan rencana selanjutnya penulis menyerahkan tindak lanjut
kepada perawat jaga yang berada di rumah sakit agar melanjutkan SP selanjutnya.

44
BAB V
PENUTUP

A. SIMPULAN

Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari
individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991:4). Bunuh diri
merupakan kedaruratan psikiatri karena klien berada dalam keadaan stres yang tinggi
dan menggunakan koping yang maladaptif.
Kesimpulan penulis setelah melakukan asuhan keperawatan, dari pengkajian
didapatkan data subyektif dan data obyektif yang berfokus pada pola koping toleransi
stress dan kelelahan. Perumusan diagnosa keperawatan pada Nn. D adalah resiko
bunuh diri. Perencanaan sesuai SOP (Standart Operasional Prosedur) yang telah di
tetapkan ada 5 TUK yang semua terlaksana. Dari implementasi di atas penulis dapat
menyelesaikan semua SP. Dari evaluasi klien mampu mengontrol keinginan bunuh
diri.

B. SARAN
Penulis memberikan saran yang mungkin dapat diterima sebagai bahan
pertimbangan guna meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan
cara mengontrol keinginan bunuh diri, berikut:
1. Bagi rumah sakit, hendaknya menyediakan dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan
oleh klien untuk penyembuhan, rumah sakit menyediakan tenaga kesehatan yang
profesional guna membantu penyembuhan pasien.
2. Bagi klien hendaknya selalu minum obat yang teratur dan bisa mengontrol
keinginan bunuh diri dengan cara yang konstruktif seperti apa yang telah diajarkan
oleh perawat.
3. Bagi institusi untuk selalu memberikan motivasi dan menyediakan perpustakaan
yang berguna untuk penulis sehingga dapat terselesaikan tugas akhir karya tulis
ilmiah jiwa.
4. Bagi keluarga berikan motivasi kepada klien dan kontrolkan secara rutin, belajar
cara merawat klien pada anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa.
5. Bagi perawat untuk lebih profesional dalam merawat pasien dan lebih sabar dalam
memberikan pelayanan guna peningkatan keadaan pasien.
45
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, Deden. 2013. Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja Asuhan
Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajara Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika.

Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan). Jakarta:
EGC.

Yusuf dkk. 2015. Buku Ajar Kesehatan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

46