Anda di halaman 1dari 29

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit kulit pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan yang
rendah cenderung meningkat dan endemis. Tingkat kejadian tinggi biasanya
terjadi pada daerah yang sedang mengalami musim kemarau yang panjang
sehingga sulit untuk mendapat pasokan air bersih. Selain itu juga lingkungan
yang kotor dan memiliki sumber air bersih yang sangat minim contohnya seperti
pada daerah pemukiman kumuh dapat memicu tingginya tingkatan penyakit
kulit.
Sumber penularan penyakit kulit adalah berupa sentuhan langsung dengan
penderita melalui perantara seperti melalui pakaian, selimut, sabun mandi yang
dipakai oleh penderita.
Penyakit kulit adalah penyakit yang menyerang kulit permukaan tubuh yang
disebabkan oleh berbagai macam penyebab. Penyakit kulit juga mempunyai
karakteristik gatal-gatal pada saat pagi, siang, sore atau sepanjang hari, timbul
pula bintik-bintik, bentol-bentol, ataupun timbul bula-bula yang berisi cairan
bening atau nanah pada kulit permukaan tubuh.
Penyakit kulit secara umum disebabkan oleh kebersihan yang kurang dijaga,
bakteri, virus, reaksi alergi dan daya tahan tubuh rendah. Jika penyebab hanya
berupa masalah kebersihan yang kurang dijaga maka masih bisa dilakukan
pencegahan dengan merubah gaya hidup menjadi gaya hidup yang lebih bersih
dan sehat.
Penyakit kulit masih menjadi masalah di Indonesia dikarenakan perubahan
cuaca yang tidak menentu dan gaya hidup bersih penduduk yang masih belum
2

terjaga dengan baik menyebabkan penerita penyakit kulit di Indonesia meningkat


setiap tahunnya.

1.2. Tujuan
a.2.1 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit pioderma
a.2.2 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit tuberkulosis
kutis
a.2.3 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit kusta
a.2.4 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit tinea

a.3 Rumusan Masalah


a.3.1 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit pioderma
a.3.2 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit tuberkulosis
kutis
a.3.3 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit kusta
a.3.4 Bagaimana Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit
tinea
3

BAB 2
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Asuhan Keperawatan Pioderma


2.1.1 Definisi

a. Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus


aureus, Streptococcus B Hemoliticus, atau oleh kedua-duanya.

b. Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus,


Streptococcus, atau oleh kedua-duanya.

c. Pioderma adalah terminologi umum untuk penyakit-penyakit infeksi


kulit yang disebabkan oleh kuman (bakteri), terutama Streptococcus
beta hemolyticus atau Staphylococcus aureus.

2.1.2 Etiologi

Penyebab yang utama ialah Staphylococcus aureus dan


Staphylococcus B hemolitikus, sedangkan Staphylococcus epidermidis
merupakan penghuni normal di kulit dan jarang menyebabkan infeksi.

2.1.3 Faktor Predisposisi


a. Higiene yang kurang
b. Menurunnya daya tahan Misalnya: kekurangan gizi, anemia, penyakit
kronik, neoplasma ganas, diabetes mellitus
c. Telah ada penyakit lain di kulit.Karena terjadi kerusakan di epidermis,
maka fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga
memudahkan terjadinya infeksi.
4

2.1.4 Klasifikasi
a. Pioderma Primer

Infeksi terjadi pada kulit yang normal. Gambaran klinisnya


tertentu, penyebabnya biasanya satu macam mikroorganisme.

b. Pioderma Sekunder

Pada kulit telah ada penyakit kulit yang lain. Gambaran klinisnya
tak khas dan mengikuti penyakit yang telah ada. Jika penyakit kulit
disertai pioderma sekunder disebut impetigenisata, contohnya:
dermatitis impetigenisata, scabies impetigenisata. Tanda
impetigenisata ialah jika terdapat pus, kustul, bula purulen, krusta
berwarna kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening
regional, leukositosis, dapat pula disertai demam.

2.1.5 Bentuk Pioderma

Berbagai bentuk pioderma :

a. Impetigo

Impetigo ialah pioderma superfisialis ( terbatas pada epidermis ).


Terdapat 2 bentuk ialah impetigo krustosa dan impetigo bulosa.

b. Folikulitis

Merupakan radang folikel rambut yang biasanya disebabkan


Staphylococcus aureus.

c. Furunkel/Karbunkel
Merupakan radang folikel rambut dan sekitarnya. Jika lebih dari
pada sebuah disebut Furunkulosis, Karbunkel merupakan kumpulan
Furunkel. Biasanya disebabkan oleh Stapyhlococcus aureus, keluhan
biasanya nyeri.

d. Ektima
5

Ektima ialah ulkus superfisial dengan krusta di atasnya


disebabkan infeksi oleh Streptococcus.

e. Pionika
Radang disekitar kuku oleh piokokus, disebabkan oleh
Staphylococcus aureus dan streptococcus B hemolyticus, biasanya
didahului dengan trauma atau infeksi.
f. Erisipelas

Ialah penyakit infeksi akut, biasanya disebabkan oleh


Streptococcus, gejala utamanya ialah eritema berwarna merah cerah,
biasanya disebabkan oleh Streptococcus B hemolyticus.

g. Selulitis

Etiologi, gejala konstitusi, tempat predileksi, kelainan


pemeriksaan laboratoriksama dengan erisipelas. Kelainan kulit
berupa infiltrate yang difus di subkutan dengan tanda-tanda radang
akut.

h. Flegmon

Merupakan selulitisyang mengalami supurasi. Terapinya sama


dengan selulitis hanya ditambah insisi.

i. Ulkus Piogenik

Berbentuk ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas disertai pus


di atasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh
kuman negative-Gram, oleh karena itu perlu dilakukan kultur.

2.1.6 Tanda dan gejala


6

a. Demam / Panas
b. Adanya Nodul
c. Mual, Muntah
d. Krusta
e. Nyeri
f. Gatal-gatal
g. Radang
h. Papul dan Prustul
2.1.7 Patofisiologi

Bakteri masuk kedalam folikel rambut sehingga menimbulkan


folikulitis yang tampak sebagai nodus kemerahan dan sangat nyeri, pada
keadaan yang berat dapat disertai demam, malaise, mual dan muntah.
Setelah dua sampai empat hari terjadi proses supurasi dan terbentuk abses
yang dapat diketahui dengan terjadinya fluktuasi, ada bagian tengah lesi
terdapat bintik kekuningan yang merupakan jaringan nikrotik yang
disebut mata bisul (core).

Bila penyebaran bakteri lebih dalam atau lebih luas terjadi selulitis.
Pada pasien Diabetes militus furunkel sering kambuh terutama dengan
hygiene yang jelek.

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan laboratorik (darah tepi) terdapat leukositosis. Pada


kasus yang kronis dan sukar sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi.
Ada kemungkinan penyebabnya bukan stafilokokus melainkan kuman
7

negative-Gram. Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, invivo


tidak selalu sesuai dengan in vitro.

2.1.9 Penatalaksanaan
a. Pada pengobatan umum kasus pioderma , factor hygiene perorangan
dan lingkungan harus diperhatikan
b. Sistemik
Berbagai obat dapat digunakan sebagai pengobatan pioderma.
1) Penisilin G prokain dan semisintetiknya
2) Penisilin G prokain, Dosisnya 1,2 juta/ hari, I.M.
Dosis anak 10000 unit/kgBB/hari. Penisilin merupakan
obat pilihan (drug of choice), walaupun di rumah sakit kota-
kota besar perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya
resistensi. Obat ini tidak dipakai lagi karena tidak praktis,
diberikan IM dengan dosis tinggi, dan semakin sering terjadi
syok anafilaktik.
3) Ampisilin

Dosisnya 4x500 mg, diberikan 1 jam sebelum makan.


Dosis anak 50-100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.

4) Amoksisilin

Dosisnya sama dengan ampsilin, dosis anak 25-50


mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Kelebihannya lebih
praktis karena dapat diberikan setelah makan. Juga cepat
absorbsi dibandingkan dengan ampisilin sehingga
konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.

5) Golongan obat penisilin resisten-penisilinase

Yang termasuk golongan obat ini, contohnya: oksasilin,


dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis kloksasilin 3 x 250
mg/hari sebelum makan. Dosis flukloksasilin untuk anak-
anak adalah 6,25-11,25 mg/kgBB/hari dibagidalam 4 dosis.
8

6) Linkomisin dan Klindamisin

Dosis linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klindamisin


diabsorbsi lebih baik karena itu dosisnya lebih kecil, yakni 4
x 300-450 mg sehari. Dosis linkomisin untuk anak yaitu 30-
60 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis, sedangkan
klindamisin 8-16 mg/kgBB/hari atau sapai 20 mg/kgBB/hari
pada infeksi berat, dibagi dalam 3-4 dosis. Obat ini efektif
untuk pioderma disamping golongan obat penisilin resisten-
penisilinase. Efek samping yang disebut di kepustakaan
berupa colitis pseudomembranosa, belum pernah ditemukan.
Linkomisin gar tidak dipakai lagi dan diganti dengan
klindamisin karena potensi antibakterialnya lebih besar, efek
sampingnya lebih sedikit, pada pemberian pe oral tidak
terlalu dihambat oleh adanya makanan dalam lambung.

7) Eritromisin

Dosisnya 4x 500 mg sehari per os. Efektivitasnya


kurang dibandingkan dengan linkomisin/klindamisin dan
obat golongan resisten-penisilinase. Sering member rasa tak
enak dilambung. Dosis linkomisin untuk anak yaitu 30-
5mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.

8) Sefalosporin

Pada pioderma yang berat atau yang tidak member


respon dengan obat-obatan tersebut diatas, dapat dipakai
sefalosporin. Ada 4 generasi yang berkhasiat untuk kuman
positif-gram ialah generasi I, juga generasi IV. Contohya
sefadroksil dari generasi I dengan dosis untuk orang
dewasa2 x 500 m sehari atau 2 x 1000 mg sehari (per oral),
9

sedangkan dosis untuk anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi


dalam 2 dosis.

9) Topikal

Bermacam-macam obat topikal dapat digunakan untuk


pengboatan pioderma. Obat topical anti mikrobial
hendaknya yang tidak dipakai secara sistemik agar kelak
tidak terjadi resistensi dan hipersensitivitas, contohnya ialah
basitrasin, neomisin, dan mupirosin. Neomisin juga
berkhasiat untuk kuman negatif-gram.Neomisin, yang di
negeri barat dikatakan sering menyebabkan sensitisasi,
jarang ditemukan. Teramisin dan kloramfenikol tidak begitu
efektif, banyak digunakan karena harganya murah. Obat-
obat tersebut digunakan sebagai salap atau krim. Sebagai
obat topical juga kompres terbuka, contohnya: larutan
permangas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1% dan yodium
povidon 7,5 % yangndilarutkan 10 x. yang terakhir ini lebih
efektif, hanya pada sebagian kecil mengalami sensitisasi
karena yodium. Rivanol mempunyai kekurangan karena
mengotori sprei dan mengiritasi kulit.

2.1.10 Asuhan Keperawatan Pasien Pioderma


a. Pengkajian
1) Data subyektif :
Pasien mengeluh nyeri, badan terasa panas, mual muntah,
gatal-gatal pada kulit, terdapat luka pada kulit, tidak bisa
tidur/kurang tidur, malu dengan kondisi sakitnya, dan mengatakan
tidak mengetahui tentang penyakitnya.
2) Data obyektif :
10

Suhu tubuh meningkat melebihi 38 derajat celcius, ekspresi


wajah meeringis, menggaruk-garuk di kulit, gelisah tidak bias
tidur, menutup diri/menarik diri, porsi makan tidak dihabiskan,
kulit tampak lecet/luka, mual-muntah, pasien bertanya tentang
penyakitnya

b. Diagnosa Keperawatan
1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi
barier kulit
2) Nyeri akut/kronis berhubungan dengan lesi kulit
3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus
4) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang
tidak baik
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang perawatan kulit dan cara menangani kelainan kulit
6) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
7) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

c. Rencana Keperawatan
Table rencana keperawatan

No Dx Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


(1) (2) (3) (4) (5)
1 Kerusakan Setelah dilakukan 1. Kaji/ catat 1. Memberikan
integritas kulit tindakan keperawatan ukuran atau informasi
dasar tentang
berhubungan selama x 24jam warna,
kebutuhan
dengan diharapkan integritas kuit kedalaman luka dan petunjuk
perubahan normal dengan kriteria dan kondisi tentang
sirkulasi
fungsi barier hasil : sekitar luka
2. Anjurkan
kulit Pasien dapat
pasien untuk 2. Menjaga
11

mempertahankan menjaga kebersihan


integritas kulit kebersihan kulit kulit dan
dengan cara mencegah
mandi sehari 2 komplikasi
kali
3. Lindungi kulit
yang sehat 3. Maserasi pada
terhadap kulit yang

kemungkinan sehat dapat

maserasi menyebabkan
4. Kolaborasi pecahnya kulit
dalam
4. Mencegah
pemberian obat
atau
topical
mengontrol
infeksi

(1) (2) (3) (4) (5)


Nyeri Setelah dilakukan 1. Kaji nyeri, 1.informasimemberika
akut/kronis tindakan keperawatan serta tindakan n
berhubungan selama x 24 jam penghilang data dasar untuk
dengan lesi nyeri klien dapat nyeri ynag
mengevaluasi
kulit terkontrol dengan digunakan
kriteria hasil : kebutuhan/keefekifan

intervensi
Pasien tidak 2. Dorong
tampak meringis penggunaan 2. Meningkatkan klien
Skala nyeri 0 berpartisipasi
keterampilan
Klien tampak
managemen secara aktif dan
12

lebih rileks nyeri meningkatkan rasa


Pioderma (relaksasi) control
mengecil 3. Tingkatkan
kenyaman
klien 3. Meningkatkan
4. Evaluasi relaksasi dan
penghilang
4. Kontrol nyeri
nyeri/control
5. Kolaborasi maksimum pada

pemberian aktivitas sehari-hari


5. Perubahan metode
analgesik
untuk penghilangan
sesuai
nyeri
indikasi

(1 (2) (3) (4) (5)


)
2 Gangguan pola Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. untuk mengetahui
tidur tindakan keperawatan tidur klien kulitas tidur klien
2. Cafein
berhubungan selama x 24 jam 2. Anjurkan klien
mempunyai efek
dengan kebutuhan tidur klien untuk
puncak setelah 2-4
pruritus dapat terpenuhi menghindari
jam dikonsumsi
dengan kriteria hasil : minuman yang
klien tidur 6-8 jam mengandung
sehari kafein
3. Anjurkan klien
3. Memeberikan efek
untuk
yang
melakukan
menguntungkan
gerak badan
13

secara rutin untuk tidur jika


dilakukan pada
sore hari
4. Lakukan 4. Tindakan ini
melakukan hal- memudahkan
hal ritual peralihan dari
menjelang tidur keadaan terjaga
menjadi keadaan
ngantuk
5. Kolaborasi 5. Pemberian obat
pemberian obat diharapkan klien
antihistamin dapat tidur

(1 (2) (3) (4) (5)


)
3 Gangguan Setelah dilakukan 1. Berikan 1. klien butuh
citra tubuh tindakan keperawatan kesempatan penglaman
berhubungan selama x 24 jam kien untuk didengarkan dan
dengan gangguan citra diri mengungkapak dipahami
penampakan dapat teratasi dengan an perasaannya
2. Menetralkan
2. Bantu pasien
kulit yang kriteria hasil :
kecemasan dan
yang cemas
tidak baik Klien dapat memulihkan
dalm
meningkatkan realitas situasi
kemampuan
kemauan
menilai diri dan
untukmmenerima
mengenali diri
keadaan diri
serta mengatasi
Klien dapat
maslah
14

berpartisipasi 3. Dorong klien 3. Membantu dalam


dalam tindakan untuk meningkatkan
keperawatan bersosialisasi sosialisai]si dan
dengan orang penerimaan diri
lain
4. Dukungan
4. Bersama klien
pperawat pada
mencari
klien dapat
alternative
meningkatkan
koping yang
rasa percaya diri
positif
klien

(1 (2) (3) (4) (5)


)
15

4 Hipertermi Setelah dilakukan 1. Pantau suhu 1.Suhu yang tinggi


berhubungan tindakan keperawatan klien (drajat menunjukan
dengan proses selama x 24 jam dan pola) proses infeksius
penyakit diharapkan suhu
2. Beri kompres 2. Membatu
tubuh menurun
hangat mengurangi
dengan kriteria hasil :
demam
Suhu : 36,5-
37,5c 3.Membantu
3. Anjurkan klien mengurangi
untuk banyak demam
minum
4.Digunakan untuk
4. Berika obat mengurangi
Antipiretik
demam dengan
aksi sentralnya
pada hipotalamus

2.2 Asuhan Keperawatan Kusta


2.2.1 Pengertian
16

Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya


ialah Mycobacterium Leprae yang bersifat intraselular obligat. (Kosasih
dan Sri Linuwih 2010).
Saraf parifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan ukosa traktus
respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan
saraf pusat. (Amin dan Hardhi 2013).
Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih
merupakan Masalah yang sangat kompleks.masalah yang ada bukan saja
dari segi medisnya ,tetapi juga masalah sosial ,ekonomi,budaya ,serta
keamanan dan ketahanan nasional . (Widoyono. 2011).
Kusta (lepra atau morbus Hansen) adalah penyakit kronis yang
disebabkan oleh infeksi mycobacterium leprae (M. Leprae). (Mansjoer,
Arif. Dkk. 2000)
2.2.2 Etiologi
Kuman penyebab adalah Myicobacterium leprae yang ditemukan
oleh G.A. HANSEN pada tahun 1874 di Nerwegia, yang sampe sekarang
belum juga dapat dibiakan dalam media artifisial. M. Leprae berbentuk
kuman dengan ukuran 3 8 m x 0,5 m, tahan asam dan alkohol serta
positif-Gram. (Kosasih dan Sri Linuwih 2010. )
Kusta tampil dalam dua jenis bentuk klinis utama, yaitu kusta bentuk
kering atau tuberkuloid, dan kusta bentuk basah, disebut juga kusta
lepromatosa. Bentuk ketiga yaitu bentuk peralihan (borederline). (Amin
dan Hardhi 2013).
a. Kusta bentuk kering : tidak mnular, kelainan kulit berupa
bercak keputihan sebesar uang logam atau lebih besar, sering
timbul dipipi, punggung, pantat, paha, atau lengan. Bercak
tampak kering, kulit kehilangan daya rasa sama sekali.
b. Kusta bentuk basah : bentuk menular karena kumamnya
banyak terdapat diselaput lendir hidung, kulit dan organ tubuh
lainnya, dapat berupa bercak kemerahan, kecil kecil tersebar
diseluruh tubuh atau berupa penebalan kulit yang luas sebagai
17

infiltrate yang tampak mengkilap dan berminyak, dapat


berupa benjolan merah sebesar biji jagung yang tersebar
dibadan, muka dan daun telingga. Disertai rontoknya alis
mata, menebalnya daun telingga.
c. Kusta tipe peralihan : merupakan peralihan antara kedua ttipe
utama. Pengobatan tipe ini dimaksukkan kedalam jenis kusta
basah. (Amin dan Hardhi, 2013)
2.2.3 Patofisiologi
M. Leprae adalah organisme tahan asam intrasel yang sangat sulit
tumbuh dalam biakan, tetapi dapat ditumbuhkan dalam almadilo
(trenggileng), kuman ini tumbuh lebih lambat dari pada mikobakterium
lain dan tumbuh paling subur pada suhu 320C sampai 340C, yakni suhu
kulit manusia dan suhu tubuh inti armadilo, seperti M. Tuberkulosis M.
Leprae tidak mengeluarkan toksin, dan virulensinya didasarkan pada sifat
dinding selnya. Dinding selnya cukup mirip dengan dinding M.
Tuberkulosis sehingga imunisasi dengan basil Calnette guerin sedikit
banyak memberi perlindungan terhadap infeksi M. Leprae. Imunitas
seluler tercermin oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap
penyuntikan ekstrak bakteri yang disebut lepromin kedalam dermis.
Pada sebagian kasus, terbentuk antibodi terhadap respon antigen M.
Leprae. Antibodi ini biasanya tidak bersifat protektif, tetapi dapat
membentuk kompleks imun dengan gen antigen bebas yang dapat
menyebabkan eritema nodosem, vaskulitis dan glomerulonefritis.
(Robbins dan Cotran. 2009).
Kusta tuberkuloid berawal dari lesi lokal yang mula mula datar dan
merah, tetapi kemudian membesar dan membentuk ireguler disertai
indurasi, peninggian, tepi hiperpigmentasi dan bagian tengah yang pucat
dan cekung (penyembuhan disentral). Kelainan saraf mendominasi
gambaran kusta tuberkuloid. Saraf terbungkus oleh reaksi peradangan
granulomatosa dan, jika cukup kecil (misalnya cabang perifer), akan
18

mengalami kerusakan. Degenerasi saraf menyebabkan anastesi kulit serta


atrofi kulit dan otot menyebabkan pasien mudah mengalami trauma di
bagian yang terkena, disertai kulit pembentukan ulkus kulit indolen.
Dapat terjadi kontraktur, paralisis dan autoamputasi jari tangan atau kaki.
Kelainan saraf wajah dapat menyebabkan paralisis kelopak mata, disertai
keratitis dan ulkus kornea. Pada pemeriksaan mikroskopik, semua lesi
memperlihatkan lesi granulotoma mirip dengan lesi yang ditemukan pada
tuberkulosis, dan basil hampir tidak pernah ditemukan. Adanya
granuloma dan ketiadaan bakteri mencerminkan imunitas sel T yang kuat.
Karena kusta memperlihatkan perjalanan penyakit yang sangat lambat,
hingga berpuluh puluh tahun, sebagian besar pasien meninggal bersama
kusta dan bukan disebabkan olehnya.
Kusta lepramatosa mengenai kulit, saraf perifer, kamera anterior
mata, saluran napas atas (hingga laring), testis, tangan dan kaki. Organ
vital dan susunan saraf pusat jarang terkena, mungkin karena suhu inti
tubuh terlalu tinggi untuk tumbuhnya M.leprae. lesi lepramatosa
mengandung agregat magrofat penuh lemak (sel kusta), yang sering terisi
oleh masa basil tahan asam. Kegagalan menahan infeksi membentuk
granuloma memcerminkan rendahnya respon TH1. Terbentuk lesi makuler,
papular, noduler diwajah, telingga, pergelangan tangan, siku dan lutut.
Seiring dengan perkembangan penyakit, lesi nodular menyatu untuk
menimbulkan fasies leonina (muka singa) yang khas.sebagian besar lesi
kulit hipoestetik atau anestetik. Lesi dihidung dapat menyebabkan
peradangan persisten dan pembentukan duh yang penuh basil. Saraf
perifer, terutama nervus ulnaris dan pereneus dibagian yang dekat kulit,
diserang mikobakteri disertai reaksi peradangan minimal. Hilangnya
sensibilitas dan kelainan kelainan trofik ditangan dan kaki mengikuti
lesi saraf. Kelenjar limfe memperlihatkan agregat magrofag berbusa
didaerah parakorteks (sel T), disertai pembesaran sentrum germinativum,
19

pada penyakit tahap lanjut, agregat magrofag juga terbentuk di pulpa


merah limpa dan hati. Testis biasanya banyak mengandung basil, disertai
dektruksi tubulus seminiferus dan sterilitas. (Robbins dan Cotran. 2009).
2.3.4 Manifestasi Klinik
Diagnosa penyakit kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis,
dan histopatologis, dan serologis.
Diantara ketiganya, diagnosis secara klinislah yang paling terpenting
dan paling sederhana. Hasil bakterioskopis memerlukan waktu paling
sedikit 15 30 menit, sedangkan histopatologik 10 14 hari. Kalau
memungkinkan dapat dilakukan tes lepromin (mitsuda) untuk membantu
penentuan tipe, yang hasilnya baru dapat diketahui setelah 3 minggu.
Penentuan tipe kusta perlu dilakukan agar dapat menetapkan terapi yang
sesuai. Bila kuman M. Leprae untuk kedalam tubuh seseorang, dapat
timbul gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe
klinis bergantung pada sistem imunitas seluler (SIS) penderita. Bila SIS
baik akan tampak gambaran klinis kearah tuberkuloid, sebaliknya SIS
rendah memberikan gamabaran lepromatosa.
Tipe I (indeterminate ) tidak termasuk dalam spektrum. TT adalah
tipe tuberkuloid polar, yaikni tuberkuloid 100%, merupakan tipe yang
stabil, jadi berarti tidak mungkin berubah tipe. Begitu juga LL adalah tipe
lepromatosa polar, yakni lepromatosa 100%, juga merupakan tipe yang
stabil yang tidak mungkin berubah lagi. Sedangkan tipe antara Ti dan Li
disebut tipe borderline atau campuran, berarti campuran antara
tuberkuloid dan lepramatosa. BB adalah tipe campuran yang terdiri atas
50% tuberkuloid dan 50% lepromatosa. Bi dan Ti lebih banyak
tuberkuloidnya, sedangkan BL dan Li lebih banyak lepromatosanya. Tipe
tipe campuran ini adalah tipe yang labil, berarti dapat bebas beralih tipe,
baik kearah TT maupun kearah LL. Multibasiler berarti mengandung
banyak kuman yaitu tipe LL,BL, dan BB. Sadangkan pausibasiler berarti
mengandung sedikit kuman, yakni tipe TT, BT, dan I.
20

2.2.5 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Bakterioskopik (Kerokan Jaringan Kulit)

Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu


menegakan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat
dari kerokan jaringan kulit atau usapan dan kerokan mukosa hidung
yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam (BTA),
antara lain dengan ZIEHL-NEELSEN. Bakteriokopik negatif pada
seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung
kuman M. Leprae.
Pertama tama harus ditentukan lesi dikulit yang diiharapkan
paling padat oleh kuman, setelah terlebih dahulu menentukan jumlah
tempat yang akan diambil. Mengenai jumlah lesi yang ditentukan
oleh tujuanya, yaitu untuk riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk
rutin sebaiknya minimal 4 6 tempat, yaitu kedua cuping telinga
bagian bawah dan 2 4 lesi lain yang paling aktif, berarti yang paling
eritematosa dan paling infiltratif. Pemilihan kedua cuping telinga
tersebut tanpa menghiraukan ada tidaknya lesi di tempat tersebut,
oleh karena atas dasar pengalaman tempat tersebut diharapkan
mengandung kuman paling banyak. Perlu diingat bahwa setiap
tempat pengambilan harus dicatat, guna pengambilan ditempat yang
sama pada pengamatan mengobatan untuk diibandigkan hasilnya.

b. Pemeriksaan Histopatologik
Magrofag dalam jaringan yang berasal dari monosit didalam
darah ada yang mempunyai nama khusus, antara lain sel Kupffer dari
hati, dan yang dari kulit disebut histiosit. Salah satu tugas magrofag
adalah melakukan fagositosis. Kalau ada kuman (M. Leprae) masuk,
akibatnya akan bergantung pada sistem imunitas seluler (SIS) orang
itu. Apabila SIS- nya tinggi. Magrofag akan mampu menfagosit M.
21

Leprae. Dtangnya histiosit ketempat kuman disebabkan karena proses


imunologik dengan adanaya faktor kemotaktik. Kalau dattangnya
berlebihan dan tidak ada lagi yang harus difagosit, magrofag akan
berubah bentuk menjadi sel epiteloid yang tidak dapat bergerak dan
kemudian akan dapat berubah menjadi sel datia langhans. Adanya
masa epiteloid yang berlebihan dikelilingi oleh limfosit yang disebut
tuberkel akan menjadi penyebab utama kerusakan jaringan dan cacat.
Pada penderita dengan SIS rendah atau runtuh, histiosid tidak dapat
menghancurkan M. Leprae yang sudah ada didalamnya, bahkan
dijadikan tempat berkembang biak dan disebut sel virchow atau sel
lepra atau sel busa dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan.
Granuloma adalah akumulasi magrofag dan atau derivat
derivatnya. Gammbaran histopatologik tipe tuberkuloid adalah
tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada kuman atau
hanya sedikit dan non solid.. pada tipe lepromatosa terdapat kelim
sunyi subepidermal (subepuidermal clear zone), yaitu suatu daerah
langsung dibawah epidermis yang jaringanya tidak patologik.
Didapati sel Virchow dengan banyak kuman. Pada tipe borderline,
terdapat campuran unsur unsur tersebut.

c. Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas terbentuknya
antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M. Leprae.
Antibodi yang terbentuk dapat bersifat spesifik terhadap M. Leprae,
yaitu antibodi antiphenolic glycolipid 1 (PGL 1) dan antibodi 16
kD serta 35 kD.
Sedangkan antibod yang tidak spesifik antara lain antibodi anti
lipoarabinomanan (LAM), yan juga dihasiilkan oleh kuman
M.tuberculosis.
22

Kegunaan pemeriksaan serologik ini ialah dapat membantu


diagnosis kusta yang meragukan, karena tanda klinis dan
bakteriologik tidak jelas. Disamping itu dapat membantu menentukan
kusta subklinis, karena tidak didapati lesi kulit, misalnya pada
narakontak serumah. Macam macam pemeriksaan serologik kusta
ialah :
1) Uji MPLA ( mycobacterium leprae Particle
Aglunation)
2) Uji ELISA ( Emzyme Linked Immuno sorbent Assay).
3) ML dipstick test (mycobacterium leprae dipstick).
4) ML flow test (Mycobacterium leprae Flow test).
(Kosasih dan Sri Linuwih, 2010)
2.2.6 Komplikasi
Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta
baik akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu
terjadi reaksi kusta. Proses terjadinya cacat kusta dapat dilihat dari
gambar dibawah ini.

2.2.7 Asuhan keperawatan


a. Pengkajian
1) Boidata
Kaji secara lengkap tentang umur, penyakit kusta dapat
menyerang semua usia, jenis kelamin, rasio, pria dan wanita 2,3 :
1,0, paling sering terjadi pada daerah dengan sosial ekonomi
yang rendah dan insidensi meningkat pada daerah tropis/
subtropics. Kaji pula secara lengkap jenis pekerjaan klien untuk
mengetahui tigkat sosial ekonomi, resiko trauma pekerjaan, dan
kemungkinan kontak penderita kusta.
2) Keluhan utama
23

Pasien sering dating ke tempat pelayanan kesehatan dengan


keluhan adanya bercak putih yang tidak terasa atau dating
dengan keluhan kontraktur pada jari- jari.
3) Riwayat penyakit sekarang
Pada melakukan anamnesa pada pasien, kaji kapan lesi atau
kontraktur tersebut, sudah berapa timbulnya dan bagaimana
proses perubahannya, baik warna kulit maupun keluhan lainnya.
Pada beberapa kasus ditemukan keluhan, gatal, nyeri, panas, atau
rasa tebal. Kaji juga apakah klien pernah menjalani pemeriksaan
laboratorium. Ini penting untuk mengetahui apakah klien pernah
menderita penyakit tertentu sebelumnya, pernahkan klien
memakai obat kulit yang dioles atau diminum. Pada beberapa
kasus, reaksi beberapa obat juga dapat menimbulkan
perubahanwarna kulit dan reaksi elergi yang lain.perlu juga di
tanyakan Apakah keluhan ini pertama kali di rasakan. Jika sudah
pernah,obat apa yang di minum, teratur atau tidak.

4) Riwayat penyakt dahulu


Salah satu factor penyebab penyakit kusta adalah daya
tahan tubuh yang menurun. Akibatnya m.leprae dapat masuk ke
dalam tubuh . oleh karena itu perlu di kaji adakah riwayat
penyakit kronis atau penyakit lain yang pernah di derita.
5) Riwayat penyakit keluarga
Penyakit kusta bukan penyakit keturunan,tetapi jika anggota
keluarga atau tetangga menderita penyakit kusta, resiko tinggi
tertular sangat tinggi terjadi. Perlu di kaji adakah anggota
keluarga lain yang menderita atau memiliki keluan yang sama,
baik yang masi hidup maupun sudah meninggal.
6) Riwayat psikososial
24

Kusta terkenal sebagai penyakit yang menakutkan dan


menjijikan. Ini di sebabkan adanya deformitas atau kecacatan
yang di timbulkan. Oleh karena itu perlu di kaji bagaimna
konsep diri klaen dan respon masyarakat di sekitar klien.
7) Kebiasaan sehari- hari
Pada saat melakukan anamnesis tentang pola kebiasaan
sehari-hari perawat perlu mengkaji setatus gizi pola makan/
nutrisi nklien . hal ini sangat penting karena factor gizi berkaitan
erat dengan siste imun. Apa bila sudah ada deformitas atau
kecacatan, maka aktifitas dan kemampuan klien dalam
menjalankan kegiatan sehari-hari dapat terganggu. Di samping
itu,perlu dikaji aktivitas yang di lakukan klien sehari-hari. Hal ini
berkaitan dengan kemungkinan terjadinya cidera akibat
anestasia.
(Loelfia Dwi Rahariyani, 2009)

b. Diagnosa Keperawatan
1) Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan
proses inflamasi
2) Gangguan rasa nyaman, nyeri yang berhubungan dengan proses
inflamasi jaringan
3) Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik
4) Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan
ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh
25

c. Intervensi Keperawatan
Tabel 2.2.7 intervensi keperawatan
Dx Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
1. 1. Kaji/catat warna 1. Memberikan
Setelah dilakukan lesi, perhatikan jika inflamasi dasar
tindakan keperawatan ada jaringan tentang terjadi
proses inflamasi nekrotik dan kondisi proses inflamasi
berhenti dan sekitar luka. dan atau mengenai
berangsur-angsur sirkulasi daerah
sembuh. yang terdapat lesi.
Kriteria hasil :
Menunjukkan 2. Berikan perawatan 2. Menurunkan
regenerasi jaringan khusus pada daerah terjadinya
o Mencapai yang terjadi penyebaran
penyembuhan tepat inflamasi. inflamasi pada
waktu pada lesi jaringan sekitar.
3. Evaluasi warna lesi 3. Mengevaluasi
26

dan jaringan yang perkembangan lesi


terjadi inflamasi dan inflamasi dan
perhatikan adakah mengidentifikasi
penyebaran pada terjadinya
jaringan sekitar. komplikasi.
4. Bersihkan lesi 4. Kulit yang terjadi
dengan sabun pada lesi perlu
waktu direndam. perawatan khusus
untuk
mempertahankan
kebersihan lesi.
5. Istirahatkan 5. Tekanan pada lesi
bagian yang terdapat bisa maenghambat
lesi dari tekanan proses
penyembuhan.

2. Setelah dilakukan 1. Observasi lokasi, 1. Memberikan


tindakan keperawatan intensitas dan informasi untuk
selama ...x24 jam penjalaran nyeri. membantu dalam
diharapkan proses memberikan
inflamasi berhenti dan intervensi.
berangsur-angsur 2. Observasi tanda- 2. Untuk mengetahui
hilang. tanda vital. perkembangan atau
Kriteria hasil : keadaan pasien.
Setelah dilakukan 3. Ajarkan dan 3. Dapat mengurangi
tindakan keperawatan anjurkan rasa nyeri.
proses inflamasi dapat melakukan tehnik
berkurang dan nyeri distraksi dan
relaksasi.
berkurang dan
4. Atur posisi 4. Posisi yang nyaman
beraangsur-angsur senyaman dapat menurunkan
hilang. mungkin. rasa nyeri.
5. Kolaborasi untuk 5. Menghilangkan rasa
27

pemberian nyeri.
analgesik sesuai
indikasi.
3. Setelah dilakukan 1. Pertahankan posisi 1. Meningkatkan
tindakan keperawatan tubuh yang nyaman. posisi fungsional
selama ...x24 jam pada ekstremitas.
diharapkan kelemahan 2. Perhatikan sirkulasi, 2. Oedema dapat
fisik dapat teratasi dan gerakan, kepekaan mempengaruhi
aktivitas dapat pada kulit. sirkulasi pada
dilakukan. ekstremitas.
Kriteria hasil : 3. Lakukan latihan 3. Mencegah secara
Pasien dapat rentang gerak secara progresif
melakukan aktivitas konsisten, diawali mengencangkan
sehari-hari dengan pasif jaringan,
Kekuatan otot kemudian aktif, meningkatkan
penuh pemeliharaan
fungsi otot/sendi.
4. Jadwalkan
4. Meningkatkan
pengobatan dan
kekuatan dan
aktifitas perawatan
toleransi pasien
untuk memberikan
terhadap aktifitas.
periode istirahat.
5. Dorong dukungan
5. Menampilkan
dan bantuan
keluarga/orang
keluaraga/orang
terdekat untuk aktif
yang terdekat pada
dalam perawatan
latihan.
pasien dan
memberikan terapi
lebih konstan.
28

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kusta adalah penyakit infeksi yang berlangsung dalam waktu lama,


penyebabnya adalah Mycobacterium leprae. Diagnosis penyakit kusta
didasarkan gambaran tanda dan gejala yang dimiliki.

Pioderma adalah terminologi umum untuk penyakit-penyakit infeksi kulit


yang disebabkan oleh kuman (bakteri), terutama Streptococcus beta
hemolyticus atau Staphylococcus aureus. Diantara semuanya, diagnosis secara
klinislah yang terpenting dan paling sederhana.

3.2. Saran
3.2.1 Perawat diharapkan lebih mengetahui dan memahami tentang konsep
asuhan keperawatan pioderma dan kusta, sehingga perawat dapat
memberikan asuhan keperawatan yang tepat.

3.2.2 Masyarakat dapat mengetahui dan memahami gejala-gejala serta


penyebab pioderma dan kusta.
3.2.3 Pelayanan kesehatan dapat melayani dan menangani klien yang
mengalami piderma dan kusta dengan baik.
29

DAFTAR PUSTAKA

Rahariyani, Loelfia Dwi. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Sistem Integumen. EGC. Jakarta.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran,EGC.
http://joesmariantika.blogspot.com/2009/12/v-behaviorurldefaultvml-o_6163.html

http://nersqeets.blogspot.com/2009/10/askep-pioderma.html