Anda di halaman 1dari 50

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Badan Pusat Statistik mencatat terjadi peningkatan jumlah

penduduk Indonesia sejak tahun 1930 sampai 2010.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan kebutuhan

pangan nasional meningkat sehingga pertanian menjadi sektor

yang penting untuk dikembangkan. Untuk menjaga

kelangsungan hidup dan perkembangan pertanian masyarakat

sebisa mungkin menggunakan berbagai cara untuk menghasilkan

produk pertanian yang unggul dan bebas dari hama. Sehingga

muncul istilah intensifikasi pertanian. Intensifikasi pertanian

adalah pemberantasan hama dan penyakit tanaman dengan

menggunakan pestisida.

Pestisida secara harfiah dapat diartikan sebagai pembunuh

hama (pest : hama; cide: membunuh) Pestisida yang digunakan

di bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk

perlindungan tanaman (crop protection products) untuk

membedakannya dari produk-produk yang digunakan dibidang

lain. (Djojosumarto, 2008). Pestisida sering digunakan sebagai

pilihan utama memberantas hama karena daya bunuhnya tinggi,

penggunaannya mudah, dan hasilnya cepat untuk diketahui.

Pestisida merupakan bahan yang telah banyak memberikan


manfaat untuk keberlangsungan dunia produksi pertanian.

Banyaknya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang

dapat menurunkan hasil panen, dapat diminimalisir dengan

pestisida. Sehingga kehilangan hasil akibat OPT tidak terlalu

besar. Selain bidang pertanian, pestisida juga memberikan

banyak manfaat untuk membantu masalah yang timbul akibat

adanya organisme pengganggu di tingkat rumah tangga. Seperti

pembasmian nyamuk misalnya, dengan adanya pestisida maka

proses pembasmian nyamuk akan menjadi lebih cepat dan

efisien. Bahkan masih banyak lagi peranan pestisida bagi

kehidupan manusia di berbagai bidang.

Pestisida memiliki peranan besar dalam meningkatkan

produksi pertanian. Berdasarkan pengalaman di Amerika Latin

dengan menggunakan pestisida dapat menaikkan produksi

hingga 40% pada tanaman coklat. Di Pakistan pestisida

membantu meningkatkan produksi tebu sebesar 33 % dan

berdasarkan catatan FAO penggunaan pestisida dapat

menyelamatkan hasil 50% pada tanaman kapas (Sudarmo,

1991 :18).

Mengingat perannya yang sangat besar, perdagangan

pestisida dewasa ini semakin ramai. Berdasarkan data dari

Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika, saat ini tercatat

sebanyak 2600 bahan aktif pestisida yang di perdagangkan di


negara ini. Lebih dari 35 ribu formulasi telah di pasarkan di

seluruh dunia temasuk Indonesia (Soetikno S, 1992 : 10).

Di Indonesia untuk keperluan perlindungan tanaman,

khususnya untuk pertanian dan kehutanan pada tahun 1986

tercatat 371 formulasi yang telah terdaftar dan diizinkan

penggunaanya, dan 38 formulasi yang baru mengalami proses

pendaftaran ulang. Sedangkan ada 215 bahan aktif yang telah

terdaftar dan beredar di pasaran (Sudarmo, 1992:9).

Di samping memiliki banyak manfaat bagi sektor pertanian

dan bidang lainnya, aplikasi pestisida memiliki potensi bahaya

yang besar baik terhadap manusia, hewan, maupun lingkungan.

Adapun segi bahaya dari pestisida adalah gangguan kesehatan

pada pekerja, keracunan, kebakaran, dan pencemaran

lingkungan hidup.

Banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara

penggunaan pestisida dengan gangguan kesehatan yang di

derita pekerja. Menurut WHO (2008), keracunan pestisida baik

yang di sengaja maupun tidak sengaja merupakan masalah yang

serius pada komunitas pertanian di Negara miskin dan

berkembang (Florentina, 2013).

Pada tahun 1973 pemerintah mengeluarkan peraturan

perundang-undangannya yang terkait langsung maupun tidak

langsung dengan pestisida, diantaranya Peraturan Pemerintah


Nomor 7 tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran,

Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida; lalu pemerintah

mengeluarkan peraturan perundangan-undangan lainnya yaitu

Keputusan Menteri Pertanian Nomor 763 Tahun 1998 Tentang

Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida dan Keputusan

Menteri Pertanian Nomor 42 Tahun 2007 tentang Pengawasan

Pestisida. Pengawasan pestisida dilakukan dengan tujuan

:melindungi kesehatan manusia, melindungi kelestarian alam.

Menjamin mutu dan efektivitas pestisida dan memberikan

perlindungan kepada produsen, pengedar dan pengguna

pestisida. (Florentina, 2013). Meskipun banyak peraturan yang

telah dikeluarkan tapi masih juga sebagian besar petani

mempraktekkan penggunaan pestisida yang tidak benar.

Kecamatan Metro Kibang adalah salah satu kecamatan yang

sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani, mulai

dari petani sayur, buah, padi, jagung dan lain sebagainya. Salah

satu desa di Metro Kibang yaitu Desa Sumber Agung mayoritas

penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yaitu

sebanyak 1998 orang dari total keseluruhan 2149 jiwa yang

sudah memiliki mata pencaharian pokok.

Alur kerja petani dalam menggunakan pestisida terdiri dari

pemilihan, penyimpanan, pencampuran, penyemprotan dan

pembuangan pestisida. Pertama, petani membeli pestisida di


toko, biasanya mereka tidak melihat apakah toko memiliki izin

operasi atau tidak. Pestisida yang telah dibeli kemudian di

simpan di lahan mereka atau dirumah mereka. Sebelum

melakukan penyemprotan, pestisida di campur terlebih dahulu,

baik dengan air maupun dengan pestisida lain yang berbeda

jenis dan fungsinya. Pencampuran pestida dilakukan pada wadah

seperti ember agar mudah melihat apakah campuran pestisida

sudah merata atau belum. Biasanya dalam pencampuran

tersebut petani menggunakan alat seperti kayu kecil atau ranting

untuk mengaduk pestisida. Setelah itu dilakukan penyemprotan

pestisida pada tanaman. Setelah selesai melakukan

penyemprotan sisa pestisida di buang ke sekitar tanaman atau

lahan pertanian dan petani penyemprot segera mencuci tangan

dengan sabun.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan kepada 30

petani yang sedang melakukan penyemprotan di dapatkan hasil

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat melakukan

penyemprotan masih banyak yang tidak menggunakan dengan

baik, benar dan lengkap.

Tabel 1.1
Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Petani Saat Melakukan

Penyemprotan

No APD Jumlah Petani


Memakai Tidak jumlah
Memakai
1 Topi 18 (60%) 12(40%) 30

2 Pakaian 25 (84%) 5 (16%) 30


Lengan
Panjang
3 Masker 15 (50%) 15 (50%) 30
4 Sarung 5(16%) 25(84%) 30
Tangan
5 Sepatu 2(7%) 28(93%) 30
boot
6 Kacamata/ - (0%) 30(100%) 30
Pelindug
mata.

Dari data diatas dapat dilihat masih kurangnya kesadaran

petani di Desa Sumber Agung dalam penggunaan APD dalam

bertani dengan menggunakan pestisida, padahal beberapa

petani mengaku sering merasakan gatal di kulit, pusing dan mual

setelah melakukan penyemprotan bahkan ada juga petani yang

dilarikan ke puskesmas terdekat karna keracunan pestisida. Hal

itu mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan sikap, pengetahuan,

dan tindakan yang sesuai dalam penggunaan pestisida sehingga

banyak petani yang masih kurang tepat dalam menggunakan


pestisida sehinggan menyebabkan gangguan kesehatan bagi

mereka.

Melihat kondisi seperti itu penulis ingin melakukan penelitian

mengenai pengetahuan, sikap, dan tindakan petani penyemprot

pada penggunaan pestisida di Desa Sumber Agung.

B. Rumusan Masalah

Berdasrakan latar belakang di atas maka yang menjadi

permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana

pengetahuan, sikap, dan tindakan petani dalam penggunaan

pestisida di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui pengetahuan sikap, dan tindakan petani

dalam penggunaan pestisida di Desa Sumber Agung

Kecamatan Metro Kibang.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan petani pada

pemilihan, penyimpanan, pencampuran,

penyemprotan dan pembuangan sisa pestisida.


b. Untuk mengetahui sikap petani pada pemilihan,

penyimpanan, pencampuran, penyemprotan dan

pembuangan sisa pestisida.


c. Untuk mengetahui tindakan petani pada pemilihan,

penyimpanan, pencampuran, penyemprotan dan

pembuangan sisa pestisida.


D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan bagi petani agar mengetahui

hal-hal yang berkaitan dengan perilaku penggunaan

pestisida yang benar.


2. Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menerapkan

teori yang dipelajari selama perkuliahan terkait

dengan pengetahuan, sikap dan tindakan dalam

penggunaan pestisida.
3. Sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak terkait untuk

melakukan penelitian lanjutan untuk promosi

kesehatan dalam penggunaan pestisida.


E. Ruang Lingkup

Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi tentang

pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam penyemprotan

(pemilihan, penyimpanan, pencampuran, penyemprotan dan

pembuangan sisa pestisida) di Desa Sumber Agung Kecamatan

Metro Kibang.
BAB II

TINAJUAN PUSTAKA

A. Definisi Pestisida

Pestisida (Inggris:Pesticide) secara harfiah berarti

pembunuh hama (pest:hama;cide:membunuh). Menurut

Peraturan Pemerintah No. 7/1973, pestisida adalah semua zat

kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang

dipergunakan untuk:

1. Mengendalikan atau mencegah hama atau penyakit

yang merusak tanaman, bagian tanaman, atau hasil-

hasil pertanian;
2. Mengendalikan rerumputan;
3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang

tidak diinginkan
4. Mengendalikan atau mencegah hama-hama luar

pada hewan peliharaan atau ternak;


5. Mengendalikan hama-hama air;
6. Mengendalikan atau mencegah binatang-binatang

yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia


dan binatang yang perlu dilindungi, dengan

penggunaan pada tanaman, tanah, dan air.

Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide

Control Act, dalam buku Sudarmo, 1992, pestisida adalah semua zat atau

campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan

serangga, binatang pengerat, nematode cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad

renik, yang dianggap hama, kecuali virus, bacteria atau jasad renik yang

terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat

yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau

pengering tanaman.

Dalam Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem

Budidaya Tanaman, yang dimaksud dengan Pestisida adalah zat

pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme

renik, atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan

tanaman.

B. Jenis Pestisida

Pestisida mempunyai sifat fisik, kimia, dan daya kerja

yang berbeda-beda sehingga dikenal banyak sekali macam

pestisida. Pestisida dapat diklasifikasikan menurut berbagai

cara sesuai dengan kepentingannya, yaitu berdasarkan

organisme sasaran, aktivitas kerja, dan struktur kimianya.


(Djojosumarto, 2008:36).

1. Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Sasaran OPT (Organisme

Penganggu Tanaman) dapat dilihat pada tabel 2.1

Pestisida OPT sasaran Contoh


Insektisida Hama: Serangga Bacilus

thuringiensis,

diafentiuron,karbofu

ran, metidation,

profenofos,

sipermetrin,

siromazin, dsb
Akarisida Hama: Tungau Akrinitrin,dikofol,

deksatiazok, dsb
Molluskisida Hama : Siput Metaldehida
Rodentisida Hama : Tikus Brodifakum,

kumaklor,

klorofasinon,

kumatetralil dsb
Fungisida Penyakit : Jamur Difenokonazol,

maneb, mankozeb,

metalaksil,thiram,

ziram dsb
Bakterisida Penyakit : bakteri Oksitetrasiklin,

streptomisin,

tetrasiklin dsb
Nematisida Penyakit : nematoda Etrofos, natrium

metham, oksamil
Herbisida Gulma (tumbuhan 2, 4-D, atrazin,

penganggu) ametrin, bromasil,

butaklor, diuron,

glifosat, piperofos,

sianazin,

sinosulfuron, dsb.

2. Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Struktur Zat

Kimianya

Pestisida dikelompokkan pula menurut kelompok,

golongan atau kelas kimianya, yakni sekelompok

pestisida yang mempunyai persamaan dalam rumus

dasar struktur molekulnya. Misalnya, semua pestisidaa

yang termasuk dalam kelompok triazin (misalnya

atrazin, ametrin,simazin, siromazin) mempunyai gugus

triazin (triazin ring) dalam persenyawaannya. Demikian

pula, semua senyawa kimia dari golongan urea

(misalnya diuron, metabromuron, lufenuron,

diafenitiuron) mempunyai gugus urea dalam struktr

molekulnya. Senyawa kimia yang tergabung dalam

kelompok yang sama umumnya mempunyai kemiripan


dalam sifat-sifat kimianya, meskipun sifat-sifat

khususnya, misalnya efek biologisnya, dapat sangat

berbeda (Djojosumarto, 2008 : 38).

Berikut ini adalah kelompok pestisida berdasarkan

struktur kimianya :

Tabel 2.2

Kelompok kimia Fungisida

Kelompok Contoh
A. Nonsistemik :
1. Senyawa organik
Senyawa belerang, senyawa

tembaga
2. Senyawa

organometalik
3. Ditiokarbamat Fentin hidroksida

Maneb, mankozeb, probineb,

4. Dikarboksimid zineb, ziram

5. Ftalimid Iprodion, prosimidion,


6. Lain-lain
vinklozolin

Captan, folfet, kaptafol,


B. Antibiotika
ditalimfos

Ditianon, dodin, diklofluanid,


C. Fungisida sistemik :
1. Organofosfat etridiazol, klorotalonil, thiram.
2. Benzimidazol
Blastisidin, kasugamisin,

polioksin B,validamisin
3. Karboksanilid
4. Fenilamida

Edinfenfos,kitazimin, pirazafos

5. Fosfit Benomil,karbendazimi, tiofanat


6. Sterol inhibitor
a. Triazol metiln

Karbiksin, pirakarbolid

b. Imidazol Benalaksil, furalaksil,


c. Piridin
d. Primidin metalaksil, akadisil, siprofuram.
e. Morfolin
7. Lain-lain
Aluminium fosetil.

Bitertanol, difenokonazol,

dinikonazol, heksakonazol

Imazilil, prokloraaz

Pirefenoks

Fenarimol, piperazin

Fenpropimorf, tridemorf.

Bupirimat, dimetemorf

Tabel 2.3

Kelompok kimia insektisida dan akarisida


Kelompok Contoh
1. Tiosianat, dinitrofenol dan DNOC, dinitrofenol,

fluoroasetat dinocab, tiosianat


2. Insektisida anorganik dan
DBCP, fostoksin,
fumigat
kloropikrin, metil bromida

Nikotin, piretrum,
3. Insektisida botanis
retenon, ryania, sabadilla

4. Hidrokarbom berklor
a. DDT dan analog BHC, DDT,dikofol,

klorobenzilat, metoksiklor

b. Siklodiens Aldrin, diedrin, endrin,

endosulfan

c. Terpena berklor Toksafen


5. Organofosfat (OP) :
a. Derivat alifatik

Asefat, forat,dimetoat,

b. Heterosiklik dikrotovas

Asinfosmetil,fention,
c. Derivat fenil
klorpirifos, metidatin

Etil paration, fention,

isofenfos, metil paration


6. Karbamat :
a. Metil karbamat
b. Fenil karbamat
c. Karbamat pyrazol
d. Metil heterosiklik
e. Oksim
Karbaril
7. Piretroid
a. Light sensitive
Metiokarb, propoksur
Dimetilan, isolan, pyrolan

b. Photostable Bendiokarb, karbofuran

Aldikarb, metomil

8. Mikroorganisme

Alletrin, tetrametrindan

resmetrin,

Sipermetrin, deltamterin,

9. Kelompok urea sihalotrin


10. Lain-lain
Bacilus thuringiensis

(bakteria), beauveria

bassania (jamur),

steinerma sp.

(nematoda)

Diafentiuron, ieufenorun

Imidakloprit, siromazin,

pimetrozin

Tabel 2.4

kelompok kimia herbisida


Kelompok Contoh
Asam ariliksialkanoik 2,4-D; 2,4,5-T; MCPA;

diklorprop

Asam arilkarbolik Dikamba, klpramben

Kelompok urea Diuron, fluometuron,

klorbromuron, kloroksuron,

linuron

Kelompok sulfanilurea

Klorosulfuron, metsulfuron,

Kelompok triazin sinosulfuron

Karbamat dan tiokarbamat Ametrin, atrazin,

azinprotrin, desmetrin,

Kelompok urasil propazin, sianazin

Kelompok triazinon Asulam, barban, butilat,

molinat

Kelompok dinitroanilin

Kelompok kloroasetanilida Bromasil, lenasil, terbasil

Garam bipridinum Heksanin, metamitron,

Kelompok imidazol metribuzin

Kelompok organofosfat

Orizalin, trifluralin

Alakor, butaklor, dimetaklor


Diquat, difenssoquat,

paraquat

Imazapyr, imazaquin

Glifosat, glufosinat

Menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat

Bina Perlindungan Tanaman (1993) menggolongkan pestisida

berdasarkan struktur kimianya menjadi :

a. Pestisida Golongan Organokorin

Golongan pestisida ini terdiri dari karbon, klorin, dan

hidrogen. Beberapa bahan aktif golongan ini telah dilarang

penggunaannya di Indonesia karena sangat berbahaya bagi

kehidupan maupun lingkungan. Hal ini disebabkan

organoklorin meninggalkan residu yang sulit terurai dan

dapat terakumulasi dalam rantai makanan. Organoklorin

sangat stabil baik di tanah, air, maupun di dalam jaringan

tanaman dan hewan. Pestisida ini tidak mudah terurai oleh


mikroorganisme, enzim, panas atau sinar ultraviolet. Tiga

sifat utama golongan ini adalah : merupakan racun yang

universal; degradasinya berlangsung sangat lambat; dan

larut dalam lemak. Jika masuk ke dalam tubuh manusia maka

pestisida ini akan berpengaruh terhadap susunan syaraf

terutama membran syaraf dan terakumulasi di dalam lemak.

Yang termasuk ke dalam golongan organoklorin adalah

DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroetana), HCH

(Hexaclorocyclohexane), cyclodines, dan Polychloroterpane.

b. Pestisida golongan organofosfat

Golongan ini sering disebut organic phosphates yang

merupakan derivat dari phosphoric acid. Struktur kimia dan

cara kerjanya berhubungan erat dengan gas saraf dan sangat

toksik bagi hewan bertulang belakang. Pestisida ini bersifat

non persisten dan tidak stabil sehingga dapat menggantikan

organoklorin. Jalur masuk pestisida ini ke dalam tubuh adalah

melalui kulit, mulut, saluran pencernaan, dan pernapasan. Di

dalam darah pestisida ini akan berikatan dengan ezim

kholinesterase yang berfungsi mengatur kerja saraf. Yang

termasuk ke dalam golongan pestisida ini adalah tetraethyl

pyrophosphate, parathion, dan diazinon.

c. Pestisida golongan karbamat


Sifat pestisida ini mirip dengan golongan organofosfat, tidak

terakumulasi dalam sistem kehidupan, tetapi cepat diturunkan

dan dieliminasi. Pestisida ini masuk ke dalam tubuh

melalui saluran pencernaan dan pernapasan. Bahan aktif ini

akan memengaruhi aktivitas enzim kholinesterase apabila

masuk ke dalam tubuh. Beberapa pestisida yang termasuk

golongan ini yaitu Karbaril dan Methanil telah dilarang

penggunaannya. Namun masih banyak formulasi pestisida

berbahan aktif golongan Carbamat, misalnya Fungisida

Previcur, Toksin 500 F, Curater 3 G, Dicarzonil 25 Sp.

d. Pestisida golongan senyawa biprilidium

Bahan aktif yang termasuk golongan ini adalah Paraquat

diklarida yang terkandung dalam Herbisida gramoxone.

e. Pestisida golongan arsen

Bahan aktif yang termasuk golongan ini adalah Arsen

Pentoksida, Kemirin dan Arsen Pentoksida Dihidrat, yang

digunakan untuk insektisida rayap kayu dan rayap tanah.

Umumnya masuk kedalam tubuh melalui mulut dan

pernafasan (Florentina, 2013).

3. Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Cara Kerjanya

Dilihat dari cara kerja dalam membunuh hama,

pestisida dapat digolongkan menjadi tiga golongan,

yaitu :
a. Racun Lambung (Racun Perut, Stomach Poison)

Racun lambung adalah insektisida-insektisida

yang membunuh serangga sasaran bila insektisida

tersebut masuk ke dalam organ pencernaan

serangga dan diserap oleh dinding saluran

pencernaan. Selanjutnya, insektisida tersebut

dibawa oleh cairan tubuh serangga ke tempat

sasaran yang mematikan (misalnya ke susunan

syaraf serangga). Oleh karena itu, serangga harus

terlebih dahulu memakan tanaman yang sudah

disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang

cukup untuk membunuhnya. Insektisida yang

mungkin boleh disebut disebut sebagai racun perut

murni adalah Bacillus thuringiensi.

b. Racun Kontak

Racun komtak adalah insektisida yang masuk ke

dalam tubuh serangga lewat kulit (bersinggungan

langsung). Serangga hama akan mati bila

bersinggungan (kontak langsung) dengan

insektisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga

berperan sebagai racun perut. Beberapa insektisida

yang kuat sifat racun kontaknya antara lain

diklorofos dan primifos metil.


c. Racun Pernapasan

Racun pernapasan adalah insektisida yang

bekerja lewat saluran pernapasan. Serangga hama

akan mati bila menghirup insektisida dalam jumlah

yang cukup. Kebanyakaan racun napas berupa gas,

atau bila wujud asalnya padat atau cair, yang

segera berubah atau menghasilkan gas dan di-

aplikasikan sebagai fumigansia, misalnya metil

bromida, aluminium fosfida, ds. Adapula insektisida,

baik racun kontak atau racun perut, yang

mempunyai efek sebagai fumigansia, misalnya

diafentiuron.

C. Prinsip Penggunaan Pestisida

Pestisida adalah sarana untuk membunuh hama-hama

tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu Pestisida

berperan sebagai salah satu komponen pengendalian. Prinsip

penggunaanya ialah : (Sudarmo, 1992:10)

1. Harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain,

yaitu komponen pengendalian hayati.


2. Efisien untuk mengendalikan hama tertentu.
3. Meninggalkan residu dalam waktu yang diperlukan saja.
4. Tidak boleh persisten, jadi harus mudah terurai.
5. Dalam perdagangan (transpor, penyimpanan, pengepakan,

labeling harus memenuhi persyaratan kemanan

maksimum).
6. Harus tersedia antinode untuk pestisida teraebut.
7. Sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota.
8. Relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan LD50 oral relatif

tinggi).
9. Harga terjangkau bagi petani.

D. Teknik Aplikasi Pestisida

Teknik aplikasi pestisida pertanian mempelajari cara

mengaplikasikan pestisida pertanian agar mendapatkan hasil yang optimal

dengan risiko yang sekecil- kecilnya. Teknik aplikasi memegang peranan

penting dalam upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)

secara kimiawi karena teknik aplikasi ini merupakan jembatan penghubung

antara produk perlindungan tanaman (pestisida) dan OPT sasarannya. Oleh

karena itu penggunaan pestisida harus memperhatikan tiga azas berikut

(Djojosumarto,2000):

1. Penggunaan secara legal, yakni penggunaan pestisida pertanian

yang tidak bertentangan dengan semua peraturan yang berlaku di

Indonesia

2. Penggunaan secara benar, yaitu penggunaan pestisida sesuai

dengan metode aplikasinya, sehingga pestisida yang diaplikasikan

mampu menampilkan efikasi biologisnya yang optimal. Dengan


kata lain, penggunaan pestisida harus efektif dan mampu

mengendalikan OPT sasaran seperti yang dinyatakan dalam

label atau petunjuk penggunaannya.

3. Penggunaan secara bijaksana adalah :

a. Penggunaan pestisida yang mengikuti prinsip-prinsip

pengelolaan risiko (risk management), untuk menjamin

keselamatan pengguna, konsumen, dan lingkungan.

b. Penggunaan pestisida sejalan dengan prinsip-prinsip

pengendalian hama terpadu (PHT)

c. Penggunaan pestisida yang bijaksana juga berarti

penggunaan pestisida yang ekonomis dan efisien.

Sedangkan dalam Pedoman Pembinaan Penggunaan

Pestisida yang dikeluarkan Departemen Pertanian (2011)

dikatakan penggunaan pestisida secara bijaksana adalah

penggunaan pestisida yang mengikuti lima prinsip yaitu :

1) Tepat Sasaran

Tentukan jenis tanaman dan hama sasaran yang

akan dikendalikan sebaiknya tentukan pula

unsur-unsur abiotisnya.
2) Tepat Jenis

Setelah diketahui hasil analisis agro ekosistem

maka dapat ditentukan jenis pestisida yang harus

digunakan misalnya untuk hama serangga

gunakan insektisida untuk tikus gunakan

rodentisida.

3) Tepat Waktu

Waktu pengendalian yang paling tepat harus

ditentukan berdasrkan :

a) Stadium rentan dari hama yang

menyerang tanaman misalnya stadium

larva instar I, II, dan III.


b) Kepadatan populasi yang paling tepat

untuk dikendalikan lakuan aplikasi

pestisida berdasarkan Ambang Kendali

atau Ambang Ekonomi.


c) Kondisi lingkungan misalnya jangan

melakukan aplikasi pestisida pada saat

hujan kecepatan angin tinggi cuaca panas

terik.
d) Lakukan pengulangan sesuai dengan

waktu yang dibutuhkan.


4) Tepat Dosis
Gunakan dosis yang sesuai dengan yang

dianjurkan oleh Menteri Pertanian. Untuk itu

bacalah label kemasan Pestisida. Jangan

melakukan aplikasi pestisida dengan dosis

yang melebihi atau kurang sesuai dengan

anjuran, karena dapat menimbulkan dampak

negatif.

5) Tepat Cara

Lakukan aplikasi pestisida dengan cara yang

sesuai dengan formulasi pestisida dan anjuran

yang di tetapkan (Florentina, 2013).

E. Penggunaan Pestisida

Pestisida memiliki sifat racun yang dapat membahayakan makhluk hidup

dan merusak lingkungan. Oleh karena itu penggunaannya harus dilakukan

dengan berhati- hati. Menurut Djojosumarto (2008), penggunaan pestisida

meliputi kegiatan berikut :

1. Memilih Pestisida

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih

pestisida yang akan digunakan. Pertama adalah jenis organisme

pengganggu yang menjadi sasaran. Hal ini penting karena masing-


masing pestisida hanya manjur terhadap organisme tertentu saja.

Kedua, pastikan formulasi pestisida yang paling tepat digunakan pada

tanaman. Pemilihan formulasi ini hendaknya disesuaikan dengan alat

yang akan digunakan untuk mengaplikasikan pestisida. Bila alat yang

dimiliki adalah alat penyemprot, maka sebaiknya memilih pestisida

dengan formulasi cair. Bila tidak ada alat sama sekali, maka pilih

pestisida yang dengan formulasi butiran. Ketiga, memilih pestisida

dalam kemasan kecil agar habis sekali pakai. Hal ini dimaksudkan

untuk mengurangi risiko bahaya keracunan selama penyimpanan.

Keempat, memilih pestisida yang terdaftar dan telah mendapat izin dari

Departemen Pertanian yang dilengkapi wadah atau pembungkus asli

dan label resmi. Hal ini dilakukan karena pestisida yang tidak berlabel

resmi tidak dijamin kemanjurannya.

2. Menyimpan Pestisida

Pestisida harus selalu disimpan dalam keadaan baik, dengan wadah

atau pembungkus asli, tertutup rapat, tidak bocor atau rusak.

Sertakan pula label asli beserta keterangan yang jelas dan lengkap.

Disimpan di tempat yang khusus dan dikunci sehingga terhindar dari

jangkauan anak-anak, jauh dari tempat makanan, minuman, dan api.

Ruangan penyimpanan sebaiknya memiliki ventilasi yang baik, tidak

terkena sinar matahari langsung, dan tidak terkena hujan. Hal tersebut

dapat menyebabkan menurunnya kemanjuran pestisida. di dalam ruang


penyimpanan pestisida juga sebaiknya disediakan air, sabun atau

detergen, serta pasir, serbuk gergaji, kapur, atau tanah untuk menyerap

pestisida apabila sewaktu-waktu pestisida ttersebut tumpah. Sebaiknya

tersedia juga wadah yang kosong untuk mengganti wadah pestisida

yang bocor (Sudarmo,1992).

3. Mencampur Pestisida

Dua macam atau lebih pestisida apabila dicampur bisa menimbulkan

interaksi sinergik, aditif, atau antagonistik. Pestisida yang bila

dicampur menimbulkan reaksi antagonistik berarti pestisida tersebut

tidak dapat dicampur. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam

pencampuran pestisida adalah sifat asam basanya. Pestisida yang sama-

sama bersifat asam atau sama-sama bersifat basa apabila dicampur

tidak akan membentuk senyawa garam. Timbulnya senyawa garam

pada pencampuran dapat mengurangi daya bunuh pestisida.

(Wudianto,2001)

Menurut Djojosumiarto (2000), pencampuran pestisida yang

bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Sasarannya berbeda, misalnya pada suatu pertanaman di

saat yang bersamaan didapati penyakit dan hama.

b. Pestisida yang diicampur tidak menimbulkan efek

buruk, misalnya tidak menggumpal, tidak membakar

tanaman.
c. Pencampuran dilakukan untuk menimbulkan sinergisme

atau memperkuat efikasi pestisida tersebut.

d. Pencampuran dilakukan untuk memperluas spectrum

pengendalian hama, misalnya pencampuran fungisida dan

herbisida.

e. Pencampuran dilakukan untuk memecahkan OPT yang

sudah resisten atau menunda resistensi. Sedangkan

pencampuran yang tidak boleh dilakukan adalah sebagai

berikut:

1) Sasarannya sama

2) Bahan aktifnya sama

3) Pencampuran menimbulkan efek buruk, seperti

fototoksik, antagonisme, atau penggumpalan.

4) dikhawatirkan akan menimbulkan cross resisrtance.

5) pencampuran membahayakan keselamatan kerja.

4. Menyemprot Pestisida

Sebelum disemprotkan, formulasi pestisida biasanya dicampur

dengan air. Pencampuran dengan air sebaiknya dilakukan di tempat

dengan sirkulasi udara yang lancar. Di tempat tertutup pestisida

memiliki daya racun lebih tinggi sehingga dapat mengakibatkan

keracunan melalui pernapasan. Selain itu, pencampuran pestisida

sebaiknya dilakukan jauh dari anak-anak. Untuk mencampur

pestisida dengan air, pertama buka tutup kemasan dengan hati-hati

agar pestisida tidak berhamburan atau memercik mengenai bagian


tubuh. Setelah itu tuangkan ke dalam gelas ukur, timbangan, atau

alat pengukur lain dalam drum atau ember khusus. Tambahkan air

sesuai dosis dan konsentrasi yang dianjurkan. Pencampuran

pestisida sebaiknya tidak dilakukan di dalam tangki penyemprot

karena sulit memastikan apakah pestisida sudah tercampur

sempurna atau belum. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika

penyemprotan adalah:

a. Pada waktu menyemprot, pelaksana harus memakai

perlengkapan keamanan seperti sarung tangan, baju

lengan panjang, celana panjang, topi, sepatu kebun, dan

masker bersih untuk menutup hidung selama

penyemprotan.

b. Jangan menyemprot ketika angin kencang karena dapat

menyebabkan pestisida tidak mengenai sasaran.

Penyemprotan sebaiknya dilakukan searah dengan arah

angin agar mengurangi risiko terkena pestisida.

c. Waktu paling baik untuk penyemprotan adalah pada

waktu terjadi aliran udara naik yaitu antara pukul 08.00

11.00 WIB dan sore hari pada pukul 15.00 1800 WIB.

d. Selama penyemprotan tidak dibenarkan makan, minum, atau


merokok.

e. Penyemprot sebaiknya telah berusia dewasa, sehat, tidak

ada bagian tubuh yang luka, dan dalam keadaan tidak

lapar.

f. Pada area yang telah disemprot pestisida dipasang tanda


bahaya.

g. Seorang penyemprot tidak dibenarkan melakukan

penyemprotan secara terus menerus lebih dari empat jam

dalam sehari. (Deptan, 2011)

5. Membuang Sisa Pestisida

Setelah melakukan aplikasi pestisida, beberapa hal yang

perlu diperhatikan antara lain:

a. Sisa campuran pestisida atau larutan semprot

tidak dibiarkan/disimpan terus di dalam tangki,

karena lama-kelamaan akan menyebabkan tangki

berkarat atau rusak. Sebaiknya sisa tersebut

disemprotkan kembali pada tanaman hingga

habis. Tidak membuang sisa cairan semprot di

sembarang tempat, karena akan menyebabkan

pencemaran lingkungan.

b. Cuci tangki yang telah kosong dan peralatan

lainnya sebersih mungkin sebelum disimpan.

Simpan peralatan semprot yang telah dicuci

terpisah dari dapur, tempat makanan, kamar

mandi, dan kamar tidur, serta jauhkan dari

jangkauan anak-anak.

c. Air bekas cucian sebaiknya tidak mencemari

saluran air, kolam ikan, sumur, sumber air, atau


lingkungan perairan lainnya.

d. Memusnahkan/ membakar kantong/wadah bekas

pestisida atau bekas pestisida, atau menguburnya

ke dalam tanah di tempat yang aman.

e. Cuci pakaian yang digunakan selama


penyemprotan pestisida.

f. Setelah selesai bekerja dengan pestisida segera

cuci tangan dan mandi dengan air bersih dan

menggunakan sabun. (Djojosumiarto, 2000).

F. Risiko Penggunaan Pestisida

Meskipun sebelum diproduksi secara komersial telah menjalani pengujian

yang sangat ketat perihal syarat-syarat keselamatanya, namun karena bersifat

bioaktif, maka pestisida tetap merupakan racun. Setiap racun mengandung

risiko (bahay) dalam penggunaannya, baik risiko bagi manusia maupun bagi

lingkungan. Berikut ini adalah ringkasan risiko penggunaan pestisida di bidang

pertanian : (Djojosumarto, 2008 : 22)

1. Risiko bagi Keselamatan Pengguna

Risiko bagi keselamatan pengguna adalah kontaminasi pestisida

secara langsung, yang dapat mengakibatkan keracunan, baik akut maupun

kimia. Keracunan akut dapat menimbulkan gejala sakit kepala, pusing,

mual, muntah dan sebgainya. Beberapa pestisida dapat menimbulkan iritasi

kulit, bahkan dapat mengakibatkan kebutaan.

Keracunan pestisida yang akut berat dapat menyebabkan penderita

tidak sadarkan diri, kejang-kejang bahkan meninggal dunia. Keracunan


kronis lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa, tetapi dalam jangka

panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

2. Risiko bagi Konsumen

Risiko bagi konsumen adalah keracunan residu (sisa-sisa) pestisida

yang terdapat dalam produk pertanian. Risiko bagi konsumen dapat berupa

keracunan langsung karena memakan produk pertanian yang tercemar

pestisida atau lewat rantai makanan. Meskipun bukan tidak mungkin

konsumen menderita keracunan akut, akan tetapi risiko bagi konsumen

umumnya dalam bentuk keracunan kronis, tidak segera terasa, dan dalam

jangka panjang mungkin menyebabkan gangguan kesehatan.

3. Risiko bagi Lingkungan

Risiko penggunaan pestisida terhadap lingkungan dapat digolongkan

menjadi tiga kelompok sebagai berikut :

a. Risiko bagi orang , hewan, atau tumbuhan yang berada ditempat,

atau disekitar tempat pestisida digunakan. Drift pestisida, misalnya

dapat diterbangkan angin dan mengenai orang yang kebetulan lewat.

Pestisida dapat meracuni hewan ternak yang msuk ke kebun yang

sudah disemprot pesstisida.


b. Bagi lingkungan umum, pestisida dapat menyebabkan pencemaran

lingkungan (tanah, air, dan udara) dengan segala akibatnya,

misalnya kematian hewan nontarget, penyederhanaan rantai

makanan alami, penyederhanaan keanekaragaman hayati,

bioakumulasi/biomagnifikasi, dan sebagainya.


c. Khusus bagi lingkungan pertanian (agroekosistem), penggunaan

pestisida pertanian dapat menyebabkan hal-hal berikut:


1) Menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit, dan gulma
terhadap pestisida tertentu yang berpunccak pada kekebalan

(resistensi).
2) Resurjensi hama yakni fenomena meningkatnya serangan hama

tertentu sesudah perlakuan dengan insektisida.


3) Timbulnya hama yang selama ini tidak penting.
4) Terbunuhnya musuh alami hama.
5) Perubahan flora, misalnya penggunaan herbisida secara terus

menerus untuk mengendalikan gulma daun lebar akan merangsang

perkembangan gulma daun sempit (rumput).


6) Meracuni tanaman bila salah penggunaannya.

G. Perilaku

Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas

organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku manusia adalah semua

kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati secara langsung

maupun yang tidak dapat diaati oleh pihak luar (Notoatmodjo,2007).

1. Respon

Skinner (1938) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon

atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan) dari luar.

Oleh karena itu, perilaku ini terjadi melalui proses adanya

stimulus terhadap organisme, kemudian organisme tersebut

merespon. Skinner membedakan respon tersebut menjadi dua yaitu:

a. Respondent respons atau reflective, yakni respon yang

ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu.

b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang


timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau

perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing

stimulation karena memperkuat respon.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus, perilaku dapat

dibedakan menjadi dua, yakni:

1. Perilaku tertutup (covert behavior), yaitu respon yang

terselubung atau tertutup terhadap stimulus. Respon ini masih

terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan

sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut.

2. Perilaku terbuka (overt behavior), yaitu respon terhadap

stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka yang dengan

mudah dapat dilihat orang lain.

Respon yang diberikan terhadap stimulus sangat tergantung pada

karakteristik atau faktor-faktor lain pada orang yang bersangkutan.

Meskipun stimulusnya sama tapi respon yang diberi satu orang bisa

saja berbeda dengan orang lain. Faktor-faktor yang membedakan respon

disebut determinan perilaku. Menurut Notoatmodjo dalam buku

Pendidikan dan Perilaku Kesehatan (2003), terdapat dua determinan

perilaku, yaitu:

1. Determinan internal, yakni karakteristik orang yang

bersangkutan, yang bersifat bawaan, misalnya: tingkat

kecerdasan, emosional, dan jenis kelamin.

2. Determinan eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan

fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik.


H. Domain Perilaku

Benyamin Bloom, seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku

manusia menjadi tiga domain, yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective),

dan psikomotor (psychomotor). Di dalam perkembangannya, teori Blum ini

diimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yaitu:

1. Pengetahuan (knowladge)

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi

setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek

tertentu (Notoadmojo, 2007). Pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk

suatu tindakan seseorang (over behavior).

Menurut Rogers (1974), sebelum orang mengadopsi

perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut

terjadi proses yang berurutan, yakni:

a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut

menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek)

terlebih dahulu.

b. Interest, yakni orang mulai

tertarik kepada stimulus,

c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya

stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap

responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.


e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Dalam buku Notoadmojo (2007) pengetahuan

dikategorikan menjadi enam tingkatan yang tercakup

dalam domain kognitif, yakni:

1) Tahu (Know), diartikan sebagai mengingat

suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2) Memahami (Comprehension), diartikan sebagai

suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi (Aplication), diartikan sebagai

kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

4) Analisis (Analysis), diartikan sebagai

kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di

dalam satu struktur organisasi, dan masih ada

kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (Synthesis), menunjuk kepada suatu

kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan

bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru.

6) Evaluasi (Evaluation), berkaitan dengan


kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi

materi yang ingin diukur dari responden.

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku

melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan,

kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut

akan bersifat langggeng. Sebaliknya, apabila perilaku itu

tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak

berlangsung lama. Jadi, pentingnya pengetahuan disini

adalah dapat menjadi dasar dalam merubah perilaku sehingga

perilaku itu langgeng.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi

pengetahuan adalah :

1) Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu usaha untuk

mengembangkan keperibadian dan kemampuan di

dalam dan di luar sekolah dan berlangsung

seumur hidup. Pendidikan memengaruhi proses

belajar, makin tinggi pendidikan sesorang makin

mudah orang tersebut untuk menerima informasi.

Dengan pendidikan tinggi maka sesorang akan

cenderung untuk mendapatkan informasi, baik


dari orang lain maupun media masaa. Semakin

banyak informasi yang masuk semakin

banyak pula pengentahuan yang didapat tentang

kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya

dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang

dengan pendidikan tingii, maka orang tersebut

akan semakin luas pula pengetahuannya.

2) Informasi/Media Massa

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan

formal maupun non formal dapat memberikan

pengaruh jangka pendek sehingga menghasilkan

perubahan atau peningkatan pengetahuan. Sebagai

sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa

seperti radio, tv, surat kabar dan majalah dan lain-

lainnya memilki pengaruh besar terhadap

pembentukan opini dan kepercayaan orang.

Dalam penyampaian informasi sebagai tugas

pokoknya, media masa membawa pula pesan-

pesan yang berisi sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi

baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan

kognitif barubagi terbentuknya pengetahuan

terhadap hal tersebut.


3) Sosisal budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-

orang tanpa melalui penalaran apakah yang

dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian

seseorang akan bertambah pengetahuannya

walaupun tidak melakukan. Status ekonomi

seseorang juga akan menentukan tersediannya

suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan

tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4) Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di

sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis,

maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap

proses masuknya pengetahuan ke dalam individu.

Yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini

terjadi karena adanya interaksi timbal balik

ataupun tidak yang akan direspon sebagai

pengetahuan oleh setiap individu.

5) Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah

suatu cara untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan dengan cara mengulangi kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan


masalah yang dihadapi di masa lalu. Pengalaman

belajar dalam bekerja yang dikembangkan

memberikan pengetahuan dan ketrampilan

professional serta pengalaman belajar selama

bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan

mengambil keputusan yang merupakan

manifestasi dari keterpaduan menalar secara

ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata

dalam bidang kerjanya.

6) Usia

Usia memengaruhi terhdapa daya tangkap dan

pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia

akan semakin berkembang pula daya tangkap dan

pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Pada usia

madya, individu akan lebih berperan aktif dalam

masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih

banyak melakukan persiapan demi suksesnya

upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain

itu orang usia madya akan lebih banyak

menggunakan banyak waktu untuk membaca.

Kemampuan intelektual, pemecahan masalah dan

kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada


pada usia dini.

2. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan suatu reaksi atau respon yang masih

tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi

sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih

dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo,2007 : 142).

a. Komponen sikap

Dalam Allport (1954) seperti yang dikutip Notoatmodjo

(2003), dijelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen

pokok, yaitu:

1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap

suatu objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.
3) Kecenderungan untuk bertindak.

b. Berbagai tindakan sikap

Sikap memiliki beberapa tingkatan, yakni:

1) Menerima (receiving), diartikan bahwa orang mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan.

2) Merespon (responding), diartikan bahwa orang mau

memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan.

3) Menghargai (valuing), diartikan bahwa orang mau mengajak

orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu


masalah.

4) Bertanggung jawab (responsible), diartikan bahwa orang

mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang dipilihnya

dengan segala risiko.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung maupun tidak

langsung. Pengukuran secara langsung dilakukan dengan menanyakan

pendapat atau pernyataan responden tentang suatu objek, sedangkan

pengukuran tidak langsung dilakukan dengan memberikan hipotesis-

hipotesis dan kemudian menanyakan pendapat responden.

3. Praktik atau Tindakan (Practice)

Suatu sikap belum tentu terwujud menjadi tindakan. Untuk

mewujudkan sikap menjadi tindakan nyata diperlukan faktor pendukung

atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas, dan

dukungan pihak lain. Praktik mempunyai beberapa tingkatan, yakni:

a. Persepsi (perception), yaitu mengenal dan memilih

objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

b. Respons terpimpin (guided respons), yaitu dapat

melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan

sesuai dengan contoh.

c. Mekanisme (Mecanism), yaitu apabila seseorang

telah dapat melakukan sesuatu dengan benar dan secara

otomatis menjadi kebiasaan.


d. Adopsi (Adoption), adalah suatu praktik atau

tindakan yang sudah berkembang dengan baik.

Pengukuran tindakan tidak dapat dilakukan secara tidak

langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan

yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu

()recall . Pengukuran tindakan juga dapat dilakukan dengan

wawancara atau observasi langsung terhadap kegiatan

responden (Notoatmodjo,2007).

I. Kerangka Teori

Berdasarkan uraian tinjauan pustaka di atas maka dapat

dilihat pada kerangka teori sebagai berikut :

Faktor Predisposisi

Pengetahuan, Sikap,
Kepercayaan,
Keyakinan dan
Sebagainya

Faktor Pendukung
Perilaku
Ketersediaan fasilitas
atau sarana-sarana
kesehatan seperti
pukesmas, obat-obatan

Faktor Pendorong

Peran Petugas Penyuluh


Lapangan (PPL) dan
Pegawai Puskesmas di
lapangan
Gambar 2.1 Kerangka Teori

J. Kerangka Konsep

Pengetahuan Tindakan Penggunaan


Pestisida

Pemilihan Pestisida
Penyimpanan pestisida
Sikap Pencampuran Pestisida
Penyemprotan Pestisida
Pembuangan sisa Pestisida

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

penelitian deskriptif untuk melihat gambaran pengetahuan,

sikap, dan tindakan petani penyemprot pada penggunaan

pestisida di Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang Tahun

2017.
B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Desa Sumber Agung

Kecamatan Metro Kibang pada bulan Juni tahun 2017.

C. Subjek Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani di


Desa Sumber Agung kecamatan Metro Kibang yang

berjumlah 1998 petani.

2. Sampel

Pengambilan Sampel dilakukan secara accidental

sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan

dengan mengambil sampel yang kebetulan ada atau

tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks

penelitian. Pada penelitian ini , sampel yang akan diambil

adalah petani yang kebetulan sedang berada di sawah di

Desa Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang pada saat

penelitian.

Penentuan sampel menggunakan perhitungan sebagai

berikut :

d


n= 1+ N
N

0,1


= 1+1998
1998

1998
= 20,98

= 95,2

Dibulatkan menjadi 100 sampel.

Keterangan

n : sampel

N : jumlah populasi

d : tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan 90%

(0,1)

3.Responden

Responden dalam penelitian ini adalah para petani

yang pernah melakukan penyemprotan setelah

beberapa jam, hari atau bulan yang lalu.

D. Metode Pengumpulan Data


1. Data Primer

Data primer diperoleh dengan menggunakan kuisioner

tentang penggunaan pestisida.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari kantor kepala desa

Sumber Agung kecamatan Metro Kibang. Data sekunder


ini digunakan untuk mengetahui gambaran umum Desa

Sumber Agung Kecamatan Metro Kibang.

E. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil wawancara kemudian diolah

dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Pengolahan Data
a. Editing yaitu mengoreksi kembali data-data sehingga

diperoleh data yang sebenarnya.


b. Cooding yaitu pemberian kode pada aspek yang

diteliti agar tidak terjadi kekeliriuan dalam

pengolahannya.
c. Entry yaitu memasukkan data dalam program

software komputer berdasarkan klasifikasi yang telah

di tentukan.
d. Tabulating yaitu data yang diperoleh dari

pengelompokkan kemudian disajikan dalam bentuk

tabel.
2. Analisi Data

Data yang diperoleh dari hasil wawancara diolah dan

dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan

program SPSS untuk mengetahui bagaimana

pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam

penggunaan pestisida.