Anda di halaman 1dari 4

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains IX, Fakultas Sains dan Matematika, UKSW

Salatiga, 21 Juni 2014, Vol 5, No.1, ISSN :2087-0922

STUDI PENGARUH MAGNETISASI TERHADAP PENINGKATAN


NILAI PEMBAKARAN MINYAK JELANTAH
Arcadius Rizky Dahniar1, Andreas Setiawan 2, Nur Aji Wibowo 2
1
Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Sains dan Matematika
2
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711, Indonesia
rizky.dahniar@gmail.com
ABSTRAK
Banyak upaya telah dilakukan untuk mencari sumber energi alternatif, salah satunya dengan
pengolahan limbah rumah tangga yakni minyak jelantah. Minyak jelantah merupakan minyak limbah
proses penggorengan, diyakini sangat berbahaya bila terus digunakan atau dibuang tanpa pengolahan. Di
sisi lain, minyak jelantah memiliki potensi energi bakar yang cukup tinggi. Sayangnya upaya untuk
menggunakan minyak jelantah sebagai bahan bakar langsung terkendala rendahnya efisiensi pembakaran.
Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran minyak jelantah dengan rekayasa
fisika berupa pemberian medan magnet (magnetisasi). Prosedur magnetisasi dilakukan dengan metode
water boiling test (WBT). Minyak yang dipanaskan selama 24 jam dicampur dengan minyak murni
menggunakan perbandingan massa 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%. Minyak jelantah dialirkan menuju ke
kompor pembakaran menggunakan tangki infus. Sebelum memasuki kompor pembakaran magnetisasi
dilakukan dengan menggunakan magnet permanen dengan kekuatan 0, 11.800, 23.600, 35,400, 47.200
Gauss pada jarak 10 cm dari kompor bakar. Minyak jelantah dibakar untuk menaikkan suhu 500 cc air
sebesar 50 C. Efisiensi pembakaran dihitung dengan membandingakan konsumsi massa minyak jelantah
pada proses pembakaran tanpa magnetisasi dengan proses pembakaran dengan magnetisasi. Dari
penelitian ini dihasilkan, magnetisasi minyak jelantah mampu mengurangi konsumsi bahan bakar pada
metode water boiling test (WBT) pada setiap magnetisasi dan pengurangan konsumsi minyak jelantah
terbesar mendekati 7% pada magnet berkekuatan 47.200 gauss.

Kata kunci : BBM, energi alternatif, efisiensi, minyak jelantah, magnetisasi

PENDAHULUAN biaya produksi, menghantam segala sendi


perekonomian dan kehidupan masyarakat
Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia (Trisila, 2008). Untuk mengatasi
merupakan Sumber Daya Alam (SDA) krisis energi Bangsa Indonesia, Menteri
yang tidak dapat diperbaharui. Disisi lain ESDM Jero Wacik mengatakan arah
BBM mengambil peranan yang sangat pembangunan kebijakan energi nasional
penting dalam perkembangan teknologi sampai 2050 akan mengurangi konsumsi
terutama bidang teknologi industri dan energi minyak dan beralih ke gas dan
otomotif yang secara langsung berdampak Energi Baru Terbarukan (EBT). Hal ini
pada peningkatan penggunaan BBM seperti diatur dalam Perpres Nomor 5
sebagai salah satu sumber energi secara Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi
signifikan. Peningkatan penggunaan BBM Nasional (Yozami, 2012).
ini mengakibatkan semakin menipisnya Banyak upaya telah dilakukan
cadangan minyak bumi yang merupakan untuk mencari sumber energi alternatif,
bahan dasar pembuatan BBM. Cadangan salah satunya dengan pengolahan limbah
sumber daya minyak bumi di Indonesia rumah tangga yakni minyak jelantah. Dari
diperkirakan tinggal 9 milliar/barel dengan Kebutuhan akan minyak goreng di
tingkat produksi 500 juta barel/tahun, Indonesia yang mencapai 3 juta ton per
sehingga cadangan bumi di Indonesia tahun (Tempointeraktif.com, Kamis 17
tinggal 18 tahun. Hal tersebut November 2011), diperkirakan tiap rumah
mengakibatkan meningkatnya harga BBM tangga mengkonsumsi mencapai 5 liter tiap
dan memicu kenaikan biaya hidup serta bulannya. Dari konsumsi tersebut
185
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains IX, Fakultas Sains dan Matematika, UKSW
Salatiga, 21 Juni 2014, Vol 5, No.1, ISSN :2087-0922

diperkirakan jumlah minyak jelantah yang 2) Selang plastik berdiameter 1 cm


dihasilkan dari seluruh rumah tangga adalah sepanjang 30 cm untuk mengalirkan
sebanyak 305 ribu ton per tahun. Selain itu, minyak menuju ruang bakar.
industri pengolahan diperkirakan 3) Keran sebagai katub aliran minyak.
menghasilkan minyak jelantah sebanyak 4) Kompor pembakaran tempat minyak
1,5 juta ton. Total jumlah minyak jelantah dibakar.
yang tersedia dari berbagai pihak yang
5) Kaki tiga dan kasa untuk meletakkan
menggunakan minyak goreng adalah
beaker glass berisi air.
sebanyak 3,8 juta ton per tahun (Kayun,
2007). Minyak jelantah sudah tidak layak 6) Beaker glass berisi air 500 cc.
jika digunakan kembali karena dapat 7) Thermo couple untuk mengukur
menyababkan gangguan kesehatan, dan kenaikan suhu air.
apabila dibuang tanpa penanganan akan 8) Magnet permanen berkekuatan
mengakibatkan pencemaran lingkungan. masing-masing 11.800 gauss.
Penelitian terbaru pengolahan Semua alat disusun seperti pada gambar 1.
minyak jelantah adalah pemanfaatan
sebagai pembakar generator termoelektrik,
namun masih terkendala rendahnya nilai
pembakaran. Untuk itu diperlukan suatu
metode baru yang dapat meningkatkan nilai
pembakaran minyak jelantah. Oleh sebab
itu dalam penelitian ini diusulkan
penggunaan magnet dalam usaha
meningkatkan nilai pembakaran minyak
jelantah. Dari penelitian ini diharapkan
muncul suatu terobosan baru dalam upaya
penghematan energi. Penelitian ini juga
bermanfaat dalam membuka peluang
rekayasa fisika dalam usaha penghematan Gambar 1. Rancangan Alat Magnetisasi
energi terutama energi alternatif baru (Chalid dkk, 2005 yang dimodifikasi)
terbarukan pengganti BBM.
Minyak jelantah yang telah
BAHAN DAN METODE ditimbang massa mula-mulanya
Dalam penelitian ini, langkah awal menggunakan neraca ohauss dimasukkan
yang dilakukan adalah penjelantahan ke dalam tanki. Minyak jelantah akan turun
minyak goreng. Penjelantahan dilakukan karena pengaruh gravitasi. Keran digunakan
dengan melakukan pemanasan minyak untuk mengatur debit minyak yang masuk
ke kompor pembakaran. Magnetisasi
goreng merek Miranda dengan kompor
dilakukan dengan menggunakan material
listrik berdaya 300 watt selama 24 jam. magnet permanen dengan kekuatan medan
Hasil dari proses ini akan menghasilkan 0 (tanpa magnetisasi), 11.800, 23.600,
jelantah pekat. Jelantah pekat dicampur 35.400, dan 47.200 Gauss. Magnet
dengan minyak murni tanpa pemanasan diletakkan pada 10 cm dari ruang bakar.
dengan perbandingan massa dalam Minyak jelantah dibakar untuk
prosentase 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% menaikkan suhu 500 cc air sebesar 50 C
terhadap minyak murni. yang diukur menggunakan thermo
Setelah minyak siap, alat uji couple. Setelah proses pembakaran, sisa
pembakaran metode water Boiling Test minyak ditimbang.
(WBT) disiapkan. Alat yang digunakan Efisiensi konsumsi pembakaran
antara lain: dihitung dengan perbandingan
1) Paralon berdiameter 4 inci dengan konsumsi massa minyak jelantah tanpa
panjang 20 cm sebagai tangki medan (magnetisasi 0 gauss) dengan
minyak.

186
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains IX, Fakultas Sains dan Matematika, UKSW
Salatiga, 21 Juni 2014, Vol 5, No.1, ISSN :2087-0922

konsumsi massa minyak dengan untuk saling berpisah pada saat bereaksi
magnetisasi. dengan oksigen di ruang bakar. Dengan
HASIL DAN DISKUSI menempatkan medan magnet pada saluran
Dari proses pembakaran dengan bahan bakar, partikel-partikel atom yang
metode WBT dihasilkan data rata-rata membentuk molekul tersebut akan
konsumsi minyak jelantah konsentrasi 0%, terpengaruh oleh medan magnet yang
25%, 50%, 75%, dan 100% terhadap kuat ditimbulkan sehingga akhirnya akan
medan magnet 0, 11.800, 23.600, 35.400, menjadi semakin aktif dan arahnya terjajar
dan 47.700 gauss seperti tersaji pada tabel rapi sesuai dengan arah medan magnet.
1. Aktivitas molekular yang meningkat akibat
Tabel 1. Konsumsi minyak jelantah medan magnet akan menyebabkan
terhadap kuat medan magnet. pengelompokkan molekular menjadi
Kuat terpecah (Gambar 3). Oksigen akan lebih
Konsumsi Minyak Jelantah
Medan mudah bereaksi dengan masing-masing
(gram)
Magnet molekul hidrokarbon yang tidak lagi berada
(gauss) 0% 25% 50% 75% 100% dalam kelompok, sehingga menghasilkan
0 9,74 6,30 8,12 7,09 6,3 pembakaran yang lebih sempurna (Siregar,
2007).
11.800 9,65 6,24 8,04 7,02 6,24
23.600 9,42 6,09 7,85 6,87 6,09
35.400 9,20 5,96 7,67 6,73 5,96
47.200 9,11 5,90 7,57 6,62 5,9

Dari data diatas memperlihatkan


bahwa pada tiap konsentrasi minyak
jelantah, semakin besar medan magnet,
konsumsi minyak jelantah semakin
menurun. tren penurunan ini akan semakin
jelas diperlihatkan pada gambar 2. Gambar 3. Pemecahan molekul
hidrokarbon yang melewati medan magnet
(Siregar, 2007).

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan
analisa secara umum maka dapat
disimpulkan bahwa magnetisasi mampu
mengurangi konsumsi massa minyak
jelantah pada proses pembakaran dengan
metode WBT. Pengurangan konsumsi
Gambar 2. Grafik konsumsi minyak minyak jelantah terbesar mendekati 7%
jelantah terhadap kuat medan magnet. pada magnet berkekuatan 47.200 gauss.
Diperlukan sebuah penelitian lebih
Grafik di atas menunjukkan bahwa
lanjut untuk menentukan kuat medan
minyak jelantah terpengaruh oleh kuat
magnet minimal, maksimal dan efektif serta
medan magnet yang diberikan. Minyak
efisien dalam usaha peningkatan nilai bakar
yang tersusun atas molekul hidrokarbon
minyak jelantah.
yang cenderung untuk saling tertarik satu
sama lain, membentuk molekul-molekul
DAFTAR PUSTAKA
yang berkelompok (clustering).
Chalid, M., Nelson S., Adiwar, dan Nono
Pengelompokan ini akan menyebabkan
D. 2005. Studi Pengaruh Magnetisasi
molekul-molekul hidrokarbon tidak saling
Sistem Dipol terhadap Karakteristik
terpisah atau tidak terdapat cukup waktu
Kerosin. Depok: Departemen Teknik
187
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains IX, Fakultas Sains dan Matematika, UKSW
Salatiga, 21 Juni 2014, Vol 5, No.1, ISSN :2087-0922

Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik,


Universitas Indonesia.
Siregar, H. P. 2007. Pengaruh Diameter
Kawat Kumparan Alat Penghemat Energi
yang Berbasis Elektromagnetik terhadap
Kinerja Motor Diesel. Jakarta: Jurusan
Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri,
Institut Teknologi Indonesia.
Yozami, M. A. 2012. SBY Beberkan Tiga
Masalah Energi Nasional.
(http://www.hukumonline.com/berita/baca/l
t4f578830b3688/sby-beberkan-tiga-
masalah-energi-nasional). Diakses tanggal
11 September 2012

DISKUSI
Pertanyaan : Darimana ide penelitian
reverensi
Jawab : bersama dosen, mengadakan
penelitian untuk mengambil limbah
limbah menjadi penggunaan energy
Pertanyaan : Apakah E. magnetitasnya
dapat dimanfaatkan untuk lainnya?
Jawab : bisa tapi konsentrasi penelitian
hanya pada peningkatan nilai pembakaran
Pertanyaan: Proses pembakarannya apa
tidak menimbulkan polusi udara?
Jawab : dengan magnet mengurangi E.
deklastering gugugs kimia s justru
mengurangi karen mampu meningkatkan
energy bakar sehingga epembakaran
optimal
Usulan : jika dikembangkan bisa menjadi
sumber E

188