Anda di halaman 1dari 5

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah UTM (Universal Transerve Mercator)


Universal Transverse Mercator (UTM) merupakan Metode grid berbasis
menentukan lokas di permukaan bumi yang merupakan aplikasi praktis dari 2
dimensi. Universal Transerve Mercator sistem koordinat dikembangkan oleh
Amerika Serikat Army Corps of Engineers pada tahun 1940-an. Sistem ini
didasarkan pada model yang ellipsoidal bumi. Untuk daerah di Amerika Serikat
berbatasan, yang Clarke 1866 ellipsoid digunakan untuk daerah sisa bumi,
termasuk Hawai, ellipsoid internasional digunakan. Saat ini WGS84 ellipsoid
digunaka sebagai model yang mendasari bumi dalam system koordinat UTM.
Sebelum pengembangan system transverse Mercator koordinat universal.
Beberapa Negara Eropa menunjukkan utilitas berbasis grid peta konformal
dengan pemetaan wilayah mereka selama periode antar perang. Menghitung
jarak antara dua titik pada peta ini dapat dilakukan lebih mudah dilapangan
daripada yang dinyatakan mungkin menggunakan rumus trigonometri yang
diperlukan dalam system graticule berbasis lintang dan bujur.
Melintang proyek si Mercator adalah varian dari proyeksi Mercator, yang
awalnya dikembagkan oleh Flemish geographer dan kartografer Gerardus
Mercator, pada tahun 1570. Proyeksi ini konformal, sehingga mempertahankan
sudut dan mendekati bentuk tetapi selalu mendistrosi jarak dan daerah. UTM
melibatkan non-linear scaling di kedua Easting dan Northing untuk memastikan
peta proyeksi eliipsoid adalah konformal.

2.2 Zona UTM


System UTM membagi permukaan bumi antara 80oS dan 84oLU menjadi
60 zona, masing-masing 6o bujur lebar dan berpusat diatas meridian bujur. Zona

1
1 adalah dibatasi oleh bujur 180o sampai 174oB dan berpusat pada 177 barat
meridian. Zona penomoran meningkatkan kea rah timur. Masing-masing dari 60
zona bujur dalam system UTM didasarkan pada Mercator Melintang proyeksi.
Pemetaan wilayah besar utara-selatan dengan batas jumlah rendah distori, dengan
menggunakan zona sempit dari 6o bujur sampai 800 km lebarnya dan mengurangi
skala factor sepanjang meridian sentral denga hanya 0,0004 0,9996
(pengurangan 1:2500), jumlah distori diselenggarakan dibawah 1 bagian di 1.000
dalam setiap zona. Distorsi skala meningkat menjadi 1,00010 pada batas luar
zona sepanjang khatulistiwa.
Pada setiap zona factor skala meridian sentral mengurangi diameter
silinder melintang untuk menghasilkan proyeksi garis potong dengan dua garis
standar, atau garis-garis skala sebenarnya terletak disekitar 180 km dikedua sisi,
dan kira-kiran sejajar, pusat meridian (ARccOs 0,9996 = 1,62 o pada
khatulistiwa). Faktor skala kurang dari 1 dalam baris-baris dan lebih besar dari 1
luar dari garis-garis, tetapi keseluruhan distorsi skala di dalam zona seluruh
diminimalkan.

2.3 Proyeksi Universal Tranverse Mercator (UTM)


Proyeksi UTM adalah proyeksi yang memiliki mercator yang memiliki
sifat- sifat khusus. Proyeksi UTM adalah proyeksi yang memiliki mercator yang
memiliki sifat-sifat khusus. Sifat-sifat khusus yang dimiliki oleh proyeksi UTM
adalah :
1. Proyeksi : Transvere Mercator dengan lebar zone 6.
2. Sumbu pertama (ordinat / Y) : Meridian sentral dari tiap zone
3. Sumbu kedua (absis / X) : Ekuator
4. Satuan : Meter
5. Absis Semu (T) : 500.000 meter pada Meridian sentral
6. Ordinat Semu (U) : 0 meter di Ekuator untuk belahan bumi bagian Utara
dan 10.000.000 meter di Ekuator untuk belahan bumi bagian Selatan
7. Faktor skala : 0,9996 (pada Meridian sentral)

2
8. Penomoran zone : Dimulai dengan zone 1 dari 180 BB s/d 174 BB,Tzone
2 dari 174 BB s/d 168 BB, dan seterusnya sampai zone 60 yaitu dari 174
B s/d 180 BT.
9. Batas Lintang : 84 LU dan 80 LS dengan lebar lintang untuk masing-
masing zone adalah 8, kecuali untuk bagian lintang X yaitu 12.
10. Penomoran bagian derajat lintang: Dimulai dari notasi C , D, E, F sampai
X (notasi huruf I dan O tidak digunakan).

2.4 Proyeksi Transverse Mercator 3 (TM-3)


Proyeksi TM-3 adalah proyeksi yang memiliki mercator yang memiliki
sifat- sifat khusus. Sifat-sifat khusus yang dimiliki oleh proyeksi TM-3 adalah :
Proyeksi : Transverse Mercator dengan lebar zone 3
Sumbu pertama (ordinat / Y) : Meridian sentral dari tiap zone
Sumbu kedua (absis / X) : Ekuator
Satuan : Meter
Absis Semu (T) : 200.000 meter + X
Ordinat Semu (U) : 1.500.000 meter + Y
Faktor skala : 0,9999 (pada Meridian sentral)
Penomoran zone : Dimulai dengan zone 46.2 dari 93 BT s/d 96 BT, zone
47.1 dari 96 BT s/d 99 BT, zone 47.2 dari 99 BT s/d 102 BT, zone 48.1
dari 102 BT s/d 105 BT dan seterusnya sampai zone 54.1 dari 138 BT s/d
141 BT.

2.5 Ketentuan UTM dan Ciri Proyeksi UTM


Adapun ketentuan-ketentuan yang terdapat pada UTM adalah sebagai
berikut :

3
1. Bidang silinder memotong bola bumi pada dua buah meridian yang
disebut meridian standar dengan faktor skala 1.
2. Lebar zone 6 dihitung dari 180 BB dengan nomor zone 1 hingga ke
180 BT dengan nomor zone 60. Tiap zone mempunyai meridian tengah
sendiri.
3. Perbesaran di meridian tengah = 0,9996.
4. Batas paralel tepi atas dan tepi bawah adalah 84 LU dan 80 LS.

Ciri proyeksi UTM adalah :


1. Proyeksi bekerja pada setiap bidang Ellipshoid yang dibatasi cakupan garis
meridian dengan lebar yang disebut zone.
2. Proyeksi garis meridian pusat (MC) merupakan garis vertikal pada bidang
tengah poyeksi.
3. Proyeksi garis lingkar equator merupakan garis lurus horizontal di tengah
bidang proyeksi.
4. Grid merupakan perpotongan garis-garis yang sejajar dengan dua garis
proyeksi pada butir dua dan tiga dengan interval sama. Jadi garis
pembentukan gridn bukan hasil dari garis Bujur atau Lintang Ellipshoide
(kecuali garis Meridian Pusat dan Equator).
5. Penyimpangan arah garis meridian terhadap garis utara grid di Meridian
Pusat = , atau garis arah meridian yang melalui titik luar Meridian Pusat
tidak sama dengan garis arah Utara Grid Peta yang disebut Konvegerensi
Meridian. Dalam luasan dan skala tertentu tampilan simpangan ini dapat
diabaikan karena kecil.

2.6 UTM digunakan sebagai sistem Proyeksi Pemetaan Nasional


Universal Transverse Mercator (UTM) merupakan sistem proyeksi yang
digunakan secara nasional di wilayah Indonesia. Berikut ini akan dijelaskan lasan
mengapa sistem UTM dipakai :

4
a. Kondisi geografi negara Indonesia membujur disekitar garis khatulistiwa
atau garis lintang equator dari barat sampai ke timur yang relative
seimbang.
b. Untuk kondisi seperti ini, sistem proyeksi Tansverse Mecator/ Silinder
Melintang Mecator adalah paling ideal (memberikan hasil dengan distorsi
mnimal).
c. Dengan pertimbangan kepentingan teknis maka akan dipilih sisatem
proyeksi Universal Transverse Mecator yang memberikan batasan luasan
bidang antara dua garis bujur dan ellipsoide yang dinyatakan sebagai
zone.

2.7 Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan:
a. Proyeksi simetris selebar 6 untuk setiap zone.
b. Transformasi koordinat dari zone ke zone dapat dikerjakan dengan rumus
yang sama untuk setiap zone di seluruh dunia.
c. Distorsi berkisar antara - 40 cm/ 1.000 m dan 70 cm/ 1.000 m.

Kerugian :
a. Karena pembesaran jarak dan konvergensi meridian, maka unsur ini harus
diperhatikan dalam perhitungan.
b. Walaupun satu derajat bagian meliputi daerah luas akan tetapi masih
dibutuhkan hitungan-hitungan pemindahan bagian derajat, menjadi tidak
praktis.
c. Konvergensi meridian pada jarak 15 km maksimum dapat mencapai lebih
kurang 150 meter. Konvergensi adalah serangkaian garis searah yang menuju
suatu titik pertemuan dan Konvergensi Meridian adalah ukuran lembar peta
dan cara menghitung titik sudut lembar peta UTM .