Anda di halaman 1dari 11

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MASYARAKAT DALAM

MEMILIH PELAYANAN KESEHATAN

Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat
mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain :

1. Teori Lawrence Green (1980)

Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa
kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes)
dan faktor diluar perilaku (non behavior causes).

Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :

1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,


kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

2) Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau
tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas,
obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya.

3) Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas
kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
masyarakat.

2. Teori Snehandu B. Kar (1983)

Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi
dari :

1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan


kesehatannya (behavior itention).

2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).


3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility
of information).

4) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan
(personal autonomy).

5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

3. Teori WHO (1984)

WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah :

1) Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi,
sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).

(1) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

(2) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang
menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian
terlebih dahulu.

(3) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering
diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat
seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap
tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung
pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada pengalaman
orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak
atau sedikitnya pengalaman seseorang.

2) Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia
katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.

3) Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu
masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut
kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik
lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia (Notoatmodjo, 2003)

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Perilaku merupakan respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Faktor-faktor yang
membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku
dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu
karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya tigkat
kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya. Faktor ekternal yaitu
lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik dan sebagainya. (Anonim, 2011).

Perilaku adalah totalitas penghayatan dan aktifitas seseorang yang merupakan hasil
bersama atau resultanre antara berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Dengan kata lain perilaku manusia sangatlah kompleks dan mempunyai bentangan yang
sangat luas. (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Ghana (2008) perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal adlah faktor yang ada dalam dirinya yaitu ras/ keturunan, jenis
kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat dan intelegensia. Sedangkan faktor eksternalnya
antara lain pendidikan, agama, kebudayaan, lingkungan dan sosial ekonomi.

Menurut Anderson R (1968) dalam behavioral model of families use of health services,
perilaku orang sakit berobat ke pelayanan kesehatan secara bersama-sama dipengaruhi oleh
faktor predisposisi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan), faktor pemungkin (ekonomi
keluarga, akses terhadap sarana pelayanan kesehatan yang ada dan penanggung biaya
berobat) dan faktor kebutuhan (kondisi individu yang mencakup keluhan sakit). (Supardi
dkk, 2011).
Menurut J. Winardi (2001), perilaku tidak hanya dideterminasi oleh keinginan saja,
akan tetapi perilaku juga dipengaruhi juga oleh lingkungan, pengetahuan, persepsi, norma-
norma social, sikap-sikap dan mekanisme-mekanisme pertahanan.

Ruang Lingkup Perilaku

Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan, membedakan adanya 3 bidang perilaku


yakni kognitif, afektif dan psikomotor. Kemudian dalam perkembangannya, domain perilaku
yang diklasifikasikan oleh Bloom dibagi menjadi 3 tingkat yaitu pengetahuan, sikap dan
tindakan. (Wikipedia, 2011).

1 Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. (Notoatmodjo, 2003).

Menurut teori WHO, pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri atau
pengalaman orang lain. (Bascom, 2009).

Notoatmodjo (2003), membagi pengetahuan dalam 6 tingkatan yaitu tahu, memahami,


aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

a. Tahu

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajarinya, seperti
mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangtan yang telah diterima.

b. Memahami

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar


tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.

c. Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real.

d. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi/ suatu obyek kedalam
komponen-komponen tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada
aitannya satu sama lain.

e. Sintesis

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau


menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhanyag baru.

f. Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau


penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2 . Sikap

Menurut Wikipedia (2011), sikap merupakan respon tertutup seseorang terhadap


stimulus atau obje tertentu yang melibatkan faktor pendapat yang bersangkutan.

Sikap menggambarkan suka atau tidak suka terhadap objek, sikap sering diperoleh
dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. (Bascom, 2009).

Newcomb, salah seorang ahli psikologis social, menyatakan bahwa sikap itu
merupakan kesiapan atau esediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan
motif-motif. Tertentu. (Notoadmojo, 2003).

Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu:

a. Menerima
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus
yang diberikan objek.

b. Merespon

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang


diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

c. Menghargai

Mengajak orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan suatu masalah.

d. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko
merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan secara langsung dan tidak langsung.

3.Praktik atau Tindakan

Tindakan ini merujuk pada perilaku yang dideskripsikan dalam bentuk tindakan
yang merupakan bentuk nyata dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki.
(Wikipedia, 2011).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yata diperlukan faktor-faktor


pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain.
(Notoatmojo, 2003).

a. Persepsi

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan
diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
b. Respon terpimpin

Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh.

c. Mekanisme

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu sesuai denagn benar secara
otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.

d. Adopsi

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.

Umur

Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan-


epidemiologi. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat
pola kesakitan atau kematian menurut golongan umur. . (Syafruddin dkk, 2009).

Untuk keperluan perbandingan maka WHO menganjurkan pembagian-


pembagian umur sebagai berikut (Syafruddin dkk, 2009):

a. Menurut tingkat kecerdasan

1) 0-14 tahun : Bayi dan anak-anak

2) 15-59 tahun : Orang muda dan orang dewasa

3) > 50 tahun : Orang tua

b. Interval 5 tahun

1) < 1 Tahun : 1-4 tahun

2) 5-9 Tahun
3) 10-14 tahun dan sebagainya

Menurut teori perkembangan psikososial Erikson, dikutip dari Whalley &


Wongs (1999), tahap perkembangan manusia menurut umur di bagi dalam 8 tahapan.
Tiga diantaranya berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut (Maulana,
2008):

a. < 20 tahun

b. 21-35 tahun

c. > 35 tahun

Penelitian Supardi dkk (2011) mengatakan bahwa sebagian besar berusia antara
26-35 tahun (28,8%) yang berobat ke Puskesmas dan proporsi penduduk yang
memilih berobat di rumah lebih banyak pada kelompok umur pra lansia atau lansia.

Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan suatu akibat dari dimorfisme seksual, yang pada
manusia dikenal menjadi laki-laki dan perempuan. (Wikipedia, 2011).

Jenis kelamin dikaitkan pula dengan aspek gender, karena terjadi diferensiasi
peran sosial yang dilekatkan pada masing-masing jenis kelamin. Pada masyarakat
yang mengenal machoisme, umpamanya, seorang laki-laki diharuskan berperan
secara maskulin (jantan dalam bahasa sehari-hari) dan perempuan berperan secara
feminin. (Wikipedia, 2011).

Setiap masyarakat menekankan peran tertentu yang setiap jenis kelamin harus
bermain, meskipun ada lintang luas dalam perilaku yang dapat diterima untuk setiap
gender. (Anonim, 2011).

Karakteristik penduduk yang memilih pengobatan di rumah proporsi terbesar


adalah berjenis kelamin perempuan. (Supardi dkk, 2011)
Begitu juga dengan penelitian Supardi dkk (2004) tentang faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku pasien berobat ke Puskesmas sebagian besar adalah
perempuan (56,4%).

Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan dasar dalam pengembangan wawasan serta untuk


memudahkan bagi seseorang untuk menerima pengetahuan, sikap dan perilaku yang
baru. Tingkat pendidikan formal yang pernah diperoleh seseorang akan meningkatkan
daya nalar seseorang dan jalan untuk memudahkan seseorang untuk menerima
motivasi. (Syaer, 2011).

Tingkat pendidikan seseorang dapat menentukan peminatan kesehatan, tinggi


rendahnya permintaan terhadap pelayanan kesehatan dapat ditentukan oleh tinggi
rendahnya pendidikan. Indikatornya adalah pendidikan terakhir, berpendidikan
rendah tetap memanfaatkan pelayanan kesehatan dan tahu manfaat pelayanan
kesehatan. (Syaer, 2010).

Menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, yaitu tentang Sistem


Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional terbagi atas tiga tingkat
pendidikan formal yaitu pendidikan dasar (SD/Madrasah Ibtidaiyah serta
SMP/Madrasah Tsanawiyah), pendidikan menengah (SMU/Madrasah Aliyah dan
sederajat) serta pendidikan tinggi (Akademi dan Perguruan tinggi). (Maulana, 2008).

Dari hasil penelitian Supardi dkk (2011) tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku pasien berobat ke Puskesmas diperoleh karakteristik pasien rawat
jalan dan rawat inap di Puskesmas adalah pendidikan SD (tamat/ tidak tamat SD).
Persentase pasien dengan pendidikan dasar lebih cenderung rawat inap di Puskesmas
dibandingkan dengan yang berpendidikan lanjutan.

Pendapatan/ penghasilan
Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan
pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. (Syafruddin dkk, 2009).

Berdasarkan peraturan Gubernur Aceh tahun 2011 upah minimal regional daerah
Aceh sebesar Rp 1.350.000 perbulan. Ini menggambarkan bahwa penghasilan
keluarga minimal untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar keluarga di Aceh adalah Rp
1.350.000 perbulan. Pengasilan menurut (Pergub Aceh) ada 3 kategori :

Tinggi : > Rp 1.350.000 perbulan

Sedang : Rp 650.000 sampai Rp.1.350.000 perbulan

Rendah : < Rp 650.000

Tingkat pendapatan yang memadai akan memberikan kemungkinan-kemungkinan


yang lebih besar untuk datang ke fasilitas kesehatan, memeriksakan diri, serta
mengambil obat. Hal ini dapat dihubungkan dengan biaya transport yang dimiliki.
Jadi dari tingkat pendapatan yang memadai dapat diharapkan penderita akan berobat
secara teratur walaupun jarak ke tempat pelayanan kesehatan jauh. (Syaer, 2010).

Maya Kurniasari (2011), mengatakan faktor ekonomi ikut berperan dalam


pemilihan tempat pengobatan. Hal ini dapat dilihat dari klasifikasi pasien yang datang
ketempat pengobatan tradisional sebagian besar pekerjaannya adalah buruh kasar,
sopir dan tukang parkir.

Pekerjaan

Menurut Daryanto (1997) pekerjaan adalah kegiatan rutin yang dilakukan subjek
penelitian diluar rumah yang menghasilkan imbalan materi maupun uang.
(Nurhasanah, 2008).

Nurhasanah (2008) membagi pekerjaan menjadi 2 yaitu bekerja dan tidak bekerja.
Bekerja apabila subjek penelitian memiliki kegiatan rutin yang dilakukan diluar
rumah yang menghasilkan imbalan materi maupun uang. Sedangkan tidak bekerja
apabila subjek penelitian tidak memiliki kegiatan rutin yang dilakukan diluar rumah
yang menghasilkan imbalan materi maupun uang.

Pekerjaan adalah penduduk yang berpotensial dapat bekerja, yang dapat


memproduksi barang atau jasa ada permintaan terhadap tenaga mereka mau
berpartisipasi dalam rangka aktifitas tersebut. Menurut Labor Force Consepth, yang
digolongkan bekerja adalah mereka yang melakukan pekerjaan untuk menghasilkan
barang atau jasa dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, baik
mereka yang bekerja penuh maupun tidak. Pekerjaan adalah suatu yang dilakukan
untuk mencari atau mendapatkan nafkah. (Syaer, 2011).

Bekerja atau tidaknya seseorang akan turut berpengaruh peminatan masyarakat


terhadap pelayanan kesehatan, semakin baik jenis pekerjaan dari seseorang semakin
tinggi permintaan terhadap pelayanan kesehatan. Indikatornya adalah mempunyai
pekerjaan tetap memanfaatkan pelayanan kesehatan walaupun harus meninggalkan
pekerjaan. (Syafruddin Syaer, 2010).

Persentase pasien tidak bekerja yang rawat jalan di Puskesmas lebih besar
daripada yang bekerja. Hubungan antara pekerjaan pasien dan perilaku pasien rawat
jalan di Puskesmas secara statistik bermakna. (Supardi dkk, 2011).

Hasil penelitian Herlina (2001) menunjukkan bahwa variabel sikap dan pekerjaan
berhubungan dengan pemilihan jenis pengobatan alternatif.