Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anjing
Anjing merupakan hewan yang erat ketergantungannya dengan manusia,
karena pada umumnya anjing mampu bertahan hidup di lingkungan liar.
Hubungan antara anjing dan manusia adalah hubungan saling menguntungkan.
Anjing memperoleh tempat berteduh, ketersediaan makanan, dan perawatan
kesehatan, sedangkan pemilik anjing memperoleh kesenangan sebagai teman
bermain (Meadows dan Flint, 2006).
Anjing termasuk ordo karnivora yang banyak tersebar diberbagai belahan
dunia. Anjing memiliki perbedaan bangsa seperti dari temperamen, bentuk tubuh
dan warna bulunya. Menurut Ratmus (2000) klasifikasi anjing adalah sebagai
berikut :

Kingdom/kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Carnivora
Famili : Canidae
Genus : Canis
Spesies : Canis lupus
Varietas : Canis lupus familiaris
Anjing domestic diterima dalam spesiesnya sendiri sampai ditemukan
banyak bukti dari perilaku, vokalisasi, morfologi dan biologi molekuler yang
mengarah pada pemahaman kontemporer bahwa serigala abu-abu adalah nenek
moyang untuk semua spesies anjing domestik. Berdasarkan fakta ini, anjing
direklasifikasi sebagai canis lupus familiaris subspesies dari serigala abu-abu
(Canis lupus) pada tahun 1993 (Robert, 1999).
Anjing dikenal sebagai hewan yang pintar. Mereka juga begitu akrab
dengan manusia bahkan mereka mendapat julukan sebagai teman terbaik
manusia. Ada banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan untuk manusia.
Mereka dilatih untuk menggembala ternak, berburu, penjaga, membantu nelayan
dengan jaring. Bahkan mereka juga bisa menjadi detektif untuk membantu polisi

3
4

menemukan pelaku kejahatan atau bahkan menemukan bom. Dan pada


perkembangannya mereka juga bisa berolahraga, bermain film, sebagai pemandu,
dan bahkan mereka juga bisa digunakan untuk terapi psikologis (Suwed dan
Budiana, 2006).
Menurut Muller (1994) anjing yang mendapat perawatan dengan baik
dapat hidup sehat sampai 20 tahun atau lebih. Untuk mendapatkan anjing yang
selalu bersih dan sehat maka harus disertai dengan perawatan yang baik dan
asupan gizi yang baik. Perawatan kesehatan sangat penting artinya untuk menjaga
anjing agar terhindar dari segala penyakit (Eldrege dkk., 2008)
Usaha pencegahan penyakit yang dapat dilakaukan antara lain menjaga
kebersihan lingkungan dari sumber infeksi dan vaksinasi. Sekitar pemukiman
biasanya juga terdapat kucing yang berkeliaran secara bebas tanpa pemilik (anjing
liar). Anjing liar yang berada di sekitar hewan peliharaan sangat potensial sebagai
sumber infeksi berbagai penyakit yang diantaranya adalah infeksi oleh virus
(Radford, 2009).

2.2. Intussusception
Intussusception adalah masuknya salah satu bagian kebagian yang lain
atau invaginatio dari salah satu bagian usus kedalam lumen dan bergabung dengan
bagian tersebut. Biasanya bagian proksimal masuk ke distal, jarang terjadi
sebaliknya. Bagian usus yang masuk (menginvaginasi) disebut intussusceptum
dan bagian yang menerima intussusceptum (diinvaginasi) disebut intussuscipiens.
Sinoni dari intussusception adalah telescoping usus dan invaginasi usus (Anonim,
2008)
5

Gambar 1. Gambar usus intussusceptions

Intussusception merupakan salah satu penyebab spesifik dari obstruksi


usus. Obstruksi usus disebabkan oleh adanya objek dalam lumen, stenosis dan
tekanan extramural. Penyebab yang spesifik yang lain antara lain : benda asing,
volvulus. Torsio usus, terkurungnya usus besar karena hernia (termasuk semua
tipe hernia abdominal, hernia diafragmatika), adhesi (post trauma atau post
operasi), abses, granuloma atau hematoma, malformasi congenital (stenosis atau
atresia) dan neoplasia usus. Obstruksi bisa terjadi proksimal atau distal. Obstruksi
proximal dan komplit, biasanya akut dan menunjukkan gejala klinis yang berat
seperti dehidrasi, ketidak seimbangan elektrolit dan shock. Dapat juga memicu
muntah yang tetap, kurangnya sekresi lambung (asam hidroklorat) serta alkalosis
metabolis sedangkan obstruksi distal disebabkan oleh beberapa tingkatan asidosis
metabolis. Obstruksi distal dan tidak komplit biasanya dengan gejala klinis yang
kurang jelas (Tilley dan Smith, 2004)

2.2.1. Etiologi Intussusception


Kejadian intussusception sering menjadi ikutan bagi penyakit
gastrointestinal seperti enteritis akibat parasit, infeksi parvovirus,
6

keradangan akibat bakteri dan juga akibat dari penelanan benda asing.
Riwayat operasi yang memungkinkan terjadinya infeksi sekunder dan
adhesi akibat penjahitan yang kurang baik juga dapat mengarah terjadinya
intussusception. Beberapa faktor predisposisi yang berpengaruh anatara lain
usia dan ras. Usia di bawah 1 tahun memilik prevalensi lebih tinggi
dibanding usia dewasa. Pada ras tertentu seperti anjing gembala jerman dan
kucing siam memiliki prevelansi yang lebih tinggi dibandingkan ras lain
(Birchard and Sherding, 2000)

2.2.2. Patogenesis
Enteritis ataupun penelanan benda asing membuat terjadinya
hipermotilitas disertai menurunnya integritas jaringan usus. Hal tersebut
dapat meningkatkan gerakan peristaltik yang dapat dibarengai oleh adanya
gerakan anti peristaltik yang arahnya berlawanan pada segmen usus
selanjutnya. Ketika kedua gerakan terjadi di segmen yang berdekatan maka
segmen proksimal akan membentuk invaginasi ke dalam lumen segmen
usus yang lebih distal. Maka, terbentuklah intussusception yang terdiri atas
segmen proksimal sebagai intususeptum dan segmen distal sebagai
intussusception. Terbentuknya intussusception akan mengakibatkan
terjadinya obstruksi parsial segmen usus. Obstruksi ini dapat menyebabkan
vasa darah pada submukosa dan mesenterium kolaps. Selain itu terjadi juga
peningkatan tekanan intraluminal yang dapat membuat dinding usus
edema, sel-sel intestinal juga dapat mengalami ischemia akibat ketidak
lancaran sirkulasi darah pada usus (kongesti). Bila terus menerus terjadi,
akan menyebabkan peningkatan turgiditas yang lama kelamaan akan terjadi
ekstravasasi darah ke lumen usus maupun keluar dari serosa menuju
peritonium. Hal tersebut dapat memacu terjadinya peritonitis dan juga
nekrosis pada bagian yang mengalami intussusception (Fossum, 2007).

2.2.3. Gejala Klinis


Gejala yang dapat terinspeksi antara lain sakit abdominal, anoreksia,
depresi, diare, muntah yang terkadang diikuti hematemesis. Gejala dehidrasi
7

juga biasanya terjadi diikuti membran mukosa yang anemis (Tilley dan
Smith, 2004).
Gejala klinis yang lain dapat timbul berdasarkan lokasi
intussusception, adanya hubungan dengan sistem vascular dan obstruksi
yang kompleks. Manifestasi penyakit mulai tampak dalam waktu 3-24 jam
setelah terjadi intussusception. Gejala-gejala sebagai tanda-tanda obstruksi
usus yaitu nyeri perut, muntah dan perdarahan. Nyeri perut bersifat serangan
setiap 15-30 menit, lamanya 1-2 menit. Biasanya nyeri disusul oleh muntah,
gejala muntah lebih sering pada invaginasi usus halus bagian atas jejunum
dan ileum dari pada ileocolica. Setelah serangan kolik yang petama, tinja
masih normal, kemudian disusul oleh defekasi darah bercampur lendir,
perdarahan terjadi dalam waktu 12 jam. Darah lendir berwarna segar pada
awal penyakit, kemudian berangsur-angsur bercampur jaringan nekrosis,
disebut terry stool oleh karena terjadi kerusakan jaringan dan pembuluh
darah. Gejala klinisnya lainnya distensi abdomen, demam, dehidrasi dan
lethargi. Secara umum, intussusception yang tinggi gejala klinisnya akut
(Tilley dan Smith, 2004).

2.2.4. Diagnosa
Diagnosa sementara intussusception dapat ditentukan dengan palpasi
berapa panjang dan penebalan lop usus (terbentuknya masa).
Intussusception jejunal mudah dipalpasi dibandingkan intussusception
ileocolic karena berada dibagian caudal dan ventral perut. Beberapa bagian
intussusception ada yang masuk dan keluar kolon dan dapat dipalpasi
beberapa lama. Penonjolan rectum dapat dikelirukan dengan prolapsus
rektum. Intussusception merupakan sebagian penyebab dari obstruksi usus
yang dapat dilihat dengan radiography jika ada sedikit akumulasi gas.
Intussusception jejuno-jejunal sering kali menunjukkan hasil yang sama
dengan intussusception ileocolic. Saluran jaringan ikat yang lunak dapat
diidentifikasi. Jika akumulasi gas cukup banyak pada bagian distal usus,
maka terbentuk intussusception bagian atas (Widodo, 2011)
8

Ultrasonography juga dapat digunakan untuk mendeteksi adanya


intussusception. Pola ultrasonography dari intussusception dalam garis
transversal adalah multilayer seperti lesio (hyperechoic konsentrasi dan
cincin hypoechoic) dengan asosiasi adanya akumulasi cairan proximal dan
motilitas usus yang sedikit. Secara longitudinal dapat dilihat pola dengan
alternativ hyperechoic paralel dan garis hypoechoic. Colonoscopy dapat
digunakan untuk mengidentifikasi invaginasi penonjolan usus kedalam
kolon pada pasien yang mengalami intussusception ileocolic atau cecocolic
(Merck dan Co, 1986)
Penemuan laboratorium yang abnormal termasuk dehidrasianemia dan
abnormalitas asam basa dan elektrolit. Intussusception kronik dapat
menyebabkan hypoalbuminemia karena rendahnya protein dari kongesti
mukosa. Dengan pemeriksaan feses suatu waktu dapat ditemukan adanya
infestasi parasit. Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan adalah
lekogram yaitu dengan melihat adanya perubahan mulai dari leukopenia
yang disebabkan oleh adanya gangguan karena virus sampai leukocytosis
yang disebabkan karena adanya gangguan pada usus besar atau peritonitis,
hematokrit mengalami perubahan yang signifikan jika terjadi hemoragi
gastrointestinal dan dehidrasi yang tinggi. Abnormalitas elektrolit juga dapat
diperiksa diantaranya hyponatremia, hypochloremia dan hypokalemia
(Merck dan Co, 1986)