Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wilayah negara Indonesia secara geografis, geologis, hidrologis, dan

demografis sangat memungkinkan untuk terjadinya bencana, baik yang

disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam, maupun faktor manusia

yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan

lingkungan, timbulnya kerugian harta benda, dan dampak psikologis bagi

manusia. secara geografis dan geologis wilayah Indonesia dapat

digambarkan sebagai berikut:

merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat

lempeng tektonik, yaitu: lempeng Euroasia, Australia, Pasifik, dan

Filipina.
terdapat 130 gunung api aktif di Indonesia yang terbagi dalam Tipe A,

Tipe B, dan Tipe C. Gunung api yang pernah meletus sekurang

kurangnya satu kali sesudah tahun 1600 dan masih aktif digolongkan

sebagai gunung api tipe A, tipe B adalah gunung api yang masih aktif

tetapi belum pernah meletus sedangkan tipe C adalah gunung api yang

masih di indikasikan sebagai gunung api aktif.


terdapat lebih dari 5.000 sungai besar dan kecil yang 30% di antaranya

melewati kawasan padat penduduk dan berpotensi terjadinya banjir,

banjir bandang dan tanah longsor pada saat musim penghujan. Bencana

1
2

dapat terjadi kapan saja di hampir semua wilayah Negara Republik

Indonesia. Beberapa kejadian bencana besar di Indonesia antara lain:


1. Gempa bumi dan tsunami. Gempa bumi dan tsunami terbesar terjadi pada

tanggal 26 Desember 2004, melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

dan sebagian wilayah Provinsi Sumatera Utara dengan jumlah korban

yang sangat besar, yaitu 120.000 orang meninggal, 93.088 orang hilang

dan 4.632 orang lukaluka. Kemudian pada tanggal 17 Juli 2006, peristiwa

yang sama kembali melanda pantai Selatan Jawa (Pangandaran, Ciamis,

Tasikmalaya, Garut, Banjar, Cilacap, Kebumen, Gunung Kidul dan Tulung

Agung) yang menelan korban 684 orang meninggal dunia, 82 orang orang

hilang dan korban dirawat inap sebanyak 477 orang dari 11.021 orang

yang lukaluka. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 25 Oktober 2010,

peristiwa gempa bumi dan tsunami kembali terjadi di Kabupaten

Mentawai Provinsi Sumatera Barat dengan jumlah korban sebanyak 509

orang.
2. Gempa bumi. Gempa bumi Nias, Sumatera Utara terjadi pada 28 Maret

2005 dengan jumlah korban meninggal 1745 orang, korban hilang 25

orang dan korban lukaluka sebanyak 1.987 orang. Setahun kemudian,

tepatnya pada 27 Mei 1976 gempa bumi kembali mengguncang DI

Yogyakarta dan Jawa Tengah yang menelan korban sebanyak 5.778 orang

meninggal, 26.013 orang rawat inap dan 125.195 orang rawat jalan.

Kemudian pada 30 September 2009, gempa bumi Sumatera Barat dengan

kekuatan 7,6 Skala Richter kembali lagi terjadi di lepas pantai Sumatera

Barat pada pukul 17:16:10 WIB mengakibatkan korban meninggal dunia


3

sebanyak 1.117 orang, korban luka berat sebanyak 788 orang, korban luka

ringan sebanyak 2.727 orang dan pengungsi sebanyak 2.845 orang. Selain

itu, sebanyak 279.201 unit rumah mengalami kerusakan. Sarana kesehatan

yang rusak sebanyak 292 unit, terdiri dari 10 rumah sakit, 53 puskesmas,

137 pustu, 6 kantor dinas, 15 polindes/poskesdes, 2 gudang farmasi dan 69

rumah dinas.
3. Ledakan bom. Ledakan bom Bali I 12 Oktober 2002, ledakan bom Bali II

1 Oktober 2005 dan ledakan bom di wilayah Jakarta (bom Gereja Santa

Anna dan HKBP 22 Juli 2001, bom Plaza Atrium Senen 23 September

2001, bom sekolah Australia 6 November 2001, bom tahun baru Bulungan

1 Januari 2002, bom kompleks Mabes Polri Jakarta 3 Februari 2003, bom

bandara SoekarnoHatta Jakarta 27 April 2003, bom JW Marriott 5

Agustus 2003, bom Pamulang Tangerang 8 Juni 2005, bom di Hotel JW

Marriott dan RitzCarlton Jakarta 17 Juli 2009) mengakibatkan

permasalahan kesehatan yang juga berdampak kepada aspek sosial, politik,

ekonomi, hukum dan budaya di Indonesia.


4. Letusan gunung berapi. Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah 15 Mei

2006 mengakibatkan 4 orang meninggal, 5.674 orang pengungsian dengan

permasalahan kesehatannya. Meletusnya Gunung Merapi di Provinsi Jawa

Tengah dan DI Yogyakarta 25 Oktober 2010, mengakibatkan korban

meningggal dunia sebanyak 347 orang yang terdiri dari 249 orang di

Provinsi DI Yogyakarta dan 98 orang di Provinsi Jateng, korban rawat inap

sebanyak 258 orang, korban yang tersebar di 550 titik. Adapun fasilitas
4

kesehatan yang rusak sebanyak 65 unit; rawat jalan sebanyak 52.272 orang

dan jumlah pengungsi sebanyak 61.154 jiwa


5. Banjir bandang. Banjir bandang di Kabupaten Teluk Wondama Provinsi

Papua Barat 4 Oktober 2010, mengakibatkan korban meninggal dunia

sebanyak 161 orang, korban rawat inap 36 orang, pulang sembuh 129

orang, korban rawat jalan 5.154 orang, dan pengungsi sebanyak 7.950 jiwa

yang tersebar di empat kabupaten/kota di Prov. Papua Barat dan satu

kabupaten di Provinsi Papua. Adapun fasilitas kesehatan yang rusak

tercatat sebanyak 42 unit.


6. Konflik. Sejak awal tahun 1999 telah terjadi konflik vertikal dan konflik

horizontal di Indonesia, ditandai dengan timbullnya kerusuhan sosial,

misalnya di Sampit Sambas, Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Poso,

Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Papua, Tarakan dan berbagai daerah

lainnya yang berdampak pada terjadinya pengungsian penduduk secara

besarbesaran.

Semua kejadian tersebut menimbulkan krisis kesehatan, antara

lain: korban meninggal dengan jumlah yang tak sedikit, korban luka,

pengungsi, masalah gizi, masalah ketersediaan air bersih, masalah sanitasi

lingkungan, penyakit menular, gangguan kejiwaan dan gangguan

pelayanan kesehatan reproduksi. Disamping itu, di bidang pelayanan

kesehatan, kita juga harus mengakui bahwa sistem jejaring pelayanan di

fasilitas kesehatan belum terintegrasi secara optimal yang berakibat masih

banyaknya keluhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan khususnya

di Instalasi Gawat Darurat.


5

Segera setelah bencana terjadi, problem yang muncul adalah

bagaimana cara untuk menyelamatkan korban. Untuk itu diperlukan

ketrampilan teknis medis (Disaster Medicine) yang berbasis pada

ketrampilan penanggulangan gawat darurat (Emergency Medicine) yang

didukung oleh sistim manajerial (Disaster Management) yang baik.

Sejak tahun 2000 Kementerian Kesehatan RI telah

mengembangkan konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu

(SPGDT) memadukan penanganan gawat darurat mulai dari tingkat pra

rumah sakit sampai tingkat rumah sakit dan rujukan antara rumah sakit

dengan pendekatan lintas program dan multisektoral. Penanggulangan

gawat darurat menekankan respon cepat dan tepat dengan prinsip Time

Saving is Life and Limb Saving. Public Safety Care (PSC) sebagai ujung

tombak safe community adalah sarana publik/masyarakat yang merupakan

perpaduan dari unsur pelayanan ambulans gawat darurat, unsure

pengamanan (kepolisian) dan unsur penyelamatan. Sedangkan Pelayanan

di tingkat Rumah Sakit Pelayanan gawat darurat meliputi suatu system

terpadu yang dipersiapkan mulai dari IGD, HCU, ICU dan kamar jenazah

serta rujukan antar RS mengingat kemampuan tiap-tiap Rumah Sakit

untuk penanganan efektif (pasca gawat darurat) disesuaikan dengan Kelas

Rumah Sakit.

Manajemen bencana mencakup interdisiplin, usaha tim kolaborasi,

dan jaringan lembaga dan individual untuk mengembangkan perencanaan

bencana yang meliputi elemen kebutuhan untuk perencanaan yang efektif.


6

Manajemen bencana perlu dilakukan secara cepat dalam mengat asi

bencana. Manajemen yang dilakukan dapat dilakukan sesuai fase.

Manajemen yang cepat dan tepat dapat meminimalisir masalah dan

kerugian yang terjadi akibat bencana. Peranan pelayanan medis juga

penting dalam manajemen bencana. Perawat memilki peranan dan

kontribusi pada setiap fase dalam manajemen bencana. Oleh karena itu,

manajemen bencana merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam

mengatasi bencana.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Dan Konsep Bencana
2. Tipe Dan Karakteristik Bencana
3. Manajemen Penanggulangan Bencana
4. Dasar Hukum Penanggulangan Bencana
5. Fase Pada Manajemen Bencana
6. Obat Dan Perbekalan Kesehatan
7. Pelayanan Medis Bencana Berdasarkan Siklus Bencana
8. Rencana Penanggulangan Bencana Di Rumah Sakit
9. Peran Perawat Dalam Penanggulangan Bencana

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Bencana

Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan

masyarakat. Tergantung pada cakupannya, bencana ini bisa merubah pola

kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak,

menghilangkan harta benda dan jiwa manusia, merusak struktur sosial


7

masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar (BAKORNAS

PBP).

All hazard disaster preparedness, multifaceted internal and external;

disaster preparedness that establishes action plans for every type of disaster

or comibation of disaster events(Huber 2010 : 760).

Disaster nursing dapat didefinisikan sebagai adaptasi keterampilan

keperawatan profesional dalam mengenali dan memenuhi keperawatan

kebutuhan fisik dan emosional akibat bencana. Tujuan keseluruhan dari

keperawatan bencana adalah untuk mencapai tingkat terbaik kesehatan bagi

rakyat dan masyarakat yang terlibat dalam bencana.

B. Tipe Bencana dan Karekateristik Bencana

Bencana dapat internal maupun eksternal, Penyebab bencana alam

mencakup hal-hal seperti gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, atau angin

topan, seperti kehancuran yang disebabkan oleh Badai Katrina di New Orleans

pada tahun 2005. Bencana juga dapat disebabkan oleh tindakan manusia; ini

dapat mencakup biologi, kimia, radiologi, nuklir, cyber, atau peristiwa teroris

konvensional. Secara lebih lengkap tipe bencana dapat dilihat dibawah ini:

TYPES OF DISASTERS
Natural Human-Made

Hurricanes Conventional warfare

Tornadoes Unconventional warfare (e.g.,

Hailstorms nuclear, chemical)

Cyclones Transportation accidents


8

Blizzards Structural collapse

Drought Explosions/bombing

Floods Fires

Mudslides Hazardous materials incident

Avalanches Pollution

Earthquakes Civil unrest (e.g., riots)

Volcanic eruptions Terrorism (chemical, biological,

Pandemics and epidemics radiological, nuclear, explosives)

Lightning-induced forest fi res Cyber attacks

Tsunamis Airplane crash

Thunderstorms and lightning Radiological incident

Extreme heat and cold Nuclear power plant incident

Critical infrastructure failure

Water supply contamination


Selain itu setiap jenis bencana memiliki karakteristik dan sangat

berkaitan erat dengan masalah yang dapat diakibatkannya. Dengan

mengenal karakteristik setiap ancaman, kita dapat mengetahui perilaku

ancaman tersebut dan menyusun langkahlangkah pencegahan, mitigasi

dan kesiapsiagaan termasuk dalam penyusunan rencana operasional saat

terjadi bencana.

Unsur unsur dalam Bencana

Unsur-unsur dalam bencana terdiri dari:

1. Ancaman
9

Ancaman merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang bisa

menimbulkan bencana. Adapun jenis ancaman yaitu:

a) Geologi: gempa bumi, tsunami, longsor


b) Hidro meteorology : banjir, banjir bandang, topan dan kekeringan
c) Biologi : epidemic, penyakit tanaman dan hewan
d) Tekhnologi : kecelakaan transportasi, industri
e) Lingkungan : kebakaran, kebakaran hutan, pengundulan hutan
f) Social : konflik dan terorisme
2. Kerentanan

Suatu kondisi yang melekat pada masyarakat yang mengarah

dan menimbulkan konsekuensi (fisik, social, ekonomi dan perilaku)

yang berpengaruh buruk terhadap upaya-uaya pencegahan dan

penanggulangan bencana.

3. Kemampuan

Suatu gabungan antara semua kekuatan dan sumber daya yang

tersedia dalam suatu masyarakat atau organisasi yang dapat

mengurangi tingkat resiko atau akibat dari bencana.

4. Risiko

Kemungkinan timbulnya kerugian (kematian, luka-luka,

kerusakan harta dan gangguan kegiatan perekonomian) karena suatu

bahaya disuatu wilayah dan pada suatu kurun waktu tertentu.

5. Hubungan Unsur unsur/formulasi

Hubungan unsure-unsur dapat diformulasikan sebagai berikut :

R = (A x K)/M

Dimana:
10

R : Resiko

A : Ancaman

K : Kerentanan

M : Kemampuan

C. Manajemen Penanggulangan Bencana

Manajemen penanggulangan bencana adalah pengelolaan penggunaan

sumber daya yang ada untuk menghadapi ancaman bencana dengan

melakukan perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi di

setiap tahap penanggulangan bencana yaitu pra, saat dan pasca bencana. Pada

dasarnya, upaya penanggulangan bencana meliputi:

1. Tahap prabencana, terdiri atas:


Situasi tidak terjadi bencana, kegiatannya adalah pencegahan dan

mitigasi
Situasi potensi terjadi bencana, kegiatannya berupa kesiapsiagaan
2. Tahap saat bencana, kegiatan adalah tanggap darurat dan pemulihan

darurat
3. Tahap pasca bencana, kegiatannya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi

Setiap tahapan bencana tersebut dapat digambarkan dalam suatu siklus

Tujuan Manajemen Bencana

Tujuan manajemen bencana yang baik adalah:

1. Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, dan Negara melalui

tindakan dini.
2. Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat dan Negara berupa

kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila

bencana tersebut terjadi, serta efektif bila bencana itu telah terjadi.
11

3. Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan

masyarakat yang terkena bencana. Membantu individu dan masyarakat

yang terkena bencana supaya dapat bertahan hidup dengan cara

melepaskan penderitaan yang langsung dialami.


4. Memberi informasi masyarakat danpihak berwenang mengenai resiko.
5. Memperbaiki kondisi sehingga indivudu dan masyarakat dapat mengatasi

permasalan Akibat bencana.

D. Dasar Hukum penanggulangan bencana


1. UU No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
2. KEPRES No.3 tahun 2001 tentang badan koordinasi nasional

penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi


3. KEPMENDAGRI No.13 tahun 2003 tentang pedoman penanggulangan

bencana dan penanganan pengungsi di daerah


4. Keputusan sekretaris BAKORNAS PBP No. 2 tahun 2001 tentang

pedoman umum penanggulangan bencana dan penanggulangan pengungsi


5. Undangundang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran

Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 5063)


6. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 145/MENKES/SK/I/2007 tentang

Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan.

E. Fase Pada Manajemen Bencana

Manajemen bencana dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu:

1. Fase Mitigasi

Mitigasi merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengurangi

resiko dan potensi kerusakan akibat keadaan darurat. Analisa demografi

populasi rentan dan kemampuan komunitas harus dianalisa. Mitigasi

mencakup pendidikan kepada publik tindakan untuk menyiapkan bencana


12

pada individu,keluarga,dan komunitas. Dimulai dengan mengidentifikasi

hazard potensial yang mempengaruhi operator organisasi. Indonesia kini

tengah menuju mitigasi/tindakan preventif.

Mitigasi yang dilakukan adalah dengan pembangunan struktural

dan non struktural di daerah rentan gempa dan bencana alam lainnya.

Tindakan mitigasi struktural contohnya dengan pemasangan sistem

informasi peringatan dini tsunami, yang bekerja setelah terjadi gempa.

Mitigasi non struktural adalah penataan ulang tata ruang area rentan

bencana. . Upayaupaya yang dilakukan antara lain:

a) penyusunan kebijakan, peraturan perundangan, pedoman dan standar;


b) pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah kesehatan
c) pembuatan brosur/leaflet/poster
d) analisis risiko bencana
e) pembentukan tim penanggulangan bencana
f) pelatihan dasar kebencanaan
g) membangun sistem penanggulangan krisis kesehatan berbasis

masyarakat.
2. Fase kesiapsiagaan dan pencegahan (Prevention phase)

Fase kesiapsiagaan adalah fase dimana dilakukan persiapan yang

baik dengan berbagai tindakan untuk meminamalisir kerugian yang

ditimbulkan akibat terjadinya bencana dan menyusun perencanaan agara

dapat melakukan kegiatan pertolongan serta perawatan yang efektif saat

terjadi bencana.

Tindakan terhadap bencana menurut PBB ada 9 kerangka:

pengkajian terhadap kerentanan; membuat perencanaan; pengorganisasian;

sistem informasi; pengumpulan sumber daya; sistem alarm; mekanisme

tindakan; pendidikan dan pelatihan penduduk; gladi resik. Beberapa


13

langkah yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanganan Bencana baik

tingkat Nasional dan Daerah telah diusahakan sekeras mungkin.

Contohnya pemetaan daerah rawan bencana gempa, regionalisasi daerah

bencana gempa, penetapan daerah yang menjadi wilayah basis pencapaian

lokasi bencana gempa, serta penetapan daerah lokasi evakuasi saat

dilakukan penanganan korban gempa bumi.

3. Fase tindakan (Respon phase)

Fase tindakan merupakan fase dimana dilakukan berbagai aksi

darurat yang nyata untuk menjaga diri sendiri atau harta kekayaan. Tujuan

dari fase tindakan adalah mengontrol dampak negatif dari bencana.

Aktivitas yang dilakukan: instruksi pengungsiaan; pencarian dan

penyelamatan korban; menjamin keamanan dilokasi bencana; pengkajian

terhadap kerugian akibat bencana; pembagian dan penggunaan alat

perlengkapan pada kondisi darurat; pengiriman dan penyerahan barang

material; dan menyediakan tempat pengungsian. Fase tindakan dibagi

menjadi fase akut dan fase sub akut. Fase akut, 48 jam pertama sejak

bencana terjadi disebut fase penyelamatan dan pertolongan medis darurat

sedangkan fase sub akut terjadi sejak 2-3 minggu.

4. Fase pemulihan

Fase pemulihan merupakan fase dimana individu atau masyarakat

dengan kemampuannya sendiri dapat memulihkan fungsinya seperti

kondisi sebelumnnya. Pada fase ini orang-orang mulai melakukan


14

perbaikan darurat tempat tinggal, mulai sekolah atau bekerja, memulihkan

lingkungan tempat tinggalnya. Fase ini merupakan masa peralihan dari

kondisi darurat ke kondisi tenang.

5. Fase Rehabilitasi

Fase Rehabilitasi merupakan fase dimana individu atau masyarakat

berusaha mengembalikan fungsi fungsi-fungsinya seperti sebelum bencana

dan merencanakan rehabilitasi terhadap seluruh komunitas. Keadaannya

mengalami perubahan dari sebelum bencana.

Sebuah frame work penanggulangan bencana diperlukan untuk

menggambarkan apa yang harus dipersiapkan, menanggapi dan bagaimana

pulih dari keadaan darurat (Gibson et all: 2012).

F. Obat dan Perbekalan Kesehatan

Jenis obat dan jenis penyakit sesuai dengan jenis bencana (lampiran 2),

Masalah utama yang sering berkaitan dengan obat dan perbekalan kesehatan

donasi yaitu sebagai berikut :

1. Obat dan perbekalan kesehatan donasi sering tidak sesuai dengan situasi

darurat yang terjadi, baik dari aspek pola penyakit maupun tingkat

pelayanan kesehatan yang tersedia. Obat tersebut sering tidak dikenal oleh

tenaga kesehatan setempat maupun pasien, bahkan kadangkadang tidak

memenuhi standar pengobatan yang berlaku;


2. Obat dan perbekalan kesehatan donasi sering tiba tanpa terlebih dahulu

disortir dan diberi label dalam bahasa lokal/inggris, bahkan tanpa ada

nama generiknya;
15

3. Kualitas obat dan perbekalan kesehatan donasi kadangkala tidak sesuai

dengan standar yang berlaku di negara donor;


4. Pihak donor kadang tidak menghiraukan prosedur administrasi Negara

penerima;
5. Pihak donor sering menyebutkan nilai obat lebih tinggi dari yang

semestinya;
6. Obat dan perbekalan kesehatan donasi dalam jumlah yang tidak sesuai

kebutuhan, akibatnya beberapa obat berlebih harus dimusnahkan. Hal ini

dapat menimbulkan masalah pada Negara penerima

G. Pelayanan Medis Bencana Berdasarkan Siklus Bencana

Pelayanan medis akan berubah dalam menanggulangi setiap siklus bencana;

1. Fase Akut pada siklus bencana

Prioritas di lokasi bencana, pertolongan terhadap korban luka dan

evakuasi dari lokasi berbahaya ke tempat yang aman. 3 T(triage,

treatment, dan transportation) penting untuk menyelamatkan korban luka

sebanyak mungkin. Pada fase ini juga dilakukan perawatan terhadap

mayat.

6. Fase menengah dan panjang pada siklus bencana

Fase perubahan pada lingkungan tempat tinggal. Pada fase ini

harus memperhatikan segi keamanan, membantu terapi kejiwaan korban

bencana, membantu kegiatan untuk memulihkan kesehatan hidup dan

membangun kembali komunitas social.

7. Fase tenang pada siklus bencana


16

Fase tidak terjadi bencana, pada fase ini diperlukan pendidikan

penanggulangan bencana saat bencana terjadi, pelatihan pencegahan

bencana pada komunitas dengan melibatkan penduduk setempat,

pengecekan dan pemeliharaan fasilitas peralatan pencegahan bencana baik

di daerah maupun fasilitas medis, serta membangun sistem jaringan

bantuan.

H. Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster

Plan)

Ketika terjadi bencana, selalu akan terjadi keadaan yang kacau (chaos),

yang bisa menganggu proses penanganan pasien, dan mengakibatkan hasil

yang tidak optimal. Dengan HDP yang baik, chaosakan tetap terjadi, tetapi

diusahakan agar waktunya sesingkat mungkin sehingga pelayanan dapat tetap

dilakukan sesuai standard yang ditetapkan, sehingga mortalitas (angka

kesakitan) dan moriditas (kematian) dapat ditekan seminimal mungkin.

Dalam situasi bencana, yang paling sering muncul di Rumah Sakit adalah :

1. Pada satu saat ada penderita dalam jumlah banyak yang harus dilayani

sehingga persiapan yang terlalu sederhana (simple alarm) akan tidak

mencukupi, dan diperlukan persiapan yang lebih komperhensif dan

intensif (Organization for a Mass admission of Patients OMP).


2. Kebutuhan yang melampaui kapasitas Rumah Sakit, dimana hal ini akan

diperparah bila terjadi kekurangan logistic dan SDM, atau kerusakan

terjadi infra struktur dalam Rumah Sakit itu sendiri.


17

Padahal, pada situasi bencana yang terjadi diluar Rumah Sakit, hasil

yang diharapkan dari HDP adalah korban dalam jumlah yang banyak

mendapat penanganan sebaik mungkin, melalui optimalisasi kapasitas

penerimaan dan penanganan pasien, dan pengorganisasian kerja secara

profesional, sehingga korban/pasien tetap dapat ditangani secara individu,

termasuk pasien yg sudah dirawat sebelum bencana terjadi. Sedangkan untuk

penanganan korban di luar Rumah Sakit, bantuan medis diberikan dalam

bentuk pengiriman tenaga medis maupun logistik medis yang diperlukan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk bencana eksternal maupun

internal. Konsep dasar suatu HDP adalah melindungi semua pasien, karyawan,

dan tim penolong serta respon yang optimal dan efektif dari tim

penanggulangan bencana yang berbasis pada struktur organisasi Rumah Sakit

sehari-hari. Selain itu perencanaan dalam HDP harus sudah diuji dalam suatu

simulasi, serta disosialisasikan ke internal RS maupun institusi lainnya yang

berhubungan. Selain itu juga perlu dipersiapkan sejak awal bahwa suatu HDP

merupakan bagian integral dalam sistim penangulangan bencana lokal /daerah

setempat.

1. Prinsip Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit


a. Predictable

Rencana penanggulangan bencana di rumah sakit harus

memiliki rantai manajemen penaggulangan bencana yang mudah di

prediksikan

b. Simple
18

Rencana penanggulangan bencana di rumah sakit harus harus

sederhana dan beroperasi secara fungsional

c. Fleksibel

Harus memiliki struktur organisasi, dimana rencana tersebut

dapat dijalankan untuk berbagai bentuk dan dimensi bencana yang

berbeda

d. Concise

Memiliki kewenangan yang jelas, Rencana tersebut

harusmenentukan berbagai peran, tanggung jawab,

hubungan kerjaberbagai keahlian teknis dan administratif

e. Comprehensive

Kompatibel dengan berbagai rumah sakit, cukup komprehensif

untuk melihat jaringan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan

lainnya dan disesuaikan dengan perumusan kebijakan antar-rumah

sakit dalam hal terjadi bencana.

f. Anticipatory

Semua rencana rumah sakit harus dilakukan

mengingat skenario kejadian terburuk.

g. Part of a Regional Health Plan in Disasters

Sebuah rumah sakit tidak bisa

menjadi entitas tunggal untukmembuat

rencana sendiri. Rencana rumah sakit harus terintegrasi dengan

rencana (kabupaten) regional untukmelakukan implementasi.


19

2. Cara membuat penanggulangan bencana di Rumah Sakit

Perencanaan darurat rumah sakit dapat dibagi menjadi tiga tahap:

1) Pre disaster phase

Sebagian besar perencanaan rencana darurat rumah sakit ini

dilakukan dalam fase pra bencana. diharapkan agar semua rumah

sakit memberikan perawatan darurat untuk pasien dengan

memulai/memprediksikan kejadian yang terburuk. Hal

ini baik untuk memiliki rencana kerja yang baik

dan siapsebelum keadaan darurat berikutnya.

1) Pembentukan komite bencana

merupakan langkah pertama untuk membuat rencana

penanggulangan bencana dii rumah sakit. Yang menjadi anggota

komite:

a) Direktur/kepala lembaga/pengawas medis


b) Anggota direksi manajemen rumah sakit
c) Masing-masing kepala departemen klinis yang berbeda

misalnya, bagian ortopedi, kardiothoraks, bedah umum dan

bedah syaraf.
d) Kepala departemen tambahan misalnya, bagian transfuse,

laboratorium, forensic, dll


e) Kepala perawat
f) Bagian keuangan
g) Bagian persediaan barang
h) Public relasi
i) Sanitasi
j) Bagian dapur rumah sakit
k) Serikat pekerja rumah sakit
2) Rencana aktivitas berbagai bidang dirumah sakit
20

Daerah yang harus disebutkan dalam rencana darurat

rumah sakitadalah:

a) Pusat komando
b) kantor komunikasi / Pager / Telepon daerah / sentral telepon.
c) Kantor keamanan / kepolisian /security
d) Penerimaan dan daerah triase.
e) Bidang perawatan minor.
f) Daerah perawatan akut (gawat darurat).
g) Tempat perawatan definitif (OTS, lingkungan).
h) Daerah perawatan intensif dan aktivasi Unit Ketergantungan

Tinggi
i) Kamar mayat.
j) Area untuk kerabat / tidak terluka.
k) Daerah untuk briefing
l) Daerah untuk menampung pasien
3) Meningkatkan kapasitas tempat tidur dalam keadaan darurat
4) Perencanaan untuk keamanan rumah sakit dalam situasidarurat
5) Perencanaan logistic (komunikasi dan transportasi)
b. Disaster phase
1) Aktivasi bencana (rencana untuk mengingatkan komite bencana,

staff dan fasilitas lain melalui telefon/pager atau bergerak

menuju daerah bencana)


2) Fase demobilisasi (keputusan untuk menon aktifkan rencana

harus diambil setelah melalui penilaian yang tepat, penonaktifan

tidak boleh terlalu dini dan tidak boleh terlambat. Sangat sulit

untuk mengaktifkan rencana kembali setelah keadaan darurat

dinyatakan selesai)
c. Post disaster phase.

I. Peran perawat dalam manajemen bencana

Sebagai salah satu komponen penting dalam respon penanganan

bencana, perawat memiliki peran yang sangat besar. Kegagalan rencana peran
21

dan tanggung jawab perawat berdampak kegagalan dalam menangani korban

bencana. Selain ahli dalam bidangnya, perawat juga harus mengetahui

bagaimana manajemen bencana diterapkan sehingga bisa meminimalisir risiko

bencana dan memperbesar keberhasilan penanganan korban bencana.

Bencana tentu tidak sesederhana yang dibayangkan, karena ada

tahapan-tahapan yang harus dilewati, dan setiap jenis bencana memiliki

keunikan tersendiri. Untuk bisa menanganinya, selain dengan kemampuan

sebagai perawat, dituntut harus bisa berkontribusi, berkoodinasi dan

berkolaborasi dengan semua pendukung yang ada. Ada unsur manusia,

kebutuhan, waktu,standard operational procedure,dan juga nilai yang harus

dipahami dan dikuasai sebagai seorang perawat.

Manajemen bencana memiliki permasalahan yang sangat kompleks

karena bervariasinya jenis ancaman yang terjadi, kondisi geografis daerah

bencana, keragaman kondisi sosial budaya daerah setempat dan kepadatan

populasi terkait dengan distribusinya yang menyebar tidak merata di setiap

daerah. Karena kompleksnya tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan

dalam penanggulangan bencana adalah identifikasi dan analisis permasalahan

sehingga dapat dengan tepat ditangani oleh perawat.

Peran perawat pada penanggulangan bencana bisa dikatakan multiple,

perawat sebagai bagian dari penyusun rencana, pendidik, pemberi asuhan

keperawatan, dan bagian dari tim pengkajian kejadian bencana. Tujuan utama

dari tindakan keperawatan bencana ini adalah untuk mencapai kemungkinan

tingkat kesehatan terbaik masyarakat yang terkena bencana tersebut. Jika


22

seorang perawat berada di pusat area bencana, perawat akan dibutuhkan untuk

ikut mengevakuasi dan memberi pertolongan pertama pada korban.

Sedangkan di lokasi-lokasi penampungan seorang perawat bertanggung jawab

pada evaluasi kondisi korban, melakukan tindakan keperawatan berkelanjutan, dan

mengkondisikan lingkungan terhadap perawatan korban-korban dengan penyakit menular.

1. Peran dalam Pencegahan Primer

Ada 2 hal yang dapat dilakukan perawat dalam masa pra bencana ini, antara lain:

a Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan

dalampenanggulangan ancaman bencana untuk tiap fasenya (preimpact, impact,

postimpact).Para perawat ini, khususnya perawat komunitas mendapat pelatihan

tentang berbagai tindakan dalam penanggulan ancaman dan dampak bencana.

Misalnya mengenali instruksi ancaman bahaya; mengidentifikasi kebutuhan-

kebutuhan saat fase emergency (makanan,air, obat-obatan, pakaian dan selimut,

serta tenda); dan mengikuti pelatihan penanganan pertama korban bencana.


b Perawat ikut terlibat bersama berbagai dinas pemerintahan, organisasi

lingkungan,palang merah nasional maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan

dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan menghadapi ancaman

bencana kepada masyarakat.


2. Peran Perawat dalam Keadaan Darurat (Impact Phase)

Pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan tepat setelah keadaan

stabil. Setelah bencana mulai stabil, masing-masing bidang tim survey mulai

melakukan pengkajian cepat terhadap kerusakan-kerusakan, begitu juga perawat

sebagai bagian dari tim kesehatan. Perawat harus melakukan pengkajian secara cepat

untuk memutuskan tindakan pertolongan pertama. Ada saat dimana seleksi pasien
23

untuk penanganan segera (emergency) akan lebih efektif. Seleksi ini sering dikenal

dengan Triase, yaitu seleksi pasien berdasar kondisi tubuh, fisiologisnya, dan

probabilitas keselamatan. Triase yang berasal daribahasa PrancisTriage yang berarti

kategorisasi ini menggunakan sistem warna dalam seleksi pasien.

Peran perawat di dalam posko pengungsian dan posko bencana

a. Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan

sehari-hari
b. Tetap menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian
c. Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan

penanganan kesehatan di RS
d. Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian
e. Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus

bayi, peralatan kesehatan


f. Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit

menular maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri

dan lingkungannya berkoordinasi dengan perawat jiwa


g. Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban

(ansietas, depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis dan

mengisolasi diri) maupun reaksi psikosomatik (hilang nafsu makan,

insomnia, fatigue, mual muntah, dan kelemahan otot)


h. Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat

dilakukan dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi

bermain.
i. Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para

psikolog dan psikiater


j. Konsultasikan bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan

kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi.


3. Peran perawat dalam fase postimpact
24

Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, sosial, dan

psikologis korban. Selama masa perbaikan perawat membantu masyarakat untuk

kembali pada kehidupan normal. Beberapa penyakit dan kondisi fisik mungkin

memerlukan jangka waktu yang lama untuk normal kembali bahkan terdapat keadaan

dimana kecacatan terjadi.

Kebutuhan psikologis bisa menjadi masalah utama dalam fase ini. Stres

psikologis yang terjadi dapat terus berkembang hingga terjadi Posttraumatic Stres

Disorder (PTSD) Syndrom yang memiliki 3 kriteria utama. Yaitu, Pertama, gejala

trauma pasti dapat dikenali. Kedua, individu tersebutmengalami gejala ulang traumanya

melalui flashback, mimpi, ataupun peristiwa-peristiwa yang memacunya. Ketiga,

individu akan menunjukkan gangguan fisik. Selain itu individu dengan PTSD dapat

mengalami penurunan konsentrasi, perasaan bersalah,dan gangguan memori.

Dalam hal ini perawat, psikiater, maupun psikolog harus menyadari tanda dan

gejala dari sindrom PTSD ini karena sindrom ini bisa saja terjadi berselang waktu yang

lama darikejadian bencana tersebut. Alternatif pelayanan yang dapat diberikan pada

pasien dengan stres kejiwaan ini adalah: Jaminan perlindungan dari pemerintah,

Penyediaan tempat oleh pemerintah maupun lembaga untuk pelayanan emergency

pada kondisi tersebut, Informasi alamat dan kontak dengan Rumah Sakit, yang dapat

diinformasikan pada keluarga dan Penyediaan layanan Home Visit

COMMON RESPONSES TO A TRAUMATIC EVENT


COGNITIVE EMOTIONAL PHYSICAL BEHAVIORAL
Poor concentration Shock Nausea Suspicion

Confusion Numbness Lightheadedness Irritability

Disorientation Feeling overwhelme Dizziness Arguments with


25

Indecisiveness d Gastrointestinal friends and

Shortened Depression problems loved ones

attention span Feeling lost Rapid heart rate Withdrawal

Memory loss Fear of harm to self Tremors Excessive silence

Unwanted memories and/or loved ones Headaches Inappropriate

Diffi culty making Feeling nothing Grinding of teeth humor

decisions Feeling abandoned Fatigue increased/

Uncertainty of Poor sleep decreased eating

feelings Pain Change in sexual

Volatile emotions Hyperarousal desire or

Jumpiness functioning

Increased smoking

Increased

substance use or

abuse
26

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Disaster nursing dapat didefinisikan sebagai adaptasi keterampilan

keperawatan profesional dalam mengenali dan memenuhi keperawatan

kebutuhan fisik dan emosional akibat bencana. Tujuan keseluruhan dari

keperawatan bencana adalah untuk mencapai tingkat terbaik kesehatan bagi

rakyat dan masyarakat yang terlibat dalam bencana.

Bencana dapat internal maupun eksternal, Penyebab bencana alam

mencakup hal-hal seperti gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, atau angin

topan, seperti kehancuran yang disebabkan oleh Badai Katrina di New Orleans
27

pada tahun 2005. Bencana juga dapat disebabkan oleh tindakan manusia; ini

dapat mencakup biologi, kimia, radiologi, nuklir, cyber, atau peristiwa teroris

konvensional.

Manajemen penanggulangan bencana adalah pengelolaan penggunaan

sumber daya yang ada untuk menghadapi ancaman bencana dengan

melakukan perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi di

setiap tahap penanggulangan bencana yaitu pra, saat dan pasca bencana.

Manajemen bencana dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu:

Fase Mitigasi
Fase kesiapsiagaan dan pencegahan (Prevention phase)
Fase tindakan (Respon phase)
Fase pemulihan
Fase Rehabilitasi

Pelayanan medis akan berubah dalam menanggulangi setiap siklus bencana;

Fase Akut pada siklus bencana


Fase menengah dan panjang pada siklus bencana
Fase tenang pada siklus bencana

Naskah Skenario Simulasi


Pada suatu hari ada sebuah konser dari girl band ternama sejagad raya
yaitu jujun band mereka asyik bernyanyi dengan lagu andalannya, disitu juga
terdapat banyak fans yang menonton dan ikut berjoged ria dan bersenang-senang.
Dari sekian banyak fans ada seorang yang datang menggendong sebuah tas dan
ikut dalam acara tersebut namun tak lama kemudian dia pergi dengan
meninggalkan tas yang berisi bom. Bom tersebut akan meledak dalam waktu 5
menit dan tiba-tiba ditengah-tengah acara terjadi sebuah ledakan bom tepat di
tempat konser tersebut, orang-orang tidak bisa menyelamatkan diri hanya 2 orang
yang dapat selamat dari ledakan bom karena jauh dari pusat ledakan bom.
28

Ledakan bom terjadi dua kali, banyak korban yang terlempar akibat ledakan bom
terutama yang dekat dengan pusat ledakan. Banyak korban yang tergeletak dan
berteriak meminta pertolongan.Setelah ledakan bom terjadi datanglah 2 orang
mahasiswa keperawatan yang akan menonton konser tersebut, mereka nampak
panik melihat keadaan lokasi konser yang sudah kacau akibat ledakan bom
sehingga mereka kebingunan untuk mencari pertolongan. Kedua mahasiswa
tersebut langsung menghubungi rumah sakit assyifa dan kantor polisi kota
terdekat. Mereka mencoba menghampiri korban terdekat dari mereka, ternyata
korban tersebut tidak sadarkan diri dan tidak teraba nadi.
Satu jam kemudian tim penolong datang ke lokasi kejadian. Korban dari
ledakan sejumlah 12 orang dengan berbagai macam korban, tim penolong harus
memilah korban dengan urutan prioritas pertolongan (TRIAGE), korban dengan
label hijau sebanyak 2 orang, korban dengan label kuning sebanyak 2 orang,
korban dengan label merah sebanyak 3 orang dan korban dengan label hitam
sebanyak 5 orang.

Di acara konser
Pemain Band 1 : Hai semua, selamat datang di konser band kami yaitu jujun
band, kami akan membawakan sebuah lagu andalan kami yaitu yang berjudul
judi.

Konser berlangsung.
Ketika konser berlangsung, penonton bersorak ramai menyaksikan band
kesayangan mereka. Lalu datang satu orang penonton menghampiri area
panggung dan menyimpan sebuah tas kecil yang berisi bom. Lalu orang tersebut
pergi meninggalkan acara konser tersebut. 20 menit kemudian ledakan bom pun
terjadi.
Ledakan BOM terjadi Daaaarrr
Korban* : Aaaaahhhhh tolong tolong
29

Lalu datang 2 orang mahasiswa keperawatan yang akan menonton konser,


namun mereka nampak panik melihat keadaan lokasi konser yang sudah kacau
akibat ledakan bom sehingga mereka kebingunan untuk mencari pertolongan,
kemudian mereka melakukan call for help ke rumah sakit assyfa kota sukabumi
dan ke pihak polisi untuk meminta pertolongan dan pengamanan. Setelah mereka
menghampiri korban terdekat dari mereka, ternyata korban tersebut tidak sadarkan
diri dan tidak teraba nadi.
Mahasiswa 1 : apa yang terjadi, lalu apa yang harus kita lakukan kawan?
Mahasiswa 2 : sepertinya disini sudah terjadi ledakan bom, coba kamu telp
rumah sakit saja untuk meminta bantuan, dan aku akan menghubungi polisi untuk
pengamanannya.
Mahasiswa 1 : baiklah, kawan.
Mahasiswa 1 : Halo assalamualaikum, saya ....... di daerah Benteng telah terjadi
ledakan bom sekitar 5 menit yang lalu disini terdapat banyak korban yang tidak
sadarkan diri dan membutuhkan pertolongan, segera kirim tenaga medis ke daerah
benteng untuk segera melakukan evakuasi.
Mahasiswa 2 : Hallo Assalamualaikum, pak ini saya dengan ..... di daerah
Benteng telah terjadi ledakan bom sekitar 5 menit yang lalu disini terdapat banyak
korban, mohon bantuannya untuk dilakukan pengamanan.

Satu jam kemudian tim penolong dari rumah sakit dan kepolisian datang,
tim perawat langsung menyiapkan tenda evakuasi (tenda label hijau, kuning,
merah dan hitam) dan melakukan evakuasi korban serta memilah korban dengan
prioritas pertolongan (TRIAGE).
Polisi langsung memasang garis polisi.

Perawat 1 : Perhatian bagi korban yang masih bisa berjalan diharap berpindah
menuju tenda berwarna hijau. Bagi yang tidak bisa berjalan, perawat akan segera
membantu untuk menolong.
30

Tim perawat yang datang ke lokasi berjumlah 4 orang langsung melakukan


evakuasi dengan menolong korban yang tertindih oleh reruntuhan panggung dan
mulai melakukan tindakan sesuai urutan prioritas pertolongan (TRIAGE). Di
mulai dari memilah korban dekat dengan perawat dengan cara arah lingkaran
kedalam, lalu perawat emberikan label pada korban sesuai dengan kondisi korban.
Setelah selesai memilah tim penolong segera mempersiapkan rujukan untuk
korban yang harus mendapat rujukan ke rumah sakit.

Korban 1 : luka bakar wajah, tangan


Korban 2 : luka bakar wajah, tangan, kaki
Korban 3 : fraktur kaki, luka bakar tangan, (RR 29x/menit) dan nadi
92x/menit, CRT <2 detik, dapat mengikuti perintah sederhana.
Korban 4 : fraktur kaki, luka bakar muka dan tangan, (RR 27x/menit) dan
nadi 86x/menit, CRT <2 detik, dapat mengikuti perintah sederhana.
Korban 5 : dicurigai cedera cervikal, pendarahan tangan eksternal, luka bakar
muka, (RR 28x/menit) dan nadi 70x/menit, CRT <2 detik
Korban 6 : pendarahan internal intraabdomen, luka bakar tangan, muka, kaki,
pendarahan dari hidung dan telinga (cedera cervical), (RR 26x/menit) dan nadi
110x/menit, CRT >2 detik.
Korban 7 : fraktur tangan dan kaki, luka bakar wajah, tangan, dicurigai
cedera cervikal, (RR 36x/menit) dan nadi 110x/menit, CRT >2 detik.
Korban 8 : luka bakar wajah, tangan, kaki, farktur kaki, pendarahan
intraabdomen, keluaran darah dari hidung dan telinga (cedera cervikal), tidak
berespon dan tidak bernafas tertindih pada area abdomen dan kaki kanan.
Korban 9 : luka bakar wajah, tangan, kaki, pendarahan eksternal tangan,
fraktur pelvis, pendarahan internal pada area pelvis, tidak berespon dan tidak
bernafas tertindih pada area pelvis.
Korban 10 : luka bakar wajah dan tangan, keluaran darah dari hidung dan
telinga (cedera cervikal), fraktur kaki, tidak berespon dan tidak bernafas.
tertindih pada kaki kiri
31

Korban 11 : luka bakar pada seluruh tubuh, pendarahan intraabdomen dan


pendarahan pelvis, tidak berespon dan tidak bernafas. tertindih pada area
abdomen dan pelvis.
Korban 12 : luka bakar wajah, tangan, kaki, keluaran darah dari hidung dan
telinga (cedera cervikal), pendarahan intraabdomen, tidak berespon dan tidak
bernafas. tertindih pada area abdomen.

Korban 1 : luka bakar wajah, tangan (SELI)


Korban 2 : luka bakar wajah, tangan, kaki (SOVI)
Korban 3 : fraktur kaki, luka bakar tangan, (RR 29x/menit) dan nadi
92x/menit, CRT <2 detik, dapat mengikuti perintah sederhana. (NORMA)
Korban 4 : fraktur kaki, luka bakar muka dan tangan, (RR 27x/menit) dan
nadi 86x/menit, CRT <2 detik, dapat mengikuti perintah sederhana. (NITA)
Korban 5 : dicurigai cedera cervikal, pendarahan tangan eksternal, luka bakar
muka, (RR 28x/menit) dan nadi 70x/menit, CRT <2 detik (DIAR)
Korban 6 : pendarahan internal intraabdomen, luka bakar tangan, muka, kaki,
pendarahan dari hidung dan telinga (cedera cervical), (RR 26x/menit) dan nadi
110x/menit, CRT >2 detik. (HAMDI)
Korban 7 : fraktur tangan dan kaki, luka bakar wajah, tangan, dicurigai
cedera cervikal, (RR 36x/menit) dan nadi 110x/menit, CRT >2 detik. (HILMAN)
Korban 8 : luka bakar wajah, tangan, kaki, farktur kaki, pendarahan
intraabdomen, keluaran darah dari hidung dan telinga (cedera cervikal), tidak
berespon dan tidak bernafas tertindih pada area abdomen dan kaki kanan.
(PUTRI)
Korban 9 : luka bakar wajah, tangan, kaki, pendarahan eksternal tangan,
fraktur pelvis, pendarahan internal pada area pelvis, tidak berespon dan tidak
bernafas tertindih pada area pelvis. (TIARA)
32

Korban 10 : luka bakar wajah dan tangan, keluaran darah dari hidung dan
telinga (cedera cervikal), fraktur kaki, tidak berespon dan tidak bernafas.
tertindih pada kaki kiri (SARI)
Korban 11 : luka bakar pada seluruh tubuh, pendarahan intraabdomen dan
pendarahan pelvis, tidak berespon dan tidak bernafas. tertindih pada area
abdomen dan pelvis. (YEDI)
Korban 12 : luka bakar wajah, tangan, kaki, keluaran darah dari hidung dan

telinga (cedera cervikal), pendarahan intraabdomen, tidak berespon dan tidak

bernafas. tertindih pada area abdomen. (RAMDAN)