Anda di halaman 1dari 3

Bauran Kebijakan Fiskal dan Moneter

Berjalan Baik

Jakarta, 28/08/2014 MoF (Fiscal) News - Bauran kebijakan yang dilakukan oleh
otoritas fiskal dan moneter tengah berjalan dengan baik. Menurut Staf Khusus
Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah, ini dapat dilihat dari data
Badan Pusat Statistik (BPS) terkait inflasi dan neraca perdagangan yang menunjukkan
perbaikan signifikan.

Perbaikan kinerja neraca dagang dan inflasi menunjukkan berjalannya bauran


kebijakan (policy mix) yang ditempuh selama ini, kata Firmanzah. Bauran kebijakan
ini dilakukan untuk terus menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah risiko
global yang semakin kompleks. Pengambilan kebijakan yang hati-hati salah satunya
dapat dilihat dari keputusan pemerintah pada tahun 2013 ketika menempuh kebijakan
penyesuaian harga BBM subsidi. Ini salah satu bentuk pengendalian inflasi, dimana
pemerintah menghindari inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah (deflasi).

Firmanzah optimistis, pemerintahan baru akan terus meningkatkan pengelolaan inflasi


sebagai salah satu kebijakan utama perekonomian nasional. Ia meyakini
perekonomian nasional akan terus tumbuh kuat, berkualitas dan semakin bertenaga
dalam mewujudkan pembangunan yang sedang berjalan. (as)
"Rupiah Jeblok, Tak Ada Sinergi Fiskal dan Moneter"

JAKARTA, KOMOPAS.com - Pelemahan nilai tukar rupiah tak kunjung berhenti sepanjang
tahun ini. Per Selasa (20/8/2013), kurs tengah Bank Indonesia sudah melewati Rp 10.500 per
dollar AS. Pasar dinilai tak melihat adanya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter.

"Pengendalian nilai tukar tak bisa hanya mengandalkan Bank Indonesia," tegas anggota
Komisi XI DPR Arif Budimanta, Selasa (20/8/2013). Menurut dia, kebijakan moneter tanpa
ada perbaikan struktural di sektor fiskal, hanya akan membuat beban Bank Indonesia semakin
berat yang terindikasi dari terus tergerusnya cadangan devisa.

Cadangan devisa di Bank Indonesia terus tergerus seiring pelemahan rupiah sepanjang tahun
ini. Setelah melonjak dan terakumulasi di atas 100 miliar dollar mulai 2011, cadangan devisa
per 31 Juli 2013 tercatat 92,67 miliar dollar AS, dan masih terus turun. Angka per akhir Juli
itu sudah turun lebih dari 20 miliar dollar AS dibandingkan posisi per 28 Desember 2012 di
112,78 miilar dollar AS, untuk operasi moneter.

Defisit neraca perdagangan

Salah satu indikasi tak tersinergikannya kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter, adalah
defisit neraca perdagangan yang terus memburuk. Pada kuartal kedua 2013, sebut dia, defisit
neraca perdagangan membengkak menjadi 4,4 persen pendapatan domestik bruto, setelah
pada kuartal pertama 2013 tercatat 2,4 persen. "Ini (defisit kuartal) terbesar dalam sejarah,"
ujar dia.

Menurut Arif, defisit neraca perdagangan terus berlangsung karena kebijakan fiskal
pemerintah pada industri bahan baku atau hulu masih tak menarik. Sementara perlakuan
terhadap eksportir pun tak mendorong gairah untuk memburu pemasukan dari devisa hasil
ekspor.

Arif mengingatkan, rupiah mengalami pelemahan paling dalam di regional. "Kalau tidak ada
perbaikan terhadap neraca perdagangan, pelemahan ini masih akan terus berlanjut," tegas dia.

Melorotnya nilai komoditas dan ekspor, serta terus meningkatnya nilai impor dari waktu ke
waktu, ujar Arif, merupakan data riil yang menggambarkan kegagalan pemerintah.
"Kegagalan menggenjot produktivitas nasional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam
negeri." Pada sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih saja bertumpu pada konsumsi.

Situasi hari-hari ini, imbuh Arif, telah memperlihatkan inflasi yang semestinya bersifat
musiman menggelagat menjadi permanen bila pemeritnah tak segera berupaya melakukan
pengendalian. Misal inflasi bahan pangan yang biasanya musiman, kini bisa terjadi di
sembarang bulan, dan bahkan bukan sekali dipicu oleh kelangkaan bahan makanan selain
beras. "Bila dibiarkan, kenaikan biaya hidup tak terhindarkan," tegas dia.

Langkah fundamental dan struktural

Karenanya, Arif berpendapat perlu segera diambil langkah-langkah fundamental dan


struktural. Pengendalian rupiah, ujar dia, tak semestinya dilakukan dengan mengerem
pertumbuhan kredit yang bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi. "Yang
harus dilaukan adalah pengaturan cash flow nasional," ujar dia.

Arif berpendapat Bank Indonesia perlu mempertimbangkan relaksasi ketentuan untuk


melakukan pendalaman pasar valuta asing, untuk memikat aliran modal masuk (capital
inflow). "Termasuk mengaktivasi instrumen FX swap sebagai fasilitas hedging untuk dana
asing yang akan diinvestasikan di pasar rupiah domestik," sebut dia.

Namun di sisi lain, Arif menegaskan ekspor harus didorong dan impor harus sangat
dikendalikan. Produksi nasional, mutlak harus didongkrak, termasuk produksi sektor
pertanian, serta industri perkapalan dan sektor kelautan. "Agar impor pangan dan defisit
neraca djasa bisa ditekan," tegas dia.

Kebijakan fiskal pemerintah harus disusun dalam kerangka mendorong ekspor. "Misalnya
dengan menurunkan pajak ekspor dan promosi perdagangan agresif," sebut dia. Sebaliknya
untuk mengendalikan impor, lanjut Arif, pajak impor harus dinaikkan dengan dimulai dari
barang mewah.

Selain itu, Arif mendesak adanya strategi pengembangan industri dan produksi nasional,
terutama industri menengah dan kecil. "Penciptaan lapangan kerja, realisasi anggaran, serta
implementasi program pedesaan, UMKM, dan sosial, perlu dipercepat" kata dia.