Anda di halaman 1dari 33

STEP 7

1. macam adaptasi bayi dari intra uterine ke ekstra uterine?


jawaban :
Intrauterine Ekstrauterine
Lingkungan fisik Cairan Udara
Suhu luar Pada umumnya tetap Berubah ubah
Gizi Tergantung pada zat zat Tergantung pada
gizi yang terdapat dalam tersedianya bahan
darah ibu makanan dan
kemampuan saluran
cerna
Penyediaan oksigen Berasal dari ibu ke janin Berasal dari paru paru
melalui plasenta ke pembuluh paru paru
Pengeluaran hasil Dikeluarkan ke sistem Dikeluarkan melalui paru
metabolism peredaran darah ibu paru, kulit, ginjal, dan
saluran pencernaan
Stimulasi sensoris Terutama kinestetik atau Bermacam macam
vibrasi stimuli

(Tumbuh Kembang Anak, Soetjiningsih)


Fisiologi sistem respirasi, kardiovaskuler ,gastrointestinal; dll
A. System pernafasan :
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran
gas melalui plasenta.
Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru bayi.
Sebelum terjadi pernafasan, neonatus dapat mempertahankan
hidupnya dalam keadaan anoksia lebih lama karena ada kelanjutan
metabolisme anaerobik.
Rangsangan untuk gerakan yang pertama :
a. Tekanan mekanis dari toraks sewaktu melewati jalan lahir
b. Penurunan paO2 dan kenaikan paCO2 merangsang kemoreseptor
yang terletak di sinus koratikus
c. Rangsangan dingin didaerah muka dapat merangsang permulaan
gerakan pernafasan.
d. Refleks deflasi Hering Breur
Selama ekspirasi, setelah inspirasi dengan tekanan positif,
terlihat suatu inspiratory gasp
Respirasi pada masa neonatus terutama diafragmatik dan
abdominal dan biasanya masih tidak teratur dalam hal frekuensi an
dalamnya pernafasan
Setelah paru berfungsi, pertukaran gas dalam paru sam dengan
pada orang dewasa, tetapi oleh karena bronkiolus relatif kecil, mudah
terjadi air trapping.

B. System peredaran darah :


Pada masa fetus darah dari plasenta melalui vena umbilikalis sebagian
ke hati, sebagian langsung ke serambi kiri jantung kemudian ke bilik
kiri jantung.
Dari bilik kiri darah di pompa melalui aorta ke seluruh tubuh. Dari
bilik kanan darah di pompa sebagian ke paru dan sebagian ke duktus
arteriosus ke aorta.
Setelah bayi lahir, paru akan berkembang mengakibatkan tekanan
arteriil dalam paru menurun.
Tekanan dalam jantung kanan turun, sehingga tekanan jantung kiri
lebih besar daripada tekanan jantung kanan, yang mengakibatkan
menutupnya foramen ovale secara fungsional.
Hal ini terjadi pada jam-jam pertama setelah kelahiran. Oleh karena
tekanan dalam paru turun dan tekanan dalam aorta desenden naik dan
pula karena rangsangan biokimia (PaO2 yang naik), duktus arteriosis
berobliterasi.
Hal ini terjadi pada hari pertama. Aliran darah paru pada hari pertama
ialah 4-5 liter/menit/m2. aliran darah sistemik pada hari pertama
rendah , yaitu 1.96 liter.menit/m2 dan bertambah pada hari kedua dan
ketiga (3.54 liter/menit/m2) karena penutupan duktus arteriosus.
Tekanan darah pada waktu lahir dipengaruhi oleh jumlah darah yang
melalui transfusi plasenta dan pada jam-jam pertama sedikit menurun,
untuk kemudian naik lagi dan menjadi konstan kira-kira 85/40 mmHg.
C. System gastrointestinal :
Traktus digestivus pada neonatus relatif lebih berat dan lebih panjang
dibandingkan dengan orang dewasa
Pada neonatus traktus digestivus mengandung zat yang berwarna hitam
kehijauan yang terdiri dari mukopolisakarida dan disebut mekonium
Pengeluaran mekonium biasanya dalam 10 jam pertama dan dalam 4
hari biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna biasa
Enzim dalam traktus digestivus biasnya sudah terdapat pada neonatus,
kecuali amilase pankreas
Aktifitas enzim proteolitik pada neonatus dengan berat badan lahir
4000gr besarnya 6 kali aktifitas enzim tersebut pada neonatus dengan
berat badan lahir 1000gr
Aktifitas lipase telah ditemukan pada fetus 7-8 bulan
Pada bayi prematur, aktifitas lipase masih kurang bila dibandingkan
dengan bayi cukup bulan
D. System endokrin :
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu.
Pada waktu bayi baru lahir, kadang-kadang hormone tersebut masih
berfungsi, misalnya dapat dilihat pembesaran kelenjar air susu pada
bayi laki-laki ataupun perempuan. Kadang-kadang dapat dilihat gejala
withdrawal, misalnya pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai
haid dari bayi perempuan.
Kelenjar adrenal pada waktu lahir relative lebih besar bila
dibandingkan dengan orang dewasa (0,2% dari berat badan
dibandingkan dengan 0,1% dari berat badan pada orang dewasa)
Kelenjar tiroid sudah sempurna terbentuk sewaktu lahir dan sudah
mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.
E. Hati
Kenaikan kadar protein
Penurunan kadar lemak dan glikogen
Enzim hati blm bgtu aktif, misalnya enzim dehidrogenase UDPG dan
transferase glukoronil srg kurang shg neonatus memperlihatkan gejala
ikterus fisiologis
Detoksifikasi jg blum sempurna, pemberian kloramfenikol dng dosis
>50mg/kgBB/hari dpt menimbulkan gray baby syndrome
F. Metabolisme
Pd jam2 pertama, energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat
Pd hari ke dua energi berasal dari pembakaran lemak
Stlah mendapat susu pd hari ke enam, energi 60% didapatkan dr lemak
dan 40% dr karbohidrat
G. Keseimbangan asam basa
pH darah saat lahir rendah krn glikolisis anaerobik
H. SSP
Sewaktu lahir fungsi motorik terutama ialah subkortikal
Mielinisasi tjd setelah bayi berumur 2bulan
I. Imunoglobulin
Pd neonatus tdk terdapat sel plasma pd sumsum tulang dan lamina
propria ileum dan apendiks
Pd bayi baru lahir, hanya tdp globulin gama G, yaitu imunologi dr ibu
yg didapat mell plasenta krn berat molekulnya kecil
Ig dlm colostrum berguna sbg proteksi lokal dlm traktus digestivus,
misalnya utk strain E.coli
Buku Ilmu Kesehatan Anak, jilid 3, FK UI

2. apa hubungan kondisi bayi dengan ketuban pecah dini?


3. mengapa bayi tidak langsung menangis?

PATOFISIOLOGI

Asfiksia yg terjadi dimulai dengan suatu periode


apneu disertai dgn penurunan frekuensi jantung, selanjutnya
bayi akan memperlihatkan usaha bernafas yg kemudian diikuti
oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha
bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam
periode apneu kedua. Pada tingkat ini ditemukan bradikardia
dan penurunan tekanan darah. Selain itu terjadi pula
gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam
basa pd tubuh bayi. Pada tingkat pertama gangguan
pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidosis
respiratorik, bila berlanjut akan terjadi proses metabolisme
anaerobik yg berupa glikolisis glikogen tubuh, shg sumber
glikogen tubuh, terutama pada jantung dan hati akan
berkurang. Asam organik yg terjadi akibat metabolisme ini
akan menyebabkan timbulnya asidosis metabolik.
Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan
kardiovaskular yg disebabkan oleh beberapa keadaan yaitu :

a) hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan


mempengaruhi fungsi jantung

b) terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan


menurunnya sel jaringan, termasuk otot jantung shg
menimbulkan kelemahan jantung

c) pengisian udara alveolus yg kurang adekuat akan


menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru
shg sirkulasi darah ke paru dan juga ke sistem sirkulasi tubuh
lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan
kardiovaskular yg terjadi dalam tubuh berakibat buruk
terhadap sel otak yg akan menimbulkan kematian.

Perubahan yg penting dalam tubuh selama proses asfiksia dan


hubungannya dengan gambaran klinis :

a) menurunnya tekanan O2 darah

b) meningginya tekanan CO2 darah

c) menurunnya PH (akibat asidosis respiratorik dan metabolik)

d) dipakainya sumber glikogen tubuh untuk metabolisme


anaerobik
e) terjadinya perubahan sistem kardiovaskular.

(Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 3, FKUI, 1985)

4. mengapa bayi mengalami asfiksi setelah APGAR 6 7 8?

APGAR score 6 : pada menit pertama maknanya asfiksia sedang


APGAR score 7 : pada menit 5 maknanya normal
APGAR score 8 : pada menit 10 maknanya normal
Kesimpulan APGAR score baik

Apgar Score merupakan alat untuk menilai kondisi bayi sesaat setelah lahir
meliputi lima variabel yaitu frekuensi jantung (heart rate), usaha nafas
(respiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour), dan reaksi
terhadap rangsangan (respon to stimuli), setiap penilaian diberi angka 0, 1 dan 2.
Apgar score dilakukan pada:
a. 1 menit kelahiran, yaitu untuk memberi kesempatan pada bayi untuk
memulai perubahan.
b. Menit ke-5
Prosedur penilaian Apgar score
Pastikan Pencahayaan baik
Catat waktu kelahiran, nilai Apgar pad 1 menit pertama dengan cepat dan
stimultan, jumlahkan hasilnya.
Lakukan tindakan dengan cepat dan tepat sesuai dengan hasilnya.
Ulangi pada menit ke-5
Ulangi pada menit ke-10
Dokumentasikan hasil dan lakukan tindakan yang sesuai.

Lima kriteria Skor Apgar:

Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2 Akronim


warna kulit tubuh
normal merah warna kulit tubuh,
seluruhnya muda, tangan, dan kaki Appearanc
Warna kulit
biru tetapi tangan dan normal merah muda, e
kaki kebiruan tidak ada sianosis
(akrosianosis)
Denyut
tidak ada <100 kali/menit >100 kali/menit Pulse
jantung
tidak ada
meringis/menangi meringis/bersin/batu
respons
Respons refleks s lemah ketika k saat stimulasi Grimace
terhadap
distimulasi saluran napas
stimulasi
lemah/tidak
Tonus otot sedikit gerakan bergerak aktif Activity
ada
menangis kuat,
lemah atau tidak
Pernapasan tidak ada pernapasan baik dan Respiration
teratur
teratur

Penanganan Bayi Baru Lahir Berdasasrkan NILAI APGAR

Nilai APGAR 5 Menit


Penaganan
Pertama
0-3
Tempatkan ditempat hangat dengan lampu
sebagai sumber penghangat
Pemberian oksigen.

Resusitasi

Stimulasi rujuk

Tempatkan dalam tempat yang hangat.

4-6 Pemberiak oksigen

Stimulasi taktil

Dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan bayi


7-10
normal.

Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa
bayi yang baru lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut tetapi belum tentu
mengindikasikan akan terjadi masalah jangka panjang, khususnya jika terdapat
peningkatan skor pada tes menit kelima. Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam
tes berikutnya (10, 15, atau 30 menit), maka ada risiko bahwa anak tersebut
dapat mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. Juga ada risiko kecil tapi
signifikan akan kerusakan otak. Namun demikian, tujuan tes Apgar adalah untuk
menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan
penanganan medis segera; dan tidak didisain untuk memberikan prediksi jangka
panjang akan kesehatan bayi tersebut.
Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab nilai APGAR yang rendah pada bayi
baru lahir, di antaranya adalah:
1) Persalinan yang terlalu cepat. Hipoksia (kekurangan oksigen) dapat terjadi pada
persalinan yang terlalu cepat oleh karena kontraksi yang terlalu kuat atau trauma pada
kepala bayi.
2) Terjerat tali pusat. Umum dikenal dengan nuchal cord, di mana tali pusat
(plasenta/ari-ari) melilit pada leher janin (baik sekali waktu atau beberapa kali) dan
mengganggu aliran darah, maka hipoksia bisa terjadi karena lilitan ini.
3) Prolaps tali pusat. Kondisi yang terjadi ketika tali pusat mendahului fetus keluar
dari rahim. Kondisi ini adalah kedarutan obstetri yang membahayakan kehidupan
janin. Namun prolaps tali pusat adalah kasus yang jarang. Ketika fetus juga akan ikut
lahir, sering kali menekan tali pusat dan menimbulkan hipoksia.
4) Plasenta previa (placenta preavia). Merupakan kondisi kelainan obstretri di
mana tali pusat terhubung pada dinding rahim yang letaknya dekat atau menutup leher
rahim. Hal ini meningkatkan risiko perdarahan antepartum (vaginal), yang berujung
juga pada hipoksia bagi janin.
5) Aspirasi mekonium. Jika mekonium di ada dalam paru-paru fetus, maka bisa
terjadi permasalahan pernapasan. Hal ini dikenal juga sebagai Sindrom Aspirasi
Mekonium.
6) Beberapa sebab lain bisa berupa obat-obatan yang dikonsumsi ibu sebelum
persalinan, dan bayi preterm (prematur).

SUMBER : Sumarah, SSiT, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan
Pada Ibu Bersalin). Yogyakarta: Fitramaya

5. jelaskan mengenai hyaline membran disease dan grade dari


hyaline membran disease?

RESPIRATORY DISTRES SYNDROME (RDS)


ATAU HYALINE MEMBRANE DISEASE (HMD)

A. Definisi
Sindrom Distres Pernafasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem
pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan
sebagai hyaline membrane disease (HMD). (Suryadi dan Yuliani, 2001).
HMD adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada
bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada
udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray
thorak yang spesifik. Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit,
adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA.

B. Patofisiologi
Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat
yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran
nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24
minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%)
dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan
alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional
pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi
sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun menyebabkan metabolisme anerobik dengan
penimbunan asam laktat asam organic sehingga terjadi asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris menyebabkan transudasi
kedalam alveoli sehingga terbentuk fibrin.
Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran
darah keparu, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang
menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang
pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan
adanya stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.
C. Komplikasi
Pneumothorax
Pneumomediastinum
Pulmonary intestinal dysplasia
Bronchopulmonary dysplasia (BPD)
Patent ductus arteriosus (PDA)
Hipotensi
Menurunnya pengeluaran urine
Asidosis
Hiponatremi
Hipernatrium
Hipokalemi
Hipoglikemi
Disseminated intravascular coagulation (DIC)
Kejang
Intraventricular hemorrhage
Retinopathy pada premature
Infeksi sekunder

D. Etiologi
Defesiensi atau kekurangan surfaktan.
Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia
perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria.
Gangguan traktus respiratorius :
Hyaline membrane disease (HMD). Berhubungan dengan kurangnya masa
gestasi (bayi prematur)
Transient tachypnoe of the newborn (TTN). Paru-paru terisi cairan, sering terjadi
pada bayi Caesar karena dadanya tidak mengalami kompresi oleh jalan lahir
sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.
Infeksi (pneumonia)
Sindroma aspirasi
Hipoplasia paru
Hipertensi pulmonal
Kelainan congenital (choanal atresia, hernia diagfragma,pieer robin sindroma)
Pleural effusion
Kelumpuhan saraf frenikus
Luar traktus respiratoris:
Kelainan jantung congenital, kelainan metabolic, darah dan SSP.

E. Manifestasi Klinis
Pernafasan cepat (tachynea)
Retraksi (takiran) dada (suprastenal, substernal, intercostals)
Pernfasan terlahat paradoks
Cuping hidung
Apnea
Murmur
Sianosis pusat

F. Pemeriksaan Diagnostik
Foto rontsen: menunjukan adanya atelektasis
Analisa gas darah: analisis gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan
PCO2 diatas 60 mmHg
Imatur lecithin / sphingomyolin (L / S): esitin/spingomielin rasio 2:1
mengindikasikan bahwa paru sudah matur

G. Penatalaksanaan Terapiutik
Pemberian oksigen
Pertahankan nutrisi adekuat
Pertahankan suhu lingkungan netral
Diet 60 kcal/kg per hari ( sesuaikan dengan protocol yang ada) dengan asam amino
yang mrncukupi untuk mencegah katabolisme protein dan ketoasidosis endogenous
Pertahankan PO2 dalam batas normal

6. apa hubungan BBL dengan kondisi bayi?

Pada Kongres European Perinatal Medicine Ke 2 di London


(1970) telah diusulkan definisi yang berikut:
Bayi Kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan
kurang dari 37 minggu (259 hari )
Bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan
mulai 37 minggu sampai 42 minggu ( 259 sampai 293 hari )
Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai
42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih)

dari pengertian tersebut bayi BBLR digolongkan sebagai


berikut:
o Prematuritas murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu atau 259 hari dan berat badannya
sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus
kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan
o Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya
untuk masa gestasi itu.Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK)
Penyebabnya karena keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara ibu
dan janin karena insufisiensi plasenta. bisa terjadi pada preterm, term , post
term
Buku Ilmu Kesehatan Anak, jilid 3, FK UI

a. Prematuritas murni
BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
Masa gestasi < 37 minggu
Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan
licin
Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi,
pelipis,telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura
lebar
Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh
labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
jaringan mama belum sempurna
Bayi kecil, posisi masih posisi fetal/ decubitus lateral, pergerakan kurang dan
lemah
Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami
apnea, otot masih hipotonik ( kedua tungkai sering abduksi sendi neck reflex
lemah , reflek moro +
reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna pneumonia
aspirasi
edema pada anggota gerak yang mulai Nampak pada 24-48 jam terdapat
pitting edema
jika frekuensi pernafasan >60/ menit harus waspada penyakit membran hialin

b. Dismaturitas
pada dismatur preterm BB <2500 gram

bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi plasenta terbagi dalam
3 stadium :
1. stadium pertama
bayi tampak kurus dan relative lebih panjang , kulitnya longgar ,
kering seperti perkamen tetapi belum terdapat noda meconium

2. stadium kedua
didapatkan tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan
pada kulit plasenta dan umbilicus , hal ini disebabkan oleh meconium
yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap kedalam
kulit , umbilicus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterine.

3. stadim ketiga
ditemukan tanda stadium kedua ditambah dengan kulit yang berwarna
kuning demikian pula kuku dan tali pusat, ditemukan juga tanda
anoksia intrauterine yang lama.
Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.
Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi
2.Bandung : FKU Padjadjaran. Shelov, Steven P dan Hannemann, Robert E.
2004. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. The American Academy Of
Pediatrics.Jakarta : ARCAN.

7. bagaimana etiologi dan faktor resiko pada scenario?

a. Faktor ibu
Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala
akibat. Kejadian ini dapat terjadi karena hipoventilasi akibat
pemberian obat analgetik atau anastesi dalam.
Gangguan aliran darah uterus. Hal ini menyebabkan
kurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin.
Hal ini sering ditemukan pada keadaan :
- Gangguan kontraksi uterus (Hipotoni/Tetani uterus
akibat penyakit atau obat)
- Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
- Hipertensi mendadak pada penyakit Eklampsia dll.
b. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan
kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat
gangguan mendadak pada plasenta, misal : solusio plasenta,
perdarahan plasenta dll.
c. Faktor Fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya
aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan
menghambat pertukaran gas antara ibu dengan janin.
Gangguan ini dapat ditemukan pada tali pusat menumbang,
tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan
jalan lahir dll
d. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir dapat terjadi
karena beberapa hal,
a. Pemakaian obat anestesia/analgetika yg berlebihan
pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi
pusat pernafasan janin.
b. Trauma yg terjadi pada saat persalinan, misal :
perdarahan intrakranial.
c. Kelainan kongenital pada bayi, misal : Hernia
Diafragmatika, atresia/stenosis saluran pernafasan,
hipoplasia paru, dll.

(Buku Ilmu Kesehatan Anak, jilid 3, Staf pengajar FK UI hal


1072-1073 )

8. bagaimana cara melakukan skor ballard dan dubowitz?

Score Ballard
Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD untuk
menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan
fisik.Penilaian neuromuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut
popliteal, scarf sign dan heel to ear maneuver. Penilaian fisik yang diamati adalah
kulit, lanugo, permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia

1. Penilaian Maturitas Neuromuskular


a. Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya
tahanan saat otot diregangkan (Gambar II.3). Ketika pematangan
berlangsung,berangsur-angsur janin mengalami peningkatan tonus fleksor pasif
dengan arah sentripetal, dimana ekstremitas bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas
atas. Pada awal kehamilan hanya pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi
bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi, kemudian diikuti dengan
abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus pasif ekstensor tidak
mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur menunjukkan
perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif. Untuk mengamati postur, bayi
ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu sampai bayi menjadi tenang pada
posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat dilakukan manipulasi ringan
dari ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal ini akan
memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya. Fleksi panggul tanpa
abduksi memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok.

b. Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan
ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa
meluruskan jarijari bayi dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan
lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan lengan bawah bayi dari preterm hingga
posterm diperkirakan berturut-turut > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 (Gambar
II.4).
c. Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan
mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm
recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua
lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap
terentang/ gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial 110-
140, Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali ke fleksi penuh (Gambar
II.5).
d. Popliteal Angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan
menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring
telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut
tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu
sisi dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan
yang lain. Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat
mengganggu interpretasi.
Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi. Ukur
sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa
pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif sebelum
melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir akan mengganggu manuver ini
untuk 24 hingga 48 jam pertama usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor
berkepanjangan intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi
(Gambar II.6).

e. Scarf Sign
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring
telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong
tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi
lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati
badan, namun kedua bahu harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap
lurus dan amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar
kerja, yakni, penuh pada tingkat leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral
baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); dan garis aksila
ipsilateral (4) (Gambar II.7).

f. Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan
memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul.
Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk, tarik
sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada
permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi
lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat lokasi dimana
resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada
pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2); daerah pusar (3);
dan lipatan femoralis (4) (Gambar II.8).
2. Penilaian Maturitas Fisik
a. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya
bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix
caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau
mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan janin. Fenomena ini bisa
terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada masing-masing janin tergantung pada
pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterin.
Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit
agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya
kulit menjadi lebih halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang
menghilang menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin
dapat mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat
proses pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi, sepeti
sebuah perkamen.

b. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme
prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia
gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan
punggung atas ketika memasuki minggu ke 28. Lanugo mulai menipis dimulai dari
punggung bagian bawah. Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan
maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di daerah lumbosakral. Pada
punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah dan lokasi
lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada genetik, kebangsaan,
keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu
dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak. Pada melakukan skoring
pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi
yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi (Gambar II.9).

c. Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan
berkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit
putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain pada
bayi kulit hitam dilaporkan terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga
timbulnya garis pada telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian
penialaian dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis
tertentu.
Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai garis pada
telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan
permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit. Untuk
jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm
diberikan skor -1. Hasil pemeriksaan disesuaikan dengan skor di tabel (Gambar II.10).

d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi
esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin.
Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat
pertumbuhan papila Montgomery (Gambar II.11). Kemudian dilakukan palpasi
jaringan mammae di bawah areola dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur
diameternya dalam milimeter.
e. Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring
perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi
ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian
lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun telinga ketika
dilepaskan ke posisi semulanya (Gambar II.12).

Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika dilepaskan.
Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan perkembangan
palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan memisahkan palpebra superior dan
inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely
premature palpebara akan menempel erat satu sama lain (Gambar II.13). Dengan
bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi
dan meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya.
Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel.
Perlu diingat bahwa banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada individu
dengan usia gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stres
intrauterin dan faktor humoral yang mempengaruhi perkembangan kematangan
palpebra.

f. Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang
lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada
sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis
bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan
itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae (Gambar II.14) .
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona
berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang
belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga
posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika
berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik,
dengan rugae yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan
usia kehamilan yang sama.

g. Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus
diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis horisontal.
Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih
menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora.
Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol
dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris
menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati
usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh
labia majora yang membesar (Gambar II.15).
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi
intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi besar
pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia majora
cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan matur atau posmatur dan labia minora
serta klitoris cenderung lebih menonjol.
SUMBER : http://blogs.unpad.ac.id/maryati/files/2011/01/Ballard-Score.pdf
Score Dubowitz
9. bagaimana melakukan evaluasi dengan kurva lubschenko dan
nelhause?

Kurva Lubschenko : kurva yang menhubungkan BB bayi sama massa gestasi ,

KURVA LUBCHENCO

Sumber: Wiknjosastro H.,2008. Ilmu Kebidanan.Jakarta: 2008


Pertumbuhan janin untuk suatu masa gestasi dikatakan baik kalau berat
badannya sesuai untuk berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu.
Pertumbuhan janin normal kalu berat badannya terletak antar persentil ke-10
dan persentil ke-90. Bila terletak dibawah persentil ke-10 disebut kecil untuk
masa kehamilan (KMK), sedangkan bila terletak diantara persentil ke-90
disebut sesuai untuk masa kehamilan (SMK) atau bayi normal.
Sumber : buku ajar IKA jilid 3 oleh staf pengajar IKA FK UI

10. apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan?

Pemeriksaan Diagnostik
Foto rontsen: menunjukan adanya atelektasis
Analisa gas darah: analisis gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan
PCO2 diatas 60 mmHg
Imatur lecithin / sphingomyolin (L / S): esitin/spingomielin rasio 2:1
mengindikasikan bahwa paru sudah matur

11. bagaimana penanganan awal pada bayi baru lahir?

Segera setelah lahir dilakukan penilaian pada semua bayi dengan menjawab
pertanyaan berikut (Dharmasetiawani, 2008):
- Apakah kehamilan cukup bulan?
- Apakah air ketuban jernih dan tidak terkontaminasi mekonium?
- Apakah bayi bernapas adekuat atau menangis?
- Apakah tonus otot bayi baik?
Bila salah satu pertanyaan dijawab tidak, maka hal yang harus dilakukan adalah
(Dharmasetiawani, 2008):
Melakukan langkah awal resusitasi yang terdiri dari tindakan berurutan sebagai
berikut:
Menghangatkan bayi di bawah pemancar panas atau lampu
Memposisikan kepala bayi sedikit ekstensi
Mengisap lendir dari mulut kemudian hidung
Mengeringkan bayi sambil merangsang taktil dengan menggosok
punggung atau menyentil ujung jari kaki dan mengganti kain yang basah
dengan yang kering.
Memposisikan kembali kepala bayi
Menilai bayi

Apabila bayi tidak bernapas, maka dilakukan Ventilasi Tekanan Positip (VTP)
dengan memakai balon dan sungkup dengan kecepatan 20-30 kali selama 30
detik.
Menilai bayi: usaha napas, warna kulit dan denyut jantung. Bila belum bernapas
dan denyut jantung kurang dari 60 x/menit, maka VTP dilanjutkan dengan
kompresi dada secara terkoordinasi selama 30 detik
Menilai bayi: usaha napas, warna kulit dan denyut jantung
Apabila denyut jantung < 60 x/menit, epinefrin diberikan dan lanjutkan VTP dan
kompresi dada
Apabila denyut jantung > 60 x/menit kompresi dada dihentikan, VTP dilanjutkan
Pemasangan endotracheal tube bisa dilakukan pada setiap tahapan resusitasi
(dilakukan oleh tenaga yang sudah terampil)

12. apa terapi untuk kasus diskenario ? dan langkah resusitasi?

HYALINE MEMBRANE DISEASE

Penatalaksanaan Terapiutik
Pemberian oksigen
Pertahankan nutrisi adekuat
Pertahankan suhu lingkungan netral
Diet 60 kcal/kg per hari ( sesuaikan dengan protocol yang ada) dengan asam amino
yang mrncukupi untuk mencegah katabolisme protein dan ketoasidosis endogenous
Pertahankan PO2 dalam batas normal

BAYI DISMATURITAS
early feeding
cek guldar tiap 8-12 jam diawali dengan dextrostix lalu
true glucose
awasi frekuensi pernafasan pada 24 jam awal untuk
tahu sindrom aspirasi meconium
kalo frekuensi >60x / menit lakukan fotothorax
control temperature bayi dan ruangan

13. indikasi dipasang Nasograstic tube?

untuk pengisapan cairan lambung untuk menghindarkan


adanya regurgitasi dan aspirasi , indikasi pada bayi yang
sebelumnya gawat janin, prematuritas, bayi ibu penderita
diabetes mellitus pada bayi yang waktu persalinan
dipengaruhi oleh obat.
- untuk mengenali atresia/ stenosia esophagus
- bila ditemukan cairan lambung >30 ml kemungkinan
obstruksi usus letak tinggi
- jika di cairan lambung yg diaspirasi terdapat leukosit
jumlah besar kemungkinan amnionitis.
14. bagaimana komplikasi pada scenario?

KOMPLIKASI BAYI PREMATUR

1. Sindrom gangguan pernafasan idiopatik


disebut juga penyakit membran hialin karena pada stadium
terakhir akan terbentuk membran hialin yang melapisi
alveolus
2. Pneumonia aspirasi
karena refleks menelan dan batuk pada bayi premature
belum sempurna
3. pendarahan intraventrikular
pendarahan spontan di ventrikel otak lateral biasanya
disebabkan oleh karena anoksia otak . Biasanya terjadi
bersamaan dengan pembentukan membran hialin pada
paru . kelainan ini biasanya hanya bisa ditemukan pada
otopsi
4. fibroplasia retrolental
karena penggunaan oksigen dalam konsentrasi tinggi
menyebabkam vasokonstriksi pembuluh darah retina ,
kemudian setelah bayi bernafas dengan udara biasa
lagi pembuluh darah mengalami vasodilatasi disusul
dengan proliferasi pembuluh darah baru secara tidak
teratur. kumpulan pembuluh darah baru tampak seperti
pendarahan ,
kapiler baru ini bisa tumbuh kearah korpus vitreum
dan lensa selanjutnya akan terjadi edema pada retina
dan retina dapat terlepas. pada stadium akhir akan
terdapat masa retrolental terdiri dari jaringan ikat ,
dapat terjadi keadaan bilateral dengan mikroftalmus,
pupil mengecil dan tidak teratur, visus bisa
menghilang, bisa terdapat retardasi mental dan
cerebral palsy.

pencegahan : pemberian O2 tidak lebih dar 40% ,


berikan o2 melalui masker kecepatan 2 liter/menit,
PaO2 selalu dimonitor
terapi :ACTH dan kortikosteroid.

5. hiperbilirubinemia
karena kematangan hepat belum sempurna sehingga
konjugasi bilirubin indirect menjadi direct belum
sempurna.

KOMPLIKASI BAYI DISMATURITAS

1. sindrom aspirasi meconium


kesulitan pernafasan yang sering didapatkan pada
bayi dismatur. keadaan hipoksia intrauterine
mengakibatkan janin mengadakan gasping dalam
uterus , meconium akan dilepaskan kedalam likuor
amnion seperti yang sering terjadi pada subacute
fetal distress, cairan yang mengandung meconium
dapat masuk kedalam paru janin karena inhalasi.
meconium yang lengket mengakibatkan bayi
mengalami sindrom pernafasan idiopatik

2. hipoglikemia simtomatik
dikarenakan persediaan glikogen yang sangan kurang
pada bayi dismaturitas. gejala klinisnya diawal tidak
menunjukkan gejala , kemudian bayi akan tampak kaget ,
twitching, serangan apneu, sianosis, pucat , tidak mau
minum, lemas , apatis, dan kejang
bayi cukup bulan dikatakan hipoglikemia jika guldar <
30mg %
bayi BBLR <20mg%

terapi : penyuntikan glukosa 20% 4ml/KgBB disusul


dengan pemberian infus glukosa 10%

3. asfiksia neonatorum
bayi dismatur lebih sering menderita asfiksia neonatorum
dibandingkan bayi biasa

4. penyakit membran hialin


menyerang bayi dismatur yang preterm karena surfaktan
belum terbentuk sempurna paru paru sering kolaps tdk
tertinggal udara residu dialveoli butuh tenaga ekstra
untuk pernafasan berikutnya dispneu berat , sianosis,
atelectasis, eksudasi fibrin terbentuk membran hialin

5. hiperbilirubinemia
karena pertumbuhan hati yang belum sempurna.