Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN TUTORIAL

BLOK STOMATOGNASI I

ANATOMI GIGI SULUNG

Oleh Kelompok 8 :

Resza Utomo (161610101079)


Alfan Maulana E (161610101081)
Radin Ahmad H (161610101083)
Nailah Ramadhani (161610101085)
Ni Luh Putu Diah Laksmi D (161610101087)
Suci Hidayatur Rohmah (161610101088)
Adilia Putri Istadi (161610101090)
Faridah Risnawati (161610101091)
Favinas Octa Nuri Tsalats (161610101093)
Nur Fitriyana (161610101094)
Syifa Qurratuain (161610101096)
Salsabila Reza Susanto (161610101098)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan tutorial blok stomatognasi yang berjudul Anatomi Gigi
Sulung.
Laporan tutorial ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini.
Untuk itu kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan laporan ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan dalam laporan ini. Oleh karena itu, semua saran dan kritik dari
pembaca kami harapkan agar dapat memperbaiki laporan ini. Semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Jember, 4 Maret 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii


DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 1
1.3 Tujuan ................................................................................................... 2
1.4 Peta Konsep ........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3
2.1 Struktur Anatomi dan Morfologi Gigi Sulung ...................................... 3
2.2 Perbedaan Gigi Sulung dengan Gigi Permanen .................................. 15
2.3 Terminologi Gigi Sulung .................................................................... 16
2.4 Waktu Erupsi Gigi Sulung .................................................................. 24
2.5 Derajar Kegoyangan Gigi ................................................................... 25
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 27
3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 28

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gigi merupakan bagian terpenting dalam rongga mulut, karena adanya
fungsi gigi yang tidak tergantikan, antara lain untuk mengunyah makanan
sehingga membantu pencernaan, untuk berbicara serta untuk menunjang
penampilan. Susunan gigi pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa, pada
anak sampai umur tertentu terdapat gigi sulung atau yang biasa disebut dengan
gigi susu sedang pada orang dewasa terdapat gigi permanen. Gigi sulung adalah
gigi pertama yang tumbuh pada seseorang yang nantinya akan tergantikan oleh
gigi permanen. Gigi sulung mempunyai struktur morfologi yang berbeda dengan
gigi permanen meskipun terdapat beberapa kesamaan.
Pengetahuan yang baik mengenai morfologi gigi merupakan hal yang
sangat penting bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan gigi. Pengetahuan
tersebut sangat penting untuk diketahui karena menjadi dasar utama dalam
perencaan tindakan perawatan pada pasien. Dengan mengetahui perbedaan gigi
sulung dan permanen tentunya akan mempermudah dokter gigi dalam melakukan
perawatan. Selain itu seorang dokter gigi juga membutuhkan pengetahuan yang
cukup tentang pertumbuhan dan perkembangan gigi khususnya pada pertumbuhan
gigi pada pergantian gigi sulung menjadi gigi permanen. Waktu erupsi gigi
merupakan faktor penting terutama dalam bidang kedokteran gigi untuk
menentukan diagnosis dan perencanaan perawatan gigi serta untuk
memperkirakan usia anak.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada laporan tutorial berikut ini:
1. Bagaimana struktur anatomi dan morfologi gigi sulung ?
2. Bagaimana perbedaan gigi sulung dengan gigi permanen ?
3. Bagaimana terminologi gigi sulung ?
4. Bagaimana perbedaan waktu erupsi gigi sulung ?
5. Bagaimana derajat kegoyangan gigi?

1
1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan laporan tutorial sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu mengetahui struktur anatomi dan morfologi gigi
sulung
2. Mahasiswa mampu mengetahui perbedaan gigi sulung dengan gigi
permanen
3. Mahasiswa mampu mengetahui terminologi gigi sulung
4. Mahasiswa mampu mengetahui perbedaan waktu erupsi gigi sulung
5. Mahasiswa mampu memahami derajat kegoyangan gigi.
1.4. Peta Konsep

ANATOMI GIGI

SULUNG PERMANEN
I1, I2, C, M1, M2 I1, I2, C, P1, P2, M1,
M2, M3

PERBEDAAN

- Struktur
- Anatomi
- morfologi

2
BAB 2
PEMBAHASAN

Gigi Susu / Gigi Sulung (Gigi Desidui) adalah gigi yang pertama kali
tumbuh, kemudian akan tanggal dan digantikan dengan gigi permanen.
Umumnya gigi susu mulai tumbuh sejak usia 6 bulan yang di awali dengan
pertumbuhan gigi seri pada rahang bawah, Gigi susu biasanya akan tumbuh
lengkap ketika anak berusia 2,5 3 tahun, kemudian akan tanggal dan digantikan
dengan gigi tetap pada usia 6 tahun. Gigi susu berjumlah 20 buah yang terdiri dari
4 gigi insisive pertama, 4 gigi insisive kedua, 4 gigi caninus, 4 gigi molar pertama,
dan 4 gigi molar kedua.
2.1 Struktur Anatomi dan Morfologi Gigi Sulung
Insisive Pertama Atas
a. Aspek Labial
Mahkota insisif sentral atas sulung merupakan satu-satunya mahkota insisif
(sulung atau permanen) yang lebar mesiodistal lebih besar daripada panjang
insisoservikal. Seperti pada mahkota insisif sentral atas permanen, sudut
distoinsisal tepi insisal insisif sentral atas sulung lebih membulat daripada sudut
mesioinsisal, tetapi tepi insisal relatif lurus. Permukaan labial insisif sentral atas
lebih halus, umumnya tidak terdapat cekungan. Sebelum resorpsi akar, semua
akar insisif sulung relatif lebih panjang daripada panjang mahkota daripada pada
insisif permanen. Akar insisif sulung sekitar dua kali panjang mahkotanya
(Scheid, 2013).
b. Aspek Lingual
Singulum insisif sentral atas sulung sering besar proporsionalnya, sehingga
fosa lingual yang menonjol terbatas hanya pada sepertiga insisal dan tengah
permukaan lingual. Pada insisif sentral atas, lingir marginal umumnya berbeda
dan menonjol (bentuk insisif seperti sekop) (Scheid, 2013).
c. Aspek Proksimal (Mesial dan Distal)

3
Walaupun dimensi fasiolingual mahkota tampak kecil pada aspek ini,
mahkota lebar labiolingual pada sepertiga servikal karena lingir labial servikal
yang menonjol cembung, dan singulum lingual. Seperti pada insisif permanen,
lingir insisal pada insisif sentral atas terletak di labial dari garis sumbu akar,
sebaliknya lingir insisal insisif bawah terletak pada garis sumbu akar. Seperti pada
gigi insisif permanen, lengkung garis servikal ke arah insisal lebih besar pada sisi
mesial daripada sisi distal. Garis servikal terletak lebih apikal pada permukaan
lingual daripada labial (Scheid, 2013).
d. Aspek Insisal
Mahkota insisif memiliki kecembungan garis labial yang halus. Tebal lingir
insisal 1 mm sedikit melengkung ke arah mesiodistal. Mahkota memiliki
permukaan lingual lancip menyempit sampai dengan bagian lingual singulum.
Mesiodistal mahkota insisif sentral sulung atas lebih lebar daripada jarak
fasiolingual dibanding insisif lateral atas. Setiap jenis mahkota insisif bawah
mesiodistal dan fasiolingual yang hampir sama (Scheid, 2013).
Insisive Kedua Atas
a. Aspek Labial
Mesio Distal < Cervico Incisal
Permukaan Halus
Sudut Mesio insisal siku-siku
Sudut Disto Insisal membulat
Pada umumnya Insisal mesial lebih tinggi daripada insisal distal
Akar kerucut dan lebih panjang daripada mahkota
b. Aspek Lingual
Marginal ridge dan cingulum tidak terlalu jelas
Terdapat lingual ridge dari arah cingulum
Lingual ridge membagi mesial fossa dan distal fossa tidak terlalu jelas
Akar mengecil dari Insisal ke arah apeks
c. Aspek Incisal
Ukuran Mesio Distal dan Labio Lingual seimbang

4
Terdapat incisal ridge yang berjalan dari mesial ke distal ditengah
mahkota, cenderung kearah distal
Permukaan labial halus
Titik kontak 1/3 insisal, palatal mengecil ke cingulum
d. Aspek Mesial
1 mm perbedaan mahkota insisal dengan servikal, cervical>incisal
Apeks akar terlihat tumpul
Cementum Enamel Junction jelas dan tegas
Servikal line lebih ke insisal dibandingkan dengan sisi distal
e. Aspek Distal
Servikal line lebih lurus dibandingkan dengan sisi mesial

Insisive Pertama Bawah


a. Aspek Labial
Sisi mesial dan distal menyempit ke serviks
Bentuknya bilateral dan simetris
Tidak Nampak mamelon/groove
Akar panjang dan ramping
b. Aspek Lingual
Cingulum tampak jelas
Lingual fosa dangkal

5
Mahkota dan akar mengecil ke lingual
c. Aspek Mesial
Insisial ridge berada di tengah-tengah mahkota
d. Aspek distal
Lebih kecil dari insisiv yang lain

Insisive Kedua Bawah


a. Aspek Labial
Terdapat singulum
Mahkotanya panjang
b. Aspek Lingual
Terdapat lingual fosa yang dalam
c. Aspek Mesial
Garis servikal lebih melengkung dari distal
d. Aspek Distal
Terdapat distal longitudinal groove
Akar berbentuk lurus
e. Aspek Insisal
Mahkota tidak simetris
Singulum meninggi ke arah distal

6
Caninus Atas
a. Aspek Labial :
outline mesial dan distalnya agak membulat
mesial cusp slope lebih panjang dari distal cusp slope
b. Aspek Palatal :
terdapat lingual ridge yang memisahkan mesiolingual fossa & distolingual
fossa
terlihat tubercle yang merupakan kelanjutan dari lingual ridge
c. Aspek Mesial/Distal :
cervical line pada mesial lebih cekung ke arah incisal daripada distal
d. Aspek Incisal :
Bentuk mahkota seperti berlian (diamond-shaped)
Puncak cusp lebih ke distal sehingga mesial slope > distal slope

7
Caninus Bawah
a. Aspek Labial
Mahkota kaninus bawah, seperti kaninus permanen, lebih panjang
insisoservikal daripada lebar mesiodistal dan jarak mesiodistal lebih sempit
daripada kaninus atas. Kaninus bawah memiliki puncak tonjol yang tajam runcing
seperti panah. Seperti pada kaninus bawah, lereng tonjol mesial lebih pendek
daripada lereng tonjol distal. Akar kaninus bawah lebih lancip dan tajam, dan
lebih pendek daripada akar kaninus atas (Scheid, 2013).
b. Aspek Lingual
Lingir lingual hampir tidak terlihat pada kaninus bawah, dengan lingir
marginal samar dan biasanya cekungan tunggal atau fosa (Scheid, 2013).
c. Aspek Proksimal (Mesial dan Distal)
Lingir labial mencolok pada kaninus atas maupun bawah, menonjol serupa
pada singulum lingual, sehingga sepertiga servikal kaninus sulung lebih tebal
daripada insisif. Puncak tonjol kaninus bawah umumnya terletak sedikit lebih
lingual dari garis sumbu akar. Garis servikal kaninus atas maupun bawah lebih
melengkung ke arah insisal terlebih pada sisi mesial dibandingkan sisi distal, sama
seperti semua gigi anterior lain. Seperti pada insisif sulung, garis servikal terletak

8
lebih apikal pada lingual daripada labial. Akar kaninus atas maupun bawah besar
pada servikal dan sepertiga tengah, meruncing terutama pada sepertiga apikal di
mana apeksnya melengkung ke arah labial (Scheid, 2013).
d. Aspek Insisal
Dari aspek insisal, mahkota kaninus bawah memiliki bentuk intan dan hampir
simetris, kecuali untuk posisi mesial puncak tonjol dan setengah distal yang
sedikit lebih tebal. Singulum berpusat atau terletak di distal. Mahkota kaninus
bawah sulung hanya sedikit lebih lebar mesiodistal dibandingkan fasiolingual.
Gigi ini terlihat lebih kecil dibanding kaninus permanen (Scheid, 2013).
Molar Pertama Atas
a. Aspek Bukal
Outline mesial dan distal membulat dan menyempit ke servikal
Terdapat 2 akar yang ranping panjang dan melebar dan 1 akar lainnya
berada lingual
Akar disto bukal lebih pendek dari akar mesio bukal
b. Aspek Lingual
Disto lingual cusp lebih kecil dan membulat
Mesio lingual cusp paling menonjol
Disto bukal cusp dapat terlihat
Terlihat 3 akar
c. Aspek Mesial
Mesio lingual cusp lebih tinggi dari mesio bukal cusp
Terlihat jelas daerah cembung pada bagian bukal
Terdapat lekukan di garis servikal
Terlihat akar lingual dan mesio bukal
d. Aspek Distal
Disto bukal cusp lebih tinggi dan tajam
Disto lingual cusp kecil dan membulat
Garis servikal sedikit melengkung
Terlihat 2 akar, tetapi bagian ujung akar dari mesio bukal terlihat.

9
e. Aspek Oklusal
Berbentuk rectangular
Outline mahkota menyempit ke distal dsn lingual
Pola groove H dengan central fosa, mesial triangular fosa, dan mesial
triangular fosa
Terdapat book distal groove yang membagi mesio bukal cusp dan disto
bukal cusp

Molar Kedua Atas


a. Aspek Bukal
Terlihat 2 cusp

10
Kedua bukal cusp besarnya seimbang
Terlihat 3 akar (2 akar d bukal dan 1 akar d lingual)
b. Aspek Lingual
Terlihat mesio lingual cusp, disto lingual cusp dan juga carabelli
Mesio lingual cusp dddan disto lingual cusp dipisahkan oleh
developmental groove
Akar lingual dan mesio bukal sama panjang
c. Aspek Mesial
Mahkota tampak pendek
Mesio lingual cusp lebih besar
Garis servikal sedikit melengkung
Akar mesio bukal lebih lebar dan rata
d. Aspek Distal
Outline lingual membulat
Disto bukal dan disto lingual
cusp sama tinggi
Garis servikal hamper lurus
e. Aspek Oklusal
Bentuk rhomboid dengan 5
cusp (4 cusp dan 1 carabelli)
Terdapat central fosa dan
mesial triangular fosa
Terdapat central groove yang
yang menghubungkan mesial
triangular fosa dan sentral fosa
Terdapat oblique ridge antara
mesio lingual dan disto bukal
cusp
Terdapat distal dan mesial
marginal ridge

11
Molar Pertama Bawah
a. Aspek buccal
Bagian distal mahkota lebih pendek dari bagian mesial
Mesial cusp lebih besar dari distal cusp
Terdapat developmental depression pada permukaan buccal yang
memisahkan mesial buccal cusp dan disto buccal cup
Akar panjang, ramping dan melebar di 1/3 apical melebihi outline
mahkota
Cervikal line menurun dari distal ke arah apical
b. Aspek lingual
Mahkota menyempit ke arah lingual
Disto lingual cusp berbentuk bundar dan jelas
Terdapat developmental groove di antara mesio lingual cusp dan disto
lingual cusp
Mesio lingual cusp bentuknya panjang dan tajam
Buccal cusp terlihat dari aspek ini
Panjang mahkota mesial dan buccal hampir sama
Cervikal line lebih lurus dibandingkan dengan aspek buccal
c. Aspek mesial
Pada 1/3 mesial permukaan buccal terdapat lengkungan yang besar
Outline mahkota gigi ini sama dengan gigi molar 1 dan molar 2 tetap
rahang bawah
Mesio buccal cusp dan mesio lingual cusp dapat terlihat dari aspek ini
Ukuran mesio bucal lebih besar dari ukuran mesio lingual
1/3 cervikal sampai dengan puncak mesio lingual cusp datar
Apex akar datar dan akan hampir persegi empat
d. Aspek distal
Terdapat beberapa perbedaan dengan aspek mesial, yaitu pada 1/3
cervikal permukaan buccal, lengkungannya tidak begitu jelas
Panjang mahkota bagian buccal dan lingual hampir sama
Cervikal line memanjang lurus dalam arah bucco lingual

12
Kedua buah distal cusp tidak setinggi mesial cusp
Disto marginal ridge tidak selurus dan sebagus mesio marginal ridge
Akar distal lebih bulat dan lebih pendek mengecil di bagian apical
e. Aspek occlusal
Bentuknya rhomboid
Mesio lingual cusp merupakan cusp yang paling besar dibandingkan
dengan cusp lain
Permukaan sebelah lingual datar dan lebar

Molar Kedua Bawah


a. Aspek buccal
Bentuk gigi ini merupakan molar 1 bawah tetap, kecuali dalam ukuran
mesio distal pada titik kontak lebih besar dari ukuran mesio distal pada
cervix
Mesio buccal groove dan disto bucca groove membagi permukaan
buccal menjadi 3 buah cusp yang hampir sama besarnya
Akar ramping, panjag dan melebar pada arah mesio distal tengah
tengah akar dan 1/3 apical

13
Panjang akar dua kali panjang mahkota
b. Aspek lingual
Mahkota menyempit ke arah lingual
Pada aspek ini terlihat 2 buah cusp yang di pisahkan oleh lingual groove
yang pendek
Besar kedua cusp lingual tidak selebar keiga buah cusp bucal
Cervical line terlihat lurus
Buccal cusp terlihat dari aspek ini
c. Aspek mesial
Outline mahkota hampir sama dengan molar 1 bawah tetap
Perbedaannya puncak bucal lebih besar pada gigi sulung di bandingkan
dengan gigi tetap dan lebih menyempit ke arah occlusal
Letak buccal cusp terletak di atas akar dan garis luar lingual mahkota
Mesio lingual cusp dan mesio buccal cusp terihat pendek karena
marginal ridge tinggi
Lingual cusp lebih tinggi
Akar lebar, datar dengan aspek yang tumpul
d. Aspek distal
Mahkota menyempit dari mesial ke distal
Mesio buccal cusp terlihat dari aspek ini
Disto lingual cusp baik perkembangannya
Dista marginal ridge lebih ke bawah dan lebih pendek dalam arah bucco
lingual di bandingkan dengan masial marginal ridge
Cervikal line lurus
Akar distal lebar dan datar seperti akar mesial dan mengecil ke apex
e. Aspek occlusal
Bentuknya pertsegi panjang
Terlihat 3 buah cusp buccal dan 2 buah cusp lingual
Lebar mesio distal ketiga buah cusp buccal lebih lebar dari mesio distal
cusp lingual
Adanya triangular ridge yang berjalan dari puncak cusp tersebut

14
2.2 Perbedaan Gigi Sulung dengan Gigi Permanen
Gigi sulung memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dibanding dengan gigi
permanen dengan gigi yang sam. Misal gigi insisif dan kaninus sulung lebih kecil
daripada gigi insisif dan kaninus permanen, dan gigi molar pertama dan kedua
sulung lebih kecil daripada gigi molar pertama dan kedua permanen.
Mahkota dan akar gigi sulung memiliki tanda berupa konstriksi pada
servikal, tampak seperti terjepit di sekitar CEJ. Dengan demikian, mahkota gigi
sulung menggebung di dekat garis servikal membentuk lingir servikal labial dan
singulum lingualis yang lebih menonjol dibandingan dengan gigi permanen.
Ukuran mesiodistal mahkota gigi sulung lebih lebar daripada ukuran serviko-
insisalnya dibandingkan dengan gigi tetap, kecuali insisif sentral, lateral, dan
kaninus bawah, serta insisif lateral atas.
Selain itu gigi sulung juga memiliki akar yang relatif lebih panjang
daripada mahkota jika dibandingkan dengan gigi permanen. Karena mahkota lebar
dan akar sempit, hal ini akan memberikan gambaran yang mencolok pada
sepertiga servikal dari mahkota dan akar dibandingkan dengan gigi anterior.
Namun, gigi sulung mengalami lebih sedikit mineralisasi dibandingakan dengan
gigi permanen sehingga ia menjadi sangat mudah aus. Gigi-gigi ini cenderung
mengalami atrisi yang luas, yang diperparah dengan hubungan yang bergeser
antara gigi atas dan bawah akibat adanya pertumbuhan rahang pada anak usia

15
muda. Oleh karena itu, atrisi bukanlah sebuah ciri dental melainkan peristiwa
normal yang terjadi akibat fungsi.
Lapisan email dan dentin pada gigi sulung lebih tipis dibanginkan dengan
gigi permanen, sehingga ruang pulpa lebih besar dan lebih dekat dengan
permukaan. Oleh karena itu, proses karies dapat lebih cepat berkembang
mendekati pulpa melalui lapisan email dan dentin yang tipis tersebut
dibandingkan dengan lapisan email dan dentin yang tebal pada gigi permanen,
oleh karena itu dokter gigi harus berhati-hati sehingga tidak membuka pulpa saat
melakukan preparasi tambalan pada gigi sulung karena pulpa lebih dekat dengan
permukaan. Gigi geligi sulung lebih putih daripada gigi geligi permanen, warna
sebenarnya adalah biru keputih-putihan karena emailnya tidak setebal email gigi
tetap.
2.3 Terminologi Gigi Sulung
Berikut ini terminologi gigi sulung :
RAHANG
Maksila adalah rahang atas.
Mandibula adalah rahang bawah
Garis median adalah garis vertikal
Superior adalah atas
Inferior adalah bawah
Dextra atau dexter adalah kanan
Sinistra atau kiri
GELIGI GELIGI
Gigi sulung/gigi susu/deciduoust teeth
Normal anak-anak mempunyai 20 gigi susu yang susunannya sebagai berikut:
10 gigi di rahang atas yaitu : 5 gigi di kiri,5 gigi di kanan
10 gigi di rahang bawah yaitu : 5 gigi di kiri, 5 gigi di kanan
V IV III II I I II III IV V = garis oklusil/ kunyah
V IV III II I I II III IV V garis median/ tengah
Nama dari macam-macam gigi susu:
I ............ gigi seri pertama/insisivus sentral/i1

16
II ........... gigi seri kedua/insisivus lateral/i2
III ........... gigi taring/kaninus/c
IV ........... gigi geraham pertama/molar ke-1/m1
V ........... gigi geraham kedua/molar ke-2/m2
Gigi anterior atau gigi depan ialah gigi i1, i2, dan c.
Gigi posterior atau gigi belakang ialah gigi m1 dan m2

Formula Gigi
Formula gigi susu pada setiap kwadran rahang ialah:

2 1 2
i c m = 10 Jumlah 20
2 : di
Artinya 1 setiap
2 kwadran gigi rahang terdapat gigi :

i ialah 2
C ialah 1
M ialah 3

17
Permukaan-permukaan Gigi
Labia ialah bibir (Labium)
Lingua ialah lidah
Fasial ialah muka
Palatum ialah langit-langit
Sisi mesial ialah sisi yang berhadapan dengan garis median.
Sisi distal ialah sisi yang bertolak belakang dengan garis median.
Sisi bukal ialah sisi yang menghadap ke pipi.
Permukaan gigi anterior adalah:
1. Permukaan labial/fasial
2. Atas : permukaan palatal
Bawah : permukaan lingual

18
3. Permukaan proksimal ialah permukaan gigi yang berhadapan dengan
permukaan gigi sebelahnya, yang terletak dalam satu lengkung gigi;
permukaan mesial dan permukaan distal.
a. Permukaan mesial
b. Permukaandistal.
4. Permukaan insisal ialah permukaan gigi yang digunakan untuk memotong
dan yang menghadap ke arah garis kunyah dimana terdapat tepi insisal.
Permukaan permukaan dari gigi posterior :
1. Permukaan fasial/bukal
2. Atas : permukaan palatal
Bawah : permukaan lingual
3. Permukaan proksimal : permukaan mesial.
permukaan distal
4. Permukaan oklusal ialah permukaan gigi yang menghadap ke arah garis
oklusi/kunyah, yang digunakan untuk menghaluskan, menyobek dan
menggiling makanan di mana terdapat tonjolan-tonjolan dan lekukan-
lekukan.
OKLUSI
Oklusi ialah hubungan kontak antara gigi-gigi di rahang atas dengan gigi-gigi
di rahang bawah waktu mulut dalam keadaan tertutup.
Ada 2 macam oklusi:
1. Oklusisentris ialah hubungan kontak maksimal dari gigi-gigi rahang atas
dan rahang bawah waktu mandibula dalam keadaan relasi sentris.
2. Oklusi aktif ialah hubungan kontak antara gigi-gigi di rahang atas dan di
rahang bawah dimana gigi-gigi rahang bawah mengadakan gerakan /
geseran ke depan, ke belakang , ke kiri dan ke kanan/gerakan lateral.
BAGIAN GIGI
Dilihat secara makroskopis (menurut letak dari email dan sementum):
1. Mahkota/korona ialah bagian gigi yang dilapisi jaringan enamel/ email
dan normal terletak di luar jaringan gusi/ gingiva

19
2. Akar/radix ialah bagian gigi yang dilapisi jaringan sementum dan
ditopang oleh tulang alveolar dari maksila dan mandibula.
a. Akar tunggal . . . dengan satu apeks
b. Akar ganda ... dengan bifurkasi ialah tempat di mana 2 akar ber-
temu dan nifurkasi ialah tempat di mana 3 akar bertemu.
3. Garis servikal /semento-enamel junction ialah batas antara jaringan
sementum dan email, yang merupakan pertemuan antara mahkota dan akar
gigi.
4. Ujung akar/apeks ialah titik yarg terujung dari suatu benda yang runcing
atau yang berbentuk kerucut seperti akar gigi.
5. Tepi insisal (insisal edge) ialah suatu tonjolan kccil dan panjang pada
bagian korona dari gigi insisivus yang merupakan sebagian dari per-
mukaan insisivus dan yang digunakan untuk memotong / mengiris
makanan.
6. Tonjolan /cusp ialah tonjolan pada bagian korona gigi kaninus dan gigi
posterior, yang merupakan sebagian dari permukaan oklusal.
Berikut beberapa istilah dalam terminologi gigi sulung :
Permukaan Mesial/ Mesial Surface/Facies Mesialis
Permukaan/sisi gigi yang dekat dengan garis median
Permukaan Distal/Distal Surface/Facies Distalis
Permukaan/sisi gigi yang jauh dari garis median
Buccal Surface/Facies Buccalis
Permukaan gigi atau sisi yang berhadapan dengan pipi/buccum (gigi
posterior)
Labial Surface/Facies Labialis
Permukaan gigi atau sisi yang berhadapan dengan bibir/labium (gigi
anterior)
Lingual Surface/Facies Lingualis
Permukaan gigi atau sisi yang berdekatan dengan lidah/lingua (gigi RB)
Palatal Surface/Facies Palatinalis

20
Permukaan atau sisi gigi yang berdekatan dengan langit-langit/Palatum (gigi
atas)
Occlusal Surface/Facies Occlusalis
Permukaan puncak gigi yang digunakan untuk mastikasi (gigi posterior)
Incisal Surface/ Facies Incisalis
Permukaan puncak gigi yg digunakan untuk memotong/menggigit (gigi
anterior)
Facial Surface/Permukaan Facialis
Permukaan gigi atau sisi yang berhadapan dengan pipi atau bibir (gigi
posterior & anterior)
Proximal Surface/Facies Proximalis
Permukaan gigi atau sisi yang berhadapan dengan permukaan gigi tetangga
pada lengkung rahang yang sama
Embrassure
Ruangan yang terletak antara dataran occlusal dengan titik kontak
Contact Area
Tempat berkontaknya permukaan proximal suatu gigi dgn bagian proximal
gigi tetangganya dalam satu lengkung rahang
Contact Point/Titik Kontak
Persentuhan berupa titik pada daerah kontak
Line Angle/sudut garis
Pertemuan antara dua permukaan & disebut menurut kombinasi dari dua
permukaan tersebut.
Point Angle/Sudut titik
Pertemuan antara tiga permukaan dan disebut menurut kombinasi dari ketiga
permukaan tersebut.
Processus Alveolaris/Tulang Alveolar
Bagian tulang rahang dimana akar-akar gigi terletak, yang mengikat gigi
dalam suatu posisi relasi terhadap gigi lainnya dalam satu lengkung gigi
Alveolus/Alveoli
Lubang tempat akar-akar gigi tertanam pada tulang rahang

21
Gingiva/Gusi
Suatu lekukan/cekungan atau depresi yang bulat, lebar, dangkal dan tak rata
yang terdapat pada permukaan gigi
Fossa Palatal/Lingual
Fossa yang terdapat pada permukaan palatal/ lingual dari gigi incisivus dan
caninus
Fossa Central
Fossa yang terdapat pada permukaan occlusal gigi molar, dimana merupakan
pertemuan beberapa developmental groove, yang merupakan suatu depresi
sentral
Triangular Fossa
Fossa yang berupa suatu segitiga, terdapat pada permukaan oklusal gigi
molar dan pemolar yang letaknya sebelah mesial/distal marginal ridge; atau
pada permukaan palatal/lingual gigi incisivus yang terbentuk dari pertemuan
marginal ridge dan singu.lum
PIT
Depresi kecil sebesar ujung jarum, terdapat pada permukaan oklusal gigi
molar, merupakan pertemuan/persilangan developmental groove
Groove
Lekukan/depresi yang dangkal, sempit, panjang; yang terdapat pada suatu
permukaan gigi.
Fissura/Fissure
Celah yang dalam dan memanjang pada permukaan gigi (oklusal, fasial,
proksimal) yang merupakan dasar dari developmental groove.
Sulcus
Parit/depresi yang panjang pd permukaan oklusal, antara ridge-ridge dan
cusp.
Ridge/Crista/Edge
Tonjolan runcing dan panjang pada permukaan gigi, yang dinamakan
menurut letak dan bentuknya.

22
SECARA MIKROSKOPIS
Struktur/susunan dari tiap-tiap gigi manusia terdiri dari:
1. Jaringan keras ialah jaringan yang mengandung bahan kapur, terdiri dari :
jaringan email/enamel/glasir, jaringan dentin/tulang gigi, dan jaringan
sementum.
Email dan sementurn ialah bagian /bentuk luar yang melindungi dentin.
Dentin, merupakan bentuk pokok dari gigi, pada satu pihak diliputi oleh
jaringar email (korona) dan pada pihak lain diliputi oleh jaringan
sementum (akar), merupakan bagian terbesar dari gigi dan merupakan
dinding yang membatasi dan melindungi rongga yang berisi jaringan
pulpa.
2. Jaringan lunak yaitu jaringan pulpa ialah jaringan yang terdapat dalam
rongga pulpa sampai foramen apikal, umumnya mengandung bahan dasar
(ground substance), bahan perekat, sel saraf yang peka sekali terhadap
rangsang mekanis, termis dan kimia, jaringan limfe (cairan getah bening),
jaringan ikat dan pembuluh darah arteri (pembuluh yang mengandung
darah bersih dan 02 yang berasal dari jantung), dan vena (pembuluh yang
mengandung darah kotor dan C02 dari jaringan tubuh ke jantung).
3. Rongga pulpa, terdiri dari:
a. Tanduk pulpa/pulp horn yaitu ujung ruang pulpa
b. Ruang pulpa/pulp chamber, yaitu ruang pulpa di korona gigi
c. Saluran pulpa/pulp canal yaitu saluran di akar gigi, kadang-kadang
bercabang, dan ada saluran tambahan (Supplemental pulp canal).
d. Foramen apikal yaitu lubang di apeks gigi, tempat masuknva ja-
rirgan pulpa ke rongga pulpa.

23
Gambar Bagian-Bagian Gigi Dilihat Secara Mikroskopis
2.4 Waktu Erupsi Gigi Sulung
Berikut tabel waktu erupsi gigi sulung :
PERKEMBANGAN DAN ERUPSI GIGI SULUNG
ERUPSI (BULAN)
Atas Insisif sentral 10 (8-12)
Insisif lateral 11 (9-13)
Kaninus 19 (16-22)
Molar pertama 16 (13-19 laki-laki)
(14-18 perempuan)
Molar kedua 29 (25-33)
Bawah Insisif sentral 8 (6-10)
Insisif lateral 13 (10-16)

24
Kaninus 20 (17-23)
Molar pertama 16 (14-18)
Molar kedua 27 (23-31 laki-laki)
(24-30 perempuan)

2.5 Derajat Kegoyangan Gigi


Gigi Goyang diartikan sebagai pergerakan gigi pada dataran vertikal atau
horizontal. Derajatnya tergantung pada lebar ligamen periodontal, area perlekatan
akar, elastisitas prosesus alveolar dan fungsi dari masing-masing gigi. Setiap gigi
mempunyai derajat kegoyangan fisiologis yang ringan, dimana berbeda-beda
untuk setiap gigi dan waktunya. Maksudnya:
Gigi dengan akar tunggal lebih mudah goyang daripada gigi dengan akar
multiple, dimana incisive paling mudah goyang.
Kegoyangan gigi paling besar saat menjelang pagi hari dan derajatnya menurun
secara progresif.
Kegoyahan gigi terjadi dalam dua tahapan:
1. Inisial atau tahap intrasoket, yakni pergerakan gigi yang masih dalam
batas ligamen periodontal. Hal ini berbungan dengan distorsi viskoelastisitas
ligamen periodontal dan redistribusi cairan peridontal, isi interbundle, dan fiber.
Pergerakan inisial ini terjadi dengan tekanan sekitar 100 pon dan pergerakan yang
terjadi sebesar 0.05 sampai 0.1 mm (50 hingga 100 mikro).

25
2. Tahapan kedua, terjadi secara bertahap dan memerlukan deformasi elastik
tulang alveolar sebagai respon terhadap meningkatnya tekanan horizontal. Ketika
mahkota diberi tekanan sebesar 500 pon maka pemindahan yang terjadi sebesar
100-200 mikro untuk incisivus, 50-90 mikro untuk caninus, 8-10 mikro untuk
premolar dan 40-80 mikro untuk molar.
Kegoyahan gigi dapat diperiksa secara klinis dengan cara: gigi dipegang
dengan kuat diantara dua instrumen atau dengan satu instrumen dan satu jari, dan
diberikan sebuah usaha untuk menggerakkannya ke segala arah . Pada gambar
dibawah ini, peningkatan kegoyangan gigi ditentukan dengan memberikan gaya
500 g pada permukaan labiolingual dengan menggunakan dua instrumen dental.
Kegoyangan gigi dibedakan menjadi 3, yaitu :
Derajat 1 : kegoyangan gigi yang sedikit lebih besar dari normal
Derajat 2 : kegoyangan gigi sekitar 1 mm
Derajat 3 : kegoayngna gigi lebih dari 1 mm pada segala arah atau gigi
dapat ditekan ke arah apikal
Kegoyangan gigi yang patologis terutama disebabkan :
1. Inflamsi gingiva dan jaringan periodontal
2. Kebiasaan para fungsi oklusal
3. Oklusi prematur
4. Kehilangan tulang pendukung
5. Gaya torsi yang menyebabkan trauma pada gigi yang dijadikan pasangan
cengkram gigi
6. Terapi periodontal, dan endodontik, dan trauma dapat menyebabkan
kegoyangan gigi sementara

26
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gigi sulung adalah gigi pertama yang erupsi didalam rongga mulut. Gigi
sulung memiliki total jumlah 20 gigi dengan setiap kuadrannya terdiri dari gigi
insisive satu, insisive dua, caninus, molar satu, dan molar dua. Dimana setiap
struktur anatomi gigi tersebut pada rahang atas dan rahang bawah berbeda.
Gigi sulung yang telah erupsi akan digantikan dengan gigi permanen. Gigi
susu dan gigi permanen memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut
meliputi tentang struktur anatomi, morfologi, komposisi, warna, ukuran, dan
erupsinya.
Terminologi gigi sulung menjelaskan tentang bagian-bagian dan sisi-sisi
gigi sulung. Terminologi tersebut yang dapat membantu dalam mengidentifikasi
suatu gigi berdasarkan ciri-ciri universalnya.
Gigi sulung erupsi pertama kali pada usia enam bulan dimana gigi yang
pertama erupsi adalah gigi insisive satu bawah. Gigi yang erupsi selanjutnya yaitu
I1 atas, I2 bawah, I2 atas, M1 bawah, M1 atas, C atas, C bawah, M2 bawah, M2
atas.
Kegoyangan gigi adalah kondisi dimana gigi dapat bergerak dalam
soketnya. Derajat kegoyangan gigi dapat dikelompokkan menjadi tiga.
Kegoyangan pertama yaitu dimana gigi goyang lebih sedikit dari normal atau
kurang dari 1 mm, derajat kedua yaitu gigi goyang 1 mm, dan derajat ketiga yaitu
gigi yang goyang lebih dari 1 mm atau dapat digerakkan saat disentuh oleh lidah.

27
DAFTAR PUSTAKA

Fedi, F.J., Vernino A.R., Gray J.L. 2004. Silabus Periodontis, edisi 4. Jakarta :

EGC.

Nelson, Stanley J. 2010. Wheelers dental anatomy, physiology, and occlusion.

China : Saunders Elsevier.

Ralph E. Mc Donald, David R. Avery, Jeffrey A. Dean. 2004. Dentistry for the

Child and Adolescent. St. Louis : The CV Mosby Company.

Scheid, Rickne C. Weiss, Gabriela. 2016. Woelfel Anatomi Gigi ed.8. Jakarta :

EGC.

Wangidjaja, Itjiningsih. 2015. Anatomi Gigi ed.2. Jakarta : EGC.

28

Anda mungkin juga menyukai