Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH WANITA DAN OLAHRAGA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliahWanita dan Olahraga


Dosen pengampu:
Setya Rahayu

Oleh :

Yanuar Riesma Hendra


(6211414103)

JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan, karena rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Wanita dan Olahraga
Penulis sadar bahwa selesainya karya makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Pengajar Wanita dan Olahraga
2. Teman-teman yang telah memberikan semangat dan dorongan kepada
penulis.
Makalah ini ditulis berdasarkan hasil studi pustaka . Berbagai upaya telah
dilakukan penulis untuk mendapatkan hasil terbaik dalam makalah ini. Penulis
menyadari bahwa makalah ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan dikarenakan
kemampuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran
yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan makalah ini. Penulis
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi
pembaca.

Semarang, 14 Januari 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan adalah salah satu hak dari setiap manusia. Artinya setiap orang,
siapapun dia, bagaimanapun dia, berjenis kelamin apapun dia, dimanapun ia berada
mempunyai hak untuk dapat hidup sehat, baik aspek fisik maupun aspek nonfisiknya.
Dengan demikian setiap manusia mendapat kebebasan untuk dapat memelihara
kesehatannya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memelihara kesehatan
yaitu dengan berolahraga.
Olahraga adalah suatu bentuk kegiatan jasmani yang dapat dalam permainan,
perlombaan atau pertandingan serta kegiatan jasmani yang intensif dilakukan dalam
rangka memperoleh rekreasi, hiburan, kemenangan, maupun prestasi yang maksimal.
Olahraga sangatlah penting untuk para wanita mulai dari yang muda sampai lanjut
usia, mereka harus berolahraga oleh sebab itu banyak olahraga wanita yang dewasa
ini sering terlihat di masyakarat.
Akan tetapi banyak timbul permasalahan mengenai gender perempuan di
olahraga. Karena perempuan lebih rapuh apa lebih lemah kemampuan fisiknya untuk
melakukan olaharaga yang dilakukan oleh kalangan laki-laki. Oleh sebab itu wanita
sering diremehkan untuk melakukan aktifitas olahraga yang berat seperti kontak fisik
dan ketahanan.
Dari permasalahan tersebut muncullah pemikiran mengenai penyetaraan
gender. Pemikiran ini muncul karena perempuan dianggap mampu menorehkan
prestasi yang bagus dalam olahraga. Dari beberapa permasalahan yang ada mengenai
gender membuat penyetaraan gender ini diperlukan.
Dari berkembangnya berbagai olahraga untuk waanita di masyarakat, tidak
menutup kemungkinan olahraga juga dapat dilakukan oleh wanita saat sedang
mengalami menstruasi, hamil maupun sudah lanjut usia. Dengan berolahraga tentu
dapat memberikan dampak bagi tubuk baik dampak positif maupun negatif tergantung
dari jenis, intensitas, dan kekuatan tubuh. Sehingga untuk wanita yang sedang
menstruasi pelaksanaan olahraga harus sesuai dengan kaidah pelaksanaan olahraga
yang baik dan benar. Dari berbagai permasalahan terkait olahraga dengan wanita
maka melalui makalah ini, penulis ingin memperdalam kajian dengan memaparkan
tentang perbedaan laki-laki dan wanita dari aspek anatomis, isu-isu terkait gender dan
olahraga, maupun hubungan olahraga dengan wanita menstruasi, kehamilan, dan
menopause.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagamana perbedaan fisik dan fisiologi antara wanita dan pria ?
2. Bagaimana isu gander yang ada dalam dunia olahraga ?
3. Bagaiman hubungan olahraga terhadap menstruasi,kehamilan dan menopouse pada
wanita ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana perbedaan fisik dan fisiologi antara wanita dan pria
2. Mengetahui bagaimana isu gander yang ada dalam dunia olahraga
3. Mengetahui bagaimana hubungan olahraga terhadap menstruasi,kehamilan
dan menopouse pada wanita

1.4 Manfaat
Makalah ini selain menjadi tugas matakuliah, semoga juga bermanfaat bagi para
pembaca sebagai sarana menambah ilmu dan pengetahuan tentang wanita dan
olahraga
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perbedaan Wanita dan Pria


Perbedaan wanita dan pria dapat dilihat dari berbagai aspek yang mendukung
kegiatan mereka beraktivitas setiap hari, yang salah satunya adalah dari aspek
biologis. Ada aspek biologis yang berbeda antara pria dan wanita, yakni antara lain :
Perbedaan Lemak, Distribusi Lemak Tubuh, Perbedaan Iklim, Perbedaan Fungsi
Lemak

2.1.1 Perbedaan Lemak

Hal ini mungkin tidak mudah dilihat dan dikenali saat Anda sedang berlatih di gym,
akan tetapi wanita biasanya memiliki lemak tubuh lebih tinggi dalam persentase
dibandingkan pria. Menurut MedicineNet.com, kadar normal kandungan lemak tubuh
normal pada wanita adalah 25 persen, akan tetapi pada pria hanyalah 15 persen. Hal
ini sebagian besar terjadi karena proses hormon alami. Misalnya, hormon seks wanita
(estrogen) meskipun dapat membantu proses alami tubuh dalam mengonversi lemak
menjadi energi, tapi hormon tersebut juga dapat meningkatkan kapasitas tubuh untuk
menyimpan lemak. Studi ilmiah telah mempromosikan metode yang paling efektif
untuk mengurangi penumpukan lemak adalah hanya dengan berolahraga atau berlatih.

2.1.2 Distribusi Lemak Tubuh

Sepintas, mungkin seolah-olah pria lebih rentan terhadap kenaikan lemak daripada
wanita, khususnya karena beberapa area yang secara alami menyimpan jaringan lemak
di sebagian besar pria. Menurut Marc Perry, seorang ahli kebugaran dan pendiri Built
Lean, wanita dapat menyimpan sedikit lemak di daerah perut, tetapi mereka dapat
menyimpan lebih pada paha dan otot trisep. Hal ini sangat berbeda pada pria yang
memiliki kecenderungan genetik yang lebih tinggi untuk menyimpan lemak di perut
mereka. Sangat penting untuk menyadari bahwa lemak tidak dapat dibakar dalam area
tertentu di tubuh. Jika tujuan Anda adalah untuk menghilangkan lemak pada perut,
Anda perlu menurunkan kadar lemak tubuh secara keseluruhan. Hal ini biasanya dapat
dicapai dengan meningkatkan aktivitas jantung dan mengurangi konsumsi kalori.
Konsultasikan dengan pelatih atau ahli kebugaran jika Anda memerlukan bantuan untuk
membangun program latihan mengurangi lemak yang efektif.

2.1.3 Perbedaan Iklim

Faktanya, komposisi tubuh pria dan wanita dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan
tertentu, seperti iklim. Menurut Human Kinetics, wanita yang tinggal di iklim hangat
alami, seperti Afrika, sentralisasi kandungan lemak dalam tubuh berada di bagian
bokong, sedangkan penduduk asli Mediterania biasanya menumpuk jaringan lemak di
pinggul, dan bagi wanita Asia tertentu sentralisasi kandungan lemak dalam tubuh
berada di bagian pusar. Metode tubuh mendistribusikan lemak lebih seimbang bagi
orang yang berada di daerah beriklim dingin, yang dapat membantu mempertahankan
suhu tubuh internal yang diatur selama cuaca musim dingin yang keras.

2.1.4 Perbedaan Fungsi Lemak

Sangat penting untuk diingat bahwa berlatih atau berolahraga lebih penting untuk Anda
secara keseluruhan daripada komposisi tubuh Anda. Sangat penting pula untuk
menyadari bahwa lemak melaksanakan tugas dan fungsi dasar manusia. Menurut
sejarah kesehatan, lemak memberikan jaring pengaman internal tubuh mendapat
kelangkaan pangan, dan juga berfungsi untuk membantu wanita pada saat kelahiran.
Semua orang yang sehat secara alami menyimpan lemak untuk membantu membantu
proses normal tubuh. Lemak sebenarnya hal yang baik. Olahraga atau latihan adalah
alat yang bisa Anda gunakan untuk mencegah terlalu banyaknya lemak yang
terakumulasi dari seluruh tubuh.

Adapun perbedaan antara wanita dan pria dari segi antropometrinya, sperti hasil
penelitian yang dilakukan oleh Myrtati D Artaria disimpulkan bahwa Ada tiga hal yang
berpengaruh pada hasil akhir ukuran tubuh manusia, yaitu saat di mana mulai terjadi
akselerasi per tumbuhan, besarnya akselerasi pertumbuhan, dan kapan pertumbuhan
berakhir. Pada perempuan akselerasi pertumbuhan terjadi lebih dahulu dari pada laki-
laki, dan akselerasi itu tidak terlalu besar pada perempuan dibandingkan dengan
akselerasi pertumbuhan laki -laki. Lalu berhentinya pertumbuhan badan perempuan
pun lebih cepat. Akibatnya perempuan secara umum lebih kecil daripada laki-laki.
Lebih jauh lagi, karena perempuan berhenti bertumbuh lebih cepat daripada laki-laki,
maka perempuan lebih terlihat infantil dibanding laki -laki. Infantil artinya mempunyai
morfologi yang lebih menyerupai anak -anak, atau imut (cute), yang terlihat jelas
pada bagian wajahnya, baik pada manusia hidup maupun pada tengkorak
.
Perbedaan antara laki -laki dan perempuan dewasa yang mencolok ini tetap dapat
dilihat pada tengkorak dan kerangka tulang manusia yang sudah meninggal, sehingga
antropolog dapat mengidentifikasi jenis kelamin tengkorak berdasarkan kekhasan
morfologi kedua jenis kelamin tersebut. Dewasa artinya masa di mana pertumbuhan
badan telah selesai, sehingga dimorfisme seksual tampak dengan jelas.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara laki -laki dan
perempuan (dimorfisme seksual) bermula karena adanya growth spurt, pada penelitian
ini sekitar umur 10 tahun untuk sampel perempuan, dan kurang lebih 2 tahun lebih
lambat pada laki-laki, yang mana ini sesuai dengan populasi -populasi lain yang pernah
diteliti (misalnya Van Wieringen, 1980).

Pada variabel-variabel yang diukur pada penelitian ini, nampak bahwa perbedaan
antara laki-laki telah didapati sejak umur lebih dini dari pada 6 tahun. Mungkin
perbedaan itu tidak dapat dilihat dengan jelas pada tulang -tulang yang dapat menandai
dimorfisme seksual manusia usia muda, tetapi dari sisi berat dan massa tubuh telah
terdapat perbedaan yang signifikan, kecuali pada tinggi badan. Anak laki -laki pada
umumnya mempunyai tubuh yang lebih berat dan berlemak sampai umur 11 tahun, dan
kemudian ketebalan lemak itu mulai menurun dan digantikan oleh massa otot dan
tulang. Karenanya, berat badan kedua jenis kelamin berbeda secara signifikan pada
hampir semua kelompok umur, kecuali pada umur 12 dan 13 tahun di mana perempuan
mengalami growth spurt.

Ukuran lebar yang diwakili oleh lebar bahu dan lebar panggul mengalami
perbed aan yang bermakna pada sebagian besar kelompok umur, tetapi dengan pola
yang berbeda. Lebar bahu yang sering menjadi penanda maskulinitas (dada yang
bidang), mengalami kebermaknaan perbedaan (dengan rata -rata lebih besar pada laki
-laki) sejak umur 13 tahun. Bahkan pada umur 8 dan 10 tahun telah terjadi perbedaan
yang bermakna antara lebar bahu laki-laki dan perempuan.
Lebar panggul, yang merupakan salah satu komponen penentu untuk
mengkontribusi terhadap ukuran tubuh (perawakan) secara keseluruhan, didapa ti
berbeda secara bermakna antara umur 7, 8, 9, 10 tahun, dan 17 serta 18 tahun. Ukuran
lingkar yang diwakili oleh lebar lengan dan lebar dada memberikan hasil yang berbeda
secara bermakna pada banyak kelompok umur, dengan pola yang sedikit berbeda pula.
Lingkar dada menghasilkan perbedaan yang bermakna pada umur lebih dini dari pada
lingkar lengan. Lingkar lengan mempunyai perbedaan yang bermakna pada umur 8, 9,
10, 11, dan kemudian 17 dan 19. Lingkar dada mempunyai perbedaan yang bermakna
pada umur 7, 8, 9, 10, 15, 16, 17, 18, dan 19.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diperkirakan kapan perbedaan antara laki -laki
dan perempuan yang disebabkan oleh hormon seksual mulai terjadi. Dimorfisme
seksual yang disebabkan oleh hormon seksual nampak sangat jelas pada variabel tinggi
badan, tebal lemak dan lebar bahu. Perbedaan yang signifikan dimulai pada umur 13
tahun pada lebar bahu dan tebal lemak, dan umur 14 tahun pada tinggi badan.
Karenanya diperkirakan hormon seksual telah memberikan pengaruhnya sebelum u mur
13 tahun.

Dengan demikian dapat direkomendasi agar pemberian pengetahuan mengenai


perbedaan antara laki -laki dan perempuan dalam hal morfologi tubuh dan fungsinya
dimulai pada umur yang berbeda. Hal ini disesuaikan dengan relevansi topik bahasan
dengan apa yang sedang terjadi pada tubuh mereka. Pada anak perempuan Jawa,
khususnya pada sampel penelitian ini, perubahan telah terjadi mulai sekitar umur 10
tahun, di mana kemudian terjadi growth spurt yang pada sebagian besar anak cukup
membingungkan. Apalagi tak lama kemudian akan terjadi menarche (menstruasi
pertama), di mana mereka untuk selanjutnya harus mengalami kerepotan tiap bulan
(datang bulan) seperti halnya perempuan -perempuan dewasa lainnya. Rentang umur
terbawah pada penelitian di Malang untuk usia menarche adalah umur 10 tahun,
dengan rata-rata umur menarche kelompok sosial-ekonomi atas adalah umur 12.74
tahun, dan 13.06 tahun pada kelompok sosial -ekonomi menengah (Artaria, 2000).

Sebaiknya pemberian pengetahuan mengenai perbedaan antara laki -laki dan


perempuan dalam hal morfologi tubuh dan fungsinya dimulai pada umur lebih lambat
pada anak laki-laki. Umur 12 tahun adalah saat yang lebih tepat, karena mereka mulai
merasakan perubahan pada tubuhnya, dikarenakan telah mulai terjadi growth spurt.
Ketertarikan pada seksual juga meningkat pada umur -umur ini (Haroian, 1980 dalam
Hall, 2000).

2.2 Isu Gander dalam Olahraga


2.2.1 Pengertian Gender
Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M.
echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender adalah
perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan
tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah
suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran,
perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang
berkembang dalam masyarakat.
Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan
Gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya;
perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara
laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciridari sifat itu merupakan
sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada
perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut
dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih
1999: 8-9).
Dapat disebutkan bahwa gender merupakan perbedaan tingkah laku, peran dan
sifat yang dimiliki oleh seorang laki-laki dengan perempuan yang berkemban di
dalam masyarakat. Gender merupakan sebuah hal yang tumbuh di dalam masyarakat
untuk membedakan perempuan dengan laki-laki baik dalam segi sifat maupun tingkah
laku.
Olahraga merupakan sebuah kegiatan fisik yang sistematis dan teratur yang
dilakukan manusia untuk meningkatkankebugaran jasmaninya serta untuk menjaga
kesehatan tubuhnya. Semua manusia dapat melakukan aktivitas olahraga baik
perempuan maupun laki-laki.
Tidak ada perbedaan gender di dalam olahraga. Karena semua orang boleh
berolahraga dengan kemauan yang dimiliki serta kebutuhan hidup yang menuntut
manusia untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Di dalam olahraga
sendiri gender hanya di gunakan untuk mengelompokkan prempuan dan laki-laki di
golangan pertandingan yang berbeda seperti halnya sepakbola putri dan sepakbola
putra yang berbeda turnamen serta pertauran yang di berikan. Perbedaan ini tidak lain
karena definisi gender diatas yang menekankan bahwa perempuan dan laki-laki
memiliki peran sifat dan tingkah laku yang berbeda.

2.2.2 Perbedaan Gender dalam Olahraga


Seperti yang telah di jelaskan diatas bahwa gender di dalam olaharaga
dibedakan pada kegiatan olahraga yang lebih spesifik seperti olaharaga wushu,
sepakbola, bulutangkis dan lain sebagainya. Perbedaaan ini juga disebabkan karena
kemampuan yang dimliki perempuan dan laki-laki berbeda. Perbedaan inilah yang
menimbulkan anggapan atau bahkan pemikiran yang salah.
Perbedaan perlakuan terhadap atlet perempuan dan laki-laki pertama kali
dapat dilihat atau ditampilkan di publik pada tahun 1970-an. Di mana tim olahraga
wanita menerima dana yang lebih rendah dari tim pria. Tahun 1974 budget program
olahraga pria lima kali lipat budget untuk wanita. Bahkan pada tingkat Universitas
perbedaannya sampai 100 kali lipat (Women Sport, 1974).
Diskriminasi terlihat dalam hal fasilitas dan peralatan. Wanita menggunakan
gedung olahraga yang usang di mana pria dibuatkan gedung yang baru. Wanita
memakai peralatan bekas tim pria, jika tidak ada yang bekas terkadang tim wanita
tidak mempunyai apa-apa. Dalam menggunakan fasilitas yang sama, wanita
mendapatkan giliran jadual yang tidak fair.
Perempuan tidak mendapatkan perhatian yang cukup mengenai latihan seperti halnya
pria. Sering kali untuk menuju ke pertandingannya, tim wanita harus menggunakan
bis padahal tim pria mendapatkan pelayanan pesawat. Liputan media untuk berita
tentang olahlraga wanita juga kurang, padahal olahraga pria selalu mendapatkan
perhatian media surat kabar, radio bahkan televisi. Sampai adanya persamaan pada
setiap bidang di atas, maka wanita tidak bisa dikatakan mendapatkan peluang yang
sama dengan pria dalam program sekolah.
2.2.3 Permasalahan Gender di dalam Olahraga dan Munculnya Penyetaraan Gender

Perbedaan gender juga dapat menimbulkan berbagai masalah dan juga


perdebatan mengenai posisi laki-lakin dan juga perempuan. Akan tetapi banyak
timbul permasalahan mengenai gender perempuan di olahraga. Karena perempuan
lebih rapuh apa lebih lemah kemampuan fisiknya untuk melakukan olaharaga yang
dilakukan oleh kalangan laki-laki. Oleh sebab itu wanita sering dirremehkan untuk
melakukan aktifitas olahraga yang berat seperti kontak fisik dan ketahanan.
Bagi Anda yang mengikuti berita mengenai SEA Games 2015 di Singapura
akhir-akhir ini, pasti tidak asing dengan berita yang satu ini. Sebuah headline dari
portal media online memaparkan sebuah judul tulisan SEA Games 2015;Filipina
Minta Panitia Periksa Gender Pemain Voli Putri Indonesia (Tribunnews.com, Rabu 10
Juni 2015). Dari berita tersebut saya menyimpulkan bahwa pada intinya Filipina
mengajukan protes kepada panitia pelaksana SEA Games 2015 Singapura atas gender
pemain tim bola putri Indonesia, Aprilia Santini Manganang.
Filipina menuntut dan meminta mereka memeriksa karakteristik gender pevoli
putri tersebut. Menurut Inquirer.net, Roger Gorayeb sebagai pelatih voli tim putri
Filipina meragukan Aprilia karena penampilan fisiknya yang tampak berotot, sangat
kuat, seperti memasukkan pemain putra dalam tim putri.
Kasus yang menjadi sorotan dalam headline tersebut adalah mengenai tes
gender. Tes gender di dalam ajang olahraga ini ternyata bukanlah yang pertama kali.
Sebelum kasus Aprilia, ajang olahraga Internasional lain pernah mengalami hal ini.
Diantaranya adalah kasus Santhi Soundarajan, pelari putri India dan Caster Semenya,
pelari putri Afrika Selatan. Tes gender dalam ajang olahraga merupakan hal yang
sangat kontroversial dan sensitif. Tes gender diyakini dapat menimbulkan dampak
psikologis pada si atlet (tribunnews.com). Bukan hanya itu, tes gender sendiri
memiliki proses yang sangat kompleks dan melibatkan banyak ahli di dalam dunia
kesehatan.
Orang awam pada umumnya mengartikan gender dengan pengertian yang sama
dengan jenis kelamin (seks). Namun, secara ilmiah keduanya memiliki pengertian
yang berbeda. Seks mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan ciri-ciri biologis
seperti jenis kelamin dan penentuan jumlah kromosom seseorang (Beauvoir, 1975).
Karena seks mengacu pada ciri-ciri biologis seseorang, maka seks menjadi penentu
perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki yang dibawa sejak lahir. Seks atau
jenis kelamin juga dinilai sebagai sesuatu yang mengacu pada perbedaan psikis dan
psikologis antara perempuan dengan laki-laki, termasuk karakteristik primer seks
(sistem reproduksi) dan karakteristik sekunder seperti ukuran tubuh dan massa otot
(Little and McGivern, 2012).
Berdasarkan kasus tes gender yang pernah terjadi, semua yang harus
menjalani tes ini adalah atlet perempuan. Menurut sebuah berita dalam tempo.co, atlet
perempuan tidak lagi dapat bertanding sebagai wanita jika mereka memiliki kadar
testosterone alami dalam kisaran pria.
Terdapat pedoman baru tentang hiperandrogenisme pada perempuan yang
direkomendasikan olehInternational Olympic Comission (IOC) pada 5 April 2011 dan
diterima oleh Asosiasi Federasi Atletik Internasional (IAAF) pada 12 April
2011(dikutip dari portal berita Tempo.co, Kamis 5 Mei 2011 oleh Tjandra Dewi).
Hiperandrogenisme sendiri adalah sebuah kelainan hormon dan ovarium dan kelenjar
adrenal (American Association of Clinical Endocrinologists, 2001). Menurut
tempo.co, kasus hiperandrogenisme yang paling umum adalah sindrom insensitivitas
androgen (AIS). Dalam kasus AIS janin sebenarnya dikategorikan dengan jenis
kelamin laki-laki (secara genetik). Namun, reseptor testosteronnya tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, janin tidak menanggapi sinyal
hormonal untuk berkembang seutuhnya dengan karakteristik biologis laki-laki. Dalam
kasus ini, biasanya janin akan berkembang sebagai perempuan akan tetapi ia tak
punya ovarium, melainkan testis (dikutip dari portal berita Tempo.co, Kamis 5 Mei
2011 oleh Tjandra Dewi).
Menurut Malcolm Collins seorang ahli biokimia medis yang mengambil
spesialisasi kedokteran olahraga si University of Cape Town, tes gender dalam ajang
olahraga ini adalah bentuk aturan main yang fair. Peraturan ini berlaku untuk
perempuan yang memproduksi hormon androgen, terutama testosterone melebihi
level normal. Ini berefek samping pada postur dan karakteristik biologis perempuan
tersebut seperti karakteristik biologis laki-laki. Tubuh akan berekembang memiliki
massa otot lebih besar. Di sisi lain, seorang ahli endokrinologi di Yale School of
Medicine di New Haven, Connecticut, Myron Genel menyatakan bahwa pedoman itu
seharusnya mengeliminasi stigmatisasi terhadap perempuan yang dianggap banyak
orang tidak terlihat sebagaimana mestinya.
Dari penjelasan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa tes gender ini bisa
memperlihatkan kepada masyarakat luas bahwa terdapat variasi seks dalam tubuh
manusia. Bukan seks yang berarti jenis kelamin, melainkan komponen-komponen
biologis seperti kapasitas kromosom dan hormon seseorang. Satu hal yang menjadi
sangat penting, tes gender ini hadir karena peraturan dan ketentuan dalam ajang
olahraga yang jelas-jelas bersifat sangat biner. Sehingga, orang-orang dengan
karakteristik seks yang spesial dan pilihan gender yang tidak mainstream
(transgender), diragukan untuk ikut serta dalam ajang olahraga umum seperti ini. Seks
dan gender itu sangat cair dan bervariasi. Mungkin di satu sisi pedoman peraturan
ajang olahraga ini terkesan diskriminatif. Namun, semua ini ada karena efek domino
dari pandangan yang biner dan heteronormativitas. Yang sudah terpatri dalam benak
orang awam adalah perempuan memiliki karakteristik tubuh dan sifat X sedangkan
laki-laki memiliki karakteristik tubuh dan sifat Y. Sehingga saat perempuan itu Y
dan laki-laki itu X maka akan dianggap di luar normal.
Dari permaslahan tersebut muncullah pemikiran mengenai penyetaraan
gender. Pemikiran ini muncul karena perempuan dianggap mampu menorehkan
prestasi yang bagus dalam olahraga. Dari beberapa permaslahan yang ada mengenai
gender membuat penyetaraan gender ini diperlukan. Ada sebuah contoh mengenai
munculnya penyetaraan gender yang dikutip dari CNN Kamis, 22/01/2015 13:07 WIB
Satu sosok perempuan dengan rambut pirang yang dibiarkan tergerai di balik
topi hangatnya mengangkat papan ski dengan puas. Lindsey Vonn, perempuan asal
Amerika Serikat yang tahun ini berusia 31 tahun itu telah mencetak rekor baru di
dunia atlet perempuan.
Kekasih dari Tiger Wolf itu menjadi perempuan yang paling banyak
memenangkan gelar Piala Dunia Ski pada pekan lalu. Ia berhasil mencetak
kemenangan ke-63 di kawasan pegununang Alpen yang berada di Cortina d'Appezzo,
Italia.
Dalam Piala Dunia di Italia itu, Vonn juga berhasil berdiri di atas podium
nomor satu super-G. "Setiap kali saya memulai di garis awal, saya akan mencoba
untuk menang, tak peduli itu 60, 61, 62, atau apapun itu, saya hanya mencoba untuk
mengeluarkan kemampuan ski yang terbaik," kata Vonn seperti dilansir CNN. Torehan
yang diperoleh Vonn itu mengingatkan para penggemar olahraga bahwa perempuan
pun mampu mengejar prestasi di dunia olahraga.
Untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam dunia olahraga bahkan Komite
Olimpiade Internasional memiliki komisi khusus untuk perempuan. Komisi itu
memfasilitasi konferensi dunia tentang perempuan dalam olahraga. Tahun lalu adalah
ajang yang ke enam dari konferensi perempuan dan olahraga. Konferensi itu
berlangsung di Helsinki, Finlandia, 12-15 Juni 2014. Prestasi Vonn itu seolah
melengkapi andil perempuan dalam olahraga yang dicapai pesepak bola perempuan
asal Irlandia, Stephanie Roche. Pada perhelatan FIFA Ballon d'Or 2014, Roche
berhasil menembus tiga besar kandidat penghargaan pencetak gol terbaik, Puskas
Award. Akhirnya, Roche gagal mendapat penghargaan Puskas itu. Namun, perempuan
berusia 25 tahun itu menjadi runner-up pencetak gol terbaik 2014--di bawah James
Rodriguez dan di atas Robin van Persie. Namun, terlepas dari prestasi yang
ditorehkan Roche dan Vonn, stigma mengenai posisi perempuan sebagai atlet masih
belum juga hilang.
Di beberapa negara konservatif, perempuan masih belum mendapat tempat
setara. Salah satunya Arab Saudi yang dikritik tidak mengikutsertakan atlet dalam
Asian Games di Incheon, Korea Selatan tahun lalu. Saat itu otoritas olahraga Arab
sendiri berkilah mereka tak mengikutsertakan atlet karena tak ada yang kompeten
untuk berkompetisi. Di sisi lain, Jepang mencoba menghilangkan diskriminasi gender
dalam dunia olahraga lewat aksi menunjuk atlet perempuan, Hiromi Miyake, sebagai
kapten kontingen dan Kaori Kawanaka sebagai pemegang bendera dalam Asian
Games 2014. Kala itu adalah yang pertama bagi Jepang menunjuk atlet perempuan
untuk memimpin para atlet mereka dalam ajang olahraga internasional. Masih adanya
diskriminasi gender dalam dunia olahraga juga diakui Presiden IOC, Thomas Bach.
Seperti dikutip dari situs IOC, Bach mengatakan pihaknya telah berupaya untuk
memperjuangkan partisipasi perempuan dalam olahraga selama lebih dari dua dekade.
"Hasilnya terlihat. Sebanyak 23 persen atlet pada Olimpiade 1984 di Los Angels
adalah perempuan dan lebih dari 44 persen perempuan lagi pada Olimpiade 2012 di
London. Selain itu, jika semula hanya ada dua perempuan yang jadi bagian anggota
komisi IOC pada 1981, kini menjadi 24 pada 2014," tuturnya saat konferensi di
Helsinki. hal tersebut yang memunculkan deklarasi mengenai kesetaraan
gender.Kesepakatan internasional yang menyokong kesetaraan gender dalam dunia
olahraga ditandatangani di Brighton, Inggris pada 1994. Deklarasi itu ditujukan
kepada setiap pihak, pemerintah, otoritas, organisasi, dan sebagainya terlibat dalam
advokasi perempuan dalam olahraga. Organisasi olahraga yang pertama kali
menandatangani itu adalah IOC. Sejak saat itu sampai dengan saat ini sudah lebih dari
400 entitas yang menyokong deklarasi tersebut.

2.2.4 Wanita dengan Olahraga

Dalam penjelasan-penjelasan yang sebelumnya banyak menyinggung mengenai


perempuan dalam olahraga. Hal tersebut dikarenakan olahraga masih dipandang tidak mampu
dilakukan oleh perempuan karena kemampuan fisik perempuan sedikit lemah dibandingkan
degan laki-laki.

Setiap perempuan tidak semuanya mendapat status atlet atau olahragawan sejak mereka
lahir.. Status partisipan olahraga hanya diperoleh melalui tindakan yang ditunjukkan dengan
perbuatannya pada aktivitas olahraga. Dapat dikatakan bahwa status atlet, yang dimiliki
wanita, merupakan achieved-status yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan
usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran (ascribe-
status). Achieved status bersifat terbuka bagi siapa saja tergantung dari kemampuan masing-
masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya. Dari konsep ini stratifikasi sosial
akan terjadi.

Semua wanita memiliki kesempatan sama untuk memperoleh status tertentu di


masyarakat, tetapi karena kemampuan dan pengalaman berbeda berdampak pada lahirnya
tingkatan-tingkatan status yang akan diperoleh wanita dalam partisipasinya di olahraga.
Bagaimanapun juga setiap wanita berolahraga menginginkan prestise dan derajat sosial dalam
kehidupan di masyarakatnya. Bukan sebagai pengakuan atas keberadaannya oleh anggota
kelompok, melainkan sebgai salah satu tuntutan kebutuhan untuk harga diri dan atau self-
esteem (Teori kebutuhan menurut Maslow). Peningkatan status sosial wanita berolahraga
memaksakannya untuk terus memobilisasi setiap tindakan. Mobilitas sebagai salah satu
peningkatan status sosial menurut Ralph H. Turner memiliki dua bentuk yaitu yang
pertamaContest mobility (mobilitas sosial berdasarkan persaingan pribadi), dan yang kedua
Sponsored mobility (mobilitas sosial berdasarkan dukungan).

Seorang perempuan di dalam olahraga juga meiliki peranan. Peranan (role) merupakan
dinamika dari status atau penggunaan dari hak dan kewajiban (Susanto, 1985), aspek dinamis
kedudukan (status) (Soekanto, 1990). Sehingga apabila perempuan melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Peranan
mungkin mencakup tiga hal yaitu :

1. Meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi seseorang, serangkaian


peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
2. Konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai
organisasi.
3. Perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

Peranan dengan status keduanya tak dapat dipisah-pisahkan, karena yang satu
tergantung kepada yang lain dan sebaliknya. Tak ada peranan tanpa kedudukan atau
kedudukan tanpa peranan. Maka sudah selayaknya seorang wanita partisipan olahraga yang
telah berbuat sesuai norma di masyarakat, berperilaku di masyarakat sebagai organisasi
(resmi dan tidaknya, olahraga adalah sebuah organisasi), dan merupakan struktur sosial
masyarakat mendapat peranan sosial dari kedudukannya sebagai perempuan yang
berolahraga. Hanya saja sering dilupakan bahwa dalam interaksi sosial yang paling penting
adalah melaksanakan peranan. Tidak jarang terjadi bahwa kedudukan lebih diutamakan
sehingga terjadi hubungan-hubungan timpang yang tidak seharusnya terjadi. Contoh dalam
dunia olahraga, peranan manajer yang melebihi kekuasaan pelatih dalam menentukan siapa
atlet yang harus bertanding, peranan atlet profesional yang tidak mencerminkan jati dirinya
sebagai olahragawan yang menjunjung sportivitas (fair play). Sehingga lebih cenderung
mementingkan bahwa suatu pihak hanya mempunyai hak saja, sedang pihak lainnya hanyalah
mempunyai kewajiban belaka.

Dalam dunia olahraga ketimpangan ini menyebabkan terjadinya ketidakmerataan


kesempatan. Perempuan hanya dijadikan sebagai faktor pendukung yang keberadaannya
bukan prioritas, bukan yang utama. Misalnya dalam beberapa kasus olahraga profesional,
perempuan a hanya sebagai objek pelengkap seperti umbrella girls di otomotif sports, atau
pemandu sorak dalam beberapa olahraga.Hingga status dan peranannya bukan sebagai
bintang, tidak pula sebagai pemain utama. Ketimpangan-ketimpangan yang lebih luas
terjadi pada masyarakat partisipan aktivitas tertentu, termasuk aktivitas olahraga, akibat
ketidaksesuaian harapan (dalam konteks olahraga Indonesia rasanya lebih tepat dikatakan
tuntutan) dengan peranan terhadap peranan yang tepat dalam menduduki suatu status (Davis,
1948) terjadi karena :

1. Harapan masyarakat kurang memperhatikan tindakan sebenarnya atau sebaliknya.


2. Apabila harapan masyarakat akan tindakannya diketahui, akan tetapi waktu dan situasi
tidak memungkinkan bagi individu yang bersangkutan,
3. Apabila pemenuhan harapan masyarakat di luar kemampuan individu.

Masyarakat olahraga Indonesia masih kuat dengan konsep kalah menang, bahwa suatu
pertandingan hanya sebatas pemenang dan pecundang. Sehingga identik dengan
menyamaratakan status tanpa memahami peranan yang diemban. Kita menyamakan status
atlet kita dengan atlet dunia, tanpa mengerti proses untuk memperoleh status terlebih
peranannya seperti apa. Dunia olahraga wanita lebih memperoleh kesialan dari konsep ini.
Kita lebih tahu bahwa tim putri kita adalah pecundang tanpa mengerti siapa lawannya dan
proses untuk menjadi pecundang (karena kita memang kalah start dalam proses pembinaan
olahraga wanita). Tim sepakbola kita lebih banyak kalahnya, tim bulutangkis semakin
terpuruk, berpindahnya pebulutangkis putri harapan kita ke negara lain, ketidakmampuan
induk olahraga dalam proses regenerasi atlet wanita. Ini semua adalah trend yang semakin
memperburuk persepsi masyarakat terhadap aktivitas wanita berolahraga. Salah satu
penyebabnya adalah perbedaan kesempatan. Menururt Coakley (1990) dari beberapa kasus
bahwa wanita masih memiliki sedikit kesempatan dibandingkan pria, terutama di kota-kota
kecil dan wilayah pedesaan. Yang lebih sering terjadi adalah kekurangan, diantaranya dalam
hal :

1. Persediaan dan pemeliharaan peralatan dan penyebarannya.


2. Penjadwalan pertandingan dan waktu latihan.
3. Kesempatan memperoleh pelatihan dan tutor akademik.
4. Penugasan dan kompensasi pelatih dan tutor.
5. Ketersediaan obat-obatan dan pelayanan latihan serta fasilitas.
6. Publisitas bagi secara individu, team, dan event.

Harusnya Indonesia memiliki keuntungan dalam hal kesempatan perempuan


berolahraga, karena negara ini dipimpin oleh seorang perempuan juga, yang secara karakter
psikis lebih menonjolkan perasaan. Perempuan pun berkeinginan sama untuk mendapat
penghargaan selayaknya pria. Hanya proses ke arah itu tidak berkesempatan sama dengan
yang dimiliki pria karena terkait kebijakan yang dihasilkan adalah kesepakatan dominasi pria
yang duduk di lembaga legislatif dan eksekutif. Seandainya presiden negara ini berprioritas
pada peningkatan sumber daya perempuan (bukan sebatas retorika) denga tegas memberikan
ascribe status dan achieved status sebagai individu yang berhak mendapatkan kesempatan
dan penghargaan yang sama dengan lawan jenisnya. Dengan pertimbangan perspektif
sosiologis sebagai acuan dalam membicarakan kedudukan dan peran atlet di masyarakat
seperti yang dikemukakan Dr. Vassiliki Avgerinou dari Swiss dalam makalahnya Kedudukan
dan Peran Atlet di Masyarakat , yaitu :

1. Keberadaan atlet di masyarakat serta pribadi atlet sebagai individu dipandang sebagai
bagian dari pola-pola sosial; dan perasaan-perasaan mereka didasari oleh peraturan-
peraturan yang berlaku.
2. Individu yang hidup dalam suatu pranata sosial dan lingkungan masyarakat akan
terlibat kegiatan dan tindakan di dalam kehidupan sehari-harinya.
3. Sebagai individu yang rasional, seseorang mampu mengevaluasi tindakannya secara
intelektual.

Hal inilah yang setidaknya memberikan kontribusi bagi pemikiran agar status dan
peranan perempuan dalam olahraga memperoleh porsi yang lebih luas lagi menyerupai
kesempatan yang diperoleh pria. Perempuan tidak lagi berada di belakang dalam startnya
untuk memperoleh status dan peranan sosial di masyarakat dibandingkan kaum pria. Faktor
pendukung ke hal itu adalah kesadaran seluruh masyarakat. Bahwa bagaimanapun juga suatu
keberhasilan yang meningkatkan status bangsa di dunia internasional adalah buah kerja sama
antara pria dengan perempuan. Andai saja bangsa ini adalah negara yang menghormati
sejarah serta terus mengenangnya, kita diingatkan pada prestasi tertinggi yang diperoleh duta-
duta bangsa dalam olimpiade 1996 saat pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya
berkumandang adalah buah kerja keras seorang perempuan bernama Susi Susanti.
Perempuanlah sebenarnya yang menjadi perintis bagi KONI untuk terus mencanangkan
upaya mendulang medali pada olimpiade-olimpiade berikutnya. Hanya saya kita adalah
masyarakat hedonis yang bersuka cita sesaat tanpa mampu mengambil makna dari setiap
peristiwa yang mampu menorehkan prestasi spektakuler. Yang pada akhirnya kita tetap lupa
(atau mungkin mengabaikan) akan kemashuran atlet wanita yang berhasil mencetak
prestasi melebihi kaum pria. Sehingga status dan peranan wanita dalam olahraga masih terus
berada di belakang kaum pria.

Coakley (1990) mengungkapkan pula bahwa masih adanya mitos yang keliru dan masih
dipegang oleh masyarakat, terutama terjadi pada negara-negara yang tingkat pendidikan dan
informasi medik masih rendah :

1. Keikutsertaan yang berat dalam olahraga mungkin menjadi penyebab utama masalah
kemampuan menghasilkan keturunan.
2. Aktivitas pada beberapa event olahraga dapat merusak organ reproduksi atau
payudara wanita.
3. Wanita memiliki struktur tulang yang lebih rapuh dibandingkan pria sehingga lebih
mudah mengalami cedera.
4. Keterlibatan intens dalam olahraga menyebabkan masalah pada menstruasi.
5. Keterlibatan dalam olahraga membawa ke arah perkembangan yang kurang menarik,
menonjolkan otot.

Alasan-alasan inilah yang memperburuk persepsi masyarakat terhadap keterlibatan


wanita dalam olahraga yang secara langsung berpengaruh pada pemberian status dan peranan
sosial perempuan dalam kehidupannya secara khusus di bidang olahraga dan umumnya di
kehidupan keseharian di masyarakat di mana pola-pola interaksi sosial berlaku di
lingkungannya. Terlepas dari itu semua, bagaimanapun juga semakin banyak wanita yang
menyukai kegiatan fisik dengan tingkat penampilannya yang terus meningkat. Walaupun
terdapat masalah kesehatan khusus yang berhubungan dengan fungsi reproduksinya yang
unik, tetapi manfaatnya bagi kesehatan dan pergaulan sosial, jauh melebihi pengaruh-
pengaruh merugikan yang terjadi selama ini (Giriwijoyo, 2003 : 45).

Dengan mencermati bentuk mobilitas dan peranan perempuan dalam olahraga maka
pemberian status sosial kepada perempuan berolahraga hendaknya mampu diberikan sesuai
porsi proses yang telah dilakukannya. Hal ini mungkin berdampak kepada proses
menghilangkan perbedaan pemberian penghargaan diantara atlet pria dan perempuan yang
sama-sama menjadi juara di kelompoknya (gender). Misalnya sejumlah hadiah yang masih
dibedakan diberikan antara kelompok putra dengan putri. Meski mungkin pertimbangannya
adalah ketika pertandingan putra sering melahirkan tindakan yang lebih akrobatik, atraktif,
skill tinggi (jika dibandingkan dengan kelompok putri), terlebih jika didramatisir oleh pers
yang secara jumlah memang kaum pria di kalngan pers lebih banyak yang tentu saja akan
selalu memberikan dukungan lebih pada sesamanya, yang berdampak pada semakin
banyaknya jumlah penonton dan secara otomatis pemasukan keuntungan dari penjualan
karcispun lebih besar.

Terlepas dari itu, status perempuan berolahraga memang masih menempati porsi lebih
rendah dari kaum pria. Anekdotnya bisa dikatakan karena wanita kalah start. Semenjak
zaman Yunani dan Romawi, sebagai perintis olahraga modern, wanita belum memperoleh
kesempatan yang luas dibandingkan pria, bahkan dilarangnya berpartisipasi meski
sebenarnya telah memiliki kemampuan yang sama dengan pria (dari beberapa mitolog
Artemis dan Athena, Theseus, Hippolyta).

2.3 Hubungan Olahraga dengan Menstruasi, Kehamilan, dan Menopouse

2.3.1 Hubungan Olahraga dengan Siklus Menstruasi

Terdapat berbagai pengaruh yang didapatkan dari berolahraga terhadap siklus


menstruasi pada wanita. Pada dasarnya, melakukan aktivitas fisik saat menstruasi lebih
bermanfaat daripada tidak berolahraga sama sekali. Olahraga bisa mengurangi rasa kram atau
disminore yang sering dialami oleh wanita ketika hari pertama datang bulan. Selain itu,
latihan yang intens selama menstruasi akan memperlancar sirkulasi darah sehingga
mengurangi sakit kepala dan nyeri akibat kekurangan darah. Bahkan, olahraga membantu
Anda mengendalikan nafsu makan. Berbagai bentuk olahraga berpengaruh terhadap
menstruasi sebagai berikut:

1. Terlalu Sedikit Olahraga


Jika Anda termasuk wanita yang jarang sekali berolahraga, biasanya siklus
menstruasi akan terasa panjang dan cukup menyakitkan. Untuk itu, buatlah latihan rutin
secara bertahap, terutama ketika sedang menstruasi. Mulai dari olahraga ringan seperti
jalan cepat atau lari-lari kecil. Melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
mengepel atau mencuci baju juga merupakan bentuk olahraga kecil yang cukup
bermanfaat membuat tubuh aktif bergerak.
2. Fitnes dengan Intensitas Sedang (Moderate Fitness)
Wanita yang tingkat latihannya termasuk moderate fitness, umumnya siklus
menstruasi berjalan normal. Anda bisa tambahkan variasi latihan selama 45 menit
sampai 1 jam setiap sesinya, seperti latihan kardiovaskular, pilates, tari, yoga, atau
stretching. Dengan melakukannya lebih dari tiga kali seminggu membuat tubuh lebih
sehat dan siklus menstruasi teratur.
3. Terlalu Banyak Olahraga
Wanita yang berolahraga terlalu sering biasanya siklus menstruasinya tertunda,
apalagi jika tidak diikuti dengan asupan nutrisi yang cukup. Ketika kadar lemak
dalam tubuh di bawah 20 persen, siklus menstruasi Anda menjadi tidak teratur.

2.3.2 Hubungan Olahraga dengan Kehamilan

Terdapat perbedaan pengaruh olahraga terhadap kehamilan atau kesuburan


seorang wanita, perbedaan ini ada dari berat ringannya jenis olahraga yang dilakukan
oleh seorang. Olahraga tidak bahaya bagi ibu maupun calon anak. Selama tidak ada
larangan tidak diperbolehkan berolahraga dari ahl kandungan atau dokter, berarti
kondisi ibu dan calon bayi yang dikandungnya dalam keadaan normal.

Salah satu cara yang dapat ditempuh guna mengurangi derita kehamilan dan
persalinan adalah dengan melakukan olahraga atau latihan, sebaiknya didahului dulu
dengan konsultasi pada dokter atau ahli fisiologi. Wnita yang sedang hami juga harus
cermat dalam membaca sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuhnya. Jika latihan
tersebut membuatnya kelelahan, maka intensitas atau durasinya perlu diturunkan. Jika
ternyata gerakan-gerakan dalam latihan tersebut terlalu sulit untuk dilakukan, maka
dapat diganti dengan latihan yan lain, yang lebih sederhana. Beberapa olahraga yang
dapat dipilih yakni, jogging, jalan cepat, senam atau renang terutama, gaya dada.

Terdapat dua pendapat yang saling bertentangan antara mengenai olahraga dan
kehamilan, yakni pendapat pertama yang mengatakan bahwa kegiatan olahraga bagi
wanita hamil adalah berbahaya bagi wanita itu sendiri dan maupun bayi yang di
kandungnya. Sehingga wanita hamil dilarang utuk melakukan olehraga dan menambah
istirahatnya, sementara pendapat lainnya mengatakan bahwa wanita hamil perlu
melakukan olahraga untuk memperlancar proses persalinannya.
Setiap wanita yang hamil akan mengalami perubahan-perubahan fisiologis dan
psikhologis yang akan mempengaruhi seluruh sistem di dalam tubuhnya. Perubahan-
perubahan tersebut dimulai sejak terjadinya konsepsi, bahkan sebelum mereka
menyadari bahwa ada sesuatu yang menempati rahimnya. Hal itu akan terus
berlangsung selama masa kehamilan, bahkan sebagian efek penyesuaian fisiologis
belum akan kembali ke kondisi normal, hingga sekitar minggu ke enam setelah
persalinan.

Olahraga yang diperuntukkan bagi para wanita hamil tentu saja berbeda
dengan olahraga yang diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan juga yang lain.

1. Pengaruh olahraga terhadap sistem respirasi wanita hamil

Dari hasil tes ergometer bycicle diperoleh bahwa tidak ada perubahan kemampuan
ambilan O2 . Namun demikian, setiap beban latihan akan menyebabkan kenaikan
vetilasi per menit dan menurunkan perbedaan kadar O2 antara arteri dengan vena. Pada
awal masa kehamilan, latihan akan menyebabkan bertambahnya frekuensi respirasi,
namun pertambahan frekuensi akan menurun secara bertahap sejalan dengan
bertambahnya usia kehamilan (untuk beban yang sama). Mungkin kenaikan volume
tidal menyebabkan naiknya ventilasi per menit dan juga naiknya ambilan O2 .

2. Pengaruh olahraga terhadap kardiovaskuler wanita hamil

Kehamilan dan latihan sama-sama meningkatkan curah jantung. Kehamilan


menyebabkan naiknya heart rate (HR) istirahat, sementara latihan menurunkan heart
rate (HR) istirahat. Sehingga jika wanita yang hamil itu kesegaran jasmani baik, maka
reserve jantungnya akan relatif konstan. Kalau toh ada perubahan, maka perubahan itu
adalah kecil. Reserve jantung = volume sekuncup x (heart rate maksimal heart rate
istirahat).

Hingga minggu ke-25 atau ke-27, kenaikan curah jantung istirahat maksimal
mencapai 40%. Sementara pendapat lain menyatakan bahwa kenaikan curah jantung
akan mencapai harga maksimal pada usia kehamilan 38-40 minggu. Selama masa
kehamilan, heart rate akan naik, tapi volume sekuncup akan turun secara bertahap
mulai minggu ke 20-24 hingga tiba masa persalinan. Kenaikan curah jantung dan
volume sekuncup pada olahraga dengan intensitas sedang akan berkurang dengan
bertambahnya usia kehamilan. Penurunan reserve jantung akibat bertambahnya usia
kehamilan menyebabkan pengumpulan darah para vena perifer, yang selanjutnya juga
akan mengurangi venous return (pengembalian darah ke jantung). Karena kerja jantung
pada wanita hamil lebih berat, maka mereka sudah akan mencapai curah jantung
maksimal pada latihan dengan intensitas yang lebih rendah.

3. Pengaruh olahraga hormonal


Seperti laporan Artal, Platt, Sparling, Kammula, Jilek dan Nakamura tahun 1980 seperti
yang dikutip oleh Wells, dari penelitian atas 23 wanita hamil pada trimester pertama
yang diberi olahraga sangat ringan. Orang coba melakukan jalan pelan di treadmill
selama 15 menit. Diperoleh data bahwa oxygen uptake kurang dari 0.5 1. min-1 dan
juga menaikkan kadar glucagons, norepinephrine, epinephrine naik secara nyata.
Dengan pulih asal selama 30 menit, tidak ada perubahan kadar glucose dan cortisol,
yang menunjukkan bahwa latihan lebih merangsang syaraf symphatis disbanding
medulla adrenalis seperti juga pada wanita yang tidak hamil.

4. Petunjuk Berolahraga bagi Wanita Hamil


Secara pasti belum ada laporan yang jelas yang menyatakan adanya kontraindikasi atas
latihan selama kehamilan normal. Nampaknya, baik calon ibu maupun janinnya sudah
dilengkapi sedemikian rupa, sehingga mampu mengatasi sedikit penurunan reserve
jantung dan sedikit pengurangan aliran darah ke uterus yang disebabkan karena latihan.
Yang harus diperhatikan oleh para wanita hamil adalah sinyal-sinyal yang diberikan
oleh tubuhnya. Sinyal tersebut dapat bermacam-macam, misalnya perdarahan vagina
atau naiknya tekanan darah, nyeri atau pun tidak adanya gerakan janin. Jika salah satu
dari sinyal itu muncul, latihan harus dihentikan dan segera diperiksakan. Mungkin juga
akan dirasakan gejala yang lebih ringan seperti timbulnya ketidaknyamanan di dalam
latihan. Hal itu berarti latihan harus dikurangi durasinya, intensitasnya atau dihentikan
sama sekali. Bertambahnya berat badan dan perubahan struktur organ akan membuat
wanita hamil mengalami kesulitan untuk Akibat perluasan rongga perut dan perluasan
rongga pelvis akan menyebabkan pergeseran letak titik pusat berat badan dan nyeri
pinggang. Sementara pergeseran letak titik pusat berat badan juga kadang menganggu
keseimbangan tubuhnya. Latihan-latihan yang tepat selama masa kehamilan akan
memperkuat otot-otot pinggul dan otot-otot perut, sehingga akan mengurangi derita
sakit pinggul selama masa kehamilan.

5. Latihan selama hamil


Penelitian oleh Curet & Collings tahun 1981 atas wanita hamil yang dilatih dengan
cycling (berseri) pada 70% maximum oxygen uptake, yang diberi latihan 30 menit, 3
kali/minggu selama 14 minggu. Kelompok kontrol yang tidak melakukan latihan dites
secara periodik sepanjang masa kehamilan dan pada 6,5 minggu setelah melahirkan.
Diperkirakan kelompok yang dilatih mengalami peningkatan maximum oxygen uptake
sekitar 18% antara trimester II dan III dan menurun sekitar 16% antara trimester III
masa persalinan, saat tidak ada atau tidak melakukan latihan. Diperkirakan, kelompok
kontrol mengalami peningkatan 2% pada test di trimester III dan turun 21% setelah
persalinan. Jika nilai maximum oxygen uptake dinyatakan persatuan berat badan,
kelompok terlatih naik 8% dan kelompok kontrol turun 4% pada trimester III. Pada
masa persalinan, subjek terlatih mengalami penurunan 7% per satuan berat badan dan
kelompok kontrol turun 14%.

6. Dosis latihan selama masa kehamilan


Mestinya, untuk menentukan beban dan memilih jenis latihan berkonsultasi lebih
dahulu dengan dokter atau ahli fisiologi. Masa kehamilan bukanlah masa yang tepat
untuk memulai program latihan berat atau untuk menurunkan berat badan. Namun
demikian, bagi mereka yang bukan atlet juga akan lebih baik untuk meningkatkan
kesegaran jasmaninya melalui latihan. Bagi atlet yang sangat terlatih, mereka dapat
melanjutkan kegiatannya hingga kehamilannya memasuki usia 3 atau 4 bulan.
Memasuki bulan ke lima dan ke enam, intensitas latihannya harus dikurangi. Misalnya
jika biasanya melakukan jogging, maka lebih baik diganti dengan jalan cepat.
Sementara memasuki bulan ke 7 sampai ke-9, latihannya diganti dengan latihan-latihan
yang bersifat rekreatif. Jenis olahraga yang dapat dijadikan pilihan bisa jogging, jalan
cepat, senam atau renang.
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Kesehatan merupakan hak setiap manusia, artinya baik laki-laki maupun wanita berhak
untuk mendaapatkan kesehatan. Salah satu cara untuk memelihara kesehatan yakni
dengan berolahraga. Itu artinya laki-laki maupun wanita memilliki hak yang sama untuk
melakukan olahraga.

Terdapat perbedaan fisik antara wanita dan pria tampak jelas pada aspek anatomi tetapi
pada aspek fisiologis perbedaannya tidak tampak jelas maka dari itu olahraga pria
sekarang banyak digemari kaum wanita sampai olahraga ekstrim yang dilakukan oleh pria
ternyata kaum wanita juga tidak mau kalah.

Saat ini banyak olahraga untuk wanita yang sering terlihat di masyakarat. Sehingga
dapat memungkinkan bahwa wanita dapat berpartisipsi dalam perlombaan tersebut agar
bisa menyalurkan bakatnya. Dengan kata lain wanita mampu bersaing dalam bidang
olahraga dengan kapasitas-kapasitas yang dimilikinya dengan tujuan meraih prestasi.

Olahraga juga dapat dilakukan oleh wanita saat sedang mengalami menstruasi, hamil
maupun sudah lanjut usia. Asalkan pelaksanaan olahraga harus sesuai dengan kaidah
pelaksanaan olahraga yang baik dan benar serta sesuai dengan kapasitas dan kemampuan
tubuh.

Selain itu, olahraga juga dapat membuat wanita dapat terhindar dari berbagai macam
masalah kesehatan seperti terhindar dari penyakit. Dengan kata lain berolahraga mampu
menurunkan risiko seseorang terkena penyakit. Banyak pula manfaat yang muncul dari
kegiatan berolahraga seperti meningkatnya tingkat kesehatan tubuh, meningkatnya daya
tahan kardiovaskuler, menjaga kesehatan jantung paru, meningkatkan kapasitas VO2 max
maupun kadar hemoglobin dalam darahnya dan masih banyak lagi manfaat olahraga bagi
kesehatan.
Daftar Pustaka

http://www.asalasah.com/2015/05/perbedaan-wanita-dan-pria-secara-biologis.html diakses
pada tanggal 13 Januari 2017

http://wiyataolahraga.blogspot.co.id/2016/04/gender-di-dalam-olahraga.html diakses pada


tanggal 13 Januari 2017

https://www.merdeka.com/sehat/pengaruh-olahraga-terhadap-siklus-menstruasi.html diakses
tanggal 13 Januari 2017

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Prof.%20Dr.%20Suharjana,
%20M.Kes./MANFAAT%20OR%20BAGI%20WANITA%20HAMIL.pdf diakses tanggal 13
Januari 2017

Artaria, Myrtati D. 22. Perbedaan Laki-laki dan Perempuan:Penelitian Antropometris pada


Anak-anak Umur 6-19 Tahun. Surabaya: Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik,
No.3:343-349