Anda di halaman 1dari 56

ANALISIS TATANIAGA KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.

)
Studi Kasus : Kecamatan Parbuluan, Desa Parbuluan III Kabupaten Dairi

LAPORAN

OLEH :

GRACE ANASTHASYA
120304087
AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
ANALISIS TATANIAGA KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.)
Studi Kasus : Desa Parbuluan III, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi

LAPORAN

OLEH :

GRACE ANASTHASYA
120304087
AGRIBISNIS

Laporan Sebagai Salah Satu Tugas Praktikum Tata Niaga Pertanian


Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh: Diperiksa Oleh:


Asisten Koordinator Asisten Korektor

(Helova L. Panjaitan, SP) (Helova L. Panjaitan, SP)

Diketahui Dosen Penanggung Jawab

(Ir. Luhut Sihombing, MP)


NIP. 196510081992031001

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
ANALISIS TATANIAGA KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.)

GRACE ANASTHASYA

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan di desa Parbuluan III, Kecamatan Parbuluan Kabupaten
Dairi yaitu pada tanggal 08 Juni 2014. Desa Parbuluan merupakan salah satu
wilayah dari Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Propinsi Sumatera Utara,
dengan luas wilayah 235,40 km2 dengan jumlah penduduk 16.2523 jiwa.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui mata rantai tata niaga Kopi Arabika di
Kecamatan Sidikalang dan menganalisis biaya dan margin tata niaga untuk
mengetahui efisiensi tata niaga sehingga dapat dianalisis kebijaksanaan perbaikan
tata niaga di daerah penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dengan mensurvey
tentang komoditi kopi arabika mulai dari farm gate (produsen) sampai ke
konsumen akhir dan dengan menggunakan pendekatan apa yang terjadi (what
happens scholl). Pelaku-pelaku tataniaga kopi Arabika di desa Parbuluan yaitu:
Petani (Produsen), Pedagang Pengumpul, Pengolah Kopi.

Dalam jalur tata niaga Kopi Arabika di desa Parbuluan III, ada 3 jalur pemasaran
yang dilalui yaitu Produsen Pedagang Pengumpul Pengolah Kopi
Konsumen. Harga Kopi Arabika di tingkat produsen adalah Rp 24.000, harga kopi
arabika di tingkat konsumen adalah Rp 87.000. Jadi Marketing Margin adalah
sebesar Rp 63.000. Nisbah margin keuntungan terbesar dari jalur tata niaga kopi
arabika yang dilakukan di Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi didapat oleh
pedagang pengolah kopi yaitu sebesar 4,51. Nilai elastisitas dari analisis yang
didapat adalah sebesar 0,076, berarti nilai efisiensi < 1, artinya jalur tataniaga kopi
arabika yang dilakukan di Desa Parbuluan III tersebut tergolong tidak efisien
untuk diusahakan karena respon harga di tingkat petani dengan tingkat produsen
sangat rendah.

Kata kunci : Tata Niaga, Kopi Arabika, Marketing Margin.


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat

rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum ini

dengan baik.

Adapun judul laporan ini adalah Analisis Tata Niaga Kopi Arabika

Coffea arabica L.), Studi Kasus: Desa Parbuluan III, Kec. Parbuluan, Kab. Dairi

yang merupakan tugas praktikum Tata Niaga Pertanian yang diberikan oleh dosen

penanggung jawab Praktikum Tata Niaga Pertanian.

Tim Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen Mata Kuliah

Tata Niaga Pertanian yaitu Bapak Ir. Luhut Sihombing, M.P, serta kepada

Abang dan Kakak Asisten Tata Niaga Pertanian yang turut membantu penulis

dalam menyelesaikan laporan ini dengan baik.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih kurang sempurna. Oleh sebab itu,

penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat menjadikan laporan ini jauh

lebih baik dan sesuai dengan yang diharapkan.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini bermanfaat

bagi kita semua.

Medan, Juni 2015

Penulis
DAFTAR ISI

ABSTRAK

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

DAFTAR TABEL..................................................................................................iv

DAFTAR BAGAN..................................................................................................v

DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan....................................................................................4
1.3 Kegunaan Penulisan...............................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................6


2.1 Botani Kopi Arabika..............................................................................6
2.2 Manfaat Kopi Arabika............................................................................8
2.3 Tata Niaga sebagai Suatu Disiplin Ilmu...............................................11

BAB III RUANG LINGKUP DAN METODE.................................................14


3.1 Definisi-definisi yang Digunakan........................................................16
3.2 Pemilihan Kualitas Kopi Robusta........................................................18
3.3 Area/Lokasi serta Saluran (Channel)...................................................21
3.4 Hambatan-Hambatan dalam Melakukan Penelitian.............................21

BAB IV DESKRIPSI DAERAH,PELAKU DAN RANTAI TATA NIAGA....22


4.1 Gambaran Wilayah dan Batas Wilayah................................................22
4.2 Fasilitas Wilayah..................................................................................23
4.3 Jenis komoditi......................................................................................23
4.4 Pelaku Tata Niaga.................................................................................24
4.4.1 Petani...........................................................................................24
4.4.2 Pedagang Pengumpul..................................................................24
4.4.3 Pedagang Pengolah Kopi Arabika...............................................25
4.5 Rantai Pemasaran.................................................................................25

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................27


5.1 Hasil.....................................................................................................27
5.1.1 Analisis Price Spread...................................................................28
5.1.2 Profit Margin Setiap Tingkat.......................................................29
5.1.3 Total Biaya Setiap Tingkat..........................................................29
5.1.4 Total Ongkos dari Produsen ke Konsumen.................................29
5.1.5 Perhitungan.................................................................................29
5.2 Pembahasan..........................................................................................33

BAB VI RENCANA UNTUK PERBAIKAN.....................................................35


6.1 Kebijaksanaan Pemerintah...................................................................35
6.2 Rekomendasi Program.........................................................................35
6.3 Lembaga...............................................................................................36
6.4 Fasilitas................................................................................................36

BAB VII KESIMPULAN.....................................................................................37


7.1 Kesimpulan..........................................................................................37
7.2 Saran.....................................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

No. Judul Hala


Tabel 1 : Fasilitas Wilayah 23
Tabel 2 : Analisis Price Spread 27
Tabel 3 : Profit Margin 28
Tabel 4 : Total Biaya Setiap Tingkat 28
Tabel 5 : Total Ongkos Dari Produsen ke Konsumen 30

DAFTAR BAGAN

No. Judul Hal


Bagan 1. Rantai Tataniaga Kopi Arabika 26
DAFTAR LAMPIRAN

No. Keterangan

1. Gambar 1. Tim Bersama Perangkat Desa Parbuluan III

2. Gambar 2. Tim Bersama Petani


3. Gambar 3. Tim Bersama Pedagang Pengumpul

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komoditas tanaman perkebunan di Indonesia menjadi tulang punggung

perekonomian masyarakat Indonesia. Produk-produk perkebunan memiliki


prospek yang bagus untuk dikembangkan. Prospek itu antara lain adalah

tumbuhnya industri hilir sampai hulu, menciptakan lapangan pekerjaan,

meningkatkan penghasilan petani perkebunan dengan nilai jual yang tinggi,

tersedianya lahan yang cukup luas serta menghasilkan aneka produk olahan yang

dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Tak terkecuali kopi, tanaman kopi

merupakan salah satu genus dari famili Rubiaceae. Genus tanaman kopi ini

memiliki sekitar 100 spesies, namun dari 100 spesies itu hanya dua jenis yang

paling populer dan memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu kopi Arabika dan kopi

Arabika (Budiman, 2010).

Tanaman kopi banyak dibudidayakan di dataran tinggi dan pegunungan. Pusat

persebaran tanaman kopi terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera dalam bentuk

perkebunan kopi. Sebagian besar perkebunan kopi yang dikelola pemerintah

Indonesia saat ini merupakan peninggalan kolonial Belanda. Masyarakat sendiri

membudidayakan tanaman kopi secara tradisional. Meskipun demikian, budidaya

kopi tradisional ini memberikan sumbangan terbesar terhadap skala produksi kopi

secara nasional (Pracaya dan Kohono, 2011).

Kopi merupakan sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan

ekstraksi biji tanaman kopi. Kata kopi sendiri berasal dari bahasa Arab qahwah

yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan

berenergi tinggi. Kata qahwah kembali mengalami perubahan menjadi kahveh

yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah menjadi koffie dalam

bahasa Belanda. Segera diserap ke bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang

dikenal saat ini (Budiman, 2012)


Salah satu kopi yang diusahakan petani sebagian produksi kopi dunia adalah kopi

Arabika, karena rasa dan aromanya lebih unggul, kemudian menyusul kopi

Arabika dan kopi Liberika (AAK, 1988).

Kopi Arabika adalah Kopi tradisional, dan dianggap paling enak rasanya. Kopi

yang berasal dari Etiopia ini sekarang sudah dibudidayakan di Indonesia. Dengan

ciri-ciri memiliki variasi rasa yang lebih beragam, dari rasa manis dan lembut dan

halus hingga kuat dan tajam. Kopi Arabika menguasai 70 persen pasar kopi dunia

dan memiliki banyak varietas, tergantung negara, iklim, dan tanah tempat kopi

ditanam (Budiman, 2010).

Indonesia menjadi penghasil kopi Arabika terbaik di dunia dan sebagai penghasil

kopi Arabika terbaik kedua di dunia setelah Vietnam. Total produksi kopi

Indonesia mencapai 700.000 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 80% kopi

Arabika dan 90% kopi Arabika diekspor. Kopi Arabika yang telah dikenal di

dunia antara lain Kopi Gayo, kopi Sumatera, kopi Java dari Jawa Timur, Bali dan

Flores (Rukmana, 2014).

Kabupaten Dairi berada pada ketinggian 1066 mdpl dan merupakan dataran tinggi

dan berbukit dengan lahan yang sangat subur dan sangat potensial untuk

pertanian. Hasil pertanian yang banyak ditemukan di daerah ini adalah padi, buah-

buahan, sayur-sayuran, dan hasil perkebunan. Berdasarkan data Kabupaten Dairi

pada tahun 2012 perkebunan kopi pada daerah ini seluas 18. 407 Ha dimana luas

lahan dari kebun kopi Arabika adalah 10.504,5 Ha dengan produksi sebesar

8.541,5 ton dan luas lahan kebun kopi Arabika adalah atau 9,54 persen dari luas

wilayah dimana luas wilayah kabupaten Dairi adalah 192.780 Ha dimana


perkebunan kopi ini merupakan perkebunan rakyat dan sebagian besar kebun kopi

dimiliki dan dikelola oleh masyarakat setempat.

Pengembangan suatu komoditas pertanian dari aspek ekonomi sangat tergantung

pada tingkat pendapatan atau kelayakan usaha. Usaha perbaikan di bidang tata

niaga memegang peranan penting karena usaha peningkatan produksi saja tidak

mampu untuk meningkatkan pendapatan petani bila tidak didukung dan

dihubungkan dengan situasi pasar. Tingginya biaya tata niaga akan berpengaruh

terhadap harga eceran (harga konsumen) dan harga pada tingkat petani (harga

produsen). Dapat diketahui bahwa tata niaga adalah suatu sistem dari kegiatan-

kegiatan yang merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan

mendistribusikan barang dan jasa kepada kelompok pembeli. Dukungan sistem

tata niaga yang lancar dan dengan margin tata niaga yang proporsional, akan

sangat mendorong petani untuk berusaha lebih baik (Anonymousa, 2015).

Dalam suatu usaha, tata niaga merupakan fungsi yang luas dan dalam yang

mempengaruhi seluruh aspek operasi usaha tersebut. Oleh karena itu perlu adanya

suatu bagian yang paling tepat yang bertanggung jawab untuk tugas tata niaga.

Bagian yang paling tepat untuk memainkan peran itu adalah manajemen tata

niaga. Tata niaga tidak hanya merupakan lalu lintas barang dari produsen ke

konsumen tetapi juga mencakup kegiatan sebelum dan sesudah tata niaga seperti

perencanaan kegiatan. Dengan demikian dapatlah diartikan bahwa semua unsur

apakah ia perorangan, perusahaan, atau lembaga yang secara langsung terlibat

dalam proses pengaliran barang dari produsen ke konsumen disebut lembaga tata

niaga, antara lain seperti pedagang pengumpul, pedagang pengecer, broker,

perusahaan pengengkutan dan perusahaan dagang (Anonymousb, 2015).


Efisiensi tata niaga terjadi apabila mampu mengadakan pembagian yang adil dari

keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen akhir kepada semua pihak yang

ikut serta dalam kegiatan produksi dan tata niaga barang tersebut. Yang dimaksud

adil adalah pemberian balas jasa dari fungsi-fungsi produksi dan tata niaga sesuai

dengan sumbangan masing-masing. Efisiensi tata niaga sangat penting supaya

masing-masing lembaga mendapatkan keuntungan sesuai apa yang telah mereka

keluarkan (input). Jika tidak ada efisiensi tata niaga maka ada pihak atau lembaga

yang dirugikan karena mungkin lembaga tersebut telah mengeluarkan input lebih

besar dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkannya dan begitu juga

sebaliknya, lembaga yang mengeluarkan input lebih kecil tetapi mendapatkan

keuntungan yang besar, dan akan terjadilah kesenjangan keuntungan yang

diperoleh (Anonymousc, 2015).

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan laporan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mempelajari jenis / macam mata rantai tata kopi arabika.
b. Mempelajari / menganalisis biaya margin tata niaga kopi arabika.
c. Menganalisis efisiensi tata niaga kopi arabika.
d. Menganalisis langkah kebijaksanaan perbaikan tata niaga kopi arabika.

1.3 Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan Laporan Penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sebagai tugas akhir praktikum mata kuliah Tata Niaga Pertanian Program studi

Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara


b. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan khususnya yang

terlibat dalam bidang pertanian dalam mengatasi permasalahan tata niaga yang

ada.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman


Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, khususnya untuk

kopi jenis Arabika. Hal ini dapat dilihat dari jumlah ekspor dari Indonesia yang

dilakukan oleh perusahaan eksportir komoditas kopi. Beberapa tahun terakhir,

berbagai perusahaan asing telah melakukan ekspansi besar - besaran untuk

mendapatkan Kopi Arabika di Sumatera Utara, Aceh Tenggara, dan Sulawesi

Selatan (Panggabean, 2011).

Kopi jenis Arabika merupakan jenis kopi yang pertama kali dibudidayakan di

Indonesia. Kopi ini tumbuh sangat baik di daerah dengan ketinggian 1.000-2.100

m di atas permukaan laut (dpl). Semakin tinggi lokasi perkebunan kopi Arabika,

cita rasa biji kopi yang dihasilkan semakin baik. Perakaran tanaman kopi Arabika

lebih dalam dibanding perakaran kopi Arabika (Rukmana, 2014).

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Rubiales

Family : Rubiaceae

Genus : Coffea

Spesies : Coffea arabica L.

(Budiman, 2011).

Tanaman kopi terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan batang. Tanaman kopi

berbentuk pohon semak bercabang. Apabila dibiarkan tumbuh, bisa mencapai

ketinggian sampai 12 m. Tanaman kopi dipangkas secara rutin untuk merangsang

pembungaan dan pembuahan. Sehingga, umumnya tanaman kopi tumbuh pendek

dengan ketinggian sekitar 2 meter saja. Tanaman kopi tumbuh antara tanaman
pelindung karena tanaman dapat tumbuh baik di tempat terbuka dengan intensitas

matahari yang tidak berlebihan. Sebab, paparan sinar matahari yang berlebih atau

sebaiknya kekurangan, akan mengganggu pertumbuhan tanaman kopi (Nurhakim

dan Rahayu, 2014).

Tanaman kopi merupakan jenis tanaman berkeping dua (dikotil) dan memiliki

akar tunggang. Pada akar tunggang, ada beberapa akar kecil yang tumbuh ke

samping (melebar) yang sering disebut akar lebar. Pada akar lebar ini tumbuh akar

rambut, bulu-bulu akar, dan tudung akar. Tudung akar berfungsi untuk melindungi

akar ketika mengisap unsur hara dari tanah (Panggabean, 2011).

Batang dan percabangan pada kopi terdiri dari cabang primer (plagiotrop), cabang

sekunder, cabang reproduksi (orthotrop), cabang balik, dan cabang kipas. Cabang

primer berfungsi sebagai cabang reproduksi serta tempat tumbuhnya cabang

sekunder dan cabang balik. Cabang sekunder berfungsi sebagai tempat tumbuhnya

cabang reproduksi atau ranting bunga dan buah. Cabang reproduksi berfungsi

sebagai cabang reproduksi dan dapat menggantikan fungsi batang (dapat

mengeluarkan ranting yang dapat menghasilkan buah). Cabang balik berfungsi

sebagai tempat reproduksi dan tempat tumbuhnya bunga dan buah. Cabang kipas

sebagai cabang reproduksi dan bersifat seperti batang tanaman (AAK, 1988).

Secara umum, daun kopi berbentuk seperti telur, bergaris ke samping,

bergelombang (talang air), hijau pekat kekar, dan meruncing di bagian ujungnya.

Daun tumbuh dan tersusun secara berdampingan di ketiak batang, cabang, dan

ranting. Sepasang daun terletak di bidang yang sama di cabang dan ranting yang

tumbuh mendatar (Panggabean, 2011).


Bunga kopi tumbuh pada cabang primer atau cabang sekunder, tersusun

berkelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 4-6 kuntum bunga yang

bertangkai pendek. Pada tiap-tiap ketiak daun dapat 3-4 kelompok bunga, maka

pada setiap ketiak dapat keluar sampai ribuan kuntum bunga, tetapi pada

umumnya yang dapat menjadi buah kurang lebih hanya 40% saja. Bunga yang

sudah mekar berwarna putih (AAK, 1988).

Buah kopi mentah berwarna hijau muda, setelah itu berubah menjadi hijau tua,

lalu kuning, buah kopi matang (ripe) berwarna merah atau merah tua. Ukuran

panjang buah kopi jenis arabika sekitar 12-18 mm. Susunan buah kopi terdiri dari

lapisan kulit luar (eksokarp), lapisan daging buah (mesokarp), lapisan kulit tanduk

(endokarp), dan biji yang terbungkus dengan kulit ari (Panggabean, 2011).

2.2 Manfaat Kopi

Kopi merupakan minuman berwarna hitam pekat yang mampu memberikan cita

rasa unik bagi yang meminumnya. Bahkan, tidak sedikit yang kecanduan karena

cita rasa kafeinnya yang sekitar 1-1,5%. Kafein merupakan senyawa kimia

alkaloid yang disebut trimetilsantin. Kafein dapat bereaksi dengan asam, basa, dan

logam berat dalam asam. Walaupun kandungan kafein dalam kopi hanya sedikit,

tetap senyawa ini berfungsi sebagai perangsang yang bersifat bukan alkohol,

tetapi digunakan sebagai obat. Senyawa ini dapat mempengaruhi sistem syaraf

pusat otot dan ginjal. Pada sistem syaraf pusat, kafein dapat mencegah rasa

kantuk, menaikkan daya tangkap pancaindera, mempercepat daya pikir, dan

mengurangi rasa lelah.


Menurut Harvard Womens Health, konsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat

mengurangi resiko diabetes tipe dua, pembentukan batu ginjal, kanker usus besar,

penyakit parkinson, kerusakan fungsi hati (sirosis), penyakit jantung serta

menghambat penurunan daya kognitif otak. Secara terinci manfaat kopi untuk

mencegah berbagai penyakit adalah sebagai berikut:

1. Diabetes, hasil studi yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa

kopi mengurangi resiko diabetes tipe dua hingga 50%. Para peneliti menduga

penyebabnya adalah asam klorogenik di dalam kopi yang memperlambat

penyerapan gula dalam pencernaan Asam klorogenik juga merangsang

pembentukan GLP-1, hormon yang mengatur penyerapan gula ke dalam sel.

Zat lain dalam kopi adalaah trigonelin (pro-vitamin B3) yang diduga

membantu penyerapan glukosa. Orang yang mengonsumsi 3-4 cangkir kopi

secara reguler atau kopi decal (dengan kadar kafein yang dikurangi) akan

menurunkan resiko mengembangkan diabetes tipe dua hingga 30%. Asam

klorogenik dapat mencegah resistensi insulin yang merupakan pertanda

adanya penyakit diabetes.


2. Kanker. Riset secara konsisten menunjukkan bahwa kopi mengurangi resiko

kanker hati, kanker payudara dan kanker usus besar. Menurut hasil studi yang

dipublikasikan di The Journal of Nutrition, menjelang masa manopause,

wanita yang mengonsumsi empat cangkir kopi sehari mengalami penurunan

resiko kanker payudara sebesar 38%. Kopi melepaskan phytoestrogen dan

flavanoid yang dapat menahan pertumbuhan tumor. Meskipun demikian,

konsumsi kurang dari empat cangkir tidak akan mendapatkan manfaat

tersebut.
3. Penyakit Parkinson. Para peminum kopi memiliki resiko terkena parkinson

(syaraf) setengah lebih rendah dibanding mereka yang tidak minum kopi.

Peminum kopi berkafein cenderung tidak mengembangkan penyakit

Alzhaimer dan Parkinson. Kandungan antioksidan dalam kopi mencegah

kerusakan syaraf dan dihubungkan dengan parkinson sementara kafein yang

menghambat peradangan di dalam otak yang kerap disebutkan dengan

Alzhaimer.
4. Penyakit jantung dan stroke. Konsumsi kopi tidak meningkatkan resiko

jantung dan stroke. Sebaliknya, kopi justru sedikit mengurangi resiko stroke.

Suatu studi atas lebih dari 83.000 wanita berusia lebih dari 24 tahun

menunjukkan bahwa mereka yang minum 2-3 cangkir kopi sehari memiliki

resiko terkena stroke 19% lebih rendah dibanding mereka yang tidak minum

kopi. Studi terhadap sejumlah pria di Finlandia menunjukkan hasil yang sama.
5. Fungsi kognitif. Studi diatas 4.197 orang wanita dan 2.820 orang pria di

Prancis menunjukkan bahwa meminum 3 cangkir kopi sehari dapat

menghambat penurunan fungsi kognitif otak akibat penuaan hingga 33% pada

wanita. Manfaat yang sama ternyata tidak ditemukan pada pria. Hal ini

mungkin wanita lebih peka terhadap kafein (Rukmana, 2014).

2.3 Tata Niaga sebagai Suatu Disiplin Ilmu

Tata niaga sebagai kegiatan produksi mampu meningkatkan guna tempat, guna

bentuk dan guna waktu. Dalam menciptakan guna tempat, guna bentuk dan guna

waktu ini memerlukan biaya pemasaran.Pemasaran produk agraris, cenderung


merupakan proses yang kompleks, sehingga saluran distribusi lebih panjang dan

mencakup lebih banyak perantara. Ada beberapa ciri produksi pertanian yang

mempengaruhi hasil-hasil pertanian: pertama, produksi dilalukan secara kecil-

kecilan. Kedua, produksi terpencar. Ketiga, produksi musiman, menyebabkan

kesulitan dalam tata niaganya, dimana harus ada fasilitas-fasilitas penyimpanan

yang sudah pasti menyebabkan bertambahnya biaya tata niaga. Biaya pemasaran

ini diperlukan untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran oleh lembaga-lembaga

pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dari produsen kepada konsumen

akhir. Pengukuran kinerja pemasaran ini memerlukan ukuran efisiensi pemasaran

(Sihombing, 2011).

Dalam tata niaga hasil-hasil pertanian umumnya ada tiga tahap proses

penyampaian komuditas atau barang mulai dari produsen sampai kepada

konsumen. Tahap-tahap tersebut adalah 1) Proses konsentrasi dimana pedagang

perantara mengumpulkan barang-barang dari produsen dan pedagang besar

mengumpulkan barang-barang dari pedagang pengumpul ; 2) Proses equalisasi

dimana pedagang besar menahan barangnya untuk sementara sebelum dijual ke

pasar ; 3) Proses diversi yaitu proses penjualan barang dari pedagang besar sampai

kepada konsumen (Anonymousb, 2015).

Sejalan dengan batasan tata niaga yang menghubungkan sektor produksi dengan

sektor konsumen, maka diantara produsen dengan konsumen ada jarak yang

ditempuh oleh komoditi sebelum sampai ke konsumen. Disepanjang perjalanan

komoditi tersebut terdapat pihak-pihak sebagai perantara yang terdiri dari

pedagang dll. Jumlahnya tidak selalu sama, ada yang dua saja, ada yang tiga

bahkan lebih. Mereka ini biasanya disebut sebagai lembaga tata niaga. Lembaga
tata niaga merupakan pihak-pihak yang secara langsung menangani perjalanan

suatu komoditi. Lembaga tata niaga dalam penyempurnaan dan perbaikan tata

niaga ditujukan terutama pada kelancaran tata niaga, seperti dapat mengadakan

tempat, jumlah barang, keadaan barang, dan sebagainya yang diminta konsumen

dalam keadaan sempurna (Anonymousc, 2015).

Sistem pemasaran yang kurang efisien akan mengakibatkan biaya pemasaran yang

relatif besar. Dengan demikian akan mengakibatkan harga jual produk hasil

pertanian menjadi tinggi. Tingginya biaya pemasaran ini akan dibebankan kepada

produsen dengan menekan tingkat harga dan menaikkan harga dikonsumen,

sehingga produsen dan konsumen akan dirugikan. Setiap kegiatan pemasaran

memerlukan biaya mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pengolahan

pembayaran retribusi, bongkar muat dan lain-lain. Jadi bisa disimpulkan biaya

pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran (pedagang)

dalam menyalurkan hasil pertanian dari produsen ke konsumen (Anonymous b,

2015).

Lembaga pemasaran adalah badan atau usaha atau individu yang

menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen

kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau

individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan

konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan

bentuk keinginan konsumen. Tugas lembaga pemasaran ini adalah menjalankan

fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal

mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran ini

berupa margin pemasaran (Anonymousb, 2015).


Tata niaga bersifat produktif selalu berkaitan dengan efisiensi ekonomi. Didalam

rangka perbaikan tata niaga tujuan yang ingin dicapai adalah keuntungan yang

maksimum dan singkat efisiensi yang tinggi. Penurunan ongkos tata niaga tidak

selalu berarti peningkatan efisiensi tata niaga, oleh karena tinggi rendahnya

ongkos tata niaga tidak selalu mempengaruhi efisiensi tata niaga, namun dalam

banyak hal kasus penurunan ongkos tata niaga suatu komoditi serta menaikkan

kualitas komoditi (hal ini berarti meningkatkan kepuasan konsumen) merupakan

salah satu faktor penting dalam meningkatkan efisiensi tata niaga (Sihombing,

2011).

BAB III
RUANG LINGKUP DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode Survey tentang komoditi Kopi

Arabika, mulai dari farm gate (petani) sampai ke konsumen akhir dan dengan

menggunakan pendekatan apa yang terjadi (what happens scholl). Alat analisis
yang digunakan meliputi analisis margin pemasaran, yang terdiri dari biaya

pemasaran, margin keuntungan, dan nisbah margin keuntungan yaitu sebagai

berikut:

Mji = Psi-Pbi

Atau

Mji = bti + i

i = Mji bti

Total margin pemasarannya yaitu sebagai berikut:

Mji = Mji, atau Pr Pf

Keterangan:

Mji : Margin pada lembaga pemasaran tingkat ke-i

Psi : harga jual kembaga pemasaran tingkat ke-i

Pbi : Harga beli lembaga pemasaran tingkat ke-i

bti : Biaya pemasaran lembaga pemasaran tingkat ke-i

i : Keuntungan lembaga pemasaran tingkat ke-i

Mj : Total / Margin pemasaran

Pr : harga pada tingkat konsumen

Pf : harga pada tingkat produsen (petani)

Untuk analisis nisbah margin keuntungan, secara matematis dapat dituliskan

sebagai berikut :

Nisbah margin keuntungan = i/bti

Dengan menggunakan model penduga regresi linear sederhana (OLS Methods):

P = bo + b1 +c, maka
Sehingga hubungan harga pada tingkat petani (Pf) dan harga pada tingkat

eksportir (Pr), seperti halnya persamaan:

Pf = a + b Pr

Dari persamaan tersebut, akan didapatkan koefisien korelasi antara P f dan Pr.

koefisien korelasi (r) antara Pf dan Pr dapat diduga dengan mengggunakan formula

Keterangan:

Xi : harga ditingkat petani

Yi : harga ditingkat konsumen

Koefisien korelasi yang tinggi merupakan indicator keeratan hubungan kerja

kedua tingkat dasar (kedua pasar terintegrasi sempurna). Sebaliknya koefisien

korelasi yang rendah atau mendekati nol menunjukkan hubungan pasar tidak

terintegrasi. Elastisitas tranmisi harga, merupakan persentase perubahan harga

ditingkat petani produsen akibat persentase perubahan harga ditingkat konsumen

akhir akhir. Analisis elastisitas transmisi harga digunakan untuk menggambarkan

respons harga Arabika ditingkat petani produsen karena perubahan harga ditingkat

eksportir melalui informasi harga. Untuk menghitung elastisitas transmisi harga

digunakan formula:
Keterangan :

Nj : elastisitas transmisi harga

b : Koefisien regresi

Pf : harga ditingkat petani

Pr : harga ditingkat eksportir/ Konsumen akhir

Perhitungan Efisiensi Tata Niaga () dapat dirumuskan :

Dimana:

: Keuntungan lembaga tata niaga

p : Keuntungan petani produsen

: Ongkos lembaga tata niaga

p : ongkos produksi yang dikeluarkan petani

3.1 Definisi dari istilah-istilah yang digunakan

Definisi-definisi yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Biaya pemasaran adalah semua ongkos yang dikeluarkan dalam rangka

penyampaian barang dari produsen ke tangan konsumen akhir.


2. Biaya tataniaga adalah semua ongkos yang dikeluarkan secara langsung

dalam pemberian jasa kegiatan tataniaga seperti handling, packing, transport,

greading, storing dan lain-lain.


3. Marketing Margin adalah perbedaan harga yang diterima oleh produsen

dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir.


4. Retailer margin adalah selisih harga yang dibayarkan konsumen dengan harga

yang dibayarkan oleh sipengecer.


5. Profit margin adalah besarnya keuntungan/ balas jasa yang diterima oleh

setiap maddleman atau lembaga tataniaga.


6. Marketing Loss adalah Bagian yang hilang pada saat proses pengolahan.
7. Nisbah margin keuntungan adalah keuntungan yang diperoleh dari hasil

transaksi jual-beli antara lembaga-lembaga pemasaran.


8. Margin pada lembaga pemasaran tingkat ke-I (Mji) adalah besar kecilnya

keuntungan yang didapat oleh lembaga pemasaran pertama.


9. Harga jual lembaga pemasaran tingkat ke-I (Psi) adalah sejumlah biaya yang

dikeluarkan oleh lembaga pemasaran tingkat pertama.


10. Harga beli lembaga pemasaran tingkat ke-I (Pbi) adalah harga yang

ditawarkan oleh lembaga pemasaran tingkat pertama .


11. Biaya pemasaran lembaga pemasaran tingkat ke-I (bti) adalah semua ongkos/

korbanan yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran tingkat pertama.


12. Elastisitas transmisi harga (Nj) adalah perubahan harga ditingkat petani

produsen akibat persentase perubahan harga ditingkat konsumen akhir.


13. Koefisien regresi (b) berfungsi untuk membentuk suatu persamaan terhadap

suatu masalah.
14. Total margin pemasaran (Mj) adalah keseluruhan perbedaan harga yang

diterima oleh produsen (petani) dengan harga yang dibayarkan oleh

konsumen akhir.
15. Harga pada tingkat konsumen (Pr) adalah harga yang dikenakan terhadap

berbagai jenis barang ataupun jasa untuk dikonsumsi.


16. Harga pada tingkat produsen (petani) (Pf) adalah harga jual yang diterima

terhadap berbagai jenis produk.


17. Harga pada tingkat eksportir (Pr) adalah harga yang diterima oleh eksportir

sebagai lembaga pemasaran.


18. Keuntungan lembaga tata niaga () adalah harga jual suatu produk dikurangi

dengan ongkos-ongkos yang dikeluarkan dalam menyampaikan produk.


19. Ongkos produksi yang dikeluarkan petani (p) adalah semua korbanan yang

dikeluarkan oleh petani dalam memproduksi suatu barang ataupun jasa.


20. Resiko panen adalah Panen tidak selalu sesuai dengan harapan. Bilamana

hasilnya dijauh lebih kecil daripada perhitungan petani, maka jumlah yang

ditentukan dalam transaksi tidak dapat direalisir.

3.2 Pemilihan Kualitas Kopi Arabika

Pemilihan dan grading tanaman harus diawali dengan pemilihan bibit yang benar-

benar unggul. Karena memilih bibit merupakan langkah awal yang sangat

menentukan keberhasilan budidaya tanaman kopi. Pemilihan bibit tanaman kopi

mencakup berbagai aspek yakni, pemilihan varitas unggul yang sesuai, macam

bibit, serta sumber bibit dan benih. Varitas unggul anjuran, Bibit yang akan

ditanam harus berasal dari klon unggul yang sesuai dan di anjurkan.Semua buah

atau biji kopi yang memenuhi syarat kemudian dikerjakan sebagai berikut: (i) Biji

dikelupas kulitnya, dinjak-injak dengan kain, tetapi kulit tanduk tidak sampai

lepas, (ii) Lendir yang melekat dibersihkan dengan cara dicuci atau digosok

permukaannya dengan abu dapur, (iii) Setelah bersih biji dikering anginkan satu

atau dua hari, tidak langsung terkena sinar matahari, melainkan kering angin,

(iv) Bijibiji yang sudah kering, selanjutnya diadakan pemilihan yang kedua

kalinya.

Standar kopi di pasaran dan paling banyak diminati konsumen meliputi beberapa

kriteria yang ditentukan, misalnya; buah yang dipungut adalah yang masak,

kemudian dipilih yang baik, tidak cacat dan yang besarnya normal. Buah yang

normal akan mempengaruhi minat konsumen, dari 3 macam jenis kopi, jenis
arabika dan arabika adalah yang paling banyak diminati masyarakat Indonesia.

Bentuk kopi yang bagus ialah yang kulitnya mulus dan tidak terlalu hijau, karena

warna merupakan hal utama yang diperhatikan dalam penentuan kematangan

kopi. Petani atau organiser petani yang langsung bekerja dengan petani untuk

memilah buah-buah kopi yang tua berwarna merah dari buah-buah yang masih

berwarna hijau. Hal ini penting karena kopi tua memiliki rasa yang lebih enak dan

lebih mantap daripada kopi muda. Selama ini para petani condong

mencampuradukkan begitu saja, sehingga komposisi komponen rasa jadi merosot,

alias tidak enak, dan akibatnya, tentu saja, harganya menjadi murah. Semua ini

mereka lakukan pada umumnya karena dikejar keperluan dan kebutuhan hidup,

bahkan hutang.

Sehingga konsumen akan benar-benar memilih tipe kopi yang baik yaitu yang

matang dan berukuran normal. Jika biji kopi itu hampa dan bentuknya jelek, harus

disortasi. Pensortasian merupakan jalan tengah terbaik untuk mendapatkan kopi

yang benar-benar baik diantara yang baik.

Jika merupakan jenis kopi Arabika memilki kriteria sebagai berikut;Mutu fisik

baik, mutu bentuk biji oval agak membulat, berwarna hijau cerah ketika muda dan

berwarna merah tua cerah ketika masak. Jika meupakan jenis kopi Arabika,

memilki kriteria sebagai berikut; buah saat muda oval membulat berwarna hijau

bersih, saat tua berbentuk bulat memanjang berukuran sedang, dompolan

menyerupai dompolan kopi Arabika, masak relatif serempak, berwarna merah

hati, dengan kisaran 11-45 buah/ruas.


Apabila kopi dijual dalam bentuk bubuk, maka penilaian akan jatuh pada tingkat

kehalusan gilingan dan kematangan sangrai. Kopi sebaiknya digiling semi halus,

hal ini akan berpengaruh pada aroma kopi, jika terlalu halus maka aroma kopi

akan cepat hilang, sehingga nilai ekonomisnya juga menurun.

Penanganan pasca panen tersebut sulit diperbaiki karena tidak ada insentif harga,

kopi bermutu baik dihargai hampir sama dengan kopi bermutu rendah. Petani

merasa lebih untung menghasilkan kopi dengan mutu seadanya tanpa harus

mengorbankan waktu dan biaya untuk memperbaiki mutu kopi yang mereka

hasilkan. Jadi selama ada pasar yang dapat menyerap produksi mutu rendah, maka

sulit diharapkan petani memperbaiki mutu kopinya. Kondisi tersebut

menunjukkan bahwa perbaikan mutu kopi membutuhkan kerja keras terutama

untuk mensosialisasikannya kepada jutaan petani kopi Indonesia dan tugas ini

merupakan taruhan masa depan perkopian Indonesia. Apabila hal ini tidak

ditangan secara tepat maka setelah tahun 2003, ekspor kopi Indonesia akan turun

drastis dan pasar kopi domestik akan kelebihan penawaran yang pada gilirannya

akan menurunkan harga kopi.

3.3 Area atau Lokasi serta Saluran (Channel)

Area penilitian yang kami pilih adalah Kecamatan Parbuluan yang termasuk

sentra utama petani Kopi Arabika. Sebagai farm gate kami memilih lingkungan

yang umumnya bertani Kopi Arabika yang dikelola secara rumahan, tepatnya di

Desa Parbuluan III.

Selanjutnya kami memilih untuk menelusuri saluran tataniaga Kopi Arabika ini di

Desa Parbuluan III juga sebagai middleman pertama. Dari desa Parbuluan III
kami melanjutkan menelusuri saluran tataniaga ke pengolah kopi/middleman

kedua Kota Sidikalang. Pengolah kopi ini pun saluran berlanjut hingga ke

konsumen akhir.

3.4 Hambatan-hambatan dalam Melakukan Penelitian

Dalam melakukan penelitian terdapat beberapa hambatan yang dihadapi:

1. Saluran tataniaga yang diteliti tidak mencakup satu daerah saja, sehingga

membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat mengetahui harga akhir

yang diterima oleh kosumen.


2. Lokasi penelitian yang belum dikenal oleh anggota kelompok.
3. Lamanya surat izin melakukan penelitian diterbitkan oleh pihak kampus

memperlambat mahasiswa dalam melakukan penelitian.

BAB IV
DESKRIPSI DAERAH, PELAKU DAN MATA RANTAI TATA
NIAGA

4.1 Gambaran Wilayah dan Batas Wilayah

Kabupaten Dairi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Ibu kotanya adalah Sidikalang. Kabupaten ini kemudian dimekarkan menjadi dua

kabupaten, yaitu Kabupaten Dairi sebagai kabupaten induk dan Kabupaten

Pakpak Bharat dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013

tentang Pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan


Kabupaten Humbang Hasundutan yang dikeluarkan pada tanggal 25 Februari

2003.

Kabupaten Dairi terletak sebelah Barat Laut Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten

Dairi sebagian besar terdiri dari dataran tinggi dan berbukit-bukit yang terletak

diantara 98o 33' - 98o 30' BT dan 2o15' - 3o 00' LU.

Salah satu kecamatan di Kabupaten Dairi adalah Kecamatan Parbuluan dengan

luas 235,40 km2 yang terdiri atas 11 desa/kelurahan dengan jumlah penduduk

total 16.253 jiwa. Kecamatan Parbuluan ini dibagi atas 3 Kelurahan yakni

Parbuluan I, Parbuluan II dan Parbuluan III. Jumlah penduduk di desa Parbuluan

III sekitar 1.947 jiwa. Desa ini terletak 1 km dari poros jalan yang

menghubungkan Kabupaten Dairi dengan Kabupaten Tapanuli Utara. Waktu

tempuh yang diperlukan kendaraan dari ibukota kabupaten kurang lebih 30 menit

dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil). Hampir seluruh penduduk yang

tinggal di daerah ini adalah petani kopi arabika dengan beberapa tumpang sari

tanaman hortikultura seperti kol, cabai, jagung dan lainnya.

Jumlah penduduk desa Parbuluan III adalah 2033, dengan penduduk pria

berjumlah 1001 dan penduduk perempuan 1031 dengan jumlah keluarga sebesar

398 KK.

Adapun batasan Desa Parbuluan III adalah

Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Parbuluan I

Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Lae Hole I

Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Lae Hole II


Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Parbuluan II

4.2 Fasilitas Wilayah

Fasilitas yang terdapat di Desa Parbuluan III Kecamatan Parbuluan antara lain:

Tabel 1. Fasilitas Wilayah


No Fasilitas
1 Pendidikan 1 unit SD Barisan Nainggolan dan 1 unit TK/ PAUD
Yayasan Bhineka Tunggal Ika Barisan Nainggolan
2 Kesehatan I unit Polindes (Poliklinik Pedesaan)

3 Ibadah 3 unit Gereja


4 Perkantoran Kantor Desa Parbuluan III, Kantor Lumbung Pangan
Sumber : Desa Parbuluan III, 2015

4.3 Jenis Komoditi

Komoditas Kopi Arabika (Ateng) merupakan komoditas utama yang di

budidayakan di desa ini, Sebagian besar petani membudidayakan kopi arabika.

Selain komoditi kopi, petani di desa ini juga membudidayakan tanaman jagung,

cabe, dan kol sebagai tumpang sari dari tanaman kopi.

4.4 Pelaku Tata Niaga

4.1.1 Petani Kopi Arabika (Produsen)

Produsen dalam komoditi Kopi Arabika adalah petani yang melakukan kegiatan

produksi, yaitu menghasilkan produk kopi hasil budidaya tanaman kopi. Produsen

dalam penelitian ini adalah seorang petani Kopi Arabika yang bernama Ober

Pandiangan (44 tahun) dengan luas lahan yang dimiliki 0,5ha di Desa Parbuluan

III, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi. Pada saat penelitian, harga di tingkat

petani yang dijelaskan Bapak Ober Pandiangan yaitu Rp. 24.000,- untuk kopi

arabika sosoh yang telah hilang kulit arinya. Proses yang dilakukan petani Kopi
Arabika ini setelah panen adalah menggiling kopi dengan mesin penggiling,

kemudian dicuci lalu didiamkan selam 1 malam. Keesekon harinya dijemur

dibawah sinar matahari selama 8 jam, jika tidak ada sinar matahari hanya dijemur

di tempat yang ada penadah selam 1 hari sampai kopi kering.

4.4.2 Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengumpul adalah pedagang yang membeli hasil produksi produsen

dalam jumlah yang besar untuk dijual kembali ke pedagang lainnya. Dalam

penelitian ini pedagang pengumpul yang kami wawancarai adalah Ibu Gorius

Nainggolan (50 tahun). Pedagang pengumpul yang ada di Desa Parbuluan III

biasanya menunggu petani mengantar sendiri hasil kopinya di rumah. Namun jika

terjadi panen raya maka Ibu ini menjemput hasil produksi kopi ke tempat

produsen. Harga kopi yang dibeli oleh pedagang pengumpul adalah Rp 24.000/kg.

Kopi yang diperoleh diolah kembali dengan tahapan kopi dijemur kembali hingga

kadar airnya cukup, kemudian kopi dibawa ke pabrik terdekat untuk digiling

kembali menjadi bagian yang lebih kecil. Setelah tahap penggilingan kopi dijemur

kembali hingga kering kemudian kopi dijual ke pedagang selanjutnya. Ibu Gorius

menjual kopi selanjutnya ke pabrik pengolah kopiyang ada di kota Sidikalang.

Harga jual kopi setelah mengalami penjemuran untuk kedua kalinya adalah

Rp 55.000/ kg. Jika terjadi kerusakan dalam pengiriman barang marketing loss

yang diterima pedagang pengumpul sebesar Rp 7.000/ kg.

4.4.3 Pengolah Kopi Arabika

Pengolah kopi arabika adalah tempat dimana kopi arabika yang dikirim oleh

pedagang pengumpul untuk diolah menjadi kopi bubuk. Harga beli pengolah kopi
arabika dari pedagang prngumpul adalah Rp 55.000/kg. Dalam penelitian ini

pedagang pengumpul yang kami wawancarai adalah Bapak Henry berusia 46

tahun. Kopi arabika tersebut diolah secara langsung di mesin pengolahan kopi

yang terdapat langsung di belakang toko kopinya. Kopi yang telah diolah tersebut

dijual dengan harga Rp 87.000/kg.

4.5 Rantai Pemasaran

Setelah mengurai lembaga-lembaga tataniaga yang berperan dalam penyaluran

komoditi Kopi Arabika di atas,maka kita dapat membuat saluran tataniaga dalam

bentuk rantai pemasaran. Adapun rantai pemasaran dari komoditi Kopi Arabika

ini.

Petani Kopi Arabika

Desa Parbuluan III,

Kecamatan Parbuluan,

Pedagang pengumpul

Desa Parbuluan III,

Kecamatan Parbuluan,

Kabupaten Dairi

Pengolah Kopi Arabika

Kecamatan Sidikalang,

Kabupaten Dairi
Bagan 2. Rantai Tataniaga Kopi Arabika Desa Parbuluan III,
Kec. Parbuluan, Kab. Dairi.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

Menurut Sihombing (2010) perbedaan harga yang diterima oleh produsen dengan

harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir disebut marketing margin. Marketing

margin terdiri dari berbagai macam biaya yang dikeluarkan selama proses

penyaluran barang dari produsen hingga ke konsumen. Jadi marketing margin

sama dengan ongkos tata niaga (marketing cost) dan sama artinya dengan price

spread dan sama dengan marketing charge. Salah satu kegunaan dari

perhitungan price spread adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi tata niaga.

Marketing margin memiliki hubungan yang erat dengan efisiensi tata niaga.

Sistem efisiensi tata niaga efisien bila memenuhi dua syarat yaitu (1) mampu
menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada kepada konsumen dengan

biaya yang semurah-murahnya dan (2) mampu mengadakan pembagian yang adil

dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang

terlibat dalam kegiatan produksi dan tata niaga barang tersebut. Jika dikaji secara

luas dan mendalam ternyata bahwa price spread adalah margin yang diterima oleh

petani dari harga konsumen suatu indikator umum dalam mengukur tingkat

kesejahteraan kemakmuran petani. Berdasarkan informasi di atas, berikut rincian

price spread tataniaga kopi arabika di Desa Parbuluan III, Kecamatan Parbuluan

Kabupaten Dairi yang disajikan dalam tabel 2.

5.1.1 Analisis Price Spread

Tabel 2.Price Spread


No. Uraian Rp/kg Nisbah %
Harga jual Petani 24.000 27,59
Biaya : 12.580 14,46
- Pupuk
2.600 2,98
TSP 2.000 2,29
ZA 2.800 3.22
POSCA
- Tenaga Kerja 5.000 5,75
- Kemasan 30 0,03
- Penggilingan 150 0,17
Margin Keuntungan 11.420 13,13
Nisbah Margin Keuntungan 0,90
I Harga beli pengumpul 24.000
Harga jual pengumpul 55.000
Biaya : 7.630 8,77
- Upah Giling 250 2,87
- Bongkar Muat 50 0,06
- Kemasan 30 0,03
- Transportasi 300 0,34
- Marketing loss 7.000 8,05
Margin Keuntungan 23.370 26,86
Nisbah Margin Keuntungan 3,06
II Harga beli Pengolah Kopi 55.000
Harga jual Pengolah Kopi 87.000
Biaya : 5.805 6,72
Transportasi 200 0,23
Bongkar Muat 140 0,16
Penyangraian 415 0,48
Pendinginan 80 0,09
Penghalusan 270 0,31
Tenaga Kerja 2320 2,67
Penyimpanan 80 0,09
Kemasan 1500 1,72
Pengepakan 800 0,92
Margin Keuntungan 26.195 30,11
Nisbah Margin Keuntungan 4,51
Harga Konsumen 87.000 100

5.1.2 Profit Margin Setiap Tingkat dari Pedagang

Tabel 3. Profit Margin


Tingkat Profit Margin %
Pengumpul 23.370 26,86
Pengolah 26.195 30,11
TOTAL 49.565 56,97

5.1.3 Total Biaya Setiap Tingkat

Tabel 4. Total Biaya


Tingkat I II Total

Bongkar Muat 50 140 190


Penyimpanan 80 80
5.1.4 Transportasi 300 200 500 Total
Marketing loss 7.000 7000
Penggilingan 250 750
Kemasan 30 1500 1530
Tenaga Kerja 2320 2320
Pengepakan 800 800
Penyangraian 415 415
Pendinginan 80 80
Penghalusan 270 270
Total 7.630 5.805 13.435
Ongkos Dari Produsen Ke Konsumen

Tabel 5. Total Ongkos


Tingkat Nisbah Profit Marjin Profit Margin Biaya
Produsen 0,90 11.420 12.580
Pedagang 7,57 49.565 13.435
TOTAL 8.47 60.985 26.015

5.1.5 Perhitungan

a. Marketing Margin

MM = Pr Pf

MM = Rp 87.000- Rp 24.000

MM = Rp 63.000

b. Perhitungan Share setiap Fungsi

Pf
Share petani = x 100 %
pr

24.000
= x 100 % = 27,59%
87.000

Ppengumpul
Share pengumpul = x 100 %
pr

55.000
= x 100 % = 63,22%
87.000
Ppengolah
Share ped. pengolah = x 100 %
pr

87.000
= x 100 % = 100%
87.000

Share profit =
profit x 100 %
PR Pf

60.985
= x 100 % = 96,80%
87.000 24.000

profitpe tan i
Share profit petani = x 100 %
PR Pf

11.420
= x 100 % = 18,13 %
63.000

profitpeng umpul
Shaare profit pengumpul = x 100 %
PR Pf

23.370
= x 100 % = 37,09 %
63.000

profitpeng olah
Share profit pengolah = x 100 %
PR Pf

26.195
= x 100 % = 41,58 %
63.000

Share biaya =
Bi x 100 %
PR Pf

26.015
= x 100 % = 41,29%
63.000

c. Perhitungan Share Biaya Setiap Tingkat

Share bongkar muat =


bongkarmuat x 100 %
PR Pf

190
= x 100 % = 0,302%
63.000
Share Penyimpanan =
penyimpanan x 100 %
PR Pf

80
= x 100 % = 0,13%
63.000

Share Transportasi =
Transporta si x 100 %
PR Pf

500
= x 100 % = 0,79%
63.000

Share Marketing loss =


MarketingLoss x 100 %
PR Pf

7.000
= x 100 % = 11,11%
63.000

Share Penggilingan =
Penggilingan x 100 %
PR Pf

750
= x 100 % = 1,19%
63.000

Share Kemasan =
Kemasan x 100 %
PR Pf

1.530
= x 100 % = 2,43%
63.000

Share Tenaga Kerja =


TenagaKerj a x 100 %
PR Pf

2.320
= x 100 % = 3,68%
63.000

Share Pengepakan =
Pengepakan x 100 %
PR Pf
800
= x 100 % = 1,27%
63.000

Share Penyangraian =
Penyangraian x 100 %
PR Pf

415
= x 100 % = 0,66%
63.000

Share Pendinginan =
Pendinginan x 100 %
PR Pf

80
= x 100 % = 0,13%
63.000

Share Penghalusan =
Penghalusan x 100 %
PR Pf

270
= x 100 % = 0,43%
63.000

d. Perhitungan Efisiensi

E = Jl + Jp

Ot + Op

= 2,34

e. Elastisitas
3,625

0,076

5.2 Pembahasan

Dari hasil analisis price spread kopi arabika di Desa Parbuluan, Kecamatan

Parbuluan, Kabupaten Dairi, didapat bahwa harga jual kopi arabika di tingkat

produsen adalah sebesar Rp 24.000/kg (27,59%) dengan total biaya yang

dikeluarkan sebesar Rp.12.580/kg. Harga jual kopi arabika di tingkat pedagang

pengumpul sebesar Rp 55.000/kg (63,22%) dengan total biaya yang dikeluarkan

sebesar Rp. 7.630/kg. Sedangkan harga jual pedagang pengolah sebesar Rp.

87.000/kg dengan total biaya sebesar Rp. 5.805/kg.

Dari perhitungan price spread didapat bahwa adanya perbedaan antara nisbah

marjin keuntungan masing-masing lembaga pemasaran, sebagai berikut nilai


nisbah marjin keuntungan produsen sebesar 0,90, nisbah marjin keuntungan

pedagang pengumpul sebesar 3,06, dan nisbah margin keuntungan pengolah

sebesar 4,51. Data ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan antara nisbah marjin

keuntungan dari masing-masing lembaga pemasaran.

Nisbah marjin keuntungan terbesar dari jalur tataniaga kopi arabika yang

dilakukan di Kabupaten Dairi adalah pedagang pengumpul sebesar 4,51. Hal ini

menunjukkan bahwa keuntungan terbesar terdapat pada pedagang pengolah. Dari

perhitungan diatas, didapat nilai efisiensi sebesar 2,34 (E>1). Hal ini berarti

tingkat efisiensi yang dilakukan di Desa Parbuluan, Kecamatan Parbuluan

kabupaten Dairi efisien.

Berdasarkan perhitungan nilai share setiap fungsi, diperoleh persentase yang

berbeda antara share petani, share pengumpul, dan share pengolah, dimana share

petani sebesar 27,59%, share pengumpul adalah 63,22% , share pengolah sebesar

100%. Nilai share terbesar adalah share pengolah dan nilai share terendah adalah

nilai share petani.

Nilai share profit keseluruhan rantai tataniaga kopi arabika adalah sebesar 96,80%

yang terdiri dari nilai share profit petani sebesar 18,13%, share profit pengumpul

sebesar 31,09%, dan share profit pengolah sebesar 41,58%. Berdasarkan nilai

share profit tersebut, yang menerima keuntungan terbesar adalah pedagang

pengolah, hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai share profit pengolah yang

merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan lembaga pemasaran lainnya.

Nilai total share biaya adalah 41,29% yang terdiri dari share bongkar muat

sebesar 0,302% ; share penyimpanan sebesar 0,13%; sharetransportasisebesar


0,79%; share marketing loss sebesar 11,11%; share penggilingan sebesar 1,19%;

share kemasan sebesar 2,43%; share tenaga kerja sebesar 3,68 %; share

pengepakan sebesar 1,27%; share penyangraian sebesar 0,66%; share pendinginan

sebesar 0,13%dan share penghalusan sebesar 1,77 %. Berdasarkan nilai share

biaya diperoleh nilai share terbesar adalah share marketing loss dan nilai share

terendah adalah nilai share penyimpanan dan pendinginan. Hal ini sesuai dengan

data di lapangan besar biaya marketing loss yang ditanggung petani sebesar

Rp 7.000/kg jika produk mengalami kerusakan sesuai dengan minimnya biaya

yang dikeluarkan petani untuk penyimpanan dan pendinginan produk tersebut.

Besarnya biaya marketing loss dikarenakan kerusakan produk kopi arabika sangat

mempengaruhi aroma kopi yang dihasilkan.

Nilai elastisitas tata niaga kopi arabika di Kabupaten Dairi sebesar 0,076. Hasil

ini menunjukkan bahwa pasar yang terjadi tidak elastis atau tidak terintegrasi

secara sempurna.Artinya, respon harga di tingkat petani kopi arabika terhadap

harga di tingkat konsumen sangat rendah.


BAB VI
RENCANA UNTUK PERBAIKAN

6.1 Melalui Kebijaksanaan Pemerintah

Berdasarkan hasil penelitian dengan petani kopi arabika diketahui bahwa program

pemerintah mengenai budidaya kopi sudah ada namun belum terlaksana secara

maksimal dikarenakan minimnya jumlah penyuluh di desa Parbuluan III,

Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi. Pemerintah diharapkan menyediakan

para penyuluh tani yang cukup khususnya yang mengetahui pengembangan kopi

arabika sehingga para petani dapat mendiskusikan hal-hal yang perlu dilakukan

terkait dengan pengembangan budidaya agar dapat menghasilkan kopi yang

bermutu baik dengan jumlah produksi yang optimal. Selain itu, dukungan sarana

dan prasarana di Desa Parbuluan III terutama untuk kebutuhan air, di desa ini

masih sangat sulit air sehingga penduduk cenderung mengandalkan air hujan.

6.2 Rekomendasi Program

Selama ini, petani di Desa Parbuluan III, menjual kopinya langsung ke pedagang

pengumpul yang ada di desa tersebut. Petani langsung menjual hasil produksi

tetapi tidak melakukan sortasi sehingga mutu kopi masih tercampur antara yang

tinggi, sedang, ataupun rendah. Dengan adanya sortasi petani akan dapat

mengklasifikasi tingkat mutu sehingga akan menerima harga jual yang berbeda

dan akan mendapat keuntungan yang maksimal.


Program yang direkomendasikan adalah dibentuknya sebuah koperasi, dimana

petani dapat menjual hasil produksinya dengan mudah dan dapat memenuhi

kebutuhan dalam proses produksi kopi tersebut seperti pupuk, bibit unggul,

pestisida bahkan untuk keperluan rumah tangga. Dan harga jual kopi tidak hanya

bergantung pada harga yang ditetapkan oleh pedagang pengumpul yang

jumlahnya hanya 1 di desa tersebut.

6.3 Lembaga/Institusi yang Berperan

Lembaga yang umumnya ada di kalangan petani adalah Kelompok Tani. Namun

di Desa Parbuluan III kelompok taninya tidak terlalu aktif dikarenakan minimnya

jumlah penyuluh di desa ini. Dengan adanya kelompok tani, petani dapat saling

berdiskusi mengenai masalah yang dihadapi dalam budidaya tanaman ini.

Selain itu diperlukan juga koperasi untuk mempermudah pendistribusian alat dan

bahan yang digunakan dalam budidaya kopi. Sehingga petani tidak perlu

mengeluarkan biaya transportasi yang besar dan akan mengurangi biaya produksi

sehingga keuntungan petani meningkat. Pemerintah diharapkan mendukung

kegiatan kelompok tani di desa ini seperti pelatihan rutin, pengembangan

budidaya sehingga petani mau bergabung dengan kelompok tani.

6.4 Fasilitas

Fasilitas yang perlu diperhatikan untuk mendukung dan memperlancar produksi

dan pemasaran kopi arabika adalah menyediakan alat penggiling kopi sehingga

petani yang tidak memiliki alat ini dapat terbantu. Fasilitas pengadaan air sangat

diperlukan di desa ini, karena air sangat minim di desa ini yang menyebabkan

penduduk mengandalakan air hujan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-


hari. Selain itu perlu juga di sediakan fasilitas pendukung lainnya seperti jalan

sebagai jalur keluar masuk sarana produksi dan hasil produksi kopi arabika.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari laporan ini adalah sebagai berikut:

1. Tata niaga yang terjadi pada komoditi kopi arabika pada saat ini di Kabupaten

Dairi menyebabkan perbedaan harga dari tingkat petani, pedagang

pengumpul, pengolah kopi, dan konsumen.


2. Perbedaan pada nisbah marjin keuntungan yang diperoleh setiap lembaga

pemasaran menyebabkan tingkat kepuasan tidak merata antar lembaga

pemasaran.

3. Nisbah marjin keuntungan terbesar dari jalur tata niaga kopi arabika yang

dilakukan di Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi didapat oleh pedagang

pengolah yaitu sebesar 4,51.

4. Total profit share pedagang pengumpul dan pengolah kopi adalah 56,97%.

Hal ini menyatakan bahwa lembaga tata niaga lebih di untungkan

dibandingkan dengan produsen(petani).

5. Jalur tata niaga kopi arabika diketahui bahwa biaya terbesar yang dikeluarkan

adalah biaya marketing losses yaitu sebesar Rp 7.000. Hal ini tentunya

mengurangi keuntungan yang didapat oleh middleman. Dalam jalur tata niaga

kopi arabika di Kabupaten Dairi, ada 2 jalur pemasaran yang dapat dilakukan

yaitu dari petani ke pedagang pengumpul, kemudian ke pengolah kopi,

setelah itu langsung kepada konsumen; Petani ke pengolah kopi, setelah itu
langsung kepada konsumen; Jalur yang paling pendek yaitu petani ke

pengolah kopi langsung kepada konsumen.

6. Nilai elastisitas tata niaga kopi arabika di Kecamatan Parbuluan, Kabupaten

Dairi sebesar 0,076. artinya pasar tidak pernah ditransmisikan secara

sempurna meliputi nilai absolute perubahan pada satuan waktu.


7. Nilai efisiensi dari analisis yang didapat adalah sebesar 2,34 yang

menunjukkan bahwa dalam jalur tataniaga kopi robusta yang dilakukan di

daerah tersebut tergolong efisien.

7.2 Saran

Adapun saran dari penulis adalah sebagai berikut ;

Kopi arabika yang menjadi ikon produk Kecamatan Parbuluan seharusnya

memilki nilai tawar yang tinggi dan sebaiknya diimbangi dengan pembagian share

yang lebih adil khususnya bagi petani kopi. Petani juga harus mampu mengikuti

perkembangan informasi harga melalui kelompok tani maupun koperasi pertanian

yang saat ini minim di lingkungan petani.

Pemerintah hendaknya memberikan perhatian khusus dengan menjaga

keberlanjutan produksi Kopi Arabika Sidikalang, dengan memberikan bantuan

hilirisasi kopi arabika, menjaga standarisasi kopi arabika, meningkatkan

industrialisasi kopi yang bermutu, mengusahakan jalur tata niaga yang lebih

efisien dan permodalan usaha. Selain dalam bentuk materi, pemerintah juga dapat

memberikan pendampingan dalam fungsionalisasi kelompok tani dan koperasi

pertanian sehingga kesejahteraan petani dapat lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1988. Budidaya Tanaman Kopi. Penerbit Kanisius: Yogyakarta


Anonymousa. 2015. Analisis Jaringan Agribisnis Kopi Arabika Di Desa Tanjung
Beringin Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/46747 Diakses pada
tanggal 07 Juni 2015
Anonymousb, 2015. Analisis Tata niaga Sawi Di Kelurahan Terjun Kecamatan
Medan Marelan. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/44097
Diakses pada tanggal 07 Juni 2015
Anonymousc, 2015. Analisis Tataniaga Kentang di Propinsi Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/19926 Diakses pada
tanggal 07 Juni 2015
Budiman, H. 2010. Prospek Tinggi Bertanam Kopi. Pustaka Baru Press:
Yogyakarta
Nurhakim dan Sri Rahayu. 2014. Perkebunan Kopi Skala Kecil Cepat Panen. Infra
Pustaka: Depok
Panggabean, E. 2011. Buku Pintar Kopi. Agromedia Pustaka: Jakarta
Pracaya dan Kahono. 2011. Kiat Sukses Budi Daya Kopi. PT. Macanan Jaya
Cemerlang: Klaten
Rukmana, R. 2014. Untung Selangit dari Agribisnis Kopi. Penerbit Andi:
Yogyakarta
Sihombing, L. 2011. Tata Niaga Hasil Pertanian. USU Press: Medan
Spillane, J. 1990. Komoditi Kopi Peranannya dalam Perekonomian Indonesia.

Penerbit Kanisius. Yogyakarta


LAMPIRAN III

Gambar 1. Tim Bersama Aparat Desa Parbuluan III

Gambar 2. Tim Bersama Petani


Gambar 3. Tim Bersama Pedagang Pengumpul

Gambar 4. Alat Pengupas Kulit Kopi


Gambar5. Kopi Arabika di lahan petani

Gambar6. Kopi Arabika di lahan petani


Gambar 7. Proses pengeringan kopi
Gambar 8. Kopi setelah dikupas
Gambar 9. Penyimpanan Kopi