Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

(UKM)
Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip

Oleh :
dr. Prananingrum Dwi Oktarina
Pusat Kesehatan Masyarakat Karanganyar

Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar

Jawa Tengah

Periode 1 Juni 2015 - 30 September 2015


PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS KARANGANYAR
F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
A. DEFINISI OPERASIONAL
Promosi kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan
harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu
dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut
pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan
adanya promosi kesehatan tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap
perubahan perilaku kesehatan dari sasaran.
Menurut Notoatmodjo (2005) yang mengutip pendapat Lawrence Green (1984)
merumuskan definisi sebagai berikut: Promosi Kesehatan adalah segala bentuk
kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan
organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang
kondusif bagi kesehatan.
Promosi kesehatan mempunyai pengertian sebagai upaya pemberdayaan
masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan diri dan
lingkungannya melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar
dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya
masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan (Depkes, 2005).

B. CAKUPAN KEGIATAN
1. PENYULUHAN PERILAKU HIDUP BERSIH dan SEHAT
1.1 Rumah Tangga PHBS
adalah yang berperilaku sesuai dgn 10 indikator PHBS yakni : (target 65%)
Melahirkan oleh tenaga kesehatan
Bayi diberi ASI Ekslusif sampai umur 6 bulan
Mempunyai Jaminan pemeliharaan kesehatan
Tidak merokok
Melakukan aktivitas fisik setiap hari
Makan sayur dan buah setiap hari
Tersedianya air bersih
Tersedianya jamban
Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (minimal 8 m2/orang)
Lantai rumah bukan dari tanah
Sasaran :
Jumlah seluruh keluarga (RT) yang ada dalam 1 tahun tersebut
Target Sasaran :
65% dari jumlah seluruh keluarga(RT) yang ada dalam 1 th tersebut
Pencapaian :
Jumlah RT(Keluarga) yang dilakukan penyuluhan ber PHBS dalam 1 tahun tersebut
Sub Variabel :
Pencapaian x100%=.%
Target Sasaran
Rencana kegiatan : September 2015
Pelaksanaan kegiatan : tahunan sesuai PoA awal tahun

1.2 Institusi Pendidikan (sekolah) yang memenuhi 8 Indikator PHBS yakni : (target 80%)
Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun
Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
Mengikuti kegiatan olahraga yang teratur dan terukur di sekolah
Membuang sampah pada tempatnya
Mengukur tinggi badan dan menimbang berat badan tiap bulan
Tidak merokok di sekolah
Pemberantasan jentik nyamuk di sekolah
Menggunakan jamban yang bersih dan sehat di sekolah
Sasaran :
Jumlah seluruh sekolah yang ada dalam 1 tahun tersebut
Target Sasaran :
80% dari sasaran
Pencapaian :
Jumlah sekolah yang dilakukan penyuluhan PHBS dalam 1 tahun tersebut
Sub Variabel :
Pencapaian x100%=.%
Target Sasaran
Rencana pelaksanaan : Agustus-September 2015, di tingkat SD
1.3 Institusi sarana kesehatan yang memenuhi 10 Indikator PHBS yakni : (target sasaran 80%)
Tidak merokok
Lingkungan bersih
Kamar mandi bersih
Ada jamban yang bersih
Tersedia air bersih
Ada tempat Sampah
Ada SPAL
Ventilasi memenuhi syarat
Ada tempat cuci tangan
Ada pencegahan serangga
Sasaran :
Jumlah seluruh sarkes yang ada diwilayah kerja dalam 1 tahun tersebut
Target Sasaran :
80% dari sasaran
Pencapaian :
Jumlah Sarkes yang dilakukan penyuluhan PHBS diwilayah kerja dalam 1 tahun tersebut
Sub Variabel :
Pencapaian x100%=.%
Target Sasaran

2. PENYULUHAN NAPZA dan HIV di Tingkat Sekolah Menengah


2.1 Pembinaan Berkala pada Kelompok Sasaran Beresiko Pemakai NAPZA.
Sasaran :
Jumlah kelompok/ sasaran yang beresiko pemakai napza yang ada diwilayah kerja dalam 1
tahun
Target sasaran :
......% dari sasaran
Pencapaian :
Jumlah kelompok /sasaran beresiko pemakai napza yang mendapat pembinaan berkala
seperti dgn : penyuluhan,seminar,workshop
Sub Variabel :
Pencapaian x100% =..
Target Sasaran
Rencana pelaksanaan : Agustus 2015

F2. Upaya Kesehatan Lingkungan

A. DEFINISI OPERASIONAL
Peningkatan kualitas kesehatan lingkungan pada kabupaten /kota dengan kriteria
minimal 4 dari 6 kriteria yang meliputi:
1. Memiliki Desa/kel melaksanakan STBM minimal 20%
2. Menyelenggarakan kab/kota sehat
3. Melakukan pengawasan kualitas air minum minimal 30%
4. TPM memenuhi syarat kesehatan minimal 31%
5. TTU memenuhi syarat kesehatan minimal 30%
6. RS melaksanakan pengelolaan limbah medis minimal 10%
Desa/Kelurahan yang terverifikasi sebagai desa yang melaksanakan STBM yaitu
Desa/Kelurahan yang memenuhi kriteria sbb : telah dilakukan pemicuan STBM, telah
memiliki natural leader, telah memiliki Rencana Kerja Masyarakat (RKM).
RS yang melakukan pengelolahan limbah medis adalah RS yang melakukan
pemilahan dan pengolahan limbah medis sesuai aturan. Pemilahan adlh telah memisahkan
antara limbah medis dan non medis. Pengolahan adlh proses pengolahan akhir limbah yang
dilakukan sendiri atau melalui pihak ketiga yg berizin.
Pengawasan kualitas air minum adalah penyelenggara air minum yang diawasi
kualitas hasil produksinya secara eksternal oleh Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota
dan KKP yang dibuktikan dengan jumlah sampel pengujian kualitas air.
Penyelenggara air minum adalah :
1. PDAM/BPAM/PT yang terdaftar di Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia
(Perpamsi)
2. Sarana air minum perpipaan non PDAM
3. Sarana air minum bukan jaringan perpipaan komunal
TTU (Tempat0Tempat Umum) yang memenuhi syarat kesehatan adalah tempat dan
fasilitas umum minimal sarana pendidikan dan pasar tradisional yang memenuhi syarat
kesehatan berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan sesuai standar di wilayah
kab/kota dalam kurun waktu 1 tahun.
Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) siap saji yang terdiri dari Rumah
Makan/Restoran, Jasa Boga, Depot Air Minum, Sentra Makanan Jajanan yang memenuhi
persyaratan hygiene sanitasi yang dibuktikan dengan sertifikat laik hygiene sanitasi.
Kab/kota yang menyelenggarakan kawasan sehat adalah kab/kota yang
menyelenggarakan pendekatan Kab/Kota Sehat dengan membentuk Tim Pembina dan
Forum Kab/Kota Sehat yang menerapkan minimal 2 Tatanan dari 9 Tatanan Kawasan Sehat
yaitu :
(1). Kawasan Permukiman, Sarana, dan Prasarana Umum
(2). Kawasan Sarana Lalu Lintas Tertib dan Pelayanan Transportasi
(3). Kawasan Pertambangan Sehat
(4). Kawasan Hutan Sehat
(5). Kawasan Industri dan Perkantoran Sehat
(6). Kawasan Pariwisata Sehat
(7). Ketahanan Pangan dan Gizi
(8). Kehidupan Masyarakat yang Mandiri
(9). Kehidupan Sosial yang Sehat.

B. CAKUPAN PROGRAM KERJA


A. Pendataan Jumlah : Keluranan, Lingkungan, RW, RT, Perumahan, Penduduk dan Kepala
Keluarga.

B. Pendataan sarana air minum dan sanitasi dasar


1.
a. Sarana air minum non PP : SGL (Sumur Gali), SPT (Sumur Pompa Tangan), PMA
(Perlindungan Mata Air), SA (Sumur Artetis), Mata Air
b. Sarana Air Minum Perpipaan :
perpipaan PDAM : air baku, terminal air, hydran umum, kran umum,
sambungan rumah (SR)
Perpipaan Masyarakat : air baku, kran umum, SR.
2. Sarana Pembuangan Kotoran
a. Jamban Umum / MCK
b. Jamban Keluarga : Jamban sehat, jamban cemplong
3. SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah)
4. Tempat Sampah
a. Tempat sampah rumah tangga
b. TPS / Container
c. TPA (Tempat Pembuangan Akhir)

C. Pendataan TTU (Tempat Tempat Umum)


1. Sarana Institusi
a. Sarana Kesehatan : Puskesmas, Puskesmas Pembantu, PKD, RB, BP, Apotik
b. Sarana Pendidikan (Sekolah) : Pra Sekolah (Playgrup, TK), tingkat dasar (SD,
MI), tingkat lanjut (SLTP, SLTA,dsb)
2. Sarana TTU (Tempat-Tempat Umum) : Hotel berbintang, hotel melati/losmen,
salon/pangkas rambut, kolam renang, panti pijat, usaha rekreasi, hiburan umum,
gedung pertemuan, perkantoran.
3. Sarana Ibadah : Masjid, mushola, pondok pesantren, gereja, kelenteng, pura, Vihara
4. Sarana Transportasi : Terminal
5. Sarana Ekonomi/ Sosial : Pasar, pertokoan/pusat perbelanjaan, panti sosial (panti
asuhan, panti jompo, dsb)
6. Sarana TP3 / Tempat Pembuatan & Penjualan Pestisida : Perkebunan ? Saw Mill,
kios pestisida, KUD

D. Pendataan TPM
Sarana TPM (Tempat Pengelolaan Makanan) : Rumah makan, restoran, warung makan,
jasa catering, IRT makanan minuman, PKL / Pedagang Kaki Lima, sentra / kawasan
makanan kantin

E. Pendataan Lingkungan Pemukiman


1. Desa Pamsimas
2. SLBM (Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat) : Jamban komunal
3. POKMAIR (Kelompok Pemakai Air) : Semua jenis SAM (Sarana Air Minum)
4. Desa yang melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)
STBM ada 3 pilar :
a. Stop BABS
b. CTPS
c. PAM RT (Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga) dan Pengelolaan makanan
yang aman
d. Pengelolaan sampah yang benar
e. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman

C. CAKUPAN KEBERHASILAN

N UKURAN KEBERSIHAN SPM TARGET CAPAIAN


O
Jumlah penduduk yang memiliki akses 71% 97,16% 96,92%
1. terhadap sumber air minum yang berkualitas. 54752 74927 74743
Jumlah penduduk 77115
71% 80,35% 81,82%
2 Jumlah air minum yang memenuhi syarat
229 / 163 299 / 184 22 / 18
Jumlah penduduk yang menggunakan jamban 63% 80,20% 79,81%
3
sehat 4858 61849 61547
75% 84,43% 84,17%
4 Jumlah penduduk yang stop BABS
5784 65107 64905
Jumlah dusun yang stop BABS. 33,33% 22,22% 5,67
5
Jumlah dusun 54 18 12 3
33.33% 33.33% 0%
6 Jumlah desa yang stop BABS
4 4 0
40% 41,67% 33.33%
7 Jumlah desa yang melaksanakan STBM
5 5 4

F3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

A. DEFINISI OPERASIONAL

Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya di bidang kesehatan yang
menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan
anak balita serta anak prasekolah.

Peranan ibu terhadap anak adalah sebagai pembimbing kehidupan di dunia ini.
Ibu sangat berperan dalam kehidupan buah hatinya disaat anaknya masih bayi hingga
dewasa, bahkan sampai anak yang sudah dilepas tanggung jawabnya.

Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup
sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal., bagi ibu dan keluarganya
untuk menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera(NKKBS) serta meningkatnya
derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimalyang merupakan
landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.

B. CAKUPAN KEGIATAN

1. Kunjungan Ibu Hamil Resiko Tinggi

Dilakukan setiap kali dalam skrining ibu hamil terdapat ibu hamil dengan resiko
tinggi. Yang dimaksud dengan ibu hamil beresiko tinggi adalah ibu hamil dengan peluang
atau kemungkinan untuk terjadi suatu keadaan gawat yang tidak diinginkan dikemudian
hari. Misalnya terjadinya kematian, kesakitan atau kecacatan pada ibu dan bayinya.

Adapun factor factor resiko pada ibu hamil, antara lain;

a.Primigravida kurang dari 20tahun

b. Kehamilan dengan umur lebih dari 35 tahun

c. Anak lebih dari empat

d. Jarak persalinan terakir dan kehamilan sekarang kurang dari dua tahun

e. Tinggi badan kurang dari 145cm

f. Riwayat Diabetes mellitus, hipertensi

h.Hb kurang dari 11

2. Kelas ibu hamil

Dilakukan setiap satu bulan sekali, dengan penekanan setiap ibu hamil dipastikan
mendapatkan 3x pertemuan. Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok
tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan
meiningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan,
perawatan nifas,dan perawatan bayi baru lahir, melalui praktik dengan buku KIA. Tujuan
dilakukan kelas ibu hamil adalah untuk meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan
perilaku ibu agar memahami tenatang kehamilan, perubahan tubyh serta keluhan selama
kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi,
mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular, dan akte kelahiran.

3. Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)

Merupakan pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan


berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh
kembang pada masa 5 tahun pertama kehidupan.
Kegiatan SDIDTK meliputi; stimulasi dini yang memadai, deteksi dini
penyimpangan, intervensi dini, rujukan dini. Tidak semua umur anak bias dilakukan
pendeteksian. Anak bias di deteksi ketika umur 0 bulan, 3bulan, 6bulan, 9bulan, 12bulan,
15bulan, 18bulan, 21bulan, 24bulan, 30bulan, 36bulan,42bulan, 48bulan, 54bulan,
60bulan, 66bulan dan 72bulan.

Jadwal dan waktu pendeteksian anak yaitu;

a. Anak umur 0-1tahun : 1 bulan sekali


b. Anak umur >1-3tahun: 3 bulan sekali
c. Anak umur>3-6tahun : 6 bulan sekali

4. Kelas ibu balita

Kelas Ibu Balita adalah kelas dimana para ibu mempunyai anak berusia 0 sampai
5 tahun secara bersama sama berdiskusi, tukar pendapat, tukar pengalaman akan
pemenuhan pelayanan kesehatan, gizi dan stimulasipertumbuhan dan perkembangannya
dibimbing oleh fasilitator dengan menggunakan buku KIA.

Tujuannya dalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dengan
menggunakan buku KIA dalam mewujudkan tumbuh kembang Balita yang optimal.
Penyelenggaran kelas ibu balita dilakukan setiap 3 sampai6 bulan sekali.

5. Kesehatan Reproduksi Remaja


Kesehatsn Reproduksi Remaja merupakan upaya untuk mencapai suatu keadaan
kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental dan social. Promosi kesehatan
dilakuakan dengan cara kunjungan ke sekolah sekolah di sekitar kabupaten, dan
dilakukan konselor kesehatan. Untuk pelaksanaan dilakukan ketika jeda sekolah atau
ketika Masa Orientasi Sekolah.

6. Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak


Pelacakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dilakukan oleh bidan wilayah,
jika mendapatkan laporan akn ditindaklanjuti dengan pembinaan bekerjasama dengan
polres dan yayasan perlindungan wanita setempat.

7. Safari KB
Merupakan usaha intensifikasi program KB, untuk menyukseskan program KB
nasional. Safari KB dilakukan setahun sekali atau dilakukan jika target KB Nasional
dalam puskesmas tidak mmenuhi target.

8. Manajemen Terpadu Balita Sakit


Manajemen Terpadu Balita Sakit merupakan suatu pendekatanyang terintegrasi
dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan
(balita) secara menyeluruh. Strategi MTBS memiliki 3 komponen khas yang
menguntungkan yaitu;
1. Meningkatakan ketrampilana petugas dalam tatalaksana kasus balita sakit
2. Memperbaiki system kesehatan utamanya ditingkat kabupaten atau kota
3. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan dirumah dan
upaya perncarian pertolongabn kasus balita sakit.

F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

A. DEFINISI OPERASIONAL

Pelayanan gizi adalah suatu upaya memperbaiki, meningkatkan gizi, makanan, dietetik
masyarakat, kelompok, individu, atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan, anjuran, implementasi dan evaluasi gizi,
makanan, dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau
sakit.

B. CAKUPAN KEGIATAN

1. Pemberian Tablet Fe
Adalah jumlah ibu hamil yang mendapatkan minimal 90 tablet Fe (Fe3) selama periode
kehamilannya. Cakupan keberhasilan sebesar 80%.

2. Balita Ditimbang
Adalah jumlah anak usia 0 59 bulan yang ditimbang di seluruh Posyandu yang melapor di
suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
3. Balita
Adalah jumlah seluruh Balita/dibawah 5 tahun (usia 0 59 bulan) di suatu wilayah, diperoleh
dari hasil pendataan setiap bulan.

4. Balita Gizi Buruk


Adalah jumlah anak usia 0 59 bulan dengan status gizi berdasarkan indeks Berat Badan
menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai
Z score < - 3 SD dan/atau terdapat tanda klinis gizi buruk lainnya. Tanda klinis gizi buruk yaitu
kwarshiorkor, marasmus dan kwarshiorkor-marasmus.

5. Balita Gizi Buruk Ditangani


Adalah jumlah Balita gizi buruk yang dirawat inap maupun rawat jalan di fasilitas kesehatan dan
masyarakat. Cakupan keberhasilan sebesar 100%.
6. Cakupan ASI Ekslusif
Adalah jumlah bayi 0 5 bulan yang diberi ASI saja tanpa makanan/cairan lain berdasarkan
recall 24 jam.

7. Vit A Bayi
Adalah jumlah bayi usia 6 11 bulan yang mendapat 1 (satu) kapsul vitamin A yang
mengandung vitamin A dosis tinggi, yaitu 100.000 satuan Internasional (SI) untuk bayi.

8. Vit A Anak Balita


Adalah jumlah anak usia 12 59 bulan yang mendapat 1 (satu) kapsul vitamin A yang
mengandung vitamin A dosis tinggi, yaitu 200.000 satuan Internasional (SI) untuk anak balita.
Cakupan keberhasilan sebesar 80%.

9. Anak 6 24 bulan Gizi Kurang dapat MP-ASI


Adalah jumlahpemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) pada bayi dengan gizi
kurang. Cakupan keberhasilan sebesar 100%.
10. Konsumsi Garam Beryodium
Adalah jumlah penggunaan garam beryodium pada tingkat rumah tangga. Cakupan keberhasilan
adalah 90%.

11. Keluarga Sadar Gizi


Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan
mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut KADARZI apabila telah
berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan:
1. Menimbang berat badan secara teratur.
2.Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI
eksklusif).
3. Makan beraneka ragam.
4. Menggunakan garam beryodium.
5. Minum suplemen gizi (TTD, kapsul Vitamin A dosis tinggi) sesuai anjuran.
Cakupan keberhasilan Kadarzi sebesar 70%.

F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

A. DEFINISI OPERASIONAL
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) dan tidak menular
(P2PTM) yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas untuk mencegah dan
mengendalikan penular penyakit menular/ infeksi (misalnya TB, DBD, kusta, diare, dll).
Tujuan program P2PM/TM ini yaitu menurunkan angka kesakitan, kematian, dan
kecacatan akibat penyakit menular dan penyakit tidak menular. Prioritas penyakit
menular yang akan ditanggulangi adalah Malaria, DBD, diare, polio, TB, HIV/AIDS,
pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Prioritas penyakit tidak menular yang ditanggulangi adalah penyakit jantung
dan gangguan sirkulasi, diabetes mellitus, dan kanker.

B. CAKUPAN KEGIATAN

Kegiatan pokok dan kegiatan indikatif program ini meliputi:


1. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan, dan


kebijakan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko dan diseminasinya;

Menyiapkan materi dan menyusun rencana kebutuhan untuk pencegahan dan


penanggulangan faktor resiko;

Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko sebagai stimulam;

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman pencegahan dan


penanggulangan faktor risiko;

Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan


dan penanggulangan faktor risiko;

Melakukan bimbingan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pencegahan dan


penanggulangan faktor risiko;

Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi
teknis pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;

Melakukan kajian program pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;

Membina dan mengembangkan UPT dalam pencegahn dan penanggulangan faktor risiko;

Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan pencegahan


dan pemberantasan penyakit.

2. Peningkatan imunisasi:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan, dan


kebijakan peningkatan imunisasi, dan diseminasinya;
Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan imunisasi;

Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulan yang ditujukan terutama


untuk masyarakat miskin dan kawasan khusus sesuai dengan skala prioritas;

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/protap program imunisasi;

Menyiapkan dan mendistribusikan sarana dan prasarana imunisasi;

Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program


imunisasi

Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan imunisasi;

Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi
teknis peningkatan imunisasi;

Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi;

Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan imunisasi;

Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan imunisasi.

3. Penemuan dan tatalaksana penderita:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundangundangan, dan


kebijakan penemuan dan tatalaksana penderita dan diseminasinya;

Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan penemuan dan tatalaksana


penderita;

Menyediakan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita sebagai stimulan;


Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program penemuan
dan tatalaksana penderita;

Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan


program penemuan dan tatalaksana penderita;

Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan penemuan dan tatalaksana


penderita;

Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi
teknis penemuan dan tatalaksana penderita;

Melakukan kajian upaya penemuan dan tatalaksana penderita;

Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya penemuan dan tatalaksana penderita;

Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan penemuan dan


tatalaksana penderita.

4. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan, dan


kebijakan peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah dan
diseminasinya;

Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan surveilans


epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;

Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan


KLB/wabah sebagai stimulan;

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program


surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan menanggulangi KLB/Wabah, termasuk
dampak bencana;

Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program


surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;

Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan surveilans epidemiologi dan


penanggulangan KLB/wabah;

Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi
teknis peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;

Melakukan kajian upaya peningkatan surveilans epidemiologi dan


penanggulangan KLB/wabah;

Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan surveilans epidemiologi


dan penanggulangan KLB/wabah.

Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan


surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.

5. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan


penyakit:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan, dan


kebijakan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan
dan pemberantasan penyakit dan diseminasinya;

Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan komunikasi


informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

Menyediakan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)


pencegahan dan pemberantasan penyakit sebagai stimulan;
Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program
komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit;

Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program


komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit;

Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan komunikasi informasi dan


edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit;

Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi
teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan
pemberantasan penyakit;

Melakukan kajian upaya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)


pencegahan dan pemberantasan penyakit;

Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan komunikasi informasi dan
edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit;

Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan komunikasi informasi


dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

C. CAKUPAN KEBERHASILAN

Program Target Pencapaian


1. Desa/ kelurahan mengalami KLB yang 100% 0
ditangani<24 jam
2. Acute Flacid Paralysis (AFP) per 100.000 1% 0
penduduk <15 tahun
3. Kesembuhan penderita TBC BTA+ (cure rate) >85% 73.53%
4. Penemuan kasus TBC BTA+ (case detection rate/ 70% 44,96%
CDR)
5. Cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani 100% 0
6. Penderita DBD yang ditangani 100% 100%
7. Incident rate DBD < 20/ 100.000 101/100.000
8. CFR (Angka kematian DBD) < 1% 0
9. Balita dengan Diare yang ditangani 100% 245 kasus (100%)
10. Angka kematian diare
< 1/ 100.000 0

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


PUSKESMAS KARANGANYAR