Anda di halaman 1dari 6

Kanker Kaheksia

Oleh admin kalbemed


September 12, 2013 06:45

Kanker kaheksia merupakan sindrom yang ditandai dengan


penurunan berat badan yang progresif dan menurunnya jaringan lemak dan otot
abnormal. Hal ini dijumpai pada 40-85% dari pasien dengan stadium terminal dan
penyebab lebih dari 20% dari semua kematian akibat kanker. Insidens kanker
kaheksia pada pasien yang didiagnosis kanker bervariasi dan secara keseluruhan
dijumpai pada lebih dari 50% dari pasien. Banyaknya penurunan berat badan
menunjukkan pengaruh yang negatif terhadap performa pasien, kualitas hidup dan
kemungkinan respons terhadap kemoterapi paliatif.

Pasien dengan kanker kepala dan leher yang mengalami penurunan berat badan
lebih dari 20% dari total berat badannya memiliki risiko terjadinya toksisitas dan
mortalitas yang lebih tinggi. Dilaporkan pula harapan hidup yang lebih baik pada
pasien tanpa temuan kanker kaheksia. Mekanisme patofisiologi kanker kaheksia
masih belum diketahui secara pasti. Mekanisme terjadinya kanker kaheksia diduga
multifaktorial yaitu:

1.Perubahan metabolik
Perubahan metabolik yang ditemukan pada kaheksia lebih menyerupai pada infeksi
dibandingkan kelaparan. Pada kaheksia, terdapat peningkatan katabolisme protein
otot sehingga menyebabkan penurunan massa otot. Selain itu, timbul penurunan
jaringan lemak karena lipolisis yang diperantarai LMF (Lipid Mobilizing Factor) dan
zinc-alpha-2 glycoprotein yang memiliki efek lipolitik. Sebagian besar tumor solid
menghasilkan laktat yang diubah kembali menjadi glukosa dalam hati (siklus Cori).

2.Faktor tumor
Sel-sel tumor menghasilkan faktor proinflamasi dan procachectic (LMF dan
PIF/Proteolysis Inducing Factor) yang menstimulasi respons inflamasi.

3.Faktor host-tumor
Sitokin proinflamasi yang dihasilkan sel tumor yaitu TNF-, IL-1, dan IL-6
memperantarai proses kaheksia. TNF- dan PIF meningkatkan degradasi protein
dan menurunkan sintesis protein.

4.Faktor host
Perubahan sistemik sebagai respons terhadap inflamasi ditandai dengan respons
fase akut. Meningkatnya respons protein fase akut dijumpai sampai 50% dari pasien
dengan kanker solid dan hal ini berkaitan dengan hipermetabolisme. CRP (C
Reactive Protein) merupakan metode yang sering dipakai untuk mengetahui
besarnya respons inflamasi sistemik. Faktor neuroendokrin tampaknya terganggu
pada keadaan kanker sehingga menyebabkan resistensi insulin, menurunnya
aktivitas anabolik, dan meningkatnya cortisol. Gangguan ini mungkin diperantarai
oleh respons inflamasi sistemik terkait kanker.

Cara terbaik untuk mengatasi kanker kaheksia adalah terapi pada kankernya, tetapi
sayangnya hal ini masih jarang tercapai pada pasien dewasa dengan tumor solid
stadium lanjut. Pilihan terapi yang kemudian diberikan yaitu meningkatkan asupan
makanan dan menghambat muscle wasting dan fat wasting dengan intervensi jalur
metabolik. Yang juga perlu dilakukan adalah mengidentifikasi penyebab menurunnya
asupan makanan seperti mual dan muntah terkait terapi, mukositis oral, dan
sumbatan saluran cerna serta memberikan intervensi paliatif yang sesuai. Terapi
yang diberikan ditujukan pada perbaikan kualitas hidup dan untuk beberapa pasien
berarti perbaikan nafsu makan dan asupan makanan.

Pilihan terapi yang diberikan yaitu:

Terapi Hasil Terapi Mekanisme Efek Samping


Kerja
Agen anabolik Memperbaiki Menghambat Penekanan aksis
Corticosteroid anoreksia dan sintesis HPA lebih sedikit
kelemahan; tidak dan/atau (pada prednisone,
terdapat perbaikan pelepasan prednisolone,
pada berat badan sitokin methylprednisolone
atau asupan kalori; proinflamasi ), ulkus peptikum
ditoleransi dengan seperti TNF-
baik; efek dan IL-1 yang
berlangsung menurunkan
singkat asupan
makanan
Perangsang nafsu Memperbaiki nafsu Menginduksi Tromboemboli,
makan makan, asupan nafsu makan perdarahan uterus,
Megestrol acetate, kalori, dan berat melalui edema perifer,
medroxyprogesteron badan stimulasi hiperglikemia,
e Tidak terdapat neuropeptide hipertensi, supresi
Dronabinol manfaat jika Y, modulasi adrenal, dan
ditambahkan pada saluran insufisiensi adrenal
megestrol acetate; kalsium di (jika dihentikan
inferior ventromedial tiba-tiba)
dibandingkan hipotalamus, Euforia, pusing,
megestrol acetate menghambat mengantuk, konfusi
jika diberikan aktivitas
tunggal. Tidak sitokin
terdapat proinflamasi
peningkatan nafsu (IL-1, IL-6,
makan atau TNF-)
kualitas hidup Bekerja pada
reseptor
endorfin,
menurunkan
sintesis
prostaglandin
atau
menghambat
sekresi IL-1
Cyproheptadine Tidak terdapat Antagonis Mengantuk, pusing
perbaikan pada serotonin
kenaikan berat dengan
badan properti
antihistamin
Eicosapentaenoic Cochrane: Secara in
acid (EPA) evidence belum vitro,
cukup untuk menurunkan
menentukan peningkatan
apakah EPA lebih aktivitas
baik dibandingkan cAMP dan
plasebo lipolisis
Branched chain Dilaporkan Berkompetisi
amino acid (BCAA) menghasilkan dengan
perbaikan protein tryptophan
accretion (sintesis (prekursor
dan serotonin)
degradasi/turnover menembus
) dan sintesis sawar darah
albumin. otak
Menurunkan sehingga
tingkat keparahan menghambat
anoreksia pasien aktivitas
kanker serotonin

Terapi lain yang pernah dilaporkan tetapi merupakan uji klinik kecil dan masih
diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan efikasinya antara lain:
Terapi Hasil Terapi Mekanisme Kerja
Melatonin Memperbaiki kaheksia Imunomodulator,
(istilah yang dipakai tidak downregulate produksi
didefinisikan) dan 1-year TNF
survival meningkat pada
NSCLC stadium lanjut
Thalidomide Menurunkan penurunan Downregulate TNF-,
berat badan, NFB, sitokin
meningkatkan lean body proinflamasi, COX2
mass
Anti-inflamasi Menurunkan petanda Beum diketahui. Mungkin
Nonsteroid anti- inflamasi, menurunkan downregulate respons
inflammatory drugs resting energy inflamasi sistemik
(NSAIDs) expenditure, terhadap tumor
mempertahankan total
body fat
Pentoxifylline Tidak terdapat perbaikan Menghambat transkripsi
nafsu makan atau berat gen TNF
badan pada pasien
kaheksia

Di antara terapi-terapi yang disebutkan, sampai sejauh ini yang paling sering dipakai
adalah megestrol acetate dan setidaknya 15 RCT (dengan dosis berkisar 160-1600
mg/hari) menunjukkan perbaikan nafsu makan dibandingkan plasebo. Cochrane
melaporkan terdapat perbaikan kenaikan berat badan dan nafsu makan pada pasien
kanker. Namun, pada sebagian besar trial, tidak dijumpai perbaikan kualitas hidup.
Untuk corticosteroid, yang dipakai antara lain prednisolone 15 mg/hari,
dexamethasone 3-6 mg/hari, dan methylprednisolone 125 mg/hari. Pemanjangan
terapi dengan corticosteroid menyebabkan kelemahan, delirium, osteoporosis, dan
imunosupresi. Umumnya corticosteroid digunakan dalam periode waktu yang
singkat.

Menurut literatur tahun 2003 (Desport dan rekan-rekan), penggunaan perangsang


nafsu makan adalah sebagai berikut:
Corticosteroid (level of evidence: B1): data masih belum memadai untuk
menentukan dosis yang optimal dan jadwal pemberian.
Megestrol acetate (level of evidence: B1): terdapat peningkatan nafsu makan dan
memiliki manfaat terhadap berat badan pada pasien kanker.
Medroxyprogesteron acetate: terdapat peningkatan nafsu makan (level of evidence:
B1) dan pengaruh terhadap kenaikan berat badan belum dikonfirmasi (level of
evidence: C).
Cyproheptadine (level of evidence: C)
Dronabinol dan pentoxifylline (level of evidence: C): belum menunjukkan appetite-
stimulating effects.

Untuk cyproheptadine, dronabinol, dan pentoxifylline, sebaiknya tidak diberikan di


luar setting uji klinik.

Sebagai kesimpulan yaitu kanker kaheksia (berbeda dengan kelaparan) merupakan


suatu keadaan malnutrisi di mana terjadi penurunan nafsu makan dengan
peningkatan laju metabolik dan wasting lean body mass. Patofisiologi kanker
kaheksia ini diduga bersifat multifaktorial. Hal ini menurunkan kualitas hidup pasien
dan kemungkinan respons terhadap kemoterapi. Terdapat beberapa pilihan terapi
yang dapat diberikan dengan mekanisme kerja dan efek samping berbeda. Namun,
yang paling sering dipakai dan memiliki cukup banyak evidence adalah megestrol
acetate. Masih terdapat beberapa terapi yang memerlukan penelitian lebih lanjut
untuk mengetahui efikasinya. (HLI)

Image: Ilustrasi

Referensi:
1.Donohoe CL, Ryan AM, Reynolds JV. Cancer cahexia: Mecahnisms and clinical
implications. Gastroenterology Research and Practice 2011 doi:
10.1155/2011/601434.
2.Topkan E, Yavuz AA, Ozyilkan O. Cancer cachexia: Pathophysiologic aspects and
treatment options. Asia Pacific J Cancer Prev. 2007;8:445-51.
3.Inui A. Cancer anorexia-cachexia syndrome: Current issues in research and
management. CA Cancer J Clin. 2002;52:72-91.
4.Couch M, Lai V, Cannon T, Guttridge D, Zanation A, George J, et al. Cancer
cachexia syndrome in head and neck cancer patients: Part I. diagnosis, impact on
quality of life and survival, and treatment. Head Neck 2007;29:401-11.
5.Desport JC, Gory-Delabaere G, Blanc-Vincent MP, Bachmann P, Beal J,
Benamouzig R, et al. Practice guideline: Standards, options and recommendations
for the use of appetite stimulants in oncology (2000). Br J Cancer 2003;89:S98-100.
6.Kardinal CG, Loprinzi CL, Schaid DJ, Hass AC, Dose AM, Athmann LM, et al. A
controlled trial of cyproheptadine in cancer patients with anorexia and/or cachexia.
Cancer 1990;65(12):2657-62.