Anda di halaman 1dari 6

REZA AFRIZONA FAUZIH

21100114120029

Analisis Geometri
Analisis geometri dilakukan dengan melihat hubungan antara aspek-aspek
geometri yang tercatat pada model.
Prosentase pemendekan vs penambahan tinggi morfologi permukaan, luas, dan
volume model

Grafik hubungan prosentase pemendekan dan nilai penambahan tinggi,


luas, dan volume yang dialami model (lihat Gambar 2, Gambar 3, dan Gambar 4)
menunjukkan penambahan yang terjadi secara linear dan tidak dipengaruhi oleh
kehadiran bidang detachment dan perkembangan curaman.
Hubungan antara prosentase pemendekan dengan penambahan ketinggian
morfologi dirumuskan dengan persamaan berikut
y = 0.190 x
Hubungan antara prosentase pemendekan dengan penambahan luas
permukaan sayatan vertikal dirumuskan dengan persamaan berikut
y = 3.061 x
Hubungan antara prosentase pemendekan dengan penambahan volume
dirumuskan denganpersamaan berikut
y = 70,40 x
Nilai konstanta yang dihasilkan dari persamaan garis linear diperkirakan
merupakan nilai yang dipengaruhi oleh parameter sifat fisik dan sifat mekanik
material pasir, serta parameter tekanan.

Prosentase pemendekan vs kemiringan sesar


Menurut Hubbert (1951), hubungan nilai sudut henti () dengan
kemiringan sesar naik () dirumuskan dengan persamaan berikut

kemiringan sesar naik hasil percobaan berada pada kisaran nilai kemiringan sesar
naik pada nilai 20 - 40 yang mennujukkan nilai yang tidak jauh dari kisaran
sudut kemiringan sesar hasil perhitungan.
Grafik hubungan antara prosentase pemendekan dan perkembangan
kemiringan sesar naik (backthrust dan forethrust) (lihat Gambar 5 dan Gambar 7)
menunjukkan bahwa kehadiran bidang detachment tidak memberikan pengaruh
signifikan terhadap perkembangan kemiringan backthrust. Bidang detachment
lebih memberikan pengaruh terhadap perkembangan kemiringan forethrust yang
berkembang menjadi curaman.

Prosentase pemendekan vs sudut interlimb lipatan


Grafik hubungan prosentase dan besar sudut interlimb dapat menunjukkan
pengaruh kehadiran bidang detachment dan curaman terhadap perkembangan
lipatan pada model (lihat Gambar 10). Grafik menunjukkan bahwa kehadiran
bidang detachment yang membentuk curaman mempercepat perkembangan sudut
interlimb menjadi semakin lancip. Hal ini tampak pada pemendekan 12% yang
menjadi titik awal dominasi pengaruh curaman terhadap perkembangan lipatan.

Analisis penebalan dan penipisan lapisan


Analisis dilakukan dengan melihat perkembangan penebalan lapisan
(bagian backlimb) dan penipisan lapisan (bagian forelimb) dan dihubungkan
dengan kehadiran bidang detachment. Grafik prosentase pemendekan vs
penebalan lapisan (lihat Gambar 8) menunjukkan bahwa perkembangan penebalan
lapisan pada bagian backlimb tidak terpengaruh oleh kehadiran bidang
detachment dan curaman. Pada fenomena penipisan lapisan yang terjadi pada
bagian forelimb mengalami kenaikan intensitas penipisan ketika curaman mulai
berkembang pada pemendekan 8 % (lihat Gambar 9).

Analisis Genesa
Analisis genesa dilakukan untuk memperoleh kronologi pembentukan
struktur geologisecara urut dengan memperhatikan aspek geometri dan
konfigurasi struktur yang terbentuk.
Konfigurasi thrust system
Model yang dihasilkan menunjukkan beberapa variasi jenis struktur
geologi yang berupa forethrust, backthrust, dan lipatan membalik (overtuned
fold). Sesar naik yang termasuk kedalam jenis forethrust merupakan sesar B.1,
B.2, dan C.1. Pola perkembangan ketiga sesar itu terjadi secara berurutan dengan
urutan B.1 lalu B.2 dan selanjutnya C.1. Perkembangan sesar tersebut
menunjukkan pola imbricate fan dengan jenis leading imbricate fan (Boyer &
Elliot, 1982; Mitra, 1986; McClay 1992). Backthrust juga berkembang dengan
cukup intensif dalam model yang dihasilkan. Kehadiran backthrust ditandai oleh
kehadiran sesar A.1, D.1, dan E.1. Kehadiran backthrust membentuk susunan
lipatan minor pada bagian backlimb sebagai akibat mekanisme drag folding
(lipatan seretan) oleh pergeseran backthrust (lihat Gambar 3).

Model hubungan lipatan dan sesar naik (Fold-thrust style)


Perkembangan geometri struktur geologi menunjukkan perkembangan
lipatan dengan mekanisme fault- propagation folding (Jamison, 1987). Pola
evolusi struktur geologi yang berkembang pada model terdapat dua mekanisme
yang bekerja yaitu folding before fault propagation (Suppe & Medwedeef, 1990)
pada bagian awal perlipatan dan berkembang menjadi simultaneous folding and
fault propagation (Suppe & and fault and fault propagation (Suppe &
Medwedeef, 1990). Pada awal deformasi, perlipatan terbentuk melalui mekanisme
buckling tanpa ada pengaruh dari curaman. Perkembangan curaman pada model
tidak memotong hingga permukaan (tidak terjadi breakthrough) dan tidak
menerus menjadi flat (sesar mendatar) sehingga dapat dilihat terdapat tip point
(titik puncak) curaman. Hasil pengamatan detail menunjukkan bahwa model
mengalami dua kali mekanisme fault-propagation folding. Mekanisme pertama
terjadi ketika curaman pertama (sesar B.1) berkembang dengan membentuk
lipatan tahap awal hingga pemendekan 8 %. Fenomena ini tampak melalui titik
pelengkungan sinklin maksimal yang berubah dari titik perpanjangan tip point
sesar B.1 pada pemendekan 8 % menjadi pada titik perpanjangan tip point sesar
B.2 pada pemendekan 12 % (lihat Gambar 12).
Grafik hubungan sudut kemiringan curaman dan sudut interlimb (lihat
Gambar 10) menunjukkan penipisan lapisan yang tampak pada model terjadi
dengan intensitas yang sesuai dengan hasil pengeplotan pada grafik hubungan
sudut kemiringan curaman dan sudut interlimb (Jamison, 1987). Penipisan
maksimal yang terukur pada model mencapai nilai 70 % (lihat gambar 13),
sedangkan pada grafik menunjukkan nilai 50%.