Anda di halaman 1dari 3

Penegakan Etika

Penegakan etika untuk profesi akuntan tentunya sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan
untuk mengurangi terjadinya isu-isu atau permasalahan-permasalahan dalam bidang akuntansi
itu sendiri, terutama publik. Beberapa isu tersebut seperti

1. Kegagalan dalam melakukan observasi dan memutuskan standar yang dibutuhkan.


2. Bertindak tidak sesuai dengan etika yang berlaku.
3. Melakukan hal-hal yang tidak pantas atau tidak sesuai.

Penegakan etika yang dilakukan di tiap negara itu sendiri berbeda-beda. Hal ini
dikarenakan International Ethics Standard Board of Accountants (IESBA), juga tidak
menerapkan atau membentuk peraturan sendiri terkait permasalahan etika. IESBA memberikan
kebebasan kepada setiap Negara untuk membuat regulasi mereka masing-masing.
Dalam menegakkan etika, tentunya diperlukan sanksi sebagai bentuk akibat dan
pertanggungjawaban atas pelanggaran etika yang dilakukan. Beberapa sanksi umum yang
diterapkan seperti pemberian teguran, pembayaran biaya, penarikan hak, suspendi, dan lainnya.

Penegakan Etika Profesi Akuntan Publik di Indonesia


Penegakan etika profesi akuntan public di Indonesia di atur oleh Institut Akuntan Publik
Indonesia (IAPI). Kode etik yang dibuat oleh IAPI ini harus diterapkan oleh setiap individu
didalam Kantor Akuntan Publik (KAP) atau jaringan KAP, baik yang merupakan anggota IAPI
atau bukan merupakan anggota IAPI.
Penengakkan etika ini dapat terganggu dengan oleh adanya ancaman-ancaman. Menurut
buku kode etik IAPI, ancaman-ancaman tersebut seperti:

1. Ancaman kepentingan pribadi


2. Ancaman telaah pribadi
3. Ancaman advokasi
4. Ancaman kedekatan
5. Ancaman intimidasi.

Oleh karena adanya ancaman-ancaman tersebut, dibutuhkan pencegahan yang dapat


menghilangkan ancaman tersebut. Pencegahan-pencegahan tersebut dikategorikan menjadi dua,
yaitu:

A. Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundangan-undangan, atau peratuan

Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundang-undangan, atau peraturan seperti antara
lain:
1. Persyaratan pendidikan,pelatihan dan pengalaman untuk memasuki profesi.
2. Persyaratan pengembangan dan pendidikan professional berkelanjutan
3. Peraturan tata kelola perusahaan.
4. Standar profesi.
5. Prosedur pengawasan dan pendisiplinan dari organisasi profesi atau regulator
6. Penelaahan eksternal oleh pihak ketiga yang diberikan kewenangan hukum atas
laporan, komunikasi, atau informasi yang dihasilkan oleh Praktisi.

B. Pencegahan dalam lingkungan kerja


Dalam lingkungan kerja, pencegahan yang tepat sangat beragam, tergantung dari
situasinya. Oleh karena itu, setiap praktisi harus mempertimbangkannya secara saksama dalam
menentukan pencegahan apa yang terbaik untuk diterapkan. Pencegahan pada tingkat kerja
terdiri dari pencegahan tingkat institusi dan pada tingkat perikatan. Pencegahan pada tingkat
institusi seperti:
1. Kepemimpinan KAP yang menekankan pentingnya kepatuhan pada prinsip dasar
etika profesi.
2. Kepemimpinan KAP yang memastikan terjaganya tindakan untuk melindungi
kepentingan public oleh tim assurance.
3. Kebijakan dan prosedur untuk menerapkan dan memantau pengendalian mutu
perikatan.
4. Kebijakan dan prosedur internal yang terdokumentasi yang memastikan terjaganya
kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi.

Sementara pencegahan pada tingkat perikatan dalam lingkungan kerja seperi antara lain:

1. Melibatkan praktisi lainnya untuk menelaah hasil pekerjaan yang telah dilakukan atau
untuk memberikan saran yang diperlukan.
2. Melakukan konsultasi dengan pihak ketiga yang independen, seperti contohnya
komisaris independen, prganisasi profesi, atau praktisi lainnya.
3. Mendiskusikan isu-isu etika profesi dengan pejabat klien yang bertanggung jawab
atas tata kelola perusahaan.
4. Melibatkan KAP lain utnuk melakukan atau mengerjakan kembali suatu bagian
perikatan.

Selain lingkungan kerja, profesi, maupun perundang-undangan, klien juga dapat


melakukan beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya pelanggaran etika oleh akuntan publik.
Hal tersebut seperti:
1. Pihak dalam organisasi klien selain manajemen meratifikasi atau menyetujui
penunjukan KAP atau jaringan KAP.
2. Klien memiliki karyawan yang kompeten dengan pengalaman dan senioritas yang
memadai untuk mengambil keputusan manajemen.
3. Klien telah menerapan prosedur internal untuk memastikan terciptanya proses
pemilihan yang objektif atas perikatan selain perikatan assurance.
4. Klien memiliki struktut tata kelola perusahaan yang memastikan terciptanya
pengawasan dan komunikasi yang memadai sehubungan dengan jasa professional
yang diberikan oleh KAP atau jaringan KAP.

Jika pencegahan yang dilakukan tidak berhasil dan munculnya pelanggaran etika atas
profesi akuntan publik tidak dapat terhindar, maka dapat dilakukan beberapa hal dalam
menyelesaikan masalah yang terkait dengan etika profesi. Ketika memulai proses penyelesaian
masalah, setiap Praktisi baik secara individu maupun bersama-sama dengan koleganya harus
mempertimbangkan hal-hal seperti fakta yang relevan, masalah etika profesi yang terkait, prinsip
dasar etika profesi yang terkait dengan masalah etika profesi yang dihadapi, prosedur internal
yang berlaku, dan juga tindakan alternatif yang harus dilakukan.

Setelah mempertimbangkan hal-hal tersebut, Praktisi harus menentukan tindakan yang


sesuai dengan prinsip dasar etika yang diidentifikasi. Selain itu Praktisi juga harus
mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan. Dan jijka masalah etika tersebut
tidak dapat diselesaikan, maka Praktisi harus berkonsultasi dengan pihak yang tepat pada KAP
atau jaringan KAP tempatnya bekerja utnuk membantu menyelesaikan masalah etika profesi
tersebut.

Sumber:

Hayes, Rick, Wallage, Philip, and Gortemaker, Hans, 2014, Principle of Auditing, United
Kingdom: Pearson

Kode Etik Profesi Akuntan Publik. Oleh Institut Akuntan Publik Indonesia