Anda di halaman 1dari 2

PDSA, Salah Satu Proses dan Pendekatan

Quality Improvement
Mulai 1 Januari 2014 telah diberlakukannya kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Pemberlakuan JKN ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem pembiayaan
kesehatan. Jika dulu pembiayaan berbentu pembayaran langsung dari pasien (fee for service)
kini masyarakat diharuskan secara bertahap menggunakan sistem asuransi yang dikelola oleh
BPJS Kesehatan.

Beroperasinya BPJS Kesehatan dapat dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan bagi rumah
sakit. Pada satu sisi, adanya jaminan pembiayaan dari BPJS memberikan rumah sakit
kepastian pembayaran bagi setiap pasien yang dilayani. Pada sisi lain rumah sakit dituntut
untuk memberikan pelayanan yang bermutu, Sebab jika tidak, akan ada complain dari pasien
maupun BPJS Kesehatan. Oleh karena itu rumah sakit harus bertindak seefisien mungkin
agar biaya produksi yang dikeluarkan tidak melebihi biaya yang dibayarkan oleh BPJS
namun tetap dengan kualitas pelayanan yang terbaik dan memuaskan pasien. Pasien adalah
aset yang lebih penting dari karyawan dan bangunan serta fasilitas yang dimiliki bagi rumah
sakit. Sebab, rumah sakit hanya bisa mendapatkan uang dengan adanya pasien.

Maka kunci untuk mempertahankan pelanggan dalam hal ini pasien dan kepercayaan BPJS
kesehatan adalah dengan mempertahankan mutu pelayanan yang terbaik. Mengapa
dibutuhkan mutu? Setidaknya antara lain karena : peningkatan permintaan atas perawatan
yang efektif dan tepat, kebutuhan akan standardisasi dan pengendalian penyimpangan,
perlunya tindakan-tindakan penghematan biaya, penolokukuran (benchmarking), akreditasi,
sertifikasi dan perundangan, persyaratan untuk mendefinisikan dan memenuhi kebutuhan dan
harapan pasien, tekanan persaingan dan untuk perluasan pasar, kebutuhan akan perbaikan
dalam perawatan dan layanan, keinginan atas penghargaan dan berupaya untuk
kesempurnaan, persaingan dan pertimbangan-pertimbangan etika (A. Al-Assaf, 2009;
Prihantoro, 2012)

Salah satu prinsip dalam mutu adalah pengendalian mutu (Quality Control). Pengendalian
mutu merupakan suatu pemikiran dasar untuk menilai hasil yang ingin dicapai dalam
pelaksanaan proses kegiatan produk atau jasa untuk mewujudkan mutu produk atau jasa yang
berkesinambungan dalam konteks memenuhi kebutuhan atau kepuasan pelanggan. Kendali
mutu berfungsi untuk menjaga agar suatu system tetap efektif dalam memadukan
pengembangan mutu, memelihara mutu dan memperbaiki mutu produk atau jasa yang
dihasilkan, sehingga pelayanan yang diberikan dapat berada pada tingkat yang paling
ekonomis dan pada akhirnya pelanggan tetap terpuaskan (A. Al-Assaf, 2009; Prihantoro,
2012)

Untuk melaksanakan pengendalian mutu, maka penting untuk melakukan kerjasama dan
keterpaduan dalam memberikan pelayanan dengan melakukan pengendalian pada siklus
(cycle). Proses pengendalian mutu adalah proses memutarkan apa yang disebut dengan Siklus
PDSA (Plan-Do-Study-Action). Siklus PDSA menggunakan empat tahap pendekatan.
1). Plan adalah mengidentifikasi tahap perubahan untuk perbaikan; 2). Do adalah tahap
menguji perubahan yang telah dilakukan; 3). Study adalah tahap meneliti keberhasilan
perubahan; 4). Act adalah tahap mengidentifikasi adaptasi dan menginformasikan siklus
baru.. Sehingga pada hakekatnya, PDSA merupakan suatu metode untuk melakukan
perbaikan mutu secara berkelanjutan (Continuous Quality Inmprovement).
(Mutupelayanankesehatan, 2015; Prihantoro, 2012)

Siklus PDSA ini dikembangkan oleh Deming dan Shewhart tahun 1986 dari industri
manufaktur yang dikenal dengan metode plan-do-check-action (PDCA). Pada 1996, Langley
mengembangkan metode PDCA sebagai metode yang bisa digunakan dalam konteks
kesehatan. Sekarang PDCA telah menjadi metodologi ilmiah yang diperkenalkan oleh
Speroff dan OConnor tahun 2004 dengan nama metode plan-do-study-action (PDSA).

PDSA pada hakekatnya merupakan kegiatan dilakukan untuk menguji hasil uji coba
perubahan dan menilai dampaknya. Dalam uji coba perubahan yang dilakukan dengan siklus
ini mungkin saja tidak memenuhi keinginan, Oleh sebab itu lebih aman dan lebih efektif jika
uji coba dilakukan dalam skala kecil sebelum dilakukan penerapannya di semua bagian.
Factor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan uji coba adalah berkaitan dengan
pengurangan biaya, waktu, dan risiko dari sebuah pekerjaan. (A. Al-Assaf, 2009; Prihantoro,
2012)

Adapun empat tahapan dalam siklus PDSA adalah sebagai berikut

1. Plan, merupakan tahapan perencanaan perubahan yang akan diuji coba dan
diterapkan. Komponen penting pada tahap ini adalah Merumuskan tujuan.

2. Do, Melaksanakan. Melakukan uji coba atau langkah-langkah perubahan yang telah
direncanakan.

3. Study, Analisis. Yaitu mempelajari dan mengevaluasi data sebelum dan setelah
perubahan serta merefleksikan apa yang telah dipelajari.

4. Act, Tindak lanjut. Merencanakan siklus perubahan berikutnya atau implementasi


penuh/dipertahankan.

Selain PDSA, pendekatan dan proses Quality improvement bisa dilakukan dengan :
Associates for Process Improvements (API) Model for improvement, FOCUS PDCA,
Baldrige Criteria, ISO 9000, Lean, dan Six Sigma (E. R. Ransom et al., 2011)

Yang terbaik dari banyak tools tersebut adalah merangkum, mensinergiskan tools yang satu
dengan yang lain. Karena kunci keberhasilan dari sebuah proses improvement adalah
keberlanjutannya. Sehingga bisa menjadi budaya organisasi. Sehingga menjadi keseharian
sikap seluruh komponen organisasi.

Iklan