Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PERSEPSI DAN SENSORI

PADA PASIEN MASSA TELINGA LUAR

(TRAUMA TELINGA)

DI SUSUN OLEH:

KELOMPOK 9 :

1. Alika Fitriani (121.0009)


2. Intan Ayu R. (121.0049)
3. Lailatul Hidayah (121.0055)
4. Marlina M. (121.0061)
5. Ryan Frandhika P. (121.0095)

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH

SURABAYA

TA. 2014-2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
kuliah ini.
Makalah ini disusun untuk mempelajari dan mengetahui tentang penyakit
Massa Telinga Luar (Trauma Telinga). Selama menyelesaikan tugas ini kami
telah mendapatkan banyak referensi dari berbagai media maupun dari buku-buku
yang sudah kami pelajari.
Untuk mengetahui tentang hal ini. Kami menyadari bahwa Makalah ini
belum sempurna, tetapi kami berharap, ini dapat memberikan pengetahuan yang
berarti dan dapat menambah wawasan bagi kita semua.

Surabaya, 12 Maret 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................1
1.3 Tujuan..................................................................................................2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anatomi Fisiologi Telinga..................................................................3
2.2 Trauma Telinga....................................................................................5
2.3 Trauma Telinga Luar...........................................................................7
2.4 Trauma Telinga Tengah.......................................................................9
2.5 Trauma Telinga Dalam......................................................................10
2.6 Penatalaksanaan Kedaruratan Trauma Telinga..................................11
2.7 Pemeriksaan Penunjang.....................................................................11
2.8 Penatalaksanaan Medis......................................................................12
2.9 Patofisiologi.......................................................................................13
2.10 Komplikasi......................................................................................13

BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Pengkajian...........................................................................................14
3.2 Diagnosa Keperawatan.......................................................................16
3.3 Intervensi.............................................................................................16

BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan........................................................................................18
4.2 Saran..................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................19

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan


untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian
telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi menangkap
getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga
dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima rarigsang bunyi
dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah. Telinga mempunyai
reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan. Ada
tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah,
dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga
tengah meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada
pada telinga dalam akan menerima rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa
impuls ke otak untuk diolah.
Trauma telinga adalah kompleks, sebagai agen berbahaya yang berbeda
dapat mempengaruhi berbagai bagian telinga. Para agen penyebab trauma
telinga termasuk faktor mekanik dan termal, cedera kimia, dan perubahan
tekanan. Tergantung pada jenis trauma, baik eksternal, tengah, dan / atau
telinga bagian dalam bisa terluka.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian Trauma telinga?
1.2.2 Apa etiologi Trauma telinga?
1.2.3 Apa menifestasi klinis dari Trauma telinga?
1.2.4 Apa komplikasi Trauma telinga?
1.2.5 Apa patofisiologi Trauma telinga?
1.2.6 Apa pemeriksaan penunjang Trauma telinga?
1.2.7 Apa pencegahan dan penatalaksanaan dari Trauma telinga?
1.2.8 Apa konsep asuhan keperawatan Trauma telinga?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mahasiswa dapat mengetahui pengertian Trauma telinga
1.3.2 Mahasiswa dapat mengetahui etiologi Trauma telinga
1.3.3 Mahasiswa dapat mengetahui menifestasi klinis dari Trauma telinga
1.3.4 Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi Trauma telinga
1.3.5 Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi Trauma telinga
1.3.6 Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang Trauma telinga
1.3.7 Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan dan penatalaksanaan dari
Trauma telinga
1.3.8 Mahasiswa dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan Trauma
telinga.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Telinga


2.1.1 Anatomi Telinga
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut.
Telinga Luar, terdiri dari :
a. Pinna/Aurikel/Daun Telinga
Pinna merupakan gabungan tulang rawan yang diliputi
kulit, melekat pada Sisi kepala. Pinna membantu mengumpulkan
gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius
eksternus.

b. Liang Telinga/Kanalis Autikus Externus (KAE)


Memiliki tulang rawan pada bagian lateral dan bertulang
pada bagian medial, seringkali ada penyempitan liang telinga pada
perbatasan tulang rawan ini. Terdapat di KAE adalah sendi
temporoman-dibular, yang dapat kita rasakan dengan ujung jari
pada KAE ketika membuka dan menutup mulut.

c. Kanalis Auditorius Exsternus


Panjangnya sekitar 2,5 cm, kulit pada kanalis mengandung
kelenjar glandula seruminosa yang mensekresi substansi seperti
lilin yang disebut juga serumen. Serumen mempunyai sifat
antibakteri dan memberikan perlindungan kulit. Kanalis Auditorius
Eksternus akan berakhir pada membran timpani.

Telinga Tengah, terdiri dari :


a. Membran Timpani/Gendang Telinga membatasi telinga luar dan
tengah.
Merupakan suatu bangunan berbentuk kerucut dengan
puncak-nya umbo mengarah ke medial. Membrane timpani
tersusun oleh suatu lapisan epidermis, lapisan fibrosa, tempat
melekatnya tangkai malleus dan lapisan mukosa di bagian
dalamnya.
b. Kavum Timpani
Dimana terdapat rongga di dalam tulang temporal dan
ditemu-kan 3 buah tulang pendengaran yang meliputi :

1. Malleus, bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga.


2. Inkus, menghubungkan maleus dan stapes.
3. Stapes, melekat pda jendela oval di pintu masuk telinga dalam.

c. Antrum Timpani
Merupakan rongga tidak teratur yang agak luas terletak
dibagian bawah samping kavum timpani, antrum dilapisi oleh
mukosa yang merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum
timpani, rongga ini berhubungan dengan beberapa rongga kecil
yang disebut sellula mastoid yang terdapat dibelakang bawah
antrum di dalam tulang temporalis.

d. Tuba Auditiva Eustakhius


Dimana terdapat saluran tulang rawan yang panjangnya
3,7 cm berjalan miring kebawah agak ke depan dilapisi oleh
lapisan mukosa. Tuba Eustakhius adalah saluran kecil yang
memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga.
Telinga Dalam, terdiri dari :
Telinga dalam terdapat jauh didalam bagian petrous tulang
temporal, didalamnya terdapat organ untuk pendengaran (koklea)
dan keseimbangan (kanalis semisirkularis) dan saraf cranial VII
(nervus fasialis) dan nervus VIII (nervus kokleovestibularis).
2.1.2 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh


pinna dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau
tulang koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani,
diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran
yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan lurus membran timpani dan
tingkap lonjong.

Energi getaran tersebut akan diteruskan ke stapes yang


menggerakan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibula
bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfe sehingga akan menimbulkan gerakan relative
antara membran basalis dan membrantektoria.

Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan


terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka
dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
meimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan
neurotransmitter ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial
aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai
ke korteks pendengaran di lobus temporalis.

2.2 Trauma Telinga

2.2.1 Pengertian

Trauma telinga adalah kompleks, sebagai agen berbahaya yang


berbeda dapat mempengaruhi berbagai bagian telinga. Para agen
penyebab trauma telinga termasuk faktor mekanik dan termal, cedera
kimia, dan perubahan tekanan. Tergantung pada jenis trauma, baik
eksternal, tengah, dan / atau telinga bagian dalam bisa terluka.

Trauma liang telinga umumnya disebabkan oleh kesalahan sewaktu


membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat pembersih telinga
lainnya. Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.

Trauma pada membran timpani disebabkan oleh tamparan, ledakan


(barotrauma), menyelam yang terlalu dalam, luka bakar ataupun
tertusuk. Akibatnya timbul gangguan pendengaran berupa tuli
konduktif karena robeknya membran timpani atau terganggunya
rangkaian tulang pendengaran, yang terkadang disertai tinitus.

Trauma tulang temporal dan fraktur basis kranium yang terbanyak


adalah dari jenis fraktur yang mempunyai garis fraktur longitudinal.
Fraktur jenis ini mengenai liang telinga, membran timpani, telinga
tengah, tuba eustachius dan foramen laserum. Gejalanya berupa
perdarahan pada liang telinga, tuli konduktif, keluarnya cairan
serebrospinal dan paresis saraf fasial. Fraktur tulang temporal jenis lain
adalah fraktur tulang temporal dengan garis fraktur transversal.
Biasanya memberikan gejala yang lebih berat. Dapat ditemukan
hemotimpanum, keluarnya cairan serebro spinal dari hidung, tuli
sensorineural dan sering ditemukan paresis saraf fasialis.

2.2.2 Etiologi

Menurut Soepardi (2000: 30), penyebab utama dari trauma telinga antara
lain:

a.Kecelakaan lalu lintas


b. Perkelahian
c.Kecelakaan dalam bidang olahraga
d. Luka tembak
e.Kebiasaan mengorek kuping
2.2.3 Manifestasi Klinik

Menurut Soepardi (2000: 30), manifestasi klinik trauma telinga antara


lain:

a.Edema
b. Laserasi
c.Luka robek
d. Hilangnya sebagian/seluruh daun telinga
e.Perdarahan
f. Hematom
g. Nyeri kepala
h. Nyeri tekan pada kulit kepala
i. Fraktur tulang temporal

2.3 Trauma telinga luar

2.3.1 Pengertian

Trauma telinga luar adalah cedera pada telunga luar misalnya


akibat pukulan tumpul, atau akibat suatu kecelakaan, bisa menyebabkan
memar diantara kartilago dan pericardium.

2.3.2 Macam-Macam Trauma

a. Laserasi

1. Etiologi, merupakan luka pendarahan yang disebabkan oleh


mengorek-ngorek telinga.
2. Gambaran klinis, laserasi pada dinding kanalis dapat
menyebabkan perdarahan sementara.
3. Pengobatan, tidak memerlukan pengobatan selain hentikan
perdarahan, bila perlu pergi kedokter untuk memastikan tidak ada
perforasi membrane timpani. Laserasi hebat pada aurikula harus
diexplorasi untuk mengetahui apakah ada kerusakan tulang
rawan.
b. Frostbitea
1. Etiologi, Sengatan pada suhu yang dingin pada aurikula timbul
dengan cepat pada lingkungan bersuhu rendah dengan angin
dingin yang kuat.
2. Gambaran klinis, Sengatan pada suhu yang dingin pada aurikula
timbul dengan cepat pada lingkungan bersuhu rendah dengan
angin dingin yang kuat. Sehingga mengalami Vasokontriksi
hebat pembuluh darah telinga bagian luar yang di ikuti
priode dilatasi yang berlangsung lebih lama.
3. Pengobatan/penatalaksanaan
4. Pemanasan yang cepat 100-108 F/ tidak > 37 C.
5. Berikan analgesik
6. Jika menimbulkan infeksi yang nyata secara klinis, berikan
antibiotic.
c. Hematoma
1. Etiologi, Gumpalan darah yang diakibatkan oleh luka dalam yang
sering terjadi pada petinju dan pegulat.
2. Gambaran klinis, Jika terjadi penimbunan darah di daerah yang
cedera tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar
dan tampak massa berwarna ungu kemerahan. Darah yang
tertimbun ini (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya
aliran darah ke kartilago sehingga terjadi perubahan
bentuk telinga. Kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol,
yang sering ditemukan pada pegulat dan petinju.
3. Penatalaksanaan, Untuk membuang hematoma, biasanya
digunakan alat penghisap dan penghisapan dilakukan sampai
hematoma betul-betul sudah tidak ada lagi (biasanya selama 3-
7 hari). Dengan pengobatan, kulit dan perikondrium akan
kembali ke posisi normal sehingga darah bisa kembali
mencapai kartilago. Jika terjadi robekan pada telinga,
maka dilakukan penjahitan dan pembidaian pada
kartilagonya. Pukulan yang kuat pada rahang bisa
menyebabkan patah tulang disekitar saluran telinga dan
merubah bentuk saluran telinga dan merubah bentuk
saluran telinga dan seringkali penyempitan. Perbaikan
bentuk bisa dilakukan melalui pembedahan.

2.4 Trauma Telinga Tengah

Trauma pada telinga tengah biasanya disertai dengan sakit telinga dan
kadang-kadang juga disertai dengan pendarahan dari telinga, gangguan
pendengaran, dan kelemahan wajah ipsilateral. Bentuk lengkung EAC, dengan
isthmus sempit, membantu untuk melindungi TM dari cedera langsung.

Fungsi laindari tuba eustachius juga membantu untuk mencegah


pecahnya TM dari perubahan tekanan berlebih. Ketika mekanisme pelindung
gagal, atau kekuatan ekstrem terjadi pada telinga atau kepala, perforasi
traumatis dari TM dapat terjadi, biasanya terjadi di bagian tengah. Sebuah
perforasi traumatik TM dapat disebabkan oleh trauma langsung ke TM oleh
FB, ledakan, tekanan perubahan dari udara atau air, atau akibat dari trauma
kepala dengan atau tanpa fraktur tulang temporal.

Mayoritas perforasi TM traumatis akan dapat sembuh secara spontan. Jika


tidak ada bukti infeksi, penggunaan topikal antibiotik tidak diperlukan. Resep
obat tetes telinga mengandung gentamisin selama lebih dari lima sampai tujuh
hari dapat mengakibatkan ototoxicity dan harus dihindari. Terapi konservatif
untuk mencegah infeksi sekunder biasanya diperlukan. Tympanoplasty jarang
diperlukan, kecuali bila perforasi terus-menerus terjadi. Ketika luka misalnya
terjadi perforasi TM sangat sulit untuk disembuhkan.

Dalam kondisi di mana perubahan tekanan eksternal yang cepat (misalnya


dalam penerbangan pesawat, menyelam, atau ledakan) barotrauma otic
mungkin terjadi. Pecahnya pembuluh darah halus di telinga tengah
menyebabkan pengumpulan darah pada dalam permukaan TM atau ruang
telinga tengah, yang dikenal sebagai hemotympanum. Pencegahan barotrauma
selama penerbangan pesawat sangat penting utamanya pada fungsi tuba
eustachius.
Trauma membran tympani adalah kelainan pada mebran timpani yang
disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung. Biasanya muncul
gejala tinius, gangguan pendengaran, vertigo, dan dapat terjadi infeksi.
Penangannya yaitu Pada keadaan akut, dilakukan pencegahan terjadinya
infeksi sekunder dengan menutup liang telinga yang trauma dengan kasa
steril. Biasanya perforasi akan sembuh secara spontan.Operasi emergensi
dilakukan pada trauma tembus dengan gangguan pendengaran sensorineural
dan vertigo, dengan kecurigaan fraktur dan impaksi kaki stapes ke vertbuler
atau fistua perilimpa. Jika perforasi menetap setelah 4 bulan, dan terdapat
gangguan pendengaran konduktif >20 dB, merupakan indikasi timpanoplasti.
Lakukan pemeriksaan Audiometri atau CT scan bila diduga ada benda asing
atau rusaknya rangkaian tulang pendengaran

2.5 Trauma telinga dalam

Organ yang sangat sensitif di dalam telinga adalah organ pendengaran


(koklea) dan keseimbangan (Reseptor otolithic dan kanal berbentuk setengah
lingkaran) yang terletak dalam bagian dari tulang temporal, dikelilingi oleh
tulang padat dikenal sebagai kapsul otic. Meskipun perlindungan yang baik
dari tulang dalam tubuh manusia, unsur-unsur telinga dalam yang rapuh,
rentan terhadap trauma kepala baik longitudinal atau transversal yang
menyebabkan fraktur. Seorang pasien dengan riwayat trauma kepala,
menunjukkan pendarahan dari telinga, mengalami gangguan pendengaran
konduktif, dan kelainan bentuk membran timpani yang diperiksa dengan
menggunakan otoscopy (Gambar 8), merupakan gejala dari fraktur
longitudinal. Cedera kepala berat, biasanya setelah pukulan ke tengkuk, dapat
mengakibatkan fraktur melintang di labirin tulang. Gambaran klinis dari
fraktur melintang meliputi kerusakan saraf sensorik yang mengakibatkan
gangguan pendengaran dan vertigo yang parah. Computed tomography (CT)
scan tulang temporal adalah alat yang bermanfaat untuk mendiagnosis.
2.6 Penatalaksanaan Kedaruratan trauma telinga

1. Pasien diistirahatkan duduk atau berbaring


2. Atasi keadaan kritis ( tranfusi, oksigen, dan sebagainya )
3. Bersihkan luka dari kotoran dan dilakukan debridement,lalu hentikan
perdarahan
4. Pasang tampon steril yang dibasahi antiseptik atau salep antibiotik.
5. Periksa tanda-tanda vital,
6. Pemeriksaan otoskopi secara steril dan dengan penerangan yang baik, bila
mungkin dengan bantuan mikroskop bedah atau loup untuk mengetahui
lokasi lesi.
7. Pemeriksaan radiology bila ada tanda fraktur tulang temporal. Bila
mungkin langsung dengan pemeriksaan CT scan.

2.7 Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan dengan Otoskopik

Mekanisme :

Bersihkan serumen
Lihat kanalis dan membran timpani

Interpretasi :

Warna kemerahan, bau busuk dan bengkak menandakan adanya


infeksi
Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya tumpukan darah
dibelakang gendang.
Kemungkinan gendang mengalami robekan.

b. Pemeriksaan Ketajaman
Test penyaringan sederhana
1. Lepaskan semua alat bantu dengar
2. Uji satu telinga secara bergiliran dengan cara tutup salah satu telinga
3. Berdirilah dengan jarak 30 cm
4. Tarik nafas dan bisikan angka secara acak (tutup mulut)
5. Untuk nada frekuensi tinggi: lakukan dgn suara jam

c. Uji Ketajaman Dengan Garpu Tala


Uji weber
1. Menguji hantaran tulang (tuli konduksi)
2. Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
3. Letakan tangkai garpu tala pada puncak kepala pasien.
4. Tanyakan pada pasien, letak suara dan sisi yang paling keras.

2.8 Penatalaksanaan Medis

1. Pasien diistirahatkan duduk atau berbaring


2. Atasi keadaan kritis ( tranfusi, oksigen, dan sebagainya )
3. Bersihkan luka dari kotoran dan dilakukan debridement,lalu hentikan
perdarahan
4. Pasang tampon steril yang dibasahi antiseptik atau salep antibiotik.
5. Periksa tanda-tanda vital
6. Pemeriksaan otoskopi secara steril dan dengan penerangan yang baik, bila
mungkin dengan bantuan mikroskop bedah atau loup untuk mengetahui
lokasi lesi.
7. Pemeriksaan radiology bila ada tanda fraktur tulang temporal. Bila
mungkin langsung dengan pemeriksaan CT scan.

2.9 Patofisiologi

1. Trauma liang telinga umumnya disebabkan oleh kesalahan sewaktu


membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat pembersih telinga
lainnya. Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.
2. Benda asing yang masuk ke telinga biasanya disebabkan oleh beberapa
factor antara lain pada anak anak yaitu factor kesengajaan dari anak
tersebut, factor kecerobohan misalnya menggunakan alat-alat pembersih
telinga pada orang dewasa seperti kapas, korek api ataupun lidi.
3. Masuknya benda asing ke dalam telinga yaitu ke bagian kanalis audiotorius
eksternus akan menimbulkan perasaaan tersumbat pada telinga, sehingga
klien akan berusaha mengeluarkan benda asing tersebut. Namun, tindakan
yang klien lakukan untuk mengeluarkan benda asing tersebut sering kali
berakibat semakin terdorongnya benda tersebut ke bagian tulang kanalis
eksternus sehingga menyebabkan laserasi kulit dan melukai membrane
timpani. Akibat dari laserasi kulit dan lukanya membrane timpanai, akan
menyebabkan gangguan pendengaran , rasa nyeri telinga atau otalgia dan
kemungkinan adanya risiko terjadinya infeksi.

2.10 Komplikasi

Akibat Trauma telinga yaitu akan terjadi komplikasi, yaitu tulang


rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lisut
(cauliflower ear).(Helmi Sosialisman dkk,2004)

BAB 3

PEMBAHASAN

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA PADA TELINGA

3.1 Pengkajian
3.1.1 Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh adanya nyeri, apalagi jika daun telinga
disentuh. Didalam telinga terasa penuh karena adanya penumpukan
serumen atau disertai pembengkakan.Terjadi gangguan pendengaran dan
kadang-kadang disertai demam.Telinga juga terasa gatal.
3.1.2 Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang: Waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat
kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan segera yang diberikan setelah
kejadian
b. Riwayat kesehatan masa. Lalu tanyakan pada klien dan keluarganya:
1. Apakah klien dahulu pernah menderita sakit seperti ini?
2. Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit lain, seperti panas
tinggi,kejang?
3. Apakah klien sering mengorek-ngorek telinga dengan benda asing
yangdapat mengakibatkan lesi (luka)?
4. Bagaima klien mengobati luka tersebut pada telinga?
5. Apakah pernah menggunakan obat tetes telinga atau salep?
6. Apakah pernah keluar cairan dari dalam telinga?
7. Bagaimana karakteristik dari cairannya (warna, bentuk, dan bau)?
3.1.3 Biodata
a. Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor
register, dandiagnosa medis.
b. Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, usia,
pendidikan,pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat.
c. Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin,
hubungandengan klien, dan status kesehatan.

3.1.4 Pemeriksaan fisik


a. Inspeksi
Inspeksi keadaan umum telinga, pembengkakan pada MAE
(meatusauditorius eksterna) perhatikan adanya cairan atau bau, warna
kulit telinga,penumpukan serumen, tonjolan yang nyeri dan berbentuk
halus, serta adanya peradangan.
b. Palpasi, Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi
respon nyeridari klien, maka dapat dipastikan klien menderita otitis
eksternasirkumskripta (furunkel).
3.1.5 Data subjektif dan data objektif
a. Data subjektif
1. Klien mengeluh telinganya sakit atau nyeri atau terasa gatal
2. Klien mengeluh pendengarannya berkurang.
3. Klien mengatakan sering mengorek telinganya dengan benda asing
sehingga menyebabkan lesi.
4. Klien mengatakan kepala terasa pusing.
b. Data objektif

1. Klien berespons kesakitan saat daun telinganya disentuh.

P : saat disentuh
Q : menusuk
R : daerah sekitar telinga
S:5
T : intermitten (saat disentuh)

2. Klien tampak meringis kesakitan


3. Klien sering mendekatkan telinganya kepada perawat saat
perawatberbicara.
4. Adanya benjolan atau furunkel pada telinga atau filamen jamur
yangberwarna keputih-putihan.
5. Liang telinga tampak sempit, hyperemesis dan edema tanpa batas
yangjelas.
3.2 Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b/d trauma dan proses inflamasi
2. Gangguan persepsi sensori: pendengaran b/d adanya benjolan atau
furunkel
3. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kesukaran
memahami orang lain (kurangnya pendengaran).
4. Ansietas b/d kurang pengetahuan tentang penyakit, penyebab infeksi dan
tindakan pencegahannya.
5. Resiko gangguan konsep diri berhubungan dengan terjadinya ketulian,
sekunder terhadap tanda-tanda infeksi.

3.3 Intervensi
1. Nyeri b/d trauma dan proses inflamasi
a.Kaji tingkat nyeri klien
b. Lakukan pembersihan telinga secara teratur dan hati-hati.
c.Beri penyuluhan kepada klien tentang penyebab nyeri dan penyakit yang
dideritanya.
d. Berikan kompres hangat pada daerah nyeri
e.Kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotik.
2. Gangguan persepsi sensori: pendengaran b/d adanya benjolan atau furunkel.
a. Masukkan tampon yang mengandung antibiotik ke dalam liang telinga.
b. Berikan kompres rivanol 1/1000 selama 2 hari.
c. Lakukan irigasi telinga dan keluarkan serumen atau secret.
d. Lakukan aspirasi secara steril (bila terjadi abses) untuk mengeluarkan
nanahnya.
3. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kesukaran
memahami orang lain (kurangnya pendengaran).

a. Kaji kemampuan mendengar klien.


b. Identifikasi metode alternatif dan efektif untuk berkomunikasi
c. Usahakan saat berbicara selalu berhadapan dengan klien.
4. Ansietas b/d kurang pengetahuan tentang penyakit, penyebab infeksi dan
tindakan pencegahannya.
a. Kaji status psikologis dan emosional
b. Anjurkan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
c. Gunakan terminologi positif, hindari penggunaan istilah yang
menandakan abnormalitas prosedur atau proses.
d. Berikan kesempatan pada klien untuk memberi masukan pada proses
pengambilan keputusan.
e. Anjurkan penggunaan/kontinuitas teknik pernapasan dan latihan
relaksasi.
5. Resiko gangguan konsep diri berhubungan dengan terjadinya ketulian,
sekunder terhadap tanda-tanda infeksi.
a. Dorong individu atau keluarga untuk mengekspresikan perasaan,
khususnya mengenai pandangan, pemikiran, dan perasaan seseorang.
b. Dorong individu atau keluarga untuk bertanya mengenai masalah,
penanganan, perkembangan dan prognosa kesehatan.
c. Berikan informasi yang akurat kepada klien dan keluarga dan perkuat
informasi yang sudah ada.
d. Perjelas berbagai kesalahan konsep individu mengenai diri, perawatan,
atau pemberi perawatan.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting
pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat
penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada
kemampuan mendengar.
Trauma telinga adalah kompleks, sebagai agen berbahaya yang berbeda
dapat mempengaruhi berbagai bagian telinga. Para agen penyebab trauma
telinga termasuk faktor mekanik dan termal, cedera kimia, dan perubahan
tekanan. Tergantung pada jenis trauma, baik eksternal, tengah, dan / atau
telinga bagian dalam bisa terluka.

.
4.2 Saran
1. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang pembaca, terutama
mahasiswa keperawatan
2. Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa
keperawatan.

3. semoga makalah ini dapat menjadi pokok bahasan dalam berbagai diskusi
dan forum terbuka

DAFTAR PUSTAKA
Adams, George L. 1997. Boles: buku ajar penyakit THT. Jakarta: EGC.

Cody, D Thane, Kern, Eugene & Pearson, W Bruce. 1991. Penyakit telinga
hidung dan tenggorokan. Jakarta: EGC.

Doengoes, M.E., Moorhouse, Many Frances, & Geissler, Alice CC. 1999.
Rencana asuhan keperawatan:pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. edisi 3. Jakarta: EGC.

Haryani, Ani. 2004. Nursing diagnosis a guide to planning care. 4th ed.

Harold, Ludman. 1992. Petunjuk penting pada penyakit THT. Jakarta: Hipokrates.

Ignativicius, Donna D., Bayne, Marilynn V. 1991. Medical surgical nursing: a


nursing process approach. Philadelphia: WB Saunders Company.

Nanda. 2001. Nursing diagnosis: definition and classification, 2001-2002.


Philadelphia: North American Nursing Diagnosis Association.

Priharjo, Robert. 1996. Pengkajian kepala dan leher. Dalam 4 Asih, Ni Luh Gede.

Smeltzer, Suzzane C., Bare G. Brenda. 2000. Brunner and Suddarts: textbook of
medical-surgical nursing. Philadelphia: Lippincett.