Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I

PERCOBAAN III

PARTISI EKSTRAK (Orthosiphon stamineus)

OLEH

NAMA : SRI HASTUTI

NIM : O1A1 14 052

KELAS :B

KELOMPOK : VII (TUJUH)

ASISTEN : RIZKY AUDINA SYAHRIR

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2016

PERCOBAAN III
PARTISI EKSTRAK

A. Tujuan Praktikum
Setelah mengikuti percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1. Mengetahui prinsip dasar ekstraksi cair-cair
2. Melakukkan ekstraksi cair-cair komponen kimia dari bahan alam

B. Tinjauan Pustaka
Pada tahun tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah
berkembang menjadi satu disiplin tersendiri, berada diantara kimia organic bahan
alam dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan erat dengan keduanya. Bidang
perhatiannya adalah aneka ragam senyawa organic yang dibentuk dan ditimbun
oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan serta
metabolismenya, penyebaran secara ilmiah, dan fungsi biologisnya (Harborne,
J.B, 1987).
Tanaman mengandung senyawa penting yang dikenal sebagai fitokimia,
kelompok senyawa alami yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan dan
mengobati penyakit. Kelompok senyawa kimia tanaman yang mem-berikan efek
farmakologis adalah senyawa metabolit sekunder, terdiri dari minyak atsiri,
flavonoid, alkaloid, steroid dan triterpenoid yang akan memberikan aroma, bau
yang spesifik serta kualitasnya (Hernani dan Nurdjanah, 2009).
Orthosiphon stamineus merupakan salah satu tumbuhan sangat popular
sebagai sumber pengobatan herbal, pada umumnya dikumpulkan dari pulau jawa.
Aktivitas biologis, terutama aktivitas antoiksidan yang ditunjukan oleh tanaman
ini diduga disebabkan oleh senyawa golongan fenolat, khususnya senyawa
flavanoid (Pratiwi dkk, 2010).
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah
ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat
secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan
menggunakan tekanan (Ditjen POM, 1995).
Proses ekstraksi cair-cair terus dikembangkan karena mengarah pada: a)
pengembangan pelarut baru agar lebih selektif terhadap ion tertentu, b) pemakaian
kembali pelarut ke dalam proses, sehingga dapat menghemat biaya,
c)peningkatkan unjuk kerja proses agar kebutuhan energi yang lebih rendah,
d)peralatan yang lebih kecil, e) kebutuhan bahan pelarut yang lebih hemat, dan
f)limbah yang lebih sedikit. Metode ini terus dikembangkan untuk membuat
proses ekstraksi lebih efisien, efektif dan dipakai untuk meningkatkan produksi
(Biyantoro dan Mahadi, 2010)

C. Alat dan Bahan


1) Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
- Corong pisah
- Gelas kimia
- Botol vial
- Sendok besi
- Timbangan Analitik
- Cawan porselin
2) Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
- Ekstrak Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)
- Larutan Etanol
- Larutan N-Heksan
- Larutan Asam Asetat
- Aquades
- Aluminium Foil
D. Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari percobaan ini dapat dilihat dari bagan berikut :

Ekstrak (5 gram) +methanol(9 mL)


- Ditambahkan larutan n-heksan15 ml
- Dimasukkan ke dalam labu takar dan dikocok
- Didiamkan hingga terbentuk dua lapisan

Tidaklarut n -heksan Fraksi n -heksan


- DitambahkanEtilAsetat 5 ml

- Ditambahkan Air

Tidaklarutetilasetat Fraksietilasetat

Evaporasi

Ekstrak
E. Hasil Pengamatan

a. Gambar pelarut dan fraksi

LABORATORIUM FITOKIMIA LABORATORIUM FITOKIMIA


JURUSAN FARMASI JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO UNIVERSITAS HALU OLEO

Pelarut/Fraksi : methanol + n-heksan Pelarut/Fraksi : methanol+ etil


asetat + air
b. Gambar Fraksi

LABORATORIUM LABORATORIUM LABORATORIUM


FITOKIMIA FITOKIMIA FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI JURUSAN FARMASI JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU UNIVERSITAS HALU UNIVERSITAS
OLEO OLEO HALU OLEO

Fraksi Metanol Fraksi Etil Asetat Fraksi n-heksan


Berat Organoleptik
Berat Rendem
No Fraksi Fraksi
Ekstrak Bau Rasa Warna en
Ekstrak
54,95 Bau Hijau
1. n-heksan 5 gram Pedis 0,09 %
gram khas pekat
Bau Hijau
2. Metanol 5 gram Pedis
khas pekat
45,53 Bau
3. Etil asetat 5 gram Pedis Kuning 0,10 %
gram khas

c. Tabel Pengamatan

Perhitungan :
Bobot Ekstrak
R n-heksan % = X 100 %
Bobot Fraksi Ekstrak
5 gram
= X 100 %
54,95 gram
= 0,09 %

Bobot Ekstrak
R etil asetat % = X 100 %
Bobot Fraksi Ekstrak
5 gram
= X 100 %
45,53 gram
= 0,10, %
F. Pembahasan

Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan keanekaragaman


hayati terutama tumbuh-tumbuhan. Ada lebih dari 30.000 jenis tumbuhan yang
terdapat di bumi Nusantara ini, dan lebih dari 1000 jenis telah diketahui dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan. Tumbuhan obat sudah sejak lama dimanfaatkan
oleh masyarakat untuk meningkatkan kesehatan (promotif), memulihkan
kesehatan (rehabilitative), pencegahan penyakit (preventif), dan penyembuhan
penyakit (kuratif). Ramuan obat bahan alam hampir dimiliki oleh setiap suku
bangsa di Indonesia dan digunakan secara turun temurun sebagai obat.
Pada era globalisasi ini obat bahan alam baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar negeri sangat pesat perkembangannya, dengan demikian supaya
produk-produk herbal tersebut dapat terjaga kualitas dan khasiatnya maka
diperlukan suatu standarisasi baik pada bahan baku ataupun dalam bentuk sediaan
ekstrak atau sediaan galenik. Beberapa Negara baik di Eropa, Asia, dan Amerika
telah menetapkan beberapa standar terhadap bahan baku produk herbal ini, bahkan
WHO juga telah menetapkan standar terhadap beberapa tanaman yang biasa
digunakan sebagi bahan baku obat / produk herbal. Beberapa contoh jenis standar
yang dimaksud adalah BHP (British Herbal Pharmacopoeia), USP (United States
Pharmacopoeia), JSHM (Japanese Standards For Herbal Medicines), API (The
Ayurvedic Pharmacopoeia of India), WHO's Guidelines For Medicinal Plant
Materials.
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah
ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat
secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan
menggunakan tekanan.
Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling bercampur
menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan analitis.
Bahkan dimana tujuan primer bukan analitis namun preparatif, ekstraksi dengan
menggunakan pelarut merupakan suatu langkah penting dalam mencari senyawa
aktif suatu tumbuhan, dan kadang-kadang digunakan peralatan yang rumit namun
seringkali diperlukan hanya sebuah corong pisah. Seringkali suatu pemisahan
ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat diselesaikan dalam beberapa menit,
pemisahan ekstraksi biasanya bersih dalam arti tak ada analog kospresipitasi
dengan suatu sistem yang terjadi.
Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan
bagian tumbuhan obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat
aktif tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tumbuhan dan hewan memiliki
perbedaan begitu pula ketebalannya sehingga diperlukan metode ekstraksi dan
pelarut tertentu untuk mengekstraksinya. Umumnya zat aktif yang terkandung
dalam tumbuhan maupun hewan lebih mudah larut dalam pelarut organik. Proses
terekstraksinya zat aktif dimulai ketika pelarut organik menembus dinding sel dan
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan terlarut
sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan
pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi ke luar sel, dan
proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi zat
aktif di dalam dan di luar sel.
Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam jumlah
tahap yang banyak. Setiap tahap menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya
adalah konsentrasi larutan ekstrak makin lama makin rendah, dan jumlah total
pelarut yang dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut
kembali biayanya menjadi mahal. Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi,
semakin pendek jalan yang harus ditempuh pada perpindahan massa dengan cara
difusi, sehingga semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan padat, tahanan
semakin besar jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak
semakin terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahan-bahan alami).
Ekstraksi terbagi menjadi dua yakni ekstraksi padat - cair dan ekstraksi
cair-cair. Pada percobaan kali ini kita menggunakan ekstraksi cair-cair. Ekstraksi
cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia diantara dua fase
pelarut yang tidak dapat saling bercampur dimana sebagian komponen larut pada
fase pertama dan sebagiannya lagi larut pada fase kedua. Kedua fase yang
mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan
sempurna dan terbentuk dua lapisan fase zat cair. Komponen kimia akan terpisah
ke dalam dua fasa tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan
perbandingan konsentrasi yang tetap.
Ekstraksi cair-cair dilakukan dengan cara pemisahan komponen kimia
diantara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur. Dimana sebagian komponen
larut pada fase pertama, dan sebagian larut pada fase kedua. Lalu kedua fase yang
mengandung zat terdispersi dikocok, dan didiamkan sampai terjadi pemisahan
sempurna dan terbentuk dua lapisan. Yakni fase cair dan komponen kimia yang
terpisah. Untuk mencapai proses ekstraksi cair-cair yang baik, pelarut yang
digunakan harus memenuhi criteria 1) kemampuan tinggi melarutkan komponen
zat terlarut di dalam campuran; 2) kemampuan tinggi untuk diambil kembali; 3)
perbedaan berat jenis antara ekstrk dan rafinat lebih besar; 4) pelarut dan larutan
yang akan diekstraksi harus tidak mudah campur; 5) tidak mudah bereaksi dengan
zat yang akan diekstraksi; 6) tidak merusak alat secara korosi; 7) tidak mudah
terbakar, tidak beracun dan harganya relatif murah.
Pada praktikum kali ini dilakukan partisi cair-cair dengan sampel yang
berasal dari hasil ekstraksi maserasi terhadap daun dari tumbuhan Kumis kucing
(Orthosiphon aristatus). Hal pertama yang dilakukan adalah disiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan. Kemudian alat tersebut dibersihkan dengan air suling
dan dibilas dengan alkohol. Tujuannya yaitu untuk menghilangkan kotoran, lemak
dan mikroba yang menempel pada alat tersebut. Pengerjaan awal, partisi
dilakukan dengan menggunakan pelarut non polar (n-Heksan), hal ini
disebabkan karena jika pada pengerjaan awal digunakan pelarut polar, maka
dikhawatirkan adanya senyawa nonpolar yang ikut terlarut, sebagaimana kita
ketahui bahwa pelarut polar, selain mampu melarutkan senyawa yang bersifat
polar juga mampu melarutkan senyawa yang bersifat nonpolar. Tahap-tahap dalam
melakukan proses partisi yaitu pertama-tama ekstrak metanol dilarutkan dalam air.
Setelah larut, kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah dan ditambahkan 100
ml n-heksana dan dikocok pada satu arah hingga homogen. Sesekali membuka
kerancorong pisah untuk mengeluarkan udara dari hasil pengocokan. Dalam
proses pemisahan ini, senyawa yang bersifat nonpolar akan berada dalam fase
bawah sedangkan senyawa yang bersifat polar berada dalam fase atas. Hal ini
terjadi karena adanya perbedaan berat jenis antara methanol dan n-heksan. Berat
jenis n-heksan yaitu 0,654 g/ml lebih kecil dibandingkan dengan metanol 0,79
g/ml. Selanjutnya untuk lapisan ekstrak n-heksan ditampung dan diuapkan
sehingga di dapatkan ekstrak kering. Sedangkan untuk lapisan metanol
dimasukkan ke dalam corong pisah dan ditambahkan lagi n-heksan dan dikocok
hingga homogen, prosedur ini dilakukan sama halnya pada prosedur awal, dan
dilakukan terus-menerus hingga lapisan atas kelihatan jernih. Setelah dipartisi
dengan menggunakan n-heksan, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan
pelarut etil asetat jenuh dan air, dengan melakukan proses yang sama dengan
penggunaan pelarut n-heksan.
Etil Asetat merupakan senyawa organik berumus molekul CH3COOCH2CH3
adalah zat sintesis dari ethanol dan asam asetat dengan katalis asam sulfat melalui
proses esterifikasi. Etil asetat merupakan pelarut dengan toksisitas rendah yang
bersifat semi polar sehingga diharapkan dapat menarik senyawa yang bersifat
polar maupun nonpolar dari ekstrak kulit batang jarak merah.
G. Kesimpulan
1. Prinsip dasar ekstraksi cair-cair yakni ekstraksi cair-cair dilakukan
dengan cara pemisahan komponen kimia diantara 2 fase pelarut yang
tidak saling bercampur. Dimana sebagian komponen larut pada fase
pertama, dan sebagian larut pada fase kedua. Lalu kedua fase yang
mengandung zat terdispersi dikocok, dan didiamkan sampai terjadi
pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan. Yakni fase cair dan
komponen kimia yang terpisah.
2. Ekstraksi cair-cair komponen kimia dari bahan alam yaitu pemisahan
komponen kimia diantara dua fase pelarut yang tidak dapat saling
bercampur dimana sebagian komponen larut pada fase pertama dan
sebagiannya lagi larut pada fase kedua. Kedua fase yang mengandung zat
terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna
dan terbentuk dua lapisan fase zat cair. Komponen kimia akan terpisah ke
dalam dua fasa tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan
perbandingan konsentrasi yang tetap.

DAFTAR PUSTAKA

Biyantoro, D; Muhadi A, 2010. Kajian Pemisahan Zr-Hf Dengan Proses Ekstraksi


Cair-Cair. Prosiding PPI- PDIPTN Pustek Akselerator. ISSN 0216-3128

Ditjen POM, 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI : Jakarta


Harborne, J.B., (1987), Metode Fitokimia, Edisi ke dua, ITB, Bandung

Hernani & nurdjanah., 2009. Aspek Peneringan Dalam Mempertahankan


Keuntungan Metabolit Sekunder Pada Tanaman Obat. Perkembangan
Teknologi Tro. Vol 2(2) Hal 33-39

Pratiwi, P; Meiny S; Bambang C, 2010. Total Fenolat Dan Flavanoid Dari Ektrak
Dan Fraksi Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus.B) Jawa Tengah
Serta Aktivitas Antioksidannya. Jurnal Sains dan Matematika. Vol 18(4)