Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN FITOKIMIA I

PERCOBAAN II
METODE EKSTRAKSI TMBUHAN SERAI (CYMBOPOGON

CITRATUS)

OLEH :

NAMA : RANI VITRIA


NIM : O1A1 14 081
KELAS :B
KELOMPOK : VI (ENAM)
ASISTEN : RAHMI ARDANI

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
PERCOBAAN I
METODE EKSTRAKSI
A. Tujuan Praktikum
Setelah mengikuti percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1. Mengetahui prinsip terekstraksinya komponen kimia dari bahan alam.
2. Mengenal jenis-jenis metode ekstraksi bahan alam.
3. Mampu melakukan ekstraksi bahan alam.
B. Teori Umum
Maserasi dan ekstraksi sinambung merupakan dua metode ekstraksi yang
lazim digunakan. Maserasi adalah proses penyarian dengan cara perndaman
serbuk dalam air atau pelarut organik sampai meresap yang akan melunakkan
susunan sel, sehingga zat-zat yang terkandung di dalamnya akan terlarut.
Ekstaksi sinambung adalah ekstraksi dengan cara panas yang umumnya
menggunakan soxhlet , sehingga terjadi ekstraksi berkesinambungan dengan
jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Daud dkk.,
2011). Suhu pada proses sokletasi mempengaruhi jumlah fenolik yang ditarik.
Semakin tinggi suhu ekstraksi, maka kelarutan senyawa fenolik semakin
meningkat (Mokoginta dkk., 2013).
Tujuan dilakukannya maserasi yaitu untuk melarutkan simplisia
dengan pelarut yang sesuai sehingga berdifusi menembus membran sel
simplisia. Metode ini juga menghindarkan kerusakan senyawa aktif yang
tidak tahan panas dan diperlukan dalam pengujian aktivitas. Pelarut yang
digunakan untuk ekstraksi yaitu etanol 70 %. Pertimbangan digunakan
pelarut etanol 70% karena relatif lebih aman dan mampu menarik
senyawa polar maupun non polar yang terkandung dalam simplisia
(Febriyanti dkk., 2013).
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan dimana komponen
mengalami perpindahan massa dari suatu padatan ke cairan atau dari cairan
ke cairan lain yang bertindak sebagai pelarut. Berbagai penelitian tentang
ekstraksi padat-cair telah banyak dilakukan. Ekstraksi padat cair, yang sering
disebut leaching, adalah proses pemisahan zat yang dapat melarut (solut) dari
suatu campurannya dengan padatan yang tidak dapat larut(innert) dengan
menggunakan pelarut cair. Operasi ini sering dijumpai di dalam industry
metalurgi dan farmasi, misalnya pada pemisahan biji emas, tembaga dari biji-
bijian logam, produk-produk farmasi dari akar atau daun tumbuhan tertentu
(Santosa dan Endah, 2014).
Metode ekstraksi cair-cair dipilih karena untuk memudahkan
pemisahan selanjutnya sesuai dengan prinsip like dissolves like. Pelarut
polar akan lebih mudah menarik senyawa polar, sedangkan pelarut non
polar akan lebih mudah menarik senyawa non polar. Hal ini
menyebabkan senyawa terfraksi dengan baik sesuai dengan kepolarannya
(Febriyanti dkk., 2013).
Pemekatan ekstrak etanol dilakukan dengan menggunakan rotary
evaporator pada suhu 50-60C pada kecepatan putaran sebesar 60 rpm.
Prinsip kerja dari rotary evaporator yaitu menggunakan pompa vakum
dengan pengaliran air, sehingga terjadi pengurangan tekanan dan pelarut
akan menguap pada suhu di bawah titik didihnya agar senyawa yang
terkandung pada ekstrak tidak rusak pada suhu tinggi. Penguapan
dilanjutkan di atas penangas airhingga diperolehberat konstan.Ekstrak
kemudian disimpan di desikator untuk mengurangi kelembaban ekstrak
sehingga ekstrak tidak berjamur (Febriyanti dkk., 2013).
C. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
- Pelarut organik
- Serbuk simplisia caulix Cymbopogon citratus
- Aluminium foil
D. Alat
Alat yang dgunakan dalam percobaan ini yaitu:
- Batang pengaduk
- Wadah kaca (toples)
- Blender
E. Prosedur Kerja

Simplisia

- Disiapkan alat dan bahan


- Ditimbang serbuk simplisia caulix Cymbopogon
citratus 100 gram dan masukkan dalam toples
- Masukkan pelarut organik
- Dibiarkan proses maserasi selama 24 jam hingga
zat aktif terekstraksi semua
- Disaring dan ditampung
- Diuapkan menggunakan evaporator
- Didapatkan ekstrak kental

Hasil pengamatan
F. Hasil Pengamatan

1. Tabel Pengamatan

Nama Organoleptik Bobot Bobot


No. Rendemen
Sampel Bau Rasa Warna Simplisia Ekstrak
Caulix
Bau
1. Cymbopogon Pedis Cokelat 650 gram
khas
citratus
G. Pembahasan

Dalam suatu tanaman yang akan diambil atau akan dipisahkan komponen
kimianya dari tanaman tersebut maka tahap selanjutnya adalah ekstraksi yang
merupakan suatu cara pemisahan (isolasi) zat aktif dari suatu simplisia
dengan menggunakan pelarut yang sesuai dan metode tertentu. Tujuan
ekstraksi yaitu untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam
simplisia dengan menggunakan pelarut organik tertentu. Ekstraksi ini
didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat kedalam pelarut
dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antarmuka, kemudian
berdifusi masuk kedalam pelarut.
Prosesnya yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk
kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan terelarut
sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel
dan pelarut organik di luar sel. Maka larutan terpekatkan berdifusi keluar sel,
dan proses ini berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi
zat aktif di dalam dan diluar sel.
Dimana ekstraksi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode,
diantaranya maserasi, perkolasi, dan infudasi. Dan untuk percobaan kali ini
digunakan sampel (simplisia) Caulix Cymbopogon citrates dengan metode
maserasi.
Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.
Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen
kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang
mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan metode ini
misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada penggunaan pelarut
eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid.
Keuntungan cara ini adalah pengerjaan yang dilakukan sederhana begitu
juga alat alat yang digunakan. Sedangkan kerugiannya adalah pengerjaannya
lama dan penyariannya kurang sempurna artinya tidak semua sari yang
terekstraksi. Cairan penyari yang dipakai biasanya berupa air, etanol, atau
pelarut lain. Pada penyarian dengan cara maserasi perlu dilakukan
pengadukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk
simplisia, sehingga terjadi keseimbangan antara konsentrasi di dalam dan di
luar sel.
Modifikasi dari maserasi yaitu digesti, dengan menggunakan mesin
pengaduk, remaserasi, maserasi melingkar dan maserasi melingkar bertingkat.
Digesti yaitu cara maseras dengan menggunakan pemanasan lemah yaitu pada
suhu 40-50o . cara ini dilakukan untuk simplisia yang tahan terhadap
pemanasan. Maserasi dengan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi waktu penyarian sehingga dapat
dipersingkat menjadi 4 sampai 24 jam. Remasi yaitu cairan penyari dibagi
menjadi 2, seluruh serbuk simplisia di maserasi dengan penyari pertama lalu
dituang dan diperas kemudian ampasnya disari lagi dengan menggunakan
penyari yang kedua. Maserasi melingkar yaitu penyari selalu mengalir
kembali serta berkesinabungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat
aktifnya. Maserasi melingkar bertingkat, pada maserasi ini penyarian tidak
dapat dilaksanakan secara sempurna karena pemindahan massa akan berhenti
bila kesinambungan telah terjadi sehingga dapat diatasi dengan maserasi
melingkar bertingkat.
Dasar-dasar dan syarat-syarat pemilihan cairan penyari yaitu ada beberapa
factor yang harus diperhatikan yaitu jenis senyawa yang akan ditarik atau
kandungan kimia pada zat aktif dan cairan penyari yang digunakan (pelarut
yang digunakan) dalam hal ini tingkat kepolarannya. Tidak toksik, murah,
mudah terbakar, ramah lingkungan mudah didapat.
DAFTAR PUSTAKA

Daud, M. F., Esti R. S., dan Endah R., 2011, Pengaruh Perbedaan Metode Ekstaksi
Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji (Psidium
guajava L.) Berdaging Buah Putih, Prosiding SnaPP2011 Sains,
Teknologi, dan Kesehatan, Vol. 2 (1), ISSN: 2089-3582.
Febriyanti M., Beylan W. S., Supriyatna, Ajeng D., dan Anas S., 2013, Aktivitas
Antioksidan Ekstrak Etanol Dan Fraksi-Fraksi Daun Ekor Kucing
(Acalypha hispida Burm. F) dengan Metode Penghambatan Reduksi Water
Soluble Tetrazolium Salt-1 (WST-1), Fitofarmaka, Vol. 3 (2), ISSN: 2087-
9164.
Mokoginta, E. P., Max R. J. R. dan Frenly W., 2013, Pengaruh Metode Ekstraksi
Terhadap Aktivitas Penangkal Radikal Bebas Ekstrak Metanol Kulit Biji
Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke), PHARMACON Jurnal Ilmiah
Farmasi UNSRAT, Vol. 2 (04) ISSN 2302 2493.
Santosa I. dan Endah S., 2014, Ekstraksi Abu Kayu dengan Pelarut Air
Menggunakan Sistem Bertahap Banyak Beraliran Silang, Chemica, Vol. 1
(1) : 33-39, ISSN : 2355-8776.