Anda di halaman 1dari 7

ACARA I

POLIPLOIDISASI

A. Hasil Pengamatan
Hasil Pengamatan Metafase pada Akar Bawang Merah (Allium cepa L.)

Penambahan Colchicine (C-metafase)


Jumlah Kromosom : 32

Tanpa Pemberian Colchicine

Jumlah Kromosom : 16
B. Pembahasan
Poliploidi adalah kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom (genom)
lebih dari sepasang. Organisme yang memiliki keadaan demikian disebut sebagai organisme
poliploid .Adapun poliploidisasi sendiri adalah usaha, proses atau kejadian yang menyebabkan
individu berkromosom lebih dari satu set. (Suryo, 2007).
Berdasarkan cara bergandanya kromosom, tanaman poliploid dibedakan atas 2 jenis,yaitu
Euploid dan Aneuploid: Adapun Euploid, yaitu tanaman poliploid dimana jumlah kromosomnya
merupakan kelipatan (penggandaan) yang sempurna dari haploidnya. Contoh: 3X= triploid 4X=
tetraploid (autotetraploid). Sedangkan Aneuploid, yaitu tanaman poliploid dimana jumlah
kromosomnya merupakan kelipatan (penggandaan) yang tidak sempurna dari haploidnya.
Contoh: Nulisomi = 2X2 ,Trisomi = 2X+1
Adapun penggandaan kromosom dapat terjadi secara spontan atau buatan. Penggandaan
buatan terjadi bila pada pembelahan sel kromosom juga mengganda, tetapi nukleusnya gagal
mengganda sehingga membentuk inti dengan jumlah kromosom ganda. (Nasir,2001). Poliploidi
pada tumbuhan dapat terjadi secara alami maupun buatan. Poliploidi secara buatan dapat
dilakukan dengan zat kimia tertentu. Salah satunya adalah kolkisin. Zat ini paling banyak
digunakan karena mudah larut dalam air dan efektif menginduksi poliploid (Haryanti et al.,
2009).
Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu alkaloid berwarna putih yang diperoleh dari umbi
tanaman Colchichum autumnale L. (Familia Liliaceae). Senyawa ini dapat menghalangi
terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel sehingga menyebabkan terbentuknya
individu poliploidi. Apabila kolkisin digunakan pada konsentrasi yang tepat maka jumlah
kromosom akan meningkat, sehingga tanaman bersifat poliploid (Eigsti and Dustin, 1957; cit.,
Suminah, dkk., 2002). Mekanisme kolkisin yang menyebabkan mutasi pada kromosom bawang
merah adalah adanya senyawa ini mencegah terjadinya polimerasi mikrotubulus karena cincin
yang terdapat pada kolkhisin berikatan dengan alfa-tubulin dan beta-tubulin. Hal ini
menyebabkan mikrotubulus tidak dapat terbentuk sehingga pada saat pembelahan sel, benang
benang spindel yang berasal dari mikrotubulus tidak muncul (Crowder, 1997). Akibatnya
pemisahan kromosom dari metafase ke anafase tidak berlangsung sehingga sel tidak dapat
membelah tetapi jumlah kromosom yang terkandung di dalamnya telah mengalami duplikasi
(memiliki sister kromatid). Sister kromatid dapat saling memisah di dalam sitoplasma pada tahap
c-anafase yang dilanjutkan dengan pembentukan dinding inti. Sehingga inti sel memiliki jumlah
kromosom yang berlipat ganda (Suryo, 1995).
Adapun metode yang digunakan pada praktiku ini adalah metode Squeeze dimana dibuat
dua perlakuan antara kontrol ( tanpa kolkisin dan dengan kolkisin ). Beberapa langkah dalam
metode ini dimulai dari pembuatan preparat Awetan Ujung Akar (Root-Tips) bawang merah (Allium
cepa). Adapun tahap perlakuan terdiri :
Pre-treatment : ujung akar direndam di dalam p-dikloro-hidroksi Quinolin 0,002 N
selama 14 jam. Dimana dilakukan pada kurang lebih pukul 9 pagi dimana sel sedang giat
membelah
Fiksasi : digunakan larutan fiksatif carnoy, untuk memfiksasi tahap pembelahan kromosom
Hidrolisasi : rendam dalam 5 cc HCI pekat + 55 cc aquadest dipanaskan pada
60 C selama 110 menit.
Pengecatan : menggunakan acetocarmine 1% selama 13 jam pada suhu 60 C
Bahan kemudian di-squeeze, dan ditutup dengan gelas penutup. Adanya penggunaan
acetocarmine disini ialah untuk mewarnai kromosom.
Adapun ciri-ciri tanaman poliploid merupakan tanaman yang memiliki tiga atau lebih set
kromosom dalam sel-selnya. Sifat umum dari tanaman poliploid antara lain tanaman menjadi
lebih kekar, bagian tanaman lebih besar meliputi akar, batang, daun, bunga dan buah (Escadon et
al., 2003).
Tanaman poliploid biasanya memiliki banyak kelebihan dibandingkan tanaman
diploidnya, seperti penampakan morfologi lebih kekar, daun lebih lebar, sel-sel lebih besar, lebih
tahan terhadap perubahan lingkungan, dan produksinya lebih tinggi (Ernawiati, 2007).
Sedangkan kekurangan tanaman poliploid antara lain, tanaman poliploid cenderung bersifat steril
atau sering memiliki fertilitas rendah sehingga gamet tidak viabel dan dapat menurunkan hasil
biji (Guofeng et al., 2007 cit Nagahatenna, 2008)
Berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan, pengamatan terhadap tahap metafase
pada perlakuan kontrol dan kolkisin sebenarnya belum terlalu jelas, namun dapat diperkirakan
berjumlah 16 pada kontrol dan 32 pada kolkisin. Adapun menurut Sulistyaningsih (2002) bahwa
tanaman bawang merah doubled haploid mempunyai jumlah kromosom yang sama seperti pada
tanaman bawang merah diploid yaitu 2n = 16 yang dapat dikelompokkan menjadi 8 pasangan
kromosom. Perlakuan penambahan kolkhisin ini dilakukan dengan merendam tanaman yang
telah tumbuh akarnya ke dalam larutan kolkisin. Pada sel ujung akar tanaman bawang merah,
adanya kolkisin menyebabkan jumlah kromosom mengalami penggandaan dari kromosom
dasarnya. Hal ini terjadi karena kolkhisin dapat mencegah terbentuknya benang-benang plasma
sehingga pemisahan kromosom pada anafase tidak berlangsung. Pada pembelahan mitosis yang
dipengaruhi kolkhisine maka kromosom anak tidak bergerak ke kutub-kutub sel tetapi tetap
tinggal di tengah-tengah sebagai pasangan, keadaan ini terjadi pada fase yang disebut C-
Metafase. Sehingga dapat diketahui bahwa jumlah kromosom pada perlakuan kolkhisin dapat
berubah menjadi dua kali lipat yaitu menjadi 2n=32 dengan 16 pasang kromosom.
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman tentang Poliploidi dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1 Penggandaan kromosom pada tanaman dapat dilakukan dengan menambahkan kolkisin
(colchicine).
2 Kolkisin dapat menghambat proses anafase pada tanaman yaitu terhambatnya pembentukan
benang spindel pada pembelahan mitosis normal.
3 Tanaman poliploid memiliki ciri-ciri jumlah sel lebih banyak, penampakan morfologi lebih
kekar, daun lebih lebar, lebih tahan terhadap perubahan lingkungan, dan tingkat produksinya
lebih tinggi.
Daftar Pustaka

Crowder, L.V. 1997. Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Ernawiati, E. 2007. Efek antimitosis ekstrak umbi kembang sungsang (Gloriosa superba Linn.)
terhadap pembelahan sel akar tanaman cabai merah (Capsicum annum L.). J. Sains MIPA
13(1): 35-38.

Escandon, A.S., J.C. Hagiwara, L.M. Alderete. 2006. A new of Bacopa monnieri obtained by in
vitro polyploidization. Electronic J. Biotech. 9: 181-186.

Haryanti, S., R.B. Hastuti, N. Setiari, A. Banowo. 2009. Pengaruh Kolkisin Terhadap
Pertumbuhan, Ukuran Sel Metafase Dan Kandungan Protein Biji Tanaman Kacang
Hijau (Vigna radiata (L) Wilczek). J. Penelit. Sains Teknol.10:112-120.

Nagahetanna, D.S.K. and Peiris, S.E. 2008. Modification of Plant Architecture of Hemisdesmus
indicus (L.) R.Br. (Iramusu) by In vitro Colchisine Treatment. Tropical Agicultural
Research Vol.20:234-242.

Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi


Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Sulistyaningsih, K. Yamashita and Y. Tashiro. 2002. Genetic Characteristics of the Indonesian


White Shallot. Journal of the Japanese Society for Horticultural Science.Vol 71.No.4:
504-508.

Suminah, Sutarno dan A.D. Setyawan. 2002. Induksi poliploidi bawang merah (Allium
ascalonicum L.) dengan pemberian kolkisin. Biodiversitas 3(1): 174-180.

Suryo. 2007. Sitogenetika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suryo. 1995. Sitogenetika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


LAMPIRAN
Kolkisin
non metafase Anafase Kontrol