Anda di halaman 1dari 10

Pembuatan dan uji kemampuan membran kitosan (Nita Kusumawati dan Septiana Tania)

PEMBUATAN DAN UJI KEMAMPUAN MEMBRAN KITOSAN SEBAGAI


MEMBRAN ULTRAFILTRASI UNTUK PEMISAHAN
ZAT WARNA RHODAMIN B

Nita Kusumawati dan Septiana Tania


Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya
Jl. Ketintang Surabaya 60231
Email: nitakusumawati82@yahoo.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan membran kitosan dan aplikasinya
dalam pemisahan zat warna Rhodamin B. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
karakteristik fisik serta kinerja membran kitosan yang dihasilkan dalam memisahkan zat
warna Rhodamin B dengan variasi konsentrasi kitosan dan tekanan operasional. Penelitian
ini diawali dengan pembuatan membran dengan variasi konsentrasi kitosan, yaitu 1-5%.
Membran kitosan dibuat dengan mencampurkan kitosan dalam asam asetat 1% kemudian
dicetak pada cawan petri. Uji karakteristik fisik membran meliputi, kekuatan tarik dan
regangan membran menggunakan Autograph, dan morfologi serta ukuran pori membran
menggunakan Scanning Eletron Microscopy (SEM). Kinerja membran meliputi nilai fluks
dan rejeksi, diketahui dari pengukuran menggunakan alat uji membran dead-end dan
UV-Visible Genesys 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran kitosan yang
dihasilkan masuk dalam rentang membran ultrafiltrasi. Membran memiliki daya tegang
dan regang yang tinggi dengan bertambahnya konsentrasi kitosan. Nilai tegangan (Load)
yang diperoleh sebesar 0,15312,8571 kgf dan nilai regangan (Stroke) sebesar 2,86-5,48%.
Semakin besar konsentrasi kitosan dalam membran akan menghasilkan fluks yang kecil.
Nilai fluks terbaik dihasilkan oleh membran kitosan 1% pada tekanan 5 kg/cm2 yakni
sebesar 38,372 L/m2.jam. Sedangkan nilai koefisien rejeksi tertinggi dihasilkan oleh
membran kitosan 3% pada tekanan 1 kg/cm2 yakni sebesar 88,27%.

Kata kunci: membran kitosan, ultrafiltrasi, fluks, rejeksi, rhodamin B

PREPARATION AND CAPABILITIES TESTING OF CHITOSAN MEMBRAN


FOR RHODAMIN-B SEPARATION

ABSTRACT
The research of chitosan membrane design and its application for Rhodamine B
separation has been done. The purpose of this study was to determine the physical
characteristics and performance of chitosan membranes that produced to separate
Rhodamine B by varying the concentration of chitosan and operational pressures. This
study begins with the manufacture of membranes with varying the concentration of
chitosan, which is 1-5%. Chitosan membranes prepared by mixing chitosan in 1% acetic
acid and then casted on a petri dish. Physical characteristics of the membrane covering the
test, tensile strength and tensile membrane using Autograph, and the morphology and pore
size membrane using Eletron Scanning Microscopy (SEM). Performance of the
membranes covering the value of the flux and rejection, it is known from measurements

43
Molekul, Vol. 7. No. 1. Mei, 2012: 43 - 52

using "dead-end" reactor membrane and UV-Visible Genesys 10. The results showed that
chitosan membrane produced into the range of ultrafiltration membranes. The membrane
has a high tensile strain with increasing concentrations of chitosan. Load value obtained at
0.1531 to 2.8571 kgf and the strain (Stroke) of 2.86 to 5.48%. The greater concentration of
chitosan in the membrane will produce a small flux. The best value of the flux generated
by a 1% chitosan membrane at a pressure of 5 kg/cm2 which amounted to 38.372
L/m2.jam. While the rejection coefficient of the highest value is generated by 3% chitosan
membrane at a pressure of 1 kg/cm2 which amounted to 88.27%.

Keyword : chitosan membrane, ultrafiltration, flux, rejection, rhodamin-B

PENDAHULUAN suatu aliran fluida yang dilewatkan


melalui membran (Mulder, 1996).
Saat ini, sebagian besar industri
Dalam aplikasinya untuk proses
tekstil menggunakan zat warna sintetis
pemisahan, pemurnian dan pemekatan,
dengan alasan murah, warnanya yang
teknologi membran mempunyai berbagai
tahan lama, mudah diperoleh dan
keunggulan dibandingkan metoda
digunakan tetapi limbah yang dihasilkan
pemisahan yang konvensional, di
masih berwarna dan sulit terdegradasi.
antaranya proses dapat dilakukan secara
Sekitar 15-20% zat warna yang
kontinyu, tidak memerlukan zat kimia
digunakan akan tersisa pada air buangan
tambahan, konsumsi energi rendah,
yang pada akhirnya akan masuk ke dalam
pemisahan dapat dilakukan pada kondisi
lingkungan sekitarnya (Chatterjee, et al.,
yang mudah diciptakan, dapat
2007).
dilangsungkan pada temperature rendah
Rhodamin B merupakan salah satu
sehingga dapat digunakan untuk
jenis pewarna non azo yang banyak
pemisahan senyawa yang tidak tahan
digunakan dalam industri tekstil. Potensi
temperatur tinggi, mudah dalam scale up,
karsinogenik rhodamin B juga perlu
tidak membutuhkan kondisi yang ekstrim
mendapatkan perhatian yang serius.
(pH dan temperatur), material membran
Rhodamin B dapat menyebabkan
bervariasi sehingga mudah diadaptasikan
injection site sacromas pada tikus
pemakaiannya dan mudah
(Umeda, 1956 dalam Fisher P, et al.,
dikombinasikan dengan proses
1996). Pada penelitian yang dilakukan
pemisahan lainnya.
oleh Bio/Dynamics (1981), peningkatan
Proses membran ultrafiltrasi (UF)
sel granular tumor otak berhasil
merupakan upaya pemisahan dengan
diobservasi dari tikus jantan yang
membran yang menggunakan gaya
mengkonsumsi 0,02% rhodamin B dalam
dorong beda tekanan, sangat dipengaruhi
menu makanannya.
oleh ukuran dan distribusi pori membran
Perkembangan teknologi membran
(Malleviale, 1996). Karakteristik struktur
sebagai unit pengolah limbah saat ini
membran ultrafiltrasi adalah memiliki
sangat pesat dan banyak digunakan dalam
ukuran pori antara 0,001-2 m (Mulder,
proses pemisahan. Operasi membran
1996). Membran ini beroperasi pada
dapat diartikan sebagai proses pemisahan
tekanan antara 1-5 bar dan batasan
dua atau lebih komponen dari aliran
permeabilitasnya adalah 10-50
fluida melalui suatu membran. Membran 2
l/m .jam.bar. Parameter utama dalam
berfungsi sebagai penghalang (barrier)
proses pemisahan menggunakan
tipis yang sangat selektif diantara dua
membran yaitu permeabilitas dan
fasa, hanya dapat melewatkan komponen
permselektivitas.
tertentu dan menahan komponen lain dari

44
Pembuatan dan uji kemampuan membran kitosan (Nita Kusumawati dan Septiana Tania)

Saat ini telah banyak analisis dan pembantu yang digunakan


dikembangkan pembuatan membran dari meliputi asam asetat (CH3COOH)
polimer alam dengan alasan polimer alam disediakan oleh Aldrich, Natrium
lebih ramah lingkungan daripada polimer Hidroksida (NaOH) disediakan oleh
sintetis. Pada umumnya membran yang aldrich dan Aquades.
sering digunakan untuk proses pemisahan
adalah membran yang terbuat dari Prosedur Penelitian
selulosa asetat.
Pembuatan Membran Kitosan
Kitosan merupakan suatu polimer
alam yang mempunyai struktur mirip Sebanyak 1 gram kitosan dari kulit udang
dengan selulosa serta dapat dibentuk dilarutkan dalam 100 ml CH3COOH 1%
menjadi film tipis (Hassan dan Sulaiman, (v/v) pada suhu ruang. Bahan yang telah
1996 dalam Meriatna, 2008). dicampur diaduk dengan stirer selama 2
Berdasarkan latar belakang tersebut jam hingga homogen sehingga diperoleh
di atas, pada penelitian ini akan dibuat larutan kitosan 1%, selanjutnya larutan
membran dari kitosan dan diuji coba tersebut didiamkan selama 24 jam.
kemampuan membran tersebut untuk Larutan kitosan kemudian dituangkan ke
proses pemisahan zat warna rhodamin B. dalam cetakan cawan petri yang
Dalam penelitian ini, membran dibuat sebelumnya telah dibersihkan dengan
dari kitosan yang dilarutkan dalam asam menggunakan aseton. Membran yang
asetat dengan beberapa variasi komposisi telah dicetak dikeringkan pada suhu
tertentu dari kitosan dan pelarutnya. kamar. Selanjutnya, ditambahkan larutan
Kemudian diaplikasikan pada alat uji NaOH 1% ke dalam film kitosan yang
dead-end untuk pemisahan zat warna sudah kering dan didiamkan hingga
rhodamin B dengan variasi tekanan membran terangkat ke permukaan. Untuk
operasional reaktor membran. menghilangkan NaOH dilakukan
pencucian pada membran secara
METODE PENELITIAN berulang-ulang menggunakan aquades.
Prosedur yang sama juga diterapkan
Alat dan Bahan untuk pembuatan membran kitosan
Pada percobaan ini digunakan alat- dengan konsentrasi kitosan 2, 3, 4 dan
alat gelas, antara lain gelas beaker, labu 5%.
takar, gelas ukur, corong gelas, spatula
dan cawan arloji. Pemindahan larutan Aplikasi Membran Pada Alat dead-
dilakukan dengan pipet tetes dan pipet end dan Penetuan Nilai Fluks
volume. Selain itu, alat-alat yang juga Pemisahan
digunakan adalah stirer, neraca analitik, Membran yang akan diuji dipotong
kompresor sebagai sumber tekanan, dan berbentuk lingkaran dengan diameter 7
cetakan membran menggunakan cawan cm. Membran diletakkan di bagian bawah
petri. Instrumen yang digunakan untuk alat penguji yang sebelumnya telah
analisis pada penelitian ini, meliputi dilapisi dengan kertas saring. Seratus
Scanning Electron Microscope (SEM) mililiter larutan feed rhodamin B
JEOL JSM 35C., Autograph, reaktor dimasukkan ke dalam alat, ditutup rapat
membran dead-end dan dan kemudian ke dalamnya dialirkan
spektrofotometri UV-Vis Genesys 10. tekanan 1-5 kg/cm2. Volume permeat
Bahan utama yang digunakan yang dihasilkan dicatat setiap 5 menit
dalam penelitian ini adalah kitosan dari selama 30 menit. Fluks dapat dihitung
kulit udang (Derajat Deasetilasi 80) dan dengan menggunakan rumus:
zat warna Rhodamin B. Selain itu bahan

45
Molekul, Vol. 7. No. 1. Mei, 2012: 43 - 52

perpindahan polimer dari suatu cairan


(pelarut) ke cairan lain (non-pelarut).
Fase dengan konsentrasi polimer yang
Dimana, tinggi dalam larutan polimer akan
J =Fluks (l/m2.jam) membentuk padatan atau matriks
V=Volume permeat (ml) membran, sedangkan fase dengan
A=Luas permukaan membran (m2) konsentrasi polimer yang rendah akan
t =Waktu (jam) membentuk pori-pori (Mulder, 1996).
Serbuk kitosan yang akan
Penentuan Koefisien Rejeksi digunakan sebagai bahan pembuatan
Untuk mengetahui konsentrasi rhodamin membran dilarutkan terlebih dahulu ke
B setelah dilewatkan membran, dilakukan dalam asam asetat 1% karena keterlarutan
pengukuran nilai absorbansi dengan kitosan yang paling baik ialah dalam
menggunakan instrumen larutan asam asetat 1%, asam format 10%
spektrofotometer UV-Visible. Nilai dan asam sitrat 10%. Larutan kitosan
absorbansi yang diperoleh dimasukkan sebelum dicetak harus dibiarkan dahulu
pada persamaan regresi dari kurva kurang lebih selama 24 jam untuk
kalibrasi, untuk selanjutnya dapat menghilangkan gelembung-gelembung
dihitung koefisien rejeksinya. Koefisien udara karena gelembung udara yang
rejeksi dapat dihitung dengan terperangkap pada saat pencetakan
menggunakan rumus: membran dapat mengakibatkan lubang
pada membran, selain itu juga dapat
menutupi pori membran.
Untuk melepas membran dari
cetakan, diperlukan perendaman dengan
Dimana,
larutan NaOH 1%. Larutan NaOH dalam
R = Koefisien rejeksi (%),
hal ini berfungsi sebagai larutan non-
Cp = Konsentrasi zat terlarut dalam
pelarut yang dapat berdifusi ke bagian
permeat,
bawah membran yang berhimpitan
Cf = Konsentrasi zat terlarut dalam
dengan permukaan cetakan sehingga
umpan.
membran tersebut akan terdorong ke atas
dan terkelupas. Membran yang telah
dilepaskan dari cawan petri dicuci
HASIL DAN PEMBAHASAN
berulang-ulang dengan akuades untuk
Pembuatan Membran Kitosan menghilangkan NaOH.
Membran dapat dipreparasi dengan
menggunakan beberapa metode antara Morfologi Membran
lain sintering, streaching, track-etching, Untuk mengetahui morfologi
template leaching dan inversi fasa. membran, digunakan Scanning Electron
Pembuatan membran dalam penelitian ini Microscopy (SEM) yang dapat
menggunakan metode inversi fasa. memberikan informasi mengenai struktur
Inversi fasa adalah metode yang paling morfologi membran. Dengan SEM, juga
banyak digunakan dalam pembuatan dapat diperoleh data mengenai ukuran
membran polimer untuk proses pori membran, sehingga dari hasil ini
pemisahan (Kim dan Lee, 1998). Inversi dapat ditentukan standar keseragaman
fasa adalah proses dimana polimer diubah struktur membran yang dapat digunakan
dari bentuk larutan menjadi bentuk (Mulder, 1991). Berdasarkan imaging
padatan secara terkontrol. Proses yang diperoleh dari Scanning Elektron
pemadatan sangat sering diawali dengan Miscroscopy (SEM), dapat diketahui

46
Pembuatan dan uji kemampuan membran kitosan (Nita Kusumawati dan Septiana Tania)

ukuran pori membran, yaitu sebagai Sifat Mekanik Membran Kitosan


berikut: (a) membran kitosan 1% Karakterisasi sifat mekanik perlu
mempunyai ukuran pori yang dapat dilakukan untuk mengetahui kekuatan
teridentifikasi adalah antara 0,6 m membran terhadap gaya yang berasal dari
sampai 1,3 m, (b) untuk membran luar, yang dapat merusak membran.
kitosan 2% mempunyai ukuran pori yang Semakin rapat struktur membran, berarti
dapat teridentifikasi adalah antara 0,4 m jarak antara molekul dalam membran
sampai 0,6 m dan (c) membran kitosan semakin rapat sehingga mempunyai
3% mempunyai ukuran pori yang dapat kekuatan tarik dan jebol yang kuat.
teridentifikasi adalah antara 0,1 m
Kekuatan tarik membran kitosan dapat
sampai 0,3 m. Dilihat dari ukuran pori, dilihat dari nilai Load yaitu nilai kuat
membran yang dihasilkan termasuk tegang membran pada saat putus dan
membran ultrafiltrasi. Karakteristik Stroke yaitu kekuatan regangan pada saat
struktur membran ultrafiltrasi adalah putus yang dimiliki oleh membran
memiliki ukuran pori antara 0,001m kitosan.
2m (Mulder, 1996).

a b

c
Gambar 1. Morfologi membran
(a) Membran Kitosan 1%; (b) Membran Kitosan 2%; (c) Membran Kitosan 3%

47
Molekul, Vol. 7. No. 1. Mei, 2012: 43 - 52

Tabel 1. Data hasil uji kekuatan tarik membran kitosan


Konsentrasi Membran Tegangan (Load) L Regangan (stroke)
Kitosan (%) (kgf) (mm) (%)
1 0,1531 1,72 2,86
2 1,5816 1,85 3,08
3 1,8367 2,41 4,02
4 2,3980 2,68 4,47
5 2,8571 3,29 5,48

Kekuatan tarik pada saat putus Dalam pelaksanaan operasi membran


(tegangan) meningkat dengan bertambah digunakan rhodamin B sebagai larutan
tingginya konsentrasi membran kitosan. umpan (feed).
Membran kitosan 4% dan 5% memiliki Pada tiap membran yang sama,
kekuatan tarik yang besar. Hal tersebut semakin besar tekanan yang diberikan,
dikarenakan strukturnya yang rapat akan semakinbesar pula nilai fluks yang
menyebabkan jarak antara molekul dalam dihasilkan. Pada pemberian tekanan 5
membran semakin rapat sehingga kg/cm2, dihasilkan fluks yang lebih besar
mempunyai kekuatan tarik yang besar. untuk tiap waktu operasi dibandingkan
dengan tekanan 1-4 kg/cm2. Hal ini
Pengukuran Fluks sesuai dengan gaya dorong utama
(driving force) dari operasi membran.
Pengukuran nilai fluks dilakukan
Peningkatan tekanan yang diaplikasikan
untuk mengetahui kemampuan membran
pada aliran umpan yang melewati
dalam melewatkan sejumlah volume
membran akan menyebabkan terjadinya
umpan. Hal tersebut dikarenakan fluks
deformasi pada membran sehingga
merupakan standar dalam mengevaluasi
ukuran pori-pori membran melebar dan
kinerja membran sebelum dan sesudah
fluks yang dihasilkan pun semakin besar
digunakan. Pengukuran nilai fluks
seiring dengan pertambahan tekanan.
dilakukan dengan menampung volume
permeat tiap 30 menit dalam gelas ukur.

45
40
35 M-1
Fluks(L/m2.jam)

30 M-2

25 M-3
20 M-4
15 M-5
10
5
0
0 1 2 3 4 5 6
Tekanan (kg/cm2)
Gambar 2. Grafik perbandingan nilai fluks pada membran 1%, 2%, 3%.

48
Pembuatan dan uji kemampuan membran kitosan (Nita Kusumawati dan Septiana Tania)

Konsentrasi polimer pembentuk ini bersifat tidak dapat balik


membran juga sangat mempengaruhi (Irreversible).
karakter membran yang terbentuk, Untuk membran kitosan 5%, pada
semakin tinggi konsentrasi polimer tekanan 1-5 kg/cm2 tidak dihasilkan
pembentuknya maka membran yang permeat. Hal ini disebabkan karena
dihasilkan akan semakin padat sehingga konsentrasi kitosan dalam membran
fluks membran akan semakin kecil terlalu tinggi sehingga molekul dalam
(Mulder, 1996). Pada pembuatan membran sangat rapat, maka membran
membran dalam penelitian ini konsentrasi yang terbentuk terlalu padat dan tidak
kitosan akan mempengaruhi nilai fluks dapat menghasilkan permeat walaupun
dari membran. Gambar 2 merupakan dengan adanya gaya dorong.
grafik yang menunjukkan perbandingan
nilai fluks pada membran 1%, 2%, dan Pengukuran Koefisien Rejeksi
3%. Nilai koefisen rejeksi membran
Pada membran kitosan 4% terjadi semakin tinggi dengan bertambahnya
fenomena yang berbeda. Pada membran konsentrasi kitosan dalam membran.
tersebut fluks naik pada tekanan 1-2 Pada membran yang sama, semakin
kg/cm2, kemudian fluks turun seiring tinggi tekanan yang diberikan
bertambahnya tekanan, bahkan pada menghasilkan nilai koefisien rejeksi yang
tekanan 4-5 kg/cm2 tidak dihasilkan makin kecil. Hal tersebut disebabkan
permeat. Hal ini disebabkan oleh karena adanya gaya dorong yang besar
tingginya konsentrasi kitosan dalam
menimbulkan deformasi pada membran,
membran, sehingga membran yang sehingga ukuran pori-pori membran
terbentuk semakin padat dan fluks melebar dan partikel-partikel rhodamin B
membran semakin kecil. yang seharusnya tertahan dapat lolos
Selain karena tingginya konsentrasi melewati membran.
kitosan dalam membran, turunnya nilai Koefisien rejeksi membran kitosan
fluks seiring bertambahnya tekanan 3% lebih tinggi daripada membran
disebabkan oleh terjadinya kompaksi kitosan 1% dan 2%. Hal ini disebabkan
membran. Kompaksi membran oleh ukuran dan jumlah pori-pori
merupakan suatu perubahan mekanik membran. Membran 3% memiliki jumlah
pada struktur membran polimer yang pori-pori yang lebih sedikit serta ukuran
terjadi akibat gaya dorong. Akibatnya pori-porinya lebih kecil dari membran
semakin tinggi tekanan yang diberikan, 1% dan 2%, sehingga makin banyak
maka kompaksi membran akan
molekul rhodamin B yang tertahan,
berlangsung lebih cepat (Mulder, 1996). akibatnya koefisien rejeksinya juga
Ketika terjadi kompaksi, struktur makin tinggi. Pada membran kitosan 4%,
membran kitosan 4% menjadi lebih fluks yang dihasilkan nilainya sangat
kompak dan pori-pori membran merapat kecil sehingga tidak diukur koefisien
sehingga menghasilkan penurunan nilai rejeksinya karena dianggap sebagai
fluks, bahkan setelah relaksasi dengan membran gagal. Begitu juga untuk
cara menurunkan tekanan pada proses, membran kitosan 5%, pada membran ini
nilai fluks tidak dapat kembali tidak dihasilkan permeat sehingga tidak
sebagaimana nilai awalnya, karena gejala dapat pula diukur koefisien rejeksinya.

49
Molekul, Vol. 7. No. 1. Mei, 2012: 43 - 52

50
(% )
koefisien rejeksi

45.4 39.86
40.82
40
29.69 26.83
30
(a)
20

10

0
0 1 2 3 4 5 6
tekanan (kg/cm2)

(b)

(c)

Gambar 3.Grafik Hubungan Tekanan Operasional dan Koefisien Rejeksi pada


(a) Membran Kitosan 1%; (b) Membran Kitosan 2%; (c) Membran Kitosan 3%.

50
Pembuatan dan uji kemampuan membran kitosan (Nita Kusumawati dan Septiana Tania)

KESIMPULAN Cahyaningrum, S.E., 2001, Karakterisasi


Adsorpsi Ni (II) dan Cd (II) pada
Berdasarkan hasil penelitian yang
Kitosan dan Kitosan Sulfat dari
telah dilakukan, dapat diambil suatu
Cangkang Udang Windu (Penaus
kesimpulan bahwa :
Monodon), Tesis, UGM, Jogjakarta.
1. Bertambah tingginya konsentrasi
kitosan, membran memiliki daya Chatterjee D., R.P., Vidya, & S., Anindita,
tegang dan regang yang tinggi. Nilai 2007, Kinetics of The Decoloration
tegangan (Load) yang diperoleh of Reactive Dyes Over Visible Light-
sebesar 0,1531-2,8571 kgf dan nilai Irradiated TiO2 Semiconductor
regangan (Stroke) sebesar 2,86-5,48%. Photocatalyst, Journal of Hazardous
Membran yang dihasilkan (1-3%) Materials, Vol. 156, 435-441.
masuk dalam rentang membran Elsevier.
ultrafiltrasi. Christie, R.M., 2001, Colour Chemistry,
2. Pada membran yang sama, RSC Paperback, The Royal Society of
semakin besar tekanan yang diberikan
Chemistry , UK.
menghasilkan fluks yang besar.
Semakin besar konsentrasi kitosan Fisher P, D., Algar & J., Sinagra, 1999,
dalam membran akan menghasilkan Use of Rhodamine B as A Systemic
fluks yang kecil. Nilai fluks rhodamin Bait Marker For Feral Cats (Felis
B yang dihasilkan oleh membran catus), Wildlife Research, Vol. 26,
kitosan 1%, 2% dan 3% berturut-turut 281-285.
adalah 16,052-38,372 L/m2.jam; Isminingsih, L., Djufri, & Rassid,1982,
10,875-27,446 L/m2.jam dan Pengantar Kimia Zat Warna, Institut
5,074-17,801 L/m2.jam. Sedangkan Teknologi Tekstil, Bandung.
membran kitosan 4% dan 5%
dianggap sebagai membran gagal. J.C.Y.Ng, W.H., Cheung, & G., McKay,
3. Nilai koefisien rejeksi yang 2003, Equilibrium Studies for The
dihasilkan oleh membran kitosan 1%, Sorption of Lead From Effluents
2% dan 3% secara berturut-turut yaitu Using Chitosan, Chemosphere,
26,83-45,40%; 28,95-70,33% dan Vol.52, 1021-1030.
74,57-88,27%. Nilai koefisien rejeksi Kim, J.H., & K.W., Lee, 1998, Effect of
semakin besar dengan bertambahnya PEG Additive On Membrane
konsentrasi kitosan. Bertambahnya Formation By Phase Inversion,
tekanan operasi pada jenis membran Journal of Membrane Science,
yang sama menghasilkan nilai rejeksi Vol. 138, 153-163.
yang semakin menurun.
Kusumawati, Nita, 2009, Pemanfaatan
Limbah Kulit Udang sebagai Bahan
DAFTAR PUSTAKA Baku Pembuatan Membran
Ultrafiltrasi, Inotek, Vol. 13, No. 2.
Astuti, Puji, 2007, Adsorbsi Limbah Zat
Warna Tekstil Jenis Procion Red Kusumawati, Nita, 2009,
MX 8B oleh Kitosan dan Kitosan Spektrofotometri UV-Vis, Unesa
Sulfat Hasil Deasetilasi Kitin press, Surabaya.
Cangkang Bekicot (Achatina Liu, J., 2003, Preparation and
Fullica), Skripsi, Fakultas MIPA, Characterization of Chitosan/Cu (II)
Universitas Sebelas Maret, Affinity Membrane for Urea
Surakarta. Adsorption, Journal of Applied

51
Molekul, Vol. 7. No. 1. Mei, 2012: 43 - 52

Polymer Science, Vol. 90, Robert, G.A.F., 1992, Chitin Chemistry,


1108-1112. Londo, The MacMillan Press.
Malleviale, J., 1996, Water Treatment Salami, L., 1998, Pemilihan Metode
Membran Processes. AWWA, Isolasi Khitin dan Ekstraksi Khitosan
Lyonnaise des Eaux, Water dari Limbah Kulit Udang Windu
Research Commision of South (Phenaeus monodon) dan Aplikasinya
Africa. New York: Mc Graw Hill. sebagai Bahan Koagulasi Limbah Cair
Industri Tekstil, Karya Utama Sarjana
Meriatna, 2008, Penggunaan Membran
Kimia, Jurusan Kimia F MIPA UI,
Kitosan Untuk Menurunkan Kadar
Jakarta.
Logam Krom (Cr) dan Nikel (Ni)
dalam Limbah Cair Industri Silva, S.S., 2005, Physical Properties and
Pelapisan Logam, Tesis, Sekolah Biocompatibility of Chitosan/Soy
Pascasarjana Teknik Kima, Stephenson, T., S., Judd, B., Jeffresin, &
Universitas Sumatera Utara. K., Brindle, 2002, Membran
Mulder, M., 1991, Basic Principles of Bioreactor for Wastewater Treatment.
Membran Technology, Netherlands, IWA Publishing, London.
Khewer Academic Publisher. Rathke, T.D., & S.M., Hudson, 1994,
Rahayu, L.H. & S., Purnavita, 2007, Review of Chitin and Chitosan as
Optimasi Pembuatan Kitosan Dari Fiber and Film Formers, Macromol.
Kitin Limbah Cangkang Rajungan Chem. Phys., C, Vol. 34, No. 3,
(Portunus pelagicus) Untuk 375-473.
Adsorben Ion Logam Merkuri, Umeda, M., 1956, Experimental study of
Reaktor, Vol. 2, No. 1. xanthene dyes as carcinogenic agents.
Rismana, E., 2004, Serat Kitosan Gann 47-51.s
Mengikat Lemak, Kompas,
(http://www.kompas.com/kompos-
cetak/0301/09/iptek/60155.htm).
Diakses Tanggal 5 Agustus 2010.

52