Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN PROJECT

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN


Rencana Konservasi Teras Gulud dan Tanaman Rekomendasi di lahan UB Forest
Desa Tawangargo Kecamatan Karangploso

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 4
KELAS C
ASISTEN : WINIH SEKARINGTYAS

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
Judul : Rencana Konservasi Teras Gulud dan Tanaman Rekomendasi di
lahan UB Forest Desa Tawangargo Kecamatan Karangploso

Penyusun : Kelompok 4

Kelas :C

Ketua Kelompok : Fauzian Gilang P. 145040207111011

Anggota Kelompok : 1. Chicha Lovelyana 145040200111154

2. Fauzul Adi Baskoro 145040207111019

3. Diah Novitasari 145040207111020

4. Dwi Yanti Suryarini 145040207111032

5. Asna Ainul Hayati 145040207111062

6. Bahtiar Wirayuda 145040207111071

7. Ayu Rokhmatul E. R. 145040207111095


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... i


DAFTAR TABEL ................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ iv
I. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 2
II. PENDEKATAN METODE........................................................................... 3
2.1 Inventarisasi Sumberdaya Lahan .............................................................. 3
2.2 Tingkat Erosi Tanah ................................................................................. 5
2.3 Klasifikasi Kemampuan Lahan ................................................................ 7
III. KONDISI SUMBERDAYA LAHAN ..................................................... 13
3.1 Kondisi Umum DAS Mikro ................................................................... 13
3.2 Kemampuan Lahan ................................................................................. 18
3.3 Erosi........................................................................................................ 22
3.4 Permasalahan Lahan ............................................................................... 23
IV. PERENCANAAN KONSERVASI ......................................................... 25
4.1 Rekomendasi Detail Konservasi ............................................................ 25
4.2 Analisis Kelebihan Rekomendasi ........................................................... 29
V. KESIMPULAN ............................................................................................ 37
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 38
LAMPIRAN ......................................................................................................... 40

i
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kelas kemampuan lahan (Arsyad, 1989) .................................................. 8


Tabel 2. Kriteria kemampuan lahan (arsyad, 1989) .............................................. 12
Tabel 3. Kelas kemampuan lahan SPL 1 .............................................................. 18
Tabel 4. Kelas kemampuan lahan pada SPL 2 ...................................................... 19
Tabel 5. Kelas kemampuan lahan pada SPL 3 ...................................................... 19
Tabel 6. Kelas kemampuan lahan pada SPL 4 ...................................................... 20
Tabel 7. Kelas kemampuan lahan pada SPL 5 ...................................................... 21
Tabel 8. Kelas kemampuan lahan pada SPL 6 ...................................................... 21
Tabel 9. Perhitungan Bahaya Erosi ....................................................................... 22
Tabel 10. Perhitungan Bahaya Erosi Potensial ..................................................... 35
Tabel 11. Data KKL, tanaman, dan pengolahan setiap SPL ................................. 40
Tabel 12. Data curah hujan (CH) Karangploso, Malang tahun 20052014.......... 41
Tabel 13. Data rata-rata erosivitas tahun 20052014............................................ 42
Tabel 14. Data perhitungan bahaya erosi (A) setiap SPL ..................................... 45
Tabel 15. Perbandingan bahaya erosi (A) dan erosi yang diperbolehkan (Edp) ... 45
Tabel 16. Data Bahaya Erosi Aktual, Potensial dan EDP ..................................... 46

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta administrasi sub DAS Brantas Hulu ............................................ 13


Gambar 2. Lokasi project DAS mikro di UB forest.............................................. 15
Gambar 3. Penggunaan lahan pinus dan kopi di lokasi pengamatan .................... 15
Gambar 4. Tutupan lahan di lokasi pengamatan ................................................... 16
Gambar 5. Penggunaan guludan pada tanaman talas ............................................ 18
Gambar 6. Dokumentasi Lahan............................................................................. 40

iii
DAFTAR LAMPIRAN

Dokumentasi ..........................................................................................................40
Perhitungan Biaya Erosi (A) ..................................................................................40
Erosi yang Diperbolehkan (EDP) ..........................................................................45
Perbandingan Bahaya Erosi dan Erosi yang Diperbolehkan..................................45
Perbandingan Data Bahaya Erosi Aktual,Potensial dan EDP ................................46

iv
1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara


penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannya sesuai
dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.
Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air.
Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air
pada tempat yang dialirinya. Tujuan konservasi tanah adalah meningkatkan
produktivitas lahan secara maksimal, memperbaiki lahan yang rusak/kritis, dan
melakukan upaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi.
Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi areal pertanian, merupakan
kenyataan yang terjadi sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Hal ini
terbukti dari lahan hutan yang ada di desa Tawangargo dengan dirubahnya hutan
menjadi agrofoerstri. Persepsi umum tentang perubahan penggunaan lahan yang
berkembang sekarang adalah bahwa apabila hutan dialih-fungsikan menjadi
perkebunan atau lahan pertanian lainnya, fungsi hutan dalam mengatur tata air dan
mengontrol erosi akan menurun drastis sehingga beda debit air puncak dan debit
dasar akan melebar dan erosi akan berlipat ganda. Dengan demikian kawasan
hutan yang sudah beralih menjadi lahan perkebunan atau yang sudah berubah
fungsi menjadi kawasan produksi perlu dihutankan kembali. Berdasarkan hal
tersebut maka diperlukannya usaha untuk menjaga kestabilan fungsi hutan dengan
penerapan konservasi tanah dan air.
Untuk melakukan tindakan konservasi tanah diperlukan kriteria penetapan
pengendalian erosi. Salah satu pertimbangan yang harus disertakan dalam
merancang teknik konservasi tanah adalah nilai batas erosi yang masih dapat
diabaikan (tolerable soil loss). Teknik konservasi yang kerap diterapkan petani
antara lain teknik secara vegetatif dan mekanis. Teknik konservasi secara vegetatif
yaitu setiap pemanfaatan tanaman/vegetasi sebagai media pelindung tanah dan
erosi, penghambat laju aliran permukaan dan perbaikan sifat-sifat tanah.
Sedangkan teknik konservasi secara mekanis menurut Agus et al., (1999) yaitu
upaya menciptakan fisik lahan atau merekayasa bidang olah lahan pertanian agar
2

sesuai dengan prinsip konservasi tanah dan air. Meliputi kegiatan pembuatan teras
gulud, pematang kontur, teras bangku, teras kebun dan teras individu.
Pada praktikum lapang Teknologi konservasi sumberdaya lahan di, Desa
Tawang Argo ini mahasiswa melihat, mengamati, dan menganalisis kondisi aktual
lahan. Sehingga dapat menentukan upaya perbaikan untuk lahan yang diamati.
Pada praktikum konservasi sumberdaya lahan yang kami lakukan di Desa Tawang
Argo memiliki kelerengan lahan yang agak curam pada setiap SPL dengan
budidaya tanaman pinus, kopi, talas dan pisang. Oleh karena itu, dengan
dilakukannya praktikum ini, mahasiswa mampu untuk menganalisis penggunaan
lahan di Desa Tawang Argo dan merekomendasikan penggunaan lahan yang
sesuai serta aman bagi masyarakat sekitar dan menguntungkan secara ekonomis.

1.2 Tujuan

Tujuan dari fieldtrip yang telah dilakukan adalah :


1. Menentukan besarnya erosi di wilayah UB Forest, Karang Ploso
2. Menentukan rekomendasi tindakan KTA di wilayah UB Forest, Karang Ploso
3. Menentukan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan KTA
3

II. PENDEKATAN METODE

2.1 Inventarisasi Sumberdaya Lahan

Dalam metode inventarisasi sumberdaya lahan, dapat dilakukan dengan dua


tahapan, yaitu (a) upaya jangka pendek yang bersifat sangat mendesak, dan (b)
upaya jangka menengah atau panjang yang merupakan tahap peralihan (transisi).
Dalam dua tahapan tersebut untuk mendapatkan data-data aktual yang menunjang
untuk mengukur dan menghitung seberapa besar erodibilitas yang terjadi. Adapun
data-data yang didapat yaitu:
1. Data primer
Data primer untuk menunjang dalam perhitungan erodibilitas yang
dibolehkan. Data perhitungan erodibilitas juga dapat dikatakan sebagai
pendekatan secara vegetatif. Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan
dengan aturan rumus menurut perhitungan K dapat dihitung dengan persamaan
Weischmeier, et.al (1971)
Rumus Erodibilitas
K= 1,292{(2,1 M 1,14 (10-4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)}
Dimana:
M = ukuran partikel (%pasir sangat halus + % debu x (100-%liat) %
pasir sangat halus = 30% dari pasir (Sinukaban dalam sinulingga,
1990)
a = kandungan bahan organik (%C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah
Selanjutnya melakukan perhitungan bahaya erosi di lahan, tingkat bahaya
erosi merupakan ancaman kerusakan yang diakibatkan oleh erosi pada suatu
lahan. Erosi tanah dapat berubah menjadi bencana apabila laju erosi lebih cepat
dibandingkan dengan laju pembentukan tanah. Untuk menentukan nilai laju erosi
wajar digunakan standard yang berlaku di Indonesia menurut Asryad (1989)
memperkirakan kecepatan erosi wajar di Indonesia adalah dua sampai tiga kali
nilai di Amerika, yaitu sekitar 15-23 ton/ha/th atau 1,25-2,5 mm/th. Besarnya nilai
bahaya erosi dinyatakan dalam indeks bahaya erosi.
4

Rumus bahaya erosi:


A= R x K x LS x C x P
Keterangan:
R : Erosifitas
K : Erodibilitas
LS : Panjang kelerengan
C : Tanaman
P : Pengolahan
Pada umumnya pengendalian erosi secara mekanis memerlukan biaya dan
tenaga yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik konservasi secara vegetatif.
Teknik olah tanah minimum atau tanpa olah tanah adalah satu-satunya teknik
konservasi sipil teknis yang lebih murah dan mudah dibandingkan dengan teknik
olah tanah biasa (konvensional). Oleh sebab itu dalam banyak hal teknik vegetatif
lebih diutamakan. Lagipula teknik konservasi vegetatif pada umumnya
mempunyai manfaat ganda, selain memberikan manfaat konservasi, juga
memberikan produk yang dapat dikonsumsi berupa bahan makanan, hijauan
pakan ternak, kayu bakar dan sebagainya. Hanya apabila masalah erosi sangat
serius maka sistem sipil teknik perlu dipertimbangkan.
Contohnya yaitu dengan pembuatan teras bangku dan teras gulud. Teras
bangku berguna untuk menurunkan laju aliran permukaan dan menahan erosi.
Teras bangku dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di
bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Keuntungan dari
pembuatan teras bangku yaitu, bidang olah teras yang datar lebih mudah ditanami
daripada lahan asli yang berlereng curam, apabila bangunan teras cukup baik akan
sangat efektif dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan, selanjutnya dapat
meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah.
Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat
gulud dan saluran air pada bagian lereng atasnya. Menurut Saifudin (1986) Teras
gulud berfungsi untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan
penyerapan air ke dalam tanah. Saluran air ini berfungsi untuk mengalirkan air
aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Dengan demikian
pembuatan teras ini dapat meminimalisir terjadinya erosi.
5

2. Data sekunder
Data sekunder yang dibutuhkan adalah data wawancara. Wawancara
dilakukan pada petani yang menggarap pada titik-titik pengamatan, adapun hal-
hal yang menjadi bahan wawancara kepada petani yaitu hal-hal mengenai
permasalahan-permasalahan yang terjadi di lahan, kondisi ekonomi dan produksi
yang didapatkan di lahan.
Dengan data sekunder ini dapat mendukung hal-hal konservasi yang akan
diterapkan di lahan untuk memecahkan atau meringankan permasalahan yang ada
di lahan. Akan tetapi terkadang kegiatan koservasi lahan terkendala oleh beberapa
hambatan, salah satunya adalah hambatan ekonomi. Hambatan ekonomi biasanya
berkenaan dengan sejumlah modal untuk melakukan kegiatan konservasi.
Kurangnya permodalan dalam kegiatan konservasi akan menyebabkan kurangnya
pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak
mengetahui arti pentingnya konservasi bagi kelangsungan hidup manusia.
Ketidaktahuan masyarakat tersebut akan menyebabkan perbedaan keinginan
antara kepentingan masyarakat dengan kepentingan pemerintah. Di satu sisi
pemerintah melakukan konservasi, sementara di sisi lain masyarakat melakukan
deplisi, sehingga konservasi tidak bisa berjalan atau menjadi sesuatu yang sia-sia.

2.2 Tingkat Erosi Tanah

Ellison, 1947 (dalam Morgan, 1988), mengemukakan bahwa erosi tanah


adalah proses pelepasan butir-butir tanah dan proses pemindahan atau
pengangkutan tanah yang disebabkan oleh air atau angin. Khusus di Indonesia
yang beriklim tropis basah, proses erosi tanah yang paling banyak disebabkan
oleh air, yang diakibatkan oleh adanya hujan yang turun diatas permukaan tanah.
Menurut Arsyad S (1989) yang dimaksud erosi oleh air adalah merupakan
kombinasi dua sub proses yaitu penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir
primer oleh energi tumbukan butir-butir hujan yang jatuh menimpa tanah dan
peredaman oleh air yang tergenang (proses dispersi) dan pengangkutan butir-butir
primer tanah oleh air yang mengalir diatas permukaan tanah.
Wayer dan Wischemeier (1969) dalam Hardjowigeno (2003) meninjau
proses terjadinya erosi air di suatu lereng tanah harus dihancurkan dulu oleh curah
6

hujan dan aliran permukaan. Setelah tanah hancur baru siap untuk diangkut ke
tempat lain oleh curah hujan dan aliran permukaan yang akan mengendap di suatu
tempat lain. Di alam erosi selalu dan akan tetap terjadi. Bentuk permukaan bumi
selalu berubah sepanjang masa. Pada suatu tempat terjadi pengikisan dan di
tempat lain terjadi penimbunan. Proses ini terjadi secara alami dan sangat lambat
tanpa disadari oleh manusia, dan hasilnya baru terlihat setelah berpuluh-puluh
tahun.
Menurut Hudson (1976), faktor penyebab erosi dinyatakan dalam erosivitas
yang merupakan manifestasi hujan dipengaruhi oleh adanya vegetasi dan
kemiringan serta faktor tanah dinyatakan dalam erodibilitas yang juga dipengaruhi
oleh adanya vegetasi. Erosi juga ditentukan oleh sifat hujan, sifat tanah, derajat
dan panjang lereng, adanya penutup tanah berupa vegetasi dan aktifitas manusia
dalam hubungannya dengan pemakaian dan pengelolaan tanah. Erosivitas
merupakan sifat yang menentukan energi (R), faktor yang mempengaruhi
besarnya energi (kemiringan S, panjang lereng L) dan erodibilitas merupakan sifat
tanah K, serta faktor yang memodifikasi yaitu tanaman (C) dan pengelolaan tanah
(P). Topografi atau rupa muka tanah menentukan kecepatan aliran permukaan
yang membawa partikel - partikel tanah. Peranan vegetasi penutup adalah
melindungi tanah dari pukulan langsung air hujan dan memperbaiki struktur tanah
melalui penyebaran akar-akanrnya. Faktor kegiatan manusia memegang peranan
penting terutama dalam usaha pencegahan erosi karena manusia dapat
memperlakukan faktor-faktor penyebab erosi lainnya kecuali faktor iklim.
Menurut Sarief (1986), macam-macam erosi adalah sebagai berikut
1. Erosi percikan (Splash erosion).
2. Puddle erosion.
3. Sheet erosion.
4. Erosi alur (Riil erosion).
5. Erosi parit/selokan (Gully erosion).
6. Erosi tebing sungai (streambank erosion).
Menurut Utoyo (2007), dalam lahan hutan terdapat jenis atau macam erosi
yang terjadi, salah satunya erosi percik (splash erosion), erosi percik merupakan
bentuk pengikisan tanah oleh percikan air hujan. Pada saat titik air hujan
7

memercik ke permukaan tanah, butiran-butiran air akan menumbuk kemudian


akan mengikis partikel tanah serta memindahkannya ke tempat lain di sekitarnya.
Salah satu sistem pengendalian erosi secara mekanis adalah barisan gulud yang
dilengkapi rumput penguat gulud dan saluran air di bagian lereng atas. Sistem itu
bermanfaat untuk mengurangi laju limpasan permukaan dan meningkatkan
resapan air ke dalam tanah.
Hal ini dapat diterapkan pada tanah dengan infiltrasi/permeabilitas tinggi
dan tanah-tanah yang agak dangkal dengan lereng 10 sampai 30 derajat. Selain
teras gulud juga dapat membuat teras bangku/ terasering. Dibuat dengan cara
memotong lereng dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi deretan
menyerupai tangga. Terasering bermanfaat sebagai pengendali aliran permukaan
dan erosi. Cara ini diterapkan pada lahan dengan lereng 10 hingga 40 derajat,
tanah dengan solum dalam (> 60 cm), tanah yang relatif tidak mudah longsor, dan
tanah yang tidak mengandung unsur beracun bagi tanaman seperti aluminium dan
besi.

2.3 Klasifikasi Kemampuan Lahan

Menurut Arsyad (1989), kemampuan lahan adalah penilaian atas


kemampuan lahan untuk penggunaan tertentu yang dinilai dari masing-masing
faktor penghambat. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya
dan tidak dikuti dengan usaha konservasi tanah yang baik akan mempercepat
terjadi erosi. Apabila tanah sudah tererosi maka produktivitas lahan akan
menurun. Lahan dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama yaitu kelas,
subkelas, dan satuan kemampuan (capability units) atau satuan pengelolaan
(management unit). Pengelompokkan di dalam kelas didasarkan atas intensitas
faktor penghambat. Tanah dikelompokkan ke dalam delapan kelas yang ditandai
dengan huruf romawi dari I sampai VIII. Ancaman kerusakan atau hambatan
meningkat berturut-turut dari kelas I sampai kelas VIII. Arsyad (1989)
mengemukakan delapan kelas kemampuan lahan yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Kelas kemampuan lahan memiliki masing-masing faktor penghambat yang
mempengaruhi penggunaan lahannya.
8

Tabel 1. Kelas kemampuan lahan (Arsyad, 1989)


No. Kelas Ciri - Ciri
1. I Mempunyai sedikit penghambat yang membatasi penggunaannya,
sesuai untuk berbagai penggunaan pertanian, mulai dari tanaman
semusim, tanaman rumput, padang rumput hutan produksi, dan cagar
alam.
2. II Memiliki beberapa hambatan atau ancaman kerusakan yang
mengurangi pilihan penggunaannya atau mengakibatkannya
memerlukan tindakan konservasi yang sedang
3. III Mempunyai hambatan yang berat yang mengurangi pilihan
pengunaan atau memerlukan tindakan konservasi khusus atau
keduanya yaitu membatasi lama penggunaannya bagi tanaman
semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman atau kombinasi
pembatas-pembatas tersebut.
4. IV Dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian dan
pada umumnyatanaman rumput, hutan produksi, padang
penggembalaan, hutan lindung dan cagar alam
5. V Tidak terancam erosi akan tetapi mempunyai hambatan lain yang
tidak praktis untuk dihilanghkan yang membatasi pilihan
pengunaannya sehingga hanya sesuai untuk tanaman rumput, padang
penggembalaan, hutan produksi atau hutan lindung dan cagar alam.
6. VI Mempunyai hambatan yang berat yang menyebabkan tanah-tanah ini
tidak sesuai untuk pengunaan pertanian. Penggunaannya terbatas
untuk tanaman rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi,
hutan lindung, atau cagar alam.
7. VII Tidak sesuai untuk budidaya pertanian, Jika digunakan untuk padang
rumput atau hutan produksi harus dilakukan dengan usaha
pencegahan erosi yang berat.
8. VIII Tidak sesuai untuk budidaya pertanian, tetapi lebih sesuai untuk
dibiarkan dalam keadaan alami. Lahan kelas VIII bermanfaat sebagai
hutan lindung, tempat rekreasi atau cagar alam.

Kriteria faktor pembatas yang menentukan kelas atau subkelas maupun


satuan kemampuan lahan menurut Arsyad (1989), yaitu:
a. Iklim
Dua komponen iklim yang paling mempengaruhi kemampuan lahan, yaitu
temperatur dan curah hujan. Temperatur yang rendah mempengaruhi jenis dan
pertumbuhan tanaman. Di daerah tropika yang paling penting mempengaruhi
temperatur udara adalah ketinggian letak suatu tempat dari permukaan laut. Udara
yang bebas bergerak akan turun temperaturnya pada umumnya dengan 1 0C untuk
setiap 100 m naik di atas permukaan laut. Penyediaan air secara alami berupa
curah hujan yang terbatas atau rendah di daerah agak basah (sub humid), agak
kering (semi arid), dan kering (arid) mempengaruhi kemampuan tanah.
9

b. Lereng, bahaya erosi, dan erosi yang telah terjadi


Kecuraman lereng, panjang lereng dan bentuk lereng (cekung atau cembung)
dapat mempengaruhi besarnya erosi dan aliran permukaan. Pengelompokkan
kecuraman lereng adalah sebagai berikut:
A : < 3 % (datar)
B : 3 8 % (landai atau berombak)
C : 8-15 % (agak miring atau bergelombang)
D : 15 30 % (miring atau berbukit)
E : 30 45 % (agak curam)
F : 45 65 % (curam)
G : > 65 % (sangat curam)
Kepekaan erosi tanah (nilai K) dibedakan atas:
KE1 : 0,00 0,10 (sangat rendah)
KE2 : 0,11 0,20 (rendah)
KE3 : 0,21 0,32 (sedang)
KE4 : 0,33 0,43 (agak tinggi)
KE5 : 0,44 - 0,55 (tinggi)
KE6 : 0,56 - 0,64 (sangat tinggi)
Kerusakan erosi yang telah terjadi (erosi masa lalu) dibedakan atas:
e0 : Tidak ada erosi
e1 : Ringan (< 25% lapisan atas hilang)
e2 : Sedang (25 sampai 75% lapisan atas hilang)
e3 : Agak berat (> 75% lapisan atas sampai < 25% lapisan bawah
hilang)
e4 : Berat (> 25% lapisan bawah hilang)
e5 : Sangat berat: erosi parit
c. Kedalaman Tanah
Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman tanah yang baik bagi
pertumbuhan akar tanaman, yaitu sampai pada lapisan yang tidak dapat ditembus
oleh akar tanaman. Kedalaman efektif tanah diklasifikasikan sebagai berikut:
k0 : Dalam (>90 cm)
k1 : Sedang (90 50 cm)
10

k2 : Dangkal (50 25 cm)


k3 : Sangat dangkal (< 25 cm)
d. Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi kapasitas
tanah untuk menahan air dan permeabilitas tanah serta berbagai sifat fisik dan
kimia tanah lainnya. Tekstur tanah diklasifikasikan sebagai berikut:
t1 : Tanah bertekstur halus, meliputi tekstur liat berpasir, liat berdebu
dan liat.
t2 : Tanah bertekstur agak halus, meliputi tekstur lempung liat
berpasir, lempung berliat dan lempung liat berdebu.
t3 : Tanah bertekstur sedang, meliputi tekstur lempung, lempung
berdebu dan debu.
t4 : Tanah bertekstur agak kasar, melliputi tekstur lempung berpasir,
lempung berpasir halus dan lempung berpasir sangat halus.
t5 : Tanah bertekstur kasar, meliputi tekstur pasir berlempung dan
pasir.
e. Permeabilitas
Permeabilitas tanah dikelompokkan sebagai berikut:
P1 : Lambat (< 0,5 cm/jam)
P2 : Agak lambat (0,5 2,0 cm/jam)
P3 : Sedang (2,0 6,25 cm/jam)
P4 : Agak cepat (6,25 12,5 cm/jam)
P5 : Cepat (> 12,5 cm/jam)
f. Drainase
Drainase tanah diklasifikasikan sebagai berikut:
d0 : Berlebihan; air yang berlebihan segera keluar dari tanah dan tanah
hanya akan menahan sedikit air sehingga tanaman akan segera
mengalami kekurangan air.
d1 : Baik; tanah memiliki peredaran udara (aerasi) yang baik. Seluruh
profil tanah dari atas sampai ke bawah > 150 cm berwarna terang
yang seragam.
11

d2 : Agak baik; tanah berareasi baik didaerah perakaran. Tidak


terdapat bercakbercak berwarna kuning, coklat atau kelabu pada
lapisan atas dan bagian atas lapisan bawah (sampai sekitar 60 cm
dari permukaan tanah).
d3 : Agak buruk; tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning,
kelabu atau coklat. Bercak-bercak terdapat pada seluruh lapisan
bagian bawah (sekitar 40 cm dari permukaan tanah).
d4 : Buruk; bagian bawah lapisan atas (dekat permukaan) terdapat
warna atau bercak-bercak berwarna kelabu, coklat dan kekuningan.
d5 : Sangat buruk; seluruh lapisan sampai permukaan tanah berwarna
kelabu dan tanah lapisan bawah berwarna kelabu atau terdapat
bercak-bercak berwarna kebiruan, atau terdapat air yang
menggenang dipermukaan tanah dalam waktu yang lama sehingga
menghambat pertumbuhan tanaman.
Faktor-faktor penghambat lain yang mungkin ada adalah batu, bahaya banjir
dan salinitas.
a. Kerikil/batuan
Kerikil adalah bahan kasar yang berdiameter > 2mm 7,5 cm (jika
berbentuk bulat).
b0 : Tidak ada atau sedikit (< 15% volume tanah)
b1 : Sedang (15 50% volume tanah)
b2 : Banyak (50 90% volume tanah)
b3 : Sangat banyak (> 90% volume tanah)
b. Bahaya banjir atau genangan
Bahaya banjir atau genangan dikelompokkan sebagai berikut:
O0 : Tidak pernah (dalam periode satu tahun tanah tidak pernah
kebanjiran selama > 24 jam)
O1 : Kadang-kadang (tanah kebanjiran > 24 jam dan terjadinya tidak
teratur dalam periode < satu bulan).
O2 : Selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur
kebanjiran untuk selama > 24 jam.
12

O3 : Selama 2 5 bulan dalam setahun, secara teratur selalu dilanda


banjir yang lamanya lebih dari 24 jam.
O4 : Selama waktu 6 bulan tanah selalu dilanda banjir secara teratur
yang lamanya > 24 jam.
c. Salinitas
Salinitas tanah dinyatakan dalam kandungan garam larut atau hambatan
listrik ekstrak tanah berikut:
g0 : Bebas (< 0,15% garam larut; 0 4 (EC x 103) mmhos per cm
pada suhu 25C).
g1 : Sedikit terpengaruh (0,15 0,35% garam larut; 4 8 (EC x 103)
mmhos/cm pada suhu 25C).
g2 : Cukup terpengaruh (0,35 0,65% garam larut; 8 15 (EC x 103)
mmhos/cm pada suhu 25C).
g3 : Sangat terpengaruh (> 0,65% garam larut; > 15 (EC x 103)
mmhos/cm pada suhu 25C).
Tabel 2. Kriteria kemampuan lahan (arsyad, 1989)
Faktor pembatas Kelas kemampuan lahan
I II III IV V VI VII VII
Lereng A B C D A E F G
Kepekaan Erosi KE1, KE3 KE4, KE5 (*) (*) (*) (*)
KE2 KE5
Tingkat Erosi e0 e1 e2 e3 (**) e4 e5 (*)
Kedalaman Tanah k0 k1 k2 k2 (*) k3 (*) (*)
Tekstur Lapisan Atas t1,t2,t3 t1,t2, t1,t2, t1,t2, (*) t1,t2, t1,t2, t5
t3 t3, t4 t3, t4 t3, t4 t3, t4
Tekstur Lapisan Bawah sda sda sda sda (*) sda sda t5
Permeabilitas p2, p3 p2, p2,p3, p2,p3 p1,p4 (*) (*) p5
p3 p4 p4
Draenase d1 d2 d3 d4 d5 (**) (**) d0
Kerikil/Batuan b0 b0 b1 b2 b3 (*) (*) b4
Bahaya Banjir O0 O1 O2 O3 O4 (**) (**) (*)
Garam/salinitas (***) g0 g1 g2 g3 (**) g3 (*) (*)
13

III. KONDISI SUMBERDAYA LAHAN

3.1 Kondisi Umum DAS Mikro

3.1.1 Kondisi Umum DAS Brantas Hulu


Daerah aliran sungai yang digunakan untuk pembuatan project merupakan
bagian dari di Sub DAS Brantas Hulu yang secara administratif terletak di
wilayah Kotamadya Batu dan sebagian Kabupaten Malang. Sub DAS Brantas
Hulu secara geografis terletak di 1150 170 hingga 1180 190 Bujur Timur dan
70 5530 hingga 70 5730 Lintang Selatan, dengan luas wilayah mencapai
17.343,77 Ha. Sub DAS Brantas Hulu berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto
dan Kabupaten Pasuruan di bagian utara, Kecamatan Karangploso dan Kecamatan
Singosari Kabupaten Malang di bagian Timur, Kecamatan Dau Kabupaten
Malang di bagian Selatan, dan Kecamatan Pujon Kabupaten Malang di Barat.

Gambar 1. Peta administrasi sub DAS Brantas Hulu

Secara umum tanah yang berkembang di DAS Brantas Hulu berkembang dari
bahan volkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan
14

Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Sebaran


geologi yang dijumpai di kawasan Sub DAS Brantas Hulu, secara umum masih
menunjukkan banyak kesamaan, yaitu berupa bahan-bahan volkan yang berupa
breksi gunungapi, tuf breksi, lava, tuf dan aglomerat. Namun, secara lebih detail
masih dapat dibedakan berdasar bahan-bahan dominan yang dikandungnya.
(Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air, 2012)
Penggunaan lahan di kawasan Sub DAS Brantas Hulu bisa dikategorikan
dalam beberapa macam. Penggunaan lahan yang mendominasi kawasan ini adalah
hutan, kebun, sawah, semak dan penggunaan lahan lain. Berikut ini disampaikan
beberapa macam penggunaan lahan dan ciri-cirinya yang terkait dengan fungsi
lahan untuk konservasi dan hidrologi.

3.1.2 Kondisi Umum UB Forest


Lokasi DAS Mikro yang menjadi project konservasi berada di wilayah UB
Forest, tepatnya di Desa Tawangargo, Kec. Karangploso, Kab. Malang. Desa
Tawangargo.Secara geografis terletak pada posisi 7 53' 35'Lintang Selatan
dan 112 53' 41' Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan
tinggi yaitu sekitar 700m-1000m di atas permukaan air laut. Wilayah Desa
Tawangargo secara umum mempunyai ciri geologis berupa lahan tanah hitam
yang sangat cocok sebagai lahan pertanian dan perkebunan Luas lahan yang
diperuntukkan untuk Pertanian adalah 204 Ha. Wilayah Desa Tawangargo secara
umum mempunyai ciri geologis berupa lahan tanah hitam yang sangat cocok
sebagai lahan pertanian dan perkebunan. (Anonomious,2008). Untuk lokasi
pengamatan, pada setiap kelas bebeda. Peta dibawah ini merupakan peta project
DAS Mikro UB Forest.
15

Gambar 2. Lokasi project DAS mikro di UB forest

3.1.3 Kondisi Umum DAS Mikro Pada Lokasi Project Pengamatan Kelas C

Pada lokasi project pengamatan kelas C, Penggunaan lahan pada lokasi


project yaitu sebagai lahan hutan produksi. Dimana untuk hutan produksi
ditanami tanaman tahunan seperti pinus dan kopi. Sedangkan untuk tanaman
semusim yang ditanam disela-sela tanaman hutan produksi yaitu talas dan pisang.
Gambar dibawah ini merupakan gambar mengenai penggunaan lahan pada lokasi
project.

Gambar 3. Penggunaan lahan pinus dan kopi di lokasi pengamatan

Tutupan lahan pada lokasi project secara umum adalah tanaman pinus
yang merupakan jenis tanaman tahunan. Namun pada beberapa SPL penutup
16

tanahnya masih kurang, seperti pada gambar dibawah ini merupakan contoh dari
kurangnya penutup tanah yang ada penggunaan lahan pinus.

Gambar 4. Tutupan lahan di lokasi pengamatan

Pada lokasi project pengamatan, jumlah SPL yang ditemukan adalah


sebanyak 6 SPL. Berikut ini adalah kondisi mengenai keadaan pada setiap SPL:
1. SPL 1
Pada SPL 1 dengan kelas kemampuan lahan yaitu IVe, berada pada
kemiringan >25%, vegetasi yang berada di SPL 1 adalah pinus, kopi dan semak.
Untuk pengolahan lahan yang dilakukan di SPL 1 adalah pengolahan dengan
menggunakan teras bangku tradisional dan dengan guludan.
2. SPL 2
Pada SPL 2 dengan KKL VIe, memiliki kemiringan sebesar >25%.
Vegetasi yang ada pada SPL 2 adalah pinus dan kopi. Untuk pengolahan lahan
pada SPL 2 menggunakan teras bangku jelek.
3. SPL 3
Sama halnya dengan SPL 1 dan 2, kemiringan pada SPL 3 yaitu >25%
dengan KKL IVe. Sedangkan untuk vegetasi yang ada di SPL 3 adalah pinus,
kopi, semak dan pisang. Pengolahan lahan yang dilakukan di SPL 3 adalah
menggunakan teras bangku sedang.
17

4. SPL 4
SPL 4 memiliki KKL IIIe, dengan kemiringan 15-25% dn vegetasi yang
ada di SPL 4adalah pinus, kopi, semak, dan pisang. Pengolahan lahan yang
dilakukan pada SPL 4 adalah menggunakan teras bangku sedang.
5. SPL 5
Pada SPL 5 dengan kemiringan 13-25% termasuk dalam KKL IVe.
Vehetasi yang ada pada SPL 5adalah pinus, kopi, dan semak. Pada SPL 5
pengolahan lahan yang dilakukan yaitu teras bangku sedang.
6. SPL 6
SPL yang terakhir adalah SPL 6 dengan kemiringan >25% memilii KKL
VIe. Vegetasi yang ada pada SPL 6 adalah pinus, kopi, semak dan talas. Sama
halnya dengan SPL sebelumnya, pengolahan lahan yang dilakukan pada SPL 6
juga menggunakan teras bangku sedang.
Pada setiap SPL tanaman pinus selalu mendominasi, karena selain untuk
produksi, pinus juga digunakan untuk konservasi yang dapat mencegah longsor.
Berdasarkan data dari setiap SPL, pengolahan lahan pada lokasi project tidak
terlalu intensif. Ditunjang dengan hasil wawancara pada petani setempat, petani
hanya melakukan pengolahan tanah secara sederhana, misalnya untuk penanaman
kopi, petani hanya membersihkan semak-semaknya saja dan membuat guludan.
Sama halnya pada saat penanaman talas dan pisang, pengolahan tanah yang
dilakukan hanya sebatas membersihkan semak-semak dan membuat guludan.
Karena komoditas yang ditanam pada lokasi project bukan komoditas seperti
sayuran, maka hal tersebut juga memperkecil potensi kerusakan lahan akibat
tingkat pengolahan yang intensif.
18

Gambar 5. Penggunaan guludan pada tanaman talas

3.2 Kemampuan Lahan

Berdasarkan hasil penentuan kelas kemampuan lahan, didapatkan hasil kelas


kemampuan lahan pada SPL 1 sebagai berikut.
Tabel 3. Kelas kemampuan lahan SPL 1
Faktor Pembatas Hasil Pengamatan Kode
Tekstur Tanah Lempung berliat t2
Lereng 29.9% d
Drainase Sedang d1
Kedalaman Efektif 150 cm k0
Tingkat Erosi Rendah ke1
Permeabilitas Agak lambat p2
Batu/Kerikil - b0
Bahaya Banjir Rendah o0
Faktor Pembatas e
Kelas Kemampuan Lahan IV-e

SPL 1 memiliki kelas kemampuan lahan IV dengan faktor pembatas lereng


yakni sebesar 29.9% yang termasuk dalam penggolongan kategori kecuraman d
(miring atau berbukit). SPL 1 memiliki tekstur tanah lempung berliat dengan
drainase sedang dan tingkat erosi rendah, serta bahaya banjirnya rendah. Hal
tersebut berdasarkan Arsyad didalam Rayes (2007), selain itu disebutkan juga
bahwa tanah-tanah kelas IV dapat digunakan untuk menanam tanaman semusim,
pertanian, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam.
19

Tanah-tanah kelas IV hanya cocok untuk dua atau tiga macam tanaman pertanian
atau tanaman yang memiliki produksi rendah.

Tabel 4. Kelas kemampuan lahan pada SPL 2


Faktor Pembatas Hasil Pengamatan Kode
Tekstur Tanah Lempung berdebu t3
Lereng 32.49% e
Drainase Agak cepat d1
Kedalaman Efektif 150 cm k0
Tingkat Erosi Rendah ke2
Permeabilitas Sedang p3
Batu/Kerikil - b0
Bahaya Banjir Rendah o0
Faktor Pembatas e
Kelas Kemampuan Lahan VI-e
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada SPL 2 diketahui bahwa SPL 2
memiliki kelas kemampuan lahan VI dengan faktor pembatas kelerengan. Pada
SPL 2 kelerengan yang didapatkan sebesar 32,49% dan termasuk dalam kategori
agak curam. Tekstur tanah pada SPL 2 adalah Lempung berdebu dengan darinase
agak cepat, tingkat erosi rendah dan permeabilitas rendah serta bahaya banjir
rendah. Dengan begitu pada SPL 2 tidak bisa dijadikan lahan pertanian semusim.
Hal ini dikarenakan SPL 2 memiliki kelas kemampuan VI. Menurut Arsyad
(1989) lahan dengan kelas kemampuan VI Mempunyai hambatan yang berat yang
menyebabkan tanah-tanah ini tidak sesuai untuk pengunaan pertanian.
Penggunaannya terbatas untuk tanaman rumput atau padang penggembalaan,
hutan produksi, hutan lindung, atau cagar alam.

Tabel 5. Kelas kemampuan lahan pada SPL 3


Faktor Pembatas Hasil Pengamatan Kode
Tekstur Tanah Liat berdebu t1
Lereng 23.82% d
Drainase Baik d1
Kedalaman Efektif 150 cm k0
Tingkat Erosi Sangat rendah ke1
Permeabilitas Sedang p3
Batu/Kerikil - b0
Bahaya Banjir Rendah o0
Faktor Pembatas e
Kelas Kemampuan Lahan IV-e

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada SPL 3 diketahui bahwa SPL 3


memiliki kelas kemampuan IV dengan faktor pembatas kelerengan. Pada SPL 3
20

kelerengan yang didapatkan adalah 23,82% dan termasuk dalam kategori miring
atau berbukit. Tekstur tanah di SPL 3 adalah liat berdebu dengan drainase baik
dan tingkat erosi yang rendah serta bahaya banjir rendah. Dengan demikian pada
SPL 3 yang termasuk kelas IV ini masih dapat digunakan sebagai lahan budidaya
tanaman musiman menurut Arsyad (1989) Lahan dengan kelas kemampuan IV
dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian dan pada
umumnyatanaman rumput, hutan produksi, padang penggembalaan, hutan lindung
dan cagar alam.
Tabel 6. Kelas kemampuan lahan pada SPL 4
Faktor Pembatas Hasil Pengamatan Kode
Tekstur Tanah Liat berdebu t1
Lereng 14.94% c
Drainase Baik d1
Kedalaman Efektif 150 cm k0
Tingkat Erosi Sangat rendah ke1
Permeabilitas Sedang p3
Batu/Kerikil - b0
Bahaya Banjir Rendah o0
Faktor Pembatas e
Kelas Kemampuan Lahan III-e

Berdasarkan hasil yang didapatkan di SPL 4 diketahui SPL 4 memiliki


kelas kemampuan III dengan faktor pembatas kelerengan. Kelerengan pada SPL 4
sebesar 14.94% yang termasuk dalam kategori agak miring. Tekstur pada SPL 4
adalah liat berdebu dengan drainase baik dan tingkat erosi yang sangat rendah
serta bahaya banjir yang rendah. Dengan demikian pada SPL 4 yang masuk
kedalam kelas III dapat digunakan untuk pertanian semusim namun tidak bisa
secara intensif. Menurut Arsyad (1989) Kelas kemampuan III mempunyai
hambatan yang berat yang mengurangi pilihan pengunaan atau memerlukan
tindakan konservasi khusus atau keduanya. Hambatan yang terdapat pada tanah
dalam lahan kelas III membatasi lama penggunaannya bagi tanaman semusim,
waktu pengolahan, pilihan tanaman atau kombinasi pembatas-pembatas tersebut.
21

Tabel 7. Kelas kemampuan lahan pada SPL 5


Faktor Pembatas Hasil Pengamatan Kode
Tekstur Tanah Lempung berliat t2
Lereng 22.3% d
Drainase Baik d1
Kedalaman Efektif 150 cm k0
Tingkat Erosi Rendah ke2
Permeabilitas Lambat p1
Batu/Kerikil - b0
Bahaya Banjir Rendah o0
Faktor Pembatas E
Kelas Kemampuan Lahan IV-e

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada SPL 5 termasuk dalam kelas IV


dengan faktor pembatas kelerengan. Kelerengan pada SPL 5 sebesar 22,3% yang
termasuk dalam kategori miring atau berbukit. Tekstur pada SPL 4 adalah
lempung berliat dengan drainase baik dan tingkat erosi rendah dengan
permeabilitas lambat serta bahaya bajir rendah. Dengan demikian SPL 5 yang
termasuk dalam kelas IV masih dapat digunakan sebagai lahan budidaya tanaman
musiman menurut Arsyad (1989) Lahan dengan kelas kemampuan IV dapat
digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian dan pada
umumnyatanaman rumput, hutan produksi, padang penggembalaan, hutan lindung
dan cagar alam.
Tabel 8. Kelas kemampuan lahan pada SPL 6
Faktor Pembatas Hasil Pengamatan Kode
Tekstur Tanah Lempung berdebu t3
Lereng 32.5% E
Drainase Baik d1
Kedalaman Efektif 150 cm k0
Tingkat Erosi Rendah ke2
Permeabilitas Agak lambat p2
Batu/Kerikil - b0
Bahaya Banjir Rendah o0
Faktor Pembatas E
Kelas Kemampuan Lahan VI-e

Berdasarkan hasil yang didapatkan, pada SPL 6 memiliki kelas VI dengan


faktor pembatas kelerengan. Pada SPL 6 kelerengan yang didapatkan sebesar
32,5% yang termasuk dalam kategori agak curam. Tekstur pada SPL 6 adalah
lempung berdebu dengan drainase baik dan tingkat erosi rendah dengan
permeabilitas yang agak lambar serta bahaya banjir yang rendah. Dengan begitu
22

pada SPL 6 tidak bisa dijadikan lahan pertanian semusim. Hal ini dikarenakan
SPL 6 memiliki kelas kemampuan VI. Menurut Arsyad (1989) lahan dengan kelas
kemampuan VI Mempunyai hambatan yang berat yang menyebabkan tanah-tanah
ini tidak sesuai untuk pengunaan pertanian. Penggunaannya terbatas untuk
tanaman rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung, atau
cagar alam.

3.3 Erosi

Berdasarkan hasil pengamatan lapang dan hasil perhitungan, didapatkan


data erosivitas, bahaya erosi dan Edp pada lahan yang diamati. Adapun data hasil
perhitungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 9. Perhitungan Bahaya Erosi


SPL R K LS C P A edp A-edp
1 1155 0.23 3.03 0.02 0.5675 9.14 28.875 -19.74
2 1155 0.21 4.23 0.02 0.6250 12.82 28.875 -16.05
3 1155 0.3 2.73 0.02 0.6375 12.06 28.875 -16.81
4 1155 0.2 2.71 0.02 0.5100 6.39 28.875 -22.49
5 1155 0.23 3.19 0.02 0.6050 10.25 28.875 -18.62
6 1155 0.23 4.29 0.02 0.6000 13.68 28.875 -15.20

Dari hasil perhitungan didapatkan nilai erosivitas (R) sebesar 1155, nilai
EDP sebesar 28,875 ton/ha/thn dan untuk bahaya erosi berbeda beda tiap SPL,
dimana bahaya erosi terbesar ada pada SPL 6 dengan bahaya erosi sebesar 13,68
ton/ha/thn dan yang terkecil ada pada SPL 4 dengan bahaya erosi sebesar 6,39
ton/ha/thn. Setelah mendapatkan kedua nilai tersebut maka dihitung nilai selisih
nilai antara bahaya erosi dengan nilai Edp untuk mengetahui apakah akan terjadi
erosi atau tidak pada SPL.
Dari hasil perhitungan A-Edp didapatkan hasil data pada tabel. Nilai A-EDP
terkecil aadalah -22,49 pada SPL 4 dan yang terbesar adalah 15,20 pada SPL 6.
Secara keseluruhan pada SPL 1 hingga 6 nilai A-Edp yang didapatkan bernilai
minus atau nilai bahaya erosi untuk tiap-tiap SPL lebih kecil daripada nilai
EDPnya. Hal ini berarti bahwa lahan pada SPL 1-6 tidak akan terjadi erosi,
menurut Sumarno (2011) Erosi yang diperbolehkan (Edp) adalah jumlah tanah
23

hilang yang diperbolehkan pertahun agar produktivitas lahan tidak berkurang


sehingga tanah tetap produktif secara lestari. Itu artinya jika nilai Edp lebih besar
daripada bahaya erosi maka jika erosi terjdi masih dapat ditolerir.
Walaupun nilai A-Edpnya kecil, pada lahan yang diamati pasti terdapat
erosi yaitu erosi percik. Erosi percik merupakan proses terkelupasnya partikel
partikel tanah bagian atas oleh energi kinetic air hujan. Menurut Djati (2011) erosi
percik dapat disebabkan oleh curah hujan yang jatuh ke permukaan tanah, curah
hujan yang jatuh ke permukaan tanah memiliki diameter yang berbeda-beda
sehingga memiliki energi tumbukan yang berbeda. Energi tumbukan ini
bergantung dari kecepatan jatuhnya tetesan air, diameter butiran tetesan hujan dan
intensitas hujan

3.4 Permasalahan Lahan

Dari hasil survey yang telah dilakukan, tidak ditemukan adanya masalah
pada lahan dari segi erosi, bahaya erosi lebih kecil dari EDP. Dari segi sosial
ekonomi dari petani pun tidak ada permasalahan. Jika dilihat dari erosinya,
besarnya nilai bahaya erosi lebih kecil daripada nilai Edp sehingga pada lahan ini
erosi tidak menjadi masalah. Adapun permasalahan adalah kondisi teras yang
kurang baik pada lahan pengamatan. Teras yang ada pada lahan pengamatan
adalah teras bangku dan gulud namun bentuknya tidak terlalu jelas. Selain itu ada
beberapa tempat yang tidak dibuat teras.
Penggunaan teras ditujukan untuk mengurangi panjang lereng, mengurangi
kecepatan aliran air dan memperbesar peluang penyerapan air oleh tanah. Teras
bangku merupakan teras yang dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan
meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi suatu deretan bangunan
yang berbentuk seperti tangga. Ada beberapa tipe teras bangku, menurut Agus dan
Widianto (2004) teras bangku dapat dibuat datar, miring keluar dan miring
kedalam. Teras bangku miring ke dalam dibangun pada tanah-tanah yang
permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agar air yang tidak segera terinfiltrasi
tidak mengalir ke luar melalui talud di bibir teras, untuk tanahtanah yang
permeabilitasnya relatif tinggi, dianjurkan untuk memilih teras bangku datar,
Teras bangku miring keluar merupakan teras bangku yang membutuhkan biaya
paling murah dibanding teras bangku goler kampak atau teras bangku datar.
24

Namun efektivitasnya dalam menekan erosi dan aliran permukaan relatif lebih
rendah. Adapun teras gulud, menurut Saifudin (1986) Teras gulud berfungsi
untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam
tanah. Saluran air ini berfungsi untuk mengalirkan air aliran permukaan dari
bidang olah ke saluran pembuangan air.
25

IV. PERENCANAAN KONSERVASI

4.1 Rekomendasi Detail Konservasi

Pada SPL 1 terdapat tanaman pinus dan kopi yang merupakan komoditas
utama pada lahan tersebut sehingga tidak diperlukan pergantian tanaman, namun
pada SPL ini kami merekomendasikan untuk melakukan penanaman dengan
tanaman porang dan kapulaga. Tanaman tersebut ditanam diantara tanaman kopi
yang bertujuan untuk menambah nilai ekonomi dari masyarakat sekitar. Tanaman
pinus yang masih muda akan tetap dibudidayakan hingga dapat memberikan
manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Tanaman pinus memiliki akar
tunggang yang perakarannya kuat sehingga dapat mencengkram tanah sesuai
dengan pernyataan Handayani (2008) yang menyatakan bahwa tanaman pinus
secara genetis memiliki perakaran tunggang yang dalam, sehingga akarnya dapat
menembus lapisan yang kuat dan dalam. Sifat genetis yang dimiliki pinus ini
berpotensi dalam memperkuat tanah atau meningkatkan kekuatan tahanan geser
tanah.
Pada SPL 1 memiliki kemiringan 29,9% yang termasuk kedalam kelas
kelerengan D sehingga cocok untuk menanam tanaman porang. Hal tersebut
sesuai dengan Alifianto (2013) yang menyatakan bahwa lokasi tempat tumbuhnya
porang memang berada pada kelas lereng C-F, namun terdapat suatu
kecenderungan bahwa porang lebih banyak tumbuh di salah satu kategori kelas
lereng D (daerah miring). Tanaman Porang ditanam diantara tanaman kopi dan
tanaman pinus karena menurut Mutiarasani (2008), tanaman porang memiliki
naungan yang ideal dengan kerapatan 40%, dimana semakin rapat naungan maka
pertumbuhan porang semakin baik. Tanaman porang akan berubah warna menjadi
kuning dan kemudian mati jika memperoleh penyinaran sinar matahari yang terus
menerus. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 10-15 cm dan lebar 15 cm x 15
cm. Jarak tanam yang digunakan untuk tanaman porang 1m x 1m.
Tanaman kapulaga ditanam di pinggiran teras, menurut Suwandi (2011)
tanah yang cocok untuk ditanami kapulaga adalah tanah lempung yang berwarna
coklat, memiliki humus tebal dan berdrainase baik.Tanaman ini tidak tahan
terhadap genangan air, tanah yang memiliki topografi rata sampai miring dapat
26

ditanami tanaman ini. Jarak tanam tanaman kapulaga yang baik yakni 2m x 2m,
dengan jarak tanam tersebut maka rumput tidak akan tumbuh, disesuaikan dengan
kondisi lahan dan tanaman yang sudah ada. Penanaman tanaman porang dapat
dilakukan pada musim penghujan yang ditandai dengan munculnya tunas atau
tanaman yang berasal dari umbi, penanaman dilakukan pada bulan november
dengan siklus pertumbuhan berlangsung selama 12 hingga 13 bulan. Selanjutnya
pada musim kemarau tanaman memasuki masa dormansi yang akan berlangsung
selama 5 sampai 6 bulan. Pada masa dormansi, tanaman akan mengering dan
rebah. Siklus pertumbuhan berikutnya dimulai pada awal musim hujan dengan
tangkai dan diameter tajuk daun yang lebih panjang/lebar dibandingkan tanaman
porang pada siklus pertumbuhan sebelumnya (Saputra dkk,2010).
Untuk tanaman kapulaga sendiri dapat ditanam pada awal musim
penghujan, sekitar bulan Oktober-Desember. Hal ini sangat diperlukan untuk
merangsang inisiasi bunga. Selain itu dengan penanaman tanaman kapulaga ini
dapat berfungsi sebagai penguat teras. Karena tanaman ini memiliki masa
produksi yang cukup panjang yaitu sekitar 15 tahun, sehingga memungkinkan
tegakan kayu mempunyai kesempatan hidup lama dan dapat berperan dalam
menjaga lingkungan.
Untuk pengelolaan lahan dilakukan dengan cara memperbaiki teras gulud.
Fungsi dari teras gulud ini yaitu untuk menahan laju aliran permukaan dan
meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Saluran air dibuat untuk
mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Selain
itu perbaikan gulud juga dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas gulud
dalam menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan
tanaman penguat teras, dapat berupa tanaman kapulaga. Jenis tanaman yang dapat
digunakan sebagai penguat teras bangku juga dapat digunakan sebagai tanaman
penguat gulud. Sebagai kompensasi dari kehilangan luas bidang olah, bidang teras
gulud dapat pula ditanami dengan tanaman bernilai ekonomi (cash crops)
(Arsyad, 1989)
Pada SPL 2 kondisi aktual tanaman yang tumbuh yakni kopi dan tanaman
pinus, dengan kemiringan lahan 32,49% dengan kelas kemiringan E. Lahan ini
memiliki kelas kemampuan lahan VI dengan faktor pembatas lereng dimana pada
27

kelas ini memiliki hambatan yang berat yang menyebabkan tanah-tanah ini tidak
sesuai untuk penggunaan pertanian. Penggunaannya terbatas untuk tanaman
rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung, atau cagar
alam. Sehingga untuk mengurangi bahaya erosi maka dilakukan upaya perbaikan
teras dengan teras gulud. Setelah perbaikan teras maka dilakukan penanaman
tanaman kapulaga di sekitar teras dengan jarak tanam 1m x 2m atau 2m x 2m.
pada SPL ini sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman kapulaga karena pada
dasarnya tanaman kapulaga sangat baik untuk lahan yang memiliki kemiringan
30-50%. Tanaman kapulaga ditanam pada bibir teras dengan jarak 2 m berbaris.
Agar pertumbuhan tanaman baik dan subur, sebaiknya penanaman dilakukan pada
awal musim hujan (Oktober-Desember).
Teknik penanaman ini dimaksudkan sebagai salah satu teknik konservasi
secara vegetatif. Pemilihan jenis kapulaga cukup sesuai untuk tujuan konservasi
ini karena kapulaga merupakan jenis empon-empon dengan akar rizhome.Buah
kapulaga muncul di permukaan tanah dan pemanenannya tidak mencabut
tanaman.Perakaran tanaman kapulaga diharapkan berkembang dan dapat menjadi
penguat teras. Disamping itu tanaman ini juga tahan di bawah naungan dengan
intensitas cahaya terbaik bagi pertumbuhan tanaman berkisar antara 30-70%
(Mayrowani, 2011),
Pada SPL 3 ini memiliki kemiringan 23,82% dengan kelas kemiringan D
dan kelas kemampuan lahan IV dengan faktor pembatas lereng. Tanaman yang
terdapat di SPL ini yaitu pinus, kopi dan pisang. Rekomendasi tanaman yang akan
diterapkan yakni tanaman porang dan tanaman kapulaga. Tanaman porang
ditanam dengan jarak tanam 1mx1m dan tanaman kapulaga ditanam dengan jarak
2mx2m yang berada di bawah naungan tanaman pinus dan kopi. Sedangkan
tanaman pisang ditanam dibatas SPL sehingga dapat mengurangi laju erosi yang
terjadi. Tanaman porang dan kapulaga sangat baik apabila dilakukan penanaman
pada awal musim penghujan, sehingga kami merekomendasikan untuk melakukan
penanaman tanaman porang pada bulan oktober, kemudian diikuti dengan
penanaman tanaman kapulaga pada bulan november dengan selisih waktu sekitar
1 bulan penanaman. Selain penambahan tanaman konservasi, juga dilakukan
perbaikan teras dengan menggunakan teras gulud.
28

Pada SPL 4 ini memiliki kemiringan 14,94% dengan kelas kemiringan C


dan kelas kemampuan lahan III dengan faktor pembatas lereng. Tanaman yang
terdapat di SPL ini yaitu pinus, kopi dan pisang. Rekomendasi tanaman yang akan
diterapkan yakni penanaman tanaman serai wangi pada awal musim penghujan
yaitu pada bulan oktober karena bibit yang ditanam pada awal musim penghujan
akan tumbuh lebih cepat. Selain itu pada SPL ini kami juga merekomendasikan
untuk menanam tanaman saga rambat di bagian teras bersamaan dengan tanaman
serai wangi untuk meminimalisir biaya pengolahan tanah, dengan adanya tanaman
ini diharapkan dapat menjadi buffer (penyangga) tanah yang tererosi dari tanah
bagian atas.
Pada SPL 5 ini memiliki kemiringan 22,3% dengan kelas kemiringan D dan
kelas kemampuan lahan IV dengan faktor pembatas lereng. Tanaman yang
terdapat di SPL ini yaitu tanaman pinus dan tanaman kopi. Rekomendasi tanaman
yang akan diterapkan yakni tanaman porang dan tanaman kapulaga. Tanaman
porang ditanam dengan jarak tanam 1mx1m dan tanaman kapulaga ditanam
dengan jarak 2mx2m yang berada di bawah naungan tanaman pinus dan kopi.
Tanaman tersebut ditanam pada awal musim penghujan dan diharapkan dapat
meningkatkan nilai ekonomi berupa pendapatan petani/masyarakat sekitar.
Pada SPL 6 ini memiliki kemiringan 32,5% dengan kelas kemiringan E dan
kelas kemampuan lahan VI dengan faktor pembatas lereng. Tanaman yang
terdapat di SPL ini yaitu tanaman pinus, talas dan tanaman kopi. Rekomendasi
tanaman yang akan diterapkan yakni tanaman porang dan tanaman kapulaga.
Tanaman porang ditanam dengan jarak tanam 1mx1m dan tanaman kapulaga
ditanam dengan jarak 2mx2m yang berada di bawah naungan tanaman pinus dan
kopi. Tanaman tersebut ditanam pada musim penghujan pada bulan oktober untuk
tanaman porang dan bulan desember untuk tanaman kapulaga. Selain tanaman
yang telah disebutkan diatas, pada SPL ini kami juga merekomendasikan untuk
menanam tanaman kakao. Penanaman tanaman kakao disini dimaksudkan untuk
menambah nilai ekonomi para petani sekaligus sebagai salah satu teknik
konservasi. Dengan penanaman tanaman kakao ini diharapkan nantinya dapat
menggantikan tanaman kopi ketika tanaman kopi tingkat produksinya telah
menurun. Sama halnya dengan tanaman kapulaga dan porang, budidaya tanaman
29

kakao juga dilakukan pada awal musim penghujan agar ketersediaan air cukup
dan bibit yang ditanam menjadi cepat tumbuh.

4.2 Analisis Kelebihan Rekomendasi

Berikut ini adalah analisis kelebiah rekomendasi dari setiap SPL:

1. SPL 1
Pada SPL 1 kami merekomendasikan untuk dilakukan penanaman
tanaman pinus, kopi, porang dan kapulaga secara agroforestry. Karena dengan
penerapan teknik agroforestry/konservasi tanah kita dapat mengurangi dampak
terjadinya erosi. Penanaman tanaman pinus dan kopi didasarkan karena tanaman
tersebut merupakan tanaman yang sering ditanam dan dimanfaatkan oleh
masyarakat sekitar sehingga mudah dan mampu beradaptasi pada kondisi lahan
tersebut. Selain itu hal terpenting dalam penerapan teknik konservasi tersebut
ialah bahwa teknik tersebut dapat dikerjakan oleh petani dengan relatif mudah,
murah, meningkatkan pendapatan petani, serta ramah lingkungan (misalnya
dengan berkurangnya erosi dan terpeliharanya tata air DAS) (Agus et al., 2002).
Dengan penanaman tanaman pinus yang termasuk dalam tanaman
pepohonan dapat memberikan kemungkinan terbaik bagi perbaikan sifat tanah,
tanaman pinus menghasilkan seresah yang cukup tinggi sehingga mampu
meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Besarnya seresah oleh tanaman
pinus juga memberikan penutupan lahan secara ganda sehingga lahan memiliki
kemampuan untuk mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Penutupan lahan
dengan tanaman pinus yang tidak diimbangi dengan adanya tumbuhan bawah
justru malah meningkatkan laju erosi (Agus at al., 2002). Oleh karena itu dengan
penanaman tanaman kopi yang merupakan salah satu komoditas utama di lahan
tersebut dapat menurunkan tingkat terjadinya erosi, karena menurut Agus et al.,
(2002) menyatakan bahwa butir-butir air yang jatuh di bawah pohon yang tidak
tertutup seresah dan tumbuhan bawah menimbulkan erosi percikan (splash
erosion) yang lebih besar dibandingkan butir air hujan yang jatuh bebas. Dengan
demikian upaya penanaman kopi sangat bermanfaat untuk lahan tersebut.
30

Kemudian tanaman kapulaga dan porang merupakan tanaman alternatif,


dimana tanaman tersebut ditanam di sekitar/diantara tanaman kopi, yang bertujuan
untuk menambah pendapatan petani. Karena tanaman kopi di panen secara selektif
hanya buah yang memenuhi kriteria yang siap untuk dipanen sehingga untuk
meningkatkan pendapatan, petani bisa memanfaatkan tanaman kapulaga dan
porang untuk ditanam di lahan tersebut yang tentunya dengan sistem budidaya
yang baik. Kemudian untuk teknik konservasi tanah yang dapat diterapkan pada
lahan ini ialah dengan perbaikan teras gulud.
Selain itu pada SPL 1 diketahui memiliki kelerengan sebesar 29.9%
sehingga kami merekomendasikan untuk melakukan perbaikan gulud. Perbaikan
guludan dimaksudkan untuk meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah
(infiltrasi) sedangkan punggung gulud dapat menahan laju aliran permukaan.
Kemudian teknik konservasi yang juga dapat diterapkan ialah adanya
tanaman pelindung yang beranekaragam dan membentuk suatu sistem agroforestri
kompleks (complex agroforestri atau sistem multistrata), sehingga disini kami
menambahkan tanaman porang (Amorphopallus oncophillus). Tanaman porang
merupakan tanaman yang mudah hidup diantara tegakan pohon hutan yang tinggi.
Tanaman porang termasuk tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi 100-150
cm dengan umbi yang berada di dalam tanah, batang tegak, lunak dan batang
halus berwarna hijau atau hitam. Tanaman porang memiliki sifat khusus yaitu
mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh
(tahan tempat teduh). Sehingga tanaman ini membutuhkan cahaya maksimum
hanya sampai 40% (Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia, 2013).
Kemudian untuk tanaman kapulaga dengan nama latin (Paraserianthes
cardamomum) merupakan tanaman perdu yang potensial dalam agroforestry,
sehingga kami merekomendasikan untuk menanam tanaman tersebut. Selain itu
tanaman kapulaga merupakan tanaman yang berfungsi sebagai obat-obatan (jamu)
dan juga rempah-rempah sehingga dapat dimanfaatkan oleh petani sekaligus
menambah nilai ekonomi. Selain itu tanaman kapulaga tergolong tanaman yang
toleran naungan (shade tolerant) karena untuk pertumbuhan dan
perkembangannya memerlukan naungan dan hanya memerlukan sedikit intensitas
cahaya, yaitu 30-70%. Seperti dikemukakan oleh Prasetyo (2004) bahwa tanaman
31

kapulaga untuk dapat tumbuh dan berproduksi baik serta lebih menguntungkan,
apabila ditanam pada tempat dengan tingkat naungan sekitar 70%.
Adanya tanaman kapulaga di lahan ini diharapkan dapat meningkatkan
produktivitas dari lahan tersebut dengan menghasilkan kapulaga. Selain itu
tanaman ini juga berperan dalam konservasi tanah dan air. Peranan kapulaga dapat
menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, sehingga mengurangi
erosi (Diniyati, 2012).
2. SPL 2
Pada SPL 2 diberi rekomendasi penanaman tanaman pinus dan kopi
karena memang sesuai dengan komoditas yang ada disana, hasil dari nilai bahaya
erosi juga masih kurang dari nilai erosi yang diperbolehkan sehingga bahaya erosi
yang terjadi pada SPL 2 tidak memberikan dampak yang besar. Selain itu dengan
adanya tanaman kopi dapat memberikan efek terhadap konservasi tanah. Sesuai
dengan hasil penelitian Hartobudoyo (1979) memperlihatkan bahwa 90%
perakaran tanaman kopi terkonsentrasi di lapisan tanah antara 0-30 cm. Dengan
demikian terbentuk tenunan akar serabut yang baik di lapisan permukaan tanah
dan hal ini menyebabkan tanah permukaan terikat oleh jaringan perakaran
sehingga erosi tetap kecil walaupun aliran permukaan besar.
Untuk teknik konservasi, kami merekomendasikan untuk melakukan
penyiangan secara parsial, maksudnya strip tumbuhan alami selebar kurang lebih
30 cm di antara barisan kopi dibiarkan tidak disiangi atau penyiangan dilakukan
hanya pada bagian lantai berdiameter 120 cm sekeliling batang kopi (jarak
tanaman kopi berkisar antara 150-200 cm). Dengan demikian bisa dibentuk
jaringan atau mozaik di antara batang yang tetap ditumbuhi rumput dan ini
memberikan perlindungan tanah terhadap erosi tanpa harus mengorbankan hasil
(Agus et al., 2002). Penyiangan secara parsial tersebut merupakan salah satu
teknik untuk mengurangi erosi pada lahan berlereng curam karena pada SPL 2
sendiri tingkat kelerengan mencapai 32.49%.
Selain itu juga dapat dilakukan upaya perbaikan terhadap gulud (ridging).
Karena gulud juga merupakan teknologi konservasi yang diyakini berpotensi
untuk dikembangkan pada lahan tersebut. Dengan sistem pengolahan tanah yang
baik misalnya dengan perbaikan gulud, secara tidak langsung dapat mendukung
32

pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan. Tanaman akan tumbuh dengan baik


sehingga nilai perlindungan tanaman terhadap tanah akan meningkat (Agus et al.,
2002). Sejalan dengan itu maka tanaman naungan akan semakin rimbun dan
memberikan kontribusi bahan organik yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan
perlakuan multistrata tanaman pinus dengan kopi akan lebih efektif menekan erosi
sampai tingkat yang dapat ditoleransi pada hampir setiap kemiringan dan panjang
lereng.
Kemudian pada lahan ini, kami juga merekomendasikan untuk penanaman
tanaman kapulaga, dimana tanaman tersebut ditanam diantara tanaman kopi dan
pinggiran teras gulud. Tanaman tersebut merupakan tanaman yang berkhasiat
sebagai obat, sehingga diharapkan dengan penanaman tanaman kapulaga dapat
dijadikan sebagai tanaman konservasi juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar sebagai obat maupun untuk menambah pendapatan. Dengan kelerengan
yang cukup curam, pada lahan ini kami merekomendasikan untuk menanam
berbagai macam jenis tanaman agar dapat menekan bahaya erosi.
3. SPL 3
Pada SPL 3 perlakuan tanaman hampir sama dengan SPL sebelumnya
yaitu tanaman pinus, tanaman pinus memiliki tingkat intersepsi dan evaporasi
yang tinggi sehingga akan banyak mengkonsumsi air. Berdasarkan hasil penelitian
Priyono dan Siswamartana (2002), menyimpulkan bahwa tanaman pinus akan
aman jika ditanam pada daerah yang mempunyai curah hujan diatas 2.000
mm/tahun. Pada daerah yang mempunyai curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun
disarankan agar penanaman pinus dicampur dengan tanaman lain yang
mempunyai intersepsi dan evaporasi lebih rendah. Sehingga pada lahan ini, kami
menambahkan untuk menanam tanaman kapulaga dan porang. Seperti dijelaskan
pada SPL sebelumnya bahwa tujuan dilakukan penanaman ini ialah untuk
menambah pendapatan petani selain bergantung pada tanaman kopi.
Tanaman kapulaga mampu bertahan hidup dibawah tegakan tanaman
pohon, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Anonim, (1997) dalam Sudiarto,
(1986) yang menyebutkan bahwa kapulaga dapat tumbuh baik dan menghasilkan
buah pada ketinggian 200-1.000 mdpl dan curah hujan 2.500-4.000 mm/tahun
serta suhu di bawah tajuk pohon berkisar 23-30 0C. Kapulaga dapat tumbuh pada
33

lahan datar sampai lereng sebagaimana ditunjukkan pada pola agroforestry


campuran pohon dan kapulaga sampai kemiringan 50%. Dari pernyataan tersebut
dapat diketahui bahwa tanaman kapulaga mampu bertahan hidup pada kondisi
lahan seperti yang tergambarkan pada SPL 3.
Teknik konservasi yang dapat diterapkan pada lahan tersebut ialah upaya
perbaikan gulud, dengan menggunakan larikan dimana bagian saluran gulud dapat
berfungsi untuk meningkatkan penyerapan air kedalam tanah (infiltrasi)
sedangkan punggung gulud dapat menahan laju aliran permukaan (Agus et al.,
2002). Untuk meminimalisir adanya penggenangan air, sebagian gulud dapat
dibuat tidak sejajar dengan kontur. Kelebihan dari penerapan sistem ini ialah
efektif menahan erosi dan mengurangi hanyutan hara, meningkatkan infiltrasi air
ke dalam tanah, saluran gulud dapat dijadikan tempat menumpuk sisa tanaman
sehingga mempertahankan kadar bahan organik tanah dan meningkatkan
efektivitas organisme tanah (Agus et al., 2002). Selain itu sistem ini sudah
diterapkan oleh petani di sekitar Tawang Argo sehingga peluang penerapannya di
tempat lain cukup besar.
Penanaman tanaman porang juga kami lakukan pada lahan ini, sama
seperti pada SPL sebelumnya dimana tanaman ini diharapkan mampu
meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Selain dengan memanfaatkan
tanaman kopi, petani juga dapat mencoba untuk melakukan budidaya tanaman
porang, karena tanaman ini memiliki banyak manfaat diantaranya ialah daun
tanaman porang dapat dimanfaatkan sebagai sayur sedangkan umbinya dikelola
sebagai tepung porang, keripik yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan
nilai tambah bagi pendapatan petani sekitar.
4. SPL 4
Pada SPL 4 ini kami merekomendasikan untuk melakukan penanaman
tanaman pinus, kopi, serai wangi dan saga dengan teknik konservasi
multistrata.Penerapan teknik multistrata dapat memberikan hasil yang beraneka
ragam sesuai dengan komoditas yang ditanam. Teknik konservasi dengan sistem
multistrata ini dimaksudkan untuk menciptakan tajuk tanaman bertingkat sehingga
menyerupai hutan, dimana hanya sebagian kecil saja air hujan yang langsung
menerpa ke permukaan tanah. Teknik multistrata ini dikombinasikan dengan
34

tanaman pinus, kopi kemudian dibawahnya terdapat tanaman serai wangi dan
kapulaga yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat-obatan. Dengan adanya
teknik tersebut diharapkan air hujan yang jatuh terlebih dahulu jatuh ke daun
tanaman sebelum mencapai tanah sehingga daya pukulnya (energi kinetiknya)
sudah sangat berkurang.
5. SPL 5
Untuk SPL 5 kami merekomendasikan untuk menanam tanaman pinus dan
kopi yang dipadukan dengan tanaman porang serta kapulaga secara agroforestry.
Pengembangan agroforestry mempunyai prospek yang baik dalam kontribusinya
terhadap peningkatan produksi pangan. Santoso (2011) menjelaskan bahwa upaya
strategis yang berkaitan dengan hutan sebagai sumber pangan, energi dan air,
dapat dilakukan melalui peningkatan integritas kegiatan kehutanan antara lain:
a. tumpangsari (agroforestry), yaitu pemanfaatan ruang tumbuh di bawah
tanaman kayu yang berumur kurang dari 3 tahun dengan tanaman semusim
(padi, jagung, kacang-kacangan dan lain-lain)
b. pemanfaatan lahan di bawah tegakan, yaitu pemanfaatan ruang tumbuh di
bawah tanaman kayu yang berumur di atas 3 tahun melalui penanaman
tanaman umbi-umbian (ganyong, iles-iles, talas, suweg, dan lain-lain), serta
tanaman obat-obatan (temulawak, jahe, kapolaga, kunyit, kencur, dan lain-
lain);
c. pengkayaan tanaman, yaitu pemanfaatan ruang tumbuh yang menggunakan
jenis pohon serbaguna (MPTS) seperti, petai, sukun, kemiri, sagu, aren,
jambu mete, durian, alpukat, rambutan, sirsak, mangga, dan lain-lain).
Selain penambahan tanaman juga dilakukan perbaikan gulud, guludan
yang direkomendasikan pada SPL ini diharapkan nantinya dapat membentuk
ataupun memperbaiki teras yang ada pada lahan. Menurut Sukartaatmadja (2004),
menyatakan bahwa dengan penggunaan guludan lama-kelamaan permukaan tanah
bagian atas akan menurun,sedangkan bagian bawah yang dekat dengan tanaman
tahunan akan semakin tinggi dimana bila proses ini berlangsung terus menerus
akan membuat bidang olah menjadi datar atau mendekati datar.
35

6. SPL 6
Untuk SPL terakhir yaitu SPL 6 yang memiliki tingkat kelerengan cukup
curam kami merekomendasikan untuk menanam tanaman pinus, kopi dan porang
serta ditambah tanaman kapulaga dan kakao sebagai tanaman konservasi dan
memiliki nilai tambah dari segi ekonomi. Untuk teknik konservasi yang kami
rekomendasikan pada SPL ini ialah dengan perbaikan guludan. Kemudian setelah
dilakukannya analisis bahaya erosi, diketahui bahwa nilai A kurang dari EDP,
sehingga dapat disimpulkan bahwa dari beberapa SPL yang telah disebutkan
diatas memiliki tingkat bahaya erosi yang cukup rendah, namun tetap perlu
dilakukannya tindakan konservasi agar bahaya erosi yang tadinya rendah tidak
berubah ke arah yang mengkhawatirkan.
Setelah dilakukan upaya rekomendasi maka diperoleh hasil perhitungan
bahaya erosi potensial yaitu:
Tabel 10. Perhitungan Bahaya Erosi Potensial
SPL R K LS C P A edp A-edp
1 1155 0.23 3.03 0.02 0.04 0.64 28.875 -28.23
2 1155 0.21 4.23 0.02 0.04 0.82 28.875 -28.05
3 1155 0.3 2.73 0.02 0.04 0.76 28.875 -28.12
4 1155 0.2 2.71 0.02 0.04 0.50 28.875 -28.37
5 1155 0.23 3.19 0.02 0.04 0.68 28.875 -28.20
6 1155 0.23 4.29 0.02 0.04 0.91 28.875 -27.96

Sehingga dari data diatas kami merekomendasikan untuk melakukan


perbaikan gulud. Gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran
air di bagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan
bersaluran. Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan
bidang olah. Fungsi dari gulud hampir sama dengan teras bangku, yaitu untuk
menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.
Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke
saluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas gulud dalam
menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanaman
penguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras bangku
juga dapat digunakan sebagai tanaman penguat gulud. Sebagai kompensasi dari
kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula ditanami dengan
36

tanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dan
sebagainya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud:
a. Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat
juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif.
b. Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah
kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring
terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini
ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat
tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.
37

V. KESIMPULAN

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan


bahwa besarnya erosi yang terjadi pada lokasi project disetiap SPL hasilnya yaitu
dibawah Edp. Meskipun besarnya erosi dibawah Edp, tindakan konservasi yang
dapat dilakukan adalah yang memungkinkan adanya pengurangan erosi dan
kerusakan lahan. Pada lokasi project yang berada di DAS Mikro UB Forest ,
tindakan rekomendasi yang dilakukan adalah dengan penambahan penanaman
vegetasi dan pembuatan teras guludan. Vegetasi yang ditanam adalah kakao,
porang, kapulaga, serai wangi, dan saga, sedangkan untuk pinus tetap menjadi
tanaman produksi dan juga sebagai tanaman konservasi. Secara ekonomi, desain
dari rekomendasi yang digunakan masih dikatakan menguntungkan dengan selisih
perbedaan yang cukup jauh dari kondisi pendapatan aktual petani, karena
pemilihan komoditas yang ditanam adalah komoditas yang dapat menambah
pemasukan ekonomi bagi petani. Dan dari segi sosial, rekomendasi dapat diterima
karena tanaman yang digunakan sebagian besar dikenal dan mudah dibudidayakan
oleh petani. Selain itu dalam pengolahan lahan juga tidak terlalu rumit dan tidak
banyak mengganti pengolahan yang sebelumnya telah dilakukan, sehingga
dampak dari pengolahan lahan yang terlalu intensif dapat dihindari.
38

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F. dan Widianto. 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Pertanian Lahan


Kering. World Agoforestry Centre. ICRAF Southeast Asia.
Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S.H. Talaohu, A Dariah, B.R.
Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah
dan Air. Jakarta: Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan
Reboisasi Pusat.
Arsyad, S. 1989. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen ilmu-ilmu tanah
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengolahan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta.
Gadjah Mada University Pres.
Beasley, D. B and Huggins, L. F. (1991). Answers Users Manual. Department of
Agricultural. England, Purdue University. West Lafayette, IN.
Djati. 2011. Pengaruh Erosivitas Dan Topografi Terhadap Kehilangan Tanah Pada
Erosi Alur Di Daerah Aliran Sungai Secang Desa Hargotirto Kecamatan
Kokap Kabupaten Kulonprogo. Yogyakarta: UGMPress
Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta : CV Akademika.
Hudson, N. W. 1976. Soil Conservation. London. Batsford. Ltd.
Lestari, Saridewa Widi. 2011. Saridewi Site. Online. http://sardewforester.
blogspot.co.id/. Diakses tanggal 3 Desember 2016.
Morgan 1985. Soil Erosion and Conversation. London: Longman Scientific &
Technical
Pongtuluran, Yonathan. 2015. Manajemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbi Andi.
Rahim, S.E. 1995. Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Pengendalian Erosi
Tanah. Palembang: UNSRI.
Saifudin, Sarief. 1986. Konservasi Tanah dan Air. CV Pustaka Buana. Bandung
Satriawan, Halus dan Zahrul Fuady. 2012. Teknologi Konservasi Tanah dan Air.
Yogyakarta: Deepublish.
Sumarno. 2011. Kajian Pengelolaan Berdasarkan Tingkat Bahaya Erosi dan Pola
Konservasi Tanah Dan Air Di Desa Ngadipiro Kecamatan Nguntoronadi,
Kabupaten Wonogiri. Jurnal Ilmutanah dan Agroklimatologi. 8(1): 13-22
Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta: Andi
Suripin. 2001. The Possible Scenario of The Wonogiri Watershed Management.
Media Komunikasi Teknik Sipil Volume 9. No. 2. Edisi XX Mei 2001.
Syah A.R. 1995. Penentuan Erosi dan Sedimentasi Pada Daerah Aliran Sungai
(DAS). Jambi: Majalah Ilmiah Universitas Jambi No. 45 Tahun 1995.
Utoyo, Bambang. 2007. Geografi Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas X
Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Bandung: Setia Purna Inves.
39

Wischmeier, W,H, dan Smith. 1978. Predicting Rainfall Erosion Losses. USDA
Agr. Serv. Hanbook 537
40

LAMPIRAN

1. Dokumentasi

Gambar 6. Dokumentasi Lahan

2. Perhitungan Bahaya Erosi (A)

Tabel 11. Data KKL, tanaman, dan pengolahan setiap SPL


SPL KKL C (Tanaman) P (Pengolahan)
1 IV-e Pinus, Kopi, Semak Kemiringan >25%, Teras
bangku tradisional, Gulud
2 VI-e Pinus, Kopi Kemiringan >25%
Teras bangku jelek
3 IV-e Pinus, Kopi, Semak, Kemiringan >25%
Pisang Teras bangku sedang
4 III-e Pinus, Kopi, Semak, Kemiringan 15-25%
Pisang Teras bangku sedang
5 IV-e Pinus, Kopi, Semak Kemiringan >25%
Teras bangku sedang
Pinus, Kopi, Semak, Kemiringan >25%
6 VI-e
Talas Teras bangku sedang
41

Tabel 12. Data curah hujan (CH) Karangploso, Malang tahun 20052014
Tahun Unsur Klimatologi Satuan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Curah Hujan mm 293 109 223 101 68 159 50 0 0 117 107 334
2005 CH max 24 mm 37 60 40 20 15 36 14 0 0 14 11 58
Hari Hujan Hari 20 9 18 11 6 8 4 0 0 9 10 8
Curah Hujan mm 227 353 250 220 270 36 0 0 0 11 70 213
2006 CH max 24 mm 32 78 55 48 60 22 0 0 0 4 12 23
Hari Hujan Hari 22 24 20 10 7 3 0 0 0 4 6 11
Curah Hujan mm 96 168 222 183 52 75 15 7 0 146 478 644
2007 CH max 24 mm 28 66 38 34 17 27 7 4 0 18 89 115
Hari Hujan Hari 8 11 20 9 4 4 4 3 0 9 7 15
Curah Hujan mm 384 410 741 51 46 5 0 0 0 0 268 461
2008 CH max 24 mm 61 105 210 12 18 3 0 0 0 0 58 78
Hari Hujan Hari 23 24 24 8 4 2 0 0 0 0 7 18
Curah Hujan mm 317 549 167 210 142 15 0 0 10 318 296 341
2009 CH max 24 mm 56 125 89 39 28 4 0 0 6 60 67 57
Hari Hujan Hari 23 24 25 12 7 4 0 0 4 11 7 14
Curah Hujan mm 735 436 607 120 588 267 208 210 166 390 471 537
2010 CH max 24 mm 130 110 205 14 104 59 47 45 14 67 92 107
Hari Hujan Hari 28 25 22 7 7 7 7 6 11 11 7 15
Curah Hujan mm 234 322 356 249 293 26 0 0 18 77 636 424
2011 CH max 24 mm 41 98 110 49 78 11 0 0 15 20 124 94
Hari Hujan Hari 18 24 21 12 6 5 0 0 3 5 7 7
Curah Hujan mm 304 437 366 97 69 50 4 0 0 69 169 442
2012 CH max 24 mm 59 115 120 11 20 14 2 0 0 18 39 87
Hari Hujan Hari 24 19 21 8 4 5 2 0 0 5 7 9
Curah Hujan mm 509 289 396 255 114 186 118 5 0 84 397 329
2013 CH max 24 mm 105 69 131 52 27 38 17 3 0 20 97 31
Hari Hujan Hari 23 16 20 11 6 8 8 2 0 5 6 10
Curah Hujan mm 249 113 20 271 332 60 3 12 0 84 636 496
2014 CH max 24 mm 47 28 20 55 89 17 3 7 0 20 120 90
Hari Hujan Hari 23 0 20 12 13 5 1 4 0 5 8 14
42

Tabel 13. Data rata-rata erosivitas tahun 20052014


Tahun EROSIVITAS (R) Rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Erosivitas/tahun
2005 132.40 56.04 103.35 52.72 39.02 76.79 31.55 10.80 10.80 59.36 55.21 149.41 777
2006 105.01 157.30 114.55 102.10 122.85 25.74 10.80 10.80 10.80 15.37 39.85 99.20 814
2007 50.64 80.52 102.93 86.75 32.38 41.93 17.03 13.71 10.80 71.39 209.13 278.06 995
2008 170.16 180.95 318.31 31.965 29.89 12.875 10.8 10.8 10.8 10.8 122.02 202.16 1111
2009 142.36 238.64 80.11 97.95 69.73 17.03 10.80 10.80 14.95 142.77 133.64 152.32 1111
2010 315.83 191.74 262.71 60.60 254.82 121.61 97.12 97.95 79.69 172.65 206.27 233.66 2095
2011 107.91 144.43 158.54 114.14 132.40 21.59 10.80 10.80 18.27 42.76 274.74 186.76 1223
2012 136.96 207.10 162.69 51.06 39.44 31.55 12.46 10.80 10.80 39.44 80.94 194.23 977
2013 222.04 130.74 175.14 116.63 58.11 87.99 59.77 12.88 10.80 45.66 175.56 147.34 1243
2014 114.14 57.70 147.34 123.27 148.58 35.70 12.05 15.78 10.80 45.66 274.74 216.64 1202
Rata-rata Erosivitas (menurut Utomo) 1155

( )

( )


43

SPL 1
R= 10.8+ 4.15 (CHb) = 1155
( ( ) )
= 0.23

LS = ( ) = 3.03

C = Kebun Talun = 0,02


P = 45% Kemiringan >25% + 40% Teras bangku tradisional + 15% gulud
= (45% x 0,9) + (40% x 0,35) + (15 x 0,15)
= 0,405 + 0,14 + 0,0225
= 0,5675

SPL 2
R= 10.8+ 4.15 (CHb) = 1155
( ( ) )
=0.21

LS = ( ) = 4.23

C = Kebun Talun = 0,02


P = 45% Kemiringan > 25% + 55% Teras bangku jelek
= (45% x 0,9) + (0,4 x 55%)
= 0,405 + 0,22
= 0,625
SPL 3
R= 10.8+ 4.15 (CHb) = 1155
( ( ) )
= 0.30

LS = ( ) = 2.73

C = Kebun Talun = 0,02


P = 65% Kemiringan >25% + 35% Teras bangku sedang
= (65% x 0,9) + (0,15 x 35%)
= 0,585+0,0525
= 0,6375
44

SPL 4
R= 10.8+ 4.15 (CHb) = 1155
( ( ) )
= 0.20

LS = S= tan x 100% = tan 8,5 x 100% = 14,94%

LS = (1,38 + 0,965 S + 0,138 S 2)

= (1,38 + (0,965 x 14,94 ) + (0,138 x 14,942))

= 2,71

C = Kebun Talun = 0,02


P = 80% Kemiringan >25% + 20% Teras bangku sedang
= (80% x 0,6) + (0,15 x 20%)
= 0,48+0,03
= 0,51

SPL 5
R= 10.8+ 4.15 (CHb) = 1155
( ( ) )
= 0.23

LS = ( ) = 3.19

C = Kebun Talun = 0,02


P = 70% Kemiringan 15-25% + 30% Teras bangku sedang
= (70% x 0,8) + (0,15 x 30%)
= 0,56 + 0,045
= 0,605

SPL 6
R= 10.8+ 4.15 (CHb) = 1155
( ( ) )
= 0.23

LS = ( ) = 4,29
45

C = Kebun Talun = 0,02


P = 60% Kemiringan >25% + 40% Teras bangku sedang
= (60% x 0,9) + (0,15 x 40%)
= 0,54+0,06
= 0,6

Tabel 14. Data perhitungan bahaya erosi (A) setiap SPL


SPL R K LS C P A
1 1155 0.23 3.03 0.02 0.5675 9.14
2 1155 0.21 4.23 0.02 0.6250 12.82
3 1155 0.3 2.73 0.02 0.6375 12.06
4 1155 0.2 2.71 0.02 0.5100 6.39
5 1155 0.23 3.19 0.02 0.6050 10.25
6 1155 0.23 4.29 0.02 0.6000 13.68

3. Erosi yang Diperbolehkan (Edp)

Kedalaman Efektif Tanah = 1250 mm

Jenis Tanah = Andept, dengan FK = 1

Kedalaman Ekivalen = FK Kedalaman Efektif = 1250 mm

Dengan BV Tanah = 0.77 kg/dm3, maka:

4. Perbandingan Bahaya Erosi dan Erosi yang Diperbolehkan

Tabel 15. Perbandingan bahaya erosi (A) dan erosi yang diperbolehkan (Edp)
Bahaya Erosi (A) Erosi yang Diperbolehkan (Edp)
9.14 28.875
12.82 28.875
12.06 28.875
6.39 28.875
10.25 28.875
13.68 28.875
46

5. Perbandingan Data Bahaya Erosi Aktual, Potensial dan EDP

Tabel 16. Data Bahaya Erosi Aktual, Potensial dan EDP


Bahaya Erosi (A) Bahaya Erosi (A) Erosi yang
Aktual Potensial Diperbolehkan (Edp)
9.14 0.64 28.875
12.82 0.82 28.875
12.06 0.76 28.875
6.39 0.50 28.875
10.25 0.68 28.875
13.68 0.91 28.875