Anda di halaman 1dari 20

Kamis, 14 November 2013

MAKALAH GIZI PADA REMAJA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada
masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Perubahan fisik karena
pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya. Ketidakseimbangan
antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa
masalah gizi lebih maupun gizi kurang.
Status gizi dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium maupun secara antropometri.
Kekurangan kadar hemoglobin atau anemi ditentukan dengan pemeriksaan darah. Antropometri
merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah. Indeks Massa Tubuh (IMT)
direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi remaja.
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat,
misalnya penurunan konsentrasi belajar, risiko melahirkan bayi dengan BBLR, penurunan
kesegaran jasmani. Banyak penelitian telah menunjukkan kelompok remaja mengalami banyak
masalah gizi. Masalah gizi tersebut antara lain Anemi dan IMT kurang dari batas normal atau
kurus. Prevalensi anemi berkisar antara 40%, sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus
berkisar antara 30%. Banyak faktor yang menyebabkan masalah ini. Dengan mengetahui faktor-
faktor penyebab yang mempengaruhi masalah gizi tersebut membantu upaya penanggulangannya
dan lebih terpengaruh dan terfokus.
B. Rumusan Masalah

1. Apa saja masalah gizi pada remaja ?

2. Apa yang menyebabkan masalah gizi pada remaja bisa terjadi ?

3. Bagaimana pola makan dan kebutuhan energi pada masa remaja ?


4. Bagaimana cara mengatasi supaya masalah gizi pada remaja tidak terjadi ?

C. Tujuan Penulisan Makalah

1. Mendeskripsikan tentang masalah gizi pada remaja.

2. Mendeskripsikan tentang penyebab masalah gizi pada remaja bisa terjadi.

3. Mendeskripsikan pola makan dan kebutuhan energi pada masa remaja.

4. Mendeskripsikan tentang cara mengatasi supaya masalah gizi pada remaja tidak terjadi.

D. Manfaat Penulisan Makalah


a. Bagi Penulis
Membantu penulis mengetahui dan memahami secara mendalam tentang kebutuhan gizi
remaja.
b. Bagi Remaja
Membantu remaja untuk mengetahui betapa pentingnya pemenuhan gizi dalam kehidupannya
sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Masalah Gizi pada Remaja


1. Obesitas
Walaupun kebutuhan energi dan zat-zat gizi lebih besar pada remaja daripada dewasa, tetapi
ada sebagian remaja yang makannya terlalu banyak melebihi kebutuhannya sehingga menjadi
gemuk. Aktif berolah raga dan melakukan pengaturan makan adalah cara untuk menurunkan
berat badan. Diet tinggi serat sangat sesuai untuk para remaja yang sedang melakukan penurunan
berat badan. Pada umumnya makanan yang serat tinggi mengandung sedikit energi, dengan
demikian dapat membantu menurunkan berat badan, disamping itu serat dapat menimbulkan rasa
kenyang sehingga dapat menghindari ngemil makanan/kue-kue.
2. Kurang energi kronis
Pada remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis tidak selalu berupa akibat terlalu
banyak olah raga atau aktivitas fisik. Pada umumnya adalah karena makan terlalu sedikit.
Remaja perempuan yang menurunkan berat badan secara drastis erat hubungannya dengan faktor
emosional seperti takut gemuk seperti ibunya atau dipandang lawan jenis kurang seksi.
3. Anemia
Anemia karena kurang zat besi adalah masalah yang paling umum dijumpai terutama pada
perempuan. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah, dikonversi menjadi
hemoglobin, beredar ke seluruh jaringan tubuh, berfungsi sebagai pembawa oksigen. Remaja
perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi daripada laki-laki. Agar zat besi yang diabsorbsi
lebih banyak tersedia oleh tubuh, maka diperlukan bahan makanan yang berkualitas tinggi.
Seperti pada daging, hati, ikan, ayam, selain itu bahan maknan yang tinggi vitamin C membantu
penyerapan zat besi.

B. Penyebab Masalah Gizi pada Remaja


Pada usia sekolah, anak banyak mengikuti aktivitas, fisik maupun mental, seperti bermain,
belajar, berolah raga. Zat gizi akan membantu meningkatkan kesehatan tubuh anak, sehingga
sistem pertahanan tubuhnya pun baik dan tidak mudah terserang penyakit. Umumnya orangtua
kurang memperhatikan kegiatan makan anaknya lagi. Mereka beranggapan bahwa anak seusia
ini sudah tahu kapan ia harus makan. Di samping itu, anak mulai banyak melakukan kegiatan di
luar rumah, sehingga agak sulit mengawasi jenis makanan apa saja yang mereka makan.
Anak usia sekolah membutuhkan lebih banyak energi dan zat gizi dibanding anak balita.
Diperlukan tambahan energi, protein, kalsium, fluor, zat besi, sebab pertumbuhan sedang pesat
dan aktivitas kian bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, anak seusia ini
membutuhkan 5 kali waktu makan, yaitu makan pagi (sarapan), makan siang, makan malam, dan
2 kali makan selingan. Perlu ditekankan pentingnya sarapan supaya dapat berpikir dengan baik
dan menghindari hipoglikemi. Bila jajan harus diperhatikan kebersihan makanan supaya tidak
tertular penyakit tifoid, disentri, dan lain-lain. Anak remaja putri sudah mulai haid, sehingga
diperlukan tambahan zat besi.
C. Pola Makan dan Kebutuhan Energi pada Masa Remaja

Pola Makan Masa Remaja :

1) Pengalaman baru, kegembiraan di sekolah, rasa takut terlambat sekolah. Mengakibatkan anak
sering menyimpang dari kebiasaan makannya.
2) Anak lebih aktif memilih makanan yang disukainya.
3) Anak yang memiliki aktifitas tinggi di luar rumah cenderung melupakan waktu makan.
4) Masa remaja merupakan masa adoloseence growth spurt ( butuh zat gizi yang relative tinggi ).
Kebutuhan Energi untuk Remaja :
1) Putra
Usia 16 tahun memerlukan energi 3.470 kkal
Usia 16-19 tahun menurun menjadi 2.900 kkal
2) Putri
Usia 12 tahun memerlukan energy 2.550 kkal
Usia 18 tahun menurun menjadi 2.200 kkal
3) Perhitungan sederhana untuk kebutuhan energi pada remaja
Wanita = BBI x 25 kal
Pria = BBI x 30 kal
BI = ( TB 100 ) 10% ( TB-100)
4) Penilaian status gizi untuk usia < 18 tahun
Status gizi = BB/BBI x 100 %
Untuk yang status gizinya kurang dari 90% berarti underweight, untuk yang status gizinya
diantara 90%-100% berarti normal, antara 100%-120% berarti overweight, dan yang lebih dari
120% berarti obesitas.
Perilaku Konsumsi Gizi yang Salah pada Remaja Sekolah
Ketidak tahuan akan gizi yang benar pada usia remaja taupun sekolah, menyebabkan remaja
tersebut sering berperilaku konsumsi gizi yang salah. berikut beberapa perilaku konsumsi gizi
yang salah pada remaja/anak sekolah:
1. Tidak Mengonsumsi Menu Gizi Seimbang
Kebiasaan remaja dan anak yang susah makan, ini biasanya hanya gemar pada makanan
seperti mie, padahal jelas mie goreng itu hanya mengandung karbohidrat dan lemak saja. tidak
ada sumber protein, vitamin dan mineralnya.
2. Kebiasaan Tidak Sarapan Pagi
Makan pagi mempunyai peranan penting bagi anak remaja yang khususnya sekolah/kuliah,
yaitu untuk pemenuhan gizi di pagi hari dimana para remaja dan anak-anak tersebut mempunyai
aktivitas yang sangat padat di sekolah. Apabila anak-anak terbiasa sarapan pagi, maka akan
berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama daya ingat sehingga dapat mendukung prestasi
belajar anak/ remaja tersebut ke arah yang baik. Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk
otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi disekolah.
Ketika bangun pagi, gula darah dalam tubuh kita rendah karena semalaman tidak makan. Tanpa
sarapan yang cukup, otak akan sulit berkonsentrasi di sekolah/di kampus.
3. Jajan tidak sehat di Sekolah/ di Kampus
Anak-anak remaja tidak dapat terlepas dari makanan jajanan di sekolah. hal ini merupakan
upaya untuk memenuhi kebutuhan energi karena aktivitas di sekolah yang tinggi. Biasanya para
remaja sekolah ini menyukai makanan yang tinggi kalori yang bersumber dari lemak dan gula.
padahal makanan tradisional sebetulnya kaya akan serat dan kalorinya tidak terlalu tinggi.
4. Kurang Mengonsumsi Buah dan Sayur
Anak-anak sekolah atau remaja umumnya susah apa bila disuruh mengonsumsi buah dan
sayur. Padahal buah dan sayur merupakan sumber zat gizi vitamin, serat dan mineral. yang
tentunya sangat baik untuk kesehatan dan kecerdasan remaja/anak tersebut.
5. Mengonsumsi Fast Food dan Junk Food
Para remaja-remaja biasanya sangat suka mengonsumsi fast food dan junk food karena
mereka terpengaruh oleh iklan-iklan yang ada di televisi sehingga mereka beranggapan bahwa
fast food dan junk food menunjukkan status sosial yang tinggi dan mengandung gizi yang baik.
PADAHAL, itu tidak benar.. fast food tidak baik bagi kesehatan tubuh apabila di konsumsi
dalam jumlah banyak, karena fast food dan junk food merupakan makanan tinggi lemak dan
kolesterol. Bahkan di negara asalnya yaitu amerika ataupun Italia, makanan fast food dan Junk
food ini di anggap sebagai makanan Sampah. Maka dari itu, mulailah konsumsi makanan
tradisional yang kaya akan gizi tentunya.
6. Konsummsi Gula Berlebihan
Para remaja baik di sekolah maupun di kampus sering jajan yang serba manis-manis seperti
es, gula-gula dan sebagainya. yang pada umumnya mengguna pemanis yangtidak aman untuk
tubuh.
7. Konsumsi Natrium Berlebihan
Pada saat membeli jajanan juga biasanya para remaja suka membeli jajanan yang
mengandung tinggi garam, seperti makanan ringan yang rasanya asin. Kelebihan Natrium,
menyebabkan kadar natrium dalam darah meningkat. akibatnya, volume darah juga meningkat
karaena kelebihan air disebabkan osmosis. peningkatan volume darah menyebabkan tekanan
darah naik sehingga terjadi hipertensi.
8. Konsumsi Lemak Berlebihan
Para remaja lebih suka makanan jajan seperti bakso, mie ayam dan soto yang tinggi lemak
ketimbang makan makanan yang di masak oleh orang tuanya di rumah. sehingga tubuh remaja
tersebut tinggi akan lemak dan kolesterol.
9. Mengonsumsi Makanan Beresiko
Mengonsumsi makanan beresiko yaitu MSG berlebihan, kafein dan pengawet serta pewarna
makanan yang berbahaya. untuk kesehatan dan berdampak untuk masa depannya.

Kebutuhan Gizi Seimbang


Pada anak remaja kudapan berkontribusi 30 % atau lebih dari total asupan kalori remaja
setiap hari. Tetapi kudapan ini sering mengandung tinggi lemak, gula dan natrium dan dapat
meningkatkan resiko kegemukan dan karies gigi. Oleh karena itu, remaja harus didorong untuk
lebih memilih kudapan yang sehat. Bagi remaja, makanan merupakan suatu kebutuhan pokok
untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya. Kekurangan konsumsi makanan, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif, akan menyebabkan metabolisme tubuh terganggu.
Kecukupan gizi merupakan kesesuaian baik dalam hal kualitas maupun kuantitas zat-zat gizi
sesuai dengan kebutuhan faali tubuh.
Energi
Kebutuhan energi diperlukan untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk proses metabolisme
tubuh. Cara sederhana untuk mengetahui kecukupan energi dapat dilihat dari berat badan
seseorang. Pada remaja perempuan 10-12 tahun kebutuham energinya 50-60 kal/kg BB/ hari dan
usia 13-18 tahun sebesar 40-50 kal/ kg BB/ hari.
Protein
Kebutuhan protein meningkat karena proses tumbuh kembang berlangsung cepat. Apabila
asupan energi terbatas/ kurang, protein akan dipergunakan sebagai energi.
Kebutuhan protein usia 10-12 tahun adalah 50 g/ hari, 13-15 tahun sebesar 57 g/ hari dan usia
16-18 tahun adalah 55 g/ hari. Sumber protein terdapat dalam daging, jeroan, ikan, keju, kerang
dan udang (hewani). Sedangkan protein nabati pada kacang-kacangan, tempe dan tahu.
Lemak
Lemak dapat diperoleh dari daging berlemak, jerohan dan sebagainya. Kelebihan lemak akan
disimpan oleh tubuh sebagai lemak tubuh yang sewaktu- waktu diperlukan. Departemen
Kesehatan RI menganjurkan konsumsi lemak dibatasi tidak melebihi 25 % dari total energi per
hari, atau paling banyak 3 sendok makan minyak goreng untuk memasak makanan sehari.
Asupan lemak yang terlalu rendah juga mengakibatkan energi yang dikonsumsi tidak
mencukupi, karena 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. Pembatasan lemak hewani dapat
mengakibatkan asupan Fe dan Zn juga rendah.
Vitamin dan Mineral
Kebutuhan vitamin dan mineral pada saat ini juga meningkat. Golongan vitamin B yaitu
vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin) maupun niasin diperlukan dalam metabolisme
energi. Zat gizi yang berperan dalam metabolisme asam nukleat yaitu asam folat dan vitamin
B12. Vitamin D diperlukan dalam pertumbuhan kerangka tubuh/ tulang. Selain itu, agar sel dan
jaringan baru terpelihara dengan baik, maka kebutuhan vitamin A, C dan E juga diperlukan.
Fe / Zat Besi
Kekurangan Fe/ zat besi dalam makanan sehari-hari dapat menimbulkan kekurangan darah
yang dikenal dengan anemia gizi besi (AGB). Makanan sumber zat besi adalah sayuran berwarna
hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging. Fe lebih baik dikonsumsi bersama dengan
vitamin C, karena akan lebih mudah terabsorsi.
D. Cara Mengatasi Supaya Masalah Gizi pada Remaja tidak terjadi.
Perlu dilakukan kegiatan pendidikan, penyuluhan terutama tentang gaya hidup yang benar,
meliputi , kebiasaan sarapan pagi, menghindari untuk merokok dan minum-minuman keras serta
membiasakan hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit infeksi.
Prinsip Gizi Pada Wanita Remaja Dan Dewasa
Masa remaja merupakan saat terjadinya perubahan-perubahan cepat dalam proses
pertumbuhan fisik, kognitif dan psikososial. Pada masa ini terjadi kematangan seksual dan
tercapainya bentuk dewasa karena pematangan fungsi endokrin. Pada saat proses pematangan
fisik, juga terjadi perubahan komposisi tubuh.
Periode Adolesensia ditandai dengan pertumbuhan yang cepat (Growth Spurt) baik tinggi
badannnya maupun berat badannya. Pada periode growth spurt, kebutuhan zat gizi tinggi karena
berhubungan dengan besarnya tubuh.
Growth Spurt :
Anak perempuan : antara 10 dan 12 tahun
Anak laki-laki : umur 12 sampai 14 tahun.
Permulaan growth spurt pada anak tidak selalu pada umur yang sama melainkan tergantung
individualnya. Pertumbuhan yang cepat biasanya diiringi oleh pertumbuhan aktivitas fisik
sehingga kebutuhan zat gizi akan naik pula.
Penyelidikan membuktikan bahwa apabila manusia sudah mencapai usia lebih dari 20 tahun,
maka pertumbuhan tubuhnya sama sekali sudah terhenti. Ini berarti, makanan tidak lagi
berfungsi untuk pertumbuhan tubuh, tetapi untuk mempertahankan keadaan gizi yang sudah
didapat atau membuat gizinya menjadi lebih baik. Dengan demikian, kebutuhan akan unsur-
unsur gizi dalam masa dewasa sudah agak konstan, kecuali jika terjadi kelainan-kelainan pada
tubuhnya, seperti sakit dan sebagainya. Sehingga mengharuskan dia mendapatkan kebutuhan zat
gizi yang lebih dari biasanya.
Pendidikan Gizi Pada Wanita Remaja Dan Dewasa
Pendidikan gizi pada wanita remaja dan dewasa diperlukan untuk mencapai status gizi yang
baik dan berperilaku gizi yang baik dan benar. Adapun pesan dasar gizi seimbang yang diuraikan
oleh Depkes adalah:
1. Makanlah aneka ragam makanan.
Tidak satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat
seseorang hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Makan makanan yang mengandung
unsur-unsur gizi yang diperlukan oleh tubuh baik kualitas maupun kuantitas. Jadi, mengonsumsi
makanan yang beraneka ragam menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat
pembangun dan zat pengatur.

2. Makanlah makanan untuk mencukupi kecukupan energi.


Setiap orang dianjurkan untuk memenuhi makanan yanng cukup kalori (energi) agar dapat
hidup dan beraktivitas sehari-hari. Kelebihan konsumsi kalori akan ditimbun sebagai cadangan
didalam tubuh yang berbentuk jaringan lemak.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.
Ada dua kelompok karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan sederhana. Proses
pencernaan dan penyerapan karbohidrat kompleks berlangsung lebih lama daripada yang
sederhana. Konsumsi karbohidrat kompleks sebaiknya dibatasi 50% saja dari kebutuhan energi
sehingga tubuh dapat memenuhi sumber zat pembangun dan pengatur.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai dari kecukupan energi.
Lemak dan minyak yang terdapat dalam makanan berguna untuk meningkatkan jumlah
energi, membantu penyerapan vitamin (A, D, E dan K) serta menambah lezatnya hidangan.
Mengonsumsi lemak dan minyak secara berlebihan akan mengurangi konsumsi makanan lain.
5. Gunakan garam beryodium.
Kekurangan garam beryodium mengakibatkan penyakit gondok.
6. Makanlah makanan sumber zat besi.
Zat besi adalah unsur penting untuk pembentukan sel darah merah. Kekurangan zat besi
berakibat anamia gizi besi (AGB), terutama diderita oleh wanita hamil, wanita menyusui dan
wanita usia subur.
7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya.
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena mempunyai kelebihan yang meliputi 3
aspek baik aspek gizi, aspek kekebalan dan kejiwaan.
8. Biasakan makan pagi.
Bagi remaja dan dewasa makan pagi dapat memelihara ketahanan fisik, daya tahan tubuh,
meningkatkan konsentrasi belajar dan meningkatkan produktivitas kerja.
9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya.
Aman berarti bersih dan bebas kuman.
10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur.
Dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi
jantung, paru dan otot serta memperlambat proses penuaan.
11. Hindari minum minuman beralkohol.
Sering minum minuman beralkohol akan sering BAK sehingga menimbukan rasa haus.
Alkohol hanya mengandung energi, tetapi tidak mengandung zat lain.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
Selain harus bergizi lengkap dan seimbang, makanan harus layak dikonsumsi sehingga aman
untuk kesehatan. Makanan yang aman yaitu bebas dari kuman dan bahan kimia dan halal.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.

Gangguan Makanan Pada Remaja


Saat remaja terjadi perubahan fisiologis yang bisa mempengaruhi kebutuhan gizi termasuk
untuk pertumbuhan yang cepat, biasanya pertumbuhan cepat lebih banyak terlihat pada remaja
laki-laki. Namun remaja kadang memilih makanan yang tidak tepat sehingga mempengaruhi
asupan gizi yang masuk ke tubuhnya.
Berikut ini beberapa masalah gizi yang banyak menyerang kaum remaja, seperti dikutip dari
BBCHealth, Senin (16/1/2012) yaitu:
1. Kekurangan zat besi
Kondisi ini merupakan hal yang paling umum dijumpai. Pertumbuhan yang cepat ditambah
dengan gaya hidup dan pilihan makanan yang buruk bisa mengakibatkan remaja mengalami
anemia akibat kekurangan zat besi, terutama pada remaja putri ketika ia sudah mengalami
menstruasi.
Sumber makanan utama yang mengandung zat besi adalah daging merah, sereal, buah kering,
roti dan sayuran berdaun hijau. Sumber zat besi yang berasal dari non-daging membutuhkan
asupan nutrisi lain untuk meningkatkan penyerapannya seperti makanan kaya vitamin C (jeruk,
blackcurrant dan sayuran berdaun hijau), sedangkan zat tanin yang terkandung dalam teh bisa
mengurangi penyerapan zat besi.
2. Kekurangan kalsium
Survei menemukan sekitar 25 persen remaja memiliki asupan kalsium lebih rendah dari yang
direkomendasikan sehingga berdampak terhadap kesehatan tulangnya di masa depan, salah
satunya adalah osteoporosis yang membuat tulang rapuh dan mudah patah.
Tulang akan terus tumbuh dan diperkuat sampai usia 30 tahun dan masa remaja adalah waktu
yang sangat penting untuk perkembangan ini. Nutrisi yang diperlukan seperti vitamin D, kalsium
dan fosfor.
Sumber kaya kalsium yang sebaiknya dikonsumsi adalah susu dan produk susu, misalnya
segelas susu, 150 gram yogurt dan sepotong keju ukuran kecil. Jika tidak bisa mengonsumsi
produk susu, maka konsumsilah susu kedelai yang sudah difortifikasi, atau jika takut dengan
kandungan lemak pilihlah susu yang rendah lemak (low fat).
3. Kekurangan gizi akibat salah diet
Berbagai studi melaporkan kaum remaja terutama perempuan banyak yang tidak puas dengan
berat badannya, sehingga melakukan diet dengan cara yang salah seperti melewatkan waktu
makan, menghindari daging merah, tapi mengonsumsi makanan ringan dan bergula.
Hal ini bukanlah pilihan yang tepat dan sehat karena pada usia tersebut tubuh mengalami
percepatan pertumbuhan yang menuntut adanya peningkatan nutrisi. Jika diet yang dilakukan
salah maka tubuh akan mendapatkan nutrisi yang penting dalam jumlah kecil atau tidak sama
sekali.

Sebaiknya konsumsilah makanan secara masuk akal, olahraga teratur, mengurangi makanan
bergula dan banyak lemak untuk mengurangi kelebihan kalori sambil tetap mempertahankan
nutrisi yang masuk. Selain itu masa-masa remaja merupakan waktu yang banyak menyebabkan
perkembangan gangguan makan.
Kontak IDAI

IDAI Mail

Public Articles

Professional Resources

CPD

Publications

Registry

Program Menuju
Anak Indonesia Sehat

About IDAI

1. Beranda

2. Public Articles

3. Seputar Kesehatan Anak

Nutrisi Pada Remaja

10.09.2013

Fenomena pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai
potensi pertumbuhan secara maksimal karena nutrisi dan pertumbuhan merupakan hubungan
integral. Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada masa ini dapat berakibat terlambatnya
pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear. Pada masa ini pula nutrisi penting untuk
mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait nutrisi pada masa dewasa kelak, seperti
penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker dan osteoporosis.

Sebelum masa remaja, kebutuhan nutrisi anak lelaki dan anak perempuan tidak dibedakan, tetapi
pada masa remaja terjadi perubahan biologik dan fisiologik tubuh yang spesifik sesuai gender
(gender specific) sehingga kebutuhan nutrienpun menjadi berlainan. Sebagai contoh, remaja
perempuan membutuhkan zat besi lebih banyak karena mengalami menstruasi setiap bulan.

Selain perubahan biologik dan fisiologik, remaja juga mengalami perubahan psikologik dan
sosial. Terdapat variasi waktu dan lamanya berlangsung masa transisi dari anak menjadi manusia
dewasa yang dipengaruhi oleh faktor sosio-kultural dan ekonomi. Selain itu, remaja bukanlah
kelompok yang homogen walaupun berada dalam lingkungan sosio-kultural yang sama dengan
variasi lebar dalam hal perkembangan, maturitas dan gaya hidup. Penelitian Blum (1991) pada
remaja 15-18 tahun, didapatkan bahwa remaja lelaki lebih percaya diri, merasa lebih bahagia dan
sehat serta lebih tidak rentan dibandingkan remaja perempuan yang cenderung merasa kurang
puas akan keadaan tubuhnya, kepribadian serta kesehatannya.

Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien, khususnya anemia defisiensi
zat besi, serta masalah malnutrisi, baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih
sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku
makan salah.

Kebutuhan nutrisi

Tingginya kebutuhan energi dan nutrien pada remaja dikarenakan perubahan dan pertambahan
berbagai dimensi tubuh (berat badan, tinggi badan), massa tubuh serta komposisi tubuh sebagai
berikut:

Tinggi badan

Sekitar 15 - 20% tinggi badan dewasa dicapai pada masa remaja.

Percepatan tumbuh anak lelaki terjadi lebih belakangan serta puncak


ypercepatan lebih tinggi dibanding anak perempuan. Pertumbuhan linear
dapat melambat atau terhambat bila kecukupan makanan / energi sangat
kurang atau energy expenditure meningkat misal pada atlet.

Berat badan

Sekitar 25 - 50% final berat badan ideal dewasa dicapai pada masa remaja.

Waktu pencapaian dan jumlah penambahan berat badan sangat dipengaruhi


yasupan makanan / energi dan energy expenditure.

Komposisi tubuh

Pada masa pra-pubertas proporsi jaringan lemak dan otot maupun massa
ytubuh tanpa lemak (lean body mass) pada anak lelaki dan perempuan sama.
Anak lelaki yang sedang tumbuh pesat, penambahan jaringan otot lebih
ybanyak daripada jaringan lemak secara proporsional, demikian pula massa
tubuh tanpa lemak dibanding anak perempuan.

Jumlah jaringan lemak tubuh pada orang dewasa normal adalah 23% pada
yperempuan dan 15% pada lelaki.

Sekitar 45% tambahan massa tulang terjadi pada masa remaja dan pada
yakhir dekade ke-dua kehidupan 90% massa tulang tercapai.

Terjadi kegagalan penambahan massa tulang pada perempuan dengan


ypubertas terlambat sehingga kepadatan tulang lebih rendah pada masa
dewasa. Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan yang turut
menentukan awitan pubertas.

Pemantauan pertumbuhan selama pubertas dapat menggunakan indeks


TB/U, BB/TB dan IMT/U (indeks massa tubuh menurut umur). Rumus IMT =
BB/TB.

Nutrisi pada masa remaja hendaknya dapat memenuhi beberapa hal di bawah ini:

1. Mengandung nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan


perkembangan kognitif serta maturasi seksual.

2. Memberikan cukup cadangan bila sakit atau hamil.

3. Mencegah awitan penyakit terkait makanan seperti penyakit kardiovaskular,


diabetes, osteoporosis dan kanker.

4. Mendorong kebiasaan makan dan gaya hidup sehat.

Pada remaja yang sedang mengalami pertumbuhan fisik pesat serta perkembangan dan maturasi
seksual, pemenuhan kebutuhan nutrisi merupakan hal yang mutlak dan hakiki. Defisiensi energi
dan nutrien yang terjadi pada masa ini dapat berdampak negatif yang dapat melanjut sampai
dewasa. Kebutuhan nutrisi remaja dibahas berikut ini:

Energi

Kebutuhan energi remaja dipengaruhi oleh aktivitas, metabolisme basal dan peningkatan
kebutuhan untuk menunjang percepatan tumbuh-kembang masa remaja. Metabolisme basal
(MB) sangat berhubungan erat dengan jumlah massa tubuh tanpa lemak (lean body mass)
sehingga MB pada lelaki lebih tinggi daripada perempuan yang komposisi tubuhnya
mengandung lemak lebih banyak. Karena usia saat terjadinya percepatan tumbuh sangat
bervariasi, maka perhitungan kebutuhan energi berdasarkan tinggi badan (TB) akan lebih sesuai.

Percepatan tumbuh pada remaja sangat rentan terhadap kekurangan energi dan nutrien sehingga
kekurangan energi dan nutrien kronik pada masa ini dapat berakibat terjadinya keterlambatan
pubertas dan atau hambatan pertumbuhan.

Protein

Kebutuhan protein pada remaja ditentukan oleh jumlah protein untuk rumatan masa tubuh tanpa
lemak dan jumlah protein yang dibutuhkan untuk peningkatan massa tubuh tanpa lemak selama
percepatan tumbuh. Kebutuhan protein tertinggi pada saat puncak percepatan tinggi terjadi
(perempuan 11-14 tahun, lelaki 15-18 tahun) dan kekurangan asupan protein secara konsisten
pada masa ini dapat berakibat pertumbuhan linear berkurang, keterlambatan maturasi seksual
serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak.

Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam makanan, selain juga sebagai sumber serat
makanan. Jumlah yang dianjurkan adalah 50% atau lebih dari energi total serta tidak lebih dari
10-25% berasal dari karbohidrat sederhana seperti sukrosa atau fruktosa.

Di Amerika Serikat, konsumsi minuman ringan (soft drinks) memasok lebih dari 12% kalori
yang berasal dari karbohidrat dan konsumsinya meningkat 3 kali lipat pada dua dekade terakhir
ini. Penelitian Josep di Jakarta (2010) pada remaja siswa SMP didapatkan bahwa siswa yang
mengonsumsi minuman bersoda 3-4 kali per minggu berisiko untuk terjadi gizi lebih.

Lemak

Tubuh manusia memerlukan lemak dan asam lemak esensial untuk pertumbuhan dan
perkembangan normal. Pedoman makanan di berbagai negara termasuk Indonesia (gizi
seimbang), menganjurkan konsumsi lemak tidak lebih dari 30% dari energi total dan tidak lebih
dari 10% berasal dari lemak jenuh.

Sumber utama lemak dan lemak jenuh adalah susu, daging (berlemak), keju, mentega / margarin,
dan makanan seperti cake, donat, kue sejenis dan es krim, dan lain-lain.

Mineral

Kalsium (Ca). Kebutuhan kalsium pada masa remaja merupakan yang tertinggi dalam kurun
waktu kehidupan karena remaja mengalami pertumbuhan skeletal yang dramatis. Sekitar 45%
dari puncak pembentukan massa tulang berlangsung pada masa remaja, sehingga kecukupan
asupan kalsium menjadi sangat penting untuk kepadatan masa tulang serta mencegah risiko
fraktur dan osteoporosis. Pada usia 17 tahun, remaja telah mencapai hampir 90% dari masa
tulang dewasa, sehingga masa remaja merupakan peluang (window of opportunity) untuk
perkembangan optimal tulang dan kesehatan masa depan.
Angka kecukupan asupan kalsium yang dianjurkan untuk kelompok remaja adalah 1.300 mg per
hari. Susu merupakan sumber kalsium terbaik, disusul keju, es krim, yogurt. Kini banyak
makanan dan minuman yang difortifikasi dengan kalsium yang setara dengan kandungan
kalsium pada susu (300mg per saji). Terdapat pula kalsium dalam bentuk sediaan farmasi (dalam
bentuk karbonat, sitrat, laktat atau fosfat) dengan absorpsi sekitar 25-35%. Preparat kalsium akan
diabsorpsi lebih efisien bila dikonsumsi bersama makanan dengan dosis tidak lebih dari 500 mg.

Zat besi (Fe). Seperti halnya kalsium, kebutuhan zat besi pada remaja baik perempuan maupun
lelaki meningkat sejalan dengan cepatnya pertumbuhan dan bertambahnya massa otot dan
volume darah. Pada remaja perempuan kebutuhan lebih banyak dengan adanya menstruasi.
Kebutuhan pada remaja lelaki 10-12 mg/hari dan perempuan 15 mg/hari. Besi dalam bentuk
neme yang
terdapat pada sumber hewani lebih mudah diserap dibanding besi non-heme yang terdapat pada
biji-bijian atau sayuran.

Seng (Zn).Seng berperan sebagai metalo-enzyme pada proses metabolisme serta penting pada
pembentukan protein dan ekspresi gen. Konsumsi seng yang adekuat penting untuk proses
percepatan tumbuh dan maturasi seksual. Seperti halnya dengan kekurangan energi dan protein,
kekurangan seng dapat mengakibatkan hambatan pada pertumbuhan dan kematangan seksual.
Daging merah, kerang dan biji-bijian utuh merupakan sumber seng yang baik.

Vitamin

Vitamin A. Selain penting untuk fungsi penglihatan, vitamin A juga diperlukan untuk
pertumbuhan, reproduksi dan fungsi imunologik. Kekurangan vitamin A awal ditandai dengan
adanya buta senja. Sumber vitamin A utama : serealia siap saji, susu, wortel, margarin dan keju.
Sumber - karoten sebagai pro-vitamin A yang sering dikonsumsi remaja berupa wortel, tomat,
bayam dan sayuran hijau lain, ubi jalar merah dan susu.

Vitamin E. Vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang penting pada remaja karena pesatnya
pertumbuhan. Meningkatnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin E merupakan
tantangan karena makanan sumber vitamin E umumnya mengandung lemak tinggi.

Vitamin C . Keterlibatannya dalam pembentukan kolagen dan jaringan ikat menyebabkan


vitamin ini menjadi penting pada masa percepatan pertumbuhan dan perkembangan. Status
vitamin C pada remaja perokok lebih rendah walaupun telah mengonsumsinya dalam jumlah
cukup dikarenakan stres oksidatif sehingga mereka memerlukan tambahan vitamin C hingga 35
mg per hari.

Folat. Folat berperan pada sintesis DNA, RNA dan protein sehingga kebutuhan folat meningkat
pada masa remaja. Kekurangan folat menyebabkan terjadinya anemia megaloblastik dan
kecukupan folat pada masa sebelum dan selama kehamilan dapat mengurangi kejadian spina
bifida pada bayi.

Lain-lain

Serat (fiber). Serat makanan penting untuk menjaga fungsi normal usus dan mungkin berperan
dalam pencegahan penyakit kronik seperti kanker, penyakit jantung koroner dan diabetes
mellitus tipe-2. Asupan serat yang cukup juga diduga dapat menurunkan kadar kolesterol darah,
menjaga kadar gula darah dan mengurangi risiko terjadinya obesitas. Kebutuhan serat per hari
dapat dihitung dengan rumus : ( umur + 5 ) gram dengan batas atas sebesar ( umur + 10 ) gram.

Masalah nutrisi pada remaja

Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien, khususnya anemia defisiensi
zat besi, serta masalah malnutrisi, baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih
sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku
makan salah dan gaya hidup.

Laporan hasil beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kebanyakan remaja
kekurangan vitamin dan mineral dalam makanannya antara lain folat, vitamin A dan E, Fe, Zn,
Mg, kalsium dan serat. Hal ini lebih nyata pada perempuan dibanding lelaki, tetapi sebaliknya
tentang asupan makanan yang berlebih (lemak total, lemak jenuh, kolesterol, garam dan gula)
terjadi lebih banyak pada lelaki daripada perempuan.

Isu masalah nutrisi pada remaja

1. Defisiensi besi, anemia defisiensi besi dan defisiensi mikronutrien


lain.
Anemia merupakan masalah nutrisi utama pada remaja dan umumnya pola
makan salah sebagai penyebabnya di samping infeksi dan menstruasi.
Prevalensi anemia pada remaja cukup tinggi. Sukarjo dkk di Jawa Timur
(2001) mendapatkan prevalensi sebesar 25.8% pada remaja perempuan dan
12.1% pada remaja lelaki usia 12-15 tahun, sedangkan laporan Sunarno dan
Untoro (2002) pada SKRT 1995 menunjukkan angka 45.8% dan 57.1%
masing-masing pada anak sekolah lelaki dan perempuan usia 10-14 tahun.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan defisiensi besi dengan
gangguan proses kognitif yang membaik setelah mendapat suplementasi zat
besi.

2. Gizi kurang dan perawakan pendek


Perawakan pendek pada remaja seringkali ditemukan pada populasi dengan
kejadian malnutrisi tinggi, prevalensi berkisar antara 27 - 65% pada 11 studi
oleh ICRW (International Centre for Research on Women). Gizi kurang kronik
yang mengakibatkan perawakan pendek merupakan penyebab terjadinya
hambatan pertumbuhan dan maturasi, memperbesar risiko obstetrik, dan
berkurangnya kapasitas kerja.

3. Obesitas
Obesitas pada masa remaja cenderung menetap hingga dewasa dan makin
lama obesitas berlangsung makin besar korelasinya dengan mortalitas dan
morbiditas. Obesitas sentral (rasio lingkar pinggang dengan panggul) terbukti
berkorelasi terbalik dengan profil lipid padal penelitian longitudinal Bogalusa.
Obesitas juga menimbulkan masalah besar kesehatan dan sosial, dan
pengobatan tidak saja memerlukan biaya tinggi tetapi seringkali juga tidak
efektif. Karenanya pencegahan obesitas menjadi sangat penting dan remaja
merupakan target utama.

4. Perilaku dan pola makan remaja.


Pola makan remaja seringkali tidak menentu yang merupakan risiko
terjadinya masalah nutrisi. Bila tidak ada masalah ekonomi ataupun
keterbatasan pangan, maka faktor psiko-sosial merupakan penentu dalam
memilih makanan. Gambaran khas pada remaja yaitu : pencarian identitas,
upaya untuk ketidaktergantungan dan diterima lingkungannya, kepedulian
akan penampilan, rentan terhadap masalah komersial dan tekanan dari
teman sekelompok (peer group) serta kurang peduli akan masalah
kesehatan, akan mendorong remaja kepada pola makan yang tidak menentu
tersebut. Kebiasaan makan yang sering terlihat pada remaja antara lain
ngemil (biasanya makanan padat kalori), melewatkan waktu makan terutama
sarapan pagi, waktu makan tidak teratur, sering makan fast foods, jarang
mengonsumsi sayur dan buah ataupun produk peternakan (dairy foods) serta
diet yang salah pada remaja perempuan. Hal tersebut dapt mengakibatkan
asupan makanan tidak sesuai kebutuhan dan gizi seimbang dengan
akibatnya terjadi gizi kurang atau malahan sebaliknya asupan makanan
berlebihan menjadi obesitas. Remaja perempuan cenderung pada asupan
makanan yang kurang, terlebih bila terjadi kehamilan.
Di negara berkembang, sering terjadi gangguan perilaku makan seperti
anoreksia nervosa dan bulimia terutama pada perempuan yang berkorelasi
dengan body image yang negatif. Karenanya penting membangun body
image dan self esteem yang positif pada remaja dalam upaya promosi
kesehatan dan gizi serta pencegahan obesitas.

Ringkasan

Fenomena pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai
potensi pertumbuhan secara maksimal. Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada masa ini dapat
berakibat terlambatnya pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear.

Pada masa ini pula nutrisi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait
nutrisi pada masa dewasa kelak, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker dan
osteoporosis.
Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien, khususnya anemia defisiensi
zat besi, serta masalah malnutrisi, baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih
sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku
makan salah dan gaya hidup.

Daftar Bacaan

1. Stang J, Story M (eds) Guidelines for Adolescent Nutrition Service (2005)


diunduh dari http://www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.htm

2. Blum RW. Global trends in adolescent health. J Amer Med Assoc


1991;265:2711-9

3. Haider R. Adolescent Nutrition: A review of the Situation in Selected South-


East Asian Countries. WHO 2006.

4. Story M, Stang J. Nutrition needs of adolescents. In: Stang J, Story M (eds)


Guidelines for Adolescent Nutrition Service (2005) diunduh dari
http://www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.htm

5. Rome ES, Vazquez IM, Blazar NE. Adolescence: healthy and disordered eating.
Dalam: Walker WA, Watkins JB, Duggan C, penyunting. Nutrition in pediatrics:
basic science and applications. Edisi ke-3. London: Decker, 2003. h. 861-77

6. Kennedy E, Goldberg J. What are American children eating? Implication for


public policy. Nutr Rev 1995;53(5):111-26

7. Harrington S. The Role of Sugar-Sweetened Beverage Consumption in


Adolescent Obesity: A Review of the Literature. The Journal of School Nursing
2008;24(1):3-12

8. Josep R. Hubungan antara indeks massa tubuh dengan perilaku konsumsi


minuman manis pada siswa SMP : Sebuah survei di salah satu SMP swasta di
Jakarta. Tugas penelitian di Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Dept
I.Kesehatan Anak, FKUI (2010)

9. Soekarjo DD, de Pee S, Bloem MW, et al. Socio-economic status and puberty
are the main factors detemining anaemia in adolescent girls and boys in
East-Java, Indonesia. Eur J Clin Nutr. 2001;55(11):932-9

10.Sunarno RW, Untoro R. Paper dipresentasikan di WHO Regional Meeting on


Adolescent Nutrition ln Chandigarh, India, 16-17 September 2002.

11.Nelson M. Anaemia in adolescent girls: effects on cognitive function and


activity. Proc Nutr Soc 1996;55:359-67

12.Kurz KM, Johnson-Welch C. The nutrition and lives of adolescents in


developing countries: Findings from the nutrition of adolescent girls research
program. ICRW , 1994. Dikutip dari Delisle H. Should adolescents be
specifically targeted for nutrition in developing countries? To addresswhich
problem and how? Diunduh dari
http://www.idpas.org/pdf/1803ShouldAdolescentBeTargeted.pdf

13.Freedman DS, Dietz WH, Srinivasan SR, Berenson GS. The Relation of
Overweight to Cardiovascular Risk Factors Among Children and Adolescents:
The Bogalusa Heart Study Pediatrics 1999;103(6):1175-82

14.Delisle H. Should adolescents be specifically targeted for nutrition in


developing countries? To addresswhich problem and how? Diunduh dari
http://www.idpas.org/pdf/1803ShouldAdolescentBeTargeted.pdf