Anda di halaman 1dari 77

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Proses menua merupakan akumulasi secara progresif berbagai perubahan

patologis didalam sel dan jaringan yang terjadi seiring dengan waktu. Pada

umumnya manusia menginginkan hidup berumur panjang, mempunyai kualitas

hidup yang baik, sehat dan berkualitas serta tidak mau tampak cepat tua. Untuk

mencapai hal tersebut, maka manusia melakukan berbagai upaya untuk mencegah

proses penuaan. Tujuan Anti Aging adalah mencegah penuaan dini, mencegah

penyakit degeneratif seperti jantung, paru, stroke dan mencapai usia tua tetap

produktif dan sehat (Immanuel, 2008). Penuaan dapat digambarkan sebagai proses

penurunan fungsi fisiologis tubuh secara bertahap yang mengakibatkan hilangnya

kemampuan tumbuh dan kembang serta meningkatnya kelemahan (Bludau, 2010).

Dengan berkembangnya Ilmu Kedokteran Anti Penuaan (KAP) atau

Anti-Aging Medicine (AAM) tercipta suatu konsep baru dalam dunia kedokteran.

AAM adalah bagian ilmu kedokteran yang didasarkan pada penggunaan ilmu

pengetahuan dan teknologi kedokteran terkini untuk melakukan deteksi dini,

pencegahan, pengobatan, dan perbaikan ke keadaan semula berbagai disfungsi,

kelainan, dan penyakit yang berkaitan dengan penuaan, yang bertujuan untuk

memperpanjang hidup dalam keadaan sehat. Dengan demikian, penuaan bukan

lagi merupakan suatu keadaan normal yang memang harus terjadi, namun

dianggap sama sebagai suatu penyakit, yang dapat dan harus dicegah atau diobati

2
2

bahkan dikembalikan ke keadaan semula, sehingga berakibat usia harapan hidup

manusia dapat menjadi lebih panjang dengan kualitas hidup yang baik

(Pangkahila, 2007).

Proses penuaan dapat disebabkan oleh banyak hal, dapat disebabkan

faktor dari luar, misalnya makanan yang tidak sehat, kebiasaan yang tidak sehat,

polusi lingkungan, stres dan faktor kemiskinan, dan dapat disebabkan faktor dari

dalam, salah satunya adalah radikal bebas (Pangkahila, 2007). Ada banyak teori

tentang penuaan, di antaranya adalah teori radikal bebas yang dikemukakan oleh

Gerschman pada tahun 1954 dan kemudian dikembangkan oleh Denham Harman

pada tahun 1982. Teori ini menjelaskan bahwa radikal bebas dapat merusak sel-

sel dalam tubuh manusia. Penimbunan radikal bebas akan menyebabkan stres

oksidatif yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan, bahkan kematian sel

dalam tubuh (Goldman dan Klantz, 2003).

Radikal bebas dapat berasal dari dalam dan dari luar tubuh. Yang berasal

dari dalam tubuh, misalnya akibat proses respirasi sel, proses metabolisme, proses

inflamasi, sedangkan yang berasal dari luar tubuh dapat disebabkan oleh karena

polutan, seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor, radiasi sinar matahari,

makanan berlemak, kopi, alkohol dan sebagainya.

Proses aging adalah suatu proses menghilangnya kemampuan seluruh

organ tubuh (termasuk kulit secara perlahan untuk memperbaiki atau mengganti

diri dan mempertahankan struktur serta fungsi normalnya (Yaar dan Gilchrest,

2007). Dengan semakin bertambahnya usia, maka akan terjadi penurunan berbagai
3

fungsi organ tubuh dan terjadinya perubahan fisik, baik tingkat seluler, organ,

maupun system karena proses penuaan (baskoro, 2008).

Harapan berumur panjang adalah dambaan hampir setiap umat manusia.

Pada dua dekade belakangan ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa umur harapan

hidup manusia di setiap negara cenderung semakin bertambah, termasuk di negara

yang sedang berkembang. Populasi orang berumur tua di dunia semakin

bertambah pula dengan meningkatnya pengetahuan manusia tentang kesehatan,

pencegahan penyakit, gizi dan gaya hidup sehat (Beers, 2005).

Populasi orang tua di dunia mencapai laju yang sangat luar biasa.

Sebagian besar berhubungan dengan penurunan laju kelahiran dan peningkatan

angka harapan hidup dalam 20 tahun terakhir. Di Eropa, presentase orang berumur

60 tahun atau lebih di perkirakan meningkat sekitar sepertiga sejak tahun 1996

sampai 2025, tergantung masing-masing negara. Berdasarkan proyeksi penduduk

pada tahun 2010, di Indonesia terdapat 23.992.552 penduduk usia lanjut.

Diperkirakan pada tahun 2020, jumlah penduduk usia lanjut ini sebesar 11,34%.

Mengingat angka harapan hidup semakin meningkat, pada tahun 1993 dicetuskan

konsep Anti-Aging Medicine, konsep ini menganggap dan memperlakukan

penuaan sebagai suatu penyakit yang dapat di cegah, dihindari, dan diobati

sehingga dapat kembali ke keadaan semula. Dengan demikian manusia tidak lagi

harus membiarkan begitu saja dirinya menjadi tua dengan segala keluhan, dan bila

perlu mendapatkan pengobatan atau perawatan yang belum tentu berhasil

(Pangkahila, 2007).
4

Ada banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi tua melalui proses

penuaan yang dikelompokan menjadi faktor internal dan factor eksternal.

Beberapa faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal ialah

radikal bebas, hormon yang berkurang, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis,

system kekebalan yang menurun dan gen, Faktor eksternal yang utama ialah gaya

hidup tidak sehat, kebiasaan salah, polusi lingkungan, stress dan kemiskinan

(Pangkahila, 2007). Kulit manusia, seperti juga organ tubuh yang lainnya

mengalami penuaan kronologis. Tidak seperti organ lain, kulit mengalami kontak

langsung dengan lingkungan.

Faktor lingkungan yang utama yang menyebabkan penuaan kulit adalah

radiasi sinar ultraviolet (UV). Paparan kronis kulit manusia dengan sinar UV

mempengaruhi struktur dan fungsi kulit. Kerusakan sangat tergantung dari jumlah

dan jenis sinar UV dan juga tipe kulit seseorang. Radiasi sinar UV mengakibatkan

sunburn, imunosupresi, stress oksidatif, dan kanker kulit menyerupai penuaan dini

kulit maka disebut photoaging (Fisher dkk, 2002; Vayalil dkk, 2004).

Tubuh manusia tidak dapat mesekresi vitamin C karena itu kebutuhan

akan vitamin C dipenuhi dari asupan makanan. Sumber vitamin C topikal utama

dalam bentuk alami adalah L-ascorbic acid yang didapat sebagai molekul larut

air. Diketahui kebutuhan minimum tubuh akan vitamin C adalah 200 mg, hanya

sayangnya paparan sinar ultraviolet akan mengurangi dua per tiga simpanan

vitamin C kulit. Konsumsi vitamin C dari makanan tidak mampu mencapai kadar

yang dibutuhkan kulit, karena itulah dibutuhkan tambahan pemberian secara

topical maupun oral (Traikovich, 1999). Selain itu banyak vitamin C yang
5

mengalami kerusakan akibat pengolahan bahan makanan sehingga kadar yang

diperoleh tubuh seringkali tidak sesuai (Walingo, 2005). L-ascorbic acid

merupakan bentuk aktif dari vitamin C yang berfungsi untuk sintesis kolagen,

antioksidan, membantu absorsi besi diusus dan berperan dalam metabolism

beberapa asam amino (Traikovich, 1999).

Penuaan kulit adalah proses biologi kompleks yang merupakan

konsekuensi dari faktor intrinsik (penuaan terprogram genetik) dan faktor

ekstrinsik (lingkungan).

Penuaan intrinsik atau penuaan kronologis mengakibatkan perubahan

disemua lapisan kulit. Epidermis mengalami perlambatan regenerasi. Pada kulit

usia muda, epidermal turnover membutuhkan waktu 28 hari,tetapi pada usia tua

membutuhkan waktu 40-60 hari. Perlambatan ini mengakibatkan penipisan

epidermis sehingga kulit tampak translucent. Perlambatan regenerasi epidermis

juga mengganggu fungsi pertahananan dan perbaikan kulit. Korneosit berkumpul

di permukaan kulit sehingga kulit tampak kasar dam bersisik . Pada histology

kulit tua akan tampak penipisan dermal-epidermal junction sehingga

meningkatkan kerapuhan kulit dan penurunan transfer nutrisi pada epidermis dan

dermis. Populasi melanosit di epidermis semakin berkurang dan melanosit yang

ada akan makin mengalami penurunan aktivitas. Kulit tua mngalami perubahan

diskromik seperti bintik- bintik pigmentasi, freckles, lentigines. Kulit tua juga

mudah terbakar sinar matahari sebab kulit menipis dan sedikit melanosit.
6

Penuaan kulit juga mempengaruhi sel-sel Langerhans, Penurunan jumlah

sel-sel langerhans sampai 50% sehingga terjadi penurunan imunitas kulit dan

peningkatan resiko kanker kulit (MrCullough dan Kelly, 2006).

Banyak teori menjelaskan mengapa seseorang menjadi tua. Salah satu

teori penuaan yang sangat berkembang adalah teoti radikal bebas. Teori ini

menjelaskan bahwa suatu organism menjadi tua karena terjadi akumulasi

kerusakan oleh radikal bebas dalam sel sepanjang waktu. Radikal bebas akan

merusak molekul yang elektronnya ditarik oleh radikal bebas sehingga

menyebabkan kerusakan sel. Molekul utama didalam tubuh yang dirusak oleh

radikal bebas adalah DNA (Deoxyribo Nucleid Acid), lemak dan protein

(Suryohudoyo, 2000).

Terbentuknya paparan Reactive Oxygen Species (ROS) selama paparan

berulang UVB menurunkan ekspresi enzim antioksidan dan meningkatkan

modifikasi protein oksidatif dan akumulasi peroksida lipid dan produk glikasi

(Vayalil dkk, 2004 ). Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk selama

pajanan UV menghambat Transforming Growth Factor (TGF)- sehingga

produksi kolagen terhambat serta meningkatkan faktor transkripsi AP-1 yang

selanjutnya meningkatkan produksi Matrix Metalloproteinase (MMP)-1 yang

merupakan enzim yang mendegradasi kolagen (Fisher, dkk, 2002; Helfrichs, dkk,

2008).

Penelitian biokimia menunjukkan pada Photoaging terjadi perubahan

jaringan ikat yang berupa prekursor kolagen tipe I dan III, cross link, peningkatan

rasio kolagen tipe III dan I, peningkatan elastin. Perubahan pada matriks
7

ekstraseluler dermis tersebut mengakibatkan gambaran klinis Photoaging, yang

ditandai dengan kerutan, perubahan pigmentasi, dan hilangnya tonus otot ( Fisher

dkk, 1997). Metode baru untuk melindungi kulit dari Photodamaged akibat

paparan sinar matahari untuk mencegah kanker dan photoaging. Kulit secara

alamiah menggunakan antioksidan untuk melindungi dirinya dari Photodamaged

(Pinnel, 2003).

Dalam beberapa kali , fokus pada penelitian tanaman telah meningkat di

seluruh dunia .Centella asiatica adalah ramuan obat penting yang banyak

digunakan dalam orientasi dan menjadi populer di Barat . Triterpenoid , saponin ,

konstituen utama dari pegagan yang jantan diyakini bertanggung jawab atas

tindakan terapeutik yang luas . Selain penyembuhan luka , ramuan ini

direkomendasikan untuk pengobatan berbagai kondisi kulit seperti kusta , lupus ,

borok varises , eksim , psoriasis , diare , demam , amenore , penyakit pada saluran

genitourinari perempuan dan juga untuk menghilangkan kecemasan dan

meningkatkan kognisi .

Tinjauan ini mencoba untuk memberikan informasi lengkap tentang

farmakologi , mekanisme aksi , berbagai penelitian praklinis dan klinis , tindakan

pencegahan keselamatan dan prospek penelitian saat ini dari ramuan . Pada saat

yang sama , penelitian untuk mengevaluasi manfaat dari centella asiatica jika

dibandikan dengan vitamin C.


8

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang timbul melalui penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut:

1. Apakah pemberian oral ekstrak pegagan (Centella asiatica) dapat

meningkatkan produksi kolagen kulit pada tikus Wistar yang terpapar

UVB?

2. Apakah pemberian oral ekstrak pegagan (Centella asiatica) lebih baik

dapat meningkatkan produksi kolagen kulit dibandingkan pemberian

vitamin C oral pada tikus wistar tua yang terpapar UVB?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan Umum :

Untuk mengetahui pemberian ekstrak daun pegagan dapat lebih

menghambat proses penuaan kulit pada tikus Wistar tua yang terpapar UVB.

Tujuan Khusus :

1. Untuk mengetahui pemberian ekstrak daun pegagan dapat menurunkan

kadar MMP-1 dan meningkatkan ekspresi kolagen sehingga dapat

meningkatkan produksi kolagen kulit dan menghambat proses penuaan.


9

2. Untuk mengetahui pemberian ekstrak daun pegagan (Centella asiatica)

lebih baik dapat meningkatkan produksi kolagen kulit pada tikus Wistar

tua yang terpapar UVB.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.4.1 Manfaat ilmiah.

Memberi informasi tentang potensi antioksidann ekstrak pegagan dalam

menurunkan MDA pada betina wistar yang dipapapar UVB, serta dosis yang

dapat menurunkan kadar MDA pada betina wistar yang di berikan paparan UVB.

Pemberian ekstrak daun pegagan oral dapat menghambat penuaan dini dengan

menghambat peningkatan kadar MMP-1 betina wistar yang diberi paparan sinar

UVB.

1.4.2 Manfaat praktis

Hasil penelitian dapat memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat

sehingga dapat menjadi acuan dalam memahami manfaat ekstrak daun pegagan

sebagai antioksidan dan memberikan efek perlindungan terhadap pajanan sinar

UVB yang hampir tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari terutama

dinegara tropis seperti di Indonesia.


10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penuaan

2.1.1 Definisi Penuaan

Setiap manusia pasti akan menjadi tua. Hal ini adalah proses yang tidak

dihindari. Setelah mencapai usia dewasa, secara alamiah seluruh komponen tubuh

tidak dapat berkembang lagi. Sebaliknya justru terjadi penurunan karena proses

penuaan .

Perkembangan ilmu kedokteran, dalam hal ini Ilmu Kedokteran Anti-

Penuaan (KAP) atau Anti Aging Medicine (AAM), telah membawa konsep baru

dalam dunia Kedokteran. Penuaan diperlakukan sebagai penyakit, sehingga dapat

dan harus dicegah dan diobati bahkan dikembalikan ke keadaan semula sehingga

usia harapan hidup dapat menjadi lebih panjang dengan kualitas hidup yang lebih

baik (Goldman dan Klatz, 2007; Pangkahila, 2007).

Penuaan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan berjalan dengan

kecepatan berbeda, tergantung dari susunan genetik seseorang, lingkungan dan

gaya hidup, sehingga penuaan dapat terjadi lebih dini atau lebih lambat tergantung

kesehatan masing masing individu (Fowler, 2003). Dengan mencegah proses

penuaan, fungsi berbagai organ tubuh dapat dipertahankan agar tetap optimal.

Hasilnya organ tubuh dapat berfungsi seperti pada usia biologis yang lebih.

Dengan demikian penmpilan dan kualitas hidupnya menjadi lebih baik

dibandingkan usia sebenarnya (Pangkahila, 2007). Usia harapan hidup yang lebih

10
11

panjang disertai kualitas hidup yang optimal inilah konsep baru dari ilmu

kedokteran anti penuaan atau Anti Aging Medicine (AAM). AAM ini didefinisikan

sebagai bagian ilmu kedokteran yang didasarkan pada penggunaan ilmu

pengetahuan dan teknologi kedokteran terkini untuk melakukan deteksi dini,

pencegahan, pengobatan, dan perbaikan ke keadaan semula berbagai disfungsi,

kelainan, dan penyakit yang berkaitan dengan penuaan, yang bertujuaan untuk

memperpanjang hidup dalam keadaan sehat. Dengan definisi AAM tersebut,

tampak bahwa terdapat paradigma yang baru. Yakni di antaranya manusia

bukanlah orang terhukum yang terperangkap dalam takdir genetik dan penuaan

dapat dianggap sama dengan penyakit yang dapat dicegah, diobati bahkan

dikembalikan ke keadaan semula (Pangkahila, 2007).

Dengan mengingat faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses

penuaan, dapatlah ditentukan faktor mana yang perlu dihindari atau diatasi

sehingga proses penuaan dapat dicegah atau dihambat. Bermodalkan kesadaran

tentang pentingnya menjaga kesehatan dan menghindari berbagai faktor penyebab

proses penuaan dilengkapi dengan pengobatan, masyarakat memiliki kesempatan

untuk hidup lebih sehat dan berusia lebih panjang dengan kualitas hidup yang baik

(Pangkahila, 2007). Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menghambat

proses penuaan antara lain adalah menjaga kesehatan tubuh dan jiwa dengan pola

hidup sehat meliputi berolahraga teratur, makanan sehat dan cukup, atasi stres;

jangan merasa sehat dan normal hanya karena tidak ada keluhan serius;

melakukan pemeriksaan kesehatan berkala yang diperlukan dan disesuaikan

dengan kondisi; menggunakan obat dan suplemen yang diperlukan sesuai


12

petunjuk ahli untuk mengembalikan fungsi berbagai organ tubuh yang menurun.

Namun, terdapat pula hambatan atau kesulitan melakukan upaya menghambat

proses penuaan, antara lain karena lingkungan tidak sehat, pengetahuan rendah

dan budaya yang tidak benar (Pangkahila, 2007).

Ada 2 macam usia, yaitu kronologis dan usia biologis. Usia kronologis

ialah usia sebenarnya sesuai dengan tahun kelahiran, sedangkan usia fisiologis

atau biologis ialah usia sesuai dengan fungsi organ tubuh. Maka usia kronologis

tidak selalu sama dengan usia fisiologis. Menurut AAM ( American Academy Of

Anti-Aging Medicine ) adalah kelemahan dan kegagalan fisik-mental yang

berhubungan dengan penuaan normal disebabkan oleh disfungsi fisiologik, yang

dalam banyak kasus dapat diubah dengan intervensi kedokteran yang tepat (

Klatz, 2003).

Proses penuaan tidak terjadi begitu saja dengan langsung menampakkan

perubahan fisik dan psikis. Proses penuaan berlangsung melalui tiga tahap sebagai

berikut (Pangkahila, 2007)

2.1.2 Harapan Hidup Manusia

Populasi jumlah orang tua mencapai laju yang sangat luar biasa sebagian

besar berhubungan dengan penurunan laju kelahiran dan peningkatan angka

harapan hidup dalam 20 tahun terakhir. Di Eropa, persentase orang yang berumur

60 tahun meningkat sepertiga sejak tahun 1996 sampai 2025. Di beberapa negara

berkembang presentase orang berumur 60 tahun atau lebih diperkirakan

meningkat 200 percent pada periode yang sama. Hingga tahun 2020 populasi
13

didunia kira-kira mencapai lebih dari 1 milyar orang berumur 60 tahun atau lebih,

dan sebagian besar negara berkembang, sebagian lagi di negara maju (Beers,

2005). Diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penduduk usia lanjut ini sebesar

11,34 % . Dengan semakin bertambahnya usia maka akan terjadi penurunan

berbagai fungsi organ tubuh dan terjadinya perubahan fisik, baik tingkat seluler,

organ, maupun system karena proses penuaan ( Baskoro and Kothen, 2008 ).

Berbagai upaya dilakukan untuk kaitannya yang berhubungan dengan

anti-aging, diantaranya sulih hormon, olahraga, nutrisi, dan estetika, bahkan

dengan berkembangnya ilmu pengetahuan kedokteran yang baru, dikembangkan

pula cell therapy dan stem cell therapy untuk upaya anti-aging. Konsep dan

definisi ilmu KAP atau AAM pada awalnya diperkenalkan oleh A4M (American

Academy of Anti-Aging medicine) pada tahun 1993, definisinya adalah

Kedokteran Anti Penuaan (KAP) adalah bagian dari ilmu kedokteran yang

didasarkan pada penggunaan ilmu penget ahuan dan kedokteran teknologi terkini

untuk melakukan deteksi dini, pencegahan, pengobatan, dan perbaikan ke keadaan

semula berbagai disfungsi, kelainan dan penyakit yang berkaitan dengan penuaan,

yang bertujuan untuk memperpanjang hidup dalam keadaan sehat (Pangkahila,

2007).

2.1.3 Mekanisme pada aging

Penyebab proses penuaan dan teori penuaan, Ada berbagai faktor

penyebab terjadinya proses penuaan, namun secara garis besar faktor-faktor

tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
14

Faktor eksternal yaitu gaya hidup yang tidak sehat, diet tidak sehat, kebiasaan

salah, polusi lingkungan, stres dan kemiskinan. Faktor internal yaitu radikal

bebas, hormon yang berkurang, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis, sistem

kekebalan yang menurun dan gen (Pangkahila, 2007).

Banyak teori telah dikemukakan dalam upaya menjelaskan terjadinya proses

penuaan. Secara garis besar terdapat dua kelompok yaitu teori wear and tear dan

teori program (Pangkahila, 2007). Teori program meliputi terbatasnya replikasi

sel, proses imun dan teori neuroendokrin. Teori wear and tear meliputi kerusakan

DNA, glikosilasi dan radikal bebas.

Ada 4 teori pokok dari aging (Goldman dan Klatz, 2007). Yaitu:

1) Teori wear and tear

Tubuh dan selnya mengalami kerusakan karena sering digunakan dan

disalahgunakan (overuse and abuse). Organ tubuh seperti hati, lambung, ginjal,

kulit, dan lainnya, menurun karena toksin di dalam makanan dan lingkungan,

konsumsi berlebihan lemak, gula, kafein, alkohol, dan nikotin, karena sinar

ultraviolet, dan karena stress fisik dan emosional. Tetapi kerusakan ini tidak

terbatas pada organ melainkan juga terjadi di tingkat sel.

2) Teori neuroendokrin

Teori berdasarkan peranan bebagai hormon bagi fungsi organ tubuh. Hormon

dikeluarkan oleh beberapa organ yang dikendalikan oleh hipotalamus, sebuah


15

kelenjar yang terletak di otak. Hipotalamus membentuk poros dengan hipofise dan

organ tertentu yang kemudian mengeluarkan hormonnya. Dengan bertambahnya

usia tubuh memproduksi hormon dalam jumlah kecil, yang akhirnya mengganggu

berbagai sistem tubuh.

3) Teori Kontrol Genetik

Teori ini fokus pada genetik memprogram sandi sepanjang DNA, di mana kita

dilahirkan dengan kode genetik yang unik, yang memungkinkan fungsi fisik dan

metal tertentu. Dan penurunan genetik tersebut menentukan seberapa cepat kita

menjadi tua dan berapa lama kita hidup.

4) Teori Radikal Bebas

Teori ini menjelaskan bahwa suatu organism menjadi tua karena terjadi akumulasi

kerusakan oleh radikal bebas dalam sel sepanjang waktu. Radikal bebas sendiri

merupakan suatu molekul yang memiliki elektron yang tidak berpasangan.

Radikal bebas memiliki sifat reaktifitas tinggi, karena kecenderungan menarik

elektron dan dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radikal oleh karena

hilangkan atau bertambahnya satu elektron pada molekul lain. Radikal bebas akan

merusak molekul yang elektronnya ditarik oleh radikal bebas tersebut sehingga

menyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi sel, bahkan kematian sel. Molekul

utama di dalam tubuh yang rusakan oleh radikal bebas adalah DNA, lemak, dan

protein (Suryohudoyo, 2000). Dengan bertambahnya usia maka akumulasi

kerusakan sel akibat radikal bebas semakin mengambil peranan, sehingga


16

mengganggu metabolism sel, juga merangsang mutasi sel, yang akhirnya

membawa pada kanker dan kematian. Selain itu radikal bebas juga merusak

kolagen dan elastin

2.1.4 Faktor yang mempercepat aging

Berbagi faktor yang dapat mempercepat proses penuaan (Wibowo, 2003), yaitu:

1) Faktor lingkungan

Pencemaran lingkungan yang berwujud bahan-bahan polutan dan kimia

sebagai hasil pembakaran pabrik, otomatif, dan rumah tangga akan mempercepat

penuaan. Pemakaian obat-obat/jamu yang tidak terkontrol pemakaiannya sehingga

menyebabkan turunnya hormon tubuh secara langsung atau tidak langsung

melalui mekanisme umpan balik (hormonal feedback mechanism). Sinar matahari

secara langsung yang dapat mempercepat penuaan kulit dengan hilangnya

elastisitas dan rusaknya kolagen kulit.

2) Faktor diet/,makanan.

Jumlah nutrisi yang cukup, jenis dan kualitas makanan yang tidak menggunakan

pengawet, pewarna, perasa dari bahan kimia terlarang. Zat beracun dalam

makanan dapat menimbulkan kerusakan berbagai organ tubuh, antara lain organ

hati.
17

3) Faktor genetik

Genetik seseorang sangat ditentukan oleh genetic orang tuanya. Tetapi faktor

genetik ternyata dapat berubah karena infeksi virus, radiasi, dan zat racun

dalammakanan/minuman/kulit yang diserap oleh tubuh.

4) Faktor psikis

Faktor stres ini ternyata mampu memacu proses apoptosis di berbagai

organ/jaringan tubuh.

5) Faktor organik

Secara umum, faktor organik adalah : rendahnya kebugaran/fitnes, pola makan

kurang sehat, penurunan GH dan IGF-I, penurunan testosterone, penurunan

melatonin secara konstan setelah usia 30 tahun dan penyebabkan gangguan

circadian clock (ritme harian) selanjutnya kulit dan rambut akan berkurang

pigmentasi dan terjadi [ula gangguan tidur, peningkatan prolaktin yang sejalan

dengan perubahan emosi dan stress dan perubahan Follicle Stimulating Hormone

(FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Menjaga kulit tetap lembab, halus,

fleksibel, dan elastis, jaringan tersebut akan menjadi rusak akibat paparan radikal

bebas, terutama pada daerah wajah, di mana mengakibatkan lekukan kulit dan

kerutan yang dalam akibat paparan yang lama oleh radikal bebas (Goldman dan

Klatz, 2007).
18

2.2 Fenomena penuaan kulit

2.2.1 Penuaan Kulit

Penuaan kulit adalah proses biologi kompleks yang merupakan

konsekuensi dari faktor intrinsik (penuaan terprogram genetik) dan factor

ekstrinsik (lingkungan).

Penuaan intrinsik atau penuaan kronologis mengakibatkan perubahan disemua

lapisan kulit. Epidermis mengalami perlambatan regenerasi. Pada kulit usia muda,

epidermal turnover membutuhkan waktu 28 hari,tetapi pada usia tua

membutuhkan waktu 40-60 hari. Perlambatan ini mengakibatkan penipisan

epidermis sehingga kulitb tampak translucent. Perlambatan regenerasi epidermis

juga mengganggu fungsi pertahananan dan perbaikan kulit. Korneosit berkumpul

di permukaan kulit sehingga kulit tampak kasar dam bersisik. Pada histology kulit

tua akan tampak penipisan dermal-epidermal junction sehinggameningkatkan

kerapuhan kulit dan penurunan transfer nutrisi pada epidermis dan dermis.

Populasi melanosit di epidermis semakin berkurang dan melanosit yang ada akan

makin mengalami penurunan aktivitas. Kulit tua mngalami perubahan diskromik

seperti bintik- bintik pigmentasi (freckles), lentigines. Kulit tua juga mudah

terbakar sinar matahari sebab kulit menipis dan sedikit melanosit.

Penuaan kulit juga mempengaruhi sel-sel Langerhans, Penurunan jumlah

sel-sel langerhans sampai 50% sehingga terjadi penurunan imunitas kulit dan

peningkatan resiko kanker kulit (MrCullough dan Kelly, 2006).

Radiasi sinar ultraviolet dari sinar matahari mengakibatkan berbagai efek pada

kulit manusia, di antaranya adalah sunburn, penekanan imunitas, dan penuaan


19

dini(photoaging) Sunburn dan penekanan sistem imun terjadi secara akut sebagai

respon akibat paparan yang berlebihan dari sinar matahari, sedangkan kanker kulit

dan akibat dari akumulasi kerusakan yang disebabkan oleh paparan berulang sinar

ultraviolet. Kulit yang mengalami photoaging ditandai dengan kerutan,

kekenduran, perbubahan pigmentasi, flek kecoklatan, dan tampak kasar. Sangat

berbeda dengan kulit dengan penuaan kronologis atau penuaan intrinsik, pada

kulit yang diproteksi dari sinar matahari yang menjadi tipis, mengalami penurunan

elastisitas tetapi kadang tampak halus (Fisher dkk, 1997).

2.2.2 Perubahan Berhubungan Dengan Proses Penuaan

Proses penuaan dimulai dengan menurunnya bahkan terhentinya fungsi

berbagai organ tubuh. Penurunan fungsi berbagai organ tubuh tersebut

mengakibatkan muncul berbagai tanda dan gejala proses penuaan, baik itu tanda

fisik maupun psikis. Tanda fisik pada proses penuaan seperti masa otot

berkurang, lemak meningkat, kulit berkerut, daya ingat berkurang, fungsi seksual

terganggu, kemampuan kerja menurun dan sakit tulang. Kemudian yang termasuk

tanda psikis antara lain menurunnya gairah hidup, sulit tidur, mudah cemas,

mudah tersinggung dan merasa tidak berarti lagi (Pangkahila, 2007).

2.2.3 Penuaan intrinsik

Penuaan intrinsik juga dikenal dengan proses penuaan alamiah, yang

merupakan proses yang terus berlangsung yang dimulai pada usia pertengahan

20an. Penuaan intrinsik terjadi oleh karena akumulasi kerusakan endogen akibat

pembentukan senyawa oksigen reaktif selama metabolism oksidasi sel. Caspase


20

utama yang telah diidentifikasi yaitu inisiator (caspase-2, -8, -9, -10), efektor atau

eksekutor (caspase-3, -6, -7), dan inflamator (caspase-1, -4, -5). Caspase memiliki

aktivitas proteolitik yang dapat memecah protein (Elmore, 2007). Pengaturan dan

pengendalian apoptosis dilakukan oleh protein keluarga Bcl. Protein-

proteinkeluarga Bcl bersifat proapoptotik dan antipoptotik. Kelompok

proapoptotik terdiri dari Bcl-10, Bax, Bak, Bid, Bad, Bim, Bik, dan B1k.

Kelompok antiapoptotik terdiri dari Bcl-2, Bcl-x, Bcl-XL, Bcl-XS, Bcl-w, BAG

(Elmore, 2007). Radiasi sinar ultraviolet dari sinar matahari mengakibatkan

berbagai efek pada kulit manusia, di antaranya adalah sunburn, penekanan

imunitas, dan penuaan dini(photoaging). Sunburn dan penekanan sistem imun

terjadi secara akut sebagai respon akibat paparan yang berlebihan dari sinar

matahari, sedangkan kanker kulit dan akibat dari akumulasi kerusakan yang

disebabkan oleh paparan berulang sinar ultraviolet. Kulit yang mengalami

photoaging ditandai dengan kerutan, kekenduran, perubahan pigmentasi, flek

kecoklatan, dan tampak kasar. Sangat berbeda dengan kulit dengan penuaan

kronologis atau penuaan intrinsik, pada kulit yang diproteksi dari sinar matahari

yang menjadi tipis, mengalami penurunan elastisitas tetapi kadang tampak halus

(Fisher dkk, 1997).


21

2.3 Radikal Bebas

2.3.1 Definisi radikal bebas

Radikal bebas adalah atom atau molekul (kumpulan atom) yang memiliki

satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan (unpaired electron) pada orbit

luarnya (Suryohusodo, 2000; Finaud et al., 2006; Halliwel dan Gutteridge, 2007).

Radikal bebas memiliki sifat reaktivitas tinggi, karena kecenderungan menarik

elektron dan dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radikal oleh karena

hilangnya atau bertambahnya satu elektron pada molekul lain (Suryohusodo,

2000). Radikal bebas oksigen merupakan bentuk senyawa oksigen reaktif yang

dikelompokkan ke dalam senyawa ROS, yang mempunyai ukuran yang sangat

kecil dalam fisiologi sel. Radikal bebas ROS berasal dari respirasi mitokondria,

sitokrom P450, xantin oksidase dan NADH/NADPH oksidase. Reactive Oxygen

Species (ROS) merupakan radikal bebas oksigen yang berbahaya bagi tubuh

(Simanjuntak, 2006). Famili radikal bebas selain ROS adalah Reactive Nitrogen

Species (RNS) dan Reactive Sulfur Species (RSS). ROS merupakan radikal bebas

yang berperan penting dalam menimbulkan stress oksidatif serta kerusakan

oksidatif dengan mengubah lipid, protein serta DNA (Finaud et al, 2006).

Dalam kepustakaan kedokteran pengertian oksidan dan radikal bebas

(free radicals) sering dibaurkan karena keduanya memiliki sifat-sifat yang mirip.

Aktivitas keduanya sering menghasilkan akibat yang sama walaupun prosesnya

berbeda. Oksidan dan radikal bebas dibedakan dari sudut kimia, yaitu oksidan

dalam pengertian ilmu kimia adalah senyawa penerima electron (electron


22

acceptor). Oksidan dapat mengganggu integritas sel karena dapat bereaksi dengan

komponen-komponen sel yang penting untuk mempertahankan kehidupan sel,

baik struktural (misalnya molekul-molekul penyusun membran) maupun

komponen-komponen fungsional (misalnya enzim-enzim dan DNA). Oksidan

yang dapat merusak sel, berasal dari berbagai sumber (Halliwel dan Gutteridge,

2007) yaitu yang berasal dari: asap rokok, polutan, radiasi ultra violet, obat-obatan

dan pestisida.

2.3.2 Tahapan Pembentukan Radikal Bebas

Sumber radikal bebas, baik endogen maupun eksogen terjadi melalui

sederetan mekanisme reaksi.

1) Tahap Inisiasi, yaitu tahap yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas.

Cu

RH + O2 R + HO2

2) Tahap Propagasi , yaitu tahap dimana radikal bebas cenderung bertambah

banyak dengan membuat reaksi rantai dengan molekul lain.

R + O2 RO2

RO2 + RH R + ROOH

3) Tahap Terminasi, yaitu apabila terjadi reaksi antara radikal bebas dengan

radikal bebas lain atau antara radikal bebas dengan suatu senyawa pembasmi

radikal bebas (scavenger).

R + R R:R
23

Reduksi oksigen memerlukan pengalihan empat electron (electrotransfer).

Pengalihan ini tidak dapat sekaligus, tetapi dalam empat tahapan yang setiap

tahapan hanya melibatkan pengalihan satu elektron. Kendala yang mengharuskan

oksigen hanya dapat menerima satu elektron setiap tahap, menyebabkan

terjadinya dua hal, yaitu kurang reaktifnya oksigen dan terbentuknya senyawa-

senyawa oksigen reaktif seperti O2. (radikal superoksida), H2O2 (hydrogen

peroksida), OOH. (radikal peroksil), dan OH. (radikal hidroksil).

2.3.3 Sifat Radikal bebas

Radikal bebas memiliki dua sifat (Halliwel dan Gutteridge, 2007), yaitu:

1) Reaktivitas tinggi, karena kecenderungannya menarik electron.

2) Dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radikal.

Sifat radikal bebas yang mirip dengan oksidan terletak pada kecenderungannya

untuk menarik elektron. Jadi sama halnya dengan oksidan, radikal bebas adalah

penerima elektron. Itulah sebabnya dalam kepustakaan kedokteran, radikal bebas

digolongkan dalam oksidan. Namun perlu diingat bahwa radikal bebas adalah

oksidan tetapi tidak setiap oksidan adalah radikal bebas (Suryohusodo, 2000 ;

Halliwell dan Gutteridge, 2007).

Radikal bebas lebih berbahaya dibandingkan dengan oksidan yang bukan radikal.

Hal ini disebabkan karena kedua sifat radikal bebas diatas memiliki reaktivitas

yang tinggi dan kecenderungan membentuk radikal baru, yang pada gilirannya

nanti apabila menjumpai molekul lain akan membentuk radikal baru lagi,

sehingga terjadilah reaksi rantai (chain reaction). Diantara senyawa-senyawa


24

oksigen reaktif, radikal hidroksil merupakan senyawa yang paling berbahaya

karena reaktivitasnya sangat tinggi (Halliwell dan Gutteridge, 2007).

Radikal bebas lainnya hanya bersifat perantara yang bisa dengan cepat diubah

menjadi substansi yang tak lagi membahayakan tubuh. Namun bila radikal bebas

sempat bertemu dengan enzim atau asam lemak tak jenuh ganda, maka merupakan

awal dari kerusakan-kerusakan sel yang antara lain berupa (Halliwell dan

Gutteridge, 2007):

1) Kerusakan Deoxyribonucleic Acid (DNA) pada inti sel.

2) Kerusakan membran sel

3) Kerusakan protein

4) Kerusakan lipid peroksida

5) Proses penuaan.

Dalam keadaan normal tubuh kita memiliki mekanisme pertahanan

terhadap perusakan oleh radikal bebas yang beragam, efisien dan tersebar di

berbagai tempat dalam sel. Menurut konsep radikal bebas, kerusakan sel akibat

molekul radikal baru dapat terjadi bila kemampuan mekanisme pertahanan tubuh

sudah dilampaui atau menurun (Halliwell dan Gutteridge, 2007).

2.4 Efek Akut dan Kronis sinar Ultraviolet

2.4.1 Radiasi Sinar Ultraviolet

Spektrum elektromagnetik yang ditransmisikan oleh sinar matahari

berkisar antara sinar kosmik yang sangat pendek hingga gelombang yang sangat
25

panjang. Sebagian besar perubahan kulit akibat sinar yang terjadi berhubungan

dengan radiasi sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet adalah radiasi elektromagnetik

dengan panjang gelombang lebih pendek dari cahaya tampak tetapi lebih panjang

dari sinar X, dengan rentang 10-400 nm, energy 3-124 eV. Sinar UV ditemukan

pada sinar matahari. Radiasi UV dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu:

Pertama, UVC dengan panjang gelombang yang terpendek, yaitu 100-290 nm.

Tidak ada panjang gelombang yang lebih pendek dari 290 nm yang mencapai

permukaan bumi, terutama disebabkan oleh filtrasi oleh lapisan ozone. Kedua,

UVB (290-320 nm) yang mencapai pemukaan bumi dan bertanggung jawab

terhadap atas sebagian besar terjadinya fotobiologi pada kulit. Ketiga, UVA (320-

400 nm) yang mampu melewati kaca jendela dan dibagi menjadi UVA1 (340-400

nm) dan UVA2 (320-340 nm). Menipisnya lapisan stratosfer dari ozone

mengakibatkan semakin banyak jumlah radiasi UVB yang mencapai permukaan

bumi yang selanjutnya menimbulkan efek langsung terhadap kesehatan manusia.

Paparan ultraviolet ini memegang peranan penting terhadap terjadinya

penuaan dini kulit (Rigel et al., 2004).

Sinar UVC merusak DNA lebih berat daripada UVB, meskipun lebih potensial

daripada UVB namun UVC banyak diserap atmosfer dan tidak mencapai

permukaan bumi. Sinar UVB merusak sel melalui efek langsung kerusakan DNA

dan induksi apoptosis. Sinar UVB memicu multimerisasi Fas death receptors,

yang memicu pengaktifan caspase-8. Sinar UVB pada keratinosit menstimulasi

fosforilasi dan stabilisasi p38 mitogen-activated protein kinase (MAPK), yang

terjadi dalam 2 jam paparan UVB, dan memulai aktivasi caspase. Peroksidasi
26

lipid dan produksi radikal oksidatif terjadi setelah paparan UVB. Sinar UVA

mempunyai potensi lebih rendah dalam merusak sel. Sinar UVA mengakibatkan

pembentukan radikal oksidatif. Stres oksidatif ini yang merusak sel (Raj et al.,

2006).

Paparan sinar UVA dengan berbagai dosis mengakibatkan peningkatan

jumlah sunburn cells sesuai dengan peningkatan dosis. Kelompok kontrol dengan

UVA 0,43-1,25 J/cm2 terdapat peningkatan jumlah sunburn cells dan mencapai

puncak dengan 35 sunburn cells /cm epidermis pada 1,25 J/cm2. Pada 1,75 J/cm2

jumlah sunburn cells berkurang dan pada 2,5-5 J/cm2 terjadi nekrosis (Garmyn et

al., 1989). Paparan lampu UV dengan panjang gelombang >295 nm pada mencit

tanpa bulu dan dengan bulu selama 30, 60, 90, dan 120 detik mengakibatkan

eritema pada paparan selama 90 detik. Eritema pada mencit tanpa bulu lebih

tampak jelas dibandingkan mencit dengan bulu (Fox dan Lewis, 1979). Studi

tentang paparan UVB (290-330 nm) dengan keluaran energi 0,7 mW/cm2, jarak

30 cm, kekuatan radiasi 8, 16, 24, 32 mJ/cm2; pada keratinosit in vitro,

melaporkan bahwa apoptosis keratinosit terjadi pada radiasi 16 mJ/cm2. Apoptosis

terjadi melalui induksi aktivitas caspase-3. Pemberian hepatocyte growth

factor/scatter factor dapat menghambat apoptosis ini (Mildner et al., 2002).

Lampu UV dengan emisi UVB (280-320 nm, 75-80% energi total) dan

UVA (320-375 nm, 20-25% energi total), 30 mJ/cm2, pada mencit tanpa bulu

mengakibatkan eritema, apoptosis, dan pembentukan sunburn cells. Radiasi 30

mJ/cm2 adalah rentang paparan UV normal pada manusia. Dosis UV 40 mJ/cm2

pada manusia menghasilkan efek eritema (Lu et al., 2000). Lampu UV (270-440
27

nm) dengan emisi dominan 312 nm menghasilkan penetrasi kulit lebih dalam

daripada UV gelombang pendek (254 nm). Paparan lampu UV (UVA 315-400nm

dan UVB 280-315 nm), 2,2 J/m2/detik pada jarak 20 cm, pada mencit

menghasilkan efek tumorigenik lebih besar daripada UV gelombang pendek (254

nm), 1,2 J/m2/detik, pada jarak 50 cm (Kodama et al., 1984). Delapan lampu UV

(UVB 280-320 nm, 75-80% energi total dan UVA 320-375 nm, 20-25% energi

total), dengan radiasi UVB 180 mJ/cm2, pada jarak 43,2 cm, selama 130-160 detik

setiap hari sampai 10 hari, dapat menginduksi tumor kulit mencit (Wang et al.,

1992).

Menipisnya lapisan stratosfer dari ozone mengakibatkan semakin banyak

jumlah radiasi UVB yang mencapai permukaan bumi yang selanjutnya

menimbulkan efek langsung terhadap kesehatan manusia. Paparan ultraviolet ini

memegang peranan penting terjadinya penuaan dini kulit (Leaf, 1993). Radiasi

UVB yang mencapai kulit, 70 % diserap pada stratum korneum, 20% mencapai

seluruh epidermis, dan hanya 10% mencapai bagian atas demis. Radiasi UVA

diabsorbsi sebagian besar pada epidermis, dan hanya 10% mencapai bagian atas

dermis. Radiasi UVA diabsorbsi sebagian besar pada epidermis, tetapi 20-30%

radiasi ini mencapai bagian yang lebih dalam dermis dibandingkan dengan UVB.

Walaupun UVB (290-320 nm) memiliki panjang gelombvang yang lebih pendek

tetapi lebih efisien mencapai permukaan bumi, lebih kuat terserap pada epidermis

dan lebih eritemogenik dibandingkan dengan UVA (Gilchrest, 1995; Rigel

dkk,2004).

2.4.2 Efek Akut Ultraviolet


28

2.4.2.1 Pigmentasi

Pigmentasi kulit mengikiti paparan sinar matahari yang terjadi berupa

kecoklatan (tanning) dan pembentukan melanin baru. Respon kecoklatan pada

kulit tergantung dari panjang gelombang radiasi. Eritema yang diinduksi UVB

diikuti dengan pigmentasi. Melanisasi terjadi akibat paparan UVB. Melanisasi

yang terjadi oleh karena paparan UVA bertahan lebih lama dibandingkan dengan

paparan UVB.Perbedaan ini kemungkinan terjadi oleh karena lokalisasi pigmen

yang diinduksi oleh UVA lebih basal. Melanisasi yang diinduksi oleh UVB

menghilang dengan turn-over epidermis dalam 1 bulan (Fisher dkk, 1997: Rigel

dkk, 2004).

2.4.2.1 Kerusakan DNA

DNA seluler langsung menyerap paparan UVB dan penyerapan ini

menyebabkan lesi pada basa pirimidin, yang menjadi ikatan kovalen dan merusak

heliks DNA Apabila kerusakan DNA ini tidak diperbaiki maka akan

mengakibatkan kesalahan pembacaan kode genetic, mutasi, dan kematian sel.

Radiasi sinar UVA juga sangat merusak DNA tetapi kurang jika dibandingkan

UVB (Rigel dkk, 2004; Placzek dkk, 2005; Gilchrest dan Krutman, 2006).

2.4.3 Efek Kronis Ultraviolet

2.4.3.1 Fotokarsinogenesis

Banyaknya penelitian yang menyokong paparan sinar Ultraviolet

terhadap juga perkembangan penyakit kanker kulit, khususnya jenis kanker kulit
29

non-melanoma, seperti melanoma sel skuamosa dan karsinima sel basal. Sulitnya

dalam mengevaluasi efek dari paparan Ultraviolet pada progresi penyakit kanker

kulit pada manusia. Perkembangan lesi ini membutuhkan waktu bertahun-tahu,

dan frekuensi maupun intensitas paparan menyerupai keadaan sebenarnya

sangatlah sulit (Rigel dkk, 2004). Kerusakan DNA yang disebabkan oleh radiasi

Ultraviolet merupakan penyebab utama perkembangan kanker kulit (Pleczeck

dkk, 2005)

2.4.3.2 Photoaging

Kulit yang mengalami Photoaging secara klinis menunjukkan hiperpigmentasi

yang tidak merata dapat berupa bercak (freckles) menunjukkan karakteristik yang

kasar, kerutan halus dan kasar, kelemahan,bengkak dan teleangiektasis (Rigel dkk,

2004). Perubahan seluler dan jaringan yang terlibat pada beberapa efek akibat

paparan Ultraviolet, tidak sesederhana yang terjadi pada respon akut. Kromofor

terbesar menyerap UVB adalah asam nukleat dan protein, kromofor lainnya

menyerap UVA tetapi pada konsentrasi yang rendah (Gichrest, 1995)


30

2.5 Kulit

2.5.1 Anatomi dan fisiologi kulit pada manusia

Kulit merupakan organ terbesar manusia penampilan kulit menjadi media

komunikasi yang member informasi tentang individu tersebut seperti kesehatan

nya secara umum, etnis atau ras, gaya hidup dan usia. Kualitas penampilan kulit

ditentukan oleh warna kulit, tektur dan bentuk (Fisher dkk, 2008). Kulit terdiri

dari 3 lapisan berturut-turut terdiri luar ke dalam yaitu epidermis, dermis, dan

hipordermis (subkutan). Epidermis terdiri dari 5 lapisan berturut-turut dari luar ke

dalam yaitu stratum komeum, stratum lusidum, stratum spinosum, stratum

granulosum, dan stratum basalis. Epidermis adalah struktur yang dinamis dimana

95% tersusun oleh keratinosit yang terdiferensiasi. Sel-sel lain pada epidermis

yaitu melanosit, sel Langerhans, dan sel merkel.

Melanosit adalah sel penghasil melanin, yaitu pigmen kulit. Sel

Langerhans memiliki fungsi imunologis dan sel merkel berperan pada persepsi

sensoris (Edmondson dkk, 2003). Dermis terdiri 2 lapisan yaitu papillary dermis

di bagian superficial dan reticular dermis di bagian dalam. Di papillary dermis

terdapat kolagen, elastin, fibrous dan ground substance (mukopolisakarida, asam

Hyaluronat, kondroitin sulfat), serta kaya akan mikrosirkulasi. Di reticular dermis

terdapat kumpulan kolagen yang lebih kasar dengan serabut-serabut elastin yang

tersebar (Khazanchi, 2007).

Pemendekan telomer pada pembelahan sel juga dikatakan salah satu

penyebab penuaan intrinsik kulit, selain oleh karena penurunan faktor

pertumbuhan dan hormon. Manifestasi klinis penuaan kronologis kulit dapat


31

berupa serosis, kelemahan, kerutan dan gambaran tumor jinak seperti keraktosis

seboroik dan angioma buah cherry (Gilchrest dan Krutmann, 2006).

Struktur epidermis

Kulit terdiri dari 3 lapisan berturut-turut dari luar ke dalam yaitu

epidermis, dermis, dan hipodermis (subkutan). Epidermis terdiri dari 5 lapisan

berturut-turut dari luar ke dalam yaitu stratum korneum, stratum lusidum, stratum

spinosum, stratum granulosum, dan stratum basalis. Epidermis adalah struktur

yang dinamis dimana 95% tersusun oleh keratinosit yang terdiferensiasi. Sel-sel

lain pada epidermis yaitu melanosit, sel Langerhans, dan sel Merkel.

Melanosit adalah sel penghasil melanin, yaitu pigmen kulit. Sel

Langerhans memiliki fungsi imunologis dan sel Merkel berperan pada persepsi

sensoris (Edmondson et al., 2003). Pemendekan telomer pada pembelahan sel juga

dikatakan salah satu penyebab penuaan intrinsic kulit, selain oleh karena

penurunan faktor pertumbuhan dan hormon. Manifestasi klinis penuaan

kronologis kulit dapat berupa serosis, kelemahan, kerutan dan gambaran tumor

jinak seperti keraktosis seboroik dan angioma buah cherry (Gilchrest dan

Krutmann, 2006).
32

Gambar 2.1 Diagram struktur kulit (Edmondson et al., 2003)

2.2 Gambar epidermis kulit usia muda dan usia lanjut


33

2.5.2 Anatomi Kulit Mencit

Kulit mencit terbagi menjadi tiga lapisan ; epidermis, dermis dan

subkutis, Epidermis terdiri dari epitel skuamosa bertingkat sedangkan dermis

disusun oleh jaringan ikat yang padat. Epidermis berkembang biak baik pada

waktu lahir dan menebal dalam 4-5 hari setelah lahi, kemudian menipis seiring

dengan perkembangan folikel rambut. Ketebalan epidermis berbeda antara daerah

berambut dan tidak berambut. Daerah tidak berambut atau relative sedikit

berambut seperti kaki, ekor, putting susu, hidung, genital dan anal epidermisnya

lebih tebal dan dapat dibedakan stratum-stratumnya (Coole dkk,1983).

Epidermis terdiri dari 3 stratum tau lebih dengan beberapa lapisan sel

pada masing-masing stratum. Paling dalam adalah Stratum Germinativum di

membrane basalis yang terdiri dari sel-sel yang vertical dan tidak bentuk tidak

teratur., nucleus oval dan jernih dengan beberapa sel polihidral yang masing-

masing dihubungkan dengan tonofibril. Disebelah luarnya adalah adalah stratum

granulosum yang terdiri dari 4-5 lapis sel yang tersusun secara horizontal dan

mengandung granula keratohialin. Lapisan paling luar adalah stratum korneum

yang terdiri dari sel tanduk (Marges, 1983).

Epidermis pada daerah tidak berambut lebih sedikit berambut terdiri dari

6 lapisan sel dan stratum-stratumnya sulit dibedakan. Stratum germinativum dan

granulosum tampak sebagai sel yang tersebar berjumlah sangat sedikit, sedangkan

stratum korneum terdiri dari 1-2 lapis sel saj. Tidak terdapat pembuluh darah dan
34

saraf pada epidermis. Melanosit biasanya tidak terdeteksi pada epidermis (Coole

dkk, 1983).

Jaringan ikat dermis mengandung kolagen, serabut elastis, pembuluh darah, saraf,

lemak dan beberapa otot halus yang menyisip pada serabut dermis yang

berbatasan dengan subkutan. Papila dermis pada daerah berambut sulit untuk

dikenali karena batas antara epidermis dan dermis hampir rata (Merges, 1983;

Coole dkk, 1983).

2.6 Kolagen

Kolagen adalah triple helical protein yang tersebar di seluruh tubuh dan

mempunyai berbagai fungsi seperti pengikat jaringan, adhesi sel, migrasi sel, dan

pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), morfogenesis jaringan dan

perbaikan jaringan. Kolagen adalah elemen yang membentuk matriks ekstraseluler

jaringan, yang berguna untuk kekuatan tegang jaringan seperti tendon, tulang,

tulang rawan dan kulit, kolagen juga mempunyai fungsi yang berkaitan dengan

lokasinya, misalnya membrane basalis pada glomerulus ginjal yang berfungsi

untuk filtrasi molekul (Kadler dkk.,2007).

2.6.1 Deskripsi Kolagen

Kolagen terdiri dari 3 rantai polipeptida dengan konformasi poliprolin

yang panjang. Setiap rantai polipeptida memiliki pengulangan Gly-X-Y triplet

dimana residu glycyl menempati setiap posisi ketiga dan posisi X dan Y ditempati

oleh prolin dan 4-hidroksiprolin. Ketiga rantai saling berkaitan memalui


35

ikatanrantai hydrogen. Ada 28 jenis kolagen pada vertebrata yang diberi nomor I-

XXVIII. Kolagen di hasilkan oleh sel fibrolast. Kolagen tipe 1 adalah jenis yang

paling banyak di jaringan ikat kulit. Selain itu kulit juga mengandung kolagen (III,

V, VI), elastin, proteoglikan dan fibronektin (Kadler., 2007).

Kolagen di pengaruhi oleh factor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik

meliputi sinar ultraviolet, polusi, dan diet, Faktor ekstrinsik dapat memperberat

kerusakan kolagen yang disebabkan oleh factor intrinsik. Pengaruh faktor genetik

tampak pada studi penuaan kulit pada berbagai etnis, Etnis dengan pigmentasi

lebih gelap, seperti ras Afrika-Amerika, memiliki daya perlindungan yang lebih

tinggi terhadap ultraviolet photodamaged daripada ras kaukasia. sinar ultraviolet

memicu pembentukan radikal bebas sehingga merusak kolagen kulit. Kulit ras

Afrika Amerika mengandung lipid interseluler lebih banyak daripada ras

Kaukasia sehingga lebih resisten terhadap penuaan. Kerutan wajah pada ras Asia

terjadi lebih lambat dan lebih ringan daripada ras Kaukasia (Farage dkk, 2008).

Produksi kolagen dipengaruhi oleh hormone-hormon. Estrogen dapat

meningkatkan sintesis kolagen.

Penurunan kolagen kulit tampak signifikan pada wanita menopause.

Kolagen kulit orang dewasa berkurang 1 % setiap tahun. Penurunan kolagen ini

lebih tampak pada wanita daripada pria. Hormon seks wanita lebih dominan pada

kolagen daripada hormone seks pria. (Sator, 2006). Sinar Ultraviolet

mengaktifkan matriks metalloprotease, yaitu enzim yang mendegradasi

kolagen.Akumulasi paparan sinar Ultraviolet mengakibatkan penuaan kulit berupa

kulit kendor dan kerutan wajah disebabkan kerusakan akumulasi kolagen. Sinar
36

ultraviolet juga memicu pembentukan radikal bebas, yang dapat bereaksi dengan

protein seperti kolagen sehingga terjadi kerusakan kolagen.

2.6.2 Mekanisme Kerusakan Kolagen pada Photoaging

Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan pada kultur

fibroblast yang menunjukkan bahwa paparan pada kultur fibroblast kulit yang

mengalami kerusakan akibat Ultraviolet pada kulit yang terlindungi sinar matahari

dengan kolagen Tipe I yang terdegradasi sebagian (diperoleh melalui percobaan

in-vitro kolagen yang dicampur dengan MMPs yang di induksi oleh sinar

Ultraviolet, yang terjadi melalui 2 mekanisme,yaitu; mekanisme secara langsung

terjadi degradasi kolagen secara tidak langsung melalui hambatan sintesis kolagen

oleh degradasi kolagen yang terbentuk dari MMP. Kolagen Tipe I yang

terfragmentasi memberikan umpan balik negative terhadap sintesisnya. Dugaan

fragmen kolagen dengan berat molekul tinggi mengakibatkan regulasi negates

sintesis kolagentipe I (Varani, dkk, 2001).


37

Gambar 2.6.1 Mekanisme Kerusakan Kolagen pada Photoaging (Dikutip dari:


Shin dkk, 2005).

2.7 Perubahan Histologis Pada Photoaging

2.7.1 Kerusakan Pada Epidermis

2.7.1.1 Keratinosit

Keratinosit berperan dalam pertumbuhan epidermis. Keratinosit

mengalami proses diferensiasi dimulai dari basal menuju permukaan kulit. Proses

ini pada manusia membutuhkan waktu 2-4 minggu. Diferensiasi di basal

melibatkan cross-talk antara sel dermis dan epidermis melalui growth factors.

Pada lapisan basal terdapat 3 jenis keratinosit, yaitu sel punca (stem cells), transit-

amplifying cells, dan postmitotic differentiating cells. Sel punca adalah sumber
38

keratinosit dengan potensi proliferasi tinggi. Sel punca menjadi transit-amplifying

cells, yang selanjutnya menjadi postmitotic differentiating cells. Proliferasi

keratinosit hanya ditemukan di stratum basalis (Edmondson et al., 2003).

Paparan sinar UVA dengan berbagai dosis mengakibatkan peningkatan

jumlah sunburn cells sesuai dengan peningkatan dosis. Kelompok kontrol dengan

UVA 0,43-1,25 J/cm2 terdapat peningkatan jumlah sunburn cells dan mencapai

puncak dengan 35 sunburn cells /cm epidermis pada 1,25 J/cm2. Pada 1,75 J/cm2

jumlah sunburn cells berkurang dan pada 2,5-5 J/cm2 terjadi nekrosis (Garmyn et

al., 1989). Paparan lampu UV dengan panjang gelombang >295 nm pada mencit

tanpa bulu dan dengan bulu selama 30, 60, 90, dan 120 detik mengakibatkan

eritema pada paparan selama 90 detik. Eritema pada mencit tanpa bulu lebih

tampak jelas dibandingkan mencit dengan bulu (Fox dan Lewis, 1979). Studi

tentang paparan UVB (290-330 nm) dengan keluaran energi 0,7 mW/cm2, jarak

30 cm, kekuatan radiasi 8, 16, 24, 32 mJ/cm2; pada keratinosit in vitro,

melaporkan bahwa apoptosis keratinosit terjadi pada radiasi 16 mJ/cm2. Apoptosis

terjadi melalui induksi aktivitas caspase-3. Pemberian hepatocyte growth

factor/scatter factor dapat menghambat apoptosis ini (Mildner et al., 2002).

Lampu UV dengan emisi UVB (280-320 nm, 75-80% energi total) dan

UVA (320-375 nm, 20-25% energi total), 30 mJ/cm2, pada mencit tanpa bulu

mengakibatkan eritema, apoptosis, dan pembentukan sunburn cells. Radiasi 30

mJ/cm2 adalah rentang paparan UV normal pada manusia. Dosis UV 40 mJ/cm2

pada manusia menghasilkan efek eritema (Lu et al., 2000).

2.7.1.2 Melanosit
39

Pigmentasi irregular menjadi karakteristik kulit yang mengalami

Photoaging desebabkan oleh karena hyperplasia melanosit hiperaktif,yang

mengakibatkan kulit kecoklatan, bercak-bercak dan lentigen, diselingi dengan

daerah yang mengalami kerusakan lebih berat sehingga melanosit tidak mampu

mentransfer pigmen normal ke keratinosit. Radiasi sinar UV menginduksi

proliferasi melanosit tidak hanya dikulit yang terpapar tetapi juga pada kulit yang

terlindungi. Kemungkinan oleh faktor yang belum dapat dikenali yang dilepaskan

ke sirkulasi setelah radiasi UVB. Efek langsung UV pada membrane melanosit

juga memberikan kontribusi terhadap meningkatnya pigmentasi irregular pada

kulit yang mengalami Photoaging (Gilchrest, 1995).

2.7.2 Kerusakan Pada Dermis

2.7.2.1 Perubahan Pada Kolagen

Pada kulit yang mengalami Photoaging, serat kolagen mengalami

disorganisasi. Serabut kolagen dan kumpulan serat kolagen berkurang dan

mengalami homogenisasi. Kulit yang mengalami Photoaging precursor kolagen

Tipe I dan III dan crosslink-nya berkurang (Pinnel, 2003; Gilchrest and Krutman,

2006). Dengan menggunakan antibodi terhadap kolagen Tipe I, tidak ditemukan

ada perubahan kolagen setelah radiasi UVB selama 10 minggu. Peningkatan

kolagen pada Tipe III dimulai setelah terpapar UVB selama 12 minggu (5 hari

perminggu dengan MED setiap pemaparan).


40

Total kolagen yang meningkat secara signifikan hingga minggu ke-20

paparan UV, kemudian secara signifikan (Gilchrest, 1995).

2.8 Photodamaged dan Photoaging Skin

Sinar UV dari matahari merusak kulit manusia (Photodamaged Skin)

dan mengakibatkan penuaan dini kulit (Photoaging). Proses penuaan ini adalah

akumulasi paparan matahari dan lebih sering terjadi pada individu dengan warna

lebih terang. Radiasi sinar UV mempengaruhi proses seluler dan perubahan

molekul, seperti reseptor permukaan sel, jalur transduksi sinyal protein kinase,

faktor transkripsi, dan enzim-enzim yang berfungsi dalam sintesis dan degradasi

protein dermis. Radiasi sinar UV menghasilkan spesies oksigen reaktif yang

bereaksi dengan komponen sel yaitu DNA, protein, dan lipid. Modifikasi

komponen sel mengganggu fungsi sel sehingga mengarah pada kematian sel

(Fisher et al., 2002).

Paparan sinar UV menstimulasi pembentukan hidrogen peroksida

(H2O2), senyawa radikal bebas yang menghasilkan kerusakan sel lebih sedikit bila

dibandingkan superoksida. Studi pada kulit manusia dan keratinosit menunjukkan

bahwa radiasi UV dalam waktu 15 menit meningkatkan H2O2, dan berlanjut

terakumulasi sampai 60 menit setelah paparan UV.

Hidrogen peroksida dapat berubah menjadi spesies oksigen reaktif jenis

lain yaitu radikal hidroksil (dinucleotide phosphate) oksidase, enzim yang

menghasilkan H2O2, akibat paparan UV.


41

Aktivitas NADPH oksidase meningkat 2 kali dalam 20 menit paparan sinar UV

(Fisher et al., 2002).

2.9 Antiokidan

2.9.1. Definisi Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan

mencegah peroksidasi lipid. Sedangkan dalam arti khusus antioksidan adalah zat

yang dapat menunda atau mencegah terjadinya reaksi antioksidasi radikal bebas

dalam oksidasi lipid (Trilaksani,2003). Antioksidan dapat

menghambat/memperlambat proses oksidasi. Oksidasi adalah jenis reaksi kimia

yang melibatkan pengikatan oksigen, pelepasan hidrogen, atau pelepasan electron.

Proses oksidasi adalah proses alami yang terjadi di alam dan dapat terjadi dimana-

mana tak terkecuali di dalam tubuh kita (Halliwell dan Gutteridge, 2007). Dalam

pengertian kimia, senyawa-senyawa antioksidan adalah pemberi electron (electron

donors), tetapi dalam arti biologis pengertian antioksidan lebih luas lagi, yaitu

semua senyawa-senyawa yang dapat meredam dampak negatif oksidan (radikal

bebas), termasuk enzim-enzim dan protein pengikat logam (Pangkahila,

2007).Jika di suatu tempat terjadi reaksi oksidasi dimana reaksi tersebut

menghasilkan hasil samping berupa radikal bebas (OH) maka tanpa adanya

antioksidan, radikal bebas ini akan menyerang molekul-molekul lain disekitarnya.

Hasil reaksi ini akan dapat menghasilkan radikal bebas yang lain yang

siap menyerang molekul yang lainnya lagi. Akhirnya akan membentuk reaksi
42

berantai yang membahayakan. Berbeda halnya bila terdapat antioksidan, radikal

bebas akan segera bereaksi dengan antioksidan membentuk molekul yang stabil

dan tidak berbahaya. Reaksi pun berhenti sampai disini. Antioksidan cenderung

bereaksi dengan radikal bebas terlebih dahulu dibandingkan dengan molekul yang

lain karena antioksidan bersifat sangat mudah teroksidasi atau bersifat reduktor

kuat dibanding dengan molekul yang lain. Jadi keefektifan antioksidan bergantung

dari seberapa kuat daya oksidasinya dibanding dengan molekul yang lain.

Semakin mudah teroksidasi maka semakin efektif antioksidan tersebut (Halliwell

dan Gutteridge, 2007).

2.9.2 Efek Antioksidan

Antioksidan dapat memperlambat oksidasi lipid melalui ikatan oksigen

yang bersaingan, penghambatan dari langkah permulaan, memblok langkah

perkembangan dengan menghancurkan atau mengikat radikal bebas,

penghambatan katalis atau stabilisasi hidroperoksid (Halliwell dan Gutteridge,

2007). Antioksidan dapat menetralkan (scavenge) bentuk oksigen aktif yang

terlibat dalam langkah permulaan oksidasi, atau dapat menghentikan reaksi

oksidasi beruntun dengan cara bereaksi dengan fatty acid peroxy radicals untuk

membentuk radikal antioksidan yang stabil yang tidak terlalu reaktif untuk reaksi

selanjutnya atau membentuk produk-produk non radikal (Howell dan Saeed,

1999).
43

Antioksidan dalam keadaan tertentu juga dapat menjadi prooksidan

sehingga mempunyai efek negatif dengan menyebabkan oksidasi di dalam tubuh.

Beberapa antioksidan yang dapat menjadi prooksidan (Howes, 2006) adalah:

Stress oksidatif adalah keadaan ketidakseimbangan antara prooksidan dan

antioksidan , dimana dalam hal ini jumlah prooksidan di dalam tubuh melebihi

kapasitas tubuh untuk menetralisirnya sehingga secara potensial dapat

menimbulkan kerusakan yang dikenal sebagai kerusakan oksidatif (Halliwell dan

Gutteridge, 2007).

Jadi stress oksidatif dapat dipandang sebagai gangguan keseimbangan antara

produksi oksidan dan pertahanan antioksidan atau dstruksi oleh ROS seperti anion

superoksida (O2-), radikal hidroksil (OH-), hydrogen peroksida (H2O2), radikal

nitrit oksida (NO), dan peroksinitrit (ONOO-). Ketidakseimbangan oksidan-

antioksidan ini dapat menyebabkan oksidasi makromolekul yang meliputi lipid,

karbohidrat, asam amino, protein dan DNA, diikuti dengan kerusakan seluler dan

jaringan.

Pada prinsipnya stress oksidatif dapat diakibatkan oleh (Halliwel dan

Gutteridge, 2007):

1) Berkurangnya antioksidan. Misalnya mutasi yang menurunkan pertahanan

antioksidan seperti GSH atau MnSOD; diet yang kurang akan antioksidan dan

unsur-unsur penting lainnya seperti zat besi, Zn, magnesium dan copper;

defisiensi protein seperti kwashiorkor dapat menurunkan kadar GSH; dan

kelebihan zat besi sehingga tidak mampu membuat transferrin secara cukup.
44

2) Peningkatan produksi spesies reaktif. Misalnya, paparan terhadap oksigen

yang meningkat; adanya toksin-toksin yang menghasilkan spesies reaktif; dan

aktivasi berlebih dari sistem natural penghasil spesies reaktif seperti

aktivasi yang tidak tepat dari sel-sel fagosit pada penyakit-penyakit inflamasi

kronis.

Kondisi stress oksidatif yang dapat mengakibatkan terjadinya

peningkatan proliferasi, adaptasi, kerusakan sel, penuaan (senescence), dan

bahkan sampai pada kematian sel, dapat menyebabkan terjadinya percepatan

proses penuaan. Stress oksidatif mempunyai peranan yang penting dalam etiologi

terjadinya berbagai penyakit kardiovascular, neurologis, obesitas, diabetes, kanker

dan juga inflamasi dari proses aging ( Halliwell dan Gutteridge 2007, Garelnabi

dkk, 2008).

Sinar UVC merusak DNA lebih berat daripada UVB, meskipun lebih

potensial daripada UVB namun UVC banyak diserap atmosfer dan tidak mencapai

permukaan bumi. Sinar UVB merusak sel melalui efek langsung kerusakan DNA

dan induksi apoptosis. Sinar UVB memicu multimerisasi Fas death receptors,

yang memicu pengaktifan caspase-8. Sinar UVB pada keratinosit menstimulasi

fosforilasi dan stabilisasi p38 mitogen-activated protein kinase (MAPK), yang

terjadi dalam 2 jam paparan UVB, dan memulai aktivasi caspase.

Peroksidasi lipid dan produksi radikal oksidatif terjadi setelah paparan

UVB. Sinar UVA mempunyai potensi lebih rendah dalam merusak sel. Sinar

UVA mengakibatkan pembentukan radikal oksidatif. Stres oksidatif ini yang

merusak sel (Raj et al., 2006).


45

Lampu UV (270-440 nm) dengan emisi dominan 312 nm menghasilkan

penetrasi kulit lebih dalam daripada UV gelombang pendek (254 nm). Paparan

lampu UV (UVA 315-400nm dan UVB 280-315 nm), 2,2 J/m2/detik pada jarak 20

cm, pada mencit menghasilkan efek tumorigenik lebih besar daripada UV

gelombang pendek (254 nm), 1,2 J/m2/detik, pada jarak 50 cm (Kodama et al.,

1984). Delapan lampu UV (UVB 280-320 nm, 75-80% energi total dan UVA 320-

375 nm, 20-25% energi total), dengan radiasi UVB 180 mJ/cm2, pada jarak 43,2

cm, selama 130-160 detik setiap hari sampai 10 hari, dapat menginduksi tumor

kulit mencit (Wang et al., 1992).

2.10 Pegagan (Centella asiatica)

2.10.1 Deskrpsi pegagan

Asam Asiatic , asam madecassic , dan asiaticoside telah ditunjukkan

untuk merangsang in vitro sintesis kolagen , baik sendiri maupun dalam

combination.27 Ekstrak dititrasi pegagan ( TECA ) , asam Asiatik , dan

asiaticoside yang terbukti meningkatkan renovasi dari matriks kolagen luka

setelah injeksi ke dalam model binatang, melalui stimulasi kolagen dan

glikosaminoglikan synthesis. Asiaticoside diisolasi dari Centella asiatica

meningkatkan kandungan hidroksiprolin , kekuatan tarik, dan kandungan kolagen

luka setelah pemberian topikal pada hewan model. Asiaticoside ditemukan untuk

mempromosikan angiogenesis dalam perempuan membran chorioallantoic di in

vitro. Peningkatan proliferasi sel dan sintesis kolagen diamati di lokasi luka
46

setelah pengobatan dengan ekstrak topikal atau oral pegagan. Sebuah studi

menemukan bahwa hewan aplikasi topikal ekstrak pegagan Centella asiatica tiga

kali sehari selama 24 hari untuk membuka luka menghasilkan peningkatan kadar

kolagen. Sebuah studi in vitro efek dari fraksi triterpenoid total Centella asiatica

(TTFCA) pada fibroblast kulit manusia menemukan ekstrak untuk tidak

berpengaruh signifikan terhadap proliferasi sel, sintesis total protein, atau sintesis

proteoglikan, namun peningkatan yang signifikan dalam persentase kolagen dan

lapisan sel fibronektin. Asiaticoside ditemukan menyebabkan peningkatan dosis

terkait dalam kekuatan tarik setelah pemberian intramuskular dari asiaticoside.

Madecassol, suatu senyawa yang mengandung asiaticoside, menghambat

biosintesis asam mucopolysaccharides dan kolagen dalam granuloma hewan.

Madecassol juga menghambat proliferasi fibroblast embrio manusia dalam vitro.

Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) merupakan tumbuhan tanpa batang,

dengan pertumbuhan yang menjalar tahunan (Heyne, 1987). Spesies dari genus

Centella kira-kira terdiri dari 33 spesies yang kesemuanya tersebar di daerah

tropis dan subtropis (Kumar dan Gupta, 2006). Menurut (Lasmadiwati, 2004),

Spesies Centella asiatica (L) Urban terdiri dari 2 jenis yang meliputi pegagan

merah dan pegagan hijau. Perbedaan mendasar antara pegagan merah dan pegagan

hijau terletak pada warna stolon dan tangkai daun. Warna stolon dan tangkai daun

pegagan merah adalah hijau kemerahan, sedangkan pada pegagan hijau

keseluruhannya berwarna hijau. Warna hijau kemerahan pada stolon dan tangkai

pegagan merah disebabkan oleh hadirnya zat aktif flavonoid., flavonoid adalah
47

suatu kelompok senyawa fenol yang bertanggung jawab terhadap zat warna

merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan.

Flavonoid terikat pada molekul gula sebagai glukosida pada tumbuhan

tingkat tinggi, flavonoid mempunyai salah satu fungsi sebagai pigmen. Pegagan

(Centella asiatica (L.) Urban) ini merupakan tumbuhan berbiji tertutup dan

berkeping dua. Merupakan herba dari famili yang memiliki potensi sebagai obat

seperti jinten, seledri dan adas (Dasuki, 1991). Pada umumnya disebut sebagai

Asiatic Centella asiatica yang termasuk dalam family Umbelliferae. Tumbuhan

berupa roset akar dengan tangkai daun yang lunak, perakaran dangkal dan

berkembang biak dengan menggunakan stolon (Kumar dan Gupta, 2006).

Seperti halnya tumbuhan tingkat tinggi lainnya, pegagan memiliki

beberapa organ tumbuhan yang meliputi : akar, stolon, daun, bunga dan buah.

Akar dari tumbuhan pegagan merupakan akar vertikal (Kumar dan Gupta, 2006).

Akarnya merupakan rimpang yang pendek serta mempunyai geragih (Savitri,

2006). Akar keluar dari setiap buku dan berupa akar tunggang berwarna putih

dengan panjang mencapai 10 cm (Lasmadiwati, 2004). Stolon pegagan tumbuh di

atas permukaan tanah, dan berfungsi sebagai salah satu organ perkembangbiakan

selain biji. Menurut Savitri (2006), stolon pegagan tumbuh dari sistem perakaran,

memiliki ukuran yang panjang dan tumbuhmenjalar. Menurut Lasmadiwati

(2004).

Pada setiap buku dari stolon akan tumbuhtunas yang menjadi cikal bakal

tumbuhan pegagan yang baru. Tunas akan tumbuhmenjadi beberapa daun tunggal

yang tersusun dalam roset. Daun berupa daun tunggal yang tumbuh dari setiap
48

buku pada stolon, permukaan daun kadang berambut, kaku atau kasap dengan

pertulangan daunmenjari (Lasmadiwati, 2004). Daun berjumlah 2-10 yang

tersusun dalam suaturoset akar. Bangun ginjal dengan tepi bergerigi atau

beringgit, tangkai daun panjang dan pada pangkal menyerupai pelepah (Savitri,

2006).

Bunga dari tumbuhan pegagan berukuran kecil, tidak bertangkai dan

berwarna kemerah-merahan. Bunga-bunga ini tumbuh dalam tirai bunga yang

sederhana dan terdiri dari 3-6 bunga (Satya dan Ganga, 2006). Bunga selanjutnya

akan berkembang menjadi buah yang berupa buah buni, berbentuk lonjong

ataupipih. Buah berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kecokelatan saat

sudah tua. Tumbuh menggantung, berukuran kecil dengan panjang 22,5 mm.

Buah memiliki bau yang cukup harum tetapi rasanya pahit (Lasmadiwati, 2004).

2.10.2 Farmakokinetik

Madecassoside , siaticoside , asam Asiatic , dan asam madecassic

memiliki bioavailabilitas antara 0 dan 50 % . Bosse et al. melaporkan bahwa kadar

plasma puncak dicapai 2-4 jam setelah konsumsi oral, injeksi intramuskular, atau

aplikasi topikal Madecassol, sebuah pegagan preparation.3 Grimaldi et al . juga

tidak menemukan perbedaan dalam waktu puncak konsentrasi plasma dengan

dosis yang berbeda atau tunggal dibandingkan dosis kronis dalam studi crossover

dari total fraksi triterpenic pegagan (TTFCA).

Daerah di bawah kurva meningkat secara signifikan dalam cara yang

tergantung dosis tunggal setelah dosis 30 mg atau 60mg


49

Setelah pengobatan kronis selama tujuh hari dengan baik 30 mg atau 60 mg

TTFCA dua kali sehari , konsentrasi plasma puncak , AUC0-24 , dan paruh secara

signifikan lebih tinggi dibandingkan setelah pemberian dosis tunggal, mungkin

dijelaskan oleh fakta bahwa asiaticoside ditransformasikan menjadi asam Asiatik

in vivo.

2.10.3 Klasifikasi Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban)

Berdasarkan deskripsi yang telah diuraikan, klasifikasi dari pegagan

(Centella asiatica (L.) Urban) adalah sebagai berikut :

Kingdom Plantae

Divisi Spermatophyta

Sub-divisi Angiospermae

Kelas Dikotiledonae

Ordo Umbellales

Famili Umbelliferae

Genus Centella

Spesies Centella asiatica (L.) Urban (Lasmadiwati, 2004)

Nama umum (nama dagang) dari pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) antara

lain pegagan, daun kaki kuda dan antanan (Lasmadiwati, 2004). Sedangkan untuk

nama lokal antara lain: pegagan (Ujung Pandang), antanan gede, antanan rambat

(Sunda), dau tungke (Bugis), pegagan, gagan-gagan, rending, kerok batok (Jawa),

tekosan (Madura) dan kori-kori (Halmahera) (Yuniarti, 2008). Pegagan juga

dikenal dengan beberapa istilah asing diantaranya : Ji xuecao,Indianpennywort,


50

indischewaternavel dan paardevoet (WijayakusumadanDalimartha, 2006).

Skema tumbuhan pegagan .

1) Pegagan dengansusunan daundalam roset akar,

2) Tangkai daun dengan pangkal menyerupai pelepah,

3) Susunan tulang daun,

4) Stolon dengan tunas,bunga dan akar yang tumbuh pada buku,

5) Bunga dan

6) Buah (Malherbologie, 2007).

2.10.4 Kandungan Bahan Aktif Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban)

Menurut Kumar dan Gupta (2006), secara umum kandungan bahan aktif

yangditemukan dalam pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) meliputi ;

1) triterpenoidsaponin,

2) triterpenoid genin,

3) minyak esensial,

4) flavonoid,

5) fitosterol, danbahanaktif lainnya. Menurut Dasuki (1991), bahan-

bahanaktif tersebut secara umum terdapat pada organ daun tepatnya pada

jaringan palisadeparenkim. Bahan aktif yangterkandung dalam pegagan

juga menjadi salah satualasan mengapa pegagan dimasukkan dalam ordo

umbelliferae. Bahan aktifyangterkandung, terutama dari golongan

triterpenoid saponin merupakan turunan zataktif umbelliferon yang

terdapat pada tumbuhan pegagan dan tumbuhan bangsaapiales lainnya.


51

Kandungan triterpenoid saponin dalam pegagan berkisar 1-8%. Unsur

yangutama dalam triterpenoid saponin adalah asiatikosida dan madekassosida

(Kumardan Gupta, 2006). Asiatikosida mampu bekerja sebagai Centellaasiatica

(Selfitri, 2008). Madekassosida juga memiliki peran penting karenamampu

memperbaiki keruskan sel dengan merangsang sintesis kolagen (Bonte etal.,

1995). Kolagen sangat penting sebagai bahan dasar pembentuk serat

fibroblas.Sebagaimana diketahui bahwa korteks ovarium (tempat perkembangan

folikel) tersusun atas serat-serat fibroblast. Dalam triterpenoid saponin ini

jugaterkandung beberapa unsur lain seperti : serta B, C dan D centellasaonin yang

saling bekerjasama dalam proses sintesakolagen, akan tetapi unsur-unsur tersebut

dalam jumlah yang sangat sedikit.Triterpenoid genin terdiriatasbdominan adalah

asam asiatik. Asam asiatik memegang peran farmakologi pentingkarena berperan

dalam proses apoptosis sel kanker (Hsu et al, 2004).

Disampinggolongan triterpenoid, pegagan mengandung minyak esensial

sebesar 0,1% dari seluruh kandungan bahan aktif didalamya. Minyak esensial ini

terbagi menjadi 2jenis yang meliputi : monoterpen dan sesquiterpen (Kumar dan

Gupta, 2006).Monoterpen dan sesquiterpen banyak terdapat pada jaringan

parenkim daunpegagan. Minyak esensial ini memberikan wangi yang khas pada

tumbuhan pegagan (Dasuki, 1991). Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa

fenol yang terbanyak. Tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glukosida.

Flavonoid pada tumbuhan mempunyai empat fungsi diantaranya:

1) sebagai pigmen warna,

2) fungsifisiologi dan patologi,


52

3) aktifitas farmakologi, terutama yang terkait dengan kerjapembuluh darah

4) sebagai flavonoid tambahan dalam makanan (Jayanti, 2007).

Fitosterol merupakan turunan senyawa sterol, yang dahulu hanya

ditemukan pada hewan dalam bentuk kolesterol sebagai bahan baku pembentuk

ormone seks. Senyawa-senyawa fitosterol yang terdapat pada tumbuhan antara

lain: sitosterol, stigmasterol, dan kampesterol. Ketiga senyawa fitosterol tersebut

terbukti mampu bekerja baik untuk mengurangi kolesterol total dan LDL

kolesterol dalam darah (Tisnajaya dkk, 2005).


53

Gambar 2.10 Daun Pegagan

Gambar 2.10. Daun Pegagan dalam keadaan segar

2.11 VITAMIN C

Vitamin C lebih sering kita perbincangkan jika menyangkut topik

pencegahan penyakit. Padahal, manfaat vitamin ini juga sangat besar bagi

kesehatan dan kecantikan kulit.

Selama berabad-abad, kaum wanita selalu menemukan cara untuk menikmati

khasiat vitamin C bagi kulit. Di Tibet, pada masa pemerintahan Dinasti Tang,

wanita yang ingin mencegah tanda-tanda penuaan kulit mengoleskan biji tanaman

sea buckthorn di wajah dan tangan.


54

Tanaman sejenis beri berwarna oranye keemasan tersebut ternyata

merupakan sumber vitamin C. Tanaman lain yang juga dipakai dalam kecantikan

kulit di zaman kuno adalah biji bunga mawar yang konon mengandung vitamin C

20 kali lebih tinggi dibanding buah jeruk. Manfaat terbesar vitamin C pada

kesehatan kulit adalah kemampuannya membantu pembentukan kolagen. Vitamin

C mengandung asam askorbat yang merupakan kunci utama untuk memproduksi

kolagen sebagai protein untuk membuat kulit tetap sehat dan tak gampang

kendur. Kolagen bersama dengan elastin akan menjaga kulit tetap sehat. Kolagen

menghasilkan kekenyalan dan kekuatan kulit, sementara elastin menghasilkan

kelenturan.

Selain itu vitamin C juga menjadi sumber antioksidan yang menetralkan

radikal bebas di kulit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kandungan asam

askorbat 2-fosfat yang dibawa vitamin C tidak hanya menetralisasi radikal bebas,

tapi juga memerbaiki kerusakan DNA. Di samping itu, vitamin C juga dapat

membantu kulit memperbaiki kolagen kulit.

Saat tubuh kekurangan vitamin C kulit pun tampak lebih kering dan

kasar. Vitamin C juga bermanfaat untuk mencerahkan kulit. "Prinsip kerjanya

adalah menyebarkan pigmen-pigmen menjadi lebih merata sehingga kulit tampak

lebih cerah,". Pada mereka yang sering terpapar sinar matahari kulit menjadi

tampak lebih cokelat karena adanya pembentukan pigmen. Itu sebabnya

perawatan untuk kulit yang sering terpapar sinar matahari dan polusi harus lebih

intens.
55

Mengingat manfaat vitamin C yang begitu besar bagi kecantikan kulit,

produsen kosmetik pun berlomba-lomba membuat produk berbahan vitamin C.

Mereka yang ingin hasil instan bisa memilih cara oral atau pun suntik vitamin C.

Kekurangan dari minum suplemen adalah dosisnya harus tinggi dan hasilnya tak

langsung terlihat seperti halnya jika lewat suntikan atau infus. Sebenarnya cara

olesan juga terbukti efektif menghantarkan zat-zat aktif dalam produk kosmetik

masuk ke dalam kulit. Beberapa riset juga menunjukkan vitamin C dalam bentuk

oles memiliki efek signifikan memperbaiki kerusakan kulit akibat sinar matahari.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat, kini tersedia serum atau

konsentrat dengan bahan aktif lebih tinggi dibandingkan dengan terapi topikal lain

seperti krim atau pasta. Karena bahan aktifnya tinggi, hasilnya pun lebih cepat

terlihat.
56

BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir penelitian ini disusun berdasarkan pada hasil kajian

pustaka dan dengan perkembangan ilmu pengetahuan diketahui bahwa penuaan

merupakan proses yang dapat dicegah atau diobati. Seperti organ tubuh yang lain,

kulit manusia merupakan organ kompleks dan dinamis yang menunjukkan tanda

tanda penuaan secara nyata.

Untuk dunia kecantikan yang akhir akhir ini digunakan untuk

peremajaan kulit wajah adalah vitamin C dan ekstrak pegagan baik dipergunakan

konsumsi secara oral maupun topikal. Ekstrak pegagan mempunyai sifat penting

untuk berbagai aplikasi, yaitu kemampuannya mengikat minyak dan air.

Berdasarkan sifat biologi dan kimianya maka Chitosan mempunyai sifat yang

khas yaitu mudah dibentuk menjadi spons,larutan gel, pasta, membran, dan serat

yang sangat bermanfaat didalam aplikasinya karena dapat melindungi dan

melepaskan perlahan bahan yang diikatnya.

Diharapkan dalam penggabungan teori dan penelitian yang sudah ada,

maka, Pemberian ekstrak pegagan oral diharapkan dapat memberi alternatif baru

untuk lebih meningkatkan produksi kolagen kulit, sehingga dapat meremajakan

kulit wajah tanpa tindakan invasif jika penelitian ini berhasil.

56
57

3.2 Kerangka Konsep

Gambar 3.2 Kerangka Konsep


58

3.3 Hipotesis Penelitian

1) Pemberian Ekstrak pegagan secara oral lebih menurunkan kadar Matriks

Metalloproteinase-1 (MMP-1) dan meningkatkan kolagen pada tikus

Wistar yang dipapar sinar UVB.

2) Pemberian Ekstrak pegagan secara oral lebih menurunkan kadar Matriks

Metalloproteinase-1 (MMP-1) dan meningkatkan kolagen dibandingkan

dengan pemberian vitamin C oral pada tikus Wistar yang dipapar sinar

UVB.
59

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah animal experimental dengan rancangan post test only control

group design yang didahului dengan penelitian pendahuluan. Pada awal penelitian

tikus Wistar dibagi untuk 3 kelompok. Kelompok pertama (Kontrol), hanya

diberi placebo (aquadest) oral. Kelompok kedua (Perlakuan 1) tikus Wistar diberi

vitamin C (oral). Sedangkan kelompok ketiga (Perlakuan 2) tikus Wistar diberi

ekstrak pagagan secara oral.

Selanjutnya dari ketiga kelompok tersebut dilakukan biopsi pada kulit

punggung tikus wistar jantan untuk dibuat dalam bentuk blok parafin. Selanjutnya

dilakukan pembuatan preparat dan pengecatan dengan reagen Sirius Red. Jumlah

ekspresi kolagen dinilai dengan analisa digital menggunakan piranti lunak adobe-

photoshop. Sedangkan untuk penilaian ekspresi Matriks Metalloproteinase-1 di

gunakan Kit MMP-1 (RayBio Human MMP-1 ELISA kit) adalah suatu bahan

yang digunakan untuk proses pengukuran MMP-1 pada manusia dalam bentuk

pro dan aktif yang ada dalam serum, plasma, supernatan kultur sel dan urin. Kit

ini terdiri dari lempengan mikro dengan 96 sumuran yang sudah dilapisi dengan

anti-human MMP-1, larutan buffer untuk pencuci, larutan standar yang

mengandung recombinant human MMP-1, assaydilluent, pendeteksi antibody

MMP-1 (biotynilated anti-human MMP-1), HRP-conjugated streptavidine,

tetramethylbenzidine (TMB) dan Stop Solution

59
60

4.2 Skema Rancangan Penelitian

Plasebo

Vitamin C

Pegagan

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian

Keterangan:

P= Populasi

S= Sampel

R= Random

O1 = Observasi jumlah ekspresi kolagen dermis dan ekspresi MMP-1 kontrol post

test.
61

O2 = Observasi jumlah ekspresi kolagen dermis dan ekspresi MMP-1 perlakuan 1

post test.

O3 = Observasi jumlah ekspresi kolagen dermis dan ekspresi MMP-1 perlakuan 2

post test.

P0 = Kontrol, diberikan placebo .

P1 = Perlakuan 1,diberi vitamin C oral

P2 = Perlakuan 2,diberi ekstrak pegagan oral.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dibagian Farmakologi Fakultas Kedokteran

Universitas Udayana, Denpasar Bali. Penelitian dilakukan selama dua minggu.

4.4 Populasi dan Besar Sampel

Sample menggunakan tikus wistar jantan sehat dengan berat 200-300

gram dan umur tikus wistar 10 12 minggu.

Besar sample yang digunakan dihitung dengan rumus Federer (1999)

(n-1) x (t-1) 15

t= jumlah perlakuan / kelompok = 3

n = jumlah replikasi n = 16

Jadi perhitungannya sebagai berikut ( n-1 ) x ( 3-1 ) 15, jadi n = 9.


62

Tiap kelompok ditambah 10% sebagai cadangan ( 10% x 9 = 1 ).

Kemudian ditambahkan 3 ekor untuk kelompok kontrol yang tidak diberi apapun.

Namun karena akan dilakukan penelitian pendahuluan untuk menentukan dosis

obatnya yang akan digunakan dibutuhkan tambahan 3 ekor tikus, jadi total sampel

( 9 x 3 ) + ( 1 x 3 ) + 3 = 33 ekor mencit yang dibutuhkan untuk penelitian secara

keseluruhan.

Variabel bebas Variabel Tergantung

Ekstrak Pegagan Kadar MMP-1


4.5 Variabel
Vitamin C
Penelitian Ekspresi Kolagen

Variabel kendali

Jenis Kelamin
Umur
Berat

Gambar 4.5.1 Klasifikasi variabel


63

4.5.1 Klasifikasi Variabel

a. Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi secara langsung penelitian ini

berlangsung yaitu : oral ekstrak pegagan.

b. Variabel Tergantung

Variabel tergantung adalah variabel yang merupakan hasil perlakuan variabel

bebas yaitu kolagen dermis dan Matriks Metalloproteinase-1.

c. Variabel Kendali

Variabel kendali adalah variabel yang dapat dikendalikan antara lain jenis tikus,

umur, sehat, jenis kelamin yang sama, berat.

4.5.2 Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi yang dipergunakan adalah :

1. Tikus Wistar

2. Berat badan 200 - 300 gram

3. Umur 10 12 minggu

4. Sehat

5. Jantan
64

4.5.3 Teknik Pengambilan Sampel

Tikus putih diambil dengan cara diacak sederhana dibagi menjadi tiga

kelompok. Kelompok 1 Tikus diberikan placebo (aquadest) oral tiga hari dengan

dosis sekali sehari. Sebagai kelompok kontrol. Kelompok 2 diberi vitamin C

(oral) selama tiga hari dengan dosis sekali sehari. Kelompok 3 diberi ekstrak

pegagan (oral) selama tiga hari dengan dosis sekali sehari.

4.5.4 Definisi Operasional Variabel

1. Paparan sinar Ultraviolet

Dosis UVB adalah sinar UVB yang diberikan dari sumber UVB berupa solar

simulator yang diberikan 3 kali perminggu dengan total dosis 840 mJ/cm2 selama

4 minggu, dimana minggu pertama 50 mJ/cm2, minggu kedua 70 mJ/cm2 , dan

minggu ketiga dan keempat 80 mJ/cm2.

2. Ekspresi kolagen

Ekspresi kolagen dermis adalah persentase pixel jaringan kolagen berupa jaringan

yang berwarna merah terang dengan pewarnaan Sirius red dibandingkan dengan

pixel seluruh jaringan yang tampak pada foto sediaan histologis. Pe3nilain

dilakukan pada foto preparat dalam format JPEG yang diambil dengan kamera LC

Evolution dan mikroskop Olympus Bx51 dengan pembesaran objektif 40 kali,

masing-masing preparat difoto sebanyak 3 kali. Penghitungan ekspresi kolagen

dilakukan dengan mtode analisis digital menggunakanpiranti lunak Adobe

PhotoshopCs2 versi 9.0 (Lynch, dkk , 2005 dan Rabello-Fonseca, dkk., 2008)
65

Tikus Wistar yang sehat yang diberi paparan sinar UVB diberi ekstrak pegagan

(oral) dan vitamin C oral yang diduga dapat menghambat MMP dan

meningkatkan ekspresi kolagensehingga dapat menghambat proses penuaan

kulit.Pemeriksaan histologi dilakukan diakhir penelitian dengan mengambil

jaringan untuk melihat ekspresi kolagen dermis jaringan dengan melakukan biopsi

pada kulit punggung tikus wistar jantan untuk dibuat dalam bentuk blok parafin.

Selanjutnya dilakukan pembuatan preparat dan pengecatan dengan reagen Sirius

Red.

Jumlah ekspresi kolagen dinilai dengan analisis digital menggunakan

piranti lunak adobe-photoshop sedangkan kadar enzim Matriks

Metalloproteinase-1 diukur dengan mempergunakan Kit MMP-1 (RayBio

Human MMP-1 ELISA kit ) adalah suatu bahan yang digunakan untuk proses

pengukuran MMP-1 pada manusia dalam bentuk pro dan aktif yang ada dalam

serum, plasma, supernatan kultur sel dan urin. Kit ini terdiri dari lempengan

mikro dengan 96 sumuran yang sudah dilapisi dengan anti-human MMP-1,

larutan buffer untuk pencuci,larutan standar yang mengandung recombinant

human MMP-1, assay dilluent, pendeteksi antibody MMP-1 (biotynilated anti-

human MMP-1), HRP-conjugated streptavidine tetramethylbenzidine (TMB) dan

Stop Solution.
66

200 gr

-------- x 37.8mg = 25,2 mg : 3 = 8,4 mg sekali sehari

300 gr

1. Kolagen

Kolagen adalah salah satu komponen serat yang dominan pada lapisan

dermis kulit. Serat kolagen banyak berperan pada kekenyalan dan kekompakan

kulit.Kolagen merupakan proteinyang sangat labil dan banyak faktor yang

mempengaruhinya dalam proses pembentukkan maupun dalam proses

degradasinya (Uiito et al ., 2008 ; Walker et al ., 2008) .

2. Matriks metalloproteinase (MMP-1)

Matriks metalloproteinase merupakan sekelompok enzim yang

bertanggung jawab terhadap degradasi kolagen. Sampai saat ini sudah ditemukan

18 jenis matriks metalloproteinase, akan tetapi yang berperan pada kulit dapat

diklasifikasikan menjadi 4 sub family yaitu: kolagenase, gelatinase, stromelisin,

dan MMPs membrane. Penghancuran kolagen tergantung pada aktivitas

kolagenase.

3 Jenis tikus yang digunakan : Wistar

a. Umur tikus Wistar: 10 12 minggu


67

b. Berat badan tikus Wistar: 200 300 gram

c. Jenis kelamin tikus Wistar: jantan

d. Sehat

4.6 Prosedur Penelitian

1) Pembuatan sediaan histologis

Pembuatan sediaan histologis dibagi menjadi empat tahapan yaitu tahap

fiksasi, dehidrasi,clearing dan embeding. Jaringan kulit hasil biopsi kulit

mencit masing-masing dengan diameter 6 mm dan ke dalaman sampai sub

kutan diperlakukan mengikuti tahapan tersebut. Tahap fiksasi artinya kulit

hasil biopsi direndam dalam formalin bufer fospat 10% selama 24 jam

kemudian dilakukan triming bagian jaringan yang akan diambil. Selanjutnya

jaringan tersebut direndam dengan alkohol bertingkat ( tahap dehidrasi )

direndam berturut turut 30%. 40%, 50%, 70%, 80%, 90%, 96% masing

masing 3 kali selama 25 menit. Selanjutnya masuk ke tahap clearing dengan

memasukkan jaringan ke clearing agent ( alkohol : toluene = 1 : 1 ) selama

30 menit dan dicelupkan pada toluol murni sampai transparan. Tahap

embeding diawali dengan proses infiltrasi sebanyak 4 kali dengan parafin

murni kemudian jaringan ditanam ke dalam parafin cair dan dibiarkan

membentuk blok yang memakan waktu selama satu hari agar mudah diiris

dengan mikrotom.
68

Pemotongan menggunakan mikrotom, tebal 6 mikro meter secara seri

dan diambil irisan ke 5, 10, 15 untuk selanjutnya dilakukan penempelan pada

gelas obyek yang sudah dioleskan perekat selanjutnya ditetesi aquadest dan

terakhir dilakukan pengecatan dengan Sirius Red.

2) Pemeriksaan Kolagen dengan Sirius Red

Jaringan yang masih mengandung parafin di lakukan deparafinisisasi dan

dehidrasi. Selanjutnya dilakukan pewarnaan inti sel dengan Haematoxylin

Weigerts selama 8 menit dandicuci selama 10 menit dengan air mengalir.

Dilakukan pewarnaan dengan picro Sirius Red selama 1 jam yang bertujuan

memberikan pewarnaan mendekati seimbang. Penambahan waktu atau

pengurangan waktu tidak akan meningkatkan hasil, walau waktu lebih pendek

warna terlihat baik.

Tahap selanjutnya dilakukan pencucian dengan air asam

sebanyak 2 kali. Air yang berlebihan selanjutnya dihilangkan secara fisik dengan

menggoyang secara perlahan. Dehidrasi dalam etanol 100% sebanyak tiga kali,

kemudian dibersihkan dalam cairan xylene dan mounthing pada medium yang

bersifat asam. Pengamatan hasil jumlah ekspresi kolagen dilakukan dengan

metode analisis digital. Sediaan dengan pembesaran 10 dan 40 kali, difoto dengan

kamera LC Evolution Olympus Bx51. Masing masing preparat difoto sebanyak 3

kali dengan menggunakan format JPEG. Penghitungan jumlah ekspresi kolagen

dermis dengan menggunakan piranti lunak Adobe PhotoShop Cs2 versi 9.0.

Prosentase kolagen ( berwarna merah terang ) dicatat berupa pixel area kolagen.
69

Warna lain juga di kenal dengan jumlah ekspresi area lain ( warna lain ) dicatat

pixel dari histogram. Jadi jumlah ekspresi kolagen dihitung sebagai presentasi area

pixel kolagen dibandingkan dengan pixel area seluruh jaringan.Semua reagen

dan sampel yang akan diukur diletakkan dalam ruangan dengan suhu (18- 25C).

Reagen dipersiapkan terlebih dahulu, diencerkan atau dilarutkan sesuai dengan

prosedur yang telah ada. Masukkan 100 l larutan standar dan sampel pada

masing masing lubang sumuran. Setelah itu ditutup dengan lembaran penutup

lempengan sumuran, dan diinkubasi selama 2,5 jam pada suhu ruangan. Buang

semua larutan yang ada dalam lubang sumuran, cuci sebanyak 4 kali dengan

larutan buffer pencuci sampai tak ada yang tersisa.

Selanjutnya tambahkan 100 l pendeteksi antibodi MMP-1(biotinylated

antibody) pada masing masing lubang sumuran, dan diinkubasi selama 1 jam pada

suhu kamar dan gentle shaking.Buang semua larutan yang ada pada lubang

sumuran seperti pada langkah no

3.Tambahkan 100 l larutan streptavidine pada tiap lubang sumuran, diinkubasi

selama 45 menit pada suhu kamar dengan gentle shaking.Buang semua larutan

seperti pada langkah no 3Tambahkan 100 l TMB one-step substrate pada tiap

lubang sumuran, diinkubasi selama 30 menit pada ruang gelap dan suhu kamar

dengan gentle shaking.Tambahkan 50 l Stop Solution pada tiap lubang sumuran

dan segera dilakukan pembacaan dengan ELISA reader pada panjang gelombang

450 nm.
70
71

4.7 Alur Penelitian

33 Tikus Wistar

Adaptasi 1 Minggu

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

11 Tikus Wistar 11 Tikus Wistar 11 Tikus Wistar


diberikan Paparan UVB diberikan Paparan UVB diberikan Paparan UVB
+ Plasebo + Vitamin C + Ekstrak Pegagan

Dipapar UVB selama 4 Minggu

Pengukuran MMP-1 dan


Post test
Kolagen

Analisis Data

Laporan

Gambar 4.2 Gambar Alur Penelitian


72

4.8 Analisis Data

Data yang telah terkumpul akan diproses dengan SPSS 17.0 for windows,

dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Analisis deskriptif

Dilakukan sebagai dasar untuk statistic analitis (uji hipotesis) untuk mengetahui

karakteristik data yang dimiliki Analisis deskriptif dilakukandengan program

SPSSPemilihan penyajian data dan uji hipotesis tergantung dari normal tidaknya

distribusi data.

2) Uji normalitas data

Data terlebih dahulu diuji normalitasnya dengan uji Shapiro-Wilk untuk

mengetahui rerata data sampel berdistribusi normal atau tidak.

3) Uji Homogenitas

Setelah dilakukan uji normalitas data kemudian dilakukan uji homogenitas

menggunakan uji Levenes test.

4) Analisa Komparatif

Analisa komparatif dilakukan untuk uji perlakuan, bila data berdistribusi normal

dan homogen maka untuk uji kemaknaan digunakan uji One Way Anova dengan
73

menggunakan program SPSS dan untuk data sesudah perlakuan. Bila data

berdistribusi tidak normal dilakukan pengujian Kruscal-Wallis test.

5) Analisa Pos Hoc.

Setelah diketahui terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok, dilakukan

uji Pos-Hocdengan tes LSD bila distribusi data normal, atau Mann-Whitney test

bila distribusi data tidaknormal.

.
74

DAFTAR PUSTAKA

Baskoro, And Konthen, PG. 2008. Basic Immunology of Aging Process. Naskah
Lengkap pada 5th Bali Endocrine Update 2 nd Bali Aging and Geriatric
Update Symposium. Bali 11-13 April 2008.

Beers, M. 2005. The Merck Manual of Health & Aging. Amerika Serikat:
Ballantine Book Trade Paperback. p. 24-25.

Bonte, F., Dumas, M., Chaudagne, C., and Meybeck, A. Influence of asiatic acid,
madecassic acid, and asiaticoside on human collagen I synthesis. Planta Med
1994.

Bradwejn J, Zhou Y, Koszycki, and et al. Effect of acute administration of Gotu-


kola (Centella asiatica) on acoustic startle response in healthy volunteers.
XXIst Collegium Internationale Neuro-psychopharmacologicum, Glascow,
Scotland (July 12-16) 1998;(Abstract Ref: NRW001)

Brinkhaus, B., Lindner, M., Schuppan, D., and Hahn, E. G. Chemical,


Pharmacological and clinical profile of the East Asian medical plant Centella
asiatica. Phytomedicine 2000;7

Chen, Y. J., Dai, Y. S., Chen, B. F., Chang, A., Chen, H. C., Lin, Y. C., Chang, K.
H., Lai, Y. L., Chung, C. H., and Lai, Y. J. The effect of tetrandrine and
extracts of Centella asiatica on acute radiation dermatitis in rats. Biol Pharm
Bull 1999;22.

Djuanda, E. 2005. Anti Aging: Rahasia Awet Muda. Cetakan ke-2. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. Hal: 1-8, 15-17, 24-26.

Fisher, G. J., Choi, H. C., Bata-Csorgo, Z., Shao, Y., Datta, S.,Wang, Z. D., Kang,
S., dan Voorhees, J. J. 2001. Ultraviolet Irradiation Increases Matrix
Metalloproteinase-8 Protein in Human Skin In Vivo. The Journal of
Investigative Dermatology. vol. 117. p. 219-226.

Fisher, G. J., Wang Z., Datta, S. C., Varani, J., Kang, S., Voorhees, J. J. 1997.
Pathophysiology of Premature Skin Aging Induced by Ultraviolet Light.
The New England Journal of Medicine., vol. 337(20). p. 1419-1429.

74
75

Fowler, B. 2003. Functional and Biological Markers of Aging. In: Klatz, R. 2003.
Anti-Aging Medical Therapeutics volume 5. Chicago: The A4M
Publications. p. 43.

Gavrilov, L. 2004. Reliability Theory of Aging. In: Klatz, R. 2004. Anti-Aging


Medical Therapeutics volume 7. Chicago: A4M Publications. p. 73

Gloger S. 2000. Photo Aging and Skin Care, [cited 2008 December, 10].
Available from: http://www.invitehealth.com.

Goldman, R dan Klatz, R. 2007. The New Anti-Aging Revolution. Malaysia:


Printmate Sdn. Bhd. p. 19-25.

Grimaldi, R., De Ponti, F., D'Angelo, L., Caravaggi, M., Guidi, G., Lecchini, S.,
Frigo, G. M., and Crema, A. Pharmacokinetics of the total triterpenic fraction
of Centella asiatica after single and multiple administrations to healthy
volunteer.1999.

Harman, D.2001. Aging; Overview. Annual New York Academy Of Science. Vol.
928. P. 1-21

Klatz, R. 2003. Acknowledgements. In: Klatz, R. 2003. Anti-Aging Medical


Therapeutics volume 5. Chicago: The A4M Publications. p. 3.

Kligman, L. H. 1986. Photoaging: Manifestation, Prevention, and Treatment.


Dermatology Clinical. vol. 4. p. 517-528.

Leaf, A. 1993. Loss of Stratospheric Ozone and Health Effects of Increased


Ultraviolet Radiation. In Critical Condition: Human Health and
Environment, ed. E. Chivian, M. McCally, H. Hu, and A. Haines, 139-50.
Cambridge, MA: The MIT Press.

Maquart, F. X., Chastang, F., Simeon, A., Birembaut, P., Gillery, P., and
Wegrowski, Y. Triterpenes from Centella asiatica stimulate extracellular
matrix accumulation in rat experimental wounds. Eur J Dermatol 1999.

Melton, J. L. dan Swanson, J. R. 1996. Anatomy and Histology of Normal Skin.


[cited 2009 August, 3]. Available from:
http://www.meddean.luc.edu/lumen/MedEd/medicine/dermatology/melton
/skinlsn/sknlsn.htm.

Moloney, S. J., Edmonds, S. H., Giddens, L. D., Learn, D. B. 1992. The Hairless
Mouse Model of Photoaging: Evaluation of The Relationship Between
76

Dermal Elastin, Collagen, Skin Thickness and Wrinkles. The Journal of


Photochemistry and Photobiology. vol. 56. p. 505-511.

Pangkahila, A. 2005. Buku Ajar Pedoman Praktis Analisis Statistik Dengan SPSS.
Denpasar: Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana. Hal: 9-19.

Pangkahila, W. 2007. Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan,


Meningkatkan Kualitas Hidup. Cetakan ke-1. Jakarta: Penerbit Buku
Kompas. Hal: 1-3, 9-19, 36-40.

Pinnel SR. 2003. Cutaneous Photodamage, Oxidative stress, and Topical


Antioxidant Protection. Duke University Medical Center. Amerika Serikat.

Placzek, M, dkk. 2005. Ultraviolet B-Induced DNA Damage in Human Epidermis


Is Modified by the Antioxidant Ascorbic Acid. Journal of Investigative
Dermatology. vol. 124. p. 304-307.

Quan, T., He T., Kang, S., Voorhees, J. J., Fisher, G. J. 2004. Solar Ultraviolet
Irradiation Reduces Collagen in Photoaged Human Skin by Blocking
Transforming Growth Faktor- Type II Receptor Smad Signaling.
American Journal of Pathology. vol. 165. No. 3. p. 741-751.

Rigel, D. S., Weiss, R. A., Lim, H. W., Dover, J. S. 2004. Photoaging. Marcel
Dekker Inc. Canada. p. 34.

Rittie, L. dan Fisher, G. J. 2002. UV-Light Induced Signal Cascades and Skin
Aging. AgingRes Reviews. vol. 1. p. 705-720.

Sasaki, S., Shinkai, H., Akashi, Y., and Kishihara, Y. Studies on the mechanism of
action of asiaticoside (Madecassol) on experimental granulation tissue
and cultured fibroblasts and its clinical application in systemic
scleroderma. Acta Derm Venereol 1972;52

Setiati, S. 2003. Radikal Bebas, Antioksidan, dan Proses Menua dalam: Medika
no. 6 Tahun XXIX. Jakarta. p. 366.

Shin, M. H., Rhie, G.,Kyung Kim, Y., Park, C., Cho, K. H., Kim, K. H., Eun, H.
C., Chung, J. H. 2005. H2O2 Accumulation by Catalase Reduction
Changes MAP Kinase Signaling in Aged Human Skin In Vivo. Journal of
Investigative Dermatology. vol. 125. p. 221-229.

Shukla, A., Rasik, A. M., and Dhawan, B. N. Asiaticoside-induced elevation of


antioxidant levels in healing wounds. Phytother Res 1999.
77

Shukla, A., Rasik, A. M., Jain, G. K., Shankar, R., Kulshrestha, D. K., and
Dhawan, B. N. In vitro and in vivo wound healing activity of asiaticoside
isolated from Centella asiatica. J Ethnopharmacol 1999..

Sunilkumar, Parameshwaraiah, S., and Shivakumar, H. G. Evaluation of topical


formulations of aqueous extract of Centella asiatica on open wounds in rats.
Indian J Exp Biol 1998.

Suryohudoyo, P. 2000. Kapita Selekta Ilmu Kedokteran Molekuler. Jakarta: CV.


Infomedika. p. 31-46.

Tenni, R., Zanaboni, G., De Agostini, M. P., Rossi, A., Bendotti, C., and Cetta, G.
Effect of the triterpenoid fraction of Centella asiatica on macromolecules of
the connective matrix in human skin fibroblast cultures. Ital J Biochem 1988.

Varani, J., Quan, TH., Fisher GJ. 2010. Mechanism and Pathophysiologi Of
Photoaging and Chronological Skin Aging. In: Rhein, L.D.,s Fluhr J.M.,
editors. Aging Skin: Current and Futer Therapeutic Strategic ed USA:
Allured Bussiness Media P. 1-25.

Vogel HG, DeSouza N, and D'Sa A. Effects of terpenoids isolated from Centella
asiatica on granuloma tissue. Acta Therapeutica 1990;16:285-298.